Unexpected Bond 6

unexpected bondAuthor: Bella Eka.

.

.

“Kau gila?!” sentak Ji Eun. Mobil Woo Bin sudah semakin dekat dan berhenti tepat menghadang mobil Kikwang.

“Sudah terlambat,” gumam Kikwang bersamaan sosok Woo Bin keluar dengan kilat mata berapi-api.

Gerak kasar Woo Bin saat menutup pintu mobil membuat tubuh Ji Eun berjengit. Woo Bin menatap Ji Eun yang mencoba menghindari tatapannya dengan menyibakkan rambutnya ke belakang kemudian beralih pada Kikwang yang balas menatapnya tak kalah tajam.

“Apa hubunganmu dengan Shin Ji Eun?” Suara berat Woo Bin memecah keheningan. Kikwang tersenyum tipis sementara Ji Eun mendesah kasar.

“Kupikir tidak ada urusannya denganmu.”

Tch!” decih Woo Bin disertai senyuman miringnya. “Memangnya kau siapa berani berkata seperti itu?”

Ya!” tegur Ji Eun pelan namun terdengar tegas. Tapi tetap saja tak bisa menghentikan peraduan sengit kedua pemuda itu.

“Memang apa pentingnya kau tahu siapa aku?” Nada ucapan Kikwang sedatar raut wajahnya kini. Bukan kali pertama Ji Eun melihat ekspresi itu tapi entah mengapa kali ini begitu mengerikan.

Emosi Woo Bin memuncak. Sorot matanya semakin nyalang. Sejenak ia mengedarkan pandangan berusaha menyegarkan mata yang memanas. Tapi ketika kembali melihat Kikwang yang tetap bersikap tenang dan terus menatapnya tajam, kedua tangan Woo Bin perlahan terkepal. “Tingkahmu benar-benar memuakkan!”

YA!” pekik Ji Eun saat Woo Bin mulai melangkah. Segera ia bergerak menghadang jalan Woo Bin seolah berusaha melindungi Kikwang di belakangnya. “Jangan membuat keributan di depan rumahku!”

“Ji Eun-ah.”

“Sebenarnya untuk apa tiba-tiba kau kesini?”

“Seharusnya aku yang bertanya bagaimana bisa dia disini.”

“Oh, itu…” Ji Eun menoleh cepat memandang Kikwang. Dengan bola mata dan alis bergerak gusar, Ji Eun berbisik, “Bagaimana ini?”

Kikwang menggenggam pergelangan tangan kanan Ji Eun dan menarik gadis itu berdiri di sampingnya kemudian berkata, “Kebetulan rumahku berada di jalur yang sama dan kulihat Ji Eun berangkat tanpa membawa kendaraan. Jadi apa salahnya berbuat baik sesama teman?”

Pandangan Woo Bin masih menelisik tak mempercayai ucapan Kikwang begitu saja. Namun sulit sekali membaca ekspresi Kikwang yang tetap tak bergeming tanpa melepas sorot tajam padanya. Sedangkan Shin Ji Eun, tatapan gadis itu terpaku pada Kikwang hingga sedikit menengadah seakan melupakan keberadaan Woo Bin sesaat. Melihat itu Woo Bin sontak menyambar lengan Ji Eun dan membuat tautan tangan gadis itu dan Kikwang terlepas. Tentu saja Kikwang tak tinggal diam. Ia langsung meraih sebelah tangan Ji Eun yang terbebas.

“Ji Eun-ah, kau berangkat bersamaku!” seru Woo Bin cepat.

“Kau tahu siapa yang harusnya kau pilih, Shin Ji Eun!” balas Kikwang tak terima.

Woo Bin menarik Ji Eun agar ikut bersamanya dan Kikwang pun tak mau kalah melakukan hal yang sama kearah sebaliknya. Tubuh Ji Eun terhuyung ke kanan dan kiri hingga gadis itu memejam frustasi.

YA! Apa yang kalian lakukan?!” Ji Eun berteriak kencang. “Kenapa kalian kekanakan sekali, hah?!” Gadis itu melepas paksa dua genggaman di tangannya.

“Apa kalian sadar waktu terbuang banyak hanya karena pertengkaran bodoh kalian?! Woo Bin-ah, Kikwang datang lebih dulu darimu jadi aku tidak bisa berangkat bersamamu hari ini. Maaf,” tegas Ji Eun lalu berpaling pada Kikwang. “Kikwang-ah, ayo berangkat. Sekarang.”

Senyuman tipis sarat kemenangan Kikwang terulas bersamaan ia mengangguk ringan. “Keure. Kajja.

“Sampai jumpa nanti. Di sekolah,” ucap Ji Eun singkat sebelum beranjak bersama Kikwang menyebabkan Woo Bin semakin mendengus geram.

***

Disela mengemudi, Kikwang sesekali menatap Ji Eun disampingnya. Sedangkan Ji Eun terus memaku tatapan ke depan meski tentu saja ia tahu Kikwang berulang kali mencuri pandang padanya.

“Ada yang ingin kau katakan?” ucap Ji Eun kemudian.

Kikwang mendesis pendek seiring dahinya berkerut. “Kenapa kau juga merahasiakan hubungan kita pada Woo Bin?”

“Bagaimana denganmu? Kenapa kau merahasiakannya dari Ji Yeon?” balas Ji Eun cepat.

“Aku masih menunggu waktu yang tepat. Kau?”

“Tidak jauh berbeda. Lagipula hubungan apa yang kita punya? Kau dan aku hanya melakukan apa yang orang tua kita perintahkan. Tidak lebih. Dan hanya sementara.” Ji Eun berucap tanpa mengalihkan pandangan kosongnya sedikitpun.

Jawaban Ji Eun membuat Kikwang membuang napas. “Kau benar-benar menentang perjodohan ini?”

