Fake Love 6

FAKE LOVE VI

wpid-akeluv

 

Author : Tsalza Shabrina

Ini bukan masalah siapa yang dikhianati dan siapa yang paling setia.

Ini masalah siapa yang nantinya akan menjadi ‘kita’ dan siapa yang akan menjadi ‘aku dan dia’.

 

***

Sam Rin Hyo.

 

            “Buka pintunya!” suruhku pada Kyuhyun yang terlihat masih tercengang dengan nada dingin. Pria itu hanya mengangguk dan membuka kunci mobilnya, tanpa menunggu ia yang membukakan pintuku, aku langsung memasuki mobilnya. Duduk disebelah kemudi dengan perasaan yang berkecamuk. Antara marah, kesal, dan merasa dikhianati.

Aku bisa dengar dan melihat dari ekor mataku Cho Kyuhyun memasuki mobil dan duduk disampingku dengan gusar. Ia terdiam, sesekali melirik kearahku seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Aku ingin pulang.” Nada dingin itu keluar lagi dari bibirku tanpa kusuruh. Kyuhyun menghela napas berat dan akirnya mobil ini berjalan juga.

Aku membuang napas panjangku, memejamkan kedua mata lalu menyandarkan kepala pada jendela mobil. Ini menyebalkan, sangat. Bagaimana bisa sahabat yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri mengkhianati dan membohongiku seperti ini, huh?

Disaat aku benar – benar kalut oleh perasaanku pada Cho Kyuhyun. Disaat aku berjanji dalam hati, jika hanya hari ini saja aku akan benar – benar menjadi kekasih Cho Kyuhyun. Tapi kenapa? Kenapa malah suguhan menjijikan itu yang kulihat diambang rasa bersalahku pada mereka.

Aku merasa terbodohi. Apa mungkin patah hatinya Ji Eun dan perintah Ji Eun untuk menyakiti hati Cho Kyuhyun juga salah satu modus mereka untuk bersatu? Sialan! Mungkin saja aku benar. Jika begitu, ini semua sudah berakhir! Aku akan mengakhiri ini semua, sekarang juga.

“Kita sudah sampai.” Kedua mataku terbuka spontan, mengangkat kepalaku lalu kembali menghembuskan napas dalam – dalam. Mencoba mengusir rasa perih dihati meski tetap saja tidak hilang.

Aku mengepalkan kedua tangan saat merasakan tangan besar Kyuhyun mengelus kepalaku dengan lembut. Astaga, rasanya aku tidak ingin mengakhiri ini. Tapi, aku harus!

Cho Kyuhyun.

 

Aku menarik dagunya agar ia menatapku. Entah apa yang terjadi pada gadis ini, apa mungkin ia masih menyukai Lee Kikwang? Lalu, bagaimana bisa Shin Ji Eun dengan Lee Kikwang? Ini sangat membingungkan.

“Ada apa, hm?” tanyaku dengan suara yang selembut mungkin. Ia menarik napas dalam dan menghembusnya kuat, tanpa menatapku. Meski kepalanya sudah menghadap padaku.

“Kita berhenti saja.” Aku mengernyit bingung. Degupan jantungku berdegup dengan tak beraturan, berdentum- dentum seperti meronta ingin keluar.

“Maksudmu? Mobilnya sudah berhenti.” Mungkin pertanyaanku sangat bodoh, tapi biarlah. Ia menatap kedua mataku dengan dingin dan datar.

“Maksudku, kita putus.” Rahangku mengeras mendengar ucapan yang melontar bebas dari mulutnya. Ada apa dengan gadis ini? aku tidak bisa berpikir dengan baik kali ini.

“Jangan berbicara yang tidak – tidak, Hyo!”

“Aku bicara yang sebenarnya, aku ingin kita putus.” Aku menggeleng frustasi, mencengkeram kedua pundaknya dengan kuat seraya menatapnya dengan tatapan menuntut.

“Kau serius?”

“Sangat. Hah, sejujurnya aku tidak mencintaimu. Aku melakukan ini karena Shin Ji Eun, gadis yang pernah kau sakiti itu sahabatku. Aku ingin kau merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.” Ujar Sam Rin Hyo dengan nada ringannya.

“Tidak mungkin, lalu apa yang tadi kulihat, huh? Sahabatmu yang kau bela mati – matian sedang berciuman dengan pria yang kau sukai, hm?” wajahnya mengeras, namun sebentar karena setelah itu kembali dingin dan datar lagi.

“Kau jangan sok tahu, Cho Kyuhyun! Pria itu bukan siapa- siapa untukku!” tukas Rin Hyo tajam, aku menatap kedua matanya. Hanya ada kemarahan disana, bukan cemburu atau pun sakit hati. “Baiklah, sekarang kita selesai. Dan kumohon kau berpura – pura tidak mengenalku saat kita bertemu lagi nanti. Mulai besok kita hanyalah dua orang asing yang tidak mengenal satu sama lain.”

Author.

