It’s You 2

image

Author: Bella Eka
A/N: hai 🙂 no copas, comment please! Happy read^^

———

Lee Kikwang’s POV

Sudah hampir seminggu sejak peresmian hubungan mereka, namun tetap saja aku belum bisa menerima kenyataan ini, bila Shin Ji Eun telah dimiliki oleh orang lain selain aku. Memang aku telah memilikinya, namun hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Tak jarang aku menyesali diriku sendiri karena tidak menyatakan perasaanku yang sebenarnya padanya terlebih dahulu.

Namun jika aku benar-benar melakukannya, apakah semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginanku? Apakah dia juga memiliki perasaan yang lebih padaku? Dan apakah hubungan kami akan tetap baik-baik saja? Aku khawatir jika jawabannya adalah tidak.

Aku tersenyum simpul ketika melihat tas ransel kecil bergambar Power Ranger yang berada di atas nakas kecil dekat meja belajarku. Apakah kau mengingatnya, Ji Eun-ah? Apakah kau mengingat perjanjian yang kita buat dulu? Entahlah, hanya ada sedikit kemungkinan kau masih mengingatnya.

FLASHBACK

Seoul, 2004

“Kikwang-ah, aku punya hadiah untukmu.” Shin Ji Eun menyodorkan sebuah kotak besar dengan pita warna merah yang menghiasinya padaku. Hari ini adalah hari ulang tahunku. Dan aku lebih memilih untuk menghabiskan hari istimewaku itu bersama Shin Ji Eun seharian, daripada merayakannya.

“Woaaah! Gomawo Ji Eun-ah!” aku segera memeluk Ji Eun erat ketika menemukan sebuah tas ransel berwarna hitam dengan gambar Power Ranger yang mendominasi di dalam kotak itu. Ji Eun tersenyum manis melihat reaksiku.

“Kikwang-ah, apa keinginanmu untuk tahun ini?” tanya Ji Eun penasaran. Aku berpura-pura berpikir sejenak kemudian mengatakan, “Rahasia.”

“Ya! Ayolah.”

“Bukankah jika kita mengharapkan sesuatu kemudian kita memberitahunya pada orang lain akan membuatnya tidak terkabulkan?”

“Kau adalah aku, aku adalah kau, kita adalah satu!” ucap Ji Eun cepat, aku hanya terkekeh mendengarnya.

“Aku hanya ingin keluarga kita, kau, dan aku selalu bahagia.” ujarku seraya menatap langit biru nan cerah yang seakan juga merasakan perasaan bahagiaku saat ini.

“Keluarga kita?”

“Keluargamu adalah keluargaku, keluargaku adalah keluargamu, keluarga kita adalah satu!” Shin Ji Eun seketika tertawa mendengarnya, tanpa sadar aku pun mengulas senyumanku melihatnya kemudian melanjutkan ucapanku, “Aku juga berharap agar kita tidak akan pernah berpisah.” Shin Ji Eun menganggukkan kepalanya kuat seraya mengatakan, “Tidak akan pernah!”

“Baiklah, ayo kita buat perjanjian.” Lanjut gadis itu. Aku mengernyitkan dahiku tak mengerti ketika tiba-tiba saja Ji Eun mengacungkan jari kelingkingnya.

“Perjanjian apa?”

“Kau tidak akan meninggalkanku, kau selamanya milikku, begitupun sebaliknya. Dengan begitu, kita tidak akan pernah berpisah.” ucapnya enteng dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya. Aku pun turut mengembangkan senyumanku pula serta mengaitkan jari kelingkingku, “Baiklah, aku berjanji!”

FLASHBACK END

“Mana janjimu, Shin Ji Eun?” gumamku saat mengingat kenangan manis itu. Sepertinya dia sudah benar-benar melupakannya.

Drrt drrt

Aku mengambil ponselku yang berada tepat di sampingku. Shin Ji Eun, ternyata dia yang sedang tengah meneleponku saat ini. Untuk apa dia menelepon di tengah malam begini?

