Moonlight 4

wpid-moonlight.jpg

Author: Bella Eka

.

.

.

5 years later

 

Shin Ji Eun berdiri di depan gedung SM Entertainment dengan kedua tangan dan kakinya yang gemetaran. Hingga map merah berisi berkas-berkas dalam genggamannya pun ikut bergerak. Gadis itu menghela nafas beratnya berusaha mengurangi kegugupannya kemudian mulai melangkahkan kaki memasuki gedung itu.

“Silahkan,” ucap seorang staf pria dalam agensi itu yang mengantarkan Ji Eun menuju ruang CEO SM Entertainment. Ji Eun membungkuk berterimakasih sebelum pria itu pergi.

Sebelah tangan Ji Eun yang terbebas terkepal kuat. Getaran pada kedua tangannya menjalar hingga bibirnya seakan menggigil kedinginan. Desahan nafas kasar berulang kali berhembus melalui bibir itu. Ji Eun mengambil ponselnya saat mendengar deringan benda yang berada dalam tas jinjingnya dan segera menjawab panggilan bertuliskan Lee Kikwang itu. “Yeoboseyo.”

Bagaimana?

“Masih akan melakukannya.”

Itu artinya kau belum melakukannya? Kau dimana sekarang?

“Di depan pintu ruang CEO.”

Itu berarti aku mengganggumu saat ini? Aigoo maafkan aku. Baiklah kalau begitu. Semoga berhasil, Shin Ji Eun!

“Kikwang-ah.”

Nde?

“Doakan aku.”

Tentu saja. Aku percaya kau pasti berhasil mengingat bagaimana kau berlatih dengan berbicara sendiri di depan cermin sepanjang malam. Sudahlah, cepat lakukan! Aku sudah tidak tahan menahan debaran jantungku yang terasa akan keluar ini.

“Yak! Seharusnya aku yang berkata seperti itu! Baiklah, aku akan menutupnya. Annyeong.

Shin Ji Eun menatap layar ponselnya seraya tersenyum penuh arti lalu mengaktifkan silent mode agar tak mengganggu kegiatannya nanti. Suara pria itu mampu membuat hatinya sedikit lebih tenang. Kepalan tangannya perlahan terangkat, mengetuk pintu yang masih tertutup itu sebanyak tiga kali. Tak lama kemudian terdengar suara berat pria yang mempersilahkan dirinya untuk masuk.

Jemari Ji Eun meraih knop pintu dan membukanya pelan. Tampak seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi kebesarannya. “Annyeong haseyo,” sapa Ji Eun dengan membungkuk sopan.

“Jadi kau orangnya?” Ji Eun mengangguk seraya mengulas senyuman tipisnya. Tidak mengetahui jawaban seperti apa yang harus ia berikan.

“Serahkan berkas mengenai profil dirimu.”

“Silahkan,” ucap Ji Eun sembari meletakkan map merahnya ke atas meja pria itu. Pria itu menelisik satu per satu lembar dalam map itu, sesekali mengangguk kecil. Sedangkan Shin Ji Eun menatap tegas pria itu, menyembunyikan segala kegugupan yang ada dalam dirinya agar dapat membangun kesan pertama yang baik dimata pria itu.

***

“Bisakah kau hanya duduk disini?” ujar Yoseob kemudian segera menarik lengan Kikwang yang terus berjalan kesana kemari tak tentu arah agar duduk disampingnya.

“Apakah menurutmu dia mampu melakukannya?”

“Tentu saja,” jawab Yoseob meyakinkan Kikwang yang tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.

“Ya, Yoseob benar. Kepandaian Shin Ji Eun pasti berhasil membuatnya mendapatkan pekerjaan itu. Memangnya dia sepertimu?” ledek Junhyung yang membuatnya mendapatkan lemparan bantal sofa oleh Kikwang.

“Dan juga kecantikan yang dimilikinya pasti menambah nilai plus, terlebih lagi senyumannya yang sangat manis itu,” timpal Dujun yang membuat seluruh member B2ST beserta staf yang berada dalam ruang tunggu itu meledakkan tawanya, kecuali Lee Kikwang.

“Yak! Apa kau benar-benar akan mengencaninya?” canda Junhyung yang tak dihiraukan oleh Kikwang.

“Bukan itu masalahnya. Jika mengenai kepandaian pengetahuan, aku yakin pasti dia mampu melewatinya. Namun sama sekali berbeda dengan kepandaiannya dalam mengendalikan emosi. Aigoo… bahkan aku tidak sanggup untuk membayangkannya.” Kikwang menggelengkan kepalanya cepat, mengusir segala pikiran negatif mengenai test interview yang tengah Ji Eun jalani.

“Benar juga, aku ingat bagaimana raut wajahnya ketika kau tertangkap basah tengah menemui Hyosung saat kita masih berada di Jepang waktu itu. Begitu menyeramkan.” Tatapan tajam Kikwang menusuk Yoseob setelah mendengar pria itu menyelesaikan ucapannya seraya terkekeh bersama member lainnya.