 

Kedua tangan yang sudah sangat erat mencengkeram bahu Sam Rin Hyo semakin mengerat saat mendengar ucapan gadis itu yang terdengar santai tanpa penyesalan.

“kau… ini tidak mungkin.” Sam Rin Hyo mengulas senyuman miringnya yang mengerikan lalu menyingkirkan kedua tangan Kyuhyun yang lemah dari pundaknya.

“Sayangnya kau tidak bermimpi Cho Kyuhyun. Sekarang kau merasakannya, huh? Sakit hati? Atau mungkin kau tidak merasakan itu, karena sebenarnya aku akan menjadi korban seperti Shin Ji Eun. Tak apa meski kau tidak mencintaiku dengan tulus sekarang, setidaknya kau masih bisa merasakan dipermalukan. Kau—“

“Keluar.” Rin Hyo tersentak mendengar nada dingin dan tajam dari Cho Kyuhyun itu. Ia mendecih lalu menatap Kyuhyun bengis.

“Aku sebenarnya ingin sejak tadi keluar dari sini.” Ujar Sam Rin Hyo tak benar – benar jujur, lalu keluar dari mobil Kyuhyun. Ia melangkahkan dua langkah menjauh dari mobil itu, lalu berhenti. Membalikkan badan, bersamaan dengan mobil Kyuhyun yang melaju dengan sangat kencang. Langkahnya sedikit tergerak melihat mobil Kyuhyun yang melesat seperti mobil balap.

“Kau bisa kecelakaan jika terlalu kencang seperti itu.” gumamnya pelan. Ia menghela napas pelan, “Ini sudah berakhir.” Gumamnya lagi lalu menyeret langkah lemasnya menuju gedung apartemen.

***

“Berikan aku satu botol lagi.”

Titahan tajam yang keluar dari bibir tebal Cho Kyuhyun hanya bisa membuat kedua sahabatnya bergidik ngeri. Hyuk Jae menatap Donghae dengan alis terangkat, seperti meminta penjelasan. Namun pria itu hanya menggedikkan bahu tak mengerti.

Pelayan yang sejak tadi melayaninya kembali dengan satu botol wine lagi untuk Cho Kyuhyun. Ia menaruhnya dengan rapi diatas meja, lalu bertanya apa ada yang mereka butuhkan lagi dan mendapat jawaban tidak dari Kyuhyun sebelum pergi dari sana.

Lee Hyuk Jae dan Lee Donghae menatap Cho Kyuhyun yang langsung meminum wine-nya dari botol itu hingga membuatnya sempat tersedak. Donghae menghela napasnya berat, Cho Kyuhyun sudah lama tidak seperti ini. Dan terakhir ia terlihat hancur seperti ini saat gadis itu meninggalkannya menikah dengan orang lain.

Hyuk Jae kembali menatap Lee Donghae, seperti memberi kode kita harus melakukan sesuatu. Lee Donghae memejamkan kedua mata sejenak, membuka kedua mata dan menyuruh gadis – gadis yang bertugas menemani mereka itu keluar. Dengan wajah kecewa gadis – gadis yang sejak tadi mencoba menggoda Kyuhyun itu keluar.

Cho Kyuhyun masih terlihat tidak peduli dan tetap meminum wine-nya. Pria itu terlihat sudah mulai mabuk, ia menaruh botol wine-nya diatas meja dan hendak berdiri. Namun ia mengumpat kesal saat kakinya tersandung meja yang jaraknya memang cukup dekat dengan tempatnya duduk.

“Meja sialan, mengapa mereka mendekor ruangan VVIP ini dengan otak bodoh, huh?! Dasar bodoh! Aku harus menegur pemilik klab ini. benarkan, Donghae-ah?” racau Cho Kyuhyun seraya mencoba untuk kembali berdiri dengan mendorong meja yang terbuat dari kaca itu dengan kasar hingga menyebabkan botol wine-nya jatuh dan pecah. “Ck, sial!”

Donghae menggeleng pelan, diikuti dengan Lee Hyuk Jae yang menatap Kyuhyun bingung. “Sebenarnya kau kenapa, huh?!” tanya pria kurus itu akhirnya.

“Aku ingin protes pada pemilik klab, Lee Hyuk Jae! Bukankah aku sudah mengatakannya? Ck, kau membuatku mengulang ini dua kali.”

“Kyuhyun-ah! Kau sedang mabuk.” Kyuhyun melotot pada Donghae.

“Aku memang mabuk!! Lalu kenapa, huh?! Bukankah aku biasanya seperti ini?” tukas pria itu dengan nada tinggi.

“Sudahlah, hae! Percuma saja! Ia sedang tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan!”

“Aku masih sadar, Lee Hyuk Jae!! Kau pikir aku tidak kuat hanya dengan empat botol wine, huh?!” bentak pria itu pada Lee Hyuk Jae, lalu kepalanya terasa berat. Dan akhirnya pria itu tersungkur diatas sofa ruangan itu.

