Final Destination 1

image

Author: Bella Eka
A/N: Annyeong 🙂 mohon commentnya yaa. Dilarang copas! Selamat membaca ^^

———

Dor! Dor! Dor!

Suara tembakan menggelegar ke segala penjuru bersamaan dengan ulasan senyuman miring di wajah seorang gadis yang berhasil membidikkan pelurunya sempurna pada tiap apel yang berada di tiga titik berbeda di ujung lapangan luas. Disusul dengan suara tepuk tangan dari seorang gadis lainnya yang melangkah menghampirinya dari balik kaca pemisah ruangan.

“Kau memang dilahirkan untuk melakukan ini, Shin Ji Eun,” gadis pemilik nama itu yang tengah melepas peredam suara di kedua telinganya pun tersenyum simpul.

“Semua ini berkat kau, Rin Hyo-ah. Aku sangat bersyukur dapat bertemu dengan seseorang yang tepat sepertimu,” balas Ji Eun dengan melebarkan senyumannya seraya mengaitkan lengannya pada tengkuk leher Rin Hyo.

“Apakah kau sudah menemukan jejaknya?”

“Belum, tapi semoga saja dia masih hidup sebelum aku menemukannya. Aku tak ingin dia mati terlebih dahulu. Ah-tidak, dia tidak boleh mati, sebelum aku menghabisi nyawanya dengan kedua tanganku sendiri,” Shin Ji Eun menerawang jauh ke depan dengan tatapan tajamnya serta senyuman miring yang mengerikan.

“Benar, memang sudah seharusnya seperti itu. Kau harus segera menemukannya, Shin Ji Eun.”

FLASHBACK

4 tahun yang lalu

Shin Ji Eun melangkahkan kedua kakinya perlahan memasuki kelas barunya setelah dipersilahkan oleh guru Kim. Gadis itu menyapukan pandangannya pada wajah-wajah baru yang masih terlalu asing baginya. Tidak sedikit dari mereka terlihat menatap sinis dirinya sedangkan yang lainnya menyambutnya dengan ramah, terutama siswa laki-laki dalam kelas itu.

“Silahkan perkenalkan dirimu,” Ji Eun menatap guru Kim yang menganggukkan kepalanya pertanda agar ia segera memperkenalkan dirinya. Gadis itu mengambil nafasnya dalam kemudian mulai membuka suaranya setelah melepaskan hembusan nafasnya cepat.

Annyeong haseyo, nama saya Shin Ji Eun. Saya siswi pindahan dari Busan, senang bertemu dengan kalian,” Ji Eun membungkukkan badannya memberi salam perkenalan pada para calon teman barunya setelah menyelesaikan ucapannya.

“Untuk selebihnya, silahkan kalian berkenalan secara pribadi dengan Shin Ji Eun dan perlakukan teman baru kalian dengan baik. Kalian mengerti?”

Nde,” jawab seluruh murid dalam kelas itu menuruti ucapan guru Kim.

“Shin Ji Eun, silahkan menempati tempat dudukmu disana,” tunjuk guru Kim seraya mengarahkan jari telunjuknya kearah sebuah bangku kosong di sebelah seorang gadis yang tengah memakai headset berwarna putih di kedua telinganya.

“Ya! Sam Rin Hyo! Lepaskan benda yang menyumpal telingamu itu sekarang juga!” bentak guru Kim sembari melebarkan kedua matanya kesal. Sementara gadis yang dipanggil Sam Rin Hyo itu pun melepas salah satu headsetnya dengan malas. Guru Kim semakin mendesis kesal pada gadis itu namun segera merubah raut wajahnya ramah ketika kembali menatap siswi baru yang menatapnya datar dengan sedikit kerutan di dahinya.

Shin Ji Eun menundukkan kepalanya sejenak pada guru Kim kemudian melangkah santai menuju bangku yang diperuntukkan untuknya tanpa menghiraukan bisikan-bisikan halus yang terasa tajam di telinganya sepanjang jalan.

Shin Ji Eun melirik sedikit melalui ekor matanya pada seorang gadis yang terlihat apatis di sampingnya. Kemudian ia kembali memusatkan perhatiannya pada guru Kim yang tengah berkicau mengenai rumus-rumus yang rumit dalam pelajaran matematika.

