Final Destination 2

wpid-10458346_280565368807703_4825155848555215790_n.jpg

Author: Bella Eka

A/N: Annyeong 🙂 mohon commentnya yaa, no copas! Happy read ^^

.

.

.

Shin Ji Eun

 

Aku mengamati lautan manusia yang berjalan tanpa celah dari atap gedung pencakar langit ini. Orang-orang di bawah sana terlihat begitu sibuk bersama kepentingan mereka masing-masing, hingga tak ada satupun yang peduli saat terdapat seorang nenek tua yang tengah kesulitan membawa barang belanjaan seorang diri di tengah kerumunan mereka. Mungkin benar, dunia ini begitu kejam.

“Kim Suk Bin. Pria single 25 tahun yang bekerja di Green Café setiap hari Rabu dan Kamis sore. Dia akan datang sekitar 5 menit lagi.” Aku mengangkat senapan yang berada dalam genggamanku dengan tangan kiri sebagai penopangnya, serta jari telunjuk kananku yang bersiap menarik pelatuk setelah mendengar paparan Rin Hyo mengenai target pertamaku hari ini. Aku menatap layar tab di tangan Rin Hyo sejenak, menelisik foto pria yang bernama Kim Suk Bin itu sebelum kembali melanjutkan misiku.

BAM!

Semua orang berhambur tak terkondisi setelah terdengar suara tembakan yang menggema bersamaan dengan melesatnya sebuah peluru yang bersarang tepat di dada kiri seorang pria tak berdosa. Misi pertama, sukses!

Aku menatap pria itu datar, pria yang tergeletak tak berdaya di tengah jalan tanpa ada seorang pun yang berjiwa besar menolongnya, bahkan tidak untuk mendekatinya. Tanganku tergerak mengambil ponsel dalam saku mantel jaketku dan menghubungi ambulance untuknya.

Dadaku tak lagi bergemuruh, deru nafasku tak lagi terasa menyesakkan, dan kedua tanganku tak lagi gemetar seperti saat pertama kali aku melakukan hal yang merupakan bagian dari latihanku. Sudah terlalu sering aku melakukan praktik nyata dari pekerjaanku semacam ini. Walaupun aku melukai dada kiri pria itu, namun aku yakin bahwa dia masih memiliki harapan untuk selamat karena aku tak membidik tepat pada titik jantungnya.

Semua ini karena kejadian waktu itu, tragedi yang berhasil mematikan perasaanku dan mengubahku menjadi seseorang yang begitu sadis. Kupejamkan kedua mataku, kenangan itu kembali tergambar jelas di tengah kegelapan dibalik kelopak mataku. Aku mengingat segalanya, semuanya masih terasa segar di otakku.

Saat itu hari senin pagi, saat aku tengah mengoleskan selai coklat pada roti panggang yang baru matang. Tiba-tiba terdengar ledakan tembakan dari arah luar rumah yang membuatku sontak memanggil-manggil ibu dan ayahku namun tak ada sahutan sekalipun. Segala hal negative dengan cepatnya mendominasi pikiranku, tubuhku terasa lemas namun kupaksakan untuk berlari menuju luar rumah.

Aku menangis meraung-raung memeluk kedua orang tuaku yang telah terbaring lemah tak sadarkan diri di halaman rumah. Walaupun sinar matahari mulai menyinari seluruh jagat raya hingga sudut terkecil sekalipun, namun tetap saja tak mampu memberikan pencerahan bagi hatiku yang terasa gelap penuh kepedihan.

Tanganku yang berlumuran darah bergetar hebat, dengan susah payah aku meraih ponsel dalam saku jas almamaterku. Mencoba menghubungi nomor darurat dengan penuh harap.

