Love Dust 1

Author : Tsalza Shabrina
Cast. : · Cho Kyuhyun · Sam Rin Hyo · Shin Ji Eun · Lee Kikwang · Kim Min Seok · Oh Sehun
Genre : Romance
Rate : T
A/N : Cinta memang aneh dan mengesalkan. Karena cinta bisa muncul dan hilang kapan saja, seperti debu.

***

Author’s side

“A—aku… aku mencintaimu, Sam Rin Hyo!” Riuh tepukan tangan dan siulan yang silih berganti membuat Sam Rin Hyo menggaruk – garuk tengkuknya canggung. Walaupun ini bukan pertama kalinya seorang pria menyatakan cinta padanya. Namun, ia sangat canggung dan bingung harus berkata apa karena suasana kini berbeda. Ditengah lapangan dan dikepung oleh banyak mahasiswa yang dengan riangnya menonton mereka.

Oh Sehun, pria yang 2 tahun lebih muda darinya ini menatapnya dengan penuh harap. Bahkan, Ia dapat melihat bagaimana gemetarnya tangannya itu. Karena bunga yang ia bawa terlihat bergetar.

“Terima! Terima! Terima!” teriakkan para penonton disana menggema begitu saja. Membuat Rin Hyo hanya bisa menunduk dalam, ia begitu bingung kali ini.

“Maafkan aku, Sehun-ah!” Sam Rin Hyo membungkuk pada Sehun, kemudian dengan cepat pergi dari sana. Suara siulan mengejek itu terdengar menyahut – nyahut seiring dengan Sam Rin Hyo yang berusaha menerobos kerumunan disana.

***

Sam Rin Hyo’s side

“Ya! Kudengar kau menolak Oh Sehun!” Teguran dari suara gadis yang begitu familiar ditelingaku itu membuatku menghentikkan kegiatanku sejenak untuk menatapnya. Aku menghela napasku saat menatap sorotan mata tajamnya yang seolah mengulitiku.

“Ya, begitulah.” Ucapku sekedar, lalu kembali memfokuskan diri pada kegiatan awalku. Yaitu menonton episode Variety Show yang dibintangi pria itu dari laptop, kemarin malam aku melewatkannya karena kuliah malam. Dapat kudengar desahan napas kasarnya disusul dengan suara berisik gesekan kursi kantin. Setelah ini pasti ia akan menceramahiku dengan hal yang sama. Ya, Shin Ji Eun memang sudah terlalu sering menceramahiku dengan banyak hal.

“Ck, aku tidak tahu apa yang ada diotak bodohmu itu! Tapi dengan menolaknya dihadapan orang banyak itu sudah sangat keterlaluan, Hyo!”

“Aku tahu!” ucapku lemas. Shin Ji Eun benar! Tapi, hatiku tidak membenarkannya sama sekali.

“Ya, kau selalu menjawab seperti itu dan mengulanginya lagi!” Cibirnya. Aku menghela napasku kemudian memejamkan kedua mata. Gadis ini selalu melihatnya dari satu sudut pandang, tidak tahukah ia jika aku juga sebenarnya tidak ingin seperti ini?

“Kau selalu menyalahkanku! Coba pikirkan Shin Ji Eun, jika saja aku menerimanya tapi aku malah mencintai pria lain. Bukankah itu akan semakin menyakitinya? Jadi, sekarang kau masih mau menyalahkanku, huh?!” Shin Ji Eun menatapku datar, tatapan yang selalu ia tunjukkan saat ia sudah tersulut emosi. Apa aku mengatakan hal yang salah?

“Cintamu itu yang salah!! Bagaimana bisa kau mencintai seseorang yang bahkan tidak kau kenal sama sekali, huh?!” Aku menghela napasku saat mendengar ucapannya. Kualihkan pandanganku pada layar laptopku, menghela napas panjang saat menatap pria itu dengan pintarnya berbicara. Aku sudah gila memang, mencintai pria ini. Semua orang selalu menertawakanku saat mereka tahu jika aku mencintai pria ini. Pria yang bahkan tidak pernah aku temui secara langsung, hanya dari kejauhan namun aku sudah puas akan hal itu.

