It’s You 6

image

Author: Bella Eka
A/N: Hai 🙂 komentar kalian sangat dibutuhkan, hehehe. Please jangan jadi silent reader yaa. No copas! Happy read ^^

———

Jung Il Woo mengutak-atik ponselnya dengan gusar. Berulang kali ia menempelkan benda tipis berwarna hitam itu di telinganya seraya mengernyitkan dahinya. Berulang kali pula ia menghembuskan nafasnya kasar.

“Apakah urusan pentingnya belum selesai?” gumamnya ketika panggilan teleponnya tak kunjung mendapat jawaban. Ilwoo begitu merindukan kekasihnya saat ini. Wajar sekali, sebab mereka hanya bertemu tadi pagi ketika berangkat sekolah. Ya, karena Ji Eun disibukkan dengan hal yang disebutnya ‘urusan penting’ itu hari ini.

Ilwoo mengacak rambutnya kesal kemudian menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 11:15 terdengar berdetak teratur, sangat berbeda dengan detak jantungnya yang berdegup tak karuan.

Ia menggerakkan kedua kakinya kemudian mengeluarkan sebuah jaket biru dari dalam almari dekat meja belajarnya. Mengambil kunci mobil miliknya lalu segera beranjak meninggalkan kamarnya yang hangat.

***

Ilwoo mengetukkan-ngetukkan jarinya di atas kemudinya bosan. Ia telah menunggu Ji Eun selama hampir 1 jam di depan rumah gadis itu, namun keadaan masih saja tak berubah. Shin Ji Eun tidak berada di rumah, dan ‘urusan penting’ kembali menjadi misteri atas pertanyaannya ketika ia menanyakan keberadaan gadis itu saat ini pada bibi yang sedang menjaga rumah itu.

Ilwoo menghirup oksigen yang berada di sekitarnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Bersamaan ia menyadari betapa sulitnya ia hanya untuk bertemu gadis yang merupakan kekasihnya sendiri.

Senyuman miris terlukis di bibirnya mengingat hal yang akhir-akhir ini terjadi. Ketika ia menemukan Ji Eun dalam keadaan yang sangat rapuh seakan gadis itu tengah terluka dalam, ketika kedua kelopak mata gadis itu terlihat sembap tadi pagi, ketika gadis itu berulang kali meletakkan telapak tangannya di dadanya seraya memejamkan kedua matanya erat, ketika butiran bening membasahi pipi gadis itu dalam diam. Hal-hal yang tidak ia ketahui penyebabnya hingga saat ini karena Ji Eun hanya akan menggelengkan kepalanya dan mengunci mulutnya rapat setiap ia menanyakan tentang hal itu.

Ilwoo kembali melepaskan hembusan nafasnya kasar, ia hanya dapat berharap agar Ji Eun dalam keadaan baik-baik saja saat ini karena hari sudah semakin larut. Ia mulai menghidupkan mesin mobilnya kemudian menginjak pedal gas dan memutar balik mobil birunya.

Baru saja Ilwoo akan keluar dari pintu gerbang yang terbuka lebar, ia menyipitkan matanya karena sinar lampu sebuah mobil dari arah yang berlawanan menyilaukan pandangannya. Namun kedua matanya segera melebar ketika mendapati seorang gadis yang tengah duduk di kursi penumpang samping pengemudi dalam mobil hitam yang baru saja melewatinya, dan mendesis kesal ketika menyadari siapa yang duduk di samping gadis itu.

“Ya! Lee Kikwang!” teriak Ilwoo ketika seorang pria keluar dari pintu mobil itu. Ilwoo mulai melangkahkan kedua kakinya angkuh menghampiri Kikwang, namun pria yang mengenakan kemeja merah itu hanya menatap Ilwoo sekilas kemudian beranjak memutari mobilnya kemudian membuka pintu mobil di sisi lainnya.

BUG!

“Apa yang kau lakukan?!” desis Kikwang tajam seraya memegang ujung bibirnya yang mulai mengeluarkan darah akibat pukulan Ilwoo yang telah kehabisan kesabarannya.

“Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu! Apa yang kau lakukan pada Ji Eun hingga selarut ini, hah?!” pekik Ilwoo seraya mengangkat kerah baju Kikwang hingga berantakan. Sebaliknya, Kikwang hanya tersenyum miring seraya memutar bola matanya ringan sebelum menatap Ilwoo tajam.

“Kau melakukan ini hanya untuk menanyakan hal itu? Tch! Kau ingin jawaban apa dariku?”

“Cepat katakan saja!”

“Itu-bukan-urusanmu.”

BUG! BUG!

Ilwoo yang telah kehilangan akal sehatnya melayangkan pukulannya pada Kikwang yang tak membalas perlakuan itu sama sekali. Sebaliknya, pria itu hanya mengulas senyuman miring di wajahnya yang mulai melebam.

“Sudah puas memukuliku?” tanya Kikwang pelan saat Ilwoo mulai menghentikan serangannya seraya mengatur deru nafasnya tanpa melepas cengkeraman tangannya pada kerah baju Kikwang.

“Kubiarkan kau melakukan hal ini padaku, karena kau akan mengalami hal yang lebih menyakitkan dari ini.”

“Apa maksudmu?”

“Kau akan segera mengetahui jawabannya.”

“Katakan sekarang juga apa maksud dari perkataanmu?!” pekik Ilwoo yang emosinya kembali menaik.

“Sudah kubilang kau akan mengetahuinya, segera!” ucap Kikwang dengan menekankan kata ‘segera’ pada kalimatnya.

“Dan juga, Ji Eun sedang tidur saat ini. Jadi tolong pelankan suaramu,” lanjut Kikwang sembari melepas cengkeraman Ilwoo yang mulai merenggang. Kikwang melebarkan pintu mobil yang telah dibukanya tadi, melepas sabuk pengaman yang melilit pada tubuh Ji Eun kemudian mengangkat gadis itu dengan kedua tangannya.

“Kikwang-ah,” Ilwoo melebarkan matanya ketika mendengar kekasihnya yang tengah mengigau memanggil nama Kikwang, bukan dirinya.

Nde? Kikwang imnida. Aku akan membawamu ke tempat yang lebih nyaman, jadi jangan bangun terlebih dahulu. Mengerti?” ucap Kikwang lembut seakan Ji Eun yang tengah terlelap mendengarnya, lalu menutup pintu mobil kembali.

Hyung, lebih baik kau pulang sekarang. Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Tenang saja, Ji Eun akan selalu baik-baik saja bersamaku,” Kikwang beranjak menuju pintu rumah Ji Eun meninggalkan Ilwoo yang masih membatu di tempatnya seraya menatap nanar kepergian mereka berdua.

Bagaimana bisa dia memiliki hati selembut itu? Apakah karena itu Ji Eun begitu menyayanginya hingga tak mampu membuka hatinya untukku? Tapi, apa maksud dari perkataannya tadi? Apakah dia akan mengambil Ji Eun dariku? Tidak bisa, aku tak akan melepaskannya dengan mudah. Tidak akan.

***

Kriiinngggg!!!

Shin Ji Eun mulai menggerakkan tangannya meraba nakas yang berada di samping ranjangnya untuk menghentikan suara alarm nyaring yang begitu memekakan telinga. Ia bergerak bangun dari tidurnya kemudian duduk di tepi ranjang sejenak sebelum beranjak keluar dari kamarnya.

Langkahnya terhenti ketika menemukan sosok lelaki yang tengah berbaring nyaman di sofa panjang dalam ruang tengah sebelum memutuskan untuk menghampirinya. Ia sontak melebarkan kedua matanya ketika mendapati Kikwang dengan wajah lebamnya. Melihat itu, tangan Ji Eun tergerak dengan sendirinya menuju bagian wajah yang membiru keunguan itu.

“Akh!” Ji Eun segera menarik kembali tangannya cepat ketika Kikwang bangun secara tiba-tiba seraya meringis kesakitan. Kemudian pria itu mengulas senyumannya ketika melihat Ji Eun tengah membungkukkan tubuhnya seraya menatapnya tak mengerti, namun tak lama kemudian ia kembali meringis menahan perih akibat luka di ujung bibirnya.

