Nothing Impossible 7A

nothing impossible pic

Author: Bella Eka

.

.

Lee Kikwang menepikan lalu menghentikan mobilnya. Seperti biasa pada jam larut malam semacam ini adalah waktu yang tepat untuk menikmati sepi dan tenangnya suasana Sungai Han. Menyegarkan isi pikiran yang tertumpuk sepanjang hari ini.

Ternyata Kikwang tidak sendirian. Terlihat seorang gadis tengah duduk di kursi panjang yang biasa menjadi favorit Kikwang. Mendapati sosok itu terasa familiar, Kikwang pun mendekatinya. Mengesampingkan cegahan Kyuhyun untuk menghindari gadis itu.

“Kau disini lagi?”

Tubuh gadis itu yang semula diam tak bergerak tampak sedikit berjengit. Kemudian memandang Kikwang lama sebelum mengatakan, “Eo,” seraya mengangguk  sekali. Kikwang duduk disamping gadis itu, ia menghela napas kasar lalu menatap lekat gadis itu yang tak lain adalah Shin Ji Eun.

“Kenapa datang kemari lagi? Memangnya kau sudah sempurna sembuh? Setelah mengalami demam seperti itu kenapa kau malah berkunjung kesini selarut ini? Apakah appamu tidak mengetahui bahwa sebenarnya kau sedang sakit? Apa—“

Ucapan Kikwang tersendat karena tangan Ji Eun yang mengenakan sarung tangan merah menutupi mulutnya. “Kenapa kau selalu memiliki terlalu banyak pertanyaan?”

Shin Ji Eun berhasil membuat Kikwang terdiam. Tidak lagi mengatakan seucap huruf pun. Namun sangat berbanding terbalik dengan degupan jantung Kikwang yang mendadak berdentum keras. Sikap melunak Ji Eun mampu memompa lebih cepat pusat tubuh Kikwang itu begitu saja.

“Ayo kuantar kau pulang.”

Ji Eun memandang Kikwang cepat, “Kau mengusirku?”

“Kau tidak dengar? Bukan hanya kau yang pergi, tapi aku akan mengantarmu.”

“Kau meremehkanku?”

“Ya! Kenapa isi kepalamu hanya dipenuhi hal-hal negatif? Aku hanya tidak mau kau akan berakhir ke tempat lain dan tidak langsung pulang ke rumah. Kau baru saja sembuh dari sakit dan kupikir kau sedang ada masalah. Katakan dimana rumahmu,” ujar Kikwang seraya bangun dari duduknya.

“Aku sedang tidak ada masalah. Jangan mengada-ada.”

“Kau datang ke tempat umum seperti ini dini hari seorang diri dan kau masih berkata sedang tidak ada masalah? Kau sudah gila atau memang tidak normal? Kau kira dunia ini hanya berisi orang-orang berhati malaikat?”

Ji Eun masih tak bergeming. Menatap Kikwang dengan tatapan tak percaya akan sikap Kikwang yang untuk pertama kalinya berubah keras padanya. “Ada apa denganmu? Kau tidak apa-apa?”

“Tidak perlu menanyaiku, tanyakan saja pada dirimu.” Kikwang segera meraih tangan Ji Eun dan menariknya bangkit berdiri.

“Tunggu sebentar.”

Kikwang sontak menoleh ke belakang begitu Ji Eun melepas tautan tangan mereka paksa. Dan seketika dikejutkan oleh keberadaan gadis itu yang secepat kilat mendekat padanya.

“Apa… yang… kau lakukan?” gumam Kikwang pelan namun terdengar jelas saat Ji Eun semakin menepis ruang diantara mereka hingga mampu merasakan deru napas masing-masing. Namun Ji Eun tak memberi jawaban. Gadis itu mengernyit seakan mencari sesuatu.

“Kenapa aku tidak menemukan aroma wine, soju, atau semacamnya?” heran Ji Eun sembari menarik tubuhnya menjauh sementara Kikwang mampu menghela napas lega.

“Maaf saja, aku bukanlah tipe peminum berat seperti itu.”

“Tapi kenapa sikapmu aneh sekali?”

“Sudahlah. Malam semakin larut, kau harus cepat sampai di rumah.”

Ji Eun menyembunyikan tangannya ke dalam saku ketika Kikwang hendak meraihnya kembali. “Tak perlu mengantarku. Bukankah sia-sia setelah jauh-jauh datang kesini kau malah merepotkan diri untuk mengantarku pulang? Kembalilah duduk. Aku tidak akan mampir ke tempat lain dan segera menuju rumah secepat mungkin.”

“Secepat mungkin? Kau tidak sadar bahwa itu dapat menyebabkan bahaya fatal? Kentara sekali jika ucapanmu hanya sekadar untuk mencegahku. Benar begitu?” cecar Kikwang cepat bersamaan ia mengalungkan lengannya pada tengkuk leher Ji Eun dan membawanya menuju mobil merah milik gadis yang tak berhenti menggerutu itu.

***

Sam Rin Hyo tampak dari dalam sebuah mobil Lamborghini Reventon biru safir yang baru saja menepi. Karena mobil itu telah dilengkapi pengunci otomatis maka gadis itu dapat segera beranjak menuju sebuah pet shop.

“Selamat datang,” sambut pegawai dalam toko itu ramah. Rin Hyo hanya menunduk singkat lalu menghampiri rak-rak barang dalam toko itu. Sebenarnya tempat itu terlalu besar untuk disebut sebagai toko. Mungkin lebih mirip seperti sebuah minimarket. Minimarket yang hanya menjual berbagai binatang peliharaan beserta kebutuhannya.

