The Bride & The Bridesmaid 1

Author : Tsalza Shabrina
Cast. : Cho Kyuhyun | Song Joong Ki | Shin Ji Eun | Sam Rin Hyo
Genre : Romance, Angst.
Rate : T
A/N : Makasih buat semuanya yang udah baca, aku juga mengapresiasi buat kalian yang mau bubuhin komentar, kritikan atau pun saran kalian setelah baca FF aneh ini 😛 hehe 😀
Happy Read, dear!

***

Seoul, 2014

Aku duduk menunduk disini dengan perasaan yang kalut. Gaun putih cantik yang kini tengah kukenakan, seolah merubah penampilanku bak seorang putri dengan pesona kecantikannya.

“Maafkan aku!” Aku mendongak, menatap gadis yang sedang menatapku dengan tatapan bersalah. Aku memaksakan mengulas senyum dihadapannya.

“Tidak apa-apa, ini sebuah permainan takdir dimana pemainnya adalah kita dan dia.” Aku menghela napas beratku dengan panjang.

“Dan takdir tidak memihakku, aku yakin tuhan mengarahkanku pada arah yang baik.” Sekali lagi aku mengulas senyum terbaikku padanya. Gadis itu menatapku sendu kemudian memelukku.

“Maaf, dan terima kasih”

****

Tokyo, 2010

Gadis yang baru saja turun dari pesawat itu segera menyecahkan langkah cepatnya menuju pintu keluar. Kepalanya ia tolehkan kesana kemari, mencari seseorang yang diutus untuk menjemputnya. Gadis itu bernama Sam Rin Hyo , berusia 22 tahun dengan segala keterampilan yang dimilikinya. Menguasai dengan sangat baik 5 bahasa internasional dan juga ulet dalam bekerja. Itulah yang menggambarkan dirinya saat ia bekerja sebagai pegawai biasa dibagian marketing 2 hari yang lalu. Maka itu, atasannya merasa terkesan dan merekomendasikan dirinya untuk menjadi sekertaris baru Cho Kyuhyun, pengusaha muda yang sangat sukses hingga merambah ke pasar eropa. Rin Hyo memang belum pernah menemui atasan barunya itu, akan tetapi ia sudah sering melihat lelaki itu dilayar kaca karna sorotan media. Pengusaha kaya, pintar dan tampan. Mungkin itu juga alasan banyak media yang menyoroti kehidupan pribadinya. Walaupun ia bukanlah seorang aktor atau semacamnya, ia masih tetap populer diantara para wanita dan tak luput juga para gadis. Tak dapat dipungkiri bahwa ia juga sedikit terpukau dengan kepintaran dan ketampanan lelaki itu. Lagi pula siapa gadis yang tidak menginginkan lelaki yang seperti itu?

****

Sam Rin Hyo’s POV

Aku mengemasi barang-barangku yang masih terlipat rapi didalam koper untuk kupindahkan pada almari berukuran sedang yang berada disamping meja rias hotel. Baru saja aku sampai di Kota Biei, Jepang. Setelah mendarat di bandara di Tokyo aku langsung diantar oleh sopir perusahaan menuju kamar hotel yang sudah ia siapkan untukku. Dia? Dia yang kumaksud adalah atasanku yang tampan dan pintar.

Minggu ini aku kosong atau lebih rincinya aku sedang tidak sibuk. Karna, aku menjalankan tugasku sebagai sekertaris seorang Cho Kyuhyun, pengusaha muda itu pada minggu depan. Aku tidak terlalu tahu tentang Cho Kyuhyun. Yang kutahu, ia pengusaha tampan, muda dan pintar. Tak jarang ia tampil ditelevisi, walaupun ia bukan seorang aktor atau semacamnya.

Aku menjatuhkan tubuhku dikasur yang terlalu luas jika hanya untuk satu orang ini. Hotel ini milik pengusaha muda itu, disamping gedung ini juga ada resort yang dilengkapi dengan lapangan golf. Benar-benar elite. Kupejamkan kedua mataku dan tersenyum, memikirkan satu minggu ini yang dapat kuhabiskan dengan berkeliling kota Biei atau mungkin ke Tokyo? Entahlah, yang jelas satu minggu ini akan menjadi minggu yang paling menyenangkan untukku.

