Love Dust 5

LOVE DUST 5

1429306897248

Author : Tsalza  Shabrina

Happy read ^^

 

***

 

“Siapa namamu?”

“Oh Sehun.”

Kyuhyun hanya bisa membalasnya dengan senyuman kaku, karena Sehun memperkenalkan diri dengan begitu singkat dan tanpa ada setitik senyuman pun dibibirnya. Namun, kedua mata pria muda bernama Sehun ini sangat kentara memperlihatkan ketidak sukaannya pada Kyuhyun. Dan ia tak tahu mengapa pria ini menatapnya seperti itu.

“ Tapi eonnie, bisakah kau berhenti memanggilku adik ipar? Aku dan Cho Kyuhyun tidak dalam hubungan yang seperti itu.”

 

Tanpa sadar Sehun mengulas senyuman kecutnya ketika ingatannya kembali pada saat itu. Dimana Cho Ahra menjelaskan dengan sangat jelas bahwa Kyuhyun dan Rin Hyo saling mengenal secara tidak langsung.

“Sepertinya kau memiliki banyak sekali penggemar, Cho Kyuhyun-ssi.” Ucap Sehun seraya mengelus bulu anjingnya tanpa menatap Kyuhyun.

Cho Kyuhyun sontak menoleh kearah Sehun,tertawa pendek lalu bergumam sekadar. “Kurasa seperti itu.” jawabnya. Sehun menoleh kearah Kyuhyun yang kini juga menatapnya.

“Kau… tidak mungkin berpacaran dengan seorang penggemar, bukan?” tanya Sehun tiba – tiba membuat raut wajah Kyuhyun seketika menegang.

“Mungkinkah kau… wartawan yang sedang mencoba mewawancaraiku?” Kyuhyun menaikkan satu alisnya curiga, sedangkan Sehun langsung meledakkan tawanya.

“Untuk apa aku menghabiskan tenagaku untuk mewawancaraimu, huh?” Raut wajah Kyuhyun kini sudah berubah menjadi begitu dingin dan datar. Sudah cukup jengah dengan sikap Sehun yang benar – benar tidak sopan, menurutnya.

“Lantas?”

“Begini, anggap saja kita sekarang berbicara layaknya seorang pria. Aku bukan wartawan, haters, atau pun penggemarmu. Jadi, tenang saja.” Cho Kyuhyun mengulas senyuman miringnya, semakin kesal dengan tingkah Sehun.

“Jika begitu, maka tidak ada alasan untukku mengumbar privasiku padamu, bukan?”

Mwo?! Tch, ternyata kau tidak seramah itu, ya.” Kyuhyun beranjak dari tempatnya, sudah tidak dapat menahan emosinya lagi.

“Terserah kau ingin berkata apa, aku permisi.” Ucap Kyuhyun kemudian hendak berjalan, namun langkahnya terhenti saat mendapati Rin Hyo yang kini sudah berdiri tak jauh darinya.

Melihat perubahan raut wajah Kyuhyun, Sehun ikut menolehkan kepalanya. Dahinya mengerut bingung ketika mendapati Rin Hyo berdiri disana. seketika ia beranjak dari tempat duduknya. “Rin Hyo-ah, apa yang kau lakukan disini?”  tanya Sehun.

Spontan kepala Kyuhyun tertoleh kearah Sehun. Sedangkan Rin Hyo menatap Sehun lalu menatap Kyuhyun bingung. Mulanya Sehun menatap penuh telisik raut wajah Rin Hyo, kemudian menatap Kyuhyun. “Kalian… datang bersama?” tanya Sehun bingung.

“Rin Hyo-ah, kau datang kesini bersama pria ini?”

“Sehun-ah, aku—“

Mwo?! Tentu saja tidak.” Tukas Kyuhyun cepat. Rin Hyo dan Sehun sontak menatap Kyuhyun dengan kedua mata yang sedikit melebar. Kyuhyun menatap Rin Hyo dengan tatapan asingnya, lalu melanjutkan “Aku bahkan tidak mengenal gadis ini. aku hanya ingin menghirup udara segar sendiri, maka itu aku datang kesini. Jadi, jangan salah mengartikan, Oh Sehun-ssi.”

Bibir Rin Hyo terbuka, kemudian tetutup kembali. Entah mengapa ada perasaan sakit dan kecewa dihatinya saat ini, meski ia tahu ia tidak pantas merasakan hal ini. Ia tertawa dalam hati, menertawai pikiran yang sebelumnya sempat menaruh harap lebih pada Cho Kyuhyun. Yang bisa ia lakukan kini hanyalah menatap Kyuhyun dengan hampa.

“Kalau begitu, aku pergi dulu.” Ucap Kyuhyun setelah memutuskan kontak matanya dari Rin Hyo kemudian meninggalkan tempat itu secepat mungkin.

Rin Hyo menghela napas pendek meski wajahnya masih sangat datar. Sehun mengulas senyuman simpulnya kearah Rin Hyo. “Hampir saja aku mengira jika ada sesuatu antara kau dan Kyuhyun. Syukurlah, tidak apa – apa.” Celoteh Sehun yang tak digubris sama sekali oleh Rin Hyo.

“Karena kita sudah berada disini, kau ingin kemana, Rin Hyo-ah?”

“Aku ingin pulang. Sekarang.”

***

Ting Tong

 

Sambil mengacak rambutnya asal akibat ucapan gila Kikwang, Ji Eun berjalan menghampiri layar intercom memeriksa tamu yang datang. Matilah kau Shin Ji Eun, Kim Minseok tampak jelas pada layar persegi panjang itu.

YA! Lee Kikwang!!” pekik Ji Eun tertahan seraya berlari menarik lengan Kikwang. “Pergilah! Kim Minseok datang! Aigoo, kenapa jadi seperti ini?!”

