First Love

samshin first loveAuthor: Bella Eka

A/N: Halo 🙂 Ini menurutku panjang banget ._. jangan bosen-bosen ya bacanyaa ^^

.

.

.

Dengan keringat bercucuran, seorang gadis yang tengah berada dalam sebuah ruangan penuh tembikar terus menggerakkan kedua tangannya yang lincah membentuk dan memutar alat tembikarnya. Apron yang dikenakan gadis itu tak lagi bersih, pakaiannya pun sedikit berantakan. Namun yang dipedulikannya saat ini hanyalah sebuah tembikar setengah jadi yang masih basah dihadapannya.

Karena seluruh perhatiannya telah terpusat, gadis itu tidak menyadari seorang pria yang memandangnya lekat. Pria itu berdiri diambang pintu ruangan dengan kedua tangan bersendekap, memaku tatapannya pada punggung gadis yang duduk membelakanginya itu. Sorot matanya sarat akan kerinduan serta senyuman penuh arti di bibirnya tak kunjung pupus.

Mendadak terdengar racauan anak kecil samar-samar. Membuat kepala gadis itu tertoleh ke belakang dan akhirnya menyadari keberadaan pria itu. Memandangnya lama sebelum mengatakan, “Kau benar-benar datang?”

Selontar pertanyaan itu membuat sang pria mengernyit. “Begitukah sambutan yang layak kau berikan?”

“Sepertinya Ji Hoo sudah terbangun. Pergilah menemuinya sebelum dia mencoba keras turun dari ranjangnya sendiri,” titah gadis yang telah berubah menjadi seorang wanita itu, Shin Ji Eun.

Dan tentu saja pria itu, Lee Kikwang, segera beranjak menuruti ucapan Ji Eun walau bibirnya menggerutu kecil. “Mengapa tidak pernah sekalipun terkejut akan kedatanganku? Bagaimana bisa ekspresinya seperti itu? Selalu saja datar seakan tidak terjadi apapun. Setelah berbulan-bulan tidak bertemu, mengapa sulit sekali memasang wajah bahagia ketika melihatku?”

Gerutuan panjangnya terhenti, terganti dengan senyuman lebar begitu mendapati seorang bocah laki-laki menggemaskan yang terlihat gusar seakan mencari lahan untuk keluar dari ranjang bayinya.

Kikwang mendekati ranjang kecil berpagar putih itu dengan menjulurkan kedua tangannya seraya mengatakan, “Aigoo, uri Ji Hoo sudah semakin besar. Kau tidak merindukan appa?” Tepat sekali, bocah bernama Ji Hoo itu, tentu saja merupakan buah hati hasil pernikahannya bersama Shin Ji Eun yang dilangsungkan lebih dari setahun lalu.

Tidak mendapat respon yang diinginkan, Kikwang tetap pada posisinya walau tidak tahan ingin segera mendekap bocah itu dalam pelukannya. Tidak jauh berbeda dengan ibunya, Ji Hoo menghentikan kegiatannya begitu mendengar suara Kikwang. Menatap mantap Kikwang, kemudian beralih pada kedua tangan yang terjulur padanya.

“Ji Hoo-ya, siapa aku?”

Beberapa detik berlalu seakan bocah itu membeku. Hanya menatap Kikwang tanpa berkedip.

“Lee Ji Hoo?”

Sedetik kemudian Kikwang kembali mengumbar senyuman manisnya setelah misinya berhasil. Membuat Ji Hoo menangis dan mengangkat kedua tangannya ke udara mengharapkan pelukannya.

Kikwang pun berhati-hati mengangkat tubuh kecil itu. Mengusap dan menepuk Ji Hoo pelan guna meredakan tangisan yang telah lama tidak ia dengar. Tiga bulan terasa tiga tahun baginya tanpa Ji Eun dan Ji Hoo disampingnya.

“Aku tahu kau sangat merindukanku, kan? Ji Hoo-ya? Tidak seperti ibumu yang sepertinya tidak mengharapkan kehadiranku.”

“Jangan mengatakan apapun yang tidak baik pada Ji Hoo,” ujar Ji Eun yang entah sejak kapan berdiri bersandar di ambang pintu.

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya,” balas Kikwang lalu bergerak menjauh dikala Ji Eun mendekatinya. “Bersihkan dulu dirimu atau jangan harap dapat menyentuh Ji Hoo,” hardiknya.

“Ji Hoo sedang menangis, mana mungkin aku hanya tinggal diam. Sebaiknya kau saja yang menjauh darinya karena kaulah yang menyebabkannya menangis.”

“Lihat, tangisannya telah mereda. Ji Hoo begini karena merindukanku. Tidak sepertimu.”

“Apa maksudmu tidak sepertiku? Kau berharap menjadi seseorang yang kurindukan, huh?”

“Hentikan, Shin Ji Eun. Kau tahu betapa menyebalkannya dirimu ketika sedang merindukanku? Dan apa ini? Sepertinya kadar kerinduanmu padaku telah melebihi batas.”

Ji Eun menghela napas dalam. Yah, Kikwang memang benar sebab pria itulah yang mengerti dirinya melebihi siapapun. Dan semua yang dikatakannya tidak mengandung unsur kesalahan apapun. Dirinya tidak hanya merindukannya, bahkan sangat-sangat membutuhkan sosok suaminya itu.

“Sudah kukatakan bersihkan dirimu dulu, Ji Eun-ah.”

Kikwang mempererat dekapannya pada Ji Hoo saat Ji Eun tidak mengindahkan ucapannya dan lebih memilih untuk mendekatinya masih dengan apron yang penuh hiasan tanah liat. Semakin dekat dan kini telah memeluk punggungnya erat.

“Saat ini kau hanya melarangku untuk menyentuh Ji Hoo tapi tidak berlaku padamu, bukan?”

Kikwang tersenyum bahagia. Sangat bahagia hingga dadanya terasa bergemuruh. Sama seperti beberapa tahun lalu disaat mereka masih menjadi sepasang kekasih. Selalu berdebar memabukkan disetiap kedekatannya bersama Shin Ji Eun.

Ji Eun melepas pelukannya begitu Kikwang berbalik menatapnya intens kemudian mengecup keningnya lembut. Melihat Kikwang memandang Ji Hoo sekilas seraya menggigit bibir bawahnya membuat Ji Eun tertawa kecil.

“Aku mandi dulu. Annyeong, Ji Hoo-ya,” ucap Ji Eun sembari melambaikan tangannya lalu melangkah menjauh keluar dari kamar karena ia harus meletakkan apron kotornya terlebih dahulu ke dalam mesin cuci. Sedangkan Kikwang menatap kepergian Ji Eun dan Ji Hoo bergantian. Hingga akhirnya ia membaringkan Ji Hoo kembali di atas ranjangnya. Mengambilkan beberapa mainan bocah itu seraya berkata, “Sebentar saja, Ji Hoo-ya. Jangan mencoba keluar dari ranjang, mengerti?”

Setelahnya, dengan gerak cepat Kikwang mengikuti arah Ji Eun berjalan. Dadanya serasa akan meledak menahan gejolak perasaannya. Shin Ji Eun yang mendengar derap langkah mendekatinya menoleh dan membuatnya mendapat ciuman penuh kerinduan Kikwang. Ji Eun pun membalasnya, menyalurkan perasaan yang selama ini tertahan dalam ciuman itu.

Sebelah tangan Kikwang menarik pinggang Ji Eun setelah melepas apron yang menempel dan tangan lainnya bersarang di tengkuk istrinya itu. Semakin terlarut ciuman mereka semakin panas menikmati setiap detik kebersamaan mereka. Namun Ji Eun yang semula mengalungkan kedua tangannya pada leher Kikwang, mendorong dirinya agar menjauh begitu mendengar pekikkan Ji Hoo.

Dengan napas sedikit tersengal, Ji Eun memberi isyarat menggunakan tangannya agar Kikwang segera menangani Ji Hoo dan berbalik melanjutkan langkah yang sebelumnya tertunda. Tapi tidak dengan Kikwang, ia meraih tubuh Ji Eun agar menghadap padanya dan menautkan kembali bibir mereka. Alih-alih menolaknya, sebaliknya Ji Eun membalas perlakuan itu. Bahkan dengan memejamkan matanya. Namun tidak berlangsung lama, tangan Ji Eun yang membelai lembut rambut Kikwang berubah mencengkeram dan menariknya paksa membuat Kikwang melepas tautan mereka karena merintih kesakitan.

“Kau tidak dengar anakmu sedang membutuhkanmu, hah?” ujar Ji Eun seraya membalikkan tubuh Kikwang dan mendorongnya kuat-kuat.

Ji Eun tersenyum simpul mendengar dengusan malas Kikwang disela langkah beratnya. Diluar sana, para penggemarnya pastilah tidak akan mempercayai kenyataan bahwa idola yang mereka kenal kekanakan itu sebenarnya telah menjadi seorang ayah.

***

“Masakanmu memanglah yang terbaik, Ji Eun-ah,” puji Kikwang dengan kedua ibu jari teracung sempurna.

“Tentu saja. Karena itu seharusnya kau pulang ke rumah setiap hari. Bukan menghabiskan sepanjang hari dan malammu diluar sana. Benar, kan? Ji Hoo-ya?” ujar Ji Eun yang tengah menyuapi Ji Hoo. Ji Eun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya pada Ji Hoo dan bocah kecil itu pun dengan polos mengikuti gerakannya. “Aigoo, Ji Hoo saja memiliki pikiran yang sama denganku,” sambung Ji Eun puas.

“Dan kita akan memakan batu sepanjang tahun. Begitukah keinginanmu?”

Ji Eun beralih menatap malas Kikwang. Bagaimanapun ucapan pria itu memang benar adanya. Ia melakukan semua ini demi mereka, bekerja keras demi keluarga kecil yang mereka bangun bersama.

“Yeobo.”

Panggilan tiba-tiba Kikwang membuat Ji Eun mengernyit. Karena tidak biasanya suaminya memanggilnya dengan sebutan manis itu. “Wae? Apa yang ingin kau coba katakan?”

“Aku mendapat tawaran bermain dalam drama remaja.”

“Pemeran pendukung lagi?”

“Bukan. Pemeran utama.”

Ji Eun sontak menatap Kikwang tak percaya dengan wajah berbinar. Tapi raut wajah murung Kikwang menunjukkan kebalikannya seakan ia tidak menginginkan peran itu. “Kenapa wajahmu seperti itu? Kau berdusta padaku?”

“Aku mengatakan yang sebenarnya,” jawab Kikwang meyakinkan.

“Tapi kenapa…”

“Apakah aku harus menerimanya?”

“Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Apa yang membuatmu keberatan?” Sinar mata keraguan Kikwang terlihat benar dalam pandangan intens Ji Eun.

“Apa aku benar-benar harus menerimanya?”

“Bukankah ini adalah kesempatan yang selama ini kau nanti? Bukankah menjadi aktor profesional merupakan bagian dari impianmu? Tapi kenapa tiba-tiba saja kau berubah seperti ini?” Untuk saat ini, Ji Eun benar-benar tidak mengerti akan jalan pikiran Kikwang hingga dahinya kembali membentuk segaris kerutan.

