At Least I Still Have You 6

image

Author : Tsalza Shabrina
A/N : this is it! Semoga tidak mengecewakan ._. Happy read~

———

Satu bulan yang lalu

Lee Donghae.

Aku menatap gadis yang berada dihadapanku ini dengan nanar. Penampilannya benar – benar jauh dari kata sempurna. Rambut yang dikuncir tak rapi, lingkaran mata yang menghitam, kelopak mata membengkak, dan juga pakaian yang tak serapi biasanya. Sejak aku memeluknya saat itu.

Aku baru sadar apa yang kurasakan padanya bukanlah perasaan main – main. Hatiku serasa dipanggang kemudian dimasukkan didalam timbunan es, dipermainkan seperti itu hingga aku sangat tersiksa. Wajah putus asanya saat itu membuatku semakin ingin melindunginya, merengkuhnya dan secepatnya membuat ia menjadi milikku seutuhnya.

“Aku… aku akan menerima tawaran itu.” Ucapnya dengan kedua mata berkaca – kaca. Nada bicaranya begitu lirih, hampir tak terdengar. Seperti tercekat. Baru saja aku membuka mulut, ia terlebih dahulu menyela.

“Tapi dengan beberapa syarat.”

“Apa itu?” ia mengangkat kepalanya, menatapku dengan tatapan mata yang kosong. Kedua mata yang selalu memancarkan aura ceria itu kini telah hilang. Mata itu sangat redup dan gelap. Desiran kesakitan dibatinku terasa lagi, berdenyut perih melihatnya seperti ini.

“Aku ingin menyumbangkan korneaku untuk Cho Kyuhyun. Aku tahu ibumu akan protes jika mendapati menantunya buta saat hari pernikahan. Jadi, aku ingin pernikahan ini dipercepat menjadi satu minggu lagi. Setelah itu, aku akan melakukan operasi.” Bibirku terbuka sedikit. Sam Rin Hyo mengatakan itu dengan begitu mantap tanpa keraguan dikedua matanya. Tidak, bukan ini scenario yang ia inginkan. Hatinya berdenyut perih lagi, menyadari bagaimana rasa cinta gadis ini pada Cho Kyuhyun.

“Tidak. Aku tidak menerima syarat itu.” Sam Rin Hyo mengangguk pelan berkali – kali. Seperti sudah mempunyai jawaban lain jika aku menolah persyaratannya.

“Kalau begitu aku tidak akan menikah denganmu.” Ia mengambil sesuatu dari tas kecilnya, sebuah pisau. Kedua mataku membulat saat ia mengarahkan pisau itu pada urat nadinya.

“Lebih baik aku mati disini.” Desisnya semakin menekan pisau itu pada pergelangan tangannya.

“Jauhkan benda itu, Sam Rin Hyo!” bentakku seraya mengulurkan tangan, berusaha mengambil pisau itu dari tangannya. Kami berada direstoran tradisional korea, jadi setiap meja berada disatu ruangan.

“Aku akan mengiris ini jika kau mendekat.” Tubuhku kaku ditempat, menatap kedua matanya yang penuh keyakinan dengan nanar. Mata putus asa itu, terlihat sangat menyakitkan. Kupejamkan kedua mataku frustasi kemudian mengangguk.

Keure! Aku akan menuruti semua kemauanmu. Berikan pisau itu padaku, sekarang.” Ujarku dengan nada penuh penekanan. Gadis itu menatapku dengan tatapan datarnya, sungguh ekspresinya tidak terbaca. Ia tidak menangis atau pun mengeluarkan nada penuh emosi. Ia seolah sudah siap untuk meninggalkan dunia ini.

“Kau bisa memegang perkataanmu?” aku mengangguk pelan, mencoba meyakinkannya.

“Iya. Jadi bisakah kau menaruh benda itu diatas tanganku?” pintaku lagi seraya mengulurkan tangan. Ia menatap pisau yang sudah terlalu lama menekan disana dengan datar kemudian memberikannya padaku. Kedua mataku membulat saat melihat ada noda darah disana. Segera memeriksa pergelangan tangannya yang sedikit mengeluarkan darah, mungkin karena ia menekannya terlalu kuat.
Cepat – cepat aku mengambil saputangan yang berada disaku mantelku. Mengikat luka itu dengan sapu tanganku. Wajahnya masih tetap datar, seperti kehilangan semangat hidup.

“Apa sakit?”

“Sedikit.” Kuhela napasku panjang. Menatapnya dengan pandangan nanar dan sakit.

“Kumohon jangan lakukan hal seperti ini lagi, eo?” ia mengangguk sekali, segera kurengkuh tubuh itu kedalam pelukan eratku. Rasanya sangat sesak melihatnya seperti ini. Aku benar – benar menyesal telah melakukan ini semua. Menyesal telah menyusun scenario dengan sedemikian rupa dengan satu tujuan, mendapatkan Sam Rin Hyo.
Namun, sayangnya hasil yang kudapat tidak seperti yang kubayangkan. Saat aku mendesak Taesan untuk segera menagih hutang ibunya, aku masih belum berhasil. Jadi, aku melakukan sesuatu yang lebih licik dari itu. Merencanakan kecelakaan Cho Kyuhyun. Semua itu adalah skenarioku untuk mendapatkan Sam Rin Hyo. Namun, mengapa malah Sam Rin Hyo yang buta? Mengapa jadi seperti ini? Aku benar – benar menyesal.

***

Aku membawa Sam Rin Hyo kerumah orang tuaku-tentu setelah aku me-make over gadis itu sedemikian rupa. Ia cantik, ia selalu cantik dikedua mataku. Aku menggenggam telapak tangannya, memberi usapan lembut disana dengan ibu jari.

“Tersenyumlah, setidaknya didepan orang tuaku.” Ia mengangguk pelan. Maaf, Hyo. aku adalah satu – satunya tersangka yang dapat disalahkan oleh kekacauan ini. Aku akan memberitahu semua dosaku nanti, ya! nanti setelah kami menikah dan ia sudah memberi semua padaku.

