Love Dust 4

1429306897248

Author: Bella Eka

.

.

 “Kau berpacaran dengan pria ini?”

Nde?” Rin Hyo tertawa hambar mendengar pertanyaan Ahra. “Tentu saja ti-“

Ne, kau benar. Annyeong haseyo! Oh Sehun imnida.” Kedua mata Ahra dan Rin Hyo terbuka lebar mendengar penuturan Sehun.

YA!! Oh Sehun!!!” bentak Rin Hyo pada Sehun yang hanya mengulas senyuman tengilnya.

“Ah, begitu ya. Kalau begitu, lebih baik kalian mengobrol saja. Selamat menikmati,” ucap Ahra canggung lalu segera melenggang pergi.

Rin Hyo memejamkan kedua matanya frustasi. Duduk dikursinya dengan gerakan kasar, kemudian menatap Sehun tajam.

“Kau gila?!”

Sehun menggedikkan bahunya acuh. “Mendengar ucapannya, sepertinya kau dan Cho Kyuhyun sudah saling mengenal, ya? Maka itu, aku memberi satu peringatan untuk pria itu melalui gadis itu. Dengar, Sam Rin Hyo. Aku… tidak bisa melihatmu dengan pria itu.”

Sam Rin Hyo menghela napasnya kasar kemudian segera beranjak dari sana setelah menyambar tasnya yang ia taruh di kursi kosong sampingnya. Meninggalkan Sehun tanpa sepatah kata apapun.

Wajah tengil Sehun kini sudah berganti dengan ekspresi dingin yang bisa membekukan siapa saja. “Maaf, tapi kau harus mencintaiku juga, Rin Hyo-ah.”

***

Sinar matahari semakin terik. Meski begitu, cuaca tidak terlalu menyengat di musim semi seperti ini. Semilir angin lembut menyapa helai rambut kecokelatan Ji Eun. Hamparan indah ribuan bunga bermekaran seolah tersenyum menyambut kedatangannya. Namun sayang, tak tampak ketertarikan sedikitpun oleh gadis itu. Pandangannya jauh dari titik fokus. Membuat khawatir pria disampingnya.

Kim Minseok menghela napas dalam. Entah apa yang tengah berada dalam pikiran Shin Ji Eun, ia sama sekali tidak tahu. Raga gadis itu memang bersamanya, namun jiwanya seakan melayang entah kemana. Berulang kali Minseok mendapati Ji Eun melamunkan sesuatu. Tapi selalu jawaban tidak apa-apa yang ia dapatkan setiap ia menanyakan keadaan gadis itu.

“Shin Ji Eun,” panggil Minseok. Namun Ji Eun tak bergeming. Kembali ia menghembus napas berat. Kemudian meraih telapak tangan gadis itu, menggenggamnya erat seraya tersenyum manis. “Ayo kita nikmati festival musim semi ini. Lihatlah bunga-bunga itu. Tidakkah kau menyesal jika mengabaikan mereka begitu saja?”

Sejenak Ji Eun menatap Minseok terkejut. Lalu tak lama bibirnya membentuk ulasan tipis. “Kau benar,” ucapnya.

Minseok adalah pria yang baik. Sebisa mungkin ia selalu berusaha membuat Ji Eun bahagia bersamanya, menjaga diri serta perasaannya. Tentu Ji Eun tahu persis hal itu pula. Tidak ada segelintir niat seberkas apapun untuk menyakiti Minseok dalam hatinya.

Tetapi kedatangan Kikwang tiba-tiba, mengapa pria bodoh itu kembali mengusik kehidupannya ketika segala rencana antara dirinya dan Minseok telah begitu jelas? Baiklah, Ji Eun tidak seharusnya melimpahkan semua beban kesalahan pada Kikwang. Tapi bagaimana ia harus menghadapi semua ini?

Ji Eun menggeleng pelan. Besar kecilnya masalah tergantung bagaimana ia menyikapi. Kini ia harus memilih jalan terbaik agar tidak semakin memperrumit keadaan. Ia dan Minseok telah bertunangan, dirinya dan pria disampingnya telah terikat dengan cincin tersemat di jari manis mereka sebagai pertanda. Sedangkan Kikwang hanyalah seseorang yang ia kenal di masa lalu. Masa-masa yang tidak berarti lagi untuk saat ini. Ya, Ji Eun tidak boleh melupakan kenyataan itu.

Pergolakan batin Ji Eun disertai tabiat yang mencurigakan disadari oleh Minseok. Pria itu menghela napas lagi. Menarik tangan gadis itu agar menghadap kearahnya. Kemudian membingkai manis wajah Ji Eun dengan kedua tangannya. “Apakah itu berat? Apa itu adalah sesuatu yang sangat penting? Sebenarnya apa yang membuatmu terus menerus gelisah? Kau tidak perlu memendamnya sendirian, aku ada disini,” tanyanya cemas.

Ji Eun tersenyum tulus. Menyentuh tangan Minseok dan melepas bingkaian lembut itu. “Jangan seperti ini, banyak orang disekitar kita,” ujar Ji Eun mengeratkan genggamannya.