“Hey! Aku Sam Rin Hyo, panggil saja aku Rin Hyo. Tadi, namamu siapa? Maaf, aku tidak begitu mendengarmu tadi,” Ji Eun tersentak akibat perkenalan yang dilontarkan Rin Hyo secara tiba-tiba. Gadis itu pun tersenyum canggung seraya menyambut uluran tangan Rin Hyo, “Ji Eun, Shin Ji Eun.”

***

“Apa? Jadi kedua orang tuamu sudah meninggal 2 bulan yang lalu? Woah! Aku turut berduka cita, Ji Eun-ah. Pasti kau memiliki dendam yang sangat besar padanya, kan?” Shin Ji Eun menganggukkan kepalanya kuat membenarkan rentetan kalimat Rin Hyo seraya menyesap chocolate ice-nya. Gadis itu tak lagi menitikkan air matanya mengingat kejadian itu, sebaliknya hanya ada perasaan dendam yang semakin membesar dalam hatinya.

“Apa kau sempat menatap wajahnya?”

“Tidak, tapi aku memiliki sebuah bukti.”

Shin Ji Eun menatap nanar buliran air yang mengalir jatuh di luar gelas chocolate ice-nya, mengingatkannya pada buliran darah yang mengalir deras di pelipis kedua orang tuanya pada hari saat mereka meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Entah mengapa mereka benar-benar cepat untuk menjadi dekat, hanya butuh beberapa jam untuk Ji Eun yang sulit mempercayai orang lain, dengan mudahnya menceritakan keluh kesahnya yang ia pendam selama ini pada Rin Hyo.

Sam Rin Hyo memang bukanlah seorang gadis yang sulit bergaul dengan baik sehingga ia duduk sendirian di kelas seakan tak memiliki teman. Hanya saja ia terlalu muak dengan para siswi yang selalu membuang waktu mereka untuk membicarakan orang lain tanpa henti. Sama seperti Ji Eun. Banyak sekali kesamaan diantara mereka yang membuat mereka klop dengan mudahnya.

“Ji Eun-ah, sebenarnya aku belum pernah sekalipun menceritakan hal ini pada orang lain. Sebenarnya aku bekerja paruh waktu, kurasa kau dapat bergabung denganku,” ucap Rin Hyo serius.

“Pekerjaan apa?” Sam Rin Hyo melambaikan tangannya agar Ji Eun mendekat padanya. Namun Ji Eun hanya mengernyit aneh menatapnya, “pekerjaan macam apa hingga kau begitu merahasiakannya?”

“Kemarilah, ini sangat rahasia,” akhirnya Ji Eun pun mendekatkan telinganya pada Rin Hyo.

Sniper,” bisik Rin Hyo hati-hati. Ji Eun sontak melebarkan kedua matanya tak percaya. Seorang gadis manis seperti Rin Hyo ternyata adalah seorang sniper?

“Ya! Jangan coba-coba kau membohongiku! Bukankah itu adalah pekerjaan yang ilegal?!”

“Kurasa hanya dengan cara itu kau dapat membalaskan dendammu, terserah saja jika kau menolak tawaranku,” Shin Ji Eun menimang-nimang tawaran Rin Hyo sejenak. Perasaan dendam, amarah, dan kesal yang terlalu mendalam telah mendominasi dirinya hingga membuatnya menerima ajakan Rin Hyo.

FLASHBACK END

Sudah hampir 4 tahun sejak Shin Ji Eun menggeluti pekerjaan yang sama bersama Sam Rin Hyo namun tak kunjung menemukan seseorang yang selama ini ia cari. Pengalamannya selama bertahun-tahun itu telah menjadikan dirinya seorang sniper yang hebat dan kuat.

Mulai dari teknik kamuflase, akurasi, relokasi, hingga sound masking yang mampu menyamarkan suara tembakan dapat ia kuasai dengan baik. Namun walaupun ia begitu mahir dalam segala hal itu, tak pernah sekalipun ia menyalahgunakan kemampuannya untuk melakukan suatu hal yang keji. Ia mempelajari hal itu hanya untuk seseorang yang spesial dalam hidupnya, seseorang yang tak jarang menjadi pemeran utama dalam mimpi buruknya.

