Fake Love 8 [END]

wpid-akeluv

Fake Love 8 – ending

Author : Tsalza Shabrina

***

Sam Rin Hyo kembali ke apartemen dengan langkah lemas. Tak ada yang ingin ia lakukan saat ini, dan juga tak ada rasa apapun didadanya. Segalanya terasa begitu hampa dan mati rasa.

“Huuh.” Helaan napas Rin Hyo keluar lagi, senyuman mirisnya terulas. Sadar jika helaan napas panjang yang ia keluarkan pada hari ini sudah tak terhitung lagi. Gadis itu memasuki apartemen, membaringkan diri diatas sofa ruang tengah didalam ruangan yang begitu sepi ini.

 

Drrt Drrt

 

Rin Hyo mengangkat teleponnya, kemudian berucap “yeboseyo.” Dengan nada malas, bahkan ia belum sempat membaca siapa yang meneleponnya saat ini.

Ya! kau dari mana saja, huh? Sudah membaca chatku?

            Ya! bukankah aku yang seharusnya bertanya padamu, faktanya kau yang tidak berada disini, Shin Ji Eun!”

Ck, pasti kau belum membaca pesan, kan?

            Mian, tadi aku tidak sempat membuka ponsel sama sekali.”

Arasseo, sekarang lebih baik kau segera ke apartemen Lee Kikwang! Lebih baik kau cepat sebelum semua makanan ini berpindah keperutku, hahaha! Kami tunggu!

            YA! makanan? Apa—“ Rin Hyo menatap layar ponselnya yang sudah berubah menjadi hitam pekat. Desahan frustasinya keluar, pasti mereka sedang menyiapkan sesuatu seperti pesta perpisahan.

 

***

 

 

Oh my god! Sejak kapan kalian menyiapkan semua ini?”

Sam Rin Hyo segera berlari kecil menghampiri hamparan makanan yang terhidang diatas meja makan Lee Kikwang. Tanpa mempedulikan Kikwang dan Ji Eun yang telah merentangkan kedua tangan mereka untuk menyambut Rin Hyo dengan pelukan.

Kikwang menurunkan kedua tangannya, menoleh kearah Ji Eun dengan wajah pasrah “Seharusnya kita tak melakukan itu tadi.”

Shin Ji Eun membuang napasnya kasar, “Aku tahu dia akan seperti itu!” tukasnya malas kemudian berjalan menghampiri Rin Hyo yang sudah mengambil tempat sekaligus menaruh satu persatu makanan itu diatas piringnya.

“Ji Eun-ah, apa kau yang membuat semua ini?”

“Aku dan Lee Kikwang.” Jawab Ji Eun malas seraya duduk dihadapan Rin Hyo. Begitu pun Lee Kikwang yang duduk disampingnya.

“Kau, apa harus secepat itu pergi ke Hungaria?” tanya Kikwang tiba – tiba. Sam Rin Hyo mengangguk disela kegiatan makannya.

“Banyak yang harus kuurus disana, sekaligus menemui beberapa teman Jung sam untuk sekadar menyapa. Berkat mereka aku menerima beasiswa tanpa test.”

“Aku dan Kikwang akan mengunjungimu setelah aku merampungkan ujian akhirku.” Rin Hyo mengangguk kuat.

“Tentu saja! itu harus! Aku akan menunggu kalian!” Rin Hyo menaruh sumpitnya, menatap sahabatnya satu per satu dengan senyuman tipis.

“Aku berharap kalian tidak akan berpisah.”

Kikwang tersenyum simpul kemudian mengangguk penuh keyakinan. “Aku juga berharap segala hal akan berjalan baik untukmu, Rin Hyo-ah!”

“Aku juga mengharapkan hal itu.”

“Aku benar – benar minta maaf, jika saja dulu aku tidak termakan emosi dan otakku bisa berjalan dengan baik pasti aku tidak akan meminta bantuanmu untuk menjadi kekasih pura – pura Cho Kyuhyun.”

Rin Hyo tersenyum kecil. “Sejujurnya, jika saja aku jadi kau, aku juga berpikiran seperti itu. bahkan mungkin saja aku berniat untuk merusakkan mobil yang menjadi taruhan itu atau memukul wajah pria itu hingga hidungnya patah dan juga—“

Geumanhe! kau benar – benar gadis yang mengerikan!” potong Kikwang, tak kuasa mendengar bayangan – bayangan mengerikan Rin Hyo lagi. Sam Rin Hyo menghela napas kasar.

“Kau terdengar seperti benar – benar ingin melakukan itu semua, Rin Hyo-ah. Kau… sudah bertemu dengan Cho Kyuhyun, ya?” Pertanyaan Ji Eun itu membuat Rin Hyo sontak menatap Shin Ji Eun dengan tatapan terkejut. “Kau sudah bertemu dengannya.” Lanjut Ji Eun setelah menyadari raut wajah Sam Rin Hyo.

Eo. Dengan bodohnya aku pergi keapartemennya kemudian mendapati pria itu sedang bersama seorang wanita yang sangat cantik.”

Mwo? jinjja?” Rin Hyo mengangguk ringan.

“Tch, aku sudah tidak peduli lagi dengan pria itu. mm… bagaimana jika kita pergi karaoke setelah ini?! setuju?”

 

***

 

“Sampai kapan kalian akan terus berada disini, huh?”

Pertanyaan sekaligus sindiran yang diucapkan Kyuhyun itu membuat pergerakan Donghae dan Hyuk Jae terhenti. Padahal mereka sudah berniat memasukkan sepotong pizza kedalam mulut mereka. Hyuk Jae dan Donghae menatap Kyuhyun dengan tatapan malas.

“Aku sangat bosan, dan kau terlihat begitu sibuk dengan pekerjaanmu. Tidakkah kau ingin bermain sebentar begitu? Kau akan menderita sakit mata jika terus menerus menatap layar laptopmu, benarkan Donghae-ah?” Lee Donghae mengangguk kuat penuh keyakinan.

“Pikirkan perasaan kami, Cho Kyuhyun.”

Cho Kyuhyun megulas senyuman miringnya, kedua tangan dan kedua matanya masih terfokus pada pekerjaannya meski bibirnya membalas, “Baiklah, kalian boleh menghabiskan pizza itu disini dan pulang.”

