Unexpected Bond 5

unexpected bond

Author: Bella Eka

.

.

Ya! Kikwang-ssi, kau tidak perlu melakukan ini!”

Kikwang semakin mempercepat langkah tanpa melepas genggamannya pada pergelangan tangan Ji Eun. Gadis itu terus berteriak namun Kikwang seolah tak mendengar apapun.

“Kau tidak dengar, huh?!” Ji Eun berdecak kesal. Kikwang sama sekali tidak memandangnya.

“YA! Lee Kikwang!” Sekali lagi usaha Ji Eun tak berbuah.

“Namamu Lee Kikwang, bukan? Kau tidak dengar aku memanggil namamu?!”

Kikwang seketika menghentikan langkah. Menghadap Ji Eun cepat seraya berkata, “Wae? Kau merindukanku? Karena itu kau terus menyebut namaku?”

“Lepaskan!”

“Agar kau berhasil melarikan diri? Tidak akan!”

“Menjengkelkan!”

“Lantas?”

Ji Eun mendesis keras. Membuang tatapannya menjauhi pemuda mengesalkan dihadapannya. Disaat itu pula senyuman miringnya terulas kala menemukan keberadaan Park Ji Yeon jauh di belakang tubuh Kikwang. Namun dari kejauhan pun raut geram Ji Yeon terjangkau pandangan Ji Eun dengan baik.

“Kau bilang luka ini harus diobati ‘kan? Kau hendak membantuku mengobatinya ‘kan? Baiklah, lakukan.”

Kerutan di dahi Kikwang terbentuk karena sikap Ji Eun berubah drastis. Gadis itu berbicara padanya dengan tatapan menembus ke belakang. Terlebih seringaian gadis itu semakin jelas. Merasa sesuatu terjadi Kikwang sedikit berbalik. Kedua matanya menandakan terkejut akan kedatangan Ji Yeon yang semakin mendekati mereka.

“Kikwang-ah, apa yang kau lakukan?”

“Sejak kapan kau berada disini?”

Ji Eun menggerakkan tangan Kikwang cepat agar ia mengembalikan tatapan padanya. “Kau bilang akan mengobatiku ‘kan? Ayo sebelum lukaku semakin membengkak, Kikwang-ah.”

Kikwang menatap tak percaya Ji Eun yang tengah menatapnya datar sembari mengulum bibir ke dalam. Gadis itu menggunakan panggilan informal untuk kali pertama. Lalu pandangannya beralih pada Ji Yeon. Apakah kedua gadis ini sedang memiliki masalah?

“Kenapa terus diam disini? Ayo pergi.”

Kini Ji Eun menautkan jari tangan kanannya di sela jari Kikwang. Menyebabkan Kikwang semakin tertegun dibuatnya.

“Apa hubungan kalian berdua?” Ji Yeon mulai membuka suara.

Senyuman kemenangan Ji Eun tertuju pada Ji Yeon. Kemudian mengangkat tautan tangannya dengan Kikwang bersamaan ia berucap, “Kau bisa melihatnya sendiri. Menurutmu hubungan macam apa yang kami miliki?”

Sedangkan Kikwang semakin tak mengerti. “Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?”

Seringaian Ji Eun melebar melihat Ji Yeon mendengus penuh amarah. “Ada apa dengan wajahmu, Park Ji Yeon? Pasti kau ingin menarik rambutku dan menamparku lagi ‘kan? Tidak, kusarankan kau tidak mengulangi hal itu lagi sekarang. Karena selain menambah parah lukaku, tentu saja membuat hubungan kami semakin dekat. Jangan salah memahami perkataanku, aku hanya tidak ingin membuatmu menyesal untuk yang kedua kalinya.”

“Apa maksudmu?”

Ji Eun membalas tatapan menelisik Kikwang. “Kau masih tidak mengerti? Kekasihmu yang membuatku terluka lalu kau yang mencoba menyembuhkannya. Bukankah itu dramatis?”

Ketajaman sorot mata Ji Eun berkurang begitu mendapat genggaman lembut Kikwang. Tangan Kikwang semakin mengeratkan tautan mereka. Sejenak Ji Eun tenggelam namun dengan cepat ia kembali ke permukaan. “Jangan membuatku terlihat buruk,” ucapnya seraya menarik tangannya lepas. Tentu saja, ia tidak ingin menjadi pihak ketiga dalam hubungan Kikwang dan Ji Yeon. Kemudian melangkah meninggalkan Kikwang yang masih berdiri di tempat.

“Kikwang-ah.”

Kikwang menoleh pada Ji Yeon. Raut wajah gadis itu tampak kecewa. “Kenapa kau melakukan ini padaku?”

“Kenapa kau melakukan itu padanya?” sela Kikwang membuat Ji Yeon berjengit. Sikap Kikwang tak seperti biasanya.

“Kau mempercayainya? Kau lebih mempercayai gadis yang baru kau kenal dibanding teman yang berada di sampingmu selama lebih dari dua tahun ini?”

Kikwang membuang napas kasar seiring mengacak rambutnya asal. Sementara Ji Yeon semakin mendekat di hadapannya. “Tidak ‘kan? Kau tidak semudah itu mempercayai ucapan gadis sialan itu sepenuhnya ‘kan?”

“Jangan menyebutnya seperti itu! Kau mau seseorang memanggilmu sebagai gadis sialan?” tegas Kikwang lantas melenggang pergi.

***

Begitu tangan kanannya menyentuh gagang pintu, langkah Ji Eun terhenti. Gadis itu mengambil napas dalam sejenak. Kemudian membukanya perlahan seiring perhatian beberapa orang yang terlebih dulu ada di balkon atap sekolah terpusat padanya.

“Kenapa kau lama sekali?” sambut Woo Bin.

“Dari mana saja kau?” sahut Kyuhyun.

“Ada apa dengan wajahmu?” Kedua mata Rin Hyo sontak terbuka lebar mendapati luka di sudut bibir Ji Eun. Sedangkan Jong Suk tanpa berucap menghampiri Ji Eun dan dengan cepat menggenggam tangan gadis itu.

“Jangan coba-coba memberiku obat merah!” sergah Ji Eun.

“Aku tahu,” jawab Jong Suk seraya membawa Ji Eun kembali menuruni anak tangga. Namun tak lama ia berbalik lagi, menyadari Woo Bin yang berjalan mengekori mereka. “Kau tidak perlu ikut. Kami akan kembali.”