“Tentu. Wae? Kau menyukaiku?” datar Ji Eun sangat dingin.

Kikwang tersenyum singkat. “Bagaimana jika kukatakan aku mulai menyukaimu?”

Tatapan Ji Eun beralih memandang Kikwang dengan senyuman separo. “Sebelumnya kau merendahkanku dengan berkata jika aku adalah gadis kasar dan tidak berperasaan. Tapi sekarang kau menyatakan mulai menyukaiku. Apa ini juga jenis penghinaanmu padaku? Kau kira aku akan begitu saja percaya padamu?” sarkastis Ji Eun. Rupanya sikap Kikwang yang ia rasa merendahkannya saat pertemuan keluarga waktu lalu belum benar-benar gadis itu lupakan.

“Penghinaan?” tanya Kikwang tak mengerti seraya mengatur pemberhentian mobilnya karena mereka telah sampai di tempat parkir sekolah. Setelah sempurna terparkir, Kikwang melanjutkan, “Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu? YA!” pekiknya sebab Ji Eun tak mendengar dan lebih memilih langsung beranjak keluar. “YA! Shin Ji Eun!”

Ji Eun mengeratkan genggaman pada tali tas sampingnya. Mempercepat gerak kaki tanpa menoleh sekalipun kearah teriakan Kikwang memanggilnya. Gadis itu berjalan menunduk dengan tak jarang memejam frustasi. Dadanya berdebar hebat. Karena itu ia tak tahan berada disamping Kikwang lebih lama. Sebenarnya jika ia pun mau mengakui perasaannya, mungkin segalanya akan lebih mudah. Semua akan berjalan damai jika dirinya dan Kikwang saling mencintai, sebab itulah yang diinginkan orang tua mereka. Tetapi, setiap ucapan belum tentu sejalan dengan perbuatan. Dan Ji Eun merupakan gadis yang lebih mempercayai perbuatan dibanding ucapan yang belum pasti kebenarannya. Kikwang pernah meremehkannya, dan Ji Eun tidak mungkin lupa akan hal itu.

“Shin Ji Eun!” Seseorang menyebut namanya dengan suara rendah yang berbeda. Bukan Kikwang. Dan Ji Eun tahu pemiliknya adalah Woo Bin. Ji Eun memelankan langkah seiring ia mengangkat kepala yang semula tertunduk. Mendapati Woo Bin berdiri tak jauh di depannya dengan kedua tangan tersembunyi dalam saku dan tatapan tajam sarat penuh tanya.

“Cepat sekali kau datang,” sahut Ji Eun seiring semakin mendekati Woo Bin berdiri. Namun gadis itu tidak berhenti di hadapan pemuda itu, melainkan tetap melanjutkan langkah melewati Woo Bin begitu saja.

Woo Bin mendengus tak percaya kemudian berbalik cepat. “Ji Eun-ah!

Akhirnya gadis itu pun membalikkan badan pula menghadap Woo Bin. “Wae? Kau belum mengerjakan pekerjaan rumah matematika? Kau kira aku sudah mengerjakannya? Tanya saja pada Kyuhyun, aku juga berniat meminta jawaban padanya,” ujar Ji Eun cepat.

“Tidak perlu berusaha melarikan diri dari pertanyaanku.”

Mwo? Mworago? Kau saja belum menanyaiku bagaimana aku tahu pertanyaanmu?” sangkal Ji Eun menampakkan wajah polosnya. Bagaimanapun ia harus mencegah Woo Bin menginterogasi lebih dalam mengenai Kikwang yang menjemputnya pagi tadi.

Woo Bin yang tahu bahwa Ji Eun hanya berpura-pura tidak mengerti menyindir, “Benarkah? Kau tidak tahu?”

“Apa yang kau bicarakan? Sudahlah, aku ke kelas.”

Woo Bin meraih tangan Ji Eun menahan agar tidak beranjak. “Apa hubunganmu dengan Lee Kikwang?”

Napas Ji Eun berhembus kasar kehabisan alasan untuk menghindar. Melalui ekor matanya Ji Eun mampu menemukan keberadaan Kikwang mengawasi mereka. Dengan wajah cemas Kikwang bergerak selangkah lebih maju, namun Ji Eun memberi pertanda dengan menggelengkan kepala perlahan membuat Kikwang meluruhkan niatnya dan menunggu apa yang akan Woo Bin lakukan pada Ji Eun selanjutnya.

Ji Eun kembali memfokuskan diri pada Woo Bin. “Bukankah Kikwang sudah menjelaskannya tadi?”

“Aku ingin mendapatkannya langsung darimu.”

“Sama saja. Tidak berbeda.”

“Apa kalian merencanakan sesuatu?”

Mwo? Apa yang kau bicarakan? Kau tidak sedang meracau,’kan? Mimpi apa kau semalam? Bangunlah, Kim Woo Bin. Kau sudah berada di dunia nyata sekarang.” Ji Eun menepuk pipi Woo Bin pelan.

“Kau, jangan terlalu dekat dengan Lee Kikwang. Berhati-hatilah, apa yang tampak dari luar tidak selalu benar, Ji Eun-ah.”

Ji Eun mengernyit. Terdiam sejenak sebelum berucap, “Maksudmu?”

“Lee Kikwang tidak sebaik yang kau kira. Percaya padaku. Kau harus waspada.”

“Benarkah? Apa dasarmu?”

“Dia adalah pewaris Glory Group. Kau tahu sebesar apa kekuasaan mereka, ‘kan?”

Glory Group. Ji Eun pernah mendengarnya. Ya, tak salah lagi, perusahaan yang sedang berada di puncak kejayaan sekarang ini. Dan ternyata Kikwang adalah pewaris sang empunya. Walau jelas Kikwang adalah calon tunangannya, namun gadis itu tidak begitu ingin mengetahui segala tentangnya terutama mengenai perusahaan yang cukup memusingkan bagi seorang pelajar seperti dirinya.