“Kim Minseok?” tanya Kikwang tak mengerti.

“Tunangkanku, dia, Kim Minseok!”

“Jangan bercanda, Shin Ji Eun!” Kikwang pun memekiktertahan pula terbawa suasana Shin Ji Eun yang terus gusar.

“Sembunyilah! Masuk saja ke kamarku diatas.”

“Kalian tidak akan kesana kan?”

“Tentu saja! sudahlah cepat kau pergi dari sini!” titah Ji Eun lagi sambil mendorong punggung Kikwang kasar. Lee Kikwang mendesah frustasi, mempercepat langkah kakinya menuju kamar Ji Eun kemudian menutup pintu itu rapat- rapat.

Napasnya tak beraturan karena ia berlari menaiki tangga, ditambah jantungnya yang berdegup kencang tak terkendali. “Astaga, apa kau harus segusar ini, Lee Kikwang?!” gumam Kikwang seraya mengelus dadanya.

Tatapan Kikwang memutari isi kamar Ji Eun, “Tch, dia benar – benar tidak berubah sama sekali.” Gumam Kikwang lagi setelah mendapati keadaan kamar Ji Eun yang tak rapi, meski tidak kotor.

Dengan telaten dan tanpa gerutuan sama sekali, Kikwang membersihkan meja Ji Eun yang dipenuhi oleh kertas – kertas dan buku. Merapikan rak, dan ranjang gadis itu. Namun gerakannya terhenti ketika kedua matanya menangkap sebuah pigora yang tertutup didalam rak kecil yang berada disamping ranjang. Niatan untuk memasukkan kertas kedalam rak, berganti menjadi rasa penasaran akan foto itu. perlahan tapi pasti ia mengambil pigora itu, kedua matanya terbuka lebar saat mendapati fotonya dengan Ji Eun lah yang terpampang disana.

“Dia masih menyimpannya?” ulasan senyum manisnya mengembang begitu saja. Ada satu kebahagiaan dan secercah harapan yang kini muncul dilubuk hatinya. Lidahnya mendecak kesal, “Bagaimana bisa gadis itu menyimpan foto sebagus ini di dalam rak, huh?!” gerutu pria itu seraya memposisikan pigora itu agar berada diatas meja. Namun petaka terjadi, tangan Kikwang yang sudah mengeluarkan keringat membuat pigora foto itu terlepas dari pegangannya.

Kedua matanya sontak melebar, tanpa memperhatikan sekitar Kikwang berusaha untuk menangkap kembali pigora itu agar tidak pecah serta tak menimbulkan suara gaduh. Namun, nyatanya pergerakan pria itu membuat kegaduhan yang lebih keras dari pada jatuhnya pigora diatas lantai meski ia berhasil menangkap pigora itu.

“Astaga, bagaimana ini?” gumamnya berbisik seraya menatap kearah pintu kamar. Berharap orang – orang yang berada diluar kamar ini tak mendengar kegaduhan yang ia sebabkan.

***

Cho Kyuhyun mengendarai mobilnya hingga keluar dari area parkir sungai han. Namun belum sempat beberapa meter ia menjauh dari sana, pria itu kembali menghentikkan mobilnya ditepi jalan. Helaan napas panjang dan beratnya lolos begitu saja seiring dengan tangannya yang baru saja me-rem tangan mobilnya.

“Apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun?! Meninggalkannya disana tanpa pertanggung jawaban sama sekali?!” gumam pria itu pada diri sendiri. Tak bisa menyembunyikan wajah frustasinya. Sungguh, hatinya seperti diremas kuat – kuat ketika menatap wajah Rin Hyo yang seperti itu. Dingin namun menyimpan banyak makna disana.

Pria itu memejamkan kedua mata. Menyandarkan diri pada kursi mobil, “Oh Sehun?” gumam pria itu pelan. Dan entah mengapa dan sejak kapan, tiba – tiba ia tidak menyukai pria bernama Oh Sehun itu.

***

“Minseok-ah! Apa yang kau lakukan disini?”

Ucapan itu lah yang keluar begitu saja dari bibir Ji Eun sesaat setelah ia membuka pintu apartemennya. Minseok mengernyit, merasakan sikap Ji Eun yang tidak seperti biasanya.

“Apa salah jika seorang pria mengunjungi rumah kekasihnya?”

“Huh? Tentu saja tidak. Tapi, maksudku… kenapa kau tidak memberitahu terlebih dahulu jika akan kesini? Tidak biasanya.” Tanya Ji Eun seraya berjalan mengekori  Minseok yang sudah memasuki rumahnya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Ya, ia selalu seperti itu saat berada dirumah Ji Eun.

Kim Minseok memutari apartemen Ji Eun dengan kedua matanya. Menaruh satu bungkus sup ginseng diatas meja tanpa menghentikkan kegiatannya. “Orang tuamu dimana? Kau bilang orang tuamu datang.”

“Huh?” Ji Eun memutar otaknya begitu keras, menimang alibi apa yang tepat untuk meyakinkan Minseok. Sementara pria itu tengah menatap Ji Eun dengan alis terangkat, merasa sikap Ji Eun semakin lama semakin aneh.

“Kau tidak apa – apa?”

“Aku? Memangnya aku kenapa?”

“Kau terlihat sangat gelisah.”

Ji Eun memutar bola matanya kekanan, kemudian tertawa hambar. “Benarkah? Aku tidak apa – apa.”  Balas Ji Eun sekadar. “Ah ya, orang tuaku ternyata tidak datang hari ini. tadi Rin Hyo membohongiku karena dia akan pergi keluar. ya, ia beralasan seperti itu agar aku menjaga apartemen selagi dia tidak ada. Kau tahu sendiri kan, banyak pencurian yang terjadi di Seoul sekarang.” Lanjutnya panjang lebar dengan sekali tarikan napas.