Hyuk Jae mendecih tak percaya, “Arasseo! Kami akan memakan pizza ini dengan perlahan, Cho Kyuhyun-ssi!”

Cho Kyuhyun tak menjawab, memilih untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Karena targetnya adalah segala pekerjaannya selesai hingga 3 hari kedepan, kemudian ia meminta liburan pada ayahnya yang selalu mengawasinya dengan ketat. Selama ini tak jarang memang, Donghae dan Hyuk Jae mampir ketempat  kerjanya. Memesan ayam goreng, pizza, dan makanan china secara bertahap. Lama – lama ruang kerjanya menjadi basecamp baru setelah club langganan mereka.

Disela kunyahannya, Donghae tiba – tiba mengingat sesuatu. “Ah, Cho Kyuhyun! Kau tahu?” tukasnya spontan.

Molla.” Jawab Kyuhyun sekadar, tak terlalu tertarik dengan Lee Donghae.

“Sam Rin Hyo akan pergi ke Hungaria. Dia akan sekolah disana, eung… kata samchoon kemungkinan dia  berada disana selama 3 tahun.” Jelas Donghae, membuat Hyuk Jae menatap Donghae dengan kedua mata melebar.

Jinjja? Woah, Sam Rin Hyo pasti gadis yang sangat berbakat.” Ujar Hyuk Jae seraya sesekali melirik Kyuhyun yang masih terlihat tak peduli.

“Tentu saja, tak mudah mendapat beasiswa ke Hungaria.”

“Beasiswa? Woah, daebak. Kudengar pria di Hungaria itu tampan – tampan, akan sangat beruntung jika Rin Hyo mendapatkan salah satu pria disana, bukan?” Donghae menoleh kearah Kyuhyun yang mulai menghentikkan pergerakannya. Meski kedua matanya tak menatap kearah mereka.

Senyuman Donghae terulas, “Pria itu juga pasti akan sangat beruntung mendapatkan Sam Rin Hyo.” ujar Donghae, sengaja mereka bercakap dengan suara yang sedikit keras agar Kyuhyun dapat mendengarnya. “Bagaimana menurutmu, Kyuhyun-ah? Sam Rin Hyo… dia mengagumkan, bukan?”

Kyuhyun tersenyum kecil, menatap kedua sahabatnya dengan tatapan tajamnya. “Tentu saja. dia pasti akan mendapatkan pria yang sangat mengagumkan juga.”

Hyuk Jae terkekeh, “Banyak pria yang mengagumkan di Hungaria, dia tidak perlu mencarinya di Korea.”

Kyuhyun juga ikut terkekeh, “Mm, kau benar. Ah, kurasa kalian sudah selesai memakan pizza! Jadi, pergi saja!” titah Kyuhyun dengan senyuman kecil yang masih menghiasi wajahnya. Dan sialnya, wajah itu semakin menyeramkan lagi jika Kyuhyun tersenyum seperti itu.

Hyuk Jae dan Donghae hanya bisa mengulum senyum. Melihat reaksi Kyuhyun yang seperti itu sungguh sangat membuat mereka terhibur.

 

Drrt Drrt

 

Kyuhyun mengalihkan pandangan kearah ponselnya yang berada disamping laptop. Wajahnya berubah menjadi dingin ketika melihat kontak nama yang tertera disana.

 

Sam Rin Hyo calling

 

Dengan wajah tegang, Kyuhyun mengangkat telepon itu dengan gerakan perlahan . “yeoboseyo?”

            Kenapa kau sangat brengsek, huh?

            Kyuhyun hanya terdiam, kemudian berucap “Kau mabuk?”

Apa sekarang itu penting? Yang terpenting saat ini adalah—Oh! Yeoboseyo? Cho Kyuhyun-ssi? Maaf, Rin Hyo sudah sangat mabuk. Dia selalu melantur seenaknya sendiri ketika mabuk, maaf sekali.

            “Mm, aku mengerti. Kalau begitu aku tu—“

Sekali lagi maaf, bisakah kau membantu kami?

            Kyuhyun mengernyitkan dahinya, “Waeyo?”

Sekarang kami berada di kedai soju didaerah Hongdae, Rin Hyo bersikeras tidak mau pulang sebelum bertemu denganmu. Apa kau sibuk? Bisakah kau datang kesini? ….. YA! Lee Kikwang! Kembalikan ponselku, aish!

            Suara teriakan Rin Hyo membuat tubuh Kyuhyun sedikit berjengit terkejut. Pria itu menghela napasnya panjang kemudian beranjak dari tempatnya sembari mengambil jas yang tergantung disandaran kursi. “Baiklah, aku akan kesana. Aku tutup.” Kyuhyun memasukkan ponselnya kedalam saku jas kemudian berjalan menuju pintu.

“YA!  Cho Kyuhyun! Kau… kau mau kemana, huh? Apa kau akan meninggalkan kami yang setia menunggumu disini?” tegur Hyuk Jae tak terima.

“Pulanglah, aku pergi dulu.” Hanya kalimat itu yang diucapkan Kyuhyun sebelum pria seenaknya sendiri itu keluar dari ruangannya. Meninggalkan Hyuk Jae dan Donghae yang tak bisa berbuat apa – apa selain saling bertatapan tak mengerti.

“woah, dia benar – benar tipe pria yang tak punya hati nurani.” Komentar Donghae yang langsung mendapat persetujuan dari Hyuk Jae.

 

***

 

“Ayolah, ini sudah tengah malam.”

Pinta Kikwang seraya menggoyang – goyangkan lengan Rin Hyo. Shin Ji Eun menghela napas frustasi, pasalnya bahkan Lee Kikwang yang sangat kuat pun tidak bisa mengangkat tubuh Rin Hyo karena gadis itu akan bergerak – gerak seperti cacing kepanasan ketika tubuhnya terangkat.

“Rin Hyo-ah, kenapa kau jadi seperti ini, huh?!” kini giliran Ji Eun yang buka suara. Rin Hyo menatap satu per satu sahabatnya dengan kedua mata layu.

