Contrast 6

image

Author : Tsalza Shabrina
A/N : Aku mohon jangan jadi silent reader ya^^ karna setiap komentar kalian adalah penyemangat tersendiri buatku untuk melanjutkan FF ini 🙂
Happy read ^-^

.

.

.

.

Jennifer merekatkan jaketnya kemudian membenarkan topi hitamnya. Pukul 12 malam, sudah terlampau biasa untuk Jennifer berkeliaran di tengah malam seperti ini. Ia hidup seperti vampire yang terlihat tidak pernah tidur.

Gadis itu masih mengunyah permen karetnya seraya sesekali tersenyum sendiri. Ia sedang begitu penat, dan ingin sedikit bermain-main. Tadi, ia sudah tertawa lepas dengan Kim Soohyun di klab milik pria itu. Biasanya ia akan pulang keesokan paginya, namun karena kegiatan bersenang-senang nya itu, ia pulang tengah malam seperti ini.

Sedangkan, Soohyun masih harus mengurusi beberapa hal di klab. Jennifer menghentikkan langkahnya didepan sebuah lorong remang-remang yang merupakan jalan buntu. Lorong itu diapit oleh sebuah motel disebelah kanannya dan sebuah klab tua disebelah kirinya. Ia memasukkan kedua tangannya di saku jaket hitamnya lalu membuang permen karet yang rasanya sudah mulai hambar. Ia tersenyum miring lalu berjalan memasuki lorong yang remang-remang itu.

Woah, ada apa ini? Apa yang membuat gadis cantik sepertimu mendatangi tempat seperti ini, huh?” Suara seorang pria yang sepertinya pemimpin dari geng itu membuat Jennifer tersenyum tipis.

“Aku juga bertanya-tanya, apa yang dilakukan oleh pria-pria seperti kalian disini?” Saat mendengar suara Jennifer seketika 5 pria yang bertubuh cukup kekar itu beranjak dari duduknya. Tangan mereka terlihat mengepal seperti menahan emosi. Jennifer yang sebelumnya berdiri dikegelapan, tersenyum licik lalu maju beberapa langkah. Ia berhenti saat ia berdiri tepat didekat lampu neon yang menjadi satu-satunya penerangan lorong itu.

Annyeong!” sapa Jennifer begitu ramah seraya mengangkat sebelah tangannya. Seorang pria yang ia rasa pimpinannya itu berdiri lalu menendang meja kecil yang berada didepannya.

Wae, wae, wae? Apa aku mengatakan hal yang salah?” Tanya Jennifer dengan nada mengejek.

Aish, gadis ini benar-benar…” Jennifer tersenyum miring mendengar umpatan pria-pria itu.

“Anak buahmu sudah memukuli anggotaku hingga sekarat. Berani-beraninya kau datang kesini, ha?!” bentak pria itu begitu keras.

Aigoo, ahjussi, ludahmu keluar kemana-mana. Pelan-pelan saja, eoh?” pria itu menggertakkan giginya, mendengar ucapan Jennifer membuat emosinya semakin terpancing.

“Apa maumu?!”

“Kau pikir, aku tidak tahu, huh?! Kau dan anggota brengsekmu itu yang terlebih dulu mencari masalah dengan teman-temanku. Sudahlah, hentikan omong kosong ini.” Jennifer membenarkan topinya lalu menatapi satu per satu pria itu dengan tajam.

“Satu,.. dua,.. tiga,… empat,… lima, woah. Eottokhae? Gadis cantik sepertiku harus berhadapan dengan 5 pria seperti kalian. Ck. Keure! Ayo kita lakukan.” Ke-5 pria itu langsung berlari kearah Jennifer dan menyerang Jennifer tanpa ampun. Namun, Jennifer dengan lihainya menghindar, memukul, dan menumbangkan mereka satu persatu.

Woah, ahjussi ini sangat kuat ternyata.” Komentar Jennifer seraya tertawa lepas saat ia terkena pukulan pertama tepat di pipinya hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.

Inilah yang ia sebut bersenang-senang, ia selalu menganggap berkelahi adalah sebuah hal kekanakan yang begitu menyenangkan. Sebuah permainan yang tidak usah dianggap serius. Permainan yang selalu membuat ia tertawa lepas dan bersenang-senang.

