Nothing Impossible 4

nothing impossible pic

Author: Bella Eka

.

.

Shin Ji Eun membereskan barang-barangnya sebelum akhirnya keluar tenda. Peserta lainnya pun begitu, bersiap diri untuk kembali pulang. Kedua kakinya bergerak menghampiri sekumpulan panitia, berniat menemui Cho Kyuhyun. Namun tiba-tiba telinganya mendengar suara tersembunyi dibalik pohon besar. Penasaran, Ji Eun semakin mendekati pohon itu hingga dapat mendengar sebuah perdebatan semakin jelas.

“Memangnya kenapa jika aku menyukaimu? Jika ternyata aku mencintaimu?”

“Jangan menyukaiku, Kikwang-ah. Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini.”

“Aku juga seorang pria, Hyo. Aku berhak menentukan siapa gadis yang kusukai. Mengapa kau boleh menyukai Cho Kyuhyun sementara tidak diperbolehkan untukku menyukaimu?”

Nafas Ji Eun tercekat, seluruh tubuhnya melemas. Namun ia segera beranjak pergi menjauh dari tempat itu. Tidak ingin mendengar pembicaraan mereka lebih jauh lagi. Mencari keberadaan Kyuhyun dengan tergesa dan berdiri tegak dengan mata berkaca-kaca dihadapan pria itu.

Kyuhyun membawa gadis yang tengah rapuh itu ke tempat yang lebih tenang dimana tak ada banyak orang disekitarnya. Mengarahkan Ji Eun agar duduk di atas akar pohon raksasa, dan berlutut dihadapan sahabatnya itu. “Ada apa lagi?” tanyanya lembut.

“Apa yang harus kulakukan?” isak Ji Eun. Air matanya tak lagi mampu terbendung. Kyuhyun meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Mengusap tubuh bergetar itu dengan sangat lembut. “Apakah Lee Kikwang melukaimu?” tanyanya. Kyuhyun menghela nafas berat setelah mengetahui bahwa tebakannya benar karena tangisan Ji Eun semakin menjadi.

Kyuhyun menatap nanar gadis yang berada dalam pelukannya. Gadis itu sama sekali tak mudah untuk jatuh cinta, sama seperti dirinya. Sangat berhati-hati dalam menaruh hati mereka yang berharga. Namun apa yang bisa dilakukan jika semuanya telah terlanjur terjadi?

Shin Ji Eun menarik diri dari pelukan Kyuhyun. Menghapus kasar pipinya yang basah dan segera bangun berdiri tegak. Ekspresi wajahnya kembali dingin, kaku seperti biasa. Banyaknya air mata yang mengalir sebanding dengan beban kegundahannya kian berkurang. Mungkin juga perasaannya pada Lee Kikwang.

“Babak menyedihkannya telah berakhir?” goda Kyuhyun yang tak lagi terkejut akan perubahan suasana hati Ji Eun tiba-tiba. Karena gadis itu memanglah seperti itu. Sedetik bahagia, detik berikutnya mungkin saja bermuram durja.

Kyuhyun mengulurkan tangannya, sedikit menggerakkannya agar disambut oleh Ji Eun. Namun hanya tatapan malas serta ejekan yang ia dapat, “Kenapa jadi kau yang melemah? Berdiri saja tidak bisa.”

Ya! Apa salahnya menarik tangan indah ini? Apakah kau alergi padaku?! Kau ini benar-benar,” gerutu Kyuhyun kesal. Ji Eun memutar bola matanya malas sebelum akhirnya menangkap tangan Kyuhyun agar dapat digunakan pria itu sebagai tumpuan untuk bangkit dari duduknya.

“Pantas saja Kikwang tak tertarik padamu.” Kedua mata Ji Eun sontak membulat mendengar ucapan Kyuhyun yang telah berjalan mendahuluinya. Mempercepat langkah mendekati Kyuhyun untuk mengetuk keras kepala sahabatnya itu. “Apa yang baru saja kau katakan, hah?! Memangnya siapa yang berharap dia tertarik padaku?! Dasar!”

Sambil mengusap bagian kepalanya yang sakit, Kyuhyun berbalik meneriaki Ji Eun, “Setelah meluapkan kesedihanmu padaku masih saja kau berusaha mengelak? Maaf saja aku tak sebodoh dirimu!”

YA!

***

“Tidak bisakah kau bersikap seperti biasa? Sudah kubilang anggap saja kau tak mendengar pengakuan bodoh itu kemarin.”

“Bagaimanapun aku telah mendengarnya.” Jawaban apatis Rin Hyo membuat Kikwang mendesah frustasi.

“Jika sudah begini apa yang harus kulakukan?” Kikwang menghela nafas kasar saat Rin Hyo bersikap seakan tak mendengarnya dan lebih memilih untuk berjalan semakin menjauh darinya.

Ya! Sam Rin Hyo!”

“YA!”

