It’s You 5

image

Author: Bella Eka
A/N: Hai 🙂 komentar kalian sangat dibutuhkan, hehehe. Please jangan jadi silent reader yaa. No copas! Happy read ^^

———

“Apakah kau mencintainya?”

Aigoo, kenapa kau terus saja menanyakan tentang hal ini? Sudahlah Kikwang-ah, permainannya telah selesai,” Ji Eun mengeratkan tas ranselnya dan semakin mempercepat langkahnya meninggalkan Kikwang bersama rasa penasarannya.

“Kenapa kau sulit sekali hanya untuk menjawab pertanyaanku? Ini diluar permainan itu, aku menanyakan hal ini secara pribadi padamu,” gadis itu menghentikan langkahnya kemudian membalikkan tubuhnya secara tiba-tiba hingga Kikwang hampir saja menabraknya.

“Kau ingin jawaban apa dariku?”

“Jawaban yang berasal dari lubuk hatimu yang paaaaling dalam,” Shin Ji Eun menarik nafasnya hingga paru-parunya terasa penuh kemudian menghembuskannya pelan.

“Ya,” jawabnya pelan.

“Kau bohong.”

“Aku hanya menuruti permintaanmu, jadi sekarang apa lagi yang kau inginkan?”

Kikwang mengepalkan kedua tangannya seraya mengulas senyuman miringnya yang terkesan miris.

“Baiklah kalau begitu. Pasti kau pulang bersama Ilwoo, kan? Aku akan pulang duluan. Selamat tinggal,” ucap Kikwang dalam sekali tarikan nafas kemudian segera berbalik dan beranjak meninggalkan Ji Eun berdiri seorang diri.

Apakah dia akan benar-benar pergi? Bahkan dia tak pernah mengucapkan selamat tinggal sekalipun padaku sebelumnya.

Shin Ji Eun menatap nanar punggung Kikwang yang semakin menjauh darinya. Sebenarnya ia menunggu pria itu sekedar untuk menatapnya kembali disela-sela langkahnya, namun nihil. Kikwang tetap berjalan lurus tanpa menghiraukan Ji Eun yang masih membatu di tempatnya.

Gadis itu mengeluarkan tangan kanan yang jari telunjuk dan tengahnya membentuk silang dari balik saku jas almamaternya. Tanda bahwa pernyataan yang ia lontarkan tadi bukanlah sebuah kebenaran. Ji Eun menatap miris kedua jari itu kemudian ia mulai membalikkan tubuhnya kembali dan beranjak dari tempatnya.

“Ji Eun-ah!” Ji Eun tersenyum lega mendengar kembali suara itu kemudian menolehkan kepalanya menuju kearah sumber suara yang memanggil namanya dan menemukan Kikwang yang tengah berlari kecil menghampirinya.

Mwo?” tanya Ji Eun dengan memasang wajah datarnya kembali.

“Aku hampir lupa memberitahukannya padamu, tadi orang tuaku mengatakan bahwa aku akan dipertemukan dengan gadis yang dijodohkan denganku besok. Dan mereka mengundangmu untuk ikut serta dalam pertemuan itu,” ucap Kikwang cepat.

Shin Ji Eun hanya bergeming, menatap Kikwang nanar tanpa berkedip. Ia mencoba menyadarkan dirinya sendiri namun tak mampu. Pikirannya menjadi kalut secara mendadak, kedua kaki dan tangannya sontak melemas hingga gemetaran.

“Bisakah kau menghadirinya?” nada suara Kikwang melemah, menyadari perubahan raut wajah sahabatnya secara drastis, “Tak apa jika kau tak menghadirinya, aku akan mengatakannya kepada eomma dan appa. Sebenarnya pertemuan itu tidak begitu penting.”

“Tidak, aku akan menghadirinya,” ucap Ji Eun bersamaan dengan senyuman tipis yang terkesan dipaksakan terukir di bibirnya.

“Jangan terlalu memaksakan diri, Shin Ji Eun.”

“Siapa yang memaksakan diri? Terimakasih telah mengundangku. Itu adalah pertemuan yang penting. Aku penasaran dengan gadis yang akan menjadi pendamping hidupmu, semoga dia dapat bertahan dengan kebodohan dan sifat keras kepalamu,” suara gadis itu mulai terdengar gemetar kemudian ia membalikkan tubuhnya dan beranjak meninggalkan Kikwang.

