Nothing Impossible 1

nothing impossible pic

Author: Bella Eka

A/N: Annyeong 🙂 wajib komentarnya yaa dan juga dilarang copas. Selamat membaca 🙂

.

.

.

Dedaunan kecoklatan mulai berguguran diterpa hembusan angin kencang mengawali musim yang sangat indah ini. Bagaimana tidak? Setelah melewati musim dingin yang sungguh merepotkan, tergantikan oleh manisnya musim semi.

Semoga saja musim ini mampu meluluhkan hati seorang lelaki bersama gadis disampingnya yang baru saja keluar dari mobil Mitsubishi Aventador hitam dengan diiringi tatapan iri siswa siswi di sekitar mereka. Cho Kyuhyun dan Shin Ji Eun, begitulah nametag yang terpampang jelas menghiasi jas almamater mereka. Sepasang sahabat berhati sebeku es.

Di sisi lain, seorang lelaki dengan susah payah mengayuh sepedanya lebih cepat, terlebih dengan membonceng seorang gadis di belakangnya tanpa menghiraukan tamparan dedaunan kering yang sesekali mengarah pada wajah halusnya.

“Ya! Lee Kikwang! Bisakah kau mempercepat gerak kakimu? Lihat, 3 menit lagi  gerbang sekolah akan ditutup,” racau gadis itu seraya memeriksa jam tangannya, sedangkan sebelah tangannya masih berpegangan erat pada lelaki yang ia panggil Kikwang tadi.

“Diamlah, Sam Rin Hyo! Atau aku akan menurunkanmu sekarang juga!” gadis bernama Sam Rin Hyo itu pun mengurucutkan bibirnya lucu tanpa membalas ucapan Kikwang.

Kikwang menghembuskan nafasnya lega sesampainya mereka berada di dalam area sekolah. Ia memarkirkan sepedanya di tempat biasa setelah menurunkan Rin Hyo terlebih dahulu. Kemudian berjalan beriringan menuju ruang kelas mereka yang berada di ujung lorong sekolah.

***

Sam Rin Hyo menyapu pandangannya ke sekeliling area kantin, berharap seseorang yang ia cari berada disana. Namun tak lama kemudian suara decakan malas keluar dari bibirnya saat menyadari bahwa harapannya tak terpenuhi, karena ia sangat merindukan sosok itu hari ini.

Wae?” tanya Kikwang yang duduk di hadapan Rin Hyo.

“Dia tidak disini,” jawab Rin Hyo sekenanya.

“Sebenarnya dia siapa? Kenapa kau selalu menyebut dia, dia, dan dia namun tak pernah sekalipun memberitahukan identitasnya padaku.”

“Karena aku yakin kau pasti akan menertawaiku,” papar Rin Hyo serius lalu menyesap orange juice-nya.

“Untuk apa aku menertawaimu? Jangan-jangan kau, menyukaiku?”

“Mimpi saja kau!” pekik Rin Hyo seraya mendaratkan tangannya yang terkepal pada atas kepala Kikwang. Namun ia segera terlonjak kaget saat menyadari seorang lelaki yang tengah menatap datar mereka hingga Rin Hyo salah tingkah dibuatnya. Rin Hyo segera kembali duduk di tempatnya dan bersikap seperti biasa, sedangkan Kikwang masih mengusap bagian kepalanya yang masih terasa sakit.

“Dialah orangnya,” gumam Rin Hyo tiba-tiba dan membuat Kikwang mengikuti arah tatapan Rin Hyo. Disana ia menemukan seorang lelaki tampan sedang duduk bersama gadis cantik di seberang meja kantin yang sedang ia tempati bersama Rin Hyo. Tanpa menanyakan identitas mereka pun Kikwang telah mengetahuinya karena tak ada seorangpun warga sekolah yang tak mengenal mereka.

“Cho Kyuhyun?” tanya Kikwang memastikan. Kikwang melebarkan kedua kelopak matanya saat Rin Hyo mengangguk perlahan.

