A Great Luck

A GREAT LUCK.

 

Author : Tsalza Shabrina

A/N : Ini mungkin jadi ff oneshoot yang kepanjangan, jadi jangan bosen – bosen yaa:) Happy read ^^

 

“Rin Hyo-ya!” gadis yang tengah berkutat dengan macbook-nya itu lantas menoleh kesamping dan tersenyum lebar saat mendapati lelaki yang sudah ia tunggu dari tadi telah datang. Ia mengayun-ayunkan tangannya menyuruh lelaki itu untuk berlari kearahnya dan dipatuhi oleh lelaki itu.

“Kau dari mana saja?” tanyanya setelah lelaki itu telah duduk disampingnya. Mereka kini duduk bersama dikursi taman universitas mereka. Lelaki itu masih mengatur nafas karna berlari tadi.

“Tadi tanduk guru Jang sempat muncul diatas kepalanya!” Rin Hyo terkekeh sejenak kemudian kembali memfokuskan diri pada macbook-nya itu. Lelaki itu, Son Dong Woon ikut menatap layar macbook kemudian menghela nafas pelan namun terasa berat. “Ayo kita pulang!”

“Aish, Dongwoon-ya… tunggu aku sebentar saja ya! kemarin aku tidak melihat episode yang ini karna kuliah malam.” Ucap Rin Hyo tanpa mengalihkan pandangan pada macbook-nya. Son Dong Woon hanya dapat kembali menghela nafas dan sesekali melirik Rin Hyo saat gadis itu mulai memekik tertahan atau tertawa lepas. Jika sudah tenggelam dalam dunia fangirl-nya. Sam Rin Hyo sulit sekali untuk lepas. Malah tak jarang ia acuh pada sekitarnya.

           “Kenapa tidak ditonton dirumah saja?” Kata Dongwoon yang mulai kesal dengan sikap sahabatnya itu.

“Memanfaatkan WIFI gratis!” balas Rin Hyo ringan dan itu membuat Dongwoon diam. Sebenarnya ia tidak suka Sam Rin Hyo tersenyum dan tertawa karna lelaki yang tengah ia tonton itu. Egois bukan? Tapi ini semua karna ia mulai mencintai sahabatnya itu. Dan karna ia pengecut, ia tidak dapat mengatakan itu semua pada Rin Hyo. Ia takut Rin Hyo akan menghindar darinya. Lagipula, selama Rin Hyo selalu ada dalam jarak pandangnya, selama itu ia akan selalu bahagia.

****

Riuh para gadis-gadis yang didominasi oleh gadis berseragam itu mengitari jendela-jendela kafe. Tentu saja, karna didalamnya ada 3 orang lelaki yang tengah berbincang hangat dan sesekali tertawa ringan. Mereka adalah Lee Donghae, Eunhyuk, dan Cho Kyuhyun Super Junior. Boyband yang mempunyai jutaan fans yang tersebar diseluruh dunia. Tak heran jika banyak gadis yang berdesak-desakan hanya untuk melihat mereka bertiga.

“Bagaimana?” Tanya Eunhyuk sambil menatap lekat Kyuhyun yang tengah duduk bersender lesu seraya memainkan cangkir kopinya. Donghae yang mengerti juga ikut menatap Kyuhyun. Kyuhyun menatap hyeong-hyeong nya secara bergantian kemudian menegakkan badan.

“Rencanaku, hari ini adalah saatnya.” Lirihnya. Seorang pelayan menghampiri meja mereka kemudian membisikkan sesuatu pada Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk lalu menatap Donghae dan Eunhyuk kembali “Hyeong… ia sudah datang!”

“Temui dia!” ucap Donghae sebelum Kyuhyun beranjak dari tempat duduknya. Kyuhyun mengangguk pelan dan berjalan santai menuju pintu ruangan privasi yang telah ia pesan. Gadis yang sudah duduk manis disana menyambut Kyuhyun dengan senyuman lebar. Sedangkan Kyuhyun hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

“Maaf aku terlambat, oppa! Tiba-tiba saja tadi ada urusan mendadak” Sesal gadis itu, Song Qian. Kekasih Cho Kyuhyun. Gadis yang sangat Kyuhyun cintai walau dengan jelas ia tahu bahwa Qian telah melukainya. Kyuhyun menatap Qian dingin, membuat Qian menggigit bibir bagian bawahnya gelisah. Ia tahu, apa penyebab Kyuhyun bersikap seperti ini. “Emm kau sudah makan?” Qian menghindar dari tatapan tajam Kyuhyun dengan cara menatap menu yang terletak diatas meja. “Eum… bagaimana dengan steak? Atau…”

“Bagaimana bisa kau bersikap seolah tidak ada yang terjadi?” Qian meneguk ludahnya berat. Ia meletakkan kembali menu itu dengan kaku.

“A—apa maksudmu?”

“Song Qian! Kau itu memang bodoh? Atau berpura-pura bodoh?” geram Kyuhyun.  Qian tersentak, ia mencoba menatap Kyuhyun dan semakin merasa bersalah saat melihat tatapan terluka itu. Ia diam, tak dapat mengatakan apapun. Seakan bibirnya membeku dan tak bisa bergerak. “Jika kau menjelaskan semuanya padaku dan meminta maaf! Aku akan memaafkanmu, tapi jika kau terdiam seperti ini. Aku akan menunggumu sampai kau berbicara. Sampai besok pun aku siap!” Qian semakin terpojokkan dengan perkataan Kyuhyun. Setelah bergelut dengan fikirannya ia menghela nafas berat dan menatap Kyuhyun dengan berkaca-kaca.

“Maafkan aku oppa!” Qian kembali menghela nafas berat. “Aku… bukan gadis yang pantas untukmu! Seharusnya kau membuangku! Aku gadis licik, aku gadis jahat dan aku gadis yang brengsek. Kau bisa mengataiku sekarang!”

“Kau memang licik, jahat dan brengsek. Memanfaatkan rasa cintaku padamu yang begitu dalam untuk mendekati sahabat baikku, Shim Changmin. Kau benar-benar brengsek! Tapi aku bodoh, karna aku masih saja mencintaimu!” Qian menggeleng kuat.

“Maafkan aku! Aku… memang merencanakan ini semua! Aku… aku tidak pantas untuk kau cintai oppa! Aku mohon maafkan aku! Dan aku harap kau dan Changmin oppa akan selalu berteman dengan baik. Aku pergi!”

“Setelah mendapatkan hatinya, misimu menjadi kekasihku telah selesai?” Suara berat itu membuat langkah Qian kembali terhenti. “Aku hanya ingin menanyakan satu hal sebelum ini semua berakhir.” Qian berputar, bibirnya masih terkatup rapat.

“Selama ini, apa tidak ada aku dalam hatimu?”

“Tentu ada, aku sudah menganggapmu sebagai oppa yang terbaik untukku!” Qian lantas pergi dari ruangan itu dengan langkah cepat. Sebelum keluar dari kafe, ia sempat membungkuk pada Donghae dan Eunhyuk yang tengah menatapnya penuh tanya.  Donghae dan Eunhyuk segera berlari kedalam ruang privasi itu dengan tergesa. Mereka mematung saat tahu, vas bunga dan tempat lilin yang terbuat dari kaca itu sudah berakhir menjadi kepingan-kepingan kecil diatas lantai. Kyuhyun duduk menekuk lutut dan menyembunyikan kepalanya disana dengan badan yang bergetar hebat. Membuat kedua hyeong-nya hanya dapat menatap nanar padanya. Karna disaat seperti ini, hanya ada 3 orang yang bisa menenangkannya nunanya, Lee Sungmin, dan Song Qian.

****

Sam Rin Hyo keluar kelas dengan sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Akhir-akhir ini ia merasa kelelahan tanpa alasan. “Rin Hyo!” tepukan kuat dibahunya membuat ia sedikit meringis. Dengan malas ia menoleh kebelakang dan mendapati Lee Soo Jin, teman sekelasnya tengah tersenyum lebar padanya.

aish, kau ini tidak tahu aturan jika memanggil ? Punggungku sedang sakit!” bentaknya pada Soo Jin.

“Tsk, mianhe! Aku hanya ingin pulang bersamamu! Kau naik bis, kan?” Rin Hyo memutar otaknya kebelakang lalu mengangguk setelah ia ingat Dongwoon sudah pulang lebih dulu karena urusan penting. Soo Jin tersenyum dan menyeret Rin Hyo agar berjalan lebih cepat. Sedangkan Rin Hyo hanya bisa menatap Soo Jin datar, merasa malas jika menanggapi sikap kekanakan Lee Soo Jin.

Disepanjang jalan, Soo Jin terus bercerita tentang boyband idolanya, Super Junior. Terutama Cho Kyuhyun. Lee Soo Jin adalah seorang Sparkyu yang sangat fanatik. Bahkan melebihi Sam Rin Hyo. Rin Hyo juga sparkyu tapi tidak keterlaluan atau mungkin ia sangat pasif jika dibilang sparkyu. Karena ia tidak selalu mengikuti kemanapun Super Junior melakukan show ataupun acara. Jika dekat dengan daerah rumahnya ia akan hadir tapi jika tidak, ia tidak akan hadir. Menurutnya, itu hanya membuang-buang tenaga. “Dia itu tampan sekali! Ingin sekali menjadi istrinya kelak…” Rin Hyo tertawa sinis.

“Jangan terlalu tinggi berkhayal! Belum tentu juga kan ia pernah menatapmu!” ceplosnya. Soo Jin menatap Rin Hyo jengkel, sedangkan Rin Hyo hanya mengalihkan pandangannya seraya merutuki mulut frontalnya yang ia tampakkan pada gadis se-naif Lee Soo Jin.

“Kau tidak ingin menghadiri fanmeeting di daerah Busan?” Rin Hyo menoleh kearah Soo Jin dan mengangkat bahu ringan.

