LOVE DUST 7

LOVE DUST 7

1429306897248 

Author : Tsalza Shabrina

Happy read~

 

***

Oh Sehun menghentikkan mobilnya didepan gedung apartemen Rin Hyo. Hari sudah malam, dan sejak tadi yang ia lakukan adalah menemani gadis yang kini duduk disampingnya. Sam Rin Hyo masih diam ditempatnya, seperti belum sadar jika mobil sudah berhenti.

Sehun menghela napas berat. Awalnya Rin Hyo memang berniat untuk menunggu Shin Ji Eun, namun satu pesan dari Ji Eun yang mengatakan jika Minseok memaksa pulang bersamanya membuat Rin Hyo membelokkan niatannya. Lebih memilih untuk duduk dikafe, berjalan sebentar di sungai han lalu pulang. Meski sedari tadi Sehun menemaninya, semua itu tak dapat mengembalikan mood Rin Hyo kembali. Gadis itu hanya tertawa paksa, tersenyum paksa, lalu diam. Hanya 3 ekspresi itu yang dapat Sehun lihat dari wajah Rin Hyo hari ini.

“Sudah sampai.” Ujar Sehun pelan, membuat tubuh Rin Hyo sedikit tersentak. Ia menoleh kearah Sehun dengan alis terangkat, kemudian menoleh ke jendela mobil.

“Oh, ya.” Balas Rin Hyo sekadar lalu melepas sabuk pengamannya. Sehun menatap pergerakan Rin Hyo yang berbeda dari biasanya, pria itu menghela napasnya kasar. Sudah cukup sejak tadi ia berpura – pura tidak tahu dengan apa yang terjadi pada Rin Hyo saat ini.

“Rin Hyo-ah!”

“Hm?”

“Sejak kapan kau menjalin hubungan dengan Cho Kyuhyun?” pertanyaan Sehun itu membuat bibirnya terbuka sedikit. Ia terdiam cukup lama, sebelum akhirnya mengulas senyuman kecut.

“Tidak seperti itu.” Jawab Rin Hyo ambigu. Kerutan didahi Sehun tercetak, ia menatap Rin Hyo tak puas.

“Kau berpacaran dengan Cho Kyuhyun lalu ia mengkhianatimu. Begitu, kan?” tebak Sehun tak sabar. Sam Rin Hyo masih mempertahankan senyuman kecutnya, lantas menggeleng pelan.

“Kubilang tidak seperti itu. Kami tidak dalam hubungan yang seperti itu.”

“Huh?”

Sam Rin Hyo mengulas senyuman manisnya, menyentuh pundak kanan Sehun. “Terima kasih telah menemaniku seharian ini. aku benar – benar berterima kasih karena kau hadir pada waktu yang sangat tepat.” Ujar Rin Hyo tulus. Gadis itu menarik kembali tangannya, “Hati – hati dijalan.” Lanjutnya sebelum ia berbalik hendak membuka pintu mobil.

“Sam Rin Hyo.”

Rin Hyo menghela napas pendeknya lalu kembali menatap Sehun gemas. “Apa lagi?” kedua mata Rin Hyo seketika terbuka lebar saat Sehun tiba – tiba memeluknya erat.

“Kau tahu jika aku akan selalu berdiri disisimu, kan? Jadi, jangan khawatir! Aku akan membuatmu tersenyum bahkan tertawa lagi. Ingat itu, Sam Rin Hyo.”

***

“Aku pulang!”

Shin Ji Eun yang tengah menonton televisi seketika menoleh kearah beranda apartemen, alisnya mengernyit bingung saat mendapati wajah kusut Sam Rin Hyo yang langsung merebahkan diri diatas sofa panjang.

Mwoya? Kenapa kau pulang larut hari ini? sudah kubilang untuk tidak menungguku, kan?!”

“Aku bersama Oh Sehun tadi.” Balas Rin Hyo dengan kedua mata terpejam.

“Dia memaksamu jalan – jalan lagi?”

“Ia menemaniku. Aku yang ingin menyegarkan pikiran.”

“Huh?! Tumben sekali.” Komentar Ji Eun seraya menoleh kearah televisi lagi. Ia menaruh snack ukuran besar yang kini berada ditangannya diatas meja. “Wajahmu kusut sekali. Lebih baik kau makan ini!” tukas Ji Eun lagi.

Kedua mata Rin Hyo seketika terbuka, ia menegakkan duduknya. “Minseok sudah pulang?” Tanya Rin Hyo tanpa berniat untuk mengambil snack.

Eo.” Jawab Ji Eun sekadar, masih memfokuskan pandangannya pada televise.

“Tumben sekali, Biasanya dia berada disini sampai malam.” Ji Eun mengangkat kedua bahunya ringan.

“Setelah mengantarku dia cepat – cepat pergi. Lagipula itu lebih menguntungkan, aku bisa melakukan apapun dengan damai dirumahku sendiri.”

“Tch, aku sangsi jika kau masih mencintai Kim Minseok.” Ji Eun menatap Rin Hyo tak suka.

“Dari pada kau mendecih padaku lebih baik kau bercerita ada apa dengan wajahmu itu!”