Eomma dan appa kemana?”

“Ke Jepang.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Karena mereka berangkat seusai pertemuan kemarin, karena itu pula aku berada disini menemanimu,” Ji Eun hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Kikwang seiring bibirnya yang membulat.

“Kau sudah membersihkannya?” Ji Eun mendengus jengah saat Kikwang menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaannya.

“Apa yang kau lakukan semalam?” tanya Ji Eun seraya mendudukkan dirinya pada sofa tunggal yang berada tepat belakangnya.

“Tidak ada,” jawab Kikwang sembari mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada sofa panjang itu.

“Ya! Kau kira aku adalah seorang anak kecil yang dengan mudahnya dibohongi oleh lelaki bodoh sepertimu?!”

“Ji Eun-ah, kemarilah,” Kikwang melambaikan tangannya agar Ji Eun mendekat padanya seraya menepuk sisi sofa yang masih kosong di sampingnya. Shin Ji Eun yang masih setengah mengantuk pun menurut dengan polosnya.

“Apa yang kau katakan tadi? Kau berani padaku, hah?!” ucap Kikwang seraya menjepit kuat wajah Ji Eun dengan kedua tangannya yang menimbulkan pekikan dari mulut gadis itu.

“Ya! Lepaskan aku! Kau ini, pagi-pagi sudah membuat keributan saja! Lepaskan!” racau Ji Eun seraya menepuk-nepuk tangan Kikwang yang menempel di wajahnya.

“Inilah cara agar kau tidak mengantuk lagi,” balas Kikwang yang tengah terkekeh, namun sedetik kemudian kembali mendesis kesakitan. Sedangkan Ji Eun menggunakan kesempatan itu untuk melepas tangan Kikwang lalu segera beranjak sembari mengatakan, “Rasakan itu, rasakan!” dan tertawa menang.

Tak lama kemudian Ji Eun kembali dengan membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil berwarna putih di tangannya kemudian berdiri menatap Kikwang yang kembali berbaring di sofa panjang itu.

“Bangunlah,” Kikwang yang memang tak sedang tertidur pun segera bangun dari baringannya. Sedangkan Ji Eun duduk di samping lelaki itu.

“Menghadaplah padaku,” Kikwang hanya menuruti perintah Ji Eun begitu saja layaknya seorang anak kecil.

“Akh! Pelan-pelan!” pekik Kikwang ketika Ji Eun menempelkan handuk hangat yang telah diperas pada luka lebam Kikwang.

“Diamlah! Aku sedang berusaha.”

“Kau ini sebenarnya seorang wanita atau bukan? Kasar sekali. Aww! Pelan-pelan Ji Eun-ah, sakit,” rintih Kikwang saat Ji Eun dengan sengaja menekan luka itu sedikit kasar.

“Makanya, tutup mulutmu, nak. Cerewet sekali,” Ji Eun mengusap luka Kikwang dengan telaten hingga suasana menjadi sunyi, walaupun terdengar desisan perih Kikwang sesekali.

“Sekarang cepat mandi, setelah itu baru akan kuberi obat merah.”

***

Shin Ji Eun membilas kedua tangannya di wastafel toilet wanita sekolah. Kedua kelopak matanya melebar sempurna saat kedua lengannya digeret paksa oleh dua orang gadis yang tak dikenalnya.

“Ya! Apa yang kalian lakukan?!” Ji Eun mendesahkan nafasnya malas ketika tak ada satupun dari kedua gadis itu menjawab pertanyaannya.

Jangan bilang gadis-gadis gila itu berulah lagi?! Aigoo, mereka benar-benar!

Tubuh Ji Eun tersungkur di sudut ruang gudang sekolah. Ia menyentuh ujung bibirnya dan tersenyum sinis saat mendapati darah segar di ujung jarinya akibat tamparan keras dari gadis yang terlihat seperti pimpinan kelompok itu. Segera ia bangkit kembali berdiri dan menatap tajam para gadis yang menatapnya dengan tatapan merendahkan di sekelilingnya.