“Yeoboseyo.”

“Kikwang-ah, kau bisa menjemputku besok?”

“Wae? Apa Ilwoo tidak bisa melakukannya besok?”

“Ya! Aku tidak suka kau berkata seperti itu! Aku hanya ingin berangkat ke sekolah bersamamu. Kau kira aku senang bila bersamanya?!” Shin Ji Eun selalu mengatakan hal ini, bahwa ia menjalani hubungannya itu karena keterpaksaan.

“Iya, iya. Baiklah. Sampai bertemu besok.”

***

Author’s POV

Lee Kikwang dan Shin Ji Eun sedang berjalan di koridor sekolah menuju kelas mereka. Di sepanjang jalan, mereka bercanda, tertawa, bahkan terkadang melakukan skinship satu sama lain. Sama sekali tak berubah walaupun Ji Eun berstatus kekasih orang saat ini.

Kegiatan mereka terhenti seketika saat melihat Jung Il Woo, Kim Soo Hyun, dan Song Joong Ki tepat di depan mereka. Il Woo menatap mereka tajam dan dibalas dengan tatapan tajam pula oleh Shin Ji Eun. Ji Eun mengaitkan tangannya dan menarik tangan Kikwang agar segera beranjak dari tempat itu, namun tautan tangan mereka segera ditepis oleh Jung Il Woo sehingga terlepas seketika.

“Shin Ji Eun!” bentak Ilwoo melihat kekasihnya itu lebih memilih untuk menggandeng orang lain daripada dirinya, namun Ji Eun malah melayangkan tatapan penuh ketidaksukaannya pada Ilwoo.

“Jadi karenanya kau menolak untuk berangkat bersamaku?” ucap Ilwoo seraya menyapukan tatapannya pada Kikwang dari ujung rambut hingga kaki pria itu.

“Bukan urusanmu!” jawab Ji Eun ketus.

“Kau lupa siapa kekasihmu?!”

“Kau lupa siapa yang telah memilikiku terlebih dahulu?!” Ilwoo mendesis kesal mendengar Ji Eun mengungkit hal itu.

“Apa yang membuatmu lebih memilihnya daripada aku? Pria culun sepertinya tak pantas bersanding denganmu! Kau harus sadar itu!” Shin Ji Eun melebarkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ini adalah pertama kali ia mendengar seseorang memaki salah satu dari mereka.

“Ya! Apa yang kau katakan?! Jangan sekali-kali kau memaki Kikwang seperti ini lagi. Asal kau tahu saja, jika kau memaki pria disampingku ini, sama saja dengan kau memaki diriku sendiri! Karena kami, aku dan Kikwang adalah satu! Camkan itu, Jung Il Woo-ssi!” Kikwang melebarkan matanya seketika, ia tak menyangka jika ternyata Ji Eun masih mengingat hal itu hingga saat ini.

Shin Ji Eun segera mengaitkan lengannya dan membawa Kikwang pergi meninggalkan Ilwoo yang masih terdiam membatu di tempatnya. Namun gadis itu menghentikan langkahnya ketika ia baru saja menyadari banyaknya orang yang sedari tadi melihat pertengkarannya bersama Ilwoo, dan menghalangi jalannya. Ia tersenyum miring dan lebih mengeratkan tangannya pada Kikwang. Sedetik kemudian, terbuka jalan bagi mereka untuk keluar dari zona pusat perhatian itu.

***

“Ji Eun-ah, kau bertengkar dengan Ilwoo?” tanya Rin Hyo antusias ketika ia baru saja masuk kelas bersama Kyuhyun. Shin Ji Eun hanya mengangguk sekenanya sebagai balasan.

“Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?” “

Tanyakan saja pada Kikwang.” Rin Hyo pun menanyakan hal yang sama pada Kikwang namun pria berkacamata itu hanya menggedikkan bahunya.

“Dasar kalian ini!”

“Tapi Rin Hyo-ah, bagaimana kau bisa tahu tentang hal ini?” tanya Ji Eun karena baru menyadari sesuatu.

