Nothing Impossible 5

nothing impossible pic

Author: Bella Eka

“Baiklah. Materi pelajaran sastra Korea untuk hari ini saya akhiri sampai disini. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya.”

Kamsahamnida, seonsaengnim.”

Suasana yang semula hening pun berubah sebaliknya setelah berlalunya Lee seonsaengnim hingga tak lagi terlihat. Beberapa siswa mengeluarkan kotak bekal mereka, berbondong keluar kelas, dan lain sebagainya. Cho Kyuhyun pun tak jauh berbeda, pria itu segera beranjak meninggalkan bangkunya tergesa.

“Kemana?” tanya Ji Eun dengan tatapan heran pada Kyuhyun.

“Jangan pergi kemanapun. Sebentar saja. Aku akan kembali.”

Ji Eun mengernyit. Menatap Kyuhyun hingga sahabatnya itu menghilang dibalik pintu. Menyanggah dagunya bosan seraya mengutak-atik ponselnya yang tak memiliki notifikasi apapun.

Hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk beranjak pula. Mengikuti arah langkah Kyuhyun setelah memasukkan ponselnya kedalam saku. Beruntung Kyuhyun masih tak terlalu jauh, pria itu terlihat berjalan menuju cafetaria.

“Untuk apa menyuruhku berdiam diri di kelas jika hanya ingin pergi ke cafetaria,” gerutu Ji Eun malas lalu mengalihkan pandangannya yang membuatnya menemukan keberadaan Kikwang tengah berjalan cepat menuju taman sekolah. Tanpa sadar ia menghela nafas, gerak kakinya turut terhenti, titik fokusnya terpaku begitu saja pada pria yang sama sekali tak menyadari keberadaannya itu.

Selang beberapa saat kemudian Kyuhyun tampak dengan membawa dua kotak orange juice ditangannya. Ji Eun semakin mengerutkan dahinya saat Kyuhyun mempercepat langkahnya bahkan sesekali berlari kecil. “Tck! Ada apa dengan hari ini? Kenapa semua orang berjalan cepat sekali?!” sungut Ji Eun kesal sembari terus mengekori Kyuhyun. Tentunya dengan menjaga jarak diantara mereka.

Untuk yang ketiga kalinya Ji Eun dibuat keheranan. Tiba-tiba saja Kyuhyun menghentikan langkahnya terlebih dengan raut wajah yang sama sekali sulit diartikan. Mendadak suasana hati Ji Eun terpelosok dalam. Terlintas naluri untuk tidak mencari tahu lebih jauh mengenai apa yang membuat Kyuhyun membeku seketika.

Gerak kakinya yang semula berniat berbalik teralih menghampiri Kyuhyun perlahan karena rasa penasaran yang kian membuncah. Mengarahkan sorot matanya menuju arah tatapan Kyuhyun dengan penuh waspada. Dedaunan yang menghalangi pandangannya membuatnya semakin mendekati Kyuhyun hingga berhasil menangkap pemandangan yang berhasil mencekat nafasnya.

Entah batu transparan sebesar apa yang baru saja menghantam dada gadis itu. Terasa begitu pedih tak tertahankan hingga merasuk sampai kedua matanya. Menyebabkannya memanas perih yang membuatnya mengeluarkan cairan bening mengalir dengan mudahnya.

“Sejak kapan kau…”

Tatapan Ji Eun tak teralih walaupun suara Kyuhyun yang baru menyadari keberadaannya terdengar. Gadis itu terlalu terpana atas apa yang ia lihat. Bagaimana bisa Kikwang dan Rin Hyo melakukan hal seperti itu? Hubungan mereka sama sekali bukan lelucon, batinnya.

Disampingnya, Kyuhyun melepas genggaman pada kotak orange juice di tangannya. Beralih menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah rapuh Shin Ji Eun. Mengalihkan perhatian gadis itu dengan cara menyapukan bibirnya pada bibir bergetar milik sahabatnya itu.

Namun tak berlangsung lama, Ji Eun mendorong Kyuhyun menjauh darinya. Mengulas senyuman miris menyedihkan seraya menatap Kyuhyun nanar sebelum beranjak meninggalkannya. Dengan langkah berat Kyuhyun bergerak menghadang langkah lemah Ji Eun. “Gwenchana?” tanyanya.

Sekali lagi Ji Eun tersenyum pilu. Berulang kali menghela nafas tiap buliran air matanya menetes tanpa henti. Gadis itu mengambil udara sebanyak-banyaknya sebelum mengatakan, “Sekarang kau mengerti apa yang ingin kuselamatkan darimu?”

Kyuhyun hanya mengerjap pelan. Kedua matanya semakin memanas. “Apa yang kau bicarakan?”

“Tidakkah cukup melihatku seperti ini hanya karena lelucon bodoh yang disebut cinta? Haruskah kau merasakannya pula? Hentikan, Kyu. Jangan biarkan dia semakin berhasil melelehkan dan pada akhirnya membakar habis dirimu,” racau Ji Eun dengan tatapan menerawang jauh seolah menembus segalanya. Mendapati wajah sendu Kyuhyun saat gadis itu sedikit menengadah. “Untuk apa kau masih berdiri disini? Bukankah kau kemari untuk menemuinya? Setidaknya tepati janjimu padanya.”

Ji Eun menepis tangan Kyuhyun saat pria itu menyentuh lengannya. “Ya! Haruskah aku selalu bersikap kasar padamu agar kau tak memandang remeh diriku? Aku tidak serapuh yang kau bayangkan. Mengerti?!” pekik Ji Eun masih dengan suara bergetarnya. Kyuhyun tetap menatapnya sendu membuatnya mengulas senyuman paksa. “Tak perlu mengkhawatirkanku. Kau lupa julukan kita sebelumnya? Berhati es sekeras baja. Kau mengingatnya, kan?”

