Moonlight 2

image

Author: Bella Eka
A/N: Annyeong 🙂 no copas ya, setiap komentar merupakan semangat besar buat kami ^^
Happy read!

———

Author’s POV

Shin Ji Eun menyanggah dagunya seraya menatap kosong bangku tak berpenghuni sejak seminggu terakhir yang berada di samping kirinya. Sesekali ia menatap layar ponselnya yang tak kunjung menerima sebuah pesan ataupun panggilan dari Minseok. Pria itu tiba-tiba hilang tanpa kabar seakan ditelan bumi karena ia sama sekali tak merespon pesan maupun panggilan yang ditujukan Ji Eun padanya, jelas saja karena nomornya pun tidak diaktifkan. Bahkan Minseok tak lagi tinggal di rumahnya yang berada di seberang rumah Shin Ji Eun.

“Apa dia benar-benar pergi jauh?” gumamnya sendiri lalu menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya yang ia lipatkan di atas meja.

FLASHBACK

Kim Min Seok duduk manis di sebuah kursi panjang yang berada di tepi Sungai Han, menikmati pemandangan musim dingin dan air yang hampir membeku di tempat itu. Kedua tangan yang berada di saku mantelnya itu sesekali ia keluarkan sekedar untuk memastikan pukul berapa sekarang melalui layar

ponselnya. Betapa dinginnya cuaca hari ini hingga tanpa sadar tubuhnya menggigil serta giginya gemeretak karenanya.

“Minseok-ah!” pemilik nama itu segera membalikkan kepalanya dan menemukan seorang gadis yang sedari tadi ia tunggu dengan sabarnya. Gadis itu pun segera menghampiri dan duduk bersama Minseok seraya menyodorkan sebuah mantel tebal warna coklat miliknya, “Pakai ini!”

“Tapi aku sudah memakai mantelku sendiri, Ji Eun-ah.”

“Lapisi dengan mantel ini.”

“Tidak perlu, aku sudah cukup memakai ini.”

“Ya! Sudah kubilang berapa kali jangan memakai ini jika sedang bersalju seperti sekarang. Mantel ini tipis, Minseok-ah. Lihat dirimu! Aigoo menyedihkan sekali,” cecar Shin Ji Eun sembari melapisi tubuh Minseok dengan mantelnya yang berwarna coklat itu kemudian dengan telaten ia menutup seluruh kancing yang berada di tepi mantel tebal itu.

“Kenapa kau hobi sekali memakai mantel ini sekalipun dalam cuaca ekstrim seperti ini?” Shin Ji Eun terus saja mengomeli Minseok karena pria itu sebenarnya rentan terhadap cuaca dingin seperti ini. Dan sekali lagi, pria itu berhasil membuat Ji Eun khawatir karenanya.

“Karena mantel ini adalah hadiah darimu,” jawab Minseok ringan seraya mengulas senyuman khas menggemaskannya.

“Aaaah kau pasti sangat kedinginan ya,” ucap Shin Ji Eun seraya memeluk sahabatnya itu dari samping. Perasaan gadis itu dengan mudahnya meleleh hanya karena kalimat sederhana yang terucap dari bibir milik pria itu.

“Kenapa kau lebih memilih untuk merepotkan dirimu dan menungguku disini? Kenapa tidak sekalian saja ke rumahku? Hanya berjalan beberapa langkah saja sudah sampai, bukan?” Shin Ji Eun mulai menarik dirinya dari pelukannya.

“Aku hanya ingin bertemu denganmu disini,”

Tidak, sebenarnya bukan karena itu. Hari ini Minseok mendapat kabar bahwa ia akan segera didebutkan oleh agensinya bersama kesebelas temannya yang lainnya, maka dari itu ia akan menjalani latihan keras untuk mempersiapkannya mulai hari ini. Dan ia meluangkan waktu luangnya yang sedikit ini untuk menemui Shin Ji Eun. Kenapa harus berada di Sungai Han? Tentu saja karena sungai itu berada tak jauh dari tempat latihannya.