“Kau tidak tahu? Seluruh murid di sekolah ini sedang sibuk membicarakan kalian. Jadi, bagaimana bisa aku tak mengetahuinya?”

“Wanita memang seperti itu,” timpal Kyuhyun. Shin Ji Eun memutar kedua bola matanya kemudian mengambil nafas panjangnya, “Merepotkan sekali.” gumamnya.

***

Jung Il Woo memasang raut wajah kesalnya sejak kejadian tadi pagi. Ia terus saja mengepalkan kedua tangannya tanpa henti. Jika dia sudah berada dalam keadaan mood yang sangat hancur seperti ini, tidak mudah baginya untuk menaikkan kembali kadar suasana hatinya begitu saja.

“Ilwoo-ya, sampai kapan kau akan seperti ini?” tanya Soo Hyun yang tak mendapat respon apapun dari sahabatnya itu.

“Sepertinya kau harus lebih bersabar untuk dapat mendapatkan hati gadis itu.” Ucap Joong Ki yang dibalas anggukan oleh Kim Soo Hyun.

“Bagaimana bisa dia lebih memilihnya dari pada aku? Dimana letak logika gadis itu?”

“Perasaan tak dapat dikendalikan oleh logika, Ilwoo-ya.” Ilwoo sontak mengalihkan pandangannya pada Song Joong Ki.

“Apakah kau mengingat film kartun Beauty and the Beast? Mungkin kurang lebih seperti itu,” lanjutnya.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Mudah saja Ilwoo-ya, berpalinglah pada Jun Hyosung yang sudah dapat dipastikan akan menerimamu tanpa kau bersusah payah seperti ini.” Ilwoo segera menatap tajam Soo Hyun yang sedang tertawa karena ucapannya sendiri yang sontak membuatnya membungkam.

***

Lee Kikwang meletakkan kepalanya yang beralaskan kedua telapak tangannya di meja kantin dan memejamkan kedua matanya. Shin Ji Eun yang duduk tepat di depannya pun melakukan hal yang sama, sembari menatap Kikwang lekat.

“Kalian mau pesan apa?” tanya Rin Hyo yang akan memesan makanan bersama Kyuhyun.

“Samakan saja denganmu.” Jawab Kikwang dan Ji Eun bersamaan masih dengan kegiatan mereka masing-masing. Rin Hyo tersenyum simpul melihatnya kemudian beranjak meninggalkan mereka berdua.

“Kikwang-ah!” Lee Kikwang mulai membuka kedua matanya yang tertutup kacamata bening itu.

“Kau tampan.” puji Ji Eun. Kemudian melepaskan kacamata yang tengah Kikwang pakai, “tapi lebih tampan jika kau seperti ini,” lanjutnya seraya mengembangkan senyuman manisnya. Kikwang hanya bergeming dengan perlakuan sahabatnya itu.

“Lihat! Kau membuat bekas kacamata disini.” Shin Ji Eun mengelus lembut bagian hidung Kikwang yang membentuk cekungan akibat kacamata yang selama ini ia kenakan.

“Kembalikan, Ji Eun-ah!” ucap Kikwang masih dengan posisi yang sama, walaupun ia mengatakan hal itu namun tubuhnya masih tetap bergeming.

“Ayolah, kau kan tidak memerlukan kacamata ini lagi. Kau sangat tampan, Kikwang. Sungguh!” Sebenarnya Kikwang memang sudah tidak seharusnya memakai kacamata lagi, mengingat kedua matanya telah kembali normal sejak mereka berada di kelas 2 SMP. Namun Kikwang selalu mengatakan bahwa ia tidak percaya diri jika tak memakai kacamata, karena ia sudah terbiasa memakainya sejak kecil. Maka dari itu ia tetap memakai kacamata hingga saat ini, walaupun hanya kacamata biasa.

“Apa lagi yang sedang kalian ributkan sekarang?” tanya Kyuhyun yang baru saja kembali ke tempatnya bersama Rin Hyo.