“Busan terlalu jauh dari Seoul, aku tidak mau!”

“Kau ini fans macam apa sih? baiklah, kau tidak mau menitip apapun padaku?”

“Memangnya kapan acara itu?”

“Nanti malam” Rin Hyo memutar bola matanya, berfikir apa yang harus ia titipkan pada Soo Jin untuk Kyuhyun. Ia tersenyum kemudian merogoh tas jinjingnya, mengeluarkan note kecil dan bolpoin. Ia menuliskan beberapa kata disana dengan cepat kemudian melipatnya 4 kali. “A—apa kau berniat memberinya itu?” Tanya Soo Jin ragu seraya menunjuk lipatan kertas itu. Rin Hyo mengangguk semangat.

“Berikan padanya, ya!” Ucap Rin Hyo seraya tersenyum. “Ini perhentianku! Sampai jumpa!” Sebelum Soo Jin melayangkan berbagai protes Rin Hyo sudah menuruni bis dengan cepat. Ia menatap lipatan kertas itu dengan ragu bercampur aneh.

“Apa yang ada difikiran gadis itu? Dasar gadis aneh” gumamnya lalu memasukkan lipatan kertas itu kedalam tasnya.

****

Cho Kyuhyun baru saja selesai mandi dan memasuki kamar. Wajahnya terus ia tekuk dan terlihat suram. Para member lain bingung harus memperlakukan Kyuhyun seperti apa lagi. Lee Sungmin sedang di Jepang, nunanya masih di Belanda. Tidak mungkin kan jika mereka harus memanggilkan Song Qian?

Kyuhyun duduk ditepi ranjang dengan menunduk, ia menarik laci mejanya kemudian merogoh beberapa surat yang diberi fans untuknya saat acara fanmeeting tadi. Ia berharap kata-kata dari fans dapat membuatnya merasa lebih hidup.

Sesekali lelaki itu tersenyum tipis saat membaca surat-surat dari fans-nya. Ada yang menuliskan kata cinta untuknya, menyemangatinya, memujinya, bahkan ada juga yang menanyakan hubungannya dengan Seohyun atau Sooyoung. “Mereka hanyalah teman-temanku!” gumamnya seolah menjawab pertanyaan dari para fans itu. Kyuhyun mengumpulkan surat-surat yang berserakan diatas kasur dengan rapi, tak semua yang ia baca karena surat-surat itu sangat banyak hingga menggunung. Saat ia hendak memasukkan surat-surat itu kedalam laci lagi, secarik kertas sederhana jatuh diatas kakinya. Ia mengambil kertas itu setelah memasukkan surat-surat itu kedalam laci. “Ini dari sparkyu?” ujarnya heran seraya membolak-balikkan lipatan kertas itu. Benar-benar sederhana sangat kontras dengan surat-surat dari fans lain yang terbungkus amplop dan juga dikemas sangat manis. Tapi ini? hanya sebuah lipatan kertas? Sulit dipercaya. Karna penasaran ia membuka lipatan itu dan membaca isinya.

Annyeong! Sam Rin Hyo imnida!

Aku tak tahu harus berkata apa, hanya ingin menawarkan jika kau merasa kehilangan atau merasa sendirian! Kau bisa menghubungiku di nomor 001-04***

Terima kasih.

                                                            Sam Rin Hyo

Kyuhyun tertawa geli, baru kali ini ia mendapat surat yang seperti ini. Ia menyimpan nomor Rin Hyo kemudian menyimpan surat itu dilaci khusus barang-barang pribadinya. Ia merebahkan tubuhnya dikasur seraya membayangkan bagaimanakah rupa gadis yang bernama Sam Rin Hyo itu.

****

Rin Hyo berkali-kali menghela nafasnya bosan. Sekarang adalah pelajaran statistik, salah satu pelajaran yang masuk dalam list pelajaran termenyebalkan dalam hidupnya. Deringan ponsel yang nyaring memekikkan telinga itu seolah tak memecahkan kebosanannya. Ia masih saja menyanggah kepalanya dan tak berniat mencari pemilik ponsel itu.

“Rin Hyo-ah! itu ponselmu!” Bisik Dongwoon yang duduk disebelahnya. Rin Hyo tersentak dan dengan cepat menegakkan badannya.

“Kau benar!” balas Rin Hyo saat ia menyadari deringan itu mengalunkan lagu Listen To Me milik Kyuhyun. Ia segera merogoh tasnya dan mencari ponselnya yang tak kunjung ketemu. Seisi kelas sudah terlanjur menjadikannya pusat perhatian dengan tatapan tajam. “Maaf ! Maaf!” ucapnya pelan seraya menunduk pada semua orang.

“Belum ketemu juga?”

“Belum… bagaimana ini Dongwoon-ah? kurasa aku akan dikeluarkan dari kelas.”

“KAU!!”  Rin Hyo menatap guru Jang dengan menggigit bibir bawahnya, “KELUAR!” tepat. Batinnya. Ia menghela nafas beratnya kemudian menjinjing tas dan keluar kelas dengan kondisi ponsel yang belum ia temukan dan alhasil deringan itu masih ada. Sebelum benar-benar keluar ia sempat menatap Son Dong Woon dan melambaikan tangan pada lelaki itu. Dongwoon hanya mengangguk dan tersenyum padanya.

Setelah menutup pintu Rin Hyo segera mengangkat telepon itu. “Yeoboseyo!

SamRin-Hyo?! Eja lelaki diseberang sana.

Ne! Ini siapa?”

Aku Cho Kyuhyun Super Junior Rin Hyo tertawa lepas.

“Ahh.. benarkah? Kalau begitu aku Hyorin SISTAR!” Rin Hyo menutup teleponnya dengan menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak habis fikir dengan seseorang yang mengaku menjadi seorang Cho Kyuhyun. Percaya diri sekali lelaki itu? Ponselnya kembali berdering dan dari nomor yang sama. “Yeoboseyo!” kesalnya.

Aku benar-benar Cho Kyuhyun! Mendengar bentakan kesal itu membuat Rin Hyo terdiam. Terdengar seperti seorang Cho Kyuhyun.

“Be—benarkah? Ini memang Cho Kyuhyun super junior itu?” desahan nafas gusar terdengar jelas dari seberang sana.

Iya! Dan aku tertarik dengan penawaranmu! Rin Hyo menahan nafasnya, ini benar-benar Cho Kyuhyun. Ia baru ingat dengan surat yang ia titipkan pada Soo Jin kemarin. “Benar-benar sulit dipercaya!” gumamnya pelan seraya tersenyum.

****

Sam Rin Hyo duduk termenung dibangku kantin dengan sesekali menghela nafas gusar. Sudah selang hampir satu bulan ia selalu bertukar pesan atau bercakap via telepon dengan Cho Kyuhyun, awalnya ia sangat senang. Namun, lama kelamaan ia bosan dengan topik yang selalu Kyuhyun angkat, tentang mantan kekasihnya itu. Sebelumnya ia sangat heran bagaimana bisa Kyuhyun langsung mempercayainya. Apa ia tidak takut membeberkan segala kehidupan pribadinya pada orang asing seperti Rin Hyo? Tapi entahlah, hanya Kyuhyun dan tuhan yang tahu.

“Melamun lagi?” Rin Hyo menoleh kesamping dan melemaskan bahunya setelah tahu siapa yang duduk disampingnya. “Kenapa tidak mengajaknya bertemu?” Rin Hyo melebarkan kedua matanya lalu menggeleng tegas.

“Meski aku seorang fans aku tetaplah wanita. Dan mempunyai harga diri! Tidak mungkin kan jika seorang gadis mengajak seorang pria untuk bertemu dulu?”

“Sekarang yang seperti itu sudah tren!” Rin Hyo menatap Son Dong Woon datar kemudian kembali menyanggah kepalanya dengan 2 tangan. “Kau tidak memesan apapun?”

“Aku tidak ingin makan”

“Hyo! Kau harus makan, kau tidak boleh sakit…” Rin Hyo menghela nafas pelan kemudian mengangguk. Dongwoon tersenyum dan memesan bulgogi dan milkshake vanilla. Sam Rin Hyo menatap ekspresi bahagia Dongwoon saat memesan makanan dengan sendu. Jika Son Dong Woon sudah berkata demikian, membantah pun tak ada gunanya. Ujung-ujungnya sifat keras kepala Dongwoon pasti akan mendominasi juga. Pesanan mereka sudah terhidang rapi diatas meja, sangat menggugah selera. Rin Hyo yang melihat milkshake vanilla yang sangat menggiurkan itu tanpa sadar tersenyum dan meneguk minuman kesukaannya itu dengan rakus. Dongwoon tersenyum melihat pemandangan yang sangat menyenangkan untuknya. Ia senang jika Rin Hyo tersenyum bahagia, dan jika Rin Hyo tengah murung ia pasti memikirkan beribu cara untuk membuat mood gadis itu kembali.

“Hyo!” Rin Hyo yang masih makan hanya membalas panggilan Dongwoon dengan gumaman tak jelas. “Sabtu depan kau ada acara?” Rin Hyo menggeleng dan berkata ‘tidak’ dengan mulut yang hampir penuh.

“Kenapa?” tanyanya setelah menelan makanannya itu dan kembali menatap Dongwoon.

“Sabtu besok, temui aku restoran Rose jam 7 malam ya!” Rin Hyo mengernyit, tak biasanya Son Dong Woon mengajaknya makan malam dengan cara yang seperti ini. Biasanya segalanya serba dadakan, mungkin karna rumah mereka bersebelahan. Jadi jika Dongwoon ingin mengajaknya pergi ia hanya perlu memencet bel diluar pagar rumah Rin Hyo lalu menunggu gadis itu mempersiapkan diri. “Aku akan menunggumu!” Rin Hyo mengangguk pelan sekaligus sedikit bingung dengan sikap misterius Son Dong Woon.

