Moonlight 1

image

Author: Bella Eka
A/N: Annyeong 🙂 no copas and comment please! Happy read ^^

———

“Ya! Minseok-ah! Psst.. Psst…” Bisikan – bisikan yang membuat konsentrasi pria berwajah imut itu berasal dari gadis yang duduk tepat dibelakangnya. Minseok menatap guru Jung yang duduk dikursi pengawas dengan was – was. Karena, guru Jung termasuk jajaran guru ter-killer di sekolahnya.

Sedangkan, tanpa merasa bersalah sedikit pun gadis yang dikuncir rambutnya itu berkali – kali menepuk punggung Minseok. Pria itu sudah terlalu jengah, dan akhirnya menghembuskan napas kasarnya, menoleh kebelakang dengan kedua mata melotot.

“MWO?!” bentak Minseok, meski dengan berbisik namun suaranya sudah dapat menjelaskan bagaimana kesalnya pria itu. Gadis yang bernama Shin Ji Eun itu tersenyum bocah kemudian mengangkat 3 jarinya.

“Nomor tiga, apa?” Tanya Ji Eun dengan senyuman jahilnya.

“Ck, B.” Ji Eun tersenyum lebar kemudian berterima kasih pada Minseok, disusul dengan suara desisan Minseok.

“Kim Min Seok!” Hampir saja pria itu melompat saat mendengar suara guru Jung dan juga saat melihat kedua mata tajam guru Jung dibalik kaca mata minusnya itu.

“Nde, seonsaengnim?”

“Kerjakan sendiri!” Xiumin hanya mengangguk sekali seraya menggerutu kesal apa lagi setelah mendengar kikikan kecil Shin Ji Eun dari belakangnya.

***

Minseok’s POV

Aku membenarkan dudukku sebelum membuka buku tebal yang sudah aku cari –cari dari kemarin. Buku kumpulan soal – soal olimpiade Matematika, 2 minggu lagi aku akan mengikuti olimpiade tingkat nasional. Ya, ini semua kulakukan juga agar aku dapat masuk ke universitas Seoul yang begitu kuinginkan.

Aku sangat suka dengan suasana perpustakaan yang begitu tenang. Ya, karena kepribadianku sendiri yang cenderung pendiam dan jujur saja, aku lebih memilih duduk diam disini dari pada mengobrol dengan teman – teman dikantin.

“Annyeong!!” tubuhku begitu terkejut saat ada seseorang yang memelukku dari belakang serta mengacak rambutku tak aturan. Tak perlu waktu lama aku berpikir, aku sudah tahu siapa pelakunya.

“YA! Hentikan!” setelah mendengar gerutuan kecil dariku, ia menghentikkan kegiatannya kemudian terkekeh seraya duduk disampingku. Menyanggah kepalanya seraya menatapku dengan tatapan jahilnya.

“Ck, kau ini. Kenapa meninggalkanku tadi, huh?” rajuk gadis ini, Shin Ji Eun. Ia adalah sahabatku sejak kecil, ya! Sahabat.

“Aku pikir tadi kau akan kekantin dengan Rin Hyo.” Ucapku asal kemudian kembali membaca buku tebalku.

“Ish, aku malas sekali dengan gadis itu. Mentang – mentang sudah punya kekasih, ia selalu saja sibuk dengan ponselnya.” Aku hanya menanggapi omelan Ji Eun dengan sekali gumaman seraya membalik lembaran buku ini.

“Ya! Kim Min Seok! Aku kesini untuk mencari teman mengobrol. Kau malah sibuk dengan kekasihmu!” Aku mengernyit, menatapnya dengan tatapan bingung.

“Kekasihku?” ulangku tak mengerti. Ia menunjuk – nunjuk bukuku kesal.

“Kau kan selalu berkencan dengan buku – buku membosankan itu.”

“Kau tahu sendiri kan, aku harus masuk ke universitas Seoul.” Ia menghembuskan napas jengahnya kemudian menidurkan kepalanya diatas meja perpustakaan.

