It’s You 4

image

Author: Bella Eka
A/N: Hai 🙂 selamat membaca FF yang semakin gaje ini, hehehe. Please jangan jadi silent reader yaa

———

Shin Ji Eun menatap nanar sebuah foto bahagia yang terpampang pada layar lock screen ponselnya. Dadanya terasa sesak dan bergemuruh tak terkendali setiap kali ia melihat foto dirinya bersama lelaki itu. Perasaan takut kehilangan selalu menyelimutinya sejak Lee Kikwang menyatakan bahwa ia telah dijodohkan dengan gadis lain.

Ji Eun mulai menggerakkan ibu jarinya. Menggeser-geser layar ponselnya hingga ia menemukan foto itu dalam gallerynya. Ia telah menyentuh kata delete namun tak kunjung melanjutkan langkah selanjutnya. Jarinya bergetar, tak sanggup menghapus foto itu. Seakan-akan hal itu merupakan hal yang besar, yang akan berdampak besar dalam kehidupannya.

Shin Ji Eun menghembuskan nafasnya kasar, kemudian menekan tombol home pada ponsel putihnya. Ia merasa terlalu kekanakan jika benar-benar menghapus foto itu. Bagaimana bisa kenangan selama ini akan buyar hanya karena egonya sendiri, egonya yang merasa terlalu memiliki Kikwang.

Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang kamarnya dan seperti biasa meringkuk bagaikan janin. Selang beberapa detik kemudian ia kembali mengutak-atik ponselnya. Kali ini ia berniat akan mengubah foto lock screen itu, menggantinya dengan fotonya yang tengah bersama kekasihnya. Kemudian meletakkan benda tipis berwarna putih itu di nakas samping ranjangnya.

Baru saja Ji Eun menarik selimutnya, terdengar deringan nyaring yang berasal dari ponselnya. Ia pun kembali mengambil benda itu dan sedikit tertegun karenanya. Kemudian perlahan ia menjawab panggilan itu, panggilan video.

“Ji Eun-ah, lama sekali kau menjawabnya,” terlihat seorang lelaki yang sedang memakai piyama berwarna biru melalui layar ponsel Shin Ji Eun.

“Mianhae,” mereka terdiam cukup lama karena respon yang terkesan dingin dari gadis itu. Namun tidak dengan kedua mata gadis itu, tatapan nanar sangat jelas terlihat bagi siapapun yang melihatnya.

“Apa yang telah terjadi padamu?”

“Eo? Mwo? Eobseo. Kikwang-ah! Untuk apa kau menghubungiku tengah malam begini? Dasar gila!” ucap Ji Eun cepat. Ia tengah gugup saat ini hingga suhu tubuhnya menurun seketika, mendingin.

“Aku ingin bertemu denganmu,” kedua mata Ji Eun sontak melebar. Bukan karena Kikwang mengajaknya bertemu di tengah malam seperti ini, namun karena ia terlalu gugup hanya untuk bertemu dengannya. Hanya melihatnya melalui video call saja telah membuatnya mati kutu, apalagi jika bertemu dengannya langsung?

“Sepertinya kau benar-benar sudah gila!”

“Aku serius, Ji Eun! Aku ingin bertemu denganmu hingga aku tidak bisa tidur.”

“Jangan manja seperti itu! Basuh wajah, tangan, dan kakimu, kemudian cepat pergi tidur. Ah! Dan juga, gosok gigimu terlebih dahulu.”

“Shireo! Aku tidak mau!” ucap Kikwang seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali. Shin Ji Eun mengeratkan giginya, sungguh ia sangat gemas dengan pria itu sekarang.

“Apa maumu?”

“Bertemu denganmu.”

“Tega sekali kau membawa keluar seorang gadis tengah malam begini.”

“Aku kan tidak mengatakan bahwa aku akan membawamu keluar. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku akan pergi ke rumahmu,” Shin Ji Eun memutar bola matanya gusar. Mencoba mencari alibi apa lagi yang dapat mencegahnya untuk datang menemuinya.