“Kalian… aku harus berterima kasih pada kalian. Jika saja kejadian ini tidak terjadi, pasti aku dan Kikwang akan menikah. Dan perasaanmu akan selalu kau pendam tanpa pernah terungkap. Dan aku akan selalu bingung dengan perasaanku sendiri, begitupun Lee Kikwang. Jadi, aku ingin berterima kasih.” Jelas Rin Hyo panjang lebar, gadis itu beranjak dari tempatnya kemudian membungkuk dalam pada dua sahabatnya meskipun sedikit terhuyung jika seseorang tak memeganginya.

Kedua mata Ji Eun melebar ketika mendapati Cho Kyuhyun lah yang memegang lengan Rin Hyo agar tidak terjatuh. “C—Cho Kyuhyun.” Ji Eun membuka mulutnya kemudian menutupnya dengan tangan kirinya. Sedangkan Lee Kikwang kini tengah mengulum senyumnya.

“Ah, kau benar – benar datang, Cho Kyuhyun-ssi. Kalau begitu, aku harap kau menjaga Sam Rin Hyo baik – baik, karena kami harus segera pergi.” Kikwang menarik tangan Ji Eun agar gadis itu dapat berdiri. Kemudian membungkuk sedikit sebelum beranjak pergi dari sana.

Cho Kyuhyun hanya bisa membalasnya dengan tundukkan kepala. Pria itu menarik tubuh Rin Hyo kemudian kembali mendudukkannya diatas kursi. Helaan napasnya menghembus panjang ketika mendapati wajah Rin Hyo yang terlihat tidak sehat, dan juga kedua mata yang sesekali berkedip dengan sayu. Kyuhyun mengambil tempat didepan Rin Hyo, memandangi gadis itu tanpa berucap apapun.

Sam Rin Hyo akhirnya dapat membuka kedua matanya setelah beberapa saat ia tidak bisa membuka mata dengan benar. Dahinya mengernyit bingung ketika mendapati Kyuhyun yang tengah menatap dingin dihadapannya. Sejenak ia tertawa pendek.

“Ah, pria brengsek benar – benar datang kesini.”

Kyuhyun hanya diam, meski rahangnya mengeras ketika mendapatkan tatapan dan nada penuh kebencian dari Sam Rin Hyo. “Kenapa kau membuat orang kerepotan, huh?” tanya Kyuhyun ketus.

Rin Hyo tersenyum miring. “Menyenangkan bisa membuat orang sepertimu repot karenaku.” Ujar Rin Hyo ringan, “Kau… orang yang kubenci adalah kau, ara?

“Jika kau sudah selesai  bicara lebih baik cepat pulang. aku akan mengantarmu.”

Kedua mata Rin Hyo berkaca – kaca, perasaannya kacau saat ini. bahkan otaknya seperti tidak dapat berpikir dengan benar karena efek soju. “Kenapa kau membuatku seperti ini, huh? Apa sekarang kau merasa menang? Tch, keure, kau pasti sudah mendapatkan gadis yang lebih cantik dan seksi dari perjodohan itu, bukan? Benar – benar tipikal yang Cho Kyuhyun sukai.” Kyuhyun menghela napasnya berat kemudian mengambil tas Rin Hyo yang menggantung di kursi samping gadis itu.

Ahjumma, berapa semuanya?” Pria itu beranjak seraya mengeluarkan dompetnya, hendak membayar ketika pemilik kedai itu berjalan menghampirinya. Sam Rin Hyo sontak berdiri, menatap Kyuhyun dengan kedua mata yang sudah berair.

“Aku belum selesai bicara!”  Teriak Rin Hyo, membuat semua pengunjung kedai sekaligus pemilik kedai yang berada disampingnya terkejut. Kyuhyun memejamkan kedua matanya frustasi lalu mengeluarkan 50 ribu won tanpa meminta uang kembali, ia mengucapkan terima kasih sebelum menarik Rin Hyo keluar dari kedai.

“Lepaskan!” Rin Hyo mendorong tubuh Kyuhyun kuat ketika mereka sudah keluar dari kedai. Kedua mata gadis itu sudah mengeluarkan air mata yang belum pernah Kyuhyun lihat sebelumnya. “Aku benci menjadi seperti ini hanya karena pria sepertimu. Aku benci, aku benar – benar benci.”

Kyuhyun seperti kehilangan oksigennya, ia bahkan terlalu terkejut dengan keadaan Rin Hyo saat ini. Kedua matanya melebar ketika tiba – tiba Rin Hyo memejamkan kedua matanya, segera ia menarik tubuh gadis itu hingga membuat tubuh mereka berbenturan. Cho Kyuhyun hanya bisa membeku ketika ia merasakan hal ini lagi, yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah semakin menarik Sam Rin Hyo kedalam pelukannya.

 

***

 

Hiruk pikuk keramaian bandara internasional Incheon menyambut Sam Rin Hyo ketika ia baru saja menurunkan barang – barangnya dari atas taksi. Sengaja ia menolak tawaran baik Kikwang dan Ji Eun untuk mengantarnya kebandara, karena jika saja mereka benar – benar mengantarnya saat ini. Ia tidak yakin dapat meninggalkan Korea dengan lapang dada. Sungguh, rasanya begitu aneh jika berpisah dengan Kikwang dan Ji Eun. Ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya ketika ia hidup ditempat yang jauh dari Kikwang dan Ji Eun.

“Rin Hyo-ah!”  panggilan tegas namun tak begitu keras dari Jung sam membuat Rin Hyo mengulas senyuman kecilnya, mendorong trolley kopernya kearah dosen terfavoritnya itu. Tubuhnya menunduk sejenak kemudian berucap, “Maaf, sudah membuatmu menunggu, sam.” Sesalnya.

Pria paruh baya itu menepuk – nepuk punggung Rin Hyo seraya berkata, “Tidak apa – apa. Aku juga sedang menunggu seseorang.” Dahi Rin Hyo mengernyit bingung.

“Ah, jadi kita tidak berdua saja berangkatnya? Aku kira hanya sam dan aku.”

“Memang hanya kita berdua yang berangkat. Aku menunggu keponakanku, katanya ingin mengucapkan selamat tinggal padamu.”

Nde?! Padaku? Tapi aku—“

“Ah, itu dia!” Rin Hyo segera menoleh kearah tatapan Jung sam. Alisnya mengernyit bingung melihat kehadiran dua orang pria yang begitu asing baginya, dua pria itu berjalan kearahnya seraya melambaikan sebelah tangannya seolah mereka adalah teman dekat. Dengan canggung Rin Hyo membalas dengan satu lambaian tangan yang begitu singkat dan cepat.

