Final Destination 3

wpid-10458346_280565368807703_4825155848555215790_n

Author: Bella Eka

A/N: Mohon commentnya ya, dilarang copas. Selamat membaca ^^

.

.

.

“Selesai!” ucap Ji Eun senang setelah menyelesaikan tugas kuliahnya. Gadis itu menutup laptopnya kemudian meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat duduk dan menatap layar laptop terlalu lama. Ji Eun melangkahkan kedua kakinya menuju balkon kamarnya sekedar untuk menghirup udara segar. Kerutan diantara kedua pelipisnya terukir saat mendapati kamar apartemen Kikwang belum juga menunjukkan tanda-tanda kehidupan disana.

 

Apa dia sudah tidur? Atau bahkan belum pulang? Astaga, memangnya itu urusanku?

Shin Ji Eun memandang indahnya kota Seoul yang menampakkan gemerlap lampu malam hari, namun tetap saja tatapannya berujung pada sebuah balkon apartemen seberang yang di dalamnya terlihat begitu gelap.

“Mengapa gedung itu harus berada tepat di seberang sana? Mengganggu pemandangan saja,” gumam Ji Eun kesal kemudian mengambil nafas sedalam-dalamnya sebelum menghembuskannya perlahan.

Sebenarnya dia sedang dimana sekarang? Aigoo, apakah aku benar-benar mengkhawatirkannya? Lupakan saja, Shin Ji Eun!

 

Shin Ji Eun menggeleng cepat, menolak segala prasangka yang ada dalam dirinya. Semakin lama udara terasa semakin dingin membuat Ji Eun kembali masuk ke dalam kamarnya yang hangat, menutup pintu balkon lalu mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang. Tangannya bergerak mengambil ponsel yang berada di atas nakas samping ranjangnya sekedar untuk memastikan bahwa alarmnya telah aktif. Namun baru saja ia akan meletakkan kembali, terdapat sebuah panggilan masuk yang menyebabkan ponsel itu bergetar.

“Lee Kikwang?” ucap Ji Eun samar sebelum menggeser logo hijau pada layar ponselnya.

“Yeoboseyo.”

“Yeoboseyo, apakah anda teman dari pemilik ponsel ini? Saya melihat nomor yang terakhir dihubungi adalah nomor anda. Apakah anda bisa membawa pria ini pulang? Pria ini sedang mabuk berat di kedai nomor 23 daerah Hongdae.”

“Baiklah, saya akan segera kesana. Terimakasih telah menghubungiku, ahjussi,” ujar Ji Eun sopan kemudian segera mengambil mantel panjang dan kunci mobilnya.

***

Langkah Ji Eun semakin cepat memasuki sebuah kedai yang berada di daerah Hongdae, seperti yang dikatakan oleh ahjussi tadi. Akhirnya Ji Eun mampu bernafas lega saat menemukan keberadaan Kikwang disana dan segera mendaratkan tubuhnya di kursi dihadapan Kikwang. Tatapannya semakin melayu memandang pria itu yang benar-benar terlihat menyedihkan saat ini.

“Apa yang kau lakukan disini? Bangunlah. Ayo pulang,” ucap Ji Eun lirih yang berhasil membuat Kikwang perlahan mengangkat kepalanya dengan susah payah.

“Ji Eun-ah, apakah itu… benar-benar… kau?” tanya Kikwang terbata seraya menjulurkan tangannya berusaha menggapai wajah Ji Eun namun selalu gagal karena ia tak lagi memiliki titik fokus dalam matanya, bahkan kesadarannya. Ji Eun memegang tangan Kikwang erat, mencoba memberi sedikit kehangatan pada telapak tangan Kikwang yang terasa begitu dingin.

“Padahal aku hanya mencoba memanggilmu dari dalam hati, namun bagaimana bisa kau benar-benar berada disini?” Ji Eun tersenyum tipis mendengar ucapan Kikwang yang terdengar begitu menyesakkan hingga gadis itu menghembuskan nafas beratnya.

“Karena aku… berasal dari dalam hatimu,” jawab Ji Eun kemudian terkekeh kecil. “Apa yang baru saja kubicarakan? Cepat bangunlah!” Ji Eun mengaitkan lengan Kikwang pada tengkuk lehernya dan mencoba memapah pria itu berjalan menuju mobil.