“Kau benar-benar tidak mau? Baiklah, kalau begitu,” Ji Eun menghembuskan nafasnya lega, seakan beban hidupnya telah terangkat tanpa sisa.

“Tapi aku tidak mau menggosok gigiku,” Kikwang menjulurkan lidahnya singkat lalu mengulas senyuman khasnya, senyuman yang paling difavoritkan oleh Ji Eun.

Gadis itu tertegun sejenak, terpesona dengan keindahan senyuman itu kemudian mengerutkan dahinya, mencerna kata demi kata yang baru saja Kikwang katakan.

Apa yang baru saja dia katakan? Tidak mau menggosok gigi? Kekanakan sekali. Tapi, tunggu, jika dia tidak mau menggosok gigi, maka giginya akan rusak, kemudian senyumannya akan… aigooo bayi ini selalu mengerti kelemahanku.

“Andwae! Baiklah, lakukan saja sesuka hatimu,” ujar Ji Eun ketus.

“Sampai jumpa sebentar lagi~” Ji Eun menatap Kikwang yang tersenyum bocah seraya melambaikan tangannya kemudian video call itu terputus tiba-tiba. Shin Ji Eun menutup wajahnya dengan bantal dan berteriak sekuat tenaganya, “awas kau lee kikwaangg!!!”

***

Shin Ji Eun memiringkan tubuhnya di tepi ranjangnya, tak henti-hentinya ia menatap sahabat prianya tengah berbaring nyaman yang hanya beralaskan matras dan selimut tipis namun tanpa bantal, pria itu hanya menyilangkan kedua lengannya di bawah kepalanya.

Ya! Kikwang menginap di rumah Ji Eun, tepatnya di kamarnya. Orangtua Ji Eun mungkin telah kelewatan karena membiarkan seorang pria tidur dalam kamar yang sama dengan anak perempuan semata wayangnya. Namun inilah kenyataannya, Tuan dan Nyonya Shin telah begitu mempercayai Lee Kikwang hingga detik ini.

“Apa kau nyaman tidur dengan keadaan seperti itu?” ucap Ji Eun seraya melemparkan salah satu bantalnya pada wajah malaikat Kikwang yang tengah terpejam. Ji Eun sungguh mengkhawatirkan Lee Kikwang. Ia tak ingin kesehatan pria itu terganggu. Namun apa daya, mereka tak mungkin tidur diatas ranjang yang sama.

“Tidak,” jawab Kikwang yang masih memejamkan matanya.

“Maka pulanglah. Perpaduan kasur empuk, dengan balutan selimut tebal yang hangat serta bantal-bantal yang menggiurkan untuk disandari. Tidakkah kau menginginkannya?”

“Tidak.”

“Wae?!”

“Karena disana tidak ada kau,” Ji Eun mengerutkan dahinya, kemudian tangannya menyentuh dadanya yang terasa bergemuruh lagi seiring kerutan di dahinya menghilang.

***

“Akkhh!!” pekik Kikwang saat Ji Eun memijat bahunya perlahan.

“Ya! Beginilah jadinya jika kau tak menuruti perkataanku. Dasar keras kepala!”

“Itu karena kau tak mau berbagi ranjang denganku, tega sekali kau padaku.”

“Kau gila?! Bagaimana mungkin aku berbagi ranjang dengan pria yang bukan suamiku? Berbagi kamar denganmu saja sudah sangat berbahaya, aku juga wanita Kikwang-ah, jangan lupakan hal itu,” Sam Rin Hyo yang tengah terkekeh melihat tingkah laku sepasang sahabat itu tiba-tiba menghentikan tawanya dan menepuk-nepuk bahu Ji Eun. Namun seakan mati rasa, gadis itu tak menghiraukannya.

“Kalian berdua, tidur bersama?”

“Itu semua karena bocah bo—“ Shin Ji Eun seketika menghentikan ucapannya ketika mendapati sosok Ilwoo tengah berdiri di belakangnya.

