Unexpected Bond 2

unexpected bond

Author: Bella Eka

A/N: Fokusnya ke jalan cerita ya ^^

.

.

“Makan malam sudah disiapkan, Nona.”

Ji Eun menatap bibi paruh baya yang berdiri sopan disamping ranjangnya, “Eo,” jawabnya singkat kemudian kembali pada kegiatannya memainkan ponsel. Bola matanya mengurut percakapan kelompok bersama keempat sahabat lainnya.

Woo Bin: Teman-teman tersayangku, apakah kalian sudah makan?

Kyuhyun: Menjijikkan!

Jong Suk: Apa? Kau ingin menraktir kami, Woo Bin-ah?

Rin Hyo: Aaaaak! Ayo kita pergi bersama! Malam ini sangat membosankan.

Woo Bin: Dimana Shin Ji Eun? Ji Eun-ah, kau dimana?

Jong Suk: Kau benar-benar akan menraktir kami?

Woo Bin: Jika Shin Ji Eun muncul, aku akan melakukannya.

Ji Eun tersenyum kecil kemudian menggerakkan tangannya membalas.

Ji Eun: Ada apa?

Jong Suk: Ini dia.

Rin Hyo: Sepertinya Woo Bin sedang dalam keadaan mood yang baik. Ayo makan bersama ^^

Ji Eun: Benarkah?

Woo Bin: Apa kau sedang sibuk?

Kyuhyun: YA! Kau hanya bertanya pada Ji Eun? Kau tidak ingin tahu apakah kami sibuk atau tidak?

Woo Bin: Kulihat Jong Suk dan Rin Hyo sangat bersemangat.

“Nona, apakah lebih baik kuantarkan makanan untukmu?”

Ji Eun memandang bibi yang baru ia sadari masih tetap tinggal. Menghela napas pendek sebelum mengucap, “Tidak perlu. Aku akan turun sebentar lagi. Bibi boleh pergi.” Wanita paruh baya itupun segera membungkuk singkat lalu berjalan keluar dari kamar Ji Eun. Sebelum menepati perkataannya, terlebih dulu Ji Eun melanjutkan kegiatannya.

Ji Eun: Sepertinya bibi telah menyiapkan banyak makanan. Kupikir lebih baik aku makan di rumah saja.

Rin Hyo: Banyak makanan? Orang tuamu datang?

Ji Eun: Entahlah.

Woo Bin: Sayang sekali.

Jong Suk: Wae? Kau bilang hanya menunggu Ji Eun muncul, bukan? Tidak seharusnya kau membatalkannya.

Woo Bin: Tidak akan menyenangkan bila salah satu diantara kita menghilang. Kekeke.

Kyuhyun: Omong kosong.

Woo Bin: Mwo?

Kyuhyun: Kenapa kita tidak langsung saja pergi ke rumah Ji Eun bersama-sama. Bukankah disana sedang ada banyak makanan?

Percakapan tidak penting seperti itu tampaknya akan terus berlanjut sepanjang malam. Ji Eun memutuskan meletakkan ponselnya. Beranjak menuju lantai dasar tepatnya ke ruang makan. Jantungnya berdebar berharap eomma dan appa benar-benar datang. Karena biasanya tingkah bibi yang seperti itu menandakan kehadiran mereka.

Namun sepertinya dugaan membahagiakan itu salah. Ia hanya mendapati sebuah piring telungkup bersama alat makan lainnya di sisi benda putih itu. Berjajar pula berbagai lauk pauk beraneka macam. Dua jenis minuman pun tersedia, yaitu air mineral juga susu cokelat. Sayangnya semua itu hanya tertata rapi pada satu sisi di ujung meja. Membuat Ji Eun luar biasa kecewa hingga terulas senyuman miringnya.

Ahjumma,” lirihnya.

Wanita yang tengah menarik sebuah kursi mempersilahkan Ji Eun duduk dengan cepat menghampiri gadis itu. “Ada apa, Nona?”

“Aku baru ingat bahwa tadi sudah terlalu banyak makan bersama teman-teman. Kurasa perutku akan benar-benar meledak jika aku memaksakannya. Mian, Kim ahjumma dan bibi lainnya bisa membawa pulang semua ini jika saja kalian mau.”

“Tapi, Nona. Bukankah kau dan teman-temanmu tadi baru saja membicarakan tentang makan malam?”

Ji Eun mendesah kasar menatap Bibi Kim sembari mengernyit. “Ahjumma mengintip lagi? Aigoo. Mengesalkan sekali!” rutuk Ji Eun sementara Bibi Kim dibuatnya terkekeh kecil.

“Tapi perutku masih terasa penuh. Percayalah. Lagipula aku harus pergi ke suatu tempat sekarang.”

“Setidaknya makanlah sedikit. Kami sudah bekerja keras membuatkanmu masakan ini,” ujar Bibi Kim lembut bersamaan ia membalikkan piring dan menaruh segumpal nasi diatasnya.

