Unexpected Bond 8

unexpected bond

Author: Bella Eka.

.

.

Langkah Ji Eun terhenti saat mendapati seorang gadis berada dalam mobil Kikwang yang terparkir.

“Untuk apa Park Jiyeon ada disana?” tanya Ji Eun dingin tanpa menatap Kikwang.

“Itu—“

“Ah, untuk itu kau minta aku tidak salah paham? Keure, arasseo, ujar Ji Eun memotong ucapan Kikwang membuat pria itu mengacak rambutnya gusar.

Lee Kikwang menempati kursi pengemudi dan Ji Eun duduk tepat di belakangnya. Sementara disamping Kikwang terdapat Jiyeon tampak terkejut dengan kedatangan Ji Eun tiba-tiba.

“Kenapa kau membawa gadis itu kemari?”

Kikwang tak merespon, ia sibuk mengenakan sabuk pengaman. Jiyeon beralih menghadap kearah belakang. Tepat menatap Ji Eun tajam.

Ya! Bagaimana bisa kau bersama Kikwang?”

Ji Eun tak bergeming. Gadis itu duduk bersendekap angkuh seraya memandang keluar jendela mobil.

YA!

Aish! Sikkeureo! gerutu Ji Eun lantas mengeluarkan headset dari dalam tas jinjingnya. Mengaitkan benda berkabel putih yang terhubung dengan ponselnya itu pada kedua telinganya.

“Shin Ji Eun!”

Eo? Kau berbicara padaku?” Ji Eun melepas sisi kiri headset dari telinganya kemudian menatap datar Jiyeon yang melotot padanya.

“Bisakah kau diam, Park Jiyeon?” tegur Kikwang yang mulai memijak pedal gas. Membuat Jiyeon mendengus seraya kembali menghadap depan. Sementara Ji Eun tersenyum tipis.

“Apa kau lapar? Menunggu sendirian pasti terasa sangat lama.”

Shin Ji Eun membeku saat hendak memutar musik dalam ponselnya. Terhenyak karena perhatian yang Kikwang berikan pada Jiyeon.

“Tentu saja. Walaupun aku telah makan banyak masakan eomma di Busan tadi, tapi perutku sudah sangat lapar sekarang.” Jiyeon menoleh ke belakang, tersenyum miring pada Ji Eun yang menatapnya datar. “Terimakasih sudah menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama eomma di Busan, Kikwang-ah.

Ji Eun menghela napas pendek. Mengemasi ponsel serta headset-nya ke dalam tas.

“Turunkan saja aku disini, Lee Kikwang-ssi.

“Setidaknya kita makan malam dulu, Ji Eun-ah. Kikwang menatap Ji Eun bingung melalui kaca spion.

“Tidak, terimakasih. Aku sudah makan malam baru saja. Kau bisa menghentikan mobilmu sekarang.”

Kikwang menoleh sejenak ke belakang menatap ekspresi dingin Ji Eun secara langsung. Kemudian menghela napas panjang. “Apa yang ingin kau makan, Jiyeon-ah?

Tteokbokki! Sudah lama kita tidak kesana bersama. Saat terakhir aku kesana, bibi penjual menanyakanmu padaku.”

“ Benarkah?”

Eo! jawab Jiyeon sembari melirik Ji Eun membuat gadis itu mendecih kecil.

“Baiklah.” Kikwang mengangkat tangan kiri memeriksa arloji. “Kita bungkus saja untuk kau bawa pulang. Sekarang sudah sangat malam.”

Wae? Sekarang masih pukul sepuluh.”

“Jika kita kesana, bukankah akan menjadi sangat malam?”

Jiyeon mendesah kecewa. Sedangkan Ji Eun yang memaku tatapan keluar jendela tak peduli lagi, ia hanya ingin segera meninggalkan situasi ini.

***

Lee Kikwang berulang kali memerhatikan kaca spion memastikan Shin Ji Eun. Baru saja mereka mengantarkan Jiyeon sampai rumah, dan kursi disamping Kikwang kosong sekarang. Ji Eun tetap duduk di belakang tanpa melakukan apapun. Melamun sendiri menikmati suasana malam dari dalam mobil.

“Kau tidak ingin pindah tempat di sampingku?”

Ani, jawab Ji Eun singkat.

Wae?

Geunyang, sirheo.

Kikwang menghembus napas cepat seraya memejam frustasi. Ia tak suka sikap Ji Eun yang seperti ini. Pria itu menepikan mobil dan berhenti.

