Nothing Better [1/2]

Nothing Better [1/2]

Author: Tsalza Shabrina

***

Rin Hyo memasukkan beberapa bahan makanan dengan asal kedalam trolley. Ia merogoh sakunya, mengambil secarik kertas kecil dan membacanya.

“Kurasa semuanya sudah masuk kedalam sini.” Gumamnya seraya tersenyum kecil. Cepat – cepat ia mendorong trolley-nya menuju kasir, ia ingin segera keluar dari supermarket dan mampir ke penjual fish cake didepan super market ini.

“Kau terlalu bermimpi jika mengharapkannya. Dia tidak suka dengan wanita biasa.”

“Bagaimana bisa kau tahu itu? Tidak mungkin Kyuhyun oppa diskriminasi seperti itu!”

Mendengar nama suaminya disebut – sebut, Rin Hyo menoleh kedepan. Ada dua orang wanita yang sepertinya lebih muda dari dia satu atau dua tahun dan juga, sepertinya fans suaminya.

“Ck, kau lihat saja di variety – variety show-nya ia sering membeda – bedakan antara gadis biasa dan juga selebriti.” Selanjutnya, kedua wanita itu diam.

Gadis biasa? Apa maksudnya? Cho Kyuhyun tidak suka dengan gadis biasa? Lalu aku?! Ck, mereka ini ada – ada saja.

 

Sam Rin Hyo membayar belanjaannya seraya tersenyum kecil mengingat percakapan dua orang wanita tadi. Setelah itu, ia keluar dan tak lupa membeli fish cake dulu sebelum memasuki mobil Cho Kyuhyun.

“Bisakah kau berhenti mengkonsumsi makanan itu, huh?!” Rin Hyo menaruh dua kantung plastic besar itu dijok belakang lalu menatap Cho Kyuhyun tak suka.

Wae? Ini enak.” Kyuhyun memutar bola matanya malas.

“Mulai sekarang kau harus mengurangi memakan makanan yang dijual ditempat terbuka seperti itu! tidak sehat!” ujar Kyuhyun seraya menjalankan mobilnya.

“Dasar pria manja! Bagaimana bisa aku sakit hanya karena makanan yang penuh protein seperti ini, huh?! Kapan – kapan kau yang harus mencoba makanan – makanan pinggir jalan seperti ini!”

“Ya, setelah kau berjanji tak memakan makanan pinggir jalan lagi!”

“Ck, ini enak, Kyu!! Kau harus mencobanya!! Aaaa-“ Kyuhyun menutup bibirnya rapat – rapat sedangkan Rin Hyo terus menerus berusaha memasukkan fish cake itu kedalam mulut prianya seraya tersenyum jahil. “Buka mulutmu!!! Makanan ini sudah menempel dibibirmu! Jadi kau harus memakannya!! Cepat buka mulutmu!!” perintah Rin Hyo berkali – kali yang semakin gencar mengerjai Kyuhyun.

Cho Kyuhyun menarik tangan Rin Hyo dengan sebelah tangannya, lalu menyuapkan fish cake itu kedalam mulut Rin Hyo yang hanya bisa menelannya dengan terpaksa.

“YA!!! Kau ini dasar… makanannya tadi sudah menempel dibibirmu!!!” teriak Sam Rin Hyo tak terima. Cho Kyuhyun hanya menampilkan senyuman miringnya seraya melirik Sam Rin Hyo sebentar.

“Mengapa kau mempermasalahkan makanan yang sudah menempel dibibirku, hm? Pada kenyataannya bibir kita sudah sering saling menempel kan? Oh, bahkan lebih dari itu!” Rin Hyo bergidik ngeri lalu membuang wajahnya kearah jendela. “Wae?! Apa aku salah, istriku?”

“Dasar pria mesum!!” tukasnya lalu kembali memasukkan sepotong fish cake kedalam mulutnya. Sedangkan Cho Kyuhyun malah tertawa penuh kemenangan.

***

Sam Rin Hyo mendengarkan alunan lagu dari headseat-nya seraya memejamkan kedua mata. Ia menyandarkan tubuh di dinding ranjang, meluruskan kedua kakinya lalu tubuhnya mulai bergerak kekanan dan kekiri, mengikuti alunan lagu. Kebiasaannya saat ia mendengarkan lagu yang menurutnya sangat indah. Ditambah lagi, suara itu adalah suara suaminya. Disaat seperti ini, jiwa fangirl-nya kembali muncul.

Cho Kyuhyun yang baru saja keluar dari kamar mandi, tersenyum tipis saat menatap istrinya yang tengah memejamkan kedua mata dengan bibir yang sesekali tersenyum kecil. Menggemaskan. Sam Rin Hyo sama sekali tak menyadari jika Kyuhyun sudah keluar dari kamar mandi, tubuh gadis itu hanya bergerak karena alunan lagu, dan terkadang sesekali tangannya tergerak untuk mengulang – ulang lagu yang keluar dari ponsel Kyuhyun.

Kyuhyun naik keatas ranjang saat ia sudah mengganti pakaiannya dengan piyama. Pria itu duduk disamping Sam Rin Hyo dengan posisi yang sama, Melepas salah satu sisi headseat Rin Hyo lalu memasangnya ditelinga kanannya. Rin Hyo melirik Kyuhyun sebentar kemudian kembali menatap kedepan dengan senyuman yang semakin lebar.

“Kau suka lagunya?” tanya Kyuhyun tanpa melepas pandangannya pada Rin Hyo yang tengah mengangguk sekadar.

At Gwanghwamun, Eternal Sunshine, dan juga At Close. Aku paling suka tiga lagu itu!”

Wae?

“Suaramu sangat cocok dengan lagu At Gwanghwamun, suaramu terdengar menyedihkan di lagu At Close, dan untuk Eternal Sunshine aku hanya menyukainya, aku tak bisa mendengarkan lagu itu hanya sekali. Lagunya seperti ekstasi untukku. Jadi aku suka!” Rin Hyo menatap Kyuhyun dengan senyuman lebarnya sedangkan Cho Kyuhyun terlihat tidak puas dengan ucapan Rin Hyo.

“Bukankah liriknya sangat bagus?”

“Em, entahlah. Aku lebih suka lirik yang dibuat Junhyung oppa. Lagipula, kau bukan penulisnya, kan? Kupikir lain kali kau harus mencoba menulis lagu dan jangan menyanyikan lagu yang tidak cocok dengan suaramu!”

“Tch, kau berucap seperti produser saja!” Rin Hyo semakin melebarkan senyumannya.

Eo?! Jinjja?! Woah, kurasa aku ada bakat untuk itu!” Cho Kyuhyun tersenyum kecut lalu mencium bibir Rin Hyo sebentar. Rin Hyo mendecih tak suka, “Mwoya?!” desisnya tak terima. Kyuhyun hanya tersenyum sebagai jawabannya.

“Besok albumnya rilis. Jadi, mungkin aku akan tinggal di dorm selama beberapa minggu.”

Ara, terkadang ada untungnya menjadi istrimu. Aku bisa mendengar semua lagunya sebelum album dirilis dan poin terpenting adalah aku tidak perlu membeli albumu.”

“Cih, memangnya kapan kau pernah membeli albumku, huh?! Tingkat kepelitanmu kan melebihi rata – rata!”

“Aish, aku pernah membeli album Mr. Simple, dan… ah! Bonamana!” Kyuhyun tersenyum miring.

“Kau mendapat album Mr.simple dari acara gathering lalu bonamana! Ya, memang kau membelinya. Berarti kau hanya membeli satu albumku!”

YA! apa kau pikir mencari uang itu mudah? Aku tidak pernah meminta uang pada orang tuaku hanya untuk membeli album! Mereka sudah membiayai pendidikan, tempat tinggal, dan juga makananku. Apa menurutmu, aku akan meminta hal lain pada mereka?! Aku bukan gadis yang seperti itu! aku terlalu malu untuk meminta pada mereka.” Cho Kyhuyun mengacak rambut Rin Hyo lalu tersenyum manis pada gadis itu. Sam Rin Hyo memincingkan kedua matanya pada Kyuhyun, mengusap kasar wajah pria itu lalu berbaring diatas ranjang. “Singkirkan wajah menjijikanmu itu! lebih baik kita tidur, bukankah kau harus berangkat pagi, besok?” gumam Rin Hyo dengan kedua mata yang sudah terpejam.

