Fate , Love, and Temptation 10-B

  Fate, Love, and Temptation 10 B

fate love cover

Author : Tsalza Shabrina

That’s you!

 

***

“Kenapa kita berhenti disini?”

Tanya Rin Hyo seraya menatap Kikwang bingung. Karena sekarang mereka berhenti di sungai han, bukannya kembali ke apartemen.

“Orang tuamu ada disini, mereka menunggu diapartemenmu. Apa kau akan membiarkan mereka melihat keadaanmu yang seperti ini, huh?” Rin Hyo mengangkat alisnya seraya menatap Ji Eun. “Eomma? Appa juga?” Shin Ji Eun mengangguk kuat.

“Jadi, sekarang tenangkan dirimu dulu dan berbicaralah jika kau ingin berbicara.” Timpal Kikwang seraya melemparkan senyuman hangatnya. Rin Hyo ikut tersenyum lalu mengangguk pelan, “Kurasa aku ingin keluar. kalian disini saja.” Ujar Rin Hyo sebelum keluar dari mobil.

Gadis itu berjalan mendekati tepi sungai han dengan langkah pelan, juga hidung yang bernapas tenang. Ia sudah cukup tenang setelah menangis habis – habisan seperti tadi. Saat sekelebat kejadian di Jepang itu melintar otaknya, ia hanya bsa menarik napas dalam – dalam lalu tersenyum. Ya, kata Song Joong Ki saat hatimu sedang gelisah atau sedih, hanya dengan mengulas satu senyuman semuanya akan menjadi lebih baik.

Eo! Aku baik – baik saja. Kau baik – baik saja, Sam Rin Hyo.” gumamnya pada diri sendiri.

Drrt Drrt

 

            Ia membuka ponsel yang sejak tadi ia genggam lalu kembali mengulas senyuman.

From : Eomma

Putriku, kenapa kau tidak datang – datang, hm?

Baru saja gadis itu ingin mengetikkan balasan untuk ibunya, ponselnya kembali bergetar. Namun bukan pesan masuk, melainkan telefon dari Song Joong Ki.

Eo! Joong Ki oppa!”

Kau … gwenchana?

            “Tch, aku baik – baik saja. Kau pikir aku akan melakukan bunuh diri, begitu?”

Ck, kau ini! aku dengar dari Kikwang, katanya—

            “Aku baik – baik saja, oppa! Jangan khawatir.” Potong Rin Hyo seraya tersenyum tipis. Samar – samar ia mendengar desahan berat Song Joong Ki dari sana.

Aku ingin tinggal di Belanda untuk beberapa tahun.

            Mwo? Wae?” tanya Rin Hyo dengan kedua mata membesar.

Hanya ingin pergi dari Korea untuk beberapa waktu.

            Wae?  Kau ada masalah?”

Ani, bukan begitu. Hanya saja aku ingin hidup ditengah – tengah orang yang tak mengenalku. Hidup bebas tanpa beban, seperti itu.

            “Tapi pasti kau kembali kan, oppa?”

Em.

            Setelah jawaban singkat dari Song Joong Ki itu selanjutnya hening. Tak ada yang memulai percakapan, hanya helaan napas mereka saja yang terdengar beraturan.

Rin Hyo-ah!

            “Hm?”

Jika kau ingin melarikan diri. Kau bisa ikut denganku, kapanpun kau menghubungiku aku akan menjemputmu.

“Hm? A—aku…  tch, melarikan diri apanya?! Sudahlah, kututup saja! Aku akan mengunjungimu nanti, oppa. Ada orang tuaku dirumah.”

Aku kan hanya menawari! Yasudahlah, sampai jumpa!

 

Rin hyo menutup teleponnya dengan helaan napas panjang. “Melarikan diri?” gumamnya pelan lalu tertawa kecil. Sekali pun ia tak punya pemikiran sedangkal itu, hanya karena ini ia melarikan diri?

Drrt Drrt

Ponselnya bergetar lagi. Tubuh gadis itu menegang saat melihat siapa yang meneleponnya. Cho Kyuhyun.

Rin Hyo hanya bisa memandangi ponselnya dengan tatapan kosong. Tak ada niatan atau gerakan apapun yang ia lakukan. Hingga akhirnya, ponselnya berhenti bergetar. Namun, tak lama kemudian kembali bergetar dengan nama kontak yang sama. “Kau tidak boleh melarikan diri, Rin Hyo-ah! Seleseikan sekarang, atau tidak sama sekali.” Yakinnya pada diri sendiri sebelum akhirnya mengangkat telepon dari pria itu.

***

Cho Kyuhyun membuka kedua matanya perlahan, pertama kali yang ia lihat adalah tembok bercat putih. Hidungnya mencium bebauan obat – obatan hingga ia menoleh kekiri alisnya terangkat bingung saat menatap Park Jung Sik yang tengah bersandar pada sofa dengan kepala yang menunduk dalam.

