Reincarnation 9 A

REINCARNATION 9

1429739179371

Author : Tsalza Shabrina

Pintu yang terkunci, meski tertutup begitu rapat.

Selalu dapat terbuka hanya karena satu benda kecil yang disebut kunci.

Dan kau, adalah kunci itu.

 

-Sam Rin Hyo-

 

***

“Aku Cho Kyuhyun. Satu – satunya pria yang sangat mencintaimu, dan satu – satunya pria yang kau cintai. Suamimu yang sudah berjanji didepan Tuhan untuk mencintaimu sepanjang usia, Sam Rin Hyo.”

Kedua kelopak mata Rin Hyo berkedip cepat. Tenggorokannya serasa begitu kering, dan bibirnya terasa kelu untuk digerakkan. Bahkan ia hampir lupa untuk bernapas selama 30 detik.

“Kau… aku tidak tahu apa yang kau katakan.” Ujar Rin Hyo dengan suara pelan dan terbata. Sedangkan Kyuhyun masih menatapnya dalam. Rin Hyo mengernyitkan dahi saat kepalanya terasa pening. Tangan kanannya ia gunakan untuk memijit pelipisnya.

Wae? Kau sakit?” tanya Kyuhyun sedikit panik seraya mengangkat sebelah tangannya berniat menyentuh dahi Rin Hyo. Namun gadis itu segera mengangkat sebelah tangannya.

“Jangan menyentuhku.” Ujar gadis itu berusaha membuat suaranya kembali normal meski tidak berhasil sama sekali. Kyuhyun mengeraskan rahangnya, ia tidak bisa berbuat  apa – apa saat ini. Dan kenyataan itu yang membuat ia marah pada diri sendiri.

Setelah kepeningan kepalanya terasa sedikit menurun, Rin Hyo menoleh kearah Kyuhyun yang masih menatapnya khawatir. Gadis itu meneguk ludahnya berat, lalu mulai berucap “Aku benar – benar tidak mengerti dengan apa yang kau katakan. Aku… berharap kita tidak bertemu lagi setelah ini.”

Dengan tangan gemetar Rin Hyo meraih kenop pintu mobil, spontan Kyuhyun menarik lengannya cepat. “Kau mau kemana?”

“Pulang, tentu saja.” Jawab Rin Hyo singkat setelah menarik tangannya kasar. Gerakannya kembali terhenti saat Kyuhyun menarik tangannya dengan kekuatan yang melebihi sebelumnya.

“Aku akan mengantarmu.” Rin Hyo membuang napasnya kasar. Menatap Kyuhyun tajam.

“Terima kasih karena kau tidak menangkapku dan menyelamatkanku dari komplotan raid. Aku bisa pulang sendiri, jadi singkirkan tanganmu.” Perlahan Kyuhyun menarik tangannya yang tadinya mencengkram kuat tangan Rin Hyo.

Sedangkan Sam Rin Hyo segera menggunakan kesempatan itu untuk keluar dari mobil. Meninggalkan Cho Kyuhyun yang hanya bisa menyandarkan diri dikursi mobil seraya memejamkan kedua mata frustasi.

***

“Maaf, Tuan Wu. Misi pertama gagal.”

Alis Wu Yi Fan terangkat mendengar ucapan Park Chanyeol disertai tundukan dalam dari pria itu, seolah menggambarkan penyesalan yang begitu dalam.

“Bagaimana bisa?” tanya Wu Yi Fan singkat, datar, namun begitu mengintimidasi. Seperti sorot matanya saat ini.

Perlahan Chanyeol mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap Boss Raid  yang sangat dihormati itu. “Cho Kyuhyun juga berada disana.”

Tak disangka, Wu Yi Fan malah mengulas senyuman miringnya. “Dia semakin memperlihatkan kelemahan terbesarnya. Tch, pria bodoh!” tukas Yi Fan tajam.

“Apa yang harus kita lakukan setelah ini, Tuan Wu?”

Wu Yi Fan berjalan pelan menuju sebuah meja yang diatasnya terdapat sebuah aquarium kecil berisi ikan yang kini sudah sedikit gemuk dari sebelumnya. Pria itu menatap ikan berwarna kuning oranye itu dengan seulas senyum miring.

“Umpan untuk menghancurkan ikan ini, seharusnya milik kita, bukan?” Yi Fan kembali mendecih. “Tapi Gold mencuri start tak terduga. Menghancurkan rangkaian rencana kita. Berengsek.” Kedua mata Yi Fan menjadi lebih tajam dari sebelumnya.

“Setelah kita bisa menangkap Sam Rin Hyo. Buat pertemuan dengan Lee Donghwa saat itu juga.” Titah Wu Yi Fan seraya menatap Chanyeol tegas. Chanyeol menunduk sebentar setelah mengatakan iya. Lalu berbalik hendak pergi, “Tunggu!” panggilan Yi Fan membuat pria bertubuh tinggi itu kembali menatap boss-nya.

Nde?”

“Berhentilah memakan snack. Banyak memakan makanan ringan tidak baik untuk kesehatan, beralih lah dengan meminum air putih atau memakan makanan yang bergizi.” Senyuman tipis Chanyeol terulas mendengar nasihat Yi Fan. Kepalanya mengangguk mantap, ia mengangkat tangan kanannya berlaku seolah memberi penghormatan pada boss-nya itu.

Arasseumnida, hyeong!

***

Rin Hyo memasuki lift dengan kedua kaki yang sudah sangat lemas. Mati – matian ia menahan kedua kakinya agar berdiri dengan tegak, namun apa daya berkali – kali ia menabrak bahu orang yang berpapasan dengannya. Juga gaya berjalannya kini yang terlihat sempoyongan. Menandakan jika ia sedang tidak baik – baik saja.

“Huuh.” Helaan napas beratnya keluar, seiring dengan tangan kanannya yang kini memegangi pegangan lift begitu erat. Kedua matanya terpejam, menahan kepeningan yang begitu terasa menusuk dipelipis hingga tengkuknya terasa begitu berat pula.