Ji Eun memutar bola matanya malas. “Aku sedang tidak ingin. Ahjumma pasti lelah, aku yakin kalian menghabiskan banyak tenaga untuk hari ini. Lebih baik kalian beristirahat saja dulu sembari memakan semua itu.”

***

Shin Ji Eun meminta ahjussi pengemudi menghentikan mobilnya. Menatap kedai oranye pinggir jalan yang sengaja ia singgahi. Setelah menghembus napas singkat, ia beranjak keluar. Memasuki kedai itu dengan membelah tirai transparan yang terbuat dari plastik tebal. Kemudian mengambil tempat di meja terdekat.

Tak lama seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan membawa buku kecil beserta pena di tangannya. “Kau datang lagi. Kenapa? Sedang ada masalah?”

Ji Eun tersenyum tipis lalu menjawab, “Tidak. Memangnya, apakah aku boleh kesini hanya jika aku sedang punya masalah?”

“Kalau begitu, kau harus memesan sesuatu selain soju.”

“Ahjumma, kedengarannya seperti kau tengah mengkhawatirkanku.”

Wanita paruh baya itu mendecak seraya menggeleng pelan. “Kau masih menjadi seorang pelajar. Tidak baik untukmu terlalu banyak mengonsumsi minuman seperti itu. Disamping itu kau juga harus menyetir, bukan? Bagaimana perasaan orang tuamu jika mereka tahu apa yang kau lakukan sekarang? Aku memberi nasihat padamu karena aku juga seorang ibu. Aku memiliki putra yang berusia sama denganmu sekarang.”

Ji Eun menatap wanita itu dengan sorot mata yang sulit sekali diartikan. Sangat lekat namun segera mendecih begitu kesadarannya kembali. “Kukira tak ada lagi sosok seorang ibu yang sangat tulus sepertimu, ahjumma. Tenang saja aku tidak menyetir setelah ini.”

“Apa maksudmu?”

Ji Eun menarik napas dalam lantas ia hembuskan perlahan. Tiba-tiba senyuman jahilnya terbentuk. “Ahjumma, tadi kau bilang seorang putra? Kau memiliki putra yang seusia denganku? Tidakkah kau ingin menjodohkannya denganku? Aku ingin kau menjadi ibuku juga.”

Ucapan Ji Eun membuat ahjumma mendesis tak percaya. “Tidak akan. Siapa yang mau merelakan anaknya bersama gadis pemabuk sepertimu?”

Aigoo. Kejam sekali,” gumam Ji Eun disambung decakan tiga kali.

“Sudahlah. Apa yang ingin kau pesan?”

“Dua botol soju.”

“Lalu?”

“Tidak ada lagi.”

“Makanannya?”

“Tidak, terimakasih.”

Wanita itu mendesah kasar kemudian berkata, “Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar.”

Ji Eun mengulum tawa setelah kepergian ahjumma pemilik kedai. Inilah yang membuatnya selalu nyaman berada disini. Walau fasilitasnya tidak sebanding dengan tempat-tempat berkelas yang kerap ia kunjungi, namun tak ada yang bisa mengalahkan suasana serta kehangatan yang tercipta di tempat ini.

Selain itu, tidak banyak orang yang singgah. Tak banyak pula yang mengenalnya. Mungkin hanya ahjumma, itupun hanya mengenal Ji Eun sebatas seorang gadis pemabuk seperti yang dikatakannya tadi. Tentu saja, kebanyakan orang disini bukanlah mereka yang gemar mengikuti perkembangan perusahaan. Membuatnya mampu menghabiskan waktu pribadi yang benar-benar berkualitas.

“Silahkan,” ujar ahjumma seraya meletakkan dua botol soju dan segelas bening kecil sesuai pesanan Ji Eun.

Kamsahamnida.”

Ji Eun membuka penutup botol dengan alat yang juga disediakan. Mengalirkan isinya dalam gelas kecil lalu meneguknya. Ia mendesis kecil merasakan sensasi dalam rongga mulutnya. Tangannya terus tergerak mengisi gelas miliknya setiap saat benda itu kosong meski pandangannya terarah lurus mengawang.

Lamunan Shin Ji Eun terbuyarkan seketika ahjumma menaruh beberapa porsi makanan serta minuman diatas meja yang ia tempati. Merasa terdapat sesuatu yang tidak beres, Ji Eun melontarkan protesnya. “Ahjumma…”

Namun kedatangan seorang lelaki secara tiba-tiba membuatnya mengurungkan niatnya. Segera saja lelaki itu mendaratkan tubuhnya di kursi dihadapan Ji Eun.

“Kau yang memesan semua ini?”

“Sepertinya kau tak tampak asing akan keberadaanku.”

“Kutanya padamu, kau yang memesan makanan ini?”

“Bukankah kau sudah memiliki jawabannya?”

Napas Ji Eun terlontar kasar. Bagaimana bisa dia berani bersikap menyebalkan padanya. “Kau tidak melihat banyaknya meja kosong disana? Ahjumma!” Ji Eun melambaikan tangannya agar sang pemilik kedai melihatnya. “Bisakah ahjumma memindahkan semua makanan ini di meja lain saja?”