“Ji Eun-ah, kau, jangan pernah sekali-kali melupakanku ya,” ujar Minseok tiba-tiba yang menyebabkan Ji Eun sontak menatapnya aneh.

“Maksudmu?”

“Aku takut kau akan melupakanku.”

“Ya! Apa yang sedang kau bicarakan? Jangan berbicara seperti itu! Seperti kau akan pergi jauh saja,” Shin Ji Eun terkekeh geli karena ucapan Minseok yang menurutnya sangat aneh itu, sedangkan Minseok mengulas senyuman penuh artinya seraya menatap nanar Ji Eun.

FLASHBACK END

“Apa dia memang benar-benar pergi jauh?” gumam Ji Eun lagi, namun sedetik kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, “Tidak mungkin,” ucapnya.

Gadis itu beranjak dari tempatnya kemudian mengintip loker meja milik Minseok, memeriksanya kalau-kalau sahabatnya itu telah sengaja meninggalkan sepucuk surat atau semacamnya yang dapat dijadikan sebagai petunjuk dimana dia berada saat ini. Namun Ji Eun segera menghembuskan nafasnya kasar ketika tidak ada benda yang tertinggal satupun di loker itu.

“Ji Eun-ah!” pekik seorang gadis yang tiba-tiba memasuki kelasnya dan menghampirinya tergesa.

“Ya! Bisakah kau santai sedikit, Rin Hyo-ah? Sadarlah, tempat ini bukan kelasmu.”

“Tidak, tidak bisa. Kau sudah tau dimana Minseok sekarang?” ucap Rin Hyo seraya mengatur nafasnya yang tengah terengah-engah. Shin Ji Eun segera melebarkan kedua matanya ketika mendengar nama seseorang yang sedari tadi ia cari.

“Apa maksudmu? Apa sesuatu telah terjadi padanya? Aku tidak tahu sama sekali.”

“Aku juga tidak tahu. Tapi aku mendapat kabar dari Kim seongsaengnim jika ternyata Minseok telah mengajukan pengunduran diri dari sekolah ini.”

“Maksudmu, dia keluar?”

“Benar.”

“Mwo? Apa dia sudah gila?! Bagaimana bisa dia lolos masuk Universitas Seoul jika seperti ini? Dasar bodoh!”

***

Kim Min Seok sedang mengambil lauk makan siang yang telah dipersiapkan prasmanan oleh pihak agensinya di cafeteria SM Entertainment. Seketika ia menghentikan kegiatannya ketika ia melihat semangkuk besar samgyetang diantara beberapa lauk yang ada seraya tersenyum tipis.

“Apa yang sedang kau lakukan sekarang, Shin Ji Eun?” gumamnya seraya menatap kosong masakan itu. Sebenarnya ia sangat ingin menghubungi gadis itu sekarang namun ia tak dapat melakukannya karena agensi melarang keras hal itu.

“Minseok-ah! Kemarilah,” panggil Luhan yang telah duduk bersama teman-temannya lainnya, maka ia pun segera menghampirinya dan makan bersama mereka.

***

Shin Ji Eun mengeratkan jaketnya seraya melangkahkan kedua kakinya keluar pagar rumahnya, kemudian ia menyeberang jalan yang tak terlalu lebar itu hingga sampai pada sebuah pagar kayu rumah tradisional yang telah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Walaupun begitu ia tetap mencoba untuk memencet bel yang berada di gapura pagar itu berkali-kali, namun nihil. Tak ada perubahan yang terjadi dari hari-hari kemarin, tetap sama, tak ada tanda-tanda kehidupan Kim Min Seok disana.