Dengan dua buah kaleng makanan kucing di masing-masing tangannya, Rin Hyo menimang-nimang keputusannya. Di tangan kirinya terdapat merk makanan yang biasa ia beli untuk Kyukyu, kucingnya. Sementara di tangan lainnya merupakan merk baru yang menawarkan buy one get one free.

“Jika aku membeli ini, apakah Kyukyu akan menyukainya?” gumam Rin Hyo bimbang seraya menelisik ingredients yang terpampang pada kemasan kaleng di tangan kanannya. Kerutan pada dahinya pun terbentuk seakan memikirkan sesuatu yang besar.

Rin Hyo meletakkan dua barang itu berdampingan. Merogoh ponselnya dan membuka aplikasi kamera lalu mengambil gambar dari makanan kaleng itu. Mengirimkannya pada Kikwang berniat meminta pertimbangan sahabatnya itu atas keputusannya.

“Beli keduanya saja.”

Rin Hyo sontak menoleh. Membuatnya tersadar bila seseorang yang sedari awal disampingnya adalah Cho Kyuhyun. “Sejak kapan kau disini?”

“Beberapa saat lalu. Tak lama sebelum kau datang.”

Tanggapan Rin Hyo hanya sekadar mengangguk enggan. Kemudian kembali memeriksa ponselnya yang tak juga menerima balasan pesan. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk ponsel yang ia genggam menunjukkan ketidak-sabaran.

Sedangkan Kyuhyun bertingkah seolah sedang memilih diantara banyaknya makanan kaleng di hadapannya seraya melirik  Sam Rin Hyo gusar berulang kali.

“Ternyata kau juga menyukai kucing?” tanya Kyuhyun membuka pembicaraan.

Rin Hyo menghembuskan napas cepat kemudian menjawab, “Yah, begitulah.”

“Sebenarnya ini adalah pertama kali untukku membeli beberapa kebutuhan binatang peliharaan seperti ini,” ujar Kyuhyun canggung sembari menggemakan tawa hambarnya.

“Oh, begitukah?”

Kyuhyun memejamkan matanya frustasi akibat reaksi Rin Hyo yang terus menerus dingin padanya. “Jadi, bisakah kau membantuku mencari makanan kucing yang paling berkualitas? Aku ingin memberikannya sebagai hadiah ulang tahun untuk temanku.”

“Baiklah. Tunggu sebentar.”

Kyuhyun mendesah lega mendengarnya. Perlahan berbalik memunggungi gadis itu karena senyuman bahagianya tak bisa lagi tertahan. Kyuhyun berusaha keras menghapus senyuman lebarnya sebelum kembali menghadap Rin Hyo agar dirinya tidak terlihat konyol di mata gadis itu.

“Permisi, ada yang bisa saya bantu?”

Ulasan senyuman yang semula begitu sukar dihilangkan sontak memudar cepat. Bukan suara itu yang ia harapkan, bukan kalimat itu yang ia nantikan. Kyuhyun lekas berputar dan mendapati seorang gadis asing berpakaian pegawai dengan logo petshop yang ia singgahi.

Pandangannya segera teralih kearah pintu utama dan benar saja, Sam Rin Hyo meninggalkannya begitu saja. Rasa kesal menggerakkan tangannya mengacak rambutnya asal. “Sepertinya kau salah orang,” ujarnya.

“Tapi gadis tadi—“

Kyuhyun melesat pergi tanpa mendengar penjelasan pegawai itu. Melangkah tergesa sebelum keberadaan Rin Hyo semakin jauh. Namun dengan berat hati ia hentikan langkahnya karena Rin Hyo sedetik lebih cepat memasuki mobilnya dan melaju kencang.

“Sial!”

***

Berbagai makanan ringan juga jenis minuman hampir memenuhi keranjang dorong di tangan Ji Eun. Masih belum cukup dengan itu, Ji Eun masih gencar mendatangi bagian tempat dalam supermarket dimana cokelat tersedia.

Gadis itu memandang cokelat murni dan cokelat berisi kacang mete bergantian. Sedikit lama ia tetap tak bergerak hingga pada akhirnya mengambil keduanya karena tidak tahan dengan godaan makanan favoritnya itu.

Sedangkan Rin Hyo yang juga berada di tempat yang sama seketika terdiam begitu menemukan Ji Eun tak jauh dalam jarak pandangnya. Sewaktu hendak mengambil jalan berbeda, Shin Ji Eun terlebih dulu menyadari keberadaannya.

“Sam Rin Hyo?” panggil Ji Eun.

Wajah Rin Hyo yang sebelumnya telah sedikit berpaling, dengan terpaksa kembali mengarah pada Ji Eun.

“Sedang berbelanja?”

“Begitulah.”

“Tapi kenapa tidak membawa keranjang barang?” telisik Ji Eun sembari mendekati Rin Hyo.

Rin Hyo menatap kedua tangannya yang kosong lalu berkata, “Tidak perlu. Tidak banyak yang ingin kubeli.”

“Sendirian saja?”

“Seperti yang kau lihat.”

“Kalau begitu…” Ji Eun memeriksa arlojinya sebelum mengembalikan tatapan tak tertebaknya pada Rin Hyo. “Kutemani saja. Apa yang ingin kau cari?” sambungnya.

Rin Hyo sontak menyentuh tengkuknya canggung. Setelah Cho Kyuhyun, sekarang giliran Shin Ji Eun merecokinya. Tidak bisakah mereka membiarkan dirinya berbelanja kebutuhan Kyukyu dengan tenang? Parahnya lagi, sama sekali tidak ada unsur penawaran dalam kalimat Ji Eun. Melainkan sebuah keharusan hingga tak dapat membuatnya mengucap penolakan.

“Kenapa diam saja? Apa yang ingin kau beli?”

