Unexpected Bond 7

unexpected bond

Author: Bella Eka.

.

.

“Jong Suk-ah, ayo pulang.” Ji Eun mengambil tas tergeletak diatas nakas milik Jong Suk yang dengan cepat disambar oleh Woo Bin. Ji Eun menghela napas seraya memejam frustasi. “Baiklah, terimakasih sudah mau membantu,” ucapnya kemudian mengalihkan pandangan menemukan Rin Hyo mencoba memapah Jong Suk yang hendak berdiri. “Hentikan!” sergah Ji Eun langsung mengambil alih Jong Suk dan menampik tangan Rin Hyo. “Sadarlah jika kau itu sangat ceroboh! Meski berniat baik, kau hanya akan menyakiti Jong Suk pada akhirnya.”

Jong Suk dan Woo Bin sontak melebarkan mata terkejut. Berbeda dengan Kyuhyun yang tatapannya masih tajam membara diliputi emosi. Sorot mata Rin Hyo semakin menatap Ji Eun nanar. “Ji Eun-ah.”

Ji Eun mencermati keadaan sekeliling tanpa menghiraukan Sam Rin Hyo. “Apa tidak ada yang tertinggal?” Kemudian mengamit lengan Jong Suk erat. “Baiklah, ayo pergi.”

Atmosfir aneh membuat Jong Suk mengeluarkan tawa paksa disamping mengamati Ji Eun dan Rin Hyo bergantian. “Kenapa kau menatap Ji Eun seperti itu? Astaga, Hyo, suasana hati Ji Eun hanya sedang tidak baik. Jangan khawatir.” Kekehan Jong Suk seketika terhenti begitu pandangannya selurus dengan tatapan dingin Ji Eun. “Sepertinya,” sambungnya kemudian.

“Diam dan pegangan saja padaku!” titah Ji Eun datar.

Ji Eun membawa Jong Suk keluar ruang UKS. Saat hendak membelok, langkahnya terhenti menemukan sepasang kaki menghalangi jalannya. Gadis itu sedikit mendongak mendapati Lee Kikwang berdiri di tengah ambang pintu. “Minggir!”

Lee Kikwang tak bergeming namun kemudian keningnya mengerut saat Woo Bin tepat berada di samping Ji Eun.

“Kau tidak dengar?” sindir Woo Bin dengan sebelah alis terangkat.

Ji Eun mendengus singkat. Tangan kirinya mencoba membuka jalan dengan menyingkirkan tubuh Kikwang disaat tangan kanannya masih menaut Jong Suk erat. Namun Kikwang masih tak bergerak.

“Apa yang kau lakukan?” Ji Eun berbicara dengan sisi gigi merapat. Akhirnya Kikwang mundur selangkah memberi ruang agar Ji Eun dapat melanjutkan langkahnya. Dan gadis itupun segera beranjak bersama Jong Suk dan disusul Woo Bin.

Sementara Sam Rin Hyo terjebak bersama Cho Kyuhyun masih dalam bilik UKS. Pemuda itu tak membiarkan Rin Hyo pergi dengan mencekal pergelangan tangannya.

“Kyu, jangan kekanakan. Ayolah.” Rin Hyo terus menggerakkan tangannya yang tetap tak dilepas Kyuhyun.

“Apakah aku kekanakan? Mungkin saja. Tapi siapa yang membuatku kekanakan?”

“Kyu.”

“Apa aku tidak lebih dari seorang bocah di matamu? Yang terus menuntut untuk terus bersamaku dan melarangmu lebih dekat dengan pria lain? Begitu?”

Mwo?

“Apakah menurutmu aku tidak cukup dewasa untuk membedakan antara persahabatan dan cinta?”

“Maksudmu?”

“Apa aku salah jika mewaspadai seseorang yang mencoba merebut hatimu? Atau memang selama ini hatimu tidak ada padaku? Sebenarnya siapa aku? Tch!

Ya! Sebenarnya apa yang kau bicarakan, Cho Kyuhyun?!” Kesabaran Rin Hyo menghilang membuatnya memekik tertahan. Karena mereka masih berada di UKS sekarang.

“Kupikir kau akan menyadarinya seiring waktu tapi bukankah semua ini berlebihan? Haruskah aku memperjelas semuanya untukmu? Bahkan Shin Ji Eun, kau tahu alasan apa yang membuatnya sekasar itu padamu? Jadi mulai sekarang berhentilah!” Tatapan Kyuhyun semakin tajam hingga Rin Hyo tertegun.

“Apa yang harusnya kuhentikan? Baiklah, jelaskan apa yang terjadi padaku,” ujar Rin Hyo pelan.

Kyuhyun menarik napas dan menghembuskannya cepat. “Aku tidak yakin kau akan mempercayaiku begitu saja.”

“Sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini?”

Kyuhyun membingkai wajah Rin Hyo mengunci tatapan mereka. “Lee Jong Suk. Dia menyukaimu. Kau tahu? Jadi berhentilah bersikap lebih padanya.”

Kepala Rin Hyo menggeleng cepat. “Tidak. Jong Suk memang seperti itu. Dia sangat baik dan peduli pada semua orang di sekitarnya. Aku sudah lama mengenalnya jadi aku tahu, Jong Suk tidak hanya memperlakukanku dengan baik tapi juga semua orang.”

“Sudah kuduga.” Kyuhyun tersenyum tipis. Terkesan miris sembari memandang arah lain. “Kau memang sudah melupakan siapa yang terlebih dulu kau kenal dan mengenalmu, Sam Rin Hyo.”

