Love Dust 2

Author: Bella Eka
A/N: Part ini gaje paraaah ._. Seperti biasa No Copas dan commentnya yaa ^^ happy read!

***

Author’s side

“Baiklah, tema kita kali ini sangatlah menarik yaitu tentang cinta pertama.” Ucap salah seorang MC di acara itu. Terdengar tepuk tangan meriah dan suara-suara excited yang berasal dari seluruh penonton yang ada dalam studio, tapi tidak dengan Shin Ji Eun dan Sam Rin Hyo. Raut wajah Shin Ji Eun berubah jengah ketika mendengar tema itu. Sedangkan Sam Rin Hyo sedang mempersiapkan mentalnya terhadap kemungkinan pernyataan terburuk yang akan dilontarkan oleh Cho Kyuhyun.

“Kenapa harus tema ini? Memuakkan sekali. Aku ingin pulang sekarang.” Umpatnya sambil membuang pandangannya kearah pintu exit. Sam Rin Hyo yang mendengar itu, refleks memegang tangan Ji Eun. Sontak Ji Eun menoleh kearah Rin Hyo.

“Mwo?” Ji Eun menatap Rin Hyo dengan tatapan datarnya. Rin Hyo hanya memasang wajah memelasnya tanpa mengucap sepatah katapun.

“Ck! Kalau saja kau bukan Sam Rin Hyo, aku tidak akan sudi melakukan hal-hal seperti ini.”

Rin Hyo tersenyum manis mendengar perkataan sahabatnya itu. Sedangkan Ji Eun hanya memutar kedua bola matanya malas.

“Oke, sekarang kita mulai dari Lee Kikwang! Bagaimana pengalamanmu terkait dengan cinta pertama?”

“Cinta pertama…” Lee Kikwang menatap tajam kearah Ji Eun dan Rin Hyo ketika mengucapkan kalimat itu. Sam Rin Hyo yang menyadari hal itu sontak menoleh kearah Ji Eun yang juga menatap tajam pria itu namun datar tanpa ekspresi. Rin Hyo memiringkan kepalanya sedikit pertanda bahwa ia tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dan kembali memfokuskan dirinya pada acara itu.

“Aku mengalami cinta pertamaku saat aku duduk dibangku SMA. Dan cinta pertamaku itu benar-benar… membingungkan.” Lee Kikwang tersenyum manis namun masih dengan tatapan tajam kearah yang sama. Para penonton yang berada di sekitar Ji Eun dan Rin Hyo terdengar bergumam kegirangan.

“Karena sebenarnya masih belum ada kata ‘putus’ diantara kami.” Lanjutnya sambil tertawa miris.

“Jadi, apa maksudmu kau masih menjalin hubungan dengan cinta pertamamu itu sekarang?”

“Tidak, bukan seperti itu. Kami sudah lost contact sejak aku melakukan debut dan aku sama sekali tidak mengetahui kabar dan keberadaannya sejak saat itu.” Sam Rin Hyo tak henti-hentinya menatap Ji Eun dan Kikwang secara bergantian. Ia merasa bahwa sesuatu yang besar telah terjadi diantara mereka yang sama sekali tidak diketahuinya.

“Ji Eun, apa benar tidak ada sesuatu diantara kalian?” tanya Rin Hyo yang sudah berada di puncak rasa penasarannya.

“Apa yang kau katakan? Sudahlah, diam dan ikuti acara ini dengan baik. Kalau kau terus saja menanyakan tentang hal ini, aku akan pulang sekarang juga!” Ancam Ji Eun dan sukses membuat Rin Hyo menutup mulutnya.

***

Sudah setengah jam variety show itu berakhir dan suasana sudah sangat sepi, hanya tertinggal beberapa Office Boy yang sedang membersihkan dan merapikan studio itu. Namun Sam Rin Hyo dan Shin Ji Eun tak kunjung meninggalkan tempat itu seperti yang telah dilakukan oleh para penonton yang lainnya. Sam Rin Hyo tak henti-hentinya mengembangkan senyumannya setelah mendengar pernyataan Cho Kyuhyun mengenai cinta pertamanya. Sedangkan Shin Ji Eun menatap iba sahabatnya itu yang mencintai seseorang yang menurutnya tidak akan mungkin dapat tergapai.

