Love Dust 3

Love Dust 3

1429306897248

Author : Tsalza Shabrina

 HAPPY READ^^

***

Cho Kyuhyun’s Side

Aku menatapnya lagi, dan sialnya gadis dihadapanku ini terus menerus mempertahankan wajah tak terbacanya itu. Otakku berputar dengan keras, mencari bahan pembicaraan yang normal untuk kulontarkan saat ini. Entah mengapa, rasanya otakku begitu blank.

KLEK

Aku mengarahkan pandanganku kearah pintu private yang memang kugunakan untuk mengobrol dengan Sam Rin Hyo. Aku tidak ingin ada berita aneh – aneh yang menyerangku nanti, apalagi skandal percintaan. Aku kan tidak pernah terlibat skandal yang seperti itu.

“Aku membawa 2 cake coklat istimewa untuk tamu spesialku.” Aku memutar bola mataku malas saat mendengar nada bicara menipu yang diucapkan oleh Cho Ahra. Ck, aku juga tidak tahu mengapa kedua matanya berbinar ketika melihat Sam Rin Hyo. Oh, atau jangan – jangan dia… “Kekasihmu manis juga Cho Kyuhyun.” Bingo! Dia menganggap Sam Rin Hyo adalah kekasihku. Memalukan sekali kau, Cho Ahra!

Diam – diam kuperhatikan raut wajahnya, kedua pipinya mulai memerah namun wajahnya tetap tak berkespresi sama sekali. “Aish, sudahlah noona pergi saja! dia bukan kekasihku.”  Koreksiku seraya mendorong gadis iblis itu pergi dari sini. “Noona memang begitu, selalu berbicara seenaknya.” Senyuman tipis gadis itu membuatku sempat menahan napas. Ya Tuhan… ada apa denganku?

“Iya, tidak apa – apa.” Ujarnya. Seketika itu, aku langsung ingat dengan tujuanku membawanya kesini. Menanyakan padanya perihal Shin Ji Eun dan Lee Kikwang. Pria itu sudah begitu sering bercerita padaku tentang Shin Ji Eun, Shin Ji Eun dan Shin Ji Eun. Padahal sudah jelas – jelas aku tidak akan bisa membantunya, mengingat aku belum pernah merasakan cinta sama sekali.

Baru saja aku hendak membuka mulutku, namun suara gadis itu terlebih dahulu menyelaku. “Aku bingung dengan hubungan Lee Kikwang dan Shin Ji Eun. Karena, gadis itu tidak pernah sekali pun bercerita tentang Lee Kikwang padaku.” U            capnya dengan suara yang pelan. Aku suka saat mendengarnya bicara dengan nada seperti itu, terlihat begitu menggemaskan. “Apa kau mengetahui sesuatu?”

Cho Kyuhyun menghela napasnya pelan, membenarkan duduknya kemudian mulai menjelaskan. “Yang aku tahu dari Lee Kikwang, mereka dulu pernah menjalin hubungan sebelum ia debut. Namun, tiba – tiba Shin Ji Eun meninggalkannya begitu saja dan itu bertepatan saat ia debut. Kikwang menduga jika alasannya adalah karena sebelumnya ia pernah berkata jika CEO tidak mengizinkan mereka berpacaran dan ia meminta Ji Eun agar menjalin hubungan diam – diam dengannya.” Dahi Sam Rin Hyo berkerut bingung. Sedangkan aku, selalu menikmati ekspresi yang ditunjukkan olehnya. Rasanya begitu mengasyikkan.

“Sepertinya bukan itu saja alasannya. Aku sangat tahu Shin Ji Eun, dia adalah gadis yang rasional dan berpikiran panjang. Namun, sekali ia tersakiti. Sakit itu akan membekas hingga ia sulit untuk berpikiran rasional.”

Aku hanya diam. Bingung harus menjawab apa, sebenarnya aku juga berpikiran sama dengan Sam Rin Hyo. “Tapi, apa Lee Kikwang masih mencintai Shin Ji Eun?” tanyanya dengan kedua mata yang sarat akan rasa penasaran. Aku mengangguk pelan, sedikit ragu karena kedua matanya seolah menyelidik.