“Bukannya beberapa hari yang lalu pria ini sudah normal? Mengapa tiba – tiba kambuh lagi?” tanya Hyuk Jae pada dirinya sendiri seraya menatap Kyuhyun bingung.

“Lebih baik kita bawa dia kerumah lalu kita tanyai besok.”

***

Sam Rin Hyo keluar dari kamarnya dengan pakaian casual dan dipadu dengan make up tipis. Gadis itu mengetuk pintu kamar Shin Ji Eun beberapa kali dengan wajah datar. Hingga akhirnya Ji Eun keluar dari kamarnya, menatapnya dengan tatapan bingungnya.

Eo! Rin Hyo-ah, kau… mau kemana?” Rin Hyo tersenyum kecil-terlihat dipaksakan.

“Hari ini hari minggu, kau lupa?!”

“Ah… ya, ini hari minggu. Kau ikut? Maksudku, sudah lama kau tidak ikut bersama kami.”

“Tch, aku tidak boleh ikut?”

Anio. Aku… aku siap – siap dulu.” Pintu itu tertutup lagi. Sam Rin Hyo menghela napas dalam – dalam. Ingin sekali ia memaki Shin Ji Eun mau pun Lee Kikwang, namun selalu setelah ia menatap wajah kedua sahabatnya itu. Ia tidak bisa.

Ji Eun mungkin terkejut, karena tiba – tiba Rin Hyo bersikap seperti ini. mengingat sudah 3 minggu gadis itu selalu mengurung diri dikamar dan keluar hanya karena ada jadwal kuliah. Hanya berbicara sepenuhnya, dan sangat sulit untuk tersenyum. Selama itu ia berpikir, sebenarnya siapa yang salah? Dan siapa yang benar?

Lagipula, jika dipikir – pikir bukan Kikwang saja yang mengkhianatinya. Tapi ia juga mengkhianati Lee Kikwang. Ia sadar, selama ini ia hanya merasa nyaman dengan pria itu. Ia sadar, selama ini ia tidak pernah merasakan apa itu cinta. Dan kini ia sadar pula, bahwa ia mencintai Cho Kyuhyun. Sangat.

Shin Ji Eun keluar dari kamarnya, dengan mini dress warna merah yang terlihat sangat cantik. Rin Hyo tersenyum kecut melihatnya. “Ada apa denganmu hari ini? wajahmu cerah dan juga bajumu… seperti orang sedang jatuh cinta saja.”

Shin Ji Eun tersentak, lalu menggaruk tengkuknya gugup. “Ini… Rin Hyo-ah sebenarnya…”

“Aku ingin kesuatu tempat bersama kalian hari ini. dan membutuhkan waktu yang lama untuk kesana, jadi kita harus cepat.” Potong Sam Rin Hyo. Ia sebenarnya tahu Ji Eun ingin mengucapkan apa. Namun ia tidak ingin mendengarnya disini dan sekarang.

***

Sam Rin Hyo menarik napas dalam – dalam, kedua matanya terpejam saat ia mengeluarkan helaan napas itu panjang. Saat ia membuka kedua mata, ia bisa merasakan angin yang menghempas kuat namun damai. Membuat rambut panjangnya terbang kebelakang. Dan juga ia bisa melihat hamparan danau indah dari sini. Duduk menekuk lutut diatas rerumputan hijau.

Kikwang yang berada ditengah, dengan Shin Ji Eun disebelah kirinya hanya bisa menatap gelagat aneh Sam Rin Hyo. Namun  mereka tak bisa berucap apa – apa, karena mereka pun tak mengerti mengapa Sam Rin Hyo mengajak mereka ke Ilsan. Dan duduk bersama ditepi danau. Di Ilsan Lake park.

“Biasanya kita piknik disini, membawa sepeda berkeranjang dan memarkirnya disana.” Rin Hyo tersenyum kecil menatap 3 sepeda yang terparkir diluar area rumput. “Tapi sekarang kita hanya bisa menyewanya.” Kikwang dan Ji Eun masih diam, belum bisa menangkap situasi apa yang membuat Rin Hyo seperti ini.

“Ya, lalu malamnya kita sering menonton pertunjukan musik jalanan disini.” Timpal Ji Eun.

“Apa kau tidak merindukannya? Entahlah, setelah pindah ke Seoul. Aku sangat merindukan hal – hal itu.” Lee Kikwang dan Shin Ji Eun tersenyum kecil seraya mengangguk bersamaan. Sam Rin Hyo pun ikut tersenyum tipis melihatnya. “Kikwang-ah, kita berhenti saja. Aku tahu, kau mencintai Shin Ji Eun.” Kikwang menatap Rin Hyo dengan kedua mata melebar, begitu pun Ji Eun.

“Rin Hyo-ah kau…” Sam Rin Hyo segera melempar senyuman tulusnya pada Shin Ji Eun. Ia berpindah posisi, duduk dihadapan Kikwang dan Ji Eun.