Annyeong haseyo!”

Eo, Hyuk Jae-ya! kau juga datang? Woah, sepertinya kalian dekat sekali dengan Rin Hyo hingga menyempatkan diri datang kesini.” Rin Hyo menggaruk tengkuknya bingung.

Sam, sebenarnya kami tidak—“

“Nona Sam! Bisakah kami berbicara denganmu? Ada yang ingin kami katakan.” Potong Hyuk Jae seraya menarik tangan Rin Hyo.

mw—mwusunriya?”  tanya Rin Hyo bingung seiring dengan tubuhnya yang mengikuti kemana arah dua pria ini menariknya.  “Sebenarnya apa yang ingin kalian katakan?!” Rin Hyo menghentikkan langkahnya seraya menarik kedua tangannya ketika merasa jarak antara mereka dan Jung sam cukup jauh.

“Katakan disini, aku akan mendengarkan.” Lanjut gadis itu dengan nada tegasnya, seolah menekankan bahwa ia tidak suka ditarik – tarik seperti itu. sebenarnya, satu hal yang membuat ia menghentikkan langkahnya adalah ia malas harus berjalan kembali kearah Jung sam jika jarak antara mereka terlalu jauh.

Hyuk Jae meneguk ludahnya berat ketika mendapat tatapan tajam juga nada tegas dari Sam Rin Hyo. Pria itu secara spontan menyenggol lengan Donghae, juga memposisikan kedua tangannya didepan layaknya seorang anak buah yang tengah bersikap didepan bosnya. Sam Rin Hyo beralih menghadap Donghae, melihat reaksi kedua pria itu membuat ia merasa greedy, dengan angkuh ia melipat kedua tangan didepan dada.

“Pertama, aku tidak mengenal kalian sama sekali dan dengan tidak tahu malunya kalian membuat situasi canggung yang membuatku bingung. Dan juga menyeretku seperti tadi, aku mungkin bisa bersabar jika kalian bersikap sopan padaku. Tapi, dengan begini tindakan kalian begitu kekanakan untuk pria seumuran kalian.” Celotehan Rin Hyo yang panjang lebar itu akhirnya terhenti bersamaan dengan helaan napas panjangnya, sepertinya ia sampai lupa bernapas ketika memarahi dua pria ini.

Lee Hyuk Jae dan Lee Donghae sontak membungkuk sebagai permintaan maaf. “Maafkan sikap kekanakan kami yang membuatmu bingung, Sam Rin Hyo-ssi. Kami adalah teman dekat Cho Kyuhyun. Aku keponakan Jung samchoon.” Ujar Donghae dengan begitu sopan. Alis Rin Hyo sedikit terangkat ketika mendengar nama Cho Kyuhyun disana, seketika ingatannya kembali pada kejadian di pesta peresmian hotel milik perusahaan Cho Kyuhyun. Ia ingat telah melihat wajah pria – pria ini meski hanya sekilas, ah, dan juga ketika di cafe. Bibirnya terbuka sedikit, seiring dengan kedua tangannya yang menurun. Kepercayaan dirinya yang begitu tinggi tadi seperti telah jatuh terpelosok. Sial.

“Karena kau sudah menceramahi kami yang memang tidak tahu malu, dan sejujurnya siraman rohani yang kau ucapkan sudah menghabiskan banyak waktu. jadi, dengan hormat bisakah kami menanyakan satu hal padamu, Rin Hyo-ssi?” Dengan wajah tanpa ekspresi Rin Hyo mengangguk sekali, bingung harus bereaksi apa pada pertanyaan Hyuk Jae. “Kau akan tinggal dimana? Maksudku bagian daerah Hungaria yang mana? Kami tidak bisa mendapatkan informasi dari pamannya pria ini karena pria tua itu seperti ingin bermain tebak – tebakkan yang sangat kekanakan pada kami.”

Sam Rin Hyo menoleh kebelakang, tepatnya kearah Jung sam yang sudah menunjuk – nunjuk jam tangannya. Mengintruksikan padanya agar segera bergegas. “Rin Hyo-ssi? Kau tipe gadis yang menepati janji dan tidak suka berbohong kan? Jawab saja dengan santai.” Timpal Donghae ringan. Rin Hyo memincingkan kedua matanya penuh curiga.

“Kenapa kalian sangat ingin tahu, huh? Apa kalian menarikku kesini hanya untuk… menanyakan pertanyaan ini?” Donghae dan Hyuk Jae mengangguk hampir bersamaan. Sam Rin Hyo menghela napasnya pendek, kemudian berucap dengan cepat “Budapest! Sudah, aku harus pergi. Selamat tinggal!”

Sontak Rin Hyo membalikkan badan, berlari kecil menghampiri dosennya agar mereka segera memasuki pintu departure. Donghae dan Hyuk Jae saling bertatapan dengan bingung “Buddha pese? Apa maksudnya? Apa dia tinggal di

Daerah yang banyak penganut buddhanya? Apa dia hanya memberi kita hint dan tidak menjawabnya secara langsung?” Hyuk Jae menyerang Donghae dengan pertanyaan – pertanyaan yang bahkan Donghae tidak dapat menangkapnya satu per satu.

“Kurasa itu jawaban yang sangat tepat. Kudabes?” Donghae bergumam dengan penuh keyakinan. Hyuk Jae menatapnya dengan tatapan pria ini tidak bisa diharapkan sama sekali, lalu beralih kearah Sam Rin Hyo dan Jung sam yang sudah bersiap untuk pergi.

“Lebih baik kita kesana dan mengantar mereka, Donghae-ah.”

 

***

 

Ferenc Liszt university of music, Budapest

 

            Sam Rin Hyo tak pernah melunturkan senyumannya, terutama ketika Jung sam mengajaknya bertemu dengan banyak pengajar yang berada diuniversitas ini. Universitas musik Ferenc Liszt yang berada di salah satu negara eropa tengah yang sangat indah ini juga memiliki arsitektur bangunan yang begitu indah. Design klasik dengan sentuhan istana khas eropa telah memanjakan kedua mata Sam Rin Hyo yang memang sangat menyukai bangunan – bangunan seperti ini.