Kyuhyun memeriksa tangannya dan mendapati ada jarum selang infus yang menghiasi pergelangan tangannya. Saat itu juga, ia sadar jika sekarang ia berada dirumah sakit. “Kyuhyun-ah!” panggil Jung Sik setelah ia bangun dari tidurnya, pria itu segera berjalan cepat menghampiri Kyuhyun dengan kedua mata membesar khawatir.

Hyeong! Bagaimana bisa kau ada disini?”

“Petugas hotelmu membawamu kerumah sakit terdekat lalu menelfonku, jadi aku langsung datang kesini ah, dan juga aku membawa Jungsoo hyeong bersamaku. Dia sedang berbincang dengan dokter yang memberimu pertolongan pertama dirumah sakit ini.” jelas Jungsik panjang lebar. Park Jungsoo adalah dokter pribadi Cho Kyuhyun, sekaligus kakak tertua Jungsik. Jadi, Kyuhyun lebih sering memanggilnya hyeong daripada dokter.

Suara kenop pintu yang terbuka membuat kedua orang itu menoleh kepintu. Tampaklah Park Jungsoo yang tengah melempar senyum pada Kyuhyun dan Jungsik. Pria itu duduk disamping Jung Sik seraya menatap Kyuhyun.

“Kau mengingat sesuatu lagi?” tanya Jungsoo tiba – tiba yang hanya dibalas anggukkan oleh Kyuhyun. “Ada yang kau ingin tanyakan padaku?”

“Kenapa saat aku mengingat ingatan – ingatan ini kepalaku sakit sekali. Begitu juga dadaku, dadaku rasanya sangat sesak hingga sekujur tubuhku melemas. Dan akhirnya selalu berakhir pada kata pingsan.”

Park Jungsoo tersenyum kecil. “Itu bisa saja terjadi, mungkin ingatan itu sangat menyakitkan untukmu atau jika tidak, mungkin ingatan itu adalah ingatan yang harus kau ingat sejak dulu, tapi kau baru mengingatnya sekarang jadi hatimu juga bereaksi. Kau mengerti maksudku, kan?” Kyuhyun menggeleng pelan.

“Lebih jelasnya lagi, hatimu merasa bersalah dengan otakmu yang baru bisa mengingatnya sekarang. Maka itu, semuanya. Otakmu, hatimu, semua berontak dan sangat menyiksa.” Kyuhyun memandang kosong kearah depan. Ia menghela napas panjang lalu berkata, “Aku ingin pulang. Sekarang juga.”

***

Aigoo! Putriku akhirnya pulang juga, eo!”

Suara hangat ibunya terdengar ditelinga Rin Hyo saat gadis itu baru saja mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Gadis itu melebarkan senyumannya saat melihat ibunya yang sudah beranjak dan berjalan tergopoh menghampirinya. “Aigoo! Aku sangat merindukan eomma.” Ujar Rin Hyo setelah merengkuh ibunya dengan erat.

Kedua mata Rin Hyo menatap ayahnya yang sedang duduk diatas sofa. Menatap kearah TV yang layarnya berwarna hitam pekat, tanpa sedikit pun melirik kearah Rin Hyo. Kedua alis Sam Rin Hyo terangkat bingung, pasalnya sudah berbulan – bulan ia tidak bertemu orang tuanya dan sekalinya bertemu, mengapa raut wajah ayahnya seperti itu?

Ibu Rin Hyo melepas pelukannya tanpa berniat melunturkan senyuman hangatnya, seolah menekankan bahwa ia sangat bahagia bisa melihat Rin Hyo lagi setelah sekian lama. “Eomma sudah makan? Menungguku sangat lama, ya?” tanya Rin Hyo yang hanya dibalas gelengan oleh ibu Rin Hyo.

Eomma sudah makan, tadi Shin Ji Eun bilang kau baru saja pulang dari Jepang dengan Cho Kyuhyun. Ck, seharusnya kau beritahu ibu jika pergi jauh. Jadi, ibu bisa mengatur waktu untuk mengunjungimu.”

Mianhe, eomma. Lagipula eomma juga tidak meneleponku sama sekali jika akan datang.” Rin Hyo menggantungkan nada bicaranya lalu berdehem samar, sedikit sangsi untuk melanjutkan ucapannya. “Tapi, apa eomma tidak apa – apa aku pergi dengan … Cho Kyuhyun? Eomma tidak ingin bertanya apa yang terjadi pada Cho Kyuhyun?” lanjut Rin Hyo dengan alis terangkat dan dipadu dengan nada hati – hati.

Seketika ekspresi ibu Rin Hyo menyendu meskipun senyumannya tak pernah luntur dari bibirnya. Baru saja wanita paruh baya itu ingin menjawab, namun suara ayah Rin Hyo menginterupsinya. “Kita bisa bicara?” Kepala Rin Hyo dan ibunya menoleh kearah ayahnya yang sudah beranjak dari tempatnya lalu berjalan menuju kamar Sam Rin Hyo.