“Ya, ya, ya. Lagipula apa bagusnya Universitas Seoul. Semua universitas itu sama saja, tergantung dengan bagaimana siswa itu rajin atau tidak.” Ji Eun mulai berceloteh tentang mengapa semua orang selalu ingin memasuki universitas bagus, membandingkan universitas – universitas, hingga kekesalannya pada orang tuanya yang selalu mengatur kehidupannya. Sedangkan aku, lebih memilih kembali membaca bukuku.

Tapi jujur saja, aku tidak benar – benar membacanya. Aku mendengar apa yang ia ocehkan, aku suka mendengar ocehannya dari pada ocehan orang lain. Ya, walaupun pada dasarnya aku begitu kesal dengan orang yang berisik.

Namun, seberisik apapun Shin Ji Eun aku tidak pernah terganggu dengan itu. Aku menyukai semua yang ada pada dirinya. Sebenarnya, aku ingin menolak rasa yang meluap – luap dihatiku ini. Namun, aku tidak bisa munafik jika aku mulai mencintai sahabatku sendiri.

***

Author’s POV

Shin Ji Eun duduk dikursi café dengan kebosanan yang sudah diambang batas. Jika bukan Sam Rin Hyo yang menyuruhnya menunggu disini, ia tidak akan kesini. Ia juga harus bersyukur karena Minseok mau menemaninya disini. Mereka memang bertetangga, jadi tidak sulit untuk mengajak Minseok bermain atau keluar bersama.

“Kau sudah menelfonnya?” tanya Minseok memecah keheningan. Shin Ji Eun yang duduk disampingnya hanya mengangguk kemudian kembali sibuk mengirimi Sam Rin Hyo pesan.

“Lihat saja! 5 menit lagi dia tidak datang kesini, aku akan pulang.” Gerutu Ji Eun seraya mengepalkan kedua tangannya. Minseok hanya menggeleng pelan saat melihat Shin Ji Eun yang seperti sudah siap mengamuk itu.

“Ah, itu dia!” ucapan Minseok membuat kepala Ji Eun bergerak cepat menuju arah pandang pria itu. Kedua matanya menyipit tajam pada Sam Rin Hyo yang terlihat tersenyum lebar tanpa rasa bersalah.

“Maaf, kami terlambat. Oh, Minseok juga disini!” ujar Sam Rin Hyo seraya melebarkan kedua matanya terkejut. Karena, tidak ada Minseok dalam rencananya hari ini. Minseok tersenyum kecil seraya mengangkat sebelah tangannya.

“YA!! Kau tidak tahu seberapa lama kami menunggu disini? Aish, kau ini membuat kesal saja!” Omel Ji Eun yang masih memaku pandangannya pada Rin Hyo. Sam Rin Hyo dan dua pria yang tadi datang bersamanya itu mengambil tempat untuk duduk.

“Aku kan sudah minta maaf.” Ujar Sam Rin Hyo seraya mengerucutkan bibirnya. Ji Eun mendesis kesal kemudian mengalihkan pandangannya dari Rin Hyo. Sedikit terkejut saat melihat seorang pria yang memakai topi coklat disamping Rin Hyo dan juga saat kedua matanya menatap pria yang tidak bertopi dihadapannya. Melihat Ji Eun yang kebingungan Rin Hyo mulai tersenyum geli kemudian memperkenalkan kedua pria itu pada Ji Eun dan Minseok.

“Pria ini adalah Lee Kikwang, yang sering kuceritakan padamu itu.” Ujar Rin Hyo disertai senyuman penuh artinya. Sedangkan Ji Eun hanya tersenyum kikuk pada Kikwang. Ya, Sam Rin Hyo memang sering merecokinya dengan cerita – cerita tentang pria itu. Dan ia rasa, kini Rin Hyo sedang berusaha menjodohkannya dengan Lee Kikwang.

Oh, jadi pria tanpa topi itu Lee Kikwang.

