Unexpected Bond 4

unexpected bond

Author: Bella Eka

.

.

Lift berdenting sekali lagi. Bersamaan daun pintunya terbuka. Ji Eun sengaja membiarkan Kikwang berjalan mendahuluinya. Lantas menuju ruang VIP yang telah diberitahukan Tuan Shin.

Betapa terkejutnya Ji Eun. Kelopak matanya terbuka sempurna. Entah untuk apa jantungnya berdetak cepat mendapati Kikwang berhenti dan memasuki pintu ruangan yang menjadi tujuannya. Belum sanggup gadis itu mencerna apa yang terjadi.

“Kau tidak masuk?”

Ucapan Kikwang seolah petir menyambar. Membuat tubuh Ji Eun berjengit mendengarnya tiba-tiba. Kikwang yang telah masuk lebih dulu kembali membuka pintu. Ternyata ia sadar bahwa Ji Eun membuntutinya sedari tadi.

Sejenak mereka membeku. Kikwang terheran melihat Ji Eun yang sama sekali tak bergerak, tak berkedip, bahkan tampak tidak bernapas. Ah, Kikwang perlu memastikannya. Ia melangkah mendekati Ji Eun. Menjepit hidung gadis itu dengan tangannya.

“YA!” pekik Ji Eun sontak menarik wajahnya. Mengusap hidungnya yang berubah memerah. “Apa yang kau lakukan?”

“Syukurlah kau masih ingat bagaimana cara bernapas.”

Ji Eun mendesis pelan. Bibirnya mengatup kesal dengan tatapan sebal. Kikwang terdiam, ia terkesiap. Mendapati sisi lain Ji Eun yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Menggemaskan.

“Berani sekali kau menyentuhku!”

Kikwang memiringkan kepalanya seraya menatap Ji Eun datar. Tanpa mengucap apapun ia berbalik hendak masuk kembali.

“Kau yakin tidak salah ruangan?”

Langkah Kikwang terhenti. Berputar memandang Ji Eun yang tengah menggigit bibir bawah bagian dalamnya gusar. “Sudahlah. Berhenti bicara dan masuk saja.”

Ucapan Kikwang begitu tajam. Ji Eun mendengus tak percaya. Untuk pertama kali gadis itu diperlakukan seperti ini oleh pria yang tak begitu ia kenal. Yah, baiklah. Ji Eun harus mengakui bahwa Kikwang memang berbeda. Ternyata pria itu serius dengan ucapannya waktu lalu.

Ji Eun menghirup udara dalam-dalam. Menghembuskannya perlahan seiring membuka pintu bangsal yang entah mengapa membuat jantungnya berdegup kencang. Segala perspektif positif negatif ada dalam benaknya. Terutama mengenai Kikwang. Kehadiran pria itu membangun tanda tanya besar dalam pikiran gadis itu.

Begitu pintu sempurna terbuka, seluruh penghuni dalam ruangan itu memusatkan perhatian mereka pada Ji Eun.

“Annyeong haseyo,” salam Ji Eun canggung. Tentu saja, sebab bukan orang tuanya saja yang berada disana. Namun juga seorang pria dan wanita paruh baya yang sepertinya suami istri duduk dihadapan Tuan dan Nyonya Shin.

Pertemuan macam apa ini? Mungkinkah mereka adalah orang tua Kikwang? Jadi, apakah perjodohan? Pertemuan ini? Aku dan Kikwang? Dijodohkan? Yang benar saja.

“Sama sekali tidak berbeda dari yang di foto, bahkan lebih cantik,” ucap wanita yang Ji Eun duga ibu Kikwang. Ji Eun hanya tersenyum sangat tipis dengan gurat wajah kakunya.

“Dari mana saja kau, Shin Ji Eun?” interupsi Tuan Shin.

Bola mata Ji Eun bergerak kebingungan. “Aku hanya… Bagaimanapun maaf aku terlambat,” sesalnya sembari menunduk singkat.

“Tidak apa-apa. Kikwang juga tidak tepat waktu,” ujar wanita itu lagi seraya tersenyum manis pada Ji Eun. Pun pria disampingnya. Melempar senyuman menenangkan teruntuk gadis itu.

“Duduklah,” titah Nyonya Shin.

Ji Eun mengambil tempat disamping ibunya. Yang berarti dihadapan Kikwang pula karena hanya kursi itulah yang tersedia.

Tatapan datar Kikwang lurus terarah pada Ji Eun. Sedangkan gadis itu sibuk mengamati situasi. Mencoba membaca apa yang terjadi.

“Kebetulan sekali kalian berada di sekolah yang sama. Bukankah itu semakin menguntungkan?”

“Nde?” ujar Ji Eun ragu menanggapi pria yang disebut Tuan Lee oleh ayahnya. Tak salah lagi, sepasang suami istri itu adalah orang tua Kikwang. Tapi, menguntungkan? Hal apa yang dapat disebut menguntungkan?