****

Cho Kyuhyun terlihat gusar. Duduk ditepi kasur, kemudian berdiri dan mondar-mandir gusar dengan menggenggam erat ponselnya. Itulah yang ia lakukan sejak tadi dan berulang-ulang. Sesekali ia mengecek layar ponselnya lalu kembali menghela nafas gusar. Lee Sungmin yang malam itu baru saja selesai mandi memasuki kamar dan mengerutkan dahi saat melihat tingkah laku Kyuhyun yang sangat aneh.

“Kau kenapa?” tanya Sungmin yang telah duduk ditepi kasur tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Kyuhyun berhenti dan menatap Sungmin.

“Eo! Kau disini, hyeong?!” kejutnya. Lee Sungmin semakin menautkan kedua alisnya bingung. Kyuhyun juga sudah berhenti melakukan tingkah aneh dengan membaringkan dirinya diatas kasur.

“Bagaimana hubunganmu dengan Qian?” Tubuh Kyuhyun menegang, bahkan gadis itu sudah tidak ada dipikirannya lagi sekarang. Mendengar nama itu membuat darahnya kembali berdesir. Sungmin memang belum tahu apa hasil akhir dari hubungan mereka, karna ia sedang sibuk musical di Jepang.

“Kami sudah berpisah sejak 2 minggu yang lalu.”

“Ahh… benarkah? Lalu kau menunggu telepon dari siapa?”  Kyuhyun memutar bola matnaya bingung harus menjawab apa. Ia bahkan merutuki kebodohannya yang menunggu telepon dan pesan dari gadis yang bahkan belum pernah ia temui itu. Sam Rin Hyo, ia sangat nyaman menjadikan gadis itu sebagai teman elektroniknya selama 2 minggu ini. Kata-kata gadis itu cukup bijak dan terkadang ia mengirimkan candaan-candaan yang membuatnya tertawa. Biasanya pada malam hari Rin Hyo mengiriminya pesan atau menelponnya. Namun, untuk sekarang ia gusar mengapa gadis itu tak kunjung memberinya kabar? Apa ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu? “Kyu!” Kyuhyun tersentak seraya menolehkan kepalanya kearah Lee Sungmin.

Hyeong! Aku pergi dulu!” Kata Kyuhyun sembari menyambar hoodie-nya yang tersampir ditepi kasur kemudian keluar dari kamar. Kening Lee Sungmin mengerut bingung.

“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada bocah itu!” gumamnya kemudian membaringkan diri diatas kasur dan memejamkan kedua mata.

****

From : CKH

Hei!

Rin Hyo menghela nafasnya berat. Sejak tadi ia dilemma antara menghubungi Kyuhyun atau tidak. Karna, lama kelamaan ia bingung dengan perasaannya sendiri. Awalnya ia senang dapat membantu masalah Kyuhyun karna ia sangat menyayangi Kyuhyun sebagai seorang fans. Namun, lambat laun perasaan itu semakin dalam dan ia juga mulai sakit dan bosan mendengar ocehan Kyuhyun tentang mantan kekasihnya itu. Song Qian. Ia bahkan sangat ingat nama gadis beruntung itu.

From : CKH

Kau sudah tidur?

           

Gadis yang tengah duduk diayunan taman itu kembali menghela nafasnya berat. Kedua kakinya sedikit menekan tanah agar ayunan itu mengayun dengan perlahan. Dihalaman rumahnya memang dilengkapi dengan ayunan tunggal dan pepohonan rindang. Sam Rin Hyo menatap layar ponselnya lagi, kemudian memainkan jemarinya disana. Mengetikkan sesuatu.

To : CKH

Aku belum tidur. Ada apa? Bercerita tentang gadis itu lagi?

            Entah apa yang membuatnya langsung bertanya seperti itu. Yang ada difikirannya sekarang hanyalah rasa muak akan ocehan Kyuhyun.

 

From : CKH

Tidak, sudahlah aku mau tidur!

 

Rin Hyo menghela nafas pelan, sedikit kecewa dengan balasan Kyuhyun. Sebenarnya ia juga ingin melanjutkan kegiatan ini. Sejujurnya, karna hari ini ia tak berkomunikasi dengan Kyuhyun sama sekali ia sangat merindukan balasan pesan Kyuhyun dan juga suara lelaki itu di telepon. Tadi Kyuhyun menulis ia tidak ingin bercerita tentang gadis itu lagi, apa itu artinya ia sudah melupakan gadis itu? Benar-benar melupakannya?

Ponselnya kembali bergetar namun kali ini bukan Kyuhyun yang mengiriminya pesan. Melainkan Son Dong Woon.

From : Son Namshin

Jangan lupa 3 hari lagi kita ada kencan J haha 😀

 

Rin Hyo tersenyum tipis saat membaca pesan itu. Kencan? Dongwoon sangat aneh jika menggunakan kata kencan disebuah pesan untuk dirinya. Bahkan sangat terlihat sangsi.

To : Son Namshin

Aku tidak akan lupa ^^

 

From : Son Namshin

Berdandanlah yang cantik. 3 hari lagi akan menjadi hari yang sangat mengejutkan dan istimewa J

 

To : Son Namshin

Pastinya! Tidurlah ! ini sudah malam…

 

From : Son Namshin

Iya ^^ kau juga! Jaljja J

 

“Mengejutkan dan istimewa?”  Rin Hyo tersenyum, ia penasaran dengan apa yang dimaksudkan Dongwoon. 3 hari lagi! Ya! ia hanya perlu menunggu 3 hari lagi!

****

           

Cho Kyuhyun menatap layar ponselnya lalu menghela napas panjang. Kedua matanya terpejam dengan bibir yang sesekali mengumpat. Kini ia sedang berada di Hongkong untuk SMTOWN Concert, tepatnya berada di ruang ganti Super Junior dengan posisi tertidur diatas sofa. Ia kembali menatap layar ponselnya, membuka pesan dan membacai pesan – pesan lamanya dengan Rin Hyo. Namun tak berlangsung lama, ia langsung mencampakkan ponselnya dipojokkan sofa.

“Kenapa aku jadi begini?” gumamnya frustasi. Tanpa ia sadari, Eunhyuk dan Donghae sejak tadi sudah memperhatikan dongsaengnya itu dengan alis berkerut.

“Apa ini karena Qian lagi?” bisik Eunhyuk yang hanya dibalas gedikkan bahu oleh Donghae. Eunhyuk mendesis pelan lalu menggeleng. “Dia benar – benar pria yang emosional.”

“Apa lebih baik aku bertanya padanya?” tanya Donghae lalu segera berjalan menghampiri Kyuhyun. Meninggalkan Eunhyuk yang sudah melebarkan kedua matanya. “YA! Cho Kyuhyun! Ada apa dengan wajahmu, huh?!” tanya Donghae kasar setelah menepuk kaki Cho Kyuhyun dengan keras. Eunhyuk mendecak frustasi saat menatap Kyuhyun yang sudah memandang Donghae sinis.

“Aku ingin ketoilet.” Singkat Kyuhyun lalu segera beranjak dari sana. Eunhyuk menahan Donghae yang sudah melangkah dengan tangan teracung pada Kyuhyun.

“Ya, ya, ya! Tidak bisakah kau membaca situasi, Hae?” ujar Eunhyuk seraya menahan tangan Lee Donghae.

“Aish, dia kira dia siapa bisa menatapku seperti itu!” gerutu Donghae seraya duduk diatas sofa. “Akh!” pekik pria itu tertahan seraya berdiri, ia menatap ponsel Kyuhyun yang tertinggal disana lalu menatap Eunhyuk penuh arti.

Eunhyuk mengulas senyuman bocahnya. “Apa perlu kita periksa?” tanya pria kurus itu yang langsung disetujui oleh Donghae.

***

“Kau bisa datang keruang gantiku, mengapa telepon, huh?”

Tanya Shim Changmin lembut dengan ulasan senyum yang tak luntur dari bibirnya. “Eo?! Merindukanku? Aku sedang ditoilet sekarang. Setelah ini datanglah keruanganku.” Ujar pria itu lagi seraya memutar – mutar jari telunjuknya dipinggiran wastafel.

“Em, sampai nanti Qian­ie, saranghae!” Changmin menutup teleponnya dengan ulasan senyum yang semakin merekah. Tubuhnya tersentak saat mendengar decitan pintu salah satu bilik kamar mandi yang terbuka. Tubuhnya semakin kaku saat menemukan pantulan Cho Kyuhyun yang baru saja keluar dari bilik itu. Kyuhyun berjalan dengan santai kearag wastafel dan mencuci tangan disamping Changmin.

“Dari Qian?” tanya Kyuhyun ringan seraya mengambil tisu untuk mengeringkan tangannya. Shim Changmin mengangguk pelan.

“Kyuhyun-ah, kita harus bicara.” Kyuhyun tersenyum miring mendengar nada bicara Changmin yang terdengar sangat gugup.

“Sudahlah, lupakan apa yang sudah terjadi. Aku senang kau bersamanya.” Ujar Kyuhyun seraya menatap sahabatnya itu dengan senyuman tipis. Changmin juga menatap Kyuhyun dan tersenyum lega.

Jinjja? Aku senang mendengarnya.” Kyuhyun mendecih lalu menatap Changmin tajam.

“Ya, tidak masalah bagiku memberimu gadis brengsek sepertinya.” Tukas pria itu tajam lalu segera keluar dari toilet, membuat Changmin melunturkan senyumannya dan hanya bisa terdiam disana dengan hati yang lebih berat dari sebelumnya. Jujur, ia ingin berbaikan dengan Kyuhyun dan memulai persahabatan mereka lagi. Tapi, tiap kali ia ingin bertemu Cho Kyuhyun. Pria itu selalu bisa menghindar.

***

“Astaga, apa yang dilakukan pria ini? bagaimana jika—Aish!”