Dengan gerakan perlahan ia menyelipkan sepucuk surat berwarna pink melalui sela kecil yang berada di bawah pagar itu. Sejak kepergian Minseok secara tiba-tiba, ia selalu tak pernah absen dalam melakukan hal itu.

Ia selalu mengungkapkan segala apapun yang ingin ia tanyakan ataupun ceritakan pada Minseok melalui surat itu. Karena ia yakin Minseok akan kembali, dia tidak mungkin menghilang begitu saja dari kehidupannya.

TIN TIN

Tiba-tiba sebuah mobil Mercedes hitam berhenti tepat di belakangnya. Shin Ji Eun seketika mengerutkan dahinya karena sebenarnya ia mengenali mobil ini namun tak yakin jika pemilik mobil itu memang benar-benar seseorang yang ia kenal. Gadis itu segera mengulas senyuman manisnya ketika seseorang dalam mobil itu membuka kaca mobilnya, dugaannya benar.

“Kikwang oppa?”

“Ji Eun-ah, apa yang sedang kau lakukan disana?”

“Hanya melakukan sesuatu, kau?”

“Kau sudah makan?”

“Kau akan mentraktirku?” Shin Ji Eun semakin melebarkan senyumannya ketika Kikwang membenarkan pertanyaannya.

“Baiklah, aku akan mengganti pakaianku dulu. Tunggu sebentar,” gadis itu pun segera berjalan tergesa menuju rumahnya.

“Shin Ji Eun!” Ji Eun yang baru saja menghilang dari pagar rumahnya pun kembali menuju sumber suara itu berasal.

“Apa kau tega membiarkanku sendirian disini?”

“Kau mau masuk, oppa? Baiklah, silahkan masuk,” Shin Ji Eun kembali berjalan sendiri ke dalam rumahnya tanpa mempedulikan Kikwang yang baru saja menutup pintu mobilnya.

“Apa gadis itu benar-benar tak memiliki kepekaan sedikitpun? Aigoo,” gumamnya kesal seraya memasuki halaman rumah Ji Eun.

***

Shin Ji Eun terlihat sedang sibuk memeriksa satu-persatu jenis masakan yang berada dalam restoran itu, namun Kikwang hanya mengulum senyumnya memperhatikan gadis polos di depannya itu.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Kikwang terkesiap ketika Ji Eun menanyakan hal itu secara tiba-tiba. Kikwang memang tidak memakai penyamaran apapun saat ini karena ia memesan sebuah private room untuk mereka.

“Kau ingin memesan apa?”

Samgyetang dan chocolate float.”

“Kau ini, tak peduli seberapa bagus restoran yang kau datangi tetap saja masakan yang kau pesan sama saja.”

“Karena tempatnya berbeda maka rasanya juga akan berbeda, bukan?” Kikwang hanya memutar bola matanya karena gadis itu selalu menemukan berbagai alasan terhadap segala apapun yang dilakukannya.

Kikwang menekan sebuah tombol yang berada di samping tempat tissue di meja itu kemudian tak lama kemudian seorang pelayan mendatangi mereka.

“Annyeong haseyo, apa yang ingin anda pesan, tuan, nona.”

“Satu samgyetang, kimchi jjigae, dan dua chocolate float.” Shin Ji Eun terdiam seketika saat Kikwang mengucapkan pesanannya. Kimchi jjigae, masakan itu adalah makanan favorit Kim Min Seok.

“Minseok-ah,” gumamnya tak terkendali. Ia sangat merindukan sosok sahabatnya itu saat ini. Setiap hari ia membayangkan apa yang sedang pria itu lakukan, tak terkecuali saat ini. Hingga tanpa sadar kedua matanya kehilangan titik fokusnya.

“Apa yang terjadi padamu, Ji Eun-ah?”

“Oppa, kau ingat sahabatku yang saat itu? Tiba-tiba dia menghilang entah kemana, kemana lagi aku harus mencarinya?” ucap Ji Eun masih dengan pandangan kosongnya, seakan yang berkata saat ini bukanlah dirinya, melainkan kata hatinya, hatinya yang telah kehilangan petunjuk dimana keberadaan sahabat yang sangat disayanginya itu.