“Aku pulang!” teriakku, membuat seisi rumah berhamburan keluar dari kesibukannya masing – masing. Kecuali, Lee Dong Hwa hyeong dia sedang mengurus masalah perusahaan di Belanda.

Yang pertama kulihat adalah senyuman lebar ibu seraya menatapku, kemudian beralih pada Sam Rin Hyo yang menampakkan senyuman tipis-memaksakan dengan tatapan menilai. Cukup lama ia melakukan itu hingga ia mengambil alih tangan Rin Hyo, menarik gadis itu untuk duduk diruang tengah. Aku menghela napas lega melihat reaksi ibu yang seperti senang dengan gadis ini.

“Duduklah, appa ingin tahu bagaimana calon menantuku.” Teguran appa membuatku tersenyum kecil kemudian mengikuti ayah yang duduk diruang tengah bersama ibu dan Rin Hyo.

Annyeong hasimika, abonim omonie, Sam Rin Hyo imnida.” Ucap Rin Hyo dengan nada yang dibuat seriang mungkin seraya menunduk sopan pada kedua orang tuaku.

“Ya Tuhan Rin Hyo-ah, mengapa wajahmu pucat sekali? Kau sakit, nak?” Aku menatapnya cepat saat pertanyaan ibu itu menghunus padanya. Bahkan ibu yang baru saja bertemu dengannya saja dapat mengetahui bagaimana keadaan gadis ini. Padahal aku sudah menyuruh petugas salon agar membuat make up itu menutupi wajah pucatnya itu. Namun, hasilnya tetap saja.

“Sedikit, ibu. Apa boleh aku memanggilmu seperti itu?”

“Tentu saja, kau juga boleh memanggilku ayah.” Sam Rin Hyo hanya tersenyum kecil membalas ucapan orang tuaku.

“Aku senang kalian mau cepat – cepat menikah. Kami sudah menyiapkan semua persiapan pernikahan kalian. Jadi kalian hanya tinggal menunggu.” Aku dan Rin Hyo mengangguk mengerti.

“Rin Hyo-ah, meski strata keluargamu berbeda dengan keluarga kami. Jangan terlalu merendah, kau masih tetap akan selalu menjadi putri kami.” Sam Rin Hyo tersenyum seraya mengangguk mengerti.

“Sam Rin Hyo akan tinggal disini mulai sekarang, bu. Aku yang mengajaknya.”

Keure. Rin Hyo-ah, anggap saja rumah sendiri.”

***

Akhirnya hari itu datang, hari dimana aku akan menggenggamnya dan mengikatnya untuk selama – lamanya. Aku berdiri didepan pendeta dengan setelan tuxedo yang sangat pas pada tubuhku.

Kutolehkan kepalaku kearah bangku – bangku depan, tersenyum kecil. Disana ada ibuku, Dong Hwa hyeong dan juga ibu mertuaku duduk bersebelahan dengan Shin Ji Eun, sahabat baik Rin Hyo. Gadis itu menatapku tak suka. Ya, pantas, ia tahu bagaimana Sam Rin Hyo tersiksa dengan pernikahan ini. Egois? Biar, asal gadis itu pada akhirnya akan berdiri disampingku. Aku akan melakukan semua hal yang bisa mewujudkan mimpi itu. Walaupun, ia tidak mencintaiku. Namun, aku akan berusaha membahagiakannya. Menjadikannya gadis satu – satunya dan membuat ia mencintaiku nanti.

Sebenarnya, aku bukanlah orang yang suka menggunakan cara licik untuk mendapatkan sesuatu. Keadaan yang membuatku seperti ini. Dalam Lee group, terdapat adat turun temurun tak tertulis bahwa pewaris perusahaan harus sudah menikah dan memiliki anak. Ayah mengancamku jika aku tidak segera menikah tahun ini, warisan akan diberikan pada Donghwa hyeong. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi begitu saja.
Suara lonceng berbunyi, pintu itu terbuka seiring dengan masuknya seorang gadis cantik yang digandeng oleh seorang pria tua. Pria itu ayahku. Ayah Rin Hyo sudah meninggal, jadi ayahku yang akan mengantarnya ke altar.

Wajah gadis itu sangat datar dan dingin, tatapan matanya kebawah-walau ia tak menunduk. Membuat hatiku melongos, cih, apa yang kau harapkan Lee Donghae? Ia akan tersenyum manis padamu? Ia menatapmu saja tidak. In your dream, Lee Donghae. In your dream.

Ayah mengulurkan tangan Rin Hyo padaku, kuambil tangan itu seraya tersenyum pada Sam Rin Hyo yang memasang wajah datarnya. Aku menuntunnya untuk menaiki satu anak tangga kecil. Berdiri berdampingan didepan pendeta.

***

“Kau lelah?” Tanyaku sesampainya didalam kamar, aku membawanya ke apartemen baruku yang berada di Cheondamdong. Apartemen yang kubeli sengaja untuk keluarga kecilku nanti. Ia sudah mengganti bajunya dengan gaun sependek lutut dan berlengan panjang. Sam Rin Hyo menoleh kearahku sebentar kemudian berjalan menuju kamar mandi.

“Tidak, aku hanya ingin mandi.” Ujarnya sebelum memasuki kamar mandi. Menghela napas, hanya itu yang dapat kulakukan saat menerima sikapnya yang seperti ini.

Tak lama ia berada didalam sana, sekitar 20 menit. Gadis itu keluar dengan baju handuk yang dipakainya, ia memegang handuk kecil yang berguna untuk mengeringkan rambutnya. Berjalan kearah ranjang, dan duduk ditepi ranjang tanpa rasa canggung sama sekali. Ah ya, ia tidak mencintaiku bahkan mungkin tidak menganggapku. Jadi, wajar ia merasa biasa saja. Berbeda denganku yang sudah berdebar menatapnya yang terlihat… seksi? Istri yang cantik dan seksi. Tapi tidak mencintaiku. Tch, menyedihkan.

“Kau punya wine?”

“Mm?”