Bibirnya terbuka sedikit, raut wajahnya begitu aneh. Apa mungkin ada sesuatu yang membuat Lee Kikwang tidak boleh mencintai Shin Ji Eun? “Shin Ji Eun sudah bertunangan.” Ujarnya pelan.

“Apa?!”

“Dia sudah bertunangan… dengan Kim Minseok.”

***

Shin Ji Eun menatap bungkusan plastik yang berisi makanan ikan yang berbentuk bulatan – bulatan kecil berwarna coklat. Helaan napas berat gadis itu keluar bersamaan dengan kedua matanya yang melirik Kikwang sinis.

“Kau membawaku jauh – jauh ke Busan hanya untuk ketaman ini dan memberi makan ikan – ikan tawar ini?” cecar Ji Eun pada Kikwang yang sudah asik sendiri memberi makan ikan – ikan yang berlarian didalam kolam tawar itu. Pria itu menyengir kearah Ji Eun lalu berjalan mendekatinya.

“Perlu kau ingat, ini bukan taman biasa. Dan juga bukan memberi makan ikan – ikan tawar biasa. Kau tidak ingat, dulu?” tubuh Ji Eun membeku, ia menghela napas pendek lalu melempar pandangannya kearah lain. Menatap hamparan taman kecil ini untuk menghindari tatapan teduh yang diberikan Kikwang padanya. Tatapan teduh yang terakhir ia lihat 5 tahun yang lalu itu masih sama hingga sekarang.

Namun usahanya salah, ia malah dibawa oleh pikirannya pada kenangan – kenangan yang sudah lama tak ia sentuh. Ia simpan rapat – rapat didalam ruang memorinya dan menamai itu dengan kenangan manis yang pahit. Ayunan yang tak berubah sama sekali, kolam ikan yang airnya masih sebening dulu-hanya saja besar ukuran ikannya saja yang lebih besar, dan juga ia tidak lupa dengan pohon maple yang dibawahnya terdapat rerumputan hijau segar. Semuanya masih sama dan tak berubah. Hanya saja yang berubah kini adalah mereka.

Taman ini memang dulu sering mereka gunakan untuk bertemu. Selain dekat dengan rumah mereka, taman ini juga seringkali sepi pengunjung. Dan mereka adalah tipe pasangan yang tidak suka keramaian, dan menyukai ketenangan.

“Apa yang perlu kuingat?” tukas Shin Ji Eun setelah terdiam cukup lama. Lee Kikwang menghela napasnya pelan, sudah bisa menebak dari awal jika Shin ji Eun tidak akan bisa bersikap seperti biasanya setelah apa yang sudah ia lakukan pada gadis itu. Meskipun ia menjelaskan semuanya dan mengatakan jika itu hanyalah salah paham, Shin Ji Eun tak akan mungkin langsung berkata ya, aku memaafkanmu. Shin Ji Eun adalah tipikal gadis yang tidak mudah marah, namun jika ia sudah marah sangat sulit untuk meluluhkannya.

“Itu terserah kau, tapi jika kau lupa. Aku bisa mengembalikannya lagi.” Ji Eun menatap Kikwang cepat, dengan tatapan menelisik.

“Maksudmu?” Kikwang mengangkat bahu acuh, berjalan pelan lalu berhenti tepat dihadapan gadis itu.

“Aku bisa mengingatkanmu lagi tentang taman ini, saat kita sekolah dulu, cafe yang sering kita kunjungi dan—“

“Kau pikir aku sudih?” potong Ji Eun dengan nada dinginnya. Kikwang menunduk seraya lagi – lagi menghela napas panjangnya. Tiba – tiba pria itu memeluk tubuh Ji Eun, gadis itu sebenarnya ingin berontak. Namun apa daya, karena tubuhnya pun menerima perlakuan Kikwang. Ia sangat merindukan pelukan hangat ini.

“Sudah lama aku merindukan ini. selama ini aku hanya bisa membayangkannya.”

***

Sam Rin Hyo sesekali mencuri pandang pada Cho Kyuhyun yang tengah berjalan disampingnya dengan bibir yang sekali mengerucut , seperti sedang bersiul. Ia tersenyum kecil, tidak menyangka dapat berjalan bersama dengan Cho Kyuhyun seperti ini. Tadi, setelah mengunjungi cafe Kyuhyun menawarinya untuk mengunjungi sungai han. Dan ia menerima saja ajakan pria itu, mengingat ia juga sedang malas pulang kerumah saat ini.