“Berhenti memikirkan hal itu dan ayo pulang.” Ucap Ji Eun yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Rin Hyo yang layaknya seperti orang yang sedang dimabuk cinta.

“Sebentar lagi Ji Eun-ah, aku benar-benar tidak menyangka bahwa Cho Kyuhyun-ku masih belum pernah merasakan cinta pertamanya. Itu berarti aku masih memiliki kesempatan, Ji Eun.”

“Sudahlah ayo pulang, aku ada janji dengan Min Seok.” Mereka berdua pun beranjak dari tempat duduk mereka dan keluar melalui pintu yang diatasnya terdapat sebuah papan kecil bertuliskan ‘exit’. Ketika Rin Hyo dan Ji Eun sedang berada di lorong gedung menuju lobby, tiba-tiba Rin Hyo menangkap sosok Kyuhyun berada dalam jarak pandangnya. Pria itu sedang berjalan kearahnya sambil berbincang-bincang santai bersama seorang pria lain dan itu adalah, Lee Kikwang. Rin Hyo menghentikan langkahnya, ia tidak sanggup berada dalam jarak yang lebih dekat lagi dengan pria yang dicintainya itu, jantungnya berdegup sangat kencang.

“Sam Rin Hyo, kau lama se…” Shin Ji Eun yang baru menyadari bahwa Rin Hyo tidak lagi berada di sampingnya karena ia tengah sibuk membalas pesan Min Seok, menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Rin Hyo yang terdiam membatu dengan raut wajah tegangnya.

“Apa yang sedang kau lakukan? Jangan memasang raut wajah seperti itu. Kau benar-benar terlihat konyol Rin Hyo-ah.” Ji Eun terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu lalu mengikuti arah pandang Rin Hyo dan menemukan pria itu, pria yang sangat ia hindari selama ini. Baru saja ia tersadar dan ingin beranjak menghampiri Rin Hyo untuk melarikan diri namun terlambat. Pria itu telah lebih dulu menyadari keberadaan Ji Eun dan mengunci tatapannya dalam bola mata gadis itu.

“Ji Eun-ah.” Ji Eun terenyuh mendengar suara khas yang sudah lama tidak ia dengar secara langsung itu memanggil namanya. Sejujurnya, ia sangat merindukan suara pria itu. Tidak, gadis itu tidak hanya merindukan suaranya, tapi ia sangat merindukan segala hal tentang pria itu. Namun rasa rindunya tertutupi oleh perasaan benci dan kecewanya yang begitu besar. Ia hanya menatap pria itu tajam yang tengah menatapnya penuh kerinduan.

“Ini benar kau kan?” Lanjut Kikwang. Namun Shin Ji Eun hanya melengos tak menghiraukan ucapan pria itu.

“Kau mengenalnya?” tanya Cho Kyuhyun yang tengah bingung dengan situasi yang terjadi. Kikwang hanya menganggukkan kepalanya sedikit tanpa mengucap sepatah katapun.

“Mungkinkah dia…”

“Ya.” jawab Kikwang singkat dan bergegas menghampiri Ji Eun yang masih membeku menatapnya. Ia berhenti sejenak tepat di depan gadis itu dan menatapnya lembut.

“Kemana kau selama ini?” tanya Kikwang sambil membingkai wajah Ji Eun dengan telapak tangannya.

“Bukan urusanmu!” Jawab Ji Eun dingin sambil menepis tangan Kikwang dengan kasar.

“Kenapa kau seperti ini, sayang?”

“Sudah kubilang bukan urusanmu! Dan, jangan pernah memanggilku dengan panggilan seperti itu lagi!” Shin Ji Eun menolehkan kepalanya kearah Rin Hyo yang terlihat semakin shock dan bingung dengan apa yang sedang terjadi.