***

Shin Ji Eun menyecahkan langkahnya hati-hati keluar dari gedung perpustakaan umum Seoul menuju tempat parkir mobilnya. Kedua tangannya telah penuh dengan tumpukan beberapa buku tebal yang baru saja ia pinjam untuk bahan makalahnya. Bahkan penglihatannya terganggu karena tertutup oleh sebagian buku yang menjulang tinggi itu.

Sebagian besar buku yang telah susah payah ia bawa terjatuh berserakan begitu saja ketika seorang pria menabraknya secara tiba-tiba. Shin Ji Eun sontak menatap pria itu tajam.

“Ya! Apa yang kau lakukan?! Tidak bisakah kau memakai kedua matamu dengan baik, hah?!” lontarnya kesal kemudian segera beranjak mengambil satu per satu buku miliknya. Pria yang memakai kemeja putih serta kacamata hitam itu terlihat menelisik ke berbagai sudut tempat itu sejenak sebelum melepas kacamatanya dan membantu Ji Eun memungut buku-buku tebal itu.

Mianhae, aku sedang terburu-buru,” ucap pria itu seraya menyerahkan buku yang berada di tangannya pada Ji Eun. Ji Eun pun merendahkan tangannya agar pria itu dapat meletakkannya di tumpukan buku paling atas yang berada di kedua tangannya dengan mudah.

“Haruskah aku berterimakasih padamu?” cibir Ji Eun dibalik tumpukan buku yang menutupi sebagian wajahnya sebelum beranjak melanjutkan langkahnya.

Pria itu menatap punggung Ji Eun yang berlalu meninggalkannya lalu memutuskan untuk menyusul langkah gadis itu. Shin Ji Eun sedikit terkejut ketika pria itu mengambil beberapa bukunya dan membantunya hingga masuk ke dalam mobil.

Gomawo,” ucap Ji Eun seraya menundukkan kepalanya singkat setelah memasukkan seluruh buku yang menyusahkan itu masuk ke dalam bagasi mobilnya.

***

Drrt drrt

Mendengar ponselnya bergetar, seorang pria yang tengah mengendarai sebuah mobil Mercedes Benz hitam seorang diri menggerakkan sebelah tangannya untuk memasang salah satu headset yang telah tersambung dengan ponselnya kemudian menekan sebuah tombol yang berada di antara cabang headset itu.

“Bagaimana?”

“Kami kehilangan jejak lagi, Tuan Lee Kikwang.”

“Tak apa, mungkin hari ini memang bukanlah hari keberuntungan kita. Tapi bagaimanapun juga, jangan sampai ada jejak kalian yang tertinggal sekecil apapun!”

“Anda tak perlu khawatir, Tuan. Kami telah melakukan semuanya seperti biasa,” pria yang disebut Tuan Lee Kikwang itu pun mengambil nafas beratnya kemudian menghembuskannya perlahan. Raut wajahnya begitu sarat akan penat. Sebenarnya ia sudah muak dengan pekerjaannya ini. Mengintai , merampok, bahkan membunuh sasaran yang telah ditetapkan oleh atasannya tanpa mengetahui sebab dari pembunuhan itu sendiri.

Mafia? Ya, begitulah sebutan yang paling cocok dengan pekerjaan yang tengah ia geluti saat ini. Lebih tepatnya ia terjerat dalam keanggotaan mafia yang selama ini menjadi buronan Korea Selatan, anggota mafia Black Joker.

Kikwang melepas salah satu kancing baju yang berada di ujung atas kemejanya. Berharap segala beban yang bersarang dalam dirinya menguap bersamaan dengan hembusan nafas berat yang terbebas dari bibirnya berkali-kali.

***

Shin Ji Eun meniup perlahan setiap inchi permukaan secangkir hot chocolate dengan gerakan memutar. Kedua bola mata dengan tatapan kosong miliknya menatap lurus kolam ikan yang terletak di bawah lampu taman sederhana di bagian luar café yang tengah disinggahinya saat ini.

“Permisi, bolehkah aku duduk disini?” Ji Eun yang tengah menyesap coklat panasnya tersedak hingga terbatuk karena seorang pria yang entah dari mana asalnya berbicara padanya secara tiba-tiba.