“Yak! Apa maksudmu tertangkap basah? Itu hanya kesalahpahaman. Kalian tahu kan jika dia hanya memberi ucapan selamat atas world tour kita yang pertama?” elak Kikwang dengan suara rendahnya menahan emosi. “Ayolah, tak perlu lagi kita membahas hal itu.”

“Tapi, bukankah hanya kau yang dihubungi olehnya dan pada akhirnya kalian makan malam bersama? Karena aku ingat sekali ketika itu Ji Eun menghubungiku menanyakan dimana keberadaanmu kemudian…”

“Hentikan! Sudahlah, semua itu hanyalah kesalahpahaman yang dibesar-besarkan oleh media,” pekik Kikwang memotong ucapan Yoseob.

“Yoseob tidak sedang membicarakan tentang media, tapi dia dan Ji Eun memang menangkap basah dirimu bukan?” Yoseob kembali tertawa geli melihat Kikwang yang terlihat semakin geram lalu melakukan high five bersama Dujun yang mendukung ucapannya.

“Penampilan kalian akan dimulai lima menit lagi,” ujar manajer hyung yang membuyarkan para member B2St untuk segera bersiap-siap.

***

Latihan vocal untuk hari ini telah selesai. Kim Minseok meninggalkan ruang itu dan berjalan menuju cafetaria untuk menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering bersama Luhan. Langkah mereka terhenti saat pintu ruangan milik CEO terbuka untuk bersiap-siap akan memberi salam. Namun Minseok sontak terkesiap saat mendapati seorang gadis muncul dibalik pintu itu, seorang gadis yang begitu dikenalinya. “Shin Ji Eun?”

Raut wajah berseri bahagia gadis itu segera terganti oleh ekspresi dinginnya saat Minseok mengucap nama itu. Ya, benar, gadis itu memanglah Shin Ji Eun namun ia menatap Minseok seakan dirinya bukanlah pemilik nama itu. Ji Eun memandang Minseok dari ujung rambut hingga ujung kaki kemudian kembali pada kedua mata yang memiliki kelopak tanpa lipatan milik Minseok. Tatapan nanar pria itu sama sekali tak mempan bagi Ji Eun yang terus membalas dengan tatapan datarnya. Tubuh Minseok berjengit dikala Ji Eun mengucap, “Maaf, sepertinya kau salah orang,” kemudian menunduk sejenak sebelum beranjak meninggalkannya.

“Tidak, tidak mungkin aku salah orang.” Minseok menahan lengan Ji Eun agar gadis itu tak dapat menjauh darinya, lagi-lagi tatapan asing yang ia dapatkan dari kedua mata yang begitu ia rindukan. “Katakan jika kau adalah Shin Ji Eun.”

“Katakan siapa namamu!” ulang Minseok namun Ji Eun hanya memutar bola matanya bersamaan dengan senyuman miring yang terulas. “Kau akan mengetahuinya nanti,” jawabnya kemudian.

“Aku yakin bahwa kau adalah Shin Ji Eun ku!”

“Shin Ji Eun mu? Memangnya kau masih mengingatku?”

“Yak!”

“Sudahlah, lepaskan dia,” ujar Luhan sembari melepaskan tangan Minseok yang semakin mencengkeram lengan Ji Eun. Kedua mata Minseok melebar saat menyadari warna lengan Ji Eun berubah kemerahan.

“Astaga, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk…” ucapan Minseok terhenti saat Ji Eun menepis tangannya yang akan kembali meraih lengan gadis itu.

“Tak apa, tenang saja. Aku sudah ada janji maka aku harus pergi dulu, Annyeong,” pamit Ji Eun kemudian melangkah pergi meninggalkan kedua pria itu.

Minseok masih berdiri membatu menatap kepergian Ji Eun hingga sosok gadis tak lagi berada dalam jangkauan pandangannya. Hatinya terasa begitu perih melihat Shin Ji Eun telah berubah padanya. Keinginannya untuk membuat gadis itu tersenyum bangga akan keberhasilannya sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi.

“Minseok-ah,” panggil Luhan menyadarkan Minseok dari lamunannya kemudian melanjutkan langkah mereka menuju cafeteria.

***

Shin Ji Eun menatap ikan hias yang berenang bebas dalam kolam kecil di taman halaman rumahnya. Sesekali ia melempar menyebarkan butiran warna warni yang segera diserbu oleh ikan-ikan itu. Menyebabkan suara gerak air khas yang begitu ia favoritkan.

Tangannya menyambar sebuah buku tipis yang berada disampingnya setelah meletakkan wadah makanan ikannya terlebih dahulu. Membuka satu per satu lembar dalam buku itu yang menampilkan setiap profil member EXO di setiap halamannya. Dimulai dari sub unit EXO K yang beranggotakan Suho, D.O, Sehun, Kai, Baekhyun, dan Chanyeol. Gadis itu mengernyit saat ia mulai membuka bagian sub unit EXO M pada bagian halaman yang tercetak nama Xiumin didalamnya. “Dengan cara inikah kita akan bertemu lagi?”

Shin Ji Eun tersenyum manis saat gerbang rumahnya mulai terbuka dan menampakkan sebuah mobil hitam yang tak asing lagi baginya bergerak memasuki halaman rumahnya.