Rin Hyo menghela napasnya panjang, mengeluarkan tawa hambarnya. “Intinya apa yang kau katakan padaku dulu terbukti benar. Ya, aku mencintai seseorang yang tidak mungkin, aku terlalu banyak berkhayal, cintaku salah. Kau benar akan semua itu.” Jelas Rin Hyo ringan.

Shin Ji Eun menatap Sam Rin Hyo nanar, tanpa menjelaskan secara langsung pun ia sudah tahu apa yang terjadi. Pada intinya, Cho Kyuhyun telah menyakiti Sam Rin Hyo.

“Jadi, mulai sekarang aku akan kembali pada realita. Aku bodoh.”

“Jaga bicaramu. Kau tidak sedang dalam pikiran jernihmu saat ini.”

Aniya. Aku benar – benar akan menyelesaikan semuanya. Ini semua sudah berakhir, tch, tidakkah kau pikir ini lucu? Aku ingin mengakhiri sesuatu yang sebenarnya belum dimulai.”

“Apa yang Kyuhyun lakukan sampai kau seperti ini, huh?” Rin Hyo tersenyum separo.

“Begitulah. Aku sedang tidak ingin bercerita saat ini. Lebih baik kau habiskan snackmu lalu pergi tidur. Aku tidur dulu!” Sam Rin Hyo beranjak dari tempatnya, meninggalkan Ji Eun yang hanya bisa menghela napasnya berat.

Drrt Drrt

Fokus Ji Eun seketika teralih kearah ponselnya diatas meja. Dahinya mengernyit bingung ketika membaca nama kontak yang tertera dilayar ponsel.

“Lee Kikwang?”

***

Sam Rin Hyo menaruh tas selempangnya asal diatas ranjang setelah merebahkan tubuhnya disana. Kedua matanya memandang langit – langit kamarnya yang sengaja ia beri warna hitam. Namun otaknya kembali membuatnya mengingat kejadian dizebra cross tadi. Ia mendecih, lebih kepada dirinya sendiri. Ia merasa bodoh dan menyesal. Mengapa saat itu ia tidak menampar Kyuhyun atau langsung memutuskan hubungan pertemanan langsung dengan pria itu.

Dan ia pun sadar, jika ia tidak mempunyai kemauan atas semua itu.

 

Senyuman kecutnya terulas, bahkan saat itu tak terlintas sedikit pun pikiran – pikiran seperti itu diotaknya. Ya, segala kesakitan yang ia terima saat ini adalah perasaan sepihak. Ia memikirkan dan merasakan rasa sakit ini sendirian. Tch, tidakkah ia begitu menyedihkan?

Rin Hyo mengeluarkan ponselnya dari tas, dahinya mengernyit bingung ketika mendapati belasan pesan dan puluhan missed call dari Cho Kyuhyun. Tanpa berniat untuk membukanya terlebih dahulu, gadis itu segera menghapus semua notifikasi yang berhubungan dengan Cho Kyuhyun.

“Keure, lebih baik seperti ini. Rin Hyo-ah.”

***

“Aku didepan gedung apartemenmu. Bisakah kau turun sebentar?”

 

Shin Ji Eun menyecahkan langkahnya melewati pintu otomatis yang merupakan pintu utama gedung apartemen. Kepalanya menoleh kesana – kemari berharap segera menemukan sosok Lee Kikwang. Tatapannya terhenti pada seorang pria yang tengah berdiri disamping mobilnya sambil  melambaikan kedua tangannya setinggi mungkin dengan penuh semangat. Ji Eun menghela napasnya kasar melihat tingkah Kikwang yang menurutnya seperti orang bodoh di tengah malam seperti ini.

Ji Eun segera berjalan menghampiri Lee Kikwang seraya mengeratkan mantelnya ketika hawa dingin meniup tubuhnya. Sangat dingin hingga rasanya kedua kaki Ji Eun yang hanya tertutupi celana sependek lutut bergidik kedinginan.

“Apa kau tidak punya celana yang lebih panjang lagi, huh?! Kau kan punya mantel yang sepanjang tubuhmu, kenapa malah memakai mantel sepanjang lutut?!” Omelan Kikwang dimulai lagi. Ji Eun hanya menatap pria dihadapannya dengan tatapan terdatar yang ia punya.

“Kau sudah selesai mengoceh?” Tanya Ji Eun kesal. Sedangkan Kikwang hanya diam seraya menatap Ji Eun menuntut. “Aku malas mengganti celana hanya untuk menemuimu didepan gedung apartemenku sendiri. Dan juga mantelku yang itu masih dicuci. Kau puas sekarang? Ck, apa kau memanggilku hanya untuk ini?!” Lanjutnya ketus.

Lee Kikwang menghela napasnya, melepas mantel tebalnya kemudian memakaikannya pada Ji Eun. “Seharusnya kau lebih memperhatikan kesehatanmu.” hanya itu yang Kikwang katakan tapi entah mengapa membuat Ji Eun berdebar. Berniat menghindar, gadis itu spontan mengalihkan pandangannya kearah lain. Dahinya mengernyit saat kedua matanya mendapati seorang pria yang sangat familiar untuknya tengah meracau sendiri dengan kedua mata hampir tertutup didalam mobil Kikwang.