Yeoboseyo, orang tuaku tertembak oleh orang gila. Jaesong-dong nomor 501. Kumohon ini darurat!” mohonku dengan nada penuh penekanan pada kalimat terakhirnya. Ya, orang gila. Karena hanya orang semacam itulah yang tega menembak kedua orang tuaku yang tak bersalah. Hatiku seakan tertusuk ribuan duri, panah, serta pisau yang baru diasah saat menemukan kedua orang tuaku berlumuran darah. Luka tembakan itu berpusat tepat di dada sebelah kiri, dimana jantung berada. Pasti orang itu adalah seseorang yang begitu profesional dalam melakukan hal hina ini.

Sekitar 10 menit kemudian terdengar suara sirine mobil ambulance yang berujung tepat di depan pintu gerbang rumahku. Beberapa orang berbaju serba putih keluar dari mobil dengan tergesa memasuki halaman rumah. Aku yang tak mampu melakukan apapun hanya berjalan mengekori orang tuaku yang telah diangkat menuju mobil ambulance dengan air mata mengalir deras tanpa henti. Seakan hidupku akan berakhir pada saat itu juga.

Aku sempat menghentikan langkahku saat merasakan sesuatu mengganjal di bawah alas kakiku ketika aku sampai pada depan gerbang rumahku. Aku menunduk dan merendahkan tubuhku untuk mengambil sebuah gelang bertali hitam yang telah putus dengan gantungan berinisial disana dan menatap benda itu tajam penuh amarah.

Kenangan itu terasa begitu pahit bagiku, karenanya aku membutuhkan sesuatu yang manis sebagai penetralisir rasa itu. Dan aku telah menemukan resep untuk memenuhinya, tentu saja dengan merealisasikan pembalasan dendamku pada orang gila itu.

***

Author

 

Lee Kikwang menyanggah dagunya seraya mengetuk-ngetukkan jarinya bosan di atas meja café. Hatinya begitu hampa dengan segala rutinitas yang harus ia lakukan setiap harinya. Dengan jabatan sebagai vice boss dalam Black Joker, ia tak terlalu banyak melakukan pekerjaan karena semuanya telah dilaksanakan oleh bawahannya. Yang perlu ia lakukan hanyalah bertanggung jawab atas segala misi yang dilimpahkan oleh Boss.

Lee Kikwang menyambar sebuah cangkir di hadapannya dan menyesap minuman Cappucino di dalamnya. Pandangannya teralih saat lonceng yang berada di ambang pintu café berbunyi, menampakkan seorang gadis dengan rambut yang dikuncir kuda di baliknya. Kikwang melambaikan sebelah tangannya begitu saja yang membuat gadis itu menyadari keberadaannya dan menghampirinya.

“Sendirian, Ji Eun-ssi?” Ji Eun mengangguk kecil sebagai jawaban yang membuat Kikwang tersenyum kecil. Seperti biasa, Ji Eun memesan chocolate ice saat seorang pelayan cafe menghampirinya.

“Baru saja pulang kuliah?” Kikwang mengernyitkan dahinya merasa ada sesuatu yang baru saja terjadi saat Ji Eun kembali menganggukkan kepalanya lemah. Kikwang menatap Ji Eun lekat saat gadis itu menyesap chocolate ice yang baru saja datang dengan memejamkan kedua matanya.

“Kau kenapa?” tanya Kikwang khawatir seraya menatap Ji Eun sendu.

“Aku muak dengan kehidupan ini,” umpat Ji Eun tiba-tiba dengan menatap tajam Kikwang yang bergidik ngeri karenanya. “Aku merindukan mereka,” lanjut Ji Eun dengan tatapannya yang berubah menyendu kemudian menunduk dalam.

Ji Eun sontak kembali mengalihkan pandangannya pada Kikwang saat pria itu memindahkan es batu dari chocolate ice miliknya ke dalam secangkir Cappucino yang masih hangat milik Kikwang. Ji Eun hanya menatap pria itu datar sebelum mengajukan pertanyaan, “Wae?”

“Tidak baik minum minuman yang terlalu dingin di malam selarut ini.”

“Apa pedulimu?”

