It’s You 3

image

Author: Bella Eka
A/N: Hai 🙂 selamat membaca ff yang semakin gaje ini, hehehe. Please jangan jadi silent reader yaa^^

———

“Tidak mungkin, ini tidak mungkin,” Shin Ji Eun terus saja bergumam bahwa seorang pria yang sedang bersama Jun Hyosung itu bukanlah sahabatnya.

“Tidak, dia pasti bukan Kikwang, pasti bukan,” gumamnya lagi hingga ia menepuk pelan kedua pipinya sendiri seraya menggeleng-gelengkan kepalanya sekedar untuk menyadarkan dirinya.

“Ji Eun-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Ilwoo lirih, ia telah memperhatikan gerak-gerik Ji Eun sedari awal gadis itu memaku pandangannya pada sepasang pria dan wanita yang duduk agak jauh dari tempatnya. Benar-benar terpaku, tak sedikitpun teralihkan pada siapapun termasuk Jung Il Woo.

“Eo? Tentu,” jawab Ji Eun namun tak kunjung mengalihkan tatapannya. Begitupun Ilwoo yang juga masih betah menatap gadis yang terlihat gusar di depannya.

“Kenapa kau menatap mereka seperti itu?”

“Ilwoo-ya, itu, pria itu, bukan Lee Kikwang sekolah kita kan?”

“Memangnya kenapa?”

“Tapi senyuman itu…” Ilwoo mengernyit ketika Ji Eun tiba-tiba mengutak-atik ponselnya sejenak seperti sedang menghubungi seseorang, kemudian ia kembali melayangkan tatapannya pada seorang pria yang ia sangka Lee Kikwang itu.

Selang beberapa detik, pria itu terlihat mengeluarkan ponsel dari saku kanannya, bersamaan dengan kedua mata Ji Eun yang sontak melebar.

“Yeoboseyo,” Ji Eun seketika menahan nafasnya ketika Kikwang menjawab panggilannya bersamaan dengan seorang pria yang sedari tadi ia perhatikan. Ji Eun tak mengucapkan sepatah katapun hingga membuat pria itu terlihat kebingungan.

“Ji Eun-ah, yeoboseyo? Apa kau tidak apa-apa? Shin Ji Eun? Tolong jawab aku,” tatapan Ji Eun semakin lirih ketika menyadari bahwa gesture bibir pria itu mengatakan hal yang sama persis dengan apa yang Kikwang ucapkan padanya melalui ponselnya.

“Apa yang sedang kau lakukan sekarang?”

“Aku, aku sedang makan malam bersama seorang temanku.”

“Yeoja?”

“Ya! Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal tidak penting seperti ini?”

“Jawab saja.”

“…”

“Kikwang-ah!”

“Nde. Tapi, kenapa tiba-tiba kau—“

“Tak apa.” Shin Ji Eun segera memutuskan sambungan teleponnya, ia sendiri tidak mengerti kenapa ia merasa seperti ini. Seharusnya ia juga ikut bahagia bila sahabatnya bahagia, tapi entah mengapa ia merasa sangat sulit hanya untuk melakukan hal itu.

“Ji Eun-ah,” Shin Ji Eun mendongakkan kepalanya dan mendapati Ilwoo yang tengah menatapnya sendu. Melihat Ilwoo seperti ini, membuatnya merasa bersalah pada pria itu.

“Aku mencintaimu, tidakkah kau menyadarinya?” nafas Ji Eun kembali tertahan, perasaan bersalah yang baru saja menyelimutinya semakin membesar.

“Kau, bersungguh-sungguh?”

“Apa aku tak terlihat seperti itu?” benar, Ilwoo memang sangat terlihat bersungguh-sungguh saat ini hingga membuat nafas Ji Eun tercekat.

Bagaimana ini? Kumohon jangan seperti ini, Ilwoo-ya. Maafkan aku.

***

“Dari siapa?”

“Shin Ji Eun.”