Semua orang selalu berkata jika rasa yang kuberikan padanya bukanlah sebuah cinta yang normal. Mereka selalu berkata rasa itu adalah rasa cinta fans pada idolanya. Namun, hatiku selalu yakin jika aku mencintainya sebagai seorang pria, bukan sebagai idol yang berdiri diatas panggung. Hal itu juga yang membuatku menutup hati pada orang lain. Karena, menunggu pria itu juga mencintaiku. Menunggu seorang Cho Kyuhyun datang padaku, meski aku tahu itu sebuah harapan yang kosong.

***

Author’s side

Shin Ji Eun mendengus kesal saat menatap Sam Rin Hyo yang tengah mendengar lagu dari headseat-nya dengan tersenyum – senyum seperti orang gila. Jujur saja, awalnya ia menertawakan perasaan Sam Rin Hyo yang jatuh cinta pada seorang Cho Kyuhyun. Salah satu personil Super Junior yang bahkan tidak pernah ia temui secara langsung. Sahabatnya ini memang benar – benar sakit pikiran.

“Lama – lama aku ingin muntah menatap raut wajahmu yang seperti itu!” Sam Rin Hyo melepas salah satu sisi headseat-nya. Menatap Shin Ji Eun dengan pandangan tak terima. Sedangkan yang ditatap malah melebarkan kedua matanya, seolah menantang Rin Hyo. Tak ingin mencari masalah ia menyumpal telinganya dengan headseat lagi kemudian menoleh kearah jendela. Mereka kini berada di bus yang akan mengantarkan mereka ke apartemen sewaan yang berada di daerah Gangnam. Walaupun mereka mampu membeli apartemen permanen, namun mereka hanya menyewa karena mereka memang tidak hidup di Seoul selamanya.

Seusai kuliahnya di Seoul university, mereka akan kembali keasalnya masing – masing. Shin Ji Eun kembali ke Busan, sedangkan Sam Rin Hyo kembali ke Macau. Ia tinggal disana sejak umur 10 tahun, lalu kembali kesini demi pendidikan dan suasana baru. Sudah genap 2 tahun Shin Ji Eun dan Sam Rin Hyo berteman dan menimba ilmu di universitas yang sama. Tidak ada pertengkaran dan konflik dalam hubungan pertemanan mereka. Ya, karena mereka selalu berpikiran bahwa segalanya itu mudah dan tidak perlu diatasi dengan terlalu serius.

“Besok… tolong antar aku ke Kona Beans ya? ya? aku mohon…” Sam Rin Hyo merengek – rengek seraya meggoyang – goyangkan lengan Shin Ji Eun. Kalau sudah seperti ini, bagaimana Ji Eun bisa menolak permintaan teman yang sudah ia anggap seperti adik sendiri ini.

“Ara, Ara!”

***

Cho Kyuhyun’s side

Aku menyapa ibuku yang tengah duduk diruang office kafeku ini dengan elegannya. Ibuku memang selalu begitu, sudah terbiasa dengan kehidupan mewah sejak ia menikah dengan ayahku. Tapi, aku begitu menyayanginya.

“Duduklah, Kyu! Kau pasti lelah, kan?” ucapan ibuku itu kubalas dengan senyuman tipis. Kemudian aku menuruti perkataan ibuku, duduk disofa yang berada disana dengan menyandarkan tubuh.

“Aku benar – benar lelah, eomma!” Ibuku terkekeh geli menatapku yang mungkin seperti merengek manja. Aku selalu seperti ini pada ibuku, tapi aku tidak bisa seperti dengan ayah. Pria itu terlalu tegas dan kaku. Ibu beranjak dari duduknya keluar dari ruang office kemudian tak berapa lama, ia kembali dengan membawa secangkir Americano yang begitu kufavoritkan.

“Minumlah ini! mungkin bisa menghilangkan lelahmu.”