“Ya, memang ada sesuatu yang sedang kupikirkan. Tapi tenang saja, bukan sesuatu yang sangat penting, Kurasa aku mampu menyelesaikannya sendiri tanpa meminta bantuanmu. Aku juga ingin menjadi gadis yang mandiri. Gadis yang tidak selalu bergantung pada kekasihnya,” sambung Ji Eun disertai senyuman yang terus terpatri.

“Tapi tidak apa-apa selama kau hanya bergantung padaku,” ujar Minseok sembari membenarkan rambut Ji Eun yang menghalangi wajah gadis itu.

Drrt drrt

 

Ponsel dalam tas jinjing Ji Eun dirasa bergetar. Sontak kedua mata Ji Eun melebar. Memastikan bahwa Minseok tidak mendengar getaran benda itu. Ia memandang Minseok yang tampak terheran karena perubahan raut wajahnya. Di waktu seperti ini ia harus sangat berhati-hati dalam menjawab telepon ataupun membuka pesan. Astaga, benar-benar seperti seorang kekasih yang memiliki hubungan gelap terlarang.

“Tiba-tiba aku ingin ke kamar kecil,” lontar Ji Eun cepat begitu menemukan plat bertuliskan toilet yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Minseok terkekeh kecil melihat kegusaran Ji Eun yang tampak menahan sesuatu. “Kalau begitu cepatlah.”

Segera Ji Eun bergegas menjauhi Minseok. Lantas memeriksa ponsel setibanya ia di kamar kecil wanita. Dan benar saja, keputusannya untuk waspada tidak sia-sia. Terdapat pesan dari Lee Kikwang yang membulatkan kedua matanya.

From: Lee Kikwang

Aku membelikanmu es krim. Tapi ini sudah sedikit meleleh. Apa kau masih lama? Atau sebaiknya kumakan saja? Aku khawatir es krim ini akan menodai pakaianku.

 

Hembusan napas Ji Eun terdengar frustasi. “Dasar bodoh!” umpatnya. Ji Eun memastikan penunjuk waktu pada ponsel. Terpampang pukul tiga sore disana. Sekiranya Kikwang telah menunggu kurang lebih lima jam lamanya.

“Apa dia sudah gila? Apa dia sudah berubah menjadi tuna karya sekarang? Tck!

 

***

Lee Kikwang mendesis kecil karena es krim cokelat yang ia bawa mulai mengaliri tangannya. “Kapan dia akan datang? Seharusnya aku membeli yang berada dalam cup untuknya. Tck!” decaknya.

Drrt drrt

 

Dengan cepat Kikwang membuka pesan dalam ponsel yang ia genggam di tangan kiri. Deretan pesan itu membuatnya mendesah kecewa.

From: Shin Ji Eun

Makan saja dan pulanglah.

Kikwang mengulum bibir bawahnya kesal sambil mengangguk berat. Shin Ji Eun benar-benar keterlaluan. Setelah mengetahui dirinya menunggu selama ini namun hanya balasan dingin yang ia dapatkan. Sungguh mengejutkan. Gadis itu ternyata telah berubah.

Tapi apakah Kikwang akan menyerah? Tentu tidak. Ia mengerti Shin Ji Eun perlu menata hati setelah mereka bertemu kembali. Terlebih karena gadis itu telah bertunangan dengan pria lain.

Es krim yang semakin mencair segera Kikwang lahap hingga tak tersisa. Lalu mengambil sebotol air mineral guna membasuh telapak tangannya. Tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depan mobilnya. Kikwang sedikit menyipit saat sesosok gadis keluar dari taksi itu.

“Kau?”

***

Pengunjung Kona Beans yang didominasi para gadis segera bersorak riang begitu Cho Kyuhyun memasuki kafe. Tak heran, karena kebanyakan penyebab mereka berada disini hanya untuk menanti pria itu.

Cho Kyuhyun menampilkan senyuman ramah yang selalu mampu merubah warna wajah para gadis semburat merah. “Selamat menikmati waktu kalian,” ucapnya sebelum memasuki ruangan pribadinya.

Eo! Kau mengagetkanku, noona!” kejut Kyuhyun akibat sorotan sinis Ahra. “Bisakah kau memberiku sambutan selamat datang yang lebih sopan?”

Ahra tidak menggubris godaan Kyuhyun. Ia mengalihkan pandangannya pada televisi yang tengah menampilkan tayangan drama.

Sementara Kyuhyun menghempaskan dirinya disamping Ahra. Jadwal hari ini tidak terlalu padat namun cukup membuat tubuhnya penat. Pria itu meregangkan kedua tangan dan kakinya bergantian hingga terdengar gemeretak tulang.

“Jangan terlalu sering melakukan itu. Kau akan menyesalinya sendiri bila terjadi patah tulang nantinya.”

Ekor mata Kyuhyun melirik Ahra malas. “Berlebihan sekali,” gumamnya tanpa menghentikan kegiatannya.

Akh! Sakit! Noona, tolong aku!” pekik Kyuhyun tertahan membuat Ahra menghela napas kasar sembari memijat lengan yang dikeluhkan adiknya.

