More Than You Think [1/2]

MORE THAN YOU THINK.

 PhotoGrid_1431225713669

Author : Tsalza Shabrina

Recommended song : More Than You Think – Beast.

Happy read 🙂

Cho Kyuhyun.

 

Aku hanya bisa menatapnya dari sini. Berdiri dengan kedua tangan yang terkepal, menatap lurus kedepan dengan perasaan yang campur aduk. Bukan, aku bukannya pria pengecut yang tidak bisa menarik tangan gadisku menjauh dari pria itu. Namun, aku hanya berharap ia bahagia. Meski hatiku ingin sekali membentaknya, meneriakinya agar ia kembali padaku. Tapi aku harus apa saat ia memilih menggenggam tangan itu, ketimbang tanganku yang mulai dingin. Kehilangan penghangatnya.

“Aku mencintainya, apa kau ada masalah tentang itu?”

Kupejamkan kedua mata erat – erat. Ya, aku sangat mempermasalahkan hal itu. Meski aku hanya memasang wajah datar dan dingin, namun sebenarnya aku rapuh, Hyo! Aku hancur saat kau mengatakan jika kau meninggalkanku hanya karena pria bermarga Son itu. Dan masalahku adalah, bagaimana aku bisa tenang tanpa kebutuhanku yang paling utama. Yaitu, kau.

“Jangan berlagak seolah kau yang paling tersakiti, Kyu! aku membencimu!”

Setelah itu kau pergi. Membuatku bingung dengan pijakanku sendiri, membuatku limbung dan butuh pegangan. Sial! Aku benci hanya terdiam disini seraya menatap kedua orang itu yang tengah tertawa lepas. Meski aku tak bisa mendengarmu karena terhalang kaca, tapi aku bisa membayangkan suara tawamu. Aku membuang muka, alih – alih ingin menghindari bisikan – bisikan halus suara tawamu namun malah aku mendengar suara – suara lain, suara tangisanmu, rengekanmu, dan teriakanmu. Suara – suara yang sangat kurindukan.

“Kita bisa pergi, sekarang?” suara lembut yang sudah hampir satu bulan ini terdengar ditelingaku membuatku tersadar dari keheningan yang kubuat sendiri. Menatapnya dengan datar lalu mengangguk sekali. Ia tersenyum tipis, senyuman manis yang seharusnya menenangkan itu kini jadi sangat menyebalkan.

Kami keluar dari ruangan VIP di kafe itu, sengaja kupesan agar aku bisa melihatnya. Melihat gadisku. “Jangan seperti ini, Kim Hyera!” sergahku saat gadis ini mulai mengaitkan tangannya dilenganku. Namun, ia malah mengeratkan kaitan tangannya. Membuatku melempar pandangan kearah lain, dan sialnya pandanganku bertemu dengan pandangan datar gadis itu. gadisku. Sam Rin Hyo.

Ia hanya menatapku sebentar lalu segera menatap kearah depannya, tepatnya pada Son Dongwoon-pria yang selalu menemaninya selama satu bulan ini. Atau sudah berbulan – bulan yang lalu? Entahlah, kelebihan pria ini yang tidak bisa kulakukan adalah melakukan semua waktunya untuk Sam Rin Hyo. Selalu ada saat gadis itu membutuhkan dan selalu memeluknya saat ia kesepian. Namun sayangnya, aku tidak bisa sepertinya. Seperti Son Dongwoon.

Aku memasuki mobil bersama Kim Hyera yang duduk disampingku dengan anggunnya. Gadis ini, sebenarnya tidak bersalah. Sama sekali tidak. Hyera hanya terlalu mencintaiku, lalu kami dijodohkan. Ia tidak tahu tentang Sam Rin Hyo. Dan aku? Aku selalu memperlakukannya dengan tidak baik. Karena, meski otakku mengatakan ini bukan salahnya. Tapi hati kecilku selalu mengatakan bahwa ia bersalah! Ia yang membuat Sam Rin Hyo pergi!

“Kita kerumah eommonie dulu, atau kau langsung mengantarku pulang?” Aku menepis halus tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku.

“Kita langsung pulang.”

***

Sam Rin Hyo.

“Pria brengsek!”

Aku bisa melihat Dongwoon menghela napasnya berat, seraya menatap kebelakang- mungkin menatap Cho Kyuhyun. Dengan tatapan penuh amarah. Ya, pria brengsek itu memang sangat brengsek. Aku benar – benar membencinya.

“Tapi kau masih mencintainya?” pertanyaan Dongwoon dan juga tatapan menelisik pria itu yang sangat mengintimidasi membuatku gelagapan sendiri. Aku berdehem sebentar lalu meminum Caffe latte-ku tanpa menatapnya. Aku bisa mendengar dengusan napasnya jengah, mungkin jika aku menanyainya Siapa yang paling kau benci didunia ini? ia akan menjawab Cho Kyuhyun. Ia selalu sensitif jika berkaitan dengan pria itu.

“Tidak.” Jawabku singkat, kembali menghindari tatapan matanya.

“Jika kau tidak mencintainya, tatap aku! Dan katakan aku tidak mencintai Cho Kyuhyun. Dengan penuh keyakinan.” Aku menatapnya lalu tertawa remeh.

“Omong kosong.” Ujarku seraya tersenyum pada Dongwoon yang tetap tak merubah wajah seriusnya. “Lebih baik kau minum Espresso-mu sebelum dingin.”

“Katakan.” Nada Son Dongwoon yang rendah namun menekan itu membuatku tersentak, senyumanku meluntur. Pria ini tidak sedang bercanda.

Sejenak hening. Hanya tersisa tatapan tajam Dongwoon padaku dan tatapan kesalku padanya. “Tch, ini bodoh.” Seruku lalu tertawa kecil, menunduk.

“Tatap aku dan bicaralah, Sam Rin Hyo!” Aku kembali mendongak. Memejamkan kedua mata sejenak seraya mengeluarkan napas panjang, berusaha menghilangkan rasa sesak didalam hati.

Aku membuka kedua mata, menatap Dongwoon dengan kedua mata yang memanas. “Kau selalu tahu jawabanku.”

***

Son Dongwoon.

“Hati – hati.”

Sam Rin Hyo tersenyum riang lalu melambaikan tangannya, aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Mengacak rambutnya gemas. “Jangan menangis lagi!” Gadis ini mengangguk kuat lalu memelukku sebentar.

“Sampai jumpa besok, Son!!” Lihat! Betapa cepatnya gadis ini merubah mood? Aku menatapnya tajam. “Aish, sekarang apa lagi salahku?”

“Aku Son Namshin, enak saja hanya memanggilku seperti itu!” Aku tersenyum menatapnya yang tengah tertawa lepas seraya sesekali menepuk lenganku.

“Baiklah, aku pergi dulu tuan Son Namshin yang tampaaan.” Ia kembali melambai padaku, aku juga membalasnya. Setelah itu, ia keluar dari mobil. Melemparkan ciuman jauh yang membuatku terkekeh geli. Dasar gadis aneh!

Aku melajukan mobilku meninggalkannya yang sudah memasuki gedung apartemen. Entah untuk keberapa kalinya helaan napas berat ini keluar. Yang pasti, disini rasanya sesak dan ingin berontak.

Dua tahun aku bersahabat dengan Sam Rin Hyo. Diawali dengan pertemuan singkat diperpustakaan kampus dan kemudian mengembang jadi pertemuan wajib di gerbang sepulang dari kampus. Selama itu kami adalah sahabat yang selalu rekat seperti ada lem diantara kami.

Dan Cho Kyuhyun? Pria itu kekasihnya. Sejak tiga tahun yang lalu. Cho Kyuhyun lebih dulu mengenal Sam Rin Hyo daripada aku. Jika saja aku bertemu dengannya lebih dulu. Apa mungkin status sahabat yang kumiliki ini akan menjadi sepasang kekasih yang manis? Namun setelahnya cepat – cepat otakku berucap  Oh, ayolah! kau terlalu bermimpi untuk itu, Son Dongwoon. Berkali – kali Sam Rin Hyo memujiku sebagai sahabat yang selalu mengerti dirinya, sahabat yang selalu ada saat ia butuh, sahabat yang selalu ia prioritaskan, dan lain – lain. Namun, tetap saja! Status itu tetap sahabat.

Ya, kuakui aku mencintainya. Sejak lama, namun aku tidak bisa menepatkan waktunya. Mencintai seseorang dan bertepuk sebelah tangan. Apa yang kau pikirkan tentang itu? sakit? Sesak? Tch, kurasa lebih dari itu. Melebihi apa yang kalian pikirkan.

Meski begitu, aku akan tetap mencintainya. Hanya waktu yang dapat menjawab sampai kapan hatiku akan berhenti memilihnya. Tapi, nanti saat waktu itu datang aku akan mengingat jika aku pernah mencintai Sam Rin Hyo.

***

Author.

 

“Halo? Sam Rin Hyo? Kau mendengarku?”

Kyuhyun tersenyum miris, meminum wine-nya lagi dengan satu tangan yang masih betah memegangi ponsel yang menempel ditelinganya. “ Maaf, aku melakukan pesan suara lagi. Kau tahu? Aku sekarang sedang berada di klab langgananku. Sendirian.”

“Aku kembali meminum wine sendirian tengah malam di klab. Apa kau tidak ingin datang menjemput atau sekadar berteriak menegurku? Aku janji jika kau melakukannya sekarang aku akan pergi dari sini dan menuruti semua perintahmu. Aku akan selalu menemanimu dan…” Kyuhyun menunduk, menyembunyikan wajah basahnya dari seorang bartender yang tengah berdiri dihadapannya dengan canggung. Pria itu tak kuasa untuk melanjutkan ucapannya, rasanya begitu sulit untuk sekadar bernapas. Ia sangat merindukannya. Merindukan Sam Rin Hyo.

“Aku akan melakukan semua yang kau inginkan, sayang. Aku ingin kita mulai dari awal, dan mengakhirinya dengan bahagia. Saranghae.” Kyuhyun memutuskan telepon lalu menyaku ponselnya lagi. Ia menggoyang – goyangkan botol kosongnya, menyuruh bartender itu membawakannya lagi. Tak peduli ia akan sakit nantinya karena kebanyakan meminum wine, jika hanya ini caranya untuk melupakan kesakitan hatinya. Meski hanya sejenak, ia akan melakukannya. Karena, hatinya terlampau perih hingga ia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.

Rin Hyo’s apartemen.

 

Sekarang sudah pukul 12 malam.

Sam Rin Hyo duduk dihadapan aquarium besarnya, menatapi pergerakan ikan – ikan itu dengan tatapan hampa. Napasnya berhembus teratur, begitupun detakan jantung yang terasa tenang.