“Terima kasih, eomma!” aku meraih cangkir itu, menyesapnya sedikit kemudian memejamkan mata. Benar kata eomma, kopi ini dapat sedikit menghilangkan rasa penatku. Terganti dengan perasaan tenang yang menyenangkan.

“Ya! sepertinya kau harus segera keluar, Kyu! Kedatanganmu kesini sudah menyebar, dan mereka sudah menunggumu keluar sejak tadi. Astaga, aku lelah mendengar teriakan mereka itu.” Umpat kakak perempuanku yang baru saja masuk kedalam ruangan ini. Membuatku mendesis kesal, ia selalu saja mengomeli segala hal yang membuatnya terganggu.

“Iya, iya, aku akan keluar! Nuna jangan mengatai fansku seperti itu! Jika mereka tahu, aku yakin kau akan habis diinjak – injak oleh mereka!” omelku lagi. Aku segera berlari kebelakang tubuh ibu saat gadis gila itu sudah mulai berlari mendekatiku seraya mengangkat salah satu kepalan tangannya. Dia itu sudah memegang sabuk hitam taekwondo, jadi wajar saja aku takut padanya. Pernah waktu itu aku membuatnya marah dan ia melemparku hingga tulang punggungku sedikit retak dibuatnya. Untung saja, itu hanya retakan kecil.

“Ahra-ya! kau tidak usah seperti itu pada adikmu! Ia baru saja datang, dan pasti sangat lelah.” Aku tersenyum miring padanya. Kulihat ia semakin melebarkan kedua matanya, aku tidak bisa menghindar saat tangan kanannya itu meraih rambutku dan menjambaknya kuat.

“AAKH!! Nuna!! Hentikan!!”

“Kau ini sudah besar kelakuan masih seperti anak kecil! Cepat rapikan rambutmu dan keluar!!!” perintah Cho Ahra seraya berkacak pinggang. Sedangkan kulihat ibu hanya bisa menggeleng – gelengkan kepala, apa ia sudah angkat tangan mengurusi anak – anak seperti aku dan gadis ini? entahlah, yang pasti sekarang aku harus segera merapikan rambut dan keluar sebelum gadis gila ini kembali menarik rambutku. Atau lebih mengerikannya lagi ia akan melemparku seperti saat itu.

***

“Oppa, kau sangat tampan!” Aku hanya tersenyum ramah dan berterima kasih pada gadis – gadis yang merupakan pengunjung café ini sekaligus penggemarku. Memang, mayoritas gadis muda yang datang kesini adalah penggemarku yang berharap dapat bertemu denganku atau salah satu dari anggota Super Junior lainnya. Jadi, walaupun selelah apapun aku senang dapat melayani mereka seperti ini. Karena tanpa mereka, Super Junior tidak bisa berdiri seperti sekarang.

“Selamat datang! Mau pesan apa?” Tanyaku begitu ramah saat menatap seorang gadis yang terus memandang lurus kedepan, raut wajahnya begitu sulit ditebak. Kedua matanya Seperti ia tidak senang berada disini atau seperti kosong.

“Mochacino, dua cup!” ujarnya begitu singkat. Aku jadi canggung jika seperti ini. Biasanya para pengunjung akan berbicara banyak padaku atau paling tidak melempar senyum ramah. Namun gadis ini begitu berbeda. Ah, mungkin saja ia bukanlah seorang penggemar. Melainkan seseorang yang memang ingin membeli kopi. Oh, Cho Kyuhyun! Bagaimana bisa kau berpikir semua gadis muda yang datang kesini adalah penggemarmu? Ck, narsis sekali.

“Selamat menikmati!” Ucapku seraya menyerahkan dua cup mochacino yang dingin itu. Ia menerimanya dengan wajah yang begitu datar, kemudian menunduk sedikit. Mungkin, menyampaikan terima kasih. Aku tersenyum kecil menatap gadis itu dan juga sedikit ada perasaan takut. Entah mengapa, rambut panjang yang sedikit menutupi wajahnya dan juga raut wajah datarnya itu membuatku sedikit merinding. Namun, disisi lain ada sesuatu yang membuatku ingin bertanya hal – hal seperti ‘siapa namanya?’, ‘dimana rumahnya?’ dan lain – lain.