***

Cho Kyuhyun bergerak menaiki beberapa anak tangga setelah dipersilahkan masuk oleh bibi pelayan rumah itu. Menuju sebuah bilik kamar yang terletak strategis di ujung lorong lantai dua. Kyuhyun membuka perlahan pintu kamar itu, mendapati seorang gadis tengah sibuk mengemasi pakaian dan memasukkannya ke dalam koper berukuran sedang. Tak butuh waktu lama gadis itu menyadari kehadirannya, tersenyum, lalu berkata, “Masuklah.”

Namun Cho Kyuhyun masih terdiam di tempatnya. Menatap sendu gadis yang telah beralih menata berbagai snack ke dalam kopernya. “Kapan kau akan pergi?” tanyanya pada gadis itu, Shin Ji Eun.

“Besok malam. Aku belum memberitahumu?”

“Bukankah ini terlalu mendadak?”

Setelah menutup seluruh resleting koper, Ji Eun mengambil tempat duduk diatas sofa panjang dalam kamarnya yang luas. “Tidak ada istilah mendadak dalam kamus appa,” ujarnya lantas terkekeh kaku. “Tapi sampai kapan kau akan terus berdiri disana?”

Kyuhyun mulai beralih menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang Ji Eun. Memejamkan kedua matanya sembari mengambil napas dalam sebelum menghembuskannya perlahan. “Kau benar-benar akan pergi?”

Ji Eun melempar tatapan malasnya pada Kyuhyun yang menurutnya terlalu berlebihan. “Kenapa sikapmu seakan kita tidak akan bertemu lagi? Lagipula kau masih bisa mengunjungiku disana ketika merindukanku sewaktu-waktu. Atau memang jangan-jangan kau bersedia dijodohkan denganku?” ujarnya ringan kemudian melahap snack kentang di tangannya.

Tanpa menanggapi, hanya desahan napas kasar yang dilontarkan Kyuhyun. Membahas mengenai perjodohan membuatnya teringat Sam Rin Hyo. Mendapat perlakuan dingin dari gadis itu tak sekalipun membuatnya tenang. Cara apa yang dapat ia lakukan guna mengembalikan keadaan diantara mereka? Apakah hal ini terkait saat Rin Hyo menyatakan perasaannya saat itu? Karena jika ia coba memutar waktu, sikap Rin Hyo sontak berubah semenjak peristiwa itu. Mungkinkah apa yang dikatakannya bahwa gadis itu juga menyukai dirinya memanglah benar? Ah tidak, apakah dia benar-benar serius dengan ucapannya?

“Bagaimana hubunganmu dengan Sam Rin Hyo?” tanya Ji Eun membuat Kyuhyun refleks terduduk dari baringannya. Ikatan batin yang terlahir semenjak beberapa tahun lalu antara dirinya dan sahabatnya itu memang sungguh menakjubkan. “Tunggu, jangan pernah mengira bahwa keputusanku untuk bersedia pergi ke Amerika adalah karena hubungan kalian. Jangan pernah berpikiran seperti itu!” cegah Ji Eun.

“Memangnya hubungan macam apa yang kumiliki dengan Sam Rin Hyo?” Kyuhyun bergerak menghampiri Ji Eun, mengambil tempat di samping gadis itu. Ji Eun menepuk tangan Kyuhyun saat ia mencoba mengambil snack di tangannya seraya berkata, “Sampai kapan kau akan merahasiakannya padaku? Kau kira aku tidak mampu melihat hubungan kalian selama ini, huh?”

“Memangnya apa yang selama ini kau lihat?”

Aigoo, sudahlah. Terserahmu saja. Lagipula itu juga bukan urusanku,” sungut Ji Eun sembari beranjak menuju ruang tengah.

Ya! Kau marah?”

Shin Ji Eun yang telah berada di luar kamar memundurkan langkahnya kembali. Berhenti di ambang pintu dengan menatap malas Kyuhyun. “Nanti, tepat pukul lima sore. Kutunggu kau di meja nomor dua Browly Café  dan jangan sampai sedikitpun terlambat! Kau tahu sendiri aku paling benci menunggu, bukan?”

“Kenapa tiba-tiba sekali?”

“Jangan terlalu banyak bertanya. Lakukan saja. Kau tidak ingin menghabiskan malam bersamaku sebelum aku berangkat ke Amerika?”

***

“Membosankan sekali tidak melakukan apapun di hari libur seperti ini. Haruskah aku membeli hewan peliharaan seperti Kyukyu? Pasti akan sangat menyenangkan sekali.”

Sam Rin Hyo mengambil Kyukyu yang tengah tertidur di pangkuan Kikwang. Memindahkannya secara hati-hati ke dalam sangkar biru yang telah tersedia. “Bagaimana kau akan mengurus hewan peliharaanmu jika merawat dirimu saja tak bisa?”

Tatapan Kikwang nyalang pada Rin Hyo yang mencoba menahan tawa karena tidak ingin membangunkan Kyukyu. “Bagaimana bisa kau… Aish! Kau pikir kau telah mengurus dirimu dengan baik? Lihat, apakah apartemen ini layak disebut sebagai apartemen milik seorang wanita? Sama sekali tidak rapi dan sebaliknya sangat berantakan. Barang-barang terletak di tempat yang tidak semestinya, bungkus makanan tercecer menjijikkan. Kau yakin akan statusmu sebagai seorang wanita?”

Setelah menutup sangkar Kyukyu, Rin Hyo berdiri menghadap Kikwang sembari berkacang pinggang geram. “Baiklah, baiklah. Kusarankan kau membeli hewan peliharaan sejenis burung agar mampu mengimbangi kicauanmu yang tak berguna itu,” ucap Rin Hyo langsung melebarkan kedua mata Kikwang.

“Kau…” Suara Kikwang terdengar mendesis parau.