Mereka tetap saling baku hantam walaupun wajah pria-pria itu sudah babak belur. Berbeda sekali dengan wajah Jennifer yang terluka hanya pada sudut bibirnya dan juga jangan lupa wajah Jennifer yang terlihat begitu bahagia.

Jennifer memang sudah di didik keras oleh ayahnya sejak kecil. Keluarganya yang broken home, juga membuat wataknya begitu keras dan berdarah dingin. Sejak kecil, ia lebih memilih les Taekwondo dari pada les merajut. Ia juga lebih memilih les drum dari pada les piano. Ia benar-benar bukan seorang gadis yang semestinya.

“Terima ini, gadis jalang!” Seorang pria yang tadinya sudah tersungkur itu melayangkan sebuah pemukul baseball pada Jennifer yang langsung ditangkis olehnya lalu ia mengunci kaki dan tangan pria itu agar tidak memukulnya. Namun, mimpi buruk pun terjadi. Ke-4 pria yang lain juga ikut-ikutan membawa pemukul baseball atau kayu besar untuk menyerangnya. “Sial.”

Jennifer mendorong tubuh pria yang sejak tadi tidak bisa bergerak itu, lalu berlari melarikan diri seraya tertawa. Bukannya takut, tapi realistis saja. Mereka membawa senjata, sedangkan ia hanyalah seorang gadis dengan tangan hampa. Dan juga, ia sudah mulai lelah.

“Ya! Kau jangan melarikan diri!” Teriak mereka seraya berlari mengejar Jennifer. Namun, Jennifer berlari begitu cepat hingga membuat mereka kesusahan mencarinya.

***

Jennifer menoleh kebelakangnya beberapa kali untuk sekedar memeriksa apakah pria-pria itu masih mengejarnya atau tidak. Saat melihat pria-pria itu sudah terlihat, Jennifer melebarkan kedua matanya lalu mempercepat dan memperlebar langkahnya. Entah sudah berapa jauh ia berlari, yang ia sadari, ia sekarang sudah berada dihalte. Dan tanpa pikir panjang, ia langsung memasuki taksi yang berhenti dihalte itu.

“Maaf, biarkan aku ikut denganmu. Aku sedang dikejar oleh—“ Ucapan Jennifer terhenti seketika saat ia menoleh kesampingnya. Dahinya mengerut saat melihat seorang gadis yang wajahnya benar-benar mirip dengannya. Yang membuat mereka berbeda hanyalah warna rambut dan gaya rambut mereka. Rambut gelombang Jennifer hanya sepanjang bahu dan berwarna coklat kekuningan, sedangkan gadis dihadapannya mempunyai rambut yang lebih panjang dari pada ia dan warna rambut gadis ini berwarna hitam.

“Kau…” Jari telunjuk Jennifer sudah teracung kearah gadis yang juga menatapnya dengan bingung.

Duk Duk Duk

Kebingungan itu terpecah saat suara ketukan dikaca jendela taksi tersebut terdengar. Jennifer membelalakkan kedua matanya lalu menepuk-nepuk bahu sopir taksi agar cepat-cepat berjalan agar dapat melarikan diri dari pria-pria yang wajahnya sudah dipenuhi oleh bengkak itu.

***

Sam Rin Hyo menaruh dua mug yang berisi coklat hangat diatas meja kecil yang berada didepan sofa apartemennya. Ia menatap Jennifer dengan pandangan yang sulit diartikan kemudian duduk disamping Jennifer dengan kaku.

“Minumlah, mumpung masih hangat.” Ujar Rin Hyo pada Jennifer yang juga masih terdiam.

“hm.” Jennifer mengambil coklat hangat itu lalu meminumnya sedikit. Ia tersenyum kecil seraya menaruh kembali mug itu keatas meja. Sam Rin Hyo menatap Jennifer dengan nanar, meski waktu itu ia masih kecil. Tapi, ia masih ingat dengan jelas bagaimana gadis ini.