***

Ya! Sebenarnya apa maksudmu melakukan hal ini padaku?!” bentak Rin Hyo segera setelah Kikwang membiarkannya melepas ciuman mereka. Sementara Kikwang terlihat gelagapan. Menatap Rin Hyo penuh kepanikan. “Mianhae,” mohonnya.

“Kau gila?! Kau… Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan, hah?!” Emosi Rin Hyo memuncak hingga jari telunjuk kanannya mengacung tepat di depan wajah Kikwang.

“Bagaimana ini? Kau benar. Kau benar mengenai segalanya.”

Kikwang terduduk lemas diatas kursi panjang yang sebelumnya ditempati Rin Hyo. Nafasnya memburu. “Aku telah melakukan kesalahan besar.”

“Dan kau tak bisa memutar balikkan keadaan.”

“Maafkan aku,” sesal Kikwang seraya mengacak rambutnya frustasi. “Maafkan aku. Semua ini akibat dari kecerobohanku. Semua karena kebodohanku yang dengan mudahnya menilai kenyamanan yang kurasakan sebagai wujud cinta padamu. Maafkan aku karena terlambat menyadarinya. Maafkan aku karena tidak memiliki cara lain untuk memastikan rasaku ini padamu. Maafkan aku karena terlalu kekanakan seperti ini. Maafkan aku.”

Rin Hyo menghela nafas kasar lalu berkata, “Setidaknya kau telah menyadarinya sekarang. Berhentilah mengucap maaf, membuatku seperti orang jahat saja. Ciuman itu, baiklah kuakui kau memang kekanakan. Bahkan sangat sangat terlalu kekanakan. Berpikirlah sebelum bertindak, banyak hal yang dapat kau sesali akibat kecerobohan sekecil apapun yang kau perbuat.”

“Ya! Haruskah aku selalu bersikap kasar padamu agar kau tak memandang remeh diriku? Aku tidak serapuh yang kau bayangkan. Mengerti?!”

 

“Shin Ji Eun?” gumam Kikwang begitu mendengar suara gadis yang sangat dikenalinya. Sementara Rin Hyo mengernyit memasang telinganya baik-baik memastikan apakah suara itu benar milik Shin Ji Eun. Namun tak lama kemudian membulatkan bola matanya sempurna. “Bila Ji Eun berada disini, itu artinya…” Nafas Rin Hyo tertahan seketika hingga tak mampu melanjutkan ucapannya.

***

Dengan langkah gontai Shin Ji Eun terus berjalan tanpa arah maupun tujuan. Air mata yang tak kunjung berhenti mengalir menggenangi pelupuk matanya hingga pandangannya mengabur. Tangannya sesekali menekan degup jantungnya yang masih berdentum keras menyebabkan nyeri dalam dadanya.

“Ji Eun-ah?”

Ji Eun memejamkan matanya mendengar suara pria memanggilnya. Kedua tangannya terkepal kuat. Suara yang sama sekali tak ingin didengarnya dengan terpaksa berdengung memasuki daun telinganya. Gadis itu mengarahkan bola matanya sedikit keatas, membalas datar tatapan nanar Kikwang dengan senyuman miring andalannya tak lupa dengan raut wajah yang selalu konsisten.

“Apa yang terjadi padamu?” Kikwang semakin mendekati Ji Eun yang melangkah mundur menjauhinya. Gadis itu berbalik melangkah kearah yang berlawanan begitu jarak diantara mereka semakin berkurang.

“Lepaskan!” desis Ji Eun saat Kikwang menahan pergelangan tangannya seraya menariknya paksa. Menoleh cepat menusukkan tatapan tajamnya sekuat tenaga melawan gemuruh dalam dadanya pada Kikwang.

“Ada apa dengan kedua mata merahmu? Mungkinkah… Kyuhyun melukaimu lagi?”

Ji Eun tersenyum kecut kemudian melanjutkannya dengan tertawa hambar. “Jangan berlagak seakan kau tahu segalanya tentangku karena pada kenyataannya kau tak mengerti apapun! Jangan selalu menampakkan sisi terbaikmu padaku karena itu semakin membuatku muak padamu! Jangan memaksa dekat denganku jika sebenarnya kau tak ingin. Jangan menanyakan penyebabnya disetiap kali kau melihatku menangis. Dan jangan pernah lagi menahanku pergi seperti ini.” Nada bentakan Ji Eun terdengar semakin lirih bersamaan dengan sorot matanya semakin meredup.

“Terkadang, bersikap baik manis bak malaikat suci tak dibutuhkan dalam dunia ini,” sambung Ji Eun.

“Namun dengan terus mempertajam duri yang melindungi takkan membuka peluang memperindah kehidupan ini.”

Sebelah tangan Ji Eun tergerak lemah melepas genggaman Kikwang padanya. “Setidaknya tidak seperti gula kapas yang terlihat lembut namun perlahan mampu merusak deret gigimu memberi rasa sakit yang amat sangat pada sekujur tubuhmu,” balas Ji Eun lalu menghela nafas berat sebelum kembali meninggalkan Kikwang dengan tatapan tertegun padanya.

***

Gesekan rerumputan yang terdengar samar membuat Rin Hyo terdiam membatu. Gadis itu menggigit bibir bawahnya penuh gusar. Jemarinya terus bergerak pula seiring detak jantungnya semakin tak menentu. Hingga tampaklah seorang pria yang sedari tadi ditunggunya.

“Kau sudah menunggu lama?” Rin Hyo mengatupkan bibirnya rapat mendengar suara rendah Kyuhyun. Terlebih pria itu hanya menatap datar padanya dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku celana. “Bagaimana?” lanjutnya.

