Hidden Heart

shin soojung

Author: Bella Eka.

.

.

 

Aku tak memedulikan kegaduhan dalam kelas ini karena aku memang tak peduli. Seharusnya kelas dimulai setengah jam lalu namun seonsaengnim belum juga tiba, kudengar dari ketua kelas bahwa kepala sekolah mengumpulkan semua guru untuk rapat mendadak.

Aku bosan, namun tak ingin bergabung membuat kericuhan kelas bersama teman-teman. Aku ingin tidur, tapi jeritan teman-teman yang tengah bermain ­Truth or Dare terus membuatku terjaga. Tidak ada yang bisa kulakukan, ponselku juga tak berfungsi karena aku lupa mengisi baterainya semalam.

Aku memandang luar jendela, menatap terpaku pada lapangan sepak bola, bibirku tersenyum begitu saja. Aku ingin jam istirahat segera tiba karena pada saat itulah aku bisa menatapinya leluasa, saat dia bermain sepak bola, striker andalan yang selalu menarik sorot mataku padanya, Choi Minho.

 

—Shin Soojung.


 

“Choi Minho membalas pesanku!”

Park Hyerim menggandeng lenganku erat, senyuman lebar terus menghiasi wajahnya, siapapun tahu dia tengah bahagia.

“Benarkah? Melegakan sekali.” Aku tersenyum, otakku memerintahkanku tersenyum, dan sudah seharusnya aku tersenyum.

“Lihat ini!” Dengan antusias Hyerim menunjukkan layar ponselnya padaku.

Aku dapat melihat nomor kontak Choi Minho disertai gambar hati, rupanya dia benar-benar berhasil mencuri hati sahabatku ini. Dalam ruang obrolan itu tampak Hyerim mengirimi Minho pesan berkali-kali, entah sekadar menyapa atau menanyakan hal-hal ringan untuk berbasa-basi. Sebelumnya Minho tak merespon apapun, namun sepertinya dia berubah pikiran kemarin.

 

Hyerim:

                            

Kenapa kau tidak pernah membalas pesanku? Aku Park Hyerim dari kelas 2-3, aku sahabat teman sekelasmu, Shin Soojung. Kau tahu aku, kan?

 

 

Choi Minho♥:

 

 Jadi kau sahabat

Shin Soojung?

 

 

Hyerim:

 

                           Ya, benar! Aku sahabatnya, hahaha. Aku tahu kau pasti mengenalku. Bagaimana kabarmu?

 

 

 

“Hebat, kemajuanmu pesat.” Aku mengulas senyuman terbaikku, “Karena kau sedang bahagia, bagaimana jika traktir aku makan?”

“Makanan saja yang ada di kepalamu!” Hyerim mengetuk kepalaku pelan, “Apa maksudmu bahagia? Hanya sekali itu saja dia membalas pesanku, setelahnya aku kembali berbicara sendiri.”

“Tapi tetap saja kau senang, kan?”

Hyerim mengulum bibirnya, aku tahu dia menahan senyuman bahagianya.

“Baiklah, baiklah, karena suasana hatiku sedang baik, aku akan mentraktirmu makan.”

Assa!”

 

***

 

Seperti biasa kami duduk di bangku penonton lapangan sepak bola pada jam istirahat kedua, tak terkecuali hari ini. Tatapan Hyerim di sampingku benar-benar melekat pada sosok Choi Minho yang tengah menggiring bola menuju gawang lawan, biasanya aku pun begitu, tapi kupikir harus berhenti.

“GOAL! Choi Minho jjang!” teriak gadis-gadis saat Minho berhasil menambah poin.

“Lihat senyumannya! Lihat senyumannya! Astaga aku meleleh sekarang juga!” Hyerim terus meracau.

Aku menuruti ucapan Hyerim untuk menatap Minho. Kulihat Minho berlari menghampiri teman satu timnya, melakukan high five dengan senyuman terpatri di wajahnya. Ya, tentu saja, senyumannya memang menawan, sangat, dan hatiku perih karenanya.

Tatapanku seolah terkunci, pandanganku enggan terlepas darinya, aku kembali terbawa suasana, kembali terbawa perasaan.

Minho tampak memandang bangku penonton, seperti menelisik setiap penonton yang datang, seperti mencari seseorang, mungkin Hyerim.

Aku tersenyum kecut, hatiku tak nyaman berada disini.

“Aku pergi dulu.” Aku bangkit berdiri, memang sebaiknya aku pergi.

Namun saat hendak beranjak, Hyerim menahan dan menepuk-nepuk tanganku cukup keras, “Dia menatapku! Kurasa dia mulai memperhatikanku. Bagaimana ini? Aku sangat malu.”