Mian, mianhae, aku tidak bermaksud untuk mengejutkanmu. Apakah anda tidak apa-apa?” ucap pria itu menyesal seraya menepuk pelan punggung Ji Eun yang masih belum mampu mengontrol batuknya kemudian beralih mengambilkan beberapa tissue dan memberikannya pada Ji Eun untuk membersihkan sebagian pakaiannya yang terkena tumpahan coklat.

Gwaenchana, santai saja aku tidak apa-apa,” ujar Ji Eun seraya mendongakkan kepalanya menatap pria itu serta mengulas senyuman yang terkesan dipaksakan namun segera melebarkan kedua matanya ketika menyadari satu sama lain, begitupun pria itu.

“Kau—“ ucap mereka bersamaan.

Tch! Kau lagi. Kenapa kau selalu membawa kesialan bagiku, huh?!” decih Ji Eun kesal.

“Ya! Aku tidak tahu jika reaksimu akan berlebihan seperti itu.”

“Berlebihan? Tsk! Sembarangan saja, itu karena kau yang tidak tahu aturan. Tiba-tiba berbicara pada orang lain seenakmu sendiri. Untung saja tidak banyak yang terkena pakaianku,” bela Ji Eun. Pria itu hanya mengernyit tak mengerti karena alasan Ji Eun yang menurutnya tak masuk akal kemudian mengambil tempat di hadapan Ji Eun.

“Bisakah anda duduk di tempat lain saja? Aku hanya ingin sendiri.”

“Memangnya café ini milik anda?” balas pria itu yang mulai kesal akan perlakuan Ji Eun, “Lagipula bukan keinginanku untuk duduk bersamamu seperti ini. Lihat saja keadaan disekitarmu,” lanjut pria itu seraya mengedarkan pandangannya yang diikuti oleh Ji Eun. Menyadarkan gadis itu bahwa kondisi tempat duduk lainnya sudah penuh. Ji Eun hanya mendesis kesal kemudian beranjak menuju toilet.

Shin Ji Eun bersama raut wajah kusutnya berjalan kembali dan duduk di tempatnya semula. Ia sedikit terkejut ketika mendapati secangkir hot chocolate yang masih utuh di hadapannya.

“Ini—“

“Untukmu,” sela pria itu cepat kemudian menyesap Americano miliknya.

Gomawo,” ucap Ji Eun canggung. Mereka pun menikmati minuman milik masing-masing dalam diam.

***

Shin Ji Eun berjalan cepat menuju apartemennya yang berada di daerah Cheongdam-dong. Ia melangkah gusar dengan sesekali menolehkan kepalanya berbalik ke belakang.

“Kenapa dia terus mengikutiku?” gumamnya resah. Sementara pria yang ia temui di café tadi terlihat berjalan santai tak jauh di belakang Ji Eun. Dengan keadaan jantung berdebar hebat, Ji Eun menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiri pria itu dengan sedikit menghentakkan kakinya.

“Apakah kau seorang penguntit?”

“Mwo?!”

“Kenapa kau terus mengikutiku dari belakang? Kuperingatkan padamu, aku ini ahli bela diri jadi jangan sampai kau berani macam-macam denganku. Awas saja kau!” kedua mata Ji Eun semakin melebar hingga bola matanya hampir terlepas ketika pria itu hanya mengela nafas kasar seraya tersenyum miring padanya. Pria itu tak mengucap sepatah kata pun, ia lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya meninggalkan Ji Eun, memasuki sebuah area apartemen 2 yang berada di sebelah gedung apartemen 1, tempat dimana Ji Eun singgah.

“Dia tinggal disini? Aigoo, apa yang telah kulakukan?! Memalukan sekali,” gerutu Ji Eun sembari mengacak rambutnya asal kemudian melanjutkan langkahnya menuju apartemen 1.

***

Shin Ji Eun mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk putih sekedar untuk mengeringkannya seraya menggeser pintu menuju balkon depan kamar apartemennya yang berada di lantai 12, ia menghirup kuat-kuat udara segar yang belum terkontaminasi oleh gas-gas menyesakkan hingga paru-parunya terasa penuh.