“Kau sudah makan?” Ji Eun terdiam, hanya menggeleng sebagai jawaban. Ia mengernyitkan dahinya, merasakan aura aneh dari dalam diri Kikwang yang memperlakukannya begitu lembut saat ini. Bukan karena tersentuh atau semacamnya, namun perasaan curiga akan adanya maksud tersembunyi dibaliknya.

“Memangnya kenapa?”

“Aku sangat lapar, aku belum makan seharian ini. Maukah kau menemaniku makan jjajangmyeon setelah ini?” Ji Eun mendesah lega, ternyata itu alasannya. Lagipula ia tak menemukan sesuatu yang mencurigakan dari raut wajah Kikwang. Terlebih lagi karena senyuman pria itu yang membuatnya terperangah sejenak.

“Baiklah.”

***

Shin Ji Eun menatap Kikwang yang tengah bersemangat menyantap semangkuk besar jjajangmyeon di hadapannya dengan sesekali tersenyum kecil. Entah mengapa pria itu terlihat begitu manis saat ini, dengan saus hitam yang menodai ujung bibirnya tanpa ia ketahui. Kikwang menghentikan kegiatannya ketika baru menyadari bahwa Ji Eun hanya menatapnya tanpa menyentuh makanannya sedikitpun.

“Kau tidak makan?”

“Ambil saja,” jawab Ji Eun seraya menggeser mangkuknya yang tak terlalu besar kearah Kikwang yang berada di hadapannya. Mendengar itu, Kikwang kembali menyibukkan dirinya menghabiskan beberapa helai jjajangmyeon miliknya yang masih tersisa.

“Aaah~” desah Kikwang lega saat perutnya terasa penuh. Ia meraih tissue dari tangan Ji Eun yang dijulurkan padanya.

“Kau seperti seorang bocah jika seperti ini,” ucap Ji Eun seraya terkekeh kecil.

“Sekarang giliranmu,” ujar Kikwang setelah menyeka bibirnya hingga bersih.

Mwo?”

“Giliranmu untuk makan, sedangkan aku yang akan menatapmu hingga kau menghabiskannya.” Ji Eun semakin menggeser semangkuk jjajangmyeon utuh miliknya mendekati Kikwang, “sudah kukatakan bahwa ini untukmu saja. Aku sedang tidak berselera.”

“Tadi kau bilang belum makan, kan?” timpal Kikwang sembari mengambil sepasang sumpit dan mengambil beberapa helai jjajangmyeon milik Ji Eun dengan alat itu.

“Sekarang buka mulutmu, aaa~” Ji Eun mendecak kesal dengan sikap Kikwang yang seakan memperlakukannya bagaikan anak kecil.

“Kenapa kau begitu memaksa? Terserah padaku kan mau makan atau tidak.” Kikwang meletakkan kembali sumpit yang berada dalam genggamannya dengan kasar kemudian menyendekapkan kedua tangannya, “kalau begitu aku akan menunggumu hingga kau menghabiskannya.”

“Jika tidak?”

“Tak peduli sampai esok pagi pun aku akan menantimu disini.” Ji Eun memutar kedua bola matanya malas dengan senyuman meremehkan yang terkembang dengan sendirinya, “kekanakan sekali,” komentarnya. Namun beberapa saat kemudian ia meraih sumpit dengan enggan dan mulai menyantap semangkuk makanan yang telah mendingin itu tanpa menyadari senyuman manis Kikwang.

***

 

“Tch! Apa dia tidak tahu betapa susahnya menyusun makalah ini? Sial!” umpat Ji Eun kesal sesampainya ia di luar ruangan Dosen Kim. Usaha kerasnya beberapa minggu terakhir ini terasa sia-sia saat Dosen Kim dengan mudahnya menolak mentah-mentah hasil makalahnya yang telah ia susun dengan susah payah. Dosen yang satu itu memang begitu teliti hingga kesalah penulisan sekecil apapun tak luput dari pandangannya yang tertutup kacamata bening. Maka dari itu tak jarang para mahasiswa Universitas Seoul melontarkan berbagai macam sumpah serapah terhadapnya.