“Kikwang lebih tampan jika seperti ini kan?”

“Omo! Jadi ini rupamu yang sebenarnya, Kikwang? Daebak!” kagum Rin Hyo yang baru pertama kali melihat Kikwang tanpa benda itu. Sedangkan pria yang tengah dipujinya itu hanya memutar bola matanya kemudian memejamkannya.

“Bagaimana denganku?” Tawa Ji Eun dan Rin Hyo meledak seketika saat Kyuhyun melontarkan pertanyaan konyol itu tiba-tiba.

“Tentu Kyu, kau juga sangat tampan.” Ujar Ji Eun disela tawanya.

“Benar, Ji Eun-ah! Kyuhyun adalah yang terbaik!” Jawab Rin Hyo menanggapi perkataan Ji Eun seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.

***

Ji Eun memasuki halaman sebuah rumah dan memarkirkan mobil merahnya tepat di sebelah mobil hitam yang tak asing lagi baginya. Kemudian ia segera menekan tombol bel rumah itu ketika sesampainya di depan pintu.

Cklek

“Shin Ji Eun!” Nyonya Kim menyambut kedatangan Shin Ji Eun dengan senyuman ramahnya.

“Annyeong haseyo eommeonim.” Salam Ji Eun seraya membungkukkan badannya kemudian mencium tangan Nyonya Shin serta saling menempelkan kedua pipi mereka secara bergantian.

“Kikwang ada di kamarnya, bangunkan saja dia.”

“Ne, eomma.” Shin Ji Eun segera melangkahkan kedua kakinya menuju kamar Kikwang yang berada di lantai 2.

“Kikwang-ah! Ireona!” teriak Ji Eun ketika mendapati Kikwang masih bergelung di bawah selimutnya.

“Ya!” pekiknya lagi seraya menarik sebuah kain tebal yang tengah menyelimuti Kikwang dengan nyamannya. Namun pria itu masih saja bergeming dan tak terlihat terganggu sama sekali. Ia malah lebih mengeratkan guling yang tengah dipeluknya.

“Gwiyeowo,” gumam Ji Eun yang tengah melipat rapi selimut merah itu kemudian meletakkannya di pojok ranjang, tanpa sadar ia tersenyum simpul melihat kelakuan sahabatnya itu.

“Kikwang-ah!” Akhirnya Ji Eun naik ke atas ranjang dan mengangkat guling yang tengah menutupi wajah Kikwang, kemudian gadis itu menekan hidung Kikwang sehingga pria itu tak dapat bernafas dan otomatis akan terbangun dengan sendirinya. Hal itu adalah cara jitu Shin Ji Eun yang ia gunakan sejak mereka kecil agar dapat membangunkan sang raja tidur Lee Kikwang. Dan sekali lagi cara itu berhasil!

***

“Kau ingin membawaku kemana?” tanya Kikwang yang berada di sebelah Ji Eun yang sedang menyetir.

“Aku ingin orang-orang menyadari pesonamu yang tersembunyi itu, Lee Kikwang.” Jawab Ji Eun yang masih memfokuskan pandangannya kearah jalanan.

“Maksudmu?”

“Kau tak mengerti juga? Aku akan merubah penampilanmu.” Jelas Ji Eun seraya mengembangkan senyuman lebarnya.

“Aku tidak mau. Jadi kau tak perlu melakukan hal itu.” Sontak Ji Eun menepikan mobilnya kemudian menatap Kikwang yang juga sedang menatapnya.

“Wae?”

“Aku hanya tidak mau. Aku nyaman dengan penampilanku yang seperti ini.” Kikwang mengalihkan pandangannya kearah jalanan kemudian berkata, “Ayo kita kembali ke rumah sekarang.”

“Tidak! Kita harus tetap kesana.” Ucap Ji Eun tegas.

“Kenapa? Kau tak perlu melakukan hal ini jika hanya karena Jung Il Woo!”