“Ayo kita pergi dari sini.” Ucap Ji Eun sambil beranjak untuk menghampiri Rin Hyo untuk menghindari pria itu. Namun belum genap selangkah Ji Eun beranjak dari tempatnya, Kikwang dengan sigap menarik lengan gadis itu dengan kasar dan membawanya pergi. Kesabarannya telah habis, ia tidak akan menyia-nyiakan waktu ini.

Rin Hyo dan Kyuhyun yang kebingungan pun hanya terdiam di tempat masing-masing. Mereka hanya saling memandang satu sama lain dalam diam sampai pada akhirnya Kyuhyun teringat akan sesuatu.

“Kau… gadis yang datang ke caféku waktu itu kan?” Kyuhyun mulai menghampiri Rin Hyo yang masih membatu. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya pelan.

“Apa kau teman dari Nona Shin Ji Eun?” Rin Hyo terlonjak kaget ketika Cho Kyuhyun mengucapkan nama sahabatnya itu.

“Ya, kau benar. Tapi, bagaimana bisa kau mengetahui namanya?”

“Ah, itu. Hanya saja, Kikwang sering sekali menceritakan sesuatu tentangnya. Tidak, tidak sering, hanya pernah.” Tanpa sadar iPad yang digenggam Rin Hyo pun terlepas dari tangannya, sontak Kyuhyun dapat membaca tulisan berjalan yang terpampang jelas di layar iPad itu yang bertuliskan ‘Cho Kyuhyun’. Kyuhyun mengambil iPad itu dan menyerahkannya pada sang pemilik yang masih saja membatu.

“Apakah… kau adalah fansku?” Rin Hyo hanya bergeming tanpa menjawab pertanyaan canggung itu.

“Aigoo, bagaimana bisa aku senarsis ini. Maafkan aku.” Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tertawa canggung. Berusaha untuk mencairkan suasana, Kyuhyun mulai membuka pembicaraan dengan gadis itu.

“Siapa namamu, Nona?”

“Sam Rin Hyo.” Jawab Rin Hyo singkat dengan raut wajah yang begitu datar.

“Apakah kau mengetahui tentang hubungan mereka?” Rin hyo hanya menggelengkan kepalanya sekali.

“Bagaimana jika kita ke caféku sekarang agar dapat lebih nyaman membicarakan tentang hal ini. Aku juga bingung dengan hubungan mereka berdua.”

***

Shin Ji Eun’s side

“Lepaskan aku! Lepaskan tanganku! Kau mau membawaku kemana, hah?!” Dia masih saja mencengkeram lenganku dengan sangat kuat dan rasanya seperti akan patah.

“Ke tempat dimana orang lain tidak akan bisa mendengarkan pembicaraan kita.”

“Memangnya apa yang perlu kita bicarakan?” Dia hanya menatapku tajam dan membawaku masuk ke dalam lift dan menekan tombol “R” disana. Pria itu mulai merenggangkan cengkeramannya dan beralih menggandeng tanganku dengan lembut. Sebenarnya aku sangat merindukan pria ini, sungguh. Rasanya aku ingin memeluknya sekarang juga. Tapi jika mengingat apa yang telah ia lakukan padaku waktu itu, aku sangat membencinya di waktu yang bersamaan. Setelah sampai di lantai paling atas gedung ini, kami keluar dari lift dan masih dengan telapak tangan yang saling bertautan. Dan aku pun memutuskan untuk melepas tautan itu.

“Ji Eun-ah.” Dia, memanggil namaku lagi.

“Separah itukah kau membenciku?” Dia menatapku dengan tatapan sendu itu lagi. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan. Aku sangat ingin memeluknya saat ini.

“Apakah kau tidak merindukanku?”

“Tidak!” Aku tidak hanya merindukanmu Lee Kikwang, tapi sangat-sangat merindukanmu.

“Kemana kau selama ini?”

“Jangan buat aku mengulangi jawaban yang sama.”

“Aku serius.”

“Kau pikir aku sedang main-main? Sudahlah Lee Kikwang, jangan membuang-buang waktuku.”

“Shin Ji Eun!” Dia membentakku, tapi aku menyukainya karena aku begitu merindukannya. Dan tatapan tajam itu, sudah berapa tahun aku tidak mendapatkan tatapan itu.