“Ji Eun-ah!” Shin Ji Eun menatap datar Sam Rin Hyo yang tengah berlari kecil kearahnya.

“Kau kenapa?” Ji Eun hanya menggedikkan bahunya acuh, terlalu malas untuk sekedar menceritakan kejadian yang sukses menghancurkan moodnya saat ini. Untungnya Rin Hyo segera mengerti saat mengetahui setumpuk makalah yang berada dalam genggaman Ji Eun.

“Ya! Kau ingat besok hari apa?”

“Sabtu,” jawab Ji Eun seadanya.

“Aish, bukan itu maksudku. Besok diadakan perayaan hari valentine di kampus, kau lupa?”

“Ah, itu. Iya aku baru ingat sekarang,” ucap Ji Eun seraya mulai melangkahkan kedua kakinya.

“Kau datang tidak?”

“Entahlah.”

“Tidakkah kau penasaran? Kita tak pernah sekalipun menghadiri acara itu, bagaimana?” Ji Eun menghentikan langkahnya, sedikit menimang-nimang sesuatu sebelum mengatakan, “boleh juga.”

***

Lee Kikwang baru saja keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka serta membersihkan giginya. Setelah ia mematikan lampu tidur di samping ranjangnya dan mulai memejamkan mata, sayup-sayup terdengar suara seseorang memanggil namanya.

Aish!” gerutu Kikwang sembari bangkit dari tidurnya, melangkah menuju jendela dan menemukan Shin Ji Eun tengah berdiri di balkon kamar apartemennya yang berseberangan dengan gedung apartemen Kikwang.

Mwo?” tanya Kikwang seraya menggedikkan kepalanya saat ia keluar dari kamarnya menuju balkon.

“Besok kau—“ Kikwang mengernyit, tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Ji Eun karena tak terdengar sepenuhnya. Kikwang membentuk tanda telepon dengan tangan kanannya, mengisyaratkan agar Ji Eun sebaiknya membicarakannya melalui telepon. Ji Eun menepuk dahinya pelan, baru saja teringat bahwa ia memiliki nomor Kikwang.

Babo!” gumam Kikwang seraya tersenyum tipis. Kikwang mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas dekat lampu tidur kemudian segera menghubungi nomor Ji Eun seraya kembali melangkah menuju balkon.

“Ada apa?”

“Kikwang-ah, besok kau ada acara tidak?”

“Memangnya kenapa?”

“Jawab saja pertanyaanku.”

“Tunggu sebentar,” Kikwang memeriksa jadwal dalam note-nya sejenak, kemudian kembali menempelkan ponselnya di telinga kanannya. “Ada,” jawabnya kemudian.

“Benarkah? Ah, kalau begitu tidak jadi.”

“Sebenarnya ada apa?”

“Besok diadakan acara valentine di kampus, tapi jika kau tidak bisa juga tak apa-apa.”

“Pukul berapa?”

“Sekitar 7 malam.”

“Oke, aku akan kesana bersamamu.”

“Tidak perlu memaksakan diri.”

“Jangan terlalu percaya diri, itu karena jadwalku besok hanya sampai pukul 5 sore.”

“Aish, menyebalkan sekali!” Kikwang terkekeh mendengar Ji Eun yang menggerutu kesal.

“Sudahlah, segeralah tidur. Sampai jumpa besok.”

“Nde~” ucap Ji Eun namun tak segera memutuskan hubungan telepon, begitupun Kikwang. “Kau tidak menutupnya?”

“Kau sendiri?”

“Ya! Kau kan yang menghubungiku terlebih dahulu, akan sangat tidak sopan jika aku—“

“Cepatlah tidur, jangan selalu tidur tengah malam.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Karena lampu kamarmu yang terus menyala itu sangat menyilaukanku hingga akupun tak bisa tidur.”