Dugaanku benar, sorot mata Minho terhenti mengarah pada kami, entah mengapa dadaku terasa panas. Aku berusaha tersenyum tulus pada Hyerim namun saat melihat Minho, senyumanku berubah masam dengan sendirinya, kurasa perasaanku mulai terlalu berlebihan.

“Aku harus pergi.” Genggaman tangan Hyerim padaku kulepas.

“Kau kemana?”

“Hari ini jadwalku bimbingan konseling,” jawabku lancar meski dusta.

“Begitukah? Baiklah. Jika kau mencariku, aku disini.”

“Arasseo.” Aku segera meninggalkan tempat itu sebelum perasaanku semakin menjalar, semakin tak terkendalikan.

 

***

 

“Sampai jumpa.”

Eo, sampai jumpa besok.” Aku melambai pada Hyerim yang sudah berada dalam mobil jemputannya, lantas berjalan menapaki trotoar, sampai di halte aku duduk bersama siswa-siswi lainnya yang juga sedang menunggu bus.

Aku menatap langit merah senja berawan di atas, menghela napas, mungkin hujan akan turun malam ini. Pada titik ini aku iri akan keberuntungan Hyerim yang begitu mudahnya mendapat perhatian Choi Minho semenjak gadis itu berhenti menyukai Taemin si dancing machine dan berpaling pada Minho beberapa bulan lalu. Sementara aku? Kenyataan ini membuat senyuman mirisku terulas, hampir dua tahun aku berada satu kelas dengan Minho namun tak ada kemajuan apapun yang kulakukan.

Semua langkah yang maju ke depan akan mengalahkan mereka yang jalan di tempat, semua perasaan yang diungkapkan akan membunuh mereka yang disimpan rapat-rapat.

Pandanganku terjatuh ke bawah menatap sepasang sepatuku, perasaan sesakku membuatku tertawa sendiri, tidak lucu jika aku menangis di tengah keramaian halte seperti ini.

Bus akhirnya datang, semua orang bergegas memasukinya juga aku. Setelah menempelkan kartu penumpang khusus pelajar di mesin pembayaran otomatis, aku mengambil tempat di bangku kosong ketiga paling belakang karena biasanya aku adalah siswa terakhir dari sekolahku yang akan turun, di tempat ini juga terdapat tombol untuk memberi tanda agar bus berhenti, tempat yang strategis.

“Boleh aku duduk disini?”

Aku menatap ke atas, ternyata Choi Minho yang sedang berbicara padaku. Seketika wajahku kaku, aku gugup, sangat.

Eo.” Hanya itu yang dapat kukatakan, mungkin terlalu berlebihan tapi tenggorokanku benar-benar tercekat.

Aku bergeser ke kiri, ke samping jendela, lalu dia duduk di sampingku. Ransel dibelakangku kupindah ke pangkuanku. Sepertinya Minho melihat, tak lama kemudian dia melakukan hal yang sama.

Bola mataku kupaksa terarah keluar jendela, menghindari objek yang selama ini menjadi porosnya, Choi Minho. Mungkin berlebihan menyebutnya sebagai poros bagiku namun sepertinya perasaanku memang sudah terlalu berlebihan.

Rasanya ingin tertawa, menertawakan diriku sendiri yang duduk bak seonggok patung batu tak bergerak. Aku merasa bodoh tapi akan benar-benar terlihat bodoh apabila melakukan sesuatu yang bodoh, jadi bagaimanapun lebih baik seperti ini, diam menutupi kebodohanku.

“Soojung-ah.”

 

DEG

 

Aku bisa merasakan jantungku berdegup, entah seberapa lama dia terakhir kali memanggilku, menyebut namaku, aku lupa.

“Hm?” Sial, aku masih belum juga bisa berucap dengan benar.

“Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi aku ragu.”

Demi apapun, aku membenci pernyataan ambigu seperti itu. Selesai riwayatku jika dia menyadari gelagat anehku dan menanyakan perasaanku padanya.

“Katakan saja.” Aku menoleh, degupan jantungku semakin cepat menatapnya dari jarak sedekat ini, tubuhku hampir lemas.

Minho menghela napas, membuatku semakin cemas akan apa yang tengah ia pikirkan.

“Kita telah menjadi teman sekelas lebih dari setahun, kurasa itu sudah cukup lama, tapi aku tidak tahu mengapa aku masih merasa asing denganmu.”

Aku terdiam, mulutku terkunci, sesuatu terasa mengikat paru-paruku. Jadi dia menganggapku sebagai orang asing selama ini? Ternyata tanpa mengungkap perasaanku saja sudah mampu kutahu jawabannya.

“Kau tidak merasa begitu?”

“Entahlah.” Aku kembali menatap jendela, pembicaraan ini harus dihentikan segera.

Kemudian hening, aku tak tahu apa yang sedang dia lakukan, aku tak berani menatapnya.