“Lalu?”

Woo Bin mengacak rambutnya kesal. “Kau benar-benar tidak mengerti maksudku?”

“Kim seonsaengnim mencarimu,” ujar Kikwang seraya menyambar lengan Ji Eun dan membawa gadis itu pergi tiba-tiba.

Woo Bin hanya tersenyum kecut melihat Ji Eun yang sama sekali tidak meronta sedikitpun dari genggaman Kikwang. Gadis itu malah berpesan padanya dengan berkata, “Kita lanjutkan di kelas saja.”

***

“Menyenangkan sekali jika kita bisa berangkat bersama setiap hari.” Cho Kyuhyun terus melebarkan senyumannya sepanjang koridor sekolah. Bukan tanpa alasan, namun karena adanya Sam Rin Hyo yang berjalan berdampingan dengannya.

“Jadi kau ingin mobilku selalu bermasalah dan menetap di bengkel setiap hari?” sinis Rin Hyo membuat Kyuhyun menatapnya jahil.

“Memang ada yang salah dengan itu? Kau masih memilikiku yang bisa menjemput dan mengantarmu setiap hari.”

“Baiklah. Apa aku perlu mengganti Park ahjussi dan menjadikanmu supir pribadiku?”

Dahi Kyuhyun mengerut tak terima. “Bagaimana bisa kau menyamakan posisiku dengan Park ahjussi?!

“Kalian datang bersama? Tidak biasanya,” sambut Ji Eun berpapasan dengan mereka.

Kyuhyun dan Rin Hyo saling menatap satu sama lain sebelum kembali memandang Ji Eun dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak? Lengan kanan gadis itu tertaut manis dalam genggaman Kikwang yang berada disampingnya.

“Ya, kami datang bersama. Tapi kalian…” ucapan Rin Hyo menggantung namun tatapannya dan Kyuhyun menunjuk maksud mereka.

Menyadari itu, Ji Eun segera melepas tautan tangannya dengan Kikwang yang menjadi titik fokus Kyuhyun dan Rin Hyo. “Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Kami harus menemui Kim seonsaengnim dan Kikwang hanya menarikku agar berjalan lebih cepat. Tidak ada yang perlu disalah-pahami.”

Setelah mendapat penjelasan panjang Ji Eun, Rin Hyo dan Kyuhyun beralih menatap Kikwang yang hanya menggedikkan bahunya.

Ji Eun mendesah kasar merasakan situasi canggung yang terjadi. Ia segera menarik jas almamater Kikwang dan beranjak, “Kajja, kita harus cepat.”

Sementara Kyuhyun dan Rin Hyo belum bisa berkata apapun. Terlalu terkejut karena kedekatan Ji Eun dan Kikwang yang hubungannya tidak pernah mereka ketahui. Setelah Ji Eun dan Kikwang berlalu cukup jauh, Kyuhyun mulai membuka suara, “Memangnya mereka saling mengenal?”

“Entahlah.”

“Sedekat apa?”

Lagi-lagi jawaban Rin Hyo hanya sebatas, “Entahlah.”

Kyuhyun mengernyit dan garis di dahinya itu semakin memanjang kala mendapati Woo Bin tampak menahan amarah. “Ya! Kenapa lagi kau?”

Rin Hyo turut mengamati Woo Bin namun pemuda itu hanya melintasi mereka tanpa mengucap apapun.

“Sebenarnya ada apa ini?”

“En-tah-lah,” jawab Rin Hyo sengaja mengeja.

***

Kikwang membelokkan langkah memasuki perpustakaan dan tentu saja Ji Eun pun juga. Gadis itu melepas cengkeramannya pada jas almamater Kikwang seraya menghela napas. “Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan? Untuk apa membawaku kemari?”

Bola mata Ji Eun berputar malas karena Kikwang malah menyibukkan diri mencari sesuatu diantara buku-buku tersusun di rak. “Kau tidak berani memasuki perpustakaan sendiri? Tch!

Gumaman Ji Eun meski terdengar jelas tak mendapat respon Kikwang sekalipun. Ia tetap pada kegiatannya hingga berhasil menumbuhkan rasa penasaran Ji Eun yang mulai mendekatinya.

“Apa yang sedang…”

“Ketemu! Ini,” sela Kikwang seraya menyodorkan sebuah buku pada Ji Eun.

Ji Eun mengernyit membaca judul buku itu. “Biografi Kim Ung Yong?” ujar Ji Eun seolah bertanya yang dibalas anggukan Kikwang. “Kau ingin aku membaca ini? Lagi?”

“Bukankah kau belum membacanya sampai tuntas waktu itu?”

“Ya, tapi, aku tidak tertarik membaca buku-buku semacam ini.”

“Benarkah? Sepertinya kau terlihat tertarik saat itu.”

“Aku… walaupun membawanya pasti tidak akan terbaca di rumah nanti. Dan akhirnya hanya memberatkan beban tas ku saja.”

“Baiklah kalau begitu, bawalah pulang.”

Ji Eun mulai kesal begitupun tatapannya. “Sudah kukatakan aku tidak mungkin sempat membacanya! Keras kepala sekali.”

Sedangkan Kikwang masih tetap tenang menjawab, “Lalu bagaimana reaksimu saat teman-temanmu menanyakan alasan Kim seonsaengnim mencarimu?”

Eo?” Ji Eun mengerjap bingung menatap Kikwang. Bibirnya pun membulat tidak tahu harus menjawab apa.

Kikwang tersenyum manis mengacak puncak kepala Ji Eun gemas. “Jika kau tidak membawa buku ini sebagai alasan, kau akan terdiam bodoh seperti ini di depan mereka. Lalu kau dan aku akan semakin dicurigai yang tidak-tidak.” Kikwang sedikit merundukkan tubuh mensejajarkan wajahnya di depan Ji Eun. “Kau tidak mau rahasia kita terbongkar sebelum waktunya, ‘kan?”