Ia menoleh pada ponsel yang tergeletak diatas meja ruang tengahnya penuh arti, kemudian beranjak. Mengambil ponsel dan duduk disofa yang berada didepan meja itu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menghidupkan ponsel yang sejak tadi mati. Sengaja ia matikan pada pukul 11 hingga 12 malam. Karena, pada saat itu Kyuhyun pasti akan menghubunginya. Dan ia belum siap menerima telepon dari pria itu, ia tidak siap bercakap dengan pria itu.

Deringan notifikasi yang bising itu keluar dari speaker ponselnya, ia meneguk ludahnya yang terasa pahit lalu menghela napas berat. Ia munafik? Ya, ia mengakui hal itu. Ia memang gadis munafik yang menipu diri sendiri.

Getaran tangannya semakin terasa saat ibu jarinya menyentuh satu notifikasi pesan suara yang ia tahu itu dari siapa meski hanya tertera nomor tak dikenal disana. Dengan napas sesak, ia menaruh ponsel tepat didepan telinganya. Menajamkan telinga seperti tak ingin melewatkan suara pria itu. Suara yang selalu ia rindukan setiap waktu.

Halo? Sam Rin Hyo? Kau mendengarku?

Satu tangan gadis itu menutup bibirnya sendiri tak kuasa menahan tangis. Padahal ia berjanji akan menguasai diri dihadapan pria itu. namun, hanya dengan mendengar suaranya saja sudah membuat ia hancur seperti ini. Ini salah! Tapi, benar! Sialan! Pria sialan! Racauan hatinya terasa begitu menyesakkan dada. Ia hanya bisa mengumpulkan udara sebanyak – banyaknya setelah ia sadar jika ia tak bernapas selama beberapa menit.

Aku kembali meminum wine sendirian tengah malam di klab. Apa kau tidak ingin datang menjemput atau sekadar berteriak menegurku? Aku janji jika kau melakukannya sekarang aku akan pergi dari sini dan menuruti semua perintahmu. Aku akan selalu menemanimu dan..

 

            Tanganya terkepal  kuat, seiring dengan tetes demi tetes air mata yang membasahi punggung tangan. Suara pria itu terdengar begitu rapuh dan sakit. Tapi kau tidak mengerti apa yang kurasakan, Kyu! rasa sakit itu tak ada apa – apanya dibanding aku! Tidak ada! Berkali – kali gadis itu menanamkan kalimat itu didalam hati. Bagaimana bisa pria ini berlagak seperti orang yang paling kesakitan sedang dirinya sendiri yang paling tersakiti dalam hal ini.

 

Aku akan melakukan semua yang kau inginkan, sayang. Aku ingin kita mulai dari awal, dan mengakhirinya dengan bahagia. Saranghae.

 

Sam Rin Hyo menggeletakkan ponselnya diatas meja begitu saja, kedua tangan itu menutupi wajahnya yang basah. Tangisan yang awalnya hanya satu sampai dua tetes itu menderas diselingi dengan isakan. Kedua kakinya tertekuk keatas. Seperti anak kecil yang kehilangan ibunya, ia menangis seperti itu ditengah kegelapan dan diiringi dengan suara gerimis kecil.

Sam Rin Hyo.

 

Jika ia sakit hanya karena aku meninggalkannya. Lalu aku apa? Hancur? Ya, mungkin sebutan itu yang lebih pantas untukku. Bagaimana jika kekasih yang sudah melamarmu sedang berciuman dengan seseorang? Dan sialnya, kau menatapnya dengan mata kepalamu sendiri. Apa kau jahat jika kau meninggalkannya? Atau kau akan menjadi seorang gadis lemah yang berpura – pura tak tahu apa – apa?

Tidak. Aku tidak seperti itu. dan tidak akan bisa seperti itu. Jujur, aku sangat membencinya. Namun aku mencintainya. Aneh memang, tapi begitu lah adanya. Dan aku tidak suka berada dalam situasi seperti ini.

Aku selalu membencinya setiap mengingat kejadian mengejutkan itu. selalu membencinya saat menatap wajah angkuhnya yang dingin. Namun benci itu tiba – tiba hilang saat aku mendengar suara rapuhnya, menatap wajah hancurnya, juga membayangkan wajahnya yang tengah menangis.

Drrt Drrt

“Halo?”

Suaramu aneh. Sudah kubilang jangan menangis! Cepat – cepat aku menghapus air mata. Mematut diri didepan kaca yang berada tepat disamping televisi.

“Tidak, aku tidak menangis.”

Ck, kau bodoh?! Kau bodoh saat berbohong!

“Aku … oke! Aku bohong! Aku habis menangis. Puas?!”

Aish, bukannya sudah kubilang berkali – kali! Jika kau menangis terus, lama – lama kantung matamu mengendur dan akan turun kebawah. Kau ingin seperti itu, huh?!

Seketika tawaku pecah, membayangkan kantung mataku benar – benar turun kebawah. Meski mengerikan, tapi kelihatannya begitu konyol. “Aish, kau sok tahu!”

Aku serius, Hyo! Apa aku perlu mengirimkan foto wajah seriusku sekarang?

Aigoo… tidak usah repot – repot aku sudah bisa membayangkannya.”

Kalau begitu, jika besok aku tahu kau menangis lagi! Aku akan kerumahmu dan memeriksa kantung matamu!

Aku kembali tertawa. Meski pria itu sepertinya serius, tapi ini konyol. “Oke! Oke! Aku tahu!” ujarku dengan senyuman tipis yang selalu terpantri dibibir. Pria ini memang tak pernah terlalu berlebihan untuk menghiburku, tapi aku suka itu. Son Dongwoon adalah pria yang paling bisa kuandalkan.

Baiklah, aku tutup dulu ya! Jangan lupa pakai cream untuk lingkaran mata sebelum tidur atau wajahmu akan seperti nenek lampir.

            “Ck, keure! Keure! Son namshin yang cerewet.” Belum selesai aku berbicara pria itu sudah menutup teleponnya. Pria yang kelihatannya cuek tapi sebenarnya sangat perhatian, pria yang kedua matanya tajam tapi sebenarnya begitu menjengkelkan. Pria seperti itulah Son Dongwoon.

***

Author.

 

Ting!

            Suara khas saat lift terbuka tak membuat Sam Rin Hyo bergerak dari tempatnya. Ia masih berdiri dengan tangan kiri yang berpegangan pada tali tasnya dan tangan kanan yang terayun bebas didalam lift. Ia sangat lelah hari ini, Dosen Kim lagi – lagi mengeluarkan sifat iblisnya dan juga Son Dongwoon tidak menjemputnya. Pria itu bilang ada sesuatu yang harus ia lakukan hari ini. Jadi, dengan terpaksa ia harus menaiki taksi.

Dengan menghela napas kasar, ia keluar dari lift. Selang beberapa langkah ia berjalan, langkahnya terhenti saat menatap seorang pria berkemeja hitam tengah berdiri didepan pintu apartemennya. “Cho Kyuhyun.” Desisnya.

Cho Kyuhyun menatap Rin Hyo dengan bibir yang menipis seperti menahan sesuatu. Kedua tangannya ia sembunyikan didalam saku celana, tubuhnya membeku. Begitu pun Sam Rin Hyo, gadis itu seolah terpaku oleh tatapan pria itu. yang ia lakukan kini hanya berdiri ditempat dengan kedua kaki yang gemetar. Kaki yang ingin berlari kearah pria itu lalu memeluk pria itu erat. Ia rindu? Sangat.

“Hai!” sapaan ringan Cho Kyuhyun membuat Rin Hyo tersentak. Entah bagaimana pria itu sudah berada dihadapannya, meski hanya berjarak sekitar dua langkah didepannya. Tapi itu sudah membuat napas keduanya tercekat, sudah lama ia tak berdekatan. Walau berjarak dua langkah pun.

Rin Hyo mengalihkan pandangan kearah lain. Tak tahan melihat wajah dingin pria itu. “Untuk apa kau kesini?” Cho Kyuhyun meneguk ludahnya berat.

“Kita bicara didalam.” Rin Hyo menghela napasnya jengah, menatap Kyuhyun tajam lalu berucap “Ini yang terakhir.” Setelah itu ia berjalan mendahului Cho Kyuhyun untuk membuka pintu apartemennya. Sedangkan Cho Kyuhyun tak menjawab, memilih untuk mengekori Sam Rin Hyo dalam diam.

Rin Hyo menaruh tas selempangnya sembarangan diatas sofa, lalu berbalik menatap Cho Kyuhyun lagi – lagi dengan tatapan tajamnya. “Karena aku sangat malas menatap wajahmu, lebih baik langsung keintinya saja.” Tukasnya tajam.

Cho Kyuhyun memejamkan kedua mata frustasi. “Aku sudah tidak tahan lagi.” Gumam pria itu lalu dengan cepat merengkuh tubuh kecil Sam Rin Hyo yang selalu pas didalam pelukannya. Sedangkan Sam Rin Hyo tak membalas mau pun berontak. Bukankah sudah ia bilang, jika ia sangat merindukan pria ini. “Aku tidak tahan berjauhan denganmu seperti ini, Hyo! Satu bulan! Satu bulan itu bukan waktu yang singkat. Aku benci saat kau meninggalkanku dan malah memilih pria arab itu. Aku … maksudku, kita… kita tidak pernah berpisah! Kau yang meninggalkanku! Tapi, aku tidak!” racauan yang pria itu lontarkan tak berdampak apapun pada Sam Rin Hyo. Gadis itu masih diam dengan wajah tanpa ekspresi.

“Pria arab itu, punya nama. Son Dongwoon.” Ujar Rin Hyo datar, Kyuhyun menggeram. Ia melepas pelukannya, mencengkeram kedua bahu Sam Rin Hyo seraya memaku pandangannya dikedua mata gadis itu.

“Terserah siapa nama pria itu. yang terpenting dia yang telah merebut kekasihku! Dan kau! Aku tidak mengerti dengan apa yang ada diotakmu! Kau meninggalkanku karena mencintai Son Dongwoon? Tch, omong kosong apa itu?” Sam Rin Hyo hanya berkedip pelan menatap Cho Kyuhyun, napasnya masih tenang saat Kyuhyun sudah menggebu – gebu. Meski sesekali tersenggal saat menatap kedua mata memerah pria itu. “Aku sangat mencintaimu. Apa kau meragukannya? Bagaimana bisa kau dengan mudahnya berucap jika kau mencintai Son Dongwoon dihadapanku!”

“Karena memang itu adanya. Kau pikir aku hanya membual?”