“Nice to meet you, miss Sam. I heard you are really talented student from profesor Jung.”

            Rin Hyo tersenyum kecil. “But i still have to learn more, profesor.”

            Profesor Ernst terkekeh seraya menepuk dua kali pundak Rin Hyo. “Enjoy your time in this beautiful country, and dont forget to learn magyar.”

persze, professzor.” Jawab Rin Hyo dengan bahasa magyar (bahasa hungaria) meski dengan accent yang seadanya. Profesor Ernst kembali terkekeh kemudian berbincang dengan Jung sam. Rin Hyo yang tak mengerti bahasa magyar selain “tentu saja (persze)” dan “profesor (professzor)” hanya bisa mengalihkan pandangannya kearah lain. Menatap langit budapest yang lebih gelap dari sebelumnya, awan – awan tebal berkumpul menyembunyikan matahari yang tadi bersinar dengan indah. Sepertinya akan hujan sebentar lagi.

“Rin Hyo-ah, kau bisa kembali ke hotel atau jalan – jalan sendiri kan? Ada beberapa urusan yang harus kuurus.” Sontak Rin Hyo kembali menatap Jung sam kemudian tersenyum kecil seraya mengangguk kecil. “Hubungi aku jika kau tersesat.” Imbuh Jung sam yang sepertinya masih berat hati jika meninggalkan Rin Hyo sendirin di lingkungan asing seperti ini.

Ne.” Jawab Rin Hyo penuh keyakinan kemudian membungkuk pada profesor Ernst dan Jung sam yang berjalan menjauh setelah mengucap salam. Setelah jarak Jung sam sudah sangat jauh, Rin Hyo kembali berjalan dengan langkah pelan. Memutari universitas yang sangat besar ini dengan sesekali tersenyum kecil. Meski hawa tidak sesejuk tadi, tapi ia senang bisa berjalan ditempat yang sangat asing. Jujur saja, awalnya ia khawatir akan suasana asing yang akan ia hadapi seorang diri. Namun setelah merasakannya, ternyata tidak menakutkan sama sekali. Malah ia nyaman dengan suasana seperti ini. Pergi ke negeri yang sangat asing untuknya seorang diri. Belajar bahasa dan kebudayaan disana tanpa bantuan orang korea lain, ia ingin berusaha sendiri tanpa ada penerjemah atau guide tour.

Szia! (Hai)” beberapa mahasiswa menyapanya dengan begitu ramah disana, dan tentu saja ia hanya bisa membalas dengan gestur dan bahasa seadanya.

 

Tes… tes… tes

 

            Tetesan hujan yang berangsuran jatuh itu membuat Rin Hyo segera mengangkat tasnya sebagai satu – satunya benda yang dapat melindunginya dari hukan saat ini. begitu pun dengan para mahasiswa disana yang segera berlari menuju tempat teduh atau sebagian lainnya yang langsung membuka payungnya. Begitu pun dengan Rin Hyo yang berlari kecil menuju tempat berteduh, dan sayangnya untuk mencapai tempat berteduh di jalan lapang seperti ini harus membutuhkan jarak yang tidak terlalu dekat.

Keresztul itt. (lewat sini)” tubuh Rin Hyo berjengit terkejut ketika tiba – tiba seorang pria yang membawa payung berwarna hitam itu menarik tubuhnya mendekat seraya menariknya menuju tempat berteduh terdekat.

Sam Rin Hyo tak bisa berbuat apa – apa selain mengikuti langkah pria itu. meski ada sedikit rasa khawatir dengan pria asing yang entah darimana datangnya ini. Setelah sampai di emperan pintu besar sebuah gedung yang terbuka, pria itu menutup payungnya kembali. Tak bisa menahan rasa penasaran, Rin Hyo segera mengamati pria tinggi itu dari atas hingga bawah. Namun sayang sekali, tudung jaket yang ia sampirkan hingga atas kepala dipadu dengan masker hitam yang ia pakai seolah menambah rasa penasaran Rin Hyo. membuat ia tidak bisa menatap wajah pria tinggi ini.

Kooszoonoom. (Terima kasih)” pria itu hanya mengangguk sekali kemudian menyingkirkan air yang masih mengalir di jaket waterproof-nya. Dengan rasa tidak tahu malunya, Rin Hyo masih saja memperhatikan gerak – gerik pria itu, terutama pada masker yang menutupi wajahnya.

Miert nez igy ram? (mengapa melihatku seperti itu?)” Rin Hyo mengedip – kedipkan kedua matanya bingung dengan apa yang diucapkan pria hungaria ini. tanpa sadar tangan gadis itu membentuk lingkaran didepan bibir.

Pria itu semakin menaikkan maskernya, kemudian berucap “Volt az influenza, es ezert volt rajtam egy maszk. (Aku sakit flu, maka dari itu aku memakai masker.” Rin Hyo mengernyit, semakin bingung dengan ucapan pria ini.

English, please.” Pria itu menghela napas panjang kemudian menyodorkan payungnya pada Rin Hyo.

I think this will be useful for you.” Rin Hyo mendorong pelan payung yang diberikan pria itu seraya menggeleng kecil.

Im okay.” Tolak Rin Hyo sopan. Pria itu menarik tangan Rin Hyo kemudian menaruh payung itu diatas telapak tangan gadis itu sebelum menggenggamkannya. Rin Hyo mengangkat alisnya bingung.

It looks like rain will take very long time. So, just take this.”

            “How about you?  You just have one umbrella.”

            “Dont worry about me, i must take my class now.”

            “But—“ ucapan Rin Hyo terhenti ketika pria tinggi itu berjalan cepat memasuki gedung berpintu besar ini. helaan napasnya keluar sesaat setelah ia menatap payung yang berada ditangan kanannya. “Seharusnya aku menanyakan namanya.” Ujarnya pelan seraya memainkan payung hitam itu.

 

***

 

“Disini hujan, tapi sungguh meskipun hujan budapest masih sangat indah.”

Jinjja? Mm… mungkin minggu depan aku akan mengunjungimu, Hyo. minggu ini perusahaan benar – benar sibuk mengurusi proyek resort.

