Moonlight 3

image

Author: Bella Eka
A/N: Hai 🙂 Please jangan jadi silent reader yaa, karena setiap komentar kalian adalah penyemangat buatku untuk melanjutkan FF ini. No copas! No bash! Happy read ^^

———

Shin Ji Eun sibuk menggerak-gerakkan lightstick berbentuk mawar berwarna abu-abu di udara seraya mengulas senyuman lebarnya tanpa henti. Sama seperti gadis-gadis lain di sekitarnya yang juga berteriak histeris melihat keenam pria tampan yang tengah berada di atas panggung.

Begitu juga Sam Rin Hyo yang berada di samping Ji Eun, gadis itu juga melakukan hal yang sama namun tanpa membawa lightstick sambil meneriakkan nama ‘Son Dong Woon’. Ya, walaupun ia telah memiliki Kyuhyun Super Junior, namun ia tak dapat menyembunyikan kekagumannya pada maknae B2ST, Dongwoon.

“Ji Eun-ah! Kemarin aku bertemu seseorang yang sangat mirip seperti Minseok!” pekik Rin Hyo di tengah kegaduhan suara dalam gedung itu.

“Mwo?” tanya Ji Eun tanpa mengalihkan pandangannya pada Kikwang.

“Minggu lalu aku bertemu seseorang yang mirip Minseok!” ulang Rin Hyo dengan berteriak sekuat tenaganya.

“Aaaaak Lee Kikwang! Kenapa dia memberikan setangkai mawar itu pada gadis lain? Aku ingin menjadi lucky fans seperti dia!” Rin Hyo hanya menghela nafas panjangnya ketika Ji Eun tak kunjung mendengar ucapannya karena terlalu fokus pada penampilan salah satu member yang baru saja resmi menjadi kekasihnya di atas panggung, dan tentu saja juga karena suasana yang memang tak mendukung.

***

“Tadi kau mengatakan apa, Rin Hyo-ah?” tanya Ji Eun sesampainya mereka di toilet wanita seusai acara konser tadi seraya membasuh tangannya di wastafel.

“Kemarin aku bertemu Minseok. Aku selalu lupa memberitahumu akan hal ini,” mendengar itu Ji Eun sontak melebarkan kedua matanya menatap Rin Hyo yang tengah menyisir rambut dengan jarinya di sampingnya.

“Benarkah? Dia baik-baik saja, kan?”

“Sebenarnya aku belum yakin apakah dia memang benar-benar Minseok. Karena aku hanya melihatnya sekilas saat mengintip boyband baru SM Entertainment yang akan debut, sebelum Kyuhyun menutup kembali pintunya dan tak mengijinkanku untuk melihatnya lagi,” jelas Rin Hyo seraya mengerucutkan bibirnya mengingat Kyuhyun yang tidak membolehkannya untuk memastikan pria yang mirip Minseok kemarin.

“Ah, sepertinya kau salah orang. Mungkin saja ia hanyalah pria yang memang mirip dengannya. Mana mungkin Minseok menjadi seorang member boyband? Sebagian besar waktunya ia habiskan hanya untuk belajar, belajar, dan belajar demi Universitas Seoul yang didambanya itu,” Ji Eun mengukir senyuman hambar di bibirnya, ia tak begitu yakin atas pernyataan yang baru saja ia ucapkan.

“Bahkan dia pasti sedang sibuk belajar saat ini,” lanjutnya seraya menatap nanar pantulan bayangannya pada cermin di depannya, tak dapat dipungkiri jika ia begitu mengkhawatirkan sahabatnya itu saat ini.

“Minseok pasti baik-baik saja Ji Eun-ah,” ucap Rin Hyo meyakinkan sembari mengaitkan lengannya merangkul Shin Ji Eun.

***

Shin Ji Eun menggerakkan telapak tangannya meraba tiap judul buku yang tersusun rapi di perpustakaan Seoul seraya mengerutkan dahinya. Bibirnya mengulas senyuman tipis ketika mendapati seorang pria dengan masker menutupi sebagian wajahnya yang dapat terlihat di sela-sela jajaran buku, pria yang tengah duduk di seberang rak itu terfokus pada buku komik di tangannya. Gadis itu segera menghampiri pria itu setelah mendapatkan buku yang dibutuhkannya.

“Seru sekali, ya?” ucap Ji Eun seraya mengintip isi komik pria bermasker itu.