“Kau gila? Bagaimana bisa kau menyukai seseorang yang telah memiliki kekasih? Sadarlah, Sam Rin Hyo!” ucap Kikwang menggebu namun hanya dibalas senyuman tipis oleh Rin Hyo, tatapannya masih terfokus pada Cho Kyuhyun walaupun sesekali teralih pada seorang gadis yang berada dihadapan pria itu, Shin Ji Eun. Gadis menawan yang begitu diimpikan oleh banyak siswa di sekolah.

Ia tahu, Sam Rin Hyo tahu segalanya. Ia tahu bahwa Kyuhyun dan Ji Eun merupakan sepasang kekasih yang begitu serasi dan mustahil baginya untuk mendapatkan hati seorang Cho Kyuhyun. Namun apa daya, ia tak mampu mengendalikan perasaan yang terasa rumit baginya. Semuanya mengalir begitu saja hingga detik ini, hingga ia memiliki perasaan yang begitu besar untuk Cho Kyuhyun.

***

Cho Kyuhyun dan Shin Ji Eun berjalan beriringan menuju area kantin. Seakan berjalan di atas catwalk, beberapa pasang mata menjadikan mereka sebagai pusat perhatian di sepanjang langkah mereka. Namun kedua orang itu hanya berjalan santai tanpa menghiraukan tatapan-tatapan yang sebenarnya membuat mereka begitu risih.

Sesampainya di area kantin, arah pandang Kyuhyun dan Ji Eun segera terfokus pada sepasang sahabat yang tengah bertengkar kecil disana. Tak seperti Kyuhyun, Ji Eun segera mengalihkan perhatiannya untuk memesan makanan kemudian menggandeng Kyuhyun agar segera mengambil tempat di meja kosong setelahnya.

“Kyuhyun-ah, kau mendengar gosip itu tidak?”

“Mengenai hubungan itu?”

“Benar! Aku tidak habis pikir dengan mereka semua, bagaimana bisa dengan mudahnya mereka menilai bahwa kita adalah sepasang kekasih. Konyol sekali,” ucap Ji Eun seraya memutar bola matanya malas.

“Biarkan saja mereka bersama prasangkanya sendiri. Lagipula gosip itu tidak terlalu buruk, kan?” Ji Eun menatap datar Kyuhyun yang tengah mengulum tawa.

“Terserah saja, bagaimanapun gosip semacam itu sama sekali tidak penting,” timpal Ji Eun kemudian mengalihkan pandangannya pada sepasang sahabat yang sedari awal menyita perhatiannya, “berisik sekali,” gumamnya. Sedangkan Kyuhyun yang juga menatap datar kedua orang itu tak mengucap sepatah katapun.

“Bukankah gadis itu adalah salah satu anggota OSIS?” Kyuhyun hanya mengangguk kecil membalas pertanyaan Ji Eun, disusul dengan Ji Eun yang juga melakukan hal yang sama. Tentu saja Kyuhyun dengan mudah mengetahuinya mengingat jabatannya yang  merupakan seorang ketua OSIS di sekolah.

“Siapa namanya?”

“Sam Rin Hyo.”

“Apakah yang sedang bersamanya itu adalah kekasihnya?”

“Bukan,” Shin Ji Eun mengulum tawanya. Jarang sekali seorang Cho Kyuhyun yang begitu dingin dan apatis dapat mengetahui dengan baik tentang anggotanya, terlebih hingga menyangkut hal pribadi semacam itu.

“Apakah kau menyukainya?” lanjut Ji Eun yang hanya dibalas dengan gelengan kepala Kyuhyun, “Benarkah?” tanyanya lagi.

“Kenapa kau menanyakan hal semacam ini? Tidak mungkin aku menyukai gadis yang sangat berisik seperti dia,” bela Kyuhyun.

“Benar juga, tapi jika kulihat dari gerak-gerikmu sepertinya kau menyukainya,” goda Ji Eun yang membuat Kyuhyun sontak mengacak rambutnya kasar seraya mengatakan, “Sampai kapan kau akan menuduhku seperti itu? Hentikan, Ji Eun-ah.”