“Lupakan, aku akan mencarinya sendiri.” ucapnya lalu beranjak, melenggang kearah pintu kamar.

“Ada di dapur, cari saja disana.” Ia menghentikkan langkahnya kemudian menoleh sedikit kearahku.

“Aku boleh meminumnya, kan?”

“Tentu saja.” ia mengangguk kemudian kembali melanjutkan langkahnya, keluar dari kamar hanya dengan baju handuk yang membungkusnya. Lagi, helaan napas berat itu keluar. Ah, badanku terasa sangat lengket.

***

Suara kucuran air yang memasuki gelas kaca itulah yang pertama kali masuk pada gendang telingaku saat aku memasuki areal ruang makan. Gadis itu meneguk wine itu tanpa sisa, entah ia sudah menghabiskan berapa gelas. Yang kulihat, botol itu sudah habis setengah.

Gadis itu masih memakai baju handuknya, apa ia tidak kedinginan? Aku duduk disampingnya. Kini, hanya kaus oblong dan celana pendek saja yang menempel ditubuhku. Ia menoleh kesamping, mungkin karena mendengar suara decitan kursi yang kutarik keluar tadi. Ia menatapku dengan kedua mata sayunya yang berair.

“Aku membencimu, Lee Donghae.” Desisnya namun dengan nada bicara yang mendayu. Sepertinya ia sudah mabuk.

“Kau brengsek, bedebah, bajingan. Kau adalah pria seperti itu!” bentaknya, kini dengan isakan yang semakin menjadi – jadi. Sedangkan aku? Hanya diam. Membiarkannya berucap sesuka hati. Karena, tak ada satupun alasan untukku membela diri. Ia benar, sangat benar.

“Setidaknya kau harus mengganti pakaianmu dulu.” Gumamku pelan. Namun, ia masih saja mengumpatiku. Telinganya seperti tuli, tak dapat mendengar suaraku. Ia meminum wine –nya lagi. kemudian melanjutkan raungan tangisannya yang sempat ia hentikkan karena meminum cairan pekat itu. Hatiku semakin terasa sakit melihatnya seperti ini. Ingin sekali kuhapus air mata itu, namun pada kenyataannya aku lah yang membuat air matanya keluar.

Mianhe, Rin Hyo-ah.” gumamku kemudian merengkuh tubuhnya kedalam pelukanku yang begitu erat. Ia tidak berontak, malah semakin mengeratkan pelukannya. Aku sakit melihatnya seperti ini, namun aku semakin tersiksa saat melihatnya tak berekspresi. Menyimpan segala gondok dihatinya seorang diri.

Kulepaskan pelukan itu, menatapnya dengan tatapan sayu. Kudekatkan wajahku padanya, mencium bibir itu dengan lembut dan pelan. Aku terperangah saat ia malah menangkup wajahku seraya membalas ciumanku. Ku lepaskan ciuman itu, semakin memperat pelukanku padanya seraya memiringkan kepala mencoba mencari posisi yang sangat tepat.

“Kyuhyun-ah, bogoshipo.” Desisnya tertahan. Bibirku yang hampir menyentuh bibirnya terdiam kaku. Hah, ternyata ia menganggapku Cho Kyuhyun. Ya, mungkin dia terbawa pengaruh alkohol. Tapi masa bodoh. Aku menginginkan gadis ini. sekarang.

***

Sam Rin Hyo.

Ini sudah menginjak 6 bulan pernikahan kami. Tidak ada yang berubah selama itu, terutama hatiku. Hatiku sudah terikat oleh Cho Kyuhyun, dan aku juga tak berniat untuk mengendurkan ataupun melepas ikatan itu. Aku masih mencintainya dengan caraku sendiri.

Dan untuk kedua mataku, mereka sudah tidak bisa digunakan lagi. Ternyata begini rasanya, hanya melihat kegelapan. Tak ada apapun selain hitam. Sangat menyesakkan. Dan ini yang dirasakan Cho Kyuhyun saat itu, hah, ini semua karenaku.

Jika saja saat itu tubuhku tak kaku. Seharusnya saat itu aku segera mendorong tubuh Donghae, menendang selangkangannya, atau menampar pipinya. Seharusnya aku melakukan semua itu agar Kyuhyun tak melihatku dan kehilangan fokus.

Now I need to erase the many traces of loving you.
Your pictures, the tea cups we shared.
They remain without an owner.
With just memories, with just my lingering attachments.
All of these things don’t have meaning anymore.
If I touch it, my tears fall.
If I look at it, my heart gets bruised.
So now I erase your tracer by burying it as sad memories. (
Cho Kyuhyun – Love dust)

Air mataku menetes mendengar suara yang begitu kurindukan ini melantun dari dalam headseat yang kupakai. Tiap malam, aku harus mendengar suaranya agar dapat terlelap dengan tenang. Tanpa tangisan.

Pelukan Lee Donghae yang merengkuhku, tak ada artinya. Semuanya terasa hambar, tanpanya. Tanpa pria yang sering merecokiku. Pria yang tiba – tiba datang dikehidupanku tanpa kusuruh. Pria yang awalnya berusaha untuk kusingkirkan, namun sekarang sangat kubutuhkan. Pria seperti itu dia, Cho Kyuhyun.

“Ah.” pekikku kecil saat mendapat sebuah tendangan kecil dari dalam perut. Kuelus perutku yang sudah membesar sedikit. Ya, aku hamil. Sudah 5 bulan lamanya. Meski aku tidak mencintainya, aku tetap memperlakukannya sebagai suami. Aku tidak ingin menanggung dosa besar karena tidak menjadi istri yang baik.

Kuelus perut buncitku itu pelan. Akan seperti apa nanti rupanya? Sepertiku? Seperti Lee Donghae? Semoga kau laki – laki ya, nak. Semoga kau pintar seperti ayahmu, kau adalah satu – satunya penerus Lee group setelah ayahmu.

“Belum tidur?” suara Lee Donghae disusul dengan suara berisik langkah seseorang dan juga barang – barang yang berserakan. Sepertinya ia sedang merapikan barang – barangnya yang tadi ia bawa kekantor.