“Kau tidak mengerti, Hyo! Aku benar – benar sakit, kau ingin aku apa, hm?”

“Aku ingin kau pergi dari sini. Sekarang.”

“Tidak! Aku tidak akan pergi dari sini sampai kau jujur padaku!” Sam Rin Hyo mendesah frustasi, mendorong tubuh Kyuhyun kuat lalu menatap pria itu tajam.

“Kau jangan keras kepala!”

“Kau benar – benar tidak mengerti, kau tidak pernah merasakan rasa sakit ini.” Sam Rin Hyo menatap Kyuhyun lebih tajam dari sebelumnya.

“Tidak pernah?” ulang gadis itu dengan nada yang sedikit meninggi. “Apa kau tidak sakit saat melihat kekasihmu sedang berciuman dengan gadis lain?”

“…“ Cho Kyuhyun menatap Rin Hyo terperangah, tiba – tiba napasnya sesak. Sangat sesak hingga rasanya ia tidak bernapas lagi. Sam Rin Hyo melihatnya?

“Dan apa kau tidak sakit, saat kau mengetahui sebuah fakta jika gadis itu adalah tunangan kekasihmu sendiri. Apa kau tidak sakit, Cho Kyuhyun?” Kyuhyun terdiam saat mendengar kata tunangan disana. Sekalipun ia tak pernah bercerita tentang itu pada Sam Rin Hyo. Namun, bagaimana bisa?

“darimana kau tahu itu?” Rin Hyo tersenyum miring, mencoba menutupi kedua matanya yang memanas.

“Tak penting aku tahu dari mana. Yang terpenting sekarang adalah, kau pergi dari sini! Aku ingin istirahat.” Cho Kyuhyun masih terdiam bingung saat Sam Rin Hyo berjalan pelan menuju pintu kamarnya. “Ah, ya!” Sam Rin Hyo yang hampir menyentuh kenop pintu itu berbalik, menatap Kyuhyun yang masih berusaha menguasai diri. “Kupikir kau bingung mengapa aku lebih memilih Son Dongwoon. Pria yang selalu bisa kuandalkan dan selalu meluangkan waktu untukku. Pria seperti itulah yang aku inginkan. Tidak perlu pria kaya, tampan dan romantis. Aku hanya perlu pria yang seperti itu, dan pria seperti itulah Son Dongwoon.”

Cho Kyuhyun tersentak mendengar ucapan Sam Rin Hyo yang meluncur lancar dari bibir gadis itu. Ucapan gadis itu seolah menggambarkan bagaimana ia mengagumi pria seperti Son Dongwoon. Kedua tangan Kyuhyun terkepal kuat, kepalanya menggeleng pelan. Ia masih tidak bisa menerima ini semua.

“Jika memang Son Dongwoon sangat sempurna dimatamu. Buktikan padaku!” Sam Rin Hyo mengernyit saat tukasan Cho Kyuhyun itu keluar dari bibir pria itu dengan tegas.

“Maksudmu?”

“Tiga hari lagi, sabtu jam delapan malam. Aku akan menunggu kalian di restaurant yang biasa kita kunjungi. Aku akan menunggu hingga kalian datang.” Sam Rin Hyo mendecih tak percaya.

“Dan apa aku harus menuruti ucapanmu?” Cho Kyuhyun memejamkan kedua mata frustasi, lalu menghembuskan napasnya panjang.

“Jika memang aku merasa dia memang orang yang sangat pantas untukmu. Bisa menjagamu dan melindungimu dengan sangat baik. Selalu membuatmu tersenyum dan bahagia. Jika memang Son Dongwoon adalah pria yang seperti itu…” Kyuhyun membuka kedua matanya, menatap bola mata Rin Hyo dengan penuh arti. Seolah hanya satu kali ini kesempatan untuk menatap Sam Rin Hyo seperti ini. “Aku akan pergi, dan tidak akan mengganggumu lagi.” Lirih Cho Kyuhyun namun kata – kata itu dapat membuat tubuh Sam Rin Hyo kaku ditempat. Selama ini ia masih baik – baik saja karena Cho Kyuhyun masih berada disekitarnya meski mereka tak berkomunikasi sama sekali. Ia tahu jika setiap pulang dari kampus, Kyuhyun selalu menunggunya didalam mobil dan mengawasinya. Ia tahu jika diam – diam Cho Kyuhyun memperhatikannya di cafe langganannya. Ia tahu semua itu dan tak berniat merusak rencana Cho Kyuhyun dengan menghampiri pria itu dan bertanya “Untuk apa kau disini?”. Karena ia takut jika saja ia melakukan itu, Cho Kyuhyun tidak pernah berada disekitarnya lagi. Dan juga pesan suara dari pria itu yang selalu ia dengarkan pada jam yang sama, pesan suara yang selalu ia tunggu di malam hari. Namun, pria itu tadi berkata tidak akan mengganggunya lagi? Membayangkannya saja sudah membuat dada Rin Hyo sesak.

“Aku harap kau datang.” Ucapan lemah Cho Kyuhyun menyentakkan Sam Rin Hyo dari lamunannya. Ia menatap Kyuhyun dengan bibir terbuka sedikit, menghirup napas banyak – banyak karena rasanya tiba – tiba kosong.

“Aku akan datang dan aku harap kau memegang perkataanmu, Cho Kyuhyun.”

***

Dunianya telah runtuh.

Cho Kyuhyun tengah memakan makan malamnya dengan gerakan lemah dan pandangan yang tak fokus. Berkali – kali ia menjatuhkan lauk yang sudah terapit disumpitnya, atau sekadar mengaduk – aduk nasi itu tanpa minat.

“Jadi, apa eommonie sudah menentukan tanggal?” kepala Cho Kyuhyun terangkat begitu saja saat suara lembut Kim hyera memecah keheningan makan malam ini. Ia menemukan wajah berseri ibunya yang tengah menatapnya lalu menatap Kim Hyera.

“Sekitar dua minggu lagi. Kalian hanya perlu mempersiapkan mental, semua persiapan sudah siap.” Kyuhyun menoleh kesamping, menatap Kim Hyera yang tengah tersenyum manis padanya dengan datar. Tidak! Ini tidak boleh!

“Memang akan lebih baik jika pernikahan dipercepat.” Suara tuan Kim membuat keringat dingin keluar dari pelipis Cho Kyuhyun.

“Aku…” seketika semua pandangan terfokus pada Cho Kyuhyun. “sebelumnya aku minta maaf pada Tuan dan nyonya Kim. Aku tidak bisa melanjutkan perjodohan ini, aku mencintai gadis lain. Hubungan kami sedang runyam karena kesalah pahaman ini. Jadi—“

“Cho Kyuhyun!” bentakkan ayahnya itu membuat ia menghentikkan perkataannya sebentar. Namun setelah itu ia melanjutkan lagi ucapannya.

“Aku ingin menikah dengan gadis itu. Bukan Kim Hyera, mau pun gadis lain. Hanya dia. Wanita yang aku inginkan.” Cho Kyuhyun berdiri dari tempatnya, menunduk dalam pada Tuan dan Nyonya Kim yang terlihat terkejut dengan perbuatan nekat Cho Kyuhyun. Nyonya Cho hanya bisa memijit pelipisnya karena kepalanya mulai pusing. “Sekali lagi, aku minta maaf. Terutama pada Kim Hyera, maafkan aku.”

“Kyuhyun-ah!” genggaman tangan Kim Hyera perlahan pria itu lepaskan. Ia berbisik maaf pada gadis itu.

“Cho Kyuhyun! Duduk!” suara tegas ayahnya yang biasa ia takuti itu seolah tak terdengar. Tertutupi oleh tekad bulatnya yang sangat ingin membangun komitmen kuat dengan Sam Rin Hyo.

Jusung hamnida, appa!”

***

Cho Kyuhyun mengetuk – ketukkan jari telunjuknya pada meja makan. Sesekali ia menatap jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya dengan gusar. Mereka sudah terlambat 15 menit.

“Sudah menunggu lama?” suara lembut Sam Rin Hyo membuat kepala Cho Kyuhyun terangkat seketika. Sejenak ia terdiam, menatap Sam Rin Hyo dari atas hingga bawah. Gadis itu memakai mini dress warna krem dipadu dengan boot coklat yang membuatnya semakin mempesona. Ia juga terperangah sejenak oleh senyuman gadis itu. Senyum yang sudah sangat lama tidak pernah ia terima dari gadis itu.

Spontan Kyuhyun tersenyum lalu menggeleng. “Tidak terlalu lama.” Ujar Kyuhyun singkat. Rin Hyo kembali tersenyum lalu badannya bergeser kesamping, seolah memberikan jalan agar Kyuhyun dapat melihat Son Dongwoon.

“Dongwoon-ah, kenalkan… dia Cho Kyuhyun.” Ujar Sam Rin Hyo seraya tersenyum manis pada Dongwoon. Namun pria berwajah tampan itu hanya menatap Rin Hyo dingin lalu beralih pada Kyuhyun yang tengah menatapnya tajam dengan tatapan tajam pula.

Saat itu juga, Kyuhyun terhempas. Senyuman itu bukan untuknya. Senyuman itu terulas karena ada Son Dongwoon disana.

Rin Hyo memberi kode pada Dongwoon untuk mengulurkan tangan, dan akhirnya pria itu menurut meski sempat menghela napas malas. “Son Dongwoon.” Ucap Dongwoon sekenanya, Kyuhyun menatap uluran tangan Dongwoon lalu menyambutnya dengan seulas senyum miring.

“Cho Kyuhyun. Senang bertemu denganmu.” Dongwoon hanya tersenyum kecut lalu duduk. Meja makan itu berbentuk lingkaran.

“Dua porsi lobster dan… Son Dongwoon-ssi, kau ingin memesan apa?” tanya Cho Kyuhyun pada Dongwoon.

“Apa saja.” Balas pria itu seadanya, lalu kepalanya menoleh kearah Sam Rin Hyo yang masih terdiam kaku seraya menatap Cho Kyuhyun.

“Tiga porsi lobster dan wine.” Sam Rin Hyo masih betah menatap Kyuhyun yang tengah memesan makanan itu dengan tatapan sendu.

Dia masih ingat seafood kesukaanku!

 

Rasanya seperti memutar waktu kebelakang. Dimana saat ia dan Cho Kyuhyun singgah di restauran seafood, keduanya akan memilih menu yang sama yaitu lobster. Saat di kedai mie pun, mereka juga sama – sama memesan jjajangmyeon. Ini mengingatkannya pada masa – masa itu.

Tak lama pesanan mereka datang dan seketika meja bundar itu penuh oleh makanan. Menu utama lobster ditengah meja dan 3 gelas wine tepat dihadapan mereka masing – masing.