Ji Eun meneguk ludah berat. Jarak mereka begitu dekat. “Ya, ya, ya. Aku akan membawanya,” ucap Ji Eun bernada malas yang dibuat-buat. Gadis itu menyahut buku biografi dari tangan Kikwang lalu mendorong wajah Kikwang dengan benda itu agar menjauh darinya. Kemudian berlalu lebih dulu meninggalkan Kikwang yang tersenyum simpul.

***

Shin Ji Eun memasuki kelas dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasa. Jangan lupakan buku biografi yang masih ia tenteng di tangan kanannya. Berjalan diantara baris bangku hingga duduk di tempatnya tanpa menghiraukan tatapan mengintimidasi Woo Bin dan Kyuhyun yang terus melekati gadis itu.

“Untuk apa Kim seonsaengnim mencarimu?”

Tiupan napas pelan terbebas dari mulut Ji Eun. Sedikit lega karena Kikwang telah menyiapkan alibi tepat sebelum Kyuhyun benar-benar menanyakan pertanyaan terduga itu. Ji Eun mengangkat buku yang sedari tadi ia bawa seraya berucap datar, “Sepertinya nilaiku belum cukup terpenuhi.”

Kyuhyun bangkit dari duduknya menghampiri Ji Eun. Buku yang Ji Eun angkat mengundang keingin-tahuannya. “Biografi?” gumam Kyuhyun sembari membuka per lembar buku itu dengan cepat. “Apa tugasmu?”

“Apa lagi? Seperti biasa. Unsur intrinsik, ekstrinsik, keistimewaan, dan teladan.”

“Mudah sekali.”

“Kerjakan kalau begitu.”

“Kau sanggup memberiku apa?”

“Senyuman manis.”

Tch!” decih Kyuhyun tak tahan seraya menghempas buku ditangannya ke meja Ji Eun.

“Asal kau tahu, tidak sembarang orang dapat menyaksikan senyuman manisku,” datar Ji Eun ditambah kedua tangannya bersendekap.

“Memang siapa yang bilang padamu jika senyumanmu itu manis? Mana dia? Aku tidak terima sahabatku dibohongi mati-matian seperti itu.” Ucapan tajam Kyuhyun membuat buku biografi itu melayang dan berhasil menimpa kepalanya. “YA!” pekik Kyuhyun menatap Ji Eun sengit bersamaan terdengar gemuruh petir menyambar. Tak lama hujan turun begitu deras.

Aigo, apa ini? Apa kau berubah menjadi Cho Kyuhyun sang pengendali cuaca?”

“Awas kau, Shin Ji Eun!”

***

Berbeda dengan kelas Ji Eun yang masih bebas tanpa guru, kelas Rin Hyo tengah berada dalam situasi menegangkan karena guru yang dikenal paling menyeramkan di sekolah. Terlebih Rin Hyo belum menyelesaikan tugas mata pelajaran akuntansi yang guru itu berikan. Rin Hyo mengambil napas sedalam mungkin sebelum ia hembuskan perlahan. Meski tubuhnya gemetar hebat, namun tidak ada pilihan selain tetap menghadapi apapun yang akan terjadi. Berkebalikan dengan Shin Ji Eun, Sam Rin Hyo bukan seseorang yang gemar menghindari situasi sulitnya.

“Tugas sudah saya berikan seminggu lalu dan kau berkata tidak ada waktu? Apakah orang sepertimu pantas disebut sebagai pelajar?!”

Tubuh Rin Hyo dan kebanyakan siswa dalam kelas berjengit mendengar bentakan pria paruh baya yang biasa dipanggil Park seonsaengnim itu, dipadu suara hujan deras di luar. Tersisa dua bangku lagi sebelum Guru Park sampai di tempat Rin Hyo. Bisa diketahui bukan hanya Rin Hyo yang melewatkan tugas itu, tapi tetap saja tekanan yang dirasakan benar-benar diluar kendali hingga bibir gadis itu terkatup rapat.

Tiba-tiba sebuah buku tulis terlempar ke meja Rin Hyo dari arah samping kanan. Rin Hyo menoleh pada Jong Suk yang melakukannya kemudian membuka isi buku itu dan menemukan deretan tugas akuntansi yang sudah tuntas di dalamnya. Sontak kedua mata gadis itu melebar tak percaya. Sambil membelalak bulat Rin Hyo menatap Jong Suk garang.

“Pakailah,” bisik Jong Suk dengan wajah waspada jikalau Guru Park menyadari interaksi mereka.

“Tidak! Kau gila!” Baru saja Rin Hyo hendak mengembalikannya, Guru Park sedetik lebih cepat mengambil buku yang tersedia di tangan gadis itu. Rin Hyo menyentuh pelipisnya gusar. Bukan dirinya yang ia cemaskan sekarang, melainkan Lee Jong Suk yang entah menjadi sangat bodoh dalam situasi genting seperti ini.

“Bagus!” puji Guru Park sembari membubuhkan tanda tangan sebagai pertanda sebelum memberikannya kembali pada Rin Hyo.

Kini giliran Jong Suk dan ia hanya bisa menunduk. Meski mendapat perlakuan yang sedikit istimewa karena kekuasaan yang dimiliki orang tua dalam sekolah, Jong Suk tetap harus menjalani hukuman seperti siswa lainnya. Terbukti dari Guru Park yang hanya berkata, “Sayang sekali,” padanya tanpa membentak sedikitpun.

Rin Hyo memejam frustasi saat Jong Suk berjalan keluar kelas menyusul siswa yang terkena hukuman lainnya. Yaitu berlari mengelilingi lapangan sebanyak lima kali. Guru Park yang terkenal paling tegas tidak pernah main-main dengan aturannya. Dan dalam hal tugas, hukuman yang diberikan selalu sama. Tidak peduli cuaca seperti hujan deras atau mungkin badai pun tak akan menjadi masalah bagi Guru Park. Hitamnya kesalahan tak akan berubah putih di matanya.