Kikwang menatap nanar Shin Ji Eun yang terlihat menderita karena kehilangan Kim Min Seok. Gadis itu, ia telah terlanjur mencintai gadis itu. Entah pesona apa yang ia miliki hingga membuat seorang idol seperti Lee Kikwang terjatuh dalam pesonanya. Namun dengan kenyataan bahwa gadis itu terlihat sangat membutuhkan Minseok, hatinya seakan rapuh karenanya.

“Kau menyukainya?” Shin Ji Eun menatap Kikwang cepat karena baru saja tersadar akan lamunannya.

“Mwo? Menyukai siapa?”

“Sahabatmu.”

“Tentu saja aku menyukainya, aku sangat menyukainya karena dia adalah sahabatku sejak lama,” jawab Ji Eun gugup.

Sungguh ia sangat tidak mengerti dengan sikap Kikwang yang tiba-tiba berubah dingin seperti ini, tatapannya sangat sulit untuk dimengerti. Dan lagi, jantungnya kembali berdebar sangat cepat. Hingga Ji Eun meletakkan telapak tangan kanannya di dadanya, sekedar untuk mengontrol degupan jantungnya yang tak beraturan itu, walaupun sia-sia.

***

“Ji Eun-ah! Lihat ini!” Sam Rin Hyo menunjukkan layar ponselnya pada Ji Eun yang hanya dibalas tatapan datar oleh sahabatnya itu.

“Astaga, kau masih saja tidak tertarik pada K-Pop? Padahal calon kekasihmu saja seorang idola K-Pop, Lee Kikwang.”

“Ya! Kau jangan berkata sembarangan, Rin Hyo-ah. Hal itu tak akan pernah terjadi.”

“Wae? Kau tidak menyukainya?”

“Tidak mungkin dia menyukai gadis biasa seperti itu, lihat saja gadis-gadis cantik mempesona yang berada di sekitarnya, aku sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan mereka,” ucap Ji Eun lemah. Ia merasa bahwa bisa sedekat ini dengan Kikwang sudah merupakan suatu keajaiban dunia baginya. Dan untuk dapat menjadi kekasihnya, hanya akan dapat terjadi dalam sebuah fanfiction yang ia karang sendiri jalan ceritanya.

“Aigoo, apa kau tidak melihat teman seperjuanganmu ini? Tak ada yang tak mungkin, Ji Eun-ah. Percayalah padaku, Lee Kikwang pasti juga menyukaimu. Aku dapat melihatnya dari tatapan matanya padamu.”

“Woaah! Kau mempelajari ilmu itu darimana, Rin Hyo-ah? Jangan terlalu percaya diri, kau masih terlalu amatir dalam hal itu,” ejek Ji Eun yang seketika mendapat tatapan tajam Sam Rin Hyo.

“Tapi lihat berita ini, SM Entertainment akan mendebutkan boyband baru, aku tidak sabar menantinya. Kau tau sendiri kan kebanyakan grup yang berasal dari agensi itu akan menjadi grup yang sukses,” bangga Rin Hyo kemudian menyesap Mochaccino-nya.

“Bilang saja kau sedang membanggakan Cho Kyuhyun. Tunggu dulu, kau sedang meremehkan Kikwang?” tuduh Ji Eun tiba-tiba yang sontak membuat Rin Hyo meledakkan tawanya.

“Maafkan aku, Shin Ji Eun. Aku tidak bermaksud untuk meremehkan calon kekasihmu,” Ji Eun pun terkekeh karena ulah Sam Rin Hyo.