Rin Hyo mengambil nafas sangat dalam. Menatap Kyuhyun lekat mencoba menyelami isi tersirat dalam manik mata itu. Namun nihil, tak menemukan macam emosi apapun yang terkandung. “Kau darimana saja?”

“Kau terdengar seperti mencoba melarikan diri dari topik pembahasan.”

“Aku hanya ingin tahu kenapa kau begitu lama menemuiku. Memangnya sejauh apa jarak antara kelasmu dengan tempat ini?”

Kyuhyun mengulas senyuman tipis. Tatapannya berubah meneduhkan. “Benarkah kau telah lama menungguku?” tanya Kyuhyun membuat Rin Hyo melebarkan matanya serta mengernyit cemas. Khawatir bila Kyuhyun benar-benar menemukan dirinya bersama Kikwang sesaat lalu.

Mian. Ada hal yang harus kulakukan terlebih dahulu.”

“Hal macam apa?”

Kyuhyun menghembuskan nafas yang tanpa ia sadari tertahan sebelumnya, mengedarkan pandangannya seolah memikirkan sesuatu. “Sesuatu seperti, menenangkan ratapan seorang bocah?” jawab Kyuhyun sembari terkekeh ringan. Walaupun jauh di lubuk hatinya menahan perih teramat dalam.

“Seorang bocah? Shin Ji Eun?” Nada suara Rin Hyo terdengar sangat berhati-hati mengucap nama itu. Debaran jantungnya semakin berpacu cepat saat Kyuhyun hanya membalas dengan senyuman simpul. Karena itu berarti bahwa sebenarnya pria itu telah lama sampai disini. Bersama Ji Eun yang terdengar pekikkan suaranya tadi.

Rin Hyo merasa suhu disekitarnya menurun drastis. Sekujur tubuhnya mendadak dingin membeku. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana jika Kyuhyun benar-benar mendapatinya?

Sementara tatapan Kyuhyun semakin melembut. Tangannya tergerak menyentuh wajah kaku Rin Hyo. “Tak perlu memaksakan diri. Tak perlu merasa tidak enak padaku. Ikuti saja kata hatimu, aku takkan marah walaupun kau menolakku,” ujar Kyuhyun pelan kemudian beranjak.

“Aku menerimamu. Aku juga mencintaimu. Jauh sebelum kau mulai menyukaiku.”

Kyuhyun menoleh kembali menghadap Rin Hyo. Menatap lama gadis itu dengan membentuk segaris senyuman. “Pikirkan baik-baik, jangan mengatakan itu atas dasar kasihan padaku. Karena aku takkan pernah membiarkanmu lari bila sudah berada dalam genggamanku. Karena kau akan terjebak selamanya bersamaku. Selamanya, selama sisa hidupmu.”

Rin Hyo menatap nanar Kyuhyun yang berjalan memunggunginya. Tanpa sadar setitik air matanya menetes. Gadis itu yakin bahwa Kyuhyun menemukan dirinya bersama Kikwang. Dengan segera ia berlari memeluk punggung pria itu erat.

“Aku mengatakan yang sebenarnya padamu. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk meyakinkanmu. Begitu lama hingga tak tahu mulai kapan tepatnya aku mencintaimu. Aku… sungguh… dirimu bagaikan candu untukku. Aku ingin bersamamu, aku takkan pernah lari darimu, dan aku telah terjebak dalam pesonamu. Jangan biarkan aku pergi dari hatimu karena kau telah menetap dalam hatiku.” Rin Hyo mulai terisak. Tak ingin Kyuhyun dan dirinya jauh seperti sedia kala.

Kyuhyun berbalik, menyeka air mata Rin Hyo perlahan. “Aku tahu kau sangat kalut saat ini. Lebih baik tenangkan dulu dirimu. Aku tak ingin kau menyesali keputusanmu nantinya dan pada akhirnya hubungan kita hanya dipenuhi luka. Aku tak ingin menjadi satu-satunya pihak yang bahagia sementara kau menderita karenaku.” Kyuhyun memberi Rin Hyo pelukan ringan sebelum kembali melanjutkan langkahnya.

Sedangkan Rin Hyo merasakan kedua kakinya melemas. Ia berjongkok dengan memeluk lutut dan kepala tertunduk dalam. Sesekali mengusap kedua pipinya yang tak kunjung mengering.

***

Cho Kyuhyun berjalan meninggalkan Rin Hyo dengan tangan terkepal erat. Dadanya terasa penuh sesak. Namun memang lebih baik begini, membiarkan gadis itu mengembalikan akal sehatnya sebelum memutuskan. Ia hanya ingin menjalin hubungan berdasarkan ketulusan, bukan rasa iba yang hanya bertahan sesaat. Disisi lain tak ingin melukai dirinya sendiri di kemudian hari sebab terlalu mempertahankan hati yang sebenarnya dimiliki pria lain. Sebelum semuanya terlambat, sebelum semuanya terlampau menyakitkan.

Tatapan tanpa titik fokus Kyuhyun berubah nyalang saat mendapati Kikwang tengah berjalan perlahan membuntuti Ji Eun dalam diam, tanpa disadari oleh gadis berhidung dan bermata merah itu. Kyuhyun menghampiri Kikwang lalu menarik kasar bahu kanan pria itu. Membawa Kikwang menjauhi Ji Eun namun segera ditepis oleh Kikwang. “Apa maksudmu?” tantang Kikwang.

Terlebih dahulu Kyuhyun memastikan keberadaan Ji Eun yang telah berbelok menuju koridor sekolah sebelum menanggapi ucapan Kikwang. “Kuperingatkan padamu, mulai detik ini menyingkirlah dari hadapan Shin Ji Eun.”