“Duduklah di sampingku.”

“Tidak perlu.”

“Aku Lee Kikwang, bukan sopir Kim.”

“Aku Shin Ji Eun, bukan Park Jiyeon.”

Kikwang menoleh cepat kearah Ji Eun. Mwo?

“Kau tahu itu, kan?”

“Sepertinya kau benar-benar salah paham, Ji Eun-ah.

Ji Eun balas menatap Kikwang. “Memangnya itu penting? Bukankah lebih baik aku yang salah paham dibanding Jiyeon yang menyalah pahami hubungan kita?”

Kikwang terperangah tak percaya. “Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Lagipula bukankah itu yang memang kau inginkan?”

Ji Eun mendengus melempar tatapannya ke samping. “Ya, kau benar.”

“Kenapa kau kembali menjadi sangat menyebalkan?”

“Haruskah aku meminta maaf? Kau tahu aku memang seperti ini.”

Kikwang menghembus napas kasar. “Terserah saja,” ucapnya singkat lalu melajukan mobil kencang.

***

Shin Ji Eun memasuki ruang broadcasting sekolah. Memberi selembar kertas kecil pada DJ radio sekolah yang sedang bertugas.

“Umumkan ini segera,” titahnya datar lantas segera meninggalkan ruangan. Namun saat gadis itu baru membuka pintu, Woobin berdiri menyaku tangan menghadangnya dengan tatapan tajam khas seorang Kim Woobin.

“Ada apa?”

Saengil chukhahae, ujar Woobin datar.

Gomawo, balas Ji Eun tak kalah datarnya.

“Kau harus menjelaskan semuanya padaku.”

“Apa yang harus kujelaskan?” Ji Eun berjalan cepat menerobos celah sisi kanan Woobin. Dengan mudah Woobin menyusul gadis itu dengan langkah besarnya.

“Apa saja yang kau lakukan bersama Lee Kikwang hingga pulang selarut itu kemarin malam?”

Ji Eun mengernyit. Menghentikan langkah dan berbalik cepat menghadap Woobin. “Bagaimana bisa kau tahu? Tapi, selarut itu? Kemarin tak lebih larut dari yang biasa kita lakukan, Woobin-ah.

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Lee Kikwang?”

“Kau tak perlu tahu.”

“Atau aku harus bertanya langsung padanya? Dengan cara yang biasa pria lakukan, huh?”

“Ini tidak ada hubungannya denganmu.”

“Semua yang berkaitan denganmu, ada hubungannya denganku.”

Ji Eun mendongak menatap Woobin lekat. “Sebenarnya apa yang kau harapkan dariku?”

Woobin terdiam. Bibirnya sontak kaku tak berucap apapun. Tatapannya pun melunak tak setajam sebelumnya.

Ji Eun menghela napas pendek kemudian menepuk bahu kiri Woobin dua kali. “Kau hanya perlu menunggu waktu,” ucapnya lantas berbalik melanjutkan langkah.

***

Sam Rin Hyo berusaha menenggelamkan seluruh perhatiannya ke dalam buku novel yang ia baca. Namun berulang kali gadis itu memejam frustasi. Kekacauan yang terjadi antara dirinya, Kyuhyun, Ji Eun, dan Jong Suk terus memenuhi pikirannya. Apa yang harus ia lakukan setelah ini?

Menyendiri dalam taman sekolah seperti ini tak menyelesaikan masalah. Namun tetap saja Rin Hyo tak tahu bagaimana cara mengembalikan semua sedia kala.

“Bagaimana ini…” gumamnya lantas menghirup udara sebanyak-banyaknya berusaha menghilangkan beban yang dirasa bersamaan napas yang dihembusnya.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tiba-tiba suara pria terdengar. Rin Hyo sontak menoleh ke asal suara dengan kedua mata melebar.

“Jong Suk-ah?

“Apa yang membuatmu menghela napas seberat itu?” Jong Suk perlahan menghampiri Rin Hyo dan duduk di samping gadis itu.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Rin Hyo pelan.

“Sangat baik. Seperti yang kau lihat,” jawab Jong Suk seraya mengulas senyuman manis.

“Syukurlah.” Rin Hyo tersenyum tipis. Menatap Jong Suk beberapa detik kemudian bangun dari duduknya.

“Mau kemana kau?” heran Jong Suk.

“Perpustakaan. Aku harus mengembalikan novel ini,” ucap Rin Hyo cepat dan segera beranjak.