Woo Bin berdecak. “Memangnya siapa yang mengikuti kalian? Aku hanya ingin membeli minuman,” ucapnya ringan membuat Jong Suk menatap malas. Lalu melanjutkan langkahnya tanpa membiarkan Ji Eun lepas darinya.

Ya! Aku tahu kita akan ke UKS dan aku bisa berjalan sendiri. Kau tidak perlu menyeretku seperti ini, bodoh!”

“Tapi aku tidak bisa mempercayai ucapanmu, bodoh!” balas Jong Suk tak kalah sinis.

Tch! Dasar bodoh!”

“Kau yang bodoh!”

“Jong Suk-ah, sepertinya kau tidak mampu mengatasi sepupumu sendiri. Serahkan saja padaku,” Woo Bin mencoba menengahi.

“Sudah pergilah!”

Woo Bin menggeleng pelan melihat tingkah sepasang saudara sepupu yang tidak pernah akur itu seiring membelokkan langkah menuju kafetaria. Berbeda dengan Ji Eun dan Jong Suk tetap lurus kedepan.

Sesampainya di ruang UKS, Jong Suk membuka tirai salah satu bilik kosong. “Duduklah disini,” titahnya membuat Ji Eun mendesah jengah.

“Kapan kau berhenti memperlakukan aku bagai anak kecil seperti ini?!”

“Sampai kau benar-benar dewasa. Tunggu aku, jangan kemana-mana.”

Seolah tak mendengar, Ji Eun lebih memilih mengangkat diri menduduki ranjang yang tingginya melebihi batas normal ranjang biasa. Merasa sedikit kesulitan ia menggunakan pijakan yang telah disediakan.

Sementara Jong Suk meminta sebotol minyak pada noona yang sedang bertugas dalam UKS. “Kamsahamnida,” ucapnya sebelum kembali memasuki ruangan bilik Ji Eun.

Jong Suk mengambil tempat disamping Ji Eun. Mengarahkan wajah gadis itu agar menghadap padanya. “Jangan bergerak,” titah Jong Suk seraya membuka penutup botol obat berbentuk minyak di tangannya.

“Kau lihat sendiri, ini bukan obat merah. Jadi kau tidak perlu khawatir. Tidak akan ada bercak merah di wajahmu.”

Ji Eun menghentikan tangan Jong Suk yang mulai mengoleskan obat itu di ujung bibirnya serta bagian yang membengkak. “Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Kubilang jangan bergerak! Siapa yang melakukan ini padamu?” tanya Jong Suk pelan.

Ji Eun memutar bola matanya malas sebelum berucap enggan, “Park Ji Yeon.”

“Siapa dia?”

“Kau tidak akan tahu.”

“Ah, gadis yang selalu bersama Lee Kikwang itu?”

Ji Eun mengernyit. Menatap tak percaya Jong Suk yang tersenyum tipis.

Sembari melanjutkan kegiatan mengobati Ji Eun perlahan, Jong Suk berujar, “Kenapa aku bisa tahu?”

Ji Eun mengangguk.

“Kami pernah berpapasan saat kau membuat keributan di kantin. Ketika semua siswa berkerumun ingin melihatmu, ada seorang laki-laki dan perempuan malah meninggalkan kerumunan itu. Bukankah itu aneh? Kulihat nametag mereka bertuliskan Lee Kikwang dan Park Ji Yeon.”

“Tunggu, untuk apa kau menceritakan hal ini?”

“Aku belum selesai. Bersamaan dengan itu, kudengar kemarahanmu semakin menjadi. Padahal biasanya kau selalu dingin dalam menanggapi segala hal.”

“Langsung ke intinya saja.”

“Baiklah, kau menyukai Lee Kikwang? Kemarahanmu meluap karena dia menggandeng gadis lain? Kau cemburu?”

Tatapan Ji Eun seketika menjauhi pandangan Jong Suk. Tidak mau pria itu semakin menemukan segala hal melalui sorot matanya. Lee Jong Suk, pria itu sungguh ajaib. Dapat dengan mudah mengetahui apapun mengenai Ji Eun tanpa gadis itu katakan. Bagaimana tidak? Usia mereka menginjak delapan belas tahun dan selama itu pula mereka selalu bersama. Walau pertengkaran selalu menyertai hubungan persaudaraan mereka.

Bola mata Ji Eun terus bergerak gusar. Tak satupun alibi terlintas dalam pikirannya. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? batinnya. Perlahan-lahan Ji Eun melirik kearah Jong Suk. Pria itu mengulas senyuman tipis. “Berhenti tersenyum seperti itu! Wajahmu jelek sekali.”

Cercaan Ji Eun semakin melebarkan senyuman Jong Suk yang sekarang tampak berubah jahil. Sambil meletakkan botol minyak pengobat luka diatas nakas dekat ranjang ia berkata, “Lebih jelek wajahmu yang terlihat bodoh karena tidak berhasil menemukan alasan kuat untuk mengelak.”

“Jangan terlalu percaya diri. Kau pikir ucapanmu sepenting apa? Aku hanya malas menanggapi racauanmu yang sama sekali tidak berguna.”

“Apa salahnya? Akui saja bila kau memang menyukainya. Lagipula lambat laun kalian memang diharuskan untuk saling mencintai, bukan?”

Ucapan ringan Jong Suk membuat tubuh Ji Eun berjengit. “Kau sudah mendengarnya?”

Jong Suk mendesis pelan. “Kau lupa aku siapa?”

“Siapa? Siapa diharuskan mencintai siapa?” Tiba-tiba Woo Bin muncul dari balik tirai dengan membawa sekotak susu cokelat di tangannya yang segera ia berikan pada Ji Eun. “Minumlah.”

Mulanya Ji Eun masih terkejut namun dengan cepat ia menerima uluran tangan Woo Bin. “Gomawo.”

“Tidak ada yang menjawabku?” Woo Bin menatap Ji Eun dan Jong Suk bergantian. Sedangkan Jong Suk tetap memaku pandangannya pada Ji Eun yang menyibukkan diri meminum susu pemberian Woo Bin.

“Cha Eun Sang dan Kim Tan. Bukankah mereka memang diharuskan saling mencintai?” celetuk Jong Suk membuat Ji Eun tersedak. Gadis itu menutup mulutnya cepat.

