Final Destination 4

wpid-10458346_280565368807703_4825155848555215790_n

Author: Bella Eka

.

.

“Yong Junhyung. Dia adalah pemimpin dari mafia Black Joker. Belum lama diketahui bahwa dia memiliki seseorang kepercayaan dibawahnya. Mungkin sejenis wakil atau semacamnya, namanya Lee Kikwang.”

Sam Rin Hyo mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. Ucapan Kyuhyun terus terngiang di telinganya. Nama Lee Kikwang tak lagi asing baginya, namun daya ingatnya tak kunjung menemukan jawaban atas nama itu.

Kedua matanya melebar dikala Shin Ji Eun memasuki kelas. Mendapat pencerahan akan sesuatu yang sedari tadi menjadi beban pikirannya. Lee Kikwang, pria itu, ia mengingatnya.

Memori otaknya berputar kembali pada saat valentine event waktu lalu. Saat Kyuhyun mengatakan bahwa Black Joker berada di sekitar mereka. Masih tergambar sangat jelas bahwa Kikwang dan Ji Eun tiba-tiba saja menghilang dan seseorang yang berhasil ditangkap oleh bawahan Kyuhyun yang diduga anggota mafia itu ternyata, salah sasaran. “Mungkinkah…”

Raut wajah Ji Eun begitu berseri hari ini. Senyuman bahagia terus terulas tanpa henti hingga Rin Hyo mengernyit heran. “Hal menyenangkan apa yang membuatmu tersenyum bodoh seperti itu?”

Ji Eun mendesis, menyipit tajam kearah Rin Hyo. “Kau iri, ya?” Membuat Rin Hyo mendecih malas. “Aku punya kabar baik untukmu.”

“Aku juga, kabar membahagiakan yang ingin kubagi denganmu tapi harus kurahasiakan dulu. Datanglah ke Browny Café pukul 5 nanti. Kita bicarakan disana saja,” sahut Ji Eun cepat. Rin Hyo masih terpana, hingga akhirnya mengangguk setuju pada gadis yang tengah bersemangat itu.

***

Langkah Sam Rin Hyo telah sampai ke dalam area café. Sedetik kemudian terdapat seorang gadis melambaikan tangan ke arahnya yang membuatnya menghampiri gadis itu, Shin Ji Eun. Namun kakinya terasa berat saat menyadari seorang pria di samping Ji Eun. Tak sanggup Rin Hyo membalas senyuman simpul pria itu, hanya menatapnya lekat menelisik tajam.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Duduklah,” ujar Ji Eun membuyarkan lamunan Rin Hyo. Rin Hyo mengalihkan tatapannya pada Ji Eun, tak terlintas ide sedikitpun atas alasan Ji Eun membawa pria ini bersama mereka kemudian mendaratkan tubuhnya di hadapan gadis itu.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” ucap Rin Hyo tanpa basa basi. Perasaannya semakin tidak enak saat Ji Eun mengulas senyuman lebarnya. Tatapannya kembali pada Kikwang, menatap pria itu tak suka.

“Perkenalkan, dia Lee Kikwang. Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya, bukan? Karena kau adalah sahabat yang paling kupercaya, kurasa perlu untuk mengenalkan kekasihku padamu.”

Kedua mata Rin Hyo melebar sempurna, ingin sekali menampar pria itu karena anggapan bahwa dia mempermainkan perasaan sahabatnya. Setelah berhasil membunuh orang tua Shin Ji Eun, rencana keji apalagi yang mereka buat untuk menghancurkan gadis itu?

Bangapseumnida.”

“Nde,” balas Rin Hyo menanggapi salam Kikwang dengan senyuman yang terpaksa ia ulas.

“Ah iya, kau bilang ada kabar baik untukku? Apa itu? Cepat katakan, aku sangat penasaran.”

Rin Hyo menghela nafas beratnya, melihat Ji Eun bahagia seperti itu membuatnya tak yakin untuk memberitahukan identitas Kikwang yang sebenarnya. Terlebih pria itu tengah berada diantara mereka. “Entahlah, aku sudah lupa,” dustanya.

“Dasar! Kau ini selalu saja begitu.”

***

Shin Ji Eun melempar tubuhnya ke atas ranjang. Menarik selimutnya dan bergelung nyaman dibawahnya. Seluruh tubuhnya tertutup kain tebal itu, dari ujung kepala hingga kaki tanpa terkecuali.