Cho Kyuhyun tersenyum lebar, berbaring disamping Rin Hyo. Tangan kanannya menyelinap dibawah kepala Rin Hyo sedangkan tangan kirinya menarik tubuh gadis itu agar merapat padanya. Kedua kaki pria itu membelit kedua kaki Rin Hyo hingga gadis itu menggeliat karena sesak.

“Kau ingin aku mati, huh?!” ujar Rin Hyo seraya menatap kedua mata Kyuhyun dengan tajam. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tipis lalu memejamkan kedua mata.

“Kau masih bisa bernapas kan? Lagipula jika kau kehabisan napas aku bisa memberimu napas buatan. Jadi kau tenang saja!”

“Aku tidak bisa bergerak, Cho Kyuhyun!” ujar gadis itu tak terima. Cho Kyuhyun membuka kedua matanya, mengangkat sedikit tubuh Rin Hyo agar wajah mereka sejajar lalu mengecup bibir gadis itu cukup lama.

“Setelah ini mungkin kita benar – benar tak bisa bertemu selama beberapa minggu, jadi diamlah dan jangan bergerak! Aku lelah.” Ujar Kyuhyun dengan suara serak dan kedua mata memohon. Jika sudah begini, Sam Rin Hyo tak dapat melakukan apa – apa selain menjulurkan tangan kanannya lalu membelai kening dan rambut Kyuhyun dengan lembut.

Arasseo, tidurlah!” Ujar Rin Hyo dengan suara lirih yang terdengar mendayu ditelinga Kyuhyun, hingga membuat pria itu semakin mengantuk. Cho Kyuhyun semakin menarik tubuh Rin Hyo mendekat lalu memejamkan kedua mata.

***

Annyeong!”

Sapa Rin Hyo setelah mengangkat sebelah tangannya diudara. Gadis itu tersenyum manis kearah Ji Eun yang tengah menatapnya datar. Shin Ji Eun menghela napasnya kasar lalu membuka pintu apartemennya. “Cho Kyuhyun pergi untuk waktu yang lama?” tanya Ji Eun yang tak digubris oleh Sam Rin Hyo. Gadis tak tahu malu itu malah memasuki apartemen Rin Hyo lalu tersenyum lebar saat  mendapati seorang bocah lucu yang tengah duduk diatas kursi sofa seraya membawa mainannya.

Woah, Ji Hoo-ah! Kau semakin tampan, aigoo… kau juga semakin gemuk, eo?” celotehan Rin Hyo keluar saat gadis itu sudah memangku bocah itu. Lee Ji Hoo adalah anak Shin Ji Eun dan Lee Kikwang. Mereka sudah menikah lima tahun yang lalu dan dianugrahi seorang anak yang sekarang masih berumur satu tahun setengah. Sedangkan, umur pernikahan Rin Hyo dan Kyuhyun masih 2 tahun. Jadi, terkadang Rin Hyo datang kerumah Ji Eun untuk berkonsultasi. Ji Eun dan Rin Hyo adalah teman dekat sejak SMA. Sedangkan Kikwang adalah sunbae mereka dulu.

Shin Ji Eun duduk disamping Rin Hyo seraya menatap gadis itu dengan kedua mata yang penuh kecurigaan. “Kau merindukan Cho Kyuhyun, eo?” tanya Ji Eun yang membuat gerakan Rin Hyo yang tengah memainkan tangan kecil Ji Hoo terhenti. Gadis itu menoleh kearah sahabatnya dengan wajah memelas.

“Sudah 1 minggu ia tidak menghubungiku.”

“Dia pasti sangat sibuk, kau tahu sendiri kan jika ini album debut solonya?”

Ara, maka dari itu aku kesini.” Ujar Rin Hyo seraya menyerahkan Ji Hoo ketangan ibunya. Namun baru saja Rin Hyo mengangkatnya, ia sudah merengek. Seketika senyuman lebar Rin Hyo merekah ia menciumi pipi tembam Ji Hoo lalu menggendongnya. “Kau rindu denganku, eo?” gumamnya.

“Tch, Ji Hoo-ya! eommamu disini!”

“Aish, sudahlah! Dia sedang rindu denganku!” sergah Rin Hyo saat tangan Ji Eun sudah terulur ingin menggendong Ji Hoo. “Ah iya! Aku tidak melihat Kikwang oppa.”

“Dia sedang tour ke Osaka.” Ujar Ji Eun datar.

“Ah, jadi kita sama – sama merindukan suami kita, hm?!”

“Begitulah. Kau ingin minum apa? Akan kubuatkan sesuatu.” Sam Rin Hyo menggeleng seraya tersenyum kecil pada Ji Eun.

“Aku hanya mampir sebentar, aku harus pergi! Ada sesi tanda tangan ditoko buku dekat apartemenmu. Setelah itu, aku akan kesini lagi.”

“Ah, aku hampir lupa jika sekarang novelmu juga rilis.” Sam Rin Hyo hanya tersenyum seraya menaikkan kedua alisnya dua kali. Sedangkan Ji Eun segera melayangkan pukulannya kelengan Rin Hyo.

“Aish, Appo! Ji Hoo­-ya! tidakkah eommamu itu kasar sekali?” ujar Rin Hyo seraya menundukkan kepalanya untuk menatap wajah Ji Hoo yang hanya mengedip – kedip polos. “Nuna harus pergi, Ji Hoo digendong eomma saja, ya?” ujar Rin Hyo lagi seraya memindahkan Ji Hoo ketangan Ji Eun.

Nuna kepalamu!” umpat Ji Eun. Sam Rin Hyo hanya bisa menatap tajam Ji Eun lalu segera menyambar tasnya. “Aku akan membalasmu nanti! Aku pergi!” tukas Rin Hyo kemudian segera berlari kecil, keluar dari apartemen Ji Eun.

***

Sam Rin Hyo duduk diruang tunggu dengan ponsel yang sudah menempel ditelinganya. Wajah gadis itu terlihat dingin, tak ada ekspresi apapun yang terlihat dari wajahnya. Yang ia lakukan sejak tadi hanyalah mencoba menelepon Cho Kyuhyun. Hari ini hari peluncuran novel ketiganya, tidakkah pria itu ingin mengatakan sesuatu untuknya?

“Rin Hyo-ssi! Sudah waktunya!” Suara seorang staff  yang baru saja memasuki ruangannya itu membuat tangannya melemas. Ia menghembuskan napas panjangnya lalu memasukkan ponselnya kedalam tas. Ia melempar senyuman pada staff  itu lalu berjalan mengikutinya.

Sam Rin Hyo duduk dikursi yang sudah disiapkan untuknya dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya. Meskipun ia bukanlah penulis yang sangat terkenal, namun ia juga mempunyai penggemar yang tidak sedikit.

Rin Hyo menjelaskan garis besar novelnya, darimana ia mendapat inspirasi, dan juga apa tujuannya menulis novel itu dengan lancar. Hingga mereka sampai pada sesi terakhir, yaitu sesi tanda tangan. Antriannya memang tidak begitu panjang, jadi tak butuh waktu hingga 1 jam ia sampai pada antrian terakhir. Disaat seperti ini, ia selalu memikirkan Cho Kyuhyun.

Aku hanya duduk selama satu jam disini dengan bibir yang harus selalu mengulas senyuman dan juga tangan yang tak berhennti bergerak tapi sudah lelah. Bagaimana dengan Cho Kyuhyun yang melakukan itu semua selama lebih dari 3 jam dan tidak didalam ruangan? Pasti ia sangat lelah.

           

Hal – hal seperti itulah yang memasuki pikirannya, jadi setiap ia mulai lelah ia selalu memikirkan hal itu. Rin Hyo kembali mengulas senyumannya, kepalanya terangkat saat seseorang menaruh novelnya diatas meja. Bibir gadis itu terbuka sedikit saat menatap seorang pria yang sangat familiar dengan topi dan jaket hitamnya tengah tersenyum manis padanya. “Sunbae?” gumam Rin Hyo tanpa sadar. Pria itu semakin melebarkan senyumannya.

“Aku penggemarmu. Tulis dengan nama Kang Ha Neul, disini!” Rin Hyo spontan menatap halaman pertama novelnya yang ditunjuk oleh Ha neul setelah kesadarannya sudah kembali.