“Bagaimana?” tanya Kikwang yang baru saja keluar dari mobil itu penasaran. Menghampiri Ji Eun kemudian mengambil tempat disamping gadis itu dengan raut wajahnya yang menegang. Ji Eun menatap lurus kedepan seraya menghembuskan nafas panjang membuat pria itu semakin menatapnya penuh harap.

“Aku hanya mendapatkan ini,” ucap Ji Eun seraya menyodorkan buku itu pada Kikwang. Kikwang mengernyit seiring tangannya mulai membuka isi buku itu, Ji Eun yang tengah menatapnya pun turut mengerutkan dahinya. “Wae?” tanya Ji Eun.

“Untuk apa mereka memberimu souvenir semacam ini?”

“Sembarangan saja kau. Ini adalah buku yang diberikan oleh Komisaris Lee agar aku dapat lebih mengenal mereka.”

“Untuk apa kau harus melakukan hal itu? Apakah dia sedang berusaha membuatmu menjadi penggemar mereka?”

“Yak! Sepertinya kau memang benar-benar tidak peka, ya. Aku diterima, Kikwang-ah. Aku diterima untuk bekerja di agensi itu sebagai personal manager dari member yang bernama Byun Baekhyun dan Do Kyungsoo. Tapi setidaknya aku harus mengenal mereka semua bukan? Maka dari itu Komisaris Lee memberiku buku ini,” jelas Ji Eun sembari mengulum tawa akibat kedua bola mata Kikwang yang menatapnya melebar sempurna.

Jinjja? Kau diterima? Jeongmal? Syukurlah,” ujar Kikwang kemudian memeluk Ji Eun erat. “Tapi jangan lupa akan janjimu padaku. Mengerti?”

“Tentu saja. Tak perlu khawatir,” jawab Ji Eun sembari membalas pelukan Kikwang. “Aaah lama sekali kau tidak memelukku seperti ini.”

“Kau merindukanku?” Kikwang mendesah kecewa karena Ji Eun melepas pelukannya dan tidak menjawab pertanyaannya. “Aku mencintaimu, Ji Eun-ah. Apa kau mencintaiku?” Kikwang tersenyum kecut saat Ji Eun lebih memilih untuk bangkit dari duduknya beranjak meninggalkan Kikwang untuk memasuki rumahnya. “Kau belum makan, kan? Aku telah memasakkan hidangan special untukmu,” alihnya.

“Yak! Kau ini, selalu saja tidak mau mengungkapkannya padaku.”

***

“Kyungsoo-ah, kau sudah dengar kabar itu belum? Aku mendengar bahwa pengganti Manajer Kim akan datang hari ini.” Kyungsoo hanya menatap dengan pandangan tak tertebak pada seorang pria yang baru saja menghampirinya dengan tergesa. “Aku sudah tahu itu,” jawabnya kemudian.

“Yak! Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya jika kau sudah mengetahuinya? Dasar kau!”

“Itu karena kau terus berbicara tanpa memberiku waktu untuk menjawab pertanyaanmu terlebih dahulu.”

“Aigoo tega sekali kau padaku.” Kyungsoo memekik keras saat temannya itu merebut buku yang tengah ia baca, “Hentikan, Baekhyun-ah!” pekiknya seraya mengejar Baekhyun yang berlari mengelilingi ruang latihan dance SM Entertainment.

“Jangan ganggu waktu senggangku! Aku hanya ingin bersantai sebentar saja,” teriak Kyungsoo namun hanya dibalas kekehan Baekhyun.

“Tidak bisakah kalian tenang? Suara kalian terdengar begitu keras dalam ruangan ini!” ucap Suho yang juga meninggikan nada suaranya namun tak mampu mempengaruhi kedua dongsaeng-nya yang sibuk berlarian layaknya bocah kecil.

“Ini semua karena kau begitu tega padaku, makanya jangan setega itu denganku!” Kyungsoo memelankan gerak kakinya yang perlahan semakin pelan dan berhenti kemudian berucap, “Apa yang kau bicarakan? Terserah kau saja, aku tidak mau menghabiskan energiku hanya untuk mengejarmu. Lagipula aku masih memiliki buku lainnya.” Baekhyun hanya mampu mendengus kesal saat Kyungsoo mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya dengan tampang innocent yang ia miliki.

Sedangkan Minseok sedari tadi hanya mengamati perilaku Baekhyun dan Kyungsoo yang sama sekali tidak memiliki manners itu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Sudah terlalu sering kedua dongsaeng-nya itu bertengkar kecil akibat masalah yang begitu sepele. Maka dari itu ia tak mencoba sekalipun untuk menghentikan mereka seperti yang dilakukan Suho.

Keributan serta kegaduhan yang terjadi dalam ruangan itu terhenti dalam sekejap saat menyadari bahwa pintu terbuka. Kyungsoo menatap kesal Baekhyun yang menjulurkan lidahnya mengejek karena merasa waktu istirahatnya terbuang sia-sia akibat pria itu.

“Tidak biasanya pelatih Park datang sepagi ini,” gumam Chanyeol yang baru saja memeriksa jam tangannya.