Flashback

“YA! Berikan aku makanan!” teriak Seo Tae Gil-ayah Rin Hyo dan Jennifer. Pria itu terlihat mabuk berat, terlihat dari cara berjalannya yang sempoyongan dan juga kedua mata yang kuning dan hampir merah itu.

“YA! Jung Ae!” Kembali pria itu berteriak pada istrinya seraya duduk diruang tamu yang juga menjadi ruang tengah rumah kecil itu. Sedangkan didalam kamar, Sam Jung Ae yang masih tertidur itu tengah dibangunkan oleh kedua anak-anaknya yang masih balita.

“Eomma! Eomma! Appa memanggilmu!” ujar Rin Hyo kecil seraya menggoyang-goyangkan tubuh ibunya. Seketika, ibunya membuka kedua matanya, menatap kedua anaknya dengan bingung.

“Appa memanggilmu. Ia meminta makanan.” Ucap Jennifer kecil dengan kedua mata takutnya. Jung Ae membelalakkan kedua matanya, bangun dari tidurnya dan segera berlari keluar untuk menemui Seo Tae Gil.

BRAK—PRANG

“Kau ini! kemana saja, ha?! kau ingin suamimu ini mati kelaparan?!!” teriakan Seo Tae Gil begitu keras hingga kedua anak kecil itu menutup kedua telinganya.

“Gwenchana Jung Hee-ah, Gwenchana…” Sam Rin Hyo memeluk tubuh Jung Hee yang bergetar itu seraya menggosok-gosok punggung saudari kembarnya.

“Rin Hyo-ah, aku takut…”

Kedua mata Rin Hyo seketika menutup saat mengingat hal itu. Pelukan terakhirnya dengan Jung Hee. Marga Jung Hee dan Rin Hyo memang berbeda, karena Jung Hee mengikuti marga ayah sedangkan Rin Hyo mengikuti marga ibunya.

“Jung Hee-ya.” Panggil Rin Hyo begitu lembut. Jennifer mengangkat kepalanya, ia selalu tidak suka jika ada yang memanggilnya dengan nama itu.

Seo Jung Hee, ia ingin meninggalkan masa kelam dan lemahnya ia saat dulu. Maka itu, ia lebih suka memanggil dirinya sendiri dengan Jennifer. Karena tidak ada marga Seo disana. Namun, anehnya rasanya berbeda jika Rin Hyo yang memanggilnya seperti itu. Ia merasa, tenang.

“Hm?”

“Melarikan diri saja.” Ujar Rin Hyo pada akhirnya. Ia tahu, pasti saudarinya ini sangat lelah dengan kehidupan itu. Kehidupan dengan ayahnya yang kasar, keras, dan brengsek.

“Kau bisa tinggal dirumahku kalau kau mau. Berhenti menjadi seorang gangster. Kau bisa dipenjara nanti.”

Gangster?”

Eo! Ibu bilang, ayah adalah pemimpin gangster yang sangat besar jaringannya. Dan kau, mengikuti ayah.” Jennifer menelan ludahnya, sedikit lega karena Rin Hyo tidak tahu tentang identitas aslinya. Ia bukanlah seorang gangster, ia adalah seseorang yang mendalangi puluhan kasus pembunuhan dan ketua dari organisasi gelap yang bernama Dark Pearl.

“Sam Rin Hyo, aku ingin. Tapi sekarang, bukanlah waktu yang tepat.” Entah apa yang ada dipikiran Jennifer saat ini, namun yang jelas, apa yang diucapkannya barusan sangat berbeda dengan apa yang ada dihatinya sekarang. Ia tidak ingin menjadi Seo Jung Hee lagi, sekarang ia adalah Jennifer. Bukan Seo Jung Hee mau pun Sam Jung Hee akan tetapi Jennifer.

Keure. Appa pasti melarangmu dan mengikatmu, kan?” Jennifer hanya tersenyum kecil. Rin Hyo membalas senyuman itu lalu mengambil tasnya. Merogoh dompetnya kemudian mengeluarkan sebuah kartu kecil yang menyerupai kartu nama.

“Ini! ambillah! Ini adalah kartu namaku.” Jennifer mengambil kartu nama itu seraya menatapinya.