            Rin Hyo terkekeh pelan, menggosok – gosok telapak tangan kirinya pada badan cangkir mochacino-nya. Selagi tangan kanannya masih menyanggah telepon agar menempel ditelinganya. “Tidak usah dipaksakan jika benar – benar sibuk, Kikwang-ah.

Aniya, aku ada waktu minggu depan.

            “Lalu Shin Ji Eun? Dia masih belum bisa kesini, kan? Lebih baik kalian datang bersama saja daripada terpisah.”

Ck, kau selalu tidak mendengar perkataan orang lain. Pokoknya aku akan kesana minggu depan, dan Shin Ji Eun akan menyusul nantinya. Kau tidak usah mengkhawatirkannya.

            Senyuman kecil Rin Hyo terulas, tiba – tiba ia mengingat pertemuannya dengan pria tadi. Kedua matanya menatap kearah payung hitam yang bersandar dikaki meja cafe ini. sungguh, jika saja ia tidak memiliki payung mungkin ia akan kebingungan dijalan. Karena ia bukanlah gadis yang pintar menghafal jalan, jadi ia harus berputar – putar untuk menemukan jalan kembali ke hotel tadi dengan payung ini. dan karena ia masih sangat malas kembali ke hotel, jadi ia memutuskan untuk singgah sejenak dicafe yang berada tepat disebelah hotelnya.

Hei, kau masih disana? kubilang tidak usah mengkhawatirkan Shin Ji Eun. Dia bisa mengurus dirinya sendiri.

            “Kikwang-ah, tadi aku bertemu dengan pria hungaria yang sangat baik tapi tidak ramah.”

Apa dia tampan? Hahaha ada apa ini, baru satu hari kau disana tapi sudah bertemu dengan seorang pria.

            “Apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku bertemu dengan pria, apa kau pikir tidak ada pria di hungaria?”

Iya… iya… jadi bagaimana? Kau tidak ingin bercerita? Kau belum menjawab apa dia tampan atau tidak!

            “Aku belum melihat wajahnya karena dia memakai tudung jaket dan juga masker. Tapi, bukankah banyak pria tampan di hungaria. Kurasa dia tampan, dan yang terpenting pria itu tinggi.”

Hahaha ya sudah, lebih baik sekarang kau dekati saja pria itu. bisa saja dia adalah jackpot untukmu agar segera melupakan Cho Kyuhyun.

            “Aish, jangan menyebut nama pria itu, bodoh!”

Aku hanya bercanda, tenanglah. Lagipula mungkin saja pria hungaria itu adalah takdirmu. Tidak ada yang bisa menyangka takdir, bukan?

            “Takdir kepalamu! Kau terlalu banyak menontn drama sepertinya, tuan Lee.”

Siapa namanya? Kau sudah berkenalan dengannya?

            “Dia itu sangat tidak ramah, Kikwang-ah. Aku tidak suka dengan pria seperti itu. hanya saja dia pria tidak ramah yang baik hati, bahkan ia memberiku payungnya padahal kita belum saling menge—oh astaga, apa benar takdir?” Rin Hyo tertegun ketika kedua matanya menangkap pria bermasker yang tadi ia temui kini tengah memasuki cafe dengan tubuh basah kuyup. Pria itu mengusap kasar rambutnya kemudian kembali menutupinya dengan tudung jaket. Untung saja jaket pria itu waterproof jadi tidak perlu waktu lama untuknya agar air segera hilang dari jaketnya.

Wae? apa yang kau bicarakan?

            “Pria itu, dia sekarang masuk kedalam cafe yang kini aku tempati.” Ucap Rin Hyo tanpa mengalihkan pandangannya dari pria itu.

Mwo? jinjja?! Woah, sepertinya kalian memang ditakdirkan untuk saling mencintai hahaha.

            “Tutup mulutmu, Lee Kikwang!”

Sudahlah, lebih baik kau sapa pria itu dan mentraktirnya kopi panas. aku tutup, ya! fighting!

            “YA! aish, Lee Kikwang! Yeoboseyo?” Rin Hyo menatap layar ponselnya dengan kesal. Padahal ia masih ingin mengobrol panjang dengan Lee Kikwang saat ini, dan juga sekaligus agar ia mendapat teman mengobrol daripada tidak melakukan apapun dikafe ini.

 

Duk

 

sajnaljuk! (maaf)  tukas seorang pria yang tak sengaja menyaduk payungnya seraya mengembalikan payung itu ketempat semula, namun pria itu malah mengangkat payungnya lalu menatap Rin Hyo terkejut.

Rin Hyo melebarkan kedua matanya ketika menatap pria bermasker itulah yang menyaduk payungnya. Spontan Rin Hyo menundukkan kepala sopan, “Hai?” ucapnya canggung seraya mengangkat sebelah tangan.

Pria itu mengangkat alisnya. Tak bicara atau berbuat apapun. Hanya menatap Rin Hyo, seolah menunggu gadis itu bicara. “wanna drink coffee together? I’ll treat you.”  Tawar Rin Hyo seraya mengangkat cangkir kopinya dengan segaris senyuman canggung.

Pria itu tak bicara apapun, alisnya sudah turun seperti biasa. Tanpa berucap apapun ia duduk dihadapan Rin Hyo. tangannya masih menggenggam payungnya.

Maybe, this is very match time to give your umbrella back.” Rin Hyo tersenyum kecil kemudian melanjutkan, “Hm, thank you. You’re right, that thing is really useful.” Ia menunjuk payung pria itu seraya tertawa kecil. Namun masih tidak ada reaksi apapun dari pria itu.

Ah, do you want a cake? Hmm… cheese cake? Chocolate cake? What kind of cake do you like?”

            “Tiramisu.”

            “Ah, tiramisu. Excuse me!”  seorang pelayan datang dengan membawa sebuah note kecil.

can i help you?”

            “ Tiramisu, one slice. Molten cake, one. And…” Rin Hyo menatap pria bermasker itu, memberi kode pada pria itu agar mengatakan pesanan minumannya.

Hot americano.

Okay, wait a moment, please.” Dengan cepat pelayan itu meninggalkannya dengan pria ini, terdiam disana dengan perasaan canggung.

You doesnt looks like Hungarian.” Rin Hyo sedikit terkejut ketika pria itu tiba – tiba mengajaknya bicara.