Minseok semakin memeperjelas kerutan didahinya, merasa jawaban Ji Eun begitu rumit namun masuk akal. Jadi, ia tidak bisa mengatakan apapun selain “Ah, begitu ya.”

Ji Eun mengangguk kuat, berusaha meyakinkan Minseok dengan gesture tubuhnya meski ia menyadari jika ia sangat buruk saat membohongi orang. ia selalu mempunyai banyak statement yang masuk akal untuk membela diri, tapi wajahnya seolah mengatakan semuanya.

“Kau ingin minum apa?” tanya Ji Eun berusaha bersikap seperti biasa seraya berjalan menuju dapur. Minseok mengekori langkah Ji Eun, berniat untuk merecoki gadis itu. namun niatannya terhenti ketika menatap dua mangkuk kosong yang berada diatas meja.

“Ada yang baru saja datang kesini, ya?” tanya Minseok seraya menunjuk mangkuk – mangkuk kosong itu. kedua matanya menatap Ji Eun penuh telisik. Sedangkan Shin Ji Eun sempat menghentikkan gerakan tangannya, namun hanya sejenak sebelum ia berkata “Tadi sebelum berangkat, Rin Hyo sempat makan bersamaku.”

Lagi – lagi Minseok hanya bisa mengangguk ragu seraya berkata “Ah, begitu ya.”

“Mm.”

Setelah itu hening. Minseok merasa canggung dengan situasi ini, sedangkan Ji Eun berusaha untuk tidak menyuarakan sesuatu yang mungkin dapat memancing Minseok untuk bertanya hal – hal yang lain.

“Ini, duduklah.” Ucap Ji Eun seraya menyodorkan segelas coklat panas buatannya. Minseok berterima kasih kemudian menuruti ucapan Ji Eun untuk duduk diruang makan, bersama Ji Eun yang berada didepannya.

Duk

 

Gerakan Ji Eun yang hendak meminum coklat panasnya terhenti. Begitu pun dengan Minseok yang kini sudah menolehkan kepalanya kearah kamar Shin Ji Eun.

Lee Kikwang bodoh!!

 

Ji Eun mengumpat dalam hati meski sebenarnya ia sudah dapat menduga Lee Kikwang yang bodoh itu tidak mungkin dapat menciptakan kondisi yang tenang untuk waktu yang lama. Gadis itu berlagak meminum coklat panasnya lagi dengan wajah datar.

Jangan bertanya! Jangan bertanya!

 

            “Kau mendengarnya?” tanya Minseok, menatap Ji Eun dengan kedua mata membesar penasaran.

“Huh? Mendengar apa? Aku tidak mendengar apapun.”

“Benarkah? Aku yakin mendengarnya tadi. Suaranya dari kamarmu, apa aku perlu memeriksanya?” Kedua mata Ji Eun melebar terkejut ketika tiba – tiba Minseok beranjak dari tempatnya.

Mwo? untuk apa? Aku tidak mendengar apapun. Mungkin kau salah dengar!” cecar Ji Eun. Dalam hati ia berdoa agar Minseok tidak memasuki kamarnya dan akhirnya kekacauan tidak terjadi. Astaga, jika saja Minseok tidak datang tiba – tiba pasti tidak akan sekacau ini. Tch, sekarang kau menyalahkan tunanganmu yang hanya ingin menyapa orang tuamu, Shin Ji Eun? Otak Ji Eun berperang mendebatkan sesuatu yang sebenarnya tidak penting ditengah kegentingan itu.

“Aku pulang!” suara lemas Rin Hyo membuat segaris senyuman tipis Ji Eun terulas.

Terima kasih, Sam Rin Hyo.

Eo! Rin Hyo sudah pulang.” Ucap gadis itu kemudian segera menarik Minseok menuju ruang tengah. “Kau darimana saja, huh?” tanya Ji Eun pada Rin Hyo yang kini tengah mendudukkan dirinya diatas sofa. Mengacuhkan Oh Sehun yang tengah sibuk mengikat tali anjingnya diberanda rumah.

“Sungai han.” Jawab Rin Hyo singkat. Mood-nya benar – benar sedang tidak baik kali ini.

Eo! Oh Sehun, apa yang kau lakukan disini?” tanya Minseok menyadari keberadaan Sehun disana.

Sehun memasuki ruang tengah seraya tersenyum lebar. Kepalanya menggedik kearah Rin Hyo yang masih memasang wajah dinginnya. “Kami bertemu di sungai han tadi. Ya Tuhan… bukankah kami memang sudah ditakdirkan bersama?” Minseok terkekeh pelan. Dua orang itu terlihat senang, berbeda dengan Ji Eun dan Rin Hyo yang sudah memasang wajah datarnya.

“Karena kita sudah bersama –sama seperti ini, tidakkah lebih baik kita keluar bersama?” tanya Sehun tiba – tiba.

“Ide bagus.” Jawab Ji Eun cepat. Ya, lebih baik kau dan Minseok segera keluar dari sini, batinnya. “Bagaimana denganmu, Hyo?” tanya Ji Eun seraya menatap Rin Hyo penuh harap.

“Jika Sam Rin Hyo tidak ikut lebih baik tidak jadi saja.” tambah Sehun, membuat Ji Eun menatap sahabatnya itu dengan harapan penuh. Rin Hyo yang mengetahui ada yang tidak beres dengan raut wajah Ji Eun akhirnya mengangguk sekadar.

“Baiklah.”

***

From : Shin Ji Eun

 

            Kau bisa pulang sekarang. Aku keluar dengan Minseok.

 

Desisan kesal Lee Kikwang keluar, bersamaan dengan tangannya yang sudah terhempas diudara. Membiarkan ponselnya tergantung disana. Pria itu duduk ditepi ranjang Shin Ji Eun, meratapi nasibnya yang patut ditertawai banyak orang. sungguh, kini ia merasa seperti pria simpanan. Oh astaga, apa kau pernah mendengar istilah ‘pria simpanan’?