“Aku tak menyangka kalian sekeji ini,” ucap Ji Eun dengan seringaian menakutkannya.

“Kami juga tak menyangka kau sekejam itu,” ucap seorang gadis yang berada paling depan diantara gadis lainnya.

“Benar, Kikwang oppa terluka seperti itu pasti karena kau! Maka dari itu kau harus mendapatkan balasan yang setimpal dengannya,” tukas seorang gadis lainnya.

“Diamlah jika kau tak tahu apa-apa!” bentak Ji Eun yang emosinya mulai memuncak menghadapi gadis-gadis tak berlogika itu. Walaupun sebenarnya Ji Eun pun juga tak mengetahui penyebab Kikwang terluka.

“Park Son Hee, Kim Yoon Ji, Park Min Hwang, dan kalian semua! Apakah kalian lupa bagaimana dekatnya aku dan Kikwang, huh?! Apakah kalian lupa sebegitu mudahnya aku untuk mengadukan perlakuan kalian padaku?”

“Kau berani mengancam kami?” desis seorang gadis dengan nametag bertuliskan Park Son Hee di dada kirinya. Ji Eun menepukkan kedua telapak tangannya tiga kali seraya mengulas senyuman miring mematikannya dan terus melayangkan tatapan tajam pada gadis itu kemudian menghampirinya perlahan.

“Bingo! Dan aku tak pernah main-main dengan ucapanku,” ucapnya angkuh kemudian mengibaskan tangannya seiring terbukanya jalan diantara kumpulan gadis-gadis itu dan melangkahkan kedua kakinya beranjak pergi.

***

“Ya! Darimana kau? Tiba-tiba menghilang begitu saja. Kenapa kau meninggalkanku di toilet lagi? Tega sekali padahal aku selalu menunggumu jika aku yang telah selesai terlebih dulu,” cecar Rin Hyo yang tak mendapat tanggapan apapun dari seorang gadis yang tengah memaku tatapannya pada sisi luar gedung sekolah melalui jendela kelasnya.

“Ji Eun-ah!” pekik Rin Hyo. Ia segera melebarkan kedua matanya ketika menemukan Ji Eun dengan luka lebam di pipi kanan atas dan ujung bibirnya.

“Ayo kita ke UKS sekarang!”

“Maka kita tak perlu mengikuti jam pelajaran berikutnya? Kajja!” ujar Ji Eun semangat. Namun ia segera meringis kesakitan ketika seseorang menjitak kepalanya tiba-tiba, “Kikwang-ah!”

Omo! Maafkan aku,” Kikwang yang baru saja datang bersama Kyuhyun terperanjat ketika baru saja menyadari luka Ji Eun, “Siapa yang telah melakukan hal ini padamu?” tanyanya khawatir.

“Siapa lagi jika bukan gadis-gadis gila itu!”

“Haruskah aku memberi pelajaran pada mereka?”

“Tidak perlu. Kau akan sama saja seperti mereka jika meladeninya,” Kikwang hanya mampu menatap Ji Eun nanar tanpa melakukan apapun, terlalu takut akan semakin menyakiti gadis itu jika menyentuhnya, “Maafkan aku,” ucapnya lirih.

“Untuk apa meminta maaf atas nama mereka? Tidak ada gunanya. Lagipula aku tidak suka jika kau melakukan itu.”

“Kau cemburu?” goda Kikwang.

“Mimpi saja kau!” tolak Ji Eun seraya menjepit hidung Kikwang dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya.

“Ayo Rin Hyo-ah,” ajak Ji Eun sembari beranjak dari kursinya, “Kikwang-ah, nanti bilang saja pada guru Kim bahwa Shin Ji Eun sedang sakit di UKS bersama Rin Hyo,” lanjutnya.

***

“Baiklah anak-anak, kita mulai pelajaran Bahasa Inggris hari ini.”

Annyeong haseyo. Maaf saya terlambat karena baru saja mengantarkan Shin Ji Eun ke UKS. Dan sekarang Ji Eun masih disana karena sedang sakit, seonsaengnim,” jelas Rin Hyo kemudian membungkukkan badannya pada guru Kim dan berjalan menuju bangku di samping Kyuhyun.