Perhatian Kikwang dan Rin Hyo teralih seketika mendengar teriakan seorang gadis yang berasal dari arah belakang. Terlihat Shin Ji Eun dengan kepalan tangan kanan yang terangkat ke udara tengah berlari mengejar Cho Kyuhyun yang semakin mempercepat gerak kakinya seraya terkikik geli.

Keadaan sangat kontras terjadi antara Kikwang dan Rin Hyo. Kedua orang itu hanya terdiam terpaku menatap objek yang sama. Bola mata mereka bergerak bersamaan menuju arah yang sama pula. Tersadar merasa diamati, Cho Kyuhyun mengurangi kecepatan langkahnya dan diikuti Shin Ji Eun setelah mengikuti arah pandang Kyuhyun.

Menggunakan kemampuannya dalam membaca situasi, Kyuhyun segera mengerti apa yang terjadi. Sorot matanya memindai Kikwang dan Rin Hyo bergantian. Tepat! Tebakannya semakin terasa benar setelah memandang Ji Eun yang tersenyum getir sembari menatapnya. Kyuhyun memperhatikan Kikwang dan Rin Hyo sekali lagi sebelum menghembuskan nafas berat dan mengalungkan lengannya pada tengkuk leher Ji Eun untuk segera membawa gadis itu pergi.

Pandangan Kikwang berpindah pada Rin Hyo yang masih tak bergeming. “Hyo, kau tak apa?” tanyanya menyadarkan lamunan Rin Hyo dan gadis itu segera beranjak. Sementara Kikwang kembali memusatkan tatapannya pada Kyuhyun dan Ji Eun yang bergerak menuju bus peserta.

***

Shin Ji Eun mengamati suasana luar bus peserta melalui jendela. Berbeda dengan dirinya yang telah duduk tenang dalam bus, mereka masih terlihat sibuk membawa barang bawaan mereka yang tentunya semakin berat dari sebelumnya.

Tatapannya berubah sayu setelah menemukan Lee Kikwang dalam kerumunan mereka. Tubuhnya sontak terperanjat saat Kikwang balik menatapnya namun Ji Eun semakin menajamkan sorot matanya hingga Kikwang menaiki tangga bus peserta.

Tanpa berniat sedikitpun mengetahui situasi di depannya, Ji Eun tetap memusatkan perhatiannya kearah jendela. Tak lama kemudian dahinya berkerut ketika merasakan kursi disampingnya bergerak dan menemukan Kikwang disana. “Kembalilah ke asalmu.”

Ya! Aku tidak berasal dari dunia yang berbeda denganmu.”

“Ini tempatku.”

“Bukankah tempat ini kosong?”

“Tapi masih berada dalam wilayahku!” tegas Ji Eun membuat Kikwang mengulum tawa. Sementara Ji Eun mengerjap cepat lalu menutup mulutnya rapat. Merutuki dirinya sendiri dalam hati sebab melontarkan ucapan yang membuatnya merasa amat konyol. “Terserahlah,” sambungnya kemudian.

Ji Eun kembali memalingkan wajahnya, berusaha tak menganggap keberadaan Kikwang. Tangannya bergerak mengambil earphone dari dalam tas kecilnya. Namun terhenti begitu mendengar pertanyaan singkat Kikwang, “Kenapa kau menangis?”

“Kau bercanda?”

“Bukan sekarang, tapi tadi. Saat kau bersama Kyuhyun.”

Titik fokus mereka bertemu, tertahan beberapa detik sebelum Ji Eun mengalihkannya. “Bagaimana jika kukatakan karenamu?”

“Kau pasti bercanda.”

“Maka berhentilah menanyakan hal yang tak seharusnya kau tanyakan padaku,” ujar Ji Eun dingin begitu juga suasana diantara mereka. Ji Eun melanjutkan kegiatannya, mengaitkan earphone ke kedua telinganya.

“Berikan aku satu.” Kikwang bergeser mendekat hingga bahu mereka bersentuhan, menyahut satu sisi earphone Ji Eun dan memakainya. “Apa yang kau lakukan? Jangan terlalu dekat denganku!”

“Kyuhyun telah mempercayakanmu padaku maka aku harus selalu dekat denganmu. Bukankah begitu?”

“Jadi kau ingin aku menyalahkan Kyuhyun?”

“Kau berharap kabel ini terputus karena kita saling menjauh?”

“Kedengarannya menyenangkan.”

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Kikwang heran lalu mengambil alih ponsel Ji Eun dari genggamannya dan segera menyentuh logo segitiga pada layar benda itu.

“Kau juga menyukai lagu ini?” ujar Kikwang semangat begitu lagu milik Sam Smith yang berjudul Stay With Me mengalun indah di telinganya. Sedangkan Ji Eun hanya mampu menghela nafas beratnya.

***

“Ji Eun-ah, Ji Eun-ah. Bangunlah, kita sudah sampai.”