“Jika saja saat itu aku mengabarimu, sekali saja. pasti keadaan tidak akan serunyam ini.” gumam pria itu seraya menatap satu fofo yang kini sudah terpajang diatas meja dengan kosong. Ia menghela napas panjang dan beratnya, berharap sesak dihatinya keluar bersamaan dengan napasnya. Namun semuanya sia – sia saja, kejadian itu sudah bertahun – tahun berlalu. Tak ada daya untuknya untuk memutar waktu, yang bisa ia lakukan hanyalah menyesali segalanya dan berharap akan keajaiban yang mungkin datang kedalam perjalanan cintanya.

***

Sam Rin Hyo dan Shin Ji Eun langsung melemparkan tubuh lemasnya diatas sofa setelah menarik bagian bawah sofa agar berubah menjadi kasur santai. Helaan napas mereka keluar, sekarang sudah malam dan sungguh, hari ini mereka mengorbankan waktu istirahat mereka hanya untuk memutari amusement park dengan mood yang sangat buruk.

“Jika saja kau tidak menatapku seperti itu pasti aku tidak akan ikut denganmu tadi.” Gerutu Rin Hyo, melirik tajam kearah Ji Eun.

“Tadi benar – benar menakutkan.”

“Apanya?”

“Kejadian tadi.”

Sam Rin Hyo semakin merasa ada yang tidak beres dari sikap Shin Ji Eun. Ia merubah posisinya menjadi duduk menatap Ji Eun yang tengah memejamkan kedua mata. “Ada sesuatu yang terjadi?” akhirnya ia mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi ia tahan diujung bibirnya.

Ji Eun mengangguk sekadar. “Dan itu karena kau yang membiarkan Lee Kikwang masuk.” Ucapnya datar dengan kedua mata yang masih terpejam.

Kedua mata Rin Hyo membesar seketika, bahkan ia baru ingat jika tadi ia menyuruh Lee Kikwang memasuki apartemen mereka serta menyuruhnya menunggu Ji Eun. “Ah ya! bagiamana dengan Lee Kikwang? Apa tadi dia belum pulang saat Kim Minseok datang?”

“Benar sekali.”

“Astaga, lalu apa yang kau lakukan? Minseok mengusirnya? Atau… kau mengenalkan Kikwang pada Minseok?” Kedua mata Ji Eun seketika terbuka mendengar pertanyaan Rin Hyo yang menurutnya sangat bodoh. Ia menatap Rin Hyo tajam.

“Apa yang kau harapkan? Tentu saja aku menyuruhnya sembunyi didalam kamar.”

Mwo?! Ya Tuhan, Shin Ji Eun! Kau belum jujur mengenai Lee Kikwang pada Minseok?!” tanya Rin Hyo dengan kedua mata melotot. Shin Ji Eun menghindari tatapan mata Rin Hyo, lalu mengangguk ragu. Ya, bagaimana pun ia yang salah.

Sam Rin Hyo segera melayangkan pukulannya pada lengan Ji Eun gemas. “Kau bodoh sekali! Apa yang ingin kau rencanakan, huh?!” cecar gadis itu tanpa menghentikkan pukulannya.

Ya! Ya! kau bisa mematahkan tulangku, bodoh!” teriak Ji Eun sontak mendudukkan tubuhnya. Membalas pukulan Rin Hyo tanpa ampun.

“Kau perlu dipukuli seperti ini agar sadar akan kesalahanmu!” cecar Rin Hyo lagi tak berniat untuk menyerah.

Keure, ara! Aku memang bersalah!” teriak Ji Eun yang akhirnya ampuh untuk menghentikkan pukulan Rin Hyo.

“Jangan memperpanjang kekacauan ini. lebih baik kau segara berbicara bersama Minseok dan Kikwang dengan kepala dingin. jika kau seperti ini, kau akan semakin melukai Lee Kikwang yang jelas – jelas masih menyimpan perasaan padamu.” Nasihat Rin Hyo dengan wajah bijaksananya yang jarang sekali keluar.

Ji Eun menghela napasnya berat. “Masalahnya tidak semudah itu.” lirih gadis itu, sedikit sangsi dengan apa yang dirasakannya saat ini.

Dahi Rin Hyo mengernyit, namun hanya sejenak sebelum kedua matanya menatap Ji Eun shock. “Mungkinkah… kau masih mencintai Lee Kikwang?”

Ji Eun menatap Rin Hyo dengan wajah dinginnya. Menghela napas pelan sebelum menyandarkan diri pada sandaran sofa dengan kedua mata terpejam. Dan sikap gadis itu saat ini benar – benar semakin memperjelas dugaan Rin Hyo. bahwa, Shin Ji Eun masih mencintai Lee Kikwang.

Oh my god.”

 

***

Kyuhyun memandangi jalanan yang basah tanpa ekspresi.  Sejak 3 hari yang lalu ia tak pernah bertukar pesan dengan Sam Rin Hyo, apalagi bertemu dengan gadis itu. setelah kejadian di sungai han itu, entah kenapa rasanya ia merasa sangat bersalah pada Rin Hyo. melihat wajah kecewa gadis itu yang sangat kentara sungguh membuatnya limbung. Bingung harus bersikap apa.

Suara kegaduhan para hyeong-nya didalam van seolah tak mengganggu kesendirian sama sekali. Rasanya seperti ia tak mendengar apapun selain suara deru mobil dan rintikan air hujan yang membasahi jendela mobil.

Kyuhyun merogoh ponselnya disaku, menatap ponsel itu dengan tatapan ragu – ragu. Menimang antara menghubungi Rin Hyo atau tidak. Leeteuk yang berada disampingnya menyadari ada kejanggalan dari sikap Kyuhyun sejak 3 hari yang lalu, melihat sikap Kyuhyun yang jarang sekali tersenyum dan lebih suka menyendiri.