“Kau sudah menemukannya?”

“Tentu saja,” Ji Eun segera mengambil tempat di kursi seberang meja pria itu kemudian mengeluarkan alat tulisnya dari dalam ransel merahnya. Seminggu lagi adalah hari penentuan kelulusannya maka ia harus belajar dan berusaha keras mulai saat ini.

Hwaiting, Shin Ji Eun!”

Gomawo, Lee Kikwang!” Shin Ji Eun turut mengepalkan tangan kirinya ke udara seraya tersenyum manis saat mendapatkan eye smile milik Kikwang sedangkan tangan kanannya telah dimiliki oleh sebuah pensil dalam genggamannya.

Ji Eun mulai memeriksa isi buku itu dan mencari-cari sesuatu yang dapat ia kerjakan. Setelah dapat, ia segera menyelesaikan soal-soal itu menggunakan bekal berbagai rumus matematika yang telah bersarang di otaknya. Di tengah ia melakukan kegiatannya, bola matanya tertarik kearah kiri secara tiba-tiba seakan teringat akan sesuatu.

Minseok-ah, seandainya kau berada disini. Apakah kau juga sedang berusaha keras untuk menghadapi ujian minggu depan? Kau pasti dapat melewatinya dengan mudah, tidak sepertiku. Seoul University telah berada di depan mata, semoga kau berhasil menggapai harapanmu selama ini, Kim Min Seok.

Shin Ji Eun mengalihkan tatapannya pada Kikwang yang menenggelamkan wajahnya diantara lipatan kedua tangannya diatas meja dengan kedua mata terpejam erat. Gadis itu kembali mengulas senyumannya menatap pria yang tengah terlelap itu.

“Beginilah jadinya jika kau memaksakan diri untuk menemaniku hari ini, dasar pria keras kepala,” gumamnya seraya terkekeh kecil kemudian kembali memfokuskan perhatiannya pada buku pelajarannya. Namun tak lama kemudian ia kembali menatap Kikwang sejenak lalu mengeluarkan ponselnya. Membuka masker yang menutupi wajah pria itu perlahan dan mengambil sebuah foto Kikwang untuk ia abadikan sebelum ia mengembalikan letak masker itu.

“Foto Kikwang yang sedang tertidur di dalam perpustakaan telah terungkap,” gumamnya seraya tersenyum manis, “Sepertinya ini akan menjad topik hangat di kalangan para B2UTY besok.”

***

1 minggu kemudian

Shin Ji Eun hanya menggeliat kecil ketika seseorang membangunkannya dari tidur singkatnya. Ia tidur terlalu larut semalam karena sibuk belajar untuk ujian penentu nasib keesokan harinya.

“Shin Ji Eun, sadarlah! Cepat bangun atau kau akan menyesal selamanya!” pekik Kikwang seraya menyingkap selimut yang membalut tubuh Ji Eun hangat.

“Sebentar, sebentar saja, hanya 5 menit,” gumam gadis itu dengan suara khasnya yang parau ketika bangun tidur.

Mwoya?! Kau sudah terlambat 10 menit dan masih meminta waktu ekstra?! Cepat bangun!” teriak Kikwang yang kali ini dengan menggoncang-goncangkan tubuh gadis yang bahkan nyawanya belum genap penuh.

“Apa katamu? Kenapa kau tidak bilang dari tadi?! Mati kau, Shin Ji Eun!” racau Ji Eun panik kemudian segera beranjak dari tidurnya dan menyahut sebuah handuk yang berada di tangan Kikwang lalu berjalan tergesa menuju kamar mandi. Hingga ia tak menyadari Kikwang yang tersenyum jahil di belakangnya.

Kikwang berusaha membantu Nyonya Shin menyiapkan sarapan  di meja makan. Ia mengangkat panci besar berisi samgyetang yang masih panas dari kompor dan memindahkannya ke meja dapur.

Kikwang telah meluangkan waktu dari jadwalnya yang sangat padat demi hari yang sangat penting bagi kekasihnya hari ini. Karena itu ia telah berada di rumah Ji Eun sejak jam 5 pagi, padahal ia baru saja menyelesaikan jadwalnya pada pukul 2 dini hari tadi.