“Ya! Rapikan rambutku seperti semula!”

***

Shin Ji Eun mendaratkan tubuhnya pada sebuah kursi yang berada dalam perpustakaan, kemudian membuka lembaran dalam buku novel hasil rekomendasi dari teman sekelasnya. Karena pada kenyataannya ia tak begitu suka dengan buku-buku tebal yang memberatkan, bahkan jenis novel sekalipun. Baru saja ia hampir terlarut dalam isi cerita, perhatiannya teralih pada seorang gadis berwajah dingin yang membuyarkan konsenterasinya.

“Bolehkah aku duduk disini?” tanya gadis itu, Ji Eun hanya mengangguk kecil. Gadis berisik ini lagi, batinnya. Ya, gadis itu, gadis yang disebut Kyuhyun bernama Sam Rin Hyo.

Setelah mendapat persetujuan Ji Eun, Rin Hyo meletakkan buku-buku yang memenuhi kedua tangannya diatas meja. Tanpa sengaja pena yang ia bawa terjatuh begitu saja dan menggelinding tepat ke samping kursi Ji Eun. Tanpa pikir panjang, tangan Ji Eun meraih pena itu kemudian menyerahkannya kembali pada sang pemilik.

Gomawo,” ucap Rin Hyo dengan senyuman manis terkembang di bibirnya, Ji Eun hanya mengangguk kecil seraya tersenyum tipis. Rin Hyo kembali sibuk dengan kegiatannya, ia harus menyelesaikan sebuah makalah yang harus dikumpulkan hari ini. Sedangkan Ji Eun juga kembali terhanyut dalam isi novel walaupun tak sepenuhnya. Sesekali ia menatap Rin Hyo sekilas karena gadis itu tak seberisik biasanya. Bahkan tak mengucap sepatah katapun yang membuatnya terganggu.

“Shin Ji Eun, kau sudah lama disini?” tubuh Rin Hyo berjengit mendengar suara itu, suara yang terdengar begitu dekat dengannya saat ini. Suara yang mampu memompa jantungnya hingga berdegup lebih kencang dan membuat darahnya terasa berdesir hebat, suara Cho Kyuhyun.

“Tidak juga,” jawab Ji Eun singkat, “Kau tidak ingin membaca sesuatu?” lanjut Ji Eun.

“Ayo kita pergi dari sini,” ajak Kyuhyun kemudian setelah menggelengkan kepalanya. Rin Hyo mulai memberanikan diri untuk menatap langsung Cho Kyuhyun. Dadanya terasa begitu sesak saat kedua bola matanya menangkap tatapan dingin yang Kyuhyun tujukan padanya. Namun tak lama kemudian Kyuhyun beranjak pergi meninggalkan perpustakaan bersama Ji Eun.

Sam Rin Hyo menyentuh dadanya yang masih terasa sesak. Berusaha untuk mengendalikan perasaannya namun tak mampu. Mungkin memang semuanya akan sia-sia, Kyuhyun hanyalah sebuah mimpi baginya. Namun entah mengapa ia merasa benar, hatinya merasa bahwa ia telah menaruh hati pada seseorang yang tepat baginya.

***

Shin Ji Eun duduk manis di kursi panjang seraya menatap datar permainan basket yang dilakukan oleh sekumpulan lelaki dengan kemeja putih tanpa jas almamater mereka. Ji Eun menghembuskan nafasnya jengah saat melihat beberapa gadis berdiri di sekitar lapangan yang lebih memilih untuk menyemangati Cho Kyuhyun yang juga tengah bermain disana daripada pulang ke rumah masing-masing.

Tatapan Ji Eun terhenti pada seorang lelaki yang tengah mendribble bola dengan begitu sempurna hingga berhasil mendapatkan 3 point dengan mudah. Ji Eun sedikit terperangah saat lelaki itu mengembangkan senyuman manisnya lalu melakukan high five dengan teman satu timnya, termasuk Cho Kyuhyun.