Gerutuan Eunhyuk seketika keluar saat membaca obrolan pesan Cho Kyuhyun dan Sam Rin Hyo di ponsel Cho Kyuhyun. Member lain yang awalnya lebih memilih untuk tidur atau bermain game itu menatap Eunhyuk dengan pandangan tak suka.

“Ya! Ada apa?” tanya Leeteuk yang baru saja bangun dari tidurnya.

Hyeong! Cepat lihat ini!” panggil Eunhyuk seraya melambaikan tangannya pada Leeteuk. Namun bukan hanya Leeteuk yang menghampiri Eunhyuk. Juga  Sungmin, Kangin, Ryeowook, Heechul, dan Shindong ikut menghampiri pria itu. Siwon sedang berada di Korea untuk syuting film.

“Ya Tuhan! Apa ia ingin muncul skandal besar?” Pekik Shindong.

“Apa pria ini bodoh?” umpat Heechul.

Heol!” seru Ryeowook dengan wajah tak percayanya. Sedangkan Leeteuk, Kangin dan Sungmin hanya bisa diam, entah apa yang mereka pikirkan.

“Apa yang kalian lakukan?” Kerumunan itu seketika bubar saat mendengar suara datar pria yang tak lain dan tak bukan adalah Cho Kyuhyun. Lee Donghae yang masih terkejut hanya bisa menatap Kyuhyun dengan tangan yang masih menggenggam ponsel Cho Kyuhyun.

Kyuhyun yang tahu jika para hyeong-nya itu tengah membaca pesannya sontak segera merampas ponselnya dari tangan Donghae dengan kasar. Ia memeriksa ponselnya sebentar lalu menatap satu per satu hyeong-nya dengan penuh amarah. “Apa yang kalian lakukan, hah?! Aish, menyebalkan.” Ujar pria itu kesal lalu berbalik hendak pergi dari sana.

“Ya! Cho Kyuhyun! Kau duduk disini!” langkah pria itu terhenti saat mendengar suara tegas Leeteuk memanggilnya. Pria itu menghembuskan napas panjang sebelum berbalik dan mematuhi ucapan leader-nya untuk duduk disofa dengan hyeong – hyeong yang mengelilinginya dengan pandangan menelisik.

Mwo?” tanya Cho Kyuhyun berusaha menutupi rasa gusarnya.

“Bagaimana bisa kau menceritakan semua hal yang bisa memunculkan skandal pada seseorang yang bahkan kau tidak tahu wajahnya. Bagaimana jika ia membeberkan semuanya pada media? Atau jangan – jangan ia memang media yang sengaja untuk—“ Leeteuk menghela napasnya dalam – dalam seraya memijit pelipisnya frustasi. “Oke, begini. Jadi siapa Sam Rin Hyo? Bagaimana kau bisa mendapat nomornya?” tanya Leeteuk dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya.

Cho Kyuhyun membuang napasnya kasar, aku tahu ini akan terjadi batinnya. “Dia sparkyu, aku mendapatkan nomor ponselnya dari surat yang ia berikan padaku.” Ujar Kyuhyun ringan.

M—mwo?! Kau benar – benar… apalagi dia seorang sparkyu. Apa kau bodoh, Kyuhyun-ah? Kau tahu sendirikan bagaimana sensitifnya fans jika berkaitan tentang berita kencan idolanya?” Omel Eunhyuk dengan napas menggebu.

“Dia tidak seperti itu. kami sudah sering saling menelfon dan kau juga membaca pesannya kan? Ia bukan fans yang seperti itu. Entahlah, dia… sepertinya dia hanya menganggapku sebagai idola yang harus ia lindungi. Ya, seperti itu.”

“Tapi, tetap saja! Kau—“

“Sudahlah. Jika memang ia akan membeberkan semuanya, pasti skandal ini akan terkuak beberapa minggu yang lalu. Aku berhubungan dengannya selama hampir satu bulan, dan kalian tahu sendirikan jika tidak ada apapun yang terjadi?” cecar Cho Kyuhyun pada semua hyeong-nya berusaha meyakinkan jika semuanya berjalan dengan baik – baik saja.

Leeteuk menghela napasnya berat. “Keure, kau benar. Untungnya Sam Rin Hyo adalah gadis yang seperti itu. Tapi, jangan sampai hal ini terulang lagi. Jika saja kalian salah orang, bisa – bisa akan jadi sangat runyam. Dan kau Cho Kyuhyun! Lebih baik kau berhenti menghubunginya. Dia bisa saja berharap besar padamu yang tidak akan mungkin bersamamu dalam hubungan yang lebih serius lagi.” Kyuhyun mengernyit mendengar kalimat akhir Leeteuk yang entah mengapa membuatnya tidak terima.

“Kenapa tidak mungkin?” tanyanya spontan membuat Leeteuk melebarkan kedua matanya terkejut. Karena, tipikal gadis ideal Cho Kyuhyun itu harus hampir mendekati kata sempurna. Dalam benak pria itu, lebih baik lama tidak berpacaran daripada harus berpacaran dengan gadis biasa saja. Cho Kyuhyun suka gadis yang setara dengannya.

“Kau berniat untuk menjalin hubungan dengannya?” tanya Leeteuk yang terkejut, begitu pun dengan semua hyeong-nya. Kecuali Sungmin yang hanya bisa mengulum senyum. Cho Kyuhyun terbatuk karena gugup lalu tertawa hambar.

“tentu saja tidak. Bicara apa aku tadi?” ujar Kyuhyun dengan senyuman asingnya.

***

Sam Rin Hyo duduk bersila didepan gedung SM ent. dengan sesekali menghembuskan napas lelahnya. Ia menatap jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya lalu kembali menghela napas gusar.

“Berapa lama lagi kita harus menunggu? Ini sudah jam dua belas lebih lima belas menit. Dan kau tidak merasa kalau udaranya mulai panas? Aku tidak tahan lagi.” Keluh Rin Hyo seraya menatap Soo Jin kesal.

“Kau masih tiga puluh menit disini, Hyo. Dan sudah mengeluh? Bahkan aku pernah menunggu hingga berjam – jam.”

Heol. Kau benar – benar hebat!” Rin Hyo mengacungkan dua ibu jarinya seraya menatap Lee Soo Jin dengan kagum. Tiba – tiba Soo Jin mengulas senyuman anehnya.

“Kau aneh hari ini, fansign saja kau tidak pernah datang. Dan sekarang, sekalinya kuajak untuk menunggu Super Junior keluar dari gedung saja kau mau.” Rin Hyo tertawa pendek mendengar penuturan Soo Jin. Ia juga tidak tahu mengapa begini, rasanya ia ingin sekali melihat Cho Kyuhyun. Terkadang muncul dibenaknya pertanyaan seperti apa ia tahu jika aku Sam Rin Hyo?

“AAAA!!! OPPAAAA!!!” Teriakan yang melengking dari belakang tubuh Rin Hyo itu membuat gadis itu langsung berdiri dari tempatnya. Melebarkan banner-nya seraya menatap satu per satu member Super Junior yang keluar dari gedung dibarisan paling depan. Semua orang disana terlihat melambaikan tangan pada fans. Namun itu tak penting untuk Rin Hyo, yang ingin ia lihat sekarang adalah Cho Kyuhyun. Hingga akhirnya tatapannya terhenti pada seorang pria yang memakai kaus garis – garis berwarna biru putih dengan celana jeans hitam. Baru kali ini ia melihat Cho Kyuhyun setampan itu. Sesederhana itu dan setampan itu.

Sam Rin Hyo mengatupkan bibirnya seraya menatap Cho Kyuhyun dengan penuh harap. Napasnya tercekat saat Kyuhyun juga menatapnya, melempar senyum padanya setelah itu memasuki mobil. Kejadian itu terjadi sangat cepat, mungkin tidak sampai lima detik. Tapi berdampak besar bagi Sam Rin Hyo. Gadis itu hanya terdiam saat para fans lainnya mengejar mobil van Super Junior yang sudah melaju meninggalkan gedung. Ia menekan dadanya, merasakan degupan cepat jantungnya yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Perlahan senyumannya terulas.

 

Tuhan… apa ini? mengapa berdegup seperti ini?

 

***

Drrt Drrt

Cepat – cepat Rin Hyo mengangkat teleponnya dengan senyuman yang merekah lebar di bibirnya. Ia bahkan mencampakkan novel kesukaannya diatas ranjang. Lebih memilih mengambil ponsel itu, berlari kebalkon kamarnya dan mengangkatnya.

“Yeoboseyo?

Eo! Kau belum tidur?

            “Ck, apa hanya itu pertanyaan yang bisa kau tanyakan padaku?”

Tch, tentu saja tidak. Apa kau pikir aku pria yang sekaku itu?

            “Eum… sejujurnya, aku pernah berpikiran seperti itu.” ujar Rin Hyo dengan nada serius.

MWO?! Ya! Kau bercanda, kan? Aku bukan pria yang kaku!

            Sam Rin Hyo hanya tertawa mendengar nada rajukan yang terdengar dari seberang sana.

Em… Rin Hyo-ah!

            “Hm? Mwo?

Besok sore… datanglah ke fansign. Aku menunggumu disana.

            “Dimana?”

Cheonjoo

            “Cheonjoo? Akan memakan waktu satu jam dari rumahku kesana. Lain kali saja, ya? Jika tempatnya tidak terlalu jauh aku akan datang.”

Kau ini Sparkyu atau bukan, hah?! Sekali – kali kau harus mengorbankan sesuatu untuk idolamu. Kau hanya perlu mengorbankan waktumu besok, kenapa susah sekali, huh?!

            “Aish, tapi itu jauh, Cho Kyuhyun!”

Aku tidak mau tahu. Kau harus datang besok. Ah, kebetulan fansign adalah jadwal terakhirku. Jadi, aku bisa menunggumu sampai kau datang. kau harus benar – benar datang, Arasseo?!

            “Hah, ara! Aku akan datang. Kau memang pemaksa yang mengerikan!”