“Baiklah, baiklah. Maaf jika ternyata selama ini aku mengganggumu. Annyeong~”

Lee Kikwang tersenyum manis setelah Ji Eun memutuskan telepon secara sepihak. Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa tak tenang karena pola hidup tak teratur yang dijalani Ji Eun. Mungkin dapat dikatakan bahwa Kikwang mengkhawatirkannya? Karena sampai hal kecil seperti lampu kamar apartemen Ji Eun yang selalu menyala hingga larut malam pun tak luput dari perhatiannya.

***

Berulang kali Ji Eun memeriksa ponselnya , berulang kali pula ia kembali menghembuskan nafasnya kasar karena Kikwang belum juga menghubunginya hingga saat ini. Sudah hampir pukul 8 malam dan Kikwang belum juga datang. Ingin hati Ji Eun menelepon Kikwang namun karena tak ingin mengganggu kegiatan pria itu, ia selalu mengurungkan niatnya.

Ji Eun kembali mengutak-atik ponselnya yang masih berada dalam genggamannya, mengetikkan beberapa kata disana dan berujung pada sebuah kontak bertuliskan Lee Kikwang. Sekedar mengirimkan sebuah pesan padanya tak masalah bukan?

Shin Ji Eun mendongakkan kepalanya saat menyadari bahwa ada seorang pria berdiri tepat di depannya tiba-tiba. Entah mengapa dadanya terasa sesak hingga mengharuskannya untuk menghembuskan nafas beratnya.

“Kau sendirian?” tanya pria itu yang membuat Ji Eun menatapnya tajam.

“Seperti yang kau lihat,” jawab Ji Eun dingin. Ji Eun melebarkan kedua matanya saat pria itu meraih pergelangan tangannya tiba-tiba.

“Ya! Apa yang kau lakukan, Yoon Dujun!” ucap Ji Eun kesal seraya melepas tautan tangan mereka namun tak dapat dipungkiri bahwa kekuatan Dujun lebih besar darinya.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan?!” bentak Ji Eun pelan, karena mereka sedang berada di area lobby saat ini. Belum sempat Dujun membalas ucapan Ji Eun, terdengar suara seorang pria memanggil nama gadis itu yang membuatnya melepaskan genggaman tangannya saat Ji Eun melepasnya paksa. Dujun terperangah saat Ji Eun yang pada awalnya begitu sinis menatapnya, mengulas senyuman terbaiknya pada pria yang baru saja datang itu,  Lee Kikwang.

“Aku tahu kau pasti datang,” ucap Ji Eun seraya melangkah cepat kearah Kikwang lalu mengaitkan lengannya, tak lupa dengan senyuman yang terus terbentuk indah menghiasi wajahnya. Berbeda dengan Kikwang yang menatap Ji Eun tak mengerti, “Kajja,” ajak Ji Eun kemudian meninggalkan Dujun menuju valentine event yang diadakan di area taman dalam kampus.

Kikwang yang tengah memakai kemeja kotak-kotak berwarna hitam dan merah mendominasi terlihat begitu serasi ketika bersanding dengan Ji Eun yang mengenakan gaun berwarna merah dengan ornament hitam menghiasinya. Ji Eun melepaskan kaitan lengannya pada Kikwang setelah memastikan bahwa Dujun tak lagi berada di sekitar mereka.

“Dia siapa? Mantan kekasihmu?” tebak Kikwang namun Ji Eun menggeleng menyalahkan.

“Bukan, hanya saja—“ Ji Eun menggantung ucapannya saat menyadari bahwa Kikwang tengah menatapnya intens disampingnya. Lidahnya terasa kelu tanpa sebab, hingga tak mampu melanjutkan perkataannya.

Mian, Kikwang-ah. Aku tak bermaksud untuk menggodamu, hanya ingin memberi pelajaran padanya tadi,” ujar Ji Eun mengalihkan pembicaraan.

“Karena itu kau mengajakku kemari?” tanya Kikwang enteng seraya membuang pandangannya ke depan.

