At Least I Still Have You 1

Author: Tsalza Shabrina
Cast: Cho Kyuhyun,Lee Donghae, and Sam Rin Hyo
Rate: T
Genre: Angst, Romance
A/N: Don’t Copas! Read and comment,please! Need Critics and support! Thanks.
Inspired by Super Junior M – At Least I Still Have You
Happy Read!

***

Author POV’s

“Bagaimana kuliahmu?” Sam Rin Hyo yang tengah tidur disofa apartemennya dengan posisi kepala yang berada diatas paha Kyuhyun menghela napasnya dalam. Kuliah? Ngomong-ngomong tentang hal itu membuat mood-nya turun drastis. Sam Rin Hyo adalah mahasiswi semester terakhir jurusan Hubungan Internasional di Seoul university. Dan karena semester terakhirnya itu, tugas-tugas yang ia emban begitu menumpuk belum lagi kerja sambilannya di sebuah café didaerah Gangnam.

“Buruk. Tugas menumpuk, dan itu membuatku begitu lelah.” Cho Kyuhyun tersenyum tipis. Menatap wajah cantik kekasihnya dari atas sini adalah kegiatan favoritnya. Rin Hyo memejamkan kedua matanya, merasa begitu lelah dengan semua kegiatannya.

“Sabarlah sedikit! Setelah ini juga kau akan lulus.”

“Kau enak berbicara seperti itu! Jika saja tugas-tugas kuliah tidak menumpuk tiap minggunya, aku pasti dapat sangat bersabar.”

“Aku juga pernah berada diposisimu. Tugas kuliah itu jangan dibuat beban, anggap saja itu sebuah game yang harus cepat-cepat diselesaikan agar kau tidak kalah.”

“Ck, itu kau! Bukan aku!” Kyuhyun tersenyum miring. Sam Rin Hyo memang malas jika disuruh mengerjakan sesuatu yang tidak disukainya. Seperti tugas-tugas yang berhubungan dengan teori-teori sosial. Ia lebih suka praktek dari pada teori. Kedua tangan Kyuhyun tergerak untuk memijit pelipis Rin Hyo. Membuat Rin Hyo memejamkan mata seraya tersenyum senang.

“Tumben sekali kau bersikap seperti ini.” Ujarnya dengan nada menggoda. Kyuhyun tidak menggubris ucapan Rin Hyo, lebih memilih terus memijit pelipis kekasihnya itu.

“Ternyata kau pintar memijat. Kau lebih cocok menjadi tukang pijat dari pada seorang Hallyu Star. Hahaha… Akh! Pelan-pelan Kyu!”

“Jika kau terus mengocehkan omong kosongmu itu , aku akan melakukannya lebih keras hingga kepalamu sakit.”

“Ya Tuhan, Cho Kyuhyun-ku sangat menakutkan. Baik, baik, aku akan menutup mulutku, tuan Cho!” Kyuhyun terkekeh kuat. Menggoda kekasihnya memang salah satu dari puluhan kegiatan favoritnya. Oh, apa ia terlalu mempunyai banyak kegiatan favorit? Ya! Semua kegiatan yang berhubungan dengan Sam Rin Hyo adalah kegiatan favoritnya.

***

Sam Rin Hyo baru saja turun dari bus. Halte bus daerah Gangnam yang menjadi destinasinya itu terlihat begitu penuh oleh orang-orang. Ya, distrik Gangnam adalah distrik teramai di Seoul. Sam Rin Hyo hanyalah gadis Pohang yang beruntung dapat melanjutkan sekolah di Seoul University. Hidup di Seoul memang sulit. Ia juga beruntung bisa menjadi pelayan di café tempat ia bekerja. Mencari pekerjaan di Seoul, bukanlah hal yang sangat mudah. Ia pun tidak menyangka dapat menjalin hubungan dengan seorang hallyu Star yang bernama Cho Kyuhyun.