“Rin Hyo-ah, kenapa kau sendirian? Dimana Ji Eun?” tanya Kikwang tak sabar hingga Rin Hyo tak kunjung duduk di tempatnya.

“Dia masih di UKS.”

“Sendirian?” Rin Hyo menggeleng, “Bersama Jung Il Woo.”

“Bisakah kau segera menempati tempatmu agar saya dapat melanjutkan pelajaran, Sam Rin Hyo!”

“Ah, nde seonsaengnim.”

***

“Ilwoo-ya, sebaiknya kau segera kembali ke kelas. Kau harus lulus dengan baik tahun ini.”

“Dan kau akan sendirian disini?“

“Aku juga akan kembali ke kelasku.”

“Tapi aku masih ingin disini.”

Suasana kembali hening setelah Ilwoo menyelesaikan kalimatnya. Ji Eun tak mengerti penyebab Ilwoo berubah pendiam saat bersamanya. Padahal ada sesuatu penting yang ingin Ji Eun utarakan padanya, namun ia selalu mengurungkan niatnya karena kondisi yang tak memungkinkan.

“Ji Eun-ah,” Ji Eun memusatkan tatapannya pada pria yang memanggil namanya itu.

“Kau tak akan meninggalkanku, kan?” Ilwoo menatap nanar Ji Eun yang mengalihkan pandangannya ke depan, tak lagi menatapnya dan tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Aku tak akan melepaskanmu, Shin Ji Eun.”

Oppa,” darah Ilwoo berdesir hebat mendengar Ji Eun memanggilnya dengan sebutan itu, mengingat gadis itu tak begitu menyukai panggilan semacam itu, hingga membuatnya merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Aku akan kembali ke kelas, beristirahatlah dengan baik. Annyeong,” pamitnya seraya mengacak rambut Ji Eun pelan. Ji Eun menatap lemah pria itu, tak sanggup membayangkan bagaimana sakitnya perasaan Ilwoo nantinya.

***

Jung Il Woo berdiri bersandar di ambang pintu kelasnya seraya menyendekapkan kedua tangan di depan dada. Sesekali ia melayangkan tatapannya pada jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Suasana sekolah telah sepi namun gadis yang ia tunggu tak kunjung menampakkan dirinya. Sorot mata Ilwoo segera menuju arah tangga ketika kedua telinganya menangkap suara derap langkah seseorang, “Ji Eun-ah,” panggilnya. Seulas senyuman terukir di wajahnya bersamaan dengan kedua kakinya yang mulai bergerak menghampiri seorang gadis yang juga tengah menghampirinya.

“Maaf telah membuatmu menunggu lama,” ucap Ji Eun yang membuat Ilwoo menggelengkan kepalanya ringan, “Tak masalah,” balasnya kemudian meraih telapak tangan gadis itu dan berjalan beriringan.

Ekor mata Ji Eun mengarah pada sisi kiri sudut halaman parkir sekolah, mengetahui bahwa terdapat seorang pria yang tengah memperhatikannya dari dalam mobil. Ia membalas senyuman pria itu dengan tatapan lemah, “Kikwang-ah,” lirihnya tak terdengar. Kikwang menganggukkan kepalanya menyadari Ji Eun memanggil namanya dari gesture bibirnya kemudian kembali melayangkan senyuman menenangkannya pada gadis itu.

***

Ilwoo sengaja memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan area Sungai Han. Ia menatap Ji Eun di sampingnya yang terpaku pada tenangnya aliran sungai itu hari ini. Ilwoo mengalihkan pandangannya sejenak mengikuti arah sorot mata Ji Eun.

“Sudah lama kita tidak ke tempat ini bersama,” Ji Eun hanya menganggukkan kepalanya serta tersenyum tipis menanggapi ucapan Ilwoo. Suasana kembali hening, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Aku—“ ucap mereka bersamaan yang membuat Ilwoo tersenyum kikuk.

“Kau duluan saja,” sambung Ji Eun kemudian.

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu,” ujar Ilwoo ragu.

“Katakan saja.”