Rin Hyo mulai memandang Kyuhyun panik. Meraih kedua tangan Kyuhyun, menggenggamnya. “Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau tahu, Kyuhyun-ah. Kau dan aku, Jong Suk, juga Woo Bin dan Ji Eun, tidak sebentar kita mengenal satu sama lain hingga terjalin persahabatan seperti ini. Kau tahu apa yang membuat kita terikat selama ini? Bukan tali, benang, atau karet yang dapat diputuskan dengan mudah, Kyu. Tapi kasih sayang diantara kita.”

Kyuhyun melepas genggaman Rin Hyo. “Baiklah, aku salah.”

Rin Hyo kembali tertegun sebab kini Kyuhyun menatapnya nanar.

“Ya, selama ini aku salah. Aku tidak mampu memberi kadar kasih sayang yang sama diantara kita semua. Ya, kau benar. Aku tidak seharusnya terlalu menumpuk dan memberatkan kasih sayangku pada satu orang. Mianhae.

Kelopak mata Rin Hyo seketika membulat keduanya. Kyuhyun langsung berbalik meninggalkannya setelah mengucap sesuatu yang sontak membuatnya berdebar. “Apa maksud perkataannya?” Rin Hyo meracau sendiri karena Kyuhyun tak lagi bersamanya. “Bagaimana ini?”

***

Lee Kikwang berdiri dengan kedua tangan melesak dalam saku. Keberadaan Kikwang di balkon atap sekolah sekarang membuatnya mampu mengawasi Ji Eun dengan leluasa. Memaku tatapan mengikuti arah gadis itu yang tengah membantu Jong Suk memasuki mobil sport biru dongker milik Jong Suk di jok bagian tengah kemudian berpindah mengambil tempat ke bagian depan bersama Woo Bin.

“Kikwang-ah.

Kikwang menoleh ke belakang. Jiyeon tampak menghampirinya. “Besok adalah hari libur nasional. Kau ada waktu?”

Kikwang mengernyit sejenak. “Ah, kau benar, hyeonchung-il (hari pahlawan). Tapi waktu untuk apa?”

“Aku akan mengunjungi ibu. Jadi, mungkin saja kau mau ikut bersamaku.”

Beberapa kali Kikwang mengangguk namun gurat wajahnya terlihat menimang sesuatu. Kikwang memandang ke tempat dimana ia mengamati Ji Eun tadi. Tapi mobil biru dongker yang semula berada disana tak lagi ada.

“Baiklah,” ucap Kikwang seraya tersenyum menatap Ji Yeon. “Aku juga sudah lama tidak berkunjung ke Busan.”

***

Suasana dalam mobil biru dongker dimana terdapat Ji Eun, Woo Bin, dan Jong Suk di dalamnya begitu hening. Hanya terdengar samar kebisingan luar karena seluruh kaca jendela ditutup rapat. Woo Bin sibuk menyetir, Ji Eun mengamati pemandangan luar jendela sampingnya sembari menyanggah dagu, dan Jong Suk yang berada tepat di tengah bagian jok belakang menatap lurus jalanan depan.

Ji Eun menghela napas bosan. Tangannya terulur menyalakan head unit pada dashboard. Suara musik memecah keheningan segera. Gadis itu menekan-nekan tombol memilih lagu hingga berhenti pada alunan menenangkan Chocolate Legs milik Eric Benet.

Great taste, komentar Ji Eun. Kepalanya mengangguk-angguk pelan menikmati lagu favoritnya. “Ternyata kau juga suka lagu ini, Jong Suk-ah?

Tch! Bukankah dulu kau sendiri yang memasukkan lagu ini ke dalamnya?”

“Benarkah? Ah iya, aku ingat. Kukira selera musikmu meningkat sekarang.”

Jong Suk hanya mendesah kasar kemudian beralih memandang Woo Bin. “Woo Bin-ah, kau sudah memberitahu orang dalam jika mobilmu kau tinggal di sekolah?” Orang dalam yang Jong Suk maksud adalah supir pribadi Woo Bin.

“Tentu. Tidak masalah.”

“Sebenarnya tak apa kau tidak perlu melakukan ini. Aku masih bisa berjalan sendiri dan Ji Eun juga bisa menyetir.”

Woo Bin memandang sekilas Ji Eun yang terus menghindarinya. Gadis itu tetap memaku wajah ke jendela samping. “Aku hanya mencegah hal yang tidak kuinginkan terjadi.” Tatapan Woo Bin kembali terfokus ke depan.

“Hal seperti apa?” tanya Jong Suk tak mengerti.

“Kau tahu Shin Ji Eun berangkat ke sekolah bersama siapa tadi pagi?”

“Sampai kapan kau akan mengungkit kejadian tadi pagi? Hentikan!” sahut Ji Eun datar.

Tanpa menghiraukan sergahan Ji Eun, Woo Bin melanjutkan, “Lee Kikwang. Kau percaya itu, Jong Suk-ah?

Jong Suk memilih diam dan merebah ke samping. “Rasanya pening sekali,” eluhnya sambil memegangi kepala.

Sedangkan Ji Eun mendengus kasar. “Lalu kau mengantar kami karena tidak ingin Kikwang yang melakukannya? Tch! Penting sekali alasanmu, Kim Woo Bin.”

“Ya, memang penting sekali. Karena jika sudah terlambat, tak ada lagi yang bisa kulakukan.”

“Terserah saja.”

Drrt drrt

 

Ponsel Ji Eun bergetar. Segera ia ambil dari dalam saku almamaternya.

Eo, Kyu. Wae? ucap Ji Eun begitu menempelkan benda tipis itu ke telinga kanannya.

Kau dimana?

“Dalam perjalanan ke rumahku. Ada apa?”

Lalu Jong Suk? Apa Jong Suk tidak apa-apa?

Ji Eun mengernyit lalu menatap Jong Suk yang berada di belakang sebentar. “Ya, dia baik-baik saja. Orangtuanya belum kembali dari Jepang jadi untuk sementara Jong Suk akan tinggal di rumahku. Memangnya kenapa?”