“Tumben sekali kau telah siap satu jam lebih awal, Ji Eun-ah. Kenapa tidak sejak dulu saja kau begitu?” sambut Nyonya Shin saat Ji Eun menuruni anak tangga dengan tergesa hingga rambutnya masih sangat berantakan. Kikwang hanya mengulum tawanya mendengarnya.

“Mwo? Satu jam lebih awal?” ulang Ji Eun tak mengerti kemudian memeriksa jam tangan di pergelangan tangan kirinya lalu sontak melebarkan kedua matanya dan menatap Kikwang tajam, “Lee Kikwang!” pekiknya.

“Kemarilah, aku akan merapikan rambutmu,” ucap Kikwang seraya terkekeh geli. Walaupun kenyataannya ialah yang berjalan menghampiri Ji Eun yang masih menatapnya kesal.

“Bukankah lebih baik seperti ini daripada terlambat di hari ujian kelulusan pertamamu?”

“Tapi kau telah mengatakan jika aku telah terlambat 10 menit tadi, hampir saja aku memutuskan untuk tidak mandi. Awas kau!” sekali lagi, Kikwang hanya mengulum tawanya ketika Ji Eun yang masih merasa dibodohi memukul-mukul dada pria itu.

“Pantas saja aku mencium bau tak sedap saat ini,” canda Kikwang yang disambut gigitan Ji Eun pada lengannya yang masih sibuk menata rambut lurus gadis itu.

Sarapan telah selesai, Shin Ji Eun dan Lee Kikwang segera beranjak berangkat ke sekolah. Namun ketika mereka telah sampai di depan pintu rumah, Ji Eun menghentikan langkahnya saat melihat seorang pria asing memakai baju serba hitam serta topi yang menutupi wajahnya meletakkan sepucuk surat di kotak surat pagar rumahnya.

Ia mengerutkan dahinya ketika sempat melakukan kontak mata dengan pria itu, namun pria asing itu semakin menutupi wajahnya dan segera beranjak pergi dengan melangkahkan kakinya tergesa.

“Siapa dia?” Ji Eun hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti karena ia tak dapat melihat wajahnya dengan jelas, “Tapi, sepertinya aku mengenalnya.” Pria itu segera memasuki sebuah mobil sedan yang berhenti tepat di belakangnya dan meluncur pergi saat Ji Eun mulai melangkahkan kaki ke arahnya, “Pria aneh,” gumamnya.

Ia mulai menghampiri kotak surat itu dan mengambil sepucuk surat dalam amplop berwarna putih di dalamnya. Kedua kelopak matanya sontak melebar bersamaan saat ia membaca isi dari surat itu.

Annyeong, Shin Ji Eun ^^

Kau akan melaksanakan ujian akhir hari ini, kan? Maaf aku tak dapat berada di sampingmu selama ini, bahkan saat hari sepenting ini. Kau harus melakukannya dengan baik! Kuharap kau masih mengingatku dan tak melupakanku. Terlalu banyak yang ingin kukatakan padamu hingga tak mampu kucurahkan pada kertas ini. Aku akan kembali, Ji Eun-ah. Tolong tunggu aku dengan sabar. Saranghae

“Minseok?”

***

Kim Min Seok membuka topi dan masker penyamarannya kemudian menatap pantulan bayangan gadis yang sedang berdiri jauh di belakang mobil yang tengah ia tumpangi melaui kaca spion. Ia menatap nanar gadis itu yang mulai memutar balik langkahnya.

Minseok sangat ingin menemui gadis itu secara langsung dan memeluknya erat mengingat betapa rindunya ia, namun apa daya peraturan ketat dalam agensinya tak memungkinkan baginya melakukan hal semacam itu. Selain itu, Minseok juga merasa belum siap untuk bertemu Ji Eun karena dapat dipastikan bahwa gadis itu akan menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana namun begitu sulit untuk ia katakan jawabannya.

Syukurlah keadaanmu terlihat begitu baik dan sepertinya Lee Kikwang selalu berada di sampingmu. Maka jangan lupakan aku, kumohon jangan.

“Gadis itu, kekasihmu?” tanya pria yang mengemudikan mobil itu seraya menatap Minseok yang duduk di sampingnya, pria itu adalah supir khusus SM Entertainment. Minseok tertawa hambar sebelum mengatakan, “Dia sahabatku.”