“Mmamama…” racauan Ji hoo yang duduk di kursi khusus miliknya menyadarkan Ji Eun untuk memberinya sesuap bubur lagi sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada Kikwang.

Tatapan sendu Kikwang semakin membuat Ji Eun cemas. “Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan, Kikwang-ah.”

“Ya, kau benar. Ini memang kesempatan yang telah lama kunanti selama memasuki dunia akting. Jujur saja aku menginginkan peran ini. Karena melalui berbagai peran berbeda yang kumainkan dapat menunjukkan sisi ke-profesional-an diriku. Tapi untuk kali ini, apakah kau tidak apa-apa?”

“Maksudmu? Peranmu kali ini berkaitan denganku?”

“Sebenarnya pihak agensi telah menerima tawaran ini dan aku mendatangi acara pembacaan skenario drama itu kemarin. Tapi, ternyata yang menjadi pemeran utama wanitanya adalah…” Kikwang menggantung kalimatnya. Sangat berhati-hati sebelum menyebut nama gadis yang mungkin saja mampu menyayat hati istrinya.

“Kau ingin membatalkannya hanya karena aktris pemeran utama wanita? Memangnya siapa yang akan menjadi lawan mainmu? Kim Tae Hee? Bukankah sangat menyenangkan dapat bertemu kembali semenjak drama My Princess beberapa tahun lalu? Ataukah… Park Shin Hye? Dia benar-benar sedang naik daun sekarang,” celoteh Ji Eun antusias tanpa menyadari ekspresi Kikwang yang semakin tertekuk.

“Bukan keduanya. Bahkan jauh dari perkiraanmu.”

Pandangan Ji Eun menajam mengarah pada Kikwang. Suasana hatinya berubah memburuk, merasa bahwa Kikwang akan menyebut nama yang tidak ingin didengarnya. Tapi seingatnya, ia baik-baik saja dengan para aktris yang ada hingga saat ini.

“Katakan saja.”

“Lee Da In.”

Tiga suku kata nama itu sontak membuat Ji Eun tertegun. Kikwang segera beranjak mengambil alih mangkuk bubur Ji Hoo yang masih berada di tangan bergetar Ji Eun dengan cepat sebelum yeoja itu menjatuhkannya. Kemudian meletakkan mangkuk yang sudah hampir kosong itu di atas meja.

“Baiklah. Aku akan membatalkannya kalau begitu.”

“Tidak. Jangan biarkan mereka menganggapmu tidak mampu dan memandang rendah kemampuan aktingmu. Lakukan saja, lagipula agensimu telah menyatakan bahwa kau menerima.”

“Tapi bagaimana denganmu?”

“Bukankah kau pernah mengatakan bahwa kita tidak perlu lagi membawa kehidupan masa lalu dalam hubungan kita? Yang penting hanyalah kau dan aku sekarang. Bukan kau dan dia, ataupun aku dan dia, dulu. Jangan mengingat hubungan-hubungan sementara yang telah lalu. Kau dan Lee Da In sekarang, kalian adalah teman lama yang akan berjumpa lagi. Bukankah itu harusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan?”

Kikwang mengambil napas dalam memandang tatapan kosong Ji Eun. Dirinya pun tahu, hal ini akan membuka luka lama dalam hati istrinya. Namun apa yang harus ia lakukan? Bukankah akan lebih menyakitkan apabila ia tidak memberitahu mengenai hal ini lebih awal?

“Tapi… bagaimana bisa… sejak kapan dia menjadi seorang aktris?”

“Kudengar ini adalah drama debutnya. Dia belum pernah mengambil peran sebelumnya. Tapi tidak perlu khawatir, yeobo. Kau hanya perlu percaya padaku maka semuanya akan baik-baik saja. Arasseo?” ucap Kikwang menenangkan dengan memberikan pelukan hangatnya.

Tanpa sadar salah satu sisi bibir Ji Eun terangkat keatas. “Bagaimanapun, dia beruntung sekali,” gumamnya.

“Sepertinya Ji Hoo mengantuk. Aku akan membawanya ke kamar. Kajja, Ji Hoo-ya,” ajak Kikwang menggendong Ji Hoo.

Sementara Ji Eun masih membeku. Masih kesulitan memercayai ucapan Kikwang bahwa Lee Da In-lah yang akan menjadi pasangan dalam drama Kikwang nanti. Setelah sekian lama tidak mendengar nama itu kini lagi mulai berdengung. Begitu penging seakan telinganya telah muak. Mengapa harus gadis itu? Mengapa harus Kikwang yang menjadi lawan main drama pertama gadis itu?

***

“Lee Da In?” pekik seorang yeoja yang tengah duduk dihadapan Ji Eun dengan kedua bola mata yang terlihat hampir lepas. “Kau serius? Kau tidak salah menyebut nama?”

“Aku mengatakannya dengan segenap kesadaranku, Sam Rin Hyo.”

Rin Hyo menghembuskan napasnya kasar. Tangannya turut mengacak rambutnya. Ucapan Ji Eun sama sekali benar-benar tidak dapat diterima akal sehatnya. Bagaimana bisa gadis bernama Lee Da In itu bertemu lagi dengan Kikwang dalam keadaan seperti ini? Keadaan yang mengikat keduanya untuk bersama dalam waktu yang lama.

“Lalu, apa yang Kikwang katakan padamu? Apakah ia segera menerima tawaran itu tanpa membicarakannya dulu denganmu?”

“Tentu saja dia tidak seperti itu. Walaupun ia memberitahuku setelah agensinya menerima tawaran itu, tapi pada awalnya ia tidak mengetahui bahwa Lee Da In-lah yang menjadi pemain utama wanitanya. Bahkan ia bertanya apakah sebaiknya ia membatalkannya.”

“Dan kau menjawabnya dengan…”

“Tentu saja aku tidak membiarkan itu terjadi. Bayangkan saja bagaimana pandangan para produser serta staff drama itu jika Kikwang tiba-tiba saja membatalkannya? Bagaimana jika Kikwang akan di-blacklist dalam daftar aktor project drama di masa depan? Hanya membayangkannya saja tergambar jelas bagaimana wajah frustasi Kikwang yang menakutkan,” papar Ji Eun seraya bergidik ngeri kemudian menyesap chocolate float di hadapannya.

Namun berbeda dengan Ji Eun yang berucap mantap, Rin Hyo sedikit menampakkan keraguan. “Tapi… apa kau benar-benar berpikir bahwa Kikwang akan membatalkannya jika kau berkata sebaliknya saat itu? Terlebih agensinya telah memutuskan untuk menerimanya terlebih dahulu. Apakah membatalkan kontrak semudah itu?”

Perkataan Rin Hyo seakan menyambar perih dalam hatinya. Rin Hyo benar. Bagaimana jika Kikwang mengatakan itu hanya sekadar untuk mencegahnya berpikiran yang macam-macam? Tatapan gusar Ji Eun beralih pada Ji Hoo yang berada di pangkuan Rin Hyo. Kemudian senyumannya mulai samar terlihat. “Entahlah. Tapi aku yakin bahwa Kikwang tidak mungkin memiliki niatan lain yang buruk dibaliknya.”

Rin Hyo menatap nanar Ji Eun yang mulai tersirat kesedihan di wajahnya. “Tentu saja Kikwang tidak akan seperti itu. Terlebih karena Da In melukainya di masa lalu, ia tidak akan memiliki niatan lain selain berlaku profesional dalam bekerja. Tenang saja, Ji Eun-ah. Kau hanya perlu memegang erat kunci bahwa kau mempercayainya.”

Ji Eun mengangguk pelan. Ia telah memberi kepercayaannya pada Kikwang, dan sekarang tergantung bagaimana Kikwang menjaga kepercayaan itu di tangannya.

“Kudengar, Kyuhyun bermain drama musical lagi?” tanya Ji Eun mengalihkan pembicaraan. Ya, yeoja yang duduk di depannya itu adalah seseorang yang menyandang status sebagai istri Cho Kyuhyun. Member dari grup Super Junior yang mendunia itu.

Rin Hyo mengangguk membenarkan kemudian berkata, “Dan terdapat adegan ciuman berkali-kali dalam drama itu.”

“Kau cemburu?”

Rin Hyo menggeleng cepat. “Mungkin seharusnya aku merasakan itu. Tapi aku selalu berpikir bahwa mereka hanya meminjam Cho Kyuhyun dariku karena seperti yang kau tahu, pria itu telah menjadi milikku. Se-mesra dan se-intens apa adegan mereka, bagaimanapun hanya ada aku dalam hatinya,” ujar Rin Hyo kemudian terkekeh bangga.

Ya! Sepertinya aku tidak mampu menggapai tingkat kepercayaan dirimu itu,” sindir Ji Eun jengah.

***

tvN UHD Drama 'Twenty Years Old' Press Conference

BEAST’s Lee Kikwang akan membintangi drama “20th Years Old” bersama aktris pendatang baru Lee Da In.

Akhirnya berita itu keluar juga hari ini. Ji Eun menghela napas sebelum membuka bacaan artikel dalam ponselnya itu. Melihat gambar press conference yang terpampang menampakkan seorang gadis berdiri mesra dengan menggandeng erat tangan Kikwang membuat dada Ji Eun terasa sesak.

Waktu telah berjalan hampir sebulan semenjak Kikwang memberitahunya saat itu. Dan hari itu pula-lah waktu terakhir Kikwang mengunjunginya dan Ji Hoo. Setelah tiga bulan Ji Eun menghabiskan kesendiriannya tanpa Kikwang karena jadwal promosi album baru grup mereka, kini lagi-lagi ia harus merasakan kehampaan karena jadwal syuting drama itu.

Pada awalnya Kikwang memang secara rutin menghubunginya tiga hari sekali. Ketika bangun di pagi hari, ketika masuk waktu makan siang bersama Ji Hoo, dan saat malam sebelum mereka menutup hari. Namun semakin lama perhatian itu semakin menguap hilang. Kikwang semakin jarang bahkan kini tidak lagi menghubunginya.

Pantaskah ia mengeluh? Pantaskah ia menuntut Kikwang karena kasih sayang yang langka ia dapatkan sebagai seorang istri dan juga sebagai ayah dari Lee Ji Hoo? Akan sangat kekanakan apabila ia benar-benar melakukannya. Karena semua itu adalah segala resiko yang layak ia hadapi karena memiliki seorang suami selebriti seperti Lee Kikwang. Yang diwajibkan menyembunyikan hubungan mereka, yang tidak dapat secara gamblang mengungkapkan segala keluh kesahnya pada orang lain karena tidak sembarang orang akan bersedia merahasiakan hal itu untuknya. Mengingat begitu mahalnya harga yang mampu didapatkan dari hasil pengungkapan skandal besar yang menimpa selebriti. Terlebih seorang idol layaknya Kikwang. Beruntung ia masih memiliki sahabat karib setia seperti Sam Rin Hyo.

Kring Kring

“Selamat datang,” sambut Ji Eun ramah begitu mendengar lonceng pintu toko tembikarnya berbunyi. Menandakan seorang pengunjung tengah masuk. Hari ini pegawai Ji Eun satu-satunya mengambil cuti jadi ia harus menjaga toko seorang diri.

“Shin Ji Eun?”

