Unexpected Bond 1 – Prolog

unexpected bond

Author: Bella Eka

.

.

.

Dentuman musik dan gemerlap cahaya berbagai warna memenuhi pub menambah gairah puluhan orang yang tengah meliuk-liukkan tubuhnya di atas lantai dansa. Terdapat pula beberapa pengunjung berpakaian glamour memenuhi sofa merah yang terletak disebelah kanan ruangan. Tanpa melupakan botol-botol wine beserta gelasnya di setiap meja.

Pada panggung utama berdirilah seorang pria tampan menawan bersama headphone mengalungi lehernya. Kepalanya ikut mengangguk mengiringi beat DJ yang terpusat pada tangannya. Sesekali tersenyum kecil memandang sekilas orang-orang yang terlihat puas akan musiknya.

“Untukmu.”

Pria itu menoleh ke kiri, mendapati gadis berdandan modis kemudian menerima segelas wine seraya tersenyum manis membalas senyuman tipis gadis itu. “Gomawo,” ucapnya lalu kembali pada kesibukannya. Namun tangannya segera tergerak menahan gadis itu begitu ia akan pergi. “Tahan sebentar, temani aku disini.”

Sementara di tengah kerumunan pedansa semakin menggila, seorang gadis bergaun merah keluar menjauhi kumpulan menyesakkan itu.

“Kau kenapa?” tanya pria yang berusaha mengekorinya. Tanpa menghiraukan, gadis itu menghampiri bagian kanan pub, menghempaskan tubuhnya disamping pria lain yang sedang meneguk minumannya.

“Nam Joon-ah, ada apa dengan Ji Eun?” tanya pria yang baru saja menaruh gelasnya. Pria yang dipanggil Nam Joon itu menggedikkan bahunya singkat. Tak mengerti pula alasan mengapa Shin Ji Eun berubah gusar tanpa alasan.

“Kenapa aku merasa seperti kehilangan sesuatu? Tapi, apa itu?” gumam Ji Eun seiring kerutan di dahinya terukir. Masih mengatur napasnya yang tak beraturan.

“Dimana Woo Bin?”

Gadis itu menggedikkan kepalanya kearah pria yang tampak menghampiri mereka. Tak butuh waktu lama bagi seseorang bernama lengkap Kim Woo Bin itu duduk disamping gadis itu.

“Kyuhyun-ah, dimana Sam Rin Hyo?” tanya Woo Bin. Pria itu, Cho Kyuhyun, menunjuk keberadaan dimana DJ bersama seorang gadis diatas panggung tadi sembari mengatakan, “Disana, sepertinya sedang menemani Jong Suk.”

“Shin Ji Eun! Apa yang sebenarnya kau lakukan?” lanjut Kyuhyun risih pada gadis yang terus gusar membuka tas jinjing disampingnya.

“Aku harus kembali ke sekolah sekarang!”

“Untuk apa?” heran Woo Bin.

“Sepertinya ponselku tertinggal disana.”

“Dasar bodoh! Ayo kuantarkan.”

Park Nam Joon bergerak menghadang pergerakan Ji Eun. “Bersamaku saja.” Namun hal itu hanya membuatnya mendapat tatapan tajam gadis itu.

“Kim Woo Bin, cepatlah,” sergah Ji Eun seraya menghalau keberadaan Nam Joon.

Kyuhyun sontak memandang Nam Joon yang masih berdiri membatu. Hanya mampu menatap kekasihnya pergi bersama pria lain. Shin Ji Eun, gadis itu adalah kekasihnya. Tapi ia tak mampu berbuat apapun karena jika ia berusaha keras mencegahnya hanya akan memperrumit keadaan. Dan Ji Eun sangat membenci itu.

***

Shin Ji Eun melepas kaitan sabuk pengaman sesampainya di depan sebuah gedung sekolah. Menyecahkan kakinya keluar menapaki anak tangga menuju pintu utama.

“Perlu kuantarkan?”

Ji Eun berbalik, “Menurutmu apa gunamu berada disini?”

Woo Bin mendecak sebelum melompati pintu mobil sport miliknya yang tak beratap. Menyanding langkah Ji Eun yang hampir melalui pintu kaca yang telah terbuka otomatis. “Menyeramkan sekali berada di dalam gedung kosong bersama gadis kasar sepertimu.”

Tanpa menanggapi, Ji Eun hanya menghela napas. Gemelatuk sepatu mereka terdengar nyaring menggema. Suasana redup mendominasi lorong sekolah membuat jantung Ji Eun berdegup lebih cepat. Tiba-tiba langkah Ji Eun terhenti mendadak. Raut wajahnya berubah kaku. Tatapannya tertunduk dalam.