“Bukankah dia Cho Kyuhyun? apa dia sudah gila bersikap seperti itu?” Kikwang menolehkan kepalanya kebelakang lalu menghela napasnya berat.

“Dia mabuk berat. Biarkan saja.” Singkat Kikwang, cukup malas untuk membahas keadaan Kyuhyun di situasi seperti ini.

Shin Ji Eun menatap Kikwang curiga, “Kau… tidak sedang bersikap gila seperti Cho Kyuhyun kan?”

“Tentu saja tidak. Sejak kapan aku menyentuh minuman seperti itu! lagi pula apa aku terlihat mabuk?!”

Ji Eun memiringkan kepalanya sekadar lalu mengangkat bahunya acuh. “Ya, aneh saja kau tiba – tiba berada disini pada tengah malam seperti ini.”

“Itu karena ada hal penting yang harus kukatakan.” Ujar Kikwang. Tatapan dan raut wajah pria itu tiba – tiba saja berubah sangat serius membuat Ji Eun menegakkan badannya. Menatap Kikwang dengan alis terangkat.

“Apa?”

“Kau, lebih baik kau berpisah saja dengan Minseok. Dia bukan orang yang baik.” Kini wajah Shin Ji Eun yang berubah menjadi sangat dingin.

“Mwo?!”

“Dia bermain dibelakangmu. Aku tadi bertemu dengannya di klab, dia bersama kekasihnya… kalau tidak salah namanya Jung Ah? ya, kurasa seperti itu.” jelas Kikwang panjang lebar. Ji Eun semakin merapatkan bibirnya, menatap Kikwang remeh kemudian tersenyum miring.

“Apa kau kehilangan akalmu, Lee Kikwang?”

“Mwo?!”

“Belum puas kemarin kau melamarku dan sekarang kau mengatakan jika Minseok berselingkuh?! Tch, apa kau tidak sadar dengan apa yang kau katakan kali ini?”

Lee Kikwang memejamkan kedua matanya frustasi. “Aku berkata dengan segenap kesadaranku, Shin Ji Eun! Aku melihatnya sendiri.” Tukas pria itu berusaha meyakinkan Shin Ji Eun. Namun sayang sekali, semakin Lee Kikwang memaksakan ucapannya semakin pula Ji Eun memandang remeh pria itu.

“Keure, katakan memang seperti itu. Tapi, apa kau punya bukti?”

Kikwang menutup bibirnya rapat – rapat ketika Ji Eun menanyakan hal itu. Sedangkan sikap pria itu semakin membuat senyuman miring Ji Eun tercetak jelas. Gadis itu segera melepaskan mantel tebal Kikwang yang masih terpakai ditubuhnya, menyerahkannya pada Kikwang dengan gerakan kasar.

Shin Ji Eun mendecih lalu berkata, “Seharusnya aku tidak menemuimu tengah malam seperti ini jika tahu hanya ocehan tak pentingmu inilah yang akan kudengar.”

Dengan cepat Kikwang mencekal pergelangan tangan Ji Eun saat gadis itu sudah hampir membalikkan badannya. “Kumohon dengarkan aku kali ini saja. Kim Minseok, pria itu bukanlah pria yang baik. Dia–”

“SHIN JI EUN!!” teriakan keras Cho Kyuhyun membuat ucapan Kikwang terpotong. Keduanya spontan menoleh keasal suara, dimana kini Kyuhyun sudah menurunkan jendela mobilnya menatap Ji Eun dengan kedua mata setengah tertutup seperti tadi. “Kau benar Shin Ji Eun, kan? meski aku sedikit tidak menyukaimu tapi aku mohon… katakan pada Rin Hyo agar mengangkat teleponku. Kau akan mengatakannya,kan? aku mohon, eoh?!” Racauan Kyuhyun yang semakin melantur itu membuat helaan napas Kikwang menghembus kesal. Hal itu menjadi kesempatan untuk Ji Eun menarik tangannya.

“Lebih baik kau mengurus temanmu yang sedang mabuk dan pergilah! itu lebih baik daripada tadi kau membuatku kedinginan hanya untuk mendengar hal itu disini.” Ji Eun membalikkan badannya, melangkah beberapa langkah sebelum kembali berhenti. Gadis itu menoleh kearah Kikwang dengan tatapan dinginnya.

“Asal kau tahu, Kim Minseok selalu bersikap baik padaku meski terkadang aku kesal padanya. Dengan melihatmu seperti ini, aku semakin yakin jika Minseok memang lebih baik darimu.” lanjut Ji Eun sebelum benar – benar meninggalkan Kikwang yang hanya bisa terdiam disana dengan perasaan sesak.

Lee Kikwang menghela napasnya berat, ia sadar jika Ji Eun bukanlah gadis yang akan langsung mempercayai ucapan seseorang tanpa bukti yang kuat. Dan ia juga tahu jika Ji Eun adalah gadis yang tidak suka dengan orang yang menjelekkan orang lain. Satu – satunya niatan untuk mengatakan ini pada Ji Eun karena ia tidak ingin Shin Ji Eun sakit nantinya. Hanya itu.