Beberapa menit berlalu dan Rin Hyo tak kunjung berhenti bergerak gusar. Gadis itu tidak bisa hanya duduk manis dalam hangatnya kelas seperti ini. Berulang kali ia memandang jam dinding, arloji, dan Guru Park bergantian. Sam Rin Hyo menghirup oksigen dalam-dalam guna mengumpulkan keberanian. Begitu mantap, ia putuskan untuk berdiri. Tak sanggup lagi ia membiarkan Jong Suk menanggung hukuman karenanya.

“Park seonsaengnim.” Guru Park yang semula membelakangi Rin Hyo karena masih sibuk memeriksa tugas siswa lainnya, berbalik memandang Rin Hyo.

“Sebenarnya ini adalah hasil pekerjaan Lee Jong Suk. Dan yang seharusnya anda hukum adalah saya, bukan Jong Suk,” papar Rin Hyo seraya memampang buku tulis yang tadinya Jong Suk berikan padanya. “Maafkan kami,” sambung Rin Hyo sembari membungkuk dalam.

Guru Park tampak menghela napas mendengar pengakuan Rin Hyo. “Disini saya hanya mencoba bersikap adil dan kebohongan tidak pernah dibenarkan dalam ajaran pendidikan manapun.”

Rin Hyo kembali menegakkan badannya. Perkataan Guru Park membuat ludahnya sungguh berat sekadar ditelan. Suaranya pun terasa tercekat namun ia paksakan berbicara, “Maka itu, ijinkan saya… mengambil… hukuman itu juga… Park seonsaengnim.”

“Duduklah kembali. Saya memaafkanmu karena mau berkata jujur. Tapi tidak dengan Jong Suk. Ahn Jae Young, beritahu Jong Suk untuk menambah hukumannya dua kali lipat.”

Sepasang lutut Rin Hyo lemas seketika. Mulutnya terpaksa ia kunci rapat atau beban Jong Suk semakin berat karena usaha penyelamatannya yang gagal. Seharusnya ia ingat bahwa Guru Park bukan sesosok yang mudah dibantah dan pria paruh baya itu selalu berhasil menemukan berlapis-lapis kesalahan yang bahkan sulit disadari. Tidak, seharusnya ia ingat tugas yang Guru Park berikan dan mengerjakannya sesegera mungkin.

Jong Suk-ah, maafkan aku.

 

***

Pensil dalam genggaman kanan Ji Eun terus mengetuk-ngetuk diatas meja. Sedangkan sebelah tangannya menyanggah kepala menatap seonsaengnim di muka kelas. Bola mata gadis itu bergerak ragu ke kanan. Begitu menemukan Woo Bin memaku tatapan tajam padanya, Ji Eun mengembalikan pandangannya ke depan.

“Sampai kapan dia akan menatapku seperti itu?” gumam Ji Eun kesal kemudian menghela napas kasar. Ia beralih menatap hujan deras di luar jendela. Sedikit lama. Lantas meletakkan pensilnya seraya berdiri. “Seonsaengnim, bolehkan saya ijin ke kamar mandi sebentar?”

Guru wanita yang masih terlihat muda itu mengangguk. Ji Eun pun segera beranjak melalui pintu belakang kelas. Menghirup aroma segar petrichor khas akibat hujan dan menghembuskannya dengan desahan lega. Akhirnya ia mampu melarikan diri dari tatapan Woo Bin yang membuatnya tidak nyaman.

Ji Eun terus berjalan hingga sampai pada pintu bertuliskan kamar mandi namun gadis itu tak berhenti. Langkahnya yang tak bertujuan bergerak mengarah lurus. Ia hanya ingin menghindari Woo Bin selama mungkin.

Sesuatu tampak aneh di lapangan membuat Ji Eun mengernyit. Langkahnya ia percepat karena penasaran. Hujan deras menahan gadis itu hanya sampai beranda dan tidak bisa melanjut menghampiri Jong Suk yang tengah berjalan menunduk mengelilingi lapangan seorang diri. Melihat Jong Suk membuat Ji Eun menarik napas dalam sembari bersendekap kedinginan. Tapi udara dingin yang ia rasa tidak ada apa-apanya dibanding Jong Suk yang sedang bermandi air hujan disana.

Ya! Babo-ya!” panggil Ji Eun saat jarak Jong Suk tak jauh darinya.

Dengan gerak lemah Jong Suk mengangkat kepala, menoleh pada Ji Eun memperlihatkan wajah pucatnya dengan bibir sempurna memutih. Jong Suk tidak membalas makian Ji Eun seperti biasa, tubuhnya terlalu lemah untuk itu. Lihat saja gerak kakinya sudah terseok tidak lagi berlari.

Ji Eun menghela napas lagi sebelum beranjak menuju kantin dan membeli secangkir kertas minuman hangat. Kemudian kembali menuju lapangan.

Oppa! Minumlah ini! Kemarilah!” teriak Ji Eun kencang agar suaranya tidak kalah dengan derasnya hujan.

Jong Suk perlahan menepi. Tubuhnya melemas tak sadarkan diri begitu ia sampai di hadapan Ji Eun. Sontak Ji Eun menjatuhkan minuman di tangannya dan menangkap tubuh basah Jong Suk.

Aish! Berat sekali!” Ji Eun tak bisa bergerak. Pandangannya pun tertutup Jong Suk yang tingginya melebihi dirinya. “Dasar bodoh! Apa yang harus kulakukan? Kenapa kau bisa seperti ini?” racaunya.