“Kau tidak apa-apa?” reflek Woo Bin sembari menepuk pelan punggung Ji Eun. Tanpa Woo Bin ketahui, Ji Eun tersenyum singkat pada Jong Suk. Kemudian mengembalikan wajahnya seperti biasa bersamaan ia mengatakan, “Aku tidak apa-apa.”

“Tapi, Cha Eun Sang dan Kim Tan? Memangnya mereka siapa?”

“Kau tidak tahu?” tanya Jong Suk seolah serius.

Woo Bin menggeleng. Lalu raut wajahnya menatap Jong Suk penuh telisik. “Kau menyukai gadis bernama Cha Eun Sang itu? Jadi cintamu bertepuk sebelah tangan? Apa dia sangat cantik? Ah, tapi tetap bagiku tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Shin Ji Eun. Benar, kan?” goda Woo Bin hanya mendapat decihan Ji Eun.

“Tentu saja Cha Eun Sang jauh lebih cantik. Dia juga baik. Hatinya sangat mulia. Tidak seperti gadis kasar sepertinya,” ucap Jong Suk seraya menggedikkan kepalanya pada Ji Eun yang langsung membalasnya dengan tatapan mematikan.

“Benarkah? Dimana kau bertemu dengannya? Sepertinya kau benar-benar jatuh cinta padanya, Jong Suk­-ah.”

“Di televisi. Kau mau saja mempercayai omong kosongnya,” sela Ji Eun disertai decakan membulatkan kedua mata Woo Bin.

“Kau membohongiku?!”

“Aku hanya menjawab pertanyaanmu. Asal kau tahu saja, Cha Eun Sang adalah karakter yang diperankan Park Shin Hye dan Lee Min Ho sebagai Kim Tan. Salahmu sendiri tidak mengikuti perkembangan drama nasional.”

“Awas kau, Lee Jong Suk!”

***

“Mereka lama sekali.”

Rin Hyo mengangguk sebagai tanggapan gumaman Kyuhyun. “Haruskah kita menyusul mereka?”

“Tidak perlu,” sanggah Kyuhyun dengan tatapan lurus memandang pemandangan yang terlihat dari balkon atap sekolah. Matahari memang tengah terik namun bagian atas balkon yang tertutup kanopi membuat suasana tetap nyaman. Karena itulah mereka seringkali memakai tempat ini diwaktu istirahat ataupun waktu senggang lainnya.

Sam Rin Hyo berdiri di samping Kyuhyun. Kedua matanya menatap Kyuhyun dikala teringat sesuatu. Gadis itu tampak ragu membuat Kyuhyun balik menatapnya. “Ada yang ingin kau katakan?”

“Kau ada acara nanti malam?”

Kyuhyun mengembalikan arah pandangnya ke depan. “Memangnya kenapa?”

“Oh, tidak apa-apa jika kau tidak bisa.”

Dalam diam senyuman Kyuhyun mengembang. Tidak biasanya Sam Rin Hyo lebih cepat selangkah mengajaknya kencan. Karena selama ini selalu Kyuhyun yang merencanakan.

“Aku hanya bertanya memang nanti malam ada apa?”

“Kau bisa menemaniku ke suatu tempat?”

“Tepatnya?”

Sejenak Rin Hyo terdiam seiring bola matanya beralih ke depan pula. Sementara Kyuhyun semakin menyeringai melihat Rin Hyo tampak kebingungan. “Apa yang kau pikirkan? Bukankah pertanyaanku terlalu mudah?”

“Kau akan tahu sendiri nanti,” singkat Rin Hyo.

Tiba-tiba Kyuhyun tertawa kecil. Sam Rin Hyo benar-benar tidak pandai menyembunyikan sesuatu dan hal itu adalah bagian menggemaskan di mata Kyuhyun. Mungkinkah gadis itu telah menyiapkan kejutan untuknya? Entahlah, membayangkannya saja sudah terlalu bahagia.

Sedangkan Rin Hyo menatap Kyuhyun heran. Terlebih pemuda itu kini meraih tangannya. Bersamaan dahinya mengernyit Rin Hyo berkata, “Kenapa tertawa?”

“Tidak, tidak apa-apa,” jawab Kyuhyun seraya menggerakkan tangan mendukung ucapannya.

Tatapan Rin Hyo tetap melekat hingga tawa Kyuhyun mereda. Raut wajah Kyuhyun berubah serius dengan sorot mata lembut pada Rin Hyo. Dengan genggaman semakin ia eratkan Kyuhyun berucap manis, “Aku mencintaimu.”

Bukannya berbunga-bunga Rin Hyo malah semakin bingung. “Kenapa kau tiba-tiba—“

“Kau tidak mencintaiku?”

“Te-tentu saja. Aku juga mencintaimu.”

***

Dering penanda waktu pulang berbunyi. Keheningan yang tercipta selama proses belajar mengajar di kelas berganti dengan kegaduhan siswa berkemas. Begitupun Shin Ji Eun. Gadis itu merapikan alat tulisnya dengan cepat lalu bergegas melenggang keluar.

YA! Shin Ji Eun!”

Pekik Woo Bin terdengar Ji Eun dan membuat sosok gadis bermasker hijau muda itu kembali tampak diambang pintu. “Mwo?”

“Kau mau kemana?”

“Pulang. Wae?”

Woo Bin bergerak mendekati Ji Eun. Masker yang dikenakan gadis itu membuat ucapannya tak terdengar jelas. Tapi tetap saja Ji Eun tetap memakainya agar luka yang memalukan tidak dilihat banyak orang.

“Kau mau kemana?” ulang Woo Bin.

“Pulang.”

“Tidak biasanya.”

“Aku harus cepat pergi.”

Shin Ji Eun melangkah cepat. Sesekali memeriksa arloji di pergelangan tangan kiri. “Apa aku terlambat?” gumamnya seraya mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Cepat-cepat ia mencari jadwal pemberhentian bus di internet. Karena tidak membawa mobil pribadi mengharuskan ia melakukan hal merepotkan ini. Beruntung bila ia masih diperbolehkan dijemput oleh Kim ahjussi. Namun kenyataan tidak seindah itu. Tuan Shin telah memberi perintah agar gadis itu pulang sendiri.