Terserah. Yang penting jangan lupa kau-besok-harus-datang!

            “Ya, aku akan datang. Ah, iya! Tadi… aku melihatmu keluar dari gedung. Dan kau juga melihatku.”

Jinjja?! Aku sudah lupa. Lagipula besok kita juga akan bertemu.

            “Ya, kau bertemu banyak orang tiap harinya. Bagaimana bisa mengingat mereka satu per satu.” Ujar Rin Hyo dengan nada tak bersemangat. Nada bicara Kyuhyun yang tak terlalu tertarik dengan topik yang diangkatnya membuat ia kembali jatuh. Berbeda dengannya yang sangat semangat mengatakan jika ia bertemu dengan Cho Kyuhyun.

Oh Astaga Sam Rin Hyo! Kau mengharapkan Cho Kyuhyun?! Kau bodoh!

 

Setelah ini pesawat take off, aku tutup dulu ya!

            “Eo! Semoga lancar.”

Em, Sampai jumpa besok!

            Rin Hyo menutup teleponnya dengan helaan napas berat. Ia menatap kelangit yang kosong tanpa bintang. Bintang? Ia jadi ingat Cho Kyuhyun. Apa pantas seorang manusia biasa sepertinya menyukai bintang seperti Cho Kyuhyun?

“Ini gila.”

***

Sam Rin Hyo memasukkan buku – bukunya kedalam tas lalu menggantungkan tas selempangnya itu pada bahu kanannya. Wajahnya terlihat begitu berseri dan entahlah, hari ini seperti hari yang sangat ia sukai. Terbukti dari bagaimana tadi gadis itu semangat dalam belajar-hal ini adalah kejadian yang sangat langka terjadi pada Sam Rin Hyo, gadis itu juga sering mengacungkan tangan saat dosen mengajukan pertanyaan, dan hal – hal mengejutkan lainnya. Yang ada dipikiran gadis itu kini adalah bagaimana caranya ia mempercepat waktu hingga nanti sore, lalu bertemu dengan Cho Kyuhyun.

“Kau berbeda hari ini. sangat sangat berbeda dari biasanya.” Celetuk Son Dongwoon yang sejak tadi sudah menyanggah kepalanya seraya menatap tingkah Sam Rin Hyo dan juga senyuman manis gadis itu yang selalu terpantri dibibirnya. Rin Hyo menoleh kearah Dongwoon lalu semakin melebarkan senyumannya. Gadis itu kembali menjatuhkan pantatnya diatas kursi lalu mencubit kedua pipi Son Dongwoon dengan gemas.

“Aku sangat sangat bahagia hari ini, Dongwoon-ah! Mengapa sore hari datangnya lama sekali, huh?!” ujar gadis itu seraya tersenyum lebar. Dongwoon tersenyum manis pula.

“Ah jadi, kau tidak sabar untuk berkencan denganku nanti sore, begitu?”

“Hm?!” Perlahan Sam Rin Hyo melunturkan senyumannya, namun sebelum benar – benar luntur. Ia mengingat sesuatu.

Tiga hari lagi berkencan dengan Son Dongwoon! Astaga! Pergi dengan Son Dongwoon, tepatnya hari ini. Bodoh, bodoh.

 

            Gadis itu cepat – cepat mengulas senyuman lebarnya lagi. “Ya, kau benar sekali! Aku tak bisa membayangkan hal apa yang nanti akan kau perlihatkan padaku. Bukannya kau bilang waktu itu, nanti akan sangat mengejutkan dan istimewa?” Sam Rin Hyo menggelakkan tawa palsunya seraya menepuk bahu Dongwoon yang hanya dapat menatap sahabatnya itu bingung.

“Kau tidak sedang berpura – pura mengingatnya, kan? Jangan – jangan kau sedang ada janji lain dengan seseorang nanti sore?!” Dongwoon menatap Rin Hyo dengan tatapan memincing curiga. Sontak kedua mata Rin Hyo melebar, Son Dongwoon bukan orang bodoh yang mudah kau bohongi, Sam Rin Hyo! Lebih baik kau pergi sekarang juga! Kabur!

“Tentu saja aku mengingatnya. Ah, Dongwoon-ah! Tiba – tiba aku ingin naik bus saat pulang. Aku duluan, ya! Soo Jin sudah menungguku didepan gerbang kampus.” Dongwoon masih menautkan dahinya seraya menatap Sam Rin Hyo yang berjalan cepat menuju pintu kelas. Sebelum benar – benar keluar dari sana, Rin Hyo berbalik melambaikan tangannya pada Dongwoon seraya berucap “Sampai jumpa nanti sore!” setelah itu ia berlari menjauh dari kelas.

Saat dirasa sudah cukup dekat dengan gerbang kampus, Rin Hyo mulai merutuki kebodohannya dengan umpatan – umpatan kesal. Tangannya sudah sesekali memukul kepalanya pelan. “Bodoh, bodoh, sekarang kau harus bagaimana Sam Rin Hyo?! Bagaimana, hah?!” gerutunya sampai ia memasuki bus dan duduk dikursi paling belakang. Tepatnya dipojok dekat jendela.

“YA! Sam Rin Hyo! Tumben sekali kau pulang dengan bus. Son Dongwoon ada urusan lagi, huh?!” tubuh Rin Hyo hampir saja melompat saat Soojin menepuk bahunya dan juga berujar seperti itu padanya. Sam Rin Hyo menatap Soojin melotot lalu mendesis kesal.

“Aku hanya ingin naik bus. Dan Dongwoon sedang tidak ada urusan” jawab Rin Hyo seadanya lalu menyandarkan kepalanya pada kaca jendela bus. Ia memejamkan kedua mata dan yang ada dibayangannya adalah Cho Kyuhyun menunggunya sebentar lalu segera pulang. Seketika kedua matanya terbuka. Ya, tidak mungkin Cho Kyuhyun akan menunggunya sampai ia datang. Pasti pria itu lelah dan akhirnya cepat – cepat pulang, atau lebih parahnya lagi pria itu mungkin saja melupakan janjinya. Karena sejak tadi pagi, pria itu tak menghubunginya sama sekali. Ya, semoga seperti itu. jika seperti itu, ia bisa pergi dengan Son Dongwoon yang sudah mengajaknya sejak tiga hari yang lalu.

“Rin Hyo-ah, kau tidak ikut fanssign nanti sore di cheonjoo?” Sam Rin Hyo melirik Soojin malas lalu menggedikkan bahunya. “Aish, seharusnya kau ikut saja! Bukankah kemarin kau sudah sangat senang saat melihat Cho Kyuhyun yang keluar dari gedung? Jika kau ikut fanssign kau akan lebih senang lagi dari pada kemarin. Disana kau bisa—“ Soojin mulai bercerita tentang bagaimana jalannya fanssign mulai dari awal hingga akhir.

“Memangnya biasanya selesai jam berapa?”

“Entah, antara 3 sampai 4 jam? Jika ada pertunjukan kejutan dari Super Junior biasanya hingga 4 jam.” Sam Rin Hyo mengangguk – angguk mengerti mendengar penuturan Soojin.

Apa aku harus kesana nanti?

 

***

Tuk Tuk Tuk

            Ujung sepatu Dongwoon mengetuk – ketuk lantai ruang tamu rumah Sam Rin Hyo dengan bibir yang sesekali mengembung lalu mengempis. Pria itu mengangkat pergelangan tangannya, memang Sam Rin Hyo tidak terlambat. namun ia yang terlalu cepat menjemput gadis itu.

Aigoo lihatlah dirimu, Son Dongwoon! Tidakkah kau dilahirkan dengan wajah yang terlalu tampan?” Suara lembut khas wanita paruh baya membuat Dongwoon beranjak dari tempat duduknya. Menoleh kearah wanita berparas cantik yang juga melahirkan gadis cantik yang sudah berhasil merebut hatinya, Sam Rin Hyo.

“Ck, aku sudah sangat lelah mendengar pertanyaan itu eommonim.” Rajuk Dongwoon seraya memasang wajah kesal berlebihan yang terkesan dibuat – buat. Nyonya Sam terkekeh pelan seraya menaruh nampan yang diatasnya terdapat secangkir teh hangat diatas meja tamu.

Keure, keure arasseo! Kau bisa meminum tehmu sekarang.” Ujarnya kemudian duduk disamping Dongwoon yang juga sudah duduk dan segera menyambar teh hangat buatan Nyonya Sam yang selalu membuat hatinya menghangat pula. Pria itu menyeruput sedikit, setelah itu menaruhnya kembali diatas meja.

“Bagaimana kabar abonim? Dia sehat – sehat saja, kan di Amerika?” Tanya Dongwoon yang langsung disambut helaan napas dalam dari Nyonya Sam. Ayah Sam Rin Hyo memang bekerja di salah satu perusahaan besar di Amerika sebagai kepala manager design and artistic.

“Pria tua itu, ya? dia mungkin sedang menikmati hidupnya disana. Lihat saja, dia bahkan sudah 5 bulan tidak pulang.”

“Mungkin abonim sedang sibuk. Mengapa eommonim berpikiran seperti itu, hm?” Nyonya Sam lagi – lagi menghela napasnya berat lalu mengibaskan tangan kanannya tak peduli.

“Lupakan tentang pria tua yang tidak pulang – pulang itu, Sam Rin Hyo sebentar lagi mungkin selesai. Ada beberapa hal yang harus kuurus didapur.” Dongwoon mengangguk mengerti bersamaan dengan Nyonya Sam yang beranjak dari tempatnya. Baru saja wanita itu hendak berbalik tiba – tiba suara berisik yang berasal dari lantai atas menghentikkan gerakan Nyonya Sam. “Gadis itu benar – benar… YA! SAM RIN HYO! TIDAK BISAKAH KAU PELAN – PELAN SAJA?! APALAGI SEKARANG YANG KAU RUSAKKAN, HAH?!” teriak Nyonya Sam kemudian cepat – cepat membalikkan badannya, hendak menghampiri suara gaduh itu. Namun belum sempat ia melangkah, Rin Hyo sudah berdiri dihadapannya dengan cengiran tanpa dosanya.