            “Ah, ya. iam korean. Are you hungarian?”

            Pria itu menggeleng pelan, “No.

Really? Wow, you are’nt hungarian but your pronouncation is really great.”

I learn magyar a lot.”

            “Im going to learn it, so that will be good if you can teach me. Hahaha.” Rin Hyo mencoba menaikkan suasana dengan tawa kecilnya, namun pria itu masih saja tak bereaksi apapun. Membuat ia hanya bisa menghela napas seraya menyandarkan diri pada kursi. Tak peduli lagi dengan first impression yang ingin ia tampakkan secara sempurna pada pria ini, ya… mungkin saja kan mereka bisa berteman dekat nantinya?

Pada saat yang tepat, pelayan datang dengan membawa pesanan mereka. Menatanya diatas meja kemudian pergi setelah memastikan pada Rin Hyo bahwa tak ada pesanan yang kurang.

 

Drrt Drrt

 

Lee Kikwang calling

 

            Pria bermasker itu menatap layar ponsel Rin Hyo kemudian segera mengalihkan pandangannya kearah Rin Hyo. gadis itu menghela napasnya kasar lalu mengangkat telepon Kikwang dengan wajah malas.

Mwo? wae?”

            Bagaimana ? kau sudah berhasil membawa pria itu duduk denganmu?

            Rin Hyo menatap pria dihadapannya dengan datar kemudian menatap kearah lain ketika mata mereka bertemu. “Tentu saja! kami bahkan sudah memesan cake dan kopi juga.”

Woah, lalu bagaimana? Apa dia benar – benar tampan?

            “Kurasa dia adalah pria aneh yang tidak punya tempat tinggal dan tidak punya teman. Mengobrol dengannya membuatku ingin marah saja. tidak ada pria tampan yang mengesalkan, bukan? Jadi kesimpulannya, pria ini tidak tampan sama sekali.”

Apa kau berbicara tepat didepannya sekarang? YA! bagaimana jika ia mendengarnya, huh?!

            “Tch, dia tidak akan mengerti bahasa korea, bodoh!”

Tapi kan belum tentu juga dia bukan orang korea.

            “Jika ia orang korea, dapat kupastikan sekarang ia akan—“ ucapan Rin Hyo terhenti begitu saja ketika pria itu membuka maskernya, kedua matanya seolah kehilangan fokus ketika melihat identitas pria itu yang sebenarnya. Tangannya pun terjatuh begitu saja diatas paha, tak mempedulikan Lee Kikwang yang berteriak – teriak disana.

“Kau—“ napas dan suara gadis itu terasa tercekat, pandangannya telah kabur karena seperti ada air yang menggenangi pelupuk matanya. “Cho Kyuhyun.” Lanjutnya, bersaman dengan setetes air matanya yang menetes.

Kyuhyun tersenyum kecil, mengusap air mata Rin Hyo kemudian melipat kedua tangannya diatas meja. “Ah, jadi aku pria aneh yang tidak punya rumah, ya?”

Kedua kelopak mata Rin Hyo berkedip cepat, tak tahu harus bereaksi seperti apa. “Apa ini? lelucon apa ini, huh? Bagaimana bisa kau ada disini?” cecar Rin Hyo dengan kedua mata menatap Kyuhyun dengan bingung bercampur marah.

“Hm, ini adalah lelucon buatanku.” Jawab Kyuhyun seraya mengangguk dua kali. “Bagaimana? Tch, kurasa lebih lucu lelucon yang kau lakukan padaku, bukan?”

Rin Hyo mengernyit, “Apa ini adalah bentuk balas dendammu?”

“Menurutmu?” Rin Hyo tersenyum miring, ia menghela napasnya dalam – dalam kemudian berucap “Woah, kau benar – benar berhasil membuatku seperti orang bodoh. Keure, nikmati saja kuenya. Ambil juga payung itu. aku pergi.”

Tanpa menunggu apapun, Rin Hyo beranjak dari tempat duduknya. Namun sontak tubuhnya kembali duduk dikursi kafe karena Kyuhyun menarik tangannya agar duduk kembali. Tatapan pria itu berubah menjadi tajam dan mengintimidasi seperti biasa.

“Aku datang kesini untuk melihatmu. Sejak tadi siang ketika kau baru saja keluar dari hotel, aku sudah mengikutimu sejak saat itu hingga sekarang aku bisa duduk dihadapanmu. Jadi, bisakah kau tidak pergi lagi?”

Rin Hyo bisa apa ketika Kyuhyun sudah mengeluarkan pintaannya seperti itu. gadis itu menghela napas panjang, menarik tangannya yang berada didalam genggaman Kyuhyun dengan perlahan kemudian berucap “Makanlah.”

Cho Kyuhyun tersenyum, semakin mengenal Rin Hyo semakin ia tahu bahwa Rin Hyo adalah gadis yang memiliki random mind dan juga mood yang berubah – ubah. Gadis yang bisa saja marah dengan hal – hal kecil, namun tidak marah karena hal yang seharusnya patut ia marahi. Pikiran gadis ini tak bisa ia tebak, namun itu sama sekali tidak mengganggunya. Karena ia mulai terbiasa, dan sejujurnya hal itu sangat menarik.

“Kau juga, molten cake lebih enak jika dimakan ketika hangat.”

Tanpa berucap apapun Rin Hyo mengambil garpunya, memotong kue yang luarnya keras namun sangat lembut didalamnya itu kemudian memakannya. Sebenarnya ia lebih suka tiramisu ketimbang molten, karena molten terbuat full of chocolate. Namun entah kenapa sekarang ia ingin sekali makan coklat, maka itu ia memesan molten cake.

Sesekali Rin Hyo mencuri pandang kearah Kyuhyun yang tengah memakan kuenya dengan santai. Ia bingung dengan sikap dan juga kemunculan tiba – tiba pria ini. setelah sikap dingin dan  tak peduli pria ini padanya, tiba – tiba saja ia muncul. Bersikap seolah – olah tak ingin ia pergi. Apa yang diinginkan Cho Kyuhyun sebenarnya? Itulah satu pertanyaan yang sejak tadi menyangkut ditenggorokkannya.