“Kau… seorang jaksa?” pertanyaan bodoh. Jennifer sudah tahu sejak lama jika saudari kembarnya adalah seorang jaksa, Ayah yang memberitahunya dan ia juga pernah bertemu dengan Sam Rin Hyo sebelumnya di klab milik Kim Soohyun.

“Eum, jika kau butuh apa-apa. Kau bisa menelfonku dan datang kesini. Aku selalu menunggumu untuk datang, Jung Hee-ya.”

***

Jennifer keluar dari apartemen Rin Hyo dengan tersenyum miring, ditangannya terdapat kartu nama Rin Hyo yang masih ia genggam. Entah apa yang ia pikirkan, namun yang pasti ia sedang merencanakan sesuatu.

Dengan langkah ringan ia berjalan menuju lift. Memencet tombol lift, dan menunggu pintu terbuka seraya memasukkan kartu nama Rin Hyo kedalam saku jaketnya.

Ting!

Lift pun terbuka, menampakkan seorang pria dengan wajah gusar keluar dari lift tersebut dengan tergesa-gesa. Jennifer terpaku ditempatnya, menatap pria itu dengan intens hingga pria itu berjalan melewatinya-tanpa menatapnya sama sekali. Ia bahkan memutar tubuhnya, menatap punggung pria itu dengan pandangan yang sudah lama tidak ia nampakkan. Pandangan seorang Seo Jung Hee.

***

Ting Tong Ting Tong Ting Tong

Suara bel apartemen Rin Hyo berbunyi berkali-kali. Sedangkan pemilik rumah itu masih duduk di atas sofa dengan kedua mata yang terlihat kosong. Kedua telinganya seolah tertutup, ia tidak mendengar apapun. Ia masih tercengang dengan bertemunya ia dengan Jung Hee selama 21 tahun terpisah.

Suara deringan bel itu sudah terhenti, terganti dengan suara khas pintu sudah terbuka, menampakkan seorang pria yang sudah sangat hapal dengan password apartemen gadis itu. Siapa lagi jika bukan Cho Kyuhyun.

Dengan napas tergesa, Kyuhyun menatap kesekeliling ruang tengah Sam Rin Hyo. Bahunya seketika turun saat melihat Rin Hyo tengah duduk disofanya dengan tatapan kosong. Dengan langkah pelan, ia mendekati Rin Hyo yang masih tidak menyadari keberadaannya. Duduk disamping gadis itu lalu menggenggam kedua tangan gadis yang sangat ia cintai itu.

Tadi, saat Rin Hyo keluar dari mobilnya ia belum bisa berpikir dengan jernih. Karena, kata-kata terakhir Sam Rin Hyo begitu membingungkannya. Namun, setelah kesadarannya terkumpul ia tidak menemukan Rin Hyo dimanapun dan akhirnya ia memutuskan untuk mencari gadis itu dirumahnya.

“Hyo.” Rin Hyo tersentak lalu menoleh kearah Kyuhyun dengan bingung.

“Kau… bagaimana bisa berada disini?”

“Kau pikir aku akan meninggalkanmu begitu saja ditengah hujan seperti itu, huh?” Rin Hyo hanya menatap Kyuhyun yang rambutnya sedikit berantakan karena hujan dengan nanar. Ia berkedip lalu mengalihkan pandangannya.

“Aku sedang tidak ingin melihatmu.” Kyuhyun menghela napasnya, sejujurnya ia ingin memeluk gadis ini dengan erat. Mengingat, ia sudah lama tidak pernah memeluknya lagi. Kyuhyun menarik kedua tangan Rin Hyo, mencium punggung tangannya.

“Kumohon jangan begini, Hyo.”

“Aku lelah Kyu. Aku baru saja mengalami suatu hal yang mengejutkan tadi, aku ingin istirahat.” Ujar Rin Hyo tanpa ekspresi dan dengan wajah yang begitu datar. Membuat decakan Kyuhyun terdengar, karena disaat seperti ini ia tidak bisa menebak apa Rin Hyo marah padanya atau tidak.

“Kau mengalami hal apa?”