“Lagipula aku hanya berkunjung sesekali ke apartemen ini jadi untuk apa merepotkan diri membersihkannya setiap hari? Dan juga, sebaiknya kau pulang sekarang jika kau tidak nyaman berada disini. Disamping itu juga waktu telah menunjukkan pukul…” Rin Hyo sedikit mendongak memeriksa jam dindingnya yang membuatnya teringat akan sesuatu hingga kedua mata serta bibirnya membulat. “Aku harus pergi,” sambungnya.

Sedangkan Kikwang hanya memandang heran pergerakan cepat Rin Hyo yang segera bersiap pergi. “Memangnya apa yang akan kau lakukan?”

“Kikwang-ah, bisakah kau membawakan Kyukyu pulang ke rumah untukku? Kumohon, aku benar-benar tidak sempat sekarang.”

“Baiklah, tapi—“

“Hati-hati dalam perjalananmu nanti. Aku pergi dulu.”

Kikwang mendecak kesal kearah Rin Hyo yang mulai menghilang dibalik pintu. “Sebenarnya siapa pemilik apartemen ini? Bagaimana bisa gadis ceroboh itu mempercayakan isi apartemennya keseluruhan pada tamu?”

***

Untuk yang kesekian kalinya Cho Kyuhyun memastikan arloji di tangannya. Jarum pendek telah menunjuk pukul setengah tujuh malam. Bahkan beberapa pengunjung dalam café itu telah berganti namun Shin Ji Eun belum juga datang.

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya, menghela napas berat karena diantara lima pesan yang ia kirimkan tak satupun balasan diterimanya. Terlebih parahnya terbaca pun tidak. Kyuhyun mengulangi sekali lagi panggilannya yang sebelumnya tak terjawab sebanyak tiga kali, namun hasilnya tetap saja nihil. Shin Ji Eun seolah menghilang ditelan bumi.

Cepatlah datang. Apakah kau lupa jika aku juga sangat tidak suka menunggu sendirian seperti orang bodoh?

Setelah mengirimkan ketikkan pesan di ponselnya, Kyuhyun meletakkannya kasar di atas meja. Menyapu pandangannya mengamati keadaan café, hingga sosok seorang gadis yang baru saja muncul membuatnya menegakkan tubuhnya. Gadis itu terlihat sedikit terengah-engah, menghampiri salah satu pegawai café lalu berjalan menghampirinya setelah membungkuk berterima kasih pada pegawai itu. Tunggu, berjalan menghampirinya? Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, begitupun gadis itu.

Apa ini? Apakah ini adalah rencana Ji Eun yang sebenarnya? Karena bukan Shin Ji Eun yang datang, melainkan Sam Rin Hyo. Ya, Rin Hyo benar-benar datang untuk menemuinya karena gadis itu telah berdiri sempurna dihadapannya.

“Apakah… meja ini benar bernomor dua?”

Kyuhyun mengangguk pelan menjawab keraguan Rin Hyo. Kemudian membuka ponselnya saat dirasa bergetar.

Ungkapkan perasaanmu selama ini, Kyuhyun-ah. Ini adalah kesempatan emasmu. Aku tahu kau sangat menyukainya. Dan aku tahu jika dia juga sangat menyukaimu. Kau tak perlu bertanya bagaimana bisa aku mengetahuinya. Fokuskan saja dirimu pada gadis dihadapanmu sekarang. Kau harus berhasil, Cho Kyuhyun! Hwaiting! ^^

Masing-masing sudut bibir Kyuhyun tertarik keatas disela ia membaca jajaran pesan singkat itu. Tepat seperti dugaannya, Ji Eun lah yang mengatur segalanya hingga sedemikian rupa.

Sementara Rin Hyo mengedarkan pandangannya ke setiap sudut café. Namun seseorang yang membuat janji dengannya tak kunjung tampak. Beberapa jam lalu, saat ia masih berada di supermarket bersama Shin Ji Eun. Gadis itu mengajaknya berbincang di café ini karena ia berkata terdapat hal genting yang perlu ia bicarakan dengannya. “Dimana Shin Ji Eun?”

Kyuhyun sontak terperanjat mendengar pertanyaan penuh selidik Rin Hyo dan menemukan tatapan tersorot tajam milik gadis itu. “Ji Eun yang mengundangmu kemari?”

“Tapi kenapa malah kau yang berada disini?” balas Rin Hyo tegas.

“Tidak sadarkah kau bila kita terjebak dalam rencananya?”

Rin Hyo terdiam sejenak. Mencerna ucapan Kyuhyun perlahan. Terjebak dalam rencana Ji Eun? Memangnya rencana apa yang sebenarnya dibuat Ji Eun hingga melibatkan dirinya dan juga Kyuhyun?

***

Setelah mendapati kedatangan Sam Rin Hyo, Shin Ji Eun mengeratkan mantel birunya dan segera bergerak keluar café. Usahanya mempertemukan kedua insan itu berhasil sudah. Saat ini tergantung bagaimana perkembangan diantara keduanya, tentu saja ia tidak lagi dapat membantu dalam sisi keseluruhan.

Kondisi Kyuhyun yang akhir-akhir ini selalu lemas tak bersemangat, tatapan kosong yang tak lagi tajam seperti biasa, dan juga raut wajah yang berubah drastis menyendu disetiap ia melihat atau apapun yang menyangkut Sam Rin Hyo membuat Ji Eun memutuskan untuk membangun rencana ini. Sikapnya itu jelas menunjukkan bahwa ia sangat menyukai Rin Hyo walau tak sekalipun Kyuhyun mengakuinya.