Ji Eun yang semula masih menunduk memberi salam segera mengangkat kepalanya. Terkejut setengah mati begitu mendapati seorang pria tampan tinggi menawan tengah menatapnya dengan kedua mata melebar tak percaya.

“Itu benar kau? Shin Ji Eun?”

“Mungkinkah kau… Kim Woo Bin?”

Keduanya membatu dengan mengacungkan jari menunjuk satu sama lain. Tak ada yang bergerak, bahkan kelopak mata mereka pun seakan menandakan berhentinya waktu sejenak.

“Kau pemilik toko ini?” tanya Woo Bin membuka pembicaraan. Ji Eun segera tersadar dari lamunannya. Pikirannya yang sejenak melayang menuju beberapa tahun lalu kembali normal.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Syukurlah . Karena jika tidak, aku akan merasa sangat simpati pada atasanmu yang mau memperkerjakan seseorang yang selalu melakukan hal semaunya sendiri sepertimu. Bisa-bisa dia yang harus mengikuti semua keinginanmu.”

Ji Eun mendecih pelan. Kontras dengan Woo Bin yang tertawa terbahak. “Sama sekali tidak lucu!” sergah Ji Eun kesal.

“Sama sekali tidak berubah,” ujar Woo Bin bersamaan kekehannya mulai hilang. Terganti oleh senyuman tipis sebagai hiasan.

“Sudahlah. Apa yang membuatmu kemari?”

“Kau memiliki sesuatu yang pantas untuk seseorang yang baru saja menempati rumah baru?”

“Ah, sesuatu seperti itu? Kau bisa membawakannya sejenis peralatan makan seperti yang di sebelah sana,” jawab Ji Eun seraya mengarahkan tangannya menuju sudut dimana terdapat jajaran cangkir berwarna-warni yang terbuat dari keramik. Woo Bin lekas menghampiri tempat itu. Mengamati cangkir-cangkir itu.

“Di sebelah kananmu juga tersedia piring dan juga mangkuk pula. Akan lebih baik jika kau membelikannya dua set peralatan makan. Karena biasanya barang-barang seperti itulah yang paling dibutuhkan oleh para pengantin baru.”

“Pengantin baru?” ulang Woo Bin. Tubuhnya seketika berbalik menatap Ji Eun terheran.

“Ada yang salah?”

“Sepertinya kau mengetahui dengan sangat baik mengenai pengantin baru.” Ucapan Woo Bin terdengar penuh selidik membuat Ji Eun sontak meneguk ludah berat.

“Tentu saja. Kebanyakan pengunjung yang datang mengatakan tentang hal itu.”

Ji Eun bernapas lega setelah Woo Bin mengangguk mengerti. Namun disaat yang sama Ji Eun merutuki dirinya sendiri yang entah mengapa mendadak gugup disaat Woo Bin memandangnya curiga tadi. Menyesal karena tidak mengatakan yang sebenarnya bahwa ia telah terikat dalam janji pernikahan.

“Semua ini adalah tembikar buatanmu?”

“Eum, begitulah.”

“Lalu apa yang dilakukan pegawaimu? Kau memiliki pegawai, bukan?”

“Aku membuka toko ini bukan sepenuhnya untuk berbisnis. Melainkan hanya untuk sekadar menyalurkan hobi saja, akan sangat merepotkan jika barang-barang ini hanya tergeletak tak berarti dalam rumah.”

“Pantas saja setiap detail mereka berbeda.”

“Hadiah ini akan kuberikan pada Jong Suk. Dia hanya tinggal sendiri dan tentu saja belum menikah,” sambung Woo Bin sembari meletakkan sekeranjang belanjaan tembikarnya diatas meja kasir Ji Eun.

“Jong Suk? Lee Jong Suk?” tanya Ji Eun dengan nada remeh. Namun anggukkan kuat Woo Bin membuatnya mengernyit.

“Kau benar-benar tidak percaya? Kau ini, semua orang diluar sana mungkin sudah mengetahui perihal persahabatan kami. Tapi kau…”

“Astaga aku baru ingat kalau sekarang Korea Selatan memiliki aktor berbakat bernama Kim Woo Bin. Dan, itu kau? Tak kusangka aku sedang berhadapan dengan model korea profesional sekarang,” celoteh Ji Eun semangat. “Bagaimana bisa aku baru menyadarinya sekarang? Kau benar-benar berbeda.”

“Bodoh.”

Sebilah kata tajam itu sontak melebarkan mata berisi kegeraman Ji Eun. Ya, dulu memang ia tidak akan marah walau pria ini mengatakan hal yang sama padanya. Sebaliknya akan terdengar layaknya lelucon manis yang biasa dilontarkan seorang lelaki yang tengah menggoda kekasihnya. Tapi itu adalah masa lalu yang telah berlalu, saat Woo Bin masih menjadi satu-satunya pria yang dicintainya.

Shin Ji Eun memasukkan dua kardus yang masing-masing berisi satu set peralatan makan ke dalam dua kantong plastik tebal. Agar mereka tidak terjatuh terpecah belah di tengah jalan.

“Hati-hati dalam perjalananmu. Terimakasih atas kunjungannya,” ujar Ji Eun ramah seperti biasa walau kontras dengan raut wajah datarnya.

“Topeng sekali.”

Lagi-lagi Ji Eun dibuat sebal atas cibiran Woo Bin. Terlebih ditambah dengan senyuman jahil pria itu sebelum melangkah menuju pintu keluar. “Aku akan kembali!”

***

Shin Ji Eun merengkuh tubuh terlelap Ji Hoo yang sengaja ia dudukkan di kursi khusus bocah itu yang berada di bagian tengah mobil sebelum beranjak memasuki rumah. Apakah kalian merasa dibingungkan karena keberadaan Ji Hoo tiba-tiba? Ya, Ji Eun terlebih dahulu menjemput buah hatinya yang dibawa Rin Hyo selama ia pergi menjaga toko sebelum beralih pulang.

Yeoja itu mulai berjalan memasuki gedung apartemen. Menaiki lift hingga sampai ke depan pintu kamar apartemen mereka yang berada di lantai dua belas. Jari telunjuknya bergerak menekan sederet tombol angka di tepi dinding pintu yang membuat kunci segera non-aktif. Disaat ia melangkah masuk, terdengar suara bising televisi menyala. Hanya dari hasil pendengaran saja dapat disangka bahwa seseorang tengah menonton acara sepak bola.

“Kau sudah pulang?” sambut Ji Eun ceria begitu ia sampai di ruang tengah dimana tempat kebisingan itu terjadi. Tepat seperti dugaannya, Kikwang telah kembali. “Kau datang pukul berapa tadi?”

Mendapat balasan dingin Kikwang, Ji Eun berpindah merebahkan Ji Hoo di kamarnya. Di ranjang berpagar khusus milik bocah itu. Menata dengan baik agar Ji Hoo dapat tidur dengan nyaman. Kemudian kembali menghampiri Kikwang yang masih tak bergeming. Terus memaku tatapannya pada layar kaca televisi dan tidak memandang dirinya sekalipun.

Dahi Ji Eun membentuk kerutan akibat sikap Kikwang yang membuatnya tak mengerti. Ji Eun mengambil tempat di samping Kikwang. Menyampingkan kepalanya seakan mengintip raut wajah Kikwang sekarang. Lalu mendaratkan dagunya di bahu kanan pria itu. “Kau tidak merindukan kami?” bisiknya tepat di telinga Kikwang.

“Dari mana saja kalian?”

Ji Eun tersenyum simpul seraya berpindah posisi bersandar pada sandaran sofa. “So Yeon meminta cuti hari ini jadi aku yang harus menjaga toko.”

“Tapi kenapa kau tidak ada disana tadi?” ucapan Kikwang masih terkesan datar juga tanpa menatap Ji Eun.

“Kau pergi kesana? Mungkin saat itu aku mampir ke rumah Rin Hyo. Karena dia berkata ingin membawa Ji Hoo bersamanya.”

“Selama itu? Bagaimana bisa aku pulang ke rumah namun kau tidak ada? Sebenarnya kedatanganku membuatmu senang atau tidak?”

“Ada apa denganmu? Bahkan kau tidak menghubungiku.” Ji Eun bangun dari duduknya sembari membalas tatapan tajam Kikwang dengan sinar mata yang tak kalah tajamnya. “Kau berniat pulang hanya untuk melampiaskan emosimu?!”

Kikwang tersadar. Kilat matanya segera berubah lembut. “Ji Eun-ah, bukan begitu maksudku,” ujarnya bersamaan tangannya menarik Ji Eun terduduk di pangkuannya. “Aku sangat merindukanmu.”

“Lalu kenapa kau berkata seperti itu?”

“Sudah kubilang aku merindukanmu.”

“Aku yakin ada alasan lain,” telisik Ji Eun.

Kikwang menyentuh tengkuk istrinya. Perlahan menepis jarak diantara mereka. Kini kedua bibir mereka telah menyatu. Kikwang mencoba melumatnya pelan walau tak ada respon sedikitpun oleh Ji Eun. Yeoja itu tetap menutup rapat bibirnya. Tak akan memberi Kikwang celah sebelum pria itu menjawab pertanyaannya.

Kikwang menarik wajahnya. Menatap Ji Eun seakan merajuk. “Aku benar-benar tidak punya alasan lain,” ujarnya seraya menggeleng pasti.

“Masih bersikeras membohongiku?” sarkatis Ji Eun seketika berdiri.

Dengan cepat Kikwang menariknya kembali. “Baiklah aku akan mengatakannya. Sejak kapan Woobin datang ke tempatmu?”

Kedua mata Ji Eun sontak melebar bersamaan ia meneguk ludah berat. “Kau datang ketika ia datang?”

Kikwang mengangguk yakin. Tatapannya berubah tegas.

“Woobin hanya datang sebagai pengunjung, sama seperti yang lainnya. Apakah kau berpikiran berlebihan? Jangan seperti itu, aku tidak suka.”

“Kau mengucap yang sebenarnya?”

“Jadi kau mulai tidak memercayaiku?”

Kikwang menatap Ji Eun lama meresapi isi pikiran istrinya. Menghela napas lega begitu tak menemukan titik keraguan dalam tatapan Ji Eun. “Alasan apa yang mengharuskanku tidak percaya padamu, hmm?” goda Kikwang lantas mengecup dasar leher jenjang Ji Eun hingga yeoja itu dibuatnya terkekeh kecil. Perlahan semakin keatas hingga berpuncak pada bibir ranum Ji Eun.

Mula-mula mereka hanya saling menggoda dengan mengecup ringan. Disela kegiatan mereka berpandangan penuh damba sembari tersenyum rindu. Bosan dengan kecupan, Kikwang memulai dengan mengulum lembut. Ji Eun pun membalasnya. Kelopak mata mereka mulai tertutup sempurna seiring kian lama ciuman itu semakin panas. Menyesap, menyatukan, menyapu bersih masing-masing rongga mereka seolah menggambarkan hasrat terpendam selama beberapa bulan ini satu sama lain.

