Still You (KwangEun ver.)

kikwang-jieun

Author : Tsalza Shabrina Cast. : Shin Ji Eun and Lee Kikwang Genre : Friendship, romance, sad Rate : T A/N : FF ini dipersembahkan untuk seluruh pembaca yang mau baca FF gak jelas ini. Dan untuk Bella, sori ye kalau mengecewakan! Hihi. Happy Read!

  ***

Shin Ji Eun’s POV

Aku mengeratkan jaket tebalku lagi. Namun, hasilnya sama saja. Hawa dingin ini masih saja menembus kulitku. Embun yang keluar dari mulutku ini semakin tebal saja, kurasa setelah ini bibirku akan mengering. Ck, jika bukan karena pria ini, aku tidak akan mau menunggu selama ini. 1 jam, berdiri didepan sungai han yang hampir membeku. Bukankah aku sudah berkorban banyak untuknya ?

“Shin Ji Eun!” Aku menoleh kesamping, senyumku merekah saat melihatnya datang. Ia berlari menghampiriku, aku mengulum tawaku saat melihatnya hampir terpeleset licinnya salju. Salah sendiri berlari seperti itu disaat musim dingin yang bersalju seperti ini.

“Kau lama sekali, apa jadwalmu sepadat itu, ha?!” Rajukku padanya. Ia menghembuskan napas kesalnya seraya menatapku marah. Marah? Hei, yang seharusnya marah disini kan aku?

“Ayo masuk kedalam!” ucapnya dingin. Aku akhirnya mengatupkan bibirku yang tadinya hendak protes dan akhirnya, menurutinya. Memasuki mobilku yang berasa tepat dibelakang kami.

“Shin Ji Eun! apa kau bodoh ?!” Aku menatapnya kecewa, berani sekali ia mengataiku setelah aku menunggunya selama satu jam ditengah dinginnya malam. Sial, mataku mulai memanas. Baiklah, aku memang gadis yang sedikit sensitif. “Untuk apa berdiri diluar mobil, jika kau bisa menunggu di dalam mobil?!” Bentaknya lagi. Sudah cukup kutahan kesabaranku.

“Itu semua karena mobilku baru! Aku tidak ingin kau mengira aku tidak datang, jadi aku keluar agar kau melihatku.” Bentakku tak mau kalah.

“Tch, bodoh!”

“Lee Kikwang! Jika kau datang hanya untuk mengataiku, lebih baik sekarang kau turun! Aku ingin pulang.” Ucapku kesal seraya menghadap kedepan. Untuk kali ini, aku kesal saat menatap wajahnya. Kedua mataku membulat saat ia menarikku kedalam pelukannya, aku membentuk senyuman tipis,  Hangat.

“Mengapa kau selalu saja membuatku khawatir, ha?!” tanyanya lembut. Aku hanya diam, semakin mengeratkan pelukanku padanya.

“Aku kedinginan Lee Kikwang,” gumamku. Setelah mendengar gumamanku ia menggosok-gosok punggungku agar aku merasa hangat.

***

“Pohon natal ini begitu indah. Aku baru melihat pohon natal yang sebesar ini disini,” Ucapku kagum.Pohon natal ini memang begitu indah, aku menatap beberapa orang yang mendekat pada pohon itu. Apa yang mereka lakukan?

“Kau ingin menulis harapan?” Aku menatap Lee Kikwang cepat. Harapan? Oh, jadi itu yang membuat banyak orang mendekati pohon itu.

“Ayo!” Sedetik kemudian, ia sudah menggenggam erat tanganku. Menarikku mendekati pohon natal raksasa yang indah itu. Aku mengulum senyumku, seandainya kita dapat seperti ini selamanya. Tapi, kurasa itu tidak mungkin. Pasti akan ada saatnya kau akan menggenggam tangan lain, bukan tanganku.

“Kikwang-ie, jika suatu saat… tiba-tiba aku menyukaimu, bagaimana?”

“Eung… apa mungkin itu akan terjadi?”

“Entahlah, tapi jika itu terjadi bagaimana?”

“Kita sudah bersahabat sejak kau pindah rumah disebelah rumahku.”

“Ya, sejak aku berumur 5 tahun.”

“Kau benar, dan sampai sekarang, saat kita berumur 15 tahun. Dan sampai nanti, hingga waktu yang akan menjawabnya.”

“Ya, aku tahu, lalu apa hubungannya dengan pertanyaanku?”

“Selama itu aku menganggapmu sahabat. Dan sampai nanti pun begitu, aku tidak terlalu mengerti dengan istilah ‘sahabat menjadi cinta”

“…”

“Menurutku, cinta adalah sebuah pilihan. Jika kau atau pun aku tiba-tiba saling menyukai, aku tidak yakin itu adalah sebuah cinta. Mungkin saja, itu hanyalah rasa nyaman.”

“Jadi,..”

“Mm, sahabat itu sahabat, cinta itu cinta, sahabat dan cinta itu 2 istilah yang sulit untuk di kaitkan.”