Waktu itu adalah bulan kedua ia berada di Seoul. Uang yang diberi ibunya untuk kebutuhannya di Seoul memang jauh dari kata cukup. Karena, ibunya hanyalah seorang pedagang ikan di pasar tradisional di Pohang. Ia mengerti posisi ibunya, dan memilih untuk mencari pekerjaan. Ia menaruh lamaran dibeberapa tempat dan mayoritas ditolak. Ia diterima bekerja di sebuah Club di daerah Hongdae sebagai pelayan. Disanalah, ia akhirnya bertemu dengan Cho Kyuhyun yang ternyata adalah pelanggan tetap club itu.

“Tuan, anda memanggilku?”

“Iya.”

“Apa anda membutuhkan sesuatu?”

“Namamu siapa?”

“Namaku Sam Rin Hyo. Tuan, apa anda ingin menambah minuman?”

“Aku Cho Kyuhyun, kau pasti tahu aku, kan? Aku sudah cukup lama memperhatikanmu. Kau tinggal dimana?”

“Jika anda tidak ingin menambah minuman atau tidak membutuhkan sesuatu, saya permisi terlebih dahulu karena ada pelanggan lain yang harus saya layani.”

“Tunggu sebentar! Aku membutuhkan sesuatu!” Sam Rin Hyo menghentikan langkahnya, membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Kyuhyun dengan wajah datarnya.

“Anda membutuhkan apa?”

“Aku membutuhkan dirimu.” Saat itu, tanpa pikir panjang Rin Hyo menampar pipi Kyuhyun. Menurutnya, ucapan Kyuhyun sangat tidak sopan. Apalagi, ia berkata seperti itu saat mereka berada di sebuah club, saat itu teman-teman Kyuhyun bersiul menggodanya. Membuat Rin Hyo merasa hina dan begitu rendah, maka itu ia langsung menampar Kyuhyun. Saat itu juga, Rin Hyo dipecat dari pekerjaannya. Rin Hyo tidak menyesal, karena bekerja disana seperti neraka. Club bukanlah gayanya. Bukan hal yang menarik untuknya, melainkah hal tabu yang sangat ia hindari.

Entah Kyuhyun tahu rumah Rin Hyo dari mana, tiba-tiba Kyuhyun datang ke rumahnya dan selalu merecokinya hingga tanpa sadar ia mencintai Kyuhyun dan sudah menjalin hubungan special dengan Kyuhyun hingga 3 tahun ini. Tak terasa, Rin Hyo sudah berada didalam ruang ganti karyawan di café tempat ia bekerja. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja lalu keluar setelah ia rasa sudah rapi.

“Kau datang sedikit terlambat. Boss tadi hampir saja meledak sebelum kau datang.” Ujar Shin Ji Eun dengan setengah berbisik padanya. Shin Ji Eun adalah rekan kerja sekaligus teman dekatnya. Ia sering menumpahkan segala keluh kesahnya pada gadis ini.

“Tadi Dosen Kim memberiku tugas tambahan yang harus diselesaikan saat itu juga.” Ucap Rin Hyo lelah seraya menyiapkan pesanan pelanggan yang sudah mengantri.

“Ya Tuhan, menjadi mahasiswi semester terakhir memang sangat merepotkan. Aku harap kau dapat mempunyai banyak energi untuk menghadapi semua itu.”

“Eum, aku tahu.” Ujar Rin Hyo lemas. Ia tersenyum pada pelanggan itu seraya menyerahkan bill dan pesanan pelanggan itu.

“Kembalinya 200 won, terima kasih. Besok datang lagi ya!” Ujarnya begitu ramah. Ia harus sangat ramah pada pelanggan, kan?

“Secangkir espresso.”

“Ada yang lain?”

“Tidak.”

“Tunggu sebentar.” Rin Hyo menyiapkan secangkir espresso yang dipesan pria itu dengan sesekali melirik kearah pria itu, segera mengalihkan pandangan saat pria itu ternyata tengah menatapnya.

Pria itu adalah pria yang setiap hari selalu datang ke café-dan tidak pernah absen. Pria itu selalu datang saat shift-nya bekerja. Pria tampan yang terlihat seperti orang penting dan berlagak seperti orang yang mempunyai banyak resort di Korea Selatan. Namun, Rin Hyo selalu menyingkirkan pendapatnya saat mengingat jika pria itu selalu datang ke café ini. Café kecil dengan pelayanan yang standart. Jika ia pria penting atau pria yang memiliki banyak resort, tidak mungkin kan ia memilih café ini? Ya…, mungkin pria itu hanyalah pria yang terlihat penting dan memiliki banyak resort. Hanya terlihat.