Ayah Ji Eun tertawa ringan lantas berkata, “Benar, Tuan Lee. Bukankah itu berarti mereka telah ditakdirkan bersama?”

Dahi Ji Eun mengerut. Sebelah alisnya terangkat saat bertemu pandang dengan Kikwang seolah menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Kikwang hanya menggedikkan bahunya asal. Berbeda dengan Ji Eun, Kikwang lebih menunjukkan ketenangan.

“Jadi, kapan sebaiknya kita adakan pertunangan?” ujar Tuan Lee.

Dengan susah payah Ji Eun mengontrol ekspresinya. Namun tetap saja, kedua matanya terbuka lebar. Sungguh sulit dipercaya, segala perkiraannya awal tadi benar terjadi. Tapi Kikwang, wajahnya begitu datar seakan tidak merasakan bentuk emosi apapun. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin?

“Ada apa dengan Shin Ji Eun? Apakah keputusan ini sangat mengejutkanmu?”

Ji Eun mengerjap beberapa kali sebelum menjawab suara mendayu Nyonya Lee. “Ne. Ayah dan ibu baru saja tiba dari Amerika. Maka dari itu saya belum mengetahui mengenai hal ini sebelumnya.” Tuan dan Nyonya Shin tersenyum lega mendengar jawaban mantap putrinya.

“Selain cantik, ternyata Shin Ji Eun juga sangat tegas. Semakin lama melihatnya kupikir tidak ada gadis lain yang lebih baik untuk Kikwang selain putri Anda, Hyun Bae-ssi,” puji Tuan Lee membuat Shin Hyun Bae –ayah Ji Eun– mengulas senyuman bangga.

Sementara ulasan bibir Kikwang tersenyum kecut. Tak ada yang melihatnya selain Ji Eun. Rahang gadis itu sontak mengeras. Sikap Kikwang sungguh mengoyak harga dirinya.

Bukan keahlian Ji Eun dalam hal menunggu. Sosok Kikwang di matanya mendorong emosinya naik ke puncak ubun-ubun. Segera saja ia bertindak. “Maaf mengganggu pembicaraan. Tapi, bukankah sebaiknya kami harus saling mengenal satu sama lain secara pribadi? Jujur saja, kami tidak terlalu sering bertemu di sekolah.”

Nyonya Lee tersenyum manis seraya mengangguk setuju. “Aku tahu apa maksudmu. Kurasa itu ide yang bagus.”

“Baiklah kalau begitu. Kami permisi,” salam Ji Eun sembari menunduk singkat.

Sedangkan Kikwang masih terduduk memandang Ji Eun heran. Membuat gadis itu memberi isyarat dengan menggerakkan bola matanya menuju arah pintu sejenak. Meminta Kikwang agar ikut keluar bersamanya.

Akhirnya Kikwang pun turut berpamitan. Bersama Ji Eun meninggalkan ruangan VIP itu. Namun gadis itu tak mengucap apapun hingga mereka berada dalam lift. Kikwang terus memandanginya berharap Ji Eun mengatakan sesuatu, tapi tetap saja ia tak bergeming.

Mereka sampai di lantai dasar dan Ji Eun masih mengunci mulutnya rapat. Merasa kesal terus diacuhkan, Kikwang berucap, “Lain kali jangan menggunakan aku sebagai alasan untuk melarikan diri dari pertemuan seperti ini.”

Tanpa menanggapi, Ji Eun mengambil napas dalam. Menahan amarah yang bertambah akibat perkataan Kikwang.

“Sebenarnya apa tujuanmu melakukan itu?”

Ji Eun mengambil ponsel dalam tas jinjingnya. Mengutak-atik benda itu sebentar lalu menempelkannya pada telinga kanan. “Ahjussi, aku sudah selesai,” ujarnya singkat dan memasukkan ponsel itu kembali.

“Mengapa tidak berterus terang saja bila kau memiliki janji lain?”

Rentetan pertanyaan Kikwang membuat Ji Eun jengah. Ia berbalik menatap Kikwang yang berjalan mengekorinya. “Diam kau!”

Sebelah sisi bibir Kikwang tertarik keatas membentuk senyuman miring. “Shin Ji Eun yang cantik dan tegas. Gadis terbaik untuk berada disisiku. Kira-kira bagaimana reaksi eomma dan appa saat mengetahui jika kau sebenarnya adalah seorang gadis kasar dan tidak berperasaan? Akankah mereka masih tetap melihatmu sebagai sosok yang sempurna?”

Kedua tangan Ji Eun terkepal kuat. Napasnya memburu. Meski ia ingin, namun menampar pria itu sama sekali bukanlah gayanya. Gadis itu membuang pandangannya ke samping bersamaan napas kasarnya terhembus. “Tutup mulutmu!”