“Aku Shin Ji Eun dan, dia Minseok.” Minseok menunduk sekedar pada Kikwang. Jujur saja, ia canggung berada disana.

“Dan ini adalah Cho Kyuhyun, kekasihku.” Ujar Sam Rin Hyo seraya tersenyum malu. Pria bertopi itu menundukkan kepalanya seraya tersenyum tipis.

“Rin Hyo sering bercerita banyak tentangmu, Ji Eun-ssi!” ujar Kyuhyun masih dengan senyuman tipisnya.

“Ah, benarkah? Ya, aku memang selalu dibicarakan oleh banyak orang. Hahaha.” Ujar Shin Ji Eun menyombongkan diri.

“Oh, iya? Kata Rin Hyo kau adalah sahabatnya yang paling aneh dan tidak tahu aturan.” Ujar Kyuhyun dengan begitu ringan membuat Ji Eun segera melebarkan kedua matanya pada Rin Hyo yang terkikik geli.

“Oh, kau! Bukankah kau…” suara Kyuhyun itu membuat Kikwang, Rin Hyo dan Ji Eun segera memusatkan perhatian pada pria itu. Pria itu tengah menatap Minseok dengan tatapan menelisiknya. Sedangkan Minseok tersenyum kikuk seraya menggeleng pelan pada Kyuhyun, berusaha memberi kode pada Kyuhyun agar tidak mengucapkan kata – kata yang dapat merusak suasana makan malam saat ini.

“Bukankah kau Cho Kyuhyun super junior itu?” celetukkan Ji Eun yang cukup keras membuat semua orang yang berada di café itu berbisik – bisik.

“Aish, pelankan suaramu!” tegur Rin Hyo.

“Mian. Aku hanya… terkejut. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya tadi…”

“Ck, kau itu memang tidak pernah peka pada apapun!” Ji Eun hanya mendesis kesal mendengar ejekan Rin Hyo, ia paling tidak suka dibilang tidak peka. Walaupun pada kenyataannya memang ia seperti itu.

“Tapi, Cho Kyuhyun-ssi! Bagaimana bisa kau bertemu dengan Sam Rin Hyo? Dan juga, aku tidak tahu jika selebriti mau berkencan dengan gadis biasa seperti dia.”

“Ya! Kau menghinaku?” Ji Eun hanya melirik Rin Hyo sinis dengan seringaiannya. Kemudian kembali memusatkan perhatian pada Kyuhyun yang terkekeh lalu mulai bercerita. Disisi lain, Minseok dapat bernapas lega karena Cho Kyuhyun yang sepertinya sudah teralihkan oleh obrolan itu.

“Hampir saja.” gumamnya hampir tak terdengar.

***

Minseok menyeka keringatnya yang sudah mengucur keras setelah latihan tadi, kemudian ia segera menyambar sebuah botol air mineral berukuran sedang yang ditawarkan oleh seorang temannya yang biasa dipanggil Luhan. Luhan adalah salah satu teman terdekatnya disini, di SM Entertaintment. Ya, mereka adalah trainee di agensi yang memiliki artis terbanyak di Korea Selatan itu.

“Bagaimana?” tanya Luhan tiba-tiba saat Minseok tengah meneguk minumannya.

“Belum.”

“Sampai kapan kau akan merahasiakan ini darinya?”

“Entahlah, mungkin hingga aku benar-benar debut.”

Selama Minseok menjadi trainee disana, tak pernah sekalipun ia memberitahukannya pada orang lain, termasuk Shin Ji Eun. Hanya dia dan keluarganya lah yang mengetahui tentang hal ini. Ia melakukan itu karena ia sendiri pun tidak mengetahui apakah dia benar-benar akan didebutkan atau tidak.

Dan Luhan adalah satu-satunya temannya yang mengetahui tentang hubungannya dengan Shin Ji Eun, bahkan tentang perasaannya yang sebenarnya pada gadis itu. Karena dia adalah teman terdekat Minseok selama ia menjadi trainee, mengingat Minseok bukanlah seseorang yang gemar mengumbar masalah pribadinya.