Mendengar suara lembut serta merasakan tepukan pelan pada pipi kirinya membuat Ji Eun perlahan membuka mata. Mulai mengangkat kepalanya yang semula bersandar nyaman pada bahu seseorang di sampingnya. Tunggu, bersandar? Ji Eun menoleh cepat, benar saja pria disampingnya tak berubah. Masih tetap Lee Kikwang. Ji Eun mendesis pelan, bagaimana bisa ia terlelap dalam keadaan seperti ini?

“Bagaimana bisa kau tertidur pulas dalam kondisi seperti ini?” tanya Kikwang menyebabkan Ji Eun menatapnya tak percaya. Astaga, pria itu benar-benar melontarkan pertanyaan yang baru saja dipikirkannya.

“Entahlah.”

“Apakah bahuku senyaman itu? Hingga kau benar-benar terjaga tanpa tersadar sedikitpun.”

“Berhentilah menanyakan hal yang tak kutahu jawabannya.” Putus Ji Eun lalu segera beranjak. “Minggir,” titahnya singkat dan melewati Kikwang yang telah menepikan kakinya di samping kursi bus. Tangannya yang akan menggapai tas merah dari dalam loker atas terhenti karena Kikwang berhasil mendapatkannya terlebih dahulu. Pria itu mengaitkan tas itu di bahu kanannya dan tas lainnya yang berwarna hitam miliknya di bahu kiri lalu melangkah menuju pintu keluar bus meninggalkan Ji Eun yang hanya menatapnya heran. “Ya! Aku tidak memintamu melakukan hal itu jadi jangan berharap mendapat imbalan apapun dariku,” ujar Ji Eun seraya berjalan mengekori Kikwang.

“Untuk apa kau membawa barang bawaan seberat ini?” keluh Kikwang setelah meletakkan tas carrier Ji Eun diatas sebuah kursi panjang.

“Lagipula untuk apa kau bersusah payah membawakannya untukku?”

Aigoo, itu kah ucapan yang layak kau berikan untukku?!” Kikwang mendecih kesal, menatap malas gadis dengan tatapan tanpa rasa bersalah sedikitpun padanya itu kemudian berbalik.

Gomawo.”  Mendengar suara lirih gadis itu, gerak kaki Kikwang yang akan menginjak langkah ketiga terhenti. Ia mengernyit begitu mendapati wajah polos Ji Eun setelah memutuskan kembali menghadap gadis itu. “Mwo? Kau bilang apa?”

Gomawo.”

“Apa maksudmu? Aku sama sekali tak mendengarnya,” goda Kikwang membuat Ji Eun mendecak dan berpaling darinya.

Disaat itu juga, Ji Eun menemukan Kyuhyun bersama seorang gadis tengah berbincang hangat. Mencoba memperjelas sosok gadis itu dengan menyipitkan matanya, namun tak lama kemudian berubah melebar geram.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kikwang lalu mengikuti arah pandang Ji Eun tertuju. Pada waktu yang bersamaan Ji Eun kembali menatapnya, namun hanya sekilas karena tak ingin membiarkan gemuruh dalam dadanya semakin menyeruak.

***

“Tak perlu, Kyuhyun-ssi. Aku pulang sendiri saja.”

“Sendiri? Tidak bersama Kikwang?”

Rin Hyo terdiam. Ya, gadis yang ditemukan Ji Eun sedang bersama Kyuhyun itu tak lain adalah Sam Rin Hyo. Pulang bersama Kikwang, mungkin tidak untuk sekarang. Berencana menjauh sejenak dari sahabatnya itu agar keadaan berangsur pulih merupakan keputusan terbaik untuk saat ini menurutnya. “Sudahlah, Kyuhyun-ssi. Pulanglah terlebih dahulu. Lagipula bus umum masih banyak berlalu lalang di jam seperti ini.”

“Simpan saja uangmu dan terima tawaranku. Untuk apa memilih jalan yang sulit sementara tersedia cara yang jauh lebih mudah?”

“Cabut saja tawaranmu dan lekas pulang bersamaku.”

Perhatian Kyuhyun dan Rin Hyo sontak teralih pada seseorang yang memotong pembicaraan mereka tiba-tiba. Shin Ji Eun yang baru saja datang melempar sorot mata sinisnya pada Sam Rin Hyo.

“Ayo pulang, aku lelah. Kau juga, kan?” ujar Ji Eun sembari menarik lengan Kyuhyun dan memeluknya erat. Sedangkan Kyuhyun menatapnya tak mengerti, tak biasanya gadis itu bermanja padanya. Bahkan tak pernah sekalipun.

“Rin Hyo tidak pulang bersama Kikwang hari ini.”

“Tentu saja,” balas Ji Eun singkat dengan tatapan semakin menghunjam manik mata Rin Hyo hingga gadis itu tertegun.

Ya! Ada apa denganmu hari ini?” tukas Kyuhyun tak tahan.

“Lalu apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku? Kau akan memberinya tumpangan pulang untuk yang kedua kalinya?”