Ya, sahabat itu sahabat sedangkan cinta itu cinta. Lee Kikwang benar, lalu perasaanku ini perasaan apa? Berdebar saat ia menyentuhku, berdebar saat ia tersenyum padaku, berdebar saat melihatnya muncul di layar televisi, meski disana ia berdiri sebagai Lee Kikwang ‘B2ST’ bukan sebagai Lee Kikwang yang kucintai. Apa ini sebuah rasa nyaman saja? Atau mungkin ini perasaan cinta? Apa mungkin aku mulai mencintainya? Aku segera menggeleng tegas, tidak boleh! Aku tidak boleh mencintai pria yang sudah 15 tahun menjadi sahabatku ini!

“Ya! Shin Ji Eun! Kenapa kau menggeleng seperti itu, eoh?” Aku segera tersadar dari lamunanku, kemudian menatap Lee Kikwang yang tengah menatapku aneh.

“Nde?”

“Kau tidak ingin menulis harapan?” Dengan cepat aku mengambil secarik kartu harapan dan sebuah spidol yang dibawa Kikwang.

“Tentu saja aku ingin.” Ucapku seraya menggantungkan kartuku lalu mulai menulis. Namun, baru saja ujung spidol itu mengenai kertas kartu, aku menoleh kebelakang, menatap Kikwang yang sepertinya ingin melihat kertasku.

“Apa yang kau lakukan, ha?! Kartu ini rahasia! Jadi kau harus menjauh dariku!”

“Aish, Arasseo!” ucap Kikwang seraya menjauh dariku. Aku kembali mengulum senyumku, pria itu menggemaskan sekali.

Aku harap Lee Kikwang jatuh cinta padaku. Dan menyadari bahwa sahabat jadi cinta itu ada!

Aku terkikik melihat tulisanku sendiri. Sesekali aku mencuri pandang pada Kikwang yang tengah berdiri beberapa jarak dariku. Walaupun wajahnya tertutupi oleh masker, aku bisa melihat bahwa ia pasti sedang kesal. Dengan masih tersenyum, aku berjalan mendekatinya.

“Ayo kita pergi!” Ucapku riang, ia menatapku lalu menatap pohon natal besar itu. Entahlah apa yang sedang ia pikirkan, aku tidak terlalu mengerti.

“Sudah selesai?” Aku menjawabnya dengan satu anggukkan, aku masih mengulas senyum tipisku.

“Kenapa tersenyum terus?” Seketika senyumanku luntur, terganti dengan desisan kesal padanya.

“Memangnya aku tidak boleh tersenyum?” Ia membenahi topi hitamnya kemudian menatapku curiga.

“Kau tidak menulis yang aneh-aneh tentangku kan disana?” Mataku membulat seketika. Bagaimana pria ini tahu?

“Ah, te—tentu saja tidak.” Ucapku gugup. Ia masih menatapku curiga, bahkan kerutan didahinya semakin bertambah saja.

“Aish, kau jangan terlalu percaya diri! Aku tidak menulis apa-apa tentangmu! Untuk apa aku repot-repot menulis harapan untukmu?” Woah, Shin Ji Eun! Kau pintar sekali membohongi orang. Kenapa mulutmu sangat lancar saat mengatakan itu? Lee Kikwang terlihat masih belum terlalu yakin, tanpa aba-aba Kikwang berjalan melewatiku. Astaga, apa ia akan membaca tulisanku?

“Ya! Kau mau kemana?!” Seolah tak mendengarku ia masih saja melanjutkan langkahnya.

“Aish, eottokhae?” Dengan tergesa-gesa aku berlari kearahnya kemudian menarik lengannya.

“Ya! Aku mau melihat tulisanmu!”

“Aish, kau ini penasaran sekali. Itu rahasia.”

“Kita sudah bersahabat hingga 15 tahun, apa masih ada kata ‘rahasia’ diantara kita?” Tentu saja ada! Sampai sekarang pun kau masih tak tahu tentang perasaanku yang sebenarnya padamu!

Aku masih berusaha menarik tangannya. Namun Kikwang juga sepertinya sudah sangat penasaran. Dan alhasil, kami saling tarik-dorong ditengah hiruk pikuk keramaian tempat wisata ini seperti orang bodoh. Jika saja bukan karena rahasia itu, aku tidak akan mau melakukan hal memalukan seperti ini.

“Lee Kikwang! Ayo pergi!!!!” Ucapku tegas seraya mengaitkan tanganku dilengannya. Saat kurasa tak ada penolakan, aku menariknya menjauh dari tempat itu. Huft, hampir saja.

****

“Nanti sesampainya dirumah, cepat mandi air hangat. Jangan lupa menyalakan pemanas ruangan di kamarmu.”

Aku menatap Kikwang yang tengah menasihatiku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia sudah melepas semua alat penyamarannya, ya! Karena kami sedang berada di mobilku dalam perjalanan pulang. Tadi, ia datang di sungai Han dengan mobil Van milik group-nya itu. Karena, setelah menyelesaikan jadwalnya, ia langsung menemuiku. Haah, aku jadi merasa bersalah padanya. Ia pasti terbebani olehku.

“Lee Kikwang!” Pria itu menoleh kearahku sesaat kemudian menatap jalanan kembali.