“Tidak mengantuk.” Ujarku pelan. Aku kini duduk bersandar pada dinding ranjang. Mendengarkan lagu – lagu yang Kyuhyun dendangkan seraya mengelus perutku yang membuncit.

“Sudah pukul 11 malam, kau harus istirahat.” Balas pria itu seraya mendekat padaku, mengelus perut seraya memelukku dari samping. Aku bisa merasakan ia menempelkan telinganya diperutku.

“Ayah pulang, apa kau tidur?” bisiknya dengan begitu lembut. Demi apapun, Lee Donghae memperlakukanku sangat lembut. Ia adalah pria terlembut yang pernah kutemui. Namun semua itu tak bisa membuatku nyaman.

Lee Donghae menghentikkan elusannya, menggeser sedikit tubuhnya kemudian merapikan rambutku yang aku tidak tahu bagaimana kelihatannya. Selama aku belum terbiasa dengan kebutaanku, ia lah yang menjagaku, menyisiri rambutku, memakaikanku pelembab dan menuntunku kemana – mana.

Perlakuannya mengingatkanku pada perlakuanku pada Cho Kyuhyun waktu itu.

Author.

Lee Donghae menatap istrinya yang berwajah dingin dan datar dengan nanar. Terkadang terlintas dibenaknya, pertanyaan – pertanyaan tak terjawab seperti Tidakkah ia melupakan bagaimana caranya tersenyum? Tertawa? Bahkan tersenyum kecil sekali pun? Karena ia tidak pernah melihat gadis itu ceria selama ini.

Helaan napas Donghae keluar, terdengar berat dan tak bertenaga. Ia akan mengatakan semua dosanya sekarang, tanpa terkecuali. Apa yang ia inginkan sudah ia dapat, jadi sudah saatnya ia untuk jujur.

“Ada yang ingin kau katakan? Deru napasmu terdengar sangat gusar.” Lee Donghae menatap Sam Rin Hyo terperangah, tak menduga istrinya itu dapat menebak pikirannya dengan tepat.

“Em.”

“Katakan saja.”

“Aku yakin kau pasti akan membenciku setelah ini… soal Cho Kyuhyun, sebenarnya kecelakaan itu sudah direncanakan.” Kedua kelopak mata Sam Rin Hyo membesar, walaupun bola matanya hanya terpaku pada satu pandangan. Jantungnya terasa dihantam batu yang sangat keras. Napasnya tercekat.

“Olehmu, benarkan?” geram Rin Hyo menahan emosi.

“Em, olehku. Aku ingin ia cacat, dan akhirnya kau akan meninggalkannya. Namun, scenario yang kubuat tak berjalan mulus. Aku tidak tahu kau akan mengorbankan kedua matamu untuknya. Aku benar – benar tidak menginginkan ini.” Sam Rin Hyo hanya diam dengan napas yang tercekat ditenggorokan.

“Kau… bukan manusia.” Desis gadis itu geram. Ingin marah namun semuanya terasa sia –sia saja. Pada kenyataannya juga, ia sudah kehilangan semuanya.

“Aku, tak akan pernah bisa memaafkanmu.” Wajah Lee Donghae mengeras. Tangan kanannya melayang kearah bahu istrinya, namun segera ditepis oleh Sam Rin Hyo.

“Jangan menyentuhku!” suara Rin Hyo serak. Ia benar – benar menahan amarahnya sekuat tenaga, hingga jantungnya serasa diremas – remas kemudian dikeluarkan dan dimasukkan lagi. Sangat menyiksa.

Mianhe. Aku benar – benar minta maaf.” Rin Hyo menggeleng pelan, menghela napas panjang. Mencoba merilekskan diri meski gagal.

“Jika kau bisa mengembalikan semuanya, aku akan berpikir untuk memaafkanmu.” Kedua mata Donghae terpejam, menjatuhkan setetes air mata. Ia sadar jika ia memang sangat berdosa dan tak termaafkan. Namun, ia sangat tersiksa melihat ekspresi tak terbaca Sam Rin Hyo.

“Hyo aku—“

“Kubilang jangan menyentuhku!!!” bentak Sam Rin Hyo dengan suara yang lebih keras dan menajam saat Donghae mencoba memeluk gadis itu lagi.

“Kau… terlalu hina untuk menyentuhku.”

***

5 years later

Cho Kyuhyun.

Sudah lima tahun lebih. Lima tahun yang penuh keterpurukan dan keputus asaan. Sangat sial. Aku tidak pernah bisa menghapus bayangnya. Karena memang sekali pun tak pernah aku berniat untuk menghapusnya. Apalagi menggantinya.

Sam Rin Hyo. Menyebut nama gadis berambut panjang bergelombang itu dalam hati saja sudah membuat jantungku berdebar. Aku benar – benar merindukannya. Jika ada kalimat yang lebih dari itu, aku akan mengatakannya. Ini lebih dari sebuah rasa rindu yang tak tersampaikan. Namun, suatu kebutuhan yang sangat penting hingga membuat hatiku mati rasa, saking sakitnya.

Kedua mataku terpejam saat kenangan pahit itu menghampiri. Ketika aku tahu bahwa aku memakai kornea Sam Rin Hyo.

Flashback

Saat itu, makan malam keluarga Cho. Kim Hana-nyonya Cho yang biasanya berceloteh panjang tanpa henti kini hanya bungkam. Menghabiskan makanannya dengan pelan dalam diam. Padahal malam ini, pertama kalinya semua keluarga berkumpul bersama.

“Sebenarnya aku penasaran, siapa malaikat yang dikirimkan untukku? Memberikan korneaku dengan baik hatinya. Apa ibu tak diberi tahu alasannya mengapa mau mendonorkan kornea?” Gerakan Kim Hana terhenti, tubuhnya kaku seketika. Tidak mungkin jika ia mengatakan bahwa Sam Rin Hyo lah yang memberinya, tanpa persyaratan apapun. Hanya satu permintaan yang ia minta, jangan beri tahu Cho Kyuhyun. Ucapan Sam Rin Hyo yang seperti itu terngiang kembali ditelinga Kim Hana.