Syukurlah. Jika terjadi apa-apa, hubungi aku. Mengerti?

 Mwo? Wae gapjagi—“

Arasseo?

Eo, arasseo.

Kyuhyun menutup sambungan sepihak membuat Ji Eun menatap layar ponselnya terperangah.

“Siapa? Cho Kyuhyun?” tanya Woo Bin.

Ji Eun mengangguk. “Aneh sekali.”

“Hm?”

“Tiba-tiba dia berlagak sangat peduli.”

“Apa yang terjadi?”

“Menurutmu aku tahu?”

***

Setelah menutup telepon, Kyuhyun memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu mengarah ke depan melanjut langkah menuju tempat mobilnya diparkirkan. Disana ia bertemu lagi dengan Sam Rin Hyo. Gerak kaki gadis itu berhenti dan Kyuhyun semakin menghampiri.

“Kyu, aku—“

“Jika kau ingin menemui Jong Suk, pergilah ke rumah Ji Eun. Dia tinggal disana sementara. Aku pulang dulu.” Kyuhyun melewati Rin Hyo yang masih membeku. Mengeluarkan kunci dan menekan tombol pada remote control kecil membuka pengaman mobil.

Rin Hyo berbalik menatap Kyuhyun yang hendak membuka pintu. “Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun menoleh. “Ah ya, jika sesuatu terjadi hubungi aku.” Setelah itu Kyuhyun masuk ke dalam mobil dan segera melaju.

Rin Hyo menghela napas pendek. Memaku tatapan hingga mobil Kyuhyun tak terjangkau jarak pandangnya. “Kau ingin aku bagaimana, Kyu?” gumam gadis itu lirih.

***

Dengan membawa secangkir teh hangat di tangannya, Shin Ji Eun berjalan mendekati jendela ruang tamu. Terlihat sebuah mobil memasuki areal halaman rumahnya. “Sudah datang,” ujarnya singkat lalu menyesap minumannya.

Woo Bin yang tengah duduk di kursi sofa panjang masih tak bergeming. Menatap lekat Ji Eun yang kini kembali berjalan dan mengambil tempat di sofa tunggal tak jauh darinya.

Setelah menghabiskan teh di cangkirnya sekali teguk, Ji Eun menatap Woo Bin seraya mengernyit. “Kau tidak pulang?”

“Masih ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Bola mata Ji Eun berputar malas. “Simpan saja pertanyaanmu jika masih berkaitan dengan Lee Kikwang. Jawabanku tetap sama.”

“Baiklah kalau begitu. Tentang kita.”

“Kita? Siapa yang kau maksud dengan kita?

“Kau dan aku.”

“Hanya kau dan aku?”

Woo Bin mengangguk mantap.

Napas Ji Eun terhembus pendek seiring bibirnya membentuk senyuman separo. “Memangnya ada apa antara kau, dan aku?”

“Aku tidak ingin hubungan kita merenggang karena Kikwang.” Wajah Woo Bin sepenuhnya serius.

Berbeda dengan Ji Eun yang senyuman miringnya semakin tercetak jelas. “Apa kau lupa baru saja mengatakan hanya tentang kau dan aku? Kenapa mengaitkannya dengan Lee Kikwang sekarang?”

“Karena Lee Kikwang telah ikut campur dalam hubungan kita sekarang.”

“Ikut campur?”

“Dia mencoba menguasaimu, Ji Eun-ah. Dan dia akan berusaha memisahkanmu dari orang-orang yang mencintaimu. Sadarlah, kau harus menghindarinya.”

Pipi Ji Eun menggembung bersamaan manik matanya mengarah keatas. Tak lama kemudian meniup seluruh udara dalam mulutnya cepat. Gadis itu mulai bersikap serius dengan menatap Woo Bin lekat. “Sekarang kutanya padamu. Apa yang membuatmu begitu ingin menjauhkan Kikwang dariku? Dari mana kau mengetahui semua itu? Dan juga, hubungan macam apa yang sebenarnya kau bicarakan diantara kita?”

Woo Bin meneguk ludah berat. Sorot matanya terpaut dalam tatapan Ji Eun. “Perusahaan, harta, kekuasaan yang kau miliki.”

Mwo?

“Dan, cinta. Mungkin kau menganggap kita selesai, benar-benar selesai. Tapi berapa kali harus kuyakinkan bila aku masih mencintaimu, Shin Ji Eun. Aku tidak mau kau terlibat dengan seorang licik yang akan membahayakanmu seperti dia.”

“Sebaiknya kau pulang.”

Kedua mata Woo Bin sontak melebar. “Dengarkan aku, kau mendengarkanku dengan baik, kan?”

Ji Eun masih tak bergerak menatap Woo Bin dengan sorot menerawang. “Kau, terlambat.”

Tubuh Woo Bin berjengit seketika. “Kau belum menyukainya, kan? Kau tidak mencintainya, kan? Apa maksudmu aku terlambat?”

Ji Eun tak bergeming. Tatapannya semakin sulit diartikan.

“Shin Ji Eun!”

Ji Eun bangkit berdiri. Dengan gerak pelan mendekati pintu utama dan membukanya. “Pergilah!” titahnya datar tanpa penekanan. Kemudian beralih menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Hanya mendesah kasar yang dapat Woo Bin lakukan. Menjelaskan sepanjang apapun tak akan Ji Eun dengar jika sikap gadis itu mulai seperti ini. “Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan. Tapi aku percaya kau mampu memilih yang terbaik, Shin Ji Eun,” ujarnya lantas beranjak.

***

“Aku pulang.” Begitu memasuki pintu utama, Kikwang segera menuju kamarnya. Mengangguk memberi salam saat menemukan Nyonya Lee duduk di ruang tengah sembari menikmati teh hijau.