“Hubungi saja jika ingin. Jangan hanya dipandangi seperti itu!” tukas Leeteuk ringan, sontak Kyuhyun menatap hyeong tertuanya itu cepat.

“Haruskah?” Leeteuk mengangguk penuh keyakinan.

“Tentu saja, dari pada kau tersiksa sendiri.” Kyuhyun tersenyum kecil, menemukan satu keyakinan untuk kembali menghubungi Rin Hyo. jemarinya dengan cepat menari diatas layar ponselnya.

To : Sam Rin Hyo

 

Aku ingin makan ramyun, kau ada waktu?

 

            Setelah terkirim, Kyuhyun beralih men-scroll keatas percakapan via pesannya dengan Sam Rin Hyo yang sebenarnya tidak ada yang spesial namun berhasil membuatnya tak bisa melunturkan senyumannya. Bebannya terasa sedikit berkurang saat ia akhirnya kembali mengirim Rin Hyo pesan.

Drrt Drrt

 

From : Sam Rin Hyo

 

Aku sedang tidak ingin keluar kemana pun. Kau bersama orang lain saja, Cho Kyuhyun-ssi.

 

Senyuman Cho Kyuhyun seketika luntur membaca jawaban Rin Hyo yang sangat jauh dari harapannya. Kedua tangan pria itu melemas diatas paha, dengan kedua mata yang kembali menatap jalanan basah dengan perasaan campur aduk.

***

Shin Ji Eun membuka tirai yang menutupi jendela kamarnya dengan raut wajah datar. Selama 3 hari ini ia selalu menolak telepon dari Kikwang, mencampakkan puluhan pesan line pria itu, dan berusaha menata hatinya yang sempat tak beraturan karena hadirnya Lee Kikwang kedalam kehidupannya, lagi.

Kedua matanya memandangi hujan yang turun deras dibalik kaca jendelanya. Sekarang musim semi dan hujan turun, senyuman kecutnya terulas ketika ingatannya berputar kembali pada beberapa tahun yang lalu. Dimana saat itu terakhir kalinya ia menunggu Lee Kikwang ditaman itu, dan akhir dari hubungan mereka.

Flashback.

 

Tunggu aku ditaman biasa. Aku akan mengatakan semuanya padamu, tentang mengapa aku pergi dan menghilang tanpa mengabarimu sama sekali. Aku akan mengatakannya padamu disana, jadi tunggu aku, eo!

 

            Shin Ji Eun meloloskan napas panjangnya saat ia mengingat kata – kata Lee Kikwang yang ia dengar dari ponselnya tadi. Entah apa yang terjadi pada pria itu selama beberapa minggu ini. ponselnya tidak aktif, dan bahkan tadi ia menghubunginya dengan nomor yang berbeda.

Gadis itu duduk dikursi yang berada dibawah pohon maple. Tempat yang biasanya ia gunakan untuk  menghabiskan sebagian banyak waktunya bersama Lee Kikwang. Jika dihitung sudah satu jam ia menunggu disana, menunggu dengan dibekali ucapan Kikwang. ya, ia percaya pada apa yang Lee Kikwang katakan, karena tidak mungkin pria itu akan membuatnya menunggu sia – sia disini.

Tak terasa sudah hampir 3 jam, hawa dingin itu semakin terasa menusuk tulang. Membuat Ji Eun mengeratkan mantelnya dengan sesekali menggosok hidungnya yang mulai memerah. Dalam hati ia berdoa pada Tuhan agar hujan tidak datang hari ini. Namun sepertinya kali ini Tuhan tidak mengabulkan doanya, hujan turun dengan sangat deras. Ji Eun segera berlari kecil, merapat pada pohon maple agar tak terkena tetesan hujan yang semakin deras itu.

“Hah, eottokhae?” gumamnya pelan, sedetik kemudian tangannya bergerak cepat mengambil ponsel didalam tas. Menghubungi nomor baru Lee Kikwang dengan harapan besar agar pria itu mengangkatnya dan mengatakan dimana keberadaannya sekarang.

Berkali – kali ia menghubungi Kikwang, namun berkali – kali pula kekesalannya semakin bertambah. Nada sambungnya terdengar memang, namun tak ada tanda – tanda jawaban dari pria itu sama sekali.

Senyuman culasnya terulas, dengan gerak cepat Ji Eun kembali memasukkan ponselnya kedalam tas. Sungguh, ia tidak suka menunggu tapi Kikwang telah membuatnya menunggu selama ini. ia merasa seperti menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang.

Ji Eun membiarkan tubuhnya dibasahi oleh air hujan, karena sudah tak ada bedanya lagi. Semuanya sudah berakhir. Ia sudah membiarkan tubuhnya menunggu seseorang dengan sia – sia. Dan ia sudah membiarkan hatinya berharap besar seperti orang bodoh.

Now.

 

Rahang Ji Eun mengeras. Mengingat – ingat luka lamanya ternyata masih terasa pedih. Seperti merusak jahitan luka yang masih belum sempurna. Ia memejamkan kedua mata, mencoba menyirnakan bayangan itu. berusaha untuk memfokuskan pikirannya pada satu orang, Kim Min Seok. Ya, hanya pria itu yang harus ia cintai. Hanya pria itu, tidak dengan Lee Kikwang atau  pria – pria yang lain.

Drrt Drrt

 

Kedua mata Ji Eun terbuka, kepalanya tertoleh kearah meja kecil disamping ranjangnya yang memuat ponselnya. Gadis itu melangkah pelan menghampiri meja, memandang dingin kearah layar ponsel yang memampangkan nama Lee Kikwang disana. Ia membiarkan ponsel itu bergetar selama beberapa menit sebelum akhirnya ia mengangkatnya.