“Ibu?” Tanya Kyuhyun lagi merasa tak dijawab. Pria itu semakin memincingkan kedua matanya saat menyadari gerak – gerik ibunya yang gusar dan gelisah.

“Alasannya… karena ia memang malaikat, yang mempunyai hati yang baik.” Jawab Kim Hana pelan kemudian menghela napas panjang.

“Ibu bisa memberi tahuku, siapa dia? Aku ingin berterima kasih secara langsung padanya.” Kim Hana membalas tatapan penuh harap putranya dengan sendu. Membuat seisi ruang makan hening.

“Ukh. Aku sudah selesai, kalian mengobrol dulu saja. Aku harus memeriksa laporan keuangan perusahaan pada bulan ini.” Ujar suara tegas Ayah Cho Kyuhyun, seiring dengan suara gesekan kursi. Pria tua itu berjalan pelan menuju ruang kerjanya. Ya, untuk seorang Presiden Direktur seperti ayah Kyuhyun. Tentu punya ruang kerja dirumahnya.

“Ah, iya! Aku harus membersihkan kamarku!” kerutan dahi Kyuhyun semakin tercetak jelas. Sejak kapan pemalas seperti Cho Ahra mau membersihkan kamarnya? Batinnya penuh heran. Namun tak lama ia menatap kakak perempuannya, sebelum ia menatap ibunya lagi.

“Ibu?” panggil Kyuhyun ragu melihat wajah gusar dan juga gelisah ibunya yang membuat jantungnya berdegup kencang. Kim Hana menatap putra semata wayangnya cepat, kedua mata yang teduh itu kini membesar seiring dengan keringat dinginnya yang mengucur deras dikedua pelipisnya.

“Orang itu… Sam Rin Hyo.”

Now.

Kedua mataku terpejam rapat – rapat. Mengingat Sam Rin Hyo melakukan ini semua untukku rasanya seperti tertampar keras. Sangat sakit.

Aku mengambil napas dalam – dalam. Dadaku sangat sesak hanya dengan membayangkan wajah cantik itu tengah tersenyum padaku.

“Dua hari lagi kau harus ke L.A untuk rekaman, lalu besoknya kita ke gedung kedutaan Korea Selatan. Duta besar ingin bertemu denganmu.” Celetukkan Park Jung Sik membuat kedua mataku kembali terbuka. Pria yang sudah sedikit menua itu menatapku dengan lensa kacamatanya.

2 tahun yang lalu dia menikah dengan seorang gadis cantik dari Ilsan. Meski sudah beristri, ia berjanji akan selalu menjadi manajerku hingga aku ingin berhenti dari dunia hiburan. Park Jung Sik memang hyeong yang selalu menepati janji.

Keure! Bagaimana pun aku harus berusaha keras untuk lagu terakhirku ini.” Ujarku seraya tersenyum kearahnya.

“Kau memang harus bekerja keras!” Park Jung Sik tertawa kecil kemudian menaruh smartphone-nya disamping tubuh. Kami sekarang duduk berhadapan didalam van milikku. Ia bersendekap seraya tersenyum kebapakan padaku.

“Cita – citamu terealisasikan setelah kau mendapat keajaiban itu. Menjadi World Star yang sangat dielu – elukan dunia. Sangat membanggakan.” Jung Sik menghela napasnya panjang.

“Dimana pun Sam Rin Hyo sekarang, pasti ia sangat bangga padamu. Pasti ia sangat bahagia karena pengorbanannya tak sia – sia.” Aku terdiam saat melihatnya menoleh kearah jendela yang mulai mengembun dan sedikit terkotori oleh salju – salju kecil. Hatiku selalu berdenyut perih saat mengingatnya, mendengar namanya, apalagi melihatnya-meski sekadar sebuah foto.

Kutatap jendela berembun itu dengan nanar pula. Diluar sepertinya sangat dingin, seperti hatiku saat ini. Bahkan pemanas yang berada di mini van ini juga tidak membantu sama sekali. Malah semakin membekukan.

“Setelah ini kau langsung pulang atau mampir dulu?” Pertanyaan Jung Sik hyeong membuatku berpikir sejenak.

“Aku suka melihat sungai han membeku saat musim dingin.” Senyuman kecilku terulas.

“Ke sungai han, sekarang.”

***

“Kau ini bodoh! Ingin demam, ya? Agar aku memperhatikanmu?”

“Aish, jangan ke-GR-an kau, Cho Kyuhyun! Aku tidak pernah merasa seperti itu.”

“Lalu untuk apa kesungai han saat musim dingin, hm?”

“Hanya ingin saja! Kau tidak terima?! Pulang saja kalau begitu! Aku masih ingin disini!”

“Tsk, dasar Sam Rin Hyo pengancam.”

“Terserah kau mau bilang apa. Aku suka melihat sungai han membeku saat musim dingin. Karena, sungai yang biasanya bening kini jadi putih. Aku suka putih.”

“Apa? Hanya itu? Hanya karena putih kau menyukainya?!”

“Mm. hanya karena mereka putih. Ck, lagi pula kan masih menyukai. Bukan mencintai seperti aku mencintai Cho Kyuhyun.”

“Tsk, sekarang kau pintar merayu, eo?”

“Eung… sebenarnya agar kau betah lama – lama disini menemaniku. Hihihi.”

“Ck, kalau begitu kau menang nona Sam yang sangat kucintai.”

Aish Kyu!!! Berhenti menciumku ditempat umum!!”

Senyumanku tak henti – hentinya terulas. Kedua mataku menatap hamparan sungai han yang sebagian membeku dan memutih. Jika dilihat – lihat, memang sangat indah. Seperti yang Sam Rin Hyo katakan.

Hempasan angin yang sangat dingin itu entah kenapa membuatku sedikit menghangat. Apa karena disini dulu aku sering bertemu dengan Sam Rin Hyo? Atau karena otakku yang sudah sedikit melenceng dari biasanya? Entah, yang penting aku masih ingin berlama – lama disini.