“Jadi kalian benar-benar—“

“Semua ini tidak seperti yang kau pikirkan, Ilwoo-ya,” potong Ji Eun seraya melambaikan-lambaikan tangannya mendukung ucapannya.
Ilwoo segera menarik pergelangan tangan Ji Eun dan membawa gadis itu pergi keluar kelasnya, meninggalkan Kikwang yang menatapnya nanar dan Rin Hyo dengan tatapan penuh dengan keterkejutannya.

Ilwoo mengunci Ji Eun dengan kedua tangan dan tatapan tajamnya, hingga Ji Eun tak dapat menggerakkan tubuhnya sedikitpun karena terdapat tembok tepat di belakangnya.

Berulang kali Ji Eun membuang wajahnya kearah lain karena tak tahan dengan tatapan tajam mengintimidasi milik Ilwoo, namun pria itu terus saja mengembalikan wajah Ji Eun agar tetap mengarah padanya.

“Tatap aku, Shin Ji Eun!” Seketika itu juga Ji Eun menatap tajam kedua bola mata Ilwoo, namun sedetik kemudian kedua matanya berkaca-kaca. Ia sangat rapuh terhadap bentakan, ia paling benci dengan hal itu. Dan juga, ini adalah pertama kalinya Ilwoo membentaknya, bentakan yang sebenarnya, bukan karena acting atau semacamnya.

“Sebenarnya hubungan kalian apa?!” Ilwoo telah menurunkan nada bicaranya namun masih kental dengan unsur bentakan didalamnya.

“Sahabat,” jawab Ji Eun singkat.

“Sahabat macam apa hingga kalian tidur bersama?”

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Ilwoo-ya. Kami tidak tidur dengan ranjang yang sama, mengertilah.”

“Tapi dalam kamar yang sama? Sepasang sahabat yang merupakan seorang pria dan wanita yang telah beranjak dewasa tidur dalam kamar yang sama, apakah itu adalah hal yang wajar? Ji Eun-ah, kau memintaku untuk mengerti tapi mengapa kau tak pernah mencoba sekalipun untuk mengerti aku?” Shin Ji Eun tertegun ketika setetes air mata terjatuh membasahi pipi Ilwoo yang selalu kering akan air mata, bahkan keringatnya sendiri. Bibir gadis itu mulai bergetar seiring dengan sekujur tubuhnya yang mulai melemas.

“Maafkan aku, Ilwoo-ya.”

“Apa lagi yang harus kulakukan untukmu? Sebegitu mustahilnya kah kita agar dapat benar-benar bersama? Apa yang sebenarnya kau inginkan, Ji Eun?” Ilwoo menatap Ji Eun penuh arti dan membuat Ji Eun meneteskan air matanya.

Shin Ji Eun menggelengkan kepalanya, bahkan ia sendiri tak tahu mengapa ia melakukan hal itu. Sama seperti ia tak tahu mengapa ia tak dapat memberikan perasaan suka dan sayangnya pada Ilwoo melebihi perasaannya pada Kikwang yang merupakan sahabatnya sendiri, “maafkan aku,” lirihnya.

“Aku tau jika kau menyayangi Kikwang, karena dia adalah sahabatmu. Kau terlebih dulu mengenalnya dibandingkan aku. Aku telah memaklumi semua itu. Tapi tidakkah semua ini berlebihan? Walaupun begitu aku tidak akan melepaskanmu, Ji Eun-ah. Tidak akan,” ucap Ilwoo seraya menyeka air mata Ji Eun yang terus mengalir deras tanpa isakan.

“Terimakasih telah memahamiku, oppa,” Ilwoo segera membawa Ji Eun ke dalam dekapannya seraya tersenyum manis setelah mendengar panggilan yang baru pertama kali Ji Eun tujukan padanya.

“Shin Ji Eun,” panggil Ilwoo pelan seraya merenggangkan pelukannya dan menatap lembut Shin Ji Eun.

“Nde?”

“Bisakah kau menjauh dari Lee Kikwang?” tubuh Ji Eun berjengit mendengar permintaan sederhana Ilwoo. Walaupun begitu terasa sangat berat karena ia tak pernah jauh dari Kikwang sebelumnya, dan juga karena Kikwang merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupannya selama ini.