Kedua kelopak matanya menyipit saat hangatnya sinar matahari pagi mulai menyinari tubuhnya. Pandangan matanya teralih pada seorang pria yang baru saja muncul dari balik pintu balkon kamar apartemen seberang. Pria yang hanya memakai kaos polos berwarna putih itu juga melakukan hal yang sama sepertinya, tengah mengeringkan rambut hitamnya. Ji Eun dan pria yang menurutnya begitu menyebalkan itu menghentikan kegiatannya masing-masing ketika tatapan mata mereka bertemu.

“Mwo?!” ucap pria itu ketus. Walaupun suaranya tak terdengar dari tempat Ji Eun berdiri, namun gesture bibirnya dapat terlihat jelas. Ji Eun hanya mendesis kesal karenanya.

“Jadi selama ini kau tinggal disana?” ujar Ji Eun setengah berteriak. Namun pria itu hanya mengerutkan dahinya, tak mampu mendengar suara Ji Eun dengan jelas. Hingga Ji Eun berinisiatif untuk mengambil sebuah buku berukuran A4 dan menuliskan pertanyaannya tadi.

“Tidak, aku baru saja pindah 3 hari yang lalu,” begitulah balasan yang ditulis oleh pria itu. Ji Eun hanya menganggukkan kepalanya polos.

“Siapa namamu?” lanjut pria itu setelah membalikkan bukunya pada halaman berikutnya.

“Shin Ji Eun. Kau?”

“Lee Kikwang.”

***

“Ji Eun-ah, ternyata dia adalah anggota dari Black Joker.”

“Mafia buronan itu?” Rin Hyo mengangguk kuat akan pertanyaan Ji Eun.

“Sepertinya ini akan sedikit lebih sulit dari yang kubayangkan,” ucap Ji Eun seraya menerawang jauh ke balik jendela ruang kelasnya.

“Dan menurut data milik Cho Kyuhyun, dia merupakan salah satu atasan dalam grup mafia itu,” Ji Eun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

Tentu saja Rin Hyo dapat mengetahui data yang terbilang akurat karena seorang pria bernama Cho Kyuhyun. Yaitu pria yang tengah menjalin hubungan dengannya itu adalah salah satu anggota NIS. Maka dengan kemampuan melacak yang dimiliki Rin Hyo, ia mampu mengetahui dokumen serta data rahasia milik kekasihnya itu dengan mudah, tentunya tanpa sepengetahuan Kyuhyun.

***

“Untuk misi kali ini kau harus berhasil, Kikwang-ah,” ucap seorang pria berwajah dingin tanpa beranjak sedikitpun dari posisi duduk angkuhnya di kursi kebesarannya.

“Bagaimana jika tidak?”

“Lihat ini,” pria itu terlihat memberikan sebuah isyarat pada salah satu bodyguard yang berdiri di ambang pintu, dan dengan segera bodyguard itu menyalakan sebuah televisi tua 14 inch dan menampilkan seorang pria dan wanita dengan pakaian lusuh tengah terkurung dalam sebuah ruangan sempit berpintu besi yang hanya memiliki ventilasi kecil dari celah jendela berjeruji di dalam sana.

Tanpa sadar Kikwang meneteskan air mata dari pelupuk mata kanannya. Melihat itu, pria berwajah dingin itu memerintahkan agar segera mematikan layar televisi.

“Tak ada gunanya kau menangis. Jalankan misimu dengan baik jika kau ingin menyelamatkan mereka.”

***

Lee Kikwang berjalan lunglai tak bertenaga menuju pintu masuk gedung apartemennya. Ia menghentikan langkahnya sejenak, menengadahkan kepalanya menatap langit tak berbintang malam ini dan menghirup udara malam yang menusuk dengan seukir senyuman miris di bibirnya, “Apakah keadaanmu sama sepertiku? Begitu gelap tanpa secercah cahaya sedikit pun. Mengapa takdir begitu kejam untukku?”

“Ya! Lee Kikwang-ssi!” Kikwang mengalihkan tatapan matanya menuju sumber suara itu berasal dan mendapati seorang gadis dengan setelan piyama yang dilapisi cardigan merah tengah menghampirinya dari belakang.

“Apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini?” tanya gadis itu yang hanya mendapatkan tatapan sendu milik Kikwang, “Kau menangis?” lanjutnya kemudian.

“Sok tahu.”

Aish, menyebalkan! Kau tahu? Wajahmu jelek sekali jika matamu memerah seperti itu.”

“Siapa peduli?” Ji Eun melebarkan kedua matanya kesal, begitu kesal hingga sebelah tangan kanannya yang terkepal terangkat ke udara begitu saja, berniat untuk memberi sedikit variasi warna biru keunguan pada wajah Kikwang. Namun ia mengurungkan niatnya saat pria itu mengalihkan topik pembicaraan mereka segera.

“Itu apa?” tanya Kikwang seraya menunjuk sebuah kantong plastik hitam yang berada dalam genggaman tangan kiri Ji Eun.

“Ah, ini jjajangmyeon. Aku baru saja beli tadi dan tak sengaja melihatmu di—“ ucapan Ji Eun terhenti ketika Kikwang menyahut sebungkus jjajangmyeon dalam kantong plastik itu, “Ya! Apa yang kau lakukan?! Berikan padaku!” pekik Ji Eun seraya berusaha menggapai makanan miliknya yang saat ini berpindah ke dalam genggaman tangan Kikwang dan diangkat tinggi olehnya.

“Aku lapar, bisakah kau memberikannya saja padaku?”

“Haruskah aku melakukan itu?”

“Tentu saja,” Ji Eun mendengus kesal. Namun walaupun begitu, pada akhirnya ia mengganggukkan kepala menyetujuinya yang disambut senyuman manis Kikwang. Tanpa sadar bibirnya turut membentuk bentukan bulan sabit yang indah pula, baru kali Kikwang melontarkan senyuman tulusnya padanya.

Whoaaa, gomawo. Kalau begitu aku pulang dulu ya. Kuanggap ini sebagai permintaan maaf akibat perlakuanmu yang sangat buruk padaku saat itu,” ujar Kikwang dengan senyuman jahilnya. Berbeda dengan Ji Eun yang hanya memutar bola matanya malas kemudian berbalik akan meninggalkan area gedung apartemen 2.

“Tunggu, Ji Eun-ssi!” panggil Kikwang yang sukses membuat Ji Eun kembali membalikkan tubuhnya, “Apa lagi?” Ji Eun terkejut ketika Kikwang melemparinya sebuah jas hitam padanya secara tiba-tiba, sebuah jas yang tadinya pria itu pakai. Hingga kedua tangannya refleks menangkap jas itu. Ji Eun hanya mengernyitkan dahinya tak mengerti, “Kau menyuruhku untuk mencucikan jasmu ini? Berani sekali kau!” Kikwang terkekeh geli akibat reaksi Ji Eun yang tak terduga olehnya.

“Kau menghinaku? Kau menganggapku tak mampu untuk sekedar mencuci jasku sendiri, hah?! Pakai itu, angin malam tidak baik untuk kesehatan. Bagaimana bisa kau keluar hanya dengan pakaian seperti itu? Asal kau tahu saja, takkan ada yang tertarik padamu walaupun kau memakai piyama tipis seperti itu!” Ji Eun melebarkan matanya tak percaya seiring mulutnya yang tanpa sadar ikut serta membuka. Bagaimana bisa seorang pria yang baru saja ia kenal mengatakan hal semacam itu padanya?

Aigoo, ternyata kau memang benar-benar menyebalkan! Aku benci kau! Aku sangat membencimu! Dasar Lee Kikwang bodoh!” Kikwang tak menghiraukannya walaupun ia mendengar segala umpatan Ji Eun padanya dan lebih memutuskan untuk berjalan cepat menuju pintu gedung apartemennya karena angin malam yang terasa semakin dingin menembus tulang.

Ji Eun yang masih menggumamkan segala kata cercaan untuk Kikwang mulai mengenakan jas milik pria itu dan beranjak menuju kedai jjajangmyeon tadi, tentu saja untuk membelinya lagi.

Sial! Untuk apa aku memberinya makananku tadi? Ah tidak, untuk apa aku memanggilnya dan menghampirinya tadi? Menyebalkan sekali!