***

Sam Rin Hyo’s side

Aku duduk dihadapan Shin Ji Eun yang masih sibuk dengan laptopnya setelah meletakkan salah satu cup kopi yang baru saja kubeli. Gadis ini selalu menepati janjinya untuk menemaniku ke Kona Beans saat libur kuliah. Padahal, jelas – jelas ia harus merampungkan banyak tugas yang begitu banyak. Berbeda denganku yang jarang diberi tugas teori. Kami memang berada dalam satu universitas, namun beda jurusan. Ia jurusan manajemen sedangkan aku jurusan Hubungan Internasional. Berbeda dengan ia yang lebih sering belajar teori, namun aku lebih ke keterampilan berbahasa dan berbicara.

“Ji Eun-ah! Aku sudah membelikan kopi kesukaanmu!” tegurku, karna melihat Shin Ji Eun masih saja fokus pada layar laptopnya. Aku bisa melihat tubuh Ji Eun sedikit terkejut saat mendengar suaraku. Ia menatapku sejenak, kemudian tersenyum kaku.

“Eo! terima kasih!” singkatnya kemudian kembali menenggelamkan diri pada laptopnya. Hah, ia pasti sangat sibuk. Aku menyedot ice mochacino yang tadi kupesan, kemudian menghela napas lega. Sejak tadi memang aku begitu haus. Kuletakkan cup itu diatas meja, kemudian kembali menyisir pandanganku kesekeliling. Jujur saja, disini begitu ramai. Bahkan banyak orang yang berada diluar untuk sekedar berteriak atau berusaha mengambil potretan Cho Kyuhyun. Pria yang tengah melayani pembeli dimeja kasir.

Aku tersenyum tipis saat menatapnya dari sini. Sengaja memilih tempat yang sedikit jauh dari kasir agar dapat melihatnya dari kejauhan. Aku memang selalu seperti ini, jika jauh darinya aku begitu ingin bertemu dengannya. Namun, jika aku sudah bertemu dengannya aku tidak akan tersenyum lebar kemudian meminta tanda tangan seperti gadis – gadis biasanya. Aku seperti berubah menjadi seorang gadis pendiam dan berusaha menghindari kontak mata dengan pria itu. Jika sudah dihadapannya, aku serasa tidak berpijak ditanah. Melihatnya tersenyum pada pengunjung membuatku ikut tersenyum juga. Tiba – tiba aku ingat, awal pertemuanku dengan pria itu. Saat itu jam 10 malam, tepatnya dibus kota.

Flashback

Aku baru saja pulang dari kampus tanpa Shin Ji Eun. Gadis itu sudah pulang sejak tadi karena katanya orang tuanya sedang berkunjung di apartemen. Ya, walaupun aku sedikit tidak rela untuk pulang sendiri tapi rasanya begitu kekanakan jika aku memaksa Ji Eun menemaniku pulang sedangkan ia sudah ditunggu orang tuanya dirumah.

Bus yang kutumpangi berhenti disalah satu perhentian yang merupakan jalur yang menuju kearah rumahku. Aku tidak tahu apa tepatnya nama perhentian ini, karena sejujurnya aku tidak begitu tahu dengan jalan – jalan disini. Aku bisa merasakan kursi disebelahku bergerak – gerak, seorang pria yang tengah memakai topi berwarna coklat tengah duduk disana dengan headseat yang menyumpal kedua telinganya. Bus memang begitu penuh karena ini adalah bus terakhir, jadi mungkin itu alasan mengapa pria ini lebih memilih duduk disampingku.