Kikwang menautkan kedua alisnya hingga membentuk segaris kerutan ditengahnya. “Memangnya apa hakmu melarangku?”

“Turuti saja ucapanku.”

“Jelaskan alasanmu.”

Decakan kesal keluar dari bibir tipis Kyuhyun, tidak mungkin dirinya mengatakan bahwa sahabatnya menyukai pria ini. “Sulitkah bagimu menghindari Shin Ji Eun? Bukankah dia tidak berarti apa-apa untukmu? Kupikir aku tak perlu memaparkan alasan panjang lebar padamu.”

Kikwang terdiam, meresapi kalimat yang dilontarkan Kyuhyun baru saja. Mampukah ia menghindari Shin Ji Eun? Benarkah gadis itu tidak berarti apa-apa baginya? Perasaan macam apa ini, bahkan ia tak menemukan jawaban pasti atas pertanyaan semudah ini. “Tidak mungkin kau tak punya alasan dibaliknya.”

“Tentu aku memilikinya. Tapi kau tak perlu tahu,” tegas Kyuhyun seraya menatap Kikwang tajam kemudian mengikuti arah langkah Ji Eun sebelumnya. Membiarkan Kikwang yang masih mengernyit bimbang seorang diri.

***

Lee Kikwang menatap kosong deret buku yang tersusun rapi dalam rak perpustakaan. Pikirannya tengah melayang kembali pada kejadian semalam. Saat dirinya mengunjungi Sungai Han larut malam berniat mencari ketenangan.

Disana ia bertemu seorang gadis yang lebih dulu datang. Gadis itu tengah duduk dengan pandangan lurus menuju aliran tenang Sungai Han. Kikwang menghampiri gadis itu dan duduk disampingnya namun Shin Ji Eun tetap tak bergeming. Ya, ternyata gadis itu adalah Shin Ji Eun.

Kikwang memaku tatapannya pada arah yang sama seperti Ji Eun dengan sesekali menarik nafas dalam. Gadis itu pun begitu, berulang kali menghembuskan nafas yang terdengar penuh beban. Sepuluh menit berlalu namun keadaan masih tetap sama. Ji Eun belum juga menyadari bahwa pria disampingnya adalah Kikwang hingga akhirnya Kikwang mulai angkat bicara. “Ayahmu tahu kau disini?”

Ji Eun menggeleng pelan, gadis itu belum sepenuhnya sadar. Beberapa detik kemudian dahinya berkerut sembari mengatakan, “Bagaimana bisa kau… Lee Kikwang?” kejutnya setelah menolehkan kepalanya.

“Benar-benar tidak peka,” ejek Kikwang. Ji Eun hanya memutar bola mata yang sebelumnya sedikit melebar.

“Bagaimana bisa kau berada disini? Jangan bilang kau melarikan diri. Untuk apa kau kesini? Sedang ada masalah?”

“Begitulah,” jawab Ji Eun singkat. “Aku pergi,” sambungnya seraya beranjak. Namun segera mendesis pelan ketika Kikwang menahan tangannya.

“Kebetulan sekali kau berada disini, aku ingin menanyakan sesuatu padamu,” ujar Kikwang membuat Ji Eun kembali mendaratkan tubuhnya. “Cepat katakan.”

Ji Eun menunggu Kikwang mengatakan sesuatu. Karena pria itu malah menatapnya lekat lalu mengalihkannya menuju Sungai Han bersama desahan kasar. “Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan? Jika kau terus saja gelisah sebaiknya aku pulang.”

“Apakah kau tahu… apa perbedaan antara rasa nyaman dan cinta?”

Ji Eun membuang nafas cepat, menatap Kikwang tak percaya. “Kau menanyakan hal ini padaku? Sebenarnya kau ini terlalu bodoh atau apa, hah?! Cinta selalu mengandung nyaman didalamnya namun tidak berlaku sebaliknya!”Ji Eun mulai tersulut emosi. Namun segera berusaha bersikap biasa mengingat Kikwang tak mengetahui bahwa dirinya memiliki perasaan lebih padanya.

“Begitukah?” gumam Kikwang pelan.

“Sudahlah. Aku pulang!”

Penjelasan Ji Eun itulah yang membuatnya beraksi nekat mencium Rin Hyo hari ini. Bukankah setiap orang yang merasa jatuh cinta akan merasakan degup jantung serta luapan bahagia yang tak biasa? Ia mencari perasaan macam itu pada diri Rin Hyo namun hasilnya sungguh mengejutkan. Dirinya tak merasakan sesuatu yang berbeda walaupun telah melakukan hal se-ekstrim itu. Ia memang menyukai sahabatnya itu, tapi tidak untuk mencintainya. Shin Ji Eun memang benar, dirinya terlalu bodoh karena tidak mampu membedakan keduanya hingga harus menanyakannya pada gadis itu.

Kedatangan Sam Rin Hyo yang mengambil tempat di kursi sisi meja dihadapannya membuyarkan lamunan Kikwang. Mengembalikan pikiran Kikwang memasuki raganya. Kikwang hanya terdiam menatap kedua mata berkaca-kaca milik Rin Hyo.

“Kau tak berniat menghiburku?”

“Apa yang bisa kulakukan bila aku adalah penyebabmu bersedih?”

“Benar, kau memang penyebabnya. Tapi bukanlah satu-satunya.” Rin Hyo mulai mengangkat wajahnya memandang Kikwang yang mengerutkan dahinya. “Terdapat alasan selain aku?”

Rin Hyo mengulas senyuman miris, “Kenapa hidup ini begitu rumit dijalani?”

“Kau benar-benar sudah memaafkanku?”