“Inilah yang terjadi jika kau tidak mendengarku. Belum semenit aku—“

“Aku hanya bercanda. Sudah kubilang kau terlalu berlebihan,” sela Kyuhyun menarik lengannya lantas bersendekap.

Aish! Berani sekali kau!” geram Ahra. “Tapi dengarkan aku kali ini.”

“Sudah kukatakan kau hanya berlebihan, noona. Aku hanya mencoba mengurangi rasa pegal di tubuhku.”

“Baiklah terserah padamu. Tapi yang kumaksud bukan tentang itu. Mengenai gadis itu, jangan terlalu dekat dengannya.”

Seketika Kyuhyun terdiam. Perlahan menatap Ahra seiring dahinya tercipta kerutan. “Gadis itu?”

“Ya, gadis yang terakhir kali kau bawa kemari itu.”

Kening Kyuhyun semakin mengernyit dalam. “Sam… Rin Hyo?” ucapnya hati-hati.

“Jangan terlalu terbawa perasaan dengannya,” tukas Ahra tegas.

Kyuhyun tertegun cukup lama. Untuk apa mendadak Ahra membicarakan Sam Rin Hyo dan melarangnya seperti ini?

“Sudahlah, noona. Berhentilah menonton drama! Sepertinya karena itu noona mudah sekali menanggapi sesuatu secara berlebihan.”

“Tidak bisakah kau mendengarku sekali saja?!”

Kyuhyun terkekeh hambar. Sarat sekali akan keterpaksaan. Sore ini ia belum menghubungi Sam Rin Hyo. Entahlah, seakan hal itu telah menjadi kebiasaan yang wajib dilakukan. Tapi ucapan Ahra, noona-nya itu tidak mungkin berkata demikian bila tidak terjadi apapun. Mengingat Ahra yang merespon baik kedatangan Rin Hyo waktu lalu.

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya, mengutak-atik benda itu. Masa bodoh dengan larangan Ahra, ia tetap menghubungi Sam Rin Hyo. Lagipula ikatan diantara mereka belum tentu serius. Masih dapat berubah kapan saja.

***

Shin Ji Eun menyecahkan langkah keluar taksi dengan tergesa. Menyapu pandangan ke sekitar area gedung apartemen. Tidak ada sesuatu yang ganjil ternyata. Kikwang tidak lagi berada disana.

Drrt drrt

 

Ji Eun merogoh ponselnya cepat. Mungkin saja itu Lee Kikwang. Benda itu terus bergetar menandakan adanya panggilan telepon.

Mengetahui Kim Minseok yang tengah menghubunginya, tanpa sadar Ji Eun menghela napas serta wajahnya tampak kecewa. Segera gadis itu menepuk pipinya pelan. Ia tidak boleh seperti ini.

Yeoboseyo?

Kau sudah sampai?

“Baru saja.”

Syukurlah. Lain kali bilang padaku jika orang tuamu akan datang. Bolehkah aku kesana? Aku ingin memberi salam pada mereka.

Tubuh Ji Eun berjengit. Tidak boleh, Minseok tidak boleh kesini. “Tidak perlu, Minseok-ah. Eomma dan appa pasti masih kelelahan karena perjalanan.”

Baiklah kalau begitu. Aku akan mengunjungi apartemenmu besok bila mereka menginap. Jadi beritahu aku, ya?

“Eum.”

Hmm, aku akan menutup teleponnya. Dan jangan lupakan, aku mencintaimu.

“Aku tahu.”

Jaringan tetap tersambung namun Ji Eun tidak lagi mendengar apapun. Hingga ia memeriksa detik waktu di ponselnya tetap berjalan. Tanpa pikir panjang Ji Eun memutuskan sambungan secara sepihak kemudian melangkah menuju gedung apartemen.

Ji Eun merasa bodoh sekali karena menyangka Kikwang masih menunggunya disini. Sampai ia harus berbohong pada Minseok dengan mengatakan orang tuanya mendadak datang. Awalnya Minseok tidak setuju saat Ji Eun memaksa pulang sendiri. Namun sifat keras kepala diikuti alasan-alasan terdengar logis yang dibuat gadis itu selalu membuat dirinya tidak boleh dibantah. Dan berakhir Minseok yang selalu mengalah.

Beban perasaan bersalah Ji Eun pada Minseok semakin besar. Tidak semestinya ia memperlakukan Minseok seperti itu. Parahnya hanya karena Kikwang. Seharusnya ia menyadari Kikwang tidak mungkin tetap menanti kedatangannya seorang diri selama itu. Ji Eun menggigit bibir bawahnya kuat dengan kedua mata terpejam erat saat ia mulai menaiki lift.

Setelah mengkombinasikan beberapa angka, Ji Eun membuka pintu apartemen yang tak lagi terkunci. Berjalan masuk dan mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Tapi sesuatu terasa janggal. Ia menemukan sepatu pria tergeletak disamping sepatu yang ia hapal milik Rin Hyo. Ji Eun tersenyum miring. Jadi, Sam Rin Hyo sudah berani membawa Cho Kyuhyun sekarang?