Sam Rin Hyo menatap ibunya tak mengerti. Namun ibunya hanya menampakkan senyuman patah dan ekspresi yang tak ia mengerti. “Waeyo, eomma?” tanya Rin Hyo pelan. Ibu Sam Rin Hyo menggeleng pelan lalu meninggalkan Rin Hyo untuk mengekori ayahnya dan ikut masuk kedalam kamar Rin Hyo.

Sam Rin Hyo menatap punggung ibunya yang perlahan menghilang dibalik pintu dengan dahi mengernyit. Gadis itu berusaha berpikir positif dan mengalihkan pikirannya dengan melakukan kegiatan membuatkan minum untuk kedua orang tuanya.

Baru saja ia sampai di dapur, mengambil dua mug bergambar hati lalu menyiapkan sirup. Suara perdebatan yang terlihat cukup keras meski tak jelas itu membuatnya spontan meletakkan apa yang ada digenggamannya. Berjalan tergesa menuju kamarnya, membuka sedikit pintu kamarnya hingga ia bisa melihat ibunya yang tengah duduk ditepi ranjang dengan kedua mata berair sedangkan ayahnya tengah berkacak pinggang berdiri sedikit jauh dari ranjang, memunggungi ibunya.

“Bisakah kita melupakan apa yang sudah terjadi, dan menerima kenyataan bahwa putri kita begitu mencintai Cho Kyuhyun?” lirih ibu Rin Hyo dengan suara yang sudah tercekat.

“Tidak bisa. Ini adalah sebuah aib yang tidak bisa dimaafkan. Bagaimana bisa Tuan Cho melakukan korupsi besar – besaran sedangkan para karyawannya tengah menderita krisis keuangan?!” bentak ayahnya seraya memutar tubuhnya menatap ibunya dengan kedua mata melebar penuh emosi.

“Dan kau lebih bejat darinya, suamiku. Kau… kau membawa pergi banyak uang dari perusahaan itu untuk mendirikan perusahaanmu sendiri! Dan apa Tuan Cho yang begitu hina dimatamu itu menuntutmu?! Meminta uang itu kembali?! Pada akhirnya, kau yang mengemis uang padanya.”

Ucapan ibunya itu membuat lutut Rin Hyo tiba – tiba melemas. Cepat – cepat gadis itu menyanggah tubuhnya pada dinding yang terdekat dari jangkauan tangannya. “Tidak mungkin.” Ujar Rin Hyo pelan. “Ini tidak mungkin.” Ujar gadis itu lagi dengan nada yang sedikit ia naikkan, membuat kedua orang yang sedang berdebat itu menoleh kearah ambang pintu dan mendapati pintu itu sudah terbuka sedikit.

Ibu Rin Hyo segera beranjak dari tempatnya, berlari kecil membuka pintu itu lalu tatapannya berubah semakin nanar saat menatap Rin Hyo yang kedua matanya sudah kosong. Tak mempunyai fokus.

“Rin Hyo-ah!” suara lembut ibunya itu membuat Rin Hyo menatap ibunya dengan kedua mata membesar. “Yang kau katakan itu tidak benar, kan eomma?” tanya Rin Hyo yang hanya dibalas dengan isakan ibunya yang semakin kuat juga dengan satu kata yang membuat semua itu semakin jelas. “Mianhe.

Sam Rin Hyo segera menatap ayahnya jijik. “Bagaimana… Bagaimana bisa kau melakukan hal serendah itu, appa?!” ayahnya hanya diam, berusaha menghindari kontak mata dengan Rin Hyo. “APA KAU SEHINA INI?!” bentak gadis itu sekeras mungkin. Ia begitu malu dengan kelakuan ayahnya, meski itu sudah masa lalu. Dan juga, ini pertama kalinya ia berani meneriaki ayahnya sekeras ini.

Sam Rin Hyo membalikkan badannya, dan segera angkat kaki dari sana. Tanpa mempedulikan ibunya yang berkali – kali memanggil namanya.

***

Sam Rin Hyo menarik napasnya dalam – dalam saat ia sudah berdiri didepan gerbang rumah keluarga Cho. Gadis itu mencengkeram kuat ujung bajunya dengan bibir bagian bawah yang berkali – kali ia gigiti gusar.

Tangan kanannya yang gemetar ia gunakan untuk menekan tombol bel sebanyak dua kali.

Nuguseyo?

            Tubuh gadis itu sedikit berjengit kaget saat suara itu memasuki relung telinganya. Ia sangat hapal itu suara siapa, Nyonya Cho. Ibu Kyuhyun.