Tangan gadis itu bergerak diatas buku itu dengan cepat lalu menyerahkannya pada Kang Ha Neul. “Sudah lama sekali, sunbae!” ujar gadis itu seraya tersenyum manis.

“Em, ingin minum kopi bersama?” tawar Ha Neul yang langsung dibalas anggukan kuat oleh Rin Hyo.

***

“Ini sedikit sulit dipercaya.”

Ujar Sam Rin Hyo setelah ia menatapi wajah Kang Ha Neul lekat selama beberapa saat. Ha Neul meneguk sedikit americano-nya lalu tersenyum tipis. “Apanya yang sulit dipercaya?” tanya pria itu dengan suara yang sungguh, Rin Hyo sangat menyukainya.

Sam Rin Hyo menyukai Kang Ha Neul saat ia SMA dulu. Pria itu adalah cinta pertamanya, jadi sejujurnya ada sesuatu yang berdesir ditubuhnya saat ia bertemu dengan Kang Ha Neul untuk pertama kalinya selama lima tahun berpisah. Mereka dulu bukanlah sepasang kekasih juga bukanlah teman, tapi ia seringkali mendapati Ha Neul memandangnya dan juga melempar senyuman padanya.

“Aku hanya tidak bisa percaya jika sekarang kita duduk bersama disini. Saat di SMA pun, aku tidak terlalu dekat dengan sunbae kita hanya saling melempar senyum satu sama lain. Aku tidak tahu jika ternyata sunbae tahu namaku.” Ujar Rin Hyo dengan nada cepat. Kang Ha Neul terkekeh lalu mengacak rambutnya gemas. Spontan Rin Hyo memundurkan kepalanya, ia menatap kesekeliling dengan hati – hati. Ha Neul juga ikut menatap kesekeliling dengan alis terangkat.

Wae? Kekasihmu sedang berada dicafe ini?” Rin Hyo menoleh kearah Ha Neul dengan cepat.

“Huh?! Aniyo, bukan begitu. Hanya saja, sekarang sunbae adalah seorang aktor. Bagaimana jika muncul skandal, hm?” Kang Ha Neul kembali terkekeh saat menatap wajah penuh waspada Rin Hyo yang terlihat lucu untuknya.

“Jadi kau tidak punya kekasih?”

Nde? Kekasih? Eung… begitulah.” Ujar Rin Hyo seraya menggosok tengkuknya, ia selalu bingung saat ada seseorang yang menanyakan hal itu. Karena tidak mungkin ia menjawab Aku sudah punya suami, namanya Cho Kyuhyun. Kang Ha Neul tersenyum puas mendengar jawaban yang diberikan Sam Rin Hyo.

“Aku melihat The Heirs, dan aku selalu fokus padamu saat menontonnya! Kau benar – benar aktor yang hebat, sunbae! Jjang!” Rin Hyo mengacungkan dua ibu jarinya dengan tersenyum lebar. Ia hanya ingin mengalihkan pembicaraan saja, menghindari topik kekasih yang tadi diangkat oleh Kang Ha Neul.

“Bisakah kau berhenti memanggilku sunbae? Aku merasa tidak nyaman.”

“Hm? Kalau begitu, Ha Neul … oppa?” Ha Neul mengangguk seraya tersenyum lagi.

Joah. Rin Hyo-ah, aku pinjam ponselmu!”

Mwo?! Untuk apa?”

“Pinjamkan saja!”

“Untuk apa dulu?” bukannya ia terlalu pelit untuk meminjamkan ponselnya, hanya saja ia takut rahasianya terbongkar.

Kang Ha Neul menghela napasnya panjang lalu menaruh ponselnya diatas meja. “Kalau begitu berikan nomormu padaku! Aku takut kita tidak bisa bertemu lagi.” Ujar Ha Neul ringan, alis Sam Rin Hyo terangkat sebelah.  “Karena kau harus membayar traktiranku hari ini!” ucap Ha Neul lagi saat menyadari Sam Rin Hyo menatapnya dengan pandangan aneh.

Sam Rin Hyo akhirnya memberi nomornya pada Kang Ha Neul dengan gerakan yang sedikit ragu. Entahlah ada sisi lain dari dirinya yang menyuruhnya untuk tidak memberikan nomornya pada Ha Neul. Baru saja ia selesai mengetik nomornya, ponselnya bergetar. Ia mengembalikan ponsel Ha Neul lalu segera merogoh tasnya untuk mengambil ponsel.

Cho calling

 

Rin Hyo segera mengangkat teleponnya dengan sesekali menatap Ha Neul waspada. “Yeoboseyo?”

Kau dimana?

“Aku dicafe, wae?

Sendiri?  Rin Hyo sedikit mengernyitkan dahinya saat mendengar nada tajam dan dingin yang dilontarkan Cho Kyuhyun. Jika begini, berarti Cho Kyuhyun sedang kesal.

Eo!” jawabnya, ia hanya tidak ingin membuat hati Kyuhyun semakin kesal.

Tch, keluarlah dari sana sekarang juga! Aku ada diluar cafe!

Mwo?!” Rin Hyo menatap keluar cafe yang berjendela kaca jadi ia tak sulit untuk menatap area luar cafe dari dalam sini. Kedua matanya melebar saat mendapati Cho Kyuhyun dengan topi dan maskernya tengah menatapnya tajam. Ia semakin terkejut saat sambungan telepon itu dimatikan oleh Kyuhyun. Aku akan mati! Gerutunya dalam hati.

Kang Ha Neul yang melihat ada yang tidak beres dengan sikap Rin Hyo menoleh kebelakang. Cepat – cepat Rin Hyo menarik wajah Kang Ha Neul agar menatap kedepan lalu tersenyum canggung kearah pria itu. “Mianhe, aku harus pergi!” ujar gadis itu. Ha Neul yang sedikit terkejut karena sentuhan tiba – tiba dari Sam Rin Hyo hanya mengangguk dua kali seraya berkata “hati – hati dijalan! Aku akan mengubungimu nanti.”

Sam Rin Hyo segera beranjak dari sana dan berjalan dengan langkah cepat menghampiri Cho Kyuhyun yang semakin menatapnya tajam. “Kita pulang!” tukas pria itu tajam lalu segera berbalik, mendahului Rin Hyo untuk memasuki mobilnnya.

Rin Hyo memejamkan kedua matanya frustasi seraya memukul – mukul kepalanya pelan. “Bodoh!”

***

Sam Rin Hyo melirik Cho Kyuhyun sebentar lalu menghembuskan napas panjang. Pasalnya sejak mobil ini melaju, Kyuhyun hanya fokus dengan jalan dengan ekspresi yang sangat mengerikan.

“Kudengar kau menang di inkigayo, chukkae!” Ucap Rin Hyo dengan terbata. Ia menatap Kyuhyun lagi, namun pria itu masih saja mempertahankan ekspresinya yang seperti itu. “Bukankah kau sangat sibuk, bagaimana bisa kau datang ke cafe tadi?” tanya gadis itu. Cho Kyuhyun menghela napas pendek tanpa mengubah ekspresinya. Sam Rin Hyo yang sudah tak tahan lagi akhirnya menatap Kyuhyun dengan sinis. “Cih, terus saja mengacuhkanku! Aku tidak peduli!” tukasnya lalu membuang pandangannya ke jendela mobil.

“Siapa dia?” Rin Hyo mengulum senyum saat Kyuhyun akhirnya membuka suara. Ia melirik Kyuhyun sebentar lalu kembali menatap lurus kedepan.

“Ha Neul oppa? Dia seniorku saat SMA. Kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana bisa kau ada dicafe?” Cho Kyhuyun mengeratkan giginya saat mendengar panggilan oppa yang diucapkan oleh Sam Rin Hyo dengan santainya.

“Apa hubunganmu dengannya?”

“Teman. YA! kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Bagaimana bisa kalian bertemu?”

“Cho Kyuhyun!!” bentak Rin Hyo. Gadis itu sangat membenci keadaan ketika ia diacuhkan tetapi lawan bicaranya malah terus menerus menanyainya.

“Aku ingin memberimu kejutan dan akhirnya membatalkan beberapa jadwalku agar dapat menemuimu. Tapi kau tidak ada ditoko buku jadi aku mencarimu dicafe terdekat dan sedikit terkejut saat memergokimu berselingkuh dicafe, puas?!” kedua mata Rin Hyo melebar tak percaya, Cho Kyuhyun memang tipikal orang yang selalu membuat asumsi seenaknya sendiri tanpa mendengar penjelasan orang lain terlebih dahulu.