Para member EXO segera terbelalak saat menemukan sosok seorang gadis dari balik pintu kemudian berjalan masuk bersama Komisaris Lee. Tak terkecuali Kim Minseok. Gadis yang mengenakan celana jeans biru dongker serta baju berwarna putih polos itu menatap satu per satu anggota EXO, mencoba mencari wajah Kyungsoo dan Baekhyun. Namun kedua matanya melebar dengan sendirinya saat menemukan seorang pria yang tengah menatapnya sendu. Dengan cepat ia mengembalikan ekspresinya saat Komisaris Lee memintanya untuk memperkenalkan diri.

Annyeong haseyo, Shin Ji Eun imnida. Mulai saat ini saya akan menjadi manajer pribadi dari member Do Kyungsoo dan Byun Baekhyun. Bangapseumnida yeoreobun,” ujarnya kemudian menunduk memberi salam. Kedua belas anggota EXO pun segera berdiri dengan cepat untuk membalas salam Ji Eun.

“Beruntung sekali kalian mendapatkan manajer yang begitu cantik seperti dia,” bisik Chanyeol pada Baekhyun yang tersenyum malu. ”Yak! Kenapa senyumanmu seperti itu?” lanjutnya.

“Baiklah kalau begitu saya serahkan pada anda, Nona Shin.” Komisaris Lee beranjak pergi seiring ia mengakhiri ucapannya.

Nde, kamsahamnida sajangnim,” ucap Ji Eun seraya membungkuk dalam kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada dua belas pria dihadapannya. “Untuk Kyungsoo dan Baekhyun, bisakah kalian keluar sebentar?”

“Tentu saja, Manajer Shin!” jawab Baekhyun semangat kemudian menarik lengan Kyungsoo agar segera mengikuti langkah Ji Eun yang mulai berjalan keluar.

“Manajer itu cantik sekali. Seharusnya dia menjadi selebritis saja daripada seorang manajer. Dan sepertinya dia lebih muda dari kita, lihat saja betapa imutnya wajah yang dimilikinya,” racau Chanyeol terkesima.

“Dia seusia denganku,” sahut Minseok tiba-tiba hingga membuat Chanyeol tersentak. Karena pria yang sama sekali tak bergeming itu mengeluarkan suara tiba-tiba, terlebih dengan pandangan kosong yang terpancar di kedua matanya.

“Bagaimana kau bisa tahu, hyung? Kau mengenalnya?” Tak ada jawaban yang diterima Sehun atas pertanyaannya. Pria itu hanya menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya kasar. “Jadi benar? Kau telah mengenal manajer itu sebelumnya? Bagaimana bisa, hyung?” Luhan yang berada diantara Minseok dan Sehun mencoba untuk menghentikan pertanyaan Sehun yang terus terlontar karena penasaran.

***

Shin Ji Eun menutup buku panduannya, bernafas lega karena dalam isi buku itu sebagian besar persis seperti hal yang Kikwang ajarkan padanya. Ia tersenyum kecil saat screensaver pada layar ponselnya menampakkan fotonya bersama pria itu setelah jari telunjuknya menekan tombol tunggal pada ponsel yang tergeletak dihadapannya. Tubuhnya sedikit berjengit saat benda itu bergetar, baru saja ia memikirkannya dan pria itu tiba-tiba saja menghubunginya.

“Yeoboseyo?”

Bagaimana bisa kau belum pulang sementara aku sudah dirumah? Kau lupa janjimu, Ji Eun-ah?

“Yak! Kenapa tiba-tiba kau marah padaku? Itu karena tidak biasanya kau pulang di jam-jam seperti ini.”

Apa kau tidak suka jika aku pulang lebih awal? Apakah ternyata kau seperti itu?

Aigoo, Kikwang-ah! Ada apa denganmu hari ini? Kenapa kau seperti ini?”

Apakah pekerjaanmu belum selesai? Jika sudah cepatlah pulang!

“Ba…” Ji Eun menghentikan ucapannya ketika sambungan teleponnya telah terputus. Mendengus kesal kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjingnya. “Ada apa dengan pria itu? Aneh sekali! Kenapa tiba-tiba saja dia berubah menyebalkan?!” gerutunya sembari beranjak keluar dari ruang manajer yang telah kosong.

“Ji Eun-ah!” Ji Eun yang tengah berjalan cepat segera menghentikan langkahnya. Mengambil nafas seiring kedua matanya yang terpejam lalu menghembuskannya kasar melalui mulutnya sebelum berbalik kearah sumber suara yang memanggilnya. Tanpa melihat sosok itu pun ia tahu siapa pemilik suara itu.

“Ada apa, Minseok-ah?” tanyanya datar. Ia perlahan bergerak mundur saat pria itu semakin mendekatinya.

“Kumohon tetaplah disana, jangan mencoba menghindariku,” pinta pria itu. Ji Eun berulang kali memeriksa jam tangannya gusar menunggu Minseok yang masih tak bergeming dengan terus menatapnya.

“Apakah tidak ada yang ingin kau bicarakan padaku? Kalau begitu aku pergi dulu,” ujarnya kemudian menunduk singkat dan berbalik melanjutkan langkahnya. Namun baru dua langkah ia berjalan, Minseok meraih tangan Ji Eun agar gadis itu tak dapat semakin menjauh darinya.