Dengan sigap Woo Bin meraih bahu gadis itu dan menuntunnya pelan. “Tidak ada apa-apa, pasti hanya perasaanmu saja.”

“Aku mendengar seseorang membalikkan selembar kertas,” rintih Ji Eun ketakutan. Woo Bin meneguk ludahnya berat. Inilah alasan ia menawarkan diri mengantar gadis ini. Phobia kegelapan juga keheningan. Karena jika sudah begitu maka khayalan Ji Eun akan membuat fantasi menyeramkan yang seringkali tak pernah ada.

“Ayo keluar saja, Woo Bin-ah. Ayo keluar dari tempat ini.”

“Yakinlah bahwa itu hanya perasaanmu saja. Kita sudah berada di tengah jalan, bukankah sia-sia bila kembali begitu saja?”

Kedua mata Woo Bin menyipit menyadari sebuah pintu ruangan masih terbuka. Perlahan menggerakkan Ji Eun melanjutkan langkah. Lalu tersenyum lega begitu menemukan seorang pria tengah fokus membaca buku dalam perpustakaan. “Lihat itu. Tak ada lagi yang harus kau takutkan.”

Perlahan Ji Eun mengangkat wajahnya. Senyuman miringnya terbentuk mendapati pria yang masih mengenakan seragam dalam ruangan itu bersama seiring decihan malas terlontar di bibirnya. Lantas menyambung langkahnya bersama Woo Bin.

Sedangkan pria dalam perpustakaan itu tak bergeming sedikitpun. Bahkan tidak menyadari keberadaan Ji Eun dan Woo Bin. Kelopak matanya bergerak kesana kemari mengurut deretan kalimat yang terpampang pada buku dihadapannya. Tak jarang bibirnya turut bergerak saat mencoba menghapalnya.

“Kikwang-ah, kau belum selesai?” tanya gadis yang muncul dari balik rak buku. Menghampiri dan mengambil tempat di hadapan Kikwang.

“Kau duluan saja.”

“Tapi kau belum selesai. Aku menunggumu saja.”

“Ini sudah malam. Lebih baik kau pulang.”

“Aku ingin pulang bersamamu.”

“Park Ji Yeon!” tajam Kikwang namun semakin membuat tatapan gadis itu memelas padanya. “Baiklah, ayo pulang sekarang.”

Kikwang mendesah kasar seraya merapikan alat tulisnya. Mengembalikan buku yang ia pinjam ke tempat asal, kemudian bergerak keluar perpustakaan bersama Ji Yeon. Sontak ia menatap Ji Yeon dikala gadis itu merangkul tangannya erat.

***

“Tak heran hasil tes kepribadianmu menunjukkan bahwa kau menderita memori jangka pendek,” celoteh Woo Bin asal.

“Menderita? Ya! Itu bukanlah penyakit yang sepatutnya kuderita. Bukankah setiap  orang juga memiliki kelemahan masing-masing?” balas Ji Eun tak terima bersamaan langkahnya menuruni anak tangga terakhir sebelum angkat kaki menaiki mobil Woo Bin.

“Tetap saja. Beruntung hanya ponselmu yang tertinggal, bagaimana jika kunci mobilmu, kunci rumahmu, atau aku yang merupakan kunci paling berharga dalam hidupmu?”

Lirikan tajam Ji Eun menusuk Woo Bin sebal. Namun ia dengan cepat mengalihkan perhatiannya ketika Woo Bin mengeluarkan celetukannya, “Siapa dia? Sepertinya sekolah berubah menjadi tempat termenyenangkan untuk menyantap ramyun.”

Ji Eun pun mengerutkan dahinya memperjelas pandangannya. Tampak seorang pria berjas almamater sekolah dengan cup ramyun panas yang terlihat mengepul di bawah sinar lampu. Pria itu berjalan semakin dalam melewati gerbang sekolah. Wajah datar pria itu terlihat sedikit terkejut begitupun kedua kakinya sontak berbalik arah saat pandangannya mengarah pada Ji Eun dan Woo Bin.

“Mengapa dia…” ucapan Ji Eun menggantung seiring kepalanya tertoleh kearah berlawanan. Sebaliknya menemukan Kikwang dan Ji Yeon baru saja keluar dari gedung sekolah.

“Sudahlah, ayo kita pergi,” ujar Woo Bin melajukan mobilnya.