***

Kim Min Seok sedang berjalan di sebuah mall bersama dengan seorang teman sesama agensinya yang tergabung bersama dirinya dalam sebuah grup. Minseok dan seorang pria bertubuh tinggi dan memiliki kantung mata itu sedang sibuk berbelanja barang-barang yang mereka butuhkan dalam dorm. Karena latihan hari ini dimulai sore hari maka mereka dapat menyempatkan waktu untuk berbelanja seperti ini.

“Omo, lucu sekali. Hyung, bolehkah aku membeli ini?” ucap pria tinggi itu seraya menunjuk sebuah boneka sapi yang tengah mereka lewati.

“Andwae! Jangan membeli barang-barang yang tidak perlu, Tao-ya,” pria yang dipanggil Tao itu pun memutar bola matanya malas karena setiap sesuatu yang ingin ia beli selalu ditolak oleh Minseok.

Minseok yang sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling mall tiba-tiba menemukan sesosok gadis bersama seorang pria yang memakai kacamata hitam dan masker yang tengah menutupi wajahnya. Minseok menyipitkan matanya kemudian seketika ia terperanjat karena gadis itu adalah Shin Ji Eun, gadis yang sangat ia rindukan saat ini. Namun gadis itu terlihat tengah bahagia bersama pria itu, yang diyakini Minseok adalah Lee Kikwang.

Kim Min Seok hanya dapat menatap nanar Shin Ji Eun dari kejauhan. Sama sekali ia tak memiliki niat untuk menghampiri dan memeluk gadis itu meskipun ia sangat menginginkannya. Ia hanya ingin kembali pada gadis itu ketika ia telah sukses nanti.

Ji Eun-ah, aku senang melihatmu bahagia seperti ini. Kuharap kau tidak melupakanku dan aku akan kembali padamu secepatnya jika aku telah menjadi seseorang yang dapat dibanggakan suatu saat nanti. Maafkan aku karena menghilang tiba-tiba, Shin Ji Eun. Aku hanya tidak ingin kau semakin mengkhawatirkanku jika kau mengetahui proses yang berat ini. Tolong tunggu aku dengan sabar, aku mencintaimu.

Perlahan Minseok melangkah mundur kemudian berbalik dan berjalan menjauhi Shin Ji Eun dan Lee Kikwang hingga tanpa sadar ia juga meninggalkan Tao yang masih sibuk dengan boneka-boneka lucu yang berada di salah satu bilik mall itu.

“Minseok hyung! Tunggu aku!” suara pekikan Tao yang menggelegar itu terdengar hingga ke daun telinga Ji Eun, hingga ia menolehkan kepalanya menuju asal suara itu. Namun yang ia lihat hanyalah sekeranjang boneka dan terdapat salah satu boneka sapi yang terjatuh di lantai.

“Minseok?” gumamnya seraya mengernyitkan dahinya, menerka-nerka mungkinkah Minseok sahabatnya itu memang berada disana atau malah sebaliknya.

***

Kim Min Seok sedang berbaring di ranjang kamarnya seraya menyilangkan kedua tangannya sebagai alas kepalanya. Latihan seharian penuh hari ini tak kunjung membuatnya terlelap, begitupun hari-hari sebelumnya. Rasa rindunya telah mengalahkan rasa lelahnya yang amat sangat itu.

Tao, Baekhyun, dan Chanyeol yang merupakan teman satu grup yang berada di kamar yang sama dengannya telah tertidur dengan lelapnya hingga suara dengkuran mereka terdengar bersahut-sahutan. Akhirnya Minseok memutuskan untuk beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju balkon.

Ia menatap jutaan bintang bertaburan pada setiap senti wajah langit yang hitam pekat itu, disana terdapat pula sebuah bulan dengan bentuk sempurnanya yang bertugas untuk menyinari malam yang menyegarkan ini.

Namun pemandangan indah malam ini tak mampu mengubah suasana hati Minseok yang tak kunjung berganti layaknya musim dingin yang telah berubah menjadi musim semi yang indah ini. Suasana hatinya masih sama persis seperti yang ia rasakan saat musim dingin lalu.