“Aku tak melakukannya karena dia, tapi karena kau! Cukup sekali saja ada seseorang yang menghinamu, aku tak sanggup lagi melihat orang-orang yang menatapmu dengan tatapan meremehkan seperti itu, aku tak ingin mereka memandang rendah dirimu lagi. Karena seperti yang kukatakan, kita adalah satu. Jadi jika mereka melukaimu, sama saja dengan mereka melukaiku saat itu juga. Apa kau nyaman ketika aku terluka seperti ini? Bagaimana bisa kau mengatakan jika aku melakukan hal ini karena Ilwoo? Tch! Konyol sekali.” Shin Ji Eun segera menyalakan mesinnya kemudian menyalakan AC mobilnya karena kedua matanya yang mulai berair. Sedangkan Lee Kikwang menatap nanar gadis itu, ia terkejut dengan segala hal yang baru saja dilontarkan oleh gadis yang dicintainya itu.

“Kau masih mengingatnya?”

“Apa?” jawab Ji Eun tanpa menatap pria disampingnya itu.

“Janji kita.”

“Kau berfikiran jika aku telah melupakannya?”

“Tentu.” Mendengar jawaban itu, sontak Ji Eun mengalihkan pandangannya pada Kikwang dan mengatakan, “Mana mungkin aku melupakannya, bahkan aku sendiri yang membuat perjanjian itu bukan?” Kikwang tersenyum manis mendengar jawaban melegakan dari Shin Ji Eun.

“Aku senang kau masih menyimpannya dengan baik.” Kikwang mengernyitkan dahinya tak mengerti, sedangkan Ji Eun mengembangkan senyumannya seraya berkata, “Ransel itu.”

***

Shin Ji Eun dan Jung Il Woo berjalan berdampingan di sepanjang koridor sekolah bersama dengan tatapan-tatapan iri yang dilayangkan oleh setiap siswa yang berpapasan dengan mereka. Namun walaupun begitu, tak sekalipun mereka terlihat berinteraksi, saling pandang pun tidak. Hanya Ilwoo yang terlihat melirik gadis di sampingnya itu sesekali.

“Ji Eun-ah.” Panggil Ilwoo lirih.

“Kikwang-ah!” pekik Ji Eun seraya melambaikan tangannya ketika mendapati Kikwang dari arah yang berlawanan.

“Aku pergi dulu, Ilwoo-ya.” Shin Ji Eun segera berlari menghampiri Kikwang dan meninggalkan Ilwoo. Pria yang ditinggalkannya itu hanya mengambil nafasnya dalam kemudian menghembuskannya kasar. Ia telah kehabisan cara untuk menahan Ji Eun untuk tetap tinggal bersamanya jika sosok Kikwang telah menampakkan dirinya.

***

“Lagi?” tanya Ji Eun bersamaan dengan melebarnya kedua bola matanya ketika Kikwang tiba-tiba memberikannya setangkai bunga mawar merah dengan secarik kertas berwarna pink yang diselipkan didalamnya.

Bunga itu adalah bunga yang diberikan oleh seorang secret admirer yang mengagumi Kikwang semenjak penampilannya berubah menjadi lebih tampan, bahkan terkadang ia mendapatkan hadiah-hadiah kekanakan lainnya. Dan setiap Kikwang menerima setangkai mawar merah di atas lokernya, ia selalu memberikannya pada Shin Ji Eun, sahabatnya. Karena gadis itu sangatlah menyukai jenis bunga dan warna itu.

Shin Ji Eun mengulum tawanya ketika membaca deretan kalimat yang berada dalam secarik kertas kecil itu, “Dia memanggilmu oppa,” ucapnya dengan senyuman gelinya. Kikwang yang mendengarnya memiting leher Ji Eun dengan kedua tangannya dan menghasilkan suara pekikan kuat dari mulut gadis itu.

***

Berulang kali Shin Ji Eun menatap layar ponselnya sekedar untuk memastikan jam berapa sekarang, ia hanya ingin segera beranjak menjauh dari pria yang sedang bersamanya saat ini, siapa lagi jika bukan Jung Il Woo. Berbeda dengan Ilwoo, pria itu menatap lekat Shin Ji Eun sambil sesekali mengalihkan pandangannya kearah sungai Han yang mengalir tenang malam ini.