“Apa?” Aku melemah, tanpa kusadari nada bicaraku pun ikut melemah. Aku hampir tidak kuat menahan perasaan rinduku yang kupendam selama ini.

“Tidakkah kau menyadari bahwa aku hampir gila saat kau menghilang selama ini? Aku tau aku salah karena tidak memberitahumu lebih awal. Tapi aku melakukan hal itu karena saat itu aku pun belum tau kapan aku akan benar-benar melakukan debutku. Dan setelah hal itu telah diputuskan, aku tidak dapat memiliki waktu luang untuk menemuimu, bahkan untuk menemui keluargaku pun aku tak bisa. Maafkan aku.” Aku sudah tidak kuat menahan air mataku, aku merasa sangat egois karena tidak memikirkan kondisinya pada saat itu, dan sekarang semuanya sudah terlambat. Dia semakin mendekat padaku dan memegang kedua telapak tanganku erat.

“Aku juga Kikwang-ah, aku juga hampir gila karenamu, menjalani hari-hariku tanpamu secara tiba-tiba, dan kau pergi tanpa mengucap sepatah katapun. Aku berpikir bahwa kau telah melupakanku dan tidak menganggapku sebagai kekasihmu lagi setelah kau sukses seperti ini.” Tangisanku semakin meledak, ego-ku telah meluntur, aku tidak sanggup lagi menahan air mataku. Dia memelukku sangat erat, dan aku membuat pukulan-pukulan kecil di dadanya dengan tanganku untuk meluapkan sedikit kekesalanku padanya.

“Tapi…” Aku mendongakkan kepalaku sedikit agar dapat melihat wajahnya dengan jelas, dan kedua bola mata kami bertemu, tatapan penuh kerinduan.

“Seharusnya kan kau bisa menghubungiku melalui ponselmu, hanya melakukan itupun kau tak bisa?” Lanjutku dengan tatapan penuh tuntutan, dan masih dalam pelukan eratnya.

“Ah, waktu itu… ini semua karena Yoseob!” Lontarnya dengan raut wajah penuh kekesalan.

“Hah?”

“Waktu itu adalah hari saat kami menempati dorm untuk yang pertama kalinya setelah CEO kami mengumumkan bahwa kami disatukan menjadi sebuah group. Ketika aku dan member lainnya baru masuk gerbang apartemen dorm, aku memutuskan untuk memberitahumu tentang kabar debut ini, saat aku tengah mengetik pesan untukmu tiba-tiba Yoseob menggodaku dan menyahut ponselku, akhirnya ponselku pun terjatuh ke dalam selokan dan hanyut entah kemana. Dan sebenarnya kami tidak diperbolehkan memiliki ponsel oleh agensi kami sebelum B2ST mencapai kesuksesan jadi aku tidak bisa membeli ponsel baru saat itu.” Aku hanya bisa tertawa sekeras-kerasnya setelah mendengar pernyataan konyolnya itu, sungguh di luar dugaanku.

“Ternyata kau belum juga berubah Kikwang-ah.”

“Tentu saja, aku tidak akan berubah sampai kapanpun. Perasaanku tidak akan pernah berubah padamu.”

“Bukan, bukan itu maksudku.” Dia menatapku heran, wajahnya, terlihat begitu menggemaskan sekarang.

“Tapi kebodohanmu Lee Kikwang. Dasar bodoh!” Dia melebarkan kedua matanya kemudian ikut tertawa bersamaku dan semakin mengeratkan pelukannya padaku. Aku pun melingkarkan kedua tanganku dan tak lama kemudian aku menepuk-nepuk punggungnya pelan, tanda bahwa aku telah kehabisan nafas. Dan dia sedikit melonggarkan pelukannya.

“Aku sangat mencintaimu Shin Ji Eun.” Dia menatapku lekat, kemudian mengecup dahiku lama, rasanya aku hampir ingin menangis lagi.

“Aku juga, tapi semuanya sudah terlambat Kikwang-ah.”