“Bukan karena kau ingin menghindariku?”

Langkah Rin Hyo terhenti bersamaan kedua matanya melebar.

“Kau pergi karena berusaha menghindariku, kan?” Jong Suk menyusul langkah Rin Hyo dan berdiri di hadapan gadis itu.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Kenapa kau sengaja menghindariku? Karena Shin Ji Eun?”

Mwo? Tentu saja tidak.” Rin Hyo mengalihkan pandangan ke samping menghindari tatapan Jong Suk.

“Lalu? Karena Cho Kyuhyun?”

“Jong Suk-ah. Rin Hyo mengembalikan tatapannya pada Jong Suk. Gadis itu menatapnya lekat. “Apa kau tidak merasa hubungan persahabatan kita sedang kacau saat ini?”

Jong Suk mengernyit. “Mungkin hanya perasaanmu saja.”

“Tidak. Jujur saja, aku merasa persahabatan kita tidak sebaik yang semua orang kira. Sebenarnya hubungan kita selalu terkena masalah karena cinta. Kau tidak sadar itu?”

Jong Suk meneguk ludah berat. Ucapan Rin Hyo membuatnya tertegun.

“Kau juga merasakannya, kan? Itulah mengapa kau tiba-tiba diam.”

“Ya,” sahut Jong Suk. “Kau benar. Dan aku mencintaimu.”

Sontak Rin Hyo terperanjat. Jong Suk mengungkapkan perasaannya secara jelas untuk pertama kali. “Tidak, kau hanya merasa nyaman denganku.”

Jong Suk mengangguk pelan seraya menatap Rin Hyo sendu. “Sudah kuduga responmu akan seperti ini. Baiklah, terserah bagaimana kau menanggapi perasaanku.”

“Lebih baik kita menjaga jarak hingga hubungan persahabatan kita semua membaik. Dan agar kau menyadari perasaanmu yang sebenarnya.” Rin Hyo menghela napas gusar. Benar-benar bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Gadis itu memutuskan untuk beranjak. Berjalan cepat menghindari Jong Suk yang terus menatapnya sendu.

***

“Apa yang kulakukan benar? Apa Jong Suk akan baik-baik saja?” Rin Hyo menggumam dalam perjalanannya menuju perpustakaan. Tak seperti biasaya, gadis itu berjalan menunduk di tengah lorong sekolah.

Ding dong deng

 

Rin Hyo berhenti mendengar penanda pengumuman dari pusat broadcasting sekolah. Bersamaan itu ia mendapati Shin Ji Eun yang juga menghentikan langkah di ujung lorong. Kedua gadis itu saling menatap dalam diam. Berbeda dengan tatapan ragu Rin Hyo, sorot mata Ji Eun begitu dingin.

Mohon perhatiannya untuk seluruh siswa TJ High School. Shin Ji Eun akan mengadakan pesta ulang tahunnya nanti malam. Bagi kalian yang ingin datang, acara dimulai pukul delapan malam di Florina Restaurant lantai tiga. Kamsahamnida.

 

Sam Rin Hyo lekas memeriksa ponselnya. Mendengus karena baru teringat bahwa hari ini adalah tanggal ulang tahun Shin Ji Eun. Suara tapak kaki semakin terdengar mendekat, tentu saja itu Shin Ji Eun. Gadis itu melewati Rin Hyo begitu saja dengan pandangan lurus ke depan tanpa menghiraukan Rin Hyo yang menatapnya diam-diam.

“Ji Eun-ah! Dari arah belakang Ji Eun, Kyuhyun menyusul gadis itu. Dalam sekejap tubuh Rin Hyo membeku saat Kyuhyun melewatinya cepat.

“Kau sudah menerimanya?” tanya Kyuhyun begitu berhenti di hadapan Ji Eun.

“Menerima apa maksudmu?”

Mwo? Kau benar-benar belum menerimanya?!” Kyuhyun segera mengeluarkan ponsel dengan wajah panik. “Aku harus meminta pertanggung jawaban.”

Ji Eun tak sanggup lagi menahan tawanya. “Hei, bagaimana bisa kau tahu aku sangat menginginkan kursi pijat?”

Aish! desis Kyuhyun. “Kau membuatku panik saja. Bagaimana? Kau suka?”

“Tentu saja! Jeongmal gomawo, Kyu! Itu adalah kado terbaik tahun ini.” Begitu saja Ji Eun menepuk pipi Kyuhyun dua kali seraya tersenyum manis.