Terdengar suara getaran ponselnya, membuatnya menyibakkan selimutnya untuk meraih benda yang terletak di atas nakas itu. Kerutan samar terbentuk diantara sisi alisnya begitu membuka sebuah pesan yang terpampang di layar ponselnya.

From: Lee Kikwang

Kau sudah tidur? Segeralah tidur jika kau masih membaca pesan ini.

“Lalu bagaimana jika aku membacanya besok pagi?” gumamnya lalu tersenyum tipis dan meletakkannya di tempat semula.

Deringan bel apartemen mengejutkannya saat Ji Eun baru saja kembali memejamkan mata. Tubuhnya yang terlalu enggan beranjak ia paksakan bergerak menuju layar intercom dan menyalakannya. Sosok gadis yang tampak melalui layar itu membuatnya mengernyit. “Ya! Apa yang kau lakukan tengah malam begini?”

Aiuh, jangan berlebihan. Sekarang masih belum menginjak tengah malam.” Ji Eun menghela nafas singkat lalu membukakan pintu untuk gadis itu.

Saat ini mereka telah bersembunyi di balik selimut, Shin Ji Eun dan Sam Rin Hyo. Ji Eun masih menatap punggung Rin Hyo yang berbaring membelakanginya. Merasa aneh karena tidak biasanya gadis itu ingin sekali menginap di apartemennya. “Sebenarnya ada apa?”

Rin Hyo tetap tak bergeming. Lebih memilih untuk semakin merapatkan kelopak matanya, berpura-pura tidur. Namun bertolak belakang dengan otaknya yang terus berpikir keras. Menimang-nimang antara mengatakannya sekarang ataukah sebaliknya.

Tak sampai hati ia ingin membeberkan jati diri Lee Kikwang yang sebenarnya pada Ji Eun. Mengingat raut wajah serta segala sikap Ji Eun yang terlihat begitu bahagia membuatnya semakin tidak tega. Namun tidakkah lebih menyakitkan apabila gadis itu terlambat mengetahuinya?

“Ya! Kau benar-benar sudah tidur?”

Rin Hyo mengubah posisinya menghadap Ji Eun saat gadis itu mengguncang tubuhnya. “Ji Eun-ah,” panggilnya lirih. Entah mengapa membuat tubuh Ji Eun berdesir hingga suasana hatinya memburuk.

“Besok saja, aku mengantuk,” ujar Ji Eun seraya menarik selimut menutupi wajahnya.

“Baiklah.”

“Katakan. Aku berubah pikiran,” sergah Ji Eun cepat tanpa bergerak sedikitpun.

Rin Hyo mengambil nafas panjang, menahannya beberapa detik sebelum menghembuskannya perlahan. “Berjanjilah terlebih dulu untuk tidak merubah keputusanmu.”

“Tergantung.” Ji Eun pun sama, menunggu ucapan Rin Hyo hingga nafasnya tertahan.

“Sebenarnya Lee Kikwang…” Kalimat itu tersendat, Rin Hyo kembali menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. “Sangat tampan,” sambungnya.

“YA! Kau hanya ingin menjebakku? Menyebalkan! Aku tahu dia sangat tampan, jadi kuperingatkan padamu untuk tidak mendekatinya. Arasseo?!” pekik Ji Eun sembari bergerak membelakangi Rin Hyo.

Rin Hyo tertawa hambar kemudian berucap, “Lagipula Kyuhyun sudah menjadi milikku,” dan memiringkan tubuhnya hingga punggung mereka berhadapan. Hembusan nafas terbebas dari bibir Rin Hyo sebelum memejamkan matanya. Setidaknya ia harus membiarkan sahabatnya itu tidur nyenyak malam ini.

Sementara Ji Eun tetap terjaga, perasaannya tak membiarkan dirinya lekas terlelap. Tak mungkin Rin Hyo menemuinya selarut ini hanya untuk memberinya pernyataan bodoh semacam itu. Namun alasan apa yang membuatnya seperti itu?

Sebenarnya Lee Kikwang…

Sebenarnya ada apa dengan Lee Kikwang?