“Kau… sering mengunjungi sungai han?”  Sam Rin Hyo menoleh kearah Kyuhyun cepat, alisnya terangkat sedikit seperti sedang berpikir. Setelah itu ia mengangkat bahunya asal.

“Tidak sering.”

“tempat apa yang sering kau kunjungi?” dahi Sam Rin Hyo mengerut bingung dengan pertanyaan mengejutkan yang diajukan oleh Kyuhyun padanya. “Ah, maaf. Ya Tuhan, aku berbicara apa sih?”

Sam Rin Hyo tertawa kecil melihat tingkah Kyuhyun. “Aku lebih sering dirumah, karena waktuku sudah habis dikampus.” Kyuhyun terperangah menatap Sam Rin Hyo, ia seperti tidak berpijak pada tanah. Cepat – cepat ia menggeleng, mengenyahkan pikiran tentang mengajak Rin Hyo berkencan atau memegang tangan gadis itu.

“Kau mengambil jurusan apa?” tanya Kyuhyun, mencoba mengalihkan pikirannya dan juga obrolan mereka yang terdengar canggung tadi.

“Hubungan internasional.”

“Ah, jadi kau bisa berbahasa asing?” Lagi – lagi Rin Hyo dikejutkan dengan pertanyaan canggung yang dilontarkan Kyuhyun untuknya.

“Eum, ya. Bahasa Inggris, Jerman dan Jepang.”

“Benarkah? Kalau begitu kau bisa mengajariku jika aku akan melakukan supershow diluar negeri.” Cho Kyuhyun merutuk bibirnya yang semakin menyeletuk tak jelas. Sedangkan Rin Hyo sudah tidak bisa menahan tawanya, gadis itu tertawa hingga berkali – kali memukul lengan Kyuhyun.

“Kau benar – benar secanggung itu, ya? Kau terlihat seperti orang aneh yang tak pintar mengobrol. Padahal kau MC radio star. Hahahaha, lucu sekali.”

Kyuhyun menggaruk tengkuknya lalu ikut tertawa bersama Sam Rin Hyo. “Itu karena wajahmu yang seperti tidak suka dengan pembicaraan yang kuangkat.”

Rin Hyo menghentikkan tawanya, lalu menatap Kyuhyun dengan pandangan penuh binarnya. Dan itu membuat Kyuhyun sedikit terkejut, pasalnya sejak tadi gadis itu selalu menampakkan wajah datar padanya.

“Aku memang seperti ini pada orang asing. Kau jangan salah paham dengan wajahku. Tapi tidak apa, kau bukan satu – satunya orang yang merasa canggung padaku karena takut dengan ekspresiku.” Ujar Sam Rin Hyo seraya tersenyum tipis. Dan sekali lagi Cho Kyuhyun terperangah olehnya.

Gwenchana, kau gadis yang tidak mudah ditebak. Aku sudah beberapa kali terkejut karenamu.” Sam Rin Hyo mengangkat alis sambil menatap Kyuhyun dengan tak percaya.

“Ah, benarkah?” Kyuhyun mengangguk penuh keyakinan.

“Eum, dan itu salah satu dari pesonamu.”

***

Sam Rin Hyo melambaikan sebelah tangannya pada mobil audi hitam milik Cho Kyuhyun yang baru saja melesat dari hadapannya. Sesekali ia tersenyum kecil lalu menghembuskan napas panjangnya. Hari ini memang tidak terlalu spesial. Mereka hanya mengobrol di cafe, berjalan kaki ditepi sungai han, lalu pulang. Tapi, Sam Rin Hyo sudah bahagia dengan hal itu.

Gadis itu memutar tubuhnya kesamping, hendak memasuki gedung apartemennya namun langkahnya terhenti saat mendapati seorang gadis yang sangat familiar punggungnya tengah berjalan dengan kedua kaki menghentak – hentak tergesah menuju pintu utama gedung.

“Ji Eun-ah! Shin Ji Eun!” panggil Rin Hyo dengan sedikit berteriak, gadis itu berhenti melangkah lalu memutar tubuhnya. Menampakkan wajah kusut khas seorang Shin Ji Eun. “Ada apa dengan wajahmu?” tanya Rin Hyo bingung. Ji Eun memutar bola matanya malas.