Mianhe. Selama ini aku sudah menyakitimu, Ji Eun-ah!” Shin Ji Eun menggeleng pelan, kedua matanya sudah berkaca – kaca. “Dan kau Lee Kikwang! Sebenarnya, aku menerima pernyataanmu dulu karena aku merasa tidak ada salahnya menjalin hubungan denganmu. Tapi pada akhirnya, tidak ada perbedaan apapun. Semuanya berjalan sama saja seperti saat kita bersahabat.” Kikwang tersenyum kecut, mengangguk membenarkan ucapan Rin Hyo.

Sam Rin Hyo merogoh sakunya, mengeluarkan sepucuk surat yang dibungkus sebuah amplop merah. Dengan senyuman yang selalu terpantri dibibirnya, ia menaruh amplop itu tepat diatas telapak tangan Kikwang.

“Aku menemukan ini kemarin malam saat aku memasuki kamarmu, dan maaf aku baru tahu sekarang.” Ujar Rin Hyo seraya menatap Ji Eun penuh sesal. Sedangkan Shin Ji Eun hanya bisa memejamkan kedua mata frustasi, surat itu adalah surat yang ingin ia sampaikan pada Lee Kikwang satu tahun yang lalu.

Eo?! Ini suratmu, Shin Ji Eun? Woah, aku tidak tahu kau bisa menulis surat.” Ji Eun memukul kepala  Kikwang kuat.

“Kau pikir aku sebodoh kau?!” Sam Rin Hyo hanya bisa terkekeh ringan melihatnya, jujur ia senang.  Ia bahagia. Kikwang hanya bisa mendesis kesal seraya membuka amplop itu, alisnya terangkat. Membuat Ji Eun dan Sam Rin Hyo menunggu reaksi yang akan diberikan pria itu.

“Kau juga melipat kertas dengan baik.” Kini bukan hanya tangan Ji Eun yang melayang diatas kepala Kikwang, melainkan tangan Rin Hyo juga. Lee Kikwang memang selalu salah fokus saat menatap sesuatu, seringkali Rin Hyo dan Ji Eun tidak bisa menebak celetukan yang akan dilontarkan Kikwang.

“Aish! Kalian ingin aku membacanya atau ingin memukuliku hingga tulang tengkorakku bengkak?”

“Dasar bodoh! Bagaimana bisa tulang tengkorakmu bengkak!! Sudah baca saja!” maki Rin Hyo yang sudah kesal setengah mati. “Kau  merusak suasana.” Makinya lagi.

Kikwang menatapi Rin Hyo dan Ji Eun bergantian, lalu menghela napas berat. “Baiklah, aku akan—“

“Sebentar!” pekik Ji Eun saat Kikwang hendak membaca surat itu. sontak Kikwang dan Rin Hyo memfokuskan diri pada Ji Eun yang menatap keduanya dengan wajah aneh. “Jangan tertawakan isinya, apapun yang terjadi kalian jangan tertawa! Aku.l.. aku memang tidak pandai merangkai kata . jadi—“

“Aku tidak akan tertawa.” Tegas Lee Kikwang seraya menatap Ji Eun serius. Dan demi apapun, baru kali ini ia melihat wajah Lee Kikwang yang seperti itu.

“Aku tidak bisa berjanji, jadi lebih baik aku pergi! Oke! Aku pulang sendiri saja, ya? Annyeong! “ Sam Rin Hyo segera berlari pergi meninggalkan Kikwang dan Ji Eun. Alasan sebenarnya adalah bukan karena ia tidak bisa menahan tawanya, ia hanya ingin memberi ruang pada Kikwang dan Ji Eun.

“Ck, dia pembohong yang sangat buruk!” Kikwang mengangguk membenarkan.

“Dia bahkan berkata seperti itu dengan wajah serius, tidak bisa menahan tawa apanya?” timpal Kikwang dengan nada mengejek. Setelah itu ia melihat kertas yang sejak tadi ia pegang, kertas itu sedikit tertekuk karena tertiup angin. “Ah, aku… akan membacanya.” Wajah Ji Eun kembali memerah, gadis itu lebih memilih untuk menoleh kearah berlawanan seraya memeluk lututnya yang tertekuk.

Sedangkan Lee Kikwang mulai membacai satu persatu kata yang tersambung disana. Wajah yang sebenarnya sedikit menahan tawa itu lama kelamaan berubah menjadi tak terbaca. Bibirnya tertutup rapat, sedang matanya ia fokuskan pada kata – kata yang tertoreh disana.

“Ji Eun-ah!” Shin Ji Eun menoleh kearah  Kikwang yang menatapnya dengan terperangah. Dahinya mengernyit menatap wajah Kikwang yang seperti itu, namun setelah itu kedua matanya terbelalak saat Kikwang menciumnya secara tiba – tiba.

Saranghae, jeongmal. Shin ji Eun!” Ji Eun hanya berkedip dua kali sebelum Kikwang kembali menciumnya, dan kini ia pun larut pada ciuman itu.