“YA! Lee Kikwang! Bukakan pintunya, aku ingin menemui Rin Hyo! ini apartemennya kan? Cepat bukakan pintunya!” Racauan Kyuhyun yang terus terdengar membuat Kikwang memejamkan kedua matanya frustasi. Pria itu segera berlari memasuki mobil sebelum Kyuhyun berbuat kekacauan.

“Tidak bisakah kau lebih tenang sedikit, Cho Kyuhyun?!”

***

DUK DUK DUK

“YA! Sam Rin Hyo! kau masih tidur, huh?! bangunlah, Oh Sehun mencarimu.” Suara gedoran pintu bercampur dengan pekikan Shin Ji Eun benar – benar membuat frustasi Rin Hyo yang kini tengah mematut diri didepan cermin.

Rin Hyo membuang napas kesal. “ARA! aku akan keluar!” balas Rin Hyo tak kalah kerasnya. Dengan gerakan kasar, gadis itu mengambil tas kecilnya diatas kasur kemudian membuka pintu kamar.

“Kau mau kemana?” tanya Ji Eun langsung saat pintu itu terbuka. “Apa kau akan keluar dengan Sehun? sepagi ini?!”

“Mm, Sehun ingin mengajakku kesuatu tempat.”

“Mwoya? Kemarin kau jalan – jalan dengan pria itu dan sekarang kau mau saja menerima ajakannya? Ada apa denganmu? kalian berkencan?” Rin Hyo memandang Ji Eun aneh. Melihat dari penampilan Shin Ji Eun, Rin Hyo yakin jika gadis ini tidak tidur semalaman.

“Kami berteman. Dan juga, seharusnya aku yang bertanya ‘Ada apa denganmu?’. Apa kau membutuhkan waktu semalaman untuk menghabiskan snack-mu?”

Ji Eun mendecih. “Kau pikir aku bodoh tidak tidur semalaman hanya karena memakan snack?! kemarin Lee Kikwang menyuruhku kedepan gedung tengah malam. Ia berkata jika Minseok bermain dibelakangku.” Jelas Ji Eun dengan begitu ringan.

“Mwo?! Jinjja?! Kurasa tidak mungkin Minseok orang yang seperti itu, lagipula sudah bertahun – tahun kalian berpacaran hingga bertunangan. Kau … tidak mungkin percaya begitu saja, kan?”

“Tentu saja.” Singkat Ji Eun sekadar.

“Lalu, sekarang apa yang akan kau lakukan? Kau akan menghindar dari Kikwang?”

Ji Eun terdiam. Pikirannya sedang kacau kali ini meski tidak terlihat seperti itu. Gadis itu mengangkat bahunya seraya berkata, “Entahlah.” Ji Eun menggedikkan kepalanya kearah ruang tamu. “Lebih baik kau segera menemui Oh Sehun.”

“Keure. Dan juga, meski aku juga tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan Lee Kikwang. Tapi tidak mungkin ia mengatakan hal itu secara tiba – tiba. Pasti ada sesuatu yang terjadi.” Ji Eun mengangguk beberapa kali.

“Aku tahu.”

“Aku pergi.”

“Mm—Ah ya!” Rin Hyo kembali menatap Ji Eun dengan alis terangkat. “Apapun yang terjadi, jangan jadikan Oh Sehun pelarianmu.”

Rin Hyo tersenyum kecil lalu mengangguk. “Aku tahu.” jawabnya kemudian segera berjalan menuju ruang tamu.

***

Cho Kyuhyun menguap lebar – lebar sebelum merubah posisinya menjadi duduk bersandar pada dinding ranjang. Wajahnya yang bengkak serta kedua mata merah seolah menggambarkan dengan jelas jika pria itu benar – benar minum banyak tadi malam.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya seraya memijit pelipis ketika pusing tiba – tiba mendera kepalanya. Napasnya menghembus panjang sebelum ia kembali memejamkan kedua matanya yang kini begitu sulit untuk terbuka.

“Ck, seharusnya kau tidak terlalu banyak minum tadi malam, bodoh!” Umpat Kikwang yang baru saja memasuki kamar dengan membawa teh ginseng dan semangkuk jajjangmyeon yang tadi ia pesan.

“Jangan berbicara padaku! Kepalaku sakit sekali sekarang.”  Balas Kyuhyun tanpa berniat membuka mata.

“Minum ini, makan sarapanmu lalu mandilah! tubuhmu penuh dengan bau wine.” Titah Kikwang setelah meletakkan secangkir teh ginseng diatas meja. Tanpa menunggu lama Kyuhyun segera meneguk minuman itu hingga habis lalu kembali menyandarkan diri didinding ranjang milik Lee Kikwang pastinya.

“Kau sudah memberi tahu Shin Ji Eun?” Tanya Kyuhyun tiba – tiba dengan kedua mata yang masih tertutup.

Kikwang mengangguk sekenanya. “Mm, dan dia tidak percaya. Dia tipikal gadis yang keras kepala dan berpikiran sangat logis.”

