Unexpected Bond 9

unexpected bond

Author: Bella Eka

.

.

“Jelaskan apa yang terjadi kemarin, Shin Ji Eun?”

“Penjelasanku adalah semua yang kau lihat kemarin malam.”

“Jadi tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi padaku? Kau bahkan tidak ingin memperbaiki kesalah pahaman yang ada dalam pikiranku?”

“Bukan itu. Tapi semua sudah terlalu jelas jadi aku tidak tahu apa lagi yang harusnya kujelaskan.”

“Sungguh, Shin Ji Eun yang ada dalam pikiranku sangatlah buruk sekarang.” Senyuman patah Woobin terulas. “Sebenarnya aku memberikan kesempatan untukmu memperbaikinya sekarang. Tapi sepertinya kau membenarkan semuanya.”

Mianhae, Woobin-ah.

Woobin bangkit berdiri. Mengeluarkan sebuah minuman jahe dari dalam saku mantel dan memberikannya pada Ji Eun. “Walaupun kemasannya dingin tapi akan terasa hangat setelah kau minum.”

Ji Eun menerima minuman itu dengan mengatupkan bibirnya rapat. Kedua matanya semakin memanas.

“Cepatlah pulang. Shin Ji Eun, maaf dan terimakasih.” Woobin mulai beranjak meninggalkan Ji Eun. Langkah beratnya itu seakan menandakan hati yang sebenarnya tak ingin meninggalkan gadis itu sendirian.

“Kenapa caranya memandang seolah kita tidak akan bertemu lagi?” Setetes air mata tanpa sadar berlinang jatuh dari tatapan nanar Ji Eun. Namun segera ia hapus saat Woobin mendadak berbalik dan kembali menghampirinya dengan langkah besar yang bergerak begitu cepat. Mata Ji Eun melebar sempurna saat Woobin semakin mendekat dan secara tiba-tiba merunduk menyatukan bibir mereka dengan mata terpejam.

Jauh diatas anak tangga pertama, Kikwang menyaksikan kejadian itu dengan pandangan kosong. Ujung kuncup payung hitam yang ia bawa menghentak tanah karena tangannya yang melemas.

 

***

 

Layar televisi menyala tak membuat perhatian Sam Rin Hyo terpusat. Sorot mata gadis itu kosong menatap dinding putih bersih kamarnya. Lama sekali, ia tak bergerak. Hanya sesekali menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Samar-samar terdengar gemericik air dari luar jendela. Gadis itu menoleh. Menatap hujan gerimis yang tak lama berubah deras itu.

Dari semula duduk di atas sofa, Sam Rin Hyo beranjak. Membuka jendela dan menghirup aroma hujan sepanjang yang ia bisa. Begitu segar, gadis itu tersenyum. Namun tak lama senyuman itu pupus. Raut wajahnya kembali sendu. Hujan itu membuatnya teringat akan kejadian waktu lalu. Saat dirinya menjadi penyebab Jong Suk dihukum, saat garis keretakan persahabatan mereka mulai terbentuk, dan saat hubungannya dengan Kyuhyun mulai menjauh.

Pintu gerbang tiba-tiba terbuka. Sebuah mobil tampak masuk area halaman rumahnya. Dahi Rin Hyo mengernyit.

“Untuk apa dia kesini?”

 

***

 

Shin Ji Eun duduk menekuk lutut dengan kedua tangan terlipat diatasnya. Kelopak matanya bergerak saat tetesan hujan semakin deras namun gadis itu tak kunjung beranjak. Tetap di tempat dimana Woobin meninggalkannya. Anak tangga paling dasar sebelah kiri dekat Sungai Han.

Gadis itu benar-benar sendiri. Hanya melodi hujan bersenandung menemani. Tetapi gadis dengan tubuh basah kuyup itu tetap membatu disana. Tatapan kosongnya terpaku lurus ke depan tanpa menyadari seorang pria berdiri menatapnya di puncak teratas anak tangga.

Lee Kikwang sengaja membiarkan Shin Ji Eun dan hanya menatapnya. Ia sengaja bersembunyi saat Woobin melepas ciumannya dan pergi. Ia tahu bukan saat yang tepat mencampuri urusan pribadi Shin Ji Eun dalam hal ini. Namun bukan keinginannya meninggalkan Ji Eun sendirian disini. Hatinya tetap terasa pedih meski hujan mengguyur tubuhnya habis-habisan saat ini. Sebenarnya ia membawa payung yang masih menguncup tergenggam di tangan kiri, tapi nalurinya menolak berteduh sementara Ji Eun menggigil dibawah sana. Maka itu yang mampu ia lakukan hanyalah terdiam, menatap, dan memastikan gadis itu baik-baik saja.

Terlalu lama Shin Ji Eun membatu dalam posisi yang sama. Setengah jam lebih hingga jemarinya berkerut kedinginan. Kening gadis itu mengernyit saat merasa tubuhnya tak lagi terguyur hujan. Lantas menengadah. Menemukan payung hitam terbuka melindunginya, juga Lee Kikwang dengan senyuman hangat bibir pria itu yang jelas membeku pucat.