“Ji Eun-ah, apa kau sudah tidur?” ucapnya dengan pandangan kosong memenuhi kedua bola matanya.

“Apakah aku seperti orang gila jika berbicara sendiri seperti ini?” lanjutnya seraya terkekeh kecil. Kemudian ia menarik nafas panjang dengan kedua mata yang terpejam, menahannya sejenak, kemudian menghembuskannya perlahan.

“Wae? Mengapa cara ini tidak berhasil? Kau bilang jika aku sedang merindukanmu maka aku harus menarik nafas terpanjangku serta memejamkan kedua mataku, dan ketika aku membukanya kau akan muncul begitu saja di depanku. Mana bukti dari ucapanmu? Kau hanya gadis pembual, Ji Eun-ah,” tanpa sadar setetes air mata Minseok terjun bebas dari mata sipitnya, mengalir melalui wajahnya yang sebelumnya sama sekali tak pernah sekalipun ternodai oleh air mata. Ia pun menyeka air mata itu seraya tertawa miris.

“Tidak, Shin Ji Eun. Kau bukanlah gadis pembual, karena akulah yang meninggalkanmu. Maafkan aku, maafkan aku karena meninggalkanmu sendirian. Tapi, kuharap Lee Kikwang dapat menjagamu dengan baik disana. Aku percaya bahwa dia mampu menjagamu dengan sangat baik, namun aku sama sekali tak yakin jika kau mampu menjaga hatimu pada Kikwang. Kumohon jangan, Ji Eun-ah. Aku mencintaimu, saranghae.”

***

“Terimakasih untuk hari ini, oppa,” Shin Ji Eun dan Lee Kikwang sedang menikmati suasana malam musim semi pertama hari ini di Sungai Han setelah menghabiskan waktu seharian sedari tadi siang.

Malam pun semakin larut saat ini hingga keadaan sudah sangat sepi. Memang suasana seperti inilah yang mereka harapkan, agar tak ada orang yang mengenali Kikwang maka ia tak perlu repot-repot untuk memakai alat penyamarannya.

“Kau senang?”

“Mm,” jawab Ji Eun singkat seraya menganggukkan kepalanya kuat. Lee Kikwang mengulas senyuman manisnya seraya mengacak pelan rambut Shin Ji Eun yang menyebabkan gadis itu terkekeh kemudian mengatakan, “kembalikan seperti semula,” dengan raut wajah yang begitu serius. Kikwang pun terperanjat karena perubahan ekspresi yang sangat signifikan itu kemudian menata rapi kembali rambut Ji Eun masih dengan senyuman khasnya yang terus terulas di wajahnya.

“Ji Eun-ah, apa yang kau lakukan jika ada seorang pria yang menyukaimu?” Shin Ji Eun menatap tak mengerti pada Kikwang yang masih saja tetap memfokuskan pandangannya kearah Sungai Han.

“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini?”

“Hmm, hanya penasaran.”

“Entahlah, tapi biasanya aku hanya memperlakukannya seperti biasa, namun berbeda jika akulah yang menyukai pria itu terlebih dahulu,” Kikwang mengernyit seraya menatap Ji Eun lekat pertanda bahwa ia tak mengerti dengan penjelasan Shin Ji Eun.

“Maksudmu?” Shin Ji Eun mengulum tawanya ketika Kikwang menanyakan hal itu dengan sangat antusias.

“Kenapa kau seperti ini, oppa? Apakah kau menyukaiku? Aku tak menyangka reaksimu akan berlebihan seperti ini,” ejek Ji Eun seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Kikwang yang memerah.

“Katakan saja bagaimana jika kau yang menyukainya lebih dulu?”