“Bukankah dia adalah teman Sam Rin Hyo?” gumam Ji Eun tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun pada seseorang yang ia tahu sebagai teman Sam Rin Hyo itu. Siapa lagi jika bukan Lee Kikwang. Tatapan Ji Eun tak teralihkan sedikitpun pada Kikwang, ia mengamati setiap gerak-gerik yang dilakukan Kikwang. Bagaimana cara ia tersenyum, bagamana cara ia berbicara, hingga meneguk air mineral dalam botol miliknya.

“Ji Eun-ah, apa yang sedang kau pikirkan?” suara Kyuhyun yang datang secara tiba-tiba mengejutkannya,  tangan Kyuhyun segera menyambar botol mineral yang berada dalam genggaman Ji Eun kemudian meneguk seluruh isinya. Sebelah tangan Ji Eun tergerak mengambil sebuah sapu tangan dari dalam saku jas almamaternya saat melihat Kikwang mengusap keringatnya kasar. Namun Ji Eun segera tersadar saat Kyuhyun mendekatkan wajahnya padanya hingga menutupi sosok Kikwang dari kedua matanya, yang membuat Ji Eun mengusap keringat Kyuhyun dengan kasar menggunakan sapu tangan itu, “Manja sekali,” gerutunya.

“Kau pengertian sekali,” puji Kyuhyun yang hanya dibalas dengusan malas Ji Eun. Ji Eun kembali terpana saat Kikwang kembali tertangkap oleh jangkauan matanya, terlebih lelaki itu juga tengah menatapnya. Menyadari itu, Ji Eun segera mengalihkan pandangannya secepat kilat. Rona merah segera menjalari wajahnya, namun tertutupi oleh raut wajah dinginnya.

“Kyu, kau mengenalnya?” tanya Ji Eun sembari menggedikkan kepalanya menuju arah seorang lelaki yang tengah menggantungkan jas almamaternya pada sebelah kanan bahunya.

“Dia?” tunjuk Kyuhyun, Ji Eun mengangguk membenarkan.

“Lee Kikwang,” jawab Kyuhyun singkat, “Wae? Kau menyukainya?”

“Sembarangan saja kau, dia adalah teman Sam Rin Hyo, kan? Pasangan yang selalu berisik itu,” ucap Ji Eun kemudian tertawa hambar, sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum miring.

“Ayo kita pulang.”

***

Lee Kikwang berjalan dengan santainya menghampiri Sam Rin Hyo yang tengah duduk di atas kursi panjang di area taman sekolah. Gadis berwajah datar itu terlihat fokus pada ponsel putih miliknya. Kikwang menyembulkan kepalanya di atas bahu kanan Rin Hyo mengintip layar ponsel milik sahabatnya itu.

“Kau sudah menunggu lama?”

“Tidak juga, ayo pulang,” ajak Rin Hyo. Mereka pun berjalan bersama menuju tempat parkir khusus sepeda kayuh yang tak jauh dari daerah taman. Kemudian seperti biasa Rin Hyo mengambil tempat di bagian belakang sepeda, ia mengambil posisi menyamping dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Kikwang.

“Sudahkah?” tanya Kikwang memastikan sebelum ia mulai mengayuh sepedanya yang dijawab dengan gumaman Rin Hyo.

“Tadi aku bermain basket dengannya,” ujar Kikwang seraya mengarahkan wajahnya ke belakang.

“Benarkah?”

“Iya, dan aku satu tim dengannya. Sayang sekali kau tak menonton permainan kami, tadi aku berhasil—”

“Ya! Fokus saja kau dengan—Aaaaak!”

BRAKK

 

Lee Kikwang yang tak menyadari adanya batu besar yang menghalangi jalan membuat mereka terjatuh dari sepeda, beruntung tak banyak orang yang melihat mereka. Rin Hyo masih terselamatkan karena ia sempat melompat terlebih dahulu untuk menyelamatkan dirinya. Sedangkan Kikwang melukai sebelah mata kakinya hingga kesulitan hanya sekedar untuk berdiri tegak.