“Ada apa dengan wajah kusutmu itu?” Aku mendesis malas, kesal dengan ucapannya yang selalu berkata seenaknya sendiri tentangku.

“Maaf.”

“Untuk?”

“Apa aku terlalu membebanimu? Kau pasti lelah setelah melakukan segala jadwalmu yang melelahkan itu, ditambah lagi dengan kau harus menemuiku. Seperti tadi, dan juga hari-hari sebelumnya. Aku minta maaf.”

“Akhirnya kau sadar juga, ha?!” Ucapnya serius. Aku menatapnya kecewa, jadi aku memang membebaninya ya.

“Aku hanya bercanda.” Senyumku merekah begitu saja saat ia mengatakan 3 kata itu. Seolah membuang sedikit beban yang ada dihatiku.

“Ish, kau selalu saja mempermainkanku!” Rajukku, ia malah terkekeh. Aku tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. Melihat wajahnya yang tengah tersenyum senang seperti itu, membuatku senang.

“Selelah apapun aku, saat sudah bertemu denganmu. Lelah itu akan hilang.” Ucapnya lembut. Aku menatapnya bingung, apa maksud dari perkataannya ? apa benar yang mengatakan itu adalah Lee Kikwang ? Aku tidak sedang bermimpi, kan? Aku mencubit punggung tanganku sendiri, aku merasa sakit. Jadi ini bukan mimpi? Benar ini bukan mimpi ?

***

Author POV’s

Shin Ji Eun menyanggah kepalanya dengan kedua tangannya. Sesekali ia terkikik sendiri dan tersenyum, tak peduli akan pandangan para mahasiswa lain yang tengah menatapnya aneh.

“Ya! Shin Ji Eun!” Ji Eun tersentak saat seorang gadis baru saja memanggilnya dengan keras.

“Mwo?” tanyanya spontan. Kedua mata lebarnya masih membulat, masih merasa terkejut oleh panggilan gadis itu.

“Aish, seisi kantin sedang menatapmu. Kau gila ya? Senyum-senyum sendiri seperti itu?” Celetuk gadis itu seraya menatap sekelilingnya dengan malu. Shin Ji Eun ikut menatap sekelilingnya, namun setelah itu ia kembali tersenyum pada gadis itu.

“Sam Rin Hyo, aku sedang sangaaat senang hari ini. Kau mau makan apa? Biar aku traktir.” Gadis yang dipanggil Sam Rin Hyo itu merubah rautnya menjadi berbinar.

“Apa saja?” Shin Ji Eun mengangguk semangat.

“Baiklah, kau jangan menyesal ya! Tapi, aku tidak ingin ditraktir disini. Aku tahu tempat yang bagus, setelah kelas terakhir, kita pergi kesana ya?”

“Karena aku sedang dalam mood yang sangat baik. Aku turuti semua keinginanmu.” Ucap Ji Eun masih dengan senyumannya. Rin Hyo tertawa kecil, ia menepuk tangannya tak terlalu keras karena senang. Mungkin kalian berpikir ia terlalu berlebihan ? tapi, untuk Rin Hyo makanan adalah hal yang paling ia sukai. Walaupun tubuhnya begitu ideal, tapi jangan anggap ia pernah berdiet atau semacamnya. Ia adalah pemakan yang sangat mengagumkan, sama seperti Shin Ji Eun.

“Keunde, aku jadi penasaran apa yang membuat mood-mu menjadi sebaik ini.” Senyuman di bibir Shin Ji Eun semakin melebar, ia masih mengingat dengan jelas kejadian tadi malam.

FLASHBACK

Kikwang sudah memarkirkan mobil Ji Eun ditempat biasanya, mereka kini sudah berada didepan pintu apartemen Shin Ji Eun. Ji Eun mengeratkan mantelnya, tubuhnya terasa menggigil sekarang.

“Cepatlah masuk! Kau nanti terkena flu.”

“Tapi bagaimana denganmu ? kau bahkan tidak memakai mantel, apa jaket sudah cukup menghangatkanmu ha?! Aish, kau ini sok kuat sekali!”

“Jangan meledekku, aku ini pria yang kuat.”

“Cih, kau ini! Kau sudah menelpon taksi?”

“Sudah”

“Baiklah, ayo! Aku akan menemanimu menunggu taksi.”

“Mwo?! Tidak usah! Aku tidak perlu ditemani. Lagipula aku juga menunggu taksi didepan gedung apartemenmu.”

“Aniya, aku ingin menemanimu. Aku tidak ingin kau sendirian menunggunya. Bagaimana jika taksimu itu lama? Kau kan bisa saja merasa bosan disana. Belum lagi, jika jaketmu itu ternyata kurang hangat dan tiba-tiba kau pingsan dipinggir jalan. Aish, bukankah itu akan merepotkan nantinya? Kau itu Lee Kikwang ‘B2ST’ bukan Lee Kikwang biasa seperti dulu.”

“Kau itu berbicara banyak sekali! Membuat telingaku sakit saja.”

“Aish, kau ini keras kepala sekali! Aku ini sedang mengkhawatirkanmu.” Cibir Shin Ji Eun kesal.

“Haah… berbicara seperti ini tak ada gunanya.”