“Jika dia telah berhasil mendapatkan hatiku terlebih dulu, maka aku akan memperlakukannya sama seperti biasanya namun tanpa sepengetahuannya aku akan lebih memperhatikannya dan selalu memastikan bahwa dia sedang dalam keadaan baik-baik saja,” jelas Ji Eun seraya menerawang pandangannya ke depan, tatapannya kosong namun menyiratkan banyak arti.

“Jadi kau akan menyukainya diam-diam?”

“Yup! Mungkin semacam itu, oppa.” Kikwang semakin menatap Ji Eun dalam, berusaha menerka apa yang sedang berada dalam fikiran gadis itu. Sesekali gadis itu terlihat tersenyum tipis sejenak, kemudian tatapannya berubah nanar dalam sekejap, seperti tatapan penuh akan kerinduan.

“Kau merindukannya?” Ji Eun sontak menatap Kikwang yang tengah menatapnya dengan tatapan meneduhkannya, “Sangat, oppa.”

“Bersabarlah Ji Eun-ah, pasti dia akan kembali padamu,” Shin Ji Eun hanya tersenyum tipis kemudian menganggukkan kepalanya lemah.

Lee Kikwang menarik nafasnya dalam saat melihat Ji Eun dalam keadaan seperti itu. Sebenarnya hatinya sangat pedih melihat gadis itu tengah mengkhawatirkan pria lain. Disisi lain ia menyadari bahwa Minseok memang telah terlebih dulu mengenal gadis itu dibanding dirinya.

“Shin Ji Eun, bagaimana jika—” Kikwang menggantung kalimatnya, ia sendiri tak yakin apakah ia harus mengatakannya sekarang ataukah tidak.

“Jika apa, oppa?”

“Jika, aku, menyukaimu?”

***

Shin Ji Eun melangkahkan kakinya dengan riang di lorong koridor sekolah, sesekali ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut sekolah untuk mencari seseorang yang ingin ia bagikan sebuah kabar bahagia darinya.

Senyumannya seketika merekah ketika seorang gadis yang ia tunggu kehadirannya berada dalam jarak pandangnya.

“Sam Rin Hyo!” mereka berdua pun segera berlari kecil saling menghampiri satu sama lain.

“Wajahmu berseri sekali pagi ini? Apa ada sesuatu yang membahagiakan?” tanya Rin Hyo penasaran.

“Lee Kikwang, dia mengatakan bahwa dia menyukaiku,” sontak Rin Hyo memeluk gadis itu seraya tertawa bahagia.

“Sudah kubilang kan bahwa dia menyukaimu, bakatku menelisik perasaan orang lain memang sudah tak diragukan lagi.”

“Terserah kau saja.”

“Kalau begitu kau harus mentraktirku dan Kyuhyun. Karena kami yang telah mempertemukan kalian berdua,” bangga Rin Hyo seraya melepas pelukan mereka.

“Apa maksudmu? Aku hanya memberitahumu bahwa dia menyukaiku, tidak lebih.”

“Mwo? Lantas bagaimana reaksimu padanya?”

“Aku mengatakan yang sejujurnya, bahwa sebenarnya aku belum yakin dengan perasaanku padanya. Aku mengaku bahwa aku pun menyukainya, namun aku khawatir apakah aku memang benar-benar menyukainya atau hanyalah perasaan ketertarikan sesaat,” Rin Hyo mengernyitkan dahinya ketika mendengar pernyataan Ji Eun.

“Lalu, kenapa kau seperti ini? Kenapa kau begitu senang karena dia menyukaimu?”

“Ah! Kau benar, Rin Hyo-ah! Aku juga tak mengerti kenapa aku bersikap seperti ini,” ucap Ji Eun seraya menggaruk ujung kepalanya yang tidak gatal.

“Sudahlah, kuharap kau segera memantapkan hatimu, Ji Eun-ah, aku yakin Kikwang adalah seseorang yang tepat untukmu.”

“Ya! Kenapa kau bersikap seperti ini lagi? Apakah kau memiliki leluhur seorang peramal masa depan?”