TING!

 

Lift yang membawanya kelantai bawah tanah akhirnya terbuka juga. Menampakkan Lee Donghae yang memang hendak keatas untuk membeli sesuatu di cafe dalam gedung apartemen ini. Kedua mata Donghae terbuka lebar saat mendapati Rin Hyo yang sudah hampir jatuh dengan wajah pucat pasi.

Spontan Donghae memapah tubuh lemas Rin Hyo. berjalan menuju kamar gadis itu dan menidurkannya diranjang. Punggung tangannya ia tempelkan pada dahi Rin Hyo, panas.

“Tunggu disini, aku tak akan lama.” Ucap Donghae yang hanya dibalas dua kali anggukan oleh Rin Hyo. Gadis itu sedang mengatur napasnya yang terasa begitu berat. Sungguh, ini pertama kalinya ia dilanda kepeningan yang menyakitkan seperti ini.

Tak lama, Lee Donghae datang dengan sebuah nampan yang berisi kompres praktis, segelas air putih, dan satu piring berdiameter kecil dimana diatasnya ada sebuah kapsul obat.

Dengan cekatan namun lembut, Donghae menempelkan kompres itu tepat dipermukaan dahi Rin Hyo. membantu gadis itu untuk duduk menyandar pada dinding ranjang, lalu menyuapkan sebuah kapsul obat dan segelas air putih untuknya.

“Ada apa denganmu, hm?” tanya Donghae seraya mengusapi keringat dingin Rin Hyo dengan sapu tangan yang tadi juga ia bawa. Sam Rin Hyo tersenyum tipis, mengambil sapu tangan Donghae lalu mengusapi keringatnya sendiri.

“Aku juga tidak tahu.” Jawabnya sekadar, membuat helaan napas berat Donghae terdengar.

“Kau bilang tadi ke mini market. Kau… tidak membeli apapun? Apa yang membuatmu lama sekali diluar, huh?” Rin Hyo membaringkan diri diatas ranjang. Dahinya mengernyit, bibirnya terbuka sedikit saat mengingat bahwa belanjaannya tertinggal dimobil Cho Kyuhyun tadi. Ia menggigit bibirnya, bingung harus menceritakan ini pada Donghae atau tidak. Mengingat bagaimana tidak sukanya pria ini pada Cho Kyuhyun.

“Kau benar tidak apa – apa?” desak Donghae lagi.

“Tadi aku bertemu dengan satu orang dari raid. sepertinya mereka ingin balas dendam karena waktu itu aku pernah membunuh salah satu anak buahnya. Dan seperti yang kau lihat sekarang… aku hanya merasa pusing.” Alis Donghae terangkat bingung.

Raid?” Rin Hyo mengangguk pelan.

“Hae!”

“Hm?”

“Bisakah kau menemaniku disini? Aku tidak bisa tidur jika pusing seperti ini, tapi aku semakin pusing jika hanya terdiam.” Donghae mengangkat sebelah alisnya bingung dengan pernyataan Rin Hyo.

“Lalu? Apa yang harus kulakukan sekarang?” Rin Hyo tersenyum tipis.

“Waktu direstoran… kau belum menyelesaikan ceritamu. Kau bisa melanjutkan lagi sekarang.” Donghae mengernyitkan dahi, berfikir dari mana ia harus melanjutkan ceritanya yang sempat terputus direstoran waktu itu.

“Akan membutuhkan waktu yang begitu lama jika aku harus menceritakan semuanya, Jen. Jadi, bertanyalah sesukamu. Apa yang ingin kau ketahui dariku, aku akan menjawab semuanya.”

“Mengapa Lee Donghwa mendirikan Gold? lalu… mengapa kau dan Kikwang oppa juga ikut membantunya?!”

“Donghwa hyeong sangat membenci ayah. Kenyataan bahwa ayah adalah seorang ketua salah satu divisi di NIS. Membuat ia berpikir untuk membuat sebuah organisasi gelap, yang dinamai Gold. Dan alasan mengapa aku dan Kikwang membantunya adalah… karena dia adalah Lee Donghwa. Hyeong tertua kami.” Alis Rin Hyo terangkat sempurna, kedua matanya juga melebar tak percaya dengan alasan Donghae. Pening dikepalanya juga sudah sedikit hilang entah itu karena kompres ini, atau karena rasa sakit itu dialihkan oleh rasa penasarannya yang semakin mendominasi.

Spontan Rin Hyo merubah posisi berbaringnya menjadi duduk bersandar pada dinding ranjang. Menatap Donghae dengan tatapan yang sama. “Apa hanya itu alasannya?” tanya Rin Hyo memastikan.

Lee Donghae mengangguk penuh keyakinan seraya tersenyum kecut, membuat Rin Hyo menghembuskan napas kasarnya. Kepalanya sudah menggeleng pelan, tanda bahwa ia tidak percaya dengan alasan klasik Lee Donghae.

“Tubuh mereka selalu mematuhi apa yang diperintahkan kakaknya meski otaknya menolak. Hingga tanpa sadar, tangan mereka sudah terkotori oleh kegiatan – kegiatan busuk.” 

 

Kerutan didahi Rin Hyo dan kedua mata melebarnya perlahan kembali seperti semula saat kata – kata Ji Eun saat itu terngiang ditelinganya. Tatapan itu kini berubah menjadi sendu.

“Apa kalian setakut itu pada Lee Donghwa? Apa pria itu sangat kuat hingga kalian tidak bisa berkutik dihadapannya?” tanya Rin Hyo dengan nada cepat. Seketika Donghae mendendangkan tawa renyahnya.

“Maksudmu… aku dan Kikwang takut pada Donghwa hyeong?” Donghae kembali melepaskan tawanya, membuat Rin Hyo menatapnya bingung. Meski kepalanya mengangguk ragu.