“Berapa lama lagi kita harus berada di sini?” Shin Ji Eun yang tak tahan lagi dengan suasana yang membuatnya tak nyaman ini mulai membuka suaranya.

“Hingga aku dapat memenuhi rasa rinduku padamu.” Goda Ilwoo.

“Tch! Romantis sekali.” Seperti biasa, Ji Eun tak mempan dengan kata-kata manis semacam itu. Ini adalah pertama kalinya sepasang kekasih itu menghabiskan waktu mereka berdua, karena Shin Ji Eun selalu saja menciptakan berbagai alibi untuk menolak ajakan kekasihnya itu. Namun malam ini, ia tak dapat menghindar karena Ilwoo yang tiba-tiba saja menjemput kerumahnya.

“Ji Eun-ah, ada yang ingin kutanyakan padamu.” Ilwoo mulai merubah posisinya menghadap kearah Ji Eun dan menyilangkan kedua kakinya diatas kursi panjang yang mereka duduki, sedangkan gadis itu masih bergeming, tetap meluruskan pandangannya kearah sungai Han.

“Langsung saja.” ucapnya singkat.

“Apa kau benar-benar tidak menyukaiku?” Mendengar pertanyaan itu, Ji Eun hanya menatap Ilwoo sekilas lalu kembali mengalihkannya kearah sungai yang menenangkan itu, “menurutmu?”

“Sebenci itukah kau padaku?” Ilwoo menatap Ji Eun sendu, seakan telah mengerti jawaban apa yang akan dilontarkan gadis itu.

“Tidak juga.”

“Jinjja?” tanya Ilwoo semangat.

“Aku tidak pernah membenci seseorang terlalu berlebihan, karena aku bukan pribadi yang seperti itu. Tapi aku hanya, selalu merasa kesal setiap melihatmu. Apalagi saat kau berani memaki sahabatku.”

“Hanya padaku kau seperti itu?”

“Entahlah, aku tak ingat lagi. Yang pasti, untuk saat ini hanya padamu. Mungkin karena kejadian saat Orientasi yang lalu.” Shin Ji Eun memang selalu memiliki alasan terhadap setiap apa yang dilakukan maupun yang dirasakannya, termasuk alasan ia menyukai ataupun membenci orang lain.

“Bagaimana ini?”

“Maksudmu?” Gadis itu mulai memusatkan perhatiannya pada pria disampingnya itu.

“Aku telah terlanjur menyukaimu, bahkan sangat sangat menyukaimu. Tapi kau tetap membenciku seperti itu.” Ilwoo memasang raut wajah cemberutnya, untuk pertama kalinya ia terlihat menggemaskan. Hingga Shin Ji Eun mengulum tawanya ketika melihatnya.

“Kenapa kau tertawa?” Shin Ji Eun meledakkan tawanya ketika Ilwoo menanyakan hal itu dengan manja, benar-benar failed aegyo. Ketika Ji Eun telah berhasil menghentikan tawanya ia mengatakan, “Buka saja hatimu pada orang lain.” Namun Ilwoo menggelengkan kepalanya ketika mendengarnya.

“Jika aku merubah diriku untukmu, apa kau akan menyukaiku?” Ji Eun menatapnya serius, tatapan yang dalam untuk yang pertama kalinya. Begitu juga dengan Ilwoo, hingga gadis itu sedikit terperanjat karena menemukan sebuah ketulusan yang nyata dalam manik mata Ilwoo.

“Tidak perlu.”

“Wae?”

“Aku lebih membenci orang yang berpura-pura.”

Mereka saling menatap mata satu sama lain, begitu lama dan sangat dalam. Shin Ji Eun merasa tak asing lagi dengan tatapan semacam itu, semakin ia menatap mata Ilwoo, semakin ia merasa familiar dengan tatapan mata itu, tatapan yang begitu tulus, sangat tulus. Namun walaupun begitu terasa berbeda, entah apa yang membuatnya berbeda.