Mendadak seseorang menarik lengan Shin Ji Eun. Cengkeraman kuat berasal dari seorang pemuda itu memimpin Ji Eun dengan langkah besarnya menuju area parkir sekolah.

“Kikwang-ssi!” pekik Ji Eun. Sebesar apa kekuatannya melepas cengkeraman Kikwang tak berguna. Dimana-mana memang energi pria selalu lebih besar dari wanita.

Lee Kikwang membukakan pintu mobil hitamnya mempersilahkan Ji Eun ke dalam. “Masuklah.”

“Maksudmu?”

“Kau tidak mengerti bahasa manusia?”

Tck!  Maksudku untuk apa kau melakukan ini? Aku tidak meminta apapun padamu.”

“Tapi ayahmu yang meminta secara pribadi padaku.”

Mwo?!”

“Cepat masuklah. Kau tidak mau lebih banyak orang mengetahui hubungan kita, kan?”

Ji Eun mendesah frustasi. Sama sekali tidak menyangka bahwa orang tua akan sangat banyak berperan dalam hubungan paksa ini. “Memangnya hubungan apa yang kita miliki?” gerutunya sembari menghempaskan diri diatas kursi empuk mobil Kikwang dan menutup pintunya. Sang pemilik pun segera memutari bagian depan mobil dan mengambil tempat disamping Ji Eun.

***

Di sisi lain, kedua tangan Woo Bin terkepal kuat. Kejadian mustahil terpampang jelas dalam jarak pandang matanya. Shin Ji Eun dan pemuda pekerja paruh waktu itu sangat tidak mungkin memiliki hubungan. Tapi peristiwa yang ditangkap kedua mata kepalanya sendiri menunjukkan fakta yang tidak dapat dielakkan. Ada sesuatu terjadi diantara Shin Ji Eun dan Lee Kikwang.

Dan sesuatu yang tidak ia ketahui itu mungkin juga berkaitan dengan bahan perbincangan Ji Eun dan Jong Suk siang tadi. Sebenarnya Woo Bin mendengarnya, namun tidak seutuhnya. Walau Jong Suk mencoba mengalihkan dengan mengatakan bahwa mereka tengah membicarakan kisah cinta Cha Eun Sang dan Kim Tan, namun Woo Bin terlebih dahulu tahu jika sebenarnya mereka sedang membicarakan Shin Ji Eun dan seseorang. Seseorang yang Jong Suk sebut sebagai pria yang memang diharuskan mencintai dan dicintai Shin Ji Eun. Tapi tentu Woo Bin tidak seceroboh itu mengungkap apa yang ia tahu. Sebab Ji Eun dan Jong Suk tidak akan menceritakan semua itu secara gamblang padanya. Dan yang paling mungkin terjadi adalah, sepasang bersaudara itu malah semakin berhati-hati padanya.

Sebuah mobil sedan hitam keluaran terbaru dimana ada Ji Eun di dalamnya tampak berlalu melewati gerbang sekolah. Sebenarnya siapa Lee Kikwang? Pasti dia bukanlah seseorang yang biasa. Pasti ada latar belakang yang tidak ia ketahui darinya. Ya, Woo Bin yakin itu.

Helaan napas Woo Bin terbebas. Udara kesal bercampur penasaran terhembus kasar di bibirnya. Membatu disini tak akan menghasilkan apa-apa. Ia memutuskan untuk berbalik. Namun berdirinya seorang gadis tak jauh dari tempatnya menghentikan pergerakan Woo Bin. Keadaan gadis itu tak berbeda jauh dengannya saat ini. Sorot mata menyala-nyala dengan kedua tangan terkepal erat. Woo Bin mengikuti arah pandang gadis itu dan menemukan gerbang sekolah yang sebelumnya juga menjadi pakuan tatapannya. Kening Woo Bin mengerut. Mungkinkah mereka sedang merasakan luapan emosi yang sama?

Tanpa sadar Woo Bin mendekati gadis itu. Semakin dekat ia semakin yakin bahwa gadis itu adalah gadis yang ia ingat selalu disamping Kikwang. “Permisi.”

Gadis itu menoleh. Sedikit berjengit karena kedatangan Woo Bin.

“Dia temanmu, kan?” sarkatis Woo Bin.

“Ya. Memang apa urusanmu?”

“Aigoo, kenapa kau sensitif sekali?” Nada ucapan Woo Bin terdengar menggoda. “Beritahu temanmu untuk tidak merecoki Shin Ji Eun jika dia tidak ingin kehidupannya diganggu,” lanjutnya.

Pergantian tatapan tajam Park Ji Yeon seketika berubah bersahabat. Gurat wajah yang semula dingin kini memelas. “Aku sudah memberitahunya beberapa kali agar tidak mengganggu Shin Ji Eun. Aku tahu Shin Ji Eun adalah gadis yang baik. Tidak sepantasnya dia didekati lelaki semacam Lee Kikwang. Tapi kau lihat sendiri apa yang baru saja terjadi.”

Woo Bin mengernyit tak mengerti. “Maksudmu?”

“Seperti yang kau lihat, aku lah yang paling mengenal Lee Kikwang. Tidak ada lagi orang lain yang mengetahui segala hal tentangnya lebih baik dariku. Karena itu kurasa Ji Eun tidak seharusnya dekat dengan pemuda berengsek seperti dia.”

Woo Bin semakin tercengang. Ia rasa telah menemukan seseorang yang tepat untuk mengetahui seluk beluk Lee Kikwang lebih dalam. “Ikut aku.”

***

Tak ada yang dapat Ji Eun lakukan selain duduk membeku menatap lurus ke depan. Biasanya ia tidak peduli meski dalam keadaan canggung namun kali ini ia merasa kikuk. Lee Kikwang tak mengucap sepatah kata pun semenjak mereka memasuki mobil membuatnya tidak tahan ingin memulai pembicaraan. Tapi apa yang harus ia katakan?

Drrt drrt

 

Ponsel Ji Eun bergetar. Terdapat pesan dari Sam Rin Hyo.

Kau dimana sekarang? Woo Bin bilang kau pulang lebih awal? Pelatih Park baru saja menghubungiku dan dia sudah berada di tempat latihan. Segeralah kesana! Aku juga akan berangkat.