“Apa kalian memang selalu seperti ini?” Kikwang mengernyit mendengar pertanyaan mengambang yang baru saja dilontarkan Hyosung itu.

“Maksudmu?”

“Selalu menanyakan kabar kapanpun dan dimanapun kalian berada,” Kikwang terkekeh kecil kemudian berkata, “Tidak, tidak biasanya kami seperti ini. Kami tidak seromantis itu. Aku juga tak tahu kenapa tiba-tiba dia seperti ini.”

“Ah, begitu. Bagaimanapun terima kasih Kikwang-ah. Karena tanpa kau pasti aku sudah duduk di kursi roda sekarang.”

“Ne, sama-sama noona.”

Ya, mereka sedang makan malam bersama saat ini bukan karena ada sebuah hubungan special diantara mereka, namun karena Hyosung yang ingin berterima kasih pada Kikwang yang telah menyelamatkannya ketika ia hampir terpeleset ketika sedang berada di tangga sekolah.

Untung saja saat itu Kikwang sedang berada disana sehingga ia dapat menarik lengan Hyosung dan menyelamatkannya. Dan mereka pun menjadi dekat karena kejadian itu.

***

Shin Ji Eun dan Lee Kikwang memasuki kelas yang masih sepi, belum ada seorang pun yang berada di kelas itu. Sesampainya di bangku mereka, seperti biasa Kikwang mendapatkan beberapa gift di dalam lokernya.

“Ji Eun-ah, maukah kau menjadi pendamping hidupku selamanya?” ucapnya seraya menyerahkan beberapa bunga mawar merah yang ia terima pada Shin Ji Eun.

“Apa kau sedang melamarku?”

“Tentu saja,” Ji Eun seketika tertawa sejenak kemudian mengucapkan, “Ya, Lee Kikwang-ssi,” dan menerima bunga yang Kikwang berikan.

Aku serius Shin Ji Eun, aku sama sekali tidak sedang bercanda. Seandainya kau mengerti perasaanku.

“Omo!” pekik Ji Eun ketika ia mendapatkan sesuatu di lokernya. Berbanding terbalik dengan Kikwang, ia mendapatkan sebuah surat dan beberapa foto yang di dalamnya terdapat gambar dirinya yang telah diedit menjadi luar biasa hina.

“Apa itu?” Kikwang segera mengambil sebuah surat yang Ji Eun terima kemudian membacanya.

“Annyeong, Shin Ji Eun. Kami menulis surat ini karena berharap kau akan tau diri. Kau telah memiliki kekasih, bukan? Jung Il Woo, seseorang yang sangat diimpikan oleh seluruh sunbae yeoja di sekolah ini untuk menjadi kekasihnya, dan kau telah berhasil merebut hatinya dan secara tidak rela kami harus melepasnya. Tapi apakah itu semua belum cukup? Bahkan sekarang kau akan merebut Lee Kikwang dari kami. Kau selalu bersamanya kemanapun kalian pergi. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Apa kau memang benar-benar gadis jalang? Sadarlah kau Shin Ji Eun!”

“Apa yang mereka lakukan? Memalukan sekali. Sunbae di sekolah ini benar-benar mengagumkan! Aku merebutmu dari mereka? Aigoo, sepertinya mereka hanyalah sekumpulan orang gila.” Shin Ji Eun tak henti-hentinya mengumpati pelaku yang telah mengiriminya surat itu.

“Tenang saja, Shin Ji Eun. Aku akan selalu berada di sampingmu.”

“Tentu saja. Jika kau tak ada di sampingku, aku akan menggeret paksa dirimu,” ucapnya kemudian mereka berdua terkekeh sembari mendudukkan tubuh mereka di kursi masing-masing.

“Kikwang-ah.”

“Mm?”

“Kemarin Ilwoo berkata jika dia mencintaiku,” Kikwang segera menatap gadis di sampingnya itu, begitu juga Shin Ji Eun.

“Dan kau?”