****

Shin Ji Eun’s POV

Seoul, 2010

“Aku pasti kembali , Ji Eun! Kau tidak usah khawatir…” Aku menggigit bibir bawahku kuat, ingin rasanya aku menangis saat ini. Terpaan angin ditepi sungai han yang biasanya terasa sejuk kini terasa dingin menusuk tulang dan membekukan hatiku, apa disaat seperti ini hatinya juga membeku? Terlihat dari bagaimana cara ia bicara padaku.

“Berapa lama kau disana?” Aku merasakan suaraku sedikit bergetar karna aku berusaha menekan rasa sakit bercampur takut. Bagaimana bisa lelaki ini akan pergi disaat 5 bulan lagi kami hendak melangsungkan pernikahan?

“Sampai perusahaan disana stabil kembali, pastinya.” Suara lelaki ini sudah terdengar berat kentara sekali kalau ia juga tak ingin seperti ini.

“Apa… Hubungan kita hanya selesai…”

“Jangan mengatakan kata itu, Ji Eun!” Aku tersentak dengan bentakannya yang begitu dingin meski tak terlalu keras.

“Tolong jangan katakan itu lagi,” mohonnya dengan lembut. Ia meraih kedua tanganku dan menatapku sendu.

“Tunggulah aku, aku pasti kembali!” Ia menarik tangan kananku dan menaruhnya tepat didepan dadanya.

“Karna hati ini, sudah terikat dan terpaku olehmu! Kau mengerti?” Kuhela napasku dalam. Aku tersenyum tipis seraya mengangguk.

“Katakan jika kau mencintaiku Kyu!” Aku ingin memastikan satu hal dari tatapannya dan kemanatapannya.

“Aku mencintaimu Shin Ji Eun!” Aku tersenyum tipis, dan berhambur kepelukannya. Perkiraanku salah, tatapannya masih sama dengan 2 tahun yang lalu sejak ia untuk pertama kalinya menyatakan cinta padaku.

“Aku juga Cho Kyuhyun!” Ia membalas pelukanku dengan sangat erat, sedangkan aku menghirup aroma lehernya yang pasti akan selalu kurindukan nantinya.

“Aku pasti akan selalu merindukanmu.”

“Dan aku pasti lebih merindukanmu disana!” Aku tersenyum tipis mendengar suara yang begitu merdu itu.

“Berjanjilah padaku untuk selalu mencintaiku!”

“Iya, aku berjanji!”

“Meski ternyata aku bukan takdirmu?”

“Kau adalah takdirku!”

****

Cho Kyuhyun ’s POV

2 hari lagi aku harus berangkat ke Jepang. Sebelumnya aku hanya memegang perusahaan yang berada di Korea. Soal Jepang, biasanya itu tugas ayah. Tapi naas, ayahku sedang sakit keras disaat perusahaan itu tengah diambang kehancuran. Dan tentunya akulah yang harus mengurusinya. Ibu menemani ayah dirumah sakit sedangkan Ahra noona sedang mengandung. Jadi yang memimpin kantor pusat di Korea adalah sepupuku Choi Siwon.

Aku meneguk segelas wine-ku kembali tanpa sisa. Sebenarnya aku sangat ingin menemani Shin Ji Eun, kekasihku. Beberapa hari yang lalu sepupunya yang biasa tinggal dengannya katanya baru saja mendapat pekerjaan dinegeri orang. Alhasil, ia hanya bersama ibunya yang jarang pulang dirumah. Ayah gadis itu selalu saja berada diluar negeri. Keluargaku dan keluarganya adalah rekan bisnis dan juga sahabat yang baik. Maka itu, mudah sekali untuk mendapat restu dari orang tua kami masing-masing.

Entah berapa gelas yang sudah kuteguk. Yang kutahu, 2 botol wine-ku sudah kosong. Kepalaku mulai pening, memikirkan jika setelah ini aku akan berpisah dengan Ji Eun membuatku ketakutan sendiri. Takut jika ia akan berpaling dan lelah menungguku, takut jika ia akan mengacuhkanku saat nanti aku kembali dan takut jika ia sudah tak lagi mencintaiku nantinya. “Shin Ji Eun” racauku, kedua mataku mulai berat dan mengantuk. Aku merebahkan diri disofa yang kududuki ini dan mulai memejamkan mata.

****

Sam Rin Hyo’s POV

“Nona Sam, tuan Cho Kyu Hyun sudah menunggu anda di mobilnya.”