“Kikwang-ah, duduklah.”

Langkah Kikwang terhenti menatap ibunya. “Ada apa?”

“Minumlah.”

“Aku lelah, aku ingin mandi dulu.”

“Ada yang ingin eomma bicarakan.”

Tanpa pikir panjang Kikwang menurut dan mengambil tempat di sofa berhadapan dengan ibunya. Sedikit mengernyit menatap Nyonya Lee yang sedang meletakkan cangkir keramiknya.

“Luangkan waktu untuk makan malam bersama keluarga Shin besok.”

Seketika membulat kedua mata Kikwang. “Besok? Tapi eomma, aku memiliki janji dengan temanku besok. Mengapa semua selalu mendadak seperti ini?”

“Apa maksudmu mendadak? Bagaimanapun kau harus datang besok pukul delapan di tempat pertemuan pertama dulu. Jangan sampai terlambat lagi, memalukan sekali.”

Eomma, tapi aku—“

“Tidak ada alasan. Kau bisa mandi sekarang.”

***

Ya, selama ini aku salah. Aku tidak mampu memberi kadar kasih sayang yang sama diantara kita semua. Ya, kau benar. Aku tidak seharusnya terlalu menumpuk dan memberatkan kasih sayangku pada satu orang. Mianhae.

Ucapan Kyuhyun masih terus memutari otak Rin Hyo. Gadis yang tengah duduk seorang diri di sebuah halte itu terus menunduk. Sesekali menghela napas panjang dan menengadah pada langit yang semakin gelap. Entah berapa kali ia membiarkan bus melewatinya begitu saja. Gadis itu hanya ingin sendiri, merenungi diri.

“Apa selama ini aku salah?” gumamnya. “Apa aku memang berlebihan? Dan Kyuhyun benar?” lanjutnya. Kemudian senyuman konyolnya terulas, “Kenapa aku jadi berbicara sendiri?”

Huuuh, lenguhnya meniup udara dari mulut. Memejamkan kedua mata erat. Hingga kedatangan sebuah mobil berhenti di depannya tak membuatnya bergeming.

Beep beep!

 

Suara nyaring klakson membuat tubuh Rin Hyo berjengit sontak membuka mata. Kaca mobil itu perlahan terbuka menampakkan Cho Kyuhyun di dalamnya.

“Masuklah!” Kyuhyun bertitah dengan wajah serius.

Seketika berdesir sekujur tubuh Rin Hyo. Dengan wajah datar, dingin, ditambah tatapan Cho Kyuhyun yang sangat tajam sungguh mendebarkan jantung Rin Hyo. “Tidak. Aku pulang sendiri saja.”

Segera Kyuhyun keluar menghampiri Rin Hyo. Menggandeng tangan gadis itu tanpa berkata apapun.

“Sebentar lagi bus datang. Kau tidak perlu seperti ini.” Rin Hyo masih bertahan duduk di halte. Tangan kirinya mencengkeram kursi sementara tangan kanannya menarik paksa agar terlepas dari genggaman Kyuhyun.

“Sudah seharusnya aku mengantarmu karena aku yang menjemputmu pagi tadi,” ujar Kyuhyun cepat.

“Tidak perlu, tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri.”

“Kenapa tidak menghubungi supir pribadimu saja?”

“Itu karena…” Tanpa sadar gadis itu meneguk ludah memikirkan alibi. Benar-benar tidak pandai berdusta. “Sudah lama sekali tidak naik bus. Aku hanya ingin.”

Kyuhyun menghela napas kasar. Bau kebohongan tercium olehnya. Genggamannya pada Rin Hyo ia lepas dan beralih merogoh ponsel dari dalam saku. Mengutak-atiknya sebentar lantas mengaktifkan loud speaker.

Rin Hyo mengernyit mendengar nada ringtone yang ia kenal. Tak lama panggilan telepon itu tersambung.

Kyu? Suara Ji Eun terdengar jelas karena loud speaker. Kerutan diantara alis Rin Hyo semakin dalam.

“Kau sudah sampai?” tanya Kyuhyun balik.

Ya, sudah. Wae?

“Bagaimana keadaan Jong Suk?”

Tch! Apa kau benar-benar Cho Kyuhyun? Maldo andwae.

“Jawab saja pertanyaanku.”

Kau sedang berakting dingin padaku? Tck! Dia sedang beristirahat sekarang!

“Baiklah. Sebentar lagi waktu makan malam, jangan sampai terlambat jika tidak ingin penyakit menyerang tubuhmu yang lemah itu.”

YA! Awas kau. Kututup sekarang!

Sambungan terputus setelah teriakan penutup Ji Eun. Kyuhyun memasukkan ponselnya kembali masih tanpa ekspresi. “Kau lihat, kan?” ujarnya menatap Rin Hyo datar.

Rin Hyo hanya mengerjap karena tak mengerti maksud Kyuhyun.

“Aku mencoba berlaku sama pada kalian semua, termasuk kau. Aku tidak akan hanya memikirkanmu seorang. Jadi jangan berpikiran yang berlebihan. Kau juga bagian dari kami, kau juga sahabatku. Bukankah itu yang kau mau?”

Bibir Rin Hyo mengatup rapat. Lidahnya kelu. Tubuhnya membeku tak bisa digerakkan. Entah mengapa hatinya mencelos untuk yang kedua kalinya karena ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun menarik lengan Rin Hyo sekali lagi. Kali ini Rin Hyo tak menolak. Memasuki mobil Kyuhyun dengan tatapan kosongnya. Gadis itu bahkan tak tahu apa yang baiknya ia pikirkan.