“Dan aku? Apa?”

“Dan kau bagaimana?”

“Aku hanya sama sekali tidak menyangka jika dia benar-benar menyukaiku hingga seperti itu. Aku sendiri masih bingung dengan perasaanku sendiri.”

“Apa yang membuatmu bingung?” Shin Ji Eun semakin menatap Kikwang dalam, kemudian tersenyum tipis seraya mengatakan, “Kau tak akan pernah mengerti.”

“Bagaimana aku bisa mengerti jika kau saja belum memberitahuku?”

“Tak akan mengubah keadaan. Walaupun kau kuberitahu, kau tak akan mengerti.”

“Wae?”

“Karena kau akan berpikir bahwa hal ini tidak mungkin.”

“Apa yang kau bicarakan?” Kikwang semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan Shin Ji Eun.

“Sudahlah.”

***

Shin Ji Eun, Sam Rin Hyo, dan Cho Kyuhyun sedang berada di kedai ramyun langganan mereka. Sepasang kekasih itu sedang sibuk dengan semangkuk besar ramyun-nya, namun berbeda dengan Shin Ji Eun. Ia malah berdiam diri dengan kedua bola mata yang menunjukkan kekosongan di dalamnya.

“Shin Ji Eun! Apa yang sedang kau pikirkan? Kasihan ramyun-mu, mereka pasti akan menangis nanti jika kau tak memakannya,” ucap Cho Kyuhyun yang tengah sibuk dengan ramyun-nya.

“Masih panas,” jawab Ji Eun singkat.

“Eeyy, tidak biasanya kau seperti ini. Apa yang terjadi?” Sam Rin Hyo yang telah menyelesaikan kegiatan makannya segera meneguk minumannya dan mengelap bibirnya, kemudian memusatkan perhatiannya pada Shin Ji Eun.

“Kau tau, Rin Hyo-ah? Ilwoo mengatakan jika dia mencintaiku.”

“Tentu saja, kau adalah kekasihnya, sudah seharusnya seperti itu.”

“Tapi masalahnya, aku tidak mencintainya, aku hanya merasa nyaman dengannya. Apa yang harus kulakukan?”

“Kau harus mencintainya,” sontak Ji Eun melebarkan kedua matanya saat Kyuhyun mengucapkan kalimat itu dengan begitu ringan.

“Kau kira semudah itu? Dasar kau!”

“Ya! Apa susahnya? Hatimu sedang kosong, kan? Aku tak mengerti kenapa kau begitu sulit untuk menerima Ilwoo. Padahal dia sangat tampan dan kentara sekali jika dia sangat mencintaimu. Apa lagi yang kau butuhkan, Ji Eun-ah? Atau sudah ada seseorang di hatimu?”

“Kau benar.”

“Jinjja? Nugu? Kenapa kau tak pernah menceritakannya sekalipun padaku? Ah, itu tidak penting. Yang penting sekarang katakan, siapa dia? Pasti dia seorang yang sangat daebak hingga membuatmu lebih memilihnya daripada Ilwoo. Cepat katakan!” Shin Ji Eun memutar bola matanya malas mendengar rentetan kalimat yang baru saja dikatakan Sam Rin Hyo yang luar biasa antusias.

“Ya! Bagaimana aku bisa memberitahumu jika kau saja tidak berhenti berbicara? Aish cerewet sekali.” Rin Hyo terkekeh mendengar keluhan Ji Eun karenanya, “Mian, mian. Ayo sekarang katakan!”

“Lee Kikwang,” jawab Ji Eun cepat tanpa menatap Rin Hyo dengan matanya yang sontak melebar dan mulutnya yang sedikit terbuka.

“Kontrol ekspresi wajahmu, Rin Hyo-ah. Hina sekali,” cibir Ji Eun ketika mendapati ekspresi hina Sam Rin Hyo, namun gadis itu masih saja mempertahankan ekspresinya, terlalu shock dengan pernyataan Shin Ji Eun.