***

Setelah memastikan bahwa Ji Eun tak membalas pesannya, Kikwang memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Mengeratkan mantel jaketnya dan segera keluar dari mobil memantau bawahannya yang tengah beraksi di tengah kegelapan. Ia mulai melangkahkan kakinya memasuki arena lapangan basket yang memang terbuka untuk umum saat seorang pria paruh baya terlihat duduk di tepi lapangan itu.

“Anda, Tuan Park Jung Sik?” tanya Kikwang memastikan.

Nde,” jawab pria itu kemudian memandang sekitar dengan penuh waspada. “Apa kau sudah membawa uangnya?”

“Bisa kau angkat tanganmu? Aku harus memeriksamu terlebih dahulu,” ucap Kikwang lalu meraba seluruh tubuh Park Jung Sik.

“Ponselmu?” lanjut Kikwang dan pria itu pun menurutinya begitu saja dengan menyerahkan benda yang masih berada dalam genggamannya itu pada Kikwang. Kikwang membuka penutup ponsel itu, baterai, kartu perdana hingga memorinya.

“Julurkan lidahmu,” titahnya lagi. Kikwang mengeluarkan senter kecil dari dalam saku kemejanya. Menyuruh pria itu untuk mengangkat lidahnya, mengamati rongga mulut, hidung, hingga lubang telinganya.

“Sekarang buka bajumu.” Pria itu sontak menganga, menatap Kikwang tak percaya. “Membuka baju? Disini? Yang benar saja.”

Kikwang hanya menatap datar Jung Sik lalu mengangguk mantap. “Aku hanya menjalankan prosedur yang berlaku dan juga untuk menghindari alat-alat pelacak sialan itu. Terserah saja jika kau tak menginginkan uang itu,” bujuk Kikwang.

“Baiklah, baiklah. Aku akan melakukannya.”

Kikwang menatap jijik pria yang cepat-cepat melepas pakaiannya itu. Sedikit bergidik ngeri menyadari bahwa uang memanglah segalanya pada zaman ini. Bayangkan saja, bagaimana bisa seseorang rela membuang harga dirinya begitu saja hanya karena kertas-kertas tipis primadona yang disebut uang? Menggelikan.

Setelah tubuh pria itu bersih tanpa sehelai benang pun, Kikwang kembali melanjutkan pemeriksaannya. Mengarahkan sinar senternya dari ujung rambut hingga jari kaki Park Jung Sik.

“Bisakah kau percepat? Dingin sekali,” keluh Jung Sik. Setelah selesai, Kikwang mematikan senternya. Mengulas senyuman miringnya seraya mengatakan, “Bersabarlah sebentar saja. Nikmati udara segar yang takkan pernah lagi kau rasakan setelah ini,” ujar Kikwang ringan seraya membanting ponsel milik pria itu dan mematahkan seluruh kartunya membuat pria itu bergetar ketakutan.

“Apa maksudmu? Apa yang akan kau lakukan padaku? Kenapa kau merusak semua itu? Kenapa kau melakukan hal ini padaku? Berani-beraninya kau melanggar hak asasiku!” Bentakan pria itu tak dihiraukan oleh Kikwang.

Kikwang memasang raut wajah prihatinnya atas keadaan Jung Sik yang tengah menggigil hebat. “Kedinginan, ya?” ledeknya. “Berbicara tentang hak asasi membuat perutku geli. Mari kita renungkan baik-baik. Pernahkan terfikir olehmu tentang bagaimana perasaan rakyat kecil yang hak asasinya dilanggar hanya karena hakim yang terlalu haus uang sepertimu? Kira-kira bagaimana penderitaan mereka yang kehilangan segalanya hanya karena hakim tak berguna sepertimu? Apa yang sebenarnya teman-temanmu lakukan di gedung megah itu hingga membiarkan orang sepertimu tetap tinggal dengan tenang? Sungguh memilukan.”

“Kau kira perkataanmu mempan untukku? Berkacalah sebelum berucap. Lihatlah apa yang sedang kau lakukan. Tidakkah kau ingat berapa nyawa yang telah jatuh di tanganmu? Dan kau masih berani menceramahiku?!”

“Setidaknya aku memiliki alasan besar untuk itu. Bagaimana? Merasa bosan dengan udara segar ini?” desis Kikwang tajam.

“Tidak, baiklah kutarik ucapanku. Lepaskan aku. Kumohon sekali ini saja,” pinta pria itu hingga bersimpuh dengan kedua lutut menyentuh tanah di kaki Kikwang.