“Hanya tahun ini? Tch! decih Kyuhyun. Ji Eun terkikik kecil.

Tada! Kyuhyun mengeluarkan dua lembar kertas dari sakunya. “Ini adalah dua tiket bioskop untuk besok,” ujar Kyuhyun dengan ekspresi sumringah. Namun wajah Ji Eun datar kembali.

“Kau ingin nonton bersamaku?”

Mwo? Jadi kau tidak mau?”

“Ji Eun­-ah, panggil Rin Hyo pelan. Ji Eun dan Kyuhyun berubah canggung saat Rin Hyo menghampiri mereka.

Saengil chukhahae. Maaf aku baru ingat jika hari ini adalah ulang tahunmu.”

Eum. Gwenchana. Gomawo. Ji Eun mengangguk singkat. “Baiklah kalau begitu aku pergi dulu.”

“Tunggu!” Kyuhyun meraih tangan Ji Eun dan menggenggamkan dua tiket bioskop itu. “Ambil saja semua. Kubeli semua ini untukmu.”

Ji Eun tersenyum lebar. “Kamsahamnida, Kyunnie.

Ya! Jangan memanggilku seperti itu! Menjijikkan!”

Bye! Ji Eun hanya terkekeh geli lantas meninggalkan Kyuhyun dan Rin Hyo sendiri.

Senyuman Kyuhyun seketika hilang saat tatapannya bertemu Rin Hyo. Kemudian berdehem pelan saking canggungnya. Rin Hyo pun begitu, gadis itu mengedarkan pandangan tak tentu arah.

“Kau datang ke pesta ulang tahun Ji Eun nanti, kan?”

Eo? reflek Rin Hyo seiring tubuhnya berjengit. Bahkan gadis itu tak mengira Kyuhyun akan berbicara padanya karena buruknya hubungan mereka saat ini. “Tentu saja,” sambungnya.

“Sampai nanti. Aku pergi dulu,” singkat Kyuhyun sebelum beranjak.

Sam Rin Hyo menarik napas dalam. Sikap Cho Kyuhyun benar-benar menandakan bahwa hubungan mereka kini hanya sekadar teman. Hal itu membuat senyuman miris terpatri di bibir gadis itu.

Tanpa sengaja Rin Hyo menangkap basah beberapa gadis yang sedari awal mengamati dirinya juga Ji Eun dan Kyuhyun. Membuat mereka tampak salah tingkah bahkan seorang gadis yang tengah meneguk minuman terbatuk karena terkejut. Rin Hyo menatap tajam satu per satu dari mereka sebelum melangkah pergi.

“Apa hubungan mereka sedang tidak baik?” bisik salah seorang gadis dari kerumunan penguping itu.

“Baguslah. Dengan begitu tidak ada lagi yang sok berkuasa di sekolah ini,” tanggap gadis lainnya seraya tersenyum miring.

***

Park Ji Yeon mendatangi Kim Woobin di atap balkon gedung sekolah dengan membawa dua cup orange juice. Gadis itu memberikan segelas untuk Woobin seraya berkata, “Kubawakan minuman ini karena aku tahu hatimu sedang panas saat ini.”

Woobin tersenyum separo sembari menerimanya. Gomawo.

“Aku sudah menanyakan langsung padanya tapi Ji Eun tetap tak mau menjelaskannya padaku. Memang apa yang mereka lakukan kemarin?” ujar Woobin tak basa-basi lebih lama lagi.

Ji Yeon meminum minumannya sejenak. Kemudian menjawab, “Aku tidak begitu yakin. Tapi yang kutahu mereka keluar bersama dari sebuah restoran.”

“Makan malam bersama?”

“Sepertinya tidak, karena Kikwang baru mengajaknya makan malam saat bersamaku.”

“Lalu?”

“Entahlah. Aku juga tidak tahu.” Jiyeon menggedikkan bahunya.

“Sedekat apa mereka?”

“Aku yakin mereka memiliki hubungan tertentu. Sebelum masuk ke dalam restoran, Kikwang berkata jika ada pertemuan penting disana. Dan ia kembali bersama Shin Ji Eun.”

Woobin mengernyit. “Pertemuan penting itu melibatkan Shin Ji Eun?”

“Aku juga berpikir begitu.”

“Kenapa tidak kau tanyakan saja langsung pada Kikwang?”