Oh astaga, Shin Ji Eun! Kau tahu betapa khawatirnya aku saat kau tidak mengangkat teleponku selama 3 hari ini, huh?! Aku hampir saja mengunjungi apartemenmu tanpa meminta izinmu terlebih dahulu! Kau baik – baik saja, huh?

            Gwenchana.” Balas Ji Eun singkat dengan nada yang begitu datar.

Syukurlah jika begitu.

            “Hm.”

Aku ingin bertemu dengamu, banyak yang harus kita bicarakan.

            Mwo?” desahan frustasi Kikwang terdengar hingga telinga Ji Eun, tentu saja pria itu sangat frustasi karena jawaban dingin Shin Ji Eun.

Banyak. Aku tidak bisa mengatakannya disini. Jadi, bisakah kita bertemu? Kau bisa datang ke sungai han sekarang? Tunggu aku didalam mobilmu saja, karena hujan turun. Aku akan kesana secepat yang kubisa.

            Ji Eun mendecih, “Drama menunggu… lagi?”

Mwo? apa maksudmu? Drama… menunggu?

            “Lupakan. Keure, aku akan menunggumu disana.”

Baiklah, jangan lupa membawa penghangat karena—

            “Aku sudah berpengalaman dengan hal – hal yang berhubungan dengan menunggu. jadi, lebih baik kau segera datang sebelum aku pergi.”

Shin Ji Eun memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Helaan napasnya keluar begitu berat. Senyuman separonya terulas, “Kita lihat saja, kehadiranmu kali ini akan menjadi penentu segalanya, Lee Kikwang.”

***

Sam Rin Hyo meletakkan ponselnya diatas meja dengan gerakan lemah. Setelah kejadian di sugai han saat itu, entahlah… rasanya seperti terjatuh dari gedung tertinggi. Sungguh, ia merasa seperti gadis yang sangat beruntung dapat sedekat itu dengan Cho Kyuhyun. Bahkan ia sempat berharap lebih dari sikap pria itu, tch, sepertinya ia sudah menjadi pemimpi yang terlalu lama tertidur. Dan kini ia sudah terbangun, kembali pada kenyataan dimana ia adalah seorang fans dan Cho Kyuhyun adalah seorang idol.

Drrt Drrt

 

Kedua mata Rin Hyo sedikit melebar ketika Kyuhyun tiba – tiba menghubunginya, pasalnya semenjak ia menolak ajakan pria itu untuk makan ramyun bersama tak ada tanda – tanda pria itu akan membalas pesannya. Setelah menimang beberapa saat, akhirnya gadis itu mengangkat teleponnya.

Yeoboseyo?

Kau dimana sekarang?

“Rumah. Waeyo?

Kalau begitu tetaplah disana, aku akan kesana.

            “Nde? Tapi, bukankah aku sudah bilang jika aku—“

Tidak ingin keluar kemanapun, kan?

“Mm. Maka dari itu lebih baik kau makan ramyun bersama orang lain saja, Kyuhyun-ssi!”

Kita tidak akan keluar dari apartemenmu. Pokoknya kau tunggu disana, eo!

            “Tapi—yeoboseyo? Kyuhyun-ssi?”

Rin Hyo menatap layar ponselnya yang sudah padam lampunya dengan tatapan tak percaya. Decihan kesalnya keluar, merasa Kyuhyun terlalu berlebihan dalam ukuran mengajak seseorang makan ramyun bersama. Namun setelah itu senyuman kecilnya terulas. Tak bisa ia pungkiri, jika sebenarnya ia senang Kyuhyun menghubunginya terlebih dahulu.

***

Shin Ji Eun duduk terdiam didalam mobilnya dengan sesekali menaikkan suhu penghangat mobil, atau sekadar mengeratkan sarung tangannya. Gadis itu menatap kearah kaca mobil depannya yang dibasahi oleh air hujan. Helaan napasnya kembali lolos, begitu pun dengan kedua matanya yang terpejam.

Kenapa ini terjadi lagi, Lee Kikwang?

 

            Sudah 2 jam lamanya ia menunggu disana. hingga hujan deras yang dari tadi menemaninya berubah menjadi gerimis kecil dengan suara yang seharusnya menenangkan hati. Namun untuk Ji Eun, hujan gerimis kali ini sangat memuakkan untuknya.

Hujan gerimis itu lambat laun berhenti. Meninggalkan jejak – jejak basah dan bau basah tanah yang menyegarkan. Membuat Ji Eun tergerak keinginannya untuk keluar dari mobil, menyambut suasana hujan reda ditepi sungai han.

Shin Ji Eun menghirup napasnya dalam – dalam, meloloskannya panjang seraya menatapi hamparan sungai han dengan wajah tanpa ekspresi. Gadis itu kembali melirik jam tangannya, mengeluarkan decihan kesal saat menyadari ia sudah menunggu Lee Kikwang hampir 4 jam lamanya.

“Kau masih sama seperti dulu.” Gumam Ji Eun pelan. Senyuman miringnya terulas, mewakili kekecewaan besar dihatinya yang kembali ia telan pahit – pahit.

Kau membuat drama memuakkan ini terulang lagi! Sial!

 

            Ji Eun berbalik, berjalan dengan langkah besar – besar menuju mobilnya. Namun ketika baru saja ia menyentuh pintu itu, suara seseorang membuat tubuhnya menegang.

“Shin Ji Eun!” rahang Ji Eun mengeras, bersamaan dengan suara derap langkah sepatu yang menghampirinnya terburu – buru. Tangannya yang masih memegang pintu, lunglai menggantung di sisi tubuhnya lagi.

“Maaf, maafkan aku membuatmu menunggu selama ini.” ucapan Kikwang yang disertai helaan napas yang terengah membuat tubuh Ji Eun berbalik. Menatap Lee Kikwang dengan tatapan dinginnya.