“Sam Rin Hyo imnida. Aku sangat ingin berbicara denganmu, Cho sangmonim. Bisakah kita bicara, sebentar saja?” cukup lama tak ada jawaban dari speaker itu hingga akhirnya keluar jawaban yang sangat mengejutkan untuknya.

Masuklah.

            Sam Rin Hyo membuka gerbang lalu mulai melangkahkan kedua kakinya menyusuri taman luas. Ia sudah pernah kesini sebelumnya, dan tak ada yang spesial dari kedatangannya. Hanya ada kesan pahit yang tersisa hingga sekarang. Ya, ia diusir dari rumah ini setelah ia baru saja menginjakkan sebelah kakinya pada lantai rumah yang mewah ini.

Gadis itu sedikit membungkukkan tubuhnya pada pelayan – pelayan yang sudah membukakan pintu untuknya lalu langkahnya berhenti begitu pun dengan panadngannya yang berhenti pada seorang wanita paruh baya yang sudah duduk disofa tunggal ruang tamu dengan gaya elegannya. Seperti biasa.

“Duduklah.” Ujar Nyonya Cho seraya mengulurkan sebelah tangannya pada sofa panjang yang berada tak jauh darinya. Sam Rin Hyo membungkukkan badannya dalam pada Nyonya Cho, lalu mengikuti sarannya untuk duduk disofa itu.

“Sejujurnya, aku juga ingin berbicara padamu. Tapi karena kau sudah—YA! apa yang kau lakukan?” suara yang awalnya begitu lembut itu berubah menjadi panik saat tiba – tiba Rin Hyo berlutut dihadapannya.

“Aku ingin meminta maaf yang sebesar – besarnya pada anda, karena kelakuan hina ayahku yang sanagat mempermalukanku, aku bahkan tak sudih untuk menyebut apa yang telah dilakukan oleh ayahku bertahun – tahun yang lalu.” Kedua mata Nyonya Cho terbuka lebar saat mendapat permohonan maaf yang tak terduga dari bibir Sam Rin Hyo. “Aku sekarang telah sadar akan alasan apa yang membuat anda sangat membenciku dan Sangat tidak suka jika aku bersamanya. Kini aku yang merasa malu jika harus berusaha memilikinya kembali. Jadi, aku akan menyerah, Nyonya.”

“Sam Rin Hyo.”

“Dan juga, aku tidak akan mengkhawatirkannya lagi karena aku sangat yakin jika Nyonya akan melindunginya dengan cara apapun.” Sam Rin Hyo beranjak dari tempat duduknya. “Aku pergi, terima kasih atas waktunya. Selamat tinggal!” ujar gadis itu sebelum membungkuk dalam pada Nyonya Cho yang hanya bisa terpaku ditempatnya. Menatap kepergian Rin Hyo dengan bibir yang bahkan tak bisa untuk sekadar menutup.

Sam Rin Hyo memasuki mobilnya, menyandarkan diri pada sandaran mobil yang masih terparkir didepan rumah keluarga Cho dengan mata terpejam frustasi. “Semuanya benar – benar akan berakhir. Aku baik – baik saja, kan?” gumamnya pada diri sendiri. Gadis itu kembali mencoba merilekskan diri dengan menghela napasnya dalam – dalam. Sebelum ia melajukan mobilnya, ia mengambil ponselnya terlebih dahulu kemudian membuat sebuah panggilan pada seseorang.

Yeoboseyo? Joong Ki oppa….. Apa—apa tawaranmu itu masih berlaku?”

***

“Berhenti disini.”

Ujar Kyuhyun pada sopirnya. Park Jung Sik menatap Kyuhyun bingung lalu mengalihkan pandangannya pada gedung tinggi menjulang yang berada disisinya.

“Bukankah ini gedung apartemen Sam Rin Hyo?” Tanya Jung Sik heran. Cho Kyuhyun mengangguk seraya menggumam pelan. “Tunggu aku disini, aku akan kembali.” Ujar Kyuhyun sebelum keluar dari van-nya dan berlari kecil menuju pintu utama gedung itu.

Park Jung Sik dan Park Jungsoo yang tengah menunggu didalam mobil menatap kepergian Kyuhyun dengan senyuman tipis. “Kurasa sebentar lagi, ia akan benar – benar menemukan kebahagiaannya. Keinginannya untuk mengingat Sam Rin Hyo sangat kuat hingga ia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Aku menemukan titik cerah dari kegigihan itu.” Ujar Jungsoo tanpa melunturkan senyumannya. Park Jung Sik mengangguk sekenanya, merasa tak bisa berkomentar apapun lagi saat bayangannya berkelana , menggambarkan kebahagiaan Kyuhyun yang sudah didepan mata.

***

Ting!

            Pintu lift terbuka, menampakkan lorong panjang yang begitu familiar dikedua matanya. Cho Kyuhyun menghela napas kuat – kuat mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang ia lakukan kini adalah benar.