“Tentang temanmu, Park Hyerim? Aku tidak salah, kan?”

Kenapa tiba-tiba dia membicarakan Hyerim? Aku tak tahan berada disini, bola mataku bergerak gusar.

“Aku jarang mengecek ponselku jadi—“

“Bisa kau pindahkan kakimu sebentar? Aku akan keluar.” Tanganku terulur menekan tombol  di sela dinding bus.

Namun sampai bus berhenti pun Minho tak memberi jalan untukku, dia terus menatapku hingga aku juga menatapnya tak mengerti. Keningnya sedikit mengerut, entah apa yang tengah ia pikirkan tentangku.

“Permisi,” ucapku, aku hanya ingin segera pergi dari sini.

“Ah, ya.” Akhirnya Minho memindahkan kakinya keluar kursi, aku bergegas menuju pintu keluar bus.

Akhirnya terbebas, aku menghela napas lega walau tak sepenuhnya karena sebenarnya jarak rumahku masih beberapa kilometer lagi, aku harus kembali menunggu datangnya bus di halte ini. Menurut jadwal yang terpampang, kedatangan bus selanjutnya masih sekitar tiga puluh menit lagi.

Suatu kebetulan yang kubenci, langit sudah mulai gelap tapi lampu halte belum juga menyala, dan di saat genting seperti ini ponselku kehabisan baterai. Sempurna!

Suasana disini terbilang sepi, tidak banyak kendaraan berlalu lalang dan di sepanjang jalan hanya ada bangunan-bangunan kosong tertulis disewakan. Aku tidak begitu mengerti daerah ini, yang kutahu tentang tempat ini sebatas jalan menuju arah rumahku.

“Bodoh! Jika tahu akan begini, aku tidak akan turun disini.” Aku hanya bisa merutuki diri, kupukul kepalaku yang tak berotak ini.

“Lalu dimana kau seharusnya turun?”

Tubuhku berjengit, aku melihat sosok pria tinggi membawa ransel menghampiriku, lalu duduk di sampingku. Jantungku sontak kembali berpacu kencang, dia Choi Minho.

“Jika ini bukan area rumahmu, untuk apa kau berhenti?”

“Bagaimana bisa kau disini?” Aku meneguk ludah berat, kuharap Minho tak lagi menanyakan alasanku berada disini.

Tiba-tiba Minho memajukan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa inchi  di depanku, aku bisa merasakan hembusan napasnya di sekitar wajahku, sangat dekat, sangat, rasanya jantungku hampir meledak.

“Kau tidak tahu ada cerita menyeramkan di daerah ini?”

YA!”  Tanganku reflek menamparnya, kuakui aku sangat penakut mengenai hantu atau semacamnya.

Tapi tunggu… Aku… Menamparnya?

Mian, mianhae.” Aku berdiri dan membungkuk dua kali padanya, “Kau tidak mengenalku tapi baru saja aku menamparmu. Aku tidak sengaja, sungguh.”

Minho terkekeh, bahkan seulas tawa bibirnya tampak semakin tampan di tengan kegelapan seperti ini. Ya, cahaya langit telah sempurna menghilang, namun aku tetap bisa melihat wajahnya walau samar.

“Tidak mengenalmu? Kau bercanda?”

Minho menarik tanganku duduk di sampingnya, lebih dekat dari tempatku awal tadi. Aku menggigit bibir bawahku, Minho mungkin lupa melepas tangannya dariku, dia masih terus menggenggam tanganku. Sepertinya aku akan gila, sebentar lagi aku benar-benar gila jika terus bersamanya hingga setengah jam lagi sampai bus datang.

“Minho-ssi.” Aku melepas jari-jarinya yang melingkar di pergelangan tanganku dengan gerak pelan.

“Ah, ya, aku lupa.” Minho tersenyum canggung, “Soojung-ah.”

Aku menatapnya.

“Soal tadi, saat aku berkata kau masih terasa asing bagiku, jangan memasukkannya dalam hati. Tentu saja aku mengenalmu, jadi jangan terlalu memikirkannya. Bersikaplah padaku seperti kau pada teman-teman lainnya, dan jangan memanggilku dengan Minho-ssi. Karena setiap kau memanggilku seperti itu, aku merasa kita benar-benar tidak bisa dekat.”

“Baiklah,” ucapku. Aku tidak bisa berkata lebih, masih terlalu terperangah karena ini adalah pertama kalinya Minho berbicara sepanjang itu selama hampir dua tahun aku mengenalnya.

Minho mengangguk, “Baguslah.”

“Kau disini hanya untuk menjelaskannya padaku?”

“Eo? Itu…” Minho mengalihkan pandangan dariku.

 

Tes

 

“Hujan?” gumam Minho.