“Haruskah?”

“Tidak!” jawab Ji Eun tegas. “Atau lebih baik tinggalkan saja aku jika kau tetap melakukannya,” lanjutnya cepat.

Kyuhyun menghela nafas kasar, melepas tautan tangannya dengan Ji Eun lalu menatap tajam gadis itu. “Baiklah bila itu maumu. Ayo kita pergi, Rin Hyo-ah.”

Kedua bola mata Ji Eun membulat sempurna. Untuk pertama kalinya Kyuhyun lebih mementingkan gadis lain dibandingkan dirinya, yang benar saja. “YA! Cho Kyuhyun!pekiknya kesal.

“Sebaiknya kau pulang saja bersama Shin Ji Eun, Kyuhyun-ssi. Aku tak membutuhkan bantuanmu.”

Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi, menatap Ji Eun dan Rin Hyo bergantian seraya berkacak pinggang. “Sebenarnya ada apa dengan kalian? Apa salahnya menerima bantuan kecil dariku? Merasa tidak enak karena merepotkanku? Oh ayolah, jalur rumah kita searah dan pastinya kau tahu itu,” papar Kyuhyun pada Rin Hyo lalu beralih menghadap Ji Eun.

“Dan kau, ada apa denganmu hari ini? Mengapa kau…” Kyuhyun melepas hembusan nafasnya. Sengaja menggantung kalimatnya dikala teringat peristiwa pagi tadi. Tentulah itu yang menjadi alasan perubahan sikap drastis Ji Eun sekarang. “Sudahlah. Mian, Rin Hyo-ah. Kau harus benar-benar pulang sendiri untuk saat ini,” ujar Kyuhyun lalu segera beranjak dengan menggenggam tangan kanan Ji Eun bersamanya.

***

Langkah sepatu boot biru yang bergerak bergantian berhasil memusatkan seluruh perhatian Rin Hyo. Gadis itu terus berjalan menunduk. Menerka-nerka penyebab sikap Ji Eun padanya tak kunjung mendapatkan jawaban pasti.

Mungkinkah Ji Eun menyadari bahwa dirinya menyukai Kyuhyun? Ah tidak mungkin, pikirnya. Karena ia telah berusaha sebaik mungkin menutup perasaannya rapat-rapat. Disamping itu mereka bukanlah sepasang kekasih, bukan? Tapi kenapa Ji Eun memperlakukan dirinya seperti itu? Apakah gadis itu juga menyukai Cho Kyuhyun?

Pemikiran liar Rin Hyo berakhir saat menyadari sesuatu berjalan mengikutinya. Bola matanya mengarah kesamping namun menahan kepalanya untuk menoleh ke belakang. Gadis itu meluruskan pandangannya, lebih memilih untuk mempercepat langkahnya tergesa. Namun sejauh manapun ia berjalan tetap saja suara itu terdengar mendekat. Apabila didengarkan dengan seksama, bunyi itu adalah suara mobil. Yang berarti secepat apapun Rin Hyo menjauh hasilnya akan tetap sama.

Tanpa menyalakan lampu LCD pada ponsel, Rin Hyo mengangkat benda itu sejajar dengan kedua matanya. Disana ia menemukan sebuah mobil hitam mengikutinya. Mobil yang sangat ia kenal, karena itu gadis itu berani berbalik menatap seorang pria yang berada dibalik kemudi dalam mobil itu.

Tak bertahan lama, Rin Hyo kembali melanjutkan langkahnya. Tidak memedulikan pria yang sedari tadi memperhatikannya. Tiba-tiba ponselnya terasa bergetar. Ia memutuskan untuk menerima panggilan itu setelah memandang beberapa detik layar yang menampakkan deret nama Lee Kikwang disana.

Masuklah.

Tanpa mengindahkan suara berat dari dalam ponsel itu Rin Hyo segera memutus sambungan telepon mereka dan memasukkan benda itu kembali ke dalam saku mantelnya. Rin Hyo tetap tak ragu menggerakkan kakinya walaupun ponselnya terus bergetar lama berulang kali. Hingga mobil yang semula mengendap-endap membuntutinya melaju kencang mendahuluinya.

Rin Hyo menghela nafas lega. Dalam hati meminta maaf pada Lee Kikwang karena harus berlaku dingin padanya. Seandainya supir pribadinya tak meminta cuti hari ini pasti gadis itu takkan mengalami kesukaran untuk pulang seperti ini.

***

Shin Ji Eun segera melepas sabuk pengaman yang melekat setelah Kyuhyun menepikan mobilnya. “Terimakasih atas tumpangannya,” ucapnya lalu membuka pintu disampingnya. Gadis itu mendecak kesal saat Kyuhyun menahan lengannya dan dengan cepat menatap tajam pria yang masih memandang lurus kedepan itu.

“Katakan padaku.”

Mwo?!”

“Kenapa kau bersikap seperti ini dan apa yang telah Kikwang lakukan hingga membuatmu menangis tadi pagi.”