***

Shin Ji Eun merebahkan tubuh Kikwang di atas ranjangnya, lebih tepatnya ranjang dalam kamar miliknya. Karena ia tak mengetahui password apartemen Kikwang maka dengan terpaksa ia membawa pulang pria itu. Dengan sabar Ji Eun melepas sepasang sepatu, jas, serta dasi yang masih melingkari leher Kikwang kemudian membenarkan posisinya agar dapat tidur dengan nyaman.

Ji Eun menatap lekat wajah Kikwang lama, seakan ia begitu mendamba wajah itu. Entah mengapa semenjak Kikwang memberikannya tatapan menenangkan itu, semenjak Kikwang bersedia untuk menjadi sandaran baginya ketika ia merasa rapuh, pria itu selalu berkelebat dalam pikirannya akhir-akhir ini. Apakah ia mulai menyukainya? Apakah pria itu berhasil membuatnya nyaman dengannya? Mungkin tak dapat dielakkan lagi bahwa jawabannya adalah iya.

Eomma, Appa.” Ji Eun yang mulai bangkit dari tempatnya kembali terduduk ketika mendengar suara Kikwang yang tampaknya sedang mengigau.

“Jangan tinggalkan aku,” lanjut Kikwang yang membuat Ji Eun sontak menggenggam tangan Kikwang erat.

“Tidak, aku tidak akan pergi,” jawab Ji Eun dengan suaranya yang menenangkan. Masa bodoh bila Kikwang menujukan ucapan itu pada seseorang yang bukan dirinya. Karena perihal semacam itu tak lagi penting saat ini.

“Jangan pergi, Ji Eun-ah,” Ji Eun terdiam, nafasnya tercekat sesaat. Tangannya yang mulai membelai lembut helaian rambut Kikwang tergerak begitu saja, “Tenang saja, aku disini.”

***

“Tuan Lee Kikwang, kapan anda akan pergi dari tempat ini?” Kikwang segera terbangun saat mendengar suara teriakan seorang gadis memanggil namanya. Kepalanya terasa begitu pening ketika ia mulai membuka kedua kelopak matanya.

“Sepertinya anda baru saja bangun, ya? Cepat makan ini.” Kikwang menatap seorang gadis dengan sebuah nampan di tangannya, namun pandangannya masih begitu kabur hingga ia tak dapat memastikan sosok gadis itu, “Kau siapa?” tanyanya.

“Aigoo, berani sekali kau setelah kemarin merampas tempat tidur orang lain dan sekarang melupakan pemiliknya. Kau ini benar-benar, cepat bangun dan makanlah sup ini sebelum aku yang akan menyantapnya sendiri.” Kikwang menyipitkan kedua matanya namun semakin ia mencoba melihat dengan jelas, kepalanya semakin terasa sakit.

“Kau, Shin Ji Eun?” tanya Kikwang memastikan. Karena walaupun ia tak mampu melihatnya dengan jelas namun kedua daun telinganya masih berfungsi dengan baik.

“Iya kau benar, aku Shin Ji Eun,” jawab Ji Eun kesal sembari meletakkan nampannya.

“Bagaimana bisa kau berada disini?”

“Ya! Seharusnya kau menanyakan bagaimana bisa kau berada disini!”

“Bukankah aku baru saja menanyakan hal itu?”

“Astaga, maksudku adalah bagaimana bisa kau, Lee Kikwang, berada di dalam kamar milik seorang gadis mempesona bernama Shin Ji Eun ini. Mengerti?! Jangan-jangan kau mengigau lagi?”

Kikwang sontak mendecih mendengar ucapan penuh percaya diri Ji Eun. Kepalanya ia tolehkan kesana kemari mengamati ruangan itu. Ya, Ji Eun benar, kamar yang terkesan rapi itu jelas-jelas bukanlah miliknya. “Tapi bagaimana bisa aku berada disini?”

“Sudahlah, berhenti bertanya dan lakukan perintahku. Sekarang bangunlah dan duduk yang manis,” titah Ji Eun seraya membantu Kikwang memposisikan dirinya kemudian duduk di tepi ranjang dekat dengan pria itu.

“Nah sekarang buka mulutmu. Aaaa—“ Ji Eun mendengus kesal sebab Kikwang hanya menatap datar dirinya. “Tidak bisakah kau hanya sekedar untuk membuka mulutmu?”

“Aku bisa memakannya sendiri, berikan padaku!” pinta Kikwang yang membuat Ji Eun menjauhkan semangkuk sup itu darinya. “Yak! Aku bukan anak kecil lagi!”