“Ya, ya. Jangan seperti ini, membuatku merasa tidak enak saja,” ujar Kikwang sembari membantu pria itu berdiri. “Tenangkan dulu dirimu. Ambil nafas dalam, keluarkan perlahan.” Layaknya bocah tak berdosa, pria itu menuruti ucapan Kikwang. “Sudah lebih baik?” tanyanya. Pria itu pun mengangguk lemah.

Kikwang mengangkat tangan kanannya ke udara, menggesek ibu jari pada jari tengahnya hingga menimbulkan suara nyaring sebagai pertanda. Sedetik kemudian…

BAM!

 

Tubuh pria itu tergeletak lemah. Tangannya terus gemetar, dengan susah payah ia menyentuh dada kirinya yang telah tertembus peluru panas. Kikwang menegakkan badannya. Menatap pria itu nanar dan beranjak meninggalkannya. Begitu pula seluruh bawahannya, meninggalkan tempat persembunyian mereka. Sekali lagi, misi mereka telah berhasil.

Untuk kali ini Kikwang mengetahui identitas dan alasan pembunuhan target tersebut karena jabatan hakim yang disandangnya. Karena itu pula Kikwang lah yang langsung turun tangan dalam eksekusi kali ini. Untuk menghindari penjebakan yang kemungkinan besar dapat terjadi.

***

Aroma masakan sedap membangunkan tidur Rin Hyo. Sesekali gadis itu menguap sebelum turun dari ranjang. Semakin mendekati bagian dapur, aroma itu semakin menguat hingga menampakkan seorang gadis tengah menyajikan sesuatu di atas piring dan meletakkannya di meja makan.

“Selamat pagi, Sam Rin Hyo.”

“Tak kusangka kau bangun pagi sekali,” puji Rin Hyo pada gadis itu. Yang tak lain adalah Shin Ji Eun. Hanya senyuman tipis yang Ji Eun berikan kemudian melepas celemek yang melekat di tubuhnya.

“Duduklah.” Rin Hyo pun mengangguk patuh lalu melakukan apa yang Ji Eun katakan.

“Ternyata kau juga pintar memasak. Jika aku seorang pria pasti aku akan memilihmu untuk kunikahi.”

“Itu kan jika kau seorang pria. Lagipula hanya masakan sederhana,” balas Ji Eun merendah. “Makanlah.”

Sam Rin Hyo memulai suapan pertamanya. Mengambil sesendok Dakjuk dari mangkuknya, meniupnya sejenak sebelum melahapnya.

“Bagaimana?”

Aigoo, bagaimana bisa kau membuat masakan seenak ini? Sepertinya kau sudah bersiap untuk menikah,” goda Rin Hyo.

“Ya! Apa yang baru saja kau katakan?! Sembarangan saja,” balas Ji Eun tak terima lalu tersenyum simpul. Pandangannya menerawang makanan itu, “Semoga saja kelak Kikwang juga menyukainya.”

Rin Hyo terdiam, tatapannya berubah tajam. Kemudian menyantap Dakjuk nya sesegera mungkin sebelum nafsu makannya benar-benar menghilang.

“Kau memang terbiasa sarapan?” Rin Hyo mengangguk, kilasan tatapannya pada Ji Eun menyadarkannya atas lingkar hitam yang menodai daerah mata gadis itu. “Kau memang terbiasa bangun pagi?”

Ji Eun hanya tersenyum tipis tanpa menjawabnya, lebih memilih untuk memasukkan sesuap Dakjuk ke dalam mulutnya.

“Atau jangan bilang kau tidak tidur?”

“Sudahlah cepat makan. Lebih enak jika dimakan saat masih panas begini.”

Keure, kita harus segera menghabiskannya hingga tak tersisa.”

Rin Hyo menatap nanar Ji Eun yang masih sibuk dengan makanannya. Berbeda dengan dirinya yang telah menyelesaikannya beberapa menit lalu. “Ji Eun-ah,” panggilnya membuat Ji Eun meletakkan sendoknya ke atas meja walaupun masih tersisa makanan dalam mangkuknya. Meminum setengah gelas air mineral dan segera beranjak.