“Apa maksudmu?”

“Aku sudah bertunangan sekarang.”

“Apa? Jangan bercanda, Nona Shin. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu , bahkan kepada calon suamimu. Jangan membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu.”

“Aku serius!” Aku menggigit bibir bawahku kuat, menahan ledakan emosi yang bercampur aduk dalam diriku.

“Tidak bisa Shin Ji Eun! Kau masih terikat denganku, dan aku tak akan melepaskanmu!” Dia memegang tanganku erat seakan memang benar-benar tak akan melepaskanku. Aku juga Lee Kikwang, aku juga sama sekali tak ingin lepas darimu.

Semua ini salahku, salahku yang begitu ceroboh dan hanya memikirkan diriku sendiri. Kukira selama ini kau yang telah sukses dan menerima banyak cinta dari orang lain telah melupakanku, dan tak menganggap keberadaanku. Kukira selama ini kau telah berubah dan tak lagi membutuhkanku, kukira kau telah menemukan seseorang lain dalam duniamu itu, yang jauh berbeda dengan duniaku. Kukira… kukira… dan kukira. Aku hanya sibuk dengan perkiraanku burukku itu selama ini, dan membiarkanku terlarut dalam kesalahpahaman bodoh ini.

Why… why you leave me alone, baby? I’m still.. still loving you.. neon jigeum nareul dugo tteonagajiman… haengbokhagil baralge…

Terdengar suara deringan ponsel yang berasal dari saku cardiganku, aku pun menarik kedua tanganku yang masih berada dalam genggaman Kikwang dan segera merogoh sakuku untuk mengambil benda yang menimbulkan suara nyaring itu.

“Kim Min Seok?” gumamku pelan, ah benar! Aku lupa jika aku ada janji dengan pria ini. Aku menatap Kikwang sekilas yang mengerutkan dahinya tak mengerti dan menggedikkan kepalanya seakan mengatakan “dari siapa?”.

“Tunanganku.” Jawabku sambil tersenyum canggung padanya. Kerutan di dahinya semakin membesar.

“Jangan melakukan ini.” Ucapku sambil mengusapkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kananku ke dahinya yang berkerut itu. Aku hanya tidak ingin kerutan itu akan membekas di dahinya, dahi milik pria favoritku. Kikwang menunjukkan senyuman manisnya ketika mendapat perlakuanku itu. Pikiran jahil pun melintas di benakku, aku mengubah sentuhan lembut itu menjadi selentikan keras yang sontak menghilangkan senyuman indah itu.

“Akh! Sakit! Dasar kau ini. Sudah angkat teleponmu itu.” Lontarnya dengan raut wajah antara kesal dan merajuk. Mendengar itu, aku mengangkat teleponku ke udara sambil tersenyum jahil.

“Apa perlu aku yang menjawabkan telepon dari tunanganmu itu?” tuturnya dengan nada kesal. Aku hanya terkekeh mendengarnya dan menjulurkan lidahku mengejek. Aku pun berbalik membelakangi Kikwang dan menggeser logo hijau dalam layar ponselku.

“Yeoboseyo?”

“Aigoo… kau dimana sekarang? Aku sudah menunggumu dari sejam yang lalu di café ini. Apakah sesuatu telah terjadi padamu, Ji Eun?”

“Maaf, aku akan kesana sekarang.”

“Baiklah, kalau ada sesuatu telfon aku ya. Hati-hati. Saranghae.”

“Ne, nado.” Aku segera memutuskan sambungan telepon itu. Aku merasa sangat bersalah ketika mendengar suara Min Seok tadi. Astaga, aku tak sanggup melihat pria menggemaskan itu terluka karenaku, dia tak pantas terluka.

“Kau mau pergi menemuinya?” tanya Kikwang ketika aku berbalik kearahnya.

“Ne, maaf aku harus segera menemuinya. Dia sudah sejam disana menungguku.” Saat aku akan memasukkan ponselku ke dalam tas jinjingku, tiba-tiba Kikwang meraih ponsel dari tanganku dan mengetikkan sederet nomor kemudian menelfonnya. Sedetik kemudian terdengar suara deringan ponsel dari arah sakunya.