Kyuhyun berhenti disalah satu pintu apartemen yang terletak dipaling ujung lorong ini. pria itu menekan tombol bel lalu menunggu hingga beberapa menit. Menekan tombol itu lagi, kemudian menunggu. Begitulah yang ia lakukan hingga ia berhenti pada percobaan ketiga.

Akhirnya Cho Kyuhyun menyerah, lebih memilih menyandarkan diri dipintu itu. Mungkin Sam Rin Hyo sedang diluar, hal itulah yang ia tekankan diotaknya. Sambil menunggu, Cho Kyuhyun memainkan sarung tangan yang tengah ia genggam.

“Ini milik Joong Ki oppa yang tertinggal dirumah. Aku selalu membawanya didalam tas agar jika aku bertemu dengannya aku bisa langsung mengembalikannya.”

 

            Sesuatu terasa panas didada dan kepalanya saat mengingat ucapan gadis itu. Sedekat apa dia dengan Song Joong Ki? Pria itu sering mengunjungi rumahnya? Apa yang dilakukan mereka hingga Joong Ki melupakan sarung tangannya? Pertanyaan – pertanyaan yang sudah hampir mendekati kata konyol itu muncul diotaknya. Membuat ia kesal sendiri.

“Kyuhyun-ssi!” Tubuh Cho Kyuhyun tersentak kaget. Pria itu menoleh kesamping, kedua matanya sedikit melebar saat mendapati Sam Rin Hyo yang tengah menatapnya datar tanpa ekspresi. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya gadis itu dingin. Membuat hati Kyuhyun kembali merasa sesak.

“A—aku… ingin mengembalikan ini.” Kyuhyun menyodorkan sarung tangan itu pada Rin Hyo yang tak bergeming, hanya menatap sarung tangan itu dengan tatapan dingin. Sungguh, ia tak tahu jika mendapat perlakuan seperti ini dari Sam Rin Hyo juga berpotensi membuat dadanya sesak.

Sam Rin Hyo menyahut sarung tangan itu dengan kasar lalu berkata “Terima kasih.” Dengan nada cepat sebelum tangannya tergerak membuka pintu apartemennya. Cho Kyuhyun terperangah dengan sikap Sam Rin Hyo yang benar – benar diluar dugaannya. Pria itu menarik lengan Rin Hyo sedikit keras lalu menatap gadis itu tajam.

“Kau marah padaku?” Sam Rin Hyo mengatupkan bibirnya rapat – rapat seraya menatap Cho Kyuhyun tak kalah tajamnya.

“Ya, aku marah padamu.” Kyuhyun memejamkan kedua matanya frustasi, lalu menunduk dalam pada Rin Hyo.

Mianhe, aku benar – benar minta maaf. Aku melakukan itu karena—“

“Tidak usah merasa tidak enak hanya karena aku menyukaimu. Kau juga tidak perlu menjelaskan padaku karena tak ada hubungan apapun diantara kita. Kejadian itu, kuanggap sebagai kejadian wajar yang dilakukan oleh sepasang kekasih yang tengah melepas rindu.” Kyuhyun menatap kedalam manik mata Rin Hyo, sedikit terkejut dengan ucapan Rin Hyo. “Kau tenang saja, karena mulai sekarang aku memutuskan untuk berhenti menyukaimu. Aku memutuskan untuk berhenti menyiksa diriku yang sangat mencintaimu.”

Sam Rin Hyo menarik tangannya kuat, hingga cekalan Kyuhyun terlepas. Sebenarnya bukan karena tarikan Sam Rin Hyo yang sangat kuat, itu karena tangan Kyuhyun yang sudah terasa lemas setelah mendengar apa yang dikatakan gadis itu.

Saat pintu itu sudah tertutup ia benar – benar tak tahu harus melakukan apa lagi. Hatinya sungguh ingin menyangkal semua perkataan Sam Rin Hyo, namun otaknya kebingungan mencari alasan apa untuk menahan Rin Hyo agar tetap menyukainya. Agar gadis itu merubah keputusannya.

***

“Aku pulang.”

Ucap Kyuhyun lemas, ia melangkahkan kedua kakinya untuk memasuki rumah yang lampunya sudah tak menyala itu. Tentu saja, ini sudah tengah malam. Tidak ada yang ia lakukan selama sepanjang malam ini selain terdiam, menatapi sungai han.

“Kyuhyun-ah, kau sudah datang?” tubuh Kyuhyun berjengit saat mendengar suara lirih ibunya yang berasal dari ruang tengah. Pria itu menyipitkan kedua mata kemudian menyalakan lampu saat melihat ibunya yang tengah duduk disofa ditengah kegelapan seperti ini.