***

Shin Ji Eun membuka pintu kamar tamu tempat Jong Suk beristirahat. Menghampiri pemuda yang tengah berbaring itu dan membandingkan suhu tubuh dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi Jong Suk dan miliknya bergantian. “Kapan panasnya akan menurun?” ucapnya sendiri. Setelah menarik selimut agar lebih menutupi tubuh Jong Suk keseluruhan, Ji Eun mematikan lampu ruangan dan pergi.

Ji Eun berjalan lemas menuju kamar miliknya. Merebahkan tubuhnya telentang lantas menarik napas dalam seraya memejam erat. Napas panjang itu ia hembuskan sedikit demi sedikit masih dengan kedua mata tertutup. “Bagaimana aku tahu dirimu yang sebenarnya, Lee Kikwang?” gumamnya.

 

Tok tok tok

 

Selang beberapa detik pintu kamar Ji Eun terbuka. Nyonya Shin tampak masuk membuat Ji Eun merubah posisi menjadi duduk bersandar.

“Kukira eomma dan appa sudah kembali ke Amerika tanpa memberitahuku.”

Drrt drrt

 

Ji Eun meraih ponsel bergetar tergeletak diatas nakas. Terpampang nama kontak Lee Kikwang-ssi menghubunginya pada layar. Ji Eun tak lekas menggeser logo hijau, masih membatu memandangi benda yang tak berhenti bergetar itu.

Tiba-tiba Nyonya Shin menyambar ponsel dalam genggaman Ji Eun. “Lee Kikwang-ssi? Bagaimana bisa kau menamai nomor tunanganmu dengan panggilan seperti ini?” komentar Nyonya Shin. “Cepat terima panggilan itu. Jangan membiarkan tunanganmu menunggu lama,” ujarnya mengembalikan ponsel pada Ji Eun.

Ji Eun menggerutu kecil sembari beranjak menuju balkon kamarnya. Namun gadis itu berbalik lagi, “Eomma, Jong Suk sakit jadi dia menginap malam ini.”

“Ya, eomma tahu. Jangan terlalu lama mengalihkan, Shin Ji Eun.”

Haish! desis Ji Eun kesal. Dengan gerak kasar menyentuh logo hijau dan menggesernya. “Yeoboseyo!

Ya! Kenapa kau tiba-tiba berteriak padaku?!

“Untuk apa meneleponku?”

Kau sudah tahu tentang pertemuan besok?

“Pertemuan apa?” Ji Eun menoleh sekilas pada ibunya yang tengah tersenyum menatapnya. “Keluarga? Lagi?”

Tuan Shin belum memberitahumu? Tapi ada yang harus kulakukan terlebih dulu besok, jadi sepertinya aku akan terlambat.

“Lalu?”

Aku hanya tidak ingin kau salah paham untuk kedua kalinya dan berpikiran jika aku tidak mau menghadiri pertemuan itu.

“Kau menelepon hanya untuk mengatakan itu?”

Eo..

Ji Eun tersenyum tipis. Entah untuk apa. “Keure. Aku tidak akan salah paham. Tenang saja.”

Baiklah.

“…” Ji Eun tak mengucap apapun namun juga tak memutus sambungan.

Kau tidak menutupnya?

“Bukankah kau yang menelepon terlebih dulu?”

Arasseo. Annyeong.”

Ji Eun menarik napas panjang dan menghembuskannya melalui bibir yang lagi mengembangkan senyuman. “Suara yang manis,” gumamnya.

“Kau sudah selesai?” tanya Nyonya Shin.

Ji Eun cepat-cepat mengatur ekspresinya sebelum kembali memasuki kamar. “Eomma, pertemuan apa lagi yang diadakan besok?” Ji Eun menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.

“Justru eomma kemari untuk memberitahumu tentang itu. Besok kita akan makan malam bersama keluarga Lee di tempat yang sama seperti waktu lalu. Jangan lupa, pukul delapan malam. Kau tidak boleh memakai mobil sendiri. Karena jika tidak, nanti kau akan terlambat lagi.”

“Aku berjanji tidak akan terlambat. Tapi bisakah—“

“Tidak! Bagaimanapun Kim ahjussi tetap mengantarmu dan eomma akan mengawasimu dari belakang, bersama appa.

Nde? Kedua mata Ji Eun membulat. “Apakah eomma lupa bila aku sudah menginjak delapan belas tahun?”

***

Lee Kikwang membuka pintu mobil dan keluar. Menghirup udara segar Busan dalam-dalam sembari mata terpejam. “Aroma laut benar-benar terasa.”

“Benar.” Park Ji Yeon yang juga baru saja keluar dari mobil mengulas senyuman cerah menatap Kikwang menikmati suasana.

Kedua mata Kikwang membuka cepat. Mengangkat tangan kirinya memeriksa arloji. “Aku tidak bisa berlama-lama disini.”

Ji Yeon sedikit terkejut. “Ah, baiklah. Ayo kita masuk.”

Park Ji Yeon bergerak lebih dulu mendaki anak tangga yang terbuat dari batu dan setelah sampai mengetuk pintu sebuah rumah sangat sederhana. Beberapa kali ia mengetuk namun tak satupun jawaban.

Eomma? Ini aku Ji Yeon-ie, eomma, ujar gadis itu mengiringi ketukannya. Sayangnya sama saja tak mendapat respon sekalipun membuatnya kembali turun menghampiri Kikwang.

Wae? Ibumu tidak ada di rumah?”

“Sepertinya eomma masih berada di pasar. Haruskah kita kesana?”

Kikwang memeriksa arlojinya sekali lagi sebelum memutuskan, “Kajja.

***

Shin Ji Eun menutup pintu kaca balkon kamarnya. Karena hujan rintik-rintik bertambah deras dan anginpun berhembus semakin dingin meski saat ini masih masuk tengah hari. Gadis itu tak bergerak setelah pintu sempurna tertutup. Menatap, menikmati suara samar hujan yang terdengar.