Tidak lama setelah pria itu duduk disampingku, seorang nenek tua tengah kelimpungan mencari tempat duduk. Karena tidak ada yang kosong, akhirnya nenek itu memilih berdiri dengan bergantung pada pegangan tangan yang menempel kuat dilangit – langit bus ini. Aku terenyuh melihatnya, baru saja aku hendak berdiri untuk menggantikan nenek itu. Namun pria itu ternyata sudah melakukannya lebih dulu. Aku menatap pria itu dengan pandangan yang sulit untuk kujelaskan. Antara tercengang dan begitu kagum. Pria ini tidak mengatakan apapun saat menawari tempat duduk pada nenek itu. Ia hanya berdiri kemudian melakukan gesture tangan yang mempersilahkan nenek itu untuk duduk ditempatnya. Sejak itu, aku merasakan sesuatu yang bergetar dihatiku. Getaran yang bahkan sudah terlalu lama tidak kurasakan. Aku cinta pada pandangan pertama kepada seseorang yang bahkan aku belum melihat dengan jelas bagaimana raut wajahnya.

Sepanjang perjalanan aku tidak pernah melepas pandanganku darinya. Semua gerak – geriknya membuatku begitu terpukau, walau ia hanya menyaku tangannya dan sesekali melirik jam tangannya. Kegiatan – kegiatan kecil itu sudah bisa membuatku tersenyum kecil. Ya, sebut saja aku gadis gila yang baru jatuh cinta.

Saat bus berhenti diperhentian selanjutnya, pria itu mengeluarkan tangannya dari saku. Sepertinya ia akan turun disini, dan itu membuatku sangat kecewa. Aku menatapnya yang berjalan tergesa keluar dari bus. Apa hanya seperti ini pertemuanku dengannya? Ya Tuhan, bagaimana bisa aku mencintai pria itu secepat ini? Seperti sebuah pencerahan, saat aku melihat kebawah dan mendapati dompet pria itu terjatuh. Segera aku mengambilnya berlari keluar dari bus, sebelum bus berjalan kembali. Menoleh kesana kemari, mencari pria itu. Saat aku dapat melihat punggungnya yang tengah berjalan dengan langkah besar – besar dari arah kiri, aku segera berlari.

“Permisi!” Tegurku seraya mengatur deru napasku yang tak beraturan sehabis berlari. Sedikit lega, karena ia menghentikkan langkahnya kemudian berbalik menatapku. Dari sini aku dapat melihat wajahnya yang begitu tampan. Aku masih terpaku, tak menyadari tatapan pria itu yang begitu aneh.

“Kau… memanggilku?” pertanyaan pria itu membuatku terbangun dari khayalan liarku. Aku membuka mulutku, mengumpati kebodohanku. Kemudian menyerahkan dompetnya.

“Kau meninggalkan ini.” ujarku pelan.

“Ah, aku pasti menjatuhkannya di bus tadi! Benar – benar bodoh!” gumamnya yang begitu terdengar jelas ditelingaku, karena jalan ini begitu sepi. Aku hanya diam, tak tahu harus bagaimana lagi menanggapinya. Ia mengambil dompet itu seraya melempar senyum padaku. Namun aku hanya diam, entah mengapa saat berhadapan pria ini syaraf otakku seperti membeku.

“Terima kasih! Terima kasih, banyak!”

Flashback end

Aku semakin menarik kedua sudut bibirku saat mengingatnya. Setelah ia berterima kasih, dengan baiknya ia memesankan taksi untukku dan menunggu taksi datang denganku. Sejujurnya, aku tidak tahu jika ia adalah salah satu personil boyband Super Junior. Aku memang terlalu apatis dengan dunia music Korea Selatan, namun karena pertemuan itu. Karena Cho Kyuhyun, aku akhirnya mulai menyukai aliran music Korea Selatan yang biasa disebut K-POP itu.

Tapi, sebanyak – banyaknya aku mencintai Cho Kyuhyun. Aku bisa apa? Aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan. Aku bukanlah gadis yang dengan mudahnya meminta foto bersama atau sekedar tanda tangan. Berbicara dengannya saja sudah membuatku begitu limbung. Senyumku menghilang begitu saja saat pria itu mendapatiku tengah memperhatikannya sejak tadi. Dengan cepat aku menolehkan kepalaku kearah lain, tentu setelah memasang wajah datar. Tsk, bukankah kau begitu pengecut Sam Rin Hyo? Bertatapan dengannya saja kau bisa setakut itu? Bodoh.