***

Shin Ji Eun menyanggah dagunya bosan. Menyapu pandangannya mengitari heningnya ruang kelas. Seperti biasa seonsaengnim terus mengawasi jalannya ujian kali ini. Seluruh siswa penghuni ruangan itu tertunduk tekun. Namun keadaan berbeda dengan dirinya, Woo Bin yang duduk disampingnya, juga Kyuhyun yang berada tak jauh dari bangku mereka. Sama sekali tidak khawatir akan hasil ujian yang seharusnya mereka kerjakan sekarang.

Situasi yang sama menimpa Lee Jong Suk dan Sam Rin Hyo di kelas berbeda. Namun Rin Hyo masih mencoba mengutak-atik soal berdominasi angka tersebut. Walau tak sekalipun ia menghela napas lega, tapi desahan kasar karena tak sekalipun menemukan jawabannya.

Ponsel yang sengaja Ji Eun letakkan diatas meja menampakkan sebuah pesan baru. Segera Ji Eun menggeser layar itu, menampilkan jajaran alphabet berjumlah lima puluh. Berbanding lurus dengan jumlah soal yang diujikan. Ya, tak salah lagi bahwa semua itu adalah deretan jawaban ujian.

Sebelum menyalin hasil jawaban itu, terlebih dahulu Ji Eun meneruskan pesan itu pada Kyuhyun. Dan membuat Kyuhyun memeriksa ponselnya. Mengoreksi isi pesan Ji Eun dengan jawaban miliknya yang telah selesai awal tadi. Mengetikkan beberapa nomor yang memiliki hasil berbeda dan mengirimkannya kembali pada Ji Eun.

Selagi seonsaengnim menunduk, Ji Eun sibuk menghapus beberapa pesan berisi hasil jawaban dari pengirim yang berbeda. Setelah mendapat balasan Kyuhyun, Ji Eun tak juga langsung menghitamkan opsi lembar jawabannya. Melainkan menyebarkannya pada beberapa kontak bernama Kim Woo Bin, Sam Rin Hyo, dan Lee Jong Suk. Yang membuat ketiga ponsel milik sahabatnya itu bergetar bersamaan.

Shin Ji Eun, Kim Woo Bin, Sam Rin Hyo, Cho Kyuhyun, dan Lee Jong Suk merupakan lima orang siswa terpopuler di sekolah yang menjalin tali persahabatan semenjak bangku kelas satu di TJ Junior High School hingga saat ini menginjak pertengahan kelas akhir di TJ Senior High School.

Bisa dikatakan bahwa kelima siswa tersebut adalah mereka yang paling disegani oleh para siswa lainnya. Dengan status sebagai pewaris pemilik perusahaan termasyhur di Korea Selatan membuat mereka mendapat perlakuan istimewa itu. Namun semua itu bukan karena keinginan mereka pribadi, hanya terjadi begitu saja secara alamiah. Tanpa pemaksaan ataupun penekanan.

Disamping itu perusahaan milik keluarga mereka pula yang memegang investasi terbesar di TJ Group, perusahaan induk TJ Junior High School dan beberapa jenjang pendidikan tersohor lainnya. Tapi tidak dengan Sam Rin Hyo, karena gadis itu adalah pewaris TJ Group sendiri.

Waktu pengerjaan ujian telah berakhir. Dering penanda waktu makan siang telah berdering. Seluruh siswa menyerahkan lembar jawaban mereka pada seonsaengnim. Setelah itu menyebar menuju tujuan masing-masing.

Shin Ji Eun mendekati lelaki dengan nametag Jun Tae Pyung yang masih tinggal di bangkunya. Seolah memang menanti kedatangan Ji Eun padanya, lelaki itu menatap Ji Eun penuh harap.

“Kajja,” ajak Ji Eun disambut senyuman merekah Tae Pyung. Membuat Woo Bin yang berada di belakang Ji Eun mendecih remeh. Dan Kyuhyun memandang rendah Tae Pyung.

Seakan berjalan bersama selebriti legendaris, Tae Pyung melangkah dengan kepala menengadah angkuh. Dada membusung tegap dan senyuman penuh percaya diri. Begitu bangga melewati waktu bersama siswa populer yang selalu menjadi pusat perhatian. Karena kapanpun, dimanapun, dan apapun yang mereka lakukan akan selalu menjadi topik menarik baik dalam perbincangan positif maupun negatif.

Mereka sampai di cafeteria sekolah. Tepat seperti dugaan biasanya, tidak ada yang menghalangi jalur jalan mereka. Meja dengan kursi berjumlah lima tersedia penuh hanya bagi mereka. Sekali lagi tak ada peraturan tertulis ataupun mengikat. Hanya kesadaran masing-masing siswa yang menyebabkan semua ini terlaksana.