“Kikwang-ah?”

“Aku senang tidak mendengar Kikwang-ssi.” Kikwang mengulurkan tangan kanan, meraih tangan Ji Eun dan menariknya pelan agar bangun berdiri.

“Bagaimana bisa kau ada disini?” tanya Ji Eun parau.

“Bukan waktunya membahas itu sekarang.” Kikwang dapat merasakan telapak tangan Ji Eun begitu dingin seperti benar-benar membeku. Tatapan mata pria itu luar biasa khawatir seraya berusaha menghangatkan tangan Ji Eun menggunakan tiupan napasnya. Setelah itu beralih mengusap wajah, rambut, serta leher Ji Eun yang basah tak tertutupi mantel. Sementara tangan lainnya tetap memegang gagang payung.

“Apa kepalamu pusing?”

“Tidak.”

“Kakimu terasa kaku?”

“Sedikit.”

“Apa tidak apa-apa berjalan ke mobil sebentar?”

“Tentu saja.”

Kikwang menghela napas saat gigi Ji Eun gemeretak menggigil kedinginan.

“Aku tidak bisa melihatmu seperti ini.” Kikwang memiringkan kepalanya ke kanan kemudian menarik tengkuk Ji Eun cepat, menempelkan bibir mereka menyalurkan rasa hangat pada gadis itu. Setelah beberapa detik, Kikwang memiringkan kepala ke kiri dan sedikit melumat bibir gadis itu sebentar sebelum melepaskannya.

“Kau benar-benar membeku,” ujar Kikwang cemas.

Shin Ji Eun terdiam terpaku. Ia tak menyangka Kikwang sebegitu khawatir padanya. Bukan hanya tangannya yang kini menghangat, namun juga dada, perasaan, aliran panas yang terpusat dari detak jantungnya menghangatkan sekujur tubuh gadis itu. Hingga kedua matanya kembali memerah, berair, dan menetes tak terbendungkan lagi. Gadis itu berhambur dalam pelukan Kikwang—untuk pertama kalinya, emosi menyesakkan yang tadinya terpendam, begitu saja meledakkan tangisan hingga membuatnya terisak hebat.

Kikwang menghembuskan napas berat merasakan dadanya yang juga terasa sesak, dan mengusap punggung Ji Eun pelan.

 

***

 

“Ada apa kau datang kemari?”

“Kurasa ada yang ingin kau katakan padaku.”

Kedua alis Rin Hyo tertaut. Kemudian meminum secangkir teh hijau miliknya di atas meja. Setelah meletakkannya kembali, gadis itu menatap tak mengerti pada Jong Suk yang duduk dihadapannya.

“Kenapa aku?” tanya Rin Hyo memperjelas.

“Kau ingin terus menghindariku?”

Kelopak mata Rin Hyo sedikit melebar. “Aku tidak menghindarimu.”

“Lalu?”

“Kita hanya perlu menjaga jarak.”

“Untuk?”

Rin Hyo meneguk ludah berat. Terdiam menghindari tatapan Jong Suk.

“Untuk memberi waktu agar perasaanku hilang padamu, kan?”

Rin Hyo menggigit bibir bawahnya pelan.

“Tak apa kau tidak membalas perasaanku. Dan jika kau ingin menghilangkannya, tidak perlu berusaha menghindariku. Aku tidak akan mengganggumu karena aku tidak ingin membebanimu. Aku dapat mengatasinya sendiri, buktinya aku mampu selama ini.”

“Bukan seperti itu maksudku.” Rin Hyo menghela napas berat menatap Jong Suk.

“Lalu seperti apa?”

“Aku hanya ingin kau sadar jika tidak benar-benar menyukaiku.”

“Akan sangat menyenangkan jika aku sekadar menyukaimu. Tapi sayangnya perasaanku tidak sedangkal itu.”

“Nona.”

Tubuh Sam Rin Hyo berjengit saat Bibi Jang datang mengantar Cho Kyuhyun memasuki ruang tengah. Bibi Jang—ketua pelayan keluarga Sam sekaligus ahjumma yang paling dekat dengan Sam Rin Hyo, pun melebarkan kedua mata mengetahui kedatangan Cho Kyuhyun bukan diwaktu yang tepat. Melainkan bersamaan Jong Suk mengucap sesuatu yang harusnya tak Kyuhyun dengar.

“Silakan,” ujar Bibi Jang mempersilakan Kyuhyun duduk di sofa panjang, disamping Jong Suk. Kemudian wanita paruh baya itu beranjak menuju dapur. Namun Kyuhyun tetap berdiri dan tak bergerak. Hanya menatap dingin Jong Suk dan Rin Hyo bergantian.

“Aku tidak akan lama disini,” ucap Kyuhyun datar. Sam Rin Hyo memejam frustasi kemudian memberanikan diri menatap Kyuhyun.