“Kenapa akhir-akhir ini kau bersikap aneh? Apakah sesuatu telah terjadi padamu? Aku merasa bahwa banyak sekali hal-hal yang tak kuketahui darimu. Entah mengapa, hatiku terasa sesak setiap kali melihatmu seperti itu walaupun aku tak mengerti penyebabnya. Dimulai saat kau tiba-tiba saja menangis, hingga kau terluka lebam seperti tadi,” tatapan Ji Eun pada Ilwoo berubah menyendu. Menyadari bahwa Ilwoo benar-benar mengkhawatirkannya. Tangannya tergerak begitu saja tanpa perintah, mendekati tangan Ilwoo yang tergeletak di atas kemudi mobil kemudian menggenggamnya lembut.

“Maafkan aku.”

“Kenapa kau selalu saja mengucapkan kata itu?” Ji Eun mengambil nafas sedalam-dalamnya kemudian menghembuskannya perlahan seiring tangannya yang mulai melepas genggamannya pada tangan Ilwoo, namun berbanding terbalik dengan pria itu yang semakin mengeratkannya.

“Apakah kau mencintaiku?”

“Apakah kau masih saja meragukannya?” Ji Eun mendesahkan nafas dalamnya lagi kemudian menghindari tatapan Ilwoo yang begitu lembut.

“Jangan terlalu mencintaiku, Ilwoo-ya. Karena itu dapat melukai dirimu sendiri” ucap Ji Eun tanpa memiliki keberanian sekedar untuk membalas tatapan Ilwoo padanya.

“Kenapa kau begitu yakin? Apakah kau memang berniat melakukan itu?” Ji Eun menggelengkan kepalanya seraya menggigit bibir bawahnya kuat, berusaha mengumpulkan keberanian untuk melontarkan kata-kata yang sejak tadi berada dalam pikirannya.

“Aku telah dijodohkan,” ucapan Ji Eun yang begitu singkat mampu membuat Ilwoo melebarkan kedua matanya hingga seakan hampir terlepas, “M-mwo?! Kau serius?”

“Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda?” jawab Ji Eun dengan raut wajah penuh keseriusan.

“Tidak, tidak bisa. Aku tak akan melepaskanmu begitu saja. Siapa?” tatapan Ilwoo berubah tajam, begitu menakutkan hingga membuat Ji Eun bergidik ngeri.

“Katakan padaku siapa orangnya?!” tubuh Ji Eun berjengit seketika. Emosinya tersulut begitu saja akibat bentakan kuat Ilwoo. Ia segera melepas paksa tautan tangannya dan menatap tajam pria disampingnya itu.

“Aku telah memberanikan diri untuk mengatakan kenyataan ini padamu dan kau dengan mudahnya membentakku seperti itu?! Tsk!” desis Ji Eun sembari membuka pintu mobil di sampingnya dan berjalan dengan cepat meninggalkan Ilwoo yang masih tercengang.

“Ji Eun-ah! Bukan begitu maksudku! Sadarkah kau bahwa aku sangat mencintaimu?!” pekik Ilwoo disela langkahnya yang bergerak mendekati Ji Eun yang tak kunjung menolehkan kepalanya kembali sama sekali.

“Aku hanya ingin mengetahui siapa pria yang dijodohkan denganmu, Shin Ji Eun. Kumohon jangan seperti ini,” ucap Ilwoo lembut ketika tangannya telah berhasil meraih lengan Ji Eun.

“Kau benar-benar ingin mengetahuinya?” Ilwoo mengangguk lemah sedangkan Ji Eun hanya mengulas senyuman mirisnya, “Kau tak perlu tahu,” lanjutnya kemudian.

Ji Eun tak setega itu, dengan membiarkan Ilwoo semakin terluka karena mengetahui pria yang telah dijodohkan dengannya. Namun tatapan sendu Ilwoo yang seakan memohon dapat merobohkan dinding pertahanannya.

“Tapi, kau harus berjanji jika kau tak akan melukainya,” Ilwoo mengerutkan dahinya, karena ucapan Ji Eun menunjukkan seakan ia telah mengenal pria itu.