“Secangkir espresso. Semuanya 7000 won.” Pria itu mengeluarkan selembar 10.000 won dan memberikan pada Rin Hyo.

“Kembalinya 3.000 won, terima kasih. Besok datang kembali.” Pria itu hanya mengangguk sekali lalu berlalu, duduk dikursi dekat jendela besar dengan begitu elegan. Bahkan ia meminum secangkir expresso seharga 7000 won dengan begitu elegan.

“Rin Hyo! Sam Rin Hyo!” Rin Hyo menatap Ji Eun yang tengah menyenggol bahu kanannya dengan gusar. Ji Eun menggedikkan kepalanya ke arah antrian pelanggan yang tengah berdecak kesal.

“Oh, maaf! Anda ingin pesan apa, nona?”

***

“Sepertinya pria itu menyukaimu.” Rin Hyo mengernyit saat mendengar pernyataan Ji Eun yang begitu tiba-tiba. Jam kerja sudah selesai, jam dinding yang berada di ruang karyawan sudah menunjukkan pukul 12 malam. Dan itu artinya, waktunya mereka untuk pulang kerumah dan istirahat. Tapi, tidak untuk Ji Eun dan Rin Hyo yang memilih untuk singgah sejenak di warung ramyun yang berada tak jauh dari halte bus.

“Pria? Pria yang mana?”

“Ya ampun, pria yang selalu mengunjungi café.”

“Pria yang terlihat penting dan super kaya itu?”

“Hah?”

“Maksudku, pria yang selalu memilih tempat duduk di dekat jendela itu.”

“Ya, yang itu! Memangnya dia super kaya?”

“Entahlah, gayanya saja yang seperti itu. Aku juga tidak terlalu mengerti.”

“Oh, sepertinya pria itu menyukaimu.”

“Huh? Lelucon macam apa itu?”

“Iya, benar. Waktu kau berganti shift malam, pria itu mencarimu lewat aku.”

“…”

“Tapi, anehnya dia bertanya dengan ekspresi datar yang sama sekali tak terbaca.”

“…”

“Saat aku sudah mengatakan padanya jika kau ganti shift. Dia tiba-tiba merubah jam berkunjungnya menjadi jam 5 sore.” Rin Hyo masih diam. Ia berusaha memikirkan hal logis yang membuat pria itu menanyakan keberadaannya pada Ji Eun.

“Eung, mungkin pelayananku menurutnya paling baik.”

“Itu tidak mungkin! Aku tidak terima! Senyum paksa dan mata lelahmu itu berbeda jauh denganku yang selalu terlihat segar dan memang sangat ramah. Sudah jelas, kan siapa yang pelayanannya paling baik?”

“Ck, ck,ck, teruslah membanggakan diri sendiri.”

“Memang begitu, kan? Tapi, sepertinya pria itu memang pria super kaya. Jadi, jika kau berpacaran dengannya itu tidak apa. Hahaha.”

“Oh, ya! Dan aku akan dibunuh oleh Cho Kyuhyun.”

“Hahaha.” Tawa Ji Eun masih menggema di tengah mereka makan ramyun yang pedas itu. Tapi, pria itu? Pria asing yang aneh.

***

Cho Kyuhyun baru saja selesai latihan vokal. 1 bulan lagi, adalah hari peluncuran album barunya yang berarti itu juga awal kesibukannya. Siapa yang tidak tahu Kyuhyun? Pria tampan dengan suara emasnya dan berbagai macam bakat. Ia pintar menyanyi, ia juga tidak buruk dalam hal menari, ia actor musical, pencipta lagu, hingga seorang MC. Semuanya ia tekuni dan mendapat banyak pujian-kecuali kemampuan menarinya. Diusia yang masih 25 tahun, ia sudah dijuluki sebagai putra kebanggaan Korea Selatan. Karena, kepopulerannya bukan hanya merambah pasar dalam negeri melainkan sampai luar negeri.