“Dan kau menyukainya?” cecar pria itu sembari mengalihkan pandangannya pada Minseok sekilas sebelum kembali memusatkannya pada jalanan. Hanya senyuman miris yang mampu terukir pada wajah Minseok tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Kenapa kau tak mengungkapkan perasaanmu saja padanya?”

“Masih ada sesuatu yang harus kulakukan. Lagipula, aku merasa belum pantas untuk bersanding dengannya.”

“Tenang saja, kau dapat mengutarakannya saat kau telah sukses nanti. Pasti dia akan menerimamu,” hibur pria itu seraya menepuk bahu Minseok.

“Kuharap juga begitu, terimakasih Park ahjussi.”

***

“Rin Hyo-ah, tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah aku mendapatkan sebuah surat misterius,” ucap Ji Eun menggebu setelah bertemu Rin Hyo setelah pelaksanaan ujian selesai.

Jinjja? Dari siapa?” Rin Hyo tak kalah menggebu dari Ji Eun, hingga ia menanyakannya dengan penuh semangat.

“Jadi begini, tadi saat aku baru saja keluar rumah bersama Kikwang, aku melihat seseorang misterius sedang memasukkan sebuah surat ke dalam kotak pos depan rumahku. Kau tahu sendiri kan letaknya dimana?”

“Sudahlah, itu tidak penting. Lalu?”

“Lalu, saat pandangan kami bertemu, dia segera melarikan diri. Dan anehnya, rasanya dia tak asing lagi bagiku,” jelas Ji Eun bersama kerutan terukir di dahinya dan pandangan matanya menerawang peristiwa aneh yang baru saja terjadi pagi tadi.

“Jangan-jangan, dia?” Rin Hyo membulatkan bola matanya sempurna seiring sebuah kesimpulan terlintas di benaknya.

“Benar! Aku juga berpikir bahwa dia adalah Minseok. Tapi, untuk apa dia memakai penyamaran seperti itu? Dan bukankah dia juga harus menjalani ujian akhir nasional yang sama seperti kita?” Rin Hyo manggut-manggut menyetujui segala perkiraan Ji Eun karena memiliki pemikiran yang sama dengannya.

“Tapi, kau ingat seseorang yang sangat mirip dengan Minseok saat kutemui di gedung agensi Kyuhyun? Jangan-jangan pria itu memang benar-benar dia? Maka dari itu ia harus melakukan penyamaran saat pergi keluar agensi, seperti Kyuhyun,” Ji Eun menganggukkan kepalanya namun tampak ragu. Ia berpikir bahwa terdapat kemungkinan bahwa ucapan Rin Hyo benar, namun hal itu menjadi tidak mungkin mengingat mimpi Minseok yang begitu menginginkan Universitas Seoul, mengingat prinsipnya yang begitu mengutamakan pendidikan.

“Entahlah, Rin Hyo-ah. Walaupun kita memikirkannya hingga rambut kita memutih pun tak akan menemukan jawabannya. Aku hanya dapat berharap yang terbaik untuknya,” Rin Hyo mengelus bahu Ji Eun yang tengah menatap lirih bangku kosong di sampingnya.

***

Ji Eun, Rin Hyo, bersama 2 orang pria bermasker dan berkacamata hitam tengah duduk berhadapan di kedai makanan pinggir jalan Namdaemun, Seoul. Hanya ada 2 hingga 3 orang lainnya termasuk pemilik kedai yang masih berada disana karena telah memasuki waktu tengah malam.

Kikwang dan Kyuhyun hanya mampu meneguk ludah hambar melihat Ji Eun dan Rin Hyo yang tengah sibuk menyantap beberapa tusuk odeng dan tteokbokki yang terhidang di meja mereka, kemudian beralih menatap semangkuk jjajangmyeon di hadapan mereka masing-masing penuh hasrat.

Tangan Kikwang reflek menahan mangkuknya saat diam-diam Ji Eun menggeser jjajangmyeon miliknya. Sementara gadis itu segera menepuk dan menyingkirkan tangan kekar yang menghambatnya.

“Ya! Itu milikku!” pekik Kikwang pelan sementara Ji Eun hanya menatapnya malas.

“Tapi kau tak akan memakannya, kan? Jadi berikan saja padaku.”

“Siapa bilang? Untuk apa aku memesannya jika tidak untuk kumakan?” sergah Kikwang tak mau kalah, lebih tepatnya tak mau kehilangan jjajangmyeon nya.