“Ya, melihat bagaimana kalian selalu tunduk pada pria itu. tak melawan meski ia telah memukuli kalian begitu kerasnya. Membentak, memaki,dan hal – hal buruk lainnya. Terkadang aku sangat ingin menjambak rambutnya jika dia bukan kakakmu.” Tawa renyah Donghae kini berganti dengan kekehan geli melihat ekspresi Rin Hyo yang menggemaskan.

Donghae menghentikkan kekehannya, tersenyum tipis seraya menatap Rin Hyo dalam. Kepalanya mengangguk pasti, “Ya, kau benar! Aku dan Kikwang tidak bisa melawannya. Tapi, takut… itu sama sekali bukan alasan mengapa kami tidak bisa melawan apa yang telah Donghwa hyeong lakukan.”

“Lantas?”

Donghae menghela napasnya berat, mengulas senyuman patahnya. “Sebenarnya aku tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun sebelumnya.”

“Jika kau tidak ingin bercerita tidak usah dipaksakan.” Sontak Donghae menggeleng tegas.

Ani. Aku ingin mengatakannya padamu.” Tukasnya. Rin Hyo menatap Donghae lembut, mencoba membuat Donghae lebih nyaman mengatakannya melalui tatapannya. “Sebenarnya, aku kasihan pada Donghwa hyeong. Dulu, Lee Donghwa selalu menjadi sasaran empuk appa untuk dipukuli habis – habisan. Karena hanya pria itu lah yang mempunyai keberanian tinggi untuk membela eomma dan membela kami. Aku dan Lee Kikwang.”

Donghae kembali menghela napasnya berat, menceritakan hal ini sama seperti membuka luka lama yang sudah ia simpan rapat – rapat dalam hatinya. “Hingga saat eomma meninggal, Donghwa hyeong mengajak kami untuk mendirikan Gold. Pria itu mempunyai banyak relasi yang bisa mengajari kami berkelahi, latihan menembak dan latihan – latihan lainnya. Tak terasa Gold berkembang begitu pesat selama satu tahun. Dan ayah kami, mulai melakukan penyelidikan pada pembunuhan yang dilakukan oleh pembunuh bayaran.”

I guess, that killer is one of  Gold, right?” Donghae mengangguk.

“Mm. Dia melakukan penyelidikan tanpa tahu jika sebenarnya yang ia cari adalah putra – putranya sendiri. Saat itu, Donghwa hyeong mengatakan semuanya pada ayah seraya menodongkan pistolnya. Aku masih ingat, hal itu terjadi di ruang kerja pribadi ayah.”

“Dan karena itu, Lee Jong Hoon meninggal karena serangan jantung.”

“Mm.”

“Aku … tidak bisa melawannya karena aku merasa kasihan. Jika saja, dulu kami bersama – sama melawan ayah. Jika saja kami dulu tidak berdiam diri menatapi ayah yang selalu memukuli Donghwa hyeong. Jika saja dulu kami tidak pengecut. Lee Donghwa, pasti tidak akan menjadi seperti ini.” Kedua mata Donghae memerah, membuat kedua mata Rin Hyo ikut memanas. Baru kali ini ia melihat raut wajah Donghae yang begitu hancur seperti ini. “Donghwa hyeong hanya ingin membela eomma. Dia tidak jahat, Jen.” Rin Hyo sontak mendekat pada tubuh Donghae, memeluknya erat. Mengusap punggung pria itu lembut. “Apa yang telah dilalui Donghwa hyeong dimasa lalu sangat mengerikan. Dan apa kini aku pantas untuk membalasnya saat ia memukuliku?” Donghae masih meracau dengan tubuh yang bergetar karena terisak.

Rin Hyo menggigit bibirnya kuat, ia tidak bisa melihat Donghae seperti ini. Lee Donghae yang ia kenal tidak seperti ini. “Keure, ara. Uljima. Lee Donghae.”

***

Lee Donghwa menggelar secarik kertas diatas meja yang disinari lampu terang tepat diatasnya. Pria itu membundari beberapa tempat yang terlihat dipeta itu lalu menatap satu per satu saudaranya juga Ji Eun dan Rin Hyo dengan tatapan tegas penuh tekanan miliknya itu.

“Lee Kikwang dan Shin Ji Eun, kalian disini. Pastikan semua matamu kau pergunakan dengan baik, Kikwang-ah!” ujar Donghwa seraya menunjuk salah satu tempat yang ia tandai tadi. Lee Kikwang tersenyum kecil seraya mengangguk ringan, sedangkan Ji Eun hanya mengangguk sekali.

“Lee Donghae dan Jennifer, kalian men-cover bagian sini bersamaku. Dan setelah aku memasuki ruangan ini, maka kau dan Rin Hyo berpisah dijalur ini dan ini. kalian mengerti?” jelas Donghwa lagi, keduanya mengangguk mengerti.

“Itu artinya, aku yang mengambilnya. Sendiri?” tanya Rin Hyo yang langsung mendapat tatapan tajam dari Donghwa.

“Kau tidak berani?” Rin Hyo mengernyit lalu tertawa kecut. Ia bertanya hanya ingin memastikan, bukan karena takut.

“Kau meremehkanku, oppa?” Donghwa tersenyum miring lalu menegakkan badannya. Mengecek jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kanannya.

“Sudah saatnya. Ingat, kalian menyerang setelah aba – aba dariku. Dan juga, kalian tidak lupa jika kita adalah buronan kan sekarang? Lebih berhati – hatilah.”

NE!”  Donghwa tersenyum kearah mereka.

“Kita bertemu di tempat parkir, 15 menit lagi. Bubar.” Titah Lee Donghwa yang langsung mendapat respon dari anggota – anggota intinya yang kini sudah berhamburan menuju ruang ganti.