“Tch, pertama kali bertemu dengannya juga aku sudah bisa melihatnya. Gadis kasar yang keras kepala, sudah sangat terbaca dari wajahnya!” Cecar Kyuhyun dengan nada remeh.

Kikwang menatap Kyuhyun tak suka.

“Tahu apa kau tentang Shin Ji Eun?! Berhentilah mengocehkan hal tidak penting dan mandilah! Aish, aku sudah tidak tahan mencium bau wine yang pekat seperti ini!” Tukas Kikwang ketus, segera beranjak pergi dari kamar. Meninggalkan Kyuhyun yang hanya bisa menatap kepergian Kikwang dengan bingung.

Tak mau ambil pusing, Kyuhyun hanya mengangkat bahu acuh lalu beranjak dari ranjang. Namun saat pria itu menatap kearah meja, pergerakannya terhenti hanya karena semangkuk jajjangmyeon yang kini terletak diatas meja. Perasaan gelisah bercampur sesak itu datang lagi. Tanpa pikir panjang Kyuhyun mengeluarkan ponselnya, memencet tombol nomor 1 kemudian menempatkan benda itu tepat didepan telinganya.

Hampir 5 menit berlalu dan hanya nada sambunglah yang ia dapatkan. Helaan napas beratnya keluar seiring dengan jemarinya yang dengan lemas mematikan sambungan telepon. Kedua kakinya yang sudah turun diatas lantai mulai mengetuk – ketuk gusar. Begitupun dengan kedua tangannya yang kini tengah meremas seprai.

Ani, ini tidak bisa dibiarkan.

 

Dadanya terasa berdentum dengan keras ketika otak liarnya mulai menciptakan imajinasi dimana ia dan Rin Hyo yang tidak akan bertemu selamanya. Tanpa berpikir dua kali Kyuhyun mengetikkan beberapa baris kata dikotak pesan, menyentuh logo send kemudian segera berjalan menuju kamar mandi.

To : Sam Rin Hyo

 

Temui aku disungai Han jam 2 siang. Aku akan menunggumu ditempat kita memakan jajjangmyeon bersama saat itu. Kumohon datanglah.

 

***

 

Sam Rin Hyo mengedarkan pandangannya pada hamparan pasir putih pantai yang tersaji dihadapannya. Senyuman kecilnya terulas, Bagaimana bisa Sehun tahu jika ia sangat menyukai pantai yang sepi pengunjung seperti ini?

“Awalnya aku hanya menebak. Namun kurasa aku sudah memilih tempat yang sangat tepat.” Ujar Sehun setelah menghentikkan langkahnya disamping Rin Hyo. Gadis itu menoleh kearah Sehun dengan senyuman tipisnya.

“Eo! Kau yang terbaik!” Rin Hyo mengacungkan kedua ibu jarinya lalu kembali menikmati deburan ombak yang silih berganti. Senyuman lebar Sehun terulas.”Kau tidak ingin mendekat kesana?” Tanya Rin Hyo tanpa melepas pandangan pada fokusnya.

“Huh?!” Balas Sehun terkejut. “A–apa tidak lebih baik kita melihatnya dari sini? Airnya sangat dingin, asal kau tahu.” Tukas Sehun waspada.

Rin Hyo mendecih seraya sibuk membuka sepatunya. Untungnya tadi ia memilih dress sepanjang lutut. “Kalau begitu aku kesana sendiri. Kau, jaga sepatuku disini baik – baik.” Rin Hyo melempar senyuman kecilnya sebelum berbalik lalu berlari mendekati deburan ombak.

“Woah, daebak!” celotehan Rin Hyo seketika terdengar saat kedua kakinya terkena air asin yang sangat dingin namun sangat segar itu.

Oh Sehun mengulas segaris senyuman manisnya. Sungguh, ia sudah cukup bahagia melihat Rin Hyo tersenyum seperti itu. Perlahan Sehun berjalan mendekati Rin Hyo.

“Kita bermain disini dulu. Setelah ini makan lalu kita ke sungai han. Temanku mengadakan konser kecil – kecilan disana.” Ucapnya tanpa melunturkan senyumannya.

Rin Hyo menoleh kearah Sehun lalu mengangguk sekenanya. “Arasseo.”

***

Deringan bel apartemen yang berbunyi pada siang hari-dimana waktu terbaik untuk Ji Eun bermalas – malasan itu cukup mengganggu gadis yang kini tengah telentang diatas sofa ruang tengah dengan posisi ternyamannya.

Awalnya ia tak bergerak sama sekali, masih memandangi layar ponsel seolah tak ada yang terjadi. Dalam hati ia sudah menebak jika pria yang kini berada didepan pintu adalah Kim Minseok. Ya, siapa lagi jika bukan pria itu. Dan satu – satunya alasan mengapa saat ini ia sangat malas bertemu dengan pria itu adalah, Lee Kikwang. Gadis itu pasti tidak akan bisa menatap Minseok dengan tatapan biasa saja setelah mendengar ucapan gila Kikwang kemarin. Meski ia belum tahu ucapan Kikwang benar atau tidak, namun sejujurnya ada sebagian kecil dari hati dan pikirannya yang menganggap ucapan Kikwang kemarin memang benar adanya.