“YA!” Teriak Kikwang tak terima saat Ji Eun menarik tangannya. Dengan cepat Kikwang menghentikan langkah Ji Eun dengan mencengkeram lengannya.

“Akh, sakit!”

“Kau ini jangan bertindak bodoh lagi! Aku tidak ingin kau terkena flu jika terlalu banyak menghirup angin malam di musim dingin ini. Apa kau tidak mengerti juga, ha?! Kau ini, mengapa senang sekali membuatku khawatir?” Shin Ji Eun mengatupkan bibirnya, entah kenapa ucapan Kikwang sedikit membuatnya sesak. Apa ia selalu membuat Kikwang khawatir? Pasti ia begitu merepotkan.

“Mi—mianhe, aku hanya…” Kedua mata Ji Eun membulat saat Kikwang tiba-tiba memeluknya. Tubuhnya menegang seketika, tanpa ia perintah bibirnya tersenyum dengan sendirinya. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan diperutnya, dan juga seperti ada kembang api dikedua matanya. Ia bahagia, dan hangat.

“Sudah, kau masuk saja! Kurasa taksiku sudah datang. Aku pergi.” Ucap Kikwang seraya tersenyum tipis pada Ji Eun, ia mengecup sebentar dahi Shin Ji Eun. Sedangkan Ji Eun, masih seperti orang bodoh. Terdiam disana, kemudian memeluk dirinya sendiri. Menyentuh kedua pipinya yang sudah memerah, kemudian beralih pada dahinya.

“Sepertinya aku sudah gila.” Gumamnya. Ya! Gila! Ia sudah menggilai pria itu, pria yang sampai detik ini menjadi sahabatnya. Lee Kikwang, mengingat namanya saja sudah membuat Ji Eun kembali tersenyum.

FLASBACK END

Sam Rin Hyo menatap Ji Eun dengan kesal. Bukannya bercerita, gadis itu malah tersenyum-tersenyum sendiri, namun kini dengan menyentuh kedua pipinya.

“Ya! Shin Ji Eun?! Kau ini benar-benar tidak waras ya?”

“Mwo?!”

“Aish, sudahlah. Kau tidak usah bercerita tentang alasan mengapa kau mendadak gila seperti ini.”

“Ah, mianhe. Tapi, lagipula aku tidak akan mengatakannya padamu. Ini rahasia.”

“Haah, aku sudah menduganya. Kau selalu seperti ini jika kau sudah senang karena rahasia-mu itu.” Shin Ji Eun terkikik geli. Rin Hyo memang selalu mengerti dirinya.

“Ah, ya. Aku punya berita baru. Ini… tentang Lee Kikwang.” Kedua mata Ji Eun langsung melebar seketika.

“Wae? Wae? Ada apa dengan Lee Kikwang?”

“Ah, keunde, untuk fans sepertimu. Ini mungkin akan sedikit menyakitkan.”

“Aish, cepat katakan saja apa beritanya?”

“Lee Kikwang, dia terlibat skandal dengan Hyo Sung ‘secret’ . Sebelumnya, memang Kikwang pernah berkata disebuah variety show jika ia pernah mengagumi gadis itu. Tapi, dengan tiba-tiba foto mereka yang tengah makan disebuah restoran tersebar diinternet pagi ini.” Shin Ji Eun terdiam. Dadanya terasa sesak, baru saja ia terbang ke awan namun ia kembali terjatuh diatas kerasnya bumi.

“Foto? Kau menyimpan fotonya?” tanya Ji Eun dengan pandangan kosong. Ia seperti kehilangan keseimbangan, ia seperti kehilangan pegangan.

“Eung? Tunggu sebentar” Shin Ji Eun menatap Rin Hyo yang tengah mengutak-atik ponselnya dengan jantung yang berdegup kencang.

“Ah, ini!” Ia memajukan tubuhnya, agar dapat melihat dengan jelas foto yang katanya itu adalah Kikwang dan Hyo Sung. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Dadanya masih terasa sesak, namun ia tidak bisa menangis. Pria itu memang Lee Kikwang, dan gadis itu sudah jelas ia Hyo Sung. Tiba-tiba ia teringat ocehan-ocehan Kikwang tentang gadis itu padanya saat mereka tengah keluar bersama.

“Hyo Sung itu sudah cantik, suaranya juga secantik parasnya. Ck, ck, ck, benar-benar mengagumkan.”

“Hyo Sung itu sangat anggun. Seharusnya kau bisa seperti dia.”

“Kau ini! Apa tidak bisa makan dengan pelan-pelan saja? Kau tahu, Hyo Sung jika sedang makan ia akan pelan-pelan. Benar-benar penggambaran bidadari yang turun dari surga.”

“Hyo Sung…”

“Hyo Sung…”

Seharusnya ia tidak terlalu bodoh, mengharapkan Lee Kikwang yang sekarang sudah menjadi seorang Idol yang digantrungi banyak wanita. Seharusnya ia sadar, ia sekarang hanyalah mahasiswi di universitas Seoul dan sudah tidak pantas lagi bersanding disamping pria itu. Bahkan bersanding sebagai sahabatnya saja itu tidak pantas. Seharusnya ia tidak terlalu membebani Kikwang dengan kemanjaannya. Seharusnya ia tahu diri, seharusnya ia tahu malu. Seharusnya ia sadar, tahu dan tidak bodoh seperti ini. Seharusnya, ya! Seharusnya.