“Kenapa kau selalu menjauh dariku?” Ji Eun menoleh cepat dan menarik tangannya namun tak bisa terlepas dari cengkeraman kuat Minseok lalu menegaskan, “Aku tidak mencoba untuk menjauh darimu saat ini. Tapi aku sudah ada janji jadi aku harus segera pergi.”

“Apa kau memang selalu memiliki janji disetiap kita bertemu?”

“Sayang sekali karena tebakanmu benar.” Minseok menatap tak percaya sebab Ji Eun mengucapkan jawaban yang sungguh diluar dugaannya.

“Maaf, tolong lepaskan aku. Aku harus segera pergi.” Minseok tak mengindahkan perkataan Ji Eun dan lebih memilih untuk menarik gadis itu memasuki lift lalu menekan tombol R disana.

“Yak! Apa yang kau lakukan? Sudah kubilang bahwa aku telah memiliki janji. Jangan membuat dia menungguku lebih lama.” Minseok tak membalas sepatah katapun, sesekali ia hanya menatap Ji Eun tajam hingga Ji Eun menampakkan raut wajah geramnya.

Sadarkah kau telah membuatku menunggu selama beberapa tahun dan sekarang kau memarahiku hanya karena membuatnya menunggumu beberapa menit lebih lama? Konyol sekali kau, Shin Ji Eun.

 

“Untuk apa kau membawaku kesini?” tanya Ji Eun datar saat  pintu lift telah terbuka dan memperlihatkan bagian rooftop dari gedung itu. Sekali lagi Minseok tak juga menjawabnya, hanya bergerak keluar dari lift masih dengan tangan Ji Eun yang berada dalam genggamannya. Minseok membawa Ji Eun ke sudut rooftop, mengunci gadis itu dengan kedua tangannya agar tak lagi mampu menghindar.

Ji Eun membalas Minseok yang menatapnya dalam dengan tatapannya yang sangat datar dan dingin. “Apa yang akan kau lakukan padaku?” Ji Eun kembali memeriksa jam tangannya lalu mendongak menatap langit yang telah berubah gelap. “Cepatlah, aku tidak memiliki banyak waktu. Segera katakan apa yang ingin kau ucapkan padaku,” sambungnya karena Minseok masih terus terdiam tak melakukan apapun.

Kedua mata Ji Eun segera terbelalak saat Minseok mengangkat dagunya dan menyatukan bibir mereka. Kedua tangan Ji Eun yang mencoba mendorong tubuh pria itu agar melepas tautan mereka, namun kekuatan Minseok yang begitu besar membuat usahanya sia-sia. Ji Eun terus mengatupkan kedua sisi bibirnya rapat, mencegah agar Minseok tak dapat menguasai rongga mulutnya.

Minseok menghentikan kegiatannya, menatap lekat Ji Eun yang mengusap kasar bibirnya. Gadis itu masih melayangkan tatapan dingin kearahnya. “Apa hal itu yang ingin kau lakukan padaku? Sekarang lepaskan aku. Aku tidak ingin dia menungguku lebih lama lagi.”

“Apa kau tidak merindukanku?”

“Maaf, aku harus segera pergi.”

“Apa kau tak lagi mencintaiku?” Ji Eun mengernyit, menatap Minseok dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Tak tahu apa yang seharusnya ia lakukan karena tatapan Minseok begitu lembut padanya, begitu rapuh dan tulus.

“Maafkan aku, Minseok-ah. Apa kau benar-benar mencintaiku dengan perasaan cinta yang seperti itu? Aku memang mencintaimu seperti perasaanku pada keluargaku. Aku menyayangimu karena kau sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Tapi sekali lagi maafkan aku, cinta yang kumiliki untukmu sepertinya tidak seperti yang kau bayangkan,” papar Ji Eun seiring pancaran sinar matanya yang semakin melembut. Kedua tangan Minseok melemah, tak lagi membatasi ruang gerak Ji Eun. Bola matanya yang telah kehilangan titik fokusnya bergerak kesana kemari tak tentu arah. Ji Eun membingkai wajah Minseok dengan telapak tangannya, menghembuskan nafasnya yang terasa berat karena penuh dengan perasaan bersalah.

“Kau seperti sinar bulan yang menyinari kita saat ini. Kau mampu memberikanku sinarmu, namun sebaliknya jika kau tidak menerima bias cahaya yang cukup dari matahari ataupun tertutup awan. Kau tidak bisa menyinariku setiap saat, Minseok-ah. Kau tidak boleh hidup seperti sinar bulan, kau harus berubah menjadi sinar matahari. Sinar matahari bagi belahan jiwamu diluar sana, seseorang yang paling membutuhkanmu dan kau butuhkan. Karena walaupun matahari tak tampak saat malam hari, namun sinarnya yang mengagumkan itu mampu menerangi kita melalui tegangan listrik yang selalu kita butuhkan.” Minseok tersenyum miris mendengar penggambaran Ji Eun tentangnya.

“Maaf, dan terimakasih,” sambung Ji Eun sembari membelai lembut wajah Minseok.

“Kemana kau pergi selama ini?” tanya Minseok lirih.