Jiyeon menghela napas. “Percuma saja. Kikwang pasti akan menjawab sama seperti Ji Eun. Apa kau juga merasa ada yang disembunyikan dari mereka?”

Woobin mengangguk ragu. “Tapi aku tidak tahu apa itu sampai sekarang.”

“Jadi apa yang bisa yang bisa kita lakukan sekarang?”

“Sebenarnya aku penasaran akan sesuatu. Kenapa kau sangat menyukai Kikwang jika kau tahu dia bukanlah orang yang baik?” Tatapan Woobin mengintimidasi Jiyeon membuat gadis itu mendadak gugup.

“Kau lupa? Aku sudah menjawab ini sebelumnya. Aku telah jatuh terlalu dalam padanya. Kau tahu istilah cinta buta, kan?”

Woobin sedikit memiringkan kepalanya tanda tak mengerti. Namun tak lama ia mengangguk pelan walau wajahnya tetap curiga.

***

Di tengah suasana pesta yang ramai didatangi siswa TJ High School, Sam Rin Hyo berdiri seorang diri sembari membawa segelas minuman. Tatapan kosong gadis itu terfokus pada minuman berwarna merah yang ia bawa di tangan kanannya.

“Seharusnya aku tidak usah datang saja,” gumamnya kemudian menghela napas seraya mengedarkan pandangan. Tanpa sengaja mendapati Kyuhyun tengah berbincang bersama seorang pria. Kelopak mata Rin Hyo berkedip lemas. Wajahnya berubah sendu.

Tak lama Kyuhyun menyadari tatapan Rin Hyo. Sorot mata pria itu sungguh sulit diartikan. Lekat, lembut, namun juga sangat tajam hingga membuat napas Rin Hyo tanpa sadar tertahan.

Tatapan terpaku Kyuhyun pada Rin Hyo membuat pria yang sedang berbincang dengannya merasa aneh dan menoleh.

She is Sam Rin Hyo, isnt she? tanya pria itu.

Yeah, jawab Kyuhyun sekenanya sembari mengalihkan pandangan.

Hey, Sam Rin Hyo! Come here. Pria itu melambaikan tangannya pada Rin Hyo.

Rin Hyo yang baru mengenali pria itu setelah menoleh padanya, tersenyum ramah dan melambaikan tangannya pula. Karena pria itu tak asing lagi baginya, dia adalah saudara terpandai Ji Eun yang tengah berkuliah di Harvard University.

Oraenmaniya, Song Joong Ki oppa, sapa Rin Hyo begitu menghampiri pria itu sedangkan pada Kyuhyun gadis itu menatap canggung.

“Semakin cantik saja kau, Sam Rin Hyo,” puji Joong Ki tersenyum manis. Rin Hyo pun melebarkan senyumannya.

“Sejak kapan kau kembali ke Korea, oppa?

“Tadi sore baru saja aku sampai.” Tatapan Joong Ki teralih kearah belakang Rin Hyo. “Itu dia pemeran utama malam ini,” tunjuknya pada Ji Eun yang muncul dengan wajah dingin gadis itu.

“Kau datang?” sambut Ji Eun begitu sampai disamping Joong Ki.

“Dasar tidak sopan.”

“Tidak biasanya oppa kembali ke Korea hanya untuk acara seperti ini.”

“Aku juga tidak tahu mengapa semua mendesakku untuk pulang hanya karena pesta ini.”

“Seharusnya kau tak perlu datang.”

“Bahkan semua anggota keluarga besar kita datang malam ini.”

“Acara seperti ini sangat melelahkan,” kesal Ji Eun.

Di tengah obrolan Ji Eun dan Joong Ki, Rin Hyo dan Kyuhyun saling menghindari tatapan satu sama lain. Namun Kyuhyun diam-diam melirik Rin Hyo tanpa sepengetahuan gadis itu, begitupun sebaliknya.

Hyung! Jong Suk bergabung mendatangi Joong Ki. “Kapan kau datang?”

“Sore tadi. Sekarang semua sudah berkumpul disini, tapi dimana Woobin?”

“Entahlah, mungkin sedikit terlambat,” jawab Jong Suk. Sedangkan Ji Eun mengalihkan pandangan seolah tak mendengar. Saat itu juga, Ji Eun bertemu tatap dengan Kikwang yang berada di tepi kolam. Segera saja gadis itu berpura-pura tak menemukan Kikwang.