Perlahan bibirnya membentuk bulan sabit yang indah. Perlahan pula bola matanya melirik ponsel di atas nakas. Suara manis Kikwang seolah kembali terdengar di telinganya. Terus terngiang hingga membuatnya ingin mendengarnya lagi.

Gadis itu berjalan mengambil benda tipis putih itu. Membuka daftar kontak dan mengetik kata Lee Kikwang-ssi. Namun tak ada yang ia lakukan selanjutnya. Hanya menatap deretan nomor itu dalam diam lalu menghela napas dan meletakkannya kembali.

Shin Ji Eun beranjak menuju kamar Jong Suk. Pemuda itu masih berdiam dibawah selimut dengan mata tertutup. Posisinya pun masih tetap telentang seperti terakhir Ji Eun lihat kemarin.

“Apa bibi tidak sadar diluar sedang hujan?” racau Ji Eun sembari menutup jendela satu per satu lantas menaikkan suhu ruangan hingga terasa hangat.

Drrt drrt

 

Terdengar getaran dari arah tas Jong Suk. Shin Ji Eun segera membuka tas tergeletak di atas kursi tak jauh darinya. Dan menemukan ponsel bergetar Jong Suk di bagian paling depan dalam tas.

Tertulis Sam Rin Hyo pada layar membuat Ji Eun mendecih kecil. Membiarkan panggilan telepon itu sedikit lama sebelum mengangkatnya.

Jong Suk-ah, syukurlah akhirnya kau mengangkat teleponku. Bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja, bukan?

“Apa kau sedang menulis surat? Untuk apa bertanya jika kau memberi jawabanmu sendiri? Tch!

Ji Eun-ah?

“Eo. Aku Shin Ji Eun.”

“…”

“Apa kau benar-benar ingin tahu keadaan Jong Suk sekarang? Kau kira dia baik-baik saja? Berbaring lemah diatas ranjang kau sebut baik-baik saja? Ah, ya. Kau tidak bisa melihatnya sekarang. Memangnya kapan kau pernah benar-benar melihatnya?”

“…”

“Sudahlah, jangan menghubungi Jong Suk untuk sementara. Biarkan dia pulih sepenuhnya.”

Mianhae.

“Jangan meminta maaf padaku. Kau tidak punya masalah denganku. Ada lagi yang ingin kau bicarakan?”

“…”

“Kututup sekarang.”

***

 Cha, maaf aku tidak memasak banyak hari ini,” sesal ibu Ji Yeon sembari menata beberapa mangkuk makanan diatas meja.

“Ini sudah lebih dari cukup, eommeonim. Kikwang merendah.

“Silakan. Kalian harus makan yang banyak mengingat sangat jarang kalian datang kemari.”

Nde, kamsahamnida, eommeonim. Jal meokkesseumnida. Kikwang mengangkat sumpitnya dan memulai makan tanpa menyadari Ji Yeon yang lama menatapnya beserta ulasan senyuman terpatri di bibir gadis itu.

“Kau juga harus makan, Ji Yeon-ah. Tegur ibu Ji Yeon. Wanita paruh baya itu tersenyum bahagia memandang Kikwang dan Ji Yeon makan bersama. “Melihat kalian seperti ini saja terasa menyenangkan.”

Senyuman Kikwang terbentuk canggung bersamaan ia mengangguk sekadar. Sedangkan kegiatan makan Ji Yeon sontak berhenti sejenak menatap Kikwang penuh arti.

Kikwang hendak menaruh sumpitnya, ia telah selesai. Namun tiba-tiba ibu Ji Yeon mendorong sepiring ikan bakar padanya. “Ini adalah sebagian ikan yang biasanya kujual di pasar Busan. Makanlah.”

Kikwang menghela napas. Dengan gerak pelan mengambil sumpitnya kembali dan mengambil secuil ikan bakar. “Kamsahamnida.” Diam-diam melirik arloji di tangan kiri. Jarum menunjuk pukul tiga sore membuat Kikwang semakin gusar.

“Jika bukan Tuan Lee yang menyelamatkan pendidikan Ji Yeon, aku tidak tahu bagaimana kehidupan kami saat ini. Sekali lagi tolong sampaikan rasa terimakasihku pada ayahmu karena telah menanggung segala kebutuhan Ji Yeon untuk menuntut ilmu di Seoul, Kikwang-ah.

Nde, eommeonim. Akan kusampaikan. Tapi itu juga karena Ji Yeon yang memang pandai hingga berhasil memenangkan hadiah utama olimpiade matematika yang perusahaan ayah adakan, eommeonim.” jawab Kikwang.

“Ya, kau benar. Bagaimanapun kami sangat berterima kasih, Kikwang-ah.

Sejenak suasana hening. Kikwang semakin tampak tak tenang. “Eommeonim, maaf aku tidak bisa berlama-lama.” Kikwang berpindah berkata pada Ji Yeon, “Aku harus pergi sekarang.” Untuk saat ini tak ada yang ia pikirkan selain segera pergi dan datang di pertemuan keluarga tepat waktu.

“Baru saja kalian datang, dan sekarang sudah bersiap pulang? Menginap saja tidak apa-apa,” tawar ibu Ji Yeon.

“Mungkin Ji Yeon saja yang menginap. Ada hal pertemuan mendesak yang harus kuhadiri, eommeonim, elak Kikwang.

“Tapi besok harus masuk sekolah. Aku akan kembali secepatnya, eomma. Ji Yeon menimpal cepat.

“Baiklah kalau begitu.”

Kikwang terlebih dulu berdiri membungkuk salam. “Sampai bertemu lagi, eommeonim. Kamsahamnida, annyeonghi gaseyo, ucapnya lantas beranjak menuju pintu dan keluar.