 

Desahan napas Ji Eun terlontar. Ia baru ingat jika hari ini adalah jadwalnya berlatih ice skating. Tidak ada waktu lagi untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Karena biasanya ia langsung menuju tempat latihan sepulang sekolah. Tapi saat menatap Lee Kikwang, Ji Eun kembali menimang-nimang antara meminta pemuda itu mengantarnya atau tidak. Karena hubungan mereka tidak terlalu dekat untuk Ji Eun meminta. Namun waktu mendesak agar ia melakukannya.

Baiklah, Kikwang mengantarnya sekali saja bukan masalah besar, bukan? Bibir gadis itu telah terbuka hendak mengatakan sesuatu namun tiba-tiba suaranya serasa tercekat. Sekujur tubuhnya dilanda kegugupan mencuat. Untuk apa? Untuk apa ia merasa seperti ini?

Ji Eun mengalihkan pandangan ke jendela samping. Ia benci perasaan yang membuatnya frustasi. Terlebih sebentar lagi mereka akan melewati persimpangan jalan yang salah satunya menuju tempat latihan. Ia harus cepat tersadar sebelum waktu terbuang semakin banyak.

“Kikwang-ssi,” panggilnya. Menyebut namanya saja membuat jantungnya berdebar kuat.

Kikwang hanya memandang Ji Eun sekilas sebagai balasan.

“Lebih baik kau menurunkanku disini.”

“Aku bisa mengantarmu sampai rumah.”

“Tapi sekarang belum waktuku pulang.”

“Dalam keadaan seperti itu kau masih saja berlatih ice skating?”

“Aku berlatih hanya menggunakan tangan dan kakiku. Bukan wajahku!” seru Ji Eun. Tak lama ia menyadari sesuatu. “Kau tahu jadwal latihanku?”

Kikwang tak lagi merespon. Ia memilih bungkam dan tak menghiraukan gadis yang seolah tengah menginterogasinya itu. Shin Ji Eun memang dikenal akan kemahirannya dalam bermain ice skating. Semua orang di sekolah tahu itu. Tapi mengenai jadwal latihan hanya teman terdekat yang tahu. Terutama Sam Rin Hyo karena gadis itu memiliki jadwal yang sama meski jenis latihannya berbeda. Shin Ji Eun merupakan seorang ice skater sedangkan Sam Rin Hyo ballerina.

Perhatian Ji Eun teralih semakin gusar karena persimpangan jalan semakin dekat. “Sudah cukup. Hentikan disini saja.”

“Kikwang-ssi!” Ji Eun mulai kesal. Kikwang selalu tak mendengarnya. “Hentikan mobilmu sekarang juga,” ucapnya penuh penekanan.

Tak disangka, Kikwang membelokkan mobil kearah kanan dimana jalur tempat latihan Ji Eun. Sontak gadis itu terpana. “Kau… bagaimana bisa…”

Wajah Kikwang begitu datar sementara ekspresi Ji Eun tak lagi terkontrol. Terlalu tercengang hingga mulutnya terbuka. Sungguh sulit dipercaya seseorang yang masih asing seperti Lee Kikwang mengetahui tempat latihan yang biasa ia kunjungi. Namun terdapat satu alasan yang mungkin terjadi, “Jadi selama ini kau menguntitku?”

“Mwo?” Kikwang tersenyum hambar. Kemudian menepikan mobilnya begitu sampai di depan bangunan berdominasi warna merah jambu.

Ji Eun memandang bangunan itu dengan tatapan tak percaya. “Bahkan kau tahu dimana gedung latihanku.” Gadis itu kembali menatap Kikwang dengan memicingkan kedua mata.

“Ya! Berhenti berkata omong kosong! Cepatlah masuk. Pelatihmu pasti sudah menunggu.”

“Kau benar-benar seorang penguntit?”

Lee Kikwang memutar bola matanya lantas beranjak keluar. Memutari setengah mobil guna membukakan pintu untuk Shin Ji Eun. “Keluar sekarang juga!”

“Tadinya menolak menurunkanku tapi sekarang mengusirku. Dasar!”

Kikwang tersenyum simpul melihat Ji Eun yang sibuk menggerutu seraya bergegas memasuki gedung. Dengan kedua tangan terlipat di depan dada ia berdiri menyandari sisi mobil di belakangnya. Menatap Ji Eun hingga sosok gadis itu menghilang di balik pintu kaca berwarna gelap. Meski begitu ulasan senyumannya tak turut menghilang. Benar-benar memiliki gadis itu sepertinya bukan ide yang buruk. Sisi lain Shin Ji Eun perlahan terbuka dengan sendirinya. Semakin lama menunjukkan Shin Ji Eun yang sebenarnya. Sisi yang akhir-akhir ini menggetarkan hatinya tanpa sebab.

“Siapa kau?”

Suara berat namun terkesan lembut khas Cho Kyuhyun membuat Kikwang berpaling. Kikwang mempertahankan wajah datar saat Kyuhyun menatapnya curiga.

“Kulihat tadi kau yang mengantar Ji Eun.”

Kikwang memandang arah pintu gedung sekilas. Seolah bertanya pada Ji Eun bagaimana ia harus menjawab. “Ya, kau tidak salah.”

“Apa hubunganmu dengannya?” sambung Kyuhyun cepat melontarkan pertanyaan inti yang sejak awal terngiang di kepalanya.

Kikwang menjulurkan lidahnya singkat sekadar membasahi bibir yang terasa kering. Sebenarnya ia tidak mengerti rencana Ji Eun yang ternyata juga merahasiakan hubungan mereka pada teman-teman yang Kikwang tahu sebagai sahabat terdekatnya.

“Teman,” tegas Kikwang kemudian. Bagaimanapun ia yakin pasti Ji Eun memiliki alasan dibalik merahasiakan itu dari mereka semua.

“Hanya sebatas itu?”

“Memang hubungan apa yang kau harapkan?” Kikwang bergerak membuka pintu mobil bagian pengemudi. Masuk ke dalamnya lantas melaju kencang meninggalkan Kyuhyun yang masih terdiam memikirkan sesuatu.

***

Tatapan Kim Woo Bin melekat pada Ji Yeon yang tengah meneguk jus jeruk di hadapannya. Mereka berada di sebuah kafe sepi pengunjung sekarang. Dekorasi berwarna teduh serta alunan musik teralun semakin mendukung suasana nyaman yang tercipta. Namun tidak ada waktu untuk Woo Bin menikmati ketenangan ini, bukan untuk itu ia membawa Ji Yeon kemari.