“Kubilang aku ingin istirahat. Aku tidak bisa mengatakannya sekarang.”

Keure. Kau ingin tidur? Keure, teruslah mengacuhkanku dan pergilah tidur. Aku pulang.” Ujar Kyuhyun dengan suara kesalnya, mencoba memancing Rin Hyo. Biasanya jika sudah seperti itu, Rin Hyo memukuli Kyuhyun dan akhirnya mengomelinya. Ia lebih suka dengan Rin Hyo yang seperti itu.

Namun, sayangnya, reaksi gadis itu sangat berbeda dengan harapannya. Sam Rin Hyo menghela napasnya kasar lalu mendesis kesal, menghentakkan tangannya yang masih digenggam Kyuhyun kemudian berjalan dengan lemah kearah kamarnya.

“Pulanglah. Hati-hati dijalan.” Kyuhyun menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat itu dengan nanar.

“Sebenarnya ada apa denganmu?”

***

Hongdae, Pub.

Jennifer duduk disofa klab tersebut dengan sesekali bersiul, seperti baru saja mendapatkan satu kilo gram emas. Ia duduk disamping Kim Soohyun yang tengah duduk sendiri seraya memantau klab-nya dari sana. Tempat paten mereka memang terletak sangat strategis, dilantai 2. Tepat diatas DJ beraksi dan itu artinya mereka berada di pusat klab.

Kim Soohyun adalah seorang pria kaya raya, sebenarnya. Ia mengikuti organisasi gelap seperti ini bukan untuk uang, namun untuk melepas penat. Seorang pria kaya raya yang tampan, siapa yang tidak terpikat dengan pesona pria itu? Namun, ia bukanlah pria yang berada ditengah-tengah wanita dan minuman keras yang memenuhi mejanya. Wanita yang terlihat pernah berinteraksi dengannya hanya ada 2, Sam Rin Hyo dan Jennifer. Hanya kedua orang itu.

Mwoya? Kau baru saja berkelahi dan menang?” Tanya Kim Soohyun yang tengah bingung dengan tingkah Jennifer yang sedikit aneh.

“Ya dan tidak.” Jennifer tersenyum kecil lalu meneguk segelas wine yang tadi ia tuang.

“Ya, Tadi memang aku habis berkelahi dan tidak, aku tidak menang. Ah, maksudku belum menang.”

Tsk, aneh sekali. Biasanya kau akan marah-marah jika belum memenangkan permainan.” Jennifer hanya tersenyum miring mendengar ocehan Kim Soohyun. Tangan kirinya sibuk merogoh saku jaketnya untuk mengambil sesuatu. Saat sudah menemukannya, ia segera mengangkatnya. Memperlihatkan secarik kertas kecil itu pada Kim Soohyun.

“Apa itu?”

“Kartu As, milikku.” Kim Soohyun mengernyitkan dahinya, kemudian mengambil alih kertas itu dari tangan kiri Jennifer. Kedua matanya seketika terbelalak saat membaca sederet kata yang tertulis dikartu nama itu.

“Aku sudah bertemu dengannya, dia terlihat bodoh tadi. Kau tahu, ia tertipu dengan semua aktingku yang mengatakan jika aku juga ingin melarikan diri seperti apa yang sudah ia sarankan.” Jennifer tertawa lepas setelah mengatakan itu. Rahang Kim Soohyun mengeras, ia menatap Jennifer dengan pandangan tidak suka.

“Kau, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” suara Soohyun terdengar begitu rendah dan dingin, membuat Jennifer terkesiap mendengarnya. Tawanya berhenti, terganti dengan tawa mengejek khas seorang Jennifer. Baru kali ini Kim Soohyun menggunakan nada itu padanya.

“Ada apa ini? seorang Kim Soohyun berbicara dengan nada dingin padaku? Apa aku tidak salah dengar?” goda Jennifer mencoba mencairkan suasana.

“Aku bertanya, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” Ulang Soohyun lagi dengan wajah datar dan nada dingin yang sama seperti sebelumnya. Senyuman mengejek Jennifer menghilang perlahan, terganti dengan wajah dingin dan kedua mata sedikit melebar.