Ji Eun, Woo Bin, dan Kyuhyun duduk mengambil tempat. Ji Eun berada di tengah dengan Woo Bin dan Kyuhyun mengapitnya. Sedangkan Tae Pyung diharuskan mengambil kursi lain untuk dirinya, karena dua kursi lainnya diperuntukkan untuk Rin Hyo dan Jong Suk yang belum datang.

Tak perlu menunggu lama Rin Hyo dan Jong Suk tampak. Kedua orang itu tiba tanpa keterkejutan mendapati teman asing yang tidak biasa bersama mereka. Sudah tak ganjil lagi akan terjadinya situasi seperti ini, bahkan telah menjadi jadwal tetap setelah pelaksanaan ujian. Seseorang yang bermurah hati membagikan hasil jawabannya pada Ji Eun akan mendapatkan privilege bersama mereka selama lima puluh menit lamanya. Berjumlah sama dengan banyaknya soal ujian. Namun waktu juga dapat dikurangi sesuai total jawaban yang salah. Dihitung melalui beberapa nomor yang memiliki jawaban berbeda dengan Kyuhyun. Karena tidak hanya tampan dan menarik hati setiap perempuan yang melihatnya, Kyuhyun juga memiliki otak yang paling cerdas bukan hanya diantara kelima dari mereka, namun juga diantara siswa seangkatan mereka. Tapi sayangnya ia terlalu malas untuk mengetikkan setiap jawaban pada ponsel maka dari itu ia hanya akan bersedia mengoreksi setiap hasil yang dikirimkan oleh Ji Eun.

Woo Bin menyetel stopwatch yang diatur habis setelah empat puluh tiga menit begitu Rin Hyo dan Jong Suk terduduk sempurna. “Kau lihat, empat puluh tiga menit. Karena kau memberi tujuh jawaban salah maka kau kehilangan tujuh menitmu bersama kami,” ujar Woo Bin lalu meletakkan ponselnya diantara dirinya dan juga Tae Pyung dihadapannya.

Arasseo,” jawab Tae Pyung.

Chingu-ya, terima kasih telah berbaik hati membagi jawabanmu pada kami,” ujar Rin Hyo seraya tersenyum tulus.

“Terima kasih juga karena menyelipkan tujuh jawaban yang salah agar kami memiliki alasan untuk mengurangi hak waktumu,” timpal Kyuhyun dingin membuat Rin Hyo melayangkan tatapan tajam padanya.

“Selamat, kau menjadi pengirim pesan jawaban tercepat kali ini.” Sahutan Woo Bin disertai seringaian kecilnya. “Berapa jumlah yang kau terima tadi, Ji Eun-ah?”

Ji Eun menggerakkan bola matanya ke kanan seakan mengingat. “Entahlah, aku tidak sempat menghitungnya.”

Woo Bin terkekeh jahil sembari berkata, “Woah sepertinya aku akan iri pada keberuntungan yang memihakmu, chingu-ya.”

Tae Pyung hanya mampu tersenyum kaku. Merasa sama sekali tidak nyaman namun berada di meja yang sama bersama kelima siswa terpopuler merupakan kebanggaan tersendiri baginya.

“Tae Pyung-ah, kau tahu apa yang biasanya dilakukan oleh seseorang yang berhasil mendapatkan privilege kami, kan?” Jong Suk yang sedari awal terdiam mulai membuka suara.

“Ah, iya. Apa yang ingin kalian pesan?” tawar Tae Pyung cepat.

Chocolate float,” jawab Ji Eun. Woo Bin pun menimpali, “Samakan saja dengannya.”

“Aku… vanilla latte.”

“Samakan dengan Rin Hyo,” ujar Kyuhyun menyambung ucapan Rin Hyo.

“Aku juga.” Jong Suk menutup pemesanan dan membiarkan Tae Pyung berlalu menuju pusat cafeteria.

Sambil menunggu pesanan, Ji Eun menyanggah dagu. Arah pandangnya menyadari keberadaan Nam Joon yang tengah melintasi meja mereka. Gadis itu hanya menatap pria berstatus kekasihnya datar tanpa ekspresi. Berbeda dengan Nam Joon yang seolah ingin menyampaikan sesuatu melewati kedua matanya.

Tiba-tiba Tae Pyung datang dengan gugup tanpa menyadari gerak langkah Nam Joon berubah pelan. Menyebabkan enam gelas minuman diatas nampan yang ia pegang tertumpah membasahi sebagian pakaian Nam Joon dan Jong Suk yang tengah duduk tepat didekat Tae Pyung berdiri. Sontak Ji Eun, Woo Bin, Rin Hyo, dan Kyuhyun membulatkan kedua mata mereka.