“Benarkah? Kalau begitu siapa kemarin yang mengigau memanggil eomma appa? Eo?” Kedua mata Kikwang melebar sempurna, berbeda dengan Ji Eun yang berusaha mengulum tawanya.

“Ah, dan juga, siapa kemarin yang merengek manja agar aku tak pergi meninggalkanmu?” lanjut Ji Eun. Wajah Kikwang berubah memerah saat teringat sedikit demi sedikit kejadian semalam, “Apa aku benar-benar mengucapkan hal itu?”

“Untuk apa aku mengatakannya jika kau tak melakukannya, bahkan ada satu lagi pernyataan darimu yang lebih dari itu. Bahkan aku merasa malu untuk mengatakannya padamu.”

Jinjja? Apa yang telah kukatakan padamu?”

“Aku akan memberitahumu nanti, sekarang buka mulutmu,” ucap Ji Eun sambil mengarahkan sesendok sup pada Kikwang yang masih menutup rapat bibirnya.

“Kubilang aku bisa memakan makanan itu sendiri, Nona Shin Ji Eun! Berhenti memperlakukanku seperti ini!”

“Kalau begitu keluarlah dari tempat ini. Kau kira aku senang membiarkan pria mabuk yang masih setengah sadar sepertimu untuk makan di kamarku? Apa kau dapat menjamin bahwa kau tak akan mengotori ranjangku? Makanlah di meja makan di sana!” ujar Ji Eun dengan mengarahkan jari telunjuknya menuju arah keberadaan meja makan dalam apartemennya. Kikwang pun mencoba bangkit dari tempatnya namun kepalanya terasa akan pecah hingga ia memegangnya erat dan kembali terbaring.

“Kau tidak akan kesakitan seperti ini jika menurut padaku. Dan sekarang kau masih saja keras kepala?” Ji Eun tersenyum menang saat Kikwang menggeleng lemah seraya mengatakan, “Terserah kau saja.”

***

Semilir angin sejuk yang menerpa membuat Kikwang menghirupnya dalam-dalam. Pria yang tengah berdiri dengan menyaku kedua tangannya di celana itu memandang Sungai Han yang terlihat menenangkan. Kedua kakinya bergerak menghampiri sebuah kursi panjang yang tertangkap oleh jarak pandangnya dan segera menghempaskan tubuhnya disana.

Tatapan kosong milik Kikwang semakin menyendu. Tanpa menunggu lebih lama bagian warna putih dalam kedua bola mata itu berubah memerah. Gurat wajahnya menggambarkan kesedihan yang begitu mendalam tengah ia rasakan. Kepalanya semakin menunduk dalam bersamaan dengan tubuhnya yang mulai bergetar. Pria itu menangis, tetes demi tetes air matanya mulai mengalir dan semakin deras.

Kenangan akan kedua orangtuanya membuat dadanya semakin sesak hingga ledakan tangisan pilunya semakin menjadi. Sebelah tangannya tergerak mengeluarkan sebuah dompet dari dalam saku jas hitam yang ia pakai. Membuka benda itu lalu mengambil sebuah foto yang terselip rapi di dalamnya.

Ia menatap nanar foto itu, foto yang menampakkan sebuah keluarga yang terlihat bahagia. Sepasang suami istri dengan seorang bocah laki-laki yang dipanggul diatas kedua bahu sang pria. Ketiga orang dalam foto itu mengembangkan senyuman manisnya, berbanding terbalik dengan keadaan Kikwang saat ini. Bibirnya semakin bergetar dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir di kedua pipinya.

“Apa yang harus kulakukan? Siapa yang harus kutemui? Ayah, atau ibu?” ucap Kikwang lirih. Ayahnya yang merupakan seorang jenderal di Korea Selatan berhasil menemukan dokumen militer rahasia milik Korea Utara membuatnya menjadi buronan yang membahayakan bagi negara itu hingga mereka menyadap dirinya dan juga istrinya 4 tahun lalu.

Usaha keras Kikwang agar mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk menebus kedua orangtuanya tak sepenuhnya berhasil. Walaupun ibunya telah dikabarkan bahwa akan dibebaskan bulan depan namun tidak dengan ayahnya yang baru saja dikonfirmasi telah meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

“Kikwang-ah.” Kikwang membalikkan kepalanya terkejut saat mendapati Shin Ji Eun disana. Dengan segera ia kembali berbalik mengusap air matanya dengan cepat ketika Ji Eun mulai berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya. Tak ingin gadis itu menemukan kerapuhan dalam dirinya untuk yang kedua kali.