“Duduk saja dulu, kau baru datang,” tawar Jong Suk seraya menggeser tubuhnya memberi ruang duduk Kyuhyun. Tapi Kyuhyun tak bergeming, hanya saling bertatap lama dengan Rin Hyo. Tatapan mereka begitu dalam dengan bibir terus membungkam.

Jong Suk menghela napas panjang melihat Kyuhyun dan Rin Hyo bertatapan seolah bumi berhenti berputar hingga tak menyadari segalanya. Jong Suk tersenyum miris. Tampak jelas tak ada ruang hati Rin Hyo untuk dirinya.

“Kenapa kalian diam saja?” tanya Jong Suk sengaja membuyarkan lamunan Kyuhyun dan Rin Hyo. Sontak Kyuhyun berdehem pelan, canggung. Rin Hyo berkedip cepat.

“Aku hanya ingin mengembalikan ini. Sudah tertinggal berhari-hari di mobilku.” Kyuhyun meletakkan sebuah buku paket matematika yang sedari awal ia bawa di atas meja.

“Maaf mengganggu obrolan kalian,” ujar Kyuhyun kemudian berbalik pergi.

Sam Rin Hyo menatap punggung Kyuhyun hingga tak terlihat lagi. Kemudian tatapan sendunya berpaling pada buku matematika tergeletak di atas meja. Tiba-tiba gadis itu berdiri, melangkah cepat menyusul Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun yang baru saja melewati pintu utama menghentikan gerakannya. Ia berbalik dan mendapati Rin Hyo berdiri menatapnya. Mereka saling bertatap mata beberapa detik sebelum Rin Hyo berkata, “Maaf merepotkanmu.”

“Tidak masalah,” balas Kyuhyun ringan lantas memutar badan melanjut langkah. Berlari kecil menuju mobil karena derasnya hujan. Sementara Rin Hyo masih tak bergeming hingga sosok Kyuhyun sempurna menghilang.

 

***

 

Shin Ji Eun duduk termenung menatap hujan yang tampak dari kaca jendela besar dalam ruang tengah sebuah apartemen berdesain minimalis. Gadis itu hanya memakai kimono handuk putih dan rambutnya yang masih basah tergerai tak beraturan. Suasana begitu sepi. Hanya suara hujan dan detik jam dinding terdengar.

Lelah dengan pikirannya, Shin Ji Eun menghela napas panjang. Kemudian menyapukan pandangan ke sekitar ruangan apartemen yang didominasi warna hitam dan putih ini. Dan titik fokusnya sampai pada sebuah foto di atas lemari televisi. Gadis itu beranjak mendekati foto itu, mengambilnya, dan tersenyum tipis. Foto itu menggambarkan senyuman cerah Lee Kikwang bersama kedua orang tua serta adik laki-lakinya.

 

Tiriririt~

 

Shin Ji Eun meletakkan bingkai foto itu kembali dan menoleh kearah lorong pintu apartemen. Tak lama Kikwang muncul dari lorong itu seraya membawa satu kantung plastik hitam berukuran sedang, dan satu lagi tas belanja yang terbuat dari kertas tebal berwarna merah jambu.

“Sudah selesai mandi, kan?”

Ji Eun mengangguk ringan. Sedikit mengernyit ketika Kikwang memberikan tas belanja berwarna merah jambu padanya.

“Pakai ini. Kau bisa benar-benar sakit jika hanya memakai handuk sementara pakaianmu masih basah.”

Tanpa pikir panjang Ji Eun menerima dan membuka tas itu.

Hmph!” Ji Eun berusaha menahan tawa begitu melihat isi tas. Kikwang ternyata membelikannya beberapa pakaian—termasuk setelan pakaian dalam.

“Tentang pakaian yang itu, aku hanya meminta pegawainya memilihkan untukmu jadi aku tidak terlalu berharap kau suka,” ujar Kikwang cepat karena sedikit malu lantas menuju dapur membuat Ji Eun tersenyum kecil.

 

***

 

Shin Ji Eun telah berganti pakaian mengenakan kemeja biru muda kebesaran dan celana pendek biru dongker. Gadis itu duduk berhadapan dengan Kikwang. Keduanya sibuk menghabiskan semangkuk jjajangmyeon mereka. Namun perhatian Kikwang teralihkan ketika Ji Eun berulang kali menggulung lengan kemejanya yang terlalu panjang dan berulang kali pula gulungan itu terlepas hingga ternodai saus jjajangmyeon.

“Tck!” decak Ji Eun kesal. Ia beranjak membersihkan pakaiannya di wastafel sebentar kemudian kembali duduk di meja makan.

Kikwang melahap sisa jjajangmyeon miliknya sekaligus hingga mulutnya penuh. Ia meminum segelas air mineral untuk membantu agar cepat tertelan. Lalu berpindah ke samping Ji Eun dan mengambil alih mangkuk gadis itu.

Ji Eun menatapnya heran.

Kikwang mengambil sehelai tisu basah untuk menyeka bibir penuh saus Ji Eun kemudian menggenggamkan tisu itu ke tangan Ji Eun.