Kyuhyun duduk disofa yang berada didalam studio tempat latihannya. Setiap musisi asuhan SM ent. Memang mempunyai studio sendiri untuk berlatih. Termasuk Kyuhyun, studio yang luas, dinding yang berupa kaca, dan sofa berbentuk “L”. Untuk penyanyi solo, bukankah ruangan sebesar itu sangat membuang-buang tempat? Tapi, sekali lagi! Kyuhyun adalah putra kebanggaan Korea Selatan yang sangat dielu-elukan bakatnya.

Cho Kyuhyun mengambil ponselnya yang tergeletak diatas sofa. Baru saja ia membuka kunci ponselnya, 2 pesan dari ibunya terlihat. Ibunya memang sangat menyayangi Kyuhyun, jadi tiap jam-jam tertentu ibunya itu mengiriminya pesan yang menanyakan kabarnya dan apa ia sudah makan. Kyuhyun membalas pesan ibunya dengan seulas senyum. Lalu, ia melihat satu nama kontak yang begitu ia rindukan. Sudah 1 minggu ia tidak bertemu dengannya, haah… ia begitu merindukan Sam Rin Hyo.

“Halo?” Setelah nada sambung ketiga, akhirnya Rin Hyo mengangkat telfon.

“Halo… hoaamm, ada apa malam-malam seperti ini? Bukankah sekarang ini pukul… astaga, Cho Kyuhyun! Sekarang pukul 2 pagi.”

“Aku mengganggu tidurmu, ya? Maaf.”

“Maaf, maaf! Kau kira untuk apa kau meminta maaf? Lihatlah dirimu sendiri! Kau malah belum tidur hingga jam 2 pagi seperti ini. Oh, aku yakin pasti kau melewatkan makan malammu. Iya, kan? dasar.” Kyuhyun terkekeh. Jawaban yang mengejutkan, Pikiran Rin Hyo selalu tidak pernah bisa ia tebak. Ia pikir Rin Hyo marah karena ia sudah mengganggu tidurnya, ternyata ia marah karena mengira Kyuhyun melewatkan makan malamnya dan tidak beristirahat.

“Halo? Kyu? Kau masih disana?”

“Eh? Aku masih disini.”

“Mengapa diam? Baru sadar jika kau tidak makan malam tadi?”

“Ya Tuhan, aku sudah makan malam Hyo!”

“Pasti kau makan jajjangmyeon lagi, kan? Cho Kyuhyun, makan Jajjangmyeon pada malam hari itu tidak baik! Kau harus menjaga kesehatanmu, kau itu kan public figure yang punya waktu istirahat kurang dari kata cukup. Bagaimana jika kau sakit? Kontrak-kontrakmu pasti menganggapmu tidak professional.” Lagi-lagi Kyuhyun terkekeh, Rin Hyo selalu mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan ia belum tahu apa itu benar atau tidak.

“Cerewet.”

“Kau bilang aku cerewet? Kau menelfonku tengah malam seperti ini, hanya untuk mengataiku cerewet? Aish, kau membuang-buang waktuku.”

“Aku merindukanmu.”

“ … ”

“Aku sangat merindukanmu, Hyo. Aku ingin bertemu.”

“Aku juga, aku juga sangat merindukanmu, Kyu. Terima kasih telah menelfonku lebih dulu. Hihihi. ”

“Terima kasih sudah mengangkat telefonku di tengah malam seperti ini.”

“Aku tahu! Sudah seharusnya kau berterima kasih padaku.”

“Tch,”

“Hoamm, sudah ya! Aku harus tidur lagi, aku sangat lelah. Kau juga harus istirahat! Badanmu itu bukan seperti transformer atau pun Hulk. Kau cuma pria biasa yang mempunyai setumpuk kesibukan dan butuh istirahat. Sudah sana cepat tidur!”

“Iya, iya! Kau ini, meski mengantuk tetap saja sangat cerewet.”