Suara tetesan hujan terdengar menjatuhi atap halte. Berawal dari tetesan jarang perlahan berubah deras. Menatap Minho membuatku merasa lega, setidaknya aku tidak sendirian di tengah kegelapan hujan seperti ini.

“Soojung-ah.” Minho menoleh padaku, segera kualihkan pandanganku darinya, mungkin wajahku yang memanas ini telah berubah memerah. Beruntung Minho tidak mungkin menyadarinya karena kegelapan ini.

“Kau benar-benar tidak tahu tentang cerita menyeramkan di tempat ini? Kebetulan sekali, semua berawal di sebuah malam dengan hujan deras. Kau tidak ingin mendengarnya?”

“Tidak!” Aku menolak tegas, sedikit membentak, aku sangat benci cerita semacam itu.

“Di sebuah malam di tengah hujan…”

“Hentikan!”

“Seorang gadis cantik sedang menunggu datangnya bus di halte ini seorang diri, sepertimu tadi.”

“YA! Aku tidak seorang diri, buktinya ada kau!” Aku menatapnya tajam, jantungku berdebar namun bukan karena Minho, tapi karena kisah yang tak berhenti ia ceritakan. Kedua tanganku menutup telingaku rapat.

“Lalu ada seorang pria mengintainya dari kejauhan.”

Sial, suaranya masih saja terdengar.

“Seorang pria itu semakin mendekati sang gadis, duduk di samping gadis itu. Sudah lama sekali pria itu mengawasi sang gadis tanpa gadis itu ketahui, menjadikan gadis itu sebagai mangsa yang ingin ia dapatkan. Dan akhirnya, malam itu, dia berhasil mendekati gadis itu tanpa gangguan apapun, dengan mudah dia bisa melancarkan aksinya karena tidak ada orang lain selain mereka disana. Setelah itu kau tahu apa yang terjadi?”

Tangan yang menutupi kedua telingaku terlepas begitu saja, entah karena cerita yang sebenarnya tidak menyeramkan atau karena aku suka cara Minho menceritakannya padaku. Dengan segala ekspresi yang ia keluarkan, hatiku menghangat.

“Dia menerkam gadis itu? Apa pria itu seorang zombie?” tanyaku asal.

“Tidak, dia bukan zombie.” Minho tersenyum tipis, menatap depan, “Tapi pria itu adalah seseorang yang mencintai sang gadis.”

Aku mendecak, “Cerita semacam itu kau sebut menyeramkan? Kau bercanda denganku?”

“Tidak, itu sangat menyeramkan. Kau ingin dengar dimana titik menyeramkan dalam cerita itu?”

Aku mengernyit, mengangguk begitu saja.

“Pria itu tahu dia mencintai gadis itu. Tempat, waktu, bahkan suasana seolah telah dirancang oleh Tuhan agar pria itu mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Tapi apa yang dia lakukan? Pria bodoh itu tidak memanfaatkan kesempatan dengan baik, dia selalu berubah menjadi pecundang di hadapan gadis itu. Menyeramkan, bukan? Sangat menyeramkan untuk pria itu, karena tidak banyak kesempatan kedua di dunia ini.”

Senyuman pahitku terulas. Aku merasa tidak asing dengan cerita itu meski baru kali ini aku mendengarnya, karena aku tahu perasaan pria itu, karena dalam cerita Minho pria bodoh itu disini adalah, aku.

“Seharusnya pria itu mengungkapkannya, bukan?”

Minho menatapku, “Menurutmu seperti itu?”

“Seharusnya.” Aku membalas tatapan Minho, tersenyum tipis, “Tapi jika sang gadis sudah jelas tak menaruh hati padanya, kurasa tindakannya benar.” Senyumanku perlahan berubah miris, “Lebih baik mengubur perasaan sedalam mungkin.”

 


 

Advertisements

13 thoughts on “Hidden Heart

  1. ini mah sama2 suka tpi gk mau trusterang.. trus kpan jadiannya.. aahh emang judulnya aja HIDini mah sama2 suka tpi gk mau trusterang.. trus kpan jadiannya.. aahh emang judulnya aja HIDDEN

  2. Only like that? Ttus ga ada terusannya gtu? Ini sama kaya crita gue waktu sma yg malu2 kucing ama gebetan eh pada akhirnya diungkapin juga untungnya si cowo juga sma. Sama2 suka tapi ga brani ngungkapin wkwkwk

  3. Seruuu hihi
    Sama2 suka tapi gamau terus terang -_-
    Atuh bingung sm mereka yg malu2 kucing . Semoga aja mereka bs ngungkapin semuanya sebelum terlambat! Dan jadiannnnn yeyyyyy hehehehe makasi ud dipost eonni happy holiday yaaa hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s