“Kenapa jjajangmyeon jadi sangat merepotkan? Seharusnya aku beli kimbap saja, ya?” Kikwang mengambil sejumlah jjajangmyeon menggunakan sumpit dan mengarahkannya ke mulut Ji Eun.

“Aku bisa melakukannya sendiri. Berikan padaku.”

“Sangat tidak nyaman melihatmu kerepotan seperti itu. Seharusnya aku memilihkan ukuran baju yang lebih kecil, ya? Aku hanya khawatir terlalu sesak dan tidak nyaman kau pakai tadinya.”

“Tidak apa-apa. Aku sangat berterima kasih.”

“Jadi sekarang buka mulutmu.” Kikwang menghentikan suapan jjajangmyeon tepat di depan bibir Ji Eun.

Gadis itu menatap Kikwang dengan sorot mata sulit diartikan. Sementara Kikwang begitu polos menunggu Ji Eun membuka mulutnya. Akhirnya Ji Eun melahapnya seraya tersenyum manis.

“Sebenarnya bagaimana bisa kau menemukanku di Sungai Han tadi?” tanya Ji Eun dengan mulut penuh.

“Bicaralah sesudah kau menelannya.”

Ji Eun menghela napas sembari menutup mata sebagai reaksi ocehan Kikwang membuat pria itu tersenyum gemas.

“Saat aku menghubungi Kim ahjumma menanyakan keadaanmu, ahjumma berkata jika ia menyangka kau pergi untuk menemuiku. Jadi aku bertanya kemana Shin Ji Eun pergi? Kim ahjumma menjawab kau menuju Sungai Han. Karena cuaca mendung dan kupastikan kau tidak cukup pintar membawa payung, jadi aku pergi kesana segera.”

“Mwo? Kau kesana hanya karena berpikir aku terlalu bodoh untuk membawa payung? Tch!” Ji Eun melirik Kikwang sebal.

“Tapi yang terjadi memang begitu, kan?”

“Enak saja,” gerutu Ji Eun tak terima lalu membuka mulutnya menerima suapan Kikwang.

Kikwang tersenyum samar. Bukan itu alasan sebenarnya ia bergegas menyusul Ji Eun di Sungai Han. Melainkan ia sangat khawatir akan keadaan gadis itu yang ia tahu tidak sedang baik-baik saja karena tekanan setelah pengumuman pertunangan mereka kemarin. Dan kekhawatirannya benar terjadi, hingga hatinya turut runtuh karena kondisi Shin Ji Eun yang rapuh.

“Setelah makan kuantar kau pulang.”

“Sudah kubilang aku tidak ingin pulang.”

“Lalu kau mau apa? Menginap disini?”

“Aku hanya…” Ji Eun berpaling ke samping. “Tidak ingin sendiri.”

 

***

 

Kim Woobin merebah diatas ranjang dengan kedua tangan menyilang dibawah kepala. Tatapannya tajam menatap langit-langit bercat hitam kamarnya. Wajahnya begitu serius seolah memikirkan sesuatu. Tak jarang ia menghela napas pula.

Tiba-tiba ia bangun, beranjak keluar kamar dengan gerak cepat. Menelusuri ruangan serta lorong rumahnya yang luar biasa luas hingga sampai di depan sebuah pintu tertutup. Woobin mengambil napas panjang, mengangkat kepalan tangan kanannya dan mengetuk pintu tiga kali.

“Eomma,” panggilnya. Namun tak ada jawaban. Woobin mengetuk dan memanggil berulang kali namun tetap tak mendapat respon.

“Tuan dan Nyonya sudah berangkat ke bandara tepat pukul 12 tadi, Tuan Muda,” seru salah satu pelayan dengan kedua mata terkantuk berat.

Woobin segera kembali ke kamarnya. Meraih ponsel diatas nakas dan menyadari bahwa sekarang sudah pukul 1 malam. Tangannya bergerak menghubungi Tuan Kim.

“Yeoboseyo, appa?”

“Hm. Appa dan eomma pergi ke Jepang beberapa hari. Kukira tadi kau sudah tidur (Mohon ponsel anda segera dimatikan, Tuan). Jaga dirimu, Woo—“

“Tunggu! Appa, aku akan menerima posisi itu!” ucap Woobin cepat.

“Benarkah? Kau tidak bisa mencabut ucapanmu.”

“Aku bersedia berangkat kapan saja.”

“Baiklah akan kuurus. Kututup sekarang.”

Tangan Woobin terkulai lemas. Mengangguk pelan meyakinkan diri sendiri. Ini adalah keputusan paling tepat, semoga saja.

 

***

 

Shin Ji Eun menghela napas ditengah ia berjalan di koridor sekolah. Kepala serta tubuhnya tetap tegak seperti biasa, namun siapa yang tahu jika gadis itu tengah gusar saat ini. Gadis itu terlampau tidak nyaman karena perhatian setiap siswa yang tertuju padanya. Titik fokusnya mencoba menghindari setiap mata yang bertemu dengannya, dan mencoba berpura-pura tidak mengetahui mereka yang saling berbisik membicarakannya walaupun samar ia mampu mendengar.