“Bagaimana bisa kau– Aish! Dasar bodoh!” umpat Rin Hyo sembari membantu Kikwang dengan mengalungkan tangan Kikwang pada bahunya.

“Bagaimana dengan sepedaku? Bagaimana kita membawanya?”

“Disaat seperti ini masih saja kau memikirkan sepedamu? Konyol sekali kau, Lee Kikwang!”

“Ya! Setidaknya kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita perbuat, dasar!” balas Kikwang tak terima.

“Kita? Kau sendiri yang membuatnya seperti ini, bukan aku!”

“Baiklah, baiklah terserah kau saja, yang penting sekarang adalah bagaimana kita—“ ucapan Kikwang terputus saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapan mereka. Mereka begitu terkejut saat mengetahui sosok yang berada di balik kaca mobil itu.

“Butuh bantuan?” tanya Ji Eun enteng, terlihat Kyuhyun berada di balik kemudi di samping Ji Eun.

“Bolehkah? Tentu saja, kami sangat membutuhkan bantuan saat ini,” ucap Kikwang senang. Berbeda dengan Rin Hyo yang terdiam membeku. Kyuhyun segera menepikan mobilnya kemudian keluar dari mobil, begitu juga Ji Eun. Rin Hyo tersadar dari lamunannya saat Ji Eun mulai membantunya untuk mengarahkan Kikwang untuk masuk ke dalam mobil. Sedangkan Kyuhyun mengambil suatu alat yang ia gunakan untuk meletakkan sepeda Kikwang di bagian atap mobilnya.

Suasana begitu dingin dan canggung, tak ada seorang pun yang memulai pembicaraan. Hanya Kyuhyun yang menanyakan dimana alamat Kikwang dan Rin Hyo, tidak lebih. Kikwang menatap ketiga orang itu bergantian, dimulai dari Rin Hyo yang berada di sampingnya, Kyuhyun yang tengah sibuk menyetir, hingga Ji Eun yang duduk di samping Kyuhyun.

Cho Kyuhyun dan Shin Ji Eun selama ini memang terkesan dingin dan apatis terhadap sekitar, karena itu Kikwang kehabisan kata untuk sekedar berbasa basi pada mereka. Walaupun sebenarnya ia telah mengenal Kyuhyun, namun tetap saja ia masih merasa canggung padanya. Sam Rin Hyo, dia berubah menjadi begitu pendiam saat ini dan Kikwang mengetahui dengan jelas alasan sahabatnya bersikap seperti itu.

“Apakah kalian selalu berada dalam suasana semacam ini?” celetuk Kikwang tiba-tiba.

“Maksudmu?” tanya Kyuhyun balik.

“Dingin dan canggung, seperti ini,” papar Kikwang mengenai apa yang dirasakannya.

“Tidak juga, hanya tak ada yang sedang ingin kami bicarakan. Jika kau ingin mengobrol silahkan saja,” jawab Ji Eun yang masih terkesan dingin. Kikwang mengernyit, bagaimana bisa dua orang berdarah dingin ini selalu bersama, bahkan menjalin hubungan.

“Apakah kalian benar-benar menjalin hubungan? Gosip itu—“

“Bagaimana menurutmu? Apakah kau juga berprasangka seperti itu?” potong Ji Eun seraya menoleh pada Kikwang sekilas.

“Aku tidak tahu, maka dari itu aku bertanya secara langsung pada kalian.”

“Seperti yang kau lihat,” Kikwang segera mengarahkan tatapannya pada Rin Hyo yang hanya memfokuskan arah pandangnya ke jendela kemudian menggenggam tangan gadis itu lembut. Tanpa sengaja Ji Eun melihat pemandangan itu melalui kaca spion dalam mobil yang membuatnya melontarkan pertanyaan singkat, “Kalian sendiri?”

“Kami hanya bersahabat sedari kecil,” jawab Kikwang. Ji Eun yang masih memperhatikan Kikwang melalui kaca spion segera membuang muka pada sisi jendela di sampingnya saat Kikwang terlihat menatap Rin Hyo penuh arti dan mengeratkan genggamannya. Cho Kyuhyun yang mencium gelagat aneh sahabatnya mengalihkan perhatiannya sejenak untuk memeriksa apa yang terjadi, “Wae?” tanya Kyuhyun pelan.