“Shin Ji Eun!”

“Eung?”

“Kau, kenapa kau jadi pucat seperti itu?” Spontan Ji Eun menyentuh wajahnya.

“Benarkah?” Rin Hyo hanya mengangguk sebagai jawaban. Apa mencintaimu sesakit ini? Apa mengharapkanmu semustahil ini? Jika saja aku bisa memilih, aku lebih memilih tidak mencintaimu. Jika saja aku bisa memutar waktu, aku akan memutar waktu dimana aku tidak pernah mengenalmu. Dan nantinya akan selalu seperti itu. Namun, aku hanyalah manusia biasa. Lee Kikwang, aku mencintaimu. Aku harus bagaimana?

***

Libur panjang kuliahnya sudah dimulai. Setelah merampungkan semua tugas yang diberi oleh dosen, akhirnya Shin Ji Eun bisa bernapas dengan lega. Ia menyandarkan dirinya pada sofa empuk ruang tengahnya itu. Ia pejamkan kedua matanya. Bosan. Ia benar-benar bosan. Shin Ji Eun membuka kedua matanya kembali, menatap ponselnya yang selalu berada digenggamannya sejenak kemudian menaruh benda itu diatas meja. Sudah satu minggu Lee Kikwang tidak mengiriminya pesan ataupun menelponnya. Apa mungkin ia sedang disibukkan oleh skandalnya itu? Tapi, satu minggu ini juga ia tidak pernah mendengar Cube ent. Mengadakan pers. Ck, sebenarnya apa yang tengah dilakukan pria itu?

Shin Ji Eun melirik ponselnya yang tergeletak diatas meja. Setelah berpikir sejenak, ia akhirnya meraih ponselnya kemudian mulai mengetikkan nama Lee Kikwang di pencarian google. Kembali ia mengumpat saat pencarian pertama yang muncul ialah skandal pria itu dengan Hyo Sung. Baiklah, karena sejak skandal itu ia tidak pernah membaca artikelnya, ia akan membacanya untuk kali ini saja. Mereka memang terlihat serasi! Berharap jika mereka memang benar-benar sepasang kekasih Huaa, I Love Them!! Sebenarnya sedikit tidak rela, tapi, jika Kikwang oppa bahagia. Aku tidak apa-apa! Huaaa Uri Kikwang-ie.

Shin Ji Eun semakin kesal saat membaca komentar-komentar netizen tentang skandal itu. Ia hampir saja membanting ponselnya, namun saat ia membaca satu komentar yang sangat menyentuh batinnya itu , ia terdiam.

Aku memang mencintaimu oppa, tapi jika memang oppa bahagia. Lebih baik aku tidak terlalu egois. Aku hanyalah fans-mu, bukankah tugas seorang fans adalah untuk mendukung idolanya? Aku akan terus mendukungmu dan mencintaimu oppa! Lee Kikwang Oppa, Fighting!!

Shin Ji Eun masih terdiam. Benar, gadis yang memberi komentar ini memang benar! Mencintai memang bukan berarti memiliki.

“Kurasa aku terlalu berlebihan.” Shin Ji Eun menaruh kembali ponselnya diatas meja dengan lemas.

“Baiklah Lee Kikwang! Aku harus mulai terbiasa hidup tanpamu! Kau sudah bukan Lee Kikwang yang dulu! Aku seharusnya menyesuaikan diri!” Shin Ji Eun menghela napasnya dalam-dalam lalu mengepalkan kedua tangannya,

“Shin Ji Eun, Fighting!!!”

***

Shin Ji Eun berjalan ringan di distrik Gangnam, ia menenteng 2 kantung kertas berwarna krem dengan sesekali tersenyum. Langkahnya terhenti saat ia menatap Sam Rin Hyo tengah mengobrol dengan seorang pria yang memakai masker, kacamata hitam dan topi hitam.

“Apa yang dilakukannya disana? Siapa pria itu?” Kedua mata Ji Eun membulat saat Sam Rin Hyo tiba-tiba meninggalkan pria itu, berjalan dengan tergesa-gesa kearahnya. Ia kembali terkejut saat pria itu malah memasuki mobilnya, melesatkan mobil itu dengan cepat tanpa menatap Rin Hyo yang sudah menitihkan air mata.

“Sam Rin Hyo!” Panggil Shin Ji Eun. Rin Hyo menghentikan langkahnya, menyisakan beberapa jarak dengan Shin Ji Eun. Dengan perasaan khawatir, Ji Eun menghampiri Rin Hyo.

“Kau kenapa? Siapa pria itu?” Sam Rin Hyo hanya terdiam, ia menggeleng pelan. Hanya isakan yang keluar dari mulutnya.

“Baiklah, ayo ke apartemenku.” Ucap Ji Eun akhirnya, Shin Ji Eun menuntun Rin Hyo yang seolah lemas menuju apartemennya yang memang berada di distrik Gangnam.