***

Shin Ji Eun tengah sibuk mencari dan memilah barang-barang yang berada di rak supermarket. Tak seperti biasanya, ia pergi berbelanja sendirian, tanpa Kikwang.

Sejak Ilwoo mengungkapkan permintaannya, gadis itu perlahan mulai menjauh dari Kikwang. Menurutnya, cepat atau lambat, dirinya dan Kikwang akan segera terpisah mengingat sahabatnya itu telah dijodohkan.

“Ji Eun-ah!” Ji Eun menolehkan kepalanya kearah sumber suara yang terdengar memanggilnya dan menemukan Sam Rin Hyo bersama seorang gadis di sampingnya tengah menghampirinya.

“Kau sendirian?” tanya Rin Hyo seiring langkahnya yang semakin mendekat pada Ji Eun.

“Seperti yang kau lihat,” jawab Ji Eun singkat seraya menatap gadis yang berada di sebelah Rin Hyo kemudian beralih menatap Rin Hyo seakan mengatakan, “siapa dia?”

“Dia adalah Cho Ahra eonni, noona-nya Kyuhyun. Dan eonni, dia Shin Ji Eun, gadis yang biasanya kuceritakan padamu.”

“Annyeong haseyo,” sapa Ji Eun seraya membungkukkan badannya begitu juga dengan Cho Ahra.

“Aku pergi untuk mencari paprika dulu ya,” pamit Ahra kemudian segera beranjak ke daerah sayuran segar.

“Mana Kikwang? Tidak biasanya kau mau berbelanja sendirian.”

“Sebenarnya aku tidak sendirian, Ilwoo sedang menungguku di mobil. Karena jika berbelanja bersamanya akan memakan banyak waktu dan membeli hal-hal yang tidak penting,” jelas Ji Eun sembari memasang wajah jengahnya.

“Bagaimana bisa kau seperti itu? Padahal Kikwang juga seperti itu bukan? Bahkan kalian akan menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk memutuskan penting tidaknya barang itu untuk dibeli. Namun kau tetap membawanya bersamamu,” tatapan Ji Eun menyendu, baru saja ia menyadari hal itu. Entah kenapa jika ia sedang bersama Kikwang segalanya terasa menyenangkan, namun berbeda bila ia bersama pria lain.

“Benarkah kami seperti itu?” gumamnya namun tetap dapat terdengar dan membuat Rin Hyo menganggukkan kepalanya.

“Memangnya ada apa dengan kalian, Ji Eun-ah? Apa kalian sedang bertengkar?” Rin Hyo mengukir kerutan di dahinya, memikirkan hal apa yang mungkin terjadi antara Ji Eun dan Kikwang, “Apa karena perjodohan itu?” lanjutnya.

Shin Ji Eun menunjukkan senyuman tipisnya kemudian berkata, “dia telah dimiliki oleh orang lain.”

“Tapi bagaimanapun dia adalah sahabatmu, aku percaya jika dia tidak akan meninggalkanmu begitu saja,” ujar Rin Hyo seraya menepuk pelan bahu Ji Eun.

“Baiklah kalau begitu, aku akan menyusul Ahra eonni dulu. Annyeong,” Ji Eun mengangguk kemudian melambaikan tangannya pada Rin Hyo yang semakin berjalan menjauhinya.

Shin Ji Eun kembali melangkahkan kedua kakinya ke bagian makanan cepat saji. Ia memasukkan beberapa ramyun ke dalam keranjang belanjaannya. Tak lama kemudian tatapannya kembali menyendu ketika menemukan tumpukan jjajangmyeon disana.

Pertengkaran kecil antara dirinya dan Kikwang tiba-tiba saja berkelebat dalam memorinya. Perdebatan tentang berapa jumlah yang mereka butuhkan, tentang kebiasaan buruk Kikwang yang terlalu sering memakan makanan itu, bahkan raut wajah Kikwang yang berubah kusut setiap Ji Eun menolak mentah-mentah permintaannya.