“Ahh iya, arigatou” aku membungkukkan badanku pada pelayan hotel dengan sopan kemudian menyecahkan kakiku kearah pintu hotel dan menghampiri sebuah mobil lambhorgini hitam yang pintu belakangnya dibuka oleh pelayan hotel lainnya.

“Silahkan nona…” Aku tersenyum tipis dan mengatur napasku sejenak kemudian memasuki mobil itu. Setelah pintu tertutup aku menoleh kesamping dan sedikit terkejut saat menatap wajah Cho Kyuhyun dari jarak sedekat ini. Tak dapat dipungkiri jika lelaki ini mempunyai wajah yang hampir mendekati sempurna.

“Namamu Sam Rin Hyo?” Kyuhyun membuka berkasnya tanpa menatapku, seperti berkas-berkas itu lebih menarik dikedua matanya.

“Ne sajangnim,” ucapku selembut mungkin. Karna , sebenarnya aku bukan tipe yang seperti ini. Atasanku yang dulu saja sudah seperti kakak untukku karna kami sangat akrab, namun berbeda dengan lelaki disampingku ini. Ia bukanlah orang sembarangan dan dari nada bicaranya seperti ia sukar didekati.

“Asal Busan? Tapi logatmu tidak seperti itu.”

“Aku lahir di Busan. Namun, dari umur 3 tahun aku menetap di Seoul.” Jelasku dengan sangat sopan. Ia manggut-manggut seolah mengerti.

“Baiklah, sekarang kau menjadi sekertarisku. Kau sudah mengertikan bagaimana keadaan perusahaan sekarang?”

“Ne sajangnim, perusahaan sedang mengalami krisis dan juga isu adanya korupsi sehingga para pegawai banyak yang mengajukan pengunduran diri. Tapi karna terikat kontrak, akhirnya mereka berencana berdemo besar-besaran”

“Kau siap?”

“Tentu saja, aku dikirim kesini dengan kesiapan sajangnim” Cho Kyuhyun diam tak membalas perkataanku. Dari nada bicaranya sejak tadi, seperti angkuh, dingin dan arogan. Benar-benar tipe seseorang yang paling tak kusuka. Semoga saja perkiraanku salah. Aku tidak suka bekerja dengan seseorang yang tidak aku sukai.

****

Aku membawa setumpuk berkas dikedua tanganku, hingga yang terlihat hanya sampai sebatas hidung hingga keatas saja. Cho Kyuhyun yang berjalan santai didepanku benar-benar menyebalkan. Menyuruhku membawa berkas sebanyak ini tanpa sedikitpun membantu, sebenarnya ia laki-laki atau bukan sih?

Sekarang aku tengah terdiam didalam lift bersama atasan tersadis sedunia ini. Sepertinya aku sudah menjulukinya seperti itu sekarang, huh… Untung saja ia bukan cenayang yang dapat membaca pikiran. Pintu lift terbuka, seorang lelaki yang berkemeja dengan dipadu dengan jas yang terlihat mahal memasuki lift setelah menatap atasan sadis ini dengan senyuman miring. Satu hal yang dapat aku simpulkan dari sini, ia tampan.

“Kau sudah datang?” Bisiknya saat ia sudah berdiri disamping Kyuhyun.

“Apa kau terlalu bodoh untuk menyadarinya?” Lelaki itu terkekeh, sedangkan aku menatap atasan sadis itu tak suka. Bagaimana bisa ia mengatakan hal sekasar itu.

“Kau sekertaris barunya?” Aku tersentak saat ia menoleh kebelakang untuk sekedar berbasa-basi.

“Ne”

“Perlu bantuan?”

“Eh?” Ia tersenyum . Tampan dan baik, benar-benar mempesona. Dan senyuman itu, sangatlah manis. Hingga sampai aku baru menyadari jika berkas-berkas itu sudah ada ditangannya.

“Ck” decakan yang dibuat oleh Kyuhyun membuatku menoleh kearahnya dengan gerakan reflek. Air muka lelaki itu terlihat sangat kesal. Ada apa dengan dia?

Pintu lift terbuka, kami keluar dari lift kemudian berhenti saat Kyuhyun menghentikan langkahnya. Ia berputar dan menoleh kearahku, sorot matanya begitu tajam sampai aku mengalihkan pandanganku. Terlalu menakutkan.