“Cho Kyuhyun mengangkat  gelasnya seraya tersenyum kecil. “Untuk makan malam kita bertiga kali pertama.” Rin Hyo tersenyum, mengangkat gelasnya disusul oleh Dongwoon yang masih mempertahankan wajah datar yang menakutkannya itu.

Ting

Suara dentingan gelas itu terdengar, seolah suara tanda dimulainya makan malam ini. Dongwoon dan Kyuhyun meminum wine-nya seraya melirik Rin Hyo dengan pandangan nanar namun artinya berbeda. Jika Kyuhyun terlalu sibuk memikirkan sikap Rin Hyo yang berbanding terbalik dengan pertemuan terakhir mereka, tapi Son Dongwoon memikirkan kehebatan gadis itu berakting seolah ia baik – baik saja.

Woah, ini terlihat sangat lezat.” Komentar Rin Hyo seraya memandangi lobster yang ukurunnya besar itu dengan kedua mata berbinar. “Selamat makan.” Ujar gadis itu lagi tanpa melunturkan senyumannya. Membuat Son Dongwoon sudah sangat muak berada disana, juga Kyuhyun yang sudah tidak tahan melihat kebahagiaan Rin Hyo yang tercetak jelas namun bukan darinya.

Dongwoon mengambil garpunya, mendesah keras saat mendapati garpu itu mempunyai sisi tajam sebanyak 4. Dan ia sangat membenci itu, ia membenci apapun yang berhubungan dengan angka 4. Seketika Cho Kyuhyun dan Sam Rin Hyo menatap Dongwoon yang sudah memasang wajah kesalnya. Cho Kyuhyun mengangkat alisnya bingung, sedangkan Sam Rin Hyo langsung dengan cekatan mengambil garpu Dongwoon.

“Aku akan menyisihkan dagingnya untukmu, jadi kau memakai sumpit saja.” Ujar Rin Hyo lalu menyodorkan sumpit pada Dongwoon.

“Tidak usah.” Singkat Dongwoon, Rin Hyo menggeleng kuat.

Anio. Kau tidak akan bisa menikmati makananmu jika memakai garpu itu. menurut saja, eo?!” Son Dongwoon  kembali mendesah lelah lalu mengambil sumpit itu. menyerah pada Rin Hyo yang sudah tak bisa dibantah lagi. “Son Dongwoon sangat membenci 4, apapun yang berhubungan dengan angka itu ia membencinya.” Seru Sam Rin Hyo pada Kyuhyun yang terlihat membeku ditempatnya.

“Oh, ya. Aku mengerti.” Balas Cho Kyuhyun dengan tersenyum patah.

Selanjutnya, benar – benar neraka bagi Kyuhyun. Melihat Sam Rin Hyo yang dengan telatennya menghancurkan kulit keras lobster dengan alat khusus lalu menyisihkan daging segar lobster itu dengan garpu dan menaruhnya diatas piring Dongwoon.

Cho Kyuhyun menatap Son Dongwoon yang terlihat sudah terbiasa dengan sikap Sam Rin Hyo yang seperti itu. Kyuhyun menghela napasnya berat. Apa ia membuat kesalahan besar mengajak Son Dongwoon dalam makan malam ini?

“Dongwoon­­-ssi!” Panggil Kyuhyun. Dongwoon menatap Kyuhyun tajam.

Nde?”

“Kau mencintai Sam Rin Hyo?”  Tanya Kyuhyun. Dongwoon menatap Kyuhyun dengan alis terangkat, lalu menoleh sebentar pada Rin Hyo yang hanya terdiam ditempat duduknya dengan tangan kanan yang mencengkeram garpu.

“Kau ingin jawaban jujur?” Tanya Dongwoon seraya menatap Kyuhyun dengan kedua mata yang tak setajam sebelumnya. Cho Kyuhyun mengangguk yakin. Son Dongwoon menghela napasnya berat, lalu menatap Rin Hyo. Tepat pada retina gadis itu. Mulanya tangan kanan pria itu menyelipkan anak – anak rambut Rin Hyo kebelakang telinga gadis itu, lalu mengelus lembut sebentar puncak kepala gadis itu. “aku sangat mencintainya. Hingga tak tahu lagi bagaimana cara untuk mengatakannya. Satu – satunya hal yang paling kutakuti didunia ini, hanyalah kehilangan dia.” Kedua mata Sam Rin Hyo melebar.

Aku ingin jujur, untuk kali ini saja, Hyo. Kali ini saja.

 

Rahang Cho Kyuhyun mengeras. Ia membuang pandangannya kesamping. Dadanya terasa sangat panas jika terus menerus menatap sajian menjijikan dari kedua orang itu.

“Lalu bagaimana denganmu?” pertanyaan ringan dari Son Dongwoon membuat kepala Kyuhyun menoleh kearah Dongwoon lagi. Alisnya mengernyit tak mengerti. “Apa kau mencintai Sam Rin Hyo?” Kyuhyun menoleh kearah Rin Hyo yang sudah memasang wajah datarnya.

“Tidak. Aku tak tahu apa nama perasaan ini. Namun, jika ada perasaan yang lebih dari cinta. Maka itulah jawabanku. Tak terhitung berapa banyak kali aku bertanya – tanya dalam diam, apa yang sedang dilakukan Sam Rin Hyo? Apa ia makan dengan baik? Apa… ia sedang bahagia sekarang? Juga terlalu sering aku bermimpi tentang gadis itu. saat sakit, aku malah berpikir. Sekarang sedang musim sakit, Sam Rin Hyo baik – baik saja, kan?” Cho Kyuhyun menatap Rin Hyo dengan lembut. Sedangkan Sam Rin Hyo sudah hampir tak bisa menahan pertahanannya yang sepertinya akan runtuh sebentar lagi. “Semuanya. Kehidupanku, pikiranku, khayalanku, hatiku… Sam rin Hyo yang mendengalikannya. Dan aku benci kenyataan itu. Aku benci kenyataan bahwa kami sebenarnya sudah berpisah. Sekarang kau mengerti, bagaimana perasaanku padanya?”

Rin Hyo menutup bibirnya yang sudah hampir mengeluarkan isakan kecil. Ini pertama kalinya Kyuhyun mengatakan hal ini dihadapannya langsung setelah perpisahan itu. Karena sebelumnya ia sudah sering mendengar celotehan Kyuhyun yang seperti ini lewat pesan telepon. Tapi dengan begini, dengan menatap wajah hancur Kyuhyun dan ucapan – ucapan pria itu yang membuatnya terlihat begitu menyedihkan membuat ia jatuh. Jatuh oleh perasaannya sendiri.

“Aku… aku harus pergi. Dongwoon­-ah, aku memakai taksi. Aku sedang ingin sendiri. Permisi.” Ujar Rin Hyo lalu segera beranjak dari duduknya dan berjalan cepat keluar dari restoran. Kyuhyun sudah bersiap mengejar Rin Hyo namun Dongwoon menahannya.

“Jangan dikejar! Dia sedang ingin sendiri.” Tukas Dongwoon tajam, Kyuhyun menatap Dongwoon tak terima.

“ Tch, aku tidak mengerti denganmu. Kau membiarkannya pulang sendiri?! Bagaimana jika—“

“Jika kau mengejarnya ia akan semakin membencimu. Kau sudah mengenalnya bertahun – tahun tapi kau tidak mengerti?! Kukira awalnya kau yang lebih mengenalnya dari pada aku. Tapi aku salah, akulah yang lebih mengenalnya dari pada kau!” Ujar Son Dongwoon panjang lebar dengan napas yang menggebu – gebu. Cho Kyuhyun mengatupkan bibirnya seraya menatap Dongwoon dengan ekspresi tak terbaca.

Mwo?!”

            “Itulah yang membuat kalian berpisah! Keegoisanmu! Sebenarnya kau bisa saja belajar mengenalnya lebih dalam, namun keegoisanmulah yang membuat kedua mata dan telingamu tertutup. Ya, memang aku tahu kau sangat mencintainya. Tapi kau hanya peduli dengan perasaanmu sendiri, sibuk dengan rasa cintamu itu sendiri.Tanpa memikirkan, apa selama ini ia bahagia denganmu? Apa ia tidak mempunyai keluhan apapun? Selama ia tersenyum padamu kau akan mengangap semuanya baik – baik saja, apa kau tahu bagaimana hatinya huh?!  Kau tidak mengerti!”

Cho Kyuhyun tersentak. Seperti tertampar oleh perkataan Son Dongwoon yang memang benar. Bahkan terlalu benar hingga membuat ia merasa sangat bodoh dan jahat. Kyuhyun memejamkan kedua matanya frustasi lalu membuang napasnya namun tetap tak membantu sama sekali. Hatinya masih sangat sesak.

Kyuhyun membuka kedua matanya, menatap Dongwoon tajam lalu segera pergi dari hadapan Son Dongwoon begitu saja. Dongwoon menatap kepergian Cho Kyuhyun dengan napas yang sudah menggebu karena luapan emosinya.

***

Sam Rin Hyo berjalan dengan lunglai menyusuri koridor kampus yang akan mengantarnya pada gerbang utama kampus. Langkahnya seperti menyeret, namun tidak terlalu menyeret. Mukanya kuyu dan matanya sayu seperti kekurangan tidur. Ya, tadi malam ia habiskan untuk menangis habis – habisan. Pertahanannya benar – benar telah runtuh.

Tubuh lemah itu terhuyung kedepan cukup keras karena tepukan ringan dari orang dibelakangnya. Rin Hyo menoleh kebelakang lalu mendesah frustasi saat menatap Shin Ji Eun tengah menyengir kuda padanya. “Aish! Punggungku sakit, bodoh!” tukas gadis itu tajam seraya mengelus punggungnya pelan.

Shin Ji Eun mengambil langkah disamping gadis itu lalu sedikit menundukkan kepala untuk menatap wajah Rin Hyo lebih jelas lagi. “Eo! Kau habis menangis?” Tanya Ji Eun bingung. Shin Ji Eun adalah sahabatnya sebelum Son Dongwoon. Namun karena sekarang gadis itu sudah bertunangan, jadi intensitas bertemu mereka menurun.

Sam Rin Hyo memutar bola matanya malas. “Ceritanya panjang.” Singkatnya.

“Pasti karena Cho Kyuhyun. Ya Tuhan… pria itu mengapa tak ada henti – hentinya menyakitimu, huh?! Menyebalkan sekali.” Rin Hyo melirik Ji Eun lalu menghela napas berat.