Semuanya tergambar dengan sangat jelas dalam benaknya. Hingga tanpa sadar bibirnya mengulas senyuman miris kemudian ia segera beranjak menuju kasir.

***

Lee Kikwang tengah menyantap semangkuk jjajangmyeon instant yang telah ia buat sendiri seraya memaku pandangannya kearah layar televisi namun pikirannya melayang entah kemana. Tatapannya begitu kosong walaupun tangannya tetap aktif memainkan sumpitnya dan melahap helaian demi helaian makanan itu.

Ia merasakan sesuatu yang aneh terhadap Ji Eun akhir-akhir ini. Gadis itu sulit sekali hanya untuk sekedar ia temui. Bahkan untuk menemaninya membeli jjajangmyeon di tempat langganan mereka pun ia tak mau. Akhirnya Kikwang menghentikan kegiatannya dan beranjak dari tempatnya, mengambil kunci mobilnya kemudian segera melajukan mobil hitamnya.

Sesampainya di halaman rumah Ji Eun, ia segera memarkirkan mobilnya di sebelah sebuah mobil berwarna biru dongker disana. Kikwang mengerutkan dahinya karena tak biasanya mobil itu berada di sana.

Kikwang segera melangkahkan kakinya menuju pintu rumah itu namun seketika terhenti ketika mendengar suara seorang pria yang tak asing lagi di telinganya.

Kikwang menarik nafas panjangnya begitu menyadari bahwa suara itu adalah suara Jung Ilwoo. Senyuman tipis yang terkesan menyedihkan terulas di bibirnya, dadanya terasa sesak, pasokan oksigen yang berlimpah seakan memusuhinya, kedua kakinya melemas seketika.

Kemudian perlahan ia memundurkan langkahnya dan berjalan sempoyongan menuju ke dalam mobilnya kembali. Ia menyandarkan kepalanya di atas kemudinya seraya tertawa miris seorang diri.

Hari ini adalah hari ulang tahun Kikwang. Dan seharusnya hari ini merupakan waktu untuk mereka berdua menghabiskan hari special ini bersama seharian, seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Apa kau benar-benar ingin menjauh dariku? Apakah janji yang kita buat dulu telah usang dan tak berlaku lagi? Benarkah itu, Shin Ji Eun? Jika memang begitu, apa yang harus kulakukan?

***

Shin Ji Eun merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Ia menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan itu. Tanpa sadar gadis itu tersenyum kecil ketika melihat matras yang digunakan Kikwang ketika menginap dirumahnya.

Tangannya bergerak mengambil sebuah bantal yang berada di sampingnya. Bantal itu adalah bantal yang digunakan Kikwang saat pria itu menginap dirumahnya. Ia kembali mengulas senyuman penuh artinya ketika menghirup aroma bantal itu dan memeluknya erat.

Tiba-tiba Ji Eun bangun dan terduduk seraya melebarkan kedua bola matanya. Ia menyahut ponselnya yang berada di nakas samping ranjangnya dan terlihat memastikan sesuatu. Terdapat beberapa panggilan tak terjawab dan berbagai pesan dari Lee Kikwang tadi siang.

“Aigoo, aku tak tahan lagi!” Shin Ji Eun segera melompat dari ranjangnya, mengambil mantel merah tebalnya, mengambil kunci mobil, dan segera beranjak keluar dari rumahnya.

***

Lee Kikwang tengah duduk bersantai di balkon kamarnya, bersama sebotol wine dan sebuah gelas kecil yang menemaninya sekedar untuk meluapkan emosinya hari ini. Tak banyak yang ia minum karena ia bukanlah seorang pemabuk berat.

Malam semakin larut namun Kikwang tak kunjung tertidur. Kejadian mengecewakan hari ini tak mampu membuat Kikwang terlelap begitu saja. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya bahwa Ji Eun akan melupakan hari yang tak pernah gadis itu lupakan sekalipun sebelumnya. Terlebih lagi, ia lebih memilih untuk bersama pria lain dibandingkan dirinya.