Kedua tangan Kikwang diam-diam bereaksi. Tangan kirinya tetap berada di tengkuk Ji Eun memperdalam ciuman mereka. Sementara sebelah tangan lainnya menuntun lengan Ji Eun agar terkalung di lehernya. Perlahan tapi pasti, Kikwang mengangkat tubuh Ji Eun yang duduk menyamping di pangkuannya dan membawanya ke dalam kamar tidur. Membaringkan Shin Ji Eun dengan penuh hati-hati agar Ji Hoo yang sedang berkutat di alam mimpinya tidak terbangun. Kikwang tersenyum penuh arti membuat Ji Eun membalasnya dengan senyuman jahil. Kemudian penyaluran kerinduan yang sebenarnya pun terjadi.

***

Seberkas cahaya matahari berhasil menelusup menjalari permukaan wajah Ji Eun hingga kedua kelopak mata yeoja itu perlahan bergerak. Ujung bibirnya tertarik keatas mengingat Kikwang masih berada di sisinya dari semalam. Tanpa membuka mata tangannya meraba ke samping ranjang. Awalnya pelan, namun berubah cepat seiring membuka matanya kasar. Kikwang tak lagi bersamanya, pria itu lagi-lagi meninggalkannya.

Ji Eun mendesah seraya bangun mengubah posisinya duduk. Menatap box bayi dimana tempat Lee Ji Hoo tertidur. Bahkan Ji Hoo belum sempat bertemu dengan appa-nya semenjak kedatangan Kikwang kemarin.

Jujur saja, Ji Eun sangat membenci keadaan seperti ini. Ditinggal pergi disaat ia tengah terlelap. Sosok yang ia butuhkan tiba-tiba saja menghilang seakan kehadiran Kikwang hanya selintas mimpi semalam. Tapi apa boleh buat, lagipula ia tak berhak menahan Kikwang pergi hanya karena ia ingin. Pekerjaan Kikwang bukanlah sesuatu yang dapat pria itu hindari.

Tiba-tiba terdengar gemerisik samar dari arah box bayi Ji Hoo. Mendapati tubuhnya masih polos tanpa sehelai benang pun akibat ulah Kikwang semalam, Ji Eun segera mengenakan pakaiannya lengkap kemudian menghampiri bocah laki-laki yang bergerak memainkan selimutnya.

“Selamat pagi, Ji Hoo-ya.”

Ji Eun melepas lilitan selimut Ji Hoo lalu membuka celananya. Memeriksa popok yang sudah dirasa berat kemudian menggelar alas diatas ranjang utama untuk membaringkan Ji Hoo dengan penuh hati-hati disana.

“Tunggu sebentar, ya?”

Ji Eun mengambil sebaskom air hangat dari kamar mandi. Mencelupkan selembar kain lembut lalu mengelap tubuh bagian bawah Ji Hoo setelah memerasnya terlebih dahulu. Mengganti popok kotor dengan yang baru.

Walaupun kebanyakan bayi akan menangis dikala mereka bangun tidur, kebiasaan itu tidak berlaku bagi Ji Hoo. Bocah itu terlampau diam dibandingkan bocah-bocah lainnya. Mungkin hal itu adalah bagian dari takdir, karena saat detik-detik Ji Hoo terlahir pun ia tidak menangis. Hingga seluruh anggota keluarga Kikwang terheran sekaligus khawatir dibuatnya. Takut bila terjadi komplikasi terhadap jantung bayi Ji Hoo.

Ya, hanya keluarga Kikwang yang merasa terhenyak. Berbeda dengan keluarga dari pihak Ji Eun mereka seakan terbiasa. Karena sang ibu pun terlahir dalam kondisi seperti itu dulunya. Tanpa menangis, tanpa bereaksi. Seakan yeoja itu ditakdirkan apatis terhadap sekitar dan hal itu menurun pada buah hatinya sekarang.

“Selesai.”

Ji Eun menaikkan celana Ji Hoo sebagai sentuhan terakhir. Ia merunduk mengendus tubuh Ji Hoo memastikan aroma bayinya masih terasa harum. “Hmm,” gumamnya menikmati keharuman khas bayi Ji Hoo hingga bocah itu terkikik geli.

Ting Tong

 

Bunyi bel apartemen membuat Ji Eun mengalihkan pandangannya pada pintu kamar sejenak. Lantas menggendong Ji Hoo ikut serta memeriksa layar intercom memastikan siapa yang datang.

“Nuguseyo?”

Sontak kedua mata Ji Eun membulat seketika menemukan sosok pria yang tadinya tidak terlalu tampak pada layar intercom. Dan jelas terlihat bahwa dia adalah pria yang ia temui di toko tembikar kemarin. Kim Woo Bin.

“Ini benar kamar apartemen Shin Ji Eun, kan?”

“Ba-bagaimana bisa kau menemukan tempat tinggalku?” ujar Ji Eun berusaha menyuarakan kalimatnya meski dengan napas tercekat. Membuat Ji Hoo kecil menatapnya tak mengerti.

“Pegawaimu. Ah, sepertinya benar kau Shin Ji Eun. Tidakkah lebih baik kau bukakan pintu untukku lebih dulu? Aku membawakan sesuatu untukmu.” Pria itu mengangkat dua bawaan dalam kantung plastik hitam di kedua tangannya.

Ji Eun memutar bola matanya gusar. Memandang Ji Hoo cemas. “Bagaimana ini, Ji Hoo-ya?”

Gerak langkah Woo Bin yang berniat masuk sontak terhenti. Mendapati Ji Eun bersama seorang bocah yang juga menatapnya menyebabkan sekujur tubuhnya membatu. Woo Bin menatap Ji Eun dan Ji Hoo bergantian bersamaan kerutan terukir di keningnya. Sorot mata Ji Eun juga tak dapat diartikan.

Cukup lama hingga Woo Bin mengulas senyuman paksa. “Aigoo, lucunya. Siapa dia? Keponakanmu?” tanyanya sembari melanjutkan langkahnya menerobos pintu apartemen Ji Eun.

“Anakku,” jawab Ji Eun seraya menutup pintu.

“Kau bercanda?”

“Apakah aku terlihat sedang dalam keadaan bercanda?”

Woo Bin memaku tatapannya pada Ji Eun yang mengambil tempat di sofa tunggal berbeda dengannya. Berulang kali ia menamatkan wajah bocah dalam dekapan Ji Eun. Mereka berdua benar-benar mirip. Terlebih tatapan mantap yang tiada bedanya.

“Kau benar-benar… jadi kau sudah menikah? Sejak kapan? Kenapa kau tidak memberi kabar apapun padaku?”

“Bagaimana caraku mengabarimu bila kau sendiri saja tidak memberitahuku dimana keberadaanmu. Kau ingin minum apa?”

“Terserah apa yang kau punya. Serahkan bayi menggemaskan itu padaku. Tak sabar aku ingin mengigitnya.” Woo Bin mengulurkan kedua tangannya sembari menghampiri Ji Eun meraih tubuh kecil Ji Hoo.

“Dengar baik-baik, namanya bukan bayi ini atau bayi itu. Tapi Lee Ji Hoo. Ingat itu.”

“Lee? Jadi suamimu bermarga Lee? Bagaimana jika Kim Ji Hoo saja. Kedengarannya lebih bagus.”

Tanpa menggubris celotehan Woo Bin, Ji Eun beranjak ke dapur sementara Ji Hoo telah berpindah ke tangan pria itu. Woo Bin mendesis bingung akan raut wajah Ji Hoo yang terus menerus datar padanya. Bocah itu seolah menujukkan ketidak-sukaan terhadap kehadiran Woo Bin namun ia tidak meronta ingin lepas dari sentuhan Woo Bin.

“Mirip sekali. Sangat susah untuk ditebak.”

Mwo? Mworago?”

“Tidak. Hanya saja… Ya! Kau tidak memiliki bahan minuman lain? Kau ini benar-benar. Bagaimana bisa hanya menyuguhkan segelas air mineral untuk tamu istimewa sepertiku?” pekik Woo Bin saat Ji Eun meletakkan minuman buatannya diatas meja.

“Tamu istimewa? Bukankah lebih tepatnya tamu tak diundang? Kau bilang terserah yang kupunya, bukan? Hanya air mineral yang kumiliki saat ini. Dan juga, jangan pernah lagi berteriak di hadapan anakku! Berani sekali kau.”

Woo Bin selangkah menjauh ketika Ji Eun hendak mengambil Ji Hoo darinya. “Apabila kita tidak memiliki apapun disini, kenapa tidak pergi membelinya saja? Ayo kita berbelanja, Ji Hoo-ya.”

“Selalu bersikap seenaknya sendiri,” dengus Ji Eun kesal namun tak lama mengembangkan senyumannya.

***

Didatangi berbagai kaum wanita, ada pula yang heboh meminta foto bersama, serta beberapa pasang mata selalu mengikuti langkahnya tidak membuat Woo Bin merasa risih. Pria itu semakin melebarkan senyumannya memberi fanservice.

“Menggemaskan sekali. Siapa dia?”

Tak jarang para wanita itu menanyakan bocah yang berada dalam dekapan Woo Bin. Menjawab itu Woo Bin berucap ringan, “Anakku,” bersama umbaran senyuman bocahnya. Untung saja mereka tidak menganggap serius perkataan Woo Bin karena wajah jahil pria itu.

Selang beberapa meter di belakang gerombolan penggemar Woo Bin, Ji Eun menghela napas kasar. Setidaknya ia hanya ingin mengambil alih Ji Hoo. Semoga saja bocah itu tidak kehabisan napas disana. Tapi jika ia tiba-tiba mengambilnya, apakah semua akan baik-baik saja? Mungkin yang terjadi malah sebaliknya. Bisa saja Woo Bin terlibat skandal dengannya.

Akhirnya Ji Eun mengubah arah langkahnya menuju sudut supermarket yang lain. Karena tetap tinggal diam menanti tak akan menghasilkan apa-apa. Ia menghampiri bagian tempat dimana tersedia sayuran. Memilah milih sebelum memasukkannya dalam keranjang. Ia juga mampir ke tempat buah-buahan melimpah. Mengambil jeruk, apel, hingga semangka untuk persediaan bila saja Kikwang tiba-tiba datang. Karena pria itu paling mengutamakan kesehatan.

BRUK!

 

“Joesonghamnida.”

Seketika sekeranjang barang Ji Eun tertumpah diatas lantai begitu seorang wanita menabraknya dari samping. Tampaknya wanita itu tengah tergesa-gesa.

Gwenchana,” jawab Ji Eun seraya mengernyit sesaat pada wanita yang menutupi wajahnya dengan masker hitam itu. Ji Eun bergerak memunguti belanjaannya disusul wanita itu membantunya. “Maaf, aku sedang terburu-buru.”

“Aku tahu.”

Terdengar derap langkah semakin mendekat. Saat ini Ji Eun mampu melihat sepasang kaki pria berdiri tepat di belakang wanita itu. Membuatnya tersenyum tipis menyadari pria itu memiliki sepatu yang sama persis seperti milik suaminya. Entahlah, Ji Eun memang kerap mengingat hal-hal mendetail yang sama sekali tidak penting. Namun ingatan jangka pendeknya seringkali kambuh apabila menyangkut sesuatu yang harusnya terus diingat.

“Kekasihmu?”

Eo?” Wanita itu terlihat sedikit terkejut. Mendongak sejenak keatas memandang pria itu kemudian tertawa kecil.

“Romantis sekali pergi berbelanja bersama-sama.”