“Dia— Lee Kikwang,” ucap Ji Eun hati-hati. Hati Ilwoo seakan terbelah mendengarnya. Shin Ji Eun, gadis yang begitu ia cintai telah dijodohkan dengan seorang pria yang selama ini membuatnya takut akan kehilangan gadisnya. Dan segala kekhawatiran serta ketakutannya selama ini terjawab sudah. Dan terlebih lagi Shin Ji Eun telah memintanya untuk berjanji tidak melukai pria itu, yang dengan jelas menyiratkan bahwa gadis itu begitu menyayangi Lee Kikwang.

“Kubiarkan kau melakukan hal ini padaku, karena kau akan mengalami hal yang lebih menyakitkan dari ini.”

“Kau akan segera mengetahui jawabannya.”

“Sudah kubilang kau akan mengetahuinya, segera!”

Ucapan Kikwang yang tiba-tiba terngiang di telinganya hanya mampu membuat Ilwoo mengulas senyuman mirisnya, kedua bola matanya yang mulai berair telah kehilangan titik fokusnya. Lalu kembali memandang Ji Eun yang tengah menatapnya sendu ketika gadis itu mengucapkan permintaan maafnya sekali lagi.

***

7 years later

Dengan langkah riang dan penuh semangat Shin Ji Eun menggerakkan kedua kakinya bergantian bersama seorang pria yang setia di sampingnya seraya mengaitkan lengannya mesra.

Gadis dengan rambut yang dibentuk keriting gantung itu tengah mengenakan gaun berwarna ungu selutut dengan membawa tas jinjing dan memakai high heels yang tak terlalu tinggi berwarna senada. Begitupun pria berambut hitam di sampingnya dengan kemeja putih serta jas hitam yang elegan, dipadu dengan dasi bermotif garis berwarna ungu sebagai pelengkap yang membuat mereka terlihat tampak serasi malam ini.

“Rin Hyo-ah!” pekiknya kemudian segera memeluk gadis yang tengah mengenakan gaun pengantin yang begitu mengagumkan dengan segala ornamennya.

“Kau terlihat cantik sekali hari ini,” ucap Ji Eun seraya menelisik penampilan Rin Hyo.

“Kau terlihat serasi sekali bersama Kikwang hari ini,” Ji Eun yang masih menatap Rin Hyo secara rinci tak menghiraukan ucapan Rin Hyo.

“Ah, aku tahu. Pasti karena gaunmu yang terlihat begitu mengagumkan. Bisakah aku meminjamnya lain kali?” ucap Ji Eun menyambung ucapannya yang sebelumnya namun ia segera memekik keras saat Rin Hyo mendaratkan sebuah jitakan di atas kepalanya hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian kala itu juga. Kedua pria yang berada di dekat mereka pun hanya terkekeh geli melihatnya.

“Kyuhyun-ah, selamat atas pernikahanmu,” ucap Kikwang seraya bersalaman dan memeluk pengantin pria itu.

“Ya! Tak perlu terlalu formal seperti ini,” ujar Kyuhyun sembari mengeratkan pelukannya pada Kikwang.

“Kalian hanya berdua?” Ji Eun mengerutkan dahinya dan menatap Kikwang saat Rin Hyo menanyakan hal itu padanya.

“Tentu saja. Memang kenapa?”

“Kalian telah menikah setahun yang lalu dan masih belum juga memiliki manusia baru yang mungil dan menggemaskan itu? Oh, ayolah,” Ji Eun membulatkan kedua kelopak matanya sempurna menanggapi Rin Hyo.

“Menurutmu semudah itu, hah?! Sembarangan saja kau.”

“Kapan kalian kembali dari Jepang?” tanya Kyuhyun mengalihkan pembicaraan pada topic yang lebih normal.

“Baru saja, siang tadi,” jawab Kikwang seadanya karena mereka memang baru saja datang dari Jepang karena Kikwang telah menggantikan posisi ayahnya di perusahaan milik keluarga yang berada disana sejak setahun yang lalu. Dan tentu saja Ji Eun dengan setia bersamanya kemanapun ia pergi.