“Ji Eun-ah!” Kikwang segera merengkuh tubuh Ji Eun yang hampir saja terjatuh. Kedua kaki gadis itu seakan terlalu rapuh hingga tak sanggup lagi menahan beban tubuhnya sendiri.

“Biar kuantar kau pulang.”

“Tidak perlu, lepaskan aku,” Ji Eun melepas rengkuhan tangan Kikwang dengan lemah kemudian kembali melanjutkan langkahnya.

“Shin Ji Eun!” panggil Kikwang lagi namun Ji Eun hanya mengangkat tangan kanannya ke udara seraya melambai-lambaikannya, mengisyaratkan bahwa ia tidak apa-apa. Kikwang hanya dapat menghela nafas beratnya dan menatap nanar Ji Eun yang mulai dihampiri oleh Ilwoo.

***

Shin Ji Eun menatap kosong jalanan yang berada di depannya. Air mata beningnya terus mengalir deras di kedua pipinya, dengan sesekali isakan yang tertahan karena ia menggigit bibir bawahnya kuat.

Ilwoo yang sedang sibuk menyetir pun sesekali mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih saja terdiam di sampingnya dan semakin mengeratkan genggamannya pada gadis itu. Shin Ji Eun sama sekali tak menjelaskan padanya penyebab mengapa ia menangis hingga saat ini.

Ilwoo mendesah gusar kemudian segera menepikan dan menghentikan mobilnya. Ia tak tahan dengan keadaan gadisnya saat ini hingga hampir membuatnya frustasi.

“Siapa yang telah membuatmu seperti ini? Katakan siapa dia?” ucap Ilwoo pelan seraya menyeka air mata Ji Eun lembut. Namun gadis itu hanya menggelengkan kepalanya lemah dan tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia telah berani melukaimu?” Shin Ji Eun tak kunjung menjawab Ilwoo yang khawatir setengah mati akan keadaannya. Akhirnya pria itu pun hanya dapat merengkuh Ji Eun ke dalam pelukannya, mencoba memberikan ketenangan pada gadis itu.

Shin Ji Eun menyentuh dadanya dalam pelukan Ilwoo, perasaan sakit dalam hatinya tak tertahankan lagi dan air matanya semakin kuat menerjang pelupuk matanya.

***

Lee Kikwang melempar tas ranselnya ke sembarang tempat kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamunya. Tak lama kemudian Nyonya Lee menghampirinya dan mengambil ransel yang tergeletak di sudut ruang tamu lalu meletakkannya di meja.

“Apa kau sudah menyampaikannya?”

“Sudah,” jawab Kikwang singkat seraya memejamkan kedua matanya.

“Baguslah kalau begitu,” ucap Nyonya Lee lagi seraya beranjak meninggalkan Kikwang.

“Kenapa eomma harus mengundangnya untuk menghadiri pertemuan itu?”

“Tidakkah itu adalah hal yang baik jika sahabatmu mengetahui seseorang yang akan dijodohkan denganmu?”

“Tapi—“

“Apa kau menyukainya?” goda Nyonya Lee sembari kembali menghampiri Kikwang.

“Bahkan lebih dari itu, sepertinya aku akan gila!” Nyonya Lee terkekeh melihat tingkah anak sulungnya yang seakan benar-benar sedang jatuh cinta.

“Bukankah Ji Eun telah memiliki kekasih?” Kikwang hanya terdiam dan tak menanggapi pertanyaan ibunya.

Eomma dan appa yakin bahwa gadis yang telah kami pilihkan adalah yang terbaik untukmu, Kikwang-ah.”

“Bagaimana bisa aku menerimanya sebagai pendamping hidupku sementara aku telah mencintai orang lain?”

“Semuanya akan berjalan seiring berlalunya waktu, jadi bersabarlah,” Kikwang memutar bola matanya jengah. Ia tak habis pikir bagaimana bisa ibunya sendiri mengatakan hal itu dengan mudahnya.

“Maka jangan salahkan aku jika gadis yang telah dijodohkan denganku itu tidak merasa bahagia bersamaku,” gumam Kikwang yang hanya dibalas senyuman tipis oleh ibunya.