“Kau mencariku? Setelah lulus SMA aku melanjutkan kuliah dan menetap di Jepang selama empat tahun. Bahkan belum genap setahun sejak aku kembali ke Korea. Yak! Kenapa kau tertawa seperti itu? Kau meremehkanku?” pekik Ji Eun melihat Minseok mengulum tawanya.

“Memangnya kau belajar dengan baik disana?”

“Tentu saja, kau ini benar-benar! Aku sudah sangat terlambat, kalau begitu aku pergi dulu,” pamitnya namun gagal ketika Minseok kembali menarik lengannya hingga gadis itu jatuh di pelukannya. “Aigoo! Sekarang apa lagi?!”

“Tidak bisakah kau melakukannya sekali saja untukku? Aku sangat merindukanmu, Ji Eun-ah.”

“Melakukannya? Melakukan apa?” Gadis itu segera mengetahui jawabannya ketika Minseok kembali melekatkan kedua bibir mereka. Ji Eun memutuskan untuk tidak menolak dan tidak juga membalas ciuman itu. Ia hanya membiarkan Minseok bermain seorang diri. Setetes air mata menerobos kelopak mata kanannya, perasaan bersalahnya pada Minseok bertambah dengan perasaan yang sama pada Kikwang. Karena ia melakukan hal itu bersama pria selain Kikwang, namun disisi lain Minseok merupakan seseorang yang juga penting dalam hidupnya.

Minseok tersenyum tipis setelah melepas ciumannya, menyibakkan rambut Ji Eun untuk mengecup kening gadis itu singkat. “Maafkan aku,” hanya itu yang mampu Ji Eun katakan. Minseok mengangguk mengerti lalu menghembuskan nafas beratnya.

“Minseok-ah, aku mohon jangan melakukan hal seperti itu lagi padaku,” pinta Ji Eun dengan hati-hati.

Wae? Kau masih bersama Lee Kikwang?” tanya Minseok tak percaya. Namun mimpi buruknya benar-benar terjadi, Ji Eun mengangguk membenarkan. Terlebih ucapan Ji Eun yang mengatakan, “Aku tak ingin kau semakin tersakiti jika dia mengetahui apa yang telah kita lakukan. Dan juga, aku tidak ingin mengkhianati suamiku.” Minseok tak bergeming. Hanya terdiam membatu, nafasnya tercekat, hingga jantungnya terasa berhenti berdetak. Tangannya gemetaran, seluruh tubuhnya melemas seketika. Namun setidaknya ia harus terlihat kuat dihadapan gadis itu untuk saat ini.

“Kau, sudah menikah dengannya?” Ji Eun menahan nafas mendengar pertanyaan Minseok dengan suara bergetar kemudian mengangguk kecil.

“Selamat atas pernikahanmu. Sejak kapan?” Tanpa sadar Ji Eun menggigit bibir bawahnya menahan perasaan pedihnya saat Minseok mencoba mengulas senyuman dengan bibir yang bergetar. “Satu tahun yang lalu,” jawabnya kemudian.

“Bagaimana bisa kau tidak mengundangku?” Ji Eun berhambur memeluk Minseok erat, tak mampu melihat keadaan rapuh pria itu lebih lama lagi. “Karena kukira kau begitu sibuk hingga melupakanku. Lagipula kami melaksanakan upacara pernikahan di Jepang.”

“Tapi…”

“Hentikan, Kim Minseok! Hentikan pertanyaan bodohmu! Aku telah menemukan kebahagiaanku yang sesungguhnya maka kau juga harus menemukan kebahagiaan untukmu. Mengerti?” tuturnya sembari menghapus air mata Minseok dengan kedua ibu jarinya.

Shin Ji Eun bergerak mengambil ponselnya saat dirasa benda itu bergetar. Membalikkan tubuhnya dan sedikit menjauh dari tempat Minseok berdiri, menggeser layar ponsel itu kemudian menempelkannya pada telinga kanannya. “Sebentar lagi, Kikwang-ah. Tenang saja aku baik-baik saja. Aku sedang dalam perjalanan sekarang, tak perlu mengkhawatirkanku.”

Ji Eun kembali menghampiri Minseok setelah menutup sambungan teleponnya. Memberikan segaris senyuman dan sebuah pelukan ringan. “Aku harus benar-benar pergi sekarang,” ujarnya kemudian pergi meninggalkan Minseok menuju pintu lift.

Minseok menatap nanar punggung Ji Eun yang semakin menjauh dengan tangannya yang terkepal kuat. Ia ingin melakukan sesuatu agar gadis itu tetap berada disisinya namun segalanya terlambat sudah. Pria itu duduk meringkuk setelah sosok Ji Eun benar-benar menghilang. Kedua kakinya tak dapat lagi berpura-pura kuat menahan beban tubuhnya.

“Sinar bulan? Sinar matahari?” gumamnya seiring terbentuknya senyuman mirisnya.

***

Lee Kikwang memandang jam dinding yang tergantung di atas layar televisi dengan gusar. Ia meraih remote dan menekan tombol berwarna merah yang menyebabkan layar televisi itu menggelap. Pria itu beralih dari sofanya yang empuk menuju pintu utama untuk membukanya. Langit telah semakin gelap namun istrinya belum juga datang.