“Kau serius dengan perkataanmu? Ji Eun-ah! Kau serius?” Ji Eun hanya menganggukkan kepalanya ringan menanggapi pertanyaan Rin Hyo.

“Bagaimana bisa? Tapi Kikwang memang sangat tampan.”

“Bahkan aku menyukainya sejak—“ Ji Eun mengedarkan pandangannya sekedar untuk mengingat kapan tepatnya ia mulai menyukai sahabat sejak kecilnya itu, “Aku tidak ingat lagi,” lanjutnya.

“Sejak lama sekali?”

“Eo!”

“Dia cinta pertamamu?”

“Yup!”

“Omo, aku benar-benar tidak menyangka. Tapi cara kalian memperlakukan satu sama lain memang terkadang terlihat sangat mesra. Apa Kikwang juga memiliki perasaan yang sama sepertimu?”

“Entahlah,” jawab Ji Eun seraya menggedikkan kedua bahunya.

“Jika aku memperhatikan Kikwang melalui sudut pandang seorang pria, kurasa dia juga menyukaimu, Ji Eun-ah.”

“Ya! Berarti biasanya kau memperhatikan setiap orang melalui sudut pandang wanita, ya? Tak kusangka ternyata kau berjiwa wanita, Kyuhyun-ah,” celetuk Rin Hyo yang membuatnya mendapat jitakan keras dari kekasihnya.

“Akh! Sakit!”

“Sesakit itu kah?” sang pemilik jitakan itu pun berubah khawatir dan mengelus lembut kepala Rin Hyo.

“Tapi Rin Hyo-ah, aku pernah melihatnya sedang makan malam bersama Hyosung di sebuah café,” raut wajah Ji Eun seketika menggelap karena topic pembicaraan itu.

“Jinjja? Bagaimana bisa? Apa mereka sudah sedekat itu?”

“Molla, aku juga tidak tahu. Tapi Kikwang tak pernah mengatakan hal apapun tentang kedekatan mereka,” kedua bola mata Rin Hyo yang tadinya berapi-api karena antusias berubah menyendu melihat Ji Eun yang terlihat menyedihkan saat ini.

“Lantas, apa yang akan kau lakukan pada Ilwoo? Sebaiknya kau mulai membuka hatimu padanya, Ji Eun-ah.”

“Kau benar, tapi bukan aku, biarkan dia sendiri yang membukanya.”

***

Drrt drrt drrt

Shin Ji Eun menggeliat kecil di atas kasur empuknya saat mendengar ponselnya bergetar. Dengan kedua mata yang masih tertutup, ia meraba nakas kecil di samping ranjangnya kemudian mengambil ponselnya.

Hari ini adalah hari minggu, maka ia tak perlu bangun terlalu pagi hari ini. Tanpa melihat siapa yang tengah menghubunginya, ia segera menggesar logo hijau di layar ponselnya dan menjawab telepon itu dengan suara serak khasnya ketika bangun tidur.

“Yeoboseyo.”

“Ji Eun-ah!” tanpa menanyakan pun Shin Ji Eun dengan mudahnya mengenali siapa pemilik dari suara itu.

“Mwo?”

“Ayo kita jalan-jalan.”

“Ke?”

“Pantai.”

“Ide bagus.”

“Baiklah, 15 menit lagi aku ke rumahmu.”

“Mwo? Bahkan aku—“ belum sempat Ji Eun menuntaskan kalimatnya, namun sambungan telepon itu telah diputuskan sepihak.

“Sial!” Ia segera bangun dari tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi.

15 menit kemudian

Lee Kikwang memasuki rumah Shin Ji Eun tanpa permisi sebab ia yakin jika Shin Ji Eun sedang berada di rumah sendirian karena ayah Ji Eun sedang menghadiri sebuah rapat perusahaan, ia mengetahuinya karena ayahnya juga sedang menghadiri rapat yang sama. Dan ibu Ji Eun sedang menghadiri arisan ibu-ibu yang rutin dilakukan setiap sebulan sekali, tepatnya pada minggu ke-3, bagaimana bisa ia mengetahuinya? Tentu saja karena ibunya juga menghadiri acara yang sama. Dan juga ia telah hafal key password rumah Ji Eun diluar kepala.