“Berselingkuh?! Apa maksudmu?!”

“sekarang jawab pertanyaanku.”

“Dia datang kepeluncuran buku dan menawariku untuk minum kopi,  aku menerima tawarannya karena kami sudah lama tidak bertemu dan juga kami minum kopi disana sebagai sepasang teman lama. Tidak lebih. Jadi, singkirkan pikiran diotakmu tentang aku yang berselingkuh! Karena aku tidak berselingkuh, mengerti?!”

Cho Kyuhyun memilih untuk tidak menjawab dan mempercepat laju mobilnya. Sedangkan Sam Rin Hyo terlihat tidak peduli dengan tingkah Cho Kyuhyun yang memang sulit dikendalikan jika ia sedang kesal.

***

Sam Rin Hyo keluar dari mobil terlebih dahulu lalu diikuti dengan Cho Kyuhyun selang beberapa menit. Karena, mereka tidak boleh keluar mobil bersama. Cho Kyuhyun yang menyarankan hal ini, pria itu sangat pintar menyembunyikan hubungan mereka.

Rin Hyo memasuki apartemennya dengan wajah yang terlihat kesal, gadis itu mengganti sepatunya dengan sandal rumah lalu menyalakan lampu apartemen. Mulanya ia langsung duduk diatas sofa tanpa menyadari apapun. Namun setelah beberapa detik, ia sadar jika sofa yang ia duduki bukanlah sofa yang biasanya.

Rin Hyo beranjak dari duduknya, menyentuh sofa itu dengan senyuman yang terulas sempurna. Karena, sejak satu minggu yang lalu ia sering merecoki Kyuhyun agar dibelikan sofa baru. “Kapan pria itu mengganti ini?” gumamnya lalu dengan langkah cepat ia memasuki ruang menulisnya. Kedua matanya melebar saat ia melihat koleksi novelnya bertambah, lampu mejanya pun telah diganti baru, ada home theater  yang terletak tak jauh dari mejanya, dan yang paling menarik dikedua matanya adalah sebuah kursi berbentuk bola yang sudah ia impi – impikan sejak satu bulan yang lalu.

“Seharusnya ini akan menjadi kejutan yang manis. Tapi semuanya berantakan karena kau!” suara datar dan dingin Cho Kyuhyun membuat tubuh Rin Hyo spontan berbalik kebelakang. Ia mengulas senyuman manisnya pada Cho Kyuhyun lalu segera masuk kedalam pelukan pria itu.

“Aku sudah menghubungimu berkali – kali sebelum acara dimulai. Jika saja kau menjawab teleponku atau setidaknya mengirimiku pesan, pasti aku tidak akan menerima ajakan Kang Ha Neul oppa.”

“Berhenti menyebut namanya dihadapanku. Telingaku sakit.” Ujar Kyuhyun ketus. Tangan pria itu masih terdiam disisi tubuhnya, tak berniat membalas pelukan Sam Rin Hyo. Meski sebenarnya ia ingin sekali merengkuh gadis yang sudah satu minggu ini tak ia sentuh dan ia lihat. Ia selalu mempertahankan gengsinya.

Rin Hyo melepas pelukannya, menarik tangan Kyuhyun, memposisikannya tepat pada pinggangnya. Gadis itu tersenyum kecil pada Kyuhyun yang masih menatapnya datar. “Aku tahu kau sedang marah padaku, tapi kau harus ingat besok pagi kau harus meninggalkanku lagi. Jadi, hilangkan gengsimu itu untuk hari ini saja, hm?” ujar Rin Hyo dengan nada lembut seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher Kyuhyun.

Rin Hyo mengecup sebentar pipi Kyuhyun. “Maaf, aku menghancurkan rencanamu.” Sesalnya. Cho Kyuhyun akhirnya mengulas senyumannya, menarik tubuh Rin Hyo agar gadis itu menjinjit hingga akhirnya bibir mereka menyatu. Mencurahkan segala kerinduan mereka dengan ciuman lembut. Namun ciuman yang awalnya lembut itu tak berlangsung lama, karena Kyuhyun tiba – tiba mendorong tengkuknya dan memperdalam ciuman itu.

Drrt Drrt

Rin Hyo menepuk – nepuk dada Kyuhyun agar pria itu menghentikkan ciumannya. Namun Kyuhyun malah menarik tangan Rin Hyo dan memposisikanya pada lehernya lagi. Sam Rin Hyo mencoba melepas diri dari Kyuhyun karena ponselnya terus bergetar. Ia takut jika itu adalah telepon penting. Ia memukul kepala Kyuhyun dan seperti yang sudah ia duga, cara itu berhasil.

“Akh! YA! Kau gila!” pekikkan kesal Cho Kyuhyun langsung terdengar sesaat setelah ia melepas ciumannya. Sam Rin Hyo hanya melirik sinis Kyuhyun lalu mengangkat teleponnya.

Wae, Ji Eun-ah? …. mianhe, sepertinya besok aku kerumahmu. Tiba – tiba Cho Kyuhyun datang dan membelikanku banyak barang, jika kau jadi aku apa kau akan meninggalkannya?” Cho Kyuhyun melebarkan kedua matanya pada Rin Hyo. Sedangkan gadis itu hanya menampilkan senyuman miringnya. “Eo! Sampai jumpa besok!”

“ Dasar gadis materialistis.” Umpat Kyuhyun yang hanya dibalas cengiran lebar oleh Rin Hyo.

“Mungkin maksudmu realistis, bukan materialistis Tuan Cho Kyuhyun!”

“Terserah apa katamu! Sekarang, matikan ponselmu! Malam ini kau tak boleh diganggu oleh siapapun!” Sam Rin Hyo tersenyum penuh arti.

“Siapapun?”

“Em, hanya aku yang boleh mengganggumu malam ini!” Sam Rin Hyo memekik kecil saat tiba – tiba Kyuhyun menggendongnya lalu membawanya keluar dari ruang menulisnya ini.

***

Oneul babocheorom geu jarieso innen geoya

Biga naerimyeon heumppog jeojjimyeon oji aneun noureul gidaryo

Naneun hengboggaeso

 

Sam Rin Hyo yang masih terlelap dalam balutan selimut tebal itu mengernyit saat mendengar lagu yang tak asing ditelinganya itu terdengar begitu keras. Gadis itu mendesis kesal seraya semakin mengeratkan selimut pada wajahnya, namun adanya sinar matahari yang menyilaukan itu seolah penambah kekesalannya pada pagi ini.

“Aish, ige mwoya?!!”  geramnya seraya merubah posisinya menjadi duduk menyandar didinding kasur. Ia mengangkat selimut tebal itu hingga sebatas dada, satu tangan lainnya sibuk meraba meja kecil disamping kasurnya meski kedua matanya masih tertutup.

Setelah menemukan benda yang sejak tadi berbunyi keras itu ia mengambilnya, dengan kedua mata yang terbuka sayu ia mengernyit mendapati ponselnya lah yang sejak tadi berbunyi. “Sejak kapan aku mengganti ringtone-ku dengan lagu ini?” gumam gadis itu masih diambang setengah sadar, tanpa berniat mengangkat telepon dari nomor tak dikenal itu hingga akhirnya ponselnya berhenti berdering. Senyuman tipisnya terulas,  ia menaruh ponselnya kembali diatas meja. Dahinya kembali mengerut saat mendapati secarik post-it yang menempel dimeja itu.

Aku berangkat. Sarapannya sudah siap diatas meja.

Jangan merindukanku ya, putri tidur berkaki seribu 😉

 

“Cish, Pasti pria ini juga yang mengganti ringtoneku.” Gumam Rin Hyo seraya menatap tempat kosong yang berada disampingnya. Senyum kecutnya terulas, ia pasti akan merindukan suaminya. Cho Kyuhyun seringkali menjulukinya putri tidur berkaki seribu, karena ia adalah gadis yang sangat suka dengan kegiatan itu. Ia bisa tidur dimana saja dan pada posisi apapun. Namun, jika ia sudah tidur di atas ranjang, kedua kakinya itu pasti akan menendang – nendang atau hinggap ditubuh orang lain. Maka itu, Kyuhyun menjulukinya putri tidur berkaki seribu.