“Ada apa ini? tumben sekali kau tidak sibuk.” Seketika Shin Ji Eun mengulas senyuman manisnya.

“Hari ini Lee Kikwang ulang tahun. Dan ia ingin kita ber-tiga yang merayakannya. Kau, aku dan Son Dongwoon.”

“Ah, jinjja? Aku belum membeli apapun untuk pria itu.”

“Itu gunanya aku disini. Kita beli bersama, eo?!”

“Lalu Son Dongwoon?”

“Pria itu sedang bersama Kikwang sekarang. Jadi ia tidak mungkin menjemputmu hari ini.”

“Ah,  Kalau begitu, ayo!” Shin Ji Eun tersenyum lebar lalu menarik tangan Rin Hyo menuju kedepan gerbang. Kedua mata Sam Rin Hyo menatap pohon besar yang berada didepan kampusnya-tempat Cho Kyuhyun menunggui dan mengawasinya diam – diam. Desahan kerasnya keluar saat mendapati tempat itu kosong, segera ia menelisik kesekitar dan kembali menelan kekecewaan saat tak kunjung menemukan mobil pria itu.

Apa ia benar – benar, pergi?

***

“Woah, membeli semua ini membuatku sangat lapar. Kau tidak lapar, huh?!”

Sam Rin Hyo melirik Shin Ji Eun sebentar lalu menggeleng lemah. Sejak tadi pagi memang ia tidak nafsu makan sama sekali, padahal biasanya jika ia sedang kesal pelampiasan utamanya adalah makan. Namun sekarang, sangat berbeda. Tak ada yang bisa membuatnya bersemangat meskipun itu lasagna kesukaannya.

“Jika kau ingin makan, aku menemanimu saja.” Ucap Rin Hyo lemas. Shin Ji Eun yang sudah bisa menebak jika masalah ini cukup serius dibanding sebelumnya langsung melempar senyum lebarnya. Bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi.

“Kau juga harus makan. Dan tak ada penolakan.” Titah Ji Eun seraya menarik tangan Sam Rin Hyo yang sejak tadi terayun lunglai disamping tubuhnya. “Kita makan disini, oke?!” ujar Shin Ji Eun setelah mereka berjalan cukup jauh.

Sam Rin Hyo menatap cafe yang sangat familiar untuknya. Cafe langganannya, dimana ia selalu datang kesini sepulang kuliah bersama Son Dongwoon. Dan ia selalu menemukan Cho Kyuhyun disana. Entah itu sendiri atau bersama orang lain. Entah itu berada diruang VIP atau dimeja reguler.

“Kenapa disini?” gumam Rin Hyo pelan.

“Bukannya kau biasanya kesini bersama Son Dongwoon? Aku juga sudah sangat lapar, ini cafe terdekat sejak kita berjalan tadi aku belum menemukan tempat makan apapun selain makanan – makanan pinggir jalan yang pasti tidak akan membuatku kenyang.” Cecar Shin Ji Eun lalu segera menarik tangan Rin Hyo memasuki cafe itu. Rin Hyo menghela napas berat, ia merasa sahabatnya terlalu cerewet hari ini. Karena, biasanya diantara mereka Rin Hyo yang paling banyak berbicara.

“Kau tunggu disini, aku akan memesan.” Ujar Shin Ji Eun lalu mengangkat sebelah tangan. Ini juga hal yang sangat langka dari Shin Ji Eun. Biasanya gadis itu menyuruh Rin Hyo memesan, karena entah mengapa ia membenci kegiatan itu.

“Kau… sangat berbeda hari ini. ya, memang kita sudah sering tak bertemu selama beberapa bulan ini karena kau sibuk mengurus rencana pernikahanmu. Tapi perubahanmu ini sangat aneh.” Ujar Sam Rin Hyo seraya menatap Ji Eun dengan pandangan menelisik. Shin Ji Eun terkekeh ringan lalu tersenyum penuh arti pada Sam Rin Hyo.

“Terkadang, jika kita sudah menemukan orang yang sangat kita cintai. Kita bisa berubah seiring berjalannya waktu, aku bisa belajar darinya dan ia bisa belajar dariku. Ya, kau tahu kan aku dan Lee Kikwang sudah berapa lama berhubungan? Selama itu, meski banyak pertengkaran yang terjadi. Tapi dengan hal – hal itu akhirnya aku sadar, jika aku sangat membutuhkannya. Aku juga mengambil hal positif dari pertengkaran itu.” Jelas Shin Ji Eun. Rin Hyo mengerjapkan kelopak matanya pelan, mengernyit.

“Hal positif yang seperti apa?” tanya Rin Hyo masih dengan kerutan didahinya.

“Banyak. Kepercayaan, kedewasaan, pengertian, dan yang terpenting adalah jika aku sudah kehilangannya, semarah apapun aku tak bisa mengelak jika aku merindukannya. Sangat.” Ujar Shin Ji Eun dengan raut yang begitu serius. Sam Rin Hyo menghela napasnya berat, lalu menatap pintu kaca ruang VIP yang terbuka. Menandakan jika tak ada orang yang berada disana. lalu ia menatap kesekeliling cafe, namun tak juga menemukan sosok itu.

Dia benar – benar, pergi.

 

***

SAENGIL CHUKAE HAMNIDA, LEE KIKWANG!!!!”

Teriak Shin Ji Eun, Son Dongwoon dan Sam Rin Hyo seraya tersenyum lebar. Mereka bertepuk tangan lalu menyodorkan kue tart dengan lilin diatasnya tepat dihadapan Kikwang.

“Tiup lilinnya!” perintah Shin Ji Eun yang sudah tak sabar. Kikwang tersenyum manis, memejamkan kedua mata lalu meniup lilin itu. “Apa harapanmu?” tanya Shin Ji Eun penasaran. Kikwang tersenyum jahil lalu mencium bibir gadis itu cepat.

“Itu rahasia.” Ujar Kikwang lalu berniat mencium Shin Ji Eun lagi, namun terhenti saat terdengar deheman Son Dongwoon yang keras.

“Mengapa kalian melakukan itu dihadapan kami, huh?! Ini bukan hanya pesta kalian berdua!” rajuk Dongwoon seraya menampakkan wajah kesalnya. Shin Ji Eun tertawa lalu menjauhkan diri dari Kikwang.

“Oh, kau juga ingin kucium huh?! Kenapa tidak bilang dari tadi?” tanya Kikwang dengan tawa kecilnya. Sedangkan Dongwoon sudah sibuk menghindari Kikwang yang terlihat serius dengan ucapannya.

“Ya, ya, ya! Menjauhlah dariku!” teriak Dongwoon dan akhirnya terjadilah kejar – kejaran antara Kikwang dan Dongwoon diruang karaoke  large ini. Sam Rin Hyo hanya bisa tertawa melihat kelakuan sahabat – sahabatnya itu. Dan sialnya, tiba – tiba ia teringat sesuatu.

“Saengil chukae!” Bisik Cho Kyuhyun seraya memeluk Rin Hyo dari samping. Sam Rin Hyo tersenyum lebar lalu memejamkan kedua mata, setelah itu meniup lilin diatas cake tiramisu itu. Ia memang sangat menyukai tiramisu.

            “Gomawo.” Ujar Sam Rin Hyo seraya menatap kedua mata Kyuhyun lekat. Cho Kyuhyun membalas senyuman Rin Hyo lalu melepas pelukannya, pria itu mengambil pisau roti dan mengiris kue tart itu untuk Sam Rin Hyo.

            “Kau harus mencoba kuenya.” Ujar Kyuhyun seraya menyodorkan sepiring potongan kue tart untuk Rin Hyo. Sedangkan gadis itu mendesis kesal seraya mengambil piring itu.

            “Disaat seperti ini, seharusnya yang memberikan potongan kue pertama adalah yang berulang tahun pada orang yang paling istimewa untuknya. Tapi mengapa kau yang memberinya padaku, huh?! Aku yang ulang tahun. Bukan kau!” Cecar Rin Hyo pada Kyuhyun yang hanya bisa mengulum tawa menatap tingkah kekasihnya. Menurutnya Sam Rin Hyo sangat cantik saat marah. Ah, gadis itu selalu cantik pada saat apapun. Kecuali saat menangis. Ia membenci wajah Rin Hyo saat menangis.

            “Cerewet.” Singkat Kyuhyun. Sam Rin Hyo memejamkan kedua mata frustasi seraya menghela napas panjang. Pria ini selalu berucap seenaknya sendiri, dan hanya akan berbicara jika memang ada perlunya. Pria dingin yang cuek, begitulah penggambaran Cho Kyuhyun dimata Sam Rin Hyo.

            “Tsk, terserah kau mau bilang apa. Kau juga harus memakan kuenya.” Ujar Rin Hyo yang sudah tak mau lagi meladeni ejekan Kyuhyun yang nantinya akan berujung dengan pertengkaran kecil jika tidak ada yang mau mengalah. Dengan cekatan Rin Hyo menaruh potongan kue tart yang lainnya dipiring dan memberikannya pada Kyuhyun. “Woah, ini sangat menggiurkan.” Ujar gadis itu lagi lalu segera menyuapkan kue tart itu kedalam mulutnya. “Woah, mashitta. Kau membeli ini dimana, huh?!”

            Cho Kyuhyun belum memakan kuenya sama sekali hingga ia tersentak saat Rin Hyo menanyainya. Pria yang awalnya hanya terdiam dan menatap lekat Sam Rin Hyo dengan tatapan memuja segera merubah rautnya menjadi serius. “Bicaralah setelah makan. Kau bisa tersedak.” Titah Kyuhyun yang hanya bisa dibalas desisan kesal dari Rin Hyo. Gadis itu selalu saja kesal saat Kyuhyun memerintahnya, namun tak pernah bisa menolak perintah pria itu.

            “Aigoo, kau mencelaku karena makan saat berbicara tapi kau juga tidak bisa makan kue tart dengan baik. Lihat! Kau belepotan.” Tanpa ragu Rin Hyo membersihkan cream yang menempel dibibir Kyuhyun dengan jarinya. Sedangkan Kyuhyun hanya bisa menatap Rin Hyo seraya menaruh piringnya perlahan. Rin Hyo menarik tangannya setelah bibir itu telah bersih.

            Napas keduanya tercekat saat perlahan wajah Kyuhyun mendekat pada Rin Hyo. Kedua mata Rin Hyo tertutup saat merasakan hembusan napas Kyuhyun menerpa wajahnya. Hingga tanpa sadar, bibir mereka sudah menyatu.