“Woah, lama sekali sejak aku terakhir berkunjung ke tempat ini,” ucap Ji Eun seraya memandang air tenang sepanjang Sungai Han. Gadis itu mengernyit saat menyadari Kikwang yang masih menyembunyikan wajahnya ke arah yang berlainan dari tempat Ji Eun berada.

“Ya! Kau kenapa?” tanya Ji Eun yang tak mendapat respon apapun. Ji Eun pun menarik wajah Kikwang agar menatapnya dan terkejut dengan keadaan pria itu. “Apa yang terjadi?”

“Bukan apa-apa,” elak Kikwang sembari melepaskan tangan Ji Eun.

“Ceritakan padaku.”

“Tak ada yang perlu diceritakan.”

“Bicaralah!”

“Kau baru saja pulang sekolah?”

“Jawab aku!

“Bagaimana bisa kau berada disini?”

“Yak! Lee Kikwang!” bentak Ji Eun geram lantaran Kikwang yang terus mencoba mengalihkan pembicaraan. Decihan kesal Ji Eun terlontar saat Kikwang mengulas senyuman tipisnya. “Kenapa kau tiba-tiba marah padaku?”

“Jangan tersenyum seperti itu! Menyebalkan sekali.” Ji Eun mengalihkan pandangannya yang mulai terasa memanas, tak sanggup menatap pria itu lebih lama. Dengan rambut acak-acakan, kedua mata membengkak dan pakaian yang tak lagi rapi jelas menunjukkan bahwa pria itu tidak sedang baik-baik saja. Mungkin memang bukan sekarang saat yang tepat untuk membicarakan tentang permasalahan yang dialami Kikwang, namun ia ingin segera mengetahuinya dan menembak mati orang yang menyebabkan pria itu seperti ini. Walaupun pada kenyataannya tidak mungkin ia melakukannya.

“Apa kau membawa alat pemotong kuku?”

“Entahlah.” Ji Eun mencari benda itu dalam tas ranselnya dan memberikannya pada Kikwang setelah menemukannya. “Memangnya untuk apa? Sepertinya mereka tak membutuhkannya,” ucap Ji Eun mengamati masing-masing kuku milik Kikwang yang membuat pria itu tersenyum tipis, “Bukan mereka yang membutuhkannya, tapi aku.”

“Apa bedanya? Terserah kau saja.” Ji Eun kembali mengarahkan pandangannya pada Sungai Han, sedikit tersenyum kecil saat melihat beberapa sekelompok anak kecil tengah bermain bersama. “Lihat itu! Aigoo lucu sekali,” ucapnya seraya menjulurkan jari telunjuknya agar Kikwang melihatnya. Namun ia segera terpekik kaget saat mendengar desahan nafas tersengal Kikwang serta tangannya yang penuh darah bergetar hebat.

“Ya! Kikwang-ah! Kau!” Ji Eun sontak menyahut alat pemotong kuku yang masih berada dalam genggaman Kikwang, mencengkeram kuat tangan Kikwang mencoba menghentikan kucuran darah yang mengalir deras dari nadinya. Sebelah tangannya lagi merogoh jas almamaternya dan segera menghubungi nomor darurat namun dicegah oleh Kikwang yang telah berlumuran darah, “Apa yang kau lakukan? Kau gila?!” bentak Ji Eun seraya kembali menghubungi nomor itu.

“Tenang saja, aku hanya akan menjemput ayah untuk membawanya kembali pada ibu,” ucap Kikwang dengan suara bergetar yang hampir tak terdengar.

“Sadarlah, Kikwang-ah! Kumohon sadarlah! Kumohon,” lirih Ji Eun dengan air mata yang mulai membendung kedua kelopak matanya. “Bertahanlah, Lee Kikwang.”

***

Jemari Kikwang terlihat mulai bergerak, tak lama kemudian kedua mata yang telah lama tertutup kembali terbuka perlahan. Kerutan di dahinya timbul saat cahaya lampu rumah sakit menyilaukannya serta pandangan matanya yang masih memburam hingga membuat kepalanya terasa pening.