Jujur saja Ji Eun merasa iri. Bahkan sekalipun dirinya tak pernah melakukan hal sesederhana itu bersama Kikwang. Hubungan mereka seakan transparan. Seakan tak pernah ada.

Gomawo.” Wajah Ji Eun yang semula begitu dingin terhadap orang asing mulai menghangat. Wanita itu pun turut membungkukkan badannya membalas perlakuan sopan Ji Eun. Namun gerakan kikuk pria dibelakang wanita itu mengakibatkan Ji Eun merasa janggal. Ji Eun memandang pria itu, disaat itu juga ia baru menyadari bahwa dia mengenakan masker pula seperti sang wanita. Hanya menampakkan kedua mata membulat terpaku pada Ji Eun.

Kajja.”

Pria itu tidak mengindahkan ucapan wanita yang meraih tangannya. Sebaliknya ia malah melepasnya kasar. Sedetik Ji Eun terperangah akan apa yang baru saja terjadi. Menatap tak nyaman sorot mata wanita yang terlihat mulai geram. Kemudian mengembalikan tatapannya pada pria itu.

Shin Ji Eun mengatupkan mulutnya rapat. Semakin lekat ia memandang, semakin banyak kemiripan antara pria itu dan Kikwang. Sepasang sepatu, postur tubuh, hingga model rambutnya pun sama. Sayangnya ia tidak mengetahui pakaian yang dikenakan Kikwang tadi pagi karena pria itu terlebih dahulu pergi.

“Lee… Kikwang?” Ucapan Ji Eun jelas penuh keraguan. Wanita tak dikenal itu lantas melontarkan tawa hambar seraya berkata, “Lee Kikwang? Apakah anda sedang bermimpi, Nona?”

Dengan cepat Ji Eun menyambar lengan pria itu dikala wanita yang sepertinya kekasihnya menggandeng agar segera beranjak.

“Apa yang kau lakukan, Nona?”

“Sebentar saja. Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”

“Jauhkan tanganmu, Nona! Sudah kubilang dia adalah kekasihku!”

Tangan Ji Eun terlebih dahulu bertindak. Masker yang ia gapai berhasil mengekspos wajah yang sedari tadi menggelitik rasa penasarannya.

Napas Ji Eun seolah tercekat hingga sukar sekali hanya sekadar untuk menghela. Bola matanya bergerak cepat menamati wajah suaminya. Pria itu benar Lee Kikwang. Menghadapi kenyataan itu membuat sekujur tubuhnya melemas. Degup jantungnya berdentum kuat. Kedua matanya begitu pedih. Begitupun hatinya seolah teriris. Bagaimana bisa Kikwang melakukan hal yang tak sepantasnya ia lakukan? Apa yang berada dalam benak pria bodoh itu?

“Pria ini benar-benar kekasihmu? Siapa namanya? Kau tahu Lee Kikwang, kan? Wajahmu mirip sekali dengannya. Ataukah kau memang Lee Kikwang? Ah tidak, kuyakin dia sedang sibuk melakukan syuting drama terbarunya sekarang.” Kata demi kata Ji Eun ucapkan seiring air matanya merembes keluar. Bibirnya pun bergetar hebat meski gurat wajahnya bertahan datar. Tak sanggup lagi menahan sesak yang kian membuncah dalam dadanya.

“Kenapa diam saja? Kau tidak terima dianggap berwajah sama dengan Lee Kikwang? Tentu saja, memangnya siapa yang sudi memiliki kemiripan dengan pria brengsek seperti dia? Aku tahu kau tidak.”

“Jaga ucapanmu, Nona! Kau kira dirimu sedang berbicara dengan siapa?!”

Kikwang menghadang wanita yang bergerak selangkah mendekati Ji Eun. Sementara Ji Eun mengulas senyuman miring. Melayangkan tatapan remeh pada wanita itu sembari berkata, “Kekasihmu. Bukankah kau sendiri yang mengaku seperti itu?”

Tangan Kikwang perlahan terangkat namun kembali jatuh. Pria itu hanya mengepalkan kedua tangannya sembari menatap nanar Shin Ji Eun. Ia tak mampu melakukan apa-apa. Ia tak boleh berlaku sembarangan di tempat umum seperti ini.

“Itu Lee Kikwang!”

Pekikan seorang gadis terdengar nyaring menggema. Ji Eun sontak membalikkan badan meninggalkan Kikwang dan wanita itu. Berjalan melawan arus orang-orang yang berbondong-bondong menghampiri keberadaan Kikwang.

“Pantas saja aku merasa tidak asing dengan pria itu.”

“Dia sedang bersama siapa? Bukankah itu Lee Da In?”

“Dasar wanita jalang!”

Omona, aku tidak menyangka suamiku juga berada di tempat ini!”

Shin Ji Eun tersenyum kecut menangkap samar-samar suara para gadis yang melaluinya. “Aku juga tidak menyangka. Suamiku, berkhianat di tempat ini.”

Langkah Ji Eun terhenti. Tak cukup lagi energi yang ia punya. Sesekali bahunya terbentur orang lain yang antusias akan keberadaan Kikwang. Ia tak peduli lagi. Ia tak ingin menoleh ke belakang. “Lee Da In? Wanita jalang? Tch! Tepat sekali.

Tubuh Ji Eun mulai gontai. Arus manusia tak lagi deras. Kini Woo Bin dan Ji Hoo terjangkau dalam jarak pandangnya. Cukup untuk mengembalikan senyumannya. Walau tersirat miris, begitu menyedihkan.

Woo Bin membeku di tempat. Namun tak lama hingga senyuman Ji Eun menyadarkannya. Ia membawa Ji Hoo mendatangi Ji Eun. Kemudian mengaitkan lengannya merapatkan tubuh yeoja itu disampingnya.

“Mereka bilang ada Lee Kikwang. Benarkah itu?”

Ji Eun tak menjawab. Lebih memilih menarik napas dalam.

“Mengapa di abad ini lebih banyak orang menggemari grup idola? Padahal jelas sekali lebih keren aku dibandingkan mereka.”

Woo Bin sedikit menunduk mendapati Ji Eun yang terus memandang lurus kedepan. Sadar tidak diperhatikan, ia beralih ke hadapan yeoja itu. Menyentuh dagu Ji Eun supaya menatapnya. “Lihat aku. Menurutmu siapa yang lebih mengagumkan? Aku atau mereka?”

Ji Eun menepis tangan Woo Bin kasar. “Jangan memperlakukanku seperti ini. Aku tidak mau menjadi boomerang bagi kariermu.” Ji Eun menyingkirkan Woo Bin dari hadapannya.

“Apa yang akan kau lakukan dengan sekeranjang belanjaan itu?” ujar Woo Bin sembari merenggut keranjang di tangan Ji Eun saat yeoja itu hendak melangkah melewatinya.

“Kau ingin meramaikan suasana dengan membunyikan alat pencegah pencurian di ambang pintu keluar? Jangan gila, Shin Ji Eun.”

“Temui aku di mobil saja.”

Woo Bin mengacak rambutnya asal. Ia tahu kondisi Ji Eun tengah kacau tapi ia tidak mengerti alasannya. “Ada apa dengan ibumu, Ji Hoo-ya?” Pandangan polos Ji Hoo seraya mengerjap-kerjapkan kedua matanya membuat Woo Bin membelai puncak kepala bocah itu gemas. Kemudian berpindah menuju kasir.

Annyeong haseyo,” sapanya ramah sontak memerahkan wajah petugas kasir tersipu malu bersamaan ia meletakkan sekeranjang belanjaannya.

“Kau tampan sekali.”

“Ah, tidak seperti itu.”

Pusat perhatian Woo Bin segera teralih pada kerumunan ramai tak jauh dari tempatnya berdiri. “Woah, grup idola benar-benar bukan lelucon.”

***

Jangan lupa minum teh hijau dariku. Aku yakin itu akan ampuh menenangkan beban pikiranmu ^^

 

Deretan pesan Kim Woo Bin terpampang pada layar ponsel Ji Eun. Wajahnya begitu datar tak mengekspresikan apapun. Ucapan terima kasih atas perhatian kecil Woo Bin hanya tersimpan dalam hati. Sekadar mengetikkan sesuatu membalas pesan itu saja ia terlalu enggan.

Ji Eun meletakkan ponselnya diatas nakas lalu memindahkan Ji Hoo yang tengah tertidur pulas dalam pelukannya ke box bayi dimana bocah itu seharusnya berada. Menyamankan posisi bocah itu sebelum beranjak meninggalkan kamar. Ia berniat melakukan apa yang Woo Bin sarankan. Meminum teh hijau bukanlah ide yang buruk.

Setelah memetik saklar lampu, Ji Eun berjalan menuju dapur. Namun sesuatu di ruang tengah membuatnya menghentikan langkah. Sebelah tangan juga kaki tampak bergelantung bebas diatas sofa depan televisi. Tanpa menerka pun Ji Eun tahu siapa pemilik anggota tubuh itu.

Sejenak Ji Eun memandangi pria itu. Lee Kikwang, entah sejak kapan ia berada disini. Bahkan Ji Eun tidak mendengar deru mobil, suara pintu terbuka, ataupun hal-hal yang menunjukkan adanya kehidupan lainnya.

Kedua mata Ji Eun terpejam erat. Segala perasaan dalam dadanya seolah bercampur aduk. Namun kebencian tetap menjadi yang terkuat semenjak siang tadi. Segera setelah Ji Eun membuka mata, ia melanjutkan langkahnya. Menyeduh teh hijau ke dalam sebuah teko keramik putih. Meletakkannya diatas nampan dengan dua gelas kecil sebagai pelengkap.

Sesampainya dimana Kikwang terbaring, Ji Eun menaruh nampan itu pada meja terdekat. Mendaratkan tubuhnya di sofa tunggal sambil menatap Kikwang lekat. Posisi tidur Kikwang semakin tak karuan. Hampir saja tubuhnya terjatuh ke bawah membuat Ji Eun sempat menahan napas.

Ji Eun membenarkan letak lengan Kikwang. Kakinya pula ia luruskan sepanjang sofa. Ji Eun melepas topi hitam yang masih melekat di puncak kepala Kikwang. Sepertinya pria itu benar-benar kelelahan. Bagaimana tidak? Mengingat kejadian di supermarket tadi tentulah membuatnya lelah.

Sorot mata Ji Eun berubah nanar. Sekelebat pikiran negatif kembali memenuhi ruang pikirannya. Rasa benci itu kembali tumbuh membuatnya segera menjauh kembali ke tempat semula. Ia mengalirkan teh hijau ke dalam salah satu gelas. Meniupnya pelan sebelum meneguk sedikit demi sedikit.

Jam berdentang tanpa peringatan mengusik ketenangan alam bawah sadar Kikwang. Pria itu menggeliat kecil sedangkan Ji Eun kontras membatu. Kikwang menyipitkan kedua matanya sebelum benar-benar terbuka. Lantas menemukan Ji Eun bergerak meletakkan gelas yang dibawanya. “Ji Eun-ah?”

“Minumlah.” Ji Eun berbalik hendak kembali memasuki kamar.

“Shin Ji Eun!”

Ji Eun menoleh. Membalas Kikwang yang menatapnya nanar dengan tatapan sinis. “Mwo?” tukasnya.