“Dan juga, jika kau tidak setuju dengan pertunangan ini, tunggulah sebentar lagi. Jangan tunjukkan bila kau menolak karena itu akan berimbas pada hubungan kedua perusahaan. Bersikaplah seolah kau menerimanya, lalu menjelaskan ketidak-cocokan dalam diri kita di kemudian hari. Dengan begitu masing-masing pihak keluarga kita akan memutuskan ikatan ini dengan sendirinya,” lanjutnya lantas menujukan tatapan tajam menusuk kedua mata Kikwang. Tapi mendadak Ji Eun kehilangan titik fokusnya. Detak jantungnya tiba-tiba berdentum keras sekali. Ia baru menyadari Kikwang menatapnya lekat dengan jarak sedekat ini. “Tenang saja, kau kira aku senang bertunangan denganmu?!” sarkatis Ji Eun guna menyembunyikan kegugupannya.

Ji Eun memutar tubuh dengan cepat. Menyambung langkahnya sambil sesekali memejam frustasi. “Ini gila! Benar-benar gila!”

Kikwang mendesis pelan. Menatap kepergian Ji Eun seraya mengernyit. “Gadis aneh!”

***

Matahari pagi yang tampak baru menyingsing tidak mampu membiaskan cahayanya dengan sempurna karena tertutup awan tebal. Awan-awan berkumpul seluas langit membentang menjadi mendung yang tiada habisnya. Menyebabkan udara sekitar semakin dingin membeku merasuki sendi-sendi tulang.

Di tengah cuaca yang sedang tidak bersahabat, keadaan sekolah masih sangatlah lengang. Namun Lee Kikwang telah berdiri di balkon atap gedung bersama sebuah cup Americano panas guna menstabilkan suhu tubuh. Kegiatan rutin yang selalu ia lakukan di pagi hari. Terkecuali hari libur tentunya. Tak jarang Kikwang menggosok hidungnya yang memerah kedinginan. Kepulan asap disetiap helaan napas semakin jelas hingga pernapasannya sedikit tersumbat.

Kikwang meneguk habis Americano di tangannya. Tapi gadis itu belum juga tampak. Sejenak ia beralih membuang cup ke dalam tempat sampah di sudut dinding balkon. Kemudian kembali mengamati keadaan ke tempatnya semula.

Oh, itu dia! Lee Kikwang dapat mengambil napas lega begitu melihat Shin Ji Eun yang baru keluar dari mobil berjalan gontai tanpa semangat. Gadis yang terbiasa Kikwang nanti, gadis yang selama ini Kikwang perhatikan, dialah Shin Ji Eun. Hari ini gadis itu tidak membawa mobil sendiri melainkan diantar oleh Kim ahjussi. Maka tak heran ia bisa datang sepagi ini.

Semua ini bermula saat Kikwang mulai mengetahui perihal pertunangan yang melibatkan dirinya dan Shin Ji Eun lima bulan yang lalu. Sudah lama sekali bukan? Tidak seperti Shin Ji Eun yang baru mengetahuinya semalam. Tentu hal itu karena halangan orang tua Ji Eun yang berada di Amerika.

Sejak itu pula Kikwang mulai mencermati sikap dan segala tingkah laku Shin Ji Eun. Meski awalnya sungguh tak suka, tapi seiring waktu berlalu ia terbiasa. Ia tahu bahwa Shin Ji Eun bukanlah seseorang yang tepat waktu, bahwa Ji Eun sering menghabiskan waktu di kedai oranye yang pernah menjadi tempat interaksi pertama mereka saat itu, hingga ketidaksukaan gadis itu pada minuman yang terlalu banyak mengandung kafein. Tanpa sadar sedikit banyak Kikwang memahami Shin Ji Eun yang sebenarnya.

***

“Tck! Apa jadinya bila kunci mobilku disita seperti ini? Menyebalkan!

 Sepanjang jalan Shin Ji Eun terus berdecak kesal. Bibirnya merengut seiring kedua alisnya tertaut. Gadis itu mempercepat langkahnya kemudian duduk di bangku dekat kolam ikan yang terletak disamping ruang perpustakaan. Menikmati gemericik air adalah salah satu favoritnya.

Shin Ji Eun duduk disana dengan kepala menunduk dan mata terpejam. Alunan alami beserta suasana sunyi yang mendukung selalu mampu meredakan emosinya. Tiba-tiba suara seseorang meletakkan sesuatu disampingnya membuka mata Shin Ji Eun. Ia sedikit mendongak, namun tidak ada siapapun. Ia menoleh ke kiri, untunglah sosok pemuda itu terlihat. Karena jika tidak, mungkin gadis itu akan pingsan ketakutan sekarang.

“Kau kah itu, Lee Kikwang-ssi?” panggilnya ragu. Tapi perawakan sosok itu memang persis seperti tubuh Lee Kikwang.

Pemuda itu sedikit berbalik menampakkan wajahnya. Shin Ji Eun benar, dia memang Lee Kikwang. Kikwang tersenyum tipis lalu berkata, “Tidak perlu berterimakasih padaku.”