“Terserah! Aku tutup ya! Sampai jumpa hari sabtu nanti.” Sambungan telefon ditutup sepihak oleh Sam Rin Hyo. Cho Kyuhyun menghela napasnya lalu menyandarkan dirinya kesofa. Senyumannya terulas, belum sampai 1 menit. Tapi, ia merindukan suara Rin Hyo. Konyol. Cinta memang konyol. Iya, kau mau aku tidur kan Hyo? Baik! Aku akan tidur, tapi maaf aku tidak bisa tidur di ranjang dengan nyaman. Aku akan tidur disofa saja. Tapi, meski begitu aku akan benar-benar beristirahat agar aku tidak sakit. Selamat tidur, Hyo! Aku mencintaimu.

***

Sam Rin Hyo duduk diatas sofa murah apartemen kecilnya dengan menatapi layar televisi yang mati. Hari ini hari sabtu, hari untuk Rin Hyo dan Kyuhyun. Tapi, Kyuhyun tidak datang. Ia masih disibukkan oleh album barunya.

Rin Hyo menyilakan kedua kakinya diatas sofa. Ia bosan jika tidak melakukan sesuatu. Hari Sabtu juga hari libur Sam Rin Hyo bekerja. Ia merasa asing dengan keadaan ini, keadaan dimana ia harus berdiam diri tanpa melakukan apapun.

“Apa aku menelfon Ji Eun saja, ya?” Setelah menimang-nimang sejenak, ia segera menggelengkan kepalanya kuat.

Shin Ji Eun adalah gadis boros yang suka menghambur-hamburkan uang. Ya, meski ia adalah seorang pelayan di café, tapi sebenarnya ia adalah seorang putri tunggal yang nantinya akan mewarisi Shin group. Ia bekerja di café hanya untuk mengisi kepenatannya saja. Jika ia sudah penat, ia bisa dengan mudah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan lain. Tidak seperti Rin Hyo yang harus berpikir dua kali jika ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya itu. Rin Hyo menghela napasnya panjang, menurunkan bahunya lalu bersandar.

“Apa yang harus kulakukan?”

***

Rin Hyo akhirnya memilih untuk berjalan-jalan di taman yang tak jauh dari apartemennya. Selain sepi, disini begitu sejuk karena banyak pepohonan. Ah, dan juga! Tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Sam Rin Hyo menyisir pandangannya kesekelilingnya, kedua kakinya sudah pegal karena terus berputar-putar ditaman kota yang cukup luas ini. Ia tersenyum kecil saat melihat sebuah bangku taman yang kosong. Dengan langkah cepat ia duduk disana seraya meluruskan kedua kakinya. Ia bersandar dikursi itu lalu mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi kamera dan memotret dirinya sendiri. Setelah itu mengetikkan sesuatu disana.

To : Cho Kyuhyun

Kyu, aku sangat-sangat merindukanmu. Sekarang aku sedang berada di taman kota dekat apartemenku. Aku kesepian dan merindukanmu. Kau harus terus semangat, jangan lupa makan dan istirahatlah yang cukup! Cho Kyuhyun, aku mencintaimu!

Rin Hyo terkikik sendiri saat membaca ulang pesannya. Ia jadi sadar mengapa Kyuhyun selalu mengatainya cerewet. Karena ia memang sangat cerewet, apa lagi dengan semua yang berhubungan dengan Kyuhyun. Tapi, ia serius jika ia sangat merindukan pria tampan, bertubuh tegap dan tinggi itu.

Rin Hyo kembali memasukkan ponselnya, ia tahu Kyuhyun tidak akan membalas pesannya secepat itu. Karena, kesibukkan Kyuhyun yang hampir seperti restoran makanan cepat saji yang buka 24 jam.
Sam Rin Hyo mengangkat kepalanya, terkejut saat menatap seorang pria yang duduk dikursi taman yang berada diseberangnya. Kursinya dan kursi pria itu hanya dibatasi oleh jalan setapak yang cukup lebar namun sepi. Pria itu, adalah pria yang selalu mengunjungi café-nya dan tidak pernah absen. Pria yang terlihat penting dan super kaya.

Pria itu selalu ada dimana-mana. Astaga, mengapa tadi aku tidak melihat ada seorang pria yang duduk disana? Huh, bodoh Rin Hyo! Tidak peka dengan sekitar!