***

Sejak pertemuan mereka saat itu, Shin Ji Eun yang pada awalnya bukanlah gadis yang mengikuti perkembangan K-Pop dengan baik menjadi begitu antusias akan hal itu. Terutama pada sebuah boyband bernama B2ST, yang memiliki seorang member bernama Lee Kikwang disana.

“Aigo, senyumannya benar-benar membuatku gila.” Gumamnya sendiri yang tengah melacak foto-foto Lee Kikwang di laptopnya. Minseok yang awalnya menyibukkan dirinya dengan sebuah buku tebal matematikanya, mulai merasa penasaran dan mengintip sesuatu yang tengah menjadi pusat perhatian sahabatnya itu.

“Kau… menyukainya?”

“Bohong jika aku mengatakan tidak.” Hati Minseok seakan mencelos mendengarnya. Ia kembali menenggelamkan dirinya pada buku tebalnya. Namun saat ini ia tak lagi fokus pada buku itu, melainkan ia masih berusaha menerima kenyataan jika Shin Ji Eun menyukai pria lain, bukan dirinya.

“Kau benar-benar menyukainya?” tanyanya lagi untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Jika kau adalah seorang gadis, mungkin kau juga akan menyukainya.” Jawab Ji Eun asal dan berhasil membuat senyuman Minseok terulas di wajahnya.

Syukurlah hanya perasaan mengagumi biasa.

“Pria ini juga manis sekali. Aigoo.” Minseok kembali menarik tubuhnya mendekat kearah layar laptop itu lagi. Sedetik kemudian terdengar suara dari benda yang tengah memutar sebuah video itu,

“Annyeong haseyo. Aku adalah Yang Yoseob B2ST.”

“Aaah ternyata namanya Yang Yoseob.” Seiring ucapan Ji Eun, Minseok menyenggol bahu gadis itu seraya mengatakan, “Sebaiknya kau mendengarkannya lewat headset, lihat tatapan Nona Kim padamu.” Sontak Ji Eun melayangkan tatapannya pada seorang wanita penjaga perpustakaan itu yang sedang menatapnya tajam. Kemudian wanita itu meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, agar Ji Eun mengunci mulutnya rapat-rapat di dalam perpustakaan yang hening ini. Shin Ji Eun pun tersenyum seraya membuat gesture “Oke” dengan jari tangannya.

***

Sam Rin Hyo dan Cho Kyuhyun kembali mempertemukan Shin Ji Eun dan Lee Kikwang. Saat ini Kyuhyun dan Kikwang sedang tidak memiliki banyak jadwal, maka dari itu mereka dapat sering meluangkan waktu mereka akhir-akhir ini.

Shin Ji Eun datang kembali ke café ini tanpa Minseok. Karena Kyuhyun dan Rin Hyo tiba-tiba saja menjemput dan membawanya sore tadi. Shin Ji Eun duduk bersama Lee Kikwang dan berhadapan dengan pasangan Kyuhyun-Rin Hyo di depan mereka. Masih sama seperti pertemuan pertama waktu lalu, kecanggungan mendominasi situasi mereka berdua saat ini.

“Kyuhyun-ah, sepertinya kita harus pindah tempat.” Shin Ji Eun sontak melebarkan kedua matanya sembari menggelengkan kepalanya cepat. Ia tak dapat membayangkan bagaimana mereka akan semakin canggung jika tak ada Rin Hyo dan Kyuhyun disana. Namun Rin Hyo dan Kyuhyun berpura-pura seakan tak melihat reaksi Ji Eun dan segera beranjak dari tempat mereka.

“Selamat menikmati waktu kalian berdua.” ucap Rin Hyo seraya tersenyum jahil.

“Jangan sia-siakan waktumu, Lee Kikwang.” Kikwang tersenyum mendengar ucapan Kyuhyun dan disambut dengan kerutan di dahi Ji Eun yang tak mengerti apa makna dari ucapan Kyuhyun. Lee Kikwang pun berpindah dari tempat duduknya hingga mereka saling berhadapan sekarang.