Shin Ji Eun mendecih kecil menatap kepergian Kikwang yang memasuki perpustakaan. “Tch! Apa yang dia bicarakan?”

Namun tak lama ia teringat. Memandang lahan kosong di bangku panjang yang ia duduki. Terdapat sebuah cup berisi susu cokelat hangat dan segera saja Ji Eun mengambilnya.

“Bagaimana bisa dia tahu jika aku menyukai cokelat?” heran Ji Eun. “Ah, pasti hanya kebetulan saja.”

Disela Ji Eun menyesap minuman itu, ia tersenyum kecil. Cukup lama, hingga ia tersadar bersamaan senyuman itu pupus menghilang. “Mengapa aku jadi seperti ini?” gerutunya lalu membuang cup yang telah kosong ke dalam tempat sampah.

Siswa yang datang masih sangat jarang. Membuat Shin Ji Eun enggan menuju kelas. Ia memutuskan untuk memasuki perpustakaan dan melihat-lihat di dalamnya. Gadis itu hampir tidak pernah memasuki ruangan yang menurutnya membosankan ini.

Shin Ji Eun menelusuri buku-buku tersusun rapi dalam rak. Mulai dari buku berukuran kecil, sedang, hingga besar dan sangat tebal pun ada disana. Diantara rak-rak itu terdapat Lee Kikwang tengah berdiri seraya membaca sesuatu. Dengan rasa penasaran yang ada, Ji Eun menghampirinya. Sedikit mengintip juga tidak apa-apa, bukan?

“Sudah kukatakan tidak perlu berterimakasih pada—“

“Jangan kira aku telah memberi maaf atas sikap tidak sopanmu kemarin,” sela Ji Eun cepat seiring ia semakin jeli menelisik isi buku yang Kikwang bawa. Hingga Kikwang sedikit menggeser tangannya untuk mempermudah Ji Eun membaca walau sebenarnya ia tidak mengerti arah pembicaraan gadis itu.

shin ji eun lee kikwang

“Kim Ung Yong. Pada usia tiga tahun, ia menunjukkan kecerdasan dan kemampuannya dengan memecahkan masalah persamaan kalkulus,” gumam Ji Eun lantas menatap Kikwang. “Apakah orang seperti itu benar-benar ada? Daebak!”

Kikwang mengangguk yakin. “Buktinya terbit buku biografi ini. Tidak mungkin mereka mengarang bebas menuliskan biografi seseorang atas dasar khayalan mereka. Selain itu dia memang memiliki IQ sebesar dua ratus sepuluh. Jadi tidak heran jika beliau sangat hebat meski ia masih berusia tiga tahun.”

Kedua mata Ji Eun membulat seketika. “Jinjja? Kau tahu dari mana?”

Kikwang menatap Ji Eun malas. “Ada di halaman sebelumnya,” jawab Kikwang sembari membalik beberapa lembar kertas dan menunjuk kalimat yang mendukung ucapannya.

“Benar juga.” Ji Eun kembali terlarut dalam bahasan topik buku itu.

“Apa kau benar-benar tidak pernah mendengar apapun tentang Kim Ung Yong? Padahal kecerdasannya sering dibahas di televisi, radio, majalah, dan saluran media apapun di Korea. Apalagi saat namanya tercatat dalam Guinness Book of World Records karena skor IQ yang menakjubkan itu.”

Ji Eun menegakkan tubuh dan memandang Kikwang tajam. Perkataan Kikwang membuatnya merasa diremehkan. “Ya! Apa kau tidak bisa melafalkan bahasa inggris dengan baik? Yang benar adalah Guinness Book of World Records!” ralat Ji Eun dengan aksen british yang kental.

Kikwang menghela napas bersama raut wajah yang sengaja ia buat menyebalkan. “Bilang saja jika kau tidak tahu apapun tentang Kim Ung Yong,” tuduh Kikwang enteng membuat Ji Eun menatapnya tak terima lantas beranjak dari perpustakaan.

***

“Sudah melihat papan pengumuman dalam website?”

Rin Hyo menggeleng menanggapi Kyuhyun yang berjalan beriringan disampingnya. “Memangnya nilai sudah keluar?”

“Tentu.”

“Bagaimana?”

“Kau bisa menebaknya sendiri.”

Rin Hyo mengulum senyum sebelum melanjut, “Siapa peringkat pertama?”

Kyuhyun memasang wajah penuh kebanggaan seraya menepuk dadanya dua kali membuat Rin Hyo terkekeh geli. Melihat tawa manis itu bibir Kyuhyun turut merekah indah. “Kau tidak ingin memberi selamat padaku?” ujarnya seraya membuka lebar-lebar kedua tangannya mengharap pelukan gadis itu.