“Ceritanya panjang. Kita bicara besok saja.” Singkat Ji Eun lalu kembali melanjutkan langkahnya. Jika sudah seperti ini Sam Rin Hyo bisa apa? Ia hanya dapat menghela napas berat dan mengekori Shin Ji Eun yang berjalan menuju lift.

***

Drrt Drrt

 

From : Lee Kikwang

Selamat pagi, Ji Eun-ah! Nanti siang aku keapartemenmu. Aku harap kau sudah siap saat aku menjemputmu. Kau tidak lupa janji kita, kan?

Shin Ji Eun menghela napasnya gusar. Ia menggeletakkan ponselnya dimeja samping ranjang lalu memejamkan kedua matanya frustasi. Ini baru jam tujuh pagi dan Lee Kikwang sudah mengiriminya pesan yang membuatnya limbung lagi. Sial.

Drrt Drrt

From : Kim Minseok

Hei, siang nanti ada acara? Makan siang bersama?

“Huuh.” Sekali lagi helaan napasnya keluar. Ia merasa bersalah pada Kim Minseok, tapi pada kenyataannya kehadiran Lee Kikwang sangat berpengaruh besar untuknya. Tidak, ia bukannya mencintai Lee Kikwang-lagi. Tapi, ia juga tidak tahu apa yang berada pada dirinya. Sesuatu yang bahkan tidak bisa ia temukan jawabannya. Sebuah perasaan yang masih ambigu.

Tok Tok Tok

 

Ji Eun menoleh kearah pintu kamar, menemukan Sam Rin Hyo yang sudah melongokkan kepalanya kedalam. Tak lupa senyuman lebar gadis itu yang terulas seperti orang bodoh.

“Apa?” tanya Ji Eun dengan nada dan raut wajah datarnya. Sam Rin Hyo semakin melebarkan senyumannya, memasuki kamar Ji Eun dengan menenteng satu baki berisi susu hangat dan sepotong roti isi. Shin Ji Eun mengernyit menatap sikap Sam Rin Hyo yang tidak biasa, membawakan sarapan untuknya. Itu bukan Sam Rin Hyo sekali. “Ada apa ini?” tanya gadis itu lagi.

Rin Hyo duduk disamping Ji Eun lalu menggedikkan kepalanya pada susu hangat dan roti isi yang ia taruh diatas meja. “Aku membawa sarapan untukmu.” Kerutan didahi Shin Ji Eun semakin tercetak jelas.

“Apa hari ini hari ulang tahunku?” tanya Ji Eun yang sudah tak bisa menerka lagi dengan sikap sahabatnya ini. Rin Hyo mendesah frustasi lalu menggeleng cepat.

“Tentu saja tidak! Ulang tahunmu masih lama, Ji Eun-ah! Aku hanya sedang bahagia hari ini, dan juga jika aku tidak salah ingat kau berhutang cerita padaku!” tukas Sam rin Hyo seraya menatap Shin Ji Eun penasaran.

“Ah,ya! Aku lupa. Tapi, jarang – jarang kau bahagia seperti ini. Apa ini ada hubungannya dengan… Cho Kyuhyun?” sontak pipi Rin Hyo memerah. Gadis itu menunduk seraya tersenyum tipis.

“Ya, begitulah. Kami bahkan sudah bertukar nomor telepon. Tadi malam dan juga tadi pagi ia menelfonku.”  Ji Eun mengulas senyuman tengilnya kearah Rin Hyo yang tak bisa melunturkan senyuman lebarnya saat mengingat – ingat bagaimana pertemuan tak terduganya dengan Cho Kyuhyun dan juga suara Kyuhyun di telepon tadi.

“Sepertinya gadis gila yang mencintai seorang idol sudah mendapatkan lampu hijau, ya?” goda Ji Eun yang hanya dibalas decakan kesal dari Rin Hyo.

“Berhenti mengalihkan pembicaraan, karena sekarang giliranmu untuk berbicara!” tukas Rin Hyo cepat dan tegas sebelum Ji Eun kembali menghindari pertanyaannya. “Aku sudah dengar dari Kyuhyun, tentang kau dan Lee Kikwang. Permasalahannya disini adalah, kau sudah bertunangan Shin Ji Eun! Apa yang akan kau lakukan sekarang, huh?!”