“Apa maksud ucapan Kyuhyun tadi?”

“Bukan apa-apa.” alih Kikwang, “yang kemarin itu, kekasihmu?” lanjutnya.

“Minseok? Dia sahabatku.”

“Aaah begitu rupanya.” Ucap Kikwang seraya menganggukkan kepalanya kemudian menyesap Cappucino nya. Suasana kembali hening, mereka hanya terlihat saling pandang dan tersenyum kecil sesekali.

“Kemarin aku melihat variety show mu bersama B2St, Lee Kikwang-ssi.” Shin Ji Eun mulai membuka suaranya.

“Benarkah?” Shin Ji Eun tersenyum melihat tanggapan antusias Kikwang, ia memang menyukai tanggapan yang seperti itu, bukan yang seakan mengacuhkannya.

“Dan yang bernama Yang Yoseob itu, manis sekali.” Puji Ji Eun dan membuat rasa antusias Kikwang menghilang seketika. Shin Ji Eun terkekeh kecil melihat perubahan raut wajah Kikwang yang sangat signifikan itu.

“Haruskah aku juga memuji seseorang tepat di depannya?” Kikwang mengulas senyuman khas-nya ketika mendengarnya hingga Shin Ji Eun terperangah melihatnya. Sebuah senyuman yang sangat ia kagumi di foto maupun variety show yang ia tonton kemarin, dapat ia saksikan langsung di depan matanya saat ini.

“Shin Ji Eun-ssi, apa kau baik-baik saja?” suara Kikwang segera menyadarkan Ji Eun dari keterkagumannya.

“Kikwang-ssi, kenapa tiba-tiba kau dan Kyuhyun sering mengajakku dan Rin Hyo untuk bertemu seperti ini?” Kikwang mengernyitkan dahinya tak mengerti.

“Aku pun diajak oleh Kyuhyun. Dia selalu menceritakan tentangmu padaku, dia selalu mengajakku untuk bertemu dan mengenalmu.”

“Sepertinya dugaanku benar.” Ujar Ji Eun seraya tersenyum simpul.

“Dugaan tentang apa?”

“Mereka yang merencanakan semua ini, secara tidak langsung kita dijodohkan.” Kikwang kembali tersenyum manis mendengarnya, dan Ji Eun pun juga kembali terperangah, untungnya tak lama kemudian ia kembali tersadar.

“Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Sebelum kita dipertemukan oleh Kyuhyun dan Rin Hyo.”

“Jinjja? Dimana?”

“Disini.” Kikwang menyentuh dadanya seraya mengembangkan senyuman khas-nya, Ji Eun pun sedikit salah tingkah dibuatnya. Tidak biasanya ia mempan dengan rayuan semacam itu, mengingat betapa kerasnya kepribadian gadis itu.

***

“Minseok-ah!” Shin Ji Eun melambaikan tangannya ketika pria yang tengah berjalan menuju gerbang sekolah itu membalikkan badannya. Kemudian gadis itu segera berlari menghampirinya. Minseok menghentikan langkahnya sekedar untuk menunggu Ji Eun menghampirinya kemudian mereka berjalan bersama.

“Minseok, kau tahu? Kemarin aku bertemu lagi dengan Lee Kikwang.” Ucap Ji Eun dengan penuh semangat. Minseok seketika menghentikan langkahnya sehingga ia tertinggal oleh Shin Ji Eun yang tetap melanjutkan langkahnya.

“Ya! Apa yang kau lakukan disana?” Shin Ji Eun kembali menghampiri Minseok dan mengaitkan jemarinya dengan jemari Minseok. Namun pria itu masih saja menatap kosong Shin Ji Eun.

“Bahkan kemarin aku diantarkannya pulang ke rumah.” Lanjut gadis itu.

“Apa kau benar-benar menyukainya?”

Pertanyaan itu lagi.