“Cepat katakan siapa Lee Kikwang sebenarnya.”

Ji Yeon meletakan gelas minumannya diatas meja. Mengambil selembar tisu untuk menyeka bibirnya dengan gerakan elegan. Lalu menyandarkan diri di sandaran kursi sembari menyunggingkan senyuman tipis pada Woo Bin. “Mungkin sedikit sulit untuk percaya karena kau tidak benar-benar mengenalnya.”

“Aku tidak butuh basa-basi yang lebih panjang.” Kesabaran Woo Bin tidak lagi banyak tersedia. Pada dasarnya ia memang tidak memiliki kadar kesabaran yang tinggi. Terlebih sikap Ji Yeon menunjukkan seakan gadis itu adalah sumber meyakinkan.

“Lee Kikwang…”

Kelopak mata Woo Bin sontak terpaku menunggu sambungan ucapan Ji Yeon.

“Dia adalah putra tunggal Lee Young Kwang. Kedengarannya tidak asing lagi, bukan?”

Dahi Woo Bin membentuk garis lengkung mengingat nama itu. Seperti perkataan Ji Yeon, nama itu terdengar familiar baginya. Tapi, Lee Young Kwang, siapa dia?

Glory Group. Atau dalam bahasa Korea disebut Young Kwang Group. Nama pemilik perusahaan itu sendiri,” ujar Ji Yeon.

Kedua mata Woo Bin sontak melebar. Lee Kikwang adalah pewaris tunggal Glory Group? Perusahaan primadona yang diinginkan setiap perusahaan lain di Korea untuk diajak bekerjasama karena prestasi kesuksesan di berbagai negara. Dapat dikatakan bahwa Glory Group merupakan perusahaan nomor satu di Korea saat ini. Tapi, Lee Kikwang? Pemuda pekerja paruh waktu itu?

“Kau bercanda?”

“Kau sulit mempercayainya, kan? Dia memang memiliki banyak topeng. Menggunakan wajah innocent seolah lemah di depan namun sebenarnya ia memiliki kekuatan besar untuk menghancurkan kalian.”

“Kau pasti bercanda.” Kepala Woo Bin menggeleng pelan. Lee Kikwang, tidak mungkin.

“Ini adalah rahasia. Jadi kau harus berjanji untuk tidak mengatakan perihal latar belakang Kikwang pada siapapun.”

“Tapi kenapa selama ini dia tidak memperlihatkan identitas yang sebenarnya?”

“Kikwang tidak ingin statusnya dibesar-besarkan. Ia tidak ingin mendapat perlakuan istimewa dari siapapun.”

Air muka Woo Bin berubah. “Kau menyindir kami?”

Perubahan Woo Bin membuat Ji Yeon tergagap. Segera ia mengklarifikasi. “Bukan, bukan begitu maksudku. Kikwang tidak ingin menjadi pusat perhatian karena itu akan mengganggunya mengamati keadaan. Karena semua akan menampakkan sisi terbaik dan menyembunyikan kelemahan yang menjadi incarannya.”

“Incaran?”

“Ya. Bagaimanapun Kikwang adalah pewaris Glory Group. Maka ia telah bersiap mulai dari sekarang. Di sekolah ini banyak berkumpul pewaris-pewaris perusahaan sepertimu dan teman-temanmu lainnya. Sebaiknya kalian berhati-hati atau mendapat serangan balik di masa depan. Terutama Shin Ji Eun, aku merasa simpati sekali karena dengan polosnya menerima Kikwang tanpa tahu maksud sebenarnya.”

Penjelasan Ji Yeon membuat Woo Bin mendengus. “Apa dia benar-benar memiliki pemikiran sedewasa itu? Aku tidak menyangka di usia seperti ini ia sudah berencana sejauh itu.”

Tubuh Ji Yeon seketika menegak. Wajahnya nampak waspada. “Tentu saja. Kau tahu sendiri akulah orang terdekat Kikwang, bukan? Kau tidak percaya padaku?”

Woo Bin mengernyit mendapati gelagat aneh Ji Yeon. Terdapat sesuatu terasa ganjil pada gadis itu namun sayangnya Woo Bin sendiri tak tahu apa yang membuatnya merasa seperti itu. “Tapi, kenapa kau membeberkannya padaku semudah itu? Bukankah Kikwang tidak ingin orang lain tahu?”

Ji Yeon meneguk orange juice nya cepat. Entah karena apa gadis itu terlihat gugup.

Woo Bin semakin melekatkan pandangannya. Menatap Ji Yeon yang belum juga menjawab pertanyaannya. Ada apa dengan gadis itu? Wajahnya semakin tertekuk dan menunduk. Kerutan di kening Woo Bin semakin jelas saat Ji Yeon mengambil napas dalam. Tiba-tiba bahu gadis itu bergetar.

“Kau menangis?”

Tanpa menanggapi, Park Ji Yeon semakin terisak. Woo Bin mengulurkan tangannya membagi tisu. Sampai detik ini ia masih tidak mengerti penyebab mengapa Ji Yeon menangis.

Perlahan Ji Yeon mulai mengangkat wajahnya yang memerah. Titik demi titik air mata menetes pelan di kedua pipinya. “Aku… aku hanya tidak ingin Ji Eun memperoleh imbas yang buruk karena Lee Kikwang. Jujur saja, aku mencintainya. Aku sangat mencintai Lee Kikwang. Tapi perasaan sialan itu juga yang tetap menahanku disampingnya walau aku tahu segala keburukan yang ia miliki. Aku semakin terjerat semenjak Kikwang mengucap bahwa ia juga mencintaiku saat itu. Tapi apa yang kudapat sekarang? Aku sadar tidak mampu menyaingi kekuasaan Shin Ji Eun. Aku sadar aku bukanlah pewaris perusahaan seperti gadis beruntung seperti Ji Eun. Tapi aku memiliki cinta yang besar untuknya. Cinta… aku memang bodoh karena menganggap cinta adalah segalanya.”

Hati Woo Bin terenyuh mendengarnya. Dadanya kembali memanas mengingat perasaan yang ia miliki pada Shin Ji Eun. Mengetahui informasi mengenai Lee Kikwang menambah rasa kekhawatirannya pada gadis itu. Ji Eun tidak boleh terjerumus terlalu dalam akibat pesona pemuda licik itu.