***

Shin Ji Eun menatap nanar sebuah cermin pada meja rias dalam kamar yang berada tepat di depannya, cermin itu menampakkan seorang gadis dengan wajah kusutnya serta kedua mata sembap dan bengkak. Ji Eun mencoba mengulas senyuman tipis pada wajah itu namun kemudian menghapusnya kembali karena hal itu membuat dirinya terlihat rapuh dan semakin menyedihkan.

Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar lalu memejamkan matanya. Hanya ada bayangan Kikwang yang berada di pikirannya, Kikwang yang tengah mengenakan pakaian tuxedo berwarna hitam serta senyuman khasnya yang terpantri di wajahnya, tanpa sadar seulas senyuman manis terukir pula di bibir Ji Eun.

Namun tak lama kemudian, senyuman itu kembali sirna. Setetes air mata Ji Eun kembali mengalir ketika mendapati seorang gadis yang mengaitkan lengannya pada sahabat yang terlalu disayanginya itu dalam khayalannya sendiri.

“Khayalanmu terlalu berlebihan, Shin Ji Eun!” gumamnya menyadarkan dirinya sendiri seiring kedua matanya yang perlahan membuka.

“Besok aku akan bertemu denganmu. Kau adalah gadis beruntung yang dapat mendapatkan Kikwang sebagai pendamping hidupmu. Siapapun kau, tolong jaga Lee Kikwang dengan baik,” ucapnya lirih seraya tersenyum tulus pada pantulan bayangannya sendiri.

“Ah, tidak. Kupikir kau adalah gadis yang malang karena mendapatkan pria kekanakan dan paling bodoh sedunia yang tiada tandingannya sepertinya, kumohon dampingilah bocah itu dengan sabar,” lanjutnya bersamaan dengan berubahnya ketulusan senyuman itu berganti dengan kemirisan yang tersirat di dalamnya.

***

Shin Ji Eun berjalan seperti biasa melewati sepanjang koridor sekolah. Kedua matanya telah kembali seperti biasa walaupun masih terlihat sembap jika diperhatikan lekat-lekat. Ji Eun menghentikan langkahnya ketika mendapati seorang pria yang melambaikan tangannya tengah berjalan dari arah yang berlawanan darinya dan menghampirinya. Tanpa sadar Ji Eun pun mengikuti gerakan tangan pria itu.

“Kau berangkat bersama Ilwoo?” tanya pria itu seraya menyamakan langkahnya beriringan di samping Ji Eun. Gadis itu pun hanya menganggukkan kepalanya membenarkan.

Di sepanjang mereka berjalan, tatapan tajam yang sarat dengan iri dan kebencian datang bertubi-tubi pada Ji Eun. Gadis itu pun hanya memutar bola matanya malas seraya mengeratkan ranselnya dan melangkahkan kakinya lebih cepat.

Sedangkan pria yang berada disampingnya terlihat sibuk membalas sapaan para gadis yang menatapnya penuh kekaguman dan memekik tertahan di setiap langkahnya. Memang pria itu adalah seseorang yang ramah, sangat ramah hingga tak jarang gadis-gadis yang mendambanya berpikiran yang berlebihan terhadapnya.

“Kenapa mereka selalu memanggilku oppa? Padahal mereka berada di usia yang sama denganku. Bahkan noona-noona itu pun juga memanggilku seperti itu,” gumam pria itu seraya kembali menyamakan langkahnya di samping Ji Eun setelah ia tertinggal lumayan jauh karena terhadang oleh gadis-gadis yang memiliki kepercayaan diri berlebih padanya. Ya, kepercayaan diri yang berlebih karena memiliki keberanian untuk memberikan hadiah mereka secara langsung, tak seperti yang lainnya yang hanya menyusupkannya ke dalam loker Kikwang.

“Mungkin karena kau memiliki wajah yang terlihat lebih tua dibandingkan mereka,” ucap Ji Eun asal yang telah kesal karena mendapat tatapan-tatapan membunuh yang selalu dibencinya setiap ia dan sahabatnya itu berjalan bersama. Mendengar itu, Kikwang memiting leher Ji Eun hingga gadis itu memekik kesakitan, walaupun sebenarnya tidak sakit.

“Ya! Kau ingin tubuhku hanya tertinggal tulang belulang karena dimakan oleh mereka? Lepaskan aku!” tanpa mengindahkan perkataan Ji Eun, Kikwang semakin mengeratkan lengannya hingga wajah mereka semakin berdekatan.
“Ji Eun-ah!” panggil Kikwang yang membuat Ji Eun sontak menatapnya.