“Bagaimana bisa dia mengenal Lee Kikwang?”

“Kira-kira siapa sebenarnya Lee Kikwang?”

“Pasti Kikwang punya latar belakang yang sangat hebat.”

“Apa Kikwang akan tahan menghadapi gadis kasar sepertinya?”

“Ah, itu Lee Kikwang!”

Langkah Ji Eun berhenti saat sampai di depan pintu kelas. Kicauan panas tentang dirinya membuat kedua matanya memejam frustasi. Gadis itu mengambil napas dalam guna meredam emosi. Kemudian berbalik, memandang Kikwang yang sedari tadi mengekor di belakang.

Kikwang juga menghentikan langkahnya. Tatapan sendu Ji Eun membuatnya mengulas senyuman manis berusaha memberi gadis itu kekuatan.

“Masuklah.”

Ji Eun menghela napas sekali lagi. Mengangguk pelan lantas memasuki kelas. Suasana kelas yang semula berisik sontak hening. Kumpulan gadis-gadis yang duduk berkelompok menatap Ji Eun canggung. Siapapun tahu siapa yang tengah menjadi topik pembicaraan hari ini.

Pandangan Ji Eun mengurut tiga bangku kosong berjajar berurutan. Tampaknya Kyuhyun dan Woobin belum juga datang. Ji Eun menempati bangku miliknya, tepat di tengah. Kemudian mengeluarkan headset dan menyumpal telinganya mendengarkan lagu dari dalam ponsel.

Tak lama kemudian Woobin dan Kyuhyun tiba. Mereka menempati bangku mereka masing-masing. Tak satupun dari mereka mempedulikan keberadaan Shin Ji Eun. Jangankan menyapa, melirik pun tidak.

Cho Kyuhyun melipat kedua tangan dan menggunakannya alas tidur diatas meja, sedangkan Woobin tetap duduk tegak tak bergeming dengan tatapan tajam seolah mampu membelah meja menjadi dua.

Shin Ji Eun menambah volume musik ponselnya dengan kedua mata sengaja ia pejamkan. Sementara Woobin berdiri menyaku tangan dan beranjak keluar kelas. Sedetik kemudian Ji Eun kembali membuka mata, memandang sendu bangku Woobin yang hanya terdapat tas pria itu.

 

***

 

Melihat meja kantin yang biasa mereka tempati, Sam Rin Hyo menatapnya lama. Tak satupun menduduki meja dengan lima kursi tersedia itu sekarang. Dadanya memanas, ingin berbuat sesuatu untuk mengembalikan keadaan namun tak bisa. Gadis itu menghela napas, menunduk, dan setetes air mata terjatuh bebas dari pelupuk matanya.

“Jangan berdiam diri disini. Kau menghalangi jalan.”

Rin Hyo tersentak, itu suara Kyuhyun. Suara yang selalu berucap lembut padanya, suara yang selalu memarahinya hanya karena mencemaskan hal-hal sepele, suara yang akhir-akhir ini sangat ia rindukan karena suara itu telah berbeda. Begitu datar, begitu dingin seolah mengekspresikan perasaannya yang terlanjur membeku. Rin Hyo tak berniat menatap pria itu sedikitpun walau jiwa sangat membutuhkannya. Melihat wajah dingin pria itu hanya akan membuat hatinya hancur.

Mian.” Rin Hyo bergerak melewati Kyuhyun namun pria itu mencekal tangannya, menahan gadis itu hingga mengangkat wajah dan menatapnya.

Tubuh Kyuhyun berjengit. Kedua mata memerah serta wajah menahan tangis Sam Rin Hyo membuat pria itu terkesiap. Kyuhyun mendekap Rin Hyo dalam pelukannya. Tak peduli kamera cctv kantin menangkap gambar mereka. Tak bisa lagi Kyuhyun berpura-pura tak peduli seakan dirinya baik-baik saja, dan tak bisa lagi ia meyakinkan diri sendiri bahwa Rin Hyo baik-baik saja tanpanya. Tembok pertahanannya runtuh sudah oleh cintanya pada gadis itu.

Kyuhyun mengusap punggung Rin Hyo pelan dan gadis itu membalas pelukannya erat. Air mata tak terbendungkan milik Rin Hyo meluap dalam dekapan Kyuhyun. Aroma tubuh pria itu membuat Rin Hyo semakin merindukannya, sangat membutuhkannya dan tak ingin lepas lagi darinya.

 

***

 

Tak seperti siswa lainnya berbondong-bondong ke kantin pada jam istirahat seperti ini, Shin Ji Eun memilih menuju taman sekolah. Pikirannya benar-benar membutuhkan udara segar dan suasana tenang. Menjauhi bibir-bibir penggosip yang membuat telinganya panas tiada henti.