Tiba-tiba Kikwang yang tidak sengaja melihat, segera menghampiri dan mengangkat tubuh Jong Suk dengan kedua tangannya. “Apa yang terjadi?”

“Cepat bawa Jong Suk ke UKS! Dia pingsan kedinginan.”

“Ambil sapu tangan di sakuku!”

Dahi Ji Eun mengerut menatap Kikwang bingung.

“Cepat!”

Walau tetap tak mengerti, Ji Eun menurutinya. Memasukkan sebelah tangannya ke saku kiri almamater Kikwang.

“Bukan itu! Yang lain!”

“Tapi kau tidak perlu membentakku!”

Kikwang mengulum bibirnya frustasi. Ji Eun beralih ke saku sebelah dan menemukan selembar sapu tangan.

“Bersihkan pakaianmu yang basah dengan itu!”

Ji Eun menghembus napas cepat. Menatap Kikwang yang mulai berjalan tergesa sambil menggendong Jong Suk kemudian beralih pada selembar kain di tangannya. Gadis itu tersenyum tipis lalu mengusap jas almamater dan kemejanya yang basah karena Jong Suk tadi.

***

Kelopak mata Jong Suk mulai membuka. Ia sedikit mengernyit mendapati tubuhnya terbaring di dalam sebuah bilik bertirai hijau muda, dan disampingnya terdapat dua orang tengah saling berbicara. Jong Suk menyipitkan matanya memastikan siapa mereka. Oh, itu Shin Ji Eun dan untuk apa Lee Kikwang juga berada disini?

“Sudah kukatakan aku tidak membolos!” ujar Ji Eun penuh penekanan.

“Ya, kau memang meminta ijin ke kamar mandi pada seonsaengnim. Tapi nyatanya kau berada dimana tadi?”

Jong Suk tersenyum simpul melihat pertengkaran kecil mereka.

“Yang penting aku sudah meminta ijin.”

“Meminta ijin agar bisa membolos?”

“Jika aku membolos berarti aku tidak meminta ijin!”

“Kau meminta ijin tapi tidak kembali. Itu artinya kau membolos!” Kikwang tertawa remeh membuat Ji Eun semakin melotot tajam.

“Apa yang sebenarnya kalian debatkan?”

Ji Eun dan Kikwang menoleh kearah Jong Suk bersamaan. “Sejak kapan kau mulai sadar?” tanya Ji Eun kemudian beralih menahan lengan Kikwang yang hampir melangkah pergi. “Tidak perlu menghindarinya. Jong Suk sudah tahu semuanya.”

“Baiklah kalau begitu.” Kikwang kembali ke tempatnya semula.

“Lee Kikwang, kau mau kemana?” Suara Jong Suk terdengar sangat serak.

“Tidak. Hanya saja, kukira kami juga harus menyembunyikan hubungan darimu.”

“Kami? Hubungan? Jadi kalian sudah mengakui adanya hubungan diantara kalian?” goda Jong Suk sembari terkekeh kecil.

Ji Eun mendecak kesal lantas menempelkan punggung tangannya diatas dahi Jong Suk. “Kau masih demam. Sebentar lagi bel pulang sebaiknya menginap saja di rumahku.”

“Kikwang-ah, apa kau tidak cemburu bila aku menginap di rumah calon tunanganmu ini?” Jong Suk tak berhenti menggoda.

Kikwang hanya mengulas senyuman tipis sedangkan Ji Eun mengetuk kepala Jong Suk keras. “Babo-ya! Apa maksudmu?!”

Ya! Aku sedang sakit! Kenapa kau tetap saja kasar padaku?!”

“Lee Jong Suk?” Suara berat pria paruh baya yang terdengar membuat ketiga orang dalam bilik UKS itu berpaling. Ji Eun dan Kikwang membungkuk singkat memberi salam sementara Jong Suk mencoba bangun dari tidurnya.

“Beristirahatlah saja,” ujar pria paruh baya yang terkenal sebagai guru ter-killer dalam sekolah itu, Park seonsaengnim. Ji Eun dan Kikwang sedikit memundurkan diri memberi jalan untuk Guru Park.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Saya akan mendapat hukuman karena berbohong lagi jika menjawab tidak apa-apa, seonsaengnim,” jawab Jong Suk.

“Jadi Jong Suk berada di lapangan tadi karena hukuman Park seonsaengnim? Ah benar juga, siapa lagi jika bukan Park seonsaeng.” Kikwang melirik tajam Ji Eun yang berucap sembarangan.

“Kalian tahu peraturan tetaplah peraturan, bukan?”

“Tapi kenapa Jong Suk sendirian? Apa tidak ada siswa lain yang melanggar peraturan?” Ji Eun masih tak terima.

“Tentu ada. Namun karena Jong Suk melakukan sesuatu yang tidak jujur, maka hukumannya bertambah. Baiklah cepatlah sembuh dan jangan diulangi lagi, Jong Suk-ah.” Guru Park menepuk bahu Jong Suk dua kali sebelum beranjak.

Kamsahamnida, seonsaengnim.

Saat Guru Park sempurna keluar, Ji Eun memandang Jong Suk penuh telisik. “Memang apa yang kau lakukan sampai mendapat hukuman separah ini?”

Bel penanda waktu pulang berdering namun Ji Eun masih membeku di tempat menunggu jawaban Jong Suk.

“Sudahlah, kau dan Kikwang kembalilah. Kalian tidak melupakan tas yang masih tertinggal di kelas, ‘kan?”

Oppa!

“Kenapa hanya saat keadaan seperti ini saja kau mau memanggilku oppa?”

***

Sam Rin Hyo berjalan di koridor sekolah dengan membawa dua tas. Tas ransel miliknya dan tas Jong Suk yang ia bawa di kedua tangannya. Wajahnya terus khawatir sepanjang jalan hingga gadis itu menemukan Shin Ji Eun dari arah berlawanan. “Ji Eun-ah!” Rin Hyo mempercepat langkah menghampiri Ji Eun. “Apa kau melihat Jong Suk?”