“Apa yang kau bicarakan? Tentu saja bukan karena itu,” jawab Ji Eun tak terima. Ucapan Kikwang seolah menyadarkannya, apakah itu sebab ia memilih Kikwang untuk menemaninya untuk datang ke acara ini? Kenapa bukan pria lain saja yang telah ia kenal lebih lama seperti teman sekampusnya sendiri? Mungkinkah karena perasaan aneh yang selalu ia rasakan setiap Kikwang berada di sekitarnya selama ini? Entahlah.

Kikwang meraih tangan Ji Eun dan menuntunnya kembali mengaitkan tangan itu pada lengannya. Ji Eun menurutinya begitu saja layaknya seorang bocah. Keadaan berbalik sekarang, Ji Eun menatap lekat setiap inchi lekukan wajah Kikwang dari samping yang membuatnya merasa bahwa pria itu terlihat sangat tampan malam ini.

Ji Eun menyisir pandangannya mencari sosok Rin Hyo di antara kerumunan mahasiswa lainnya. Gadis-gadis yang berada disekitarnya menatap Kikwang terkagum, karena ketampanan dan tubuh atletis pria itu. Setelah dapat, Ji Eun segera menghampiri Rin Hyo tak lupa dengan menggandeng Kikwang di sampingnya.

“Rin Hyo-ah!” pekik Ji Eun seraya melambaikan tangannya, Rin Hyo pun melakukan hal yang sama. Rin Hyo menatap Kikwang sejenak kemudian beralih pada Ji Eun seakan menanyakan siapa pria ini?

“Dia Lee Kikwang,” papar Ji Eun singkat, bersamaan dengan Kikwang menunduk memberi salam disusul dengan Rin Hyo.

“Kau tidak bersama Kyuhyun?” Rin Hyo menggeleng seraya menghela nafas malas, “seperti biasa dia sedang sibuk.”

“Angkat tangan kalian semua!” semua orang berjengit mendengar teriakan seorang pria dari gerombolan yang mengenakan pakaian serba hitam dengan senjata api di masing-masing tangan mereka, suasana yang semula tenang berubah ricuh dengan cepatnya.

“Apa yang mereka lakukan disini?” gumam Ji Eun saat menyadari bahwa gerombolan pria tersebut adalah pasukan NIS, “itu Cho Kyuhyun kan?” lanjutnya kemudian melebarkan kedua matanya saat Kikwang menarik lengan kanannya tiba-tiba.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Lepaskan!” pekik Ji Eun kesakitan karena Kikwang semakin mempererat cengkeramannya, namun tak ada respon apapun dari mulut pria itu.

***

“Apa yang kau lakukan disini, Kyu?” tanya Rin Hyo pada seorang pria yang mengenakan kemeja serta kacamata hitam.

“Tolong angkat tanganmu nona, kami harus memeriksa anda terlebih dahulu,” Rin Hyo mengangkat kedua tangannya menuruti instruksi dari seorang pria lain yang memakai seragam NIS lengkap.

“Hentikan! Dia aman,” ucap Kyuhyun tegas saat pria itu mulai meraba bagian samping tubuh Rin Hyo. Pria berseragam itu sontak menghentikan kegiatannya kemudian beranjak setelah membungkuk sejenak pada Kyuhyun.

“Apa tujuanmu kemari bersama pasukanmu?”

Black Joker sedang berada disini.”

“Bagaimana mungkin? Pasti ada kesalahan.”

“Data kami selalu akurat,” ujar Kyuhyun seraya tersenyum miring, “lebih baik kau pulang sekarang, disini berbahaya,” lanjut Kyuhyun sembari mengelus lembut helaian rambut Rin Hyo.

“Kami telah menemukannya, Tuan Cho.”

“Cepat pulang, maaf aku tidak bisa mengantarmu,” titah Kyuhyun sebelum meninggalkan Rin Hyo menuju anak buahnya yang tengah menggeret paksa seorang pria dengan tatapan tajam padanya.