“Acara inti segera dimulai. Dimohon perhatiannya,” ujar seorang MC pria yang berdiri diatas podium. Suasana pun berubah sunyi. Berdirinya Shin Ji Eun disinari lampu sorot putih yang berasal dari panggung membuat gadis itu menjadi pusat perhatian. Gaun merah dengan rangkaian berlian yang dikenakan gadis itu tampak gemerlap indah. Rambutnya pun cantik berkilauan. Namun tatapan malas di wajah cantiknya menambah kesan angkuh dalam diri gadis itu.

“Shin Ji Eun-ssi dipersilakan untuk naik ke panggung.”

Ji Eun berjalan pasti dengan lampu sorot yang terus mengikuti keberadaannya hingga menaiki tangga dan berdiri tepat di tengah panggung.

Saengil chukha hamnida, saengil chukha hamnida, saranghaneun uri Ji Eun, saengil chukha hamnida.

Semua orang menyanyikan lagu untuk Shin Ji Eun seraya bertepuk tangan, gadis itu hanya tersenyum tipis dan mengikuti tepukan berirama seperti yang lainnya. Tiba-tiba nyanyian selamat ulang tahun itu terhenti, wajah orang-orang juga tampak terperangah menatap ke sisi kiri panggung. Shin Ji Eun mengernyit bingung lantas mengikuti arah pandang mereka.

Kedua mata Ji Eun sontak melebar mendapati Kikwang muncul sembari membawa kue tart untuknya. Tak seperti Ji Eun, Kikwang dengan santai menghampiri gadis itu.

“Untuk apa kau—“

“Tiup saja lilinnya.” Kikwang memotong ucapan Ji Eun. Gadis itu menatap sekeliling dimana semua orang memandangnya tak percaya. Terkecuali keluarga mereka tersenyum bahagia. Namun di ujung paling jauh, Kim Woobin tampak menatap tajam membuat Ji Eun meneguk ludah berat.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi Ji Eun segera meniup lilin. Sedetik masih tetap hening, tepukan tangan MC menyadarkan semua orang hingga terdengar tepuk tangan meriah sekarang.

“Bagaimana perasaanmu, Shin Ji Eun-ssi? Kau sudah memasuki usia 18 tahun sekarang.” MC memberi mikrofon pada Ji Eun. Gadis itu menatap Kikwang dengan gerakan kaku. Walau ia tahu pertunangan akan dilangsungkan malam ini namun tetap saja segalanya masih terasa mimpi.

“Katakan sesuatu,” ujar Kikwang membuyarkan lamunan Ji Eun. Ji Eun berdehem pelan melemaskan pita suaranya yang sejenak tercekat.

Ji Eun menghadap depan kemudian menghela napas dalam. Apapun yang akan terjadi setelah malam ini membuatnya berdebar. Entah sikap Woobin yang semakin dingin, entah reaksi sahabat-sahabatnya, atau gosip-gosip yang tentu dengan cepat menyebar. Pikiran Ji Eun dipenuhi kekhawatiran saat ini.

Tangan kiri Ji Eun tiba-tiba terasa menghangat. Membuat gadis itu membatu di tempat. Kikwang menggenggam tangannya di depan teman-teman satu sekolahnya, di depan banyak pewaris perusahaan lainnya.

“Apa yang terjadi?” Rin Hyo kebingungan masih belum mampu membaca situasi.

“Ternyata seperti inilah cara mereka menjelaskan semuanya,” timpal Kyuhyun tampak menahan emosi.

“Ah, jadi dia yang akan menjadi tunangan Ji Eun,” tebak Joong Ki.

“Tunangan?!” pekik Rin Hyo reflek bersamaan kedua matanya membulat. Kyuhyun mendecih remeh.

Sedangkan Kim Woobin mengepalkan kedua tangannya kuat dengan bibir mengatup rapat. Matanya yang tajam terlihat menyeramkan. Dengan cepat tangannya membuka kancing teratas kemeja hitamnya.

Park Jiyeon yang berada disamping Woobin pun sama. Bola mata gadis itu memanas cepat dan berubah merah. “Aku ke toilet sebentar.”

Shin Ji Eun melepas tangannya dari genggaman Kikwang kemudian mulai mengangkat mikrofon. “Terimakasih telah datang. Aku sangat menghargai waktu kalian. Untuk Lee Jong Suk, aku sangat menyayangimu jadi jangan lagi membuatku khawatir. Cho Kyuhyun, aku mencintaimu karena kau adalah versi pria dari diriku. Sam Rin Hyo, aku tahu sekarang adalah waktu yang sulit bagimu. Kim Woobin…” Ji Eun menarik napas dalam lantas melanjutkan, “Maaf dan terimakasih.”