“Ah, lelah sekali.” Lirih gadis itu seraya mencoba untuk merebahkan tubuhnya lagi diatas ranjang. Pasalnya tadi malam Cho Kyuhyun benar – benar ‘mengganggunya’ hingga jam 3 pagi, jika saja Rin Hyo tidak mengeluh lelah entah kapan pria itu akan berhenti.

Baru saja ia hendak menutup kedua mata, ponselnya kembali berdering dengan nomor yang sama. Rin Hyo kembali duduk lalu mengambil ponselnya dengan gerakan kasar,  kedua matanya memang sudah terbuka meski hanya setengah.

Yeoboseyo!”

Sam Rin Hyo?

            Ne! Nuguseyo?!”  ujar Rin Hyo dengan nada kasar.

Kang Ha Neul.

Kedua kelopak mata Rin Hyo terbuka sempurna saat mendengar nama itu.

“Ha Neul oppa?”

Eo! Kau baru saja bangun, ya? apa aku mengganggumu?

            Nde? Anio.” Jawab Rin Hyo dengan nada kaku. Pasalnya tidak mungkin ia mengaku jika ia baru saja bangun pada jam 11 siang. Derajatnya pasti akan turun jika ia berkata seperti itu.

Ck, kau masih menggunakan bahasa formal padaku. Sudah kubilang, kan kau bisa bicara nyaman padaku!

            Sam Rin Hyo terkekeh kecil. Rasa mengantuknya sudah menghilang meski rasa lelahnya masih terasa.

Kau ada acara sore ini?

            “Hari ini? kurasa tidak ada. Memangnya kenapa?”

Baguslah, tiba – tiba aku ingin mengunjungi sekolah kita dulu. Kau mau menemaniku, kan?

            Senyuman Sam Rin Hyo terulas seketika saat mendengar kata ‘sekolah’,  sejujurnya ia sangat ingin mengunjungi tempat itu. “Tentu saja! Aku juga rindu sekali dengan sekolah!”

Oke! Aku akan menjemputmu jam 3 sore!

            Eo! Sampai jumpa!”

Rin Hyo menutup teleponnya lalu tersenyum lebar, mulai membayangkan bagaimana menyenangkannya ia mengunjungi sekolahnya dulu.

***

Sam Rin Hyo berjalan menuju ruang makan dengan balutan bathrobe dan juga kedua tangan yang sibuk mengeringkan rambut panjangnya. Kebiasaannya sehabis mandi adalah berkeliaran didalam rumah hanya dengan bathrobe-nya, mengingat tak ada siapapun dirumah ini selain ia dan suaminya.

Kedua matanya menatap penuh minat pada dua potong sandwich yang terletak dimeja juga dengan segelas susu yang terletak disampingnya. Senyuman gadis itu terulas lagi. Ia duduk disana setelah mencampakkan handuknya dikursi sampingnya.

Mashitta.”  Gumamnya seraya tersenyum kecil. Banyak yang bilang Cho Kyuhyun paling buruk dalam hal masak memasak. Padahal, dirumah ini pria itu yang lebih sering memasak daripada ia. Cho Kyuhyun akan menghasilkan masakan yang enak jika ia memasak dengan tulus. Rin Hyo meminum susu yang sudah dingin itu hingga habis.

Kedua matanya sedikit melebar saat ia menemukan satu ide dipikirannya. Sam Rin Hyo berlari kecil kembali kekamar, menyambar ponsel dan post it yang tadi ditinggal Cho Kyuhyun lalu kembali lagi pada meja makan. Ia menempelkan post it itu disamping gelas kosong bekas susu yang ia minum, lalu mengambil foto dari piring dan gelas bekas juga secarik post it itu.

Bibirnya membentuk senyuman puas menatap hasilnya. Jemarinya mulai menari diatas layar ponselnya mengirim gambar itu pada Cho Kyuhyun lewat akun line-nya.

Kau sudah makan? Aku kenyang setelah memakan makanan dari chef Cho~

Makanlah yang teratur, jangan terlalu lelah!

 

Ps : Aku akan berhenti merecokimu setelah ini, jadi fokus saja pada pekerjaanmu! Semangat!

 

Rin Hyo meletakkan ponselnya diatas meja makan lalu membereskan meja makan itu dan mencuci piring didapur. Ia tak mengharapkan balasan dari pesannya, karena jika sudah sangat sibuk seperti ini terkadang Kyuhyun menitipkan ponselnya pada manajer pribadinya.

Ditengah ia mencuci piring, pikirannya melayang pada ajakan Kang Ha Neul nanti sore, berkunjung kesekolah lamanya. Memikirkan itu membuatnya semangat lagi.

Eo! Apa kuajak saja Shin Ji Eun?” gumamnya kemudian segera merampungkan aktivitasnya.

***

“Ayolah Shin Ji Eun! Kau bisa mengajak Ji Hoo juga!”

Shin Ji Eun menghela napasnya gusar seraya memutar bola matanya malas saat mendengar rengekan Sam Rin Hyo. “Aku-tidak-bisa! Aku harus mengatakan seratus kali baru kau mengerti, huh?!” sergah Shin Ji Eun kasar. Rin Hyo menatap sahabatnya yang paling mengerikan itu dengan memasang wajah menyedihkan, berharap agar Ji Eun terenyuh menatapnya.

“Aku jadi semakin yakin untuk tidak pergi sekarang saat kau bertingkah seperti itu.” Sam Rin Hyo mengacak rambutnya frustasi lalu berbaring diatas sofa panjang Ji Eun karena Shin Ji Eun duduk disofa tunggal. Shin Ji Eun menggelengkan kepalanya pelan, bagaimana bisa aku bersahabat sangat lama dengan gadis tak berbudi luhur seperti dia? Batinnya.

“Apa kau tega membiarkanku pergi kesekolah itu dengan Kang Ha Neul dengan keadaan sangat canggung? Jika tidak ada kau, aku harus bagaimana, huh?!” kedua mata Shin Ji Eun melebar saat mendengar nama Kang Ha Neul disana.

“Tunggu! Kang Ha Neul? Jadi kau nanti akan pergi dengan Kang Ha Neul sunbaenim?” Sam Rin Hyo mengangguk sekenanya. “Bagaimana bisa kau bertemu dengannya?”

“Aku bertemu dengannya diacara peluncuran novel lalu ia mengajakku meminum kopi bersama, kami bertukar nomor dan akhirnya nanti aku akan pergi dengannya.” Jelas Sam Rin Hyo dengan nada ringan. Shin Ji Eun memincingkan kedua matanya pada Sam Rin Hyo, ia sangat ingat jika Kang Ha Neul adalah pria pertama yang sangat ia gilai disekolah dulu.

“Kupikir kalian tidak sedekat itu dulu.”

“Itu juga yang aku bingungkan. Saat aku bertanya bagaimana bisa ia tahu namaku, ia hanya terkekeh seraya mengacak rambutku dicafe. Catat itu Shin Ji Eun, ditempat umum seperti itu. kau bisa membayangkan kan? Bagaimana takutnya aku saat itu? bagaimana jika ada fansnya yang melihat, pasti akan merepotkan.”

“Kenapa kau setakut itu? lagipula ia pasti sudah memakai penyamaran, kan?” Wajah Rin Hyo menegang. Ah ya, mengapa aku setakut itu? batinnya.Gadis itu menggedikkan bahunya acuh.

“Entahlah, mungkin karena Cho Kyuhyun tak pernah melakukan itu didepan umum walau pada kenyataannya ia adalah suamiku. Lagipula Kikwang oppa pasti juga seperti Kyuhyun, kan?” Ji Eun tersenyum kecil saat mengingat suaminya lalu menggeleng pelan.

“Tidak juga, Lee Kikwang terkadang melakukan hal – hal itu didepan umum. Ah, aku jadi mengingatnya sekarang! Saat aku makan ramyun didepan supermarket dengannya, ia tidak memakai penyamaran apapun selain topi. Dan tiba – tiba ada fansnya yang memergoki kami, jadi kami berlari hingga esoknya kedua kaki pria itu sakit. Namun syukurlah, saat itu ia sedang tak ada jadwal.” Sam Rin Hyo terdiam mendengar cerita Ji Eun. Cho Kyuhyun tak pernah melakukan itu padanya, pria itu sangat sangat berhati – hati menyembunyikan hubungannya. Rin Hyo tersenyum kecut saat mengingat jika ia harus berjalan duluan saat memasuki gedung apartemen.