Sebelumnya, Ji Eun memang telah mengetahui bahwa Rin Hyo menyukai Kyuhyun sejak awal. Namun keadaan tak mendukung untuknya membantu mempersatukan mereka, karena disamping Rin Hyo begitu beruntung mendapatkan hati seorang Lee Kikwang, ia juga tak ingin kehilangan Cho Kyuhyun yang merupakan sahabat satu-satunya yang ia miliki. Setidaknya walau cintanya tidak berbuah manis, tak sedikitpun keinginan dalam dirinya bersedia kehilangan sahabat berharganya.

Namun tindakan aneh Kyuhyun menyadarkan dirinya yang terlalu egois. Hingga menyadari perasaan Kyuhyun pada Rin Hyo begitu terlambat. Mulanya ia hanya mengira bahwa candaan yang biasa ia lontarkan tidaklah bermakna, tidak berubah nyata seperti perasaannya yang tumbuh membesar pada Kikwang. Tapi kenyataan berkata sebaliknya, Kyuhyun pun mengalami apa yang ia rasakan.

Dan keegoisannya harus ia hentikan kini. Ditambah kepergiannya ke Amerika esok hari. Tidak tersedia banyak waktu lagi baginya membayar segala sikap kekanakan dirinya yang sering kali menjahili Rin Hyo dan mulai membiarkan perasaan mereka bersemi indah. Tiada penting lagi siapalah gadis yang Kikwang sukai.

Ji Eun menepuk dahinya pelan, baru saja teringat jika keberangkatannya tadi mengendarai bus umum. Hal itu ia lakukan agar Kyuhyun tidak menemukan jejaknya yang sebenarnya telah tiba lebih awal. “Pantas saja tidak menemukan mobilku disini. Bodohnya,” gerutunya karena membuang waktu sia-sia. Kemudian mulai menggerakkan kakinya bergantian menyusuri trotoar menuju halte.

Mendadak terdapat sebuah mobil berjenis Mercedes Benz E-Class hitam menepi mendekati Ji Eun. Membuat Ji Eun sedikit merunduk saat kaca mobil itu perlahan terbuka. “Lee Kikwang?” ucapnya tanpa kendali.

“Butuh bantuan?”

Ji Eun tersenyum hanya sedetik kembali mengembalikan wajahnya datar. “Tidak, terimakasih.”

“Yakin?”

“Bolehkah? Tentu saja, aku sangat membutuhkan bantuan saat ini. Kau harap aku akan mengatakan itu sepertimu?” ujar Ji Eun remeh sembari melanjutkan langkahnya. Begitupun Kikwang menginjak pedal gasnya menggerakkan mobilnya pelan menyanding langkah Ji Eun.

“Woah, bagaimana bisa kau mengingat ucapanku sedetail itu? Daebak!”

Ji Eun hanya memutar bola matanya malas walau jantungnya terasa kuat berdegup saat ini.

“Kau benar-benar tidak membawa mobilmu? Tumben sekali. Apa mobilmu sedang diperbaiki? Atau kau baru saja melakukan sesuatu yang tidak membolehkanmu membawanya? Atau…”

Rentetan pertanyaan Kikwang membuat Ji Eun mendesah kasar. Menghampiri mobil yang berjalan pelan itu dan membukanya untuk mengambil tempat disamping Kikwang. “Atau apa?”

“Atau… kau sedang bertengkar dengan Kyuhyun dan menyebabkannya menurunkanmu di jalan,” sambung Kikwang bersama wajahnya seakan tanpa dosa. Menanggapinya, Ji Eun hanya mampu memejamkan kedua matanya frustasi. Bagaimana bisa seorang lelaki terlahir secerewet ini? Dan bagian terburuknya adalah, bagaimana bisa ia menyukainya?

“Apa kau sering membawa kucing masuk ke dalam mobil ini?” tanya Ji Eun seraya mengendus memastikan indera pembauannya.

“Kucing? Ah, tidak seperti itu. Hanya saja aku harus membawakannya pulang karena Rin Hyo terlihat sangat sibuk tadi.”

“Rin Hyo?”

Kikwang mengangguk pasti, “Ya, kucing itu milik Rin Hyo. Lucu sekali, bukan? Aigoo, lihatlah.”

Raut wajah Ji Eun seketika menegang, menoleh kebelakang penuh waspada. Berbeda dengan Kikwang yang kepalanya telah sepenuhnya tertoleh ke belakang sembari tersenyum gemas.

“Pastikan kau mengunci sangkarnya rapat. Jangan sampai dia mampu terbebas dan cepat lajukan mobilmu atau aku akan keluar sekarang juga.”

***

Cho Kyuhyun duduk bersendekap sambil menatap Sam Rin Hyo lekat. Banyak waktu terbuang hanya untuk menunggu gadis itu bicara. Sedari lama Rin Hyo terus membungkam sembari memutar sedotan dalam orang juice-nya. Dan saat Kyuhyun mencoba memulai topik pembicaraan, ia hanya akan menggedikkan bahunya singkat.

“Sampai kapan kita harus terdiam seperti ini?”

“Kau juga ingin mengakhirinya, bukan? Baiklah, aku pulang.”

“Bukan itu maksudku,” cegah Kyuhyun meraih tangan Rin Hyo kembali duduk.

Rin Hyo melepas sentuhan tangan Kyuhyun sebelum kembali mendaratkan tubuhnya. “Aku datang ke tempat ini untuk menemui Shin Ji Eun. Bukan kau.”

“Aku juga, Rin Hyo-ah. Ji Eun lah yang memintaku bertemu dengannya disini, di meja nomor dua Browly Café pukul lima sore. Dia mengatakan hal yang sama padamu, bukan?”

“Kalian tidak merencanakan semua ini?”

“Sudah kukatakan sebelumnya. Shin Ji Eun yang merencanakan pertemuan ini, dan aku pun salah satu bagian dari rencananya.”