***

Author’s side

Shin Ji Eun hanya bisa mendesah jengah saat Sam Rin Hyo memulai aktivitas seusai kuliahnya. Yaitu, apalagi jika bukan memanfaatkan WIFI gratis untuk menonton variety – variety show Cho Kyuhyun yang terlewat tidak ia lihat di televisi. Memang Sam Rin Hyo tidak memekik kegirangan atau menjerit tertahan seperti fans lainnya. Namun, gadis itu hanya diam dan tersenyum dengan senyuman yang aneh-menurutnya. Kedua matanya akan berbinar – binar seolah tengah menatap cahaya yang menenangkan.

“Kau terlihat seperti benar – benar mencintainya.” Komentar Ji Eun kemudian menyedot susu coklatnya yang tadi ia beli dari kantin.

“Memang aku mencintainya, Shin Ji Eun. Bukankah sudah kukatakan berkali – kali?” Shin Ji Eun hanya bisa memutar bola matanya malas. Gadis ini selalu keras kepala akan perasaannya pada pria bermarga Cho itu. Perasaan cinta? Ya Tuhan, pasti ia sedang bermimpi. Seorang gadis yang sulit jatuh cinta dan acuh pada sesuatu yang berbau K-POP seperti Sam Rin Hyo. Tiba – tiba berkata jika ia jatuh cinta pada Cho Kyuhyun. Seorang idol dari sebuah boyband K-POP yang sangat berpengaruh didunia.

Baru saja Ji Eun ingin membuka roti yang juga ia beli bersamaan dengan susu coklat tadi. Namun, tiba – tiba ada seseorang yang menutup kedua matanya dari belakang. Ji Eun mendecih seraya tersenyum kecut, tanpa ia lihat ia sudah tahu siapa yang melakukan hal ini.

“Kim Minseok! Kau ingin mati, eo?” Suara kekehan ringan dari Minseok terdengar menggelikan. Membuat Sam Rin Hyo akhirnya mengalihkan pandangan dari ipad yang dipegangnya.

“Eo! Min Seok-ah! Bukankah kau ada kuliah malam?” tanya Sam Rin Hyo bingung. Karena, sebelumnya Min Seok bilang jika ia ada kuliah malam. Dan hal itu juga yang membuat Shin Ji Eun mau menemaninya disini. Di perpustakaan kampus. Kim Min Seok menarik kursi disamping Shin Ji Eun, kemudian mendudukinya. Ia tersenyum kecil pada Rin Hyo sebentar, lalu menyanggah kepalanya untuk menatap Shin Ji Eun.

“Ya, membolos sekali – kali untuk calon istriku tidak apa – apa,kan?” Ji Eun kembali mendecih seraya mendorong wajah Min Seok yang semakin mendekat kearahnya. Sedangkan Sam Rin Hyo menggeleng – geleng pelan menatap pasangan dihadapannya ini. Mereka memang sudah bertunangan dan hanya menunggu 1 tahun lagi mereka akan menikah.

“Ck, Kalau seperti itu terus kau tidak akan lulus dengan cepat!” nasihat Sam Rin Hyo bijak dengan wajah datarnya. Gadis itu selalu dapat dengan mudah merubah raut wajahnya tanpa alasan.

“Annyeong, Rin Hyo-ah!” sapaan dengan suara khas itu membuat ketiga orang yang tengah berbincang menoleh pada pria yang tengah berdiri disamping Sam Rin Hyo dengan kaku. Oh Sehun, begitulah biasa ia dipanggil.

“Eo! Sehun-ah, duduklah!” dengan wajah berbinar Min Seok menyuruh dongsaeng kesayangannya itu duduk disamping Sam Rin Hyo yang tengah menatap Sehun dengan wajah datar.