“Ah, begitu ya.” hanya balasan itu yang dapat keluar dari bibir Sam Rin Hyo.

“Tapi, kupikir Ha Neul sunbae menyukaimu.” Sam Rin Hyo seketika melebarkan kedua kelopak matanya pada Ji Eun yang hanya memasang wajah polosnya.

“Kau gila?! Tidak mungkin!”

“YA! sekarang untuk apa ia meluangkan waktunya untuk menemuimu, mengacak rambutmu ditempat umum dan menghubungimu? Perlu diingat, dia adalah aktor yang sibuk dan juga dia yang menghubungimu terlebih dahulu. Bukan kau.” Sam Rin Hyo menggaruk tengkuknya seraya berpikir keras, namun setelah itu ia tertawa kecil.

Maldo Andwe! Mungkin dia hanya mengganggapku sebagai adiknya?”

“Tch, kau benar – benar buruk dalam hal analisa.” Sam Rin Hyo mendesis kesal mendengar ucapan Ji Eun yang memang benar adanya.

Drrt Drrt

Cepat – cepat Rin Hyo mengangkat telepon saat menatap nama kontak Cho disana. “Yeoboseyo?”

YA! kau meminum susunya jam setengah dua belas, ya?! itu sudah dingin, Sam Rin Hyo! Perutmu akan sakit jika meminum susu dingin.

            Rin Hyo tersenyum kecil seraya menyentuh perutnya spontan. Membuat Ji Eun menatap curiga pada gerak – gerik Rin Hyo. “Perutku tidak sakit. Lagipula bagaimana bisa aku melewatkan segelas susu yang sudah susah payah kau buatkan, huh?!”

Tapi tetap saja! Perutmu itu kan sensitif!

            “Ck, tidak bisakah kita berhenti mendebatkan sesuatu yang sudah terjadi?”

Kau dimana sekarang?

            “Rumah Shin Ji Eun.”

Jangan berkeliaran kemana – mana.

            “Lalu jika aku bosan?”

Kau bisa mengunjungi gedung stasiun televisi untuk melihatku, atau lihat saja fotoku!

            “Dalam mimpimu! Ah ya, Cho Kyuhyun nanti aku—“

Rin Hyo-ah, aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu, eo!

            “Ah, jinjja? Keure. Kau juga.”

Eum, kututup ya!

            Eo!” Tangan Rin Hyo terkulai lemas disamping tubuhnya. Padahal tadi ia ingin meminta izin pada Kyuhyun jika nanti ia akan pergi dengan Ha Neul. Tapi sepertinya pria itu sangat sibuk, bahkan hanya untuk mendengarnya.

“Kau hamil?” tanya Ji Eun tiba – tiba.

“Kau gila?!” balas Rin Hyo spontan. Shin Ji Eun mengangkat bahunya seraya menatap Rin Hyo datar.

“Tadi kau berbicara soal perut, kau juga menyentuh perutmu dengan senyuman aneh.” Rin Hyo memutar bola matanya malas menjawab pernyataan aneh Shin Ji Eun.

“Kau semakin melantur tak jelas!” Rin Hyo mengangkat pergelangan tangannya, menatap jam lalu mendesah keras. “Sudah waktunya aku menunggu didepan gedung apartemenmu.” Lanjut gadis itu seraya beranjak dari tempat duduknya.

Eo! Kapan – kapan kita kesekolah bersama jika Ji Hoo tidak tidur.” Sam Rin Hyo mengangguk sekenanya lalu melambaikan tangannya pada Ji Eun.

“Aku pergi!” ujarnya sebelum keluar dari apartemen Shin Ji Eun. Ji Eun menatap kepergian Rin Hyo dengan alis bertautan. “Sepertinya tadi gadis itu baik – baik saja, aneh sekali.” Gumamnya pelan.

***

Sam Rin Hyo menatapi jalanan dengan pikiran yang sudah melalang buana entah kemana. Tiba – tiba ia memikirkan sikap – sikap Cho Kyuhyun yang sangat berhati – hati menutupi hubungan mereka. Selama ia berkencan dengan Cho Kyuhyun, ia hanya mengunjungi rumah Kyuhyun, disana mereka menonton film di mini theater yang berada dilantai bawah tanah, hanya berdua diruang musik, berenang bersama, banyak hal yang bisa dilakukan dirumah Kyuhyun yang memiliki banyak fasilitas itu. Jika berkencan diluar pun, mereka akan mengunjungi sungai han dan pantai diatas jam 12 malam. Selama 3 tahun ia berhubungan dengan Cho Kyuhyun, baru kali ini ia berpikir jika Cho Kyuhyun berlebihan. Karena, ia selalu berpikir selama bersama Cho Kyuhyun semuanya akan baik – baik saja. Namun sekarang, ia kembali berpikir dan mulai membandingkannya dengan sikap Kang Ha Neul saat ini.

Kang Ha Neul yang tengah menyetir sedikit terbagi fokusnya pada Sam Rin Hyo yang sejak tadi menatap jendela mobil dengan wajah yang terlihat jika ia sedang tidak baik – baik saja. Sesekali pria itu melirik kearah Rin Hyo.

Wae?”  Tanya Ha Neul yang sudah tak tahan melihat Rin Hyo. Seketika gadis itu menoleh kearah Ha Neul yang fokus menyetir.

“Apanya yang kenapa?”

“Wajahmu. Kau tidak suka ikut denganku hari ini?”

Anio. Aku… hanya sedang memikirkan sesuatu.” Kang Ha Neul mengangkat alisnya kembali menoleh kearah Rin Hyo dengan tatapan penasaran.

“Tentang apa?”

“Banyak. Lebih baik oppa fokus saja pada menyetirnya!” ujar Rin Hyo mencoba mengalihkan pembicaraan. Kang Ha Neul menghela napasnya menyerah.

“Kita hampir sampai.” Sam Rin Hyo mengalihkan pandanganyya kedepan, senyumannya terulas saat mobil yang ia tumpangi ini memasuki gerbang sekolahnya. Mereka berhenti ditempat parkir, Rin Hyo melepas sabuk pengamannya lalu segera membuka pintu mobil.

“Woah, sudah lama sekali.” Gumam Rin Hyo seraya menatap gedung sekolahnya dengan segaris senyuman tipis.

“Seharusnya kau menungguku membuka pintu.” Nada kesal Kang Ha Neul itu membuat Rin Hyo menoleh kearah pria itu, kepalan tangannya meninju lengan pria itu pelan.

“Kau tidak usah melakukan itu, oppa! Kajja!” Rin Hyo berjalan mendahului Kang Ha Neul yang hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Rin Hyo lalu berlari kecil menyusul gadis itu.

***

“Woah, mereka benar – benar tak berubah sama sekali. Bahkan kini Guru Han semakin cantik.” Rin Hyo berceloteh senang seraya berjalan keluar dari ruang guru dengan Ha Neul yang masih setia berjalan disampingnya. Mendengar segala ucapan Rin Hyo tanpa beban sama sekali. Bahkan ia selalu menikmati ekspresi, suara dan kata – kata gadis itu.

Eo! Aku baru ingat!” Rin Hyo menghentikkan langkahnya seketika, menatap Ha Neul waspada. Sedangkan pria itu membalasnya dengan alis terangkat, bingung. Rin Hyo menoleh kekanan lalu kekiri, kembali menatap Ha Neul gusar. “Hari ini adalah dari efektif sekolah. Banyak anak sekolah disini, jika mereka melihatmu bersamaku… pasti akan berimbas buruk untukmu. Eottokhae? Kau tidak membawa masker atau kacamata? Atau paling tidak topi?” Cecar Rin Hyo dengan tempo yang begitu cepat.

Ha Neul tertawa kecil mendengar cecaran Rin Hyo. Ia mengacak rambut Rin Hyo pelan lalu menyematkan jemarinya pada sela – sela jemari Rin Hyo. Mengulas senyuman manis kemudian berkata, “Sudahlah, tak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Rin Hyo berkedip beberapa kali. Menarik napas panjang saat merasa dadanya begitu sesak. Sungguh, perlakuan Kang Ha Neul benar – benar lembut. Dan yang membuat ini begitu spesial adalah, dia melakukannya didepan banyak orang.