Mwo?” tanya Ji Eun balik. Kyuhyun tersenyum simpul kemudian mengacak rambut Ji Eun pelan.

***

Tatapan Shin Ji Eun terpaku pada Cho Kyuhyun yang tengah sibuk membantu Kikwang berjalan masuk ke dalam sebuah apartemen mewah berdesain tradisonal milik Kikwang. Gadis itu tak kunjung beranjak dari ambang pintu hingga Rin Hyo memanggilnya untuk segera masuk pula. Ji Eun mengamati kegiatan Rin Hyo yang tengah sibuk menyalakan lampu di seluruh sudut ruangan kemudian mengambil handuk kecil dan mempersiapkan sebaskom air hangat.

“Duduklah,” ucap Kikwang tiba-tiba yang membuat Ji Eun reflek melayangkan pandangannya pada Kyuhyun.

“Hari sudah semakin sore, kami harus segera pulang,” elak Kyuhyun yang dengan mudahnya mengerti isyarat Ji Eun.

“Jangan seperti itu, aku hanya ingin berterima kasih pada kalian yang telah begitu baik membantu kami,” Kyuhyun menatap Ji Eun yang berada di sampingnya, namun gadis itu hanya menarik jari kelingking Kyuhyun menandakan bahwa ia ingin segera pulang.

“Tak perlu berlebihan, kami…” Ji Eun menghentikan ucapannya saat Kikwang berusaha bangkit dari duduknya dan mencoba berjalan menuju arah dapur. Dengan sigap Ji Eun meraih tubuh Kikwang yang akan terjatuh karena ia telah memperhatikan gerak-gerik pria itu dengan teliti, “keras kepala juga kau ternyata,” ejek Ji Eun seraya kembali mengarahkan Kikwang pada sofa panjang tempatnya semula.

“Aku hanya ingin membuatkan secangkir teh hangat untuk kalian, cuaca musim semi masih terasa begitu dingin,” ujar Kikwang. Ji Eun mendesis kesal mendengarnya namun tak lama kemudian ia berkata, “Katakan dimana tempatmu menyimpan bahan untuk semua itu, biar aku saja yang membuatkannya untuk diri kami sendiri.”

***

Cho Kyuhyun menatap Ji Eun yang masih terdiam membatu di sampingnya, gadis itu tetap bergeming tanpa memedulikan dentuman musik klab yang begitu memekakan telinga. Gadis itu hanya bergerak sesekali untuk mencoba segelas kecil wine yang ia tuangkan sebelumnya, namun selalu gagal karena Kyuhyun dengan cepat menyahut minuman itu dan segera meneguknya.

“Sejak kapan kau menyukai minuman pahit ini?”

“Ya! Kaulah yang mengajariku seperti ini,” Kyuhyun menghembuskan nafasnya kasar. Ya, memang dirinyalah yang kerap mengajak gadis itu mengunjungi tempat-tempat hiburan malam semacam ini. Namun walaupun begitu Shin Ji Eun belum pernah sekalipun mencicipi wine yang begitu difavoritkan Kyuhyun, karena menurut Ji Eun minuman seperti itu hanyalah membuang-buang uang dan tiada gunanya. Sebaliknya dapat merusak tubuh diri sendiri. Namun kenapa malam ini gadis itu berulang kali mencoba untuk meminumnya? Sebenarnya ada apa dengannya saat ini? Begitulah yang dipikirkan Cho Kyuhyun.

“Ji Eun-ah,” panggil Kyuhyun yang hanya dibalas gumaman samar Ji Eun.

“Kau menyukainya?”

“Maksudmu?”

“Lee Kikwang,” Ji Eun melebarkan kedua matanya, bagaimana mungkin dirinya menyukai seorang lelaki cerewet seperti Kikwang?

“Sama sekali tidak.”

“Lalu kenapa tadi kau melakukan semua itu untuknya?”