Hai! Lee Kikwang! Aku Shin Ji Eun, ah tentu kau tahu aku! Bodoh!

Aku benar – benar merasa bodoh saat menulis ini, aku tidak tahu harus menulis apa. Jadi langsung saja pada intinya aku menyukaimu. Ya, seperti itu.

Aku sudah tidak tahan meliahtmu selalu berkeliaran disekitar gadis – gadis yang jelas – jelas tertarik padamu, rasanya seperti ingin menjambak rambut mereka dan mengatakan KAU JANGAN DEKAT – DEKAT DENGANNYA!

Seperti itulah yang kurasakan padamu. Perasaanku sederhana, aku ingin memelukmu saat kau menangis, aku ingin mengobatimu saat kau sakit, aku ingin memberimu makan saat kau lapar. Dan hal – hal kecil seperti itu lainnya.

Jadi, apa itu artinya aku menyukaimu? Entah. Sudah ya, ini bukannya aku ingin kau membalas perasaanku! Aku hanya ingin kau tahu tentang ini.

 

                                                                                                Shin Ji Eun-

 

 

***

Sam Rin Hyo menyusuri trotoar jalanan di Ilsan dengan senyuman tipis. Dan jangan lupa, ia sendirian. Namun untungnya ini masih siang, jadi tidak ada satu pun hal yang perlu ditakutkan.

Ia baru saja turun dari bus di halte yang paling dekat dengan stasiun kereta api bawah tanah. Halte dekat hotel yang pernah ditinggali Kyuhyun waktu itu, bersama seorang wanita satu malamnya.

Ah, aku jadi merindukannya. Sialan! Bodoh!

 

Langkahnya terhenti didepan hotel itu. C hotel, begitulah namanya. Saat pandangannya turun kebawah, kedua matanya melotot membaca tulisan yang tertera dispanduk yang terpasang jelas didepan pintu utama.

SELAMAT DATANG PRESIDEN DIREKTUR CHO

 

Setelahnya ia bisa melihat karangan – karangan bunga yang tertata disekitar pintu utama, semuanya menyatakan pujian pada Cho group sebagai pemilik sah hotel ini. Karena rasa penasarannya, ia akhirnya browsing di internet.

“Ah, jadi hotel ini baru dibeli Cho group dan hari ini peresmian nama baru hotel.” Gumamnya namun setelah itu tubuhnya terhuyung kebelakang saat seseorang mendorongnya.

“Maaf nona, mobil presdir setelah ini akan lewat.” Shin Ji Eun menatap seorang pria kekar yang mungkin saja seorang bodyguard dengan linglung. Setelah itu melihat sekeliling, ia mendesis lalu membungkuk pada pria itu dengan penuh sesal. Ia baru sadar jika sejak tadi ia berdiri ditengah jalan masuknya hotel.

Gadis itu berdiri dibelakang pria kekar itu, bodoh memang! Namun ia hanya ingin memeriksa apakah Cho Kyuhyun juga ikut kesini? Setidaknya ia ingin menatap wajah pria itu setelah hampir tiga minggu ia tidak melihatnya. Benar – benar tidak melihatnya, pria itu seolah ditelan bumi. Tidak pernah muncul didepannya atau sekadar menghubunginya.

Dua mobil sedan hitam datang dari tikungan kiri, membuat Rin Hyo semakin menajamkan kedua matanya. Namun sialnya lagi, ia tidak bisa melihat apapun karena disamping mobil itu melaju dengan tidak lamban, kaca itu juga gelap. Akhirnya, Rin Hyo yang sudah sangat merindukan Cho Kyuhyun memutuskan untuk memasuki hotel itu.

“Tapi bagaimana aku masuk?” gumamnya lagi dengan otak yang berpikir keras. Tiba – tiba kedua matanya melebar saat ia ingat sesuatu.

“Seharusnya aku yang harus pergi kesana. Tapi, aku harus ke Hungaria untuk pertemuan, jadi kutugaskan kau untuk pergi kesana!” Rin Hyo menerima sebuah undangan dari guru Jung dengan dahi mengerut.

“Untuk apa aku kesana?! Pasti banyak orang – orang tua. Aku tidak mudah bersosialisasi seperti itu!”

“Ini tugasmu! Kau hanya perlu memeriksa design interiornya dan juga nilai musik orchresta yang nanti akan tampil disana. Lalu laporkan padaku!” Mulut Rin Hyo hanya bisa menganga mendengar penuturan guru Jung.

“Kau lupa aku ini murid jurusan seni musik?”

“Aish pokoknya kau mewakiliku saja! Aku benar – benar tidak bisa menghadirinya, aku percaya padamu!”

“SAM!!!”

 

“Aku membawanya tidak, ya?”gumam Rin Hyo seraya merogoh tasnya, mengaduk – aduk isi tas dengan hati yang berdoa agar ia membawa undangan itu. Awalnya ia tidak tertarik sama sekali dengan undangan itu, ia berniat untuk mengarang laporan dengan hanya menatap interior hotel dari internet. Tapi sekarang? Ia benar – benar membutuhkan undangan itu.