“Ji Eun-ah!” Kikwang meneriakkan nama itu berkali-kali namun tak kunjung ada jawaban. Ia pun melangkahkan kakinya menuju tangga yang menghubungkan lantai dasar dan lantai 2. Ia mengetuk pintu kamar Ji Eun beberapa kali namun juga tak mendapatkan jawaban. Kemudian ia memutuskan untuk memasuki kamar itu yang nyatanya tidak terkunci.

Di dalam sana, ia dapat mendengar suara gemericik air dan suara Ji Eun yang tengah bersenandung di dalam sebuah ruangan yang tentunya adalah sebuah kamar mandi. Kikwang tersenyum simpul mendengarnya kemudian ia membaringkan tubuhnya di sebuah ranjang berseprai biru milik Shin Ji Eun.

Ia menemukan sebuah ponsel tergeletak di sela-sela bantal di ranjang itu. Seketika ia tersenyum ketika menemukan gambar selca dirinya dan Shin Ji Eun yang tengah tersenyum lebar di lock screen wallpaper ponsel itu. Sedetik kemudian sebuah pesan masuk dan tangannya terpeleset di sebuah logo merah pada layar itu dan membuat pesan itu terbuka.

From: Jung Il Woo

Ji Eun-ah, apa yang sedang kau lakukan? Aku merindukanmu. Hehehe.

Kikwang menatap nanar layar ponsel itu, kemudian segera menekan tombol home dan meletakkannya di atas nakas. Ia kembali membaringkan tubuhnya disana dengan tatapan kosong.

“Omo! Ya! Kikwang-ah! Bisa-bisanya kau, cepat keluar!” pekik Ji Eun yang tengah mengintip dari tembok kamar mandinya, karena ia hanya sedang memakai balutan handuk yang menutupi tubuhnya.

“Untuk apa kau malu seperti itu? Di masa depan juga pasti aku yang akan memilikimu. Kemarilah,” ucap Kikwang seraya tersenyum jahil.

“Aku tak peduli. Keluar!”

***

Lee Kikwang dan Shin Ji Eun telah melakukan setengah dari perjalanan mereka namun langit semakin gelap dan tiba-tiba turun hujan. Tak hanya itu, jalanan juga sangat macet hari ini.

“Bagaimana ini? Apa kita harus berbalik arah?”

“Terserah kau saja,” ucap Ji Eun singkat.

“Kau marah?”

“Untuk apa? Aku hanya bilang terserah kau saja, aku akan ikut kemanapun kau ingin pergi,” tanpa sadar Kikwang tersenyum mendengarnya. Kemudian ia segera memutar balik arah mobilnya.

“Kita mau kemana?”

“Nanti kau juga akan tahu, tapi dengan cuaca seperti ini sepertinya kita hanya bisa stay di dalam mobil,” Shin Ji Eun manggut-manggut seakan mengerti, “Tidak masalah,” ucapnya.

***

Seperti yang dikatakan Kikwang sebelumnya, mereka hanya stay di dalam mobil karena hujan yang tak kunjung berhenti, malah semakin deras. Suasana dalam mobil berbanding terbalik dengan keadaan diluar. Bahkan suara bising gemericik air hujan pun tetap mendominasi suara di dalam mobil.

Shin Ji Eun dan Lee Kikwang terdiam seakan sibuk dengan memori mereka sendiri. Mereka sedang berada di sebuah taman bermain yang dulu sangat sering mereka kunjungi. Dan di tempat ini juga mereka membuat sebuah janji yang tak akan pernah mereka lupakan sampai kapanpun.