Perlahan Ilwoo semakin mendekatkan tubuhnya pada Ji Eun, semakin dekat dan pada akhirnya ia mendaratkan bibirnya tepat di bibir gadis itu. Shin Ji Eun terkejut seketika hingga melebarkan matanya, saat kedua bola mata milik Ilwoo yang memancarkan penuh ketulusan itu tertutup perlahan, tanpa sadar ia turut melakukan hal yang sama.

***

Shin Ji Eun, Lee Kikwang, Sam Rin Hyo, dan Cho Kyuhyun duduk di meja kantin yang biasa mereka tempati ketika waktu istirahat tiba. Mereka terlihat berbincang-bincang harmonis disela kegiatan makan mereka. Terlihat mereka saling mencicipi makanan masing-masing dan bercanda tawa seperti biasa. Namun keadaan segera berubah saat tiba-tiba seseorang datang bergabung bersama mereka.

“Annyeong, bolehkah aku bergabung dengan kalian?” ucap seorang gadis cantik mempesona itu dengan senyuman manisnya. Ia pun segera mengambil tempat di sebelah Kikwang.

“I-Iya, tentu saja boleh.” Jawab Kikwang terbata, sedangkan Rin Hyo dan Kyuhyun menatapnya heran, karena tidak biasanya gadis itu bergabung bersama mereka. Terlebih Shin Ji Eun, setengah benci ia menatap gadis itu.

“Sepertinya masih banyak tempat kosong disana, Hyosung sunbaenim.” Ucap Ji Eun ketus seraya mengarahkan jari telunjuknya kearah kursi kosong yang tak jauh dari mereka.

“Ah, aku hanya ingin bergabung bersama kalian saja disini. Tidak bolehkah?” Shin Ji Eun menganggukkan kepalanya polos, mengiyakan perkataan Hyosung.

“Tentu saja ti—“

“Boleh. Tentu saja boleh.” Sahut Kikwang sebelum Ji Eun menyelesaikan ucapannya. Hyosung pun mengulas senyuman manisnya pada Kikwang yang sontak salah tingkah dibuatnya. Shin Ji Eun melebarkan kedua matanya sempurna melihat pemandangan itu tepat di depannya. Rin Hyo yang menyadari reaksi Ji Eun, segera memegang tangan gadis itu sembari menggelengkan kepalanya seakan mengerti hal apa lagi yang akan Ji Eun lakukan pada sahabatnya itu.

“Kau, Shin Ji Eun kan?” tanya Hyosung memastikan.

“Nde.” Jawabnya Ji Eun singkat.

“Kau beruntung sekali bisa mendapatkan Jung Il Woo.” Shin Ji Eun hanya mengulas senyuman singkatnya yang terkesan terpaksa sebagai jawaban kemudian ia melanjutkan kegiatan makannya.

“Kudengar, kau menyukai Jung Il Woo sejak lama. Iya kan, noona?” Shin Ji Eun sontak menatap Kyuhyun yang baru saja melontarkan hal itu, kemudian mereka berdua saling mengulas senyuman miring mereka masing-masing. Sam Rin Hyo hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan perilaku mereka.

“Dulu memang seperti itu. Namun sekarang tidak lagi.” Jawab Hyosung seraya melayangkan senyuman manisnya lagi pada Kikwang, pria itu pun membalasnya dengan senyuman manisnya pula, senyuman yang selalu didambakan oleh Ji Eun kapanpun dan dimanapun.

Shin Ji Eun mengepalkan kedua tangannya melihat reaksi yang Kikwang berikan pada Hyosung, ia merasa tak rela jika senyuman itu diperuntukkan bagi orang lain. Namun tak lama kemudian ia merenggangkan tangannya kembali bersamaan karena ia tersadar bahwa ia hanyalah sebagai sahabatnya, tidak lebih. Walaupun memang tak dapat dipungkiri lagi bila kadar kecemburuannya sangatlah besar apabila menyangkut tentang seorang pria bernama Lee Kikwang itu.