“Nanti saat kau sudah selesai menemuinya, hubungi aku.” Aku hanya mengangguk sekenanya.

”Ah, satu lagi. Kau tak perlu mencari temanmu itu, dia sekarang sedang berada di Kona Beans bersama Kyuhyun.” Lanjutnya.

“Apa? Bagaimana bisa? Astaga, semoga saja dia tidak terlihat seperti gadis aneh di depan pria itu.”

“Gadis aneh?”

“Ya, dia adalah fans Kyuhyun dan dia sangat menggilainya. Semua orang di sekolah tau bahwa seorang Sam Rin Hyo hanya mencintai seorang pria. Dan itu adalah Cho Kyuhyun. Setiap dia berada di dekat Kyuhyun, dia akan berubah menjadi gadis aneh, berbicara pun tak bisa, padahal setiap hari dia berkata bahwa dia mencintainya dan ingin bertemu dengannya. Benar-benar gadis konyol. Mana mungkin seorang idol seperti Cho Kyuhyun bisa menyukai gadis biasa sepertinya.” Aku terkekeh membayangkan bagaimana canggungnya Sam Rin Hyo dan Cho Kyuhyun disana.

“Kau tidak memiliki cermin, Nona Shin Ji Eun?”

“Tentu saja aku punya. Kau meremehkanku?”

“Berkacalah, pikirkan bagaimana bisa seorang Lee Kikwang dapat menggilai seorang gadis gila sepertimu. Tidak ada yang tidak mungkin, Nona Shin Ji Eun.” Perkataan Kikwang seakan menyadarkanku. Dia benar, bagaimana bisa seorang idol sepertinya masih saja menaruh hatinya padaku sampai sekarang. Ini artinya, masih ada kesempatan untuk Rin Hyo. Aku pun tersenyum miring memikirkan rencana untuk mendekatkan mereka berdua. Tentu saja dengan bantuan pria bodoh ini.

“Ya! Mengapa kau tersenyum seperti itu? Sudah cepat pergi dari sini!” Apa? berani-beraninya dia mengusirku.

“Ya! Kau mengusirku? Awas saja kau!”

“Kalau aku menjadi tunanganmu itu, aku tidak akan sudi untuk menunggumu sampai satu jam sepertinya. Untuk apa menunggu gadis yang sama sekali tidak peka terhadap apapun sepertimu.” Astaga, aku lupa lagi. Jika aku sedang bersama dengan pria ini selalu saja begini, melupakan segala hal. Sial!

“Baiklah, aku pergi!” aku segera berlari kecil menuju lift dan meninggalkan Kikwang yang tak bergeser sedikitpun dari tempatnya.

“Jangan lupa nanti hubungi aku!”

***

Lee Kikwang’s side

Aku merebahkan diriku di sofa ruang tengah, jadwalku hari ini sudah selesai dan seseorang yang kutunggu pun tak kunjung menghubungiku. Aku merasa sangat bersyukur, akhirnya aku dapat menemukannya lagi. Kupikir, aku tidak akan bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Aku semakin yakin bahwa dia adalah takdirku. Takdir yang sudah ditentukan sebelum kami belum terlahir di dunia ini.

Aku menatap sekilas jam dinding spongebob yang terpasang di dinding dorm B2ST menunjukkan pukul 7 malam. Sudah 5 jam lamanya sejak Ji Eun berpamitan untuk menemui tunangannya tadi. Apa yang mereka lakukan disana? Apa gadis pelupa itu melupakan janjinya lagi? Bahkan janjinya denganku? Atau sesuatu yang buruk telah terjadi padanya? Ah, mungkin dia sudah terlalu lelah hari ini. Apakah aku harus meneleponnya? Tapi , bagaimana jika dia masih dengan tunangannya itu. Aku pun memutuskan untuk mengirim pesan singkat untuknya.