Kedua kakinya membawanya pada sebuah ayunan yang berada di dekat kolam ikan. Suhu udara yang semakin terasa dingin tak dirasakannya walaupun ia hanya mengenakan kaos putih polos tanpa jaket atau sweater sekalipun. Kekhawatirannya telah mengalahkan segalanya.

Hal inilah yang membuat Kikwang melarang Ji Eun untuk bekerja. Karena gadis itu akan memiliki dunia lain tanpanya, karena gadis itu tak lagi hanya mengurusi dirinya melainkan juga pekerjaannya, terlebih karena Ji Eun berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai manajer. Dan itu berarti istrinya harus mengurus dengan baik orang lain yang telah dipercayakan padanya. Namun sebesar apapun kekhawatiran serta ketakutan Kikwang, tetap saja tak ada yang bisa menghalangi kemauan gadis keras kepala itu yang selalu mengatakan jika terlalu membosankan karena terus berada di rumah dan tidak melakukan apapun.

“Baru sehari bekerja dan kau sudah berani melanggar janjimu untuk selalu berada di rumah terlebih dahulu sebelum aku, Ji Eun-ah?” gerutunya seraya mengecek ponselnya. Tak lama kemudian Kikwang bangkit dari duduknya dengan menyendekapkan kedua tangannya ketika sebuah mobil berwarna merah memasuki area halaman rumah.

“Kenapa kau lama sekali?” tanya Kikwang seakan menginterogasi saat Ji Eun keluar dari mobilnya. Gadis itu tak berniat menjawab namun hanya berjalan menghampiri tempat Kikwang berdiri.

“Kau menangis?” Kikwang sedikit merendahkan tubuhnya, menatap lekat wajah Ji Eun yang terus meneteskan air matanya tanpa ekspresi apapun. Walaupun begitu gadis itu tetap saja menggelengkan kepalanya.

Wae?” tanya Kikwang lembut.

“Aku mencintaimu, Kikwang-ah,” lirih Ji Eun. Kikwang tertegun, tidak biasanya Ji Eun mengungkapkan kata-kata semacam itu secara gamblang padanya. Ia yakin bahwa istrinya itu tidak sedang baik-baik saja.

“Tentu saja, aku tahu itu. Rasanya senang sekali mendengarmu mengucapkan pengakuan yang selalu kutunggu kapanpun itu,” goda Kikwang kemudian mengulas senyuman manis yang ia tahu sangat difavoritkan oleh istrinya. Namun Kikwang segera berubah bingung saat Ji Eun semakin terisak, tak ada yang mampu ia lakukan selain merengkuh gadis itu kedalam pelukannya dan mengusap lembut punggung Ji Eun mencoba memberi ketenangan.

“Disini sangat dingin, ayo masuk kedalam,” ajak Kikwang lalu menggendong tubuh Ji Eun dengan kedua tangannya dan menurunkannya diatas sofa. Kikwang duduk berlutut di lantai, membelai wajah Ji Eun yang duduk di sofa dengan penuh sayang kemudian kembali memeluknya erat hingga isakan gadis itu semakin berkurang dan tenang.

“Apa yang terjadi? Apa kau bertemu dengan Minseok?” tanyanya dengan suara yang begitu rendah dan sangat lembut hingga Ji Eun kembali mengeluarkan air matanya. Kikwang semakin mendekatkan wajahnya, menghapus air mata itu pelan seraya tersenyum, “Jangan menangis lagi.”

“Aku sangat mencintaimu, Lee Kikwang.” ulang Ji Eun lagi. Kikwang telah kehabisan kata untuk ia ucapkan dan segera menyatukan bibir mereka, namun kembali menariknya saat merasakan sensasi asing yang ia dapat. Tanpa sadar Kikwang menggeleng cepat, tidak mungkin istrinya melakukan hal itu bersama pria lain terutama Kim Minseok.

“Wae?” tanya Ji Eun gugup. Khawatir jika suaminya mengetahui apa yang baru saja dilakukannya.

Amugeotdo aniya,” jawab Kikwang dengan senyuman manis lalu kembali menyambar bibir merah istrinya. Tentu saja Ji Eun pun mengalungkan tangannya pada tengkuk leher Kikwang dan membalas dengan perlakuan yang sama.

***

“Jadi, Ji Eun noona adalah istri dari Kikwang sunbae? Dan wanita itu adalah istrimu, sunbae? Woah, daebak! Bagaimana bisa kalian menyembunyikan semua ini dengan baik?” celoteh Baekhyun antusias yang terlihat berdiskusi bersama Kyuhyun.

“Yak! Apa maksudmu menyebut istriku dengan sebutan wanita itu? Dasar bocah tengik!” balas Kyuhyun tak terima seraya mengetuk kepala Baekhyun dengan keras. “Tentu saja kami harus menyembunyikannya rapat-rapat karena fans termasuk dalam bagian terpenting dalam hidup kami. Jangan pernah sekalipun kau membocorkan hal ini!” sambungnya.