Seketika Ji Eun merubah raut wajahnya menjadi wajah datar dan dingin andalannya. Gadis itu menghembuskan napas berat sebelum mengangkat bahunya pasrah dengan keadaan. Sam Rin Hyo memutar bola matanya tak percaya dengan reaksi sahabatnya ini. Sangat jelas menggambarkan jika Shin Ji Eun masih menyimpan perasaan pada Lee Kikwang.

“Kau tidak boleh seperti ini, Ji Eun-ah! Lebih baik kau segera memantapkan hatimu yang masih hitam putih itu. apa warna putihnya lebih dominan pada Lee Kikwang atau Kim Minseok. Bagaimana pun, kau tidak bisa mendapatkan keduanya.”

Shin Ji Eun memejamkan kedua matanya frustasi. Menyandarkan diri pada dinding ranjang, lalu mengambil roti isi yang sejak tadi mengangguk diatas meja samping ranjangnya. Memakannya dengan rakus seolah itu adalah makanan terakhirnya didunia.

Sam Rin Hyo menggeleng tak percaya dengan sikap Ji Eun yang begitu tidak elit untuk ditonton. Gadis itu menghela napas jengah lalu beranjak dari tempatnya, “Habiskan makananmu dan mandilah! Ck ck ck, kau ini jorok sekali!” ucap Rin Hyo lalu segera melenggang pergi meninggalkan Shin Ji Eun yang kini tengah melebarkan kedua matanya.

“Aish, YA! KAU TIDAK MENGACA?! CARA MAKANMU LEBIH MENJIJIKAN DARIKU BIASANYA!!!” bentak Ji Eun penuh emosi. Namun tentu saja, tidak mungkin Sam Rin Hyo meladeni ucapannya meski gadis itu mendengarnya.

Ji Eun menatap ponselnya, menaruh roti isi yang tersisa setengah itu kemudian menyambar ponselnya. Tanpa pikir panjang gadis itu menggerakkan jemarinya disana lalu membuang ponselnya kesisi ranjang dengan gerakan kasar.

To : Lee Kikwang

 

Aku ada janji dengan orang lain nanti. Kau tidak usah menjemputku karena kupastikan saat kau kesini, aku tidak ada dirumah!

Maaf.

 

***

“Rin Hyo-ah!!”

Sam Rin Hyo menghentikkan langkahnya seraya memejamkan kedua matanya frustasi saat mendengar teriakan menggelegar seseorang yang menyebabkan semua pandangan tertuju kearahnya. Banyak diantara mereka memandangnya dengan senyuman aneh dan siulan yang benar – benar membuat gadis itu muak.

“Oh Sehun! Bukankah sudah kukatakan padaku untuk memanggilku nuna?! Kau ini tidak sopan sekali!!” cecar Rin Hyo sesaat setelah orang yang memanggilnya tadi itu berhenti disampingnya. Ya, siapa lagi jika bukan Oh Sehun. Pria yang sangat menyukai Sam Rin Hyo dan selalu berada disekitar gadis itu, dalam kesempatan apapun.

Sehun hanya menanggapi cecaran Rin Hyo dengan wajah terdatar yang pernah ia nampakkan. Sungguh, ia sudah jengah jika Rin Hyo kembali mengungkit hal ini.

“Dan bukankah aku juga sudah menjawabnya berkali – kali jika aku tidak mau?” balas Sehun dingin. Rin Hyo menghela napasnya dalam – dalam.

“Baiklah, sekarang apa maumu?” seketika Sehun mengulas senyuman manisnya kearah Rin Hyo kemudian menarik tangan gadis itu lembut. “Ya!! kita tidak perlu bergandengan seperti ini, bukan?!” sentak Rin Hyo seraya berusaha lepas dari genggaman Sehun. Namun pria itu malah menguatkan genggamannya dan mempercepat langkah kakinya kearah parkiran kampus.

“Lalu? Apa perlu aku merangkulmu saja?” canda Sehun yang hanya dibalas desisan malas oleh Rin Hyo. Di mata Rin Hyo, Oh Sehun adalah seorang pria yang sering membuatnya tertawa dan gemas. Ia adalah adik yang sempurna untuknya.