“Kenapa kedua matamu terlihat sembap?” Ji Eun tak menjawab pertanyaan itu namun segera melepas kaitan lengan Kikwang paksa sebelum meninggalkan pria itu ditempatnya.

“Apakah semalam kau menangis?” tanya Kikwang polos setelah meletakkan ranselnya dan mendudukkan dirinya di bangku miliknya dalam kelas seperti biasa.

Sial! Padahal aku telah mengompresnya dengan es semalaman tapi kenapa dia masih mampu menyadarinya?

“Apa yang sedang kau bicarakan? Untuk apa aku menangis semalaman? Konyol sekali. Ya! Jangan menatapku seperti itu!” pekiknya ketika Kikwang menyanggah kepalanya dan menatapnya lekat.

“Tapi aku dapat melihatnya, Ji Eun-ah. Siapa yang telah membuatmu menangis sepanjang malam seperti ini?”

Kau, bodoh! Kau!

Shin Ji Eun hanya mendengus kasar, memikirkan alibi apa yang mungkin dapat bekerja dalam situasi ini. Karena jika ia tak menjawab pertanyaan Kikwang, maka pria itu akan menanyakan tentang hal yang sama sepanjang hari padanya. Kebiasaan buruknya yang sungguh kekanakan.

“Kemarin malam aku menonton sebuah film yang menyedihkan, dan aku lupa untuk mencuci muka sebelum tidur. Dan akhirnya terbentuklah ini,” jelasnya seraya menunjuk kedua matanya yang sembap.

“Kau pasti berbohong.”

“Terserahmu!”

“Mungkinkah karena aku?” Kikwang menatap nanar Ji Eun, kejadian kemarin datang secara tiba-tiba dalam benaknya. Kejadian saat Ji Eun terlihat sangat rapuh setelah ia memberitahukannya tentang pertemuan itu.

“Karena pertemuan itu?” tanyanya lagi ketika tak kunjung mendapatkan respon dari gadis yang hanya menatap kosong lurus ke depan.

“Apakah menurutmu aku selemah itu?” tanya Ji Eun balik seraya tersenyum miring, masih dalam posisi yang sama karena ia tak sanggup untuk sekedar menatap ujung rambut sahabatnya itu. Ia tak mau terlihat menyedihkan di depan pria yang dicintainya.

“Aku mencintaimu,” ucap Kikwang tiba-tiba.

“Kau tak seharusnya memiliki perasaan itu padaku, jadi hentikanlah,” titah Ji Eun dingin tanpa menatap Kikwang.

“Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau bersikap seolah-olah kau tak mencintaiku? Bukankah waktu itu kau mengatakan jika kau juga—“

“Berhentilah mencintaiku, simpanlah cintamu itu untuk gadis yang telah dijodohkan denganmu nanti,” sela Ji Eun seraya mengalihkan tatapannya pada Kikwang, ia menatap kedua manic mata pria itu dalam.

“Tidak bisa, aku tidak bisa. Tak akan pernah, tidak akan,” racau Kikwang seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Terserah saja. Omo! Hampir saja aku melupakan sesuatu,” Shin Ji Eun menepuk dahinya seakan teringat sesuatu yang sangat penting, sedangkan Kikwang hanya mengerutkan dahinya tak mengerti, “Apa?” tanyanya kemudian.

“Pulang sekolah nanti kau harus pergi bersamaku!”

Wae?!”

“Lihat saja nanti.”

***

Shin Ji Eun terlihat sibuk menyapukan pandangannya memeriksa isi butik hingga ke detail terkecil. Tak lupa dengan genggaman tangannya pada Kikwang yang tak terlepas sekalipun. Kikwang yang tak mengerti alasan apa yang membuat mereka harus berada di sini hanya melangkahkan kakinya pasrah mengikuti kemanapun gadis itu pergi.

Ji Eun terus mengukir kerutan di dahinya tanpa henti,begitupun Kikwang yang terus saja mengoceh khawatir jika kerutan itu akan membekas namun hanya mendapatkan ucapan tajam “Diamlah!” dari gadis itu.