YA! Kau buta, hah?!” pekik Nam Joon geram membuat Tae Pyung semakin gelagapan. Segera ia melepas jas almamaternya guna menyeka tumpahan minuman yang mengenai pakaian Jong Suk.

Mian, mianhae. Aku tidak bermaksud melakukan ini,” sesal Tae Pyung bercampur ketakutan luar biasa hingga tangannya bergetar.

Jong Suk melepas almamaternya yang basah. Bahkan minuman itu pun menyusup memasuki kemejanya. “Gwenchana, aku masih memiliki seragam cadangan di loker,” ucap Jong Suk tenang walaupun sinar matanya tersirat kesal.

Woo Bin menyambar jas Jong Suk lalu melemparnya kearah Tae Pyung sembari berucap, “Sebagai gantinya kau harus mencucinya. Dan kau, Park Nam Joon. Ikut kami.” Kemudian meraih ponselnya sebelum menyusul langkah Jong Suk yang beranjak lebih dulu menuju tempat loker. Rin Hyo menghela napas kasar sebelum bangkit dari duduknya. Sedangkan Kyuhyun hanya mengulas senyuman miring sebagai reaksi.

Ji Eun bergerak paling akhir. Dengan menyaku kedua tangan ia menghampiri Nam Joon. Membalas tatapan ragu pria itu dengan menatapnya tajam seraya menggeleng pelan. Lalu berbalik melangkah melalui jalan yang telah terbelah diantara kerumunan para siswa yang entah sejak kapan banyak berkumpul. Membuatnya mendapati bahwa ternyata Woo Bin masih berdiri tak jauh menunggunya. Pria itu menujukan senyuman remehnya pada Nam Joon. “Tunggu apa lagi? Kau tidak dengar ucapanku?”

Pandangan Ji Eun teralih ke kiri saat merasakan seseorang familiar di matanya. Dan benar saja, dia adalah pria yang ia temukan sendirian dalam perpustakaan kemarin. Meski pria itu berada di sekolah yang sama dengannya namun tak berarti ia mengenalnya. Karena Ji Eun beserta keempat sahabatnya yang lain sama sekali tidak mempedulikan segala hal yang tak berkaitan dengan mereka.

Tak berlangsung lama, Ji Eun mengembalikan tatapannya ke depan. Disambut Woo Bin berjalan sejajar dengannya.

“Kau mengenalnya?” tanya Ji Yeon penuh selidik. Kerutan di kening Kikwang semakin terbentuk jelas seraya menggedikkan bahu. “Hanya sekadar tahu.”

“Tapi dia, mengenalmu?”

“Entahlah. Kurasa tidak. Mungkin hanya kebetulan saja.”

***

“Bisakah kalian keluar sebentar?”

Seluruh siswa yang berada dalam kelas lekas menuruti ucapan Woo Bin. Mengosongkan kelas untuk dikuasai kelima orang yang selalu mereka kagumi juga takuti. Kyuhyun menggiring Nam Joon menduduki sebuah kursi. Ji Eun, Woo Bin, Kyuhyun, Rin Hyo, dan Jong Suk berdiri mengitarinya.

“Ini. Kau juga harus mencucinya.”

Nam Joon menatap tak percaya kemeja putih ternodai minuman milik Jong Suk yang dilemparkan Woo Bin padanya. “Aku… haruskah melakukannya juga?”

Woo Bin mendecih malas bersamaan tatapannya menajam. “Kau berharap mendapat perlakuan spesial dari kami?”

Sementara Jong Suk hanya memutar bola matanya jengah menatap Rin Hyo yang menghela napas. Membiarkan Woo Bin dan teman-teman lainnya bermain sesuka hati. Karena seperti itulah mereka terbiasa.

“Bukankah aku telah menjadi bagian dari kalian?” Ucapan Nam Joon tersurat penuh keraguan.

“Bagian dari kami? Tch!” Lagi-lagi Woo Bin mendecih.

Shin Ji Eun maju selangkah mendekati Nam Joon. Kedua tangannya bersendekap arogan. “Kau telah menerima tugasmu. Jadi sekarang pergilah! Besok kau sudah harus menyerahkan kemeja itu pada Jong Suk.”

“Ji Eun-ah, apa maksud dari semua ini? Bagaimana bisa kalian memperlakukanku seperti ini?”

“Pergilah!”

“Kau tidak mendengar ucapan Ji Eun tadi? Atau kau masih ingin tetap tinggal bersama kami?” Kyuhyun menimpali.