***

“Sudah, jangan menangis lagi!” Ucap Shin Ji Eun seraya menggosok-gosok punggung Rin Hyo yang bergetar karena tangisannya. Dari tadi, Sam Rin Hyo terus saja bungkam. Shin Ji Eun juga sebenarnya sedikit terkejut melihat Rin Hyo yang tengah menangis histeris seperti ini, karena sesedih apapun Rin Hyo. Gadis itu selalu berlagak menjadi gadis kuat dan selalu tersenyum, tapi kini? Apa karena pria misterius tadi? Apa mereka sepasang kekasih?

“Ji Eun-ah, kau punya air dingin?” Dahi Shin Ji Eun mengerut, biasanya pikiran gadis yang tengah kalut akan berbahaya. Ji Eun bergedik ngeri saat ia membayangkan Rin Hyo menyiram diri sendiri dengan air dingin karena saking frustasinya.

“Untuk apa?”

“Tentu saja untuk minum.” Ujar Rin Hyo serak dengan nada kesal.

“Ah, ya. Tunggu sebentar.” Tak lama kemudian, Ji Eun kembali dengan membawa segelas air dingin untuk Rin Hyo.

“Apa tidak lebih baik kau meminum sesuatu yang hangat-hangat saja? Ini musim dingin dan bersalju. Tapi kau malah minum air dingin.” Celoteh Ji Eun saat Rin Hyo tengah meneguk segelas air dingin itu hingga habis. Rin Hyo menaruh gelas itu diatas meja seraya menggeleng pelan.

“Ini sudah menjadi kebiasaanku, jika aku masih terasa sesak setelah menangis aku akan meminum air dingin, dan hasilnya rasa sesak itu sedikit hilang.”

“Ah, benarkah?” Rin Hyo mengangguk sebagai jawaban. Shin Ji Eun sebenarnya ingin menanyakan banyak hal pada Rin Hyo, namun ia tidak ingin Rin Hyo kembali menangis saat ia mulai menanyai Rin Hyo tentang berbagai hal yang mungkin saja sensitif ditelinga Rin Hyo.

“Lebih baik sekarang kau pulang, biar aku yang mengantarmu.” Ucap Ji Eun seraya mengambil gelas kosong bekas Rin Hyo ditempat cuci piring. Sam Rin Hyo hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.

***

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. kupikir ini belum waktunya aku mengetahuinya. Jika kau butuh teman bicara, kau bisa menghubungiku.” Ucap Ji Eun saat mereka sudah berada didepan pintu apartemen Rin Hyo. Sam Rin Hyo mengangguk mantap.

“Gomawo Ji Eun-ah. Kau memang teman yang terbaik!” Puji Rin Hyo seraya mengacungkan kedua ibu jarinya. Shin Ji Eun terkekeh.

“Tentu saja,” Ucap Ji Eun membanggakan diri. Saat Ji Eun menoleh kepintu yang berada disamping kanan pintu apartemen Rin Hyo, dahinya mengernyit.

“Mengapa banyak coretan dipintu ini?”

“Ah, aku belum cerita ya. Apartemen itu, adalah dorm Beast. Aku sudah ingin memberitahumu sebelumnya, tapi aku lupa. Dan coretan-coretan itu, adalah coretan-coretan dari fans mereka.” Ucap Rin Hyo seraya menatap pintu disampingnya itu. Sedangkan Ji Eun masih terpaku. Dorm beast? Berarti Lee Kikwang juga berada disana.

“Aish, padahal 3 hari yang lalu baru saja dibersihkan oleh petugas kebersihan apartemen ini. Apa mereka tidak kasihan dengan idolanya yang harus membayar tagihan lebih.” Gerutu Rin Hyo seraya memasang wajah tak sukanya. Shin Ji Eun masih diam, tiba-tiba ia merindukan pria itu. Degupan jantungnya kembali tidak normal lagi. Aish, merepotkan saja.

“Ji Eun-ah, aku masuk dulu ya!” Shin Ji Eun menatap Rin Hyo lalu mengangguk dengan tersenyum miring.

“Terima kasih untuk hari ini. Eo, apa kau tidak ingin mampir dulu?”

“Nde? A—aniya… aku harus segera pulang.”

“Ah, begitu… kalau begitu. Sampai jumpa, Shin Ji Eun! Hati-hati dijalan!” Ucap Rin Hyo seraya melambaikan tangannya. Shin Ji Eun hanya mengangguk seraya melambaikan tangannya juga. Lihat! Bagaimana bisa Sam Rin Hyo merubah mood-nya secepat itu? Benar-benar gadis yang moody.

Shin Ji Eun’s POV

Aku baru saja hendak melangkahkan kakiku untuk pulang kerumah. Langkahku kembali terhenti saat pintu penuh coretan yang katanya Rin Hyo adalah dorm Beast itu terbuka. Kakiku seolah menempel disana, aku tidak bisa menggerakannya. Aku memandangi pintu itu, dan kedua mataku membulat saat Lee Kikwang, pria itu keluar dari sana.