Cho Kyuhyun menghampiri ibunya yang tengah mencoba berdiri meskipun berkali – kali hampir roboh. Dengan cekatan Kyuhyun menahan tubuh ibunya, kembali mendudukkan ibunya diatas sofa seraya berkata, “Apa yang kau lakukan tengah malam begini?” pria itu melirik sebentar botol wine yang berada diatas meja lalu kembali menatap ibunya datar. “Kau minum?!”

Nyonya Cho tertawa kecil lalu tiba – tiba wanita itu terisak. Kedua tangannya menggapai kearah wajah Kyuhyun lalu mengusap pipi putranya itu dengan sayang. “Mianhe, jeongmal mianhe, adeul-ah.” Racau Nyonya Cho dengan isakan yang semakin kuat.

Waeyo , eomma? Sepertinya kau sudah mabuk.” Nyonya Cho menggelengkan kepalanya kuat.

“Ini semua salahku. Seharusnya aku tak menolak gadis sebaik dirinya, seharusnya kau bisa saja cepat menikah jika aku tak menghalanginya. Mianhe. Aku sudah dengar dari Jung Sik jika kau sangat tersiksa, mianhe.”

Eomma…” suara Kyuhyun semakin lirih saat pikirannya pun juga sangat bingung dengan sikap ibunya yang tiba – tiba seperti ini.

Nyonya Cho menjauhkan tangannya yang sejak tadi hinggap dipipi Kyuhyun, wanita itu berjongkok lalu mengambil sebuah kotak yang lumayan besar berada dibawah meja itu. “Ini… ambillah. Aku tak akan menyembunyikannya lagi darimu. Mianhe, aku bukan ibu yang baik untukmu.” Cho Kyuhyun menerima kotak itu dengan alis mengernyit bingung. Sedangkan Nyonya Cho sudah berdiri lalu berjalan terhuyung – huyung menuju kamarnya.

Kyuhyun menoleh kearah ibunya yang sudah hilang dari pandangannya kemudian kembali menatap kotak yang tengah ia pegang itu dengan helaan napas beratnya. “Apa lagi ini?” gumamnya pada diri sendiri.

***

Cho Kyuhyun memasuki kamarnya, duduk ditepi kasur dengan kedua tangan yang memangku kotak besar itu diatas pahanya. Perlahan, pria itu membuka kotak itu. Dahinya mengernyit saat melihat ada tiga benda yang berada disana.

Ikat rambut, mic mainan dan buku dongeng? Ini apa? Mengapa eomma menyembunyikan ini semua dariku?

 

            Cho Kyuhyun mengambil sebuah ikat rambut yang kainnya sudah mengendur itu. Ikat itu berwarna biru safir, terlihat sudah lusuh karena dimakan waktu. Ia menarik – narik ujung ikat rambut itu. kemudian memasukkan tangannya kedalam lubang ikat itu, hingga ikat rambut itu menggantung dipergelangan tangannya.

“Ikat rambut…” kedua mata Kyuhyun mendadak kosong, hingga tiba – tiba keluar linangan air mata yang membendung hampir keluar. “Ikat rambut…” lirihnya lagi.

Flashback.

 

Cho Kyuhyun memasukkan kedua tangannya pada saku celana sekolahnya. Ia berjalan dibelakang Sam Rin Hyo yang tengah berjalan dengan kedua tangan yang berkutat pada novel yang ia baca.

Merasa diikuti, Rin Hyo menoleh kebelakang. Mendapati Cho Kyuhyun yang tengah berdiri dibelakangnya dengan kedua mata yang menatap kearah lain, juga kepala yang bergerak seolah – olah ia sedang sangat asyik mendengarkan lagu dari earphone-nya. Sam Rin Hyo mendecih, ingin sekali merampas earphone yang pria itu pakai lalu membuangnya jauh – jauh agar Cho Kyuhyun tak mengikutinya lagi.  Rin Hyo mencoba tidak peduli dan kembali berjalan kedepan. Dan saat itu juga, Kyuhyun kembali mengikutinya. Sesekali pria itu tersenyum kecil saat salah satu tangan gadis itu menggaruk tengkuknya sebentar. Sejauh ini, ia hanya bisa berjalan dibelakang Sam Rin Hyo. Berusaha membuat Rin Hyo berhenti membencinya dengan cara selalu berada disekeliling gadis itu. seperti ini.

Alis Kyuhyun terangkat sebelah saat ikat rambut Rin Hyo perlahan turun, semakin turun dan akhirnya terjatuh saat Rin Hyo menghentikkan langkahnya. “Mwoya?! Akhir seperti apa ini?! mengesalkan sekali!” gerutu Rin Hyo seraya menutup novelnya dengan kasar. Cho Kyuhyun tertawa pendek, bagaimana bisa gadis itu tak menyadari jika sekarang  rambutnya sudah tak terikat? Batinnya.