“Kau tidak akan meninggalkanku, kau selamanya milikku, begitupun sebaliknya. Dengan begitu, kita tidak akan pernah berpisah.”

“Baiklah, aku berjanji!”

“Aku merindukan masa itu,” gumam Ji Eun tiba-tiba yang masih tetap terdengar oleh Kikwang. Pria itu pun mengulas senyuman tipisnya.

“Ji Eun-ah,” panggil Kikwang lirih seraya menatap Ji Eun dalam, namun tidak dengan gadis itu yang masih saja memaku tatapannya pada taman bermain penuh kenangan di depannya.

“Mm?”

“Tatap aku,” Shin Ji Eun menuruti perintah Kikwang dan tubuhnya seketika berjengit saat menatap kedua mata penuh ketulusan milik Kikwang.

Ia tersadar, ia teringat, dan ia mengetahui alasan mengapa ia merasa tak asing lagi terhadap tatapan Ilwoo saat pria itu mengutarakan perasaannya, dan mengapa ia merasa seperti ada yang kurang terhadap tatapan Ilwoo. Itu semua karena Lee Kikwang. Ia telah mendapatkan tatapan seperti itu sebelumnya oleh Kikwang, dan juga ia merasa ada sesuatu yang kurang karena, Jung Ilwoo bukanlah Lee Kikwang.

“Aku tak sanggup lagi untuk menahan semuanya sendirian. Aku tak peduli lagi dengan segala resiko atas apa yang akan kuungkapkan padamu saat ini.”

“Ya! Ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi seserius ini? Kau seperti bukan dirimu, Lee Kikwang,” ucap Ji Eun seraya mengalihkan pandangannya kembali kearah taman bermain.

Sebenarnya ia melakukan hal itu karena ia juga tak tahan menatap kedua bola mata Kikwang, dan juga wajah tulusnya bak malaikat itu. Dia hanya mencoba mengendalikan perasaannya pada Kikwang agar tak semakin menjadi-jadi.

“Aku bilang tatap aku, Ji Eun-ah!” bentak Kikwang lembut seraya mengapit wajah Ji Eun dengan kedua telapak tangannya agar gadis itu menatap lekat dirinya. Kikwang mengambil nafas panjangnya kemudian menghembuskannya perlahan untuk mengumpulkan keberaniannya.

“Dengar baik-baik, aku—“

Duarrrrr!!!

“Mwo? Bisa ulangi sekali lagi?” Shin Ji Eun tak dapat mendengar ucapan Kikwang dengan jelas akibat suara petir yang menggelegar tiba-tiba meskipun hatinya telah tersenyum karena walaupun begitu ia dapat mengetahuinya dari gesture bibir Kikwang.

“Aih, ini sungguh memalukan,” Kikwang melepaskan kedua tangannya dari wajah Ji Eun namun dengan sigap Ji Eun meraih kembali kedua tangan Kikwang dan meletakkannya kembali pada wajahnya.

“Ayo, replay. Ulangi sekali lagi, aku penasaran.” Kikwang menghembuskan nafasnya kasar kemudian berkata, “Aku mencintaimu, Shin Ji Eun.”

“Omo! Bagaimana bisa kau mencintai sahabatmu sendiri, Kikwang-ah? Sungguh melanggar etika.”

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu. Tapi aku telah mencoba habis-habisan untuk mencegahnya, tapi apa daya aku tak bisa.”

“Tak perlu kau cegah, karena aku tidak mau cintaku bertepuk sebelah tangan,” balas Ji Eun seraya berpura-pura acuh.

“Mwo? Apa maksudmu? Kau juga—“

“Ya,” sela Ji Eun yang disambut dengan senyuman indah Lee Kikwang.

“Tapi, aku pernah melihatmu sedang makan malam dengan Hyosung. Apa pembelaanmu?” tanya Ji Eun dingin karena terbawa suasana.

“Ah, itu—” Lee Kikwang pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Sedangkan Ji Eun mendengarnya dengan antusias seraya mengangguk-angguk kecil.