Sedangkan Ji Yeon masih ditahan oleh ibunya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Kikwang?” tanya wanita paruh baya itu.

“Hubungan apa maksud eomma? Hanya aku yang menyukainya,” jawab Ji Yeon malu-malu.

“Dia rela mengantarmu kesini, sepertinya dia menyukaimu.”

“Aku juga ingin dia menyukaiku, eomma.

“Bagaimanapun tidak ada yang bisa kita lakukan tanpa Lee Kikwang dan keluarganya. Ayahmu sudah tenang surga, ibu hanyalah penjual ikan segar di desa seperti ini sementara pendidikanmu belum tuntas, Ji Yeon-ah.

“Ya, aku tahu itu, eomma. Aku juga sedang mengusahakan semuanya.”

“Baiklah. Ibu selalu mendoakanmu, anakku.”

***

Helaan bosan Ji Eun hembuskan saat seorang pegawai salon mempercantik rambutnya. Menatap pantulan bayangan dirinya pada cermin yang memperlihatkan wajah datarnya.

Eomma, untuk menghadiri pertemuan kecil saja mengapa aku harus merepotkan diri seperti ini?” eluh Ji Eun pada Nyonya Shin di samping gadis itu yang juga tengah mendapat pelayanan salon pada rambutnya.

“Pertemuan kecil apa maksudmu? Kita akan bertemu keluarga yang akan menjadi suamimu, Shin Ji Eun.”

“Suami? Lupakan saja,” gumam Ji Eun.

“Apa yang kau katakan?”

“Aku lapar.”

“Bukan itu yang eomma dengar tadi. Ulangi sekali lagi!”

Drrt drrt

 

Ponsel putih diatas meja di hadapan Ji Eun bergetar. Segera saja gadis itu ambil tanpa pikir panjang. Sebelum menerima panggilan itu, terlebih dulu Ji Eun memperlihatkan layar ponsel yang menampakkan nama Lee Kikwang-ssi pada Nyonya Shin. “Seseorang yang eomma pikir akan menjadi suamiku, sedang menelepon.”

Yeoboseyo, ucap Ji Eun segera setelah menerima panggilan.

Kau dimana?

Wae?

Sepertinya aku benar-benar terlambat.

“Bukankah kau sudah mengatakannya kemarin? Tapi, memangnya sekarang dimana kau?”

Busan.

Mwo?

Aku akan pulang sekarang. Sampai nanti.

Ji Eun menatap layar ponselnya tak percaya setelah Kikwang menutup sambungan. “Dasar gila,” gerutunya.

“Siapa yang kau panggil gila?”

“Lee Kikwang. Apakah eomma rela aku menikah dengan orang gila sepertinya?”

“Jaga bicaramu! Kau benar-benar harus mengurangi kebiasaanmu berbicara sembarangan, Shin Ji Eun!”

***

Ucapan Nyonya Shin benar terjadi. Kini Ji Eun sedang dalam perjalanan menuju tempat pertemuan bersama Kim ahjussi dan mobil orang tuanya terus membuntut di belakang. Gadis itu benar-benar tidak terloloskan.

Decakan malas kembali ia lontarkan. “Jika Kikwang terlambat, bukankah seharusnya masih ada waktu untukku bepergian sebentar? Bukankah begitu, Kim ahjussi?

“Tidak, Nona.”

Nde?

“Karena Nona akan selalu lupa waktu jika sudah terlepas sendiri.”

“Bagaimana bisa Kim ahjussi berkata seperti itu? Apakah ahjussi juga tidak memercayaiku? Tck!

“Kita sudah sampai, Nona.”

Ji Eun membuka pintu mobil seraya masih dengan menatap malas supir Kim. Sedangkan pria paruh baya itu terkikik geli melihat tingkah kekanakan Shin Ji Eun.

Tak lama Tuan dan Nyonya Shin juga sampai. Bersama-sama mereka menuju ruang VVIP yang dipesan sebelumnya.

Setelah pintu dua sisi sebuah ruang VVIP dibukakan oleh seorang pegawai restoran. Tuan dan Nyonya Shin, disusul Shin Ji Eun memasuki ruangan itu.

Annyeong haseyo.

Tuan dan Nyonya Lee yang telah menunggu menyambut dengan berdiri mengangguk seraya tersenyum. Tuan dan Nyonya Shin pun membalasnya. Begitupun Ji Eun membungkuk sopan.

“Silakan duduk,” ujar Tuan Lee sembari tersenyum lebar. Berbeda dengan Nyonya Lee yang menatap pintu masuk gusar.

Keluarga Shin duduk dengan elegannya. Tak lama Tuan Shin bertanya, “Dimana Lee Kikwang?”

“Sepertinya dia sedikit terlambat lagi. Maafkan kami,” sesal Tuan Lee.

“Tidak masalah. Remaja sekarang ini memang memiliki banyak urusan. Bukankah begitu, Ji Eun-ah? Tuan Shin mencoba mencairkan suasana.

Eo? Nde. Ji Eun mendadak merasa gugup karena raut wajah Tuan dan Nyonya Lee mulai menunjukkan kekesalan mereka. Untuk apa aku merasa gugup? Biarkan Kikwang dengan urusannya! batin Ji Eun dalam hati menyadarkan diri.

Namun bertambah-tambah waktu dan Kikwang belum juga tampak. Ramah tamah yang terjadi hingga tergantikan dengan suasana canggung hening. Ji Eun semakin cemas merasakan situasi.

Tuan Lee berdehem pelan, “Anak ini benar-benar keterlaluan,” kesalnya lalu mengeluarkan ponsel. Tuan dan Nyonya Shin pun saling berpandangan mulai merasa tak enak.