“Tapi semua orang melihat kita, Sehun-ah!” Sehun hanya terkekeh lalu menggedikkan bahunya tak peduli.

***

Shin Ji Eun memakan makanannya dalam diam. Sesekali ia menggigiti bibirnya dan mengetuk – ketukan sepatunya dilantai gusar. Kim Minseok yang kini duduk dihadapannya, sudah mulai mengendus bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada kekasihnya itu.

Wae?” tanya Minseok singkat tanpa menatap Ji Eun. Pri aitu terlihat masih sibuk dengan makanannya meski sebenarnya otaknya berputar keras, mencari alasan apa yang membuat kekasihnya gusar seperti ini.

Shin Ji Eun menatap Minseok panik lalu menggeleng cepat. Minseok menghentikkan makannya sejenak, mengangkat sebelah alisnya saat mendapati senyuman canggung yang kini terulas dibibir Shin Ji Eun.

“Kau tidak apa – apa?” tanya Minseok, sebenarnya sejak tadi bibirnya sudah gatal ingin menanyakan pertanyaan ini. Ji Eun meneguk ludahnya berat. Ia sudah persis seperti seorang kekasih yang tengah melakukan hubungan gelap dibelakang kekasihnya. Dan ia juga tidak tahu mengapa reaksinya seberlebihan ini.

“A—aku… aku tidak apa – apa.”

“Kau menyembunyikan sesuatu, ya?”

Ji Eun tertawa hambar. “Aku?! Ya Tuhan, Minseok-ah! Apa pernah aku menyembunyikan sesuatu padamu?!” celetuk Ji Eun lalu menenggak air putihnya saat semangkuk udon itu sudah tak tersisa. Kim Minseok yang masih tak puas dengan jawaban Ji Eun hanya bisa menghela napas lalu melanjutkan makannya. Ia tahu bagaimana Shin Ji Eun, jika ia terus menerus merecoki gadis itu dengan pertanyaannya. Ia tidak akan mendapatkan apapun, malah akan berimbas dengan pertengkaran.

Drrt drrt

 

From : Lee Kikwang

 

            Kau dimana?!

 

            Aku sudah didepan gedung apartemenmu!

 

            Cepatlah keluar!

 

Kedua kelopak mata Ji Eun melebar sempurna.  “Apa pria bodoh ini sudah gila, ha?!” pekik Ji Eun tertahan, namun tentu saja Minseok dapat mendengarnya.

“Pria … gila?” Minseok mengernyitkan dahinya bingung. Sedangkan Ji Eun bingung harus menjawab apa. Jujur? Bagaimana jika Minseok marah? Bohong? tapi ia tidak tahu harus mengatakan apa pada pria ini sekarang?

Drrt drrt

 

Ponselnya kembali bergetar, namun bukan karena pesan. Melainkan karena kini Kikwang tengah meneleponnya. Ji Eun menghela napasnya panjang, mengatur emosi lalu beranjak dari tempat duduknya seraya menatap Minseok menyesal.

“Aku mengangkat telepon dulu.” Ucap Ji Eun sebelum segera menjauh dari mejanya. Cepat – cepat mengangkat telepon dari Kikwang.

“Aku sudah bilang jika aku sudah mempunyai janji dengan orang lain, kan?” bentak Ji Eun tertahan sesaat setelah ia menempelkan benda tipis persegi panjang itu tepat didepan telinga kanannya.

‘Cepatlah pulang kalau begitu. Aku akan menunggumu!’

            Shin Ji Eun menghela napasnya kasar mendengar ucapan Kikwang yang sudah menyerupai titahan itu. “Dan kau pikir aku akan menuruti ucapanmu, begitu? Dengar, Lee Kikwang! Aku sedang bersama tunanganku sekarang, jadi kumohon padamu untuk pulang.”

‘Kau dimana sekarang?’

            “Bukan urusanmu.”

‘Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu disini sampai kau pulang. Selamat bersenang – senang.’

            Shin Ji Eun memejamkan kedua matanya frustasi. Sambungan teleponnya sudah mati karena Lee Kikwang mematikannya secara sepihak. Gadis itu menghela napasnya dalam – dalam, mencoba merilekskan diri. Mengatur ekspresi apa yang harus ia tampakkan pada Minseok kali ini. Namun, Shin Ji Eun tetaplah Shin Ji Eun. Gadis itu tidak pintar mengatur ekspresi.