Senyumannya melebar saat undangan itu sudah berada ditangannya, meski sudah sedikit lusuh tapi masa bodoh! Ia hanya ingin bertemu dengan Cho Kyuhyun. Ia menatap pakaiannya, menggeleng pelan saat melihat pakaiannya. Bukannya ia tidak suka, namun jika ia masuk dengan pakaian seperti ini pasti penjaga – penjaga itu tidak akan percaya.

Rin Hyo segera mencari butik terdekat, dan kembali ia bersyukur saat ia menemukan sebuah butik yang berada tepat disamping hotel. Ia segera berlari kecil memasuki butik itu. Namun isi dari butik itu benar – benar tidak sesuai dengan harapannya.

“Permisi, apa tidak ada gaun selain ini?” tanya Rin Hyo pada penjaga butik.

“Ah, maaf. Tapi hanya tinggal itu saja, nona.” Helaan napas berat gadis itu terdengar, gaun – gaun itu tergolong minim. Tak berlengan, ada yang berlengan namun diatas lutut, meski panjang tapi belahannya juga sangat panjang, ketat.

Sialan! Aku harus pakai yang mana?!

“Bisa saya bantu?”

“Aku harus menghadiri acara resmi dihotel itu, bisa kau pilihkan aku gaun yang tepat?” penjaga butik itu menatap tubuh Rin Hyo dari atas hingga bawah, berpikir sejenak lalu mengambil sebuah gaun berwarna hitam yang panjang-namun belahannya hingga mengekspos paha dan juga tak berlengan. Karena ia juga bingung harus memilih apa, Rin Hyo hanya bisa mengambil gaun itu dan memakainya diruang ganti.

Setelahnya, Rin Hyo keluar. Penjaga butik yang berparas manis itu menatap Rin Hyo terperangah, tubuh gadis itu benar – benar cocok dengan gaun itu.Tidak terlalu seksi tapi sangat pas dengan paras wajahnya. Dingin namun meneduhkan.

“Kau sangat cantik, nona! Aku akan memilihkan sepatu dan juga tasnya, setelah itu aku akan memberimu jasa make up.” Sam Rin Hyo hanya bisa menggaruk tengkuk melihat keantusiasan wanita penjaga butik itu saat melayaninya. “Ah iya, untuk jasa make up –nya saya gratiskan. Karena untuk anda tidak perlu make up yang tebal.” Rin Hyo hanya bisa mengangguk sekali dengan bingung.

***

Sam Rin Hyo berdiri tepat didepan pintu utama dengan jantung yang berdegup kencang, sepertinya ia sudah terlambat. tapi itu tidak penting, yang terpenting adalah ia bertemu Cho Kyuhyun. Itu saja.

Aku sudah gila! Cho Kyuhyun! Kau membuatku gila!

 

Setelah memperlihatkan undangan, Rin Hyo dipersilahkan untuk menuju auditorium yang berada dilantai paling atas. Sam Rin Hyo mengangguk lalu berjalan menuju lift. Sepanjang itu, banyak pria yang menatapnya tanpa kedip. Dan itu membuat ia risih sendiri.

Setelah menaiki lift ia akhirnya sampai pada auditorium. Dan lagi – lagi banyak pria yang menatapnya lapar. Sedangkan Sam Rin Hyo hanya bisa menatap kesekeliling.

Sam Rin Hyo.

 

Ini benar – benar bukan seperti diriku. Ya Tuhan!!! Bagaimana bisa aku memasuki gedung ini! aku hanya bisa berjalan mengelilingi gedung ini dengan kedua mata yang mencari keberadaan Cho Kyuhyun. Aish, ini semua karena aku sangat merindukan pria itu.

Langkahku terhenti begitu saja saat aku melihat ayah Cho Kyuhyun yang tengah menatapku, awalnya beliau tengah berbicara dengan beberapa orang lalu tiba – tiba berjalan kearahku. Aku hanya bisa menunduk seraya berjalan pelan berusaha menghindarinya.

“Sam Rin Hyo?” gaun sialan! Aku tidak bisa berjalan cepat! Setelah mengatur ekspresi wajah, aku berbalik menatapnya. Tersenyum kecil lalu membungkuk sopan.

Annyeong haseyo, presdir Cho!” sapaku sewajarnya. Pria paruh baya itu menatapku dengan selidik.

“Cho Kyuhyun yang mengundangmu?”

“Ah, aku datang atas nama guru Jung. Dosenku,  beliau memerintahku untuk menggantikannya.”

“Ah iya, ia bilang sekarang ia sedang di Hungaria?”