Saat Kikwang mencoba untuk mengangkat tangannya ia merasakan sesuatu yang menindih sebelah telapak tangan kanannya. Pria itu sontak terkejut saat menemukan seorang gadis tengah tertidur dengan meletakkan kepalanya di atas tangannya yang dapat ia rasakan sedang berada dalam genggaman gadis itu. Alat bantu pernapasan yang tengah ia kenakan dan juga rambut panjang yang menutupi wajah gadis itu membuatnya tak dapat mengenalinya. “Shin Ji Eun?” tebaknya.

Kelopak mata Kikwang melebar seketika saat gadis itu mulai bergerak mengangkat kepalanya kemudian menyibakkan helai rambutnya. Senyuman Kikwang merekah ketika mendapati bahwa gadis itu memang benar Shin Ji Eun. Terlintas ide jahil dalam benaknya maka ia cepat-cepat kembali memejamkan kedua matanya.

“Kikwang-ah, tidakkah kau lelah karena selalu tertidur sepanjang hari?” ujar Ji Eun seraya menguap lebar. Ji Eun memeriksa jam tangannya kemudian meraih sebotol air mineral yang berada di atas nakas disamping ranjang Kikwang.

“Ya! Kau tahu? Aku terbangun karena mendengarmu memanggil namaku. Sepertinya itu hanya mimpi tapi mengapa terasa begitu nyata? Apa kau memanggilku dalam mimpimu? Astaga terus saja aku berbicara sendiri seperti orang bodoh,” umpatnya pada dirinya sendiri lalu meneguk air mineral dalam botol itu tanpa sisa. Tanpa ia sadari Kikwang mengulas senyuman tipis dan sesekali mencuri pandang kearahnya.

“Kapan kau akan bergerak? Tidakkah kau ingin membalas genggamanku? Sungguh tidak adil!” racau Ji Eun seraya memainkan jemari Kikwang. Tubuh Ji Eun tersentak saat jemari itu menggenggam tangannya tiba-tiba, “Aigoo kau mengagetkanku. Apa kau bermimpi buruk?” Ji Eun berusaha memberikan ketenangan dengan mengusap tangan Kikwang pelan.

“Ji Eun-ah.” Ji Eun tersenyum kecil mendengar suara Kikwang menyebut namanya.

“Shin Ji Eun,” ulang Kikwang.

“Ya Tuhan, kenapa suaramu selalu terngiang di telingaku?” ucapnya sembari menepuk-nepuk pelan kedua daun telinganya. Berulang kali ia mengalami hal semacam ini, mendengar suara Kikwang yang seakan memanggil namanya. Namun berulang kali pula ia menelan kekecewaan yang sama.

“Kau tidak sedang bermimpi, Shin Ji Eun! Lihat aku,” suara Kikwang yang tertutup oleh alat bantu pernafasan hanya dapat terdengar begitu kecil dan samar oleh Ji Eun.

“Bahkan aku dapat mendengarmu mengatakan bahwa aku sedang tidak bermimpi? Daebak!”

Ji Eun bangkit dari duduknya sembari berkata, “Sepertinya aku benar-benar merindukanmu,” dan mendekatkan dirinya untuk menatap wajah Kikwang. Ia segera melebarkan kedua matanya saat menyadari bahwa Kikwang juga tengah menatapnya.

“Kau benar-benar telah sadar? Itu berarti…” Ji Eun yang terkejut setengah mati segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya rapat-rapat.

“Apa kau mendengar semuanya?” Kedua bola matanya semakin melebar setelah Kikwang mengangguk kecil. Keadaan berubah canggung namun hanya sesaat. Tatapan Ji Eun semakin mendalam memasuki manik mata milik Kikwang, begitupun pria itu. Mereka hanya saling memandang dalam diam. Tangan Kikwang tergerak membuka alat bantu pernapasan itu agar dapat berbicara dengan leluasa, namun dengan sigap Ji Eun mencegahnya seraya menggelengkan kepalanya pelan.

“Tunggu sebentar saja, akan kutanyakan pada dokter. Aku tidak mau kau tinggal disini lebih lama lagi. Kau kira biaya untuk semua ini tidak banyak? Jangan mengeluarkan sifat keras kepalamu untuk saat ini, mengerti?” ujar Ji Eun lembut dengan senyuman manisnya yang terkembang.