“Di UKS.”

Rin Hyo menghela napas berat. Raut wajahnya pun semakin lesu. “Baiklah,” ucapnya kemudian.

Ji Eun mengernyit. “Tunggu. Kesalahan apa yang dibuat Jong Suk hingga dihukum seperti itu?”

Perlahan Rin Hyo menunduk sesal. “Itu semua karenaku.”

Mwo?

“Karena aku tidak mengerjakan tugas.”

“Kau yang tidak mengerjakan tugas tapi kenapa Jong Suk yang mendapat hukuman?”

“Karena Jong Suk memberikan tugasnya padaku jadi seolah dia yang tidak mengerjakan. Aku tidak mau dia dihukum, maka itu aku mengaku bahwa akulah yang sebenarnya bersalah dan Jong Suk tidak. Tapi Park seonsaeng menganggap Jong Suk telah berbohong dan menambah hukumannya dua kali lipat.” Kepala Rin Hyo semakin tertunduk dalam.

Sedangkan Ji Eun mendengus tak percaya. Sorot matanya mendingin. “Lalu kau?”

“Park seonsaeng memaafkanku karena beliau sangat menghargai nilai kejujuran.”

“Dan kau tidak menerima konsekuensi apapun? TCH!” decih Ji Eun keras bersamaan senyuman miringnya terulas. Menyahut tas Jong Suk kasar dari tangan Rin Hyo. “Kau tahu watak Park seonsaeng, ‘kan? Kenapa kau melakukan itu padanya?! Jika mengingatnya saat pingsan tadi, benar-benar seperti seorang pecundang!”

Kedua mata Rin Hyo melebar. “Jong Suk pingsan? Benarkah? Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Lihat saja dia di UKS. Suhu tubuhnya tinggi dan lemah sekali. Karena ulahmu,” ujar Ji Eun dingin.

Rin Hyo meneguk ludah berat mendapat tatapan sinis Ji Eun. Ia mencoba mengambil tas Jong Suk kembali.

“Apa yang kau lakukan?”

“Berikan padaku. Aku akan membawakannya untuk Jong Suk.”

Melihat Rin Hyo berjalan lunglai sambil membawa tas Jong Suk di tangannya membuat Ji Eun menghela napas dalam. Kemudian berbalik melanjutkan langkah.

***

Sosok Woo Bin yang muncul tiba-tiba menghadang Ji Eun ketika gadis itu hendak berbelok memasuki pintu kelas membuat tubuh mereka bertabrakan tanpa sengaja. Woo Bin mengulurkan tangannya memberikan tas selempang cokelat Ji Eun yang ia bawakan. Meski sedikit terhenyak, Ji Eun menerima tas itu. “Gomawo.”

“Apa yang kau lakukan di kamar mandi selama itu? Kau tidak melakukan hal yang tidak sepantasnya,’kan?” celetuk Kyuhyun.

“Apa kau sedang berpikiran mesum sekarang, huh?!” sungut Ji Eun.

“Jadi darimana saja kau?” Suara datar Woo Bin membuat Ji Eun menatapnya canggung.

“Tadi aku melihat Jong Suk. Dia pingsan lalu kubawa ke UKS.”

“Kau sendiri yang membawanya?” tanya Kyuhyun.

“Tentu saja tidak. Ada seseorang yang membantuku.”

“Siapa?”

“Siapa lagi? Tentu saja siswa yang juga berada disana,” jawab Ji Eun hati-hati. Memutar otak lebih cepat agar nama Kikwang tak lolos dari bibirnya.

“Dia berhak mendapat pre-villege kalau begitu. Kau tidak lupa namanya, ‘kan?” Kyuhyun terus menjatuhi Ji Eun dengan pertanyaannya.

“Kau kira aku peduli? Aku tidak mengenalnya jadi untuk apa aku mengingat namanya. Sudahlah lebih baik kita ke UKS sekarang. Aku akan membawa Jong Suk pulang bersamaku.”

“Bersamamu? Lalu bersama siapa lagi? Lee Kikwang?” tuduh Woo Bin. Ji Eun terdiam sementara Kyuhyun menatap mereka bergantian.

“Lee Kikwang?” gumam Kyuhyun tak mengerti.

“Shin Ji Eun tidak membawa kendaraan hari ini dan tadi pagi dia berangkat bersama Lee Kikwang,” papar Woo Bin tanpa melepas tatapan tajamnya di kedua manik mata Ji Eun.

“Benarkah? Bagaimana bisa?”

Woo Bin mengangkat kedua bahunya acuh sedangkan Ji Eun membuang tatapannya kearah lain sembari mendesah kasar. “Bukan, bukan bersama Lee Kikwang. Aku memang tidak membawa kendaraan tapi Jong Suk membawanya. Kau lupa itu?”

***

“Jong Suk-ah.” Rin Hyo memasuki bilik ruangan Jong Suk dengan langkah pelan. “Aku membawakan tas mu.”

Gomawo.” Jong Suk tersenyum manis kemudian berusaha merubah posisi mendudukkan diri. Rin Hyo dengan cepat membantu dengan memasangkan bantal sebagai sandaran punggung Jong Suk agar tidak terkena dinginnya dinding.

Gomawo,” ucap Jong Suk lagi disertai senyumannya yang terus terpatri.

Rin Hyo meletakkan tas Jong Suk diatas nakas lantas mengambil tempat di kursi kosong dekat ranjang. Menatap wajah Jong Suk yang begitu pucat kemudian menghela napas. “Bagaimana keadaanmu?”

“Seperti yang kau lihat. Masih bisa bernapas, masih memiliki kesadaran, dan masih bisa melihatmu yang mengkhawatirkanku. Apa cukup untuk dikatakan baik-baik saja?” canda Jong Suk terkekeh pelan.