“Ada yang ingin kubicarakan.”

“Katakan saja.”

“Duduklah.”

“Kau tidak merasa aku sedang muak padamu?”

Kikwang bangun dengan cepat. Menghampiri Ji Eun dan menghempaskan yeoja itu diatas sofa panjang kemudian duduk disampingnya.

“Kumohon jangan bersikap seperti ini.”

“Bersikap seperti ini? Apakah menurutmu sebanding dengan apa yang kau lakukan?”

“Aku tidak bermaksud begitu.”

“Tapi keadaan yang membuatnya begitu. Benar bukan?”

Kikwang terdiam. Tubuhnya berjengit mendapat kilat mata Ji Eun semakin sengit. Ji Eun bangkit namun Kikwang segera menggenggam tangannya sontak ia menghela napas kasar. Melempar cekalan tangan Kikwang hingga terlepas. “Tidak perlu menahanku. Aku akan tetap disini jika kau mau.”

Keduanya kini membungkam. Hanya detik jam terdengar berkumandang. Tatapan Kikwang tak teralihkan sedikitpun pada Ji Eun yang terus memandang jam besar di sudut ruangan.

“Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu itu?” Ji Eun mendecih beserta senyumannya terulas miring.

“Kau tahu yang sebenarnya, Ji Eun-ah.”

“Aku tidak tahu. Aku tidak selalu bersamamu. Kau selalu pulang larut dan berangkat petang. Lebih buruknya tak jarang kau tidak kembali ke rumah. Aku tidak mampu senantiasa mengetahui kegiatanmu diluar sana. Aku hanya bermodalkan kepercayaan padamu, tidak bisa lebih dari itu. Mungkin aku masih dapat menutup diri dari berbagai gosip tentangmu yang beredar di dunia maya. Tapi kali ini berbeda. Aku secara langsung melihatnya. Kau merusak benteng pertahanan kepercayaanku. Bukan aku yang menginginkannya tetapi kau sendiri yang menyebabkannya.”

“Kumohon percayalah padaku sekali lagi. Aku—“

“Beri aku waktu. Membangun kepercayaan tidak semudah membalikkan telapak tangan.”

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Dengarkan penjelasanku dulu.”

“Hatiku tengah terkunci. Logikaku masih mendominasi. Seberapa banyak kata yang kau gunakan untuk berkilah tak akan mempan. Lebih baik jangan habiskan tenagamu untuk sesuatu yang tidak berarti.”

Kikwang mendesah frustasi. “Aku tidak mencoba berkilah. Aku hanya ingin mengungkapkan yang sebenarnya.” Yang mampu ia lakukan hanyalah merengkuh istrinya erat. Namun Ji Eun memberontak. Mendorong tubuh Kikwang sekuat tenaga. “Kubilang beri aku waktu. Jangan sentuh aku untuk saat ini. Kuminta dengan sangat padamu, jangan sentuh aku.”

Ji Eun mengacak rambutnya kesal. “Bolehkah aku pergi sekarang?”

Tak ada jawaban dari Kikwang. Pria itu hanya menatapnya sendu.

“Kuanggap itu sebagai jawaban iya.”

Ji Eun beranjak meninggalkan Kikwang yang masih tak bergeming seorang diri. Tak tahu harus berbuat apa jika terlanjur seperti ini. Shin Ji Eun akan berubah layaknya mereka tidak saling mengenal disetiap pertengkaran mereka. Dan Kikwang paling membenci itu.

***

Shin Ji Eun melekatkan seluruh penutup kotak bekal berisi berbagai makanan yang baru saja ia masak. Mencuci kedua tangannya di wastafel kemudian melepas apron yang ia kenakan dan menggantungnya di dinding dapur seperti biasa.

Ji Eun menyesali perbuatannya kemarin. Ia sadar sikapnya hanya akan membuat konflik antara dirinya juga Kikwang semakin rumit. Maka dari itu Ji Eun sengaja bangun lebih pagi walau tetap saja Kikwang terlebih dahulu melenyap pergi. Berniat membawakan makan siang untuk pria itu. Ya, sekarang tidaklah pagi lagi. Waktu terasa singkat ditengah kesibukkan Ji Eun. Kini jarum jam menunjuk pukul sembilan.

“Mmm… Mmm… Maaa…”

baby-mason

Ji Eun terkekeh kecil mendengar racauan Ji Hoo. Ia menghampiri bocah yang tengah antusias menonton televisi. “Kau memanggilku? Eomma, begitu Ji Hoo-ya? Benarkah kau memanggilku?”

Hubungan Lee Kikwang dan Lee Da In tampaknya tidak hanya mesra dalam cerita drama. Mereka menunjukkan kedekatan mereka di sebuah supermarket Gangnam kemarin. Beberapa netizen sempat mengabadikan foto mereka. Hal itu membuat penggemar mulai menelusuri lebih lanjut. Terdapat pula sejumlah barang couple yang mereka kenakan. Apakah berita ini benar terjadi atau hanyalah skandal? Kira-kira, bagaimana pendapat perwakilan agensi masing-masing mengenai hubungan ini?

Sontak Ji Eun menyambar remote televisi guna mematikannya. Tangannya mengepal benda itu erat menyalurkan seluruh kegeramannya. “Barang-barang couple? Tch! Kekanakan!”

Ji Eun memegangi kepalanya yang mendadak pening. Emosi semakin bertumpuk dalam pikirannya. “Bagaimana bisa dia melakukan hal ini padaku?” Amarahnya meninggi membuat yeoja itu menghela napas kasar.

Dengan gerak cepat ia merengkuh tubuh Ji Hoo. Mengambil tas jinjing yang berada dalam kamar kemudian mengalungkannya di bahu kanan. Tak lupa ia membawa kotak bekal yang sebelumnya ia persiapkan lalu berangkat meninggalkan apartemen.

Sebelah kaki Ji Eun bergemeretak tak sabar menunggu pintu lift yang tak kunjung terbuka. Ia ingin bertemu Kikwang, ia harus segera menemui Kikwang, otaknya hanya terpenuhi oleh pikiran-pikiran itu.

Akhirnya terdengar sebuah dentingan bersamaan pintu lift terbuka. Menampakkan Kim Woo Bin yang hendak melangkah keluar membuat Ji Eun berjengit. “Sedang apa kau disini?”

“Kau mau kemana? Tentu saja aku disini untuk mengunjungimu.”

Mian, tapi aku sedang sibuk.”

“Sibuk apa?”

“Yang pasti tidak ada hubungannya denganmu.”

“Jika aku memutuskan untuk membantu, itu akan menjadi berhubungan denganku bukan?”

Ji Eun memutar bola matanya kesal. Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berdebat.

“Tidak perlu bersusah merepoti dirimu.”

“Aku tidak merasa terepotkan. Aku yang ingin melakukannya.”

Daun pintu lift mulai bergerak tertutup kembali namun Woo Bin menahannya. “Kau tidak masuk?”

Ji Eun berdehem pelan lantas memasuki lift. Woo Bin mengambil alih Ji Hoo dikala Ji Eun berdiri disampingnya seraya berkata, “Kenapa setiap malam aku selalu merindukanmu, Ji Hoo-ya? Hm?” goda Woo Bin membuat Ji Eun tersenyum samar. Senyuman Woo Bin turut terulas dikala ia menatap Ji Eun singkat. “Mungkinkah karena kau sangat mirip dengan ibumu?” sambung Woo Bin membuatnya mendapat tatapan tajam Ji Eun. “Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Kau ingin membantuku, kan? Apakah keahlian menyetirmu mengagumkan?”

***

“Ya! Tidak bisakah kau melajukan mobil ini lebih cepat?”

“Kenapa kau meneriakiku di hadapan Ji Hoo? Jangan coba-coba memekik di depan anakku sekali lagi.”

“Anakmu?” Ji Eun mendecak sebal. Melirik gemas pria yang tengah mengemudi disampingnya. “Tetap keras kepala.”

Mwo?”

Ji Eun mengetuk kepala Woo Bin dua kali. Pria itu pun memandang Ji Eun tak terima. “Apa yang kau lakukan?!”

“Kepalamu benar-benar sekeras batu.”

“Sembarangan saja.”

Woo Bin menginjak pedal rem menghentikan mobilnya. “Kita sudah sampai. Memangnya apa tujuanmu berada disini?”

Tanpa menjawab, Ji Eun menyerahkan Ji Hoo pada Woo Bin. “Aku keluar sendiri saja. Kau bisa tunggu disini. Jagalah Ji Hoo baik-baik,” ujarnya lalu bergerak keluar mobil bersama tas kecil berisi kotak bekal di tangannya.

Yeoja itu menyecahkan langkahnya memasuki sebuah gedung megah. Didalamnya terdapat banyak orang berlalu lalang. Ia yakin ini adalah tempatnya. Dimana Kikwang melangsungkan syuting drama terbaru itu.

Tapi ia buta akan kawasan gedung ini. Hingga akhirnya Ji Eun memutuskan menghadang seorang wanita. “Annyeong haseyo.”

“Nde?”

“Apakah kau mengetahui dimana tempat dilangsungkannya syuting drama Twenty Years Old?

“Maaf aku sedang sibuk. Coba tanyakan pada orang lain saja.”

“Ah baiklah. Maaf mengganggu,” sesal Ji Eun sembari membungkuk sopan. Ia menyapu pandangannya ke segala arah. Berharap menemukan siapapun yang terlihat senggang.

“Apa yang ingin kau lakukan? Kau hendak membawaku kemana?”

Suara itu sontak menolehkan kepala Ji Eun. Mendapati Lee Kikwang tengah digeret paksa oleh seorang gadis. Sosok gadis itu berhasil membuat Ji Eun naik darah. “Lee Da In. Apakah kau benar-benar seorang jalang?” desisnya. Berusaha mengurangi kegundahannya dengan menggigit bibir bawah bagian dalam. Tak ingin menunggu lebih lama, Ji Eun menggerakkan kakinya cepat membuntuti suaminya dan wanita itu.

Seiring jauh melangkah suasana semakin sepi. Ji Eun membalikkan kepalanya ke belakang. Menyadari bahwa ia semakin menjauhi keramaian. “Sebenarnya tempat apa yang ingin mereka datangi?”

Langkah Ji Eun terhenti seketika melihat Da In merapatkan Kikwang pada permukaan dinding. Ia tetap pada tempatnya yang tertutupi sudut dinding lain. Sekuat tenaga Ji Eun menahan napasnya yang menderu penuh emosi agar keberadaannya tidak terdeteksi kedua orang itu. Dadanya kembang kempis penuh sesak serasa ingin meledak. Ingin sekali ia menampar wajah Lee Da In agar gadis itu merasakan apa yang tengah dirasakannya. Ingin sekali, tapi ia menahannya.

“Da In-ah, apa yang sedang kau lakukan?”

“Kau benar-benar tidak lagi mencintaiku? Kenapa kau bersikeras tidak mempercayaiku? Aku bersungguh-sungguh, aku masih mencintaimu.”

Mian.”