“Tapi dialah yang memintaku menempatkannya disana. Memangnya ada apa? Kalian tidak saling mengenal?”

Ji Eun sontak menatap tak percaya lelaki itu, yaitu Kikwang yang sibuk melahap kimchi. Gadis itu meneguk minuman gelas terakhirnya lantas bangun berdiri meninggalkan satu botol soju yang masih utuh dan satunya lagi masih berisi separuh.

“Aku telah memesankan masing-masing seporsi untukmu. Setidaknya duduk dan makanlah sedikit,” ucap Kikwang disela kegiatannya.

Tanpa berbalik, Ji Eun menghentikan langkahnya. “Aku tidak lapar dan sama sekali tidak membutuhkannya. Ahjumma, berapa banyak yang harus kubayar?” tanyanya seiring kedua kakinya kembali bergerak.

“Tidak perlu. Pria itu sudah membayar semuanya. Apakah kalian sedang dalam situasi bertengkar? Ngomong-ngomong, kekasihmu tampan sekali.”

“Kekasih?” Ji Eun menghela napas seraya memutar bola matanya malas. “Bahkan aku tidak tahu namanya. Sebut saja berapa uang yang harus kubayar atas dua botol soju tadi, ahjumma.”

“Dua ribu won.”

“Baiklah kalau begitu, kamsahamnida.”

Ji Eun merogoh tas jinjingnya, membuka sebuah dompet dan mengambil selembar uang kertas bertuliskan lima ribu won di dalamnya. Gadis itu menghampiri meja Kikwang tadi setelah memasukkan dompetnya kembali. Meletakkan selembar uang ditangannya dengan sedikit menggebrak meja Kikwang sembari berucap, “Ambil saja kembaliannya.”

“Namaku Lee Kikwang. Kau dengar?” pekik Kikwang sengaja agar Ji Eun yang hendak membuka tirai keluar kedai mendengarnya namun gadis itu tak menggubris seakan tak mendengar apapun.

***

“Lee Kikwang? Gila! Dia pikir aku tidak mampu membayar? Seenaknya sendiri saja!”

Langkah Ji Eun menghentak kesal menghampiri mobilnya. Namun kedatangan mobil lain yang berhenti tepat di depan mobilnya mengambil alih perhatiannya. Dahi Ji Eun mengerut, hapal betul bahwa itu adalah mobil milik Woo Bin.

“Apa yang kau lakukan disini?” ujar Ji Eun seraya merunduk mengintip kaca terbuka tertampak Woo Bin.

“Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu. Tapi kenapa kau malah disini? Bukankah orang tuamu datang?”

Ji Eun menegakkan tubuhnya. Malas sekali membahas hal itu. Sedangkan Woo Bin bergerak keluar dan berdiri tanpa menutup pintu mobilnya. “Jangan katakan jika ternyata mereka tidak datang.”

“Tidak ada alasan untukku menyangkalnya. Tapi, untuk apa kau hendak ke rumahku?”

“Apa lagi? Tentu saja untuk memberi salam pada eommeonim dan abeonim.”

“Tch! Membuang waktu saja.”

“Kau kira aku tidak merindukan mereka?”

“Untuk apa? Memangnya kau anaknya?”

“Kau ingin aku merealisasikannya?”

Tck!”

“Kau mau? Baiklah. Mari kita mulai dari awal.”

Ji Eun memutar bola mata lalu menghentikan tatapan malasnya pada Woo Bin. “Apa kau memang suka sekali membuang waktu? Untuk apa mengulang hubungan yang sudah diketahui jelas bagaimana akhirnya?”

“Siapa yang tahu? Kita tidak akan bisa tahu pastinya bila tidak mencoba. Sama seperti kau bersama para bekas kekasihmu itu.”

“Kau pikir hubungan kami berdasarkan cinta? Kau mengira aku menerima mereka karena aku menyukainya? Seberapa lama sebenarnya kau mengenalku?”

Woo Bin membuang napas kasar. Melangkah menuju mobil Ji Eun yang terparkir di belakang. Ia mengetuk pintu mobil itu hingga seorang pria membuka kaca, memberitahukan sesuatu yang membuat pria paruh baya itu terlihat mengangguk mengerti.

Kedua mata Ji Eun sontak membulat ketika ahjussi pengemudi pribadinya mendadak pergi meninggalkannya. “Apa yang baru saja kau katakan padanya?!” pekik Ji Eun.

“Sudahlah. Ayo ikut aku. Pasti kau belum makan, kan?”

***

“Selamat datang.”

Shin Ji Eun menyapu pandangannya mengitari luasnya restoran bintang lima yang dipenuhi pengunjung dengan pakaian yang menunjukkan bahwa mereka adalah golongan kelas atas. Sangat kontras dengan kedai yang terakhir ia kunjungi.

“Untuk berapa orang?” tanya seorang gadis pelayan yang menyambut mereka dengan senyuman merekah ramah.

“Dua saja,” jawab Woo Bin.