“Kita harus menunggu berapa jam lagi hanya untuk menunggu kalian makan, hah?!” Ji Eun menatap jengah 2 pria bermasker itu bergantian.

“Apakah kita harus melakukannya?” tanya Kikwang dengan tatapan serius pada Kyuhyun.

“Tapi, bagaimana jika mereka mengenali kita?”

“Aku tak tahan lagi, hyung,” ucap Kikwang dengan kedua mata yang mulai terlihat memelas namun segera berubah menampakkan binar eyesmile miliknya kemudian melepaskan segala alat penyamarannya. Ji Eun dan Rin Hyo pun tak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka akibat ulah Kikwang tiba-tiba.

“Kau yakin?”

“Lakukan saja sepertiku, hyung. Kita pasti aman,” ucap Kikwang penuh keyakinan seraya mulai menggerakkan sumpitnya menyantap helai demi helai jjajangmyeon nya yang menggoda.

Sementara Kyuhyun mengamati keadaan sekitar lalu menatap Rin Hyo yang juga tengah menatapnya, karena penasaran dengan apa yang akan Kyuhyun lakukan selanjutnya.

“Sial!” umpat Kyuhyun sembari mengikuti jejak Kikwang. Ji Eun dan Rin Hyo mengulum tawanya melihat tingkah konyol kekasih mereka.

Keadaan aman terkendali selama belum ada seorang pun yang menyadari keberadaan kedua bintang hallyu itu hingga—

“Apakah kursi ini kosong?” tanya seorang gadis yang baru saja memasuki kedai bertenda biru itu seraya menunjuk sebuah kursi di samping Kikwang.

Nde, pakai saja,” jawabnya mempersilahkan sehingga menolehkan kepalanya sedikit.

Omo! Kau Lee Kikwang B2St, kan? Astaga! Dan kau Cho Kyuhyun evil itu?” pekik gadis itu dengan kedua mata yang jelas terlihat terkejut setengah mati. Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya canggung sementara Kikwang mengulas senyuman manisnya, “Annyeong,” sapanya.

Tanpa menunggu lama, meja kecil itu dikerumuni oleh seluruh pengunjung dalam kedai itu dan menatap Kikwang dan Kyuhyun tak percaya.

“Apakah mereka berdua adalah kekasih kalian?” tanya gadis itu lagi seraya menelisik tajam Ji Eun dan Rin Hyo.

Omo! Aku baru sadar jika ternyata kalian benar-benar bintang terkenal itu! Kukira kalian hanya memiliki wajah yang mirip seperti mereka. Aigoo, aku sungguh tidak menyangka! Kikwang oppa, aku adalah penggemar beratmu!” Kikwang melebarkan kedua matanya karena reaksi Ji Eun tak terduga. Rin Hyo pun mengulum tawanya dalam diam.

“Ah, iya! Kim Yeon Ji, Kim Yeon Ji!” racau gadis tak dikenal itu dan segera menggeser-geser layar ponselnya gusar kemudian menempelkan ponsel itu pada telinga kanannya.

“Yeonji-ah, Lee Kikwang … Dia berada tepat di depanku sekarang! … Iya! Lee Kikwang suamimu itu! Lee Kikwang B2St!” tubuh Ji Eun berjengit seiring kedua matanya terbuka lebar hingga mulutnya ikut sedikit menganga.

“Kikwang oppa, maukah kau menerima telepon ini? Dia tidak akan percaya jika tidak mendengar suaramu secara langsung karena—“ kalimat gadis itu terhenti bersamaan saat Kikwang mengambil ponsel yang berada dalam genggamannya.

Yeoboseyo Yeonji-ah! Aku adalah Lee Kikwang B2ST, apakah kau mengenal suaraku?”

“Aaaaak! Kikwang oppa, kau benar-benar Lee Kikwang! Suamiku! Aku sangat mengenal suara suamiku!” suara dalam ponsel itu begitu memekakan telinga hingga Kikwang menjauhkan benda itu dari telinganya sejenak.

Nde, sudahkah kau mempercayai temanmu sekarang? Jangan tidur terlalu malam, sangat tidak baik untuk kesehatan. Annyeong.”