“Kau sudah selesai, kan? Kemarikan, aku harus mencucinya,” ucap Ji Eun cepat seraya mengambil mangkuk serta peralatan makan Rin Hyo lainnya. Rin Hyo menghela nafasnya yang terasa begitu berat lalu turut beranjak mengikuti Ji Eun, “Ya! Walaupun aku tidak bisa memasak tapi aku masih bisa mencuci piring. Serahkan itu padaku!”

***

Kedua tangan, kaki, bahkan seluruh tubuh Kikwang bergetar gugup. Layar yang terpampang di atas pintu gate menampakkan pesawat yang datang dari Pyongyang Korea Utara akan mendarat dalam lima menit lagi. Membuatnya semakin gentar hingga keringat dinginnya bercucuran deras.

Untuk pertama kalinya semenjak beberapa tahun lamanya ia akan bertemu dengan seorang yeoja paling berarti dalam hidupnya. Eomma, tak sabar bibirnya kembali mengucap nama itu. Namun dadanya berdenyut perih dalam waktu yang sama. Abeoji, pada siapa ia harus memanggil nama yang begitu dirindukannya itu sekarang?

Kikwang berdiri seketika terlihat beberapa orang mulai tampak dari pintu keluar. Menelisik wajah-wajah itu untuk menemukan seseorang yang ia kenal. Dahinya terus mengernyit sebab tak satupun dari ratusan manusia itu dikenalinya. Mungkinkah Junhyung berniat mengerjainya?

Wajah Kikwang berubah muram. Setidaknya ia ingin memandang wajah rupawan yeoja yang sering kali berkunjung dalam mimpinya. Ingin mengetahui perkembangan yeoja itu saat ini. Ingin membahagiakan hati yang telah lama terpenjara. Tidak bolehkah?

Namun kedatangan seorang wanita dengan pakaian serta perhiasan elegan mencuri perhatiannya begitu cepat. Ah, bukan hanya Kikwang. Tapi juga orang-orang disekitarnya. Sepertinya wanita itu sudah menginjak paruh baya, namun gaya pakaiannya benar-benar jauh dari kata ketinggalan jaman.

Dikala wanita itu melepas kacamata fashion-nya, Kikwang sontak tertegun. Wajah itu mirip sekali dengan ibunya. Tidak, sepertinya dia memanglah ibunya. Keyakinan itu membawa Kikwang menghampiri wanita itu dan berdiri tegak dihadapannya. Bola matanya terus bergerak mengamati sosok wanita itu, menatapnya nanar serta hidungnya mulai memerah. “Eomma,” lirihnya.

Namun wanita itu hanya membalas tatapan Kikwang dengan raut wajah heran. Dahinya membentuk kerutan, seakan terlalu asing dengan sosok Kikwang. Tangannya mendorong kuat Kikwang yang akan memeluknya.

“Siapa kau, hah?! Jangan berani-beraninya kau kurang ajar padaku!” pekik wanita itu lalu mengibaskan tangannya guna membersihkan pakaiannya membuat Kikwang terdiam membeku. Sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi. Namun pria itu segera tersadar lalu meminta maaf pada orang-orang disekitar mereka yang menatapnya aneh. “Cheoseoghamnida, dia ibuku,” ucapnya memberi penjelasan sembari membungkuk beberapa kali.

PLAK!

Lagi, Kikwang kembali dikejutkan oleh tamparan keras yang mengarah pada pipi kirinya. Wanita itu jelas sangat geram saat ini. “Kau benar-benar sudah gila, ya?! Sejak kapan aku melahirkan pria sepertimu? Astaga, ada apa dengan hari ini? Bahkan menikah pun belum, apalagi memiliki anak kurang ajar sepertimu. Sudahlah, cepat pergi! Sebelum kuteriakkan agar kau babak belur di tempat ini,” ujar wanita itu sinis.

Kikwang menghela nafas panjang. Helaan yang terasa sungguh berat penuh beban. Dengan hati seakan terbelah, ia membiarkan wanita itu berlalu meninggalkannya. Menatap kepergian wanita itu dengan mata berkaca-kaca.

“Nyonya Kwak Jeong Suk?” panggilnya lirih. Tak disangka wanita itu pun berbalik, memandang Kikwang dengan kedua alis tertaut. “Bagaimana bisa kau tahu namaku?”

Hanya senyuman miris yang mampu Kikwang berikan. Wanita itu benar-benar ibunya. Dan wanita itu benar-benar tak mengenalnya. Apa yang harus ia lakukan?