“Apakah kalian bersikap seperti ini karena insiden tadi? Tapi kalian tahu sendiri bukan? Bahwa itu semua karena si bocah payah Tae Pyung. Karena tangannya yang lemah tak mampu menjaga keseimbangan minuman diatas nampannya. Tapi kenapa aku?”

Aigoo, sepertinya kau benar-benar ingin terus bersama kami, ya? Baiklah kalau begitu. Lepaskan dasimu dan gunakan untuk menyeka sepatuku. Tidakkah kau melihat kilauan sepatuku sudah terlihat kusam sekarang?” titah Kyuhyun seraya mengangkat sebelah kakinya di bibir kursi yang Nam Joon gunakan mengundang tawa keras Woo Bin. “Ide bagus, Kyu.”

Nam Joon menggigit bibir bawahnya kesal. Sangat geram hingga terasa ingin meledak. Dengan gerak kasar ia bangkit dari duduknya, membuat Kyuhyun menurunkan kakinya kembali. Ia memandang Ji Eun lekat, namun hanya tatapan datar yang dilayangkan gadis itu padanya. Namun tajam, sangat kejam. Tapi bagaimanapun dirinya tidak mampu melawan kelemahannya dibawah pesona gadis itu. Shin Ji Eun terlalu berharga untuk dilepaskan.

Woo Bin mendecak tiga kali dikala Nam Joon melepas dasinya cepat. Kyuhyun bergerak mendaratkan tubuhnya serta duduk dengan menyilangkan kakinya. Nam Joon berlutut, mengusap sepatu Kyuhyun seraya berulang kali mendesah kasar. Membuat Sam Rin Hyo mengalihkan pandangannya, gadis itu masih memiliki jiwa kemanusiaan terbilang tinggi diantara mereka.

Shin Ji Eun sedikit merunduk, menyentuh dagu Nam Joon agar menengadah padanya. Sebelah alis gadis itu terangkat bersamaan raut wajahnya ia tampakkan memelas. “Kau tahu seberapa rendahnya harga dirimu saat ini, hm?”

“Asal kau tahu saja, Ji Eun-ah. Aku melakukan ini hanya untukmu.”

Ya! Kenapa kau hentikan kegiatanmu? Cepat lanjutkan!” sela Kyuhyun.

“Hentikan dan bangunlah. Lagipula kau membuat dirimu semakin menjijikkan bagiku.” Ji Eun membuang kasar dagu Nam Joon di tangannya. Kemudian berlalu pergi bersama keempat sahabat lainnya meninggalkan Nam Joon seorang diri dalam kelas.

***

Lee Kikwang memandang suasana malam hari di luar kaca mobil. Memeriksa arlojinya di pergelangan tangan kanan yang menunjukkan pukul sepuluh malam kemudian mengembalikan tatapannya menikmati keadaan kota Seoul yang tak pernah sepi.

Perhatian lelaki itu seketika tertarik pada sebuah kedai oranye di tepi jalan. Lebih tepatnya pada seorang gadis yang terlihat duduk dalam kedai itu. Kikwang memicingkan kedua matanya mencoba memastikan. Kebetulan sekali perutnya dirasa lapar, ia pun meminta paman yang tengah mengemudi untuk menghentikan mobilnya.

Kikwang mengenakan mantel jaketnya sebelum melangkah keluar. Membuka tirai transparan kedai itu begitu ia sampai, lalu mengambil tempat di salah satu meja kosong.

Seorang ahjumma datang menghampirinya. Menanyakan sejumlah makanan yang ingin ia pesan.

“Dua porsi kimbap, dan kimchi untuk dua orang pula.”

Ahjumma itu sedikit mengernyit heran sebelum mengangguk seraya menulis pesanan itu dalam catatan di tangannya. “Sedang menunggu seseorang, anak muda?”

Kikwang tersenyum tipis sembari menggeleng pelan. “Ani, ahjumma.”

Soju?”

“Tidak. Air mineral saja,” ujar Kikwang.

Disaat wanita pemilik kedai itu hendak berbalik, Kikwang menghentikannya. “Ahjumma, bisakah kau meletakkan semua pesananku di meja sebelah sana? Di tempat gadis yang duduk sendirian itu,” tunjuk Kikwang bersamaan telunjuknya mengarah pada tempat seorang gadis dengan pandangan kosong yang hanya memiliki dua botol soju di hadapannya.

“Ah, jadi inilah alasanmu memesan semuanya sebanyak dua porsi? Baiklah, tunggu sebentar.”

Kamsahamnida.”

Kikwang mengeratkan mantelnya. Udara malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Namun gadis yang sedang sendirian itu terlihat tak masalah meski hanya memakai jumper putih melekat di tubuhnya.