Ji Eun melewati ruang tengah begitu saja. Ia sadar disana duduk seorang pria tengah berkutat memainkan ponsel. Tapi ia tak peduli, karena pasti dia adalah Cho Kyuhyun. Dan Ji Eun tidak punya urusan bahkan tidak mengenal pria itu. Pandangan gadis itu terus lurus berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Sesampainya dalam kamar, Ji Eun melempar tas jinjing disusul menghempaskan tubuhnya pula. Dengan posisi telungkup ia mengacak rambutnya kasar. Ia kesal, ia marah pada dirinya sendiri. “Eotteohke?” rengeknya.

***

Cho Kyuhyun memaku tatapan pada pintu utama gedung apartemen yang berdiri megah dihadapannya. Dengan penampilan misterius seperti ini diharap Rin Hyo mampu mengenalinya. Ia mengenakan masker hitam serta topi berwarna senada sebagai penyamaran.

Sosok Sam Rin Hyo akhirnya muncul. Gadis bermantel kelabu itu tersenyum lebar mendapati Kyuhyun yang tengah bersandar pada mobilnya. Rin Hyo mempercepat langkah seiring Kyuhyun membukakan pintu mobil untuknya.

Gomawo,” ucap Rin Hyo sembari mendaratkan tubuhnya.

Lengkungan mata Kyuhyun menampakkan ia sedang tersenyum. Kemudian pria itu memutari mobil dan mengambil tempat dibalik kemudi. Yang juga berarti disamping Rin Hyo.

“Kenapa tiba-tiba sekali?”

Sambil  melepas alat penyamaran, Kyuhyun menjawab, “Aku hanya ingin.”

“Oh.” Rin Hyo mengangguk tanpa alasan. Karena sebenarnya ia tidak mengerti maksud Kyuhyun.

“Bertemu denganmu,” sambung Kyuhyun bersamaan ia melajukan mobilnya.

Nde?

Kyuhyun meneguk ludahnya berat. Bukan karena membayangkan jjajangmyeon yang menggiurkan. Tapi akibat tatapan Rin Hyo yang semakin lekat padanya. “Maksudku, aku hanya ingin makan jjajangmyeon tiba-tiba.”

Lagi-lagi lidahnya tak terkendali bila Sam Rin Hyo di dekatnya. Terlanjur ia mengatakan alasan yang sebenarnya. Energi yang tadinya habis kembali terisi setelah Sam Rin Hyo mengulas senyuman manis.

***

Drrt drrt

 

Untuk kesekian kali ponselnya bergetar. Ji Eun tidak berniat menerima panggilan itu. Gadis itu tetap tak bergeming. Mendengar suara Minseok akan membuat perasaan tidak enaknya semakin bertambah pada pria itu. Biarkan dulu seperti ini, ia berusaha menenangkan diri.

Selang waktu sebentar setelah getaran ponselnya terhenti, seseorang mengetuk pintu kamar Ji Eun. “Bukalah sendiri, Hyo!” teriaknya lalu menggerutu kecil, “Seperti orang asing saja.”

Terdengarlah derit pintu terbuka. Namun tidak ada suara lagi selanjutnya. “Hyo?” panggil Ji Eun. Gadis itu mengernyit karena tidak mendapat sahutan apapun. Walau enggan, akhirnya ia mengangkat kepala memandang kearah pintu.

Sontak Ji Eun terkesiap hingga tubuhnya terbangun. Kikwang yang berdiri di ambang pintu dengan menyaku kedua tangan membuat Ji Eun menatapnya tak percaya. “Bagaimana bisa kau berada disini?”

“Tadi aku bertemu Rin Hyo dan dia mengajakku menunggumu disini. Kenapa kau tidak menjawab teleponku?”

“Dimana Sam Rin Hyo?”

“Dia pergi tak lama setelah kau datang. Cho Kyuhyun mengajaknya membeli jjajangmyeon katanya. Bolehkah aku masuk?”

Heol,” desah Ji Eun. “Kedekatan mereka cepat sekali.”

“Sampai kapan aku harus berdiri disini?” Raut wajah Kikwang mulai terlihat kesal.

Ji Eun mendecak seraya melayangkan tatapan malas pada Kikwang. “Tunggu aku di ruang tengah saja!” titahnya. Seulas senyuman simpul Ji Eun terbentuk dengan sendirinya begitu Kikwang beranjak.

Terlebih dahulu Ji Eun berganti pakaian dengan atasan kaus putih dan celana yang pendeknya terbilang jauh diatas lutut berwarna biru sebelum bergegas menemui Kikwang. Begitu sampai ia mengambil tempat diatas sofa panjang depan televisi dengan membawa sekotak makanan ringan di tangannya.

Kikwang menggaruk tengkuknya seraya mendecak melihat tingkah Shin Ji Eun. Gadis itu benar-benar tidak memiliki sopan santun di hadapannya. “Ya! Aku adalah seorang pria.”

“Aku tidak bilang kalau kau wanita.”