Gemericik air mengalir mulai terdengar. Ji Eun berniat mengambil tempat di kursi panjang dekat aliran air itu namun langkahnya terhenti begitu mendapati Woobin duduk disana, pria itu terdiam tampak merenungkan sesuatu. Ji Eun menghela napas, tahu benar apa yang tengah Woobin pikirkan.

Meski terasa berat, Ji Eun melangkah lagi. Semakin mendekati dan duduk disamping Woobin. Atmosfir canggung membuat Ji Eun mengulum bibir bawahnya. Mengingat betapa dekatnya mereka dulu semakin membuat situasi tak nyaman. Ji Eun sengaja berdehem pelan, tapi tak tahu apa yang harus ia katakan.

“Hmm,” gumam Ji Eun selagi mencari bahan pembicaraan. Namun Woobin tiba-tiba berdiri, beranjak.

“Woobin-ie.”

Tubuh Woobin sontak membatu. Gerakannya membeku seketika. Kaki yang hendak mengambil langkah terhenti di udara. Panggilan itu menghentikan detak jantungnya sekejap.

“Lama sekali sejak aku memanggilmu seperti itu,” Ji Eun tersenyum tipis. “Kau ingat kira-kira sudah berapa tahun? Hmm… karena kita sudah berusia delapan belas jadi kurasa enam tahun? Itu karena kau tumbuh terlalu gagah jadi panggilan itu terlalu imut untukmu.”

Woobin tetap tak bergeming bahkan kelopak matanya tak berkedip dan napasnya masih tertahan.

“Kau sudah sangat manly sedari kecil, walau sampai sekarang kau belum juga berubah menjadi seorang pria. Tapi kau ingat saat aku hampir tertabrak karena menertawakan lelucon bodohmu hingga kehilangan fokusku? Kau dengan cepat menarikku kedalam pelukanmu seperti adegan drama-drama televisi,” Ji Eun terkekeh kecil. “Padahal kita masih sekolah dasar waktu itu. Sekarang siapa yang tidak terpesona olehmu? Tanpa merayu kau akan mudah mendapatkan gadis manapun, Woobin-ah.”

Woobin menarik napas dalam dengan mata terpejam erat. Dadanya terasa mendidih mendengar Ji Eun menceritakan masa kecil mereka. Mendengar kekehan gadis itu semakin membuatnya tak bisa merelakannya pada Lee Kikwang.

“Kau,” sahut Woobin tajam.

“Hm?”

“Kau yang tidak pernah jatuh dalam pesonaku dan aku, telah berubah menjadi seorang pria tapi tidak sama sekali dimatamu. Kau tidak pernah melihatku.” Woobin berbalik menatap Ji Eun yang terdiam, gadis itu mengalihkan pandangan menghindari tatapan matanya. “Kau hanya membiarkanku semakin jatuh dalam jurang pesonamu tapi sama sekali tidak mencoba menangkapku. Apakah aku terlalu bodoh atau kau memang benar egois?”

Mianhae. Maafkan aku karena menyakitimu tapi aku sungguh tidak bermaksud seperti itu,” lirih Ji Eun.

“Tidak perlu menyalahkan dirimu, kau sama sekali tidak bersalah, tapi aku yang memang tidak pernah mampu mengendalikan perasaanku. Tanpa kusadari kadar perasaan ini selalu meningkat setiap melihatmu, dan itu membuatku ingin selalu memegang tanganmu tanpa melepasnya pada siapapun.”

“Woobin-ah,” kedua mata Ji Eun berkaca-kaca. Jantungnya berdegup perih melihat wajah putus asa Woobin.

“Dan aku mengerti maksud ucapanmu. Kau ingin aku mendapatkan gadis selain dirimu, kan? Aku hanya perlu waktu, aku pasti melakukannya, jadi jangan khawatir.”

Kepala Ji Eun tertunduk. Air mata mulai membasahi pipi gadis itu. Tak dapat dipungkiri hatinya terasa berat mendapati Woobin tersiksa karenanya. Ia sangat menyayangi pria itu, sangat. Namun tak ada yang bisa ia lakukan selain berharap takdir terbaik untuk menyembuhkan luka hati Woobin.

Uljima.” Woobin berjongkok di hadapan Ji Eun, menyeka air mata gadis itu. “Kumohon berhentilah menangis selagi aku bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal yang lebih dari ini, karena kau telah dimiliki pria lain.”

“Jangan pernah berkata seperti itu lagi!” seru Ji Eun lantas beranjak cepat sementara Woobin hanya mampu menatapnya sendu.

 

Drrt drrt

 

Woobin mengeluarkan ponselnya yang baru menerima sebuah pesan masuk.

 

From: Cho Kyuhyun

 

Ahjussi yang menjemputmu sudah datang!

 

***

 

Tatapan kosong Ji Eun mengitari pemandangan kota Seoul yang terlihat melalui tempat berdirinya gadis itu sekarang, rooftop gedung sekolah. Ia termenung lama.  Sangat lama, hingga melewatkan beberapa jam pelajaran tanpa mengeluhkan kakinya yang lelah. Karena hatinya jauh lebih lelah, gadis itu menghela napas. Menghembuskan napas itu sekeras mungkin, namun tetap saja rasa berat dalam dadanya tak kunjung menghilang.