“Halo? apa tidak ada orang?!” suara yang keluar dari speaker itu membuat kedua mata Ji Eun terbuka lebar. Ji Eun sontak mendudukkan tubuhnya lalu berjalan cepat memeriksa layar intercom. “Ji Eun-ah, kau disana kan?!” Lanjut pria itu dengan wajah tanpa dosa.

Shin Ji Eun menghela napasnya panjang, tebakannya berbeda jauh dengan kenyataan. Bukan Minseok yang ia dapatkan, melainkan Kikwang dengan ekspresi innocent miliknya. Ji Eun Memencet satu tombol penghubung suara seraya berkata, “Kau mau apa?”

Kikwang mengangkat dua bungkusan ayam goreng asam manis agar tertangkap kamera intercom. “Maafkan aku karena berkata seenaknya sendiri kemarin. Ayo kita makan!”

“Makanlah sendiri dan pergilah!”

“Aku tidak akan pergi sebelum kau membuka pintunya, lagipula aku harus makan dengan siapa?! Kyuhyun sedang sibuk mengejar cintanya di sungai han, Dujun sibuk syuting, Yoseob dan Hyunseung sekarang masih reherseal drama musikal, Junhyung sibuk diruang kerjanya sedangkan Dongwoon berlibur ke Jepang.” Celoteh Kikwang panjang lebar, dan menurut Ji Eun ucapan pria itu tidak penting sama sekali.

Shin Ji Eun masih terdiam didepan layar intercom, menimang keputusan sejenak sebelum akhirnya mendesah panjang seraya membuka pintu apartemennya dengan gerakan kasar.

“Masuklah!”

Kikwang tersenyum simpul, memasuki apartemen Ji Eun lalu menaruh bungkusan ayam diatas meja ruang tengah. Tanpa menghiraukan Shin Ji Eun yang kini tengah bersendekap menatap Kikwang tak suka. “Ada apa denganmu?!” tukas Ji Eun ketus.

Kikwang menatap Shin Ji Eun dengan tatapan bingungnya. “Memangnya ada apa denganku?! lebih baik kau mengambil piring untuk ayamnya.” Balas Kikwang, menampakkan wajah terpolos yang pernah ia punya.

Ji Eun menghela napas kasar. “Ambilah sendiri.” singkat gadis itu sebelum berjalan beberapa langkah mendekati sofa lalu duduk disana. Kikwang mengangguk sekali, tanpa berucap apapun ia berjalan menuju dapur, kemudian kembali keruang tengah dengan membawa dua piring.

Ji Eun mendecih, membiarkan Kikwang menata ayam asam manisnya diatas piring. “Ja! ayo makan!” Tukas Kikwang, menyodorkan sepasang sumpit pada Ji Eun.

Shin Ji Eun masih terdiam seraya menatap Kikwang dingin. “Apa yang kau inginkan sebenarnya?” Tanya gadis itu lagi.

Kikwang menghela napas berat. “Aku minta maaf. Aku tahu sekarang kau marah padaku karena ucapanku kemarin. Aku diliputi emosi, maka itu aku mendesakmu untuk percaya padaku meski aku tahu kau semakin kesal.”

“Lalu?”

“Kemarin aku berkata jujur. Tapi, tentu saja kau tidak langsung percata padaku. Tch, mungkin aku masih berpikir bahwa kau akan selalu percaya dengan apapun yang kukatakan. Seperti dulu.” Jelas Kikwang lagi.

“Aku mengerti dan aku tidak ingin makan sekarang. Jadi kau bisa membungkus ini lagi lalu makan bersama orang lain.” Tegas Ji Eun kemudian beranjak dari tempatnya. pergi dari sana setelah berkata, “Jangan lupa menutup pintu saat kau pergi.”

Lee Kikwang membeku ditempatnya. Jawaban Shin Ji Eun seolah menjelaskan jika gadis itu mempercayai Kim Minseok sepenuhnya. Kini pria itu merasa seperti pria bodoh yang mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin.

“Mereka bertunangan.” Gumam Kikwang pelan dengan ulasan senyum getirnya. Pertunangan? tentu hubungan macam itu bukanlah hubungan abal -abal yang bisa diputuskan seenaknya. Hubungan yang sudah mengikat dua keluarga, ia rasa akan sangat egois jika ia mengharapkan satu kehancuran pada hubungan itu.

Kedua mata Kikwang terpejam erat. “Tapi kenapa harus pria itu?!”

***

Shin Ji Eun keluar dari kamarnya setelah kurang lebih setengah jam ia berdiam diri disana. Dengan langkah pelan ia berjalan menuju ruang tengah. Tatapannya berubah nanar ketika tidak mendapati keberadaan Lee Kikwang disana.

“Dia benar – benar pergi.” Gumamnya. Alisnya terangkat saat menemukan secarik kertas kecil diatas bungkusan ayam asam manis yang sudah terbungkus rapi lagi itu.

Bagaimana pun aku membeli ini untukmu. Makanlah bersama Rin Hyo nanti! Aku pergi, maaf mengganggu.