“Ucapanmu tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan,” balas Ji Eun ringan kemudian menjejakkan sebelah kakinya keluar. Namun lagi-lagi Kyuhyun tak membiarkannya pergi. “Jawab saja.”

“Kau takkan mengerti.”

“Begitukah? Seingatku kau pernah mengatakan bahwa selain keluargamu hanya aku yang mampu mengerti dirimu.”

Jinjja? Sayangnya aku telah melupakannya,” dusta Ji Eun lantas melesat keluar mengantisipasi bila Kyuhyun kembali mencegahnya. “Mulai besok tak perlu menjemputku,” sambungnya sebelum menutup pintu.

“Sepertinya benar-benar berkaitan dengan Sam Rin Hyo,” gumam Kyuhyun.

***

Setelah menyelesaikan segala persiapan sekolah Rin Hyo menyambar tas ranselnya dan beranjak keluar kamar. Langkahnya terhenti begitu mendapati seorang pemuda dengan seragam sama dengannya tengah duduk di sofa ruang tamu. Tubuhnya membeku namun tidak dengan otaknya. Berpikir keras mencari cara untuk menghindari Lee Kikwang, pemuda itu.

“Ayo berangkat,” ujar Kikwang yang telah menyadari keberadaan Rin Hyo membuat gadis itu menghela nafas gusar. Kikwang bertingkah seperti biasa, berbeda dengan Rin Hyo yang tidak dapat menyembunyikan kecanggungan diantara mereka.

Kikwang berhasil mengambil selangkah lebih awal menyebabkan Rin Hyo tak mampu berkutik. Tidak memiliki pilihan lain kecuali menerima tawaran sahabatnya itu untuk berangkat bersama. Karena tak sampai hati gadis itu tega membiarkan usaha Kikwang sia-sia.

Pegangan tangan Rin Hyo lebih renggang dari biasanya. Serta tak ada percakapan yang terjadi sedari beberapa menit lalu semenjak mereka meninggalkan rumah Rin Hyo. Kikwang hanya sibuk mengayuh tanpa lelah sedangkan Rin Hyo menunduk dalam menatap kedua kakinya yang menggantung di bawah.

Di tengah perjalanan mereka dikejutkan oleh sebuah mobil sedan merah yang melintas kencang tepat disamping mereka. Begitu dekat hingga Kikwang hampir menjatuhkan sepedanya bila kakinya tak cekatan memijak aspal. “YA!! Aish, apa dia sudah gila?!” pekik Kikwang geram lalu memalingkan perhatiannya pada gadis di belakangnya, “Gwenchana?”

Sedetik kemudian terdapat sebuah mobil hitam menepi mendekati mereka. Kaca mobil itu terbuka dan menampakkan Cho Kyuhyun di dalamnya, “Mian,” ucapnya membuat Kikwang dan Rin Hyo menautkan kedua alis mereka. “Untuk apa?” tanya Kikwang.

Gwenchana?”

“Apa maksudmu?”

“Syukurlah kalau begitu. Aku pergi dulu,” pamit Kyuhyun lalu menginjak pedal gasnya tanpa menjawab satupun pertanyaan Kikwang. “Aneh sekali.”

“Sudahlah lanjutkan saja daripada kita terlambat,” ujar Rin Hyo menyadarkan Kikwang yang masih mengernyit tak mengerti.

***

“Ya! Shin Ji Eun!” teriak Kyuhyun begitu keluar dari mobilnya. Berlari kecil menghampiri seorang gadis yang berjalan santai tak jauh darinya.

Eotte?”

“Mwo?”

“Keahlian mengemudiku berkembang pesat, kan?”

Kyuhyun menghela nafas kasar. Gadis itu memikirkan hal yang sama sekali diluar dugaannya. “Jadi kau sengaja menyerempet mereka hanya untuk mengukur seberapa jauh kemampuanmu? Kau sudah gila?!”

“Aku tahu kau mengekoriku jadi sekalian saja kutunjukkan padamu,” jawab Ji Eun ringan sembari mempercepat langkahnya.

“Katakan padaku.”

“Apa lagi?”

“Alasanmu.”

“Bukankah baru saja kukatakan padamu?”

“Kau takkan mampu membohongiku.” Ji Eun meringis kesakitan saat Kyuhyun mencengkeram tangannya erat. “Lepaskan! Kau anggap aku tahananmu?!” pekiknya lalu melemaskan bagian tangannya yang terasa nyeri setelah Kyuhyun melepasnya. “Kenapa kau begitu ingin tahu?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Kau takut jika ternyata melibatkan Sam Rin Hyo?” ucap Ji Eun seraya memiringkan senyuman tipisnya. Kelopak mata Kyuhyun sedikit melebar mengetahui perkiraannya benar.

“Sudah kubilang kau takkan memahaminya,” sambung Ji Eun.

“Apa susahnya mengatakannya padaku?”