Eomma, kenapa kau berteriak seperti itu, huh? tidak enak dilihat tamu.” Ujar Rin Hyo seraya melongokkan kepalanya untuk menatap Dongwoon yang tengah tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya. “Hai!” sapa gadis itu sambil mengangkat sebelah tangan dan melambai kecil. Dongwoon hanya bisa menghela napas jengah seraya membalas lamabaian tangan itu.

“Tamu apanya… kau merusakkan apa lagi, huh?!” omel Nyonya Sam seraya mengacungkan jari telunjuknya tepat didepan wajah Rin Hyo. Gadis itu hanya biasa memejamkan kedua mata lalu menghela napas frustasi.

Eomma… itu… aku hanya menyandung kardus yang berada didepan kamar eomma saja. Tidak lebih.” Kedua mata ibunya seketika melebar saat mendengar kata kardus. Apalagi ditambah kenyataan jika itu terletak didepan kamarnya.

“Kau benar- benar… itu adalah guci yang baru saja kubeli, jika itu pecah aku akan—“

Eo! Eomma! Aku harus segera pergi!” Rin Hyo cepat – cepat mengecup pipi ibunya lalu melambai kuat pada wanita nomor satunya itu. “Aku pergi. Saranghae!” teriak gadis itu seraya menarik tangan Dongwoon agar segera pergi dari sana.

“Cepat buka pintu mobilnya!” tukas Rin Hyo gusar seraya menggoyang – goyangkan lengan Dongwoon. Pria itu lagi – lagi hanya bisa menghela napas jengah dengan tangan kanan yang memencet kunci otomatis mobil. Setelah mendengar suara beep beep, Rin Hyo segera berlari memasuki mobil Dongwoon dan menyuruh pria itu agar segera melajukan mobilnya. “Aish, aku bisa mati.” Rutuknya saat mobil itu sudah melaju.

Dongwoon melirik Rin Hyo sebentar lalu menggeleng tak percaya. “Kau itu seharusnya meminta maaf, bukannya malah melarikan diri seperti tadi.” Tutur Dongwoon yang hanya dibalas lirikan kesal dari Rin Hyo.

“Aku sudah diteriaki ibuku, dan kau sekarang masih saja menasehatiku?! Aish, sudahlah, lupakan saja, sekarang kita mau kemana, hm? Ini belum waktunya makan malam, dan perutku masih belum lapar.” Dongwoon memutar bola matanya malas sebelum menjawab pertanyaan Rin Hyo.

“Apa hanya makan yang ada dipikiranmu, huh? Nanti kita makan malam bersama, sebelumnya terserah kau mau kemana.” Seketika Rin Hyo menatap Dongwoon dengan berbinar.

Jinjja?! Baiklah, sekarang kita ke game center! Kajja!!!!”

 

***

“Sudah selesai.” Ujar stylish noona setelah hampir 30 menit Kyuhyun harus duduk didepan kaca yang dipinggirannya terdapat lampu – lampu yang menyoroti wajahnya. Cho Kyuhyun menggerakkan kepalanya kesamping kanan dan kiri lalu tersenyum puas pada stylish noona. “Kau melakukannya dengan sangat baik, noona. Seperti biasanya.” Pujinya seraya mengacungkan dua jempol untuk gadis yang lebih tua lima tahun darinya itu. Gadis itu hanya tersenyum kecil lalu mengibaskan tangannya sebelum meninggalkan Cho Kyuhyun yang masih duduk disana seraya menatap pantulan dirinya dicermin itu.

Ia terdiam beberapa menit, napasnya berhembus teratur namun tidak dengan dadanya yang masih terasa sesak. Kyuhyun mengambil ponsel yang berada diatas meja rias lalu memeriksanya. “Tch, apa dia benar – benar akan datang?” gumamnya pelan seraya menatapi nama kontak yang tertera nama Sam Rin Hyo disana.

Mungkin memang ia sudah sedikit gila dengan menyuruh gadis itu datang diacara fanssign. Entahlah, yang terpenting saat ini ia benar – benar penasaran seperti apa Sam Rin Hyo. Gadis yang akhir – akhir ini sering muncul dipikirannya. Ya, hanya penasaran dan tidak lebih dari itu. Lagipula, ia pikir Sam Rin Hyo tidak akan berharap terlalu banyak padanya. Karena, selama berhubungan dengan gadis itu melalui ponsel ia merasa gadis itu bukanlah gadis yang mudah jatuh cinta pada seorang pria tampan. Ya, memang dia seorang Sparkyu. Tapi entahlah, Kyuhyun merasa jika sparkyu yang ini berbeda dari sparkyu lain.

Tubuh Kyuhyun menegang saat sebuah tangan meremas bahunya pelan. Ia menoleh keatas dan mendapati Donghae yang menatapnya dengan tatapan penuh peringatan. Kyuhyun mengernyitkan dahi, tak mengerti dengan arti tatapan pria pendek itu. Mengerti, Lee Donghae menggedikkan kepalanya kearah ponsel Kyuhyun. “Jangan menghubunginya lagi! Kalau perlu hapus saja nomornya! Kami akan mengawasimu!” titah Donghae seraya mengacungkan jari telunjuknya kemudian pergi meninggalkan Kyuhyun yang tertawa pendek lalu mencampakkan ponselnya diatas meja rias lagi.

“Apa – apaan pria itu tadi! Menyebalkan sekali!” umpat pria itu sambil sesekali melirik ponselnya yang tak bergetar sama sekali. “Ck, mengapa gadis itu tak menghubungiku sama sekali?!” rutuknya lagi.

Yedeul-ah, ayo berkumpul! Kita briefing!” suara tegas Leeteuk membuat Kyuhyun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju sofa yang berada ditengah – tengah ruang ganti Super Junior ini. Kyuhyun duduk disebelah Siwon, tepat dihadapan Leeteuk yang berada ditengah – tengah. Ya, spot yang sangat cocok untuk seorang leader.

“Hari ini tidak ada penampilan kejutan. Jadi hanya 3 jam, mengerti?” ujar Leeteuk yang hanya dibalas anggukan dari dongsaeng – dongsaengnya itu. “Dan, jangan menyimpan nomor fansmu lagi jika kau memang tidak benar – benar serius padanya! Jangan terlalu percaya pada seseorang dengan mudah, mengerti?!”

NE!!!” jawab member Super Junior serempak kecuali Sungmin dan Kyuhyun. Mereka semua menatap Kyuhyun dengan pandangan penuh arti, sedangkan Sungmin hanya bisa menghela napas berat saat mendapati wajah badmood Cho Kyuhyun yang terlihat sangat jelas.

“Kenapa aku lagi?” gumam Kyuhyun lalu segera beranjak dari tempatnya dan keluar untuk mencari udara segar.

***

Sam Rin Hyo menghentak – hentakkan kedua kakinya diatas mesin yang biasa disebut mesin pump itu dengan wajah serius dan kedua mata yang hanya terfokus pada layar besar dihadapannya. Inilah kesenangan lain dari Sam Rin Hyo selain tidur, makan, dan membaca novel. Datang ke game center dan bermain sepuasnya.

Woah! Aku dapat S, Dongwoon-ah kau melihatnya kan? Bahkan dengan level 10 dan speed yang lebih dari 3 aku bisa mendapat S. Ini pertama kalinya, jadi harus kufoto.” Celoteh Rin Hyo seraya sibuk memfoto layar yang menampakkan poin yang ia dapat itu meski lehernya sudah dikucuri oleh keringat. Rin Hyo hanya mengeluarkan sedikit keringat diwajahnya, tapi tidak dengan lehernya.

Dongwoon menghampiri gadis itu dengan selembar sapu tangan kemudian mengusap keringat gadis itu dengan sangat telaten. Semua orang yang mengunjungi game center ini jika tidak mengenal mereka pasti mengira jika Son Dongwoon dan Sam Rin Hyo adalah sepasang kekasih.

“Kau tidak bisakah memainkan permainan lain yang tidak membuatmu mengucurkan keringat seperti ini, huh?!” omel Dongwoon seraya masih mengusapi keringat Rin Hyo. Gadis itu tersenyum kecil lalu mengacak rambut Dongwoon asal.

“Aku sangat menyukai ini, Dongwoon-ah! Jadi aku harus bagaimana, hm?” ujar Rin Hyo seraya mengeluarkan aegyonya yang hanya dibalas desisan kesal oleh Dongwoon. Rin Hyo tertawa keras lalu menyambar sapu tangan Dongwoon agar ia lebih leluasa mengusap keringat dilehernya. Ia suka membuat Dongwoon kesal. “Gomawo.” Tukas gadis itu lagi.

Sam Rin Hyo duduk dikursi yang tak jauh dari area game center itu lalu meminum air mineral yang sebelumnya sudah ia beli disuper market. “Ah, segarnya.” Komentar gadis itu seraya menutup botol minuman itu.

“Sekarang apalagi?” tanya Dongwoon saat Rin Hyo mengeluarkan ponselnya dengan segaris senyuman penuh arti. Rin Hyo melirik sahabatnya itu sebentar lalu kembali menggeluti ponselnya.

“Apalagi selain men-upload scoreku ke instagram. Pasti teman – temanku akan iri saat melihat foto ini. hahaha.” Seru gadis itu dengan tangan yang dengan lihainya menari – nari diatas layar ponselnya. Setelah itu, ia men-scroll timeline instagramnya keatas. Jari nya berhenti saat menatap sebuah foto yang diupload oleh Soojin. Baru 3 menit yang lalu. Foto tenda panjang yang sekarang dipakai Super Junior untuk melakukan sesi fan sign di Cheonjoo.