 

Lee Kikwang

 

Helaan napas berat Ji Eun terdengar. Sungguh, ia juga ingin mempercayai pria itu. Tapi, ia juga tidak bisa mengabaikan fakta tentang Kim Minseok yang sudah memperlakukannya dengan baik selama ini. Dan ia juga tidak bisa menghindari statusnya, menjadi tunangan Kim Minseok.

“Mian, Lee Kikwang.”

***

Suara riuh tepukan tangan mengakhiri konser kecil – kecilan yang diadakan ditaman lapang areal sungai han oleh salah satu band indie Korea Selatan. Sehun melambaikan tangannya tinggi – tinggi kearah temannya yang menjadi gitaris band itu.

“Woah, lagu mereka sangat bagus. Kau punya lagunya? Bisa kirimkan padaku?” Komentar Rin Hyo, menoleh kearah Sehun  penuh harap.

Oh Sehun tersenyum kemudian mengangguk sekadar. “Mm.”

Rin Hyo membalas senyuman Sehun lalu menggedikkan kepalanya kearah teman Sehun. “Kau tidak ingin menyapa temanmu dulu? ia melihat kearah kita sejak tadi.”

“Kau tidak apa aku tinggal sebentar, kan?”

“Tch, kau pikir aku akan menangis jika kau pergi?!” Sehun semakin melebarkan senyumannya ketika melihat raut wajah kesal Sam Rin Hyo.

“Arasseo. Tunggu disini!” Titah Sehun singkat sebelum berlari menghampiri temannya. Rin Hyo mengedarkan pandangannya kesekeliling, memperhatikan pasangan – pasangan serta beberapa kumpulan pria dan wanita berangsuran meninggalkan taman.

Drrt Drrt

Helaan napas kesalnya terdengar ketika ponselnya kembali bergetar. Segera Rin Hyo mengeluarkan ponsel, kembali menghela napasnya panjang saat satu nama itu lagi yang memenuhi notifikasinya. Cho Kyuhyun. Memang sejak tadi ponselnya bergetar, entah karena Cho Kyuhyun menelepon atau hanya mengirim pesan.

Sam Rin Hyo sontak mematikan ponselnya. Memasukkannya kembali kedalam tas dengan gerakan kasar.

LUCKY FANS! kau harus mengingat siapa kau sebenarnya, Sam Rin Hyo!

Cho Kyuhyun hanya menganggapmu sebagai lucky fans, dan mungkin kini pria itu sedang ingin makan ramyun, lagi.

 

“Keure. Lebih baik seperti ini.” gumam Rin Hyo pelan, mengakhiri pergumulan otaknya.

“Apa aku lama?” Suara Sehun yang muncul secara tiba – tiba itu membuat tubuh Rin Hyo berjengit terkejut.

“Eo? Tidak, kau cepat. Cepat sekali. Sekarang kita kemana?”

“Kau ingin kemana?”

“Pulang. Jujur saja aku ingin tidur sekarang.” Sehun terkekeh lalu mengangguk.

“Keure. Ayo kita pulang!”

Sam Rin Hyo berjalan mendahului Sehun, sedangkan pria itu segera menyamai langkah Rin Hyo.

Sehun sesekali mencuri pandang kearah Rin Hyo lalu membuang napas berat. Seolah ingin mengatakan sesuatu.

“Rin Hyo-ah! Aku–”

“Oh Sehun!” Panggil Rin Hyo, menghentikkan langkahnya tiba – tiba.

“Eo?!” Sehun pun spontan menghentikkan langkahnya. Menatap Rin Hyo dengan alis terangkat.

“Setelah kupikir – pikir, kau adalah pria yang sangat baik. Meski terkadang kau kekanakan, tapi terkadang pula kau lebih dewasa dariku. Aku… ingin berteman dekat denganmu. Aku tidak akan mengeluhkan kebiasaanmu yang memanggilku dengan tidak sopan.” Jelas Rin Hyo panjang lebar. Sehun menatap Rin Hyo tercengang, tak bisa menyembunyikan wajah terlukanya. “Bisakah kita bersahabat dengan baik?” Lanjut Rin Hyo seraya mengulurkan tangan kanannya, tersenyum simpul kearah Oh Sehun.

Sehun terdiam ditempatnya. Rasanya sulit untuk sekadar menarik napasnya saat ini. Penjelasan Rin Hyo sudah lebih dari cukup membuat Sehun harus kembali menyimpan rapat – rapat harapannya. Ya, bagaimanapun menjadi sahabat akan membuatnya lebih dekat dengan Rin Hyo daripada berpacaran, kan? Ayolah Oh Sehun! Jika memang dia takdirmu, kau pasti akan berakhir dengannya. Pergolakan batin dan otak Sehun seolah menemani kediamannya saat ini.

Perlahan Sehun mengangguk pelan. “Keure, sahabat.” Tukasnya kemudian maju selangkah lebih dekat pada Rin Hyo sebelum ia mengecup kening gadis itu sejenak lalu memeluk tubuh Rin Hyo erat. “Mari kita hanya bersahabat, Rin Hyo-ah.”