Terlebih dahulu Sam Rin Hyo memeriksa keadaan sekitar. Setelah memastikan tidak adanya kamera CCTV, ia berhambur dalam pelukan kekasihnya. “Cho Kyuhyun memang yang terbaik!” puji Rin Hyo seiring Kyuhyun mendekapnya erat.

“Selamat pagi!” Suara tiba-tiba Lee Jong Suk membuyarkan kemesraan sepasang kekasih itu. Berbeda dengan Kyuhyun yang menampakkan ketidaksukaan, Sam Rin Hyo tersenyum ceria dan melepas pelukannya pada Kyuhyun sembari membalas, “Pagi, Lee Jong Suk!”

“Kau belum sarapan ‘kan?”

Lee Jong Suk menyodorkan sebungkus burger yang disambut kedua mata berbinar Rin Hyo. “Terimakasih, Lee Jong Suk!” ucap gadis itu dengan nada yang sama seperti sebelumnya. Lantas mengambil tempat di kursi terdekat sebelum melahapnya penuh semangat dan disusul oleh Jong Suk.

Sedangkan Cho Kyuhyun memandang malas dua orang yang tengah asyik menyantap burger itu. Bukannya ia membenci Jong Suk, ia hanya tidak suka bila Jong Suk terlalu dekat dengan Rin Hyo. Karena di mata Kyuhyun, sikap pria itu selalu tampak aneh setiap saat bersama Rin Hyo. Hal itu semakin memperbesar kemungkinan Sam Rin Hyo akan berpaling darinya.

“Aku ke kelas dulu,” pamit Kyuhyun lantas beranjak. Bahkan Rin Hyo tidak mengucap sepatah katapun untuk mencegahnya. Oh Tuhan, bagaimana cara menyadarkan gadis itu?

“Cho Kyuhyun!”

Senyuman Kyuhyun terulas lega mendengar Rin Hyo memanggilnya. Namun segera mengembalikan wajah datarnya sebelum berbalik cepat. “Mwo?” sahut Kyuhyun.

“Apa kau sudah sarapan? Ukuran burger ini terlalu besar untukku. Dan sebenarnya aku sudah makan pagi tadi. Kau mau?”

Kyuhyun mendengus. Sam Rin Hyo, gadis itu, sangatlah menyebalkan! Tapi apa daya ia sangat mencintainya. “Habiskan saja. Aku kenyang.”

Jawaban Kyuhyun membuat Rin Hyo mendecak. Menatap burger di tangannya dengan sesekali mengalihkannya pada Jong Suk karena merasa tidak enak pada sahabatnya itu.

“Berikan padaku saja kalau begitu,” timpal Jong Suk tanpa melupakan senyuman yang selalu terbentuk ringan.

Mian, Jong Suk-ah. Tapi perutku terasa benar-benar penuh sekarang.”

“Gwenchana.”

“Tidak bisa!” Tiba-tiba Kyuhyun menyahut burger yang hendak berpindah ke tangan Jong Suk. Tanpa sungkan ia melahapnya dan kembali melanjutkan langkah.

“YA! Tidak baik makan sambil berjalan!” teriak Rin Hyo tak dihiraukan Kyuhyun.

***

Disela Shin Ji Eun disibukkan oleh ponselnya, mendadak kedua mata gadis itu terbuka lebar. Sesuatu dalam sana mengejutkan gadis itu. Ia sedang memeriksa website sekolah untuk mengetahui hasil ujian waktu lalu. Memang Cho Kyuhyun tetap menjadi nomor satu, namun di nomor dua tertera nama Lee Kikwang. Padahal biasanya dirinya dan keempat sahabat lainnya selalu menduduki lima besar teratas. Tapi apa ini? Kim Woo Bin berada di nomor tiga disusul Sam Rin Hyo, Lee Jong Suk, dan yang terakhir Shin Ji Eun sendiri berada di peringkat enam.

“Apa dia siswa pindahan?” gumam Ji Eun lantas mencari daftar peringkat paralel yang lebih lama. Ternyata bukan, sedari awal Kikwang memang siswa TJ High School. Hanya saja sebelumnya ia selalu berada di peringkat enam atau tujuh. Deretan nomor yang tidak pernah Ji Eun baca lekat-lekat karena gadis itu hanya terfokus pada lima teratas saja.

“Hei, sudah melihat pengumuman?” Woo Bin menghampiri Ji Eun dan duduk di meja gadis itu.

“Sudah,” jawab Ji Eun singkat.

“Ada yang aneh, bukan?”

Ji Eun hanya menggedikkan kedua bahu acuh.

“Maksudku bocah itu. Dia, aku lupa siapa namanya, berhasil merebut peringkat dua.”

“Lee Kikwang,” ucap Ji Eun datar.

“Ya, itu yang kumaksud. Lee Kikwang. Aku ingin tahu bagaimana rupanya.” Woo Bin menyentuh dagu dengan sedikit mengernyit menandakan ia tengah penasaran.

“Siswa yang bekerja paruh waktu di kedai yang kita kunjungi dulu. Kau ingat?”