Wae? Kau, menyukainya?” Kini giliran Kim Soohyun yang terkesiap. Menyukainya? Menyukai Sam Rin Hyo? Apa iya?

“Kau, menyukainya kan?” Tanya Jennifer lagi dengan nada yang lebih menyelidik. Kim Soohyun masih terdiam. Ia ingin menyangkal, tapi ia tidak bisa. Ia ingin membenarkan, namun tatapan mata Jennifer selalu mengintimidasinya membuatnya merasa ia salah jika membenarkannya.

“Kutanya sekali lagi, apa kau menyukainya, Kim Soohyun?”

Ani, aku… mencintainya.”

***

“Untuk mata-mata Dark Pearl yang berada di NIS, kurasa adalah orang-orang yang sudah lama bekerja disini.” Ujar Kyuhyun pada Rin Hyo. Mereka kini berada dikantor NIS untuk membicarakan mata-mata yang sepertinya sudah begitu lihai melancarkan aksinya.

“Tidak mungkin jika mata-mata itu adalah Lee Hyuk Jae, Lee Donghae, atau pun Qian.”

“Jadi, dapat dikatakan bahwa orang-orang yang mencurigakan adalah aku, kau , dan Song Joong Ki. Begitu?”

“Untuk saat ini, iya! Karena tidak mungkin mata-mata itu adalah anggota divisi lain.”

“Kesimpulannya kau sedang mencurigai Song Joong Ki, kan?” Kyuhyun mengangguk ringan, membuat Sam Rin Hyo tertawa kecil.

“Kau yakin? Joong Ki oppa? Dia sudah seperti keluarga disini.”

“Aku tahu, tapi—“

“Aku mencurigai Lee Donghae dan Lee Hyuk Jae. Karena mereka dan aku yang mengurusi masalah dark pearl. Jika Joong Ki oppa, kurasa tidak.”

“Baiklah, untuk sekarang kita harus sedikit waspada dengan Hyuk Jae, Donghae dan Joong Ki. Terutama kau! Kau adalah orang yang mengkoordinir investigasi ini.” Sam Rin Hyo tersenyum kecil, mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya hendak meninggalkan ruangan Cho Kyuhyun. Ia membungkuk sedikit pada atasannya kemudian membalikkan badan.

Sam Rin Hyo terlihat begitu biasa, seperti kemarin malam tidak terjadi apa-apa. Berbeda dengan Cho Kyuhyun yang masih menatapnya dengan pandangan aneh. Seharian ini pekerjaannya kacau karena pikirannya yang terus tertuju pada kekasihnya tersebut.

***

Lee Hyuk Jae dan Lee Donghae terlihat sibuk sendiri di meja kerjanya. Sekedar bermain muk jip pa atau saling berdebat tidak penting.

Sam Rin Hyo yang meja kerjanya tak jauh dari mereka terlihat menghela napas jengah. Ia tidak terlalu mengerti dengan NIS, bagaimana bisa memasukkan kedua pria selengekan kedalam pekerjaan yang rumit. Dan juga ia belum pernah melihat kedua pria itu menyelesaikan tugasnya dengan baik, meskipun pada kenyataannya Lee Donghae dan Lee Hyuk Jae adalah agent yang berbakat di NIS. Karena sudah muak mendengar canda dan tawa Donghae dan Hyuk Jae yang semakin keras, akhirnya Rin Hyo beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju pantry untuk sekedar membuat se-cup kopi panas.

***

Sam Rin Hyo meniupi kopinya itu perlahan seraya menatap keramian kota Seoul dari atas sini. Menyesap kopi tersebut dengan semilir angin yang menerbangkan rambut panjangnya. Benar-benar menenangkan, benar-benar nyaman.

Otaknya kembali mengingat kejadian kemarin malam, dimana ia bertemu dengan Seo Jung Hee yang sudah begitu lama tidak ia temui. Bagaimana kabar gadis itu? Apa ayah masih berbuat kasar padanya? Atau, apa gadis itu juga larut dalam pekerjaan yang diwariskan dari ayahnya itu? Entah, ia tidak tahu. Yang ia tahu, tatapan Jung Hee kemarin merupakan tatapan yang ia lihat 21 tahun yang lalu. Tatapan Seo Jung Hee yang ingin ia lindungi dan jaga.