Misi kali ini berbeda dari misi – misi lain yang bisa diatasi oleh bawahan mereka saja. Ini tentang transaksi yang berkaitan dengan berlian berjenis the cullinan. 9 pecahan berlian ini tersebar diseluruh dunia, dengan harga masing – masing sebesar $400juta atau yang setara dengan 400milliar won. Salah seorang milyuner dunia meminta bantuan pada Gold untuk membeli berlian itu dari salah satu orang terkaya di Korea Selatan, dan jika transaksi tidak berhasil. Tentu saja, mereka akan membeli berlian itu dengan cara Gold.

Sam Rin Hyo memakai gaun black and white yang memiliki belahan hingga paha. Belati dan pistol miliknya ia sembunyikan disana, seperti biasa. Shin Ji Eun memakai gaun yang tak terlalu ketat seperti yang dikenakan Sam Rin Hyo. Gadis itu memakai gaun berlengan berwarna black and white dengan rok putri duyung yang panjang, terlihat begitu mewah dan elegan. Sedangkan Donghae  dan Kikwang hanya memakai setelan tuxedo  yang begitu simple namun tak meninggalkan kesan elite yang sangat kentara.

“Kau terlihat seperti seorang wanita jika seperti ini.” ucap Kikwang seraya menatap istrinya tanpa kedip. Ji Eun memutar bola matanya malas seraya berkali – kali mengumpat karena tak bisa bergerak leluasa dengan rok yang ia gunakan ini.

Rin Hyo hanya tertawa kecil melihat sepasang suami istri yang selalu terlihat lucu dimatanya itu. kemudian tatapannya beralih pada Donghae yang tengah merapikan dasi kupu – kupunya serta menyiapkan pistol yang ia sembunyikan di balik tuxedo-nya itu.

Sam Rin Hyo menghela napas berat lalu menghampiri Donghae. Mengamit lengan pria itu seraya melempar senyuman terbaiknya. Mengingat bagaimana jelasnya wajah hancur Donghae saat menceritakan keluarganya membuat Rin Hyo ingin menjaga pria ini. Pria yang terlihat bengis namun sebenarnya dia adalah pria baik yang berhati lembut.

Kajja!” ucap Rin Hyo kemudian menarik lengan Lee Donghae yang hanya bisa menuruti kemana langkah Rin Hyo membawanya tanpa melepas pandangannya dari gadis itu.

Tuhan, bisakah aku dapat merasakan ini lebih lama lagi?

Bisakah ia tetap berpegangan padaku seperti ini lebih lama lagi?

Aku takut kehilangannya, Tuhan.

 

***

 

Mobil limonsin putih yang ditumpangi Donghwa dan anggotanya itu berhenti setelah terparkir rapi ditempat parkir komplek apartemen galleria foret yang terletak dikawasan Seoul Foret dan sungai han.

ctl9zhn9ajjyg7nj

We’re here, guys.” Ucap Rin Hyo setelah membuka topeng bening yang mereka gunakan untuk menghindari deteksi cctv yang tersebar disepanjang jalan raya tadi. Lee Donghwa menatap lantai paling atas apartemen 52 lantai itu. lantai paling atas adalah ruang apartemen termahal di Korea Selatan. Harganya mencapai 5 Milliar Won. Dan tentu saja, tak ada yang tak mungkin untuk orang terkaya di Korea Selatan membeli apartemen super mewah itu.

Mereka keluar dari mobil setelah Donghwa menyuruh sopir untuk menunggu dan kembali mengingatkan sopir Gold yang mempunyai keahlian menyetir sekelas pembalap tentang Plan B yang akan mereka gunakan jika plan A gagal.

Setelah itu, dengan langkah penuh percaya diri, mereka berjalan memasuki gedung apartemen itu. hanya dengan memperlihatkan secarik undangan pesta dan memakai pakaian berkelas seperti itu, mereka dapat memasuki gedung dengan disambut bungkukkan sopan juga senyuman ramah dari para penjaga yang menjaga hunian elit ini dengan begitu ketat itu.

Mereka mempunyai sumber listrik tersendiri yang terletak dibagian paling belakang ruang apartemennya. Kikwang-ah, kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?

 

Lee Kikwang tersenyum kecil saat suara penjelasan Donghwa kembali terngiang ditelinganya, menatap Shin Ji Eun yang juga tengah menatapnya dengan senyuman tipis. Seolah menyalurkan keyakinan dan kekuatan dari tatapan mata mereka.  Rin Hyo masih mengaitkan tangannya dilengan Donghae yang berdiri tegap disampingnya. Tak ada segelintir rasa takut dikedua mata mereka, yang mereka pikirkan saat ini adalah do fast, and go home.  Sedangkan Donghwa yang berdiri dibarisan paling depan masih mempertahankan wajah datar dan dinginnya. Tentu dengan tatapan mata yang selalu lurus kedepan, tajam dan mengintimidasi.

TING

 

Lift yang mereka naiki akhirnya sampai pada ruangan seharga 5 milliar won ini. beberapa pelayan dan juga tak lupa red carpet yang membawa mereka pada pintu berwarna coklat keemasan itu seolah menyambutnya. Satu per satu dari mereka menyerahkan undangan pada seorang pelayan yang berjaga didepan pintu.

Salah satu bodyguard yang berjaga disana membukakan pintu itu, seketika suara dentuman musik dan riuh suasana pesta menyambut mereka.

Wow.” Gumam Ji Eun seraya menyapu pandangannya kesekitar penuh kekaguman. Sam Rin Hyo mengulas senyuman miringnya, memuji kekayaan pemilik pesta ini didalam hati.

“Mereka benar – benar membuat pesta yang sangat mewah didalam sini.” Gumam Kikwang.

“Dan mereka juga benar – benar membuat penjagaan super mewah pada sang pangeran.” Tambah Donghae dengan kedua mata yang menatap kearah sang pangeran, pemilik pesta. Pria yang berumur sekitar 28 hingga 29 tahunan itu kini tengah meneguk beer belgia-nya dengan dikelilingi oleh para body guard yang diantaranya adalah 5 wanita dan 5 pria. Kedua mata mereka beralih ke beberapa titik yang menjadi persebaran bodyguard – bodyguard itu lalu mulai berdecak kagum.