“Memangnya kenapa?” tanya Woo Bin beserta tatapannya teralih pada Ji Eun.

“Dialah Lee Kikwang.”

Sontak Woo Bin terdiam. Memandang heran wajah tanpa ekspresi Ji Eun. Shin Ji Eun yang terkenal akan ketidak-peduliannya terhadap orang yang tak dikenal, mengetahui bagian seluk beluk Lee Kikwang. Sungguh aneh. Ia butuh penjelasan. “Kau mengenalnya?”

“Begitulah.”

“Bagaimana bisa?”

“Sepertinya memang diharuskan seperti itu.”

“Maksudmu, kalian dipertemukan oleh takdir?”

Ji Eun menatap Woo Bin tak percaya seiring ia tertawa pendek. “Takdir? Bicara soal takdir, bukankah pertemuan kita juga termasuk didalamnya? Sudahlah. Kau selalu berlebihan.”

Woo Bin masih tetap pada posisinya. Mungkin ia memang berlebihan, tapi fakta Shin Ji Eun seperti itu benar-benar terasa aneh.

“Ya! Jangan menatapku seperti itu!” Ji Eun mengusap kasar wajah Woo Bin yang terus menatapnya penuh telisik.

***

“Cha! Aku membuatkan kimbap untukmu.” Dengan penuh keceriaan Ji Yeon membuka penutup kotak bekal dan menyerahkan isinya pada Kikwang.

“Gomawo,” ucap Kikwang seraya tersenyum lebar.

“Aku melihat pengumuman hasil nilai kemarin malam. Dan, selamat kau berhasil naik ke peringkat dua!”

Ji Yeon mengambil sepasang sumpit kemudian menyuapkan sepotong kimbap sembari berkata, “Karena itu aku membuatkanmu ini semalaman. Kurasa kau perlu tahu itu.”

Segera saja Kikwang membuka mulutnya menerima sesuap kimbap buatan Ji Yeon yang seperti biasa sangat enak. Gadis pandai memasak itu memang selalu membuatkan makanan disetiap Kikwang berhasil mencapai sesuatu.

“Bagaimana?”

“Enak sekali!” puji Kikwang dengan mulut penuh kimbap. Kedua ibu jarinya teracung keatas. Jangan lupakan lekukan yang selalu membentuk senyuman itu.

“Lebih baik kau habiskan dulu sebelum berbicara. Menjijikkan!” Ji Eun yang tiba-tiba melewati meja kantin mereka datang beserta mulut tajamnya. Tanpa melirik sedikitpun gadis itu berjalan lurus menuju tempat biasa bersama keempat sahabat lainnya.

Tatapan Ji Yeon sarat penuh benci pada Shin Ji Eun yang mulai duduk di tempatnya. Kedua tangan gadis itu terkepal kuat. Melihat raut wajah tanpa ekspresi Ji Eun dipadu sorot mata yang selalu tampak meremehkan semakin membuat tangan Ji Yeon gatal ingin menamparnya.

Dengan sigap Lee Kikwang menahan lengan Ji Yeon saat gadis itu hendak berdiri. Ia tahu kemana arah Ji Yeon akan bertindak. “Jangan gegabah. Kau tidak perlu berlebihan. Lebih baik ayo kita lanjutkan menyantap kimbap buatanmu ini,” ajak Kikwang mencoba meredakan emosi Ji Yeon.

“Bagaimana bisa dia tahan memiliki mulut sampah seperti itu?! Eo? Kenapa manusia tak berguna seperti mereka masih saja hidup di dunia ini?!”

“Sudahlah, Ji Yeon-ah. Hal-hal seperti itu tidak perlu kau pikirkan. Biarkan saja mereka bersama kehidupannya sendiri. Sedangkan kau fokuskan penuh pada kehidupanmu. Arasseo?”

Ji Yeon menghela napas dalam. Namun tatapannya masih terarah nyalang pada Ji Eun.

“Kubilang hentikan. Sekarang buka mulutmu.” Kini Ji Yeon yang bergantian menerima sesuap kimbap Kikwang. Porsi kecil yang mampu mengembangkan sedikit senyumannya kembali.

“Kau tidak mungkin menyukai gadis arogan seperti itu ‘kan?”

Gerak tangan Kikwang yang sedang memilah deretan kimbap seketika terhenti. Kemudian menatap Ji Yeon bersamaan segaris kecil terbentuk di dahinya. “Untuk apa kau menanyakan itu?”

Kedua mata Ji Yeon sedikit melebar mendapati tatapan lekat Kikwang. Entah memang benar atau dirinya saja yang merasa bahwa Kikwang tengah mencurigainya. “Aku hanya ingin tahu. Gadis yang bertingkah seolah derajatnya diatas siapapun seperti Shin Ji Eun, tidak mungkin masuk dalam kriteria gadis yang kau sukai, bukan?” ujar Ji Yeon cepat. Kelopak matanya pun mengerjap beberapa kali. Tanpa sadar ia mengulum bibirnya gugup karena Kikwang terus memaku tatapan padanya.