Tak salah lagi gadis itu adalah Shin Ji Eun. Benar Kikwang tak mengenal gadis itu tapi setidaknya mereka berada dalam satu sekolah. Membuat hubungan pertemanan lebih banyak akan lebih baik, bukan?

Lamunan Shin Ji Eun terbuyarkan seketika ahjumma menaruh beberapa porsi makanan serta minuman diatas meja yang ia tempati. Merasa terdapat sesuatu yang tidak beres, Ji Eun melontarkan protesnya. “Ahjumma…”

Namun kedatangan seorang lelaki secara tiba-tiba membuatnya mengurungkan niatnya. Segera saja lelaki itu mendaratkan tubuhnya di kursi dihadapannya.

“Kau yang memesan semua ini?”

“Sepertinya kau tak tampak asing akan keberadaanku.”

“Kutanya padamu, kau yang memesan makanan ini?”

“Bukankah kau sudah memiliki jawabannya?”

Ji Eun mendesah kasar. Bagaimana bisa dia bersikap menyebalkan padanya. “Kau tidak melihat banyaknya meja kosong disana? Ahjumma!” Ji Eun melambaikan tangannya agar sang pemilik kedai melihatnya. “Bisakah ahjumma memindahkan semua makanan ini di meja lain saja?”

“Tapi dialah yang memintaku menempatkannya disana. Memangnya ada apa? Kalian tidak saling mengenal?”

Ji Eun sontak menatap tak percaya Kikwang yang sibuk melahap kimchi. Gadis itu meneguk minuman gelas terakhirnya lantas bangun berdiri meninggalkan satu botol soju yang masih utuh dan satunya lagi masih berisi separuh.

“Aku telah memesankan masing-masing seporsi untukmu. Setidaknya duduk dan makanlah sedikit,” ucap Kikwang disela kegiatannya.

Tanpa berbalik, Ji Eun menghentikan langkahnya. “Aku tidak lapar dan sama sekali tidak membutuhkannya. Ahjumma, berapa banyak yang harus kubayar?” tanyanya seiring kedua kakinya kembali bergerak.

“Tidak perlu. Pria itu sudah membayar semuanya. Apakah kalian sedang dalam situasi bertengkar? Ngomong-ngomong, kekasihmu tampan sekali.”

“Kekasih?” Ji Eun menghela napas kasar seraya memutar bola matanya malas. “Bahkan aku tidak tahu namanya. Sebut saja berapa uang yang harus kubayar atas tiga botol soju tadi, ahjumma.”

“Dua ribu won.”

“Baiklah kalau begitu, kamsahamnida.”

Ji Eun merogoh tas jinjingnya, membuka sebuah dompet dan mengambil selembar uang kertas bertuliskan lima ribu won di dalamnya. Gadis itu menghampiri meja Kikwang tadi setelah memasukkan dompetnya kembali. Meletakkan selembar uang ditangannya dengan sedikit menggebrak meja Kikwang sembari berucap, “Ambil saja kembaliannya.”

“Namaku Lee Kikwang. Kau dengar?” pekik Kikwang sengaja agar Ji Eun yang hendak membuka tirai keluar kedai mendengarnya namun gadis itu tak menggubris seakan tak mendengar apapun.

.

.

To be Continued

Advertisements

44 thoughts on “Unexpected Bond 1 – Prolog

  1. Wahhh daebakk , keren ceritanya
    Berasa ky the heirs kim woo binnya wkwk
    Jd rin hyo sm jong suk keliatan dkt bgt , dan kyu disini yaampun evil bgt dah ah haha
    Ditunggu part 1nya ka 🙂 keep fighting dan gomawo uda dipublish 🙂

  2. kereeeeennnnnnn 😉
    bakalan seru ini ceritanya
    tapi ko disini cast yg dominan di sebut ji eun ya….. bkan rin hyo…….???
    trus knapa ko hyo deketnya ma jong suk yeaa..???
    bukan ama kyu….
    jangan sampe hyo ga dipasngin ma kyu yaaaa…. 🙂

    baru prolog’y aja dah daebaaakkk…..
    ditnggu part 1 dan seterussnya ok…. 😉 🙂

  3. Keren keren. Ini castnya banyak yaa.
    Tp kok hyo lebih ke jong suk sih. Knp gk ke kyu.
    Padahal aku rasa hyo sm kyu feelnya itu dapat bgt.
    Jgn smpai kyu sm ji yeon. Gk relaaaaaa.
    Dan knp lebih dominan ke ji eun ya ??
    Ditunggu kelanjutannya^^