“Apa kau memang seperti ini di depan semua pria? Dan pakaianmu itu, bagaimana bisa kau hanya memakai kaus dan celana pendek padahal masih ada aku disini? Apa kau bersiap tidur?!” seru Kikwang tak habis pikir. Sedangkan Ji Eun hanya sibuk memakan snack dan menonton drama yang dibintangi Song Joong Ki. Aktor tampan yang digilai seluruh generasi wanita.

Kikwang merasa salah karena datang di waktu seperti ini. Ia masih ingat dengan jelas bahwa Ji Eun tidak akan bisa diganggu ditengah gadis itu menyimak tayangan drama. Kikwang memijat pelipisnya frustasi sebab Ji Eun semakin asyik sendiri. Ditambah kedua kaki gadis itu terlipat diatas sofa sekarang.

Kikwang beralih menghalangi pandangan Ji Eun dari televisi dengan berdiri di hadapannya. Menyita kotak makanan ringan dari tangan gadis itu. Menyembunyikannya di belakang tubuh hingga Ji Eun melebarkan mata tak terima.

“Ganti celanamu dan jangan duduk seperti itu!” titah Kikwang.

Ya! Apa yang salah? Aku hanya memakai apa yang biasanya kukenakan di rumah. Kau tidak terima? Kalau begitu pergilah.”

“Tidak masalah bila kau seperti ini hanya saat bersamaku. Tapi apa kau juga bersikap sama saat pria lain yang datang? Apa kau seperti ini saat hanya ada kau dan tunanganmu disini? Bagaimana jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi?”

Ji Eun membuang muka ke samping kala Kikwang merunduk padanya. “Tapi aku tahu kau tidak akan seperti itu.”

“Aku tidak yakin jika kau hanya memakai pakaian minim seperti ini.”

Ji Eun menatap Kikwang tajam. “Minim? YA! Bagaimana menurutmu gadis-gadis yang berkeliaran bebas di luar dengan pakaian yang lebih minim dariku? Lagipula aku seperti ini hanya saat bersamamu dan Rin Hyo saja.”

“Hanya bersamaku?”

Napas Ji Eun tercekat. Merasa salah kata. Tapi hal itu memang benar. Pembawaan masa lalu masih melekat dalam dirinya kini. Hati mereka masih terasa dekat. Sangat dekat hingga tidak ada rasa segan sedikitpun pada pria itu.

“Pria yang membuatmu nyaman walau dalam keadaan seperti ini, hanya aku?” Kikwang mengulum tawa melihat Ji Eun yang gusar menghindari tatapannya.

Ji Eun mendorong tubuh Kikwang kuat. Namun tak berhasil. Kikwang semakin mendekat lalu berbisik, “Aku juga seorang pria, Ji Eun-ah.”

“Menjauh kau!” pekik Ji Eun seraya menutupi wajah Kikwang dengan bantal. Lantas beranjak menuju kamar hendak berganti pakaian.

Sementara Kikwang terkekeh geli melihat gadis itu. Namun tatapannya semakin lama menyendu seiring tawanya mulai pudar.

Shin Ji Eun, akankah kau kembali padaku?

***

Sam Rin Hyo menutup pintu mobil perlahan. Gerak tubuhnya tertampak ragu. Gadis itu memandang Kyuhyun yang berjalan mendekati Sungai Han tanpa alat penyamaran apapun. Kemudian mengamati keadaan sekitar. Sangat sepi. Tidak biasanya Sungai Han sepi pengunjung pada jam seperti ini.

“Kebanyakan orang akan berpindah wisata ke festival musim semi untuk saat ini.”

Rin Hyo mengangguk mengerti mendengar penjelasan Kyuhyun yang menjawab tanya dalam hatinya. Ah, apakah itu berarti batin mereka terhubung satu sama lain? Rin Hyo tersenyum kecil. Menghentikan pemikiran yang mulai berlebihan. Kemudian menyusul langkah Kyuhyun yang masih terhenti menunggunya.

Cho Kyuhyun menepuk bagian kosong diatas kursi panjang yang ia duduki agar Rin Hyo mengambil tempat disampingnya. Dengan dahi mengerut Rin Hyo duduk. Sesekali menatap heran Cho Kyuhyun.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun.

“Kau bilang ingin makan jjajangmyeon. Tapi kenapa sekarang kita berada disini?”

“Kau benar. Aku hampir lupa.”

Kerutan di kening Rin Hyo semakin membesar ketika Kyuhyun mengeluarkan ponsel dan terlihat menghubungi seseorang. Sebenarnya apa yang ingin dilakukan pria ini?

Yeoboseyo. Aku ingin memesan dua porsi jjajangmyeon. Atas nama Cho Kyuhyun. Antarkan saja ke area Sungai Han. Baiklah. Kamsahamnida.

Senyuman merekahi wajah Kyuhyun begitu ia menutup telepon. “Selesai,” ucapnya.

Rin Hyo menatap Kyuhyun tak percaya hingga tanpa sadar mulutnya sedikit terbuka. “Jika hanya menghubungi pesan antar, kenapa harus jauh-jauh ke Sungai Han?” tanya Rin Hyo. Gadis itu sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Kyuhyun. Sama sekali tidak menyangka bila ternyata Kyuhyun adalah pria yang seperti ini. Pria yang sulit dideskripsikan.