“Kau! Aku membayarmu untuk bekerja! Jika kau menyuruh orang untuk hal sekecil ini, berarti sama saja kau memakan gaji buta!” Baru saja aku ingin melontarkan segala makian dan bantahan padanya tapi segera mulutku kututup rapat. Aku harus sabar untuk bertahan bekerja ditempat sebagus ini. Tapi tadi apa katanya? Menyuruh? Apa ia tidak tahu perbedaan antara menyuruh dan menawarkan diri? Dasar bodoh.

“Dan kau , serahkan itu padanya dan cepat kembali ketempatmu!” Lelaki yang aku belum tahu namanya itu tersenyum sinis dan menaruh berkas-berkas itu kembali menyerahkannya padaku. Saat ia hendak pergi aku menahannya.

“Terima kasih tuan…” Aku menggantung perkataanku dan memandangnya penuh harap. Aku sangat ingin tahu siapa nama lelaki itu. Ia tersenyum manis lagi.

“Song Joong Ki” aku ikut tersenyum dengan sendirinya.

“Terima kasih, tuan Song” Ia tersenyum lalu berputar dan berjalan menjauh dari kami. Dari belakang saja ia terlihat sangat mempesona. Aku menghela napasku seraya mengulas senyum samar. Beban berkas yang kubawa rasanya sangat ringan hanya dengan menatap punggung itu.

“Hei kau!” Aku tersentak dan segera menoleh kesamping kiri, sumber suara itu berasal. Cho Kyuhyun bersendekap dan menatapku datar.

“Jangan bertindak semacam orang gila seperti itu! Kau dikirim kesini untuk bekerja!” Aku sedikit menggertakkan gigiku dan melayangkan kakiku saat tubuh itu sudah berputar dan melanjutkan langkahnya kemudian masuk keruangannya.

“Sangat menyebalkan!” umpatku bersamaan dengan bergeraknya kedua kakiku untuk berjalan menuju meja seperempat lingkaran yang terletak disamping pintu kayu itu. Aku menjatuhkan berkas-berkas itu diatas meja seraya menghela napas panjang. Hari ini hari pertama, tapi aku sudah disiksa seperti ini.

“Sam Rin Hyo, fighting!”

****

Author’s POV

Seoul Hospital, korea selatan, 2010

Shin Ji Eun menggeser pintu bangsal rumah sakit yang berkelas VVIP itu dengan lemah. Hari ini, adalah jadwal ia menjenguk calon ayah mertuanya. Tuan Cho. Lelaki paruh baya yang sangat tegas itu tengah terbaring lemah dirumah sakit karna penyakit jantung yang dideritanya.

“Kau sudah datang Ji Eun!” sapa nyonya Cho ramah seiring dengan Shin Ji Eun yang membungkuk pada nyonya Cho. Ia mengganti bunga lili kuning yang berada divas itu dengan bunga lili segar yang baru saja ia beli.

“Bagaimana keadaan ayah, ibu?” Nyonya Cho tersenyum miris seraya menggeleng.

“Masih sama seperti sebelumnya.” Shin Ji Eun menatap ayah mertuanya lirih. Ia menghela napas berat kemudian beralih menatap nyonya Cho, mengulas senyum dan memeluk wanita itu hangat.

“Ayah pasti akan segera sembuh, ibu!” Nyonya Cho menghapus setitik air matanya kemudian melepas pelukan hangat Ji Eun. Beliau tersenyum hangat pada Shin Ji Eun, ia merasa tidak salah memilih calon menantu sebaik gadis ini.

“Kau memang sangat baik, Ji Eun! Gara-gara ini pernikahan kalian diundur.” Sesal Nyonya Cho. Ji Eun menggeleng tegas.

“Gwenchana ibu, aku tidak apa-apa. Ini semua sudah kehendak tuhan. Ini sudah diatur olehnya.” Shin Ji Eun tersenyum lagi,

“Ahra eonnie tidak kesini?”

“Ahra juga dirawat dirumah sakit ini. Tadi dini hari, ia melahirkan putrinya…”

“Benarkah? Ya tuhan… syukurlah… dikamar mana ibu? Aku ingin melihatnya.” Shin Ji Eun mengatakan hal itu dengan wajah berbinar.

“Putri? Pasti putrinya cantik sekali!” Komentarnya seraya terkekeh. Nyonya Cho hanya tersenyum.