“Lee Dong Hyun!! Jangan dekat – dekat dengan pagar pembatas!!” kedua mata yang hampir terpejam, terbuka dengan cepat. Suara itu sangat familiar ditelingaku. Meski aku sudah lama tak mendengarnya, namun suara itu terdengar tak asing lagi.

Perlahan aku menoleh kesumber suara. Menatap seorang wanita yang berpakaian tebal tengah mengejar seorang anak laki – laki yang mungkin usianya 4 tahun-atau lima tahun. Wanita itu dengan cekatan menangkap tubuh anak kecil itu. Menggendongnya dengan paksa menuju kursi yang terbangun kokoh dibawah pohon maple yang tertutupi butiran salju.

“Kau ini kenapa nakal sekali, eo?! Disana berbahaya! Kau bisa jatuh, ara?!” gerutuan kesal wanita itu membuat anaknya terkekeh kuat. Tanpa sadar kepalaku menggeleng, anak yang bandel! Batinku. Tanpa sadar pula kedua kakiku melangkah mendekatinya. Dengan langkah pelan tapi pasti aku hampir mencapainya. Wanita itu… ya! Wanita itu.

“Sam Rin Hyo?” aku bisa melihat tubuhnya tersentak, tangan yang sejak tadi menahan anaknya dipangkuan pun melemah seiring dengan kepalanya yang perlahan menengadah. Anak lelaki nakal itu sudah berlari lagi entah kemana.

Karena kini pandanganku hanya terpaku pada kedua mata sendu dan hangat milik Sam Rin Hyo. Wanita yang sampai detik ini sangat kucintai. Apa anak nakal tadi anaknya? Dengan Lee Donghae?

“Kau…” air matanya menetes, namun ekspresinya masih tak terbaca. Entah itu ekspresi senang atau sedih. Air mataku pun sudah menetes, hatiku yang sesak perlahan mengosong. Kemudian terasa penuh, bukan sesak. Tapi sangat pas.

“Hai!” sapaku dengan nada serak yang sangat menyedihkan. Tapi aku tidak peduli dengan itu semua, yang kupedulikan kini adalah bagaimana caraku untuk segera merengkuh tubuh yang sangat kurindukan ini kedalam pelukanku.
“Hai!” balasnya seraya berusaha untuk tersenyum walaupun kedua matanya menangis. Tak tahan, segera kurengkuh tubuhnya. Tubuh yang selalu pas untuk kupeluk. Menggenggam tangannya yang sangat pas untuk telapak tanganku.

Aku benar – benar sangat ingin terbang sekarang. Membawanya pergi ketempat yang ada aku dan dia saja. Hidup tenang dengan penuh kebahagiaan disana.

Mianhe.” Entah sudah berapa kali kata itu kuucapkan untuknya. Karena sebanyak apapun, kurasa tak akan cukup. Dapat kurasakan ia menggeleng didalam pelukanku.

“Tidak, Kyu! Kau melakukan yang terbaik! Kau sudah melakukan yang terbaik!” ujarnya ditengah isakannya. Aku semakin mengeratkan pelukanku, meredam isakannya yang membuatku sakit. Ingin mengatakan sudah! Jangan menangis lagi! Namun rasanya tidak pantas. Ia menangis karenaku. Dan aku pikir ia sudah memendam perasaan ini sangat lama.

Entah bagaimana pun kelanjutannya nanti. Entah apakah wanita ini masih menjadi milik orang lain. Masa bodoh dengan semua itu, aku ingin merengkuhnya untuk kali ini saja. Kali ini saja.

***

Author.

“Dia pria yang baik, sebenarnya.” Tukas Sam Rin Hyo seraya menatap makam Lee Donghae lama, dalam diam. Cho Kyuhyun yang tadi menanyakan keadaan Lee Donghae dibawa Sam Rin Hyo menuju makam Donghae. Selepas menunggui Lee Dong Hyun bermain hingga lelah di sungai han.

Kyuhyun menoleh pada Rin Hyo seraya mengernyit. Lee Donghyun yang berada digendongannya masih terlelap. Mungkin sangat lelah karena terlalu lama bermain.

“Aku tidak percaya jika semuanya akan jadi seperti ini. Aku merasa… tuhan memang pintar, membuatku terombang – ambing oleh takdir yang rumit.” Sam Rin Hyo menatap makam itu dengan pandangan kosong.

“1 tahun yang lalu, Donghae kecelakaan dijembatan sungai han. Mobilnya masuk kesungai dari ketinggian yang cukup mengagumkan. Pria itu meninggal di rumah sakit, dan didetik – detik terakhirnya. Ia meminta ibu mertua untuk mendonorkan korneanya untukku.” Cho Kyuhyun ikut menatap makam Lee Donghae dengan tatapan yang sulit dimengerti. Kebenciannya pada Lee Donghae hilang begitu saja.

“Aku merasa, semua kekacauan ini bukanlah disebabkan oleh Lee Donghae. Tapi, karenaku! Karenaku yang terlalu menyedihkan hingga seorang pria yang sudah buta oleh cinta melakukan segala hal untuk mendapatkanku. Ini semua karenaku.”

“Hyo, kau jangan menyalahkan dirimu sendiri!” kepala wanita itu menggeleng kuat. Sorot matanya menatap Kyuhyun tak terima.

“Ini salahku! Coba saja saat itu aku lebih berhati – hati menyembunyikan hubunganku denganmu. Lee Donghae tidak mungkin berpikiran licik untuk menyingkirkanmu.” Kyuhyun terdiam mendengar bentakkan Sam Rin Hyo.

“Kau mencintainya?”

“Aku merasa bersalah padanya.”

“Kau masih mencintaiku? Selama ini?” Sam Rin Hyo terdiam, kepalanya tertunduk.

“Bagaimana denganmu?”

“Masih, tentu saja.”

“Kau hanya merasa bersalah padaku.” Elak Sam Rin Hyo saat mendengar jawaban yang terlontar dari bibir Kyuhyun itu keluar sangat cepat.