“Kau ini, aku 2 tahun lebih tua darimu! Jadi panggil namaku dengan sopan! Ara?!” tegur Rin Hyo seraya memukul kepala Sehun pelan. Sedangkan Oh Sehun hanya tersenyum kecil kemudian duduk disamping Sam Rin Hyo.

Sejujurnya, Sam Rin Hyo lebih menganggap Oh Sehun seperti adik kandungnya sendiri, tidak lebih. Namun, ia sempat terkejut karena ternyata Oh Sehun menyimpan rasa lebih padanya. Jadi, yang bisa ia lakukan saat ini adalah bersikap biasa saja dan melupakan hal itu. Berlagak seolah kejadian itu tak pernah terjadi.

“Aigoo, lihat! Kalian sangat terlihat serasi bersama!” goda Shin Ji Eun seraya tersenyum geli dengan Min Seok. 2 orang itu memang sangat mendukung jika Sehun – Rin Hyo berpacaran.

“Tentu saja! dia adalah adik yang baik!” Ucap Sam Rin Hyo seraya mengacak – acak rambut Oh Sehun. Sedangkan, Sehun yang awalnya memasang wajah malu – malu tiba – tiba berubah menjadi begitu tajam. Ia menyingkirkan tangan Rin Hyo dari rambutnya seraya menatap gadis itu dengan tatapan membunuh.

“Ke—kenapa?” tanya Rin Hyo gugup. Keadaannya kini tiba –tiba menjadi lebih mencekam. Sorot mata Oh Sehun lah yang membuat atmosfir diantara ke – 4 orang itu berubah.

“Berhenti menganggapku adik! Aku bukan adikmu! Tidak bisakah kau melihatku sebagai seorang pria dewasa yang sudah berumur 20 tahun?” Sam Rin Hyo mengedipkan matanya berulang kali, tak tahu harus berkata apa. Sedangkan Oh Sehun sudah membuang napasnya kasar seperti sedang mengatur emosi.

“Kau selalu ingin dipanggil nuna ,kan? tapi aku tidak akan mau! Karena, aku tidak mau kau menganggapku sebagai seorang adik!”

“Tapi kau tahu sendirikan, Sehun-ah… jika aku—“

“Apa?! Mencintai Cho Kyuhyun? Tch, itu bukan cinta, Hyo! Perasaan yang kau sebut – sebut cinta itu bukanlah sebuah cinta yang murni! Kau terlalu mempercayai hal itu, Hyo! Bagaimana jika itu semua hanyalah rasa kagum? Hm?” Rin Hyo terdiam. Perkataan Oh Sehun sedikit menggerakkan hatinya, kagum? Apa rasa kagum selalu seperti ini? apa seberlebihan ini?

***

“Haruskah aku juga ikut duduk disini?” Tanya Shin Ji Eun disertai dengan helaan napas gusar yang selalu ia tunjukkan pada Sam Rin Hyo. Rin Hyo menoleh kearah Ji Eun yang duduk disampingnya dengan seulas senyuman tipis, ia mengangguk pelan pada Ji Eun. Sebenarnya Shin Ji Eun tidak suka datang ketempat ini, gedung SBS studio 2. Tempat berlangsungnya variety show ‘Strong Heart’ . Namun, selalu setiap Sam Rin Hyo memohon padanya. Ia tidak pernah dapat menolak permintaannya sedikit pun. Hal itu juga yang terkadang sangat ia kesalkan pada dirinya sendiri. Tepukan tangan terdengar serempak saat MC sudah mulai membuka acara.

Shin Ji Eun menyisir satu persatu bintang tamu yang duduk dikursi – kursi khas ‘strong heart’ itu dengan teliti. Tubuhnya menegang dan berjengit saat pandangannya bertemu dengan seorang pria yang begitu ia kenal. Bahkan, ia juga yakin jika pria itu sama dengannya. Terlihat dari bagaimana kakunya pria itu saat menatapnya. Sedangkan Sam Rin Hyo yang sejak tadi memaku pandangannya pada Cho Kyuhyun sudah mulai menyadari perubahan raut sahabatnya itu. Ia mengernyit kemudian mengikuti kemana arah pandang gadis itu. Tatapan Shin Ji Eun seperti dipenuhi oleh kebencian yang mendalam. Seperti seekor Hyena yang sudah memutuskan mangsanya.