 

Senyuman Rin Hyo terulas saat mengingat hal itu lagi. Desahan napas beratnya keluar saat ia kembali mengingat hal yang baru – baru ini terjadi. Dimana ia memergoki Kyuhyun sedang berciuman dikantor. Awalnya ia berniat untuk mengejutkan Kyuhyun dengan membawa makan siang untuk pria itu. Namun malah ia yang dikejutkan oleh Kyuhyun. Tidak, ia tidak menjatuhkan bekal itu ataupun meneriaki gadis yang sedang berciuman dengan kekasihnya. Ia bukan tipe orang yang seperti itu. Ia lebih memilih pergi, daripada berada disana untuk waktu yang lama.

“Aku ingin bicara denganmu.” Tubuh Rin Hyo tersentak mendengar suara Dongwoon yang berasal dari samping kanannya. Perlahan ia menatap kesekeliling yang sudah tak serapi tadi. Kue tart yang terpotong seperempat, botol soju yang memenuhi meja, dan Kikwang yang sedang bernyanyi bersama Ji Eun. Mereka terlihat mabuk. Rin Hyo memejamkan kedua matanya frustasi, berapa lama ia melamun?

Rin Hyo menoleh kesamping dan tak mendapati Dongwoon disana, namun saat ia menatap pintu ruang karaoke ia menatap Dongwoon yang memberi arahan agar ia segera keluar. Dengan ling lung Rin Hyo beranjak dari tempatnya lalu segera keluar dari ruangan yang kini semakin berisik oleh ulah Kikwang dan Ji Eun.

“Mengapa mereka jadi sangat berisik?” gumam Rin Hyo saat ia sudah keluar dari ruang karaoke. Ia menatap Dongwoon yang memasang wajah datarnya lalu mengalihkan pandangnanya kearah lain. Entahlah, ia sedikit takut pada Dongwoon saat pria itu menampakkan wajah itu padanya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Dongwoon. Rin Hyo menghela napasnya berat lalu mengangkat bahu acuh.

“Begitulah.” Singkat Rin Hyo yang membuat Son Dongwoon tahu jika gadis ini sedang tidak ingin mengangkat pembicaraan ini. Pria itu menghela napasnya panjang.

“Pulanglah, aku tahu kau sudah ingin pulang sejak tadi. Tenangkan pikiranmu dan makanlah sesuatu. Setidaknya kau harus makan jika ingin lulus kuliah, tidak makan itu bisa merusak konsentrasi dan kau tidak akan fokus jika sedang lapar. Mengerti?” Cecar Dongwoon. Sam Rin Hyo tertawa kecut seraya mengangguk – angguk mengerti.

“Kau benar – benar cerewet untuk ukuran seorang pria.” Ejek Rin Hyo.

“Jika aku cerewet, lalu Kikwang apa?”

“Em… ia cerewet untuk ukuran seorang wanita.” Ujar Rin Hyo seraya tertawa kecil, begitu pun Dongwoon. “Kalau begitu, aku pulang dulu. Annyeong!

Eo, hati – hati dijalan!”

***

Sam Rin Hyo duduk diatas sofa rumahnya seraya menatap ponsel yang tergeletak diatas meja dihadapannya dengan nanar. Kepalanya tertoleh pada jam dinding yang berbunyi tik tik tik . Semakin lama suara itu jadi sangat memuakkan untuknya. Helaan napasnya keluar saat ponsel itu tak bergetar sama sekali. Ini sudah pukul satu pagi, sejak tadi ia menunggu – nunggu ponsel itu bergetar karena pesan suara Cho Kyuhyun. Namun sayangnya, ponsel itu tak bergeming sama sekali.

Gadis yang wajahnya sudah memucat itu memejamkan kedua matanya, menyandarkan tubuh pada sandaran sofa. Dalam hati ia selalu menyuarakan harapan – harapannya agar Cho Kyuhyun menghubunginya meski pria itu hanya mengatakan hai lalu menutup teleponnya pun ia tak apa. Tapi, harapan – harapan itu hanyalah harapan kosong yang tak mungkin terjadi.

Jika aku merasa dia memang orang yang sangat pantas untukmu. Bisa menjagamu dan melindungimu dengan sangat baik. Selalu membuatmu tersenyum dan bahagia. Jika memang Son Dongwoon adalah pria yang seperti itu… Aku akan pergi, dan tidak akan mengganggumu lagi.

 

            Air mata gadis itu menetes begitu saja. Kehilangan Cho Kyuhyun? Ia bahkan tak pernah sekali pun berani untuk membayangkan hal semengerikan itu. Ia tidak pernah mengharapkan hal itu terjadi. Ia tidak ingin pria itu pergi.

“Kenapa kau yang menangis, huh?! Bodoh! Bukankah kau yang menyuruhnya pergi saat itu?! Bodoh! Bodoh!” rutuk Rin Hyo seraya menghapus air matanya. Tangannya sesekali memukul kepalanya dengan kesal. Ia menatap ponselnya lagi dan semakin terisak saat ia sadar bahwa ia menunggu sesuatu yang tak berguna sama sekali. Sesuatu yang tak akan pernah datang lagi.

Kedua tangannya seketika terkulai lemah disamping tubuhnya. Ia membiarkan mulutnya mengeluarkan isakan dan raungan menyedihkan.

“Bukan begitu, Kyu. aku sama sekali tak ingin kau pergi! Aku… membutuhkanmu.” Lirih gadis itu seraya mengangkat kedua kakinya dan memeluknya. Seperti bocah yang kehilangan ibunya. Tatapannya kosong seperti kehilangan fokusnya lagi. “Eottokhae? Bagaimana ini, Kyu? aku harus bagaimana?”

Isakan gadis itu semakin menjadi ditemani dengan suara hembusan AC dan juga detikan jarum jam yang menyesakkan.

***

Sam Rin Hyo.

 

Ini sudah hari kelima kau menghilang. Rasanya sangat lama sekali,  dan didalam sini. Hatiku sudah membeku begitu pun dengan sungai han yang mulai membeku, salju juga mulai turun. Ini musim dingin, mengapa kau pergi saat musim favoritku datang?

“Tidakkah Lee Kikwang sangat tampan hari ini?” aku menoleh kearah Dongwoon yang sedang menatap Lee Kikwang dengan tatapan memuja. Aku mengalihkan pandanganku kearah Kikwang yang sedang mematut diri didepan kaca dengan tuxedo-nya. Dua minggu lagi Lee Kikwang dan Shin Ji Eun menikah. Aku dan Dongwoon menemani mereka fitting baju pengantin. Dan ya, Kikwang memang terlihat tampan hari ini.

“Sepertinya ada kerutan diwajahku, benar kan? Dan juga mata kananku terlihat lebih aneh dari sebelumnya.” Ujar Kikwang dengan nada khawatirnya seraya menatapku dan Dongwoon bergantian. Aku tertawa kecil, pria ini memang selalu merasa dirinya jelek. Padahal tidak sama sekali.

“Kau sangat tampan, Lee Kikwang! Jangan terlalu mengkhawatirkan wajahmu!” tukasku yang langsung disambut senyuman penuh arti oleh pria itu. Aku hanya mendecih lalu mengalihkan pandanganku kearah Shin Ji Eun yang baru saja selesai memakai gaun pengantinnya.

“Woah, Ji Eun-ah! Kau sangat cantik!” puji Dongwoon seraya mengacungkan dua ibu jarinya. Aku hanya menatap Shin Ji Eun dengan senyuman tipis, gadis itu terlihat sangat menajubkan. Apa nantinya Kim Hyera akan secantik itu?

Sam Rin Hyo menatap gadis dihadapannya ini dengan tajam. Gadis yang saat itu ia lihat tengah berciuman dengan Cho Kyuhyun.

            “Aku Kim Hyera. Dan aku tahu kau, Sam Rin Hyo. Kekasih Cho Kyuhyun.” Ujar Hyera dengan nada angkuhnya. Rin Hyo menarik napas dalam – dalam lalu menghembuskannya panjang.

            “Ya, dan apa yang ingin kau bicarakan padaku hingga kau repot –repot datang kerumahku, Hyera-ssi?” Kim Hyera tersenyum separo lalu menyilangkan kakinya dengan angkuh. Kentara sekali jika gadis ini adalah seorang anak konglomerat atau keturunan chaebol.

            “Aku dan Cho Kyuhyun akan menikah sebentar lagi. Dan kau! jangan terlalu banyak berharap pada Cho Kyuhyun, karena kalian tidak akan pernah bisa bersama. Kau mengerti itu?” tukas Kim Hyera yang membuat Rin Hyo tertampar keras. Penjelasan Hyera hari ini seolah menjadi nilai plus dari kejadian menjijikan saat itu dikantor. Hyera mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin berlian mewah yang tersemat dijari manisnya itu. “Aku tunangannya. Dan aku mohon kau berhenti menggoda calon suamiku atau kau—“

            “Tidak usah mengancamku. Aku tidak pernah menggoda pria itu, dan tidak akan pernah. Aku dan dia, sudah selesai. Sekarang, lebih baik kau pergi dari sini. Hyera-ssi!”

 

            Jika saja saat itu aku tak termakan emosi dan terburu – terburu untuk memutuskan hubunganku dengan Cho Kyuhyun. Jika saja saat itu aku tidak membawakan makan siang ke kantor. Jika saja saat itu aku menjatuhkan bekal dan membuat mereka melepaskan ciuman itu. Jika saja aku tidak memendamnya sendiri serta terbuka pada Kyuhyun tentang apa yang kurasakan. Jika saja…

Aku menghela napas beratku. Semua ini hanya akan berakhir dengan kata jika saja dan sudah terlambat untuk memperbaiki semuanya.

***

“Nanti bulan madu dimana?”

Shin Ji Eun dan Lee Kikwang seketika terdiam, saling memandang lalu menggedikkan bahu lemah. Dongwoon yang mengajukan pertanyaan itu mendesah kecewa. Kami sedang berada di cafe langganan sekarang.

“Kalian inginnya dikorea atau diluar negeri?” tanyaku.

“Entahlah, kami belum memikirkannya. Tapi dimana saja asal jauh dari keramaian kota, kami baik – baik saja.” Ujar Kikwang yang langsung disetujui oleh Shin Ji Eun. Aku tersenyum tipis, aku juga berpikiran sama seperti mereka. Berbulan madu ditempat tenang dan tentram. Tidakkah itu sangat menyenangkan?

“Dongwoon-ah, kurasa sudah waktunya kau membuka hatimu pada orang lain. Sampai kapan lagi kau akan seperti ini, huh?!” tukas Ji Eun lalu meminum coklat hangatnya. Aku menatap Dongwoon yang juga menatapku dengan pandangan aneh.