***

Shin Ji Eun dengan mengenakan masker serta topi penyamarannya tengah memasuki sebuah toko perlengkapan senjata ilegal yang berada di daerah terpencil area Apgujeong-dong.

Dengan gerakan cepat ia memasukkan seluruh alat persenjataan yang baru saja ia beli untuk diperbarui ke dalam tas ransel hitamnya. Namun saat ia mulai berbalik menuju pintu keluar, muncul seorang pria berbadan tinggi tegap menghalanginya.

“Keluarkan semua senjatamu, cepat!” perintah pria itu paksa. Ji Eun menatap mata pria itu tajam, pria yang sangat tampan namun terlihat begitu mengerikan baginya,

“Kau siapa?” tanya Ji Eun tegas.

“Kami dari NIS,” tanpa sadar kedua mata Ji Eun melebar mendengarnya. Namun dengan cepat ia mampu untuk segera mengendalikan dirinya seakan tak terjadi apapun.

Ji Eun melepas salah satu lengan ransel dari bahunya dan berpura-pura seperti akan membuka resleting tasnya. Ia memanfaatkan kesempatan untuk segera melarikan diri saat pria itu terlihat sibuk meneliti keadaan dalam toko namun terlambat karena dengan sigap pria itu mencengkeram salah satu pergelangan tangannya kuat.

Tak kehabisan akal, Ji Eun menusuk tangan pria itu menggunakan kuku jarinya yang panjang hingga mengeluarkan darah segar dan berhasil membuat pria itu melepaskan cengkeramannya.

“Kejar pria itu! Dia membawa senjata illegal dalam ranselnya!” titah pria itu pada pria lain yang memiliki tubuh lebih besar darinya yang sedari tadi berada di belakangnya. Pria? Ya, penyamaran Ji Eun yang mengenakan perlengkapan serba hitam serta rambutnya yang tersembunyi di balik topi hitamnya membuatnya terlihat bagaikan seorang pria. Walaupun tubuhnya terlalu kecil untuk ukuran seorang pria, namun gerak-gerik penyamaran yang selama ini ia latih mampu menutupi segalanya.

Shin Ji Eun berlari sekuat tenaga menghindari dua pria yang memiliki perawakan seperti bodyguard yang terus mengejarnya. Gerak kakinya semakin ia percepat ketika hampir mencapai ujung jalan, dimana sebuah mobil sedan hitam telah menunggunya. Ia segera menjatuhkan tubuhnya ke dalam mobil itu saat salah satu pintunya terbuka untuknya, dan segera menutupnya kembali bersamaan dengan melajunya mobil itu dengan cepat.

“Bagaimana?” Ji Eun hanya membuat bentuk lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jarinya mengisyaratkan bahwa rencana telah berhasil ketika Rin Hyo yang tengah mengemudi menanyakan hal itu padanya.

“Tadi itu dari NIS?” sekali lagi Ji Eun hanya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat, karena ia masih sibuk mengontrol deru nafasnya akibat berlarian tadi.

“Aku tidak tahu jika mereka akan ke tempat itu hari ini. Kyuhyun hanya mengatakan bahwa mereka akan melacak keberadaan Black Joker hari ini,” Ji Eun mengernyit, merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.

Black Joker? Itu berarti salah satu atau beberapa dari mereka juga berada disana,” ujar Ji Eun seraya menerawang kejadian beberapa menit lalu, “Ya, sepertinya mereka ada disana. Tadi aku melihatnya, melihat seorang pria aneh yang mungkin saja adalah salah satu dari mereka.”

———

To be Continued

Advertisements

7 thoughts on “Final Destination 1

  1. Final destination..
    Hmm, apa ini terinspirasi sama filmnya atau gimana??
    Itu yang rinhyo cari sama jieun di data-nya kyuhyun siapa?? Kikwang-kah??
    Itu kyuhyun tau gak sih kalo rinhyo kerjaannya sniper??
    Penasaran..

  2. seru ni.. Bikin pnsaran dan tegang..
    Siapa yg sbnarnya membunuh orang tua jieun? Kikwangkah?

    Kasihan kikwang, dia melakukan semua itu krn ada tekanan, dg orang tuanya yg disekap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s