“Ibu sudah melihatnya?” Wanita itu menggeleng, membuat ulasan senyuman Ji Eun luntur seketika.

“Belum? Kenapa?”

“Jika aku kesana, siapa yang akan menjaga suamiku?” Ji Eun menatap lirih nyonya Cho kemudian menarik napas.

“Ibu pergi saja! Aku yang akan menjaga ayah!”

“Tapi bukankah kau ingin melihat Ahra?”

“Ck, sudahlah ibu… aku bisa lain kali! Ibu tidak usah mengkhawatirkanku!!” Nyonya Cho tersenyum kemudian mengangguk.

“Baiklah, jagalah ayah mertuamu dengan baik, ne?” Ji Eun mengangguk seraya tersenyum bersamaan dengan Nyonya Cho yang berjalan keluar dan menutup pintu. Shin Ji Eun menatap lirih ayah mertuanya yang tengah terbaring lemah diranjang itu. Kedua matanya tertutup, sudah 2 hari ini ia belum sadar. Keluarga Cho sengaja tak menghubungi Cho Kyuhyun, karna ia tahu itu hanya mengganggu kerja Kyuhyun. Ji Eun menghela napasnya dan mendaratkan tubuhnya dikursi samping ranjang. “Cho Kyuhyun” lirihnya, ia sangat merindukan sosok itu. Ia tersentak saat deringan ponselnya bersuara memekikkan telinga. Segera ia mengangkat telepon tanpa keluar dari kamar.

“Halo! Siapa ini?”

“Padahal 2 hari yang lalu aku menghubungimu dan sekarang kau melupakanku?” Ji Eun tersenyum, baru saja ia memikirkan lelaki itu. Dan sekarang ia sudah menelponnya. Ajaib sekali bukan?

“Aku tadi tidak melihat siapa penelponnya! Kau ini!”

“Lain kali lihat dulu! Kalau saja yang menelpon adalah orang jahat bagaimana?”

“Iya, iya aku tahu!” Selanjutnya hening. Hanya terdengar deruan napas yang dihembuskan keduanya. Mereka seolah menikmati hal ini, seolah keheningan dan saling mendengar hembusan napas masing-masing sangat menyenangkan untuk mereka.

“Aku merindukanmu!” Suara berat itu mengucap kata yang sejak tadi diteriakan Ji Eun dalam hatinya.

“Aku benar – benar merindukanmu!”

“Aku juga Kyu…” Sayup-sayup Ji Eun mendengar ketukan pintu dari sebrang sana.

“Ji Eun, aku ada urusan! Kita lanjutkan nanti ya!” Ji Eun mengangguk kemudian berkata ‘iya’ saat ia sadar Kyuhyun tak dapat melihat anggukannya. Ia mensaku kembali ponselnya dengan lemas. Ada sedikit ketakutan yang membayangi hatinya, ketakutan jika Kyuhyun akan berpaling darinya.

***

Tokyo, 2012

Sam Rin Hyo menjalankan mobilnya pelan didaerah Tokyo, Jepang. Padahal sudah lebih dari 3 bulan sejak perusahaan di Biei stabil ia mengikuti Kyu Hyun ke Tokyo. Tapi tetap saja ia tak kunjung hafal jalanan dikota ini. Hari sudah larut dan lampu-lampu perkotaan mulai menyala terang layaknya Las Vegas. Rin Hyo mengendarai mobilnya sangat pelan dengan kepala yang ia tolah-tolehkan kekanan dan kekiri. Sial sekali tidak ada papan penunjuk jalan disini. Jadi, bagaimana ia bisa tahu daerah sini? Rin Hyo menge-rem mendadak mobilnya disaat ia merasa menabrak sesuatu. Dengan tubuh yang bergetar ia melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil.

“Astaga!” Ia segera berlari pada pria yang membelakanginya seraya mencoba berdiri.

“Tuan, kau tidak apa-apa?” Pria itu berdiri dan berputar.

“Sajangnim?!”

“Kau sudah punya SIM?” Rin Hyo mengerutkan dahinya saat Kyuhyun berkata demikian. Namun tetap saja ia mengangguk.

“Tsk, bodoh sekali orang yang meloloskanmu mempunyai SIM!” Rin Hyo melebarkan kedua matanya, akhir-akhir ini Kyuhyun sering sekali membuatnya kesal. Rin Hyo membuang napasnya kasar untuk sekedar meredam emosi.