“Baiklah, silahkan ikuti saya.”

“Tidak perlu,” ucap Ji Eun tiba-tiba. “Ada teman yang telah menunggu kami.”

Woo Bin terheran. Kemudian mengikuti arah pandang Ji Eun dan menemukan Sam Rin Hyo dan Cho Kyuhyun tengah duduk bersama.

“Baiklah kalau begitu. Selamat menikmati waktu anda,” kata pelayan itu seraya membungkuk sopan.

Ji Eun memimpin melangkah menuju meja di sudut restoran dan Woo Bin di belakangnya. Kyuhyun dan Rin Hyo yang semula tengah berbincang menghentikan kegiatan mereka saat Ji Eun menarik sebuah kursi dalam meja mereka.

“Kalian?” ujar Rin Hyo terkejut.

“Kenapa kau disini? Bukankah orang tuamu baru saja datang?”

Ji Eun menggeleng menjawab pertanyaan Kyuhyun. “Tidak ada yang datang.”

“Lalu?”

“Apa? Bukankah tadi di chat room aku hanya berkata sepertinya?”

“Benar juga,” ucap Kyuhyun mengangguk.

“Lalu bagaimana bisa kalian bersama-sama kemari?” tanya Rin Hyo. Dan Woo Bin pun membuka suara, “Kebetulan saja. Tadi aku menemukannya di depan kedai oranye saat dalam perjalanan ke rumahnya.”

Kyuhyun mengernyit lalu memastikan, “Ke rumah Ji Eun?”. Disambut oleh anggukkan kepala Woo Bin.

Tiba-tiba Rin Hyo melebarkan kedua matanya teringat sesuatu, “Ah iya, apakah kedua orang tuamu sudah tahu perihal berakhirnya hubungan kalian?” tanyanya pada Ji Eun.

“Apakah itu penting?”

“Tapi itu sudah lama terjadi, bukan?”

“Mereka tidak menanyakannya jadi untuk apa aku memberitahunya tentang itu?”

Mendengar itu Woo Bin tersenyum jahil lalu berkata, “Ya, benar. Lagipula hubungan kita pasti akan kembali.”

Ya!” tajam Ji Eun begitu pula sorot matanya sedangkan Kyuhyun dan Rin Hyo terkekeh geli.

“Tidakkah kalian ingin menempati meja lain? Tidak bisakah kalian tak mengganggu kencan kami?” tukas Kyuhyun kemudian.

“Kencan? Aku dan Woo Bin terlanjur datang maka bukankah ini telah berubah menjadi makan malam biasa? Bukan salah kami menemukan kalian disini,” balas Ji Eun membuat Kyuhyun mendecak. Sementara Woo Bin mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang.

Rin Hyo yang hanya tersenyum sembari menggeleng melihat pertengkaran kecil Ji Eun dan Kyuhyun mengeluarkan pendapat, “Tidak apa-apa kalian disini. Ada apa denganmu, Kyu?”

“Menyebalkan!” gerutu Ji Eun sambil memandang menyipit pada Kyuhyun yang menatapnya malas.

Ya! Jong Suk-ah! Apa yang sedang kau lakukan?”

Ji Eun, Rin Hyo, dan Kyuhyun sontak terdiam seketika Woo Bin mulai berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.

“Kau sudah makan malam? Baiklah kalau begitu datanglah ke Candelion Restaurant. Kami berempat sudah sampai disini. Ya, ya, nanti aku yang akan membayar semuanya,” ujar Woo Bin panjang lantas menutup sambungan itu dan meletakkan ponselnya.

Woo Bin mendesis dikala menemukan Kyuhyun menatapnya menelisik. “Kau benar-benar akan membayar semuanya?”

“Kau pernah mendapatiku mendustai ucapanku?”

***

Shin Ji Eun menggerakkan kakinya santai menyusuri koridor sekolah meski bibirnya berulang kali menghembus napas gusar. Tak ada siswa lain selain dirinya. Suasana begitu senyap padahal matahari semakin naik. Tentu saja, bukan karena Ji Eun datang lebih awal melainkan karena ia terlambat.

Ji Eun membuka pintu sesampainya di depan ruang kelas. Tanpa ragu ia menghampiri seonsaengnim. “Annyeong haseyo. Maaf aku terlambat.”

Semula keadaan kelas yang riuh berubah hening. Sedangkan Woo Bin dan Kyuhyun yang duduk di bangku siswa saling menatap kemudian menghela napas bersamaan.

“Lagi?” tajam seonsaengnim lalu menghembuskan napas geram akibat Ji Eun tidak menampakkan wajah bersalah sedikitpun.

“Keluarkan pekerjaan rumahmu.”

“Pekerjaan rumah?” ulang Ji Eun. Gadis itu tampak tak mengerti lalu menoleh memandang Kyuhyun yang menatapnya datar. Ji Eun mengerutkan dahinya saling memberi isyarat pada Kyuhyun yang membalasnya dengan menggedikkan bahu.