Ji Eun melebarkan kedua matanya hingga tanpa sadar mulutnya pun ikut sedikit terbuka ketika mendapatkan sesuatu yang ia cari, ia segera melangkahkan kakinya lebih cepat menghampiri sesuatu itu yang tentu saja diikuti langkah Kikwang di belakangnya.

“Sempurna!” ucapnya seraya menempelkan sebuah kemeja merah pada tubuh atletis Kikwang.

“Apa yang kau lakukan? Aku tidak membutuhkan ini,” Kikwang mengambil kemeja itu dari tangan Ji Eun kemudian meletakkannya kembali pada tempat semula.

“Sudahlah, menurut saja padaku. Pasti kau akan sangat tampan jika memakai ini. Rin Hyo-ah! Lihat ini! Cocok kan?” pekik Ji Eun seraya menempelkan kemeja itu pada tubuh Kikwang lagi guna memperlihatkannya pada Rin Hyo yang berada agak jauh dari tempat mereka berdua.

“Terbaik!” jawab Rin Hyo sembari mengacungkan kedua ibu jarinya kemudian kembali menyibukkan dirinya yang tengah memilah serta memilih baju yang mungkin saja dapat mencuri hatinya, tentu saja bersama Kyuhyun yang setia di sampingnya dengan raut wajah jengahnya.

“Kenapa kau melakukan semua ini? Aku tak membutuhkan kemeja ini, Ji Eun-ah. Sungguh!” rajuk Kikwang seraya melepaskan tautan tangannya pada Ji Eun.

“Aku hanya ingin membuatmu terlihat keren dan berwibawa ketika kau menghadiri pertemuan pertamamu dengan gadis itu nanti, aku ingin membuat kesan yang baik bagi keluarga kalian,” jawab Ji Eun seraya menatap pria di hadapannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Bodoh sekali! Bagaimana bisa seorang Shin Ji Eun melakukan hal sebodoh dan tak berguna semacam ini? Bukankah sangat beruntung jika mereka memiliki kesan yang buruk terhadapku? Dengan begitu terbuka kemungkinan bahwa perjodohan itu bisa saja dibatalkan. Aku sama sekali tidak menginginkan perjodohan itu, Ji Eun. Kau tahu itu, kan?” tatapan Ji Eun yang semula lembut berubah tajam mengerikan dalam sekejap, menatap Kikwang yang tengah menatapnya nanar.

“Kau yang bodoh! Apa kau tak memikirkan kedua orang tuamu? Mereka telah berusaha memilihkan seorang gadis yang terbaik untukmu sedangkan kau menolaknya mentah-mentah begitu saja? Sebegitu tak percayakah kau pada kedua orang tuamu? Mereka sangat tulus dan selalu menginginkan yang terbaik untukmu, Kikwang-ah! Aku mempercayai mereka maka dari itu aku melakukan semua ini untukmu,” Kikwang terdiam, terperangah sejenak mendengar deretan kalimat yang terlontar begitu saja dari mulut Ji Eun.

Gadis itu meletakkan telapak tangan kanannya di dadanya, berusaha mengendalikan deru nafasnya yang memburu dan meredam segala bentuk emosi yang tengah melanda dirinya.

“Bukan itu maksudku, aku—“

“Sudahlah lupakan saja, urus saja kepentinganmu sendiri. Aku tak akan mencampuri urusanmu dengan melakukan hal yang menurutmu bodoh dan tak berguna lagi,” ucap Ji Eun seiring nada bicaranya yang mulai merendah namun tajam.

“Ada apa dengan kalian?” tanya Kyuhyun yang baru saja datang menghampiri mereka bersama Rin Hyo.

“Kalian, bertengkar lagi?” susul Rin Hyo.

“Kau sudah mendapatkan apa yang kau cari?” Rin Hyo menatap tajam Kikwang yang masih memaku tatapan nanarnya pada Ji Eun, seakan mengerti apa yang baru saja terjadi ketika Ji Eun mengalihkan topik pembicaraan mereka.

“Tidak, tidak ada yang membuatku tertarik,” jawab Rin Hyo kemudian.

“Ayo kita pulang,” ajak Ji Eun pada Rin Hyo dan Kyuhyun kemudian segera beranjak dari tempatnya seraya menggandeng tangan Rin Hyo meninggalkan Kikwang. Namun dengan sigap Kikwang meraih kembali sebelah tangan Ji Eun sehingga gadis itu tak dapat melanjutkan langkahnya.