Gadis itu pun pergi dan tak lama kemudian kembali bersama seorang pria paruh baya yang mengenakan jas putih dengan stetoskop yang dikalungkan pada lehernya. Ji Eun menghela nafas lega saat pria itu melepas alat bantu pernapasan itu yang menandakan bahwa keadaan Kikwang telah semakin membaik saat ini. Sebelum dokter itu pergi, Ji Eun membungkukkan badannya memberi hormat serta berterimakasih padanya.

Shin Ji Eun kembali mendaratkan tubuhnya di atas kursinya semula. Kikwang menggenggam tangannya tiba-tiba dan menatapnya sendu. Gadis itu terlihat berantakan bahkan bajunya masih sama seperti saat terakhir kali bertemu dengannya. Beberapa bercak darah masih jelas menempel pada kemeja putih polos dan celana jeans hitam yang  Ji Eun kenakan. Kedua mata merah bengkak serta wajahnya yang memucat menandakan bahwa gadis itu tidak memiliki cukup waktu untuk tidur. Rambutnya pun sudah terlihat kusut.

“Sejak kapan aku berada disini?”

“Dua hari yang lalu. Apa kau tidak merasa pegal atau semacamnya?”

“Apa kau sama sekali tidak pulang atau istirahat sebentar saja?” tanya Kikwang balik. “Lihat dirimu, bahkan kau tidak mengganti pakaianmu?”

“Yak! Menurutmu apakah aku sempat memiliki waktu luang untuk memikirkan hal semacam itu saat kau sedang dalam keadaan kritis? Mungkin saja dirimu seperti itu tapi sayangnya tidak denganku,” ujar Ji Eun kesal seraya melepaskan tangannya namun segera kembali diraih oleh Kikwang.

“Bukan begitu. Maksudku, setidaknya pikirkan juga dirimu. Kau kira aku bahagia melihatmu dalam keadaan seperti itu?”

“Maka dari itu seharusnya kau tak perlu melakukan hal-hal bodoh yang tak ada gunanya. Untuk apa melukai dirimu sendiri? Apa kau benar-benar ingin mati dan meninggalkanku sendiri?” setetes air mata yang segera dihapus kasar oleh Ji Eun membuat Kikwang tertegun. Hatinya terasa mencelos melihat gadis itu meneteskan air mata untuknya. Dengan susah payah Kikwang berusaha bangun dan duduk menghadap Ji Eun. Kini ia dapat menatap kedua bola mata gadis itu lekat, begitu dekat hingga jantungnya terasa berdegup lebih kencang.

“Kau mendengarnya, kan?” bisik Kikwang menyadarkan Ji Eun akan bunyi alat electrocardiography yang digunakan untuk mengontrol detak jantung Kikwang terdengar begitu cepat. “Apa kau juga merasakannya?”

Tak sepatah katapun terucap, Ji Eun terlarut dalam tatapan tulus Kikwang. Seperti biasa seulas senyuman manis milik pria itu mampu membuatnya menahan nafas. Begitu mempesona hingga dunia seakan berhenti berputar.

Suara nyaring yang begitu menganggu membuat Kikwang melepas peralatan yang menghubungkan tubuhnya dengan alat electrocardiography dengan cepat. “Kau tak memerlukan ini untuk mengetahuinya,” ucapnya kemudian meletakkan telapak tangan Ji Eun pada dada bidangnya. “Aku mencintaimu,” lanjutnya seraya meraih tengkuk Ji Eun dan mendaratkan ciumannya tepat pada bibir gadis itu. Namun pengakuan Kikwang sontak membuat Ji Eun mendorong tubuh pria itu terkejut, “Mwo?!”

***

Langkah kaki Sam Rin Hyo membawanya masuk ke dalam sebuah café yang biasa ia kunjungi. Helaan nafas jengah terbebas begitu saja dikala ia menemukan seorang pria yang tengah menempelkan ponsel di telinga kanannya tersenyum manis padanya. Bahkan pria itu belum juga menyelesaikan pembicaraannya dengan seseorang melalui ponsel itu setelah Rin Hyo duduk dihadapannya.

Sepuluh menit telah berlalu hingga secangkir Cappucino milik Rin Hyo hampir tak tersisa namun pria itu masih saja sibuk dengan kegiatannya sendiri. Decihan malas yang dipadu dengan senyuman miringnya terbentuk disaat pria itu mengisyaratkan padanya untuk menunggu sebentar lagi.