Time to work.” Ujar Donghwa setelah kedua matanya bertemu dengan sang pangeran. Pria bernama Lee Hyun Sung itu berbisik pada salah satu bodyguard-nya lalu kembali menatap Dongwa. Menggedikkan kepalanya kekanan kemudian mulai berjalan, diikuti dengan Donghwa juga Donghae dan Rin Hyo yang mengekori pimpinannya itu.

Sedangkan Kikwang dan Ji Eun berjalan kearah lain. Membelah puluhan manusia yang tengah menikmati pesta dengan langkah ringannya. Tangannya masih mengamit lengan Kikwang, keduanya terlihat seperti sepasang manusia yang menikmati pesta meski kedua mata mereka sesekali menatap kearah para bodyguard yang tersebar disana. hingga akhirnya langkah mereka berhenti didepan pintu merah, tanpa ragu mereka memasuki pintu itu. berjalan menyusuri lorong yang membawa mereka pada sebuah pintu lagi.

“Pestanya disebelah sana, Tuan.” Ucap seorang bodyguard yang tengah berjaga dipintu itu. Ji Eun melepas kaitan tangannya, berjalan menghampiri bodyguard itu dengan wajah kebingungan.

“Ah, permisi.” Ucap Ji Eun seraya tersenyum canggung.

“Kalian tidak boleh kesini, pestanya disebelah sana.” Potong bodyguard itu yang kini sudah beranjak dari tempatnya, seraya mengulurkan tangan kanannya seolah menunjukkan dimana pesta itu berada.

“Aku hanya ingin bertanya—“

BUGH

Ji Eun melayangkan pukulannya tepat pada hidung pria itu, disusul dengan Lee Kikwang yang menendang dada pria itu kuat hingga pria itu tersungkur pingsan. Ji Eun melepas paksa kartu id yang terpasang disaku kemeja pria itu lalu menempelkan pada alat sensor yang bisa membuka pintu itu secara otomatis.

Setelah pintu terbuka, Kikwang dan Ji Eun dengan cekatan menarik tubuh pria berbadan besar itu memasuki ruangan, lalu kembali menutup pintunya.

“SIAPA KALIAN?!” bentakkan seorang pria lain membuat kepala mereka segera tertoleh kearah suara.

Oh my god.” Gumam Ji Eun terkejut. 10 orang, ia berhitung dalam hati. Ia menatap Kikwang yang juga tengah menatapnya dengan senyuman miring. Seolah berkata we can beat this, dear. Ji Eun mengangguk mantap kemudian melemparkan senyum kearah para bodyguard itu.

“Maaf, mengganggu pesta kalian. Tapi apa kalian tahu dimana toiletnya? Kami harus menaruh pria ini disana.” ujar Ji Eun dengan nada mengejek seraya menunjuk tubuh pria yang masih tak sadarkan diri itu. Seketika itu juga, mereka menoongkan pistolnya kearah Kikwang dan Ji Eun.

“Oh, hold on. Easy,man.” Kikwang mengangkat telapak tangannya tanpa guratan wajah takut yang tersirat. Pria itu melirik Ji Eun, memberi kode.

Shin Ji Eun menghitung didalam hati. 1… 2… 3…

SRET

Ia melepas rok putri duyungnya hingga menyisakan hotpans hitam yang sudah dilengkapi oleh pistol dan belati yang menggantung disana

lalu melempar kearah mereka, mengalihkan perhatian. Sedetik kemudian ia melempar flashbang yang menyebabkan timbulnya asap putih pekat hingga 10 bodyguard itu tak bisa melihat apapun. Sibuk menutupi hidung dan kedua matanya yang terasa pedas.

“Saatnya bermain.” Ujar Kikwang seraya memakai masker dan kacamatanya. Disusul dengan Ji Eun yang juga melakukan hal yang sama.

***

Lee Donghwa duduk dimeja lonjong panjang. Berhadapan dengan Lee Hyun Sung yang juga duduk disisi ujung lainnya. Mereka berhadapan, namun untuk jarak yang tak dekat.

“Kau mengingkari janjimu untuk datang sendiri, Lee Donghwa-ssi.” Donghwa mengulas senyuman culasnya.

“Kau juga mengingkari janjimu untuk tidak menganggapku sebuah ancaman, Lee Hyun Sung-ssi.” Balas Donghwa tak kalah tajam seraya menatap belasan bodyguard yang kini mengelilinginya. Lee Hyun Sung tertawa pendek, kemudian melipat kedua tangannya dimeja. Bersamaan dengan itu, Donghwa menaruh kopernya diatas meja. Mendorong koper itu kuat hingga berhenti tepat didepan pria itu.

“400 milliar won. Sesuai dengan harga umumnya, ambil itu dan berikan berliannya padaku.” Ucap Donghwa tanpa perlu berbasa – basi.

“Tsk, apa kau tidak tahu bisnis, tuan? Bagaimana jika kumulai dari 500 milliar won.”

“Tch, berhenti memikirkan bisnis dan ambil saja uang itu.”

“Jika aku tidak mau menjualnya?”

Donghwa mengulas senyuman miringnya. “Kalau begitu kau bisa mengambil uangnya, dan aku akan mengambil milikku. Kau masih punya kesempatan, Tuan Lee.” Ujar Donghwa tenang namun sarat akan tekanan. Wajah Hyun Sung mengeras.

“Berlian itu disimpan disebuah brankas yang sangat tebal dan berlapis baja. Hanya bisa dibuka oleh retinaku, dari kamera cctv yang berada disana. dan juga—“

“Dilindungi oleh puluhan bodyguard. Dan mengapa kau membuka lewat retinamu yang kau perlihat di kamera cctv? Karena sebenarnya brankas itu bisa terbuka lewat sumber listrik yang berada di belakang ruang apartemenmu. Ah, dan juga itu adalah alasan mengapa ruangan sumber listrikmu itu dijaga oleh 10 bodyguard yang bertubuh besar. Apa aku salah?” potong Donghwa dengan senyuman miring yang masih terulas dibibirnya. Hyun Sung mengepalkan kedua tangannya kuat – kuat.