Tak lama Kikwang beralih memandang Shin Ji Eun. Gadis yang tak pernah ia dapati rekahan tawa bahkan senyuman tulusnya. Jikapun Ji Eun tersenyum, selalu satu sisi bibirnya saja yang tertarik keatas. Membentuk seringaian miring yang cukup membuat orang yang ditatap gadis itu merasa terkucilkan. Cukup lama Kikwang memandangnya lantas berucap, “Kau benar. Dia sama sekali bukan tipeku.”

***

Langkah tergesa Ji Yeon bergerak cepat menuju kamar mandi perempuan. Bibirnya terkatup menahan emosi. Ia tak mampu lagi membendung amarah yang ia rasa. Dan faktor terbesarnya adalah, ia tidak ingin Shin Ji Eun memiliki hubungan yang semakin jauh dengan Lee Kikwang.

Ji Yeon membuka pintu kamar mandi dengan kasar. Menatap sengit Shin Ji Eun yang sedang mencuci tangan di wastafel sembari mengamati bayangan wajahnya pada cermin besar. Sebelumnya Ji Yeon membuntuti langkah Ji Eun sebelum ia berhasil menemukan gadis itu.

Tubuh Ji Eun berjengit terkejut akibat gebrakan pintu Ji Yeon. Gadis itu membalas tatapan tajam Ji Yeon dengan sangat datar seperti biasa. Merasa bahwa Ji Yeon bukanlah seseorang yang ia kenal, Ji Eun kembali pada kegiatannya. Mengeringkan kedua tangan kemudian membenarkan bentuk rambut yang kurang rapi.

Napas Ji Yeon semakin memburu. Ia menghampiri Shin Ji Eun secepat mungkin lantas menarik rambutnya sekuat tenaga. Membalikkan tubuh Ji Eun dan menampar kuat pipi gadis itu sebelum Ji Eun mendapat celah untuk melakukan pembalasan.

“YA!” bentak Ji Eun dengan nada suara terendah. Menampik cengkeraman Ji Yeon pada rambutnya lalu menghadap cermin memeriksa wajahnya. Sial, pukulan Ji Yeon menghasilkan aliran darah merembes di sudut kiri bibirnya.

Tatapan Ji Eun berubah bengis terarah tepat di kedua mata Ji Yeon. Sembari menyentuh luka di bibir, Ji Eun mendesis, “Kau cantik. Tapi apa kau masih juga merasa iri pada keindahan wajahku?”

Ji Yeon mendengus tak percaya. Tangannya terangkat kembali namun terlebih dulu disanggah oleh Ji Eun saat ia mulai melayangkan pukulan keduanya pada gadis itu.

Selagi tangan kirinya menahan lengan Ji Yeon, tangan kanan Ji Eun bergerak membalas tamparan Ji Yeon padanya. Tapi gagal karena Ji Yeon lebih cepat mencengkeram pergelangan tangan kanannya.

Wae? Apa kau melakukan operasi plastik hingga tidak membolehkan aku menyentuh wajahmu?” desis Ji Eun seraya tersenyum culas. Lalu melepas lengan Ji Yeon bersamaan gadis itu membanting cengkeraman pada tangannya.

“Sejauh apa hubunganmu dengan Lee Kikwang?”

“Lee Kikwang?” Kedua mata Ji Eun menyipit tampak merendahkan. “Kau melakukan ini karena Lee Kikwang?”

“Jangan sekali-kali kau menatapku seperti itu! Kau kira dirimu siapa berani menjatuhkan harga diri orang lain seenakmu sendiri?!”

“Kau merasa harga dirimu dijatuhkan? Aku adalah Shin Ji Eun. Dan aku tidak bermaksud menjatuhkan harga diri siapapun. Tubuhku hanya bereaksi terhadap segala yang kupikirkan.”

Ucapan Ji Eun semakin membuat Ji Yeon naik pitam. Bola matanya sibuk berputar menghindari sosok Ji Eun yang lagi-lagi menyebabkan tangannya luar biasa gatal.

Melihat itu Ji Eun tersenyum sinis. “Mengenai aku dan Lee Kikwang, kukira kau sangat dekat dengannya. Lebih baik langsung saja menanyakan hal ini pada teman terdekatmu itu. Kau mungkin tidak sadar, tapi baiklah aku akan menyadarkanmu jika bukan aku yang menyebabkan harga dirimu jatuh. Tapi kau sendiri—“ Ji Eun membaca nametag milik Ji Yeon sebelum menyambung penuh penekanan, “Park Ji Yeon!” Kemudian segera berlalu meninggalkan Ji Yeon yang memejam frustasi.