“Kau tahu aku tidak suka menunggu, kan? Mengapa kau buat aku menunggu lagi, huh?!” cercaan Ji Eun keluar begitu saja, melihat Kikwang berdiri dihadapannya meski dengan wajah yang tertutupi masker sungguh membuat hatinya begitu lega. Jika saja Kikwang tidak datang hari ini, pasti ia sudah bersumpah akan membenci Lee Kikwang semasa hidupnya.

Kikwang memejamkan kedua matanya menyesal, kepalanya tertunduk dalam. “Maafkan aku. Mengapa kau menungguku diluar, huh? Kau pasti kedinginan, kau tidak apa – apa?” Kikwang mengeluarkan pertanyaan beruntunnya dengan kedua telapak tangan yang memegangi lengan Shin Ji Eun setelah menggosok – gosokkan tangannya yang tak tertutupi oleh sarung tangan.

Ji Eun menatap nanar tangan Kikwang yang telah memerah karena dingin, juga hidung dan telinga pria itu yang memerah pula. Bibirnya menipis, menahan segala sumpah serapah yang ingin ia lontarkan pada pria ini karena tidak menjaga kesehatan tubuhnya dengan baik. Tanpa bicara apapun, Ji Eun melepas lilitan syal yang berada di lehernya. Menggantungkannya dileher Kikwang sembarangan kemudian membuka pintu mobilnya.

“Masuklah.” Titahnya sebelum menutup pintu mobilnya dengan kasar. Lee Kikwang mengulum senyum, menyentuh syal yang melilit dilehernya dengan ekspresi penuh kesenangan sebelum ia mematuhi ucapan Ji Eun untuk memasuki mobil.

“Kau marah padaku? Mianhe, tadi jalanan sangat macet karena ada kecelakaan mobil karena jalan yang sangat licin. Dan juga, tadi aku memakai mobil van Beast jadi tidak mungkin parkir disini. Jadi, aku harus berlari kesini sebelum—“

“Aku tidak marah. Lebih baik kau atur napasmu dulu.”

“Oh, syukurlah kalau begitu. Keure, bagaimana kau tahu jika napasku terasa sangat sesak sekarang?” celetuk Kikwang seraya mengulas senyuman bocahnya. Ji Eun memutar bola matanya malas.

“Tentu saja dari tingkah lakumu, bodoh!”

“Ck, kau selalu mengataiku bodoh!”

Shin Ji Eun tak berniat untuk membalas ucapan Kikwang, karena jika saja ia membalasnya sedikit saja pasti akan berbuntut panjang dan tak akan selesai. Setelah cukup lama mereka terdiam, Ji Eun menghela napasnya panjang.

“Sungguh, aku senang kau datang hari ini. aku sempat mengira kau tidak akan datang seperti sebelumnya.” Gumaman Lee Kikwang memecahkan keeningan itu. Shin Ji Eun sontak menatap Kikwang tak suka.

Mwo?! kau bicara apa, huh?! Bukankah waktu itu kau yang tidak datang?! Kaulah satu – satunya orang yang membuatku menunggu selama lebih dari 3 jam dan membuatku demam 2 hari berturut – turut karena terkena hujan!” balas Ji Eun sengit, tak terima dengan ucapan Kikwang yang terlontar begitu ringannya sedangkan ia sudah menunggu pria itu dengan mengobarkan kesehatannya.

Kedua mata Kikwang menatap Ji Eun tak berkedip, bibirnya terbuka tak percaya. “Kau… datang?” tanya Kikwang terbata.

Eo!”

“Ya Tuhan, jadi saat itu kau datang dan—lalu… mengapa aku—“ Kikwang tak bisa melanjutkan ucapannya saking terkejutnya ia dengan kenyataan yang baru saja ia dengar. Sedangkan Shin Ji Eun mengernyitkan dahinya bingung dengan tingkah laku Kikwang.

“Mungkinkah kau… juga datang ketaman saat itu?” tanya Ji Eun dengan kedua mata memincing kearah Kikwang.

Dengan ling lung Kikwang menganggukkan kepalanya pelan. “Eo, aku menunggumu disana hingga larut malam. aku tidak bisa menghubungimu karena saat itu ponselku terjatuh karena Yoseob. Kupikir kau tidak akan pernah datang, jadi aku menunggu dihari berikutnya. Tapi, lama kelamaan aku mengerti jika semua yang kulakukan itu sia – sia. Dan saat itu pula aku tersadar jika aku sudah kehilanganmu.”

“Astaga, jadi selama ini—“

“Kita dipermainkan oleh takdir.”

“Bukan, bukan itu. maksudku, jadi selama ini semua kekacauan hubungan kita hanya karena Yoseob. Aish, coba saja pria itu tidak menjatuhkan ponselmu, pasti keadaan tidak sekacau ini, kan?”

“Ah, kau benar juga.”

“Kau baru menyadarinya? Dasar bodoh!”

YA! berhenti mengataiku bodoh!”

“Tch, terserah saja.” Tukas Ji Eun ketus, mengalihkan pandangannya kearah lain. Lee Kikwang tersenyum puas, yang terpenting ia tahu satu hal dari kejadian hari ini. bahwa Shin Ji Eun masih sangat mencintainya.

Perlahan pria itu menarik tangan Ji Eun, menggenggam tangan itu dengan hangat. Senyuman kecilnya terulas ketika Ji Eun menatapnya bingung. “Aku sangat mencintaimu. Tak peduli kau sekarang milik siapa dan bagaimana dirimu sekarang, aku masih sangat mencintaimu seperti dulu. Tak ada yang berubah sama sekali, malah semakin terasa sangat besar saat kita berpisah.” Ujar pria itu dengan kedua mata yang memandang Ji Eun lembut.