“Semua ini bukan sepenuhnya salahmu. Kau tidak merencanakan semua ini, bukan? Bahkan kau pun tak tahu jika akan berujung seperti ini. Tapi jika kau terus mengungkit peristiwa tadi, aku akan mencabut pemberian maafku padamu.”

“Sebenarnya apa maksudmu? Apa yang sebenarnya terjadi?” Ucapan Rin Hyo membuat Kikwang semakin tak mengerti.

Rin Hyo hanya menghela nafas mencoba mengurangi kegundahan dalam hatinya. Dirinya akan memberitahu Kikwang yang sebenarnya, namun tidak untuk saat ini. Melainkan suatu hari nanti ketika keadaan telah berangsur membaik. Karena apabila ia mengatakannya sekarang hanya akan membuat rasa bersalah Kikwang semakin membesar padanya.

“Aku lapar. Itulah yang sebenarnya terjadi. Belikan aku makanan, anggap saja sebagai tebusan atas kesalahanmu.”

Kikwang menatap Rin Hyo tak percaya, “Bagaimana bisa hal itu dapat ditebus menggunakan makanan? Kau benar-benar menakjubkan, Sam Rin Hyo.”

***

Kyuhyun menatap cemas Shin Ji Eun yang telah kehilangan kesadarannya. Entah berapa gelas soju yang gadis itu minum. Yang pasti satu botol bening berwarna hijau diatas meja mereka tak lagi berisi sedangkan sebotol lagi tersisa seperempat bagian. Tentu saja Kyuhyun pun turut meneguk minuman itu namun tidak sebanyak Ji Eun karena ia harus menjaga tingkat kesadarannya untuk menyetir pulang nantinya.

Sesekali Kyuhyun menjulurkan tangannya guna memberi sesuap kue beras pada Ji Eun. Bagaimanapun ia tidak akan membiarkan isi perut gadis itu kosong walaupun membolehkan sahabatnya itu meneguk minuman beralkohol meskipun cukup sebatas soju.

“Kyuhyun-ah.” Setelah melahap kue beras, Kyuhyun mendongak menatap Ji Eun yang mulai meracau.

“Aku tahu kau menyukai Sam Rin Hyo.” Sepasang mata Kyuhyun sontak memanas, terlebih saat Ji Eun terkekeh kecil dengan pandangan yang tak lagi memiliki titik fokus tertuju padanya.

“Tapi aku tak akan membiarkan kalian. Tidak akan pernah,” sambung Ji Eun sembari mengibas-ngibaskan tangannya mendukung ucapannya. Kyuhyun mengulas senyuman tipis menggunakan bibirnya yang mulai bergetar. “Wae?” tanyanya sembari menyuapkan sebuah kue beras lagi.

Bola mata Ji Eun berubah memerah, tiba-tiba gadis itu terisak. Lalu menjawab pertanyaan Kyuhyun meski mulutnya penuh kue beras, “Aku ti—“

“Telan dulu baru bicara,” sela Kyuhyun lembut seraya menyeka saus yang menodai ujung bibir Ji Eun. Diam-diam setetes air mata jatuh melalui pelupuk mata pria itu.

“Aku tidak ingin kau pergi meninggalkanku… melupakanku… pasti kau hanya akan terfokus padanya dan sikapmu berubah padaku. Sangat berubah seperti rubah yang tampan. Mungkin saja kau benar menjelma menjadi rubah, tapi tampan. Karena kau sangat tampan. Jangan-jangan kau adalah gumiho? Makan saja hati dan perasaan sialan ini pada Kikwang, atau santap saja hati miliknya agar tak mampu lagi mencintai Sam Rin Hyo.” Ji Eun tertawa lebar disela isakannya. Sementara Kyuhyun mengusap kasar air matanya yang kembali menitik.

“Pasti menyenangkan sekali jika aku dapat melakukan hal ajaib itu untukmu.” Ji Eun mengangguk semangat mendengar ucapan Kyuhyun.

“Namun sayangnya aku bukanlah gumiho. Maka aku tak mampu mengabulkan keinginan itu untukmu. Aku bukanlah rubah yang akan berubah rasa maupun sikap padamu. Aku akan tetap seperti ini, menjadi Cho Kyuhyun yang setia pada Shin Ji Eun. Walaupun kita tidak akan pernah menjadi Mickey dan Minnie favoritmu, tapi aku ingin persahabatan kita layaknya Pororo dan Krong. Tetap bersama tak peduli apapun yang terjadi.” Kyuhyun meraih kedua tangan dingin Ji Eun. Melepasnya sejenak guna menggosok-gosokkan telapak tangannya hingga terasa hangat sebelum menyentuh tangan gadis itu lagi.

“Ya! Pororo itu seorang laki-laki. Dan kau terlalu tampan untuk menjadi Krong. Tapi Krong juga laki-laki… sebenarnya mereka lelaki atau perempuan?” Racauan Ji Eun semakin menjadi membuat Kyuhyun tersenyum getir. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Ji Eun terbilang mabuk. Bukan, ini memang kali pertama gadis itu menyentuh minuman itu. Karena Lee Kikwang, karena pria itu sahabatnya sekacau ini.

“Bayangkan saja Pororo memiliki rambut panjang sepertimu.”

Kyuhyun memeriksa arloji yang menunjuk pukul delapan malam. Hari berubah gelap dan mereka masih mengenakan seragam sekolah. Segera Kyuhyun menghubungi jasa pengantar untuk membawakan mobil Ji Eun sementara dirinya memulangkan pemiliknya bersamanya.

***

“Besok lusa kau akan berangkat ke Amerika.”