“Aku bisa gila jika terus seperti ini.” gerutunya kesal kemudian segera berjalan kembali menuju Kim Minseok yang kini tengah menatapnya penuh tanya.

“Siapa? Apa perlu kau menjauh hingga sejauh itu untuk mengangkat telepon?” tanya Minseok dengan nada tak suka. Membuat Ji Eun menatap Kim Minseok tak suka pula.

“Kau marah sekarang?” dahi Minseok mengerut saat mendengar nada ketus Ji Eun dan menyadari bagaimana mengerikannya wajah gadis itu saat ini.

Ani. Aku hanya bertanya itu siapa. Apa sangat sulit untuk mengatakannya?”

“Bukan siapa – siapa. Jadi berhentilah mencurigaiku seperti itu, aku tidak suka.” Tukas Shin Ji Eun kemudian meneguk air putihnya hingga habis.

Mianhe, Minseok-ah.

Aku akan jujur padamu, tapi tidak sekarang.

 

***

 

“Untuk apa kita kesini?”

Tanya Rin Hyo bingung seraya menyusuri sekelilingnya dengan tatapan matanya. Meskipun ia sudah sering datang kesini, tapi aneh sekali jika Sehun yang mengajaknya kesini. Kona Beans. Cafe milik Cho Kyuhyun yang selalu dibajiri tamu wanita, namun sekarang ada sedikit perbedaan pada cafe ini. Suasana disini terlihat lebih normal dari pada sebelumnya.

“Karena kau tadi menjawab terserah padaku saat kutanyai mau kemana. Jadi aku memilih tempat ini. Kata Ji Eun nuna, kau suka sekali tempat ini. Ya, terlepas dari ini adalah cafe Cho Kyuhyun.” Rin Hyo menatap Sehun dengan senyuman tipis, namun senyumannya tiba – tiba hilang saat ia mengingat sesuatu.

“Kau tadi memanggil Ji Eun dengan nuna. Tapi kau tak memanggilku begitu?!”

Sehun menampakkan wajah malasnya. “Sudahlah, jangan membahas hal ini lagi. Asal kau tahu saja ya, perasaanku tidak akan pernah berubah meski kau pernah menolakku didepan seluruh pelajar dikampus saat itu.”

Mianhe.” Sesal Rin Hyo saat ia mengingat kejadian itu. Bagaimana gemetarnya Oh Sehun saat memegang bunga, dan juga bagaimana malunya pria itu saat ia menolaknya.

Sehun tersenyum tipis. “Arasseo. Kau ingin minum apa?”

Ice Vanilla Latte.”

“Baiklah, akan kubawakan Ice vanilla latte untukmu. Tunggu disini, sayang.”  Canda Sehun kemudian segera melarikan diri dari kepalan tangan Rin Hyo yang hampir mengenai kepalanya yang berharga.

“Bocah itu benar – benar.” Gumamnya lalu tertawa kecil. Entahlah, segala tingkah laku Sehun selalu membuatnya tertawa.

Tak membutuhkan waktu lama Sehun sudah kembali dengan nampan yang berisikan satu cangkir dan satu cup ice vanilla latte yang terlihat begitu menggiurkan itu.

“Minuman datang!!” ujar Sehun seraya menaruh ice vanilla latte milik Rin Hyo tepat didepan gadis itu.

“Gamsahamnida.” Ujar Rin Hyo sekadar kemudian mulai meminumnya, mengingat sejak tadi tenggorokkan sudah terasa sangat kering.

Eo! Adik ipar!” panggil seseorang seraya menyentuh bahu Rin Hyo membuat gadis itu mengernyit, lalu menoleh kearah sumber suara. Hampir saja ia mengeluarkan minuman yang masih memenuhi mulutnya saat mendapati Cho Ahra tengah tersenyum manis kearahnya.

Oh Sehun mengangkat alisnya bingung. Menatap Ahra dan Rin Hyo bergantian. Sedangkan Rin Hyo segera beranjak dari tempat duduknya. Ia menunduk sedikit kearah Ahra untuk memberi salam.