Kyuhyun meluruskan pandangan ke depan. Menghindari tatapan penasaran Rin Hyo karena khawatir kegugupan dalam dirinya tampak. Sejenak Kyuhyun bergumam. Memberi waktu pada otaknya memikirkan alibi yang pantas. Alasan yang tidak terlalu konyol diucapkan.

“Kau tahu di kedai-kedai jjajangmyeon sore hari seperti ini pasti ramai, bukan? Tidak mungkin juga aku makan dengan masker terpasang. Bagaimana aku bisa memasukkan sumpit ke dalam mulutku? Sepertinya aku harus memesan secara khusus masker berpintu sebelum melakukan itu,” jawab Kyuhyun kemudian disertai kekehan membayangkan ucapannya.

Sementara Rin Hyo semakin membulatkan matanya. Cho Kyuhyun, apa dia tidak apa-apa? Tawa Kyuhyun tak kunjung berhenti menggambarkan masker berpintu dalam khayalannya sendiri. Dahi Rin Hyo mengernyit. Pria disampingnya jauh berbeda dari Cho Kyuhyun yang selama ini ia bayangkan.

“Bukan begitu maksudku,” sela Rin Hyo membuat Kyuhyun menatapnya canggung. Baru sadar akan tatapan Rin Hyo yang memandang aneh dirinya. Kyuhyun mengulum bibirnya kedalam. Pastilah ia terlihat persis seperti orang idiot yang tenggelam dalam dunianya sendiri di mata Rin Hyo. Dalam hati ia merutuki diri sendiri yang selalu tidak terkontrol disetiap waktu bersama Rin Hyo.

“Jika kau hanya ingin menghubungi pesan antar, kenapa harus menyusahkan diri jauh-jauh kesini? Hari ini kau ada jadwal Radio Star ‘kan? Aku tahu waktu pengambilan rekaman acara pasti lebih dari dua jam. Mungkin tiga? Atau empat jam kau hanya duduk dan berbicara terus menerus seperti itu. Belum lagi karena hari ini adalah giliranmu melayani pengunjung Kona Beans. Tidakkah lebih baik kau beristirahat dan memesan jjajangmyeon di rumah saja?”

Bola mata Kyuhyun masih tak bergerak mencermati segala ekspresi wajah Rin Hyo yang begitu menarik baginya. Justru lebih dari kata menarik, Kyuhyun terlalu menikmati jajaran kalimat panjang Sam Rin Hyo yang terdengar merdu di telinganya. Segala apapun yang ada pada gadis itu entah bagaimana caranya mampu mengumpulkan seluruh perhatian Kyuhyun padanya.

“Apakah kesimpulannya, kau mengkhawatirkanku, Sam Rin Hyo-ssi?” ujar Kyuhyun lirih. Menandakan lubuk hati pria itu yang tengah berbicara. Logika yang terus dipaksa datang lagi-lagi menghilang.

Mendengar itu Sam Rin Hyo terhenyak. Apa yang harus ia katakan sekarang? Apakah ya, aku mengkhawatirkanmu? Tidak mungkin, memang dirinya siapa berani berkata seperti itu. Ataukah tidak, aku hanya mengkhawatirkanmu? Astaga, memang apa bedanya dari jawaban yang pertama? Rin Hyo menggeleng samar. Pikirannya benar-benar kalang kabut sekarang.

Aish, kenapa aku terlalu percaya diri? Pasti kau tahu itu karena kau juga seorang ELF, bukan? Maafkan aku karena membuat keadaan menjadi canggung.”

Napas Rin Hyo sontak menghela penuh kelegaan. Lalu mengangguk seraya tersenyum manis. “Tidak apa-apa, Kyuhyun-ssi. Tapi bicara tentang masker berpintu itu, apa kau benar-benar akan memesannya?” lontar Rin Hyo mencoba mengembalikan kehangatan suasana.

“Haruskah? Apa kau tahu dimana tempat yang membuka jasa khusus seperti itu?” balas Kyuhyun sembari memasang wajah seolah serius.

“Seingatku aku punya kenalan yang hebat dalam bidang itu.” Rin Hyo tak mampu lagi menahan tawa akibat raut wajah Kyuhyun yang menurutnya terlihat konyol.

“Benarkah? Sam Rin Hyo-ssi, bagaimana bisa kau tertawa saat mendiskusikan bisnis kita?”

“Pesanan datang.”

***

“Selama beberapa tahun ini apa tidak ada masakan lain yang bisa kau buat selain ramyun?”

Shin Ji Eun membuka penutup panci berwarna keemasan kemudian mengaduk helai ramyun yang sudah matang di dalamnya. “Ramyun ini tidak diperuntukkan orang-orang yang terlalu banyak bicara.”

Ya! Peraturan macam apa itu?”

“Maka itu diamlah saja. Lagipula aku mampu menghabiskan semua ini,” tajam Ji Eun seraya mengambil sejumlah ramyun dan diletakkannya diatas mangkuk milik Kikwang.

Jal meokkesseumnida,” ujar Kikwang sebelum memulai makan dengan penuh semangat. Membuat Ji Eun yang melihatnya tersenyum dalam diam.