Aku tidak mau tahu. Kau harus datang besok. Ah, kebetulan fansign adalah jadwal terakhirku. Jadi, aku bisa menunggumu sampai kau datang. kau harus benar – benar datang, Arasseo?!

 

            Rin Hyo segera menggelengkan kepalanya kuat. Ia tertawa hambar lalu berkata, “tidak mungkin.” Tidak mungkin bukan, Cho Kyuhyun menunggu seseorang yang bahkan tak pernah ia temui. Seseorang yang hanya menjadi pendengar setianya. Penggemarnya. Jujur, ia menyukai suara Cho Kyuhyun dalam hal apapun. Suaranya saat bicara, menyanyi, terbatuk sekalipun. Ia menyukainya. Tapi, ia membenci suara Kyuhyun yang tengah galau karena menceritakan mantan kekasihnya itu.

“Apanya yang tidak mungkin?” tanya Dongwoon yang sudah mengangkat sebelah alisnya seraya menatap Rin Hyo penuh tanya. Sam Rin Hyo berkedip cepat lalu kembali mengulas senyuman lebarnya.

Ania. Lupakan. Dongwoon-ah, kau tidak lapar?” tanya Rin Hyo seraya mengelus perutnya dan menatap Dongwoon dengan melas.

“Tentu saja, ayo makan.”

***

Decakan kagum berkali – kali keluar dari bibir Sam Rin Hyo saat mereka memasuki sebuah restoran yang bernama Rose. Design interior dari restoran ini lebih mengedepankan aksen eropa yang sangat kental. Begitu elegan dan mewah.

“Kau yakin ingin makan disini?” bisik Rin Hyo pada Dongwoon yang hanya melempar senyuman manisnya. Pria itu mengangguk pelan menjawab pertanyaan Sam Rin Hyo. “Kau yang membayar, kan?” tanya gadis itu lagi hati – hati. Ya, wajar saja Rin Hyo bertanya seperti itu. karena, biasanya mereka bergantian saling mentraktir satu sama lain. Dan jika saja Rin Hyo yang harus membayar tagihan kali ini, gadis itu akan membawa Dongwoon keluar. ia yakin, makanan disini sangat mahal.

“Tentu saja.” Singkat Dongwoon seraya menggenggam tangan Rin Hyo agar berjalan mengikutinya. Rin Hyo menatap Dongwoon dengan tatapan tak percaya, ia tahu Son Dongwoon memang mempunyai keluarga yang kaya raya. Tapi, tidak biasanya pria ini menghamburkan uang hanya untuk makan ditempat seperti ini. “Sampai!” tukas Dongwoon seraya menatap Rin Hyo yang sejak tadi menatapnya dengan segaris senyuman tipis. Rin hyo menoleh kedepan, dan kembali terkejut dengan apa yang ada dihadapannya. Mereka kini berada diatap gedung restoran ini. dan meja makan itu, benar – benar indah. Seperti yang biasa ia lihat ditelevisi, ah tidak! Masih lebih mengagumkan yang ini.

“Terkejut?” Tanya Dongwoon pada Rin Hyo yang masih mengangakan mulutnya. Gadis itu mengangguk – angguk beberapa kali seraya menjawab “Eo! Sangat terkejut.” Dongwoon tertawa kecil lalu kembali menarik tangan Rin Hyo agar ia duduk disana.

“Bukankah aku sudah bilang, jika ini adalah makan malam yang mengejutkan dan istimewa?” tanya pria itu dengan senyuman jahilnya. Rin Hyo ikut tersenyum pada pria itu lalu kembali terperangah saat ada seorang vionis yang memainkan biola disampingnya. “Kau bilang ingin menonton pertunjukan musik orchestra demi melihat vionis menggesek biolanya. Kau tidak usah jauh – jauh sekarang, kau bisa mendengarnya.” Sam Rin Hyo memandang Son Dongwoon dengan pandangan aneh.

“Kau benar – benar aneh hari ini, Dongwoon-ah. Tapi hari ini aku sangat menyukaimu.” Seru Rin Hyo cepat sebelum kembali menikmati alunan biola yang diciptakan dari gesekan sang vionist itu.

Drrt Drrt

 

From : Soojin

            Kau benar – benar tidak datang? Acaranya akan selesai 30 menit lagi.

 

            Tangan kanan Sam Rin Hyo yang tengah menggenggam ponsel itu melemas seketika. Semua keindahan yang sempat mengalihkan pikirannya sesaat itu hilang begitu saja. Tiba – tiba ia sudah tidak ingin mendengar gesekan biola, tidak lagi nafsu makan dan ingin segera pergi dari sini.

Aku tidak mau tahu. Kau harus datang besok. Ah, kebetulan fansign adalah jadwal terakhirku. Jadi, aku bisa menunggumu sampai kau datang. kau harus benar – benar datang, Arasseo?!

Lagi – lagi ucapan Kyuhyun saat itu memenuhi benaknya. Rasanya seperti ingin meledakkan kepalanya sekarang juga. “Huuh.” Helaan napas berat itu keluar lagi bersamaan dengan berhentinya alunan indah biola itu. Dongwoon yang menyadari ada perubahan raut wajah Rin Hyo setelah gadis itu membaca pesannya, mengerutkan dahi.

“Ada apa?” Rin Hyo mengulas senyuman palsu yang sebenarnya sejak tadi sudah disadari oleh Dongwoon.

“Tidak ada apa – apa.” Jawab gadis itu lalu segera memasukkan ponselnya kesaku. Dongwoon hanya menghela napasnya, sebenarnya ia ingin menanyakan apa yang membuat gadis itu gusar. Namun, ia juga tidak ingin kecewa dengan jawaban yang akan dilontarkan Rin Hyo nanti. Karena entah mengapa, rasanya seperti ada yang tidak benar dengan gadis itu sekarang.

Sam Rin Hyo tiba – tiba menjadi pendiam. Sesekali gadis itu menyentuh sakunya yang berisi ponsel dengan helaan napas gusar. Sebenarnya ia sangat ingin mendatangi acara fans sign itu. namun tidak mungkin hal itu terjadi, karena ia tidak ingin mengecewakan Dongwoon yang sudah menyiapkan ini semua untuknya.

Terserah. Yang penting jangan lupa kau-besok-harus-datang!

“Aish, jinjja! Pria itu…” rutuk Rin Hyo tanpa sadar. Son Dongwoon yang baru saja hendak mengangkat tangannya untuk memesan sesuatu kembali menatap Rin Hyo. Sudah, ia sudah tidak tahan lagi.

“Apa kau ada janji lain hari ini? jika itu sangat penting, kau bisa pergi kesana.” Rin Hyo menatap Dongwoon dengan menggigit bibir bawahnya, takut pria itu kecewa.

“Bukan begitu, ini… aku hanya… Aish, aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa padamu!”

“Tenangkan dirimu dan bicaralah.” Ujar Dongwoon seraya menatap Rin Hyo lembut. Sam Rin Hyo menarik napasnya dalam – dalam lalu menghembuskannya pelan.

“Aku menyukainya. Ah tidak, kurasa aku sudah terlanjur mencintainya.” Dada Dongwoon tiba – tiba terasa sesak, dahinya mengernyit tak mengerti.

“Terlanjur mencintai siapa?” Dongwoon berusaha sebisa mungkin untuk mengeluarkan nada yang terdengar normal.

“Cho Kyuhyun. Hari ini ia menyuruhku mendatangi acara fans sign. Tidakkah ini gila, Dongwoon-ah? Aku mencintainya bukan karena ia Super Junior’s Cho Kyuhyun. Tapi karena pria itu adalah seorang pria yang bernama Cho Kyuhyun.” Jelas rin Hyo seraya menunduk. Ia terlalu malu untuk mengakui ini. Karena sejujurnya, ia juga terkejut saat menyadari perasaannya.

Son Dongwoon terdiam beberapa menit, menghela napasnya berat lalu mengulas senyuman terbaiknya pada Rin Hyo. “Kalau begitu pergilah! Mengapa tidak bilang dari tadi, huh?!” Son Dongwoon memasang wajah marahnya pada Rin Hyo yang terlihat menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah.

“Aku tidak ingin membatalkan janji kita.” Ujar gadis itu lirih. Dongwoon tersenyum kecil seraya mengacak rambut gadis itu gemas. “aku tidak apa – apa, pergilah! Akan kuantarkan. Memangnya dimana—“ ucapan Dongwoon terhenti saat sebelah tangan Rin Hyo terangkat sempurna.

“Aku akan pergi sendiri. Aku sangat menyesal, Dongwoon-ah!” ujar Rin Hyo, kembali menampakkan wajah penuh sesalnya. Dongwoon mengubah raut wajahnya seperti anak kecil yang sangat kecewa.

“Aku sangat kecewa padamu.jadi, tidak bisakah kau memberiku sebuah pelukan?” pinta pria itu. Sam Rin Hyo segera beranjak dari tempatnya dan menghampiri pria itu untuk memeluk tubuh atletis sahabatnya yang paling tersayang itu. “Aku minta maaf.” Ujar gadis itu lagi. Dongwoon tersenyum seraya menggosok – gosok punggung Rin Hyo. “Sudah, sekarang kau boleh pergi!” ujar Dongwoon sambil melepaskan pelukannya. “Hati – hati dijalan!” ujar pria itu lagi seraya melambaikan tangan. Rin Hyo tersenyum terharu pada Dongwoon lalu melambaikan tangan setelah menyambar mantelnya.

Seorang pelayan datang dengan sebotol wine dan dua gelas wine bersamaan dengan perginya Sam Rin Hyo. “Selamat menikmati.” Ujar pelayan itu sopan pada Dongwoon yang hanya bisa duduk disana dengan menatap nanar pada Rin Hyo yang semakin menghilang.

Pria itu menghela napas berat, mengambil gelas Rin Hyo yang didalamnya ada sebuah cincin berlian yang kemarin ia beli. Rencananya, hari ini ia akan melamar gadis itu. Namun, malah Rin Hyo mengungkapkan jika ia mencintai Cho Kyuhyun dihari sepenting ini.