“Eo! mengapa dia menatapmu seperti itu?” celetuk Sam Rin Hyo spontan saat melihat pria yang tengah menatap Rin Hyo dengan sendu. Seolah tersadar, Ji Eun menatap Rin Hyo dengan cepat.

“Dia? Siapa?”

“Itu… Lee Kikwang. Mengapa ia menatapmu seperti itu? Dan juga mengapa kau menatapnya seperti itu?” Ji Eun mendorong pelan kepala Rin Hyo seraya mendesis kesal.

“Kau mulai lagi! selalu saja berimajinasi yang tidak – tidak! Lebih baik sekarang kau perhatikan saja Cho Kyuhyun tercintamu itu. Ah, dan juga! Angkat ipad-mu itu tinggi – tinggi agar ia tahu jika kau mencintainya.” Ujar Shin Ji Eun dengan sekali tarikan napas kemudian mengalihkan pandangan kearah lain. Sedangkan Rin Hyo menatap Ji Eun lalu beralih pada ipad-nya dengan bingung. Namun tak lama, Karena setelah itu ia kembali tersenyum lebar seraya mengangkat ipad-nya tinggi – tinggi. Karena dilayarnya sudah ia set sebuah tulisan Hangeul ‘cho kyuhyun’ berjalan. Sedangkan Shin Ji Eun, ia berusaha tidak kembali menatap pria bernama Lee Kikwang itu lagi. Karena, semakin ia menatap mata itu. Semakin ia ingin membunuh pria itu.

-To Be Continued-

Advertisements

26 thoughts on “Love Dust 1

  1. hihi pas tau ada Minseok nya jadi engga sabar pengen baca kekek 🙂 kyuhyun punya penggemar rahasia hihi lucu deh bayangin rin hyo yg dikejar-kejar berondong seganteng sehun oh my? dan aku maish bingung, minseok itu bilang calon istri ke rin hyo apa jieun?

  2. Sehun…aigoooo
    Yang bner az..aq gantiin deh hihi..
    Rinhyo kl sukanya ma kyuhyun mah susah,apalgi pgn milikin gmn caranya coba??jdwl padat merayap..bsanya cmn liatin hp setelah syuting trs libur pun masih d intip paparazi..jgn mau deh, ma Sehun az yah..yah..hahhaha..

    Lha thor gmn coba jadinya kl rinhyo ngotot suka ma kyu??..

    Next az yah.. biar tau jawabannya..
    Hehehe..

  3. Annyeong eonie,, aku reader baru,, numpang baca yah,,
    sbenernya aq udh lama follow wp ini tpi baru sempet baca skarang, stelah dpt nitif dari gmail,, salam kenal yah eonii,,
    cerita.a bkn greget sm penasaran, ijin baca next chap.a ya eonii ;D

  4. seru ceritanya, rin hyo jadi fans berat kyuhyun..
    Tp di part ini aku lbh penasaran am ji eun..
    Benarkah jieun calon istri minseok?
    Tp aku merasa jieun dan kikwang pny cerita thu?

  5. waaah rin hyo sama kaya aku fans berat sama kyu..hehee
    ceritanya seru bikin penasaran sama shin ji eun da kikwang..
    btw salam kenal eon ini aku yg kemaren..
    sekarang udah bisa komen disini hahhaha..

  6. Kasian sehun ditolak
    Sma q aja deh bang :v
    Penasaran sma hbungan nya ji eun sma kikwang
    Mau bca next part nya ah biar ga pnsaran 😀

  7. haihai…………. ikut baca ff ini y kak…….. cinta pandangan pertama emang sllu bikin hati serr2an#curcol hehehe……….
    itu lee kikwang ngeliatin jieun y? apa ada cerita masa lalu diantara mereka berdua?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s