“Aku ke kamar mandi sebentar.”

Ji Yeon beranjak setelah Woo Bin mengangguk singkat. Gadis itu menuju kamar mandi wanita dan menghadap cermin yang tersedia dalam sana. Ia membasuh wajah dengan aliran air di wastafel kemudian menatap pantulan wajah basahnya. Bersamaan senyuman culas terkembang di bibirnya ia mendesis, “Sepertinya kau lebih pantas menjadi seorang aktris, Park Ji Yeon.”

***

BAP!

 

Segaris senyuman Cho Kyuhyun tak meluntur hingga Sam Rin Hyo duduk disampingnya. Ia semakin tak sabar menunggu ucapan gadis yang sedang mengaitkan sabuk pengaman itu.

Kajja,” ajak Rin Hyo kemudian.

“Kemana?”

Tak ada jawaban. Hanya kedipan mata disertai tatapan ragu yang Rin Hyo berikan. Bibir Cho Kyuhyun semakin mengembang bersamaan dadanya berdebar. Sepertinya Rin Hyo benar-benar menyiapkan kejutan.

“Sinsa-dong.”

“Sinsa-dong?” ulang Kyuhyun. Membuat Rin Hyo mengangguk sembari meneguk ludah berat.

Perlahan Cho Kyuhyun memijak pedal gas. Disela mengemudi sesekali ia memandang Rin Hyo yang terpaku pada pemandangan jalan di depan. Gadis itu hanya terdiam. Seolah memikirkan sesuatu yang tak dapat Kyuhyun tebak. Karena itu Kyuhyun bertanya, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Eung?” Sepasang alis Rin Hyo terangkat. Bagi Kyuhyun cukup sebagai pertanda bahwa jiwa gadis itu tidak sedang bersamanya.

“Aku tanya apa yang kau pikirkan?”

“Tidak ada. Memangnya kenapa?”

“Kau terlihat seperti melamunkan sesuatu.”

“Tidak. Aku tidak melamunkan apapun. Kau fokus saja menyetir.”

Dahi Kyuhyun mengerut. Sam Rin Hyo lebih pendiam dari biasanya. Apakah kejutan itu terlalu rahasia sampai ia begitu takut terbocorkan? Atau sebenarnya tidak ada kejutan yang Rin Hyo berikan untuknya? Seperti biasa Cho Kyuhyun bergelut dalam pikirannya sendiri. Berbanding terbalik dengan keadaan nyata diantara dirinya dan Rin Hyo yang hening.

Papan penunjuk jalan terpampang menunjukkan mereka telah memasuki wilayah Sinsa-dong. Tak lama kemudian Rin Hyo berkata, “Setelah lampu merah di depan, kita berbelok ke kanan.”

Sontak Kyuhyun menatap Rin Hyo cepat. Ia mulai tahu kemana arah jalan selanjutnya. Tempat ini sangat familiar bagi Kyuhyun. Tentu saja bagi Rin Hyo pula.

“Sebenarnya kita mau kemana?”

“Ke suatu tempat,” jawab Rin Hyo singkat.

“Kau tidak berniat ke rumah Jong Suk, kan?”

Tatapan Rin Hyo terpusat pada samping jendela kanan. Berusaha menghindari kontak mata Cho Kyuhyun. Desahan napas Kyuhyun terbebas kasar. Kekecewaan mengambil alih harapan yang ia berikan pada Sam Rin Hyo. Alih-alih memberi kejutan, hal paling sederhana seperti mengajak kencan rupanya terlalu mustahil untuk Rin Hyo lakukan.

Cho Kyuhyun menarik napas dalam dan menghembuskan helaan berat. Kekecewaannya bertambah. Seolah bertumpuk-tumpuk akibat ulah Sam Rin Hyo yang selalu menempatkan Jong Suk di posisi atas melebihi dirinya.

“Kenapa kita harus menemui Jong Suk?”

“Fokuslah menyetir saja.”

“Sedari awal kau memang berencana pergi kesana?” Nada Kyuhyun mulai berubah sinis. Kakinya menekan pedal rem menyebabkan mobil menepi dan berhenti.

“Ada apa denganmu?”

“Ada apa denganku? Kau ingat berapa kali kau bertanya ada apa denganku dan apa maksudku? Kau memang tidak mengerti atau berpura-pura tidak mengerti, hah?”

Napas Rin Hyo tertiup pendek. Sebenarnya ia telah menduga bahwa Kyuhyun akan bersikap seperti ini saat mengetahui tujuan mereka adalah rumah Jong Suk. Maka itu Rin Hyo sengaja tidak memberi tahu Kyuhyun agar pria itu menyetujui ajakannya.

“Kyu, kau benar-benar marah? Aku mengajakmu kesana karena Jong Suk memintaku membantunya belajar matematika. Kau tahu sendiri ‘kan jika aku tidak pandai dalam bidang itu. Kau adalah yang terbaik jika menyangkut soal pelajaran. Karena itu aku membawamu bersamaku,” papar Rin Hyo berusaha menjelaskan setenang mungkin. Gadis itu meraih tangan Kyuhyun yang masih enggan menatapnya. Menggenggamnya erat hingga Kyuhyun berpaling padanya.

“Kau hanya perlu mengatakannya mulai awal. Tidak seharusnya kau merahasiakannya seolah menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Aku hanya khawatir kau berpikir yang tidak-tidak dan menolak ajakanku.”

“Tapi cara seperti ini semakin mendorongku berpikiran yang tidak-tidak, Hyo.”

Sam Rin Hyo mengulas senyuman menenangkan. Mencoba meredakan emosi Kyuhyun yang memang ia akui posesif. “Baiklah. Aku akan berterus terang mulai sekarang.”

***

Langkah Ji Eun terseok keluar rumah. Langit masih berwarna biru gelap namun ia sudah diharuskan berangkat ke sekolah. Tuan Shin belum membolehkannya membawa kendaraan dan alhasil ia harus bangun lebih pagi supaya memiliki cukup waktu untuk menunggu bus di halte.