Tepuk tangan meriah kembali menggema. Setelah kembali hening, Ji Eun menatap Kikwang lama sebelum mengangkat mikrofonnya lagi.

“Dan untuk Lee Kikwang… selamat datang.”

***

Shin Ji Eun memeluk kedua lututnya yang tertekuk dalam selimut. Gadis itu menghabiskan waktunya dari semalam hingga pagi ini diatas ranjang dengan menatapi cincin putih yang tersemat di jari manis kanannya. Wajah letih dipadu tatapan kosong gadis itu membuat penampilannya yang terbalut piyama tampak menyedihkan.

Setelah pertunangan dirinya dan Kikwang kemarin, semua yang ia khawatirkan benar terjadi. Woobin meninggalkan acara sebelum sepenuhnya usai. Kyuhyun hanya mengucap selamat singkat kemudian pergi. Dan Rin Hyo yang merasa tidak nyaman sedari awal, tak mampu berucap apapun dan hanya memberi pelukan pada Ji Eun dengan air mata berlinang sebelum pergi.

Berbagai gosip menyebar secepat kilat. Tidak hanya di kalangan TJ High School, namun juga di seluruh negeri ini. Pertunangan antara dua pewaris perusahaan terbesar Korea, tentulah menjadi headline terpanas di kalangan perusahaan hari ini.

Shin Ji Eun menghembuskan napas berat. Jauh dalam lubuk hati gadis itu, ia sangat membenci pusat perhatian. Hingga karena terlalu membencinya membuat gadis itu terkesan tertutup, angkuh, dan dingin.

Drrt drrt

 

Tangan lemah gadis itu meraih ponsel diatas nakas. Memeriksa sebuah pesan yang baru saja masuk.

From: Kim Woo Bin

 

Mari kita bicara. Kutunggu di Sungai Han.

 

***

“Lebih baik ahjussi kembali pulang saja. Sepertinya aku akan lama disini,” ucap Ji Eun sesampainya di Sungai Han.

“Tapi langit kelihatan mendung, Nona.”

“Akan kuhubungi jika terjadi sesuatu,” ujar gadis itu menenangkan Kim ahjussi lantas membuka pintu.

Tubuh gadis itu lekas diterpa hembusan angin dingin begitu keluar dari mobil. Tangannya bergerak mengeratkan mantel coklat sepanjang lutut yang ia kenakan. Kemudian berjalan pelan menuruni tangga semakin mendekati Sungai Han.

Di sisi kiri tangga paling dasar, Ji Eun mendapati seorang pria bermantel hitam tengah duduk disana. Gadis itu berhenti dan menghela napas sejenak. Menatap punggung pria itu dengan pandangan lelah.

“Kenapa kau tidak berpaling saja, Kim Woobin?” gumam Ji Eun lalu mendekati pria itu.

Saat Ji Eun berdiri tepat di anak tangga yang sama, Woobin hanya sekadar menatap gadis itu. Mereka berpandangan sekilas sebelum Woobin kembali menatap depan. Ji Eun menghembuskan napas kasar seraya mendaratkan tubuhnya disamping Woobin.

“Sudah lama?”

“Tidak juga.”

Ji Eun memegang tangan Woobin yang tergenggam menjadi satu. “Kau sudah lama,” tukas Ji Eun karena suhu tangan Woobin terlampau dingin.

“Aku tidak ingin kau sakit setelah ini jadi aku tidak akan lama. Jelaskan apa yang terjadi kemarin, Shin Ji Eun.”

Kelopak mata Ji Eun berkedip cepat dua kali saat menatap Woobin karena nada tegas serta tatapan mengintimidasi pria itu.

“Penjelasanku adalah semua yang kau lihat kemarin malam,” jawab Ji Eun begitu saja. Membuat kilatan mata Woobin kembali hingga jantung gadis itu berdegup kencang sekali. Tidak seperti Shin Ji Eun biasanya yang selalu tenang.

“Jadi tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi padaku? Kau bahkan tidak ingin memperbaiki kesalah pahaman yang ada dalam pikiranku?”

“Bukan itu. Tapi semua sudah terlalu jelas jadi aku tidak tahu apa lagi yang harusnya kujelaskan.”