“Hei.”

Ji Eun menoleh. Kikwang datang menghampiri dan berdiri disampingnya.

“Ada yang menarik?” Kikwang mencari-cari di sekitar pemandangan kota. Namun yang ia temukan hanyalah lalu lalang kendaraan dan kehidupan sibuk lainnya.

“Kurasa tidak ada yang menarik.” Kikwang mengernyit kemudian menatap Ji Eun. Tatapan gadis itu kembali terpaku ke depan.

“Sebenarnya apa yang kau lihat?”

“Beberapa orang.”

Kerutan samar di dahi Kikwang semakin tercetak jelas.

“Woobin, Rin Hyo, Kyuhyun, Jong Suk, dan kau,” tutur Ji Eun menyebut semua orang yang terus berputar dalam pikirannya, membuat Kikwang menarik napas panjang.

“Hubungi saja aku bila kau membutuhkanku.” Kikwang beranjak, memberi waktu sendiri agar gadis itu mencapai ketenangan.

“Bagaimana bisa kau selalu datang diwaktu yang tepat?”

Kikwang menghentikan langkah, tapi pria itu tak menjawab. Berdiam diri mendengar hembusan napas berat Ji Eun.

“Apa kau sudah berubah menjadi malaikat pencerah kesedihanku sekarang?”

 

Drrt drrt~

 

Shin Ji Eun memeriksa ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan masuk membuat kedua matanya membulat seketika.

 

From: Sam Rin Hyo

 

Beberapa menit lagi Woobin berangkat ke Osaka. Dia sudah di bandara Gimpo sekarang. Apa kau tidak ingin mengucapkan selamat tinggal?

 

***

 

“Bagaimana bisa dia berubah pikiran secepat ini?” Ji Eun tak berhenti meracau sepanjang jalan. Tubuhnya pun tak bisa diam. Terus menggigiti kuku jari tangan dan bola matanya terus bergerak gusar.

“Apa Woobin tidak mengatakan apapun sebelumnya?” tanya Kikwang cemas melihat keadaan Ji Eun yang begitu kebingungan.

“Selama ini Woobin selalu mengatakan jika dia tidak mau terlibat dalam organisasi perusahaan sebelum usia 20 tahun, tapi kenapa sekarang tiba-tiba keputusannya berubah? Dia selalu berkata jika dia tidak akan mau mengolah perusahaan yang ada di Jepang, tapi kenapa sekarang dia pergi? Dia selalu berjanji untuk tetap ada disampingku, tapi kenapa…”

“Tidak perlu menyalahkan dirimu, kau sama sekali tidak bersalah, tapi aku yang memang tidak pernah mampu mengendalikan perasaanku. Tanpa kusadari kadar perasaan ini selalu meningkat setiap melihatmu, dan itu membuatku ingin selalu memegang tanganmu tanpa melepasnya pada siapapun.”

Kedua mata Ji Eun melebar seiring lidahnya mendadak kelu, gadis itu tak mampu menyambung lagi ucapannya. Terganti isakan menyesakkan seketika terlintas pikiran bahwa dirinyalah yang menyebabkan Woobin tergesa-gesa pergi. Isakan itu semakin tak terkendali. Ji Eun mengangkat kedua tangannya menutupi wajah penuh air mata membanjiri.

Kikwang mengelus puncak kepala Ji Eun pelan, tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain ini. Kemudian berfokus menyetir dan semakin kencang melajukan mobilnya.

 

***

 

Shin Ji Eun berjalan cepat memasuki bandara seraya melayangkan pandangan ke segala arah, menelisik setiap orang yang ia temui meski kedua mata merahnya semakin terasa berat, karena buliran bening itu tak juga berhenti mengalir walau isakannya telah mereda. Kepalanya tertoleh kesana kemari, keningnya membentuk segaris kerutan dalam, namun Woobin belum juga tertangkap jarak pandangnya.

Di belakang, Kikwang menatap punggung Ji Eun nanar mendapati gadis itu jelas tampak kehilangan. Tentu saja, Woobin yang selama ini ada disampingnya, maka pria itu merupakan bagian terpenting dalam hidup Ji Eun. Kikwang sadar itu benar, bagian terpenting. Tidak seperti dirinya yang hanya menatap tanpa bisa memberikan bantuan apapun. Hanya diam merasakan denyut pedih tanpa bisa memberi celah jalan keluar demi ketenangan gadis itu, walau ia ingin, ingin menyandarkan gadis itu pada bahunya dan bertopang padanya. Dan meyakinkan bahwa terdapat pria yang mencintainya, disini. Namun hanya sampai pada batas keinginan, karena kembali lagi, bukan hak Kikwang mencampuri urusan Ji Eun dan Woobin dalam hubungan mereka.