Tingkah Ji Eun membuat pria beruban dihadapannya mengerti bahwa ia tidak mengerjakan pekerjaan rumah darinya. “Lagi?” ucap pria itu.

Ji Eun menyibak kasar poni panjangnya. Entah hukuman apa yang harus ia lakoni kali ini.

“Pergi bersihkan ruang gudang dan tata serapi-rapinya. Lakukan dengan benar atau kau tidak akan mendapatkan nilai yang cukup untuk kelulusanmu.”

Kelopak mata Ji Eun sontak membulat menatap seonsaengnim hingga dibuatnya berjengit. “Bagaimana bisa anda mengaitkan hal ini dengan persyaratan kelulusan?!” tegasnya namun tak lama ia menyambung dengan, “Baiklah, aku mengerti.”

Shin Ji Eun beranjak keluar kelas setelah membungkuk sejenak pada seonsaengnim. Berulang kali ia mendecak sepanjang jalan. “Jika tahu akan seperti ini lebih baik aku tinggal saja di rumah tadi,” racaunya menyesali keberangkatannya ke sekolah.

Langkah Ji Eun sampai di anak tangga terakhir lantai tiga sekarang. Pada tingkat ini tidak banyak ruangan yang ada karena kebanyakan diperuntukkan kegiatan yang berhubungan dengan bidang seni. Seperti ruang khusus olah vokal, tari, dan juga studio musik.

Terdengar dentuman musik hip hop disaat Ji Eun melewati ruang khusus studio tari. Awalnya gadis itu berjalan tak peduli. Tapi kemudian ia berbalik begitu berubah pikiran. Tangannya meraih knop pintu kaca bertekstur buram yang tertutup rapat. Mendorongnya perlahan hingga menemukan seorang pria bertubuh atletis dengan lihainya tengah menari.

Ji Eun mampu mendapati bahwa pria itu adalah Lee Kikwang melalui pantulan bayangan cermin super besar yang tertempel di dinding. Tak perlu waktu lama Kikwang menyadari kehadiran Ji Eun. Sejenak ia menghentikan kegiatannya dan menoleh ke belakang namun bersamaan dengan lenyapnya sosok gadis itu. Ji Eun melangkah sedetik lebih cepat.

“Boleh juga,” gumam Ji Eun di tengah perjalanannya. “Tak kusangka,” lanjutnya.

Begitu Ji Eun membuka pintu bertuliskan gudang yang menjadi tujuannya, raut wajahnya sontak tertekuk layu. “Apa yang harus kulakukan?” ratapnya.

Keadaan ruangan itu sangatlah berantakan. Meja kursi dipenuhi debu. Bergelantungan jaring laba-laba di langit-langit atap. Ji Eun mengangkat sebelah kakinya bergantian sembari menutup mulutnya kala serangga-serangga yang terjebak di dalam sana keluar tergesa begitu mereka menemukan cahaya.

Ji Eun menutup wajahnya putus asa. “Bagaimana bisa aku menyelesaikan semua ini?!” pekiknya tertahan lalu menarik napas dalam guna menenangkan diri namun malah membuat hidungnya gatal hingga ia mendadak bersin. “Aigoo.”

“Apa yang kau lakukan disini?”

Sekujur tubuh Ji Eun sontak terperanjat. Ia membalikkan tubuhnya yang kaku. Lee Kikwang telah berdiri di ambang pintu bersama tatapan penuh selidik padanya.

Ji Eun berdehem pelan dan dengan segera mengubah sinar matanya angkuh. “Memang apa pedulimu?”

Tanpa melepas pandangannya pada Ji Eun, Kikwang mendecak. Lantas melepas kemeja putihnya meninggalkan kaos hitam melekat di tubuhnya. “Sepertinya ini akan menjadi pekerjaan yang melelahkan.”

Ji Eun mengerutkan dahinya bingung menatap Kikwang yang berjalan melintasinya. Pria itu bergerak mengusap salah satu meja hingga telapak tangannya berubah menghitam. “Debunya tebal sekali,” desis Kikwang.

“Apa yang kau lakukan? Cepatlah pergi!”

“Sedangkan kau, apa yang akan kau lakukan disini?”

“Tentu saja aku juga akan pergi.”

“Bukankah kau kemari untuk membersihkan tempat ini?”

Ji Eun meneguk ludahnya berat saat Kikwang beralih menatapnya. “Untuk apa aku bersusah payah membersihkannya? Membuang tenaga saja.”

Kikwang melipat kedua sisi lengan kaosnya keatas. Berjalan mendekati Ji Eun yang berdiri seolah tidak takut apapun. “Kau tahu? Ternyata kau sama sekali tidak pandai berbohong.”

Mwo?”

“Kau tidak akan menyelesaikan apapun bila hanya berdiri mematung seperti itu.”

“Berani sekali kau,” decih Ji Eun tak percaya.

“Lalu untuk apa seorang high class sepertimu sudi memasuki tempat menjijikkan seperti ini jika bukan karena hukuman guru?”