Salah satu bodyguardnya tiba – tiba menghampiri Hyun Sung, membisikkan sesuatu yang membuat kedua matanya melebar seketika. Pria itu menatap Donghwa penuh amarah.

“Apa yang kau lakukan pada orang – orangku, ha?!” bentak Hyun Sung seraya menggebrak meja dan beranjak dari tempatnya. Donghwa semakin memperjelas senyuman miringnya.

“Bukankah sudah kubilang untuk mengambil uangnya saja, Lee Hyun Sung-ssi?”

Hyun Sung menghunus Donghwa dengan tatapannya. “Hancurkan dia dan semua orang – orangnya. Jangan sampai mereka lolos dari rumah ini hidup – hidup. Dan juga, hubungi NIS. Kurasa mereka akan senang bertemu dengan tamuku.” Ujar Hyun Sung lantang.

Donghwa tersenyum. Menghidupkan mic kecil-nya lalu berkata pelan, “Sekarang.”

***

Sekarang.

 

            Sam Rin Hyo dan Lee Donghae yang sejak tadi berdiri didepan pintu ruangan meeting itu langsung menegakkan kepalanya. Tanpa basa – basi Donghae langsung memukul perut pria yang berada disampingnya, menendang dahi pria itu dengan tulang tempurungnya. Sedangkan Rin Hyo menendang selangkangan pria lain yang berada disampingnya. Kemudian melayangkan fan kick pada kepala pria yang kini menunduk menahan sakit didaerah terpentingnya itu hingga ia tersungkur.

“Hati – hati. Kita bertemu didepan pintu brankas.” Ujar Donghae pada Rin Hyo yang hanya dibalas senyuman oleh gadis itu sebelum mereka berpencar.

Sam Rin Hyo melangkah besar – besar menyusuri lorong. Sebenarnya mereka saat ini tengah memutari ruangan meeting yang nantinya akan membawa mereka pada ruangan dimana brankas itu berada, tepat dibelakang ruangan meeting.

2 – 3 orang berdatangan kearahnya. Gadis itu mengeluarkan pistolnya, menembakkan 3 kali tembakan tepat pada betis pria – pria itu sebelum mereka sempat menembakkan pelurunya kearah Rin Hyo. namun pria – pria itu terus berdatangan. Jika pelurunya habis, karena tak ada tempat untuk sembunyi dan mengisi peluru, ia beralih pada belati kecilnya. Menendang dagu pria itu lalu menusuk paha pria itu hingga pria itu berlutut, tanpa melepas belatinya ia menyikut dada pria lain yang tengah menyerangnya, melepas belati dari paha pria sebelumnya lalu menusukkannya pada punggung pria itu.

Dilain sisi, Donghae dengan gerakan cepat dan gesitnya menendang tangan seorang pria yang tengah menodongkan pistol padanya hingga pistol itu terlempar dan dengan mudah ia menangkap pistol itu dengan tangan kirinya yang kosong, hingga terdapat dua pistol kini yang menghiasi tangannya. Ia melayangkan tembakkan tak beraturan kearah pria – pria itu hingga mereka tersungkur. Donghae lebih pintar bela diri dari pada tembak menembak.

Semua itu mereka lalui hingga akhirnya, keduanya bertemu didepan pintu ruangan dimana brankas berisi berlian the cullinan itu berada. “Kau terluka?” tanya Donghae langsung saat ia sudah menemukan Rin Hyo yang tengah berjalan kearahnya.

Rin Hyo menggeleng sekadar, kemudian berucap pada mic kecilnya.

“Lee Kikwang, Shin Ji Eun, kalian sudah selesai?!”

***

Ji Eun melakukan tendangan saltonya hingga mematahkan rahang pria yang masih menutupi matanya itu. salah satu pria yang berada disana berteriak kemudian mulai melayangkan tembakan asalnya kearah Ji Eun. Namun tentu dengan tubuh fleksibel dan rampingnya itu, ia bisa menghindari timah – timah panas itu. ya, setidaknya profesinya dulu sebagai ballerina profesional dapat membantunya.

Sedangkan Lee Kikwang bertugas sebagai invisible man. Tugasnya hanyalah mencari pintu dimana sumber listrik itu berada. Kikwang mengulas senyumannya saat akhirnya menemukan pintu yang sejak tadi ia cari itu.

“Ji Eun-ah, aku menemukannya.” Ujar Kikwang pada mic kecilnya. Lee Kikwang memberi arahan dimana letak pintu itu, agar Ji Eun mengerti.

Setelah sampai, Shin Ji Eun segera menempelkan idcard yang sejak tadi ia bawa lalu memasuki ruangan itu setelah ia kembali melemparkan flashbang yang sudah terkontaminasi oleh gas beracun yang dapat mematikan kerja otak hingga 15 jam. Jadi mereka akan tidak sadarkan diri selama 15 jam.

Sesampainya mereka didalam, Kikwang segera mengeluarkan notebook –nya. Menyibukkan diri dengan kabel – kabel berbagai warna yang Shin Ji Eun benar – benar tidak mengerti berfungsi sebagai apa. Gadis itu lebih memilih untuk memandangi cctv. Terpampang jelas bagaimana orang – orang masih menikmati pesta, walaupun dimonitor lainnya terlihat dengan jelas bagaimana pertempuran sengit yang menumpahkan banyak darah.

Lee Kikwang, Shin Ji Eun, kalian sudah selesai?

 

Terdengar suara Rin Hyo dari alat dengar mereka yang tersembunyi dibalik telinga. “Tunggu sebentar.” Jawab Kikwang yang tengah bermain dengan angka dan simbol – simbol membingungkan itu. pria itu memang sangat pintar dengan apapun yng berhubungan dengan komputer dan sejenisnya. Ia adalah peretas yang sangat cerdas.