“Sebenarnya aku sudah menyukai seseorang.” Ujar Dongwoon yang langsung membuat senyumanku merekah. Lucu sekali melihat tingkah Dongwoon yang seperti ini, tersenyum malu – malu seraya menggaruk tengkuk.

Jinjja?!” pekik Kikwang. Shin Ji Eun mendesis kesal lalu memukul kepala Kikwang cukup keras.  “Pelankan suaramu, bodoh!” ucap Ji Eun dengan nada penuh tekanan.

“Ceritakan pada kami!” ucapku seraya menatapnya penuh rasa penasaran. Dongwoon menatapku dengan segaris senyuman kecil lalu menghembuskan napas panjangnya.

“Aku—“

“Sam Rin Hyo-ssi?” Tubuhku sedikit tersentak saat mendengar suara itu. Suara seorang gadis yang telah kucanangkan sebagai mimpi terburukku. Aku menengadahkan kepalaku, alisku mengerut saat menatap Kim Hyera tengah berdiri disampingku seraya menatapku sayu. Gaya angkuh yang pernah ia tampakkan padaku saat itu seolah sudah menghilang layaknya abu. Kim Hyera tampak sangat berbeda.

“Kau mengenalnya?” aku menatap Shin Ji Eun lalu mengangguk sekenanya.

“Bisa kita bicara sebentar? Hanya sekali ini saja. Aku mohon…” Suara gadis itu juga tak terdengar menantang sama sekali. Malah terdengar seperti perlu dikasihani. Aku menatap Dongwoon lekat – lekat, meminta persetujuan darinya. Entahlah, aku selalu begitu pada Dongwoon. Pria itu mengangguk sekali lalu menggedikkan kepalanya.

Eo! Kita bicara dimana?”

***

“Aku sudah mencarimu sejak tiga hari yang lalu. Hanya tempat ini yang menjadi patokanku untuk menemukanmu. Dan syukurlah, hari ini datang…”

Kerutan didahiku semakin kentara saat menatap senyuman lega Kim hyera yang tertuju padaku. Aku meminum americano-ku pelan – pelan lalu kembali menatap Hyera lekat – lekat. Sekarang kami duduk bersama diruang VIP yang biasa ditempati Cho Kyuhyun saat itu…

“Rin Hyo-ssi!” panggilnya.

Nde?” Ia menatapku penuh sesal lalu menghembuskan napas berat.

“Kejadian dikantor waktu itu, aku yang menciumnya duluan. Saat itu aku benar – benar kesal karena ia selalu menolakku.” Ujar Kim Hyera lemah, aku menatap gadis itu tanpa ekspresi. Apa sebenarnya yang ingin ia katakan?

“Aku dan Cho Kyuhyun tidak akan menikah. Aku ingin meminta maaf padamu, jika saja aku tidak terlalu egois waktu itu… semuanya tidak akan jadi seperti ini.” Lanjutnya dengan kedua mata yang berkaca – kaca.

“Maaf, tapi aku tidak tahu maksud dari perkataanmu, Hyera-ssi!”

“Cho Kyuhyun membatalkan pernikahan kami. Orang tuanya marah besar. Dan, lima hari yang lalu… aku mengajaknya minum diklab. Saat pulang, aku menceritakan semuanya pada Cho Kyuhyun. Tentang aku datang kerumahmu, dan membeberkan semuanya. Pria itu marah dan menyuruhku turun dari mobil tapi aku tidak mau. Kami bertengkar hingga…” Hyera menghentikan kalimatnya seraya menatapku dengan air mata yang sudah menetes.

“Hingga apa?” tanyaku dengan suara lirih. Jantungku serasa berdentum – dentum keras dan terasa menyakitkan.

“hingga… Kyuhyun kehilangan fokusnya dan terjadi kecelakaan. Aku mendapat luka dibagian dahi tapi Kyuhyun… saat itu ia tidak memakai sabuk pengaman jadi…” Aku mengatupkan bibirku rapat –rapat, aku baru sadar jika ada perban yang menutupi sebagian dahinya. “Cho Kyuhyun mengalami masa kritis.”

Tiba – tiba napasku tercekat. Ingin bernapas tapi tak bisa, seperti ada yang mencekikku tapi aku tak tahu apa itu. seperti ada yang membekap hidungku, tapi tak ada apapun dihidungku.

“Aku hanya dirawat selama dua hari dan setelah itu, aku langsung berusaha mencarimu. Aku benar – benar menyesal. Aku mohon maafkan aku.” Kim Hyera sudah terisak hebat dihadapanku. Namun aku masih menatapnya tanpa ekspresi. Tubuhku seperti sulit digerakkan, dan semuanya terasa mati rasa. Cho Kyuhyun… bagaimana bisa pria sekuat dia?

“Aku memaafkanmu. Dan maaf, aku harus pergi!” Cepat – cepat aku beranjak dari tempat dudukku. Berlari keluar dari cafe, tanpa mempedulikan Kikwang, Ji Eun dan Dongwoon yang mungkin bingung dengan sikapku.

Aku menyetop taksi dan segera menaikinya. Tak lama setelah aku memberi tahu sopir taksi alamat yang ingin kutuju, taksi itu melaju seketika itu juga ponselku bergetar.

Yeoboseyo?”

YA! Kau mau kemana?!

            Mianhe Dongwoon-ah! Aku harus pergi kesuatu tempat. Cho Kyuhyun… aku harus melihat Cho Kyuhyun.”

“Jangan mengkhawatirkanku. Dan sampaikan maaf pada Ji Eun dan Kikwang karena harus pergi duluan.”

Eo! Hati – hati.

 

Aku menghembuskan napasku dalam – dalam. Kusandarkan tubuhku dikursi taksi seraya menatap jalanan Seoul yang sudah mulai licin. Dan juga trotoar yang sudah dihiasi butiran salju. Ingin sekali menghilangkan dentuman menggila jantung yang membuatku merasa kesakitan disekujur tubuh. Tapi semakin aku mencoba menghilangkannya, semakin juga otakku memikirkan hal – hal buruk tentang keadaan Cho Kyuhyun. Dan aku sangat membenci pikiran itu! sial!

“Sudah sampai, nona.” Aku menatap gedung apartemen menjulang yang rasanya sudah sangat lama tak pernah kukunjungi. Satu bulan lebih aku tak pernah mengunjunginya.

Aku memberikan beberapa lembar uang pada pria yang sudah sedikit menua itu lalu keluar dari taksi. Berjalan dengan langkah terburu – buru meski sesekali aku hampir saja jatuh karena terpeleset. Aku memasuki gedung apartemen dan berlari kecil menuju lift yang masih tertutup, menunggu lift seraya menggigiti bibir dan menghentak – hentakkan kaki yang mulai terasa sakit karena memang kakiku sensitif saat terkena dingin apalagi kupakai berlari seperti tadi.

“Aish.” Umpatku saat lift tak kunjung terbuka. Cepat – cepat aku berlari menuju tangga darurat. tak peduli nanti aku tak bisa berjalan sekali pun, asal aku bisa melihat keadaan Cho Kyuhyun. Aku tak apa.

Dengan napas tersenggal aku keluar dari tangga darurat. Apartemen Cho Kyuhyun berada di lantai 7 gedung ini. Kedua kakiku mulai melemah saat aku hampir mendekati pintu apartemen pria itu. Aku menyanggah tubuhku pada dinding samping pintu apartemen Cho Kyuhyun seraya mengatur napas. Hampir saja aku menyentuh bel saat tiba – tiba pintu itu terbuka. Menampakkan wajah Nyonya Cho yang menatapku dengan bingung. Aku membungkuk padanya.

A—annyeong haseyo, Sam Rin Hyo imnida.” Ucapku sesopan mungkin. Mimik wajah gadis itu berubah menjadi mengerikan sesaat setelah menatapku dari bawah hingga atas.

PLAK

Bibirku terbuka sedikit saat tiba – tiba tangan wanita itu menampar pipiku dengan keras. “Dasar gadis jalang!! Mengapa putraku bertemu dengan gadis sepertimu, huh?! Kau ingin menghancurkan keluargaku, huh?! Dasar kau!” cacian – cacian itu terucap begitu saja dari bibir Nyonya Cho seriring dengan tangan wanita itu yang menarik rambutku dan sesekali memukul lenganku. Aku hanya bisa diam, terlalu terkejut dengan semua ini.

“Ya Tuhan, apa yang kau lakukan?! Hentikan!” Tuan Cho yang baru saja keluar dari apartemen Kyuhyun berusaha menarik tangan Nyonya Cho yang sudah menyerangku dengan brutal. “Hentikan!” bentak pria itu hingga akhirnya Nyonya Cho berhenti menyerangku.

“Kau! jangan pernah berurusan dengan keluargaku lagi.” Aku hanya bisa menunduk mendengar tukasan tajam itu. Saat aku mengangkat kepalaku, terlihat Tuan Cho menatapku nanar lalu menarik Nyonya Cho agar pergi dari sana. Aku membungkuk dalam saat mereka pergi, bagaimana pun mereka lebih tua dariku.

“Sam Rin Hyo?” Aku mengangkat tubuhku lagi. Menoleh kesamping dan mengernyit saat menatap seorang gadis cantik yang tengah tersenyum patah padaku. “Aku Cho Ahra.”

“Ah, Annyeong haseyo eonnie!” Ahra eonnie hanya mengangguk sekali lalu kembali menampakkan senyuman menenangkannya.

“Kau mencari Cho Kyuhyun?”

Ne, aku baru saja mendengar kabar Cho Kyuhyun dan aku ingin sekali bertemu dengannya. Eonnie, bisakah kau membawaku untuk melihatnya? Aku… benar – benar ingin memastikan keadaannya.” Ahra eonnie menatapku dengan nanar lalu menggeleng lemah.

Mianhe, aku tidak bisa. Cho Kyuhyun dirawat di Amerika dalam keadaan koma. Dan nanti setelah ia sembuh, ia akan melanjutkan S2 disana.” Sekarang rasanya semua organ tubuhku mati rasa. Air mataku akhirnya menetes juga hingga isakanku terdengar memilukan. Cho Ahra memelukku erat. “Uljima! Cho Kyuhyun sering bercerita tentang kau padaku. Dan aku tahu, saat kau menangis itulah saat – saat terberatnya bersamamu. Jadi, jangan menangis.”

“Ini semua memang kesalahanku. Jika saja aku mendengar penjelasan Cho Kyuhyun saat itu, pasti semuanya tidak akan jadi seperti ini.”

“Tidak ada yang salah. Aku yakin, jika kalian memang jodoh. Pasti kalian bisa bersama lagi.” Aku melepaskan pelukan Cho Ahra seraya menatap gadis itu dengan senyuman pedih. “Aku harus pergi! Jaga dirimu!” Aku mengangguk dua kali dan akhirnya Ahra pergi meninggalkanku.