“Apa lagi?!” tanya gadis itu tajam tanpa sudi menatap pria di belakangnya.

“Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu. Tapi aku ingin kau menuruti keinginanku juga,” Ji Eun segera menolehkan kepalanya menatap pria yang tengah menatapnya dengan senyuman manis favoritnya.

***

Lee Kikwang dan Shin Ji Eun mulai melangkahkan kakinya memasuki salah satu private room pada restoran bintang lima dimana kedua orang tua Kikwang telah duduk manis menunggu. Terdapat sebuah meja besar berbentuk lingkaran dengan 8 kursi yang mengitari sepanjang meja itu.

Tuan dan Nyonya Lee tersenyum manis menyambut kedatangan putranya bersama sahabatnya. Kikwang dan Ji Eun lebih terlihat seperti sepasang kekasih dibandingkan sepasang sahabat karena mengenakan pakaian dengan warna senada, terlebih Ji Eun yang mengaitkan lengannya pada pria disampingnya itu.

Kikwang dengan kemeja merah serta dasi dan celana panjang berwarna hitam, sedangkan Ji Eun mengenakan dress merah selutut serta hiasan yang menyerupai sabuk di pinggangnya yang berwarna senada dengan high heels nya yang berwarna hitam. Tak lupa rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai bebas.

Ya, itu adalah syarat yang diberikan Kikwang untuk menuruti permintaan Ji Eun. Termasuk high heels yang terpaksa Ji Eun kenakan mengingat gadis itu tak terbiasa memakai benda semacam itu. Karena dengan begitu, ia harus mengaitkan lengannya pada Kikwang agar tak terlihat memalukan jika terjatuh. Licik sekali bukan? Namun walaupun begitu, gadis itu pandai menyembunyikan kelemahannya sehingga ia terlihat seakan lihai dan nyaman menggunakan sepatu itu.

Annyeong haseyo,” sapa Ji Eun ramah seraya menundukkan kepalanya sopan.

“Mereka belum datang?” tanya Kikwang seraya menarik sebuah kursi dari tempatnya yang berada di samping ibunya kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Ji Eun duduk dengan hati-hati. Menyedihkan sekali melihat gadis itu kesulitan sekedar untuk melakukan hal sekecil itu. Setelah Ji Eun terlihat nyaman, Kikwang menarik kursi di samping gadis itu kemudian menghempaskan tubuhnya duduk disana.

“Belum, untung saja kalian tidak terlambat,” jawab Tuan Lee.

“Ini untuk kami?” Nyonya Lee mengangguk ketika Kikwang menunjuk dua gelas orange juice yang masih utuh diatas meja itu. Lalu Kikwang menggerakkan tangannya mengambil salah satu dari gelas itu dan meletakkannya tepat di depan Ji Eun sebelum ia meneguk orange juice dalam gelas lainnya.

30 menit telah berlalu namun keluarga dari pihak wanita tak kunjung datang. Shin Ji Eun mulai gusar di atas tempat duduknya seraya menghembuskan nafasnya bosan seraya menatap Kikwang seakan mengatakan, “Sampai kapan kita harus berada di sini?” Kikwang hanya mengulas senyumannya seraya menata poni panjang Ji Eun yang sedikit berantakan karena gadis itu terlalu banyak bergerak yang membuat debar jantung Ji Eun berdetak lebih cepat hingga gadis itu hanya mampu terdiam membatu.

“Mereka lama sekali. Haruskah perjodohan ini dibatalkan saja?” tanya Kikwang enteng yang disambut cubitan kecil namun menyakitkan dari Ji Eun di lengannya, “Aww!!” pekiknya kemudian. Nyonya Lee hanya terkekeh menyaksikan tingkah konyol Ji Eun dan Kikwang.

“Mereka terjebak macet. Tunggu dan bersabarlah sebentar lagi,” ucap Tuan Lee meyakinkan.

Krucuk Krucuk

Ji Eun melebarkan matanya ketika perutnya meraung tiba-tiba. Keluarga Lee sontak meledakkan tawanya tak terkendali sedangkan Ji Eun tersipu malu hingga kedua pipinya memerah. Sungguh sangat memalukan.