Kikwang tertawa miris seraya menyeka air matanya yang sesekali menetes tanpa kendali. Kemudian ia menampakkan segaris kerutan di dahinya, seakan baru teringat akan sesuatu.

“Apa karena perjodohan itu?” gumamnya pelan. Kemudian ia beranjak dari tempatnya dan melangkahkan kakinya memasuki kamarnya yang hangat, tak lupa dengan membawa sebotol wine serta gelasnya.

Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya secara tiba-tiba dan membuatnya kembali menuju balkon untuk memastikan mobil milik siapakah itu.

“Eomma dan appa telah berada di rumah. Jadi siapa yang—“ gumamannya terhenti ketika mendapati sebuah mobil yang sangat dikenalinya dan sontak melebarkan kedua matanya tak percaya, “untuk apa dia kemari tengah malam begini?”

Kikwang segera berlari kecil menuju lantai dasar untuk menemui tamu tengah malam itu. Namun ketika Kikwang telah meraih knop pintu rumah dan membukanya, mobil itu telah melaju pergi. Ia kembali mengerutkan dahinya tak mengerti, “dasar gadis aneh!”

Kikwang menatap mobil itu hingga menghilang dari jarak pandangnya kemudian saat akan menutup pintunya kembali, ia menemukan sebuah kotak berpita warna biru diatas keset rumahnya. Perlahan Kikwang menundukkan tubuhnya dan mengambilnya lalu beranjak kembali menuju kamarnya, tentu saja setelah menutup pintu rumahnya.

Lee Kikwang mendapati sepasang nike shoes berwarna putih dengan garis centang berwarna merah di masing-masing samping luar sepatu itu. Ia tersenyum manis ketika membuka secarik kertas yang terselip dalam kotak itu.

Selamat ulang tahun, Kikwang-ah. Maaf aku tidak dapat menemanimu seharian hari ini. Pasti kau sangat terluka bukan? hahaha. Maka dari itu aku meminta maaf padamu. Aku memberimu sepasang sepatu ini sebagai tanda permintaan maafku. Tapi, tentu saja aku juga memiliki sepasang lagi untukku, kekeke. Mungkin kau akan membuka kotak ini besok pagi jadi aku akan mengatakan…
Selamat pagi Lee Kikwang. Sampai bertemu di sekolah nanti^^

Kikwang tertawa miris setelah membaca surat itu, semuanya telah berbeda. Sungguh berbeda hingga Ji Eun tak lagi mengucapkan kata-kata yang selalu dapat membuat ulang tahunnya menjadi istimewa.

“Kau tak lagi mencintaiku, Shin Ji Eun? Ah, sepertinya kau memang benar-benar menganggapku hanyalah sebagai sahabat,” ucap Kikwang seraya menatap nanar secarik kertas bisu yang tak dapat membalas ungkapan perasaannya.

“Haruskah aku menerima perjodohan itu?”

***

Shin Ji Eun merogoh ponselnya yang berada di saku mantel tebalnya ketika ia baru saja memasuki rumahnya. Ia tersenyum tipis ketika menemukan sebuah pesan dari Kikwangie, begitulah nama yang terpampang dalam layar ponselnya.

From: Kikwangie

Ya! Mengapa kau hanya meletakkan hadiah ini dan kemudian pergi saat tengah malam begini? Bagaimanapun, terima kasih atas hadiahmu, aku sangat menyukainya. Saranghae^^

Shin Ji Eun menggerak-gerakkan jarinya untuk membalas pesan singkat itu, namun tiba-tiba terhenti dan menatap nanar layar ponselnya ketika ia membaca hasil ketikkannya sendiri yang belum dikirimkan pada Kikwang.

Apa yang kau lakukan hingga selarut ini? Hanya tinggal beberapa jam lagi sebelum kita harus berangkat ke sekolah. Aku senang kau menyukainya, jadi cepatlah gosok gigimu dan pergi tidur! Jalja, nado saranghae^^

Shin Ji Eun segera tersadar dari lamunannya kemudian menghapus 10 kata terakhir dan mengirimnya.