Jujur saja, impiannya sejak dulu bukanlah menjadi seorang jaksa. Yang ia inginkan hanyalah sebuah keluarga bahagia tanpa ada cahaya kelam disana. Hanya itu. Tidak apa meski keluarganya begitu miskin, yang terpenting ia dapat selalu tersenyum disana.

Yang membuatnya menjadi jaksa seperti sekarang ini hanyalah satu. Ia ingin menguak kejahatan ayahnya dan menjebloskan pria itu kedalam jeruji besi seperti yang seharusnya. Tidak, ia tidak membenci ayahnya. Hanya saja, ia begitu marah. Ia marah pada ayahnya yang sudah menghancurkan impiannya untuk membangun sebuah keluarga yang bahagia.

Sam Rin Hyo menghela napasnya, kembali meneguk kopi hitamnya itu dengan tenang. Ia selalu pintar menyembunyikan semuanya sendiri. Ia dapat menampakkan wajah tenang meski sebenarnya hati kecilnya menjerit kesakitan, ia juga dapat terlihat marah meski sebenarnya hatinya sudah bisa memaafkan, semuanya terlihat sama padahal sangat berbeda. Begitu kontras.

Dark Pearl? Ia juga begitu pusing memikirkan organisasi gelap itu. Dark Pearl tentu sudah menjadi rahasia umum di seluruh Korea bahkan Asia, namun tetap saja ada kata rahasia dan mereka tidak main-main dengan kata itu. Dark Pearl begitu pintar dan kuat. Hingga mereka mempunyai mata-mata di NIS yang notabene-nya adalah lembaga yang berada diatas kepolisian dan tentara.

Seperti, jika di Amerika ada FBI maka di Korea Selatan ada NIS. Dan untuk mata-mata. Ia juga tidak tahu mengapa ia mencurigai Lee Hyuk Jae dan Lee Donghae yang sejujurnya tidak terlihat mencurigakan sama sekali. Namun, ia merasa tidak logis jika Song Joong Ki pelakunya.

“Huuuh.” Entah untuk yang keberapa kalinya ia menghela napas panjangnya seperti ini. Ia kembali mengangkat cup kopinya, hendak meminum kembali. Namun ternyata isinya sudah kosong, bahkan ia tak sadar jika kopinya sudah habis.

“Ck.” Sam Rin Hyo mendecak seraya melempar cup yang terbuat dari kertas itu kesegala arah. Otaknya kembali memutar kebelakang, mengevaluasi tiap aktivitasnya yang berhubungan dengan Song Joong Ki, Lee Donghae, dan Lee Hyuk Jae.

“Joong Ki oppa jarang sekali menanyaiku tentang Dark Pearl.” Gumamnya dengan kedua mata yang masih menerawang dan tidak lupa otaknya yang berputar lebih keras lagi.

“Sedangkan Donghae dan Hyuk Jae, jika memang mereka. Seharusnya Dark Pearl sudah tahu tentang rencana yang kami susun. Dan juga memancing, seharusnya Dark Pearl tahu tentang hal itu.” Sam Rin Hyo kembali memutar otaknya lebih keras lagi. Semuanya masih belum terlalu jelas, seperti masih menjadi suatu bayang yang tidak akan menjadi wujud asli.

“Informasi terakhir, Dark Pearl mengetahui tentang Choi Siwon yang sudah dicurigai. Dan di rapat itu, mereka bertiga ada disana. Tapi, jika Donghae dan Hyuk Jae tentu rencana-rencana yang sudah tersusun rapi itu sudah terbongkar. Lantas? Apa jangan-jangan…” Kedua mata Rin Hyo melebar. Semuanya terasa sedikit jelas, tidak mungkin Donghae dan Hyuk Jae pelakunya. Karena jika mereka, tentu Dark Pearl tidak akan tinggal diam setelah mendengar tentang rencana yang sudah mereka susun beberapa waktu yang lalu.

“Song Joong Ki? Apa dia?”