Sam Rin Hyo begitu jengah dengan sikap pria itu yang tak berubah. Sikap yang selalu terlarut dalam pekerjaannya membuat dirinya tak begitu memiliki perasaan cinta pada pria yang seharusnya adalah kekasihnya, mungkin perasaan itu benar-benar telah menghilang. Sepertinya memang benar bila pria itu sangat mencintai pekerjaan berharganya melebihi dirinya.

“Kyuhyun-ah.” Lagi-lagi Cho Kyuhyun hanya memberikan telapak tangan bagian dalamnya meminta agar gadis itu bersabar lebih lama.

Tatapan Rin Hyo menyendu, terlintas dalam hatinya sosok Cho Kyuhyun yang dulu. Cho Kyuhyun yang memberikannya perhatian dan kelembutan dibalik sikap dinginnya. Cho Kyuhyun yang tak mampu menahan emosinya dibalik kecemburuannya. Cho Kyuhyun yang selalu membuatnya merasa aman dan nyaman dimanapun ia berada.

Namun segalanya telah berubah. Pria itu tak lagi memiliki waktu hanya untuk sekedar menanyakan dimana keberadaannya. Bahkan lebih memilih untuk meminta orang lain untuk menemaninya disaat ia benar-benar membutuhkannya. Hingga tanpa pria itu ketahui pula bahwa perasaan Rin Hyo padanya telah lama menguap tanpa arah.

Saat ini Sam Rin Hyo hanya memanfaatkan keberadaan Kyuhyun guna mempermudah dalam menjalankan setiap misi yang harus ia tuntaskan, khususnya dalam pembalasan dendam Shin Ji Eun. Hanya sebatas pemanfaatan, tidak lebih. Ironisnya, Kyuhyun lah yang menyebabkan darah gadis itu mendingin. Karena rasa penasaran gadis itu akan hal yang membuat Kyuhyun begitu mencintai pekerjaannya ia temukan dalam sebuah pekerjaan ilegalnya saat ini. Pekerjaan penuh tantangan yang selalu mampu memacu adrenalinnya. Sniper.

Sam Rin Hyo yang telah bangun dan mengambil tas jinjingnya kembali terduduk saat Kyuhyun meraih tangannya agar tetap tinggal. Lebih tepatnya bukan itu penyebabnya, melainkan karena bertepatan saat Kyuhyun mengatakan, “Mwo? Coba ulangi siapa nama pimpinan Black Joker itu.”

“Baiklah, segera cari tahu identitas pria itu secara rinci dan hubungi aku lagi nanti,” sambung Kyuhyun.

“Black Joker?” tanya Rin Hyo membuka pembicaraan.

“Nde, mafia gelap itu. Aigoo, sepertinya aku akan gila karena geng sialan itu.”

“Memangnya siapa pimpinannya?” Kyuhyun yang menyesap Americano-nya itu meletakkan cangkirnya lalu mendekatkan wajahnya pada Rin Hyo yang tengah menatapnya antusias. “Kau ingin mengetahuinya?” tanya Kyuhyun balik dengan senyuman menggodanya sedangkan Rin Hyo dengan sengaja mengangguk polos memasang wajah naif.

“Dia adalah pria yang saaaangat jahat.”

“Setidaknya dia pasti seseorang yang sangat keren. Cepat katakan padaku siapa namanya.”

“Yak! Bagaimana bisa orang menyusahkan seperti dia menurutmu sangat keren? Pria sialan adalah julukan yang sempurna untuknya.”

“Terserah saja. Siapa namanya?”

“Mengapa kau begitu penasaran akan dirinya? Lagipula kau tak akan mengenalnya,” ujar Kyuhyun sembari menegakkan tubuhnya dan menyendekapkan kedua tangannya.

“Apa salahnya jika hanya mengetahui namanya? Aneh sekali kau.”

“Bukan begitu maksudku kan aku hanya…” Kerutan pada dahi Rin Hyo perlahan terbentuk akibat ucapan Kyuhyun yang semakin lama menjadi gumaman samar yang sama sekali tak dapat dimengerti.

“Kau cemburu?”

“Kau berharap begitu?”

“Tentu saja,” jawab Rin Hyo seraya mengulum tawa.

“Baiklah kupenuhi harapanmu.”

“Jawaban macam apa itu? Terus terang saja jika kau memang cemburu,” goda Rin Hyo dengan wajah jahilnya. “Katakan siapa nama pria itu, Tuan Cho Kyuhyun. Siapa tahu aku bisa membantumu.”