Ji Eun meremas tas dalam genggamannya. Tak sanggup lagi ia menatap mata Kikwang yang memandang Da In lekat. Ia tidak suka, ia sangat benci ketika pria itu menatap wanita lain. Terutama Lee Da In. Tapi Ji Eun bertekad teguh, ia pun ingin mengembalikan kepercayaannya pada Kikwang. Ia harus melihat semua ini. Memastikan sejauh apa Kikwang akan bertindak.

“Untuk apa mengucap maaf? Katakan kau juga mencintaiku! Kuakui dulu memang salahku karena meninggalkanmu demi pria lain. Tapi sekarang aku sadar bahwa kaulah yang kucintai sepenuh hatiku. Hanya kau selama ini, Kikwang-ah. Percayalah padaku sekali lagi.”

“Kau tahu? Membangun kepercayaan tidak semudah membalikkan telapak tangan.”

Bibir Ji Eun terkembang kaku. “Jika suatu saat kepercayaanmu telah kembali, apakah itu berarti kau bersedia menerimanya lagi? Bodoh!” lirihnya.

Sontak sebelah tangan Ji Eun menutup mulutnya rapat disaat Da In sedikit berjinjit mengecup bibir Kikwang. Air matanya melesak deras. Terutama karena reaksi Kikwang. Pria itu sama sekali tak bergeming padahal Da In mulai memejamkan mata melumatnya pelan. Pemandangan itu menusuk tepat dalam ulu hati Ji Eun. Tubuh yeoja itu bergetar hebat.

Kikwang menyentuh bahu Da In memberi jarak diantara mereka. Sorot mata gadis itu sendu menatapnya.

A… ppa?”

Kedua orang itu mengalihkan pandangan mereka kearah Ji Eun cepat. Shin Ji Eun pun begitu, hatinya mencelos mendengar Ji Hoo mengucap kata pertamanya. Entah sejak kapan Woo Bin membawanya kesana. Untuk pertama kalinya bocah itu mampu benar-benar berucap.

Tangisan Ji Eun semakin menjadi. Woo Bin yang tak kalah terkejut membelai puncak kepala Ji Eun lembut. “Dialah pria itu? Lee Kikwang suamimu?” tanya Woo Bin pelan.

Rahang Kikwang mengeras. Dentuman dalam dadanya membesar tertahan. Suara buah hatinya menohok perih dadanya. Ditambah lagi kehadiran Kim Woo Bin di sisi Shin Ji Eun. Menghela napas kasar ketika Da In memegang tangannya dikala ia bergerak melangkah. “Lepaskan aku!” bentaknya sembari membanting tautan tangan itu.

Kikwang berjalan terhuyung mendekati Ji Eun. Dengan segera yeoja itu mengusap kedua pipinya. Melayangkan tatapan garang tertuju pada sorot mata nanar Kikwang.

“Apa… yang… kau lakukan… disini?”

Ji Eun menyodorkan tas bekal di tangannya. “Hanya untuk memberimu ini. Kupikir kau sudah terlalu lama tidak memakan makanan buatanku. Dan kurasa kau mungkin saja merindukannya. Tapi, sepertinya kau baik-baik saja dengan itu.”

“Ji Eun-ah, ini tidak seperti yang kau bayangkan.”

“Ya, segala sesuatu yang berkaitan denganmu memang selalu tidak seperti yang kubayangkan.”

Ji Eun mengalihkan pandangannya. Mengarahkan tepat di tempat berdirinya seorang gadis tak jauh di belakang Kikwang. Ia mengulas senyuman miring seraya berkata, “Bagaimana rasanya? Berciuman dengan suamiku. Ah tidak, mencium pria yang kau bilang kekasihmu. Apa kau menikmatinya? Manis bukan?”

“Dasar wanita gila! Apa yang kau katakan baru saja? Lee Kikwang suamimu? Bagaimana bisa seseorang tidak waras sepertimu diloloskan masuk ke dalam gedung ini, hah?!” Raut wajah Da In berubah murka. Tangannya terangkat keatas seiring kakinya berjalan menghentak.

Kikwang membalikkan badannya. Mencengkeram lengan Da In kuat. “Jangan menyentuhnya! Atau aku akan membalasmu lebih dari apa yang kau lakukan padanya. Dia memang istriku! Sebaiknya kau cabut ucapanmu!”

Da In menatap Kikwang tak percaya. Tenaga dalam dirinya menguap hilang. “Istrimu? Kau serius? Jadi, kau sudah menikah? Kikwang-ah, leluconmu sama sekali tidak lucu.”

Kikwang melepas tangan Da In. Menghadap Ji Eun kembali namun hanya sebuah tas berisi kotak bekal yang ia dapati tergeletak. Yeoja itu telah berlalu pergi. Segeralah Kikwang berlari mengejar langkah istrinya.

“Sejak kapan? Sejak kapan kau mulai melupakanku? Dulu seringkali kau berkata bahwa aku adalah satu-satunya untukmu. Dulu kau bilang jika kau mempercayai cinta pertama sepenuhnya. Kemana perginya semua bualanmu itu?”

Kikwang meniup udara dari mulutnya kesal karena Da In kembali mengganggunya. Gadis itu memeluk Kikwang yang telah berputar memunggunginya.

“Kau tidak sadar apa yang perlu kau tekankan? Itu dulu. Tapi semenjak bertemu Shin Ji Eun, aku tersadar betapa tidak berharganya terjebak dalam masa lalu. Dan juga, apa kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa kita tak akan berhasil bersama cinta pertama? Sekarang aku sangat mempercayai itu.”

Kikwang menurunkan dekapan tangan Da In lalu menatapnya serius. “Kini aku telah bahagia bersamanya, bersama keluarga kecil kami. Dan kuharap kau segera menemukan milikmu sendiri tanpa mengusik kebahagiaan orang lain.”

“Astaga ternyata kalian disini. Apa yang sedang kalian lakukan? Cepatlah, proses syuting adegan berikutnya akan dimulai lima menit lagi,” ujar seorang wanita muda yang tiba-tiba datang.

***

“Kau tidak apa-apa?”

Kim Woo Bin menyentuh bahu Ji Eun dan mengusapnya pelan. Berusaha memberi ketenangan untuknya. Hanya itu yang dapat ia lakukan karena disaat ia berusaha memberikan yang lebih, seperti mengarahkan yeoja itu kedalam pelukannya, Ji Eun selalu bergerak menjauh.

“Ini sudah malam. Lebih baik kau pulang.” Ji Eun yang sedari awal enggan berbicara, kini mulai membuka kata.

“Tapi kau sendirian.”

“Kau melupakan Ji Hoo? Lagipula aku butuh waktu untuk sendiri.”

“Tapi dia sudah tidur dan aku tidak bisa meninggalkanmu seorang diri. Karena nanti pasti kau akan menangis lagi. Aku tidak suka melihatmu menangisi orang lain.”

“Orang lain? Ya! Kikwang adalah suamiku. Tenang saja, aku tidak akan melakukannya. Aku tidak serapuh itu.”

“Aku tahu kau takkan bisa menepati janjimu.”

Ji Eun berdecak. Menyingkirkan tangan Woo Bin di bahunya. “Pulanglah. Bukan hal yang baik seorang pria berada dalam rumah bersama seorang wanita yang sudah menikah ketika suaminya tengah bekerja.”

“Setidaknya masih lebih baik dibandingkan seorang suami melakukan hal yang tidak semestinya diluar sana ketika istrinya hanya bisa menanti tanpa tahu apa-apa di rumah.”

Ji Eun menelan ludahnya berat. Ucapan Woo Bin membuatnya terpukul. “Kikwang tidak seperti itu.”

“Kira-kira bagaimana akhirnya bila kau tidak berada disana tadi? Apa yang akan terjadi? Seandainya kau tidak memergoki mereka kurasa—“

“Berhentilah berbicara agar kau dapat terus berada disini. Segeralah pulang. Aku lelah.”

Woo Bin memutar bola matanya malas. Melirik jam besar yang berdiri di sudut ruang tengah mengembangkan senyuman di bibirnya. “Apa yang harus kulakukan? Sekarang masih pukul delapan. Kupikir belum waktunya aku pulang.”

Ji Eun sontak melayangkan tatapan tajamnya menyebabkan senyuman Woo Bin luntur seketika. “Baiklah, baiklah aku pulang,” ujarnya sembari bangkit

Ji Eun mengernyit saat Woo Bin mengait serta tangannya. “Apa yang kau lakukan?”

“Setidaknya antar aku ke depan.”

Shin Ji Eun bersendekap mengeratkan mantel jaketnya. Ia butuh benda itu meski hanya untuk keluar apartemen. Suhu udara luar biasa dingin. Tubuh Ji Eun sedikit merunduk karena mobil Woo Bin telah sampai dihadapannya dengan kaca terbuka.

“Cepatlah masuk. Bisa-bisa kau membeku disini.”

“Aneh. Padahal kau yang memintaku melakukan ini.”

Woo Bin terkekeh kecil kemudian menggerakkan sebelah tangannya menyuruh Ji Eun agar segera masuk.

“Hati-hati dalam perjalananmu.”

“Tentu saja. Supaya aku masih dapat bertemu denganmu besok.”

“Dasar kau,” desis Ji Eun.

“Baiklah, aku pergi. Annyeong,” pamit Woo Bin bersamaan ia menginjak pedal gasnya. Belum lama Woo Bin melajukan mobil, ia kembali menghentikannya begitu mendapati mobil hitam berhenti di tempat Ji Eun yang tengah melambaikan tangan padanya. Melalui kaca spion, ia mampu mengetahui bahwa Shin Ji Eun ditarik masuk oleh seorang pria yang muncul dari dalam mobil hitam itu. Ji Eun terlihat memberontak namun itu tidak dapat membuatnya terlepas dari cengkeraman pria itu.

“Lee Kikwang brengsek!”

***

“Lepaskan aku! Apa yang akan kau lakukan di tempat umum seperti ini? Kau sudah gila?!”

“Mungkin. Tapi aku akan lebih gila jika tetap membiarkanmu dalam pikiranmu sendiri. Kau terlalu keras kepala dan ini adalah satu-satunya cara untuk meyakinkanmu.”

Ji Eun terus mengangkat sebelah lengan guna menutupi wajahnya sedangkan lainnya masih melekat dalam genggaman erat Kikwang. Ji Eun berulang kali menghela napas resah akibat banyaknya pasang mata yang menjadikan mereka sebagai pusat perhatian. Tentu saja, Kikwang tidak berusaha sedikitpun menyembunyikan identitasnya. Ia tidak mengenakan perlengkapan penyamaran apapun di tengah keramaian daerah Gangnam.

“Hentikan! Sebaiknya kita pulang! Ji Hoo sendirian di rumah.”

“Lalu kenapa kau berada di tepi jalan tadi? Woo Bin baru saja pulang? Ji Hoo akan baik-baik saja.”

“Ayo kita pulang!”

Kikwang tak menghiraukan ucapan Ji Eun. Ia lebih memilih menghampiri pedagang kaki lima yang menjual makanan rebus. Kikwang memesan dua tusuk odeng dan merekatkannya pada tangan Ji Eun yang masih sibuk menutupi wajahnya. “Pegang ini dan makanlah. Kau tidak perlu menutupi wajahmu seperti itu.”

“Kau mabuk? Aku tidak akan melakukan itu.” Walau sambil membawa makanan itu, Ji Eun tetap menundukkan kepalanya dalam.