“Jangan berlagak seakan kau tahu segalanya!” seru Ji Eun tak terima lantas melepas tas ransel merahnya. Kikwang tersenyum kecil seraya meraih tas itu karena Ji Eun tampak tak tahu harus meletakkannya dimana. Kemudian menggantungkan benda itu pada sebuah paku yang tertancap diantara kedua papan tulis.

“Tunggu disini.”

Ji Eun mempertahankan wajah dinginnya sampai Kikwang hampir berbelok keluar. “Memangnya kau mau kemana?”

Langkah Kikwang terhenti. Berputar kembali mengarah pada Ji Eun. “Kau mau membersihkan semua ini dengan tangan kosong? Tentu saja untuk mengambil beberapa peralatan untuk itu.”

“Untuk apa mengambilnya? Panggil saja office boy agar mereka mengantarnya kesini.”

“Kau tidak lihat? Tidak ada siapapun disini kecuali kita berdua. Atau kau menyimpan nomor mereka? Lakukan saja jika kau punya.”

Ji Eun mendesah kasar. Mengulum bibir bawahnya tak tahu kalimat apa lagi yang harus diucap. “Baiklah. Terserah kau saja. Tapi, apa kau akan melewatkan jam pelajaran?”

“Tidak.”

“Kalau begitu pergilah. Untuk apa kau terus berada disini. Lagipula aku mampu melakukan ini sendiri.”

“Tidak apa-apa. Aku sudah selesai mengambil nilai tadi.”

Tanpa terasa mulut Ji Eun terbuka karena tertegun. “Bagaimana bisa dia begitu keren? Tck!” decak Ji Eun kesal begitu Kikwang menghilang.

***

Ji Eun mengangkat kedua bahunya yang terasa amat pegal. Sementara sebelah tangannya terus bergerak mengelap kaca jendela dan satunya lagi memegang semprotan cairan pembersih.

Samar-samar Ji Eun dapat melihat Kikwang tengah menata ulang meja kursi yang telah bersih tanpa debu melalui pantulan bayangan kaca di hadapannya. Lantai pun tak lagi kusam. Jaring laba-laba tak lagi tersebar dimana-mana. Semua pekerjaan akan sempurna tuntas setelah Ji Eun menyelesaikan tugas terakhirnya.

“Akhirnya,” lenguh Kikwang lega. Ia mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi terdekat.

Ji Eun menaruh kain dan cairan pembersih di meja depan Kikwang. “Sekarang, apa yang kau inginkan?”

Kikwang menatap Ji Eun heran. “Maksudmu?”

“Makan bersama kami? Menghabiskan waktu bersama kami? Terserahlah, apa maumu.”

Kikwang membuang tatapannya kearah lain. “Kau kira aku rela membantumu sekadar untuk popularitas?” tajamnya.

“Bukankah semua memang begitu? Kau ingin bilang bahwa kau berbeda?”

“Ya, aku berbeda. Lalu apa yang akan kau lakukan?!”

Tch! Omong kosong!”

Kikwang sontak berdiri dengan sedikit menunduk memandang nyalang Ji Eun. Sebenarnya Ji Eun sempat terkejut, namun tak genap sedetik ia mengembalikan wajah angkuhnya. Kikwang mengenakan kembali kemeja putihnya asal. Menggapai tas merah milik Ji Eun yang sebelumnya digantung di dinding lalu melemparnya kearah gadis itu sebelum benar-benar pergi.

Lagi-lagi Ji Eun dibuat tertegun. Lee Kikwang, hanya pria itu yang berani memperlakukannya seperti ini selain keempat sahabatnya. “Sial! Bahkan aku tidak bisa berterimakasih padanya.”

***

“Kikwang-ah! Kau dari mana saja?” pekik Ji Yeon disela ia berlari kecil menghampiri Kikwang yang sedang menuruni tangga menuju lantai dua.

“Studio tari. Seperti biasa,” jawab Kikwang ringan.

“Tapi tadi aku tidak melihatmu disana.”

“Kau kesana? Ada sesuatu yang harus kukerjakan.”

Kening Ji Yeon berkerut begitu menemukan Shin Ji Eun berjalan dari arah yang sama dengan Kikwang. Menanggapi raut ketus Ji Yeon, Ji Eun hanya menatapnya datar tanpa ekspresi. Hingga kepala Ji Yeon tertoleh seratus delapan puluh derajat mengikuti sosok Ji Eun berjalan lalu mengembalikan tatapan mengintimidasi pada Kikwang. “Kau, bersamanya?”

“Apa yang kau bicarakan?” kilah Kikwang sembari melangkah mendahului Ji Yeon.

“Aku tidak melihat siapapun di atas tadi. Jika kau baru saja turun dari lantai tiga, dan dia juga. Bukankah itu berarti kalian bersama?”

“Hanya itu? Hanya itu kesimpulan yang dapat kau pikirkan?”

Ji Yeon mengangguk kuat dipadu dengan mimik polos wajahnya membuat Kikwang mengacak puncak rambut gadis itu gemas. “Terserah saja jika memang hanya itu yang ada di pikiranmu, apa boleh buat?”