Rin Hyo mencoba menyelami isi tersirat sorot mata Kyuhyun namun tidak menemukan titik dusta sedikitpun di dalamnya. “Tapi, untuk apa dia melakukan hal ini? Bukankah Ji Eun sangat benci bila aku berdekatan denganmu?”

“Sesungguhnya tidak seperti itu. Dia sama sekali tidak membencimu, mungkin hanya sedikit kesal untuk beberapa alasan.”

“Lalu apa tujuannya mempertemukan kita disini?”

“Rin Hyo-ah, dengarkan aku.” Kyuhyun menggenggam kedua tangan Rin Hyo lembut namun tidak merenggangkannya sedikitpun saat Rin Hyo memberontak melepas. “Maafkan aku. Maafkan aku karena meragukan ucapanmu saat itu.”

“Kenapa tiba-tiba kau membahas hal ini?”

“Ingatkah kau, mengenai pengakuanku bahwa aku menyukaimu? Aku sangat menyukaimu, Hyo. Aku mencintaimu. Dan aku tidak bisa menerima sikap dinginmu padaku. Aku sangat membencinya dan aku tidak bisa tinggal diam akan hal itu. Jadi, bisakah kau kembali seperti dulu? Seperti sedia kala sebelum terjadi peristiwa itu diantara kita.”

Tatapan Rin Hyo sedikit melembut, namun bibirnya membentukan ulasan senyuman miring. “Sekarang kau mengeluh karena sikap dinginku padamu. Coba kita putar waktu kembali, tidak ingatkah kau seberapa sering dirimu mengabaikanku? Tidakkah kau lelah menarik ulur perasaanku?”

“Aku? Bersikap dingin padamu?” Pandangan Kyuhyun mengarah keatas menuju langit-langit bangunan café. “Benarkah? Bagaimanapun walau aku tidak ingat tepatnya kapan aku memperlakukan dirimu seperti itu, sekali lagi kumohon maafkan aku. Tapi perihal menarik ulur perasaanmu, sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan?”

Pria ini, bagaimana mungkin tidak menyadari segala sikap yang selama ini ia perbuat? Rin Hyo mengerjap cepat. Menatap tak percaya lelaki di hadapannya.“M-mwo?!” ucapnya tersendat menahan emosi.

Mendapat tatapan keheranan Rin Hyo, Kyuhyun semakin merasa tak mengerti. “Kau tidak sedang mengada-ada, kan?”

Sorot mata Kyuhyun tak menunjukkan segelintir rasa bersalah sedikitpun memicu gemuruh dalam dada Rin Hyo semakin meradang. Tangannya pun tak sudi lagi berada dalam genggaman Kyuhyun. “Apa katamu? Mengada-ada? Tch! Kau pikir keuntungan apa yang mampu kuperoleh melalui cara semacam itu?!”

“Tapi aku sungguh-sungguh bertanya padamu, Hyo. Dari sisi mana kau melihat hingga menilaiku mempermainkanmu? Tak secuil pun bagian dalam benakku berkeinginan menarik ulur perasaanmu. Mungkin ini hanya akan terdengar layaknya omong kosong bagimu tapi segenap sanubariku memilihmu, hanya dirimu, Sam Rin Hyo.”

Secercah ketulusan terpancar dalam sinar mata Kyuhyun sedikit mengurangi kilatan amarah Rin Hyo. Hati yang terlanjur membeku kembali cair namun tidak sepenuhnya karena gadis itu tetap waspada.

“Bagaimana bisa aku memastikan kebenaran atas ucapanmu? Aku mencintaimu, kau segalanya bagiku. Banyak melimpah orang mengucap kalimat picisan itu tapi tak jarang mereka mengingkarinya. Haruskah aku menaruh kembali kepercayaanku padamu disaat segala sikapmu menunjukkan bahwa kau lebih membutuhkan gadis lain dibandingkan aku?”

Sejenak Kyuhyun tertegun, lalu tertawa hambar menanggapi Rin Hyo yang jelas tampak tidak sedang bercanda. Raut gadis itu sebatas datar sangat serius. Memaku tatapannya tajam tanpa berkedip.

“Siapa? Memangnya siapa gadis itu? Sejauh ini aku…” Tatapan Kyuhyun meragu seiring kerutan di keningnya terbentuk. “Shin Ji Eun? Gadis yang kau maksud adalah Shin Ji Eun?”

Sambil tersenyum hampa Rin Hyo mengucap, “Pantaskah aku jika kukatakan kau benar? Memangnya siapa aku bila kukatakan hatiku terkoyak disetiap melihatmu lebih memilih mengejar gadis itu tak lama setelah kau mengutarakan kata cinta padaku? Sebutkan apa hakku mengharapkanmu lebih memperhatikanku dibandingkan sahabatmu?” Rin Hyo mengigit bibir bawah dalamnya. Tiba-tiba tubuhnya gemetaran menahan sesak dalam dadanya. Apakah ia melakukan hal yang salah? Apakah ucapannya menyinggung perasaan Kyuhyun? Karena sorot mata pria itu terasa menusuk dalam ulu hatinya.

“Kau sedang membicarakan kejadian pagi itu?” tegas Kyuhyun. Kemudian meraih lembut kedua tangan Rin Hyo kembali setelah terenyuh akan air muka putus asa Rin Hyo. “Sebenarnya, pagi itu aku sangat ingin menghampirimu. Memperjelas berbagai hal yang masih terlalu kabur diantara kita. Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkanmu sendiri disana. Tapi terdapat hal yang lebih mendesak yang harus kubicarakan bersama Shin Ji Eun, karena itu aku lebih memilih untuk menyusulnya. Maafkan aku karena menyebabkan kesalah-pahaman ini. Aku sama sekali tidak bermaksud melukaimu, dan selamanya aku takkan pernah menginginkan itu terjadi.”