***

Sambil menyecahkan langkah menaiki anak tangga, Shin Ji Eun terus memegangi luka yang semakin terasa ngilu dengan selembar tisu. Disamping itu juga untuk menutupi keadaan menyedihkan dirinya agar tidak terlihat orang lain.

“Sial!” umpat Ji Eun dikala hampir sampai di lantai tiga. Gerak kakinya terhenti seketika menyadari Lee Kikwang berdiri di anak tangga paling atas. Sebisa mungkin Ji Eun mengalihkan pandangannya menjauhi tatapan lekat Kikwang. Tapi Kikwang terus mengintimidasi hingga Ji Eun mengarahkan rambutnya menutupi wajah.

Hari ini mungkin memang salah satu hari tersial dalam hidup Ji Eun. Kikwang sempurna menghadangnya sekarang. Ji Eun melangkah ke kanan, Kikwang juga. Ji Eun melangkah ke kiri, Kikwang pula.

“Apa maumu?!” tajam Ji Eun.

“Perlihatkan wajahmu.”

“Minggir!”

“Singkirkan rambutmu.”

“Kubilang minggir!”

Kikwang menyibak rambut Ji Eun dengan tangannya sendiri dan menarik tangan gadis itu. Tertegun mendapati luka yang sedikit membengkak di sudut bibir Ji Eun.

“Kau sudah melihatnya jadi kuminta jangan menghalangiku lagi,” pinta Ji Eun lalu menutupinya kembali.

“Lukamu semakin membengkak.”

“Lantas?”

“Kau gila?! Tentu saja itu harus diobati.”

“Ya, dan itu bukan urusanmu jadi sekarang menyingkirlah dari jalanku.”

“Kau lupa? Untuk saat ini kau dan aku berada dalam jalan yang sama.”

Ji Eun mendongak menatap Kikwang tepat memasuki sorot mata teduh pria itu. “Maksudmu?” Nada suara Ji Eun melembut tanpa perintah.

“Aku tidak suka melihat tunanganku terlihat menyedihkan seperti ini.”

Ji Eun melempar pandangannya ke samping. Tidak ingin semakin terlarut dalam tatapan menentramkan itu. Terdiam sejenak mengembalikan perasaannya dingin kembali sebelum membalas tajam tatapan Kikwang. “Kuasai dirimu. Bisa-bisa kau jatuh cinta padaku.”

“Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan itu?”

Decihan sontak terlontar dari bibir Ji Eun. Namun tak lama gadis itu meringis menahan perih yang semakin terasa.

Tanpa membuang waktu lagi Kikwang menggenggam lengan Ji Eun erat dan menarik gadis itu menuruni anak tangga.

Ya! Jangan bilang kau akan memberiku obat merah!”

.

.

To be Continued

Advertisements

12 thoughts on “Unexpected Bond 4

  1. Aku yang pertama komen?? Hmm..senengnyaa…
    Aahh aku paling suka kyuhyo moment ah dan juga kikeun moment…aahh ji eun bilang aja mulai suka ama kikwang, tapi msh malu malu ni yee wkwkkk..
    Aku suka part ini,saeng meski ada kekerasannya dikit tapi ya feelnya dapet..lanjutkan terus eoh karya karyamu..hwaiting ^^

  2. akh part ini seru, sudah mulai ada momen kikwang dan ji eun..
    Aku rasa mereka sudah saling mencintai, hny saja mereka masih gengsi untk mengakuinya..
    Keep writing kakak,
    next ditunggu

  3. Disini uda ada moment kikwang dan ji eun hehe .
    Aku suka sm moment kikwang-jieun dan kyuhyun-rinhyo
    Sebenrnya ji yeon itu tmnnya kikwang? Trus perasaan ji yeon pasti bukan sekeder tmn , pst ad perasaan suka sm kikwang . Dipart ini makin seru , smga aja kikwang sm ji eun cpt2 sdr klo mereka sm2 suka hehehe
    Keep fighting eonni^^ makasi uda dipublish

  4. Akhirnya dipost lg^^…
    Wihhh ki kwang ternyata diam2 selalu memantau ji eun yaa. Tp knp ekspresi dia saat pertemuan itu begitu sih hahah.
    Ji eun kyknya suka deh sm kikwang tp mngkin gengsinya tinggi kali yaa.
    Aku jg suka moment kyuhyun dan rinhyo. Rinhyo kyk gk peka bgt yaa. Sabar aja kyu. Eonni bnyakin dong momennya kyu dan rinhyo.

  5. Wuah..semakin runyam az deh..
    Kikwang sebenarnya suka ga seh ma ji eun??kpn n gmn tepatnya mereka saling suka yah???wahh..ga sabar ngebayangin tampang woo bin kl tau kikwang ma ji eun tunangan..hahahah..
    Kyuhyun cemburuan bgt seh..lucu deh..

    Apa yang baka kikwang lakuin buat ji eun,sedih kasian liat bibirnya bengkak???..hehehhe

    Semangat tuk next part ya thor..

    Makasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s