Sebenarnya ia tak melupakan hari special ini, dan tak akan pernah melupakannya. Namun ia hanya berusaha untuk membuat Kikwang terbiasa tanpanya, agar ia tak menjadi batu penghalang bagi perjodohan Kikwang. Karena ia percaya, pilihan orang tua adalah yang terbaik, dan restu orang tua adalah yang terpenting.

Walaupun begitu, rencananya telah gagal karena pada akhirnya ia tak tahan untuk tak melakukan apapun pada hari special Kikwang hingga ia rela membeli sebuah kado pada tengah malam seperti ini.

***

Pelajaran kosong kali ini, sehingga Ji Eun dan Kikwang memutar kursinya menghadap kearah bangku milik Sam Rin Hyo dan Cho Kyuhyun.

Ji Eun dan Rin Hyo sedang sibuk memperbincangkan K-Pop idol favorit mereka, Kyuhyun hanya bergeming mendengarkan mp3 dari headset yang terpasang di kedua telinganya, sedangkan Kikwang menyanggah dagunya seraya menatap bosan kedua gadis yang tengah bergosip itu.

“Ini membosankan! Bagaimana jika kita bermain?” Ji Eun dan Rin Hyo sontak menatap Kikwang seraya mengerutkan dahi mereka, sedangkan Kyuhyun melepas salah satu sisi headsetnya.

“Permainan apa?” tanya Ji Eun penasaran.

“Permainan kejujuran. Jadi, seseorang akan menanyakan sebuah pertanyaan pada orang yang ditunjuknya, dan dia harus menjawabnya dengan jujur apapun pertanyaannya.”

“Bagaimana kita bisa tahu bahwa dia jujur atau tidak?” tanya Rin Hyo yang mulai tertarik dengan permainan itu.

“Raut wajah dapat mengatakan segalanya, Rin Hyo-ah,” ucap Kikwang seraya tersenyum lebar.

“Baiklah aku ikut!” Rin Hyo yang bersemangat segera mengajukan dirinya, kemudian ia melirik Shin Ji Eun yang terlihat ragu-ragu terhadap permainan itu, namun kemudian gadis itu juga mengangguk setuju.

“Kyuhyun-ah, kau tidak berani?” ejek Kikwang pada pria tanpa ekspresi di samping Rin Hyo.

“Terserah kalian saja,” jawab Kyuhyun singkat masih dengan wajah datarnya seraya melepas headsetnya yang masih terpasang di telinga kirinya.

Mereka berempat melakukan gaui baui bo dan Rin Hyo mendapatkan giliran pertama dalam permainan itu.

“Aku ingin bertanya pada,” Rin Hyo menatap ketiga temannya satu per satu sebelum menentukan pilihannya, “Lee Kikwang!” ucapnya seraya tersenyum penuh arti.

“Apa kau akan meninggalkan Shin Ji Eun jika kau telah dijodohkan nanti? Dan berikan alasanmu!” Shin Ji Eun tertegun mendengar pertanyaan Sam Rin Hyo, jantungnya terasa berdegup lebih kencang dari biasanya. Gadis itu mempersiapkan mentalnya sebelum mendengarkan penyataan dari sahabatnya itu.

“Tentu saja tidak, aku tidak akan meninggalkannya,” jawab Kikwang seraya menatap lembut Ji Eun.

“Dan alasannya?”

“Karena aku, bolehkah aku mengatakan hal ini?”

“Langsung saja! Jangan membuat kami menunggu!” sela Rin Hyo penasaran.

“Karena aku mencintainya,” Kikwang mengulas senyuman tipisnya dan menatap ketiga temannya yang melebarkan kedua mata mereka masing-masing, termasuk Shin Ji Eun.

“Ah! Tentu saja dia mencintaiku, pasti karena kami adalah sahabat sedari kecil,” Ji Eun mengklarifikasi dengan gugup seraya mencoba untuk mengontrol degupan jantungnya yang semakin tak terkendali.