“Yong Junhyung! Puas kau, Nona Sam?”

***

“Junhyung hyung?”

Kikwang yang tengah berbaring sontak bangun dan duduk bersandar pada dinding di belakangnya. Sedangkan Ji Eun segera berdiri kemudian membungkuk memberi salam pada pria berwajah dingin yang mengenakan mantel panjang berwarna hitam yang baru saja muncul dari balik pintu bangsal ruang kamar VVIP milik Kikwang. Pria itu pun membalas salam Ji Eun dengan menunduk singkat lalu berbalik mengisyaratkan agar pengawal yang mengekorinya meninggalkan ruang itu.

“Bagaimana bisa kau tahu jika aku berada disini, hyung?” tanya Kikwang heran.

“Kemarin aku meneleponmu namun sepertinya Nona ini yang mengangkatnya,” ucap pria bernama Junhyung itu seraya menyerahkan sebuket keranjang berisi buah pada Ji Eun. Tubuh Ji Eun terasa merinding saat pria itu mengulas senyuman tipis padanya. “Dan dia mengatakan bahwa kau sedang berada disini” lanjut Junhyung.

“Gomawo, hyung,” ujar Kikwang sopan.

Shin Ji Eun mengamati pria itu lekat, mulai ujung kepala rambut hitam pria itu hingga ujung sepatu hitam mengkilat miliknya pula. Aura aneh terpancar kuat sejak keberadaan pria itu hingga Ji Eun mengernyit tak mengerti mengapa dirinya merasa janggal.

“Maaf Nona, tapi bisakah Anda meninggalkan kami berdua sebentar saja?” Kerutan di dahi Ji Eun berpindah menuju kedua alis tebalnya, “Haruskah?” tanya gadis itu memastikan.

“Sepertinya begitu.” Perasaan aneh Ji Eun semakin menguat saat Junhyung melempar senyuman manis padanya yang dengan terpaksa membuatnya membalas senyuman itu. Helaan nafas berat terbebas ketika Ji Eun menatap Kikwang yang mengangguk dengan senyuman kecil padanya.

“Baiklah. Jika terjadi sesuatu segera panggil aku,” pamit Ji Eun lalu menunduk sejenak sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu.

Tubuh Ji Eun berjengit saat menemukan beberapa pria yang berjaga di depan pintu. “Yak! Apa yang kalian lakukan disini? Mengagetkanku saja,” pekik Ji Eun terkejut. Sontak salah satu dari pria itu mendekap mulut Ji Eun yang membuat gaduh suasana. Namun sedetik kemudian segera terdengar suara teriakan Kikwang yang mengatakan, “Jangan sentuh gadis itu!” membuat pria tak dikenal itu melepaskan tangannya dan meminta maaf.

“Sebaiknya Anda meninggalkan tempat ini, Nona.”

“Bagaimana jika kalian saja yang pergi?”

“Maaf tapi tidak bisa.”

“Apa kalian takut jika aku mendengar percakapan mereka? Tenang saja, aku kekasih Kikwang dan telah mengerti segalanya,” ujar Ji Eun meyakinkan agar dirinya dapat mendengar pembicaraan Kikwang dan Junhyung yang sepertinya terlarang.

“Aku ingin berhenti dari pekerjaan itu, hyung!” Tubuh Ji Eun berjengit mendengar bentakan Kikwang tiba-tiba.

Pekerjaan? Pekerjaan macam apa yang membuat Kikwang terdengar begitu membencinya? Dan lagi, seberapa pentingkah pria itu hingga mengharuskan dirinya untuk dikawal layaknya pangeran seperti ini?

———

To be Continued

Advertisements

6 thoughts on “Final Destination 3

  1. Duhh kyu, sepertinya kamu harus meluangkan sedikit waktumu untuk rin hyo.
    Makin penasaran sm kelanjutan cerita ini, sebenarnya siapa yang membunuh ortunya ji eun ? Trus alasan apa yang membuat rin hyo jadi sniper ?

  2. Woahhh ji eun uda pacaran sm kikwang .
    Tp klo mereka sm2 tau pekerjaannya apa msh bersama atau ditinggalin ya?
    Makin lama makin terungkap yey haha

  3. apakah nantinya ji eun akan mengetahui siapa sbnrnya kikwang? Dan bgaimanakah reaksinya..?
    Sbnrnya rin hyo benar2 membantu memblaskan dendam ji eun atau ada motif dblik ini semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s