***

Sam Rin Hyo memarkir mobilnya di halaman parkir gedung SM Entertainment. Sudah lama sejak ia mengunjungi Kyuhyun di gedung agensi itu. Tentu saja setelah ia memastikan bahwa Kyuhyun memang sedang berada disana sekarang.

Gadis itu segera melangkahkan kakinya ke lobby gedung itu dan segera disambut oleh kekasihnya yang memang jadwalnya akan dimulai masih satu jam lagi.

“Wah, lama sekali sejak aku berkunjung kesini,” Kyuhyun segera menggandeng tangan Rin Hyo yang sedang menyapu bersih setiap sudut gedung itu dengan pandangannya menuju ruangan pribadinya agar tak ada orang luar yang melihat mereka.

Namun ketika mereka melewati ruangan latihan dance, terdengar suara-suara pria dari ruangan itu, Rin Hyo seketika menghentikan langkahnya karena teringat akan sesuatu.

“Apakah grup baru yang akan debut itu berada di dalam sini?” tanya Rin Hyo penasaran. Kyuhyun mendekatkan telinganya pada pintu ruangan itu kemudian berkata, “sepertinya kau benar. Memangnya kenapa?”

“Bolehkah aku mengintipnya sebentar? Aku sangat penasaran dengan mereka. Pasti mereka semua sangat terlihat tampan,” ucapnya seraya mengeratkan genggamannya pada Kyuhyun.

“Shireo! Nanti kau pasti akan berpaling pada mereka, tidak akan!” Kyuhyun segera menarik tangan Rin Hyo namun gadis itu tetap saja bertahan.

“Tenang saja, aku hanya mencintaimu. Ayolah, sayang,” Kyuhyun menghembuskan nafasnya kasar. Rin Hyo selalu saja menggunakan panggilan itu pada saat yang tepat. Kemudian Kyuhyun membuka sedikit pintu ruangan itu kemudian menyerahkan knop pintu itu pada Sam Rin Hyo.

“Wah, tampan sekali,” gumamnya takjub. Namun tiba-tiba ia menemukan sosok pria yang sangat ia kenal, hingga membuatnya terdiam membatu, shock dalam fikirannya sendiri.

“Minseok-ah?”

———

-To be Continued-

Advertisements

13 thoughts on “Moonlight 2

  1. Woaahh .. Nanti ji eun bakalan ketemu sama minseok kan ? Trus nasibnya kikwang gimanaa ??

    Penasaraann .. Next part ditunggu yaa 🙂

  2. haha minseok lagian ga bilang dari awal kalo dia suka sama ji eun.
    Apa susahnya sih jujur kalo dia lagi trainee di SM Ent. Bikin khawatir aja

    langsung shoot aja minseok ah

  3. huaaa minseok ketauan sma rin hyo.. tntang kyuppa klo rin hyo berpaling dr oppa msh ada aq kok yg setia mnunggu oppa di sini.. hihi
    di keroyok sparkyu dh

  4. Cie cie yang kangen.. /lirik jieun/
    hoho, kikwang udah bilang kalo dia suka ama jieun..
    Tapi kok jieun gak sadar sih kalo dia itu suka sama minseok??
    Ketauan kan dia suka merhatiin minseok diam-diam..
    Rinhyo tau, apa dia bakal bilang jieun?
    Whooaa, harus itu! Penasaran sama reaksi jieun nanti.. :v

  5. masih bingung sama ji eun dia suka sama siapa sih? jangan di gantung dong kan kasian…. kasian sama kikwang juga sama minseok..

  6. oh ya ampun ndak nyangka reaksi dan sikap ji eun dan minseok stlah mereka berpisah.. Mereka seperti menyimpan ketertarikan..
    Lalu gimana nasib kikwang?
    Haduh rin hyo dah tau thu minseok seorang trainee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s