Tatapan Rin Hyo menyendu. “Maafkan aku.” Kepala gadis itu tertunduk lemas di tepi ranjang yang tingginya melebihi batas normal itu.

“Tidak perlu. Aku malah tidak akan bisa memaafkan diriku jika membiarkanmu dihukum di tengah hujan seperti itu.”

“Tapi sekarang akulah yang tidak bisa memaafkan diriku sendiri.”

“Jangan begitu. Tidak seharusnya kau merasa seperti itu. Sudah seharusnya seorang pria melindungi wanitanya, ‘kan?”

“Apa yang kau bicarakan? Memangnya kau sudah dewasa?” rajuk Rin Hyo membuat Jong Suk mengacak pelan rambut gadis itu. Rin Hyo menangkup tangan Jong Suk ke dalam genggamannya. “Suhu tubuhmu panas sekali.” Kemudian beralih menempelkan punggung tangannya ke dahi dan leher Jong Suk. “Kau sudah meminum obat?”

Apa yang kau lakukan disini? Suara seorang gadis terdengar dari luar tirai. Jong Suk dan Rin Hyo sontak memandang kearah suara yang mereka kenal milik Ji Eun itu.

Benar saja, Ji Eun tiba-tiba datang disusul Woo Bin di belakangnya. Dan Kyuhyun, ia masih terdiam memandang tajam Rin Hyo dan Jong Suk. Karena sebenarnya ialah yang terlebih dulu datang sebelum Ji Eun dan Woo Bin. Namun Kyuhyun tidak segera masuk begitu mendengar pembicaraan Rin Hyo yang tampak memberikan seluruh perhatiannya pada Jong Suk.

“Jong Suk-ah, ayo pulang.” Ji Eun mengambil tas tergeletak diatas nakas milik Jong Suk yang dengan cepat disambar oleh Woo Bin. Ji Eun menghela napas seraya memejam frustasi. “Baiklah, terimakasih sudah mau membantu,” ucapnya kemudian beralih menatap Jong Suk dan menemukan Rin Hyo mencoba memapah Jong Suk yang hendak berdiri. “Hentikan!” sergah Ji Eun langsung mengambil alih Jong Suk dan menampik tangan Rin Hyo. “Sadarlah jika kau itu sangat ceroboh! Meski berniat baik, kau hanya akan menyakiti Jong Suk pada akhirnya.”

Kedua mata Jong Suk dan Woo Bin sontak melebar terkejut, berbeda dengan Kyuhyun yang tatapannya masih tajam membara diliputi emosi. Sorot mata Rin Hyo semakin menatap Ji Eun nanar. “Ji Eun-ah.”

.

.

-To be Continued-

.

Maaf kalau semakin lama semakin gak jelas semakin gak ada feel semakin membosankan semakin lelah saya dengan semua ini~ wkwk.

Advertisements

10 thoughts on “Unexpected Bond 6

  1. Yaampun dah ji eun dingin bgt sm Rin hyo .
    Huaaa eonni aku sedih knp dlm persahabatan antara wanita dan laki2 pasti disalah satunya ada yg menyukai . Dan dipersahabatan mereka ketauan bgt smua menyukai . Ji eun sm rinhyo aja ud dikejar sm 2 cowo . Sdkt ga rela si woo bin sm jongsuk tidak ad hbgn apa2 disini . Hny menyukai yeoja tp tak bs dimiliki . Semakin rumit hbgn antara mereka . Sedih aku sm hbgn mereka . Yaudah eonni blehkah buat smuanya happy2 aja udahannya? Dan aku penasaran sm si jongsuk + woo bin akhirnya jadi sm siapa . Makasi ya eonni ud dipost 🙂 aku tunggu next chapternya dan yanglainnya 😀

  2. saengi aga makin rumit ceritanya??? 😦
    kesini2 aku makin bingung ma hubungan kyu ma hyo yang gambang menurut aku
    seakan kyu tu ga ada feel’y bnget d hati hyo…..
    klo untuk kikwan ma ji eun mulus2 aja sih menurut ku mengalir ceritanya seu walaupun ttp di suatu hubungan pasti ada aj orang ke 3 ke 4 dan ke 5…hehehehehe
    dtnggu lasr part’y ya saengi…
    fighting.. 😉

  3. knpa jadi rumit, konfliknya mkin berat..
    Aku suka liat kebersamaan kikwang dan ji eun..
    Akankah hub. Mereka akan terbongkar?
    Knpa ji eun semarah itu pd rin hyo?
    Lalu apa mksud tatapan tajan kyu pada rin hyo?

  4. baru baca part ini.. tpi ntah kenapa dalam pikiran saya kikwang itu yanflg kyuhyun.. sedangkan kyuhyun.. ntahlah.. ntah jdi siapa.. abis nya uda teracuni dengan kyuhyun.. hahaha…

  5. I’am back kaaaak {} sebenernya uda baca ini dulu banget dan berulang – ulang tp baru sempet komen sekarang hihi uda gaktau lagi mau ngomong apa, konflik berat-beratnya uda mulai muncul ya? Keren dah pokoknya dan nggak tau kenapa suka banget sm part yg satu ini :3 semangat ngelanjutinnya yakaaaaak!!!! Semoga dilanjutkan ya Allaaaah :(((

  6. Astagaa udh lama bgt dipost tp baru baca.
    Makin kesini konflik mereka makin kerasa. Gk masalah ji eun sama kikwang dan woobin, rinhyo, kyu dan jongsuk skrng malah jieun marah sm rinhyo. Kyknya rinhyo dipojokkan bgt disini. Tp kadang aku jg kesal sm dia soalnya kyk ngegantung kyu bgt. Dan sepertijya kyu udh marah besar deh.
    Woobin jg gk nyerah buat cari tau hubungan ji eun hahah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s