Aku menatap pria itu dalam, pria ini, aku begitu merindukannya. Sama halnya dengan Kikwang yang juga tengah menatapku tajam. Tatapan itu, aku juga sangat merindukannya. Sudah berapa lama aku tidak bertemu dengannya? 1 minggu? 2 minggu? Ya! Kurasa 2 minggu. Tapi, rasanya seperti 2 bulan. Lama kami saling berpandangan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyapanya duluan

“A—annyeong…” Ucapku canggung. Ia masih diam menatapku, membuatku semakin bingung harus berbuat apa lagi.

“Kenapa tidak pernah menjawab teleponku?” nada dingin itu seolah menghunus kedalam pendengaranku. Ya! Beberapa hari yang lalu ia mulai menelponku, namun aku tidak mengangkatnya, bahkan terkadang aku mematikannya. Itu semua, karena aku hanya ingin terbiasa hidup tanpanya. Hidup tanpa suaranya, dan semua hal tentang Lee Kikwang.

“Eung, itu…” Aku bingung harus menjawab apa. Aku merasa sangat canggung sekarang. Tiba-tiba ia mendekatiku, aku membulatkan kedua mataku saat ia memelukku. Ia selalu seperti ini, memelukku secara tiba-tiba. Dan sialnya, bayang-bayang foto skandalnya itu berkelebat diotakku. Membuatku dengan spontan mendorong tubuhnya. Dapat kulihat ia menatapku kecewa.

“Aku harus pergi!” Ucapku kemudian berbalik, meninggalkannya.

“Mengapa menghindariku?” Langkahku terhenti seketika. Nada itu, nada yang begitu memohon dan lirih. Aku kembali menatapnya yang ternyata sudah berada tepat dibelakangku.

“Mengapa menghindariku, Ji Eun-ah?”

“Aku tidak menghindarimu.”

“Lalu mengapa kau seperti ini?”

“Seperti ini bagaimana?”

“Jangan berlagak seperti orang bodoh, aku tahu kau pasti mengerti maksudku.” Ucap Kikwang tertahan. Kedua mataku terasa memanas, pria ini bersikap seolah-olah ia menderita karenaku. Pria ini juga bersikap seolah-olah memperhatikanku, padahal sudah jelas ia menyukai gadis lain. Apa kau tidak mengerti bagaimana perasaanku, Lee Kikwang? Kau mempermainkanku!

“Mengapa?! Memangnya aku tidak boleh menghindarimu?!”

“Tidak boleh! Apa kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku saat aku tak tahu sedikit pun tentang kabarmu? Kau tahu, aku seperti orang bodoh yang mulai berpikir macam-macam akan keselamatanmu. Aku…”

“Berhenti mempermainkanku, Lee Kikwang.” Ucapku dingin. Bibirku bergetar saat air mata itu mulai jatuh.

“Berhenti mengkhawatirkanku. Berhenti memperhatikanku. Berhenti bersikap seperti itu! Kumohon berhentilah!” Aku mengusap air mataku dengan kasar kemudian kembali menatapnya tajam.

“Aku tahu, kau tidak akan pernah mencintaiku. Aku tahu, kau memperhatikanku karena aku adalah sahabatmu. Tapi, aku tidak bisa seperti itu. Aku mencintaimu, aku mencintaimu Lee Kikwang! Eottokaji? ” Ucapku tegas. Aku menggigit bibirku kuat, membalikkan badanku dan berjalan meninggalkannya yang masih terdiam disana. Entah bagaimana akhir dari persahabatan kami. Apa sampai sini? Maaf Kikwang-ie, aku yang membuat kekacauan ini. Aku lah penghancur persahabatan kita. Maaf… Aku memasuki lift, saat hendak memencet tombol ‘G’ yang ada disana, gerakkanku terhenti saat aku melihat Kikwang tengah berlari kearahku. Aku terdiam, terpaku, membeku, saat Kikwang merengkuhku dengan erat.

“Aku… aku juga mencintaimu, Shin Ji Eun.” Seperti sengatan listrik, begitulah rasanya tubuhku saat ini. Apa Kikwang mencintaiku? Benarkah?

“Aku membutuhkanmu, jangan pergi lagi dariku! Shin Ji Eun, berjanjilah!” Aku menatapnya, mencari kebohongan dari kedua matanya. Namun nihil. Yang aku lihat dari sini adalah sebuah ketulusan. Aku mengangguk seraya tersenyum. Ia juga tersenyum kearahku, kemudian merengkuh tubuhku kembali kedalam pelukannya.

***

Epilog~

Hyo Sung baru saja datang dan langsung memasuki restoran bintang 5 itu. Disana sudah ada Lee Kikwang dan Junhyung. Gadis itu melambaikan tangannya pada kedua pria itu seraya tersenyum. Dengan begitu anggun, ia duduk dikursi yang berhadapan dengan kedua pria itu kemudian menaruh tasnya diatas pahanya.

“Ini, kuharap kau jangan terlalu ceroboh lagi!” Lee Kikwang menaruh sebuah ponsel keluaran terbaru diatas meja. Hyo Sung mengambil ponsel itu dengan senang hati.

“Terima kasih, untung saja kalian yang menemukannya. Aku hampir gila karena didalam sana banyak file-file pentingku.”