“Ji Eun-ah, jangan melihat ke belakang,” Ji Eun yang penasaran pun menentang ucapan Rin Hyo dan segera membalikkan kepalanya. Bibirnya mengulas senyuman tipis begitu saja ketika menemukan sosok Ilwoo yang terlihat berkali lipat lebih tampan dibandingkan saat 7 tahun yang lalu, berbeda dengan Kikwang yang memasang raut wajah penuh enggan dan kembali berbincang bersama Kyuhyun.

Senyuman Ji Eun semakin melebar ketika pria itu juga menemukan keberadaannya serta memberikan senyuman manis untuknya. Kakinya tergerak mendekati pria itu ketika Ilwoo terlihat mulai melangkah menghampirinya.

“Bagaimana kabarmu, Ji Eun-ah?” tanya Ilwoo dengan senyuman yang masih terpantri di wajahnya.

“Seperti yang kau lihat, Ilwoo-ya,” jawab Ji Eun tak kalah ramah.

“Kau semakin cantik saja,” Ji Eun hanya memutar bola matanya malas mendengar pujian yang menurutnya terdengar murahan.

“Aku serius dengan ucapanku,” ucap Ilwoo meyakinkan, “Kau juga terlihat seribu kali lipat lebih tampan dari sebelumnya, oppa,” Ilwoo terdiam mendengar Ji Eun menyebutnya dengan panggilan itu. Panggilan umum yang sejak dulu mampu membuat darahnya selalu terasa berdesir dengan hebatnya serta jantung yang berdegup lebih kencang. Tak terkecuali hari ini.

“Kau sendirian?” Ilwoo hanya mengangguk membenarkan. Namun Ji Eun melebarkan matanya tak percaya.

Wae?”

Mwo?”

“Kenapa tidak mengajak kekasihmu?”

“Karena aku masih sendiri. Kau?”

Jinjja?!”

Annyeong, lama tak berjumpa, hyung,” sapa Kikwang tiba-tiba yang disambut Ilwoo dengan senyuman canggungnya.

“Aku kemari bersama suamiku, oppa,” Kikwang sontak menatap Ji Eun di sampingnya, karena bahkan gadis itu tak pernah sekalipun memanggilnya dengan panggilan semacam itu.

“Suami?” Ji Eun mengarahkan bola matanya kearah Kikwang, menunjukkan bahwa suami yang dimaksudnya adalah Kikwang kemudian tersenyum kikuk saat menyadari perubahan raut wajah Ilwoo yang menyendu, berbeda dengan Kikwang yang mengangguk kuat seraya mengulas senyuman kemenangannya.

“Ah, jadi kalian sudah menikah.”

“Kalau begitu kami permisi dulu, hyung. Annyeong,” pamit Kikwang sembari menarik lengan Ji Eun yang menatapnya bingung namun segera menundukkan kepalanya sejenak pada Ilwoo mengikuti Kikwang.

“Kenapa kau terburu-buru sekali? Padahal aku telah lama sekali tidak bertemu dengannya,” rajuk Ji Eun yang tak menyadari wajah Kikwang yang mulai memerah.

“Kau merindukannya?”

“Tentu saja,” Kikwang mendengus kasar karena Ji Eun yang tak juga peka dengan keadaan.

“Memangnya kenapa? Kau cemburu?”

“Untuk apa aku cemburu?” Ji Eun terkikik geli menatap Kikwang yang salah tingkah dibuatnya kemudian memeluk lengan Kikwang erat serta menyandarkan kepalanya di bahu pria itu sesekali.
Tenang saja, Kikwang-ah. Hanya kau yang kucintai karena kaulah yang berada dalam hatiku selama ini. It’s you! Not someone else.

———

THE END

.
.
.
.
.

Selesaaai 😀 aku juga pengen ngucapin selamat ulang tahun buat Hyunseung oppa ^^ yah walaupun dia gak bakalan liat. wkwk
Jangan lupa komentarnya yaa :3

Advertisements

24 thoughts on “It’s You 6

  1. ceritanya lucu, ngegemesin liat kikwang sma ji eun

    mereka adalah couple. pling kocak

    semangat ya thor n mian bru comen di part ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s