“Baiklah, oppa. Jangan tutup dulu, kumohon jang—“ Kikwang menyerahkan kembali ponsel itu pada sang pemilik seraya tersenyum simpul. Kemudian mengembangkan senyuman manisnya saat mengalihkan tatapannya pada Ji Eun yang tengah menatapnya jengah.

“Kyuhyun oppa, ternyata kau terlihat tampan sekali walaupun tanpa makeup, maukah kau berfoto bersamaku?” pinta Rin Hyo sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku mantel tebalnya.

“Tentu saja,” jawab Kyuhyun percaya diri.

“Aku juga, aku juga,” Shin Ji Eun menatap malas para pengunjung yang begitu antusias mengambil selca bersama Kikwang dan Kyuhyun.

“Nona, maukah kau berfoto denganku?” ucap seorang pria tiba-tiba pada Ji Eun.

“Bukankah kau yang waktu itu—“

“Anda sangat cantik,” nafas Ji Eun tercekat saat menatap lekat pria itu, pria dengan kacamata, masker, dan topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya.

“Bisakah kau membuka itu semua?” ujar Ji Eun seraya menunjuk benda-benda yang menyembunyikan wajah pria itu.

“Tapi aku memiliki luka bakar di sekitar wajahku.”

“Ah, benarkah? Baiklah kalau begitu, tidak perlu tidak apa-apa,” ucapnya tak enak namun tetap memaku tatapannya hingga saat pria itu mulai mengambil foto selca mereka.

***

Shin Ji Eun menatap kosong jalanan yang terlihat bergerak di balik kaca mobil di samping kirinya dalam diam hingga tak menyadari Kikwang yang berulang kali menatapnya. Entah kenapa pria yang mengajaknya foto bersama tadi terus mengganggu pikirannya.

“Ji Eun-ah.”

Eo?”

“Kau cemburu?”

Mwo?!” pekik Ji Eun nyaring kemudian kembali memalingkan wajahnya pada kaca mobil. Kyuhyun yang sedang menyetir bersama Rin Hyo di sampingnya sontak meledakkan tawa mereka mendengarnya.

“Lalu kenapa kau diam saja?”

“Apakah aku harus terus menerus berbicara untuk menunjukkan bahwa aku baik-baik saja? Semakin hari kau semakin konyol, Kikwang-ah. Ck!” decak Ji Eun seraya melirik malas Kikwang yang merengut lucu.

“Atau jangan-jangan kau yang cemburu?” Ji Eun mengulum tawanya saat Kikwang membuang pandangannya pada luar mobil.

“Kita sudah sampai,” ucap Kyuhyun saat mobilnya telah berada tepat di depan pagar rumah Ji Eun.

“Terimakasih untuk hari ini Rin Hyo-ah, Kyuhyun oppa. Aku tidak sabar ingin segera melakukan upacara kelulusan kita besok pagi!”

“Aku juga Ji Eun-ah, cepatlah berisitirahat!” titah Rin Hyo saat Ji Eun dan Kikwang mulai membuka pintu di sisi masing-masing.

Annyeong,” Shin Ji Eun melambaikan tangannya hingga mobil Kyuhyun dan Rin Hyo semakin jauh tak terlihat kemudian membalikkan tubuhnya menatap Kikwang yang juga berjalan semakin jauh darinya. Ji Eun berlari kecil menyusul Kikwang dan memeluknya dari belakang hingga pria itu menghentikan langkahnya.

“Kau kenapa?” tanya Kikwang lirih yang selalu membawa ketenangan bagi Ji Eun.

“Aku juga tidak tahu.”

“Karena pria misterius itu?” Kikwang dapat merasakan Ji Eun menganggukkan kepalanya pelan melalui punggungnya yang terasa hangat, kemudian berbalik dan membalas pelukan gadis itu.

“Setiap bertemu pria itu, aku selalu teringat Minseok.”

“Kau mengkhawatirkannya?” Kikwang dapat merasakan Ji Eun semakin mengeratkan pelukannya tanpa menjawab pertanyaannya yang membuat seulas senyuman tipis terukir di bibirnya.

“Jangan khawatir, aku mencintaimu,” pelukan Ji Eun melemas seiring Kikwang mengucapkan kalimat itu. Ia meletakkan tangannya di dadanya merasakan jantungnya yang berdegup begitu hebat kemudian mendongakkan kepalanya dan menemukan Kikwang dengan senyuman yang selalu mampu menenangkan hatinya.