“Sungguh, Shin Ji Eun yang ada dalam pikiranku sangatlah buruk sekarang.” Senyuman patah Woobin terulas. “Sebenarnya aku memberikan kesempatan untukmu memperbaikinya sekarang. Tapi sepertinya kau membenarkan semuanya.”

Ji Eun hanya mampu menatap Woobin nanar. Ia sendiri benci ketika Woobin tampak lemah seperti ini. Namun apalagi yang dapat ia lakukan selain mengucap, “Mianhae, Woobin-ah.

Woobin bangkit berdiri. Mengeluarkan sebuah minuman jahe dari dalam saku mantelnya dan memberikannya pada Ji Eun. “Walaupun kemasannya dingin tapi akan memberi kehangatan dalam dirimu.”

Ji Eun menerima minuman itu dengan mengatupkan bibirnya rapat. Sorot mata Woobin yang begitu lembut seolah menembus ulu hatinya dan merambah pada matanya yang kian memanas.

“Cepatlah pulang. Shin Ji Eun, maaf dan terimakasih.” Woobin mulai beranjak meninggalkan Ji Eun. Langkah beratnya itu seakan menandakan hati yang sebenarnya tak ingin meninggalkan gadis itu sendirian.

“Kenapa caranya memandang seolah kita tidak akan bertemu lagi?” Setetes air mata tanpa sadar berlinang jatuh dari tatapan nanar Ji Eun. Namun segera ia hapus saat Woobin mendadak berbalik dan kembali menghampirinya dengan langkah besar yang bergerak begitu cepat. Mata Ji Eun melebar sempurna saat Woobin semakin mendekat dan secara tiba-tiba merunduk menyatukan bibir mereka dengan mata terpejam.

Jauh diatas anak tangga pertama, Kikwang menyaksikan kejadian itu dengan pandangan kosong. Ujung kuncup payung hitam yang ia bawa menghentak tanah karena tangannya yang melemas.

.

.

To be Continued

———————————

Kapan selesainya ff ini :”

Advertisements

12 thoughts on “Unexpected Bond 8

  1. maap kak baru komen dipart ini hehehehe sumpah kak ini ff jinjja joahh heran yg ngomen kok cuma dikit :”( padahal daebak loh kak ini pasti silent – silent readers yang nggak banget hngggg kikwang itu tapi kok bisa tahu kalok jieun ketemuan sama woobin? karakternya kikwang disini beda tapi ya sama biasanya soalnya kan kikwang itu biasanya ceria kayak anak kecil hehehehe tapi suka yang disini keren jjang! terus itu yang kyuhyun sm rinhyo masih gamang ya kak ? udahlah, fighting aja kak! next chapternya ppali juseyo ya kak hehehe

  2. udah nunggu kelanjutan ff ini lamabanget!!! akhirnya bisa baca juga!!!!!! seneng deh 😀

    sbnrnya knpa sih rin hyo ama kyu gapacaran aja.. ya ampun tapi emg ribet amat sih klo positifnya sahabatan gini 😀 daerah lah ceritanya…. terus itu kikwang ko bisa tiba2 nongol disitu??? ya ampunnnn jangan salah paham mungkin Woobin juga lakuin itu buat yg terakhir… uhhh ya ampun Woobin kasian tapi tenang aja pasti bakal dapet yg lebih baik..

    Hwaiting nulis ff nya ^^, agak cepet ya.. soalnya penasaran ama lanjutnya.. apalagi ama espreso udh lama tu 😀

  3. akhrnya ff ini publish juga..
    Tp maaf kak aku tlat bacanya..
    Kasian ji eun, dia pasti bnyak pkiran, dan merasa mendpt tekanan dri semua orang..
    Kikwang kyaknya benar2 jatuh cinta ama ji eun dah..
    Smoga dia bsa membuat ji eun ceriah..
    Rin hyo juga.. Dia dlam suasana yg tdk mengenakan..
    Kasian juga dia hrus secanggung itu pda kyuhyun.. Aku tau pasti dlm hati rin hyo dia sgt merindukan kyuhyun..
    Kak tetep semangat ya,
    jaln ceritanya mkn bgus..
    Keep writing!

  4. Woobinn aaaaaa kau patah hati 😭😭😭😭
    Kikwang juga hahaha rasain tuh cemburu kan biasanya dkt jiyeon trus tuh kan bikin ji eun jd kacang haha
    woobin sm aku aja 😳

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s