Wanita itu melangkah kembali menghampiri Kikwang. Menatapnya lekat sembari berkata, “Kau tidak terlihat seperti orang gila. Apa kau sedang memiliki banyak masalah? Mungkinkah berkaitan dengan uang?”

“Benarkah kau… tak mengenaliku sama sekali?”

“Beban masalah memang terkadang membuat otak sedikit terganggu. Sedikit meminum obat mungkin dapat mengurangi gangguan itu.”

Benar, dengan meminum obat sebanyak-banyaknya sepertinya akan menjadi keputusan paling tepat.

“Menakjubkan sekali kau dapat mengetahui namaku tanpa memperkenalkan diriku padamu. Dan juga, kupikir kau dapat memanfaatkan indera ke-enammu itu untuk mencari uang. Kau pasti mampu asalkan berusaha,” tutur wanita itu seraya menepuk bahu Kikwang sebelum berbalik meninggalkannya lagi.

Aliran air mata tak terbendung lagi. Kedua bola mata Kikwang yang memerah semakin terasa pedih. Seulas senyuman miringnya terlahir. Tak seharusnya ia memercayai pihak Korea Utara yang terkenal akan kesadisannya itu. Seharusnya ia tahu, bahwa mereka takkan melepas ibunya begitu saja. Lihat saja apa yang telah mereka lakukan, mencuci otak wanita tercintanya itu hingga sempurna bersih tak tersisa. Kejam memang, namun begitulah kehidupan.

Kedua tangannya terkepal erat namun kakinya lemah tak berdaya hingga jatuh dengan lutut terhentak keras diatas lantai bandara. Pria menunduk dengan telapak tangan menutupi wajahnya itu membuat setiap orang yang melintasinya menatap iba.

***

Sadarlah, Ji Eun-ah. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya tak ingin kau terlambat dan penyesalanmu semakin dalam. Percayalah, bahwa Lee Kikwang merupakan bagian dari mafia yang membunuh orang tua mu.

 

Tatapan Ji Eun menerawang lurus ke depan dengan mata memerah serta kantung mata yang bertambah menghitam. Pria itu, mana mungkin terlibat dalam mafia terlarang semacam itu? Untuk yang kesekian kalinya gadis itu menggeleng cepat. Tapi kenyataan bahwa Kikwang tak pernah menceritakan perihal pekerjaannya sekalipun membuat jantungnya berdebar hebat. Bagaimana jika semua itu memanglah benar?

Mendadak sekelebat ingatan membuat sorot matanya mengarah tajam menuju laci meja riasnya. Membukanya cepat dan mengambil seutas tali hitam dengan gantungan berbentuk LK disana. Genggaman tangannya memegang gelang yang telah putus itu semakin erat. Menahan ketakutan luar biasa dalam dirinya membuat kedua matanya terpejam. Tak ingin lagi menelan kenyataan pahit karena kehilangan seseorang berharga untuk yang kedua kalinya. Tidak, seharusnya ia senang karena kesempatan besar telah terhidang di depan mata. Kesempatan yang selama ini ia nanti.

Deringan bel apartemen menyadarkannya. Ia segera meletakkan benda itu kembali dan berjalan menyalakan layar intercom di ruang tamu. Helaan nafas dalam terbebas begitu saja setelah menemukan sosok yang tampak pada layar itu. Kakinya tergerak menuju pintu, namun belum genap selangkah dihentikannya. Ucapan Rin Hyo kembali berputar dalam pikirannya.

Haruskah aku menjauh darinya?

 

Ji Eun menatap nanar wajah Kikwang yang terus menunduk dalam. Beberapa menit telah berlalu namun keadaan masih tetap sama. Kedua orang itu, hanya terdiam tak bergeming tanpa melakukan apapun. Tanpa sadar Ji Eun mengigit bibir bawahnya, dadanya terasa begitu sesak. Ingin sekali menangis meluapkan segalanya namun tak bisa.

Setitik air mata berakhir jatuh melewati pipi kanannya dikala Kikwang perlahan mengangkat kepalanya menampakkan wajah menyedihkannya. Dengan kedua mata membengkak merah dan rambut yang sama sekali tidak rapi.

“Kau… sudah tidur… Ji Eun-ah?”