Kajja! Kita harus mengunjungi kantin sebelum jam makan siang dimulai.” Ujar pria itu yang hanya bisa dibalas dua anggukan kaku dari Rin Hyo. Mereka kembali melangkah dengan tangan yang masih bertautan. Rin Hyo ingin sekali menarik tangannya dari genggaman pria ini, namun berkali – kali pula ia menekankan pada diri sendiri bahwa sentuhan ini wajar untuk sepasang teman. Ya, ia tidak akan tinggal diam jika lebih dari ini.

“Tapi, apa kau benar – benar tak khawatir jika muncul skandal? Maksudku, namamu sedang berada diatas sekarang… apa kau tidak mengkhawatirkan karirmu?” Tanya Rin Hyo seraya mengangkat kepalanya, menatap Ha Neul penasaran.

Kang Ha Neul kembali terkekeh. “Kau berpacaran dengan seorang idol? Pertanyaanmu selalu tentang munculnya skandal.” Kedua mata Rin Hyo sedikit melebar, spontan gadis itu meledakkan tawa canggungnya.

“Bagaimana bisa gadis sepertiku berpacaran dengan idol? Berteman denganmu saja aku sudah merasa seperti gadis yang paling beruntung.” Haneul tersenyum tipis mendengar balasan Rin Hyo. Ia menghela napas leganya seraya menatap lurus kedepan.

“Sebenarnya, ini pertama kalinya untukku berjalan bersama seorang wanita ditempat umum.”

eo? Jinjja?!” Haneul mengangguk penuh keyakinan.

“Aku hanya bersikap seperti ini pada wanita yang menurutku sangat istimewa.”

Nde?

***

Rin Hyo meminum patbingsu-nya seraya sesekali tersenyum kecil. Kepalanya tak henti berputar, menelisik isi kantin yang sudah terlihat berbeda. Dulu, kantin sekolahnya tidak menyediakan buffet untuk roti – roti dan makanan penutup. Tapi, sekarang mereka mempunyainya.

“Kurasa sekolah kita semakin menyenangkan.” Ujar Rin Hyo tak dapat menyembunyikan raut bahagianya. Kang Ha Neul ikut tersenyum manis menatap Rin Hyo, pria itu ikut menyapu kantin dengan pandangannya lalu mengangguk pelan.

“Kau benar. Haah, aku jadi ingin kembali sekolah disini.” Rin Hyo mengangguk.

“Mm, aku jadi rindu sekali dengan teman – temanku dulu. Ck, seharusnya Shin Ji Eun ikut kesini tadi. Pasti akan lebih menyenangkan, bukan?” Rin Hyo menghela napasnya panjang. Sedangkan Haneul mengernyitkan dahinya bingung.

“Shin Ji Eun?” Rin Hyo mengangguk kuat.

“Kau ingat? Gadis yang biasanya selalu bersamaku. Ah, dulu ia selalu menguncit rambutnya.”

“Ah, Shin Ji Eun yang wajahnya selalu dingin itu, kan?” Rin Hyo langsung tertawa geli menatap raut wajah lucu Haneul.

“Semua orang yang belum mengenalnya selalu berkata seperti itu. sebenarnya ia bukan orang yang seperti itu, oppa! Dulu, aku selalu duduk disini bersamanya saat makan siang. kami selalu membuat kantin ramai karena suara tawa kami yang menggelegar. Kau pasti juga mendengarnya, karena kau selalu duduk disebelah sana. Tak jauh dari meja kami.” Rin Hyo menunjuk sebuah meja yang berada disamping meja yang kini mereka tempati. Haneul menatap arah telunjuk Rin Hyo lalu tersenyum penuh arti.

“Mm, tentu saja aku mendengarnya.” Rin Hyo tertawa kecil.

“Aku dan dia itu benar – benar tak tahu malu jika sedang bersama. Tch, aku benar – benar ingin kembali ke masa itu jika seperti ini.”

Na ddo. Ada banyak yang harus kulakukan jika aku bisa kembali ke masa itu.” ujar Haneul dengan raut wajah yang penuh tanda tanya. Rin Hyo mengangkat alis, sedikit penasaran dengan apa yang akan pria itu lakukan jika ia kembali ke masa lalu. Namun ia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Mengingat, mereka  belum lama saling mengenal seperti ini meski pada kenyataannya mereka satu sekolah dulu.

“Jika aku bisa kembali, aku hanya ingin mengulangi lagi masa – masa dimana aku sering menyontek dikelas, tertawa lepas dengan teman – temanku, membolos sekolah, mengerjai teman, dan hal – hal menyenangkan lainnya.”

“Woah, tak kusangka ternyata kau termasuk siswa yang cukup nakal, Rin Hyo-ah.” Rin Hyo hanya tertawa kecil membalas ucapan Haneul.

“Tentu saja, tidak sepertimu yang selalu singgah diperpustakaan untuk membaca buku. Selalu mendapat peringkat bagus, selalu meraih juara dibidang olahraga. Ya, kau sangat populer disekolah dulu. Tak heran kau sekarang menjadi artis.”

Haneul mengulas senyum separonya. “Sepertinya kau sangat mengenalku dulu.” Rin Hyo terkekeh geli.

“Sebenarnya, dulu aku pernah menyukaimu. Maka itu aku tahu banyak tentangmu.” Rin Hyo memandang kedepan, mengingat kembali tingkah konyol dan kekanakannya saat ia menyukai Haneul dulu. “Mengingatnya membuatku ingin tertawa. Aku masih sangat muda waktu itu.”

Kang Haeneul merubah raut wajahnya menjadi serius. Menatap Rin Hyo dengan tatapan berbeda dari biasanya membuat Rin Hyo akhirnya menghentikkan kekehannya. Ikut membalas tatapan Kang Haneul dengan bingung. “Na ddo.” Tukas Haneul tiba – tiba.

“Huh?” Rin Hyo menatap Haneul tanpa kedip. Begitu bingung dengan apa yang pria itu katakan.

“Aku… sebenarnya saat itu aku juga menyukaimu. Hingga sekarang pun begitu.”

***

“Kau tinggal disini?” tanya Haneul saat mobilnya berhenti didepan gedung apartemen yang tinggi menjulang ini. gedung ini termasuk gedung apartemen terbaik di Seoul.

Rin Hyo mengangguk dua kali. “Begitulah.”

Haneul diam – diam menghela napasnya berat melihat perubahan sikap yang begitu signifikan dari Rin Hyo. Setelah kejadian dikantin, Rin Hyo berubah menjadi pendiam. Bahkan sepanjang perjalanan tadi mereka hampir tak mengeluarkan sepatah katapun.

“Kau pasti terkejut.” Ujar Haneul tiba – tiba. Rin Hyo sontak menatap pria itu cepat, mendapati Kang Haenul yang kini tengah melemparkan senyuman hangat padanya. “Tidak usah dipikirkan, dan juga… jangan merubah sikapmu seperti ini. eo?”

Rin Hyo berdehem. “Begini, Haneul oppa… maaf sebelumnya, sebenarnya aku—“

“Sudahlah, lebih baik kau masuk sekarang.” Potong Kang Haneul kemudian keluar dari mobilnya. Berjalan memutari mobil, membukakan pintu untuk Rin Hyo yang masih terlihat bingung bagaimana harus mengatakan yang sebenarnya jika ia sudah bersuami.

“Kau tidak usah menjawabnya sekarang. Aku tahu aku terlalu cepat.” Rin Hyo menggigit bibirnya gusar. Gadis itu membuang napasnya berat.

“Haneul oppa, sebenarnya aku itu—“

“Ck, sudah kubilang jangan katakan sekarang.” Haneul kembali memotong ucapan Rin Hyo, kini disertai wajah kesalnya. Namun hal itu hanya terjadi sejenak sebelum tangannya tergerak untuk mengacak pelan rambut Rin Hyo. “Masuklah, tidur yang nyenyak.” Ucap pria itu sebelum berlalu meninggalkan Rin Hyo yang masih terpaku ditempatnya. Kedua mata gadis itu terpejam.

Eottokhae?

***

Sam Rin Hyo berjalan menyusuri lorong yang membawanya menuju apartemennya dengan langkah pelan. Kedua matanya serta otaknya sibuk memikirkan, bagaimana caranya ia menjelaskannya pada Kang Haneul.