Ne, beliau sedang ada pertemuan penting disana.”Tuan Cho menegakkan lehernya seolah mencari sesuatu. Setelah menatap kebelakangku, ia melakukan gesture seperti memanggil seseorang. Aku mengikuti arah pandangku, dan saat itu rasanya jantungku berhenti berdetak. Disana ada Cho Kyuhyun dan dua orang pria yang sepertinya sangat dekat dengannya. Mereka menatapku terperangah, sedangkan Cho Kyuhyun ? pria itu menatapku tajam, tentu saja! Ia mungkin masih marah padaku. Terlihat dari rahangnya yang mengeras seperti ingin marah. Aku segera menatap kedepan lagi.

“Nona Sam datang kesini, atas nama guru Jung.” Ujar Tuan Cho seraya menunjukku pada Cho Kyuhyun. Aku melirik pria itu sebentar lalu menunduk sedikit.

“Lama tidak bertemu.” Ujarku tercekat. Suaraku pasti terdengar tidak normal. Aku kembali menatap Tuan Cho, terlalu takut untuk menatap pria itu.

“Mengapa canggung seperti ini? kalian sudah putus?”

“Ya, kami sudah putus appa!” aku tersenyum kecut, ya! Mungkin dugaanku benar !Cho Kyuhyun masih tetap Cho Kyuhyun. Dan aku? Pasti hanyalah gadis bodoh yang jatuh kedalam tipuannya.

“Sebelumnya maaf Tuan Cho, waktu itu aku sudah membohongimu. Sebenarnya, kami bukanlah sepasang kekasih. Waktu itu, aku mau saja saat ia meminta bantuan untuk mengaku sebagai kekasihnya agar anda dan Nyonya Cho tidak menjodohkannya.”

“Kau memang pintar berperan. Kau… pembohong yang patut diacungi jempol.” Tukasan tajam pria itu membuatku segera menoleh pada Kyhuyun. Aku menatap Kyuhyun yang tengah menatapku tajam dengan kesal.

“Maaf, Tuan Cho, Kyuhyun-ssi! Aku harus pergi!” Aku membungkuk lalu berjalan menjauh dari sana. Kedua mataku sudah berkaca – kaca, aku ingin pulang! Semua ini sia – sia!

Dengan langkah tergesa aku memasuki lift. Belum sampai lift tertutup, Cho Kyuhyun tiba – tiba ikut memasuki lift.  Cepat – cepat pria itu menutup pintu lift. Lalu menekan tombol untuk menghentikan lift.

Aku menatapnya tak terima, lalu tangan kananku tergerak hendak mengembalikan lagi seperti semula. Namun belum jariku menyentuh tombolnya, Cho Kyuhyun sudah menggenggam tanganku. Menarik pinggangku hingga tubuhku membentur tubuhnya. Setelah itu ia menciumku, sungguh! Aku sangat merindukannya. Dan aku tidak bisa menolak ciuman yang memabukkan itu.

Napasku sudah terengah, namun tidak ada gelagat pria itu untuk menghentikan ciumannya. Malah ciumannya semakin turun keleher, Ya Tuhan! Apa yang kulakukan?!

Aku segera mendorong tubuhnya kuat. Lalu menamparnya keras. Air mata yang sudah membendung itu akhirnya terjatuh, dengan cepat aku mengusapnya lalu kembali menjalankan lift.

“Karena ucapanmu tadi, aku akan benar – benar dijodohkan.” Aku segera menatap Kyuhyun dengan kedua mata melebar. Pria itu menatapku sendu. “Aku sangat merindukanmu, kau tahu itu?” aku masih diam seraya berusaha menahan air mata.

“Lalu?”

“Aku sangat mencintaimu, kau tahu itu?”

“Lalu?”

“Aku… benar – benar tidak bisa seperti ini. aku tidak bisa berpura – pura tidak mengenalmu, aku… jika kau menahanku kali ini saja. Jika kau mengatakan aku mencintaimu padaku kali ini saja. Aku akan berusaha menolak perjodohan itu.” kedua mataku melebar melihat wajah lelah dan lusuhnya itu.

“Jika aku tidak bisa?”

“Aku akan menerima perjodohannya.” Aku kembali menatap kedua matanya, tidak ada keraguan disana. Aku ingin mengikuti egoku untuk tidak kembali padanya, tapi aku takut kehilangan. Namun dilain sisi aku juga tidak bisa berkata ya.

“Aku… tetap tidak bisa.” Rahang Cho Kyuhyun mengeras, ia menunduk dalam lalu menatapku dengan nanar.

“Bisa aku memelukmu sekarang? Hanya kali ini?” Aku hanya diam saat ia merengkuhku erat. Rasanya sangat benar, tapi salah. Dan aku tidak tahu dimana letak kebenaran dan kesalahannya.

TING

 

Kami segera melepas diri, aku menatapnya sebentar lalu segera keluar dari lift. Dengan langkah besar – besar aku meninggalkan areal hotel, air mataku sudah mengucur deras. Tidak, aku harus bisa! Jika aku menerima Cho Kyuhyun, itu sama saja dengan menyakiti hati Shin Ji Eun. Bagaimana jika gadis itu berpikiran aku membantunya karena aku menyukai Cho Kyuhyun? Aish, ini menyebalkan.