Sam Rin Hyo membulatkan kedua matanya, terkejut didalam pelukan Sehun. Ia tidak menyangka Sehun berani melakukan hal itu. Namun hanya beberapa detik, karena kini Rin Hyo pun membalas pelukan Sehun setelah menghela napas berat.

Mianhe Oh Sehun, Kau pasti sering terluka karenaku. Mianhe.

 

Tanpa mereka sadari seorang pria yang kini duduk disebuah kursi taman melihat semua itu dengan tatapan terluka. Rahang pria itu mengeras, kedua telapak tangannya terkepal erat. Sebelumnya ia tidak tahu jika melihat Sam Rin Hyo disentuh oleh pria lain akan sesakit ini.

-TBC

Maaf banget kalo alurnya aneh ceritanya aneh kurang feel or anything that have similiar means with them.

Maaf juga kalo ada typo :” ketahuilah, aku ngetik ini di Handphone soalnya keyboard saya rusaaak :””

Happy read, dear!

Dont be silent readers and Seeya~~

Advertisements

31 thoughts on “LOVE DUST 7

  1. Akhirnya dipost udah nunggu love dust dipost ^^ makasih deh eon udah susah2 ngetik di hp, semoga keyboardnya gak rusak lagi. Kecewa sama minseok T.T jahat banget sama ji eun. Ji eun pasti nanti minta maaf deh sama kikwang 🙂 Hubungan rin hyo sama kyuhyun makin rumit >< diantara hubungan kyuhyun sama rin hyo entah siapa yang salah rin hyo yang terlalu banyak berharap atau kyuhyun yang tidak peka :3 ditunggu next chap eon ^^ hwaiting.

  2. ngetik dihandphone? emang gk pegel eon? hahaha gpp deh dapet pahala, pahala anak soleh 😂 hububgan jieun-kikwang-minseok mulai ada pencerahan dikit, tinggal hubungan rinhyo-kyuhyun nih yg belom begitu

  3. aaaahhh rinhyo sebegitu marahnya kan sama kyuhyun :((((((((( jd sedih mereka begitu huhuhu btwwww akhirnya kan ketawan jg kim minseok busuknya hahahahahah ditunggu selalu lanjutannyaaaa

  4. chapter ini benar2 sudah aku tunggu., akhrnya dipost juga..

    Hrusnya ji eun percaya dg ucapannya kikwang.. Tp syukurlah dia tau dg mata kepalanya sendiri kelakuan minseok diblakangnya!..
    Knpa rin hyo mengambil kputusan sepihak?

  5. Chokyu ame rinhyo ruwet amet idupnye :v
    sengsara mele~~ salah paham nggak rampung2
    masyaAllah
    yes udh mulai jelas kalo kikwang bakalan sm jieun, jieun udh gak galo2 lg sm minseok :v

  6. waaah kyu kok jahat gitu sih..
    dia kenapa yaa..
    oh iyaa aku kok ngerasa aneh ya eon sebenernya yg jadi cast utamanya disini siapa?
    karna disini lebih banyak ngebahas ji eun dari pada rinhyo,,,
    tapi cerita seru kok adegan rinhyo sama kyunya d banyakin ya eon:) d tunggu kelanjutannya eon..
    keep writing ya eon..
    oh ya maaf eon aku komennya d part 1 aja trus di part 7..heheh
    udah ga sabar pengen lanjut soalnya jadi ga smpat komen..maaf eon..;)

  7. Waaah kyuhyun cemburu tuuh wkwkwk sehun ah kau harus tabah eoh. Kikwang yg kasian sekarang yaa, tunggu hingga kau mendapat hasil dari jeri payahmu untuk selalu mencintai wanita yg kau cintai itu wang ah. Wkwkwk kyuhyun copbalah nyatakan cintamu secepatnya wkwkwk

  8. Q comment nya lngsung di chapt 7 aja gpp kan ka :v
    Smakin ruwet aja permaslahannya n makin kren juga
    Smoga kyu sma rin hyo bsa baikan lgi yah
    And ji eun juga cpet sdar klo yng diomongin kikwang itu bberan

  9. Q comment nya lngsung di chapt 7 aja gpp kan ka :v
    Smakin ruwet aja permaslahannya n makin kren juga
    Smoga kyu sma rin hyo bsa baikan lgi yah
    And ji eun juga cpet sdar klo yng diomongin kikwang itu beneran
    Ga sbar pngin tau ending nya kya apa

  10. harusnya kikwang ambil fotonya minseok wktu selingkuh,trus kasih liat ke jieun biar rada percaya. coba rinhyo sekali aja buka tu sms kyuhyun mungkin dia bisa ketemu tadi. kasihan sehun,dia udah berharap banyak,tpi y mau gimana lg rinhyo cuma anggep sahabat. wkwkwk…….

  11. uhh ji eun n gikwang udh pd tau itu cuma salahpaham.. gikwang-ah harusnyaa kamu foto tuh minseoknyaa biar jieun percaya.. hayolohh kyuhyun, plin plan sih.. kan sakit sendiri wkwk
    sehun ama aku ajaaa^^ boleh lebih dr sahabat koq 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s