“Rin Hyo-ah!!” Sam Rin Hyo mengangkat kepalanya lalu segera mengulas senyuman lebarnya saat mendapati Shin Ji Eun tengah melambai kuat padanya. Rin Hyo segera berlari menghampiri Ji Eun yang sudah menunggunya didepan gerbang sekolah. Sedangkan Cho Kyuhyun melangkah pelan untuk memungut ikat rambut yang tergeletak dijalan itu. Senyuman kecilnya terulas saat ia memasukkan ikat rambut itu hingga menggantung dipergelangan tangannya.

Flashback END.

Cho Kyuhyun menggenggam erat ikat rambut itu dengan dada yang sudah kembang kempis karena isakannya yang semakin kuat. Kedua matanya sudah memerah karena kebanyakan menangis.

Sebelah tangannya mengambil mic mainan yang berwarna emas itu dan dengan cepat ingatannya kembali bisa mengingat semua itu. semuanya.

“Cho Kyhuyun! Aku… sangat merindukan ayahku. Nyanyikan lagu untukku!”

“Cho Kyuhyun! Guru Jung sangat menjengkelkan dikampus. Nyanyikan lagu umpatan untuknya!”

“Cho Kyuhyun! Kau benar – benar membuatku marah hari ini, sebagai hukumannya. Nyanyikan lagu trot ah! Dan juga menarilah seperti penyanyi trot!”

 

“Apa kau selalu membawa mic ini ditasmu?!” Rin Hyo mengangguk polos. Sedangkan Kyuhyun mendesah frustasi, “Mulai sekarang aku adalah seorang bintang besar. Kau tidak boleh sembarangan menyuruhku menyanyi seenak jidatmu! Aku akan menyita mic ini.”

 

Cho Kyuhyun memegang kepalanya saat pening itu terasa lagi. Hatinya terasa teremas perih, isakannya pun tak kunjung berhenti. “Mianhe. Baboya! Neo baboya, Cho Kyuhyun!!” lirih Cho Kyuhyun pada diri sendiri. Ia memukul – mukul dadanya kuat. Kedua tangannya mulai gemetar saat ia mengambil sebuah buku dongeng bersampul coklat itu. Her prince, His princess. Begitulah judulnya. Judul konyol memang, tapi entah mengapa membuat dada Kyuhyun semakin sesak.

Saat ia membuka lembaran pertama, yang terpampang adalah fotonya dan sebuah cerita disampingnya. Buku ini…

 

“Sangeil chukae! Aku memberimu buku pengantar tidur. Jika nanti kau punya anak, kau bisa membacakan ini pada anakmu.” Cho Kyuhyun mendecih pelan mendengar celotehan Rin Hyo.

“Memangnya anak siapa juga yang akan kubcakan buku ini nanti, huh?” Rin Hyo menggedikkan bahunya acuh.

“Entahlah, memangnya kau ingin membacakan itu untuk anak siapa lagi, huh?! Bacakan saja untuk anakmu!”

“Ck, maksudku anakku nanti pastinya juga anakmu juga Sam Rin Hyo!” Rin Hyo segera tertawa hambar mendengar penjelasan Kyuhyun.

“YA! Cho Kyuhyun! Kau bahkan masih selang satu tahun menjadi seorang penyanyi. Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi nantinya, bisa sajakan aku bukan istrimu nanti.”

“Aish, sudah kubilang! Kau akan menjadi istriku! Aku tak butuh yang lain, hanya kau! ara?!”

 

“Ya, hanya kau!” ujar pria itu dengan suara tercekat. Kepalanya pening luar biasa, dadanya masih terasa sangat sesak dan sakit, tenggorokkan seperti tercekat sulit untuk berbicara. Yang ia lakukan hanyalah menangis, meratapi penyesalan yang begitu dalam.

Aku menyakitimu. Aku sudah menyakitimu begitu dalam.

Tapi mengapa kau masih bertahan, huh?!

Aku sudah sangat jahat! Tapi mengapa kau bisa bertahan selama itu, huh?!

Sam Rin Hyo, maafkan aku.

Aku… aku egois.

Aku… masih sangat mencintaimu.

 

TBC-

Thats it! Alhamdullillah, akhirnya ingatan Kyuhyun sudah pulih setelah 10 part ._.

Maaf agak lama ng-postnya, soalnya uda sekolah lagi jadi otaknya agak gak encer gara – gara ada campur tangan pelajaran yang lagi masuk ke otak -_-

OKE! BYE!! Stay tune ya 🙂 Jngn jadi silent reader ._.