***

Kim Min Seok membuka kunci pagar kayu di rumah lamanya. Ia menundukkan kepalanya saat merasakan kakinya menginjak sesuatu kemudian mengerutkan dahinya tak mengerti saat menemukan sebuah amplop surat setelah mengangkat sebelah kakinya.

“Siapa yang melakukan semua ini?” gumamnya ketika menyadari banyaknya amplop-amplop surat berserakan di sudut halaman rumahnya yang tidak luas. Minseok yang sangat mencintai kebersihan segera mengambil sebuah kantong plastik dan memungut kertas-kertas itu. Ketika ia akan memasukkannya ke dalam tong sampah, tiba-tiba ia merasa penasaran dengan isi surat dan siapa yang mengirimkannya. Maka ia mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk meletakkannya di samping tong sampah miliknya.

Minseok mendesahkan nafasnya lega setelah membersihkan seluruh isi rumahnya yang begitu kotor. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu, meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Suasana begitu hening, hanya suara detak jam dinding yang terdengar teratur mendominasi.

Minseok membalikkan kepalanya menatap sekantong plastik berukuran sedang di sudut ruangan kemudian berjalan mengambilnya.Tangannya mulai bergerak membuka amplop salah satu surat di dalam kantong itu dengan kerutan penasaran di dahinya.

“Shin Ji Eun?” tanpa disadarinya bibir mungilnya mengucap nama itu lirih. Kedua bola matanya terus bergerak dari kiri lalu ke kanan berulang-ulang, sorot matanya berubah nanar seiring ia membaca isi surat itu.

Setelah menyelesaikannya, ia segera membuka amplop surat lainnya satu per satu. Bibirnya sedikit tertarik ke atas hingga membentuk seulas senyuman tipis di sela ia membaca surat-surat itu karena Ji Eun terlihat begitu merindukannya selama ia pergi. Namun senyuman itu segera sirna bersamaan saat ia menyimak deretan kalimat singkat dalam surat terakhir yang ia baca.

Ya! Kim Min Seok! Sepertinya kau benar-benar tak lagi membutuhkanku. Semoga sukses dengan sesuatu yang begitu kau rahasiakan itu. Hahaha!

Minseok mengeluarkan ponselnya setelah menuntaskan kegiatannya, ia memandang sebuah foto dirinya dengan alat penyamaran lengkap bersama gadis yang menatap penuh tanya padanya, “Tidak, kau salah. Aku sangat membutuhkanmu, Ji Eun-ah.”

***

Sam Rin Hyo melangkah tergesa menyusuri sepanjang koridor sekolah. Tatapan matanya tak kunjung menemukan titik fokusnya sebelum ia menemukan seseorang yang dicarinya.

“Ji Eun-ah!” pekiknya seraya berlari kecil menghampiri pemilik nama itu. Shin Ji Eun mendongakkan kepalanya menghentikan kegiatannya sejenak yang tengah sibuk membenarkan tali sepatunya. Rin Hyo segera mengambil tempat di kursi panjang samping Ji Eun sesampainya ia di dekat gadis itu.

“Apa yang terjadi?”

“Dia, ternyata dia benar-benar Minseok! Pria itu, yang kulihat di practice room saat itu,” ucap Rin Hyo dalam sekali tarikan nafas.

“Lantas?” Ji Eun kembali menyibukkan dirinya pada kegiatan yang belum ia tuntaskan sebelumnya.

“Dia akan debut minggu depan, kemungkinan besar dalam sebuah boyband. Karena kabarnya SM Entertainment akan mendebutkan boyband baru.”

“Begitukah?” tanya Ji Eun acuh kemudian beranjak bangun dari duduknya.

“Kau tidak ingin menemuinya?”

“Dia yang meninggalkanku, maka dialah yang harusnya menemuiku.”

———

To be Continued

Advertisements

10 thoughts on “Moonlight 3

  1. Jieun sama kikwang pacaran?? Terus nasib minseok gimana??
    Huwaa, padahal aku mendukungmu minseok..
    Semoga jieun sadar kalo dia itu sebenernya suka ama minseok, amiin..

  2. lucu bgt waktu baca bagian, kyu-rin hyo dan kikwang-ji eun makan dikedai, dan mereka ketahuan oleh fans2 mereka..
    Reaksi ji eun bener2 cuek waktu tau minseok akan debut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s