Setelah menyerahkan selembar uang kertas, Kikwang membawa Ji Eun kembali berjalan.

Oppa!”

“Kau tampan sekali.”

“Kikwang oppa!”

“Apa yang kau lakukan? Siapa dia?”

Semakin banyaknya orang, semakin ramai pula jeritan para gadis yang menyadari keberadaan mereka. Tanggapan Kikwang hanya tersenyum seraya terus berjalan santai menahan Ji Eun yang berusaha sekuat tenaga ingin berlari melarikan diri.

“Kalian ingin tahu siapa dia?”

“Nde!” jawab gadis-gadis itu serentak.

“Apakah kalian kecewa jika aku telah memiliki kekasih?” Sontak Ji Eun diam-diam menendang kakinya.

Woo Bin menampakkan diri dari celah kerumunan gadis-gadis. Pakaiannya yang tertutup rapat disertai masker dan kacamata membuatnya tak dikenali.

Pertanyaan Kikwang membuat sekumpulan orang yang mengerumuni mereka melebarkan mata kemudian saling berbisik.

“Bukankah kau tengah menjalin hubungan dengan Lee Da In? Meski berat tapi kami akan berusaha bahagia selama oppa bahagia,” ucap salah satu dari mereka.

Kikwang mengulas senyuman manis begitu tulus. “Aku sangat mencintai kalian. Kau seorang b2uty? Kumohon sampaikan itu pada keluargamu yang lain,” ucap Kikwang mengakibatkan mereka bersorak haru.

“Tapi siapa gadis itu? Dialah kekasihmu?”

Oppa, kau menyelingkuhi Lee Da In?”

“Bagaimana bisa kau lebih memilih dia dibandingkan Lee Da In, oppa?”

Ji Eun hanya mampu menghela napas mendengar cacian yang ditujukan padanya. Tiba-tiba Kikwang menariknya dan melahap odeng di tangan Ji Eun membuat yeoja itu tanpa sadar mendongak bersama kedua mata membulat.

“Woah, cantik sekali.”

“Iya, dia benar-benar cantik.”

“Tapi tetap saja hatiku sakit.”

“Tidak heran Kikwang oppa memilihnya.”

“Mereka tampak seperti pasangan yang serasi.”

Kikwang tersenyum puas disela ia mengunyah. Setelah menelah habis ia berkata, “Cantik bukan?”

“Lalu bagaimana dengan Lee Da In?”

“Kalian terlalu cepat mempercayai rumor,” jawab Kikwang.

Wajah Ji Eun kembali tertunduk kaku. Ia benar-benar gugup.

“Sekarang kuharap tidak akan ada lagi kesalah pahaman yang terjadi.”

Sosok Woo Bin bergerak menghilang. Setelah jauh dari pusat keramaian, ia melepas kacamatanya kasar sembari melangkah cepat.

***

“Lega sekali. Sekarang tidak ada alasan buatmu bersikap dingin padaku,” ucap Kikwang seraya menutup pintu mobil kemudian segera menjalankan mobilnya pelan menerobos gadis-gadis yang terus mengikuti mereka. Disampingnya, Ji Eun masih tertegun memandang kosong lurus ke depan. “Kau bodoh.”

Mwo?”

“Kau tidak memikirkan kariermu setelah ini? Babo!”

“Kenapa kau menyalahkanku?”

“Kubilang aku hanya butuh waktu. Seharusnya kau tidak perlu melakukan hal segila ini. Bagaimana jika mereka meninggalkanmu? Membiarkanmu karena merasa dikhianati?”

“Aku kenal mereka dengan baik. Aku yakin b2uty tidak seperti itu. Tidak perlu khawatir, aku telah membicarakannya dengan member yang lain dan mereka tidak keberatan. Lagipula Junhyung telah memiliki pengalaman dalam hal ini sebelumnya.”

Ji Eun menghembus napas berat. Baiklah, semua telah terlanjur terjadi dan kabar baiknya ia tidak perlu menahan perih karena skandal Kikwang lagi. Tapi masih ada sesuatu mengganjal pikirannya. “Jelaskan mengenai barang-barang couple itu.”

Kikwang mengernyit. “Ah, semua itu pihak drama yang merencanakan. Mereka bilang agar chemistry kami semakin kuat. Kau tidak suka? Baiklah aku tidak lagi memakainya.”

“Bagaimana? Kepercayaanmu telah kembali, kan?” tanya Kikwang hati-hati.

“Kau terlalu berlebihan.”

“Aku hanya terlalu mencintaimu.”

Ji Eun terdiam. Menatap Kikwang penuh arti. “Terimakasih.”

Kikwang tersenyum manis memandang Ji Eun sekilas. “Untuk cintaku yang begitu besar?”

“Untuk menjaga kepercayaanku padamu,” sambung Ji Eun lalu bergerak mendekati Kikwang hendak mengecup pipi pria itu. Namun Kikwang menoleh membuat bibir mereka bertemu. Ji Eun menarik tubuhnya cepat. “Fokus saja mengemudi,” hardik Ji Eun semakin melebarkan senyuman Kikwang.

***

 

Annyeong haseyo. Eonni, bisakah kau memberikan bunga ini untuk Kikwang oppa?”

Semenjak pengumuman hubungan mereka, banyak penggemar Kikwang mengunjungi toko tembikar Ji Eun. Tak jarang Ji Eun menerima hadiah yang dititipkan oleh para penggemar Kikwang. Dimulai dari bunga, makanan, aksesoris, topi, hingga sepatu bermerk. Sejak saat itu juga ia menyadari betapa banyak orang yang mencintai suaminya.

“Baiklah. Siapa namamu?”

“Ha Yoon Hee. Eonni, kau benar-benar akan menyampaikan padanya, kan? Kau tidak akan membuangnya tanpa sepengetahuan kami, kan?”

“Haruskah aku mengatakannya? Sejujurnya aku ingin membuang semua ini. Aku sangat sakit hati melihat kalian seperti ini. Sampai kapan kalian terus berkunjung dan memintaku menyalurkan hadiah kalian untuk Kikwang tanpa membeli tembikarku?” ujar Ji Eun dengan raut merajuk.

Aigoo, baiklah aku akan membeli tembikarmu. Tapi kau harus berjanji untuk memberikan pada Kikwang oppa.”

“Baiklah, baiklah. Aku berjanji.”

Kring Kring

 

“Oppaaaa!!!”

Teriakan gadis-gadis itu nyaring menggema memenuhi ruangan hingga Ji Eun menutup kedua telinganya begitu Kikwang muncul dari balik pintu kaca. Ji Eun tersenyum tipis memandang Kikwang yang mengulas senyuman manis. “Selamat datang.”

—————————

THE END

Advertisements

52 thoughts on “First Love

  1. akhirnyaaaaaa
    setelah semua kesalahpahaman ini berakhir, mereka bisa kembali sama”

    sudah menjadi resiko jika berhubungan dengan seorang idola
    kita sebagai fans yang benar” menyanyi mereka, harus turut bahagia jika mereka bahagia juga. #efek wedding sungmin

    keren ini ff
    thanks author bella
    kita tunggu karya” selanjutnya ^^

  2. Keren…. puas bacanya…. perasaanku di aduk2…. susah ternyata punya hubungan dengan bintang makan ati…. ya sudah lah… terus semangat buat cerita yang lain lagi….

  3. aaiihh ternyata berat ya berhubungan sama superstar
    apalagi saat diserang antis. untungnya jieun tidak di bully
    bagaimana dengan nasib wonbin selanjutnya? mungkinkah ada side story tentang wonbin? sepertinya tidak soalnya wp ini khusus hehehe

  4. No way..sweet bgt!!!
    Apa lg..
    Skrng aq mo baca reincarnation..
    Drama apaan yah..aq blm nonton..nyr deh coba nyari mumpung libur neh..
    Besok dah mulai sibuk lg..
    Btw aq sll nunggu ff terbaru dr sam n kyu ghhahha..
    Semangat thor..!!!

  5. ngehahahaha lucu bgt sihhhhhhhh ih kikwang cinta bgt sampe kaya gitu awwww seneng liatnya :333 ditunggu cerita lainnyaaaaa

  6. first time baca ff yg cast nya kikwang … keren banget ceritanya .. biar pun oneshoot tapi lengkap ada romance konflik lucunya juga ada .. panjang pula bikin puas hehehe :^) fighting (9^-^)9

  7. aaaa aku pengen tau dari sisi woo bin, dia suka walau sudah menikah. wooaah aku pengen woo bin dapet perhatian lebih… keren banget aku suka.

  8. yey keren manisnya kisahnya pengen punya kisah yg kyk gini. ada sequelnya ngak mungkin pake konflik yg lebih nantang gitu. tapi fighting buat author.

  9. Kali ini aku bingung mau komen kayak gimana, soalnya aku kurang suka konflik kayak gini. Terlalu menyakitkan kalo konflik karena ketidak percayaan, tapi aku suka endingnya manis banget apalagi liat interaksi b2uty sama ji eun kayaknya ga ada kayak gitu didunia nyata hehehehe…

  10. Ciee ciee yang hubungannya go public 😊😊 senengg tuhh 😃 coba kalo kikwang gak berinisiatif bawa ji eun ke tempat keramaian, bakalan lama tuh ji eun ngambeknya 😜

    Baru sempet baca, padahal notif emailnya udah lama, sorry yaa ^^ lagi sibuk banget soalnya 😁 oneshoot ini lengkap paketnya 😊 romance nya kena banget, dan panjang pula 😄 aku suka baca oneshoot yang panjang apalgi kalo oneshoot itu keren ☺

  11. tapi koq baru bilang kekasih ? emang ji hoo nya gak di anggap ? nikah diam diam yaaa ?

    ahhh seru, lucu , menegangkan, terhura de el el deeh

  12. ceritanya bagus banget cukup menegangkan saat mereka bedebat,dan kupikit si woo bin bakal jd orang ketiga eh skalinya cm jd cameo aja ya.
    tapi aku suka endingnya so sweet banget.

  13. Woaah..ini cerita tentang KikEun couple..
    Aku suka banget ama critanya,, mengharukan krn kikwang beranj mengambil tindakan nekat kayak gitu dgn ngakuin kalo kikwang sdh punya pacar kk..so sweet..
    Hwaiting nee..keep writing..:’)

  14. Suka ceritanya!
    Pengen deh punya cowo idol terus dikenalin ke fansnya kaya yang kikwang lakuin disini..
    Aigoo, itu dain knp ngeselin bgt sih? Knp juga dulu kikwang bisa suka ama dia?
    Pasti woobin cinta pertamanya jieun ya?? Bener gak sih? Atau bukan??
    Author, keep writing! Hwaiting!

  15. wowow daebak ff nya 🙂
    perjalanan cinta yg bagus, tadi sempet degdeg an takut kikwang nya balik ke mantannya.
    tapi ff nya nice kok 🙂

    salam kenalnya devi imnida 🙂

  16. KYA… ni cerita.a mengharukan,, aq jd berimanjinasi coba aja punya pacar yang kaya kikwang.. pasti seneng beud,, *haha mulai beay,* tpi ciyus deh ceritanya sweat banget,,, aku suka,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s