“Jawaban macam apa itu?!” rajuk Ji Yeon tanpa menyadari seorang siswa pria lain yang tersenyum kecil tak jauh dari tempat mereka. Pria itu berdiri sambil membawa sekaleng kola di tangannya. Diam-diam ia tahu kejadian yang sebenarnya.

“Yong Junhyung!” pekik seseorang menyentak pria itu menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Tak lupa tangannya terangkat keatas membalas lambaian seorang teman menghampirinya itu.

***

“Haah. Melelahkan,” umpat Ji Eun bersamaan kakinya memasuki area cafetaria.

“Kau benar-benar menuruti ucapan sam?” sambut Woo Bin antusias.

Ji Eun duduk di bangkunya yang terletak diantara Woo Bin dan Kyuhyun. “Mau bagaimana lagi.”

“Kau tidak melupakan bahwa itu semua hanyalah gertakan, bukan? Seharusnya kau tak perlu menghabiskan tenagamu untuk itu.”

“Tapi ada sesuatu yang mengharuskanku melakukannya.”

Woo Bin mengernyit heran, begitu pula Kyuhyun. “Sesuatu seperti apa?”

“Sesuatu seperti…” Ji Eun menggantung ucapannya. Jarak pandangnya menangkap Kikwang dan Ji Yeon turut berada di areal cafetaria. “Entahlah. Ceritanya panjang. Aku malas berkata panjang lebar,” sambung Ji Eun membuat Woo Bin dan Kyuhyun menghela napas kasar bersamaan.

“Kalau begitu tidak seharusnya kau bersikap seakan ingin menceritakannya. Membuatku penasaran saja,” ujar Kyuhyun kesal.

“Dimana Rin Hyo? Jong Suk?”

Woo Bin mengangkat bahunya sekali sedangkan gurat wajah Kyuhyun berubah malas. “Sibuk berkencan, mungkin?”

“Kau gila?!” tukas Ji Eun memukul kepala Kyuhyun karena berucap sembarangan. “Bagaimana bisa kau berprasangka buruk pada kekasihmu dan sahabatmu sendiri, huh?!”

“Shin Ji Eun?”

Ketiga orang yang tengah duduk dalam satu meja itu sontak mendongak. Mendapati seorang pria berperawakan kurus dengan kedua tangan tersembunyi di belakang. Melihat itu, Kyuhyun mengalihkan pandangan mengulum tawa. Sementara Woo Bin menatap malas pria itu.

Ji Eun mengamati penampilan pria itu dari ujung kepala hingga kaki kemudian berucap, “Kau menyebut namaku?”

Nde,” jawab pria itu dengan wajah tersipu. Bagaimana tidak? Shin Ji Eun jarang sekali memandang lekat seseorang. Terkecuali orang-orang yang selalu disampingnya.

“Kepentingan apa yang membawamu kesini?” Nada ucapan Ji Eun mulai terdengar arogan. Lekas pria itu menyodorkan sebuket bunga mawar merah. “Bersediakah kau menerimaku menjadi kekasihmu?”

Siswa-siswi yang dengan cepat mengepung keberadaan mereka, tak satupun bersorak sorai. Sebaliknya saling berbisik satu sama lain. Peristiwa seperti ini bukanlah hal asing lagi. Entah pria keberapa yang berhasil mengumpulkan keberanian mengungkapkan perasaan mereka pada Ji Eun di tengah keramaian sekolah seperti ini.

“Aku bertaruh Ji Eun tidak akan menerimanya.”

“Lihat caranya mengambil perhatian Ji Eun. Klasik sekali.”

“Menjijikkan.”

Kalimat-kalimat merendahkan diantara bisikan-bisikan tajam yang terdengar membuat kepercayaan diri pria itu luntur. Tangan yang semula menggenggam mantap sebuket bunga perlahan bergetar. Ditambah pandangan menilai Ji Eun yang seolah menguliti dirinya. Terlebih senyuman miring yang tak lepas dari wajah gadis itu.

“Kau yakin?”

Pria itu mengangguk ragu.

“Sepertinya kau tipe pria posesif. Aku tidak suka pria seperti itu.”

“Bila seorang pria posesif terhadap gadisnya, bukankah itu menunjukkan bahwa pria itu sangat mencintai kekasihnya? Tapi jika kau tidak suka, aku tidak akan seperti itu. Aku berjanji, aku tidak akan posesif padamu.”

Ji Eun mendecih kecil. Pria posesif, ia amat membencinya. Sebab pria-pria seperti itu menurutnya sangat mengganggu. Sejauh ini ia memutuskan hubungan antara dirinya dan pria sebelumnya karena alasan itu. Kecuali Kim Woo Bin. Hanya pria yang sampai sekarang tetap menjadi sahabat disampingnya itu yang membuatnya benar-benar merasakan cinta. Bagaimana dengan yang lainnya? Jangan harap Ji Eun memikirkan perasaan mereka, ia hanya menggunakannya untuk bersenang-senang saja. Jangankan berciuman, saling menggenggam tangan pun Ji Eun tak akan sudi. Apakah hubungan seperti itu dapat dikategorikan sebagai berpacaran? Ji Eun memang berkata menerima namun tidak berarti ia menganggap mereka.