“Jika aku mengatakannya langsung malam ini, pasti itu akan menyakitinya. Astaga, kenapa aku tidak bilang jika aku sudah menikah sejak dulu?!! Bodoh!!!” gerutunya pada diri sendiri seraya sesekali memukuli kepalanya dengan kepalan tangan.

Gadis itu mengombinasikan password apartemennya dengan gerakan lemah, lalu berjalan menuju beranda. Kedua matanya melebar saat mendapati lampu apartemennya menyala semua, juga sepasang sepatu yang begitu ia kenali sudah terletak rapi disana.

Cho Kyuhyun datang!!

 

Senyuman gadis itu seketika merekah lebar, seiring dengan langkahnya yang bergerak cepat melepas sepatu lalu berlari kecil memasuki apartemennya.

“Dari mana saja?” tanya Kyuhyun yang kini sudah berdiri tegak dihadapannya seraya menatapnya tajam. Seketika senyuman Rin Hyo menghilang perlahan.

“Kukira hari ini kau menginap di dorm.” Ujar Rin Hyo dengan senyuman kecilnya.  Sejujurnya, ia sangat senang jika Kyuhyun tidak menginap di dorm.

“Tch, kau berharap seperti itu? apa kau akan membawanya masuk kesini saat aku tidak ada?!” suara Kyuhyun sedikit meninggi. Rin Hyo mengernyit bingung sejenak, namun kerutannya perlahan hilang saat ia menyadari sesuatu. Cho Kyuhyun melihatnya bersama Kang Haneul didepan gedung tadi.

“Apa sekarang kau sedang membicarakan Haneul oppa?”

“Terserah siapa namanya, terserah kau memanggilnya apa, yang terpenting sekarang bukanlah itu!” tubuh Rin Hyo berjengit saat tiba – tiba Kyuhyun membentaknya. Dada pria itu sudah kembang kempis menahan emosi, begitu pun dengan Rin Hyo yang terkejut dengan wajah merah Kyuhyun yang penuh amarah.

“Aku hanya pergi ke sekolah kami dulu. Haneul oppa adalah sunbaeku dulu.”

Cho Kyuhyun melangkah semakin mendekat pada Rin Hyo. Mencengkeram kuat lengan gadis itu seraya menatap istrinya emosi. “Pertama, kau pergi minum kopi bersamanya, menyentuh wajah pria itu, dan menunjukkan senyum murahanmu pada pria itu. Kedua, Apa? Kau mengunjungi sekolah bersamanya? Woah, manis sekali. Apa kalian sedang mengenang masa – masa indah kalian? Dan juga, dengan tidak tahu malunya ia menyentuhmu dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah kau terlihat sangat menyukainya.”

Kedua mata Rin Hyo mulai memanas saat Kyuhyun secara terang – terangan mencecarnya tepat didepan wajahnya. Ditambah dengan cengkraman kuat Kyuhyun yang tak main – main.

“Kita bisa bicara baik – baik. Jangan seperti ini, hm?” alih – alih melepas cengkramannya. Pria itu malah mencengkeram satu lengan bebas Rin Hyo. menatap kedua mata Rin Hyo dengan begitu tajam dan dingin.

“Kau tahu betapa sibuknya aku hari ini? mengenyampingkan rasa lelahku, aku datang kesini untuk memastikan bagaimana keadaan perut istriku setelah meminum susu dingin itu. Tapi apa yang kudapat?” Wajah Kyuhyun sontak berubah menjadi begitu dingin dengan rahang mengeras. “Yang kudapat adalah kau yang berselingkuh dibelakangku. Pulang larut dengan seorang pria seperti wanita murahan.”

“Wanita murahan?!” desis Rin Hyo. ucapan Kyuhyun kali ini benar – benar menyulut emosinya. Seketika gadis itu mendorong tubuh suaminya kuat. “Tch, berselingkuh? Wanita murahan? Kau benar – benar mengesankan, Cho Kyuhyun!” ujar Rin Hyo dengan kedua mata yang sudah berkaca – kaca.

“Em. Apalagi sebutan yang lebih pantas dari seorang wanita yang sudah bersuami berkeliaran dengan pria lain saat suaminya sudah menyuruhnya untuk tidak berkeliaran kemana – mana?!” Rin Hyo mengepalkan kedua tangannya kuat – kuat.

“Kau… melihatku didepan gedung tadi?”

Kyuhyun tersenyum miring. “Em, wae? Tak punya alasan lagi untuk pembelaan, Nyonya Sam?!”

“Kau melihat istrimu disentuh oleh pria lain. Dan kau hanya diam saja?! Tidakkah terpikirkan olehmu, untuk menarikku dari sana. Mencecar pria itu sepuasmu, atau memukulnya, mungkin.”

“Aku bahkan ingin membunuhnya sekarang.” Rin Hyo mendecih.

“Omong kosong.”

Mwo?!”

“Kau hanya mengeluarkan omong kosong dari bibirmu saat ini, namun kau pasti tidak mungkin melakukannya.” Kyuhyun masih terdiam, sedikit bingung dengan apa maksud dari ucapan Rin Hyo. “Kau… Sejujurnya, apa sangat memalukan mempunyai istri sepertiku?” tanya Rin Hyo dengan suara tercekat. Inilah saatnya! Ini adalah saat yang sangat tepat untuk mengeluarkan semua pertanyaan yang selalu ia simpan seorang diri selama ini. Mengingat perlakuan Kang Haneul tadi, juga cerita Ji eun tentang Lee Kikwang membuat pertanyaan itu tiba – tiba terlintas dibenaknya.

Raut wajah Kyuhyun seketika berubah saat menyadari ekspresi hancur yang diperlihatkan Rin Hyo saat ini. “Tadi, Kang Haneul… dengan beraninya dia menyentuhku ditempat umum tanpa menggunakan alat penyamaran apapun. Tapi kita? Aku harus memasuki gedung terlebih dahulu sebelum kau. Kikwang oppa pernah mengajak Shin Ji Eun makan ramyun didepan supermarket hanya dengan memakai topi. Meski mereka sempat dikejar oleh penggemar pria itu. Tapi kita? Kita hanya pergi kesungai han diatas jam 12 malam.” Ujar Rin Hyo panjang lebar dengan kedua mata yang sudah mengeluarkan air mata tanpa henti.

Cho Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya, hatinya seperti dihantam batu besar saat menatap raut wajah Rin Hyo saat ini. “Rin Hyo-ah, itu… kau tahu, kan jika aku—“

“Sudahlah. Aku tahu kau.” Rin Hyo melemparkan senyuman kecil pada Kyuhyun. “Maaf sudah membuatmu kesal hari ini. aku tidur dulu.” Ujar Rin Hyo pelan sebelum ia menyeret langkahnya menuju kamar. Meninggalkan Kyuhyun yang hanya bisa terdiam disana dengan tubuh kaku. Dingin, rasanya seperti disirami es.

Pria itu terdiam cukup lama disana, sebelum akhirnya menghela napasnya panjang. Kemudian berjalan keluar dari apartemen. Tidak mungkin ia bisa tahan tidur satu ranjang dengan istrinya, disaat seperti ini.

TBC-

Advertisements

114 thoughts on “Nothing Better [1/2]

  1. Anyeong aku reader baru, ijin buat baca ff ya 🙂
    Wah kyuhyun tu gimana sih, harusnya lebih perhatiin perasaannya hyo. Wah enak bgt ya hyo punya temen artis. Tapi hyo dari awal harusnya lgs ngomong aja sama kang haneul kalau dia udah nikah sama kyuhyun.

  2. Oh mygod..
    Jgn smpai mreka brdua perng dingin stelah brtngkar td.. aishh i i smua gara haneul sih >.< seandaninya luu gak nyela omongannya runhyo lui pst bkln tau klo dia udh pny suami..!@
    #very nice !

  3. Wahh kemarahan sekarang berbalik wkwkwk haneul masih cinta sana rin hyo waaah begini nih yang dicari wkwkwkw kyuhyun sekarang yg syok yaa sampe dingin begitu semoga cerita akhirnya seruu hahahaha mau baca cerita akhirnya

  4. sama sama salah paham… apa rin hyo mulai ragu dengan kyuhyun gara2 kyuhyun tidak pernah mengenalkan atau mengajak rin hyo keluar di depan publik… huh itu si ha neul juga, gangguin rumah tangga orang aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s