“Kenapa akhir-akhir ini kau gemar sekali menanyakan hal itu?” Shin Ji Eun melayangkan pandangannya ke atas, menerka-nerka perasaannya sendiri, “Hmm.. entahlah, aku sendiri masih belum yakin.” Minseok semakin menatap nanar gadis itu.

***

Shin Ji Eun mengambil tempat di sebelah Minseok hari ini. Sekarang waktunya pelajaran sejarah yang begitu membosankan. Bahkan gurunya pun amat membosankan pula, hanya duduk manis di kursi guru serta mengoceh tanpa henti.

Gadis itu menatap lekat Minseok yang berada di sebelah kirinya. Pria itu memfokuskan penuh dirinya pada guru yang membosankan itu, seakan telah jatuh cinta padanya. Hingga ia tak menghiraukan segala apapun di sekitarnya.

Shin Ji Eun tertawa kecil melihatnya, karena Minseok masih tetap terlihat manis dalam keadaan seserius itu. Sesekali pria itu terlihat mengerutkan dahinya ketika merasa tak mengerti, mengacungkan jarinya dan bertanya, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya ketika sedang dijelaskan secara rinci oleh guru Kim.

Shin Ji Eun merobek secarik kertas dari dalam bukunya, menuliskan beberapa kata-kata disana, kemudian melemparkannya pada Minseok. Minseok mengambil nafasnya dalam kemudian menghembuskannya kasar ketika sahabatnya itu mulai membuat ulah lagi. Ia mengambil dan membuka secarik kertas itu lalu tersenyum simpul.

“Kim Min Seok!” Minseok terperanjat ketika mendengar bentakan guru Kim yang mengarah padanya.

“Kertas apa itu?!”

“Bukan apa-apa, seonsaengnim.” Ucapnya gugup. Ji Eun terkikik geli melihat pria di sebelahnya itu, karena setiap Minseok bergerak sedikit saja, selalu saja ketahuan dengan mudahnya. Berbeda dengannya yang sudah sangat ahli dalam hal itu.

Guru Kim pun menghampiri Minseok dan segera merampas kertas yang masih berada dalam genggaman Minseok. Wanita paruh baya itu membuka kertas itu dan membacakannya dengan lantang.

“Minseok-ah! Tidakkah kau merasa bosan?”

Seluruh isi kelas pun meledakkan tawanya. Minseok hanya melirik kesal Shin Ji Eun yang mengepalkan kedua tangannya menjadi satu di depan dadanya seraya mengatakan, “Mian, mianhae.” dengan lirih.

“Siapa yang membuat ini?!” perlahan Ji Eun mengacungkan tangannya keatas, “Saya, seongsaengnim.”

“Kalian, Shin Ji Eun dan Kim Min Seok, ikut saya sekarang juga?!”

“Nde.” Jawab mereka bersamaan. Minseok melangkah lemas menuju pintu kelas, disusul oleh Ji Eun di belakangnya.

“Kalian berdua, berdiri disini dan angkat satu kaki kalian hingga pelajaran sejarah selesai. Kalian mengerti?”

“Nde.” Mereka pun melakukan hal yang diperintahkan guru Kim dan berdiri di luar kelas mereka.

Minseok selalu menundukkan kepalanya dalam ketika ada siswa dari kelas lain yang melewati mereka. Namun Shin Ji Eun, gadis itu malah menyapa mereka seperti biasa. Karena ia hampir mengenal seluruh siswa seangkatannya. Dan jika mereka menanyakan mengapa mereka dihukum, gadis itu selalu menjawabnya dengan, “Biasa, hamtaro mulai berulah.” walaupun pada kenyatannya ialah penyebab semua itu. Ya, hamtaro adalah julukan guru sejarah itu.

“Ya! Apa kau bahagia sekarang?!”

“Setidaknya kita tidak akan merasa bosan disini.” ucap Ji Eun ringan.

“Tapi kita akan ketinggalan materi untuk hari ini. Dasar kau, menyebalkan sekali!”