***

Shin Ji Eun dan Jung Il Woo sedang duduk berhadapan di sebuah café di daerah Gangnam. Sejak kejadian malam itu, semakin hari mereka semakin dekat dan Ji Eun mulai sedikit terbiasa dengan keberadaan Ilwoo. Mereka terlihat saling berbincang dengan nyaman, dan tak jarang mereka mulai terlihat seperti benar-benar sepasang kekasih. Sesekali Ilwoo membenarkan rambut Ji Eun yang tergerai bebas, ataupun mencubit gemas hidung Ji Eun yang tidak terlalu mancung itu.

Shin Ji Eun mengedarkan pandangannya ke luar jendela, ia dapat melihat sebuah mobil hitam yang baru saja terparkir di sana. Ia memaku pandangannya kearah mobil yang tak asing lagi baginya itu. Benar saja, tak lama kemudian sang pemilik mobil itu keluar dari pintu mobilnya, dan pria itu tak lain adalah Lee Kikwang. Tanpa sadar Shin Ji Eun mengulas senyumannya melihat pria itu.

Namun yang kembali mencuri perhatiannya adalah pintu mobil di sisi lainnya terbuka, dan tampak seorang gadis disana. Shin Ji Eun mengerutkan dahinya ketika ia masih belum dapat melihat rupa gadis itu karena masih berdiri membelakanginya. Sedetik kemudian gadis itu membalikkan tubuhnya dan mengaitkan lengannya tiba-tiba pada Kikwang. Kikwang pun terlihat terkejut ketika gadis itu melakukan hal itu padanya, terlebih Shin Ji Eun.

Rona wajahnya seketika memerah menahan amarah. Jung Il Woo yang menyadari perubahan raut wajah kekasihnya pun turut mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandang Ji Eun,

“Bukankah itu Lee Kikwang? Dan gadis itu, Jun Hyosung?”

———

-To be Continued-

Advertisements

15 thoughts on “It’s You 2

  1. Astaga..sedih kikwang and ji eun ga sadar kl mrk udh jatuh cinta sejak lama..tp sebatas dikit ma ji eun bis dia nikmati ciumannya ilwoo..huaaaa..next part ah..
    Makasih thor..semangat!!

  2. Laaaah laaaaah???
    Kenapa jadi begini ceritanyaa???
    Itu di part kmaren klo jieun emg gak suka kok malah mau dicium sih??
    Diem aja pas dicium bukannya marah atau gmn..
    Jieunnya masih labil ya disini??
    Macam anak sma yg labil.. Hihihi…

  3. Hoho, kikwang udah ada fansnya skrg..
    Jieun cemburu? Iya lah, secara kikwang tampan gitu, siapa sih yang gak mau??
    Jieun deket ama ilwoo, kikwang deket hyosung..
    Hayoo, mulai cemburuan dah skrg.. :p

  4. Hah..si hyosung itu kayaknya bilang sukw ma cowok yg ganteng aja, stlh ilwoo skrg kikwang yg dulunya culun jadi ganteng..hah..benar benar hanya memandang fisik..
    Hmm..pnasaran mreka sbtlnya udh saling cinta tapi gk pada ngaku wkkk..

  5. Mrekaa gg srarr pa klo saling cintaa,,,knpp gg kyakk c kyu ma rinhyo yg bisa mengakui klo mreka sling cinta mskipun berawal dr sahabatan,,,ahhh penasarrnn bgtt dechh ahh jadii,,,sbernya aq lgi kerja ne tpi gpp nyuri” waktu dkit buat nrusinn ff nya,,,crita mu de tzalsa gg bisa bkin kk brenti bcaa,,,

  6. knpa semua jdi kyak gini..
    Aku merasa kikwang menjauhi ji eun, dg dekat2 bersama hyosung..
    Mungkinkah kikwang melihat jieun dan il woo berciuman?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s