Dan Cho Kyuhyun, aku juga mencintaimu juga sangat merindukanmu.
TBC-

Advertisements

48 thoughts on “Fake Love 6

  1. lho kog? aaaaa aku meweeeek 😦 ji eun sama kikwang, tapi ah sudahlah. aku yakin author punya kejutan dibalik ini semua *ehem hehee

  2. Ini perasaan aku aja ato emg ffnya gk panjang/? Cepet amet aku bacanya lg asik” baca eh tiba” udh tbc aja wkwk ><

    Udhlah rinhyo sama kyu aja gausah mikirin jieun, kan jieun udh sama gikwang :3

  3. Cinta mengapa harus berbohong? Cinta harus diakui dan diungkapkan. Ego melambung tinggi saat mempertahankan sebuah cinta. Cinta memang mampu mengubah segalanya. Tiada yang mustahil dalam sebuah cinta. Semua itu nyata.

  4. aaaaahhhhh rinhyo kenapa masih ngekeuh aja mikit kalo dia bakal nyakitin jieun padahal jieun kikwang aja udah bebas dari rinhyo? aaahh kesian cho kyuhyuuuun astaga kesian mereka berdua deng huhu asli abis ini gimana rinhyo kyuhyun perjuangin hubungan mereka disaat kyuhyun pasti dijodohin nanti huhu btw seneng bgt updatenya cepettt dan ditunggu selaluuuuu lanjutannyaa fighting!!

  5. kasian rin hyo dia serba salah…mau balik ma kyuhyun dia gk enak sma jieun tpi dia jga suka sma kyu…
    semoga rin hyo sama kyuhyun bisa bersama jdi kekasih yg sbnarnya…
    dtunggu next part.nya

  6. ngak nyangak, rin hyo dwasa skali. aku fikir dia bakal marah, trnyata dia bsa nrima. prshabatan memang mngalahkan sgalanya.
    rin hyo ngak harus ngorbanin prsaannya, aku yakin ji eun bakal ngerti kok dan ngedukung buat kbahagian rin hyo. ksihan kyu yg udh “ngemis” kya gtu tapi tetap aja d tolak

  7. udah rinhyo sm kyuhyun aja, ga usah mikirin perasaan jieun, orang jieun nya aja sm kikwang, btw kalo emang kyuhyun mau di jodohin, penasaran sm siapa dia di jodohinnya

  8. Huh….. agak sedih pas si kyuhyun bilang bakal menerima perjodohannya. Tp ttp ssemangat buat mereka. Semoga bakak balikan lg hehehehe

  9. Owhh ini bikin mewek.. 😦
    Ji eun nya kan sudah sama kikkwang.. Huaa harusnya rin hyo nya nerima kan.. 😦
    Okee di tunggu next part nya eonni..
    Fighting..!! 🙂

  10. Rin hyo mah gitu bgt sih ngapain mikirin prasaan ji eun gdis itu aja menykitinya . Hrsy trima ja kyuhyun biar jieun tau klo dy jg bisa mnghianatiy . Huwaaa rinhyonya lg nggalon

  11. Ya kasihan banget liat hubungannya sam rin hyo sama kyuhyun , aduh seharusnya rin hyo terima aja kyuhyun.nggak kebayang sakitnya sam rin hyo kalau nanti liat kyuhyun nikah
    Next

  12. aadduuuhh kenapa jadi rumit begini yyaa kisah cinta mreka…

    kasian si cho, udah direla2 in kyak gitu…
    udah berubah kayak gitu…
    tapi rinhyo tetep aja keras kepala…
    apalagi sih hyyoo yg bikin kamu enggk nrima si cho… kasian nnoohh.. 😭😭😭

  13. ya mpun rin hyo kasian bgt..
    Dia pasti sgt tersiksa dgn rasa rindunya ke kyuhyun,
    smoga saja ji eun bsa mengerti perasaan rin hyo dgn mengesampingkan dendamnya pada kyuhyun

  14. arghh… kenapa rin hyo tidak jujur saja kalo dia juga mencintai kyuhyun…
    ini tidak adil, kikwang dan ji eun sudah bahagia dengan cinta mereka, lalu bagaimana dengan rin hyo?

  15. Yahhhb pleaseee kyuhyun jgn nerima perjodohannya dong kasian rin hyo, masa idah ngerelain kikwang trs harus keilangan kyuhyun jg huhuhu

    Duhhh lagian si rin hyo jujur ajansih sm kyuhyun blg klo dia jg cinta yp ga enak sm ji eun, siapa tau kan kyuhyun nanti bantu buat ngomong ke ji eun

  16. Kok rin hyo gak seemosi aku ya ? Aku beneran loh emosi, kok bisa”y rin hyo masih mikirin perasaan ji eun kalu dia sama kyuhyun, tapi ji eun dan kikwang, ah aku kok gk terima ya kikwang sama ji eun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s