Kedua mata Kikwang melebar saat menyadari Ji Eun yang awal tadi berjalan tergesa, kini berhenti membatu tak bergerak. Apa lagi yang terjadi sekarang? Kikwang menghampiri Ji Eun, mengikuti arah pandang mata gadis itu yang sangat sendu. Kemudian menemukan Kyuhyun, Rin Hyo, dan Jong Suk menatap mereka dengan tatapan yang sarat menyampaikan kabar buruk. Kikwang menghela napas, terlebih melihat bibir serta kelopak mata Ji Eun mulai bergetar.

Tak perlu waktu lama untuk bendungan air mata Ji Eun menetes. Tetesan bebas itu seketika membuat napas Kikwang tercekat. Ingin mengucap jangan menangis, tapi ia tahu rasanya begitu sakit. Ingin berkata aku disini untukmu, namun dirinya bukanlah siapa-siapa bagi gadis itu. Kikwang mengatupkan bibirnya rapat, dengan gerak pelan ia meraih tangan Ji Eun.

Mendadak Jong Suk datang lantas menyampingkan posisi Ji Eun menghadap padanya, membuat Kikwang kembali menarik tangannya dalam diam. Jong Suk mengusap air mata Ji Eun lembut, wajahnya tercetak jelas sangat khawatir.

“Woobin akan kembali, kau tenang saja,” ucap Jong Suk menenangkan.

“Oppa,” lirih Ji Eun terisak.

“Dia tidak pergi untuk selamanya. Memangnya apa yang kau pikirkan?”

“Tapi dia pergi karenaku, dia tidak ingin lagi bertemu denganku, dan aku mengacaukan rencana hidupnya,” Ji Eun menutupi wajah dengan kedua tangan ketika tangisannya tak dapat lagi ia kendalikan.

“Tidak seperti itu, buang jauh pemikiran semacam itu.” Jong Suk memeluk Ji Eun erat seraya menghela napas dalam berulang kali.

Sementara kedua tangan Kikwang mengepal. Pada detik ini, ia sadar, bahwa dirinya benar-benar mencintai Shin Ji Eun. Melihat tangis pilu gadis itu semakin membuatnya frustasi karena disekitar mereka, dirinya bukanlah apa-apa. Hanya sekadar orang asing yang terikat pertunangan bagi Shin Ji Eun. Sebab itulah Kikwang bahkan tak mampu berpikir jernih apa yang hendaknya ia lakukan.

“Seorang gadis remaja bernama Park Ji Yeon disebut-sebut sebagai kekasih sebenarnya Lee Kikwang, pewaris Glory Group. Gadis itu mengaku di sebuah akun twitternya…”

Hanya beberapa pengunjung memerhatikan siaran televisi bandara tersebut, namun dari beberapa itu termasuk semua orang yang sedang bersama Shin Ji Eun. Gadis itu menarik diri dari pelukan Jong Suk, berusaha mencerna berita dalam siaran televisi yang sampai sekarang belum sempurna mencapai akal kesadarannya. Selang beberapa detik kemudian gadis itu membeku, menatap Kikwang dengan gerak kaku, dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun.

“Kau…” desis Ji Eun. Emosinya meledak tak tentu arah hingga kehilangan cara mengekspresikannya. Dalam hati menangis semakin keras, tapi disisi lain ingin tertawa menganggap bagaimana bisa siaran nasional menyajikan berita lelucon seperti itu, harapannya.

Kikwang tergopoh. Kedua matanya membulat sempurna sembari menggeleng cepat meyakinkan Ji Eun bahwa berita itu tidak benar.

Namun Jong Suk, Kyuhyun, dan Rin Hyo juga terlanjur melayangkan tatapan intimidasi mereka. Tak menyangka akan sikap Kikwang yang ternyata menusuk dari belakang.

Sial!

.

.

-To be Continued-

Advertisements

13 thoughts on “Unexpected Bond 9

  1. YAh nggak first commen): part ini kok nyesek banget sih kak gak tw mau commen apa semua karakternya pada diposisi sulit semua nyesek semua dah pokoknya
    si jiyeon tu juga napa sih suka bgt cri masalah :@ semoga cepet selesai deh kak jangan patah smangat fightimg hehe jusungeyo

  2. sedihh banget woobin harus pergi. Yaa ampun kasian aku sm woobin.

    trus apa kabar hubungan rinhyo sm kyu. msh gk ada kejelasan yaa. Ayo dong buat rinhyo sadar gitu sm perasaannya.
    Ditunggu kelanjutannya ^^

  3. Yah nyesek binittt , jdi pengen ikutan nangis , sebel sama kikwang , karna blm bisa mengekspresikan perasaannya senfiri . Lalu apa ini ada masalah baru , ditinggu nect chapter ya

  4. nangisss huaaa😭😭
    Woobin sini ke aku ajalahhh aku siap gantiin jieun
    Ji yeon astagaaa masalah satu blm slsai ini ditambah lg . Aishhh parahbgt hbgn mereka ini diterpa badai sekali wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s