Debaran dada Ji Eun semakin terasa menguat ketika Kikwang mengeratkan genggaman tangannya. Namun wajahnya masih bertahan, begitu dingin dan datar.

“Menikahlah denganku, Shin Ji Eun!”

Mwo?”

***

Sam Rin Hyo memakan ramyun-nya dengan gerakan malas. Kyuhyun datang tepat saat hujan berhenti, pria itu menyuruh Rin Hyo membuatkannya 2 porsi ramyun dan alhasil, kini mereka duduk diruang tengah seraya memakan ramyun buatan Rin Hyo.

“Woah, bukankah menyenangkan memakan ramyun disaat dingin seperti ini?” tanya Kyuhyun, tanpa menyadari raut wajah Rin Hyo yang sudah sangat malas menanggapi sikap pemaksa Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi!”

“Hm?” sahut Kyuhyun tanpa menghentikkan tangannya yang sibuk mengantarkan helaian ramyun itu kedalam mulutnya menggunakan sumpit.

“Sebenarnya… mengapa kau sangat ingin memakan ramyun bersamaku sekarang?” seketika Kyuhyun menghentikkan pergerakan tangannya saat mendengar pertanyaan mengejutkan Rin Hyo.

“Hari ini hujan turun, udara sangat dingin. jadi bukankah dicuaca seperti ini memakan ramyun sangat menyenangkan?”

Sam Rin Hyo menghela napasnya pelan, menaruh mangkuk ramyun-nya diatas meja kemudian menatap Kyuhyun dengan raut wajah datarnya. “Haruskah kau memakan ramyun bersamaku? Kurasa kau mempunyai banyak teman untuk menemanimu memakan ramyun ditengah udara dingin seperti ini, Kyuhyun-ssi!”

“Kau banyak bicara hari ini.” balas Kyuhyun ringan kemudian melahap suapan terakhirnya kedalam mulutnya hingga penuh.

“Aku hanya ingin tahu. Maksudku, kau tahu jika aku adalah fansmu kan? Jadi, tidakkah aneh jika kau memperlakukanku seperti ini?” cecar Rin Hyo lagi, berusaha memuaskan rasa penasarannya yang semakin besar.

Kyuhyun menaruh mangkuknya diatas meja, memposisikan tubuhnya miring menghadap Rin Hyo yang masih mempertahankan tatapan penuh tanyanya. “Apa salah jika aku makan ramyun bersama fans, huh?”

Eo?” Rin Hyo berkedip cepat, menggigit bibir bagian bawahnya, bingung harus membalas ucapan Kyuhyun seperti apa lagi. Namun hal itu sangat berdampak besar bagi Kyuhyun yang sejak tadi memperhatikan bibir itu. “Bukan begitu, Kyuhyun-ssi! Hanya saja, kupikir kau… terlalu berlebihan. Dan juga—“ ucapan Rin Hyo terhenti ketika tiba – tiba Kyuhyun mengecup bibirnya cepat. Tubuhnya menegang, menatap Kyuhyun dengan tatapan tercengang. “Kau—apa yang—“

Kyuhyun mengeraskan rahangnya, ia sendiri pun sebenarnya tidak tahu apa yang merasuki dirinya hingga berani melakukan hal itu. yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah, tertawa hambar kemudian berucap

“Kau terlalu banyak bicara, Rin Hyo-ssi!”

TBC-

Semoga menghibur dan tidak mengecewakan yaaa 🙂

Entar next partnya bakal dikerjain sama Bella Eka, jadi stay tune ajaaaa hehe

Okelah, mungkin cukup sampai disiniiii. BYE~~

Advertisements

26 thoughts on “Love Dust 5

  1. Dannn love dust jugaaa updatee… #kkk~ makin cinte dehhh sama saeng :* kkkk~.. KYaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa #teriakpaketoamesjidsebelah. Apaaaan itu apaaaan ituuuu? kyuuu gilakkkk nyium2 rinhyo! katanya rinhyo tu fans tapii kenapa di cium pabo! masaa hal kecil gtu aja lu ga ngerti bang? ahh IQ lu turun ya bang? #evillaugh wkwkwkwkk… dann kikwang sm jieun… >.< ga nyangka kikwang berani ngelamar jieun gtu.. kkk~ Ahhhh~ berharap semua tokohnya bisa berbahagiaaaaaaa 😀 hihihihi… Keep writing & fighting saeng~ :*

  2. Wah, wah,, ada yg clbk nih.. Wkwkwk
    dan si kyu,, ya ampun,, aq juga mau kyu kyk gt..
    Aq juga fans mu., fans berat mu..
    Ayo makan bakso bersama.. Minumnya es teh anget.. Wkwkwk
    gila emang yg komentar ini..

  3. Aigoo kyuhyun kok gk mau bilang siapa rin hyo di depan sehun sih. Sehun jg berharap bnyk deh. Kasian kan rin hyo kyk gk dianggap gitu.

    Aigoo ternyata kikwang jg pernah nunggu ji eun tp ji eunnya salah paham yaa. Ahh grgr yoseob ni hahah.

  4. Akhirnya di next 🙂 aku lebih suka kalo ji eun sama minsook daripada sama kikwang, kalo kikwang mencintai ji eun dia pasti tidak akan membuat ji eun menunggu lama seperti itu. Kyuhyun juga jahat bgt sama rin hyo pliss kyu peka sama rin hyo. Ditunggu part selanjutnya 😊

  5. akankah jieun memilih kikwang?
    Lalu bagaimana dg minseok
    kyuhyun, ayo dong katakan pd rin hyo kalo kau mulai menyukainya

  6. kyuhyun gengsi amat sich………bilang aja klo dia udah mulai suka sama rinhyo. akankah jieun menerima kikwang lg? aq harap iya,hehehe…………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s