“Kau cemburu ya?”

“Mwo? Untuk apa? Konyol sekali,” Kikwang tertawa geli melihat Ji Eun yang jelas sekali salah tingkah dibuatnya.

“Tersenyumlah seperti itu setiap hari, aku sangat menyukaimu,” Lee Kikwang menatapnya penuh arti, kemudian segera meraih wajah Ji Eun dan menyambar bibir gadis itu. Shin Ji Eun pun sontak melebarkan matanya dan tersenyum ketika mendapati kedua mata Kikwang yang tengah terpejam, kemudian ia pun melakukan hal yang sama. Namun tiba-tiba…

Duarrrrr!!!

Sebuah petir menyambar lagi dan membuat tautan mereka terlepas seketika. Keadaan berubah canggung, sangat canggung. Ji Eun dan Kikwang menatap kearah jendela yang berada di samping mereka masing-masing, sesekali tersenyum tipis dalam diam.

Tiba-tiba Kikwang memegang tangan Ji Eun yang tentu saja membuatnya menoleh kearah Kikwang dan mengulas senyumannya ketika pria itu juga tengah menatapnya.

“Kau terlihat sangat menggemaskan jika wajahmu memerah seperti itu.”

“Kau kira pujian seperti itu mempan untukku?” Kikwang terkekeh kecil kemudian kembali mendekatkan dirinya pada Ji Eun dan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.

***

Lee Kikwang melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya. Senyumannya tak henti-hentinya terulas di wajah tampannya. Ia merasa lega karena telah mengutarakan semuanya sekaligus bahagia karena respon tak terduga yang diberikan oleh Shin Ji Eun.

Ia pun membaringkan tubuhnya sesampainya ia di kamar miliknya. Jantungnya masih saja berdebar, sesekali ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan tersenyum sendiri ketika mengingat hal-hal yang baru saja ia lakukan bersama Ji Eun tadi.

Sebenarnya tadi bukanlah ciuman pertama mereka, karena mereka pernah melakukannya sebelumnya. Yaitu saat mereka masih berumur 7 tahun. Ketika itu, mereka hanya penasaran karena adegan itu sering dimunculkan di berbagai drama di televisi. Sesederhana itu.

Cklek

“Kikwang-ah.”

“Eomma?”

***

Keadaan kelas sangat riuh karena pelajaran kosong saat ini. Ada yang mendengarkan music melalui headsetnya, bermain kartu, bergosip, bahkan makan.

Namun Lee Kikwang hanya bergeming, ia menyanggah kepalanya dan memaku tatapannya pada Shin Ji Eun yang sedang sibuk menyalin pekerjaan rumah milik Sam Rin Hyo untuk pelajaran selanjutnya. Setelah gadis itu selesai, ia merapikan mejanya kemudian melakukan hal yang sama seperti Kikwang.

“Ji Eun-ah, sampai kapan kau akan seperti itu?”

“Sampai aku menyelesaikan sekolahku.”

“Dasar bodoh!” Ji Eun terkekeh mendengar umpatan sahabatnya itu.

“Aku hanya sedang malas mengerjakannya kemarin.” Shin Ji Eun mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelasnya, sesekali ia tertawa kecil melihat tingkah teman-temannya yang layaknya tidak sedang dalam jam pelajaran.

“Shin Ji Eun,” Shin Ji Eun kembali ke posisinya semula ketika mendengar Kikwang memanggilnya.

“Bagaimana ini?”

“Maksudmu?”

“Aku—“ Shin Ji Eun yang penasaran tak sabar karena Kikwang yang terlalu lama menggantung kalimatnya.

“Mwo? Cepat katakan!”

“Kau sudah siap mendengarnya? Aku saja belum siap untuk mengatakannya.”

“Sesuatu yang buruk kah?”

“Benar.” Shin Ji Eun mengambil nafasnya dalam kemudian menghembuskannya kasar.