“Terimalah aku.”

Senyuman Ji Eun sarat akan meremehkan. Ia tahu ucapan pria itu hanyalah omong kosong. Gadis itu memutar bola matanya dan tanpa sengaja menemukan Kikwang menatapnya datar ditengah gerombolan siswa yang berdiri melingkar itu. Entah demi apa tatapan Ji Eun terkunci. Ia tak mampu begitu saja mengalihkan pandangannya pada Kikwang. Hal itu terjadi tanpa alasan. Shin Ji Eun seakan menikmati tatapan itu. Tiba-tiba seorang gadis menarik dagu Kikwang mengajaknya pergi. Wajah Kikwang pun teralih pada gadis itu seraya tersenyum. Dan sialnya, sangat manis.

Ji Eun mengerjap cepat. Sekujur tubuhnya terasa memanas. Apakah ia terserang demam mendadak? Konyol. Senyuman patah mengerikan Ji Eun terulas. Menghela napas kasar bersamaan tatapannya menajam seolah siap merajang pria yang semakin gugup dihadapannya.

“Apa-apaan ini? Mengungkapkan perasaan bersama seikat bunga?” Tangan Ji Eun menyingkirkan sebuket bunga yang disodorkan padanya hingga terlempar tak tentu arah. “Kampungan!” desisnya.

.

.

—————————————

To be Continued

Advertisements

22 thoughts on “Unexpected Bond 2

  1. Ji eun kasar juga disini ternyata, haduhhh
    Itu gikwang sma jiyeon shabatan atau apa yah??
    Penasaran sma hub kyuhyun rin hyo, dsini mreka kurang menonjol, lebih ke persoalan ji eun.. Apa emng sengaja sperti itukah??

  2. shin jieun udah mulai suka kikwang!!! hahahah duhh baru bener2 baca dari part pertama sambil ngebayangin kyuhyun woobin jongsuk barengan haishhhh gimana ga senyum2 mulu hahah btw boleh request? kyuhyun rinhyo nanti kapan gitu agak dibahas dikit dong hehehe mereka pacaran kan? tdnya aku kira ini full bestfriends aja hihi ternyata kyuhyun rinhyo aja udah pacaran eh tp knp rinhyo kayanya deket bgt sama jongsuk???????? hahah ditunggu selaluuuuuuuuuuuuu lanjutannya fighting!!

  3. Aku kira rinhyo pcrn sm jongsuk taunya sm kyu .
    Tp knp lebih dkt sm jongsuk?
    Ji eun kasar ya , arogan gtu .
    Ky sikap kyu yg biasa2nya
    Ji eun uda mulai suka sm kikwang !!! Hahaha , kikwang dlm bygn ku itu keren , aplg woo bin hahaha
    Smua cast cowo yg disini adlh bias ku haha dann crta ini menarik , brpcrn tp ttp bershbt . Jrg bgt haha

  4. Sedikit bingung karena qhu blm baca part awal’y, eeemmmmmm,,, apa lg y????? Udah itu aja…heheeee… Mau tnya gmna cara minta pw buat nothing impossible??? Aqhu dah inbox, tp blm ada blsan??? Terimaksh..

  5. Kasian ji eun dia kurang kasih sayang…. wo bin ternyata mantan pacar ji eun…. ji eun cemburu liat kikwang sama ji yeon… ada hubungan apa antara kikwang dan ji yeon?

  6. Aaaahh jieun cemburu ya senyum manis kikwang buat cwe lain..hahahhaha..
    Hubungan kikwang ma ji yeon apaan??kikwang orkay jg yah??
    Kasian juga jieun ortunya sibuk,ternyata woo bin mantan jieun..mmmhhh ga nyangka..
    Trs ntr gmn??kl hatinya dah kepincut kikwang,woo bin??
    Ga sabar nunggu next partnys..
    Semangat ya thor..
    Makasih..

  7. disini yg lbh menonjol cerita ji eun aja kah….???
    aku penasaran ma kisah kyu ma hyo apa mereka pacaran apa ga?? soalnya hyo deketnya ma jong suk…!!!
    hyo ma kyu disebut pacaran tp ga ada romantis2’y gt… jadi penasaran akut niiii …heheehehehehhehe
    dtngg lnjutannya ya… 😉

  8. Ya tuhan..ji eun kasar ya sikapnya kayak preman..
    Dia mengalihkan cemburunya ke pria yg nembak ji eu itu dgn nglempar bunganya..nylekit banget itu klao aku jadi cowoknya..
    Hwaiting, saeng..keep writing..

  9. rin hyo disini kekasih kyuhyun kan? Tp knpa dket bgt am jong suk, apakah ada alasannya?

    Aku bener2 suka bgt am sikap cueknya ji eun..
    Tp untk skap kejamnya bak seorang yg tk pny prikemanusiaan, aku ndak suka..

    Next..
    Fighting author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s