“Kau tidak apa-apa sajangnim?”

“Kau bodoh ya? kau tidak lihat luka dipergelangan tangan kananku?” Rin Hyo memeriksa tangan Kyuhyun dan terkejut.

“Untung saja kau tidak terlalu kencang.”

“Anda membawa mobil?”

“Tidak”

“Kalau begitu sekarang ikut aku! Aku akan bertanggung jawab. Maafkan aku sajangnim” Rin Hyo membungkuk dalam pada Kyuhyun. Kyuhyun mengulum senyum kemudian memasang wajah dinginnya lagi.

“Baiklah jika kau memaksa!” Rin Hyo membawa Kyuhyun ke dalam mobilnya dan segera melesatkan mobilnya ke apartemen miliknya.

****

“Akh!” Pekik Kyuhyun saat Rin Hyo mulai menempelkan kapas yang sebelumnya ia basahi dengan obat antiseptic.

“Tahan sebentar sajangnim! Setelah ini selesai.” Rin Hyo menutup luka Kyuhyun dengan plester kemudian tersenyum.

“Selesai!” Tanpa Kyuhyun sadari ia juga ikut tersenyum menatap senyuman Rin Hyo. Bahkan rasa sakit dipergelangan tangannya sudah tak terasa perih lagi.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Tanya Rin Hyo polos. Kyuhyun tersentak kemudian segera merubah ekspresi wajahnya.

“Aku hanya senang karna kau sudah selesai! Dan itu artinya aku bisa segera pergi dari sini.” Kyuhyun segera beranjak dari sofa, menutupi kegugupannya yang sekarang tengah mendominasi. Rin Hyo juga ikut berdiri dengan bingung, ia merasa jawaban atasannya itu sangat aneh.

“Apa aku perlu mengantarmu?” tanya Rin Hyo yang masih mengekori Kyuhyun sampai dibelakang pintu apartemennya. Kyuhyun membuka pintu apartemen Rin Hyo dengan santai dan memutar tubuhnya menghadap Rin Hyo.

“Tidak usah, aku bisa naik taksi.”

“Rin Hyo-ya!” Rin Hyo dan Kyuhyun menoleh kesamping kanan arah suara itu berasal. Senyum Rin Hyo merekah saat mendapati Song Joong Ki lah yang baru saja menegurnya.

“Joong Ki-ya” Kyuhyun sontak menatap Rin Hyo aneh. Bingung dengan atmosfir dilorong gedung apartemen ini. Ia tidak tahu jika Rin Hyo ternyata mengenal Joong Ki dengan baik, begitu sebaliknya. Karna dikantor, mereka terlihat tidak terlalu dekat. Atau karna ia yang tidak memerhatikan mereka?

“Bagaimana bisa kau ada disini?” Tanya Joong Ki pada Kyuhyun saat ia sudah berada disamping lelaki itu.

“Tadi aku menabraknya dan dia terluka jadi aku harus mengobatinya disini.” Kyuhyun kembali menatap Rin Hyo aneh. Ia berpikir, untuk apa Rin Hyo menjelaskan semuanya pada Joong Ki? Seolah-olah ia berkata agar Joong Ki tidak salah paham, apa mereka menjalin hubungan?

“Kau sendiri? Untuk apa kau kesini?” tanya Kyuhyun pada Joong Ki.

“Kau lihat?” Joong Ki menunjuk pintu apartemen disamping apartemen milik Rin Hyo.

“Disana aku tinggal.” Kyuhyun tersentak, Song Joong Ki tetangga Sam Rin Hyo? Terbesit perasaan tak rela saat tahu jika Joong Ki adalah tetangga sekertarisnya. Tak rela? Astaga, ia pasti sudah gila.

“Oh, kalau begitu aku pergi!” ucap Kyuhyun lalu mulai mengayunkan langkah ringannya. Namun, selang 3 langkah ia berhenti dan memutar tubuhnya.

“Besok! Jangan sampai terlambat. Kau mengerti?” titah Kyuhyun seraya mengacungkan jari telunjuknya kearah Rin Hyo.

“Aku tidak akan terlambat, sajangnim” Kyuhyun menyeringai kemudian kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Rin Hyo dan sedikit menyenggol bahu Joong Ki. Entah apa maksudnya.

To Be Continued

Advertisements

99 thoughts on “The Bride & The Bridesmaid 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s