To: Shin Ji Eun♥

Ya! Apa kau telah melupakan janjimu? Aish, kau ini! Selalu saja seperti ini. Apa kau…

Belum tuntas aku mengetikkan pesan untuknya, tiba-tiba ponselku berdering dan tertera nama seseorang yang sedari tadi kutunggu itu di layar ponselku. Aku pun segera menggeser logo warna hijau pada layar ponselku.

“Yeoboseyo?”

“Kikwang-ah, jadi tidak?”

“Tentu saja, kau sudah selesai?”

“Menurutmu?”

“Aish, sekarang kau dimana?”

“Tentu saja di apartemenku. Kau mau menjemputku?”

“Narsis sekali kau.”

“Tch!” Aku mengulum tawaku. Gadis ini selalu mengatakan apa saja yang berada di pikirannya dengan leluasa tanpa berpikir. Tidak berubah.

“Iya iya, aku akan menjemputmu. Cepat bersiap-siap sekarang juga. Dimana alamat apartemenmu?”

“Baik Tuan Lee. Di daerah Gangnam nomor 215. Ah iya, Kikwang-ah, bolehkah aku mengajak satu temanku?”

“Temanmu yang tadi itu?”

“Ne, dan bisakah kau…”

“Menghubungi Cho Kyuhyun bila dia tidak memiliki jadwal sekarang?” Aish, jinjja! Pola pikir gadis ini selalu mudah sekali kubaca.

“Aigoo Lee Kikwang! Sepertinya kau benar-benar belahan jiwaku. Hahaha” Astaga, bagaimana bisa dia berkata seperti itu sedangkan dia sudah bertunangan dengan pria lain? Dasar gadis gila, gadis gila yang mampu membuatku menggilainya.

“Terserah saja kau mau bilang apa, tapi sepertinya Kyuhyun tidak bisa ikut karena dia ada jadwal untuk acara ‘Radio Star’. Sebentar lagi aku ke rumahmu. Jangan membuatku menunggu lama seperti biasanya!” Seperti biasa? Lebih tepatnya seperti dulu.

“Ah iya, kau benar juga. Baiklah kalau begitu. Kau, hati-hati ya. Fokuslah pada jalanan, jangan memikirkanku saat menyetir, karena jika terjadi sesuatu yang buruk padamu, aku tidak peduli. Hahaha” Racau gadis itu

“Akhiri sekarang atau…”

“Ne, baiklah. Annyeong!” Dia memutus sambungan telepon kami secara sepihak. Sepertinya, sebenarnya dia sangat merindukanku hingga mengatakan sesuatu yang terlalu amat tidak penting itu. Dan, ringtone-nya. Kebiasaannya dari dulu sampai sekarang, tidak berubah.

***

Author’s side

Lee Kikwang memarkir mobil Mercedes-Benz S-Class hitamnya tepat di depan gedung apartemen Shin Ji Eun. Kemudian ia segera mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan beberapa kata disana. Tak sekalipun Kikwang melepas pandangannya dari arah pintu apartemen Ji Eun.

Akhirnya, seseorang yang telah ditunggunya itu muncul dari balik pintu gedung apartemen. Gadis itu mengenakan dress selutut, yang bagian atasnya berwarna merah sedangkan bagian bawahnya berwarna hitam dan terlihat sedikit mengembang. Tak lupa sepatu flat serta tas jinjingnya yang juga berwarna senada. Dan seperti biasa, ia menguncir kuda rambutnya yang indah itu.

“Astaga, bagaimana bisa?” Lee Kikwang terkejut melihat penampilan gadisnya, karena ia sedang mengenakan kaos polo berwarna merah dan celana jeans hitam yang pasti akan membuat orang lain mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih ketika bersama. Shin Ji Eun telah sampai di mobil Kikwang dan membuka pintu kanan depan mobil itu.

“Annyeong.” Sapa gadis itu sambil memasuki mobil mewah itu. Setelah Ji Eun memakai sabuk pengamannya, Kikwang pun langsung melajukan mobilnya.

“Sepertinya kau telah sukses besar ya sampai kau mampu membeli mobil seperti ini. Waaah sepertinya uri Kikwang-ie sudah menjelma menjadi pria yang sebenarnya ya.” Ucap Ji Eun sambil tak henti-hentinya berdecak kagum.