***

Ji Eun memaku pandangannya pada kaca bening disampingnya, ia masih terlalu enggan sekedar untuk menatap Kikwang akibat perlakuan kasar yang telah pria itu lakukan padanya. Sedangkan Kikwang yang tengah menyetir mengalihkan perhatiannya sesekali pada Ji Eun.

“Maafkan aku,” ucap Kikwang namun tak kunjung mendapat jawaban.

“Ji Eun-ah, maafkan aku,” ujarnya lagi namun keadaan masih saja tak berubah. Karena tak tahan dengan keadaan canggung ini, Kikwang mengacak rambutnya frustasi. Di lain sisi, ia merasa begitu egois karena telah melukai gadis tak bersalah demi kepentingannya sendiri.

“Maafkan aku, Shin Ji Eun. Aku tahu jika aku salah karena memperlakukanmu seperti tadi. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu, sungguh.”

“…”

“Katakan sesuatu, kumohon.”

“…”

“Apa yang harus kulakukan sekarang?” Kikwang menatap Ji Eun sekilas, gadis itu mulai mengarahkan kepalanya untuk menghadap padanya. Kedua ujung sisi bibir Kikwang sedikit terangkat saat mendengar Ji Eun menghembuskan nafas beratnya karena itu pertanda bahwa gadis itu akan mengatakan sesuatu dan suasana akan menjadi lebih baik.

“Diamlah, jika kau terus saja berbicara tanpa henti lebih baik turunkan aku sekarang juga,” Kikwang sontak membungkam mulutnya, senyumannya kembali meluntur. Ternyata apa yang terjadi tak sesuai dengan perkiraannya.

Kikwang memperkuat pijakan kakinya pada pedal gas, mempercepat laju mobilnya yang membuat Ji Eun sontak menggenggam erat sabuk pengaman. Tak lama kemudian sebelah tangannya meraih lengan Kikwang perlahan, “Aku, ingin muntah.”

***

Suara detik jam dinding terdengar memenuhi ruangan. Keberadaan dua sosok manusia yang tengah duduk di sofa ruang tamu apartemen Ji Eun tak mengubah keadaan. Kikwang tak henti-hentinya menatap Ji Eun yang disibukkan dengan sebuah ponsel miliknya. Begitulah hal yang terjadi selama lima belas menit terakhir.

“Kau tidak pulang?” tanya Ji Eun memecah keheningan. Ji Eun mengalihkan pandangannya pada Kikwang saat tak ada sahutan atas pertanyaannya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” lanjut Ji Eun kemudian kembali memaku tatapannya pada layar ponsel. Tak tahan dengan sorot mata Kikwang yang dilayangkan padanya.

“Kau masih marah padaku?” Ji Eun mengulum tawanya mendengar ucapan Kikwang. Sungguh diluar dugaan, ternyata Kikwang masih juga mempermasalahkan hal itu.

“Tidak,” jawab Ji Eun seadanya. Karena memang pada kenyataannya Ji Eun bukanlah seorang gadis yang gemar memperpanjang masalah.

“Tatap aku,” Ji Eun menatap Kikwang, menuruti permintaan yang diajukan padanya. Perlahan Kikwang semakin mendekatkan wajahnya pada Ji Eun yang membuat Ji Eun memundurkan posisinya.

“Ya! Apa yang akan kau lakukan?!” pekik Ji Eun saat Kikwang menahan kepala Ji Eun agar tak semakin menjauh darinya.

“Diamlah, aku hanya ingin memastikan bahwa kau tak lagi marah padaku.”

“Sudah berulang kali kukatakan bahwa aku telah memaafkanmu, Lee Kikwang,” ujar Ji Eun.