Kata demi kata itu mampu membuat Rin Hyo tersentuh. Begitu terharu dengan kemurnian tatapan Kyuhyun yang terpaku sangat tulus padanya. Gadis itu mempererat tautan tangan mereka. Senyuman tipisnya menghangatkan suasana.

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat itu hingga membuatmu menghindar jauh dariku. Seharusnya aku segera meluruskan semua ini, menyamakan sudut pandang kita yang berbeda, tapi sekarang aku sadar bahwa aku hanyalah seorang pengecut. Hanya berani mengekorimu seperti orang bodoh. Dan mengatakan hal tak berguna yang semakin membuatmu geram.”

Sam Rin Hyo memanjangkan garis senyumnya. Menangkup sebagian wajah Kyuhyun dengan sebelah tangan mungil yang ia miliki. Membelai pelan pria yang memandangnya penuh damba. Ia tahu sekarang, bahwa lelaki di hadapannya bukanlah seseorang yang bisa mengekspresikan perasaannya dengan mudah. Cho Kyuhyun adalah seorang pria dingin. Ya, dia memang seperti itu. Bukan hanya pada dirinya melainkan pada orang lain juga. Bahkan pada Shin Ji Eun pun terkadang ia seperti itu.

“Jangan terus menyalahkan dirimu. Seharusnya aku lebih mengerti kepribadian aslimu. Seharusnya aku selalu mengingat itu dan tidak hanya terfokus pada segala pikiran negatif tentangmu.”

Bibir Kyuhyun terkembang penuh arti. Besarnya beban yang sebelumnya bersarang seketika runtuh menghilang. Dengan sangat hati-hati Kyuhyun meminta jawaban atas pengungkapan perasaannya sekali lagi. “Jadi, bersediakah kau… menerima perasaanku?”

Tercengang akan perubahan ekspresi Rin Hyo yang tampak mengernyit tak suka, mulut Kyuhyun terkatup rapat. Degup jantungnya terasa kuat. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap Rin Hyo penuh harap.

“Haruskah aku menegaskannya padamu sekali lagi?”

Kyuhyun sontak meneguk salivanya berat. Kegugupan merambah sekujur tubuhnya hingga kelopak matanya pun terlalu gentar untuk bergerak.

“Bahwa aku mencintaimu dan tentu saja aku menerimamu,” sambung Rin Hyo lalu tersenyum manis. “Apakah jantungmu hampir saja terlepas tadi?” godanya.

Helaan napas lega terbebas dilepaskan Kyuhyun. Tak kuasa menahan gemas ia mengecup punggung tangan gadis itu disertai gigitan lembut membuat sang pemilik terkikik geli. Atmosfir bahagia terpancar indah diantara pasangan baru itu.

“Rin Hyo-ah. Besok malam Ji Eun akan berangkat ke Amerika. Maukah kau ikut aku mengantarnya ke bandara?”

Kedua mata Rin Hyo membulat sambil berkata, “Jinjja? Kenapa tiba-tiba sekali? Untuk apa dia pergi kesana?”

***

Suara ketukan pintu yang terdengar sangat kasar menyebabkan Shin Ji Eun menggeliat dalam tidurnya. Seraya mendesis kesal gadis itu menyambar bantal guna menutup rapat kedua telinganya. Gedoran pintu itu semakin menyusup tajam dalam gendang telinganya. Tanpa membuka mata Ji Eun meraba dinding dibalik lampu tidur dan menekan tombol tunggal yang sejajar dengan beberapa saklar lampu disana.

Tak lama terdengar bunyi singkat menandakan kunci pintu telah non-aktif. Segeralah pria yang sedari tadi menunggu itu, Cho Kyuhyun, masuk menghampiri Ji Eun yang masih bergelung dibawah selimutnya. Sejenak ia menatapi tubuh Ji Eun yang terbungkus sempurna, menghela napas panjang sembari berkacak pinggang. “Sebentar lagi kau akan hidup mandiri tanpaku maupun keluargamu. Apakah kau akan terus bermalas-malasan seperti ini, Shin Ji Eun?!”

Seolah tak mendengar, Shin Ji Eun mengeratkan selimutnya lebih rapat membuat Kyuhyun menarik kain tebal itu paksa.

“Bangunlah, Ji Eun-ah! Lihat sudah jam berapa sekarang?!”

“Memang apa masalahnya? Sekarang kan hari libur, Cho Kyuhyun!”

Akhirnya perebutan selimut dimenangkan oleh Kyuhyun. Lalu ia berpindah ke sisi lain ranjang membisikkan sesuatu pada Ji Eun. “Karena kau tidak menepati janjimu kemarin untuk menghabiskan waktu bersamaku, jadi kau harus menebusnya hari ini.”

“Tunggu aku diluar saja,” gumam Ji Eun masih dengan mata terpejam.

“Aku tetap disini. Cepatlah mandi.”

“Keluarlah dulu. Baru aku akan bersiap-siap.”

“Bersiap-siap untuk tidur? Tidak, kubilang aku disini saja.”

Entah untuk apa napas Ji Eun berhembus frustasi sebelum ia membuka mata. Membuat Kyuhyun terkesiap akan kedua mata merahnya dan membengkak. Fakta bahwa gadis itu menangis semalaman menyendukan tatapan Kyuhyun padanya.

“Baiklah aku akan menunggumu diluar. Tapi pastikan kau bergerak cepat. Mengerti?” Kyuhyun mengacak rambut Ji Eun yang asalnya memang berantakan sebelum beranjak.

Ji Eun bangun mengamati keadaan wajahnya di cermin meja rias. Benar saja, kelopak mata yang dirasa sangat berat dibuka jelas membengkak. Dan Kyuhyun terlanjur mendapati keadaan rapuhnya. Memikirkan kehidupan yang jauh dari orang-orang yang sangat ia sayangi membuat air matanya terus mengalir semalaman. Eomma, appa, Kyuhyun, dan mungkin juga, Kikwang telah mengambil bagian didalamnya. Bahkan saat ini, tetesan bening itu kembali jatuh. Tak ingin berlama-lama, Ji Eun lekas bersih diri memasuki kamar mandi.