“Melakukan apa? Bicaralah dengan jelas,” ujar Ji Eun sembari kembali mengarahkan segelas penuh wine ke dalam mulutnya namun lagi-lagi segera ditahan oleh Kyuhyun.

“Membantunya saat terjatuh, membuatkan teh sekedar untuk memenuhi keinginan seseorang yang masih terlalu asing bagimu. Benar-benar tidak seperti Shin Ji Eun yang kukenal,” tuduh Kyuhyun yang membuat Ji Eun sontak membungkam. Ucapan Kyuhyun seolah menyadarkannya atas perbuatannya sendiri. Apakah perkataan Kyuhyun memanglah benar? Bahwa ia telah jatuh hati pada Lee Kikwang. Namun logikanya kembali menolak, dirinya menyukai Kikwang merupakan sesuatu yang sangatlah mustahil baginya.

“Bukankah kita memang diajarkan untuk saling membantu sesama manusia? Bukankah itu adalah hal yang sangat manusiawi? Dan juga, aku hanya ingin segera pulang maka aku bersedia memenuhi keinginannya. Sudah cukup, Tuan Cho?” Kyuhyun hanya tersenyum miring mendengar penjelasan Ji Eun padanya.

“Ya! Jangan memasang raut wajah seperti itu! Kau tidak percaya padaku?” ketus Ji Eun.

“Terserah kau saja, Nona keras kepala,” ujar Kyuhyun seraya terkekeh seraya menempelkan dahinya pada dahi Ji Eun yang kemudian segera didorong tubuhnya oleh Ji Eun.

Shin Ji Eun mengalihkan pandangannya pada gelas bening berisi orange juice miliknya tanpa menyadari Kyuhyun yang masih memusatkan perhatiannya padanya. Pikirannya kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu, saat ia dan juga Kyuhyun masih berada di dalam apartemen Kikwang. Tepatnya saat ia berjalan kembali menuju ruang tamu dengan membawa 2 cangkir teh hangat untuk dirinya dan juga Kyuhyun yang bersamaan dengan saat Rin Hyo tengah membasuh luka Kikwang dengan sabar, dan entah mengapa kedua bola mata serta perasaannya terasa begitu panas melihat pemandangan manis itu hingga membuatnya semakin ingin segera angkat kaki dari sana. Bahkan perasaan itu masih terasa kuat dalam hatinya hingga kini.

Shin Ji Eun menggelengkan kepalanya kuat, berusaha mengembalikan perasaannya yang semakin menjalar. Menentang keras perasaan aneh yang seakan mendorong dirinya untuk selalu memikirkan seorang Lee Kikwang.

Cho Kyuhyun menghembuskan nafas beratnya. Ia mengetahui bahwa Shin Ji Eun tidak dalam keadaan baik-baik saja. Namun apa yang membuatnya seperti itu? Apakah dia benar-benar telah menyukai Lee Kikwang seperti dirinya yang menyukai Sam Rin Hyo? Karena Ji Eun bersikap seperti itu sejak sepulangnya mereka dari apartemen milik Kikwang tadi.

Hey, apa yang sebenarnya kupikirkan? Menyukai Sam Rin Hyo? Sadarlah Cho Kyuhyun.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa perhatiannya dengan mudahnya tertarik pada tingkah laku gadis itu. Kekonyolan serta kecerewetan gadis itu yang pada awalnya begitu mengganggu dirinya berubah menjadi suatu hiburan manis bagi kedua mata maupun daun telinganya.

Cho Kyuhyun dan Shin Ji Eun, mereka memanglah dua orang yang memiliki banyak kesamaan satu sama lain. Dan tentu saja karena faktor itulah yang menyebabkan persahabatan mereka terjalin dengan baik hingga saat ini. Namun karena berbagai kesamaan itu pula yang membuat mereka tidak mengerti perasaan satu sama lain. Mereka hanya saling menebak tanpa mengungkapkan. Walau tanpa mereka sadari tebakan mereka memang selalu benar.