“Kalian ini, sedang membicarakanku ya? Awas saja jika kalian berani.” Rin Hyo yang tiba-tiba datang meletakkan dua mangkuk berisi lobak membuat sepasang sunbae dan hoobae itu menghentikan obrolan mereka. “Daripada kau tidak melakukan apapun, potong ini agar dapat diolah menjadi kimchi nantinya,” titahnya.

“Tidak apa-apa, begini saja lebih baik.” Rin Hyo sontak melebarkan kedua matanya mendengarkan tanggapan Kyuhyun. “Baiklah, baiklah akan kulakukan,” lanjut pria itu kemudian.

“Baekhyun-ah! Daripada kau tak melakukan apapun disana lebih baik kemarilah. Bantu Kikwang dan Minseok memotong daging-daging ini,” pekik Ji Eun yang tengah membuat racikan saus untuk steak-nya. “Sepertinya sudah selesai. Coba ini, Kyungsoo-ya,” ujarnya seraya menyuapkan sedikit saus yang masih melekat di sendoknya pada Kyungsoo.

“Enak sekali, noona. Seharusnya kau menjadi chef saja daripada seorang manajer,” puji Kyungsoo.

“Benarkah? Baiklah kalau begitu.”

“Eeyy, aku hanya bercanda. Jangan benar-benar melakukan hal itu.” Ji Eun tertawa geli melihat ekspresi Kyungsoo yang sedang memotong paprika di hadapannya namun ia segera tersentak saat Kikwang muncul disampingnya tiba-tiba. “Yak! Tidak bisakah kau membuat sedikit suara atau apapun itu agar aku dapat merasakan keberadaanmu? Mengagetkanku saja!” ujar Ji Eun kesal.

“Berikan aku sesuap seperti Kyungsoo, aku juga ingin mencoba saus special dari chef Shin Ji Eun.”

“Tidakkah kau merasa malu ditertawakan oleh Kyungsoo seperti itu?” ledek Ji Eun dengan menunjuk Kyungsoo yang mengulum tawa. “Benar-benar diluar dugaanku,” gumam Kyungsoo.

“Aku tidak peduli,” jawab Kikwang kemudian kembali ke tempatnya semula setelah mencicipi saus buatan Ji Eun.

“Bagaimana? Apakah benar-benar enak?” tanya Minseok penasaran.

“Tentu saja, lebih dari yang kau bayangkan.”

“Benarkah?”

“Yak! Mau kemana kau?” pekik Kikwang ketika Minseok akan beranjak dari tempatnya.

“Aku ingin memastikannya sendiri.” Kikwang segera memegang tangan Minseok guna mencegahnya seraya menatapnya tajam, “Percaya saja padaku. Kau tak perlu melakukannya,” ucapnya tegas.

“Lepaskan aku! Tanganmu berbau daging!”

Omo, bagaimana bisa kalian bertengkar seperti ini? Ayolah bersikaplah dewasa. Jangan terlalu banyak bicara atau pesta barbeque kita nanti malam akan gagal,” tutur Ji Eun. Tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi, Kikwang segera berlari kecil membukakan pintu utama mendengarnya. “Akhirnya kalian datang juga,” sambutnya pada member B2ST yang baru saja sampai.

Oppa! Kenapa kalian lama sekali? Aku telah menunggu kalian sedari tadi.”

“Ji Eun-ah, jangan mencoba membodohi kami. Aku tahu jika kau hanya membutuhkan tenaga kami, benarkan?” balas Dujun yang telah begitu memahami Shin Ji Eun. Lebih tepatnya karena ia adalah yang paling ahli dalam hal mempengaruhi orang lain.

“Astaga bagaimana bisa kau… Oppa, aku hanya ingin membuat pesta barbeque yang mengesankan, karena itu aku membutuhkan bantuan kalian,” alih Ji Eun.

“Pesta macam apa yang mengharuskan tamunya untuk memasak masakannya sendiri?” tukas Kyuhyun yang menyebabkan semuanya meledakkan tawa.

 ———

-THE END-

Advertisements

23 thoughts on “Moonlight 4

  1. Habis ? Ini the end yang bener2 end ? Gak ada lanjutannya lagi ??

    Jadi hubungan semuanya berakhir dengan membahagiakan yaa ? Ahh senangnyaaa 😀

  2. Jie eun jdnya ma kikwang.kasian minseok.tp salahnya sendiri kan ‎​ǏƔǻ.dulu knp tiba2 ninggalin ji eun gitu aja tanpa memberi kabar.
    Ewek kan butuh kepastian.meski menciantai tp klo ‎​ƍäªK ada kepastian ‎​ǏƔǻ pasti tinggal
    Apalagi ada cowok lain yg mencintai+baik hati.‎​ǏƔǻ pasti berpaling.

  3. minseok kasian… niat mau bikin ji eun bangga malah berakhir duka…. tpi gpp move on aja siapa tau dpt yg lebih baik lagi dari jieun…

  4. wah .. syukurlah endingnya gikwang sama ji eun 🙂
    tadinya aku pikir bakalan sad ending buat gikwang.
    tapi cerita nya lompat2 yaa, aku sempat kaget karena tiba-tiba mereka udah nikah aja.
    trus, abis ji eun pulang smbil nangis trus bsoknya mereka barbeque-an bareng. aku jadi bingung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s