Kedua kakiku rasanya begitu lemas dan akhirnya jatuh. Isakanku semakin terdengar menyedihkan dan aku tak tahu kapan akan berhenti.

Cho Kyuhyun… kau mendengarku? Aku mencintaimu Cho Kyuhyun. Sangat. Jadi bertahanlah, kau harus kuat! Agar nantinya aku bisa bertemu denganmu lagi. Aku mohon… Tuhan… selamatkan dia.

***

Kakiku ternyata benar – benar sakit.

Dengan langkah terseok menahan rasa ngilu luar biasa dikakiku, aku berjalan menuju sofa ruang tengah apartemen seraya membawa sebuah ember berisi air hangat.

“Huuh.” Desahku lega saat kedua kaki yang mulai kaku itu masuk kedalam air hangat ini. sesekali aku memijitnya dengan kedua mata menatap lurus televisi yang layarnya hitam pekat, memantulkan refleksi diriku disana.

Jarum jam dinding yang selalu berdetik menyesakkan itu masih tetap berisik seperti biasanya. Aku menatap jam dinding dengan gerak lemah. Pukul setengah sebelas malam. Oh tuhan, berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk berdiam diri didepan pintu apartemen Cho Kyuhyun dan berjalan dari apartemennya ke apartemenku?

Mungkin besok aku izin tak masuk kuliah. Kakiku masih sangat sakit dan aku selalu tak bisa menahan rasa sakitnya saat kambuh. Kaki nenekku juga sangat sensitif oleh dingin, mungkin penyakit ini diturunkan dari nenekku.

Aku mengeluarkan ponsel dari saku jaket tebalku dan menghidupkannya. Biasanya Kyuhyun akan meninggalkan pesan suara pada jam – jam seperti ini. Tapi untuk sekarang dan seterusnya. Hal itu tak mungkin terjadi lagi. Kyuhyun sudah memilih untuk meninggalkanku, ah tidak- aku yang berusaha untuk menyingkirkannya dan pada kenyataannya, aku yang meninggalkan pria itu terlebih dahulu.

Kini aku merasa seperti orang terbodoh didunia. Aku selalu menilai Cho Kyuhyun egois, tapi sebenarnya akulah orang egois dalam hubungan ini. Akulah tokoh antagonisnya, bukan Cho Kyuhyun atau pun Kim Hyera.

Aku yang selalu memikirkan perasaan sakitku sendiri, tanpa memikirkan bagaimana tersiksanya pria itu karenaku. Bagaimana pria itu membiarkanku pergi demi kebahagiaanku. Bagaimana pria itu rela menentang orang tuanya hanya karena ia mencintaiku. Hal – hal itu yang kuacuhkan selama perpisahan kami. Aku sekarang sadar, perasaan Cho Kyuhyun, aku tidak bisa membayangkannya. Aku tak bisa menebaknya. Karena, aku yakin perasaan sakit itu lebih dari yang kupikirkan.

Cho.

Dengan tangan gemetar aku menggeser nama kontak itu dan menepatkan posisi ponselku pada telinga. “Hai, Cho Kyuhyun!” sapaku seraya menampakkan senyuman patah dari bibir yang mulai membiru ini.

“Ini untuk pertama kalinya aku membalas pesan suaramu, benar kan?” aku tertawa kecut sendiri. “Aku minta maaf, Kyu. selama ini aku hanyalah kekasih kekanakan yang selalu ingin dimengerti. Bukan kau yang selalu ingin menang sendiri, tapi aku!”

“Hari ini aku baru saja bertemu dengan orang tuamu untuk pertama kalinya. Yeah, seperti yang aku bayangkan. Pasti mereka tidak menyukaiku. Tapi Ahra eonnie sangat memperlakukanku dengan baik. Jadi aku tidak khawatir lagi. Dan aku tahu, orang tuamu berlaku seperti itu karena itu wajar. Aku yang membuat perjodohanmu hancur.”

Aku menghela napasku dalam – dalam, rasanya sedikit lega membeberkan semua ini pada Cho Kyuhyun. Meski aku tahu, pria itu belum mendengar suaranya sekarang.

“Kyuhyun-ah,  aku merindukanmu. Tapi aku tidak ingin kau kembali sekarang, aku merasa… aku harus merubah diri dulu sebelum bertemu denganmu lagi. Nanti… saat kau kembali dengan gelarmu dan bertemu lagi denganku, aku tidak akan kekanakan lagi dan bersikap dewasa.”

“Aku tidak terlalu berharap kau akan terus mencintaiku. Tapi, aku hanya mengharapkan kebahagiaan untukmu. Aku mencintaimu, dan tak ada kata lain lagi untuk menggambarkan perasaanku padamu.”

Aku memejamkan kedua mataku rapat – rapat, menelan ludah dengan berat lalu mulai berbicara lagi.

“Kyuhyun-ah, aku mencintaimu. Jaga kesehatan dan selamat tinggal!

To Be Continued

WARNING!

ini ff lama yang jamuran di laptop ._.

disini saya masih mempergunakan point of view karena memang dulu saya suka begitu kalo bikin ff ._.

semoga bisa menghibur kalian yang lagi nungguin ff – ff chapter kita yang lagi on going yaa 🙂

maaf jika kepanjangan, kurang feel, mengecewakan, membosankan, dan lain lain.

see ya!! *deepbow*

Advertisements

46 thoughts on “More Than You Think [1/2]

  1. Hhhuuuaaaa….. Masih sedikt gk mengerti ma jaln cerita’y, saat flshbck’y yg mnjd satu ma cerita utama. mungkn nanti part selanjut’y dpat mengrti…

  2. Aku selalu suka cerita yang seperti ini, cinta bukan hanya tentang kebahagiaan tapi tentang kebersamaan dan menekan rasa egois…
    Cinta itu buta hingga bisa membutakan hati saat sedang kecewa..

  3. yg di cetak miring itu flashback ya? nanti kyuhyun hilang ingatan ga? kasian rin hyo di lecehkan sm eommanya kyu 😦 semoga di next chapter kyu sm rinhyo bisa balikan dan nikah

  4. Eonni akhir2 ini sprtinya mempublish ff yg bergenre sad ya? Huhuhuhu
    Aku nangis loh bcnya eon pas kyu jwb pertnyaan dongwoon ttg mencintai rin hyo atau engga .
    Feelnya ngena tp msh bingung krn flashbacknya sm crta utama digabung aku bingung disitu doang eon hehe tp msh aku mengerti kok
    Klo ff ini ud lama berart kelanjutannya sudah ada dong? Eoh eon aku uda ga sbr nunggu kelanjutannya hehe smga cpt2 dipublish 😀 makasi ya eon uda dipublish smga aja rinhyo sm kyu bnr2 jodoh! Hehe
    Aku suka bc ff ini krn ada moral valuenya menurutku . Klo menurutku moral valuenya itu apa yang kita lihat belum tentu apa yang kita duga , bersikap egois hanya menyakiti org2 disektar dan diri sndri . Aplgi pilihan yang kita ambil harus benar2 dipertimbangkan resiko dan keuntungannya . Menurutku si itu moral valuenya wkwk #Soktau hehe

  5. ya ampun….knpa jd begini…rin hyo yg sabar smga kyu baik2 saja
    chigu..mrka bakal balikan kn??akan baik2 saja hubungan merka
    hik…hik…espresonya kpn nih,hihih

  6. Aigooo kasian seali rin hyo. Selalu sj digituin. Tp sebenarnya lebihbkasian kyu sih soalnya diakan gk tau apa2 tiba2 diputuska begitu. Yaa mau gimana lg.
    Tp baguslah klu hyera dan kyu batal menikah.
    Dan whatt kyu koma dan mau menetap amerika. Aduhh gk sabar sm kelanjutannya.

  7. Huaaa Kyukyu kritis x'( Aaaaaa smga nnt saat kyuhyun udh rapih S2ny mreka bsa sama” lg :’ Rin Hyo ttp smngt aja ya biar kyukyu bs ada dplukanny lg x’) Huaa gsbar next chapny xD Fighting Eonni(y)

  8. ini sih miskomunikasi aj….
    hyo nganggep dia paling sering ngalah dn menderiita krna sikap’y kyu
    dn sbalik’y kyu dngan sikap yg cuek2 aj dan mungkin aga kurang peka jg …
    nama’y jg sifat manusia kn ga da yg sma smua butuh proses dn adaptasi agar bisa saling melengakapi kekurangan masing2….
    dn penyesalan selalu datang diakhir diman kadang ga memungkinkan kita buat kembali……….. #cccurcol paaa curhat ni????#

    ya dh lah….
    smoga aj kyu ma hyo bakalan berstu lagi..
    dengan cara ini anggap aj saling intropeksi diri lagi………

    lanjutan’y ya……..
    jngan lama2 ntar jamuran lagi deh…..hehehehehe
    cerita’y bagus ko
    bikin penasaran ma pertemuan kembali mereka stlh berpisah………. 🙂

  9. wah aku suka dg cerita hurt kaia gini.. ngena d hati dan bikin kita masuk dalam ceritanya.. tp nanti endingnya jangan maksa y.. biarkan aj mengalir.. terserah mw happy atw sad ending wlwpun aku berharap happy ending.. dan moga mereka bisa bertemu dan bersatu kembali.. hehe

  10. yampun….. kenapa sampe begini hiks kesian kyuhyun kesian jg rinhyo. mana masalah rinhyo juga dia ditentang sama orang tuanya kyuhyun yaaaahhh tambah berat aja udah masalahnya hahah ditunggu selalu loh lanjutannya yeay fighting!

  11. masalah mereka rumit banget ya… semua berawal dari keegoisan rin hyo sendiri…. kyuhyun semoga cepet sadar dsri komanya,terus buat dongwoon siap2 patah hati karena keknya si rin hyo bakal balikan sama kyuhyun wkwkwk

  12. kya.. kenapa kyuhyun harus kecelakaan???

    hah, mudah2an kyuhyun ma rinhyo cpt bertemu lagi dan hubungannya kembali baik

  13. ff nya walaupun kepanjangan tp ngk membosankan kok.
    disini kita hrs belajar memberikan kesempatan pasangannya utk lebih terbuka dan memberikan kesempatan bicara.

  14. Sweetdrop liat kelakuan kikwang – hihihi ngebayangin tingkah konyolnya di RM ngebuat aku ngakak..hihihi
    Ya ampun – kyuhyun kecelakaan setelah perjuangan yang sangat melelahkan demi meyakinkan kekasihnya …sedihhhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s