***

Sam Rin Hyo melangkah ceria melalui pekarangan rumahnya yang luas. Menghampiri dan menghempaskan tubuhnya di kursi empuk dalam mobil disamping Kikwang dibalik kemudi.

“Tiketnya?”

Rin Hyo merogoh tas jinjingnya mengeluarkan dua helai kertas tipis seraya mengatakan, “Ini!” dengan penuh semangat.

Lalu Kikwang mulai melajukan mobilnya sementara Rin Hyo memasukkan tiket itu kembali. Seluruh perhatian Kikwang terpusat pada jalanan di hadapannya juga tiga spion mobil yang selalu ia pantau. Sedangkan Rin Hyo menatap ragu sahabatnya itu, cukup lama hingga Kikwang tersadar.

Wae?” tanya Kikwang. Rin Hyo spontan mengalihkan pandangannya kearah sebaliknya.

Ani. Lama sekali kita tidak berkunjung ke Lotte World. Beruntung tiket gratis ini kutemukan sebelum masa aktifnya hangus.”

“Beruntung bukan aku yang menyimpannya,” timpal Kikwang. Rin Hyo tertawa ringan kemudian membalas, “Ya, memangnya apa benda yang selama ini awet kau simpan?” ledek Rin Hyo namun tidak ditanggapi Kikwang.

“Jangan lupa sesampainya disana kita harus pergi ke arena ice skating! Aah pasti akan sangat menyenangkan sekali.”

“Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan padaku?”

Rin Hyo yang tengah antusias sontak menatap Kikwang. Sampai kapanpun Rin Hyo takkan pernah bisa menyembunyikan apapun dari sahabatnya yang satu ini. Karena bagaimanapun Kikwang akan menemukannya tidak peduli sesempurna apa Rin Hyo menutupinya.

“Nanti saja.”

***

“Woah, semua beban pikiranku terasa melayang sekarang. Hawa bebas disini terasa sekali,” ujar Rin Hyo. Bibirnya terus merekah semenjak menyecahkan kaki memasuki kawasan taman hiburan termegah di dunia itu. Setiap napas yang ia ambil terasa luar biasa menyegarkan hingga ia berulang kali menghirup oksigen dalam-dalam. Mereka telah berada di area wahana ice skating sekarang.

“Hyo,” lirih Kikwang tiba-tiba namun tetap terdengar oleh Rin Hyo. Menemukan Kikwang terdiam dengan tatapan terpaku pada suatu tempat, Rin Hyo mengikuti arah tatapan itu. Mulutnya sedikit terbuka begitu mendapati objek yang berhasil membuat Kikwang membeku.

Cho Kyuhyun sedang mengganti sepatunya dengan ice skates bersama Shin Ji Eun yang duduk disampingnya. Gadis itu pun telah menyadari keberadaan Kikwang dan Rin Hyo, terbukti dari pandangannya yang tak teralih sedikitpun pada tatapan Kikwang. Seakan sorot mata mereka tergabung menjadi satu.

“Kajja,” ajak Kyuhyun lalu mengulurkan tangannya hendak membantu Ji Eun untuk berdiri. Wajah Ji Eun yang tak kunjung berpaling membuat Kyuhyun menemukan sosok Rin Hyo bersama Kikwang pula.

“Kalian disini juga? Sejak kapan kalian datang?”

.

-To be Continued-

.

.

Part ini terlalu panjang jadi dipisah. Di part selanjutnya bakal dipassword ya. Buat kalian yang udah setia bubuhin komentar bisa hubungin ke inbox atau dm akun kita kalo aja ingin tahu kelanjutannya. Sekian, terimakasih.

Shin.

Advertisements

97 thoughts on “Nothing Impossible 7A

  1. Ninggalin jejak utk di ff ini.
    Gmna ya? Greget bnget klo udah ktemu psangan KyuHyo.
    Waao. Double date. Itu kebetulan ato emang udah di rencanain?
    Tpi part end di pw. Bleh minta ga?

  2. Ninggalin jejak utk pertama kali di ff ini. Udah baca sih 6 part sbelumnya. Tpi bru komen. Gpp ya?
    ***
    Gmna ya? Greget bnget klo udah ktemu psangan KyuHyo.
    Waao. Double date. Itu kebetulan ato emang udah di rencanain?
    Tpi part end di pw. Bleh minta ga?

  3. Huuhuyy.. double date.. 😀
    Tinggal nunggu perkembangan hubunganny kikkwang sama ji eun aja nih..
    mereka berdua masih ngambang.. wkwkwkwkw..
    okee aku lanjut baca yg next part nya eonni.. ^-^

  4. akhirnya……….jadian juga.skrg kayaknya gantian rinhyo ama kyuhyun yg mau nyatuin kikwang sama jieun. udah mau part akhir. kayak apa ya lanjutannya.
    let’s see…………

  5. Yiihaaa.. kyirin ud fix dahh.. nahh tinghal njnggu jieun amaa kikwang nihb.. hheee…
    Aseekk.. sebelumhyaa jieun yg membuat kyurin ketemuu.. nahh skrng sepertinyaa mrekaa blas dendanm k jieun yahh … hhaaa..

  6. Nah lohhhh mereka ktm ga sengaja atau emg ini rencana kyuhyun sama rin hyo nih, seneng akhirnya ji eun ga egois lg ke kyuhyun jdnya kyuhyun rin hyo bisa bersatu hehehe meskipun sedih ji eun nya bakal ke amrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s