“Tentu saja ini tidak gratis, kau harus mentraktir kami!” Ucap Junhyung. Hyo Sung tertawa pelan.

“Baiklah, baiklah, silahkan makan sepuasmu tuan.”

“Astaga,” Ucap Junhyung tiba-tiba, membuat Kikwang dan Hyo Sung menatap pria itu aneh.

“Aku sudah tidak tahan, aku harus ke toilet sekarang! Sebentar ya!” Lee Kikwang hanya bisa mengulum tawanya.

“Tch, dasar Junhyung!” ucap Kikwang. Akhirnya, tinggal Kikwang dan Hyo Sung disana. Mereka mengobrol biasa, ya! Percakapan sesama teman. Pertemuan mereka disana sebenarnya adalah untuk mengembalikan ponsel Hyo Sung yang tertinggal ditempat latihan. Beast dan Secret memang hendak melakukan duet, jadi mereka berlatih bersama, tentunya ditempat yang sama pula.

***

“Kikwang-ie, sejak kapan kau mencintaiku?”

“Eung… haruskah aku mengatakannya padamu?”

“Tentu saja.”

“Sejak kau jatuh dari sepeda. Disaat itu, aku menggendongmu dari taman sampai rumahmu. Saat itu, aku mulai merasa bahwa aku telah mencintaimu.”

“Jatuh dari sepeda? Mm…. saat itu, bukankah aku masih berumur 7 tahun?”

“Mm, kau benar!”

“Sekarang aku berumur 20 tahun, berarti itu… 13 tahun yang lalu. Astaga, bagaimana bisa kau menyembunyikan perasaanmu selama itu?”

“Itulah sebabnya aku sekarang menjadi seorang selebriti. Tidakkah aktingku begitu bagus?”

“Jih, kau selalu membanggakan dirimu sendiri.”

“Shin Ji Eun!”

“Ne?”

“Kudengar kau akan pergi ke Amerika menyusul orang tuamu, apa itu benar?”

“Eung… ya! 2 minggu lagi aku berangkat.”

“2 minggu?”

“Ne. Memangnya kenapa? Kenapa tiba-tiba tersenyum seperti itu?”

“Kurasa 2 minggu waktu yang cukup untuk mempersiapkan pernikahan.”

“Mwo?! Lee Kikwang, jangan gila!”

“Mianhe, karena hanya itu satu-satunya cara agar kau tidak pergi.”

“Tapi, itu terlalu cepat!”

“Sudahlah Shin Ji Eun, kita saling mencintai. Jadi apalagi yang harus dipermasalahkan?”

“Lee Kikwang! Kau sungguh tidak romantis.”

“Aku menyimpan sisi romantisku nanti saat kita berbulan madu. Shin Ji Eun, maukah kau menjadi istriku? Mendampingiku hingga aku menutup mata? Berada disisiku disaat apapun? Maukah kau menjadi satu-satunya wanita yang ada dihatiku?”

“Eung… kau mengharapkan jawaban apa dariku?”

“Ck, kau menghancurkan suasana.”

“Lee Kikwang, Aku sangat mencintaimu. Itu sudah menjadi jawaban yang sangat tepat, kan?”

“Ji Eun-ah…”

“Sekarang kau adalah milikku dan akupun milikmu. Jangan pernah melepas genggamanmu! Jangan pernah merubah rotasi kehidupanmu! Jangan berhenti mencintaiku!”

“Genggaman ini, akan selamanya seperti ini. Rotasi kehidupanku, akan selamanya berada ditanganmu. Dan mencintaimu, aku akan mencintaimu hingga nanti bahkan jika aku bisa, hingga kehidupan setelah dunia nanti. Shin ji Eun, aku mencintaimu.”

“Na ddo, Na ddo Saranghaeyo Lee Kikwang!”

END-

Advertisements

28 thoughts on “Still You (KwangEun ver.)

  1. sweet nya kekek engga nyangka ternyata kikwang udah cinta sama ji eun 13 tahun? lalu kenapa ia bilang kalo sahabat dan cinta itu beda huaaa bikin bingun tapi akhirnya mereka bersama juga kekk 🙂

  2. Permohonan yang terkabul bahkan sebelum memohon ^^
    Kau tau siapa yang menjadi pusat rotasimu saat kau tak bisa lagi berotasi^^
    Kehilangan adalah cara terbaik untuk mengetahui seberapa penting seseorang dalam hidupmu, meski itu juga adalah cara paling menyakitkan^^

  3. huhu itu pas bagian itu *apaan si* aku nangis bombaay *lebay* tapi akhirnya bersama setelah penantian yang panjang hahahahha.. jadi penasaran itu siapa yang maskeran (?) ketemu sama rin hyo abis itu bikin tu cewek nangis sampe segitunya,ada sequel kah? hoho berharap banget eyakk kkk

  4. Pertama sedih tadi pas perkataannya kikwang yang sahabat gak bisa jadi cinta..
    Tapi ternyata dia matahin perkataannya sendiri, haha..
    Suka-suka! Cuma mungkin momentnya sedikit, jadi kurang sweet..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s