Pria itu membaca Koran seraya sesekali meminum se-cup kopi yang berlabelkan nama café tempat ia bekerja. Ia tidak memakai setelan jas dan kemeja seperti biasa. Ia hanya memakai sebuah kemeja berwarna biru yang sangat simple. Tapi, terlihat sangat bagus jika pria itu yang memakainya. Oh, jadi pria itu memang menyukai kopi di café. Bukan menyukaiku! Dasar Ji Eun! Suka mengada-ada. Entah kenapa, semua kegiatan yang dilakukan pria itu seolah menyita perhatiannya. Cara pria itu mengangkat cup kopinya, membuka lembar demi lembar Koran itu, meminum sedikit kopi dengan cara menyeruputnya, dan lain lain.

Tapi, yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa pria itu bisa berada disini? Apa rumah pria itu berada disekitar sini? Di pinggiran Seoul? Oh, kejutan apa lagi ini? Dan juga, jika memang rumah pria itu disekitar sini. Mengapa ia harus membuang-buang waktu untuk membeli se-cup kopi di daerah Gangnam, dan meminumnya disini? Ya ampun, ini membuatnya bingung. Rin Hyo menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti. Ia sempat menahan napas saat pria itu beranjak dari tempatnya, entah apa yang membuatnya seperti ini. Ia merasa, pria itu memiliki aura aneh yang membuatnya sangat penasaran. Pria aneh dan misterius.

Rin Hyo menatap pria yang tengah berjalan ringan menjauh itu sejenak lalu menatap kursi yang sudah kosong itu. Ah, bukan kosong! Disana masih ada se-cup kopi yang ditinggalkan pria itu.

“Dasar! Kukira dia pria yang berdedikasi tinggi.” Gerutunya saat menatapi cup yang ditinggalkan oleh pria itu.

“Membuang sampah saja tidak ia lakukan!” komentarnya lagi, kemudian ia berjalan mendekati cup kopi itu berniat membuangnya. Saat ia tinggal mengambil cup itu saja, dahinya mengernyit. Kopi itu tidak sepenuhnya habis, dan dibawah cup kopi itu ada secarik kertas yang berisi tulisan. Rin Hyo mengambil cup itu lalu mengambil secarik kertas yang ditinggalkan pria aneh dan misterius itu.

Sampai jumpa besok di café, nona!

Rin Hyo menoleh kekanan dan kekiri, mencari keberadaan pria itu dengan kedua tangan yang masih membawa kertas dan cup kopi.

“Pria itu cepat sekali menghilangnya!” Rin Hyo kembali menatap kertas itu. Mendesah panjang saat tidak menemukan alasan yang jelas mengapa pria itu meninggalkan kertas ini disini.

“Pria aneh.”

***

“Ada apa dengan senyumanmu itu, Shin Ji Eun?” Tanya Rin Hyo langsung. Sebenarnya, sudah sejak tadi Ji Eun selalu bertingkah aneh. Tersenyum-senyum sendiri, bahkan terkadang bersenandung tidak jelas. Gadis aneh ini memang sangat aneh. Shin Ji Eun menghentikkan kegiatannya yang tengah melihat-lihat buku kas café dengan tersenyum lebar. Ia menatap Rin Hyo dengan kedua mata penuh binar. Rin Hyo bergidik ngeri menatap Ji Eun yang seperti ini. Untung saja café sedang tidak ramai, karena café sudah hampir tutup. Ngomong-ngomong tentang café, pria yang biasanya tidak pernah absen itu tak terlihat seperti biasanya.

“Menurutmu? Mengapa aku seperti ini?” Tanya Ji Eun balik.

“Ayahmu memberimu lamborghini keluaran terbaru?”

“Tidak.”

“Eum, ibumu membelikanmu tas limited edition dari Paris?”

“Tidak, ini bukan soal mobil atau pun barang!”

“Lantas? Ah, atau keponakanmu yang ada di Kanada itu pulang ke Korea Selatan? Bukankah, kau sangat merindukannya.”

“Huh, Bukan! Kau ini payah sekali.”