“Selesai.” Tukas pria itu akhirnya.

***

Pintu itu terbuka seiring dengan suara Lee Kikwang yang berkata selesai. Rin Hyo menoleh kearah Donghae kemudian menghela napas berat sebelum ia memasuki ruangan yang berpintu besar itu. Donghae bertugas berjaga didepan, sedangkan Rin Hyo bertugas mengambil berliannya. Pintu itu otomatis tertutup setelah ia benar – benar berada disana. dan ia kembali bertemu dengan lorong memanjang, lagi.

Baru saja Rin Hyo hendak mulai melangkah, mendekat pada sebuah brankas yang tingginya sekitar 3 meter dan lebar sekitar 5 meter. Tiba – tiba suara Kikwang menghentikkan langkahnya.

Tunggu.

 

Wae?”  balas Rin Hyo cepat, tubuhnya seketika berhenti bergerak.

Ada kode suara yang harus kau katakan sebelum berjalan melewati lorong lebar itu. sepertinya kita melewatkannya, aku sudah menemukan keseluruhan luar dalam design ruangan itu dan menemukan 6 mata panah yang berada disisi kanan dan kiri saat kau 3 kali melangkah. Lalu 4 senjata TMP di langkah selanjutnya hingga berhenti pada langkah ke-6. Dan yang terakhir adalah laser listrik yang keluar tepat dari belakang kau berdiri saat ini, nantinya laser itu akan berjalan hingga memojokkanmu pada brankas. Dan itu artinya, kau pasti mati jika kau melangkah sekali saja, Jen.

 

Penjelasan dari Lee Kikwang membuat ia diam – diam meneguk ludahnya. Oh, astaga! Kau hampir saja mati, Jen! gadis itu memejamkan kedua matanya frustasi seraya mundur selangkah. Sungguh, detakan jantungnya sudah berdegup dengan kencang kali ini.

“Cari kodenya, Lee Kikwang.” Titah Rin Hyo dengan suara tercekat.

Arasseo, tunggu sebentar.

 

HAHAHA, sepertinya jantungmu sudah hampir keluar. aku bisa melihat wajahmu dari sini, hahaha.

 

            “Diam kau, Shin Ji Eun!” umpat Rin Hyo seraya menatap kamera cctv yang berada di sudut atas lorong. Dan itu semakin membuat tawa Ji Eun terdengar begitu keras.

Lee Hyun Sung tampan.

 

            Mwo?!”

Lee Hyun Sung tampan. Itu adalah kodenya.

 

            Rin Hyo memutar bola matanya malas, ia tidak menyangka kodenya sangat menjijikkan seperti itu. “Lee Hyun Sung tampan.” Ucap Rin Hyo dengan nada malas dan wajah datar. Seketika itu, lampu yang sebelumnya padam menyala terang benderang. “Woah, awalnya aku merasa pria itu keren. Tapi sekarang, pria itu tak ada keren – kerennya sama sekali.” Gumam Rin Hyo kemudian berlari mendekati brankas.

Kau bisa langsung membukanya.

 

            What are you talking about?!” pekik Rin Hyo kembali terkejut.

Kodenya sudah kau katakan tadi, Jen.

 

            Rin Hyo mendecih tak percaya. “Oh my god. He’s absolutely a freak man.” Gumam gadis itu kemudian memencet tombol open yang berada disamping brankas itu. Ia harus mundur beberapa langkah karena pintu yang sangat tebal dan besar itu terbuka dengan sendirinya.

Bibirnya menganga seketika saat kedua matanya melihat secara langsung berlian yang dilindungi sebuah kotak kaca itu. “Beautiful.” Gumamnya pelan.

starofafrica3

***

Lee Donghwa menembakkan tembakan terakhirnya pada satu bodyguard yang tersisa disana. Dengan napas terengah – engah, pria itu menatap Lee Hyun Sung yang kini masih duduk dikursinya dengan tubuh gemetar ketakutan.

Donghwa menyeka darah yang mengotori sudut bibirnya, berjalan kearah Hyun Sung lalu menarik kerah belakang pria itu hingga tubuh pria yang sudah tak berdaya itu menegak sempurna. “Ini akan sangat mudah jika kau mengambil uang ini, Lee Hyun Sung.” Desis Donghwa tepat pada telinga pria itu.

“Tolong jangan bunuh aku.” Pinta Hyun Sung yang sudah mengeluarkan banyak keringat dingin. Donghwa tertawa pendek. Mengunci leher Hyun Sung dengan tangan kanannya, dan menodongkan pistolnya tepat pada pelipis Hyun Sung dengan tangan kirinya.

“Aku tidak membunuhmu, ah… belum.”

***

“ARGHH!!”

Suara teriakan para wanita dan orang – orang yang tengah berhamburan dengan kelimpungan terdengar memekakkan telinga, sesaat setelah anggota NIS memasuki apartemen itu.

PYAR

Cho Kyuhyun menembak salah satu botol wine hingga membuat kericuhan itu terhenti seketika. Pria itu menghela napasnya berat,

“TENANG! KUMOHON PADA KALIAN UNTUK KELUAR SATU PERSATU DENGAN TERTIB. KALIAN HANYA BISA KELUAR DENGAN MEMBAWA KARTU TANDA PENDUDUK.  BISA DIMENGERTI?!” titah Kyuhyun dengan suara lantangnya. Seketika semua orang disana reflek menganggukkan kepalanya patuh.

Kyuhyun menoleh kebelakang, menunjuk dua orang yang berada dipaling belakang barisan. “Kalian berdua yang menjaga pintu keluar.” ucap Kyuhyun pada dua pria itu.

“Lee Hyuk Jae, kearah sayap kanan. Ji Chang Wook sayap kiri. Aku akan mengambil jalan tengah.” Titah Kyuhyun lagi seiring dengan tim Lee Hyuk Jae dan tim Ji Chang Wook yang segera menjalankan tugasnya. Kyuhyun dengan timnya berjalan lurus kedepan, memasuki lorong yang membawanya pada satu pintu merah berdaun dua.