***

Suasana sekolah masih begitu sepi karena masih terlalu pagi namun Sam Rin Hyo dan Lee Kikwang sudah duduk manis di dalam ruang kelas mereka yang masih kosong. Biasanya kedatangan mereka tidak sepagi ini, hal ini karena kaki Kikwang masih belum sempurna sembuh untuk mengendarai sepeda maka pagi hari ini Rin Hyo membawa mobil pribadinya untuk berangkat sekolah dan menjemput Kikwang.

Sam Rin Hyo menggerakkan tangannya memasang sepasang earphone pada kedua telinganya kemudian memilih lagu yang akan ia putar dalam ponselnya. Sedangkan Lee Kikwang masih tetap dalam posisi menidurkan kepalanya di atas meja. Kebiasaannya yang selalu melakukan olahraga di setiap paginya tidak terlaksana, karena itu tubuhnya terasa begitu lemas saat ini.

“Rin Hyo-ah,” panggil Kikwang seraya menyenggol lengan Rin Hyo di sampingnya yang membuat gadis itu melepas sisi kiri earphone-nya.

“Ayo keluar sebentar,” ajak Kikwang sembari bangun dari tidurnya.

“Baiklah,” ucap Rin Hyo lalu beranjak dari duduknya.

Saat mereka berada di lorong sekolah, terdapat sepasang siswa dan siswi lain yang tengah berjalan berlawanan arah menghampiri mereka. Rin Hyo mengernyit, menyipitkan kedua matanya karena sosok kedua orang itu belum terlihat jelas karena hanya menampakkan siluet yang disebabkan oleh cahaya matahari di ujung lorong. Rin Hyo sontak membulatkan kedua matanya saat mengetahui bahwa kedua orang itu adalah Cho Kyuhyun dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya dan Shin Ji Eun dengan rambut hitamnya yang tergerai indah. Semakin dekat posisi mereka, semakin cepat pula degupan jantung Rin Hyo saat ini.

Annyeong,” sapa Kikwang pada Kyuhyun dan Ji Eun. Kyuhyun hanya tersenyum simpul menanggapinya, sedangkan Ji Eun menatap Kikwang datar namun ia menghentikan langkahnya. Kikwang dan Rin Hyo pun ikut menghentikan gerak kaki mereka pula. Ji Eun mengalihkan tatapannya pada kaki Kikwang yang terluka, “Bagaimana?” tanyanya sembari kembali menatap Kikwang.

“Sudah lebih baik,” jawab Kikwang seadanya.

“Jangan terlalu banyak bergerak karena butuh waktu yang cukup lama untuk mata kaki benar-benar sembuh, bukankah sangat menyakitkan walaupun hanya untuk sekedar berdiri menahan beban tubuh?” ujar Ji Eun masih dengan raut wajah dinginnya layaknya cuaca hari ini.

“I-Iya kau benar, tapi aku hanya ingin…” Ji Eun menghembuskan nafas jengahnya kemudian menundukkan kepalanya singkat pada Rin Hyo dan beranjak menyusul Kyuhyun yang telah semakin jauh saat Kikwang mulai mengucapkan pembelaannya. Kikwang mengerutkan dahinya bingung, begitu pula Rin Hyo.

“Untuk apa dia bersikap seperti itu?” tanya Kikwang tak mengerti.

“Dan apa gunanya kau bertanya padaku? Mana mungkin aku mengetahuinya.”

———

To be Continued

Advertisements

78 thoughts on “Nothing Impossible 1

  1. Mrekaa koqq kerasa mistis bangett yaa…
    Kyu n jieun anehh.. hhaa.. mrekaaa sukaa tpi menutupi.. ehh iaa gk? Hhee…
    Tp style kyyu ksreenn dahh.. aku ngebayanginnyaa gmnaa gituu hhaa

  2. Kyuhyun sama ji eun sama aja, sama2 menutupi perasaan masing2 hehehe… ini kikwang kesannya sksd bener sm kyu n ji eum wkwk sedangkan rin hyo selalu ga berkutik pas ktm kyuhyun hehee lucu ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s