Mendengar suara serak pria itu, Ji Eun segera membuka pintu apartemennya. Kikwang tersenyum melihat gadisnya, begitu merindukan gadis itu hingga membuatnya kehilangan akal. Hampir saja pria itu benar-benar membeli sepaket obat untuk dirinya. Namun bayangan Shin Ji Eun mengembalikan akal sehatnya. Hanya karena tidak melihatnya selama beberapa hari membuatnya melupakan indahnya kehidupan yang masih dengan baik hati menantinya.

Ji Eun terperanjat mendapati kondisi Kikwang sebenarnya. Ditambah ulasan senyuman pria itu semakin membuat hatinya teriris. “Apa yang kau pikirkan hingga tersenyum seperti itu? Jangan berpikiran mesum. Cepat masuk,” titahnya lalu menarik lengan Kikwang.

Ji Eun mengulum bibirnya gusar, sesekali mengigitnya kuat. Keadaan tetap hening meski lengan panjang jarum jam menunjukkan bahwa tiga puluh menit telah berlalu. Bahkan secangkir teh hangat miliknya tak lagi ada, berbeda dengan milik Kikwang yang masih utuh telah mendingin. Tubuh Ji Eun tersentak saat Kikwang mengulas senyuman miris lagi. “Sudah kubilang jangan tersenyum seperti itu. Perlu kuulangi berapa kali. eo?”

“Aku hanya merasa bersyukur karena masih mampu tersenyum disini, bersamamu.”

Ucapan Kikwang membuatnya menahan nafas. Ia tidak boleh memperlihatkan kelemahannya dihadapan Kikwang yang tengah rapuh saat ini. “Sebenarnya apa yang baru saja kau lakukan? Lihat dirimu. Aigoo, menyedihkan sekali. Kau mabuk lagi?”

“Mungkin,” jawab Kikwang singkat.

Geojitmal. Katakan yang sebenarnya.”

Kikwang mengambil nafas dalam, menghembuskannya perlahan lalu tersenyum manis pada Ji Eun. Begitu manis, begitu tulus. “Gomawo.”

“Ya! Aku tidak ingin mendengarmu mengucap terimakasih padaku. Jangan mengalihkan pembicaraan,” rajuk Ji Eun. Namun jauh didasar hatinya mempersiapkan mental penuh atas ucapan Kikwang selanjutnya.

“Baru saja, aku kehilangan segalanya. Ah tidak, sebenarnya aku saja yang baru menyadarinya.” Tatapan hampa Kikwang teralih pada Ji Eun yang tiba-tiba menggenggam tangannya. Lalu berucap lembut, “Teruskan.”

“Yang kutahu, hanya kau yang kumiliki saat ini. Entah apa yang terjadi beberapa saat lalu jika bayangmu tak menyapaku,” lanjut Kikwang seraya menatap lekat tatapan nanar Ji Eun. “Maka dari itu aku mengucap terimakasihku padamu.”

Ji Eun tersenyum tipis dengan bibir gemetar. Bola matanya telah kehilangan titik fokusnya. Berusaha mengendalikan air matanya yang tak lagi mampu terbendung dan berakhir jatuh. Isakannya semakin hebat saat Kikwang memeluknya erat, namun kedua tangannya menggantung lemah. Apa yang harus ia lakukan? Tetap tinggal ataukah pergi menjauh?

————————————–.

To be Continued

Advertisements

11 thoughts on “Final Destination 4

  1. Keduanya sama2 tersiksa 😟 kikwang yang terpaksa melakukan kejahatan dan ujung ujungnya kehilangan orangtuanya juga, ji eun yang tersiksa karna dia mencintai pembunuh orangtuanyaa…

    Gak tau deh mesti komen apaan lagi, alur cerita menarik 😊😊

  2. Ya ampun
    Ji eun uda tau , trus bakal pergi atau ga?
    Sama2 tersiksa TT
    Kikwang yang dgn terpaksanya melakukan kejahatan akhirnya kehilangan ortu jg , ji eun yg mencintai org yg sdh membunuh ortunya .
    Tinggal kyu reaksinya gmn krn rin hyo sniper dan cm manfaatkan kyu . Makin penasaran .
    Keep fightinggg ka 🙂 ditunggu kelanjutannya 🙂

  3. keren.. Tegang bgt
    kira2 keptusan apa yg akan diambil ji eun ya?
    Kasihan kikwan, dia sgt tertekan dg keadaan eommanya skarang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s