“Kau takkan membantu walaupun aku memberitahumu. Maka lebih baik kau tak perlu tahu. Aku malas membuang energi untuk hal yang nantinya akan sia-sia. Lebih baik jangan datang padaku apabila kau hanya ingin menanyakan hal yang sama,” jelas Ji Eun kemudian beranjak membelakangi Kyuhyun.

“Mereka hanya bersahabat. Sama seperti kau dan aku. Kau tahu itu, kan? Untuk apa menaruh kecemburuan sebesar itu?”

Ji Eun tak menoleh sedikitpun. Tidak menanggapi Kyuhyun yang berbicara seorang diri. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu membuatnya berbalik, “Kau sudah mengerjakan PR matematika?”

***

Sam Rin Hyo berjalan menyusuri koridor bersama Park seonsaengnim dengan membawakan beberapa buku paket milik wanita yang masih muda itu. Kedua mata gadis itu menyipit dikala menemukan pemandangan janggal disela langkahnya. Tampak seorang siswa berdiri dengan mengangkat sebelah kakinya di depan salah satu kelas. Semakin dekat posisi mereka membuat pandangannya semakin jelas hingga kelopak matanya melebar tak percaya.

“Ada apa denganmu, Cho Kyuhyun? Kau memiliki masalah? Tidak biasanya kau melakukan kesalahan hingga dihukum seperti ini,” ujar Park seonsaengnim seraya menghentikan gerak kakinya tepat dihadapan Kyuhyun.

Di dalam kelas, Ji Eun terlalu gusar hingga tak bisa diam melihat jarak Rin Hyo dan Kyuhyun semakin dekat. Gerak geriknya yang berulang kali memalingkan wajahnya keluar kelas berakhir tertangkap oleh Kim seonsaengnim. “Shin Ji Eun! Jika kau tidak mampu memusatkan seluruh perhatianmu ke dalam mata pelajaranku lebih baik keluar sekarang juga!” gertak Kim seonsaengnim hingga suasana berubah hening mencekam.

“Kamsahamnida, seonsaengnim,” ucap Ji Eun sembari bangun lalu membungkuk sopan sebelum berlalu meninggalkan seluruh isi kelas yang menatapnya tertegun.

“Annyeong haseyo, Park seonsaengnim. Ada yang bisa saya bantu?” ujar Ji Eun ramah setelah menutup pintu kelasnya.

“Apa yang kau lakukan disini?” bisik Kyuhyun.

“Tidak perlu. Kau juga dikeluarkan dari kelas?”

“Tentu saja tidak, seonsaengnim. Hanya ingin ke kamar mandi sebentar. Wah, sepertinya terlihat sangat berat. Mau kubantu, Rin Hyo-ah?” Rin Hyo menatap Ji Eun penuh keheranan. Keramahan yang diperlihatkan gadis itu, entah kenapa terasa sangat alami.

“Astaga, kau benar. Kami harus segera memasuki kelas. Kau ini, pandai sekali menyindir orang lain secara halus,” desis Park seonsaengnim pada Ji Eun kemudian melanjutkan langkahnya yang tertunda.

“Aku tidak bermaksud begitu, seonsaengnim,”  bela Ji Eun.

Disisi lain Rin Hyo dan Kyuhyun masih saling melempar tatapan dalam. Segera Ji Eun membuyarkan lamunan mereka begitu menyadarinya. “Sampai kapan kau akan berdiri disini, hah?!” sinisnya membuat Rin Hyo segera beranjak menyusul Park seonsaengnim.

“Kenapa kau menatapnya seperti itu?”

“Kenapa kau masih berada disini?” tanya Kyuhyun balik.

“Memang seharusnya aku disini.”

YA! Bagaimana bisa kau tidak suka melakukan hal sia-sia tapi membuat usahaku terbuang begitu saja?! Asal kau tahu, aku telah mengerjakan PR itu hingga larut malam. Jika berujung seperti ini seharusnya aku tak memberikan tugasku padamu tadi. Aish, tidak bisakah kau berhenti bersikap menyebalkan?!” lontar Kyuhyun geram dengan memelankan suaranya. Sementara Ji Eun terdiam menundukkan kepalanya. Membiarkan Kyuhyun memarahinya sesuka hati.

“Aku hanya ingin menyelamatkanmu.”

“Menyelamatkan apa? Semakin lama semakin aku tak mengerti kemana arah jalan pikiranmu.”

***

Seperti biasa Sam Rin Hyo mengasingkan diri dari keramaian. Berada dalam taman sekolah yang sepi namun tanpa novel serta earphone nya. Pikirannya terlalu sibuk bergelut hingga tak sempat melakukan kegiatan favoritnya.

Memori otaknya terus memutar ulang kejadian saat Kyuhyun menyatakan perasaannya padanya. Tepat saat mereka sampai di sekolah sepulang dari perkemahan lalu.