“Tidak, lebih dari itu. Kau tau? Seperti perasaanmu pada Kyuhyun,” ujar Kikwang dengan tatapan sendunya pada gadis yang memberikannya pertanyaan tadi. Sedangkan Ji Eun menatapnya kosong, entah apa yang tengah dipikirkannya.

“Oke, kalau begitu sekarang giliranku. Aku ingin bertanya pada Shin Ji Eun!” ucap Kikwang semangat. Shin Ji Eun memejamkan kedua matanya sejenak seraya menarik nafasnya kuat-kuat dan melepaskannya kasar bersamaan dengan kedua matanya yang terbuka.

“Kenapa kau berubah akhir-akhir ini? Apakah kau memang benar-benar berusaha untuk menghindariku?” Shin Ji Eun terdiam, lidahnya kelu hingga tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Tatapannya terkunci oleh tatapan menenangkan milik Kikwang.

“Apa kau merasa begitu?” tanya Ji Eun lirih yang dibalas dengan anggukan pelan Lee Kikwang, “maafkan aku,” lanjutnya.

“Aku tidak membutuhkan permintaan maaf darimu, tapi bisakah kau menjelaskannya padaku?”

“Aku tidak menjauh darimu, Kikwang-ah. Hanya saja kita harus memiliki batas, kau telah dijodohkan oleh orang tuamu dan aku telah memiliki Ilwoo.”

“Apa kau mencintainya?”

“Sudah cukup, Lee Kikwang! Batas pertanyaannya hanya satu kali, jadi pertanyaan itu tak terhitung,” potong Rin Hyo. Ji Eun menatap Rin Hyo seraya tersenyum tipis seakan mengatakan “terima kasih,” yang dibalas dengan anggukan Rin Hyo.

“Sekarang giliranku ya, tapi aku tak terpikirkan pertanyaan apapun saat ini. Jadi kulempar saja pada Kyuhyun. Kyuhyun-ah, sekarang giliranmu.”

“Ya! Kenapa tadi kau malah memilih untuk memberikan pertanyaanmu pada Kikwang?” tanya Kyuhyun pada Rin Hyo dengan raut wajah kesalnya.

“Ini pertanyaanmu?” tanya Rin Hyo balik seraya tertawa geli karena tingkah kekanakan kekasihnya itu. Sedangkan Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya kuat.

“Karena aku telah mengetahui segala hal tentang dirimu, jadi untuk apa aku menanyakan hal yang telah kuketahui dengan pasti,” jawab Rin Hyo seraya terkekeh bersama Ji Eun. Kyuhyun pun juga ikut tertawa bersama mereka namun tidak dengan Kikwang. Pria itu masih saja bergeming dan memaku tatapannya pada gadis yang tengah tertawa di sampingnya.

———

To be Continued

Advertisements

10 thoughts on “It’s You 4

  1. susah yaa kalo sahabat suka sama sahabatnya sendiri … apa lagi kalo yang satu gak suka
    tapii kan ini mereka berdua sama sama suka jadian aja siih

    atau jangan jangan mereka mau di jodohinn lagi ?

  2. Aduhh, geregetan sama mereka berdua!
    Udah sih, mereka pacaran aja, terus kikwang bilang ke ortu-nya kalo kikwang cuma mau sama jieun..
    Lalu jieun putusin ilwoo, selesai deh masalah, hihihi..
    Andai sesederhana itu..
    Kikwang, pertahankan jieun oke! Fighting!

  3. pengen nya sihh cwek yg d jodohin ma kikwang tu ji eun….. 🙂

    pasangan kyu ma hyo…. adem ayem ja ya pedahal kyu datar’y minta ampyuuuunn 😀

  4. Ahhhh,,,dsarrr pasangan anehh,,,knpp gg bersatu za coba,,,batalin perjodohan,,tinggalin ill wo bress kn,,,hhahha tu sich maunya akuu x,,,mkinn seruu critanyaa de bella,,,daebakk,,,

  5. kenapa jadi sulit begini masalahnya..
    Kasihan kikwang.. Dia benar2 mencintai ji eun, tp ji eun tdk mau berjuang untk mempertahankan cintan mereka, cuma2 gara2 perjodohan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s