  4. emh.. main castnya ji eun ma kikwang, tek kira rin hyo ama kyu, tp gk papa deh ceritanya keren apalagi ada woo bin nya 😀

  5. ahh mnrt aku ini bahasanya ky muter” gt jd sulit buat paham wktu jelasin klo org itu siapa” mksdnya castnya kn bnyk jd mgkn bs lgsg sebut aja gt *sorry* .. Rinhyo pnya peri kemanusiaan tp blm bertindak, greget sm tingkahnya mrk .. udh nebak sih klo maincastnya Jieun soalnya authornya kn yg biasa buat ff jieun-kikwang .. wkwk maaf klo komentarnya nyelekit cm pendapat aku aja sih .. semangat buat next partnyaa … aku msih penasaran sm kyu-rinhyo .. tp situ rin dket sm jongsuk..

  6. Oh main cast nya ji eun..
    Kirain rinhyo..mmmm apa ntr rinhyo ma kyuhyun ga???
    Kikwang ttp ya ma ji eun..
    Makanya rinhyo jg donkzz thor..
    Please..
    Hhehehhe..
    Semangat thor..

  7. kirain cast utama’a kyuppa sama rin hyo tp bukan, hahh..
    tpp gk pp kok ttp seru tp kyuppa knp evil bngt bngt bngy sih sifat’a huaaa.. klo rin hyo sma jong suk kyuppa sama aq aja.. aq tdima dngn lapang dada 😉

  8. sebenarnya nam joong itu pacaran ji eun bukan sih kok sikap nya gitu ke pacar nya? kikwang kykny dah ada rasa ya sama ji eun…. tpi ji eun masih dingin….

  9. Kerennn.. Cerita baru..
    Tpi sdikit engga dpet feelnya pas scene di sekolahannya. Engga tau knpa kurang greget. Apa mungkin masih part 1 kali yah jdi masih pengenalan masalah belum yg greget”nya. Okedeh author~nim aku tunggu kelanjutannya yah 🙂

  10. Wahh, jadi sekolah ini sekolah para chaebol ya ? Kikwang juga org tajir deh kayaknya, tadi kan dia di anterin pake mobil. Bener gak sih ?! 😀
    Penasaran ji eun menerima nam joon jadi pacarnya, krna alasan apa ? Krna kayaknya ji eun gak ada rasa deh sama nam joon.

    Umm oke, dan yang buat aku penasaran juga, siapa cewe yg ngegelayutin lengannya kikwang ??? Bakalan jadi org ketiga kah ?

    Dari semua ff cast ji eun kikwang, aku perhatiin semua karakternya sama ya ? Ji eun emang karakternya di bikin datar, dingin, misterius ya chingu ? 😀 hhihii banyak bnget ya pertanyaanku, mianhae 🙂

    Aku tungguin part selanjutnya yaa ^^ fighting !!

    • hmm kalo buat penempatan karakter sejauh ini lebih ke karakter asli chingu ._. hehe. kikwang emang anaknya kaya gitu, ji eun kurang lebih ya gini ini ._.
      gapapa kok aku lebih suka komentar kaya gitu 😀 terimakasiih ^^

  11. Wohohooo…berasa kayak lg ntn the heirs, aku kira bakal rin hyo yang jd main cast nya..
    Tp gag papa dehh 🙂
    Ji eun pcran sm nam joon ??
    Tp knp bnci bgt, malah gag dianggep gitu ???

  12. Wahh ceritanya seru nih.. Keren bgt.. Kayaknya itu TJ school sekolah elit ya ah jadi inget ama the heirs kayaknya saeng terinspirasi ama the heirs ya..hmmm kalo gitu bakalan aku ikuti terus ccritanya, brasa nostalgia ama drakor the heirs wkkk..
    Hwaitingg ^^

  13. seru bgt kak ceritanya..
    Aku suka bgt am karakter ji eun disini, benar2 penuh misteri dan ketertarikan..
    Lima sekawan juga..aku rasa mereka punya bnyk misteri..
    Pnsaran, knp ji eun bisa jadian am nam joo? Pdahal ji eun kan ndak suka..

  14. aku suka main castnya ji eun gikwang 😀
    dari semua ff ji eun gikwang aku paling suka yang ide cerita di unexpected bond ini
    bakalan lanjut baca ampe akhir 😀

  15. woaaah suka banget sama konsep & ceritanya. keren gitu.
    kyuhyun emang otaknya encer bgt ya. di woobin cocok bgt kalo punya watak kayak gini. rinhyo semoga bisa jadi penetral ya, jadinya bisa agak direm gitu. tp apa pun itu, tetel tertarik bgt sama ff ini. semangaaaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s