Shin Ji Eun yang tengah sarapan sontak menghentikan kegiatannya. Bersamaan saat Tuan Shin menyodorkan sebuah tiket pesawat padanya. Ji Eun memandang lembaran itu seraya mengernyit. Kemudian mengalihkannya pada pria paruh baya yang sedang menyantap roti panggang di hadapannya masih dengan ekspresi yang sama. “Kenapa harus mendadak seperti ini?”

“Tidak ada istilah mendadak dalam rencana appa. Kau saja yang baru mengetahuinya. Appa telah memikirkan masa depanmu sejak lama dan sekarang adalah waktunya.”

Kerutan pada kening gadis itu terlihat bertambah jelas menandakan bahwa ia semakin tidak mengerti atas perkataan Tuan Shin. “Mengapa appa tidak memberitahuku lebih awal? Memangnya waktu untuk apa?”

“Kulihat kau tidak memberikan perkembangan yang signifikan selama belajar di Korea. Kau hanya sibuk bermain-main dengan sesuatu yang tidak penting. Apa yang kau lakukan waktu lalu hingga kabur dari rumah larut malam? Dan apa yang kau pikirkan hingga kembali pulang dalam keadaan mabuk semalam? Beruntung Kyuhyun memiliki kepribadian yang sangat baik menjaga jiwa ragamu dengan selamat.”

Tak ada pilihan lain selain membungkam, Ji Eun menutup mulut rapat meneguk salivanya gugup.

“Bahkan kau berani menyimpan rahasia yang tidak diketahui appa?”

“Tenanglah, yeobo,” ujar Nyonya Shin menengahi begitu emosi Tuan Shin menunjukkan peningkatan. Sementara Ji Eun memaku tatapannya pada potongan roti panggang di piringnya yang hampir melembut akibat dipermainkan oleh tangannya yang gusar.

“Baiklah tak perlu mengatakannya jika itu hanya akan membuatku semakin geram. Lakukan saja perintah appa. Kau harus melanjutkan sekolah serta kuliahmu disana. Ambillah bidang manajemen karena tidak lama lagi kau akan bergabung dalam perusahaan appa. Selain itu selang berjalannya waktu kau akan terbiasa menggunakan bahasa Inggris yang sangat dibutuhkan dalam menjalin hubungan internasional antar perusahaan di masa depan. Usiamu semakin bertambah, seharusnya kau semakin dewasa. Memang kau benar berkembang namun tidak pada arah yang semestinya.”

Telinga Shin Ji Eun tidak tahan lagi mendengar cecaran appa nya tanpa henti. Ia meletakkan peralatan makannya dan bangun berdiri seraya mengatakan, “Aku selesai.” Kemudian menyambar ransel dan kunci mobilnya.

Saat Ji Eun hendak melangkahkan kakinya, suara berat Tuan Shin kembali menggema. “Hubungi Yoon Dujun terlebih dahulu agar ia dapat meluangkan waktu untuk menjemputmu sesampainya disana. Tinggal saja bersama sepupumu itu supaya kau tidak terlalu kehilangan arah disana. Lagipula kau pasti merindukannya, bukan?”

Ji Eun menghela nafas berat. Tentu saja dirinya merindukan sepupu tercintanya itu, namun bukan dengan cara seperti ini ia ingin bertemu. Tanpa mengucap sepatah katapun gadis itu melanjutkan langkahnya.

“Shin Ji Eun! Kemana perginya etika kesopananmu?!”

“Nde, aku sangat merindukannya. Sekarang aku akan berangkat ke sekolah. Annyeong eomma, appa,” pamit Ji Eun sembari membalikkan tubuhnya sejenak untuk membungkuk memberi salam.

***

Cho Kyuhyun berjalan pelan dengan sesekali menyandung guguran daun yang berubah kecokelatan. Musim gugur penuh keindahan telah datang menyapa namun suasana hatinya tak kunjung berubah. Tetap gelap terasa kelam. Pijar dalam hatinya belum juga memperoleh sumber energi yang mampu mengeluarkan cahaya menerangi ruang hampa.

Tubuhnya sedikit terlonjak saat mendapati sosok Sam Rin Hyo sedang mengamatinya dari kejauhan. Membuatnya membalas tatapan lekat itu dengan sendu. Langkahnya yang akan menghampiri gadis itu tertahan begitu menemukan kemunculan Shin Ji Eun berjalan cepat mendahuluinya dari arah belakang. “Ji Eun-ah!” panggil Kyuhyun segera mengubah arah gerak kakinya. Melihat itu Sam Rin Hyo menghela nafas kecewa dan turut beranjak. Kyuhyun mensejajarkan dirinya disamping Ji Eun yang telah menghentikan langkahnya.

Annyeong, Cho Kyuhyun,” sapa Ji Eun riang membuat Kyuhyun terheran.

“Janggal sekali,” gerutu Kyuhyun. “Sebahagia itukah kau akan melanjutkan studimu ke Amerika?” sambungnya dengan nada suara melemah tak bersemangat.

Raut wajah Ji Eun yang semula sengaja ditampakkan seceria mungkin tertekuk layu. “Kau sudah mendengarnya?”

“Bagaimana tidak? Appa mu belum memberitahumu mengenai rencana cadangan untuk mengantisipasi sifat keras kepalamu itu?”

“Rencana cadangan?” Belum tuntas Ji Eun menghilangkan keterkejutannya atas rentetan kalimat yang dilontarkan Tuan Shin awal tadi, dan sekarang rencana cadangan? Rencana macam apa lagi yang dipersiapkan appa nya untuk mengusik kehidupannya yang akan datang?

“Kau benar-benar belum mengetahuinya?”

“Cepat katakan.”

“Mungkin saat ini bukan waktu yang tepat. Dengarlah langsung dari appa mu saja.”

“Hal ini terkait masa depanku maka seharusnya aku yang lebih berhak tahu.”