Kyuhyun mengangkat kepalan tangan kirinya tanpa menggerakkan tangan kanannya yang tengah memegang senjata berjenis punisher saat kedua matanya menangkap pergerakan yang terjadi pada pintu itu. Seketika semua anggota timnya menghentikkan langkah, membidik tepat pada pintu itu.

Lee Donghwa keluar dari sana dengan Hyun Sung yang berada dalam saderaannya. “Woah, kejutan apa lagi ini, hm?” ucap Donghwa seraya menatap Kyuhyun tepat pada kedua matanya. Seolah membawa pria yang memakai lencana NIS itu pada ingatan masa lalu, dimana mereka pertama kali bertemu.

“Sudah lama sekali bukan, Kepala Cho?” rahang Kyuhyun mengeras saat mendengar suara Donghwa yang terdengar begitu menyebalkan di telinganya. Ekor mata Kyuhyun sedikit bergerak saat mendengar derap langkah dua orang berlari dari arah kiri. Kelopak matanya sedikit melebar ketika menemukan Rin Hyo dan Donghae yang baru saja sampai didepan pintu ruang meeting.

Sam Rin Hyo melebarkan kedua matanya, menyisir pandangannya pada petugas intellijen bersenjata api itu satu persatu hingga pandangannya sampai pada Kyuhyun. Pria itu tengah menatapnya dengan tatapan sendu, seperti biasa.

Aku Cho Kyuhyun. Satu – satunya pria yang sangat mencintaimu, dan satu – satunya pria yang kau cintai. Suamimu yang sudah berjanji didepan Tuhan untuk mencintaimu sepanjang usia, Sam Rin Hyo.

 

Kata – kata Kyuhyun saat itu mendengung ditelinganya seperti kaset rusak. Ia mengeratkan giginya, menutup bibirnya rapat – rapat. Degupan jantung yang menggila itu, kembali lagi. Namun, ia merasa masih belum percaya dengan pria ini. bagaimana jika pernyataan Kyuhyun saat itu hanyalah salah satu jebakan yang bisa membuatnya terpelosok jauh kedalamnya, dan itu pula yang dapat membahayakan nasib gold. Hal – hal negatif seperti itulah yang kini merasuk dibenaknya.

“Angkat tangan kalian, menyerahlah. Kalian sudah tidak bisa lari lagi.” Ucap Kyuhyun tanpa melepas pandangannya dari Sam Rin Hyo.

Rin Hyo menatap Donghae yang kini sudah hendak mengangkat tangannya. Sedangkan gadis itu menghela napasnya berat, sedikit menundukkan kepala lalu perlahan mengangkat kedua tangannya. Namun…

DOR

TBC—

 

HOLLAAA!!! 

kepanjangan yaaa? wkwk maafin otak saya yang terlalu encer pas buat ini ff. 

maaf yaaa kalo kurang memuaskan atau kurang nge-feel.

seperti biasa, kalo kepanjangan pasti bakal saya bagi dua.

tunggu yang part B yaaa, doain bisa cepet selesai hehe 😀

Okelaaah, BYEE!!

Dont be silent readers, guys 🙂

Advertisements

33 thoughts on “Reincarnation 9 A

  1. ihhh malah bagus panjang gini thor….heheheeee
    yang baca puas 😀
    wohwoh sapa tu yang kena tembak ????
    kyuhyun kah ????
    kapan nihhh ingatan hyo nya pulihh ????
    masih lama kah thor ???

  2. ini ff yg aku tunggu2, akhrinya muncul juga..
    Tambah tegang bgt, knpa rin hyo ndak inget2 si, kpn amnesianya sembuh?
    Akh, knpa tbc nya muncul saat2 tegang nya,
    yg terakhir suara tembakan apa?
    Apakah rin hyo menembak kyuhyun? Atau donghwa yg menembak rin hyo?
    Next chap jgn lama2 ya kak..
    Udah pnsaran bgt nih

  3. Nggak kepanjangan kok… Malahan bagus… Tapi aku manggil apaan ya sama author nya.. Soalnya nggak asik aja gitu manggilnya “thor” 😀
    Tapi kok aku ngerasa nya dikit2 tu kayak adegan film furious 7 deh, pas yang mereka di Abu dhabi…. Bagus kok ceritanya.. Tapi kayaknya balakalan jadi long story ni.. Udah part 9 tapi belum ada pencerahan, bakalan gimana… Tetap semangat yaa buat lanjutin part 9B..
    Ooooya.. Ngemeng2 yang espresso #BetulNggakSihPenulisanNya 😀 kapan dilanjutin??

    • panggil apa aja boleh kookkk aku 98-line ._.
      Hehehe emang itu terinspirasi dari adegan Fast furious, ngetiknya ini pas habis pulang dari ngeliat tuh film ._. sumpah itu keren banget filmnyaaa *malahcurhat

      Betul kook, ini lagi on going :” gara – gara keseringan liat film action jadi agak kaku buat nulis ff yang kekgitu :”

  4. its always make me curious.. spa yg tertembak tuh?? jangan bilang it rin hyo.. andweeeee
    aku suka kalo ceritanya panjang.. malah lebih panjang lebih baik.. hahahaha #maunya# part ini lebih menegangkan dr yg sebelum2nya saeng.. dan aku deg2 an sendiri pas bacanya.. pokoknya daebak deh.. semngat y saeng bikin lanjutannya.. aku akn selalu menunggu.. hehe

  5. Huaaa itu siapa yg ketembak.. 😥
    Bisakah aku langsung baca next part nya.. 😀
    okee eonni.. aku langsung ke next part yaa..
    ntr aku komen di sana.. heheh.. ;D

  6. Wahhh siapaa tuhh yg ketembakk??? Bukan rinhyo kann?? Smogaa bukannn… yg adaa nnt kyuu ikut mati jugaa krn kehilangan 2kalii.. hhee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s