“Tidak! Aku mencintaimu!”

“Benarkah?” Kyuhyun menyanggah tubuh Donghyun dengan satu tangan. Kemudian menarik dagu Rin Hyo dengan tangan satunya. Mencium bibir itu dalam. ciuman penuh kerinduan.

“Masih tidak percaya?” Rin Hyo meneteskan air matanya lagi. Menatap Kyuhyun dengan senyuman kecil seraya mengangguk.

“Kalau begitu aku juga.”

***

Epilog.

“Lee Dong Hyun! Jangan lari – lari seperti itu!”

“Ahjussi! Kau ini cerewet sekali. Ibuku saja tidak menegurku!”

“Aish, bocah ini benar – benar… sini kau! Aku akan membuatmu mengompol lagi hari ini!” Aku menatap dua lelaki yang sangat kucintai itu dengan segaris senyuman tipis. Cho Kyuhyun yang terlihat bersemangat menggelitik tubuh kecil Lee Dong Hyun, sedangkan bocah pendek itu tertawa sangat keras karenanya. Oh, sepertinya nanti ia akan mengompol lagi. Jika terlalu geli ia mudah mengompol.

“Ya! Cho Kyuhyun!! Aku tidak ingin kerepotan jika ia mengompol!!” teriakku pada mereka yang masih sibuk sendiri ditepi pantai. Kedua kaki mereka sudah basah oleh deburan ombak yang menyapa. Kyuhyun menghentikkan kegiatannya, menoleh padaku kemudian tersenyum manis, aku pun membalasnya serupa. Ia membiarkan Lee Dong Hyun berlarian kesana kemari. Berjalan kearahku tanpa mengalihkan pandangan dan juga tak berniat melunturkan senyuman.

Pria yang sangat kucintai yang tampan. Kupejamkan kedua mata saat ia menciumku kilat, duduk disampingku seraya mengawasi Lee Dong Hyun yang terlihat heboh sendiri bermain air. Aku pun begitu.

“Bukankah dia sangat mirip dengan Donghae?” aku bisa merasakan ia menoleh kearahku.

“Dia pendek untuk lelaki seusianya. Tch, aku dan Lee Donghae memang bukanlah pasangan yang cocok. Kami sama –sama pendek, dan itu tidak akan memperbaiki keturunan.”

“Ya, bocah itu memang sangat pendek dan tidak bisa diam.”

“Mm, tapi tidak apa – apa. Seharusnya, ia mewarisi sifat malaikatku dan Donghae. Bukankah begitu?”

“Ck, malaikat apa?” Aku terkikik geli lalu terdiam, menatap deburan ombak itu dengan perasaan damai.

“Menurutmu, apa Lee Donghae bahagia disana?” Cho Kyuhyun tersenyum kecil.

“Tentu, ia pasti sedang tersenyum sekarang. Pria itu, aku sudah tahu jika ia sangat mencintaimu. Dan aku yakin, ia pasti bahagia jika kau juga bahagia.” Aku mengangguk – angguk pelan.

“Benar. Pasti seperti itu.

“Tidakkah ini seperti takdir?” Kepalaku tertoleh cepat pada Kyuhyun dengan dahi berkerut tak mengerti. Perlahan ia menatapku, melempar senyuman menenangkannya kemudian mulai berbicara.

“Kau menikahi Lee Donghae dan memberikan korneamu padaku. Lee Donghae yang sangat licik meninggal dengan meninggalkan korneanya untukmu. Bukankah itu sebuah sikap yang membuatmu memaafkannya dan sadar jika membencinya adalah hal yang konyol?” Aku tersenyum kecil, mengingat bagaimana ketulusan Lee Donghae mencintaiku. Hatiku berteriak memaki diriku sendiri yang begitu jahat karena tidak bisa membalas cintanya. Rasa bersalah ini membuat air mataku menetes, lagi.

“Dia pria yang baik. Seharusnya aku sadar akan hal itu.” Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, meredam isakanku yang terdengar menyedihkan. Rasa dingin menusuk tulang seolah memberi kelengkapan untukku meraungkan tangisanku ini. Namun tiba – tiba menghangat. Kedua lengan yang cukup kekar itu merengkuhku kedalam pelukan hangatnya. Kedua mataku terpejam, mendengar detakan jantungnya yang iramanya selalu membuatku ingin segera terlelap. Benar – benar memberi ketenangan batin.

“Dia akan sedih jika kau seperti ini. Keputusannya untuk memberikan korneanya untukmu, agar kau bisa melanjutkan hidupmu dengan senyuman, Hyo. Bukan tangisan.” Aku mengeratkan pelukanku. Mendekap tubuh itu dengan membisikkan.

“Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun. Jika saja ragaku tak lengkap lagi seperti dulu, aku tak akan menyesal asal kau masih mencintaiku.”

“Kau lupa dengan ucapanku dulu, hm? Tidak apa aku buta, pincang, bahkan buntung sekali pun. Aku bisa tenang, At least… I still have you, Sam Rin Hyo!”

Eomma! Apa yang sedang kau lakukan?” celetukkan bocah yang sangat kuhapal suara
nya itu membuat rengkuhan erat tadi terpaksa terlepas. Kyuhyun terlihat memandang sekitar pantai, menghindari tatapan menyelidik Lee Dong Hyun. Sedangkan aku sesekali melirik Kyuhyun kemudian menatap putraku seraya melambaikan tangan. Menyuruhnya mendekat padaku. “Kau juga ingin eomma peluk, Hyun-ah?” Lee Dong Hyun tersenyum lebar kemudian melompat pada pelukanku.

Aigoo… putra eomma ini semakin gemuk ternyata.” Kepala Dong Hyun yang tadinya berada didekapanku, menyembul keatas. Menatapku sebentar kemudian menatap Cho Kyuhyun dengan pandangan tidak suka.

“Ini semua karena Kyuhyun ahjussi yang selalu mengajakku makan daging setiap menjemputku pulang sekolah!” Kedua mataku melebar sempurna, menatap Kyuhyun yang tengah merutuki Dong Hyun.