Kyuhyun menarik nafas panjang sebelum mengatakannya. “Untuk rencana cadangan ini, bukan hanya kau yang terlibat tapi juga aku.” Helaan nafas kembali terhembus sebelum Kyuhyun melanjutkannya, “Kau dan aku akan dijodohkan apabila kau bersikeras menentang kepergianmu ke Amerika.”

Ji Eun mendecih kesal. Untuk apa mengikut sertakan Kyuhyun dalam perihal semacam ini? Dan mengapa bukan dirinya yang mengetahui rencana ini lebih awal? Jelas sekali bahwa appa nya sendiri lebih mempercayai Cho Kyuhyun dibandingkan dirinya. Yah, memanglah sahabatnya itu begitu cerdas dan menawan. Namun dengan bertindak sejauh ini benar-benar melenceng jauh dari akal sehatnya. “Bukankah itu ide yang bagus?” ujar Ji Eun datar membuat Kyuhyun tersenyum miring.

——————————

To be Continued

.

.

Hai… ^^

Canggung banget nulis note diakhir ff kaya gini. hihi.

Aku cuman mau nanya, sekesel itukah kalian baca tiap part ff ini? Sumpah aku gak nyangka respon kalian… hnggg ._. tapi seneng juga liat emosi kalian kebawa –kayaknya– hahaha. Tapi, yah, mirip sama yang udah disampein Tsalza a.k.a Rin Hyo sebelumnya, please jangan bash.

Maaf kalo alur ceritanya bikin sebel tapi emang dibikinnya emang kaya gitu ._. Aku cuman usaha gambarin berdasarkan karakter aja.

Terus buat silent readers, gak bosen apa terus ngescroll down doang? Ketik komentar dikit napa -_- yakin banget kalian gak bakal sempet baca note aku ini soalnya sehabis baca TBC diatas kalian semua pada close. Yakan? Atau nggak? Kalo dugaanku salah tunjukkin dong di kotak komentar dibawah. Jangan cuma bilang ‘nggak koook’ gimana bisa akunya tahu coba.

Baiklah, big thanks buat yang udah terus ngikutin dan ngasih komentar *bow*

Eh tapi tetep stay tune and stay comment ya. Haha.

Sampai jumpa. ^^

Advertisements

60 thoughts on “Nothing Impossible 5

  1. Sedikit complicated masalahnya, sebenernya bisa d selesein klo bocah bocah ini pada lebih terbuka. Aq liat sih segala masalah Kyuhyun – Hyo, Kikwang – Ji Eun dan soal perjodohan, kuncinya ada pada kyuhyun. terpulang sikap dan tindakan kyuhyun, dia mau selesai atau malah bikin masalah makin runyam.

  2. Aigoo kikwang ah, dia ternyata belum sadar sm perasaannya ke ji eun. Tapi, kalo kyu ji eun di jodohkan, gmna nasib hyo ? Pdhl hyo udah jujur ke kyu tentang perasaannya ._.

    Yo weslah, aku tungguin part selanjutnya ajaa ^^ fighting !

  3. Aaaahh bingung mau coment apa, siapain pun ji eun itu nyebelin bget, super duper nyebelin, dan ff ini lebih bnyak scan ji eun, rin hyo nya hilang
    Pdahal lebih demen rin hyo dripada ji eun,
    Rin hyo jdiin org cuek napa thor,
    Biarin ajaa mreka mau apa, jngan peduliin, kasian kan rin hyo nya sllu jdi korban
    Kyuhyun jugaa bodoh, knpa ga percayaan apa yg dikatakan rin hyo? Ditinggal baru tau rasa …
    Cwe klo udh diragukan sperti itu, yah lebih baik dia mundur , secinta apapun dia pda si cwo, kan percuma membangun hubungan, didasari oleh keraguan kyuhyun
    Males jadinya thor
    Akuu bukannya bash thor yah,
    Tpi bneran, lama-lama mreka bertiga aka Ji eun, Kikwang, Kyuhyun itu nybelin badai

    Cuma rin hyo yg msih brsikap normal disini,
    Boleh saran ga thor?
    Jngan jdiin rin hyo cwe lemah,
    Ngapain dia sediih sndri, yg lain ga mkirin perasaan dia…
    Kikwang ajaa sahabatnya ga sepeduli kyuhyun ke Ji eun yg notabenenya sahabatnya kyuhyun…

    Kalo mreka mau tunangan silahkan ajaa,
    Yg pnting jngan bkin karakter rin hyo jdi cwe mewek,
    Mnding dia yg pergi keluar negeri,
    Skrng kuncinya cuma di Kyuhyun dan Ji eun,
    Kyuhyun yg lebih dewasa menghadapi msalah, silahkan pilih cinta atau menyenangkan sahabatnya sehingga membuat keadaan smkin runyam sperti jlan sinetron?
    Dan untuk Ji eun, setidaknya buka matamu, sadari yg sbnarnya terjadi, jangan hnya membenarkan apa yg diliat oleh mata,
    Kita ga bisa menyimpulkan apa yg sbnernya terjadi hnya dengan penglihatan semata…

    Sbar yah Rin Hyo punya shbat dan cinta yg ga prnah ada disaat dia sdih, ckkck

  4. Hai kaa , Kikwang ceroboh banget . Jieun kyu kenapa coba selalu simpulin sendiri .. sebenernya disini kan mereka cuma butuh bicara ajaaa susah amat sii Rinhyo kyu omegat . . Ide bagus apanya coba — Semangat ya lanjutinnya kaa ^^

  5. ya allah, datar sekali rin hyo disini.. Dia cast yg bener2 ngikutin laju air, gak berani nerjang arus sama sekali..