Annyeong haseyo.” Ahra terkekeh pelan mendengar sapaan canggung Rin Hyo padanya. Namun tiba – tiba senyumannya hilang saat mendapati Sehun yang tengah menatapnya bingung.

“Kau datang bersama pria ini, adik ipar?” Rin Hyo menatap Sehun sebentar lalu beralih kearah Ahra.

“Mm, begitulah. Tapi eonnie, bisakah kau berhenti memanggilku adik ipar? Aku dan Cho Kyuhyun tidak dalam hubungan yang seperti itu.” Ahra menatap Sehun tak suka lalu beralih kearah Rin Hyo.

“Kau berpacaran dengan pria ini?”

Nde?” Rin Hyo tertawa hambar mendengar pertanyaan Ahra. “Tentu saja ti—“

Ne, kau benar. Annyeong haseyo! Oh Sehun imnida.” Kedua mata Ahra dan Rin Hyo terbuka lebar mendengar penuturan Sehun.

YA!! Oh Sehun!!!” bentak Rin Hyo pada Sehun yang hanya mengulas senyuman tengilnya.

“Ah, begitu ya. kalau begitu, lebih baik kalian mengobrol saja. selamat menikmati.” Ucap Ahra canggung lalu segera melenggang pergi.

Rin Hyo memejamkan kedua matanya frustasi. Duduk dikursinya dengan gerakan kasar, kemudian menatap Sehun tajam.

“Kau gila?!”

Sehun menggedikkan bahunya acuh. “Mendengar ucapannya, sepertinya kau dan Cho Kyuhyun sudah saling mengenal, ya?  maka itu, aku memberi satu peringatan untuk pria itu melalui gadis itu. Dengar, Sam Rin Hyo. Aku… tidak bisa melihatmu dengan pria itu.”

Sam Rin Hyo menghela napasnya kasar kemudian segera beranjak dari sana setelah menyambar tasnya yang ia taruh dikursi kosong sampingnya. Meninggalkan Sehun tanpa sepatah kata apapun.

Wajah tengil Sehun kini sudah berganti dengan ekspresi dingin yang bisa membekukan siapa saja. “Maaf, tapi kau harus mencintaiku juga. Rin Hyo-ah.”

TBC-

HAAAIII^^

udah lama yaaa ff ini gak nongol – nongol ._.

Maaaaff bangeeet *bow* mungkin ada yang uda pada lupa ceritanya juga kan ._.

ini ffnya kita bikinnya itu barengan. jadi dipart selanjutnya bakal dilanjutin sama Bellaa yaaa 😉

seperti biasaa, jangan jadi silent readers yaaa ^^

BYEEE~~

Advertisements

22 thoughts on “Love Dust 3

  1. asli yah? bahkan aku gatau ada ff ini hahaha baca dari awal yahhh kayanya seru soalnya kikwang sama kyuhyun emg as the real artist hihi

  2. Oh sehun!!!..bikin runyam az!!!gmn ntr kl ahra ngadu ma kyuhyun..kyuhyun kabur deh…
    Yah ga jd deket2 lg…
    Jangan donk..
    Kasian rinhyo..
    Trs gmn ma ji eun ma kikwang n minsoek..
    Pilih siapa??ji eun sudah cinta ya ma minsoek?? Ad flashback awal nya knp mrka bertunangan ga ntr thor???
    Biar tau gitu..hehehhe..

    Semoga ga lama lg ya hehehe..

    Semangat thor…

  3. kok aku agak gak suka ya sama karakter sehun disini,egois… kasihan sam rinhyo nya seperti dipaksakan untuk mencintai sehun 😪
    ayoo kyuhyun harus bisa memperjuangin rin hyo… next chap jangan lama2 ya eon hehehe

  4. kyuhyun, harusnya perjuangin rin hyo kalo memang dia mencintainya..
    Agak ndak suka dg cara sehun mendekati rin hyo..
    Perjuangan kikwang gigih bgt, buat dptin ji eun kembali

  5. sehun ngeselin bgt sih….tpi takutnya dia ngelakuin yg enggak2 lg. aq bingung mau dukung kikwang-jieun/minseok-jieun. kira2 klo nantinya kyuhyun nembak rinhyo sehunnya bakal gmana y?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s