“Lalu apa Ji Eun-ah? Kau membuatku seperti orang bodoh yang menebak-nebak hal yang belum pasti!” Tiba-tiba senyuman Ji Eun kembali terulas. Oh, seharusnya sejak tadi aku berkata seperti itu! Sial.

“Kemarin, saat aku bangun tidur. Tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamarku lalu menyuruhku mandi dan berdandan yang cantik.”

“Bisa langsung keintinya saja?”

“Sebentar! Tidak seru kalau langsung keintinya! Jadi, setelah itu aku berdandan super cantik. Oh, walaupun aku memang sudah cantik meski tidak berdandan.”

“Haah, terserah kau saja!”

“Lalu, aku turun kebawah dengan dituntun ibu. Aku melihat seseorang di ruang tamu. Dia sangat tampan meski sudah tua, tapi yang kubicarakan bukan orang itu. Orang itu adalah ayah pria yang akan kubicarakan.”

“Hmm, ya baiklah. Biar aku tebak, kau akan dijodohkan, ya?”

“Eum! Kau pintar sekali! Pria itu sangat tampan dan manis. Namanya Lee Kikwang, oh, sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama.” Rin Hyo tertawa keras. Shin Ji Eun adalah gadis yang sulit untuk jatuh cinta. Bahkan setahunya, pria yang bernama Lee Kikwang itu adalah cinta pertamanya. Shin Ji Eun memang cantik, tapi ia terlalu cuek pada pria. Ia mempunyai tipe pria tampan dan idealnya sendiri. Dan Rin Hyo percaya jika Kikwang itu adalah pria yang tampan dan manis. Karena, Ji Eun bisa memuji seorang pria itu manis, jika pria itu memang benar-benar sangat tampan. Rin Hyo jadi penasaran dengan pria itu.

“Ya! Kenapa malah tertawa?!”

“Tidak percaya saja kau bisa mencintai seseorang!”

“Tentu saja aku bisa! Aku ini kan masih manusia normal! Ya, walau pun memang pria itu adalah cinta pertamaku selama 23 tahun ini.”

“Iya, iya! Aku harap kalian bisa menjalin hubungan dengan lebih serius! Dan kau, jangan terlalu cuek dan tidak peka. Mengerti?”

“Iya, aku tahu. Aku akan menyayangi dan menjaga pria ini dengan setulus hatiku.”

Kring Kring

Lonceng yang menempel di pintu café terdengar, menandakan jika ada pelanggan yang masuk. Rin Hyo dan Ji Eun langsung siap di tempatnya, meski 1 jam lagi mereka akan tutup, tidak berarti mereka bisa menelantarkan pelanggan begitu saja, kan?

Rin Hyo menoleh kearah pintu dan melebarkan kedua matanya saat melihat pria itu. Pria yang ia kira akan absen hari ini. Pria itu terlihat berantakan, dengan setelan jas dan kemeja yang tak serapi biasanya. Ah, dan jangan lupa! Kedua mata lelahnya. Rin Hyo tidak memedulikan Ji Eun yang menyenggol-nyenggol bahunya, ia lebih memilih menatap pria itu dengan khawatir.

“Satu espresso, Take out!” Rin Hyo terdiam sejenak lalu tersenyum kecil.

“Tunggu sebentar.” Rin Hyo membalikkan badannya, hendak menyiapkan pesanan pria itu. Namun, belum sempat ia 3 kali melangkah, Ji Eun sudah berada dihadapannya dengan membawa pesanan pria itu. Rin Hyo mengambilnya lalu memberinya pada pria itu.

“Semuanya 7000 won.” Ujar Rin Hyo kaku. Pria itu menyerahkan kartu kreditnya. Rin Hyo menggesekkan kartu kredit itu dialat yang berada tak jauh dari computernya.

“Ini kartu anda dan bill anda. Terima kasih atas kunjungannya.” Pria itu mengangguk sekali lalu mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan Rin Hyo.

“Maaf, aku terlambat. Nona Sam.”

***

“Sudah kubilang kan, pria itu menyukaimu, Hyo!” Shin Ji Eun terus menerus menekankan Rin Hyo jika pria misterius itu menyukainya. Tak henti-hentinya bibir Ji Eun mengucapkan alasan-alasan mengapa ia berpendapat seperti itu, berpendapat jika pria misterius itu menyukai Sam Rin Hyo.