    Yah semoga, semakin kesini leh jelas lah, maunya 1 – 1 dari karakter masing2 tu bagaimana,,

  6. thor alurnya kebaca -_-” tapi gak masalah…konflik smakin ok…untuk alur mungkin sdikit diperbaiki agar readers brtanya” tntang jlan crita…smoga endingnya gak sama sperti yg aku byangkan.good job semangat thor…next part…

  7. Astaga Sebel nya minta ampun,sumpah..gmn jdnya rinhyo kl kyuhyun dijodohkan ma ji eun..jgn2 kyuhyun jg sebenarnya suka ma ji eun cmn blm sadar jg kyk kikwang..aaahhhh..sebel bgt deh!!!

  8. aduh aduh sam rin hyo aku makin gregetan sama semua ceritanya dari part satu sampe sekarang

    kenapa makin rumit yaaa
    tunjukin dong kalo mereka itu semua punya perasaan nya masing ”

    aku jadi pengen ke sana buat ngejelasin ke mereka semua kalo mereka itu salah paham #haduh aku yang salah paham ini

    hehehe big thank buat author nya yang bikin cerita ini seruu #apa lagi ini ?
    koq aku jadi ngawur yaa

  9. nambah part makin gemes aja kak bacanya:s
    mereka semuanya kok gaada yg mau jujut sama perasaanya sih._. jadi sebel sekaligus gemes
    udah abis ini ji eun mau ke amrik pula, pake klo nolak bakalan dijodohin sama kyu lagi.. akhhh! saya bisa gila:D
    tapi untungnya kikwang sadar sama perasaannya, tapi kenapa sih kyu gamau percaya sama rin hyo pdhal dia kan uda jujur.___.
    yaudah deh kak, aku lankut baca next part, maaf yd baru bisa komen di part ini wkwkw ngebut sih bacanya hehew

  10. hahaa aku kayaknya gak ada bash deh
    tapi kesel iya hihii
    tapi apa yg author bella bilang itu benar, itu membuktikan bahwa feel ff ini dapet banget
    makanya kita para readers jadi gregetan sendiri

    aku baca next part lagi ahhh 🙂
    terima kasih ya author bella dan tsalza karna sudah post ff keren ini ^^

  11. aduh si ji eun bilang apa ? Ide bagus ? Astagaaa !
    Emang ga tau apa banya org yg hatinya potek kalo sampe mereka dijodohin bisa pilek dah si Rin Hyo. Ckck

    makin runyem deh

  12. Ngeselin;->
    kenapa gini si? Kyu gantungin hyo bgt. Ya jau dy lg bgung tpi ga gtu juga kan?
    nd kenapa dg ji ?? Bgus apa nya tunangan?!

  13. konflik berat juga ya..
    Ji eun mempunyai masalah dg keluarganya, jdi sikap dia dingin yg terkesan cuek..
    Kasihan rin hyo, jika perjodohon kyu dan ji eun akan berlangsung..

  14. Kau boleh mengartikan cinta dengan nyaman tapi tidak nyaman dengan cinta….
    Cinta memang rumit, cukup rasakan dan nikmati saat kau mulai lelah bertahanlah saat itu kau akan menemukan cinta sebagaimana mestinya…
    Aku kayaknya bakal komen dengan quotes yang aku dapat serelah baca … Jadi bersabarlah dan semoga ga enek hehee

  15. Aih, kok kyu gitu sih ninggalin rinhyo gitu aja padahal kan udah ngejawab. Ada perang dingin antara rinhyo-jieun. Jieun mau ke amerika setelah kikwang menyadari perasaannya walaupun dia masih bimbang cinta sama jieun apa nggak. Permasalahan ini muncul karena kesalahpahaman. Tapi ceritanya dikemas dengan keren, beda dari yg lain. Ini yg aku suka banget hehe

  16. di part ini kerasa bangettt sakit hatinya..
    sebenernya mereka ber4 dah saling menyadari saling suka dengan siapa tpi takut menghadapi kenyataan

  17. Kyaaa,,,kyu mau d jodohinn ma jieunn,,,,tidakkkkkk,,,jgn smpee mrekaaa nikahhh,,,bisaa ptahh hatiii akuu,,,,
    kyu knpp tega ma rinhyo,,,rinhyo kn “Ǚϑɑ̤̥̈̊ħ jujur ma kyu tentang prasaannya,,,tpi knp kyu msih ragu jugaa,,,

  18. gmna ya?… tpi kl menurut ku sih kl di liat dari sifat nya ji eun itu dia bakalmilih opsi ke dua di jodoh kan sama kyuhyun…. dia kan niat banget ga bakal biarin kyuhyun sama rin hyo…. trus apa kabar rin hyo dan kikwang…. seneng banget sih memendam perasaan….

  19. sebenernya aq masih agak shock saat kikwang cium rinhyo dan kyuhyun cium jieun di par 4. masalahnya jadi rumit kayaknya. skrg aja ada rncana perjodohan,nanti apa lg. cuss lah baca part selanjutnya.

  20. Wiii wwiiii jangaann ampee merwkaa d jodohkann…
    Ahh.. temen sih temen rpii mrekaa terlaluu dekatt..
    Kyuu jugaaa anehhh… aduhh gk tw dehh mw ngomong apaa lgii…
    Bingunv amaaa kisah cibtaa mrekaaa.. huahh

  21. Gara2 tingkah kikwang semuanya berantakan, kyuhyun jg mikirnya rin hyo lg ga stabil keadaannya pas blg dia jg cinta sm kyuhyun..

    Dan omg apa2an itu si kyuhyun mau dijodohin sm ji eun? Yahhh si rin hyo denger ga tuh kasian rin hyo nya klo gini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s