“Kau ini, jangan seperti itu. Aku tidak ada apa-apanya dengan perusahaan besar milik keluargamu itu.”

“Ck! Kau ini. Aku ini sedang memuji hasil kerja kerasmu, itu kan perusahaan milik ayahku, jadi tidak ada hubungannya denganku.” Lontar Ji Eun kesal. Gadis itu memang paling benci jika ia dipuji karena kekayaan keluarganya. Kikwang hanya terkekeh geli melihat tingkah gadis itu, yang sekali lagi sama sekali tidak berubah.

”Astaga Kikwang-ah, pakaian kita…“ Kikwang hanya terkekeh melihat tingkah laku gadis itu, yang menurutnya menggemaskan.

”Kau tau kenapa aku memakai pakaian dengan warna ini?”

”Karena warna merah adalah favoritmu dan hitam favoritku.” Jawab Kikwang cepat tanpa berpikir lebih lama, karena dengan alasan itu pula-lah yang membuat Kikwang memutuskan untuk memilih pakaian yang dikenakannya sekarang. Ia terkekeh melihat gadis disampingnya yang tengah melebarkan kedua matanya tak percaya.

”Omo! Kau… Bagaimana bisa.”

“Besok kau ada jadwal kuliah tidak?” Shin Ji Eun mengeluarkan ponselnya dan mengecek jadwal kuliah miliknya itu.

“Tidak ada, besok aku free. Memangnya kenapa?” Kikwang mengulas senyuman khasnya ketika mendengar jawaban yang sangat ia harapkan itu.

“Tapi besok aku ada janji dengan Min Seok oppa.” Senyuman manis pria itu pun menghilang dalam sekejap. Dia merasa tidak rela bila gadisnya itu lebih mementingkan pria lain dibandingkan dirinya.

“Tidak bisakah acara kalian itu ditunda saja?” ucap Kikwang dengan nada suara yang sangat pelan, seakan sedang memohon.

“Memangnya sekarang kita mau kemana?”

“Busan.”

“Mwo? Kau gila ya? Apakah kau mau melarikan diri dari pekerjaanmu?”

“Astaga… aku tidak akan melakukan hal ini jika aku ada jadwal besok, bodoh. Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan sedikitpun jika aku dapat melewatkannya bersamamu seperti ini, sebelum kau… menikah dan meninggalkanku.”

-To Be Continued-

Advertisements

17 thoughts on “Love Dust 2

  1. oh god suami aku cintanya bertepuk sebelah tangan dong sama ji eun huaaa suami aku gimana nasib nya kalo ji eun lebih milih kikwang 😥

  2. Lha kasian bgt tuh tunangannya ji eun tapi kasian hg kikwang..knp hrs ktmu skrng..
    N gmn nasib rinhyo ma kyuhyun..??
    Tuh kan bnr susah jg ktmu ma kyuhyun..sibuk bnr kan..

    Semoga ad jgn tuk bersama scr udh prnah ktmu kan..jd???

    Next yaw…thank yuu thor,ff nya bikin aq senyum2 ndri tau deh napa hahahhaa…

  3. whaaa eonii ceritanya makin keren,, aku suka sama kikwang, karna disini dia setia banget,, wahhh pokoknya uri kikwang-i neomu kyopta,, na johaseo eonii,, ijin baca next chapnya lagi yah eonii,, 😉

  4. penasaran kira2 kyu dan rin hyo di koona beans membicarakan apa y?
    Aku jadi berhrap kikwang dan ji eun balik lagi, mereka kan saling mencintai

  5. daebak,, akhirnya nemu WP yang isinya full ff gikwang^^
    idenya teens banget!
    Ji eun nya udah punya tunangan. waduh,, nyesek deh gikwang, kira-kira bakalan pisah lagi nggak mereka?

  6. bener kan……….kikwang ama jieun ada hubungan, mereka ke busan mau ngapain yach………… coba kyuhyun ikut. kan jieun ma kikwang bisa comblangin dia ma rinhyo,hehehehe……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s