“Rin Hyo-ah. Dengarkan aku. Aku menyukaimu. Mungkin terdengar konyol atau tidak mengandung keseriusan di dalamnya. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara meyakinkanmu bahwa aku menyukaimu. Entah sejak kapan aku tak tahu. Semakin memikirkannya membuatku semakin yakin bahwa aku benar-benar menyukaimu. Bahkan… ah, canggung sekali mengatakan ucapan ini secara langsung. Mungkin aku telah bertindak lebih jauh. Aku mencintaimu.”

Rin Hyo menggigit bibir bawahnya kuat. Sesaat lagi Kyuhyun pasti akan datang karena sebelumnya ia telah berjanji akan memberikan jawaban atas pernyataan pria itu hari ini, di tempat ini, dan di waktu ini pula.

Namun keputusannya belum juga ia dapatkan. Apakah ia harus menerima ataukah sebaliknya. Rin Hyo telah lama mencintainya, seharusnya ini menjadi kesempatan emas baginya untuk bersatu bersama Kyuhyun. Tak disangka pria dingin apatis itu memberi timbal balik atas perasaannya selama ini.

Tapi gadis itu tengah berada dalam dilema besar. Meski dirinya pun memiliki perasaan yang sama pada Cho Kyuhyun, sepertinya Shin Ji Eun juga memiliki perasaan lebih pada pria itu. Apabila dirinya dan Kyuhyun benar-benar menyatukan perasaan mereka, lantas bagaimana dengan Shin Ji Eun? Bagaimana dengan jalinan persahabatan mereka selama ini? Sama sekali tak ingin Rin Hyo menjadi pihak penghancur hubungan sepasang sahabat itu.

Sepasang kaki menghampirinya membuatnya mendongak. Bukannya mendapati Cho Kyuhyun, melainkan Lee Kikwang lah yang berada dihadapannya saat ini. “Apa yang kau lakukan disini?”

Tanpa menjawab pertanyaan Rin Hyo, Kikwang menyentuh kedua bahu gadis itu dan mengangkatnya bangun dari duduknya. Rin Hyo sontak membulatkan kedua matanya saat Kikwang mempersatukan bibir mereka tiba-tiba. Sekuat tenaga Rin Hyo mencoba melepas tautan mereka namun Kikwang telah menguncinya dengan membingkai wajahnya hingga dirinya tak mampu bergerak bebas.

Tak jauh dari tempat mereka, dengan membawa dua kotak orange juice Kyuhyun terdiam membeku. Bola matanya terus bergerak seakan kehilangan titik fokusnya. Walaupun berulang kali menghembuskan nafas beratnya tetap saja dadanya masih terasa sesak.

Kyuhyun memalingkan wajahnya ke samping kiri ketika merasakan kedatangan seseorang. Melebarkan matanya menemukan keberadaan Shin Ji Eun didekatnya. “Sejak kapan kau…”

Gadis itu menitikkan air matanya. Tatapannya terus terpaku pada Kikwang dan Rin Hyo. Genggaman tangan Kyuhyun pada kotak orange juice dilepasnya. Beralih menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah rapuh Shin Ji Eun. Mengalihkan perhatian gadis itu dengan cara menyapukan bibirnya pada bibir bergetar milik sahabatnya itu.

———————————

To be Continued

Advertisements

68 thoughts on “Nothing Impossible 4

      • ya, tiap action pasti ada alasannya tapi cara gikwang d sini salah menurut q.
        1st, dia ngancurin persahabatannya sendiri. udah keliatan dari part sebelumnya gimana sikap Hyo ke gikwang setelah pengakuan mendadak gikwang. bakal aneh klo d next part Hyo bersikap cuek like nothing happen setelah ciuman.
        2nd, dia ngancurin eun ji yg mungkin gikwang gk pernah tau sama sekali klo eun ji juga suka ama gikwang.
        dan org lain yg jadi korban tindakan gikwang ~ kyuhyun. d sini dia mesti menata hati dia sendiri dan juga hati sahabatnya. gk mungkin dia bakal bisa bilang ke diri dia sendiri klo ciuman gikwang cm untuk seorang sahabat.

        tapi d antara ke 3 orang ini yg paling ancur pasti Hyo, d permainkan sahabatnya, gk bisa meraih cintanya yg jelas jelas udah d depan mata, dan d benci eun ji.
        ini cm pandangan aq aja sih setelah baca beberapa part, moga nextnya gikwang gk kekanakan seperti ini.

  1. Astaga, makin gak ngerti sama alur ceritanya, kenapa makin ribet gini ?
    Duh kikwang ah, nekat banget nyium rin hyo. Kenapaa ?

    Speechless deh pokoknya !!