Hanya peraduan sumpit dan sendok yang terdengar setelahnya. Mereka sibuk menyantap makanan seadanya dengan lahap. Terutama Shin Ji Eun yang tidak sedetik pun membiarkan mulutnya kosong. Gumpalan makanan terus menggelembung di pipi kanan gadis itu ditengah ia mengunyah.

Kikwang tersenyum tipis lalu berkata, “Kenapa kebiasaanmu belum juga menghilang? Sudah berapa kali kukatakan untuk tidak makan dengan cara seperti itu? Itu akan membuat pipimu besar sebelah nantinya. Kau mau?”

Ji Eun menatap Kikwang cepat sembari menelan makanannya. “Buktinya tidak ada apapun yang terjadi selama aku terbiasa seperti ini.”

“Benarkah? Sekarang sentuh kedua pipimu. Tekan sedikit dan rasakan perbedaannya.”

Begitu saja Ji Eun menuruti ucapan Kikwang. Memeriksa ketebalan kedua pipinya dengan menekannya perlahan. Tak lama gadis itu membulatkan kedua matanya. “Kau benar! Bagaimana bisa ini terjadi?”

“Baiklah, sekarang kau sudah tahu jadi hindari kebiasaan itu. Makanlah dengan pelan, dengan anggun seperti kebanyakan wanita yang seharusnya.”

YA! Enak saja kau.”

Kikwang terkekeh geli. Tanpa sadar hembusan napas berat mengakhiri tawanya. “Tidak adakah yang mengingatkanmu tentang hal sekecil itu selama tidak ada aku di sampingmu?”

Gerakan Ji Eun segera terhenti. Tatapannya tetap tertunduk. Dadanya mencelos mendengar ucapan Kikwang tiba-tiba. Sekelebat masa lalu kembali menelusup dalam pikirannya. Kelopak matanya tampak bergetar begitu lembaran-lembaran klise yang telah lama berhambur menjadi debu perlahan tapi pasti kembali bersatu.

Ji Eun meletakkan sumpitnya kasar. Ia tidak boleh terlalu lama bernostalgia. “Aku selesai,” tutupnya lantas beranjak menuju dapur.

“Ji Eun-ah, kau tidak mendengarku?”

Shin Ji Eun menarik napas mengisi penuh pasokan oksigen maksimal paru-parunya sebelum menghembuskannya cepat. “Aku dengar. Tapi kurasa aku tidak perlu menjawabnya.”

Wae?

Ji Eun merasuki manik mata sendu Kikwang dengan tatapan tajamnya. Namun tak berlangsung lama ia mengalihkan pandangan. “Karena kau hanya ada dalam masa laluku. Saat ini kau memang ada tapi bukan lagi Lee Kikwang yang dulu. Peran kita telah berubah dan tidak seharusnya kita mengungkit masa lalu.”

“Kenapa tidak? Kau selalu berpatokan hanya pada apa yang kau pikirkan. Kita berada di masa yang sama sekarang. Di waktu, hari, abad yang sama. Jika kau dan aku berbeda masa kita tidak akan bertemu disini sekarang. Masih ada celah untuk kita kembali, Ji Eun-ah. Jangan menutup kemungkinan yang masih terbuka.”

Ji Eun menghela napas berat sekali lagi sebelum meyakinkan diri membalas tatapan lekat Kikwang. “Ya, mungkin kau benar. Tapi aku sedang berusaha untuk tidak menjadi seorang pengkhianat. Kuharap kau mengerti posisiku.”

Tatapan Ji Eun tampak memohon padanya membuat Kikwang memejam frustasi. Memegang kepalanya sejenak merasakan hambatan yang terasa semakin besar. Kikwang membuang napas kasar lalu berucap, “Baiklah. Kau tidak akan menjadi seorang pengkhianat. Tapi bolehkah aku menjadi perusak hubungan kalian?”

“Kau gila?!”

Ting tong

 

Sambil mengacak rambutnya asal akibat ucapan gila Kikwang, Ji Eun berjalan menghampiri layar intercom memeriksa tamu yang datang. Matilah kau Shin Ji Eun, Kim Minseok tampak jelas pada layar persegi panjang itu.

YA! Lee Kikwang!” pekik Ji Eun tertahan seraya berlari menarik lengan Kikwang. “Pergilah! Kim Minseok datang! Aigoo, kenapa jadi seperti ini?!”

“Kim Minseok?” tanya Kikwang tak mengerti.

“Tunanganku, dia, Kim Minseok!”

“Jangan bercanda, Shin Ji Eun!” Kikwang pun memekik tertahan pula terbawa suasana Shin Ji Eun yang terus gusar.

“Sembunyilah! Masuk saja ke kamarku diatas.”

“Kalian tidak akan kesana ‘kan?”

“Tentu saja! Sudahlah cepat kau pergi dari sini!”

***

“Woah, kenyang sekali.”

Sam Rin Hyo yang belum menghabiskan makanannya tersenyum tipis lalu menyerahkan sebotol air mineral pada Kyuhyun.