Kantuk belum sepenuhnya menghilang membuat kedua mata gadis itu hanya separuh terbuka. Kedua kakinya berjalan lemas menyeret jalan setapak taman halaman. Jika bukan Tuan Shin yang terus menggedor keras pintu kamarnya pagi tadi, Shin Ji Eun tidak akan bertindak rajin sejauh ini.

Semakin mendekati gerbang Ji Eun mulai menyadari sebuah mobil hitam terparkir di depan. Mobil itu terasa familiar namun ia tak ingat pasti milik siapa. Meski begitu Ji Eun tetap berjalan santai dengan kedua tangan melesak dalam saku. Gadis itu terlalu malas berpikir di pagi hari seperti ini.

“Shin Ji Eun!”

Baru tiga langkah Ji Eun melewati pintu gerbang dan berbelok ke kiri, seseorang yang tiba-tiba keluar dari mobil itu memanggil namanya. Ji Eun menoleh, tentu saja. Tanpa terkejut ia mendapati Lee Kikwang disana. Pantas saja mobil itu tidak terasa asing lagi, ternyata milik Lee Kikwang.

Shin Ji Eun mengubah arah langkah. Kembali menghampiri kendaraan terparkir itu. “Kau datang untuk menjemputku, kan?”

Reaksi Ji Eun diluar perkiraan Kikwang membuat kedua matanya menyipit. “Kau tidak menolak?”

“Sekolah pasti masih sangat sepi. Jadi tidak masalah kita berangkat bersama,” ujar Ji Eun ringan sembari meraih gagang pintu mobil Kikwang.

Belum sempat Ji Eun dan Kikwang menghempaskan diri ke dalam, sebuah mobil lain tampak mengarah pada mereka. Kedua mata Ji Eun sontak terbelalak. Ia sangat hapal dengan lekuk, warna, dan bentuk modifikasi mobil itu. Jantungnya berdegup keras seiring tatapannya tertuju cemas pada Kikwang yang masih menelisik mencari penyebab anehnya tingkah Ji Eun.

“Kikwang-ah, cepat masuklah!”

“Tetaplah seperti ini. Kita akan terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah jika melarikan diri begitu saja.”

Sempurna sudah kedua mata Ji Eun membulat. Setelah mengetahui Kim Woo Bin lah yang datang, Kikwang malah membuat keputusan yang berhasil mengakibatkan bulu kuduk Ji Eun merinding.

“Kau gila?!” sentak Ji Eun. Mobil Woo Bin sudah semakin dekat dan berhenti tepat menghadang mobil Kikwang.

“Sudah terlambat,” gumam Kikwang bersamaan sosok Woo Bin keluar dengan kilat mata berapi-api.

 .

.

——————————

To be Continued

.

.

Part ini lebih panjang dari sebelumnya. Jadi kalo kepanjangan dan bikin bosen, beritahu ya ^^ terimakasih.

Shin.

Advertisements

16 thoughts on “Unexpected Bond 5

  1. makin seru aj 🙂
    aku tuh ga ngerti ma perasaan hyo sbner’y cinta ga sih ma kyu cz gelagatt’y aneh gtu kaya yg hyo jg suka ma jong suk….. ANDWEEEEE
    aku ga rela klo kyu patah hati….. kenapa aku sebel bnget ma hyo yg kaya ga pnya pendirian gtu ma perasaan’y 😦

    jiyeon bener2 ya
    jahat bnget…. itu sih bkan cinta tp obsesi
    smpe manas2in woo bin sgala… aduh kiamat ni…..

  2. wahh jiyeon parah banget aku kira dia baik ternyata jahat juga
    kikwang sama wo bin nanti mereka bertarung yaaa buat dapetin jieun

  3. Keren kakaaaaaaaaaaaaak :3 itu si jiyeon sumpaaah jahat banget jadi orang -_- trus trus woobin sama jieun itu putusnya kenapa sih btw? jangan sampek KwangEun couple pisah ya kaaaak ntar nggak nge-feel lagii :””
    trus buat RinHyo dia itu suka sama jongsuk juga nggak sih? meskipn ntar akhirnya sama jongsuk gapapa deh kak 🙂 soalnya gakalah ganteng dr kyuhyun wkwk.
    maafin ya kaak komennya panjang bangeettt :”” kalo gasuka dihapus aja komennya :”” btw aku readers baru kak suka banget sm ffnya kikwang-secara susah cari ffnya kikwang- :3 salam kenaaal^^

  4. love this chapter 😀 😀
    makin penasaran sama gikwang. kok kayaknya gikwang punya motif tersembunyi deh sama ji eun. aneh aja gitu, kok gikwang kesannya tau semua tempat yang suka ji eun datengin. kyk di kedai oranye trus sekarang tempat latihan skating. apa gikwang emang sengaja deketin ji eun?
    lanjut terus yaaa … love love 🙂

  5. Rin hyo mah gitu sebel aku lihatnta. Sebenarnya dia itu suka sm kyu atau jongsuk sih ? Aku rada gk rela klu rinhyo milih jongsuk, nanti kyu patah hati lg pdhal dia kan syg bgt rin hyo.

    Aish jiyeon kirain aku baik trnyata yg pakai topeng itu dia.
    Waw kikwang udh berubah jd penguntit ji eun yaa kkk~

  6. Aku ngerasa hyo sukanya sm jongsuk , krn gelagatnya lebih care ke jongsuk . Tp klo misalkan hyo bnr2 suka sm jongsuk kyuhyunnya gmn? Patah hati dong nnti haha
    Park Ji Yeon jinjja bkin di dramatisir bgt kynya , emg gaslh dgn ucpn dirinya sndri yg lebih pantas menjadi seorang aktris hahaha
    nah nah skrg moment nya jieun sm kikwang bnyk deh hehe , tp kim woo binnya ngamuk2 tuh pagi2 hehe …
    Tau sndrikan eon matanya kim woo bin mengintimidasi bgt klo didrama2 gtu ya aku bygn woo bin sprt didrama2 yg kulihat dr ekpresi menahan emosi sampe melototin org gtu wkwk
    Makasi ya eon uda dipublish , aku tunggu ff slnjtnya hehe

  7. gila,makin seru..
    Ndak nyangka kalo jiyeon akan melakukan hal licik untk bsa dpetin kikwang..
    Jgn2 kikwang dan woo bin akan slng bermusuhan..
    Sbnarnya apa dibalik kesederhanaan kikwang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s