———

-TBC-

Advertisements

48 thoughts on “Contrast 6

  1. Joong ki? Aku sedikit yakin,,
    Aahh soo hyun suka hyo,, aws ntr jenifr cemburu,,,
    Jahat bgt jenifer,, apa ya kira2 rencananya dgn kartu nama hyo? Jgn blg dy bakal nyamar jd hyo

  2. tuh kan udah curiga emang kalo jennifer itu si kembarannya rinhyo yg sialnya jahat ah. sedihhh kalo ternyata joongki yg jahat haha lanjuttttt

  3. OMG satu lagi kjutan yg ad di part ini..benarkah jongki iti mata2, trus ap rencana jennifer sebenar y apahkah dia bkalan tega nyakitin saudara kembar y sendiri..miris kw ngebyangin rin hyo bkal tau semua y ttng jennifer mengingat dia segitu sayang y sma jennifer..

  4. aq juga curiga ihh am joong ki ????!!!!
    kyu am hyo hubungan nya makin ribet :/
    jangan bilang jenifer suka lagy am kyuhyun -_-
    mana soo hyun uda demen am hyo -_-
    hah kasus dark pearl susah ya tapiii seruuuuu

  5. Tuh makin ganjel kan .
    Mainnya nyamar2an aja , muka 2 mungkin kali yg jahat . Disaat wkt yg berbeda mereka jg memasang wajah yg berbeda jg . Ganjelnya makin penasaran wkwk

  6. makin dibuat penasaran aja sama lanjutannya. apa iya jongki itu mata-mata dark pearl din NIS?
    tapi apa yang sedang di rencanain sama jeniffer tentang rinhyo. apa dia mau mamfaatin rinhyo?
    haduh, disaat kasus yang rinhyo hadapi makin rumit, hubungannya dengan kyuhyun juga malah ikutan terganggu…

  7. Song joongki?? Anggota dark pearl??
    Aigoo, kontras bgt sama muka imutnya..
    Bener kan, kim soohyun itu udah love at first sight sama rinhyo..
    Hmm, jennifer juga kayanya sama kaya soohyun, suka ama kyuhyun..
    Semuanya jadi tambah complicated dan makin seru!

  8. Hmmm..sepertinya mata mata itu joongki dehh stlh dipikir pikir ada benernya juga kata hyo.. Gk mugkin donghae ataupin eunhyuk mata matanya, kalo iya pasti sdh berantakan rencana mreka..
    Makin penasaran nihh..sdh mulai terkuak satu satu ..next chap :’)

  9. Banyak kejutan di part ini. Mulai dari jennifer yang ternyata udah tau semua tentang rinhyo, tapi rinhyo tidak sebaliknya. Terus jennifer tertarik sama kyuhyun. Baca ff serasa dunia sempit wkwk. Joongki yang mungkin ada hubungannya sama dark pearl. Aku takut, jennifer bakal deketin kyuhyun. Saudara kembar memiliki rasa yang sama ke satu cowok wkwk

  10. wow ini makin seru..
    Kasihan rin hyo dia sgt tertekan.. Aku takut hancurnya rin hyo justru disebabkan kembrannya sendiri..
    Apa iya joong ki orang dalamnya?

  11. Oh ternyata jennifernya mau jahatin rin hyo.. 😥 kasian sama kyuhyun..
    Oh kim soo hyun suka sama rin hyo.. lantas kyuhyun..

    song joong ki ada kemungkinan dia mata2 dark pearl.. atau song qian.. ? Ugh ceritanya makin gregertt.. 😀
    Ijin baca next part nya lagi eonni.. *bow

  12. benarkah jong ki?????? aq rasa iya. huffffffttttttt………aq galau bgt bacanya………setega2nya jennifer q harap dia gak akan nyakitin rinhyo.

  13. kok jenifer berpikiran jahat sama saudaranya sendiri 😥
    pengen lanjut part tapi mata uda ngga bisa di ajak kompromi, lanjut besok ah 😀

  14. terlalu teka teki buat jawab siapa pelakunya ?? … semoga ajh kembaran rin hyo enga berbuat yg aneh2 ama rin hyo …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s