Advertisements

56 thoughts on “Fate , Love, and Temptation 10-B

  1. Ini lebih pendek daripada biasa atau part ini terlalu menarik? XD
    Finally kyuhyun inget semua, tapi telat gk sih. secara hyo nya udah mau pergi.
    sekarang keadaan jadi terbalik, kyuhyun yg kelimpungan buat ngedapetin hyo lagi.
    Kirain udah end d part ini :p moga next part udah gk ada sedih sedih lagi, kasian hyo.. nangis mulu padahal gk ada air mata isi ulang xD

  2. Astaga sampai terharu bacanyaa.. kenapa di part ini semuanya sedih sedihan ? Benarkah hyo akan ikut dengan jongki ?

    Pokoknya next part jangan kelamaan yaaa 😁😁 hhihii

  3. Aduh sbenernya kesel samaa kyuhyun, tapi ga bisa nyalahin dia jugaa
    Secara selama ini yg bisa bikin dia inget kembali dengan ingatannya ga ada disampingnya, mknya ingatannya lamaa bget kembali

    Jangan sad yah author, author kan baik hati dan kece badai cetar membahana

    Setidaknya sekarang waktunya meniti kebahagiaan
    Jangan sedih-sedih melulu
    Kasian kan Sam nya,
    Setidaknya biarkan dia bahagia dgn org yg dicintainya dan mencintainya
    Kalau ga sma kyuhyun pasti ga dpet feel samaa sekalii
    Akuu tunggu author , pokoknya harus happy

    Tapi kenapa sam hrus ikut kbur dgn joong ki oppa,
    Andwaeeeeeeeeee

  4. Oh my god!!
    smga ini cpat slse dan kyu jgn sma rin hyo!!
    pleasee!!
    harga dri seorang wanita harus dpertruhkan!
    bner2 kbwa emsi bca ff ini..

  5. ya ampun mkin rumit msalah y ternyat itu sebab y ny.cho hx suka sma rin hyo..dan akhir y kyuhyun ingatan y sudah kembali tpi knpa rin hyo y mlah mau pergi???
    ijin bca next part y

  6. kyuuu lu telaatt ingettnyaaaaaaa!!!! #teriakpaketoamesjid tapii, tetep aja sbg reader gw bersyukur klo akhirnya lu inget. kkk~ empat jempol buat author kita ini :D. berhasil ngebikin hati readernya cekat-cekit gimna gituu gara2 terbawa emosii dari cerita yg dihidangin.

  7. Sedihnya ya ampun jadi Kyuhyun 😦 mengingat disaat” genting begitu 😦
    Mana Rin Hyo nya udah pingin pergi aja 😦

  8. aku udah ngerasain ibu kyu mulai terbuka pas part 8 atau 9 gitu, lupa. Akhirnya ibu kyu memberi restu. Tapi rinhyo kenapa pergi, padahal kyu udah ingettttt. Aaaaaa…. Sediiih banget sih. Gak kuat untuk tak menahan tangis hiks..hiks.hiks menguras emosi

  9. Oh my, knp part menuju end malah menguras emosi??
    Itu rinhyo knp pergi sih?! Kyu kan udah inget semuanya..
    Tapi gak papa juga sih, perpisahan ini untuk memperkuat rasa mereka..
    Semoga happily ever after..

  10. ndak nyangka ternyata alasan nyonya cho memisahkan rin hyo dan kyuhyun,itu krn ayah rin hyo yg membawa kabur uang perusahaan..
    Akhirnya kyuhyun ingat juga,
    ayo kyu kejar rin hyo.. Jgn sampe dia pergi..
    Dan jgn sampe rin hyo pergi dg joong ki ke belanda

  11. apa inii?? ampun ternyata eh ternyataaa hehe..
    ada rahasia dibalik rahasia
    pas rin hyo nyerah si kyunya udah inget,udah si rinhyo ikut kabur aja sama joong ki,nikah sama dia kkk

  12. OMG ! Onnie , aku benar2 nangis ni + keluar ingus ni *menjijikan*
    Aduh, oh God , dada ku nyesek bnget ,, gak bisa bernapas. Aplgi bgian kyu bru ingat semua nya .
    Huwaaaa 😥 hiks sakitttt hati ku ini 😥
    Oke aku lnjut onnie ,, bye bye
    Penasaran !!!

  13. ya ampun… ikutan mewek saya… cepet kyu, kejar rin hyo jangan sampai dia pergi ke belanda…. ternyata itu alasan nya kenapa ibunya kyuhyun ga suka sama rin hyo.. rin hyo pergi dari kyuhyun karena merasa bersalah akibat perbuatan ayahnya dulu..

  14. Ya ampun. Akankah semua terlambat bagi kyu hyo? Ya ampun gategaa :’
    Ternyata masalahnya itu toh. Tapi nyonya cho uda nyeselkan? Jangan jangan rinhyo langsung ke belanda. Dan kyuhyun bakal sakit hati lagi ? Dan apa yang bakal terjafi sama hyera ? Aaaaaaaa part ini menguras emosiiii :’

  15. Ohh jadi gegara itu kim hana benci sama rin hyo.. 😥
    Ingatan kyuhyun sudah sembuh.. rin hyo nya pergi ke belanda..
    huaa kapan dong mereka balikannya.. 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s