“Aku sudah siap, cepat katakan.”

“Aku dijodohkan,” ucap Kikwang cepat dan sukses membuat kedua mata Ji Eun membulat sempurna.

“Kau serius?” Shin Ji Eun menggigit bibir bawahnya kuat menahan air mata yang akan keluar saat itu juga.

“Ji Eun-ah,” panggil Kikwang lirih ketika mendapati bibir Ji Eun yang mulai bergetar. Ia sangat ingin memeluknya saat ini tapi keadaan tak memungkinkan karena mereka sedang berada di dalam kelas, akhirnya ia pun hanya dapat mengepalkan kedua tangannya kuat.

“Kapan kau mengetahuinya?”

“Kemarin.”

“Kau sudah bertemu dengannya?” suara Ji Eun terdengar semakin bergetar saat ini.

“Belum, appa bilang bahwa kami akan dipertemukan minggu depan,” Shin Ji Eun hanya mengangguk mengerti.

“Aku keluar sebentar, jangan mengikutiku. Aku serius,” Shin Ji Eun segera melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kelas. Air matanya pun tak tertahankan lagi, telah mengalir deras dengan bebasnya. Ia melangkahkan kakinya tak tentu arah, ia tak tau kemana tujuannya. Ia hanya mengikuti kemana arah kakinya ingin berjalan.

Ia merasa sangat rapuh hingga ia menyanggah tubuhnya di dinding dengan tangannya disepanjang ia berjalan. Seakan separuh jiwanya telah hilang, pasokan oksigennya penipis, dan benar-benar kehilangan arah.

Mengapa harus seperti ini? Mengapa hal ini harus terjadi padaku? Ya Tuhan, baru saja aku merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Namun sekarang apa lagi? Apakah dengan cara ini Kau menunjukkan padaku bahwa Kikwang memang bukanlah takdirku?

“Shin Ji Eun!” Shin Ji Eun menghentikan langkahnya ketika sebuah suara yang sangat ia kenal memanggil namanya dari belakang, namun ia tak membalikkan tubuhnya dan air matanya semakin deras karenanya.

“Mau kemana?”

“Perpustakaan,” jawabnya asal dengan suara yang semakin bergetar dan serak. Pria itu pun segera membalikkan tubuh gadis itu dan mendapati Shin Ji Eun sedang menangis dengan tubuh yang bergetar hebat dan sebelah tangan menutupi mulutnya.

“Apa yang terjadi padamu?”

“Ilwoo-ya.”

“Ada apa denganmu?” Shin Ji Eun tak kunjung menjawab pertanyaan itu, Ilwoo yang tak tahan dengan keadaan gadisnya pun segera merengkuhnya ke dalam pelukannya seraya mengelus lembut punggung Ji Eun.

“Maafkan aku,” ucap Ji Eun lirih disela tangisannya.

“Kenapa kau harus meminta maaf padaku?”

“Maafkan aku, Ilwoo-ya,” tangisan Ji Eun semakin menjadi kemudian ia memeluk Ilwoo erat.

Ilwoo-ya, maafkan aku, aku telah mengkhianatimu. Maafkan aku.

“Ne, Ji Eun-ah. Aku memaafkanmu. Jadi berhentilah menangis sekarang ya?” Ilwoo pun semakin mengeratkan pelukannya seraya menatap nanar gadis itu tanpa mengerti sebab dan mengapa gadis itu tiba-tiba menangis meminta maaf padanya.

———

-To be Continued-

Advertisements

11 thoughts on “It’s You 3

  1. Adduuhhh. Maaf yaa d komentarr sbelumnya kk slh sebut nama authornya,,,ne yg bkin bella kn yaa,,,sx lgi maaf yaa,,,
    Crita nya smakin seruu,,,baru za jieun ma kikwang ng’rasain kbhagian ehhh kikwangnya mau d jodohinn,,,adduhh gimana jdinya mrekaa yaa,,,next chapter ahh penasaran,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s