Dongwoon memutar – mutar gelasnya, membuat cincin yang ada didalamnya itu bergerak kesana kemari, lalu tersenyum miris. “Seharusnya, makan malam yang mengejutkan dan istimewa, bukan?” gumam pria itu seraya menatap cincin yang berada didalam gelas itu lekat. “Malam ini, hanyalah makan malam yang mengejutkan.”

***

Sam Rin Hyo turun dari bus setelah menempuh perjalanan selama 1 jam lebih 30 menit. Tadi, ia harus terjebak macet dijalan tol. Menjengkelkan. Rin Hyo mendesah gusar saat menyadari jika sudah sejak 1 jam yang lalu acara fans sign selesai. “Aku benar – benar terlambat.” rutuknya seraya berlari menuju tempat fans sign yang dilakukan di depan salah satu museum di Cheonjoo.

Kepala gadis itu menengok kesana kemari, namun tak ada bekas sedikit pun disana. tenda – tenda yang tadi ia lihat di instagram sudah hilang. Benar – benar sudah bersih, tak berbekas. Rin Hyo cepat – cepat mengeluarkan ponselnya. Namun saat ibu jarinya hampir menyentuh nama kontak Cho Kyuhyun, ia menghela napas berat. Mengurungkan perbuatannya itu. Selama ini, ia yang sering kali menelfon Kyuhyun terlebih dahulu. Dan ia sadar, hal itu hanya semakin membuat harga dirinya jatuh meski Cho Kyuhyun tak pernah mengeluh karena ia menghubunginya.

Aku tidak mau tahu. Kau harus datang besok. Ah, kebetulan fansign adalah jadwal terakhirku. Jadi, aku bisa menunggumu sampai kau datang. kau harus benar – benar datang, Arasseo?!

Kata – kata Kyuhyun itu terngiang kembali. Rin Hyo akhirnya mengangguk pasti. Duduk ditangga depan museum seraya menggenggam erat ponselnya. Ia hanya perlu menunggu disini, dan pasti Cho Kyuhyun akan datang atau setidaknya menghubunginya, bukan?

Rin Hyo duduk disana dengan kepala yang menoleh kesana kemari, semakin menajamkan tatapannya. Karena mungkin saja, Kyuhyun memakai penyamarannya atau bersembunyi ditempat yang tidak terlalu terlihat. Namun tetap saja, ia tidak menemukan pria itu.

Sebenarnya ia ingin sekali menyebrang jalan untuk sekadar membeli makanan di mini market yang terletak diujung jalan sana. Namun, ia takut melewatkan kehadiran Cho Kyuhyun jika ia memasuki mini market itu. Bagaimana jika saat ia membeli makanan didalam, Cho Kyuhyun datang kesini? Ia tidak ingin itu terjadi.

Two hour ago. 09.00 PM

 

Angin musim gugur semakin menusuk tulang. Rin Hyo yang sedang sibuk dengan game diponselnya semakin mengeratkan mantel. Ini sudah dua jam ia menunggu disini dengan perasaan dilemma dan gusar. Tiba – tiba pikiran – pikiran buruk tentang pria itu melesat diotaknya. Seperti, mungkin saja Kyuhyun melupakan janjinya atau lebih parahnya lagi mempermainkannya.

Tapi kepalanya menggeleng kuat saat ia kembali mendengar suara tegas Cho Kyuhyun yang menyruuhnya untuk datang ke acara fans sign hari ini. “Pasti ada sesuatu yang ingin pria itu bicarakan.” Gumam gadis itu lalu kembali berkutat dengan ponselnya. Kini ia lebih memilh membuka akun twitter-nya. Namun sepertinya itu adalah ide terburuk yang pernah ia lakukan.

Leeteuk men-upload fotonya dan para member didorm dengan caption “Kami sudah sampai di dorm! Mimpi indah!” Sam Rin hyo tertawa pendek saat menyadari jika tweet itu sudah dipost dua jam yang lalu. Ia merasa seperti gadis terbodoh yang menunggu ditengah dinginnya malam ini dengan sia – sia. Menunggu seseorang yang tak akan pernah datang.

Sam Rin Hyo segera menelfon Kyuhyun. Dan ini akan menjadi telfon terakhir, batinnya. Sangat mengejutkan karena tak perlu waktu lama Kyuhyun sudah mengangkat telfonnya.

Yeoboseyo

Sam Rin Hyo beranjak dari tempat duduknya. Menipiskan bibir dengan dada yang bergemuruh seperti ingin memukul pria itu sekarang juga. “Aku tahu, aku memang bukan siapa – siapamu. Tapi, aku juga tidak akan berdiam diri jika kau mempermainkanku. Cho Kyuhyun!” ujarnya dengan napas tersenggal. Rasanya ingin sekali membentak, tapi ada sesuatu yang menahannya untuk tidak berbuat itu.

Maaf, Hyo. Aku tidak mempermainkanmu. Aku—

            “Sudahlah, lagipula untuk apa aku mempermasalahkan hal itu. Aku sudah tahu dari twitter jika kau sekarang sedang berada di dorm. Tch, aku memang gadis yang sangat bodoh. Meninggalkan acara makan malam yang sudah disiapkan jauh – jauh hari oleh sahabatku sendiri, menaiki bus sendirian untuk mencapai Cheonjoo, dan menunggumu selama dua jam didepan museum ini dengan hasil yang sia – sia. Karena seseorang yang kutunggu itu tak akan pernah datang.”

….

“Aku tahu pasti ada suatu hal yang ingin kau bicarakan hinga kau menyuruhku untuk datang. Atau kau benar – benar mempermainkanku, dan sebenarnya tak ada yang ingin kau bicarakan?”

Bukan begitu, Hyo. Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi aku tidak akan mengatakannya lewat telepon.

            “Katakan saja! Sekarang juga!”

…. huuh, jadi begini, hyeong – hyeongku sudah tahu tentang kau. Dan mereka sangat marah padaku. Awalnya, aku ingin mengatakan padamu agar kau menghapus nomorku dan kita jadi dua orang yang asing lagi. Tapi—

            Rin Hyo tertawa hambar mendengarnya. Dadanya serasa dihantam baja yang benar – benar membuatnya terjatuh hingga sulit untuk bangkit lagi. “Aku tahu akhirnya akan seperti ini. sesuai keinginanmu, aku dan kau adalah orang asing yang tak mengenal satu sama lain. Aku akan menghapus semua pesan – pesanmu dan nomormu. Bahkan catatan panggilanmu. Aku akan menghapus itu semua. Tapi aku ingin kau tahu satu hal, Cho Kyuhyun…” Sam Rin Hyo menghembuskan napasnya dalam – dalam lalu membuka kedua mata yang sudah memerah menahan tangis. “Kau adalah keberuntungan terbesar yang pernah kudapat. Ya, menjadi temanmu adalah satu keberuntungan yang sangat besar untukku. Aku juga ingin berterima kasih, karena kau sudah membuatku merasakan hal yang kata orang adalah hal terindah dalam kehidupan. Jatuh cinta. Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun. Mungkin tidak semestinya aku merasakan hal ini padamu. Tapi, aku hanya ingin kau tahu jika aku mencintaimu.”

Rin Hyo menghapus air matanya lalu tersenyum kecil. “Selamat tinggal, Cho Kyuhyun. Jaga dirimu baik – baik dan carilah gadis yang benar – benar membuatmu bahagia. Jangan sampai kau salah pilih seperti sebelumnya. Annyeong!

Cepat –cepat gadis itu menutup sambungan teleponnya. Air matanya sudah keluar dari kedua matanya. Ini sudah berakhir.

Aku dan Kyuhyun memang sangat tidak cocok dilihat dari segi manapun.

Golongan kami berbeda. Dan sebuah hal yang mustahil jika kami menjalin hubungan.

Mungkin itu dapat terjadi dinegeri dongeng, namun tidak akan pernah terjadi didunia nyata.

Ya, Cho Kyuhyun hanyalah pria yang kucintai.

Dan aku akan kembali pada kenyataan, menjadi penggemarnya.

Aku tidak akan melupakan suaranya saat memanggil namaku atau, suaranya saat bertanya ‘apa kau belum tidur?’

Aku tidak akan melupakannya karena, itu adalah hal – hal yang menjadi keberuntungan terbesarku.

Keberuntungan yang kebetulan berpihak padaku.

 

END

Hai! ini yang Sam Rin Hyo’s version yaa J entar ada yang Kyuhyun’s versionnya 🙂

Jadi, tunggu ajaa ^^ bye 🙂

Advertisements

51 thoughts on “A Great Luck

  1. huaaaaa aku sedihhhh:”””” sumpah tak kirain happy ending ternyata sad ending… yah emang aku lebih suka ff yg sad ending daripada happy ending. HAHA *ketawa jahat*
    ditunggu yg kyuhyun version yaaa~~ harus sad ending juga :p
    Keep writing^^

  2. ini keren bgt.. Seorang idola dan fans..
    Aku tahu sbnarnya kyuhyun ndak bermaksud mempermainkan rin hyo..
    Adakah sequel?

  3. ga ada happy ending nih??okelah gpp… ceritanya bagus kok.. jd d maafkan. hehehe
    kasian bgt itu sam rin hyo… untung dia ga terlalu berharap, masih realistis lah..

  4. Kadang didunia ini memang ada yang namanya keberuntungan, meski tak selamanya keberuntungan membawa kebahagiaan yang abadi,..
    semoga happy ending di kyu versionnya…

  5. Heyyy.. aish ini sad end >.<
    Ksian bnget si rinhyo nunggu si embul ampe 2 jam si dongwoon jg ksian .. dongwoon mnding luu ama gua aja.. gua siap kok jd pnggantinya rinhyo ahahhahahh
    #very nice thor-nim !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s