Gomawo,” ujar Kyuhyun lalu meneguk minuman itu hingga membuatnya melenguh lega. “Bagaimana? Kau suka?”

Rin Hyo mengangguk pelan. “Biasanya aku juga memesan di kedai itu.”

“Benarkah? Kalau begitu berarti selera kita sama.”

“Begitulah. Aku selesai.”

Cho Kyuhyun mengambil alih mangkuk di tangan Rin Hyo dan menumpuknya dengan mangkuk miliknya. Merogoh sapu tangan dalam saku lalu menggenggamkan benda itu di telapak tangan Rin Hyo. Melihat Rin Hyo hanya menatapnya tak mengerti, Kyuhyun meraih pergelangan tangan gadis itu dan mengarahkannya untuk menyeka saus jjajangmyeon yang menodai tepi bibir Rin Hyo.

“Ah, gomawo. Aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Rin Hyo mengerti lalu mengeluarkan ponselnya untuk bercermin. “Kyuhyun-ssi, aku ingin ke kamar mandi sebentar.” Setelah mendapat anggukkan Kyuhyun, Rin Hyo segera beranjak.

Sementara Kyuhyun menatap gadis itu hingga menghilang dibalik dinding kamar mandi umum yang tidak jauh dari jarak pandangnya. Kemudian menamati hamparan tenang Sungai Han.

Bibirnya membentuk ulasan kecil. Tak disangka kehadiran Sam Rin Hyo memberi perbedaan besar dalam dirinya. Terutama kata hati yang terus memberontak mengalahkan logikanya. Bagaimana bisa hal itu terjadi? Bahkan ia sendiri tidak tahu perasaan macam apa yang tengah ia miliki sekarang.

Mungkinkah ia telah jatuh cinta? Pada gadis yang belum lama ia kenal bernama Sam Rin Hyo? Entahlah, ia tidak mau terburu-buru mengenai hal sensitif seperti ini.

“Permisi. Bolehkah aku duduk?”

Teguran seorang pemuda tinggi yang tengah membawa seutas tali yang terhubung dengan seekor anjing cokelat membuyarkan lamunan Kyuhyun. “Silahkan,” ucapnya kemudian.

Pemuda itu menatap Kyuhyun bersama dahi mengerut. “Kau, Cho Kyuhyun?” tanyanya ragu.

Cho Kyuhyun membalas dengan senyuman diikuti ucapan, “Annyeong haseyo.

Ne, annyeong.

Tatapan pemuda itu tak teralihkan sedikitpun hingga Kyuhyun membalasnya dengan pandangan risih. Namun Kyuhyun tetap memaksakan ulasan senyuman ramah di wajahnya. “Siapa namamu?”

“Oh Sehun.”

.

.

-To be Continued-

Advertisements

13 thoughts on “Love Dust 4

  1. Sehun mah gitu orngnya, ngomong di depan ahra klu dia pacarnya rin hyo, gimana kli ntat ahra gk setuju kyu sm rin hyo.
    Kyu udh mulai berani ngajak rinhyo keluar gak pakai masker yaa, perubahan tuh.

    Kikwang gk nyerah2 jg yaa pdhl kan jieun udh tunangan. Gimana klu minseok tau jieun msh berhubungan sm kikwang.

  2. LOL aja deh, part akhir itu bagaimanaaa coba lanjutannya hehehhee

    Mungkin perempuannya terkaget lalu canggung karena ada 2 lelaki itu hehehehe

    Semangattt yaaa dear ngelanjutinnyaaa ❤

  3. haduh knpa ji eun ndak jujur aja tntng msalah yg sdang dihadapinya am minseok si..
    Apakah ji eun akan ketahuan kalo diapartmentnya ada kikwang..
    Haduh knpa kyuhyun ketemu am sehun si.?
    Jgn2 nanti sehun akan cerita macam2 lagi am kyuhyun

  4. Aaaa kyuhyun sm Rin hyo bkin Gregett bgt -..- gak kaya kikwang yang blak”n dan pasti semangat bgt :’ Trus itu si sehun ngpaiiiiiin coba nongol di akhir gtu kn jd pnsrn -..- Huu
    Dtunggu nextchapny Eonn ;’) Fighting 😉

  5. Oh sehun nakal bgt seh..bisa2 nya dia nguntit kyu ma rinhyo hahahha,udh deh ga bakal bikin rin hyo seneng jg kali ma kamu..liat az deh..ga boleh curang donk!!!

    Rin hyo jg kurang peka yaa bis kyuhyun jd aneh seh kl deket dia..hadeh.

    Ga sabar next partnya, apa yang bakal kyu lakuin abis denger sehun ngomong trs gmn nasib rin hyo kl tau sehun jahatin dia..wuhaaa..

    Jd gmn ma kikwang n ji eun?? Knp kikwang jd egois bgt,setelah sekian lama jg..
    Minsoek bakal reaksi gmn kl tau ji eun nyembunyiin kikwang..
    Haduh jgn putus akibat kikwang yah..

    Kikwang az yang minggir2 deh..kan dah lama jgn pisahnya..masa lalu!

    Semangat ya thor..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s