“Entahlah, aku tidak yakin.”

“Apa lagi yang membuatmu tidak yakin? Pertama, dia mengetahui namamu terlebih dahulu. Kedua, ia meminta maaf hanya karena terlambat mendatangi café. Bukankah, itu artinya ia datang ke café hanya untuk dirimu?”

“Huuh…” Rin Hyo menghela napasnya panjang. Ia tahu itu aneh, tapi itu bukanlah alasan yang kuat untuk membenarkan pendapat Ji Eun. Rin Hyo masih diam, berjalan disamping Ji Eun dengan pikiran yang berkelana kemana-mana. Sekarang pukul jam 12 lebih 10 menit, mereka berjalan menuju halte bus untuk menunggu bus terakhir yang ke arah rumah mereka.

Ji Eun tinggal di kawasan elit-tentu saja- tepatnya, di Cheondamdong. Sebenarnya, bisa saja Ji Eun membawa mobilnya untuk pulang-pergi dari café, namun karena Rin Hyo selalu memakai jasa bus jadi Ji Eun juga memakai jasa bus. Sesederhana itu. Mereka duduk dikursi bus dengan lelah. Memang, tak perlu waktu lama untuk menunggu bus terakhir di halte pada tengah malam seperti ini.

“Kenapa dari tadi diam? Percaya dengan kata-kataku?”

“Ji Eun-ah, pertama! Pria itu mungkin mengetahui namaku dari nametag yang kupakai. Dan untuk mengapa ia meminta maaf itu, sebenarnya, kemarin…” Rin Hyo menceritakan kejadian yang dialaminya kemarin dengan gamblang. Membuat kedua mata Ji Eun terbelalak.

“Dia… astaga pria itu. Itu semakin meyakinkanku!”

“Tapi Ji Eun-ah, jika pria itu mungkin saja menyukaiku. Apa alasannya? Pada pandangan pertama? Eum, aku tidak mempercayai hal itu.”

“Boleh saja kau tidak percaya. Tapi, hal seperti itu memang ada Hyo!” Ujar Ji Eun kemudian memandang kedepan seraya menyandarkan tubuhnya. Sedangkan Sam Rin Hyo menghela napasnya berat, kemudian menatap jendela bus yang menampakkan jalanan sepi Seoul dengan sendu.

-TBC-

Advertisements

128 thoughts on “At Least I Still Have You 1

  1. siapa si sebenarnya pria yg slalu dtang ke cafe tempat rin hyo bekerja?
    Jgn sampe rin hyo juga menyukainya,.
    Dia hrus memikirkan kyuhyun juga

  2. Annyeong^^nae readers baru..slam knal
    Namja yg selalu dtng ke kafe kyak stalker aja..bner tuh yg dibilang jieun,dia ska sma rinhyo

  3. Annyeong.. aq reader bru.. mian kl nnticomment ny loncat2 yaa.. cz kl dh asyik bca syang bgt hrus kptus.. crita km bgus.. n bkin pnasaran.. part pertma sdut pndang org prtma..hmmm.. menarik.

  4. Kesan pertama bagus 🙂 dan kakak suka ^^

    di lihat dari cast nya , pria misterius ini mungkin lee donghae hehehe 🙂 ati2 lho sam rin hyo nanti kamu naksir kalo terlalu penasaran kan kasiang abang cho nantinya 😦

    kakak langsung ke next part yah >> fighting ^^

  5. kereeenn:D jadi penasaran sama si pria asing wkwks, kira kira namanya siapa yaa. keknya udah ngincar rin hyo dari lama deh hihihi. tapi kan ntar kalo rin hyo sama si pria asing kasian kyu nya, semoga imannya rin hyo enggak goyah wkwkw
    lanjut baca nextnya!

  6. semo hati dan cinta rinhyo enga goyang dumang 😀 😀 masa yh rinhyo bakalan berpaling ama kyuh … enga bakal mungkin suatu keajaiban bisa bersma kyuh walau dlm ff bahahahha … next baca …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s