“Terserah kau saja,” ucap Ji Eun seraya memutar bola matanya jengah saat Kikwang masih tetap pada pendiriannya, kemudian kembali memusatkan titik fokusnya pada layar ponsel yang masih ia genggam. Selang beberapa detik ponsel dalam genggamannya terjatuh, tangannya melemas karena Kikwang semakin membunuh jarak diantara mereka. Terlebih lagi tatapan lembut Kikwang padanya.

Jantungnya terasa berdegup lebih kencang dari biasanya, tanpa sadar Ji Eun meneguk ludahnya sendiri. Tatapan itu begitu memabukkan, tatapan yang telah lama tak ia dapatkan. Tubuh Ji Eun berjengit saat teringat akan sesuatu, tatapan Kikwang mengingatkannya pada tatapan milik kedua orang tuanya. Begitu lembut dan penuh ketulusan.

Kikwang melebarkan kedua matanya terkejut saat menemukan setetes air mata yang menerobos keluar melalui pelupuk mata Ji Eun secara tiba-tiba. Ia pun segera menarik dirinya sedikit menjauh dari Ji Eun.

“Apa aku melukaimu lagi?” tanya Kikwang semakin khawatir, sedangkan Ji Eun menggelengkan kepalanya seraya mengulas senyuman manisnya yang membuat Kikwang tersenyum pula. Namun sedetik kemudian cairan bening itu semakin tak terkendali membasahi kedua pipi Ji Eun. Kikwang yang tak mengerti penyebabnya pun segera menarik Ji Eun ke dalam pelukannya dan mencoba memberinya ketenangan dengan membelai lembut puncak kepala Ji Eun.

Eomma, appa,” racau Ji Eun sembari membalas pelukan Kikwang. Kedua bola mata Kikwang mulai memanas dan memerah, hatinya terenyuh mendengarnya. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh gadis itu dengan sesekali mengusap kasar air matanya yang mulai berlinangan.

***

“Kim Suk Bin, member nomor 3 yang bekerja sebagai pelayan di Green Café daerah Hongdae sedang dirawat inap karena tertembak pada hari Kamis sore pada pukul 16:46. Jika dilihat dari kamera CCTV, pembidik berada di atap gedung yang berada tepat di depan bangunan Green Café. Berdasarkan hasil otopsi, peluru ditemukan sekitar 1 cm dari letak jantung,” papar seorang pria dengan tatapan tajam yang duduk di sofa tunggal kebesarannya.

“Apakah dia adalah pihak dari NIS?” tanya Kikwang memperjelas. Pria yang memiliki jabatan sebagai Boss itu pun mengernyitkan dahinya terlihat memikirkan sesuatu, “identitasnya belum diketahui tapi kemungkinan besar adalah mereka,” ucapnya kemudian.

“Junhyung hyung,”  sorot mata pria itu melembut seiring Kikwang memanggilnya dengan namanya yang sebenarnya. Ya, Yong Junhyung, ialah seorang boss dalam Black Joker yang mengendalikan segala hal dalam organisasi gelap itu.

“Sampai kapan aku harus melakukan ini?” lanjut Kikwang saat Junhyung mulai menatapnya.

“Jangan terlalu mempermasalahkan egomu, pikirkan saja bagaimana nasib orang tuamu.”

.

.

To be Continued

Advertisements

5 thoughts on “Final Destination 2

  1. Duhh bingung mau komen apa, sebenarnya udah baca sebagian sih kemarin, tapi baru dilanjutin lagi ini hari 😊 aku suka alur ceritanya, masih belum bisa ketebak ada apa dengan keluarganya kikwang ?

  2. Jinja aku makin suka sm ji eun ka hehe
    Kikwang jg hehe
    Maaf ya ka bru bc ffnya lg
    tp kok yg comment ffny hny 1org ya ka? Yg bcny brp emg? Aku saranin mending ff kaka pas ditengah2 part mau end mending dipw . Biar sidersny pd tau rasa haha

  3. belum berani menebak2 kedpannya akan seprti apa?
    Sulit ditebak, apa yg sbnrnya terjadi dg ji eun dan keluarga kikwang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s