“Ya! Sekarang adalah zamannya teknologi. Kita tidak hanya dapat mendapatkan materi dari sekolah saja, untuk apa memilih cara yang sulit jika ada yang mudah? Think smart, please.” Ujar Ji Eun seakan ia lebih pandai daripada Minseok.

“Walaupun begitu, apa kau melakukannya?” tanya Minseok seraya tersenyum miring, namun tak dapat menyembunyikan keimutan dalam wajahnya.

“Melakukan apa?”

“Memanfaatkan teknologi untuk belajar?” Shin Ji Eun terdiam sejenak mendengarnya kemudian ia berkilah, “setidaknya kan aku belajar ketika Ujian Semester.”

“Dan kau mendapatkan materimu untuk belajar darimana?” Minseok mengulum tawanya sembari menunggu jawaban yang akan dilontarkan Ji Eun.

“Dari catatanmu.”

“Buahahahaa!” tawa Minseok meledak seketika, sedangkan Ji Eun menunjukkan raut wajah kesalnya. Namun tiba-tiba…

Cklek

“Ya! Apa kalian membutuhkan hukuman yang lebih berat dari ini?” guru Kim tiba-tiba muncul dari balik pintu dan membuat Minseok sontak membungkam mulutnya.

“T-tidak seongsaengnim.” Ucap Minseok lirih seraya menundukkan kepalanya, Shin Ji Eun pun menunduk pula namun dengan mengulum tawanya.

Ketika guru Kim kembali ke kelas dan menutup pintu kembali, Shin Ji Eun menunjukkan tawa ejekannya pada Minseok yang dibalas tatapan tajam olehnya.

“Rasakan itu, rasakan Minseok-ah!” Shin Ji Eun mengucapkannya sembari menjulurkan lidahnya mengejek kearah Minseok.

***

Kim Min Seok meneguk air mineralnya hingga tak tersisa. Latihan hari ini begitu melelahkan, tidak hanya hari ini, begitu juga hari-hari lainnya.

Ia merogoh ponselnya yang berada dalam tas ranselnya, seharian ini ia belum mengecek ponselnya sama sekali. Kemudian ia segera melebarkan kedua matanya saat mendapati 4 panggilan tak terjawab dari Shin Ji Eun. Ia pun segera menghubungi Ji Eun balik. Khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu.

“Yeoboseyo.”

“Ji Eun-ah? Ada apa? Kau tidak apa-apa kan?”

“Apa yang sedang kau bicarakan Minseok-ah. Aku baik-baik saja.”

“Lalu, kenapa kau menelfonku tadi?”

“Hanya saja, tadi Kikwang mengajakku bertemu lagi. Dan aku ingin mengajakmu ikut serta. Tapi kau tak menjawab panggilanku sama sekali. Jadi aku hanya pergi berdua bersamanya tadi.” Minseok seketika terdiam, tak ada kata-kata apapun yang terlintas di benaknya. Hanya deru nafas akibat latihan tadi yang tertangkap oleh ponselnya.

“Kim Minseok, kau masih disana?”

“Nde.”

“Apa yang baru saja kau lakukan? Aku merinding mendengar deru nafasmu.”

“Itu karena aku baru saja selesai latihan saat ini.”

“Mwo? Latihan apa?” Minseok menepuk dahinya pelan, tersadar akan apa yang ia katakan baru saja.

“Latihan… latihan apa saja.” Jawabnya mengambang, ia benar-benar tak pandai berbohong.

“Eiyy, pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan sekarang. Tapi apapun itu terserah saja, semoga kau berhasil dengan latihanmu itu. Cepatlah pulang dan beristirahat. Baiklah kalau begitu, kututup dulu ya, kau mengganggu tidurku Minseok-ah. Hahaha. Annyeong jalja~” Gadis itu pun segera menutup sambungan telepon mereka sepihak. Minseok baru tersadar ketika ia melihat jam yang tertera di ponselnya sudah menunjukkan pukul 01:37 AM.