Ketika mereka tengah tertawa bersama, terdengar suara pintu terbuka yang membuat kekehan mereka terhenti seketika. Tubuh Ji Eun dan Kikwang berjengit ketika menyadari siapa yang datang dari balik pintu itu.

Eomma? Appa?”

“Wah, kalian sudah datang. Maaf kami terlambat karena suamiku ada rapat sebentar kemudian entah mengapa jalanan sangat macet hari ini,” ucap Nyonya Shin seraya menghampiri Nyonya Lee kemudian bersalaman seraya menempelkan kedua pipi mereka bergantian, disusul oleh Tuan Shin yang hanya mengulurkan tangannya dan bersalaman seperti biasa tanpa menghiraukan Ji Eun dan Kikwang yang menatap kedua orang tua mereka tak mengerti.

“Apa yang eomma dan appa lakukan disini?” tanya Ji Eun tak sabar karena tidak juga mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Berbeda dengan Kikwang yang menatap kedua orang tua mereka bergantian kemudian mulai mengembangkan senyuman lebarnya ketika menyadari sesuatu.

Omo, apakah kami dilarang memasuki tempat ini?” canda Nyonya Shin yang disambut kekehan semua orang dalam ruangan itu, kecuali Shin Ji Eun.

“Ya! Kenapa kadar kepekaanmu rendah sekali? Kau masih juga belum mengerti?” Shin Ji Eun menggelengkan kepalanya polos menanggapi ejekan Kikwang, gadis itu benar-benar buta akan apa yang tengah terjadi saat ini.

“Apakah eomma dan appa penasaran dengan gadis yang akan dijodohkan dengan Kikwang?”

“Ya, sangat penasaran. Tapi tidak lagi karena kami sedang bertemu dengannya,” ujar Tuan Shin seraya mengukir senyuman di wajahnya.

Mwo? Jadi? Aku? Omo! Kikwang-ah, ayo kita pergi dari sini!” pekik Ji Eun seraya menarik tangan Kikwang yang menatapnya tak mengerti.

“Kemana?”

“Ya! Sadarlah! Kita telah dibodohi. Astaga, aku tidak percaya ini. Kita telah mengkhawatirkan, memikirkan, menangisi hal yang tak perlu kita khawatirkan. Eomma, appa, Tuan Lee, Nyonya Lee, bagaimana bisa kalian melakukan hal ini pada kami?” lontar Ji Eun frustasi. Orang tua Kikwang maupun Ji Eun sontak melebarkan kedua mata mereka bersamaan ketika mendengar kata menangisi yang terlontar begitu saja dari mulut gadis itu.

“Ji Eun-ah, sudahlah. Kau tak perlu memikirkan hal itu, yang terpenting sekarang adalah kau dan aku. Kau adalah gadis yang telah diyakini terbaik untukku oleh orang tuaku, aku sangat bersyukur karena ternyata gadis itu adalah kau,” ucap Kikwang seraya memeluk erat Ji Eun, hingga gadis itu yang semula begitu terkejut segera meleleh dan mengulas senyuman manisnya serta membalas pelukan Kikwang.

Aigoo, bahkan kalian mengenakan couple stuff?” Ji Eun dan Kikwang hanya terkekeh kecil menanggapi pertanyaan Nyonya Shin. Namun senyuman gadis itu segera sirna bersamaan saat ia mengatakan “Tapi, Ilwoo oppa?”

———

To be Continued

Advertisements

19 thoughts on “It’s You 5

  1. Akhirnya ternyata mereka yang dijodohin..
    Haha, setuju lah ama orang tua mereka..
    Oh iya aku juga baru inget, ilwoo gimana??
    Pasti hatinya bakalan sakit nih, padahal dia baik bgt.. 😦
    ilwoo, yang sabar ya..

  2. Ahhhh ternyata mreka d bodohi,,,”Ǚϑɑ̤̥̈̊ħ deg”an za kira’n bner kikwang mau d jodohin,,,ternyata bner d jodohin ma jieun,,,hhahha,,,bner” tak terdugaa,,,
    Ahh iyaa bella,,,maaf d part 4 kk gg bisa coment,,,udh d coba brp x eror mulu,,,gg tau knpp,,,

  3. oh ternyata yg dijodohkan kikwang itu ji eun,
    lucu juga pertemuan keluarganya..
    Haduh knpa ji eun malah mikirin il woo?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s