  2. Hai kaa , demi apa aku greget banget banget banget . rin hyo cuma bilang iya aja susah bgtttt . Mikirnya terlalu jauhh iih gregeett lanjutin ya ka semangatt

  3. Pertama akuu sebel samaa kikwang,
    Kedua akuu benci dengan ji eun
    Ketiga akuu kasian sma kyuhyun, tapi akuu jugaa bilang kyuhyun bodoh menyelamatkan sahabatnya dengan ciuman , tpi menghancurkan cintanya sendiri
    Dan yangg terakhir nasib Rin hyo paling tragis disini, paling paling paling tragis, kasian kan gadis sebaik dia hrus dibikin terpuruk oleh sahabat dan cintanya, dibenci pula sma ji eun
    Apapun alasan kikwang, menurutku udh kelewatan , klo emnk shbat ga ush maksain gitu kan buat nyium rin hyo,

    Kikwang psti brpikir klo kyuhyun suka ji eun, trus tkut sahabatnya sakit hati makanya dia ngelindungi rin hyo
    Aaaahhhhhh kikwang dan ji eun itu menyebalkan, mreka sma-samaa psangan menyebalkan dan menyedihkan, klo suka ungkapin , malah ngerusak jalinan cinta kyuhyun sma Rin hyo, bner-bner ga rela ciuman pertama mreka direbut oleh pria yg tidak dicintainya,
    Apaan sih nih -_-

    Klo bisa kikwang sma ji eun basmi ajaa, akuu udh keburu ga suka ama sikap mreka,
    Kyuhyun jugaa Bodoh,
    Udahh Sam rin hyo jauhin mreka ajaa, biarkan mreka mrenungkan ksalahan mreka bertiga,
    Akuu ksian bget sma nasibnya Sam, thor konfliknya jgn dijdiin kyk sinetron yah T.T

  4. Yakkk ampun thor, ceritany bgs hheeee…
    Itu kikwang kiss rin hyo jangan2 cmn pingin tau apa perasaannya bnr atau ga lgi huhuuu..
    Kasian kyuhyun jieun

  5. wah wah wah,,, makin tambah rumit aja ni,
    bener2 gag bisa ditebak, kikwang tu bner2 suka sm rin hyo krn cinta apa krn saking nyaman dket rin hyo jd dia pikir cinta ???
    ahhh…molla

  6. ini kenapa jd rumit begini hahahah saling suka tapi tapi…. ah semua gegara kikwang gini caranya mah coba dia ga ngaku ah nyebelin wkwkwk btw kenapa tiba2 kikwang nyium? trs trs aaahhh gemesssss ga sihhh. lanjuuuuuuttt

  7. Inti dr semua ini hanya krna salah paham, kikwang merasa klu ji eun dn kyu pacaran, makanya ia nembak rin hyo, nah ji eun nya jd patah hati,..

  8. astagaaaa apa”an ini?
    jleb banget bacanya
    nyesekkkkk
    itu gikwang ngapain lagi pake nyium rinhyo segala?
    trus si kyuuuu astagaa, kenapa tu anak ikut”an nyium jieun –”

    next baca part 5~

  9. kenapa pada nyium sahabatnya masing2 bisa tambah salah paham deh.

    Hah resiko org sahabatan dgn lawan jenis adalah cinta kayanya emang nyata hehe

  10. Astagaas apaaa2an iniiii?. Knp jd bgini? Knp si kyu malah iku2an nyium ji eun?. Kikwang jg.. emgnya dy bneran suka ma rin hyo?. Haiissshh…

  11. Gikwang nyium Rinhyo buat mastiin perasaannya kah? Ahh ini bnr” mau msuk konflik y? atau udh dlm konflik? ini bermula dr Gikwang .. wkwk tp kynya bakalan ksihan Rinhyo dong, mnrt aku sih ..

  12. kikwang bener2 keterlaluan, dia keliatannya perhatian am ji eun, tp dia mlah menyakiti hatinya..
    Rin hyo knpa berpikiran ji eun suka dg kyuhyun

  13. Aaa… Kok jieun ngerjain rinhyo sih? Kayaknya jieun takut kehilangan kyuhyun sebagai sahabatnya deh terus dia juga sakit hati gara kikwang bilang suka ke rinhyo. Wow kyuhyun nyatain perasaannya tapi kenapa kikwang nyium rinhyo. Campur aduk baca part ini….

  14. Ko alurnya makin membuat kesel… Aaigoo kikwang bener bener deh ngspain coba cium hyo ato jangan jangan dia tau ya kalo kyu mau kesitu? Tapii ahh ngapain juga kyu ikut ikutan cium ji eun?? Hadehh..bner bener complicated
    -_-

  15. ya ampun kok jadi begini sih… jadi bales balesan cuman…. sebenarnya gimana sih perasaan mereka ber 4 itu?

  16. Makin kesini makin penasaran sama perasaan nya mereka.. –”
    Sama2 saling nyakitin..
    huaa ijin baca next part nya aja dah langsung eonni.. ^_^

  17. Serius ya ini kikwang jd bikin masalah tambah runyam deh, ga suka sama sikapnya disini jdnya kyuhyun jg nyium ji eun kan tuh

    Semoga masalah diantara mereka ber 4 cepet terselesaikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s