Aish, bocah ini!”

“Jadi selama ini, kau membawanya makan daging untuk makan siang? Dia itu masih kecil, jika terus menerus memakan daging kapan bisa tumbuh keatas, huh?!”

Aish, mengapa kau malah marah padaku? Bukankah memang itu faktor gen yang sama – sama pendeknya! Lagi pula Dong Hyun juga menikmatinya, benar kan? Mengaku saja kau!”

Anio eomma! Aku sangat bosan dengan daging! Kau tahu sendirikan jika aku selalu suka dengan sayuran buatan eomma?”

“YA!! Kau bilang waktu itu masakan eommamu sangat membosankan karena selalu sayur, sayur dan sayur.” Ujar Kyuhyun seraya menirukan gaya bicara Dong Hyun. Aku hanya bisa menatapi kedua pria ini dengan pandangan tak percaya. Mereka saling bertatapan sengit, tak ada yang mau kalah.

“Karna kalian sama – sama salah! Kalian harus dihukum!”

MWO?!” pekik Kyuhyun dan Dong Hyun bersamaan.

“Kyuhyun harus menggendong Dong Hyun dan masuk kedalam air! Dan kau Lee Dong Hyun! Satu bulan ini kau hanya diperbolehkan minum susu, air mineral, nasi dan sayur – sayuran saja. Ara?!

Aish.” Desah kedua pria itu dengan wajah yang begitu kesal. Aku hanya dapat mengulum tawa seraya menggedikkan kepalaku kearah laut.

“Tunggu apa lagi? Cepat lakukan! Atau aku tidak mau menjadi istrimu!”

“A—baiklah – baiklah,” ujar Kyuhyun cepat kemudian jongkok didepan Dong Hyun.

“Cepat naik! Ck, benar – benar tidak adil!” Dong Hyun tertawa lepas kemudian melompat keatas punggung Kyuhyun dengan kuat.

Aish! Pelan – pelan!” Dong Hyun memeluk leher Kyuhyun kemudian menarik – nariknya seperti sedang menunggangi kuda.
“Ayo! Cepat! Lari!” teriaknya dengan girang membuatku tertawa lepas melihat Kyuhyun yang tersiksa.

Aish, dasar bocah tengil!” gerutu Kyuhyun kemudian berdiri dan berlari kencang menuju laut.

“YA!! Ahjussi!!! Pelan – pelan saja!!!” teriakan Dong Hyun itu terdengar keras meski mereka sudah berada cukup jauh dariku. Kyuhyun menceburkan diri kedalam laut kemudian terlihat bermain air bersama Lee Dong Hyun. Aku tersenyum melihatnya. Kedua pria itu adalah pria yang sangat kucintai didunia ini.

Aku sangat berterima kasih pada Lee Donghae yang membuatku mengerti tentang makna kehidupan yang sebenarnya. Aku berpikir, uang adalah segalanya. Tapi tidak! Kita tidak akan bahagia jika tidak ada cinta. Semuanya terasa hambar jika tidak ada kasih sayang.

Namun, sekarang! Aku bisa belajar dari Lee Donghae. Kekayaan yang ia miliki tak sebanding dengan kasih sayang yang ia miliki. Seperti 5 banding 0,5. 5 kekayaan dan 0,5 kasih sayang. Sangat jauh jaraknya. Dan aku bisa belajar dari Cho Kyuhyun yang memberiku cinta sangat tulus. Memberiku pelajaran akan mencintai seseorang dengan setulus hati. Memberiku kebahagiaan tiada tara dan memberiku perasaan kuat yang hanya aku yang dapat merasakannya.

Semuanya terasa lengkap pula dengan kehadiran Lee Dong Hyun. Tuhan… aku bahagia.

———

END-

.
.
.

Hallo! Finally, selesai juga! Karena saya nggak pinter cuap – cuap didunia maya ._. jadi saya cuman minta jangan jadi silent readers ya 🙂 Thanks!

Advertisements

117 thoughts on “At Least I Still Have You 6

  1. Alur ceritanya keren penggunaan kata-katanya juga bagus suka ama ff nih ^^
    keep writing ^w^ FIGHTING !!!

  2. kalo udah jodoh mau dipisahin kayak gimanapun ya tetep aja bakalan bersatu(:
    mungkin donghae dapet karma?dia terlalu licik sih jadi yg didapet bukan cinta yg ada malah bencinya rinhyo.-. tp donghae cintanya bener bener tulus ya(: sampe kasian ngeliatnya:”
    sadar gak sih?takdir udah mempermainkan mereka bertiga(: donghae yg udah ngilangin matanya kyu, sekarang?dia yg keilangan mata-dan juga menginggal. rinhyo yg nyerahin korneanya ke kyuhyun,sekarang?dia dapet kornea nya donghae, dan kyuhyun yg gatau apa apa kalo udah dimanipulasi semuanya dan harus kehilanganan penglihatannya, sekarang?dia dapet kornea rinhyo dan bahagia(:
    semua yg kita lakuin pasti bakalan dapet balasan yg setimpal bhkan bisa lebih buruk bisa juga lebih baik, itu tergantung sama yg kita lakuin itu baik ato buruk huhu
    makasih ya kak, maknanya dapet banget, maaf juga cuma komentar di part 1,3,sama end nya doang wkwkw jadi komentarnya ngerangkel numpuk dipart ini deh huahaha
    ditunggu karya lainnya ya kak *bow

  3. BAGUs nie.. bisa nguras air mata 😄😄👏👏👏👏….terus setiap part bikin penasaran….jd baru koment di part end 😁😁😁😁…maaf ya q jg mau ijin ubek” library’y

  4. semuanya akan berjalan dengan takdir ygsudah ditetapkan … happy ending buat kyu ama rin … semogaa kalian bisaa bahagia …

  5. Akhirnya bersatu juga ,udah gregetan pas tau kalo rin hyo hamil anak donghae
    tpi ending memuaskan mereka bersatu lagi plus dgn donghyun hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s