“Sepertinya Kikwang masih dalam perjalanan. Dari Seoul ke Busan tidak cukup hanya tiga jam. Biasanya delapan jam, bukan? Kecuali bila menggunakan kereta bawah tanah atau pesawat.” Akhirnya Ji Eun membuka suara. Entah mengapa ia tak mampu lagi menahan mulutnya berbicara.

“Busan?” ulang Nyonya Lee. “Bagaimana bisa Kikwang benar-benar kesana? Omo, anak itu benar-benar.”

Gwenchanayo, ujar Ji Eun ragu.

“Tapi bagaimana bisa kau tahu? Apa Kikwang memberitahumu?” tanya Tuan Shin penasaran.

Nyonya Shin sontak terkekeh kecil lalu berucap, “Jadi karena itu Kikwang menghubungimu kemarin dan tadi sore? Aigoo, hubungan kalian berkembang pesat rupanya. Bagus sekali.”

“Benarkah?”

Atmosfir kaku dan canggung sebelumnya seketika berubah penuh tawa bahagia. Disamping itu Ji Eun hanya mampu meneguk ludah serta menunduk dalam. Menyesali perbuatannya yang akan menambah harapan kedua orang tua mereka pada hubungannya dengan Kikwang.

Cklek

 

Joesonghamnida, aku terlambat lagi. Jeongmal joesonghamnida. Begitu sampai dengan napas terengah, Kikwang membungkuk dalam beberapa kali.

Suasana menyenangkan masih tercipta membuat semua orang menyambut hangat kedatangan Kikwang, kecuali Shin Ji Eun yang menatapnya penuh tuntutan.

Kikwang sedikit tak mengerti akan apa yang terjadi. Ia kemudian mengambil tempat kosong di hadapan Ji Eun. Mengapa suasana menjadi seperti ini? tanya Kikwang dengan mimik bibir tanpa suara pada Ji Eun.

Dengan kedua mata melebar Ji Eun membalas, berterimakasihlah padaku!

“Malam sudah semakin larut. Jadi bagaimana jika lebih baik kita langsung pada intinya saja?” tawar Tuan Lee.

“Baiklah.” Tuan dan Nyonya Shin setuju. Dan Tuan Shin pun melanjutkan, “Besok adalah hari ulang tahun Shin Ji Eun dan akan diadakan pesta di rumah kami.”

“Pesta akan dimulai malam hari. Masih ada waktu besok hingga sore untuk kalian bersiap diri.” Tuan Lee memaparkan.

Ji Eun mengernyit. “Kalian? Aku mengerti bila aku harus bersiap-siap tapi mengapa Lee Kikwang?”

“Butik akan dikosongkan besok. Kalian berdua pergilah bersama-sama memilih pakaian yang sesuai satu sama lain,” ucap Nyonya Lee.

Ji Eun dan Kikwang saling menatap tak percaya.

“Tidak mungkin jika… pertunangan?” Kikwang berhati-hati menanyakannya. Sedetik kemudian tersenyum kaku seraya berkata, “Ah, itu sangat tidak mungkin. Bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu?”

Raut wajah Ji Eun berubah drastis. Sedikit menyendu namun dengan kuat tampak waspada terjelaskan oleh sorot matanya. “Lagipula kami tidak akan bersedia.”

Kikwang tertegun. “Apa maksudmu?”

“Aku tahu kau tidak menyukaiku dengan segala apapun yang ada padaku.” Ji Eun berucap mantap membuat orang tua mereka kebingungan.

“Tidak. Aku bersedia. Sangat bersedia.” Kikwang mengembangkan senyuman termanisnya hingga membuat kedua mata Ji Eun melebar terperangah.

***

Kim ahjussi sudah kembali sedari awal. Kau pulang bersama Kikwang saja. Mengerti?

Shin Ji Eun mendengus kasar. “Semua benar-benar sudah direncanakan dengan sangat sempurna.”

Kikwang yang berada di sampingnya membalas singkat, “Begitulah.” Ekspresi Kikwang tampak menegang. Semakin mendekati lahan parkir perlahan langkahnya semakin lambat menatap punggung Ji Eun yang berjalan mendahuluinya.

Ji Eun yang sadar menoleh, “Apa yang kau lakukan disana?”

“Tidak.” Kikwang meneguk ludah berat sebelum kembali menyanding langkah Ji Eun.

Ji Eun menangkap gelagat aneh Kikwang. Karena semakin Ji Eun menatapnya, semakin sering Kikwang menghembuskan napas gusar. “Ada apa denganmu?”

“Ada sesuatu yang akan terjadi tapi kuminta kau tidak salah paham.”

Ji Eun tertawa kecil. “Kenapa kau selalu berpikiran jika aku selalu salah paham pada segala hal?”

“Berjanjilah padaku.”

Raut wajah Kikwang yang sangat serius membuat Ji Eun terdiam. Kakinya pun berhenti bergerak setara dengan napasnya yang mendadak tertahan. Tatapan mereka tertaut intens.

“Aku… berjanji.”

.

.

-To be Continued-

Advertisements

6 thoughts on “Unexpected Bond 7

  1. kasian si kyu, knpa rin hyo ndak ngerti2 sih? Kalo jung sok memang menyukainya

    mkn pnsaran dg apa yg dirahasiakan kikwang?
    Mungkinkah itu hal buruk?

  2. Aigooo ternyata udh lama bgt dipost.
    yaaa ampun gw makin greget sm rinhyo, dia itu polos atau gimana ? kyu jd ubah sikapnya sm dia kan.
    Ayo dong buat rinhyo jd lebih peka.

    ji eun dan ki kwang sulit ditebak yaa.
    ditunggu kelanjutannya^^

  3. Hua msh bingung kikwang nerima apa engga . Ji eun jg trima apa engga
    Maaf ya eonni baru nongol hehe
    itu sesuatu yg trjd apaan ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s