Minseok menghempaskan tubuhnya di atas sofa di dalam ruangan latihannya. Ia menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya perlahan.

Ia semakin menyadari bahwa Ji Eun dan Kikwang semakin sering bertemu akhir-akhir ini. Dan tidak biasanya sahabatnya itu begitu mudahnya merasa tertarik pada seorang pria. Bahkan ini adalah pertama kalinya gadis itu menunjukkan ketertarikannya pada seorang pria. Maka tak heran jika Minseok merasa begitu khawatir akan kehilangan Shin Ji Eun saat ini.

***

Shin Ji Eun’s POV

Aku duduk bersandar diatas ranjangku. Suasana remang, hanya lampu tidur yang menerangi gelapnya kamarku. Suasana menenangkan ini semakin membuatku memikirkannya. Apa yang sedang ia lakukan hingga selarut ini? Latihan? Latihan apa saja? Konyol sekali.

Pria itu tak pernah berhenti membuatku mengkhawatirkannya, walaupun ia merupakan seorang oppa untukku, namun dia sangat ahli untuk membuatku selalu memikirkannya.

Entah mengapa, aku merasa selalu ingin melindunginya setiap saat, karena dia terlihat sangat lembut dan manis dimataku. Walaupun pada kenyataannya sebaliknya, ia yang selalu melindungiku dengan pribadi tangguhnya itu.

Pribadinya yang sangat rapi, teratur, dan manis itu dapat selalu membuatku menyukainya. Aku sangat menyukai keimutan rupanya, cara bicaranya, aku menyukai segala hal tentang dirinya. Walaupun aku tak pernah sekalipun mengatakan hal ini padanya.

Entah seberapa kadarku menyukainya, apakah masih dalam kadar layaknya sahabat atau telah melebihinya. Aku tak dapat memastikannya.

Akhir-akhir ini memang aku semakin sering bersama Lee Kikwang. Aku merasakan perasaan yang sama seperti ketika aku bersama Minseok. Nyaman, tenang, dan merasa terlindungi. Namun sama seperti perasaanku pada Minseok pula, aku tak yakin perasaan seperti apa yang tengah kurasakan kini padanya.

Drrt drrt

Aku segera menyambar ponselku yang berada di atas nakas kecil disamping ranjangku. Sebuah pesan masuk. Aku pun menggeser logo merah yang didalamnya terdapat gambar amplop di layar ponselku.

“Cepat tidur. Maaf aku telah mengganggu tidurmu. Hehehe. Sampai jumpa besok di sekolah. Saranghae jalja~” Tanpa sadar aku tersenyum membaca sederet pesannya itu. Aku pun segera membaringkan tubuhku, membenarkan letak selimutku, kemudian segera memejamkan mataku.

Nado saranghae Minseok-ah..

———

-To be Continued-

Advertisements

13 thoughts on “Moonlight 1

  1. yah mangkanya minseok-ah kalo cinta itu jangan ditahan atau ditunda itu bisa menyebabkan penyakit..
    Penyakit cemburu dan rindu hehehe.

    Masa bilang saranghae dari sms doang. Cemen ah #digetok
    #piiiss damai v.v

  2. Uhh, ada minseok disini, kekeke~
    minseok suka bgt sama jieun, gimana perasaan jieun ya??
    Jieun juga udah mulai deket ama kikwang..
    hayo, pilih siapa? Minseok atau kikwang??
    Aku?? Jgn tanya, dua-duanya lah, hehehe..
    Author jjang!

  3. minseok semoga perasaan nya terbalas…. tapi ji eun kuga blm yakin sama perasaan nya…. apa karena dia dah biasa sama minseok jadinya dia ngerasa nyaman atau afa faktor X ? yrus sama kikwang dia suka sebagai lawan jenis atau sebagai penggemar? bingung…

  4. ini seru, bikin penasaran..
    Jieun sbnarnya suka ama siapa? Kikwang kah? Atau minseok?..
    Kira2 reaksi ji eun gimana ya, kalo tau minseok jadi trainee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s