“Bagaimana dengan Budapest? Kau suka?” tanya Kyuhyun tiba – tiba. Rin Hyo mengangkat bahunya asal, mengalihkan pandangannya pada luar cafe.

“Begitulah, aku suka hal – hal kuno. Dan disini banyak hal kuno yang kutemui, jadi aku suka.”

Kyuhyun tertawa kecil. “Aku tidak tahu kau memiliki sisi seperti itu.” ucap pria itu dengan senyuman miring. Rin Hyo mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun. Menatap malas pria itu kemudian mendecih sebelum membalas,

“Memangnya kau tahu apa tentang aku, huh?”

Kyuhyun tersenyum kecut, menggedikkan bahunya. “Benar. Aku belum sempat sampai pada fase mengenalmu dengan baik.”

Kerutan didahi Rin Hyo tercetak jelas, merasa sikap Kyuhyun yang semakin aneh dan membingungkan. Dengan jelas ia mengingat jika Kyuhyun bersama dengan seorang wanita cantik ketika ia menemuinya di gedung apartemen pria itu. bukankah akan sangat janggal jika wanita itu dan Kyuhyun tidak memiliki hubungan apa  – apa?

“Katakan dengan jujur, Cho Kyuhyun.” Rin Hyo menggantung ucapannya, menunggu Kyuhyun menatapnnya. Kemudian melanjutkan “Apa alasan kau berada di Budapest saat ini?”

Cho Kyuhyun menghela napas panjang, “Sudah kukatakan bukan? Aku kesini untuk menemuimu.” Jawab pria itu sedikit enggan untuk mengulang ucapannya lagi.

“Tch, apa kau kira aku akan percaya dengan itu semua? Dan kau akan melihat kebodohanku, lagi? sebegitu senangnya kau melihatku salah paham dan bertingkah bodoh, huh? Aku rasa sudah cukup main – mainnya, aku sudah merasa dipermalukan. Jadi, katakan saja yang sebenarnya! Tidak usah berbelit – belit.”

Cho Kyuhyun mengulum senyum. Memang tidak mudah untuk meyakinkan gadis berkepala batu seperti Sam Rin Hyo, namun ya, itu salah satu sisi menarik dari Rin Hyo bagi Kyuhyun. “Aku tidak suka mengulang ucapanku, Sam Rin Hyo. jadi, berhenti berucap omong kosong dan habiskan kuemu!”

Kerutan didahi Rin Hyo semakin tercetak jelas, sikap santai Kyuhyun semakin membuatnya kesal. Ia merasa Kyuhyun bersikap seperti itu secara sengaja agar membuatnya terpojokkan. “Aku kira kau sudah akan menikah entah itu 3 bulan lagi atau bahkan 2 minggu lagi. benar begitu, kan?” tanya Rin Hyo seraya bersendekap, tak menyentuh garpunya lagi. lama – lama rasa coklat pada kandungan molten cake itu terasa memuakkan.

Alis Kyuhyun terangkat tak mengerti. Menatap Rin Hyo dengan bibir terkatup, bahkan ia sudah meletakkan garpunya diatas piring. Enggan untuk menyantapnya lagi. Sedangkan Rin Hyo kini sudah tersenyum miring melihat reaksi Kyuhyun yang persis seperti pria yang baru saja terpergok selingkuh oleh istrinya.

“Tidak mungkin tidak ada hubungan apa – apa bagi wanita yang sudah berani mengunjungi apartemen seorang pria pada pagi hari, bukan? Woah, kurasa kau benar – benar dalam hubungan yang serius, tuan Cho.”

“Kau ingin aku menjawab apa?” Kyuhyun menatap Rin Hyo datar, tiramisu yang sudah hampir habis itu sudah tak ingin ia sentuh lagi.

Rin Hyo mengernyit bingung, kepercayaan dirinya untuk memenangkan perdebatan kali ini tiba – tiba jatuh kedasar. Hanya karena menerima tatapan itu dari seorang Cho Kyuhyun. “Eo?” hanya itu yang dapat disuarakan oleh lidahnya. Kedua tangan yang tadinya bersendekap kini turun dengan sendirinya, mengimbangi detak jantungnya yang berdegup kencang tanpa alasan yang tak jelas.

“Kau ingin aku menjawab ‘Ne, hubungan kami adalah hubungan yang serius. Hubungan lebih dari teman yang mungkin tak pernah bisa kau sangka.’ Atau ‘Ne, aku akan menikah. keunde… dengan seorang gadis yang akan menerima lamaranku nanti.’ Kau ingin aku menjawab seperti apa?” Kyuhyun memang pintar mengatur emosi dan tata bicara. Dia pria yang sangat dewasa, Rin Hyo tahu itu. jika dipikir – pikir lagi, saat ia bersama Cho Kyuhyun… bukan pria itu yang seperti anak kecil, tapi dia. Sam Rin Hyo.

“Aku meminta jawaban yang jujur.”

Kyuhyun mengangguk sekali, memajukan tubuhnya kemudian mengulas senyuman miring “Bagaimana ini? dua – duanya adalah jawaban yang jujur.”

Wajah Rin Hyo terasa seperti mendapat taburan salju di puncak gunung everest. Rasanya begitu kaku dan dingin, membeku. Melihat reaksi Rin Hyo, Kyuhyun tertawa pendek. “Ada apa dengan wajah itu? kau bingung atau terkejut dengan jawabanku?”

Sam Rin Hyo tak menjawab. Mengalihkan rasa dingin disekujur tubuhnya dengan secangkir mochacino yang panasnya sudah hampir seratus persen hilang. Ia meminum sisa mochacino-nya seperti seseorang yang meminum soju.

Kyuhyun mengulum tawa, melihat tingkah laku Rin Hyo seperti itu sungguh terlihat begitu menggemaskan dikedua mata Kyuhyun. “Ah, kukira yang benar adalah tebakan kedua. Terkejut. “ Perlahan Rin Hyo menatap Kyuhyun, semakin membenarkan apa yang berada dipikiran pria itu. “Hm… bagaimana dengan sekarang?”

“Apanya?”

“Apa kau sekarang ingin bertanya, ‘Benarkah? Bagaimana bisa kau secepat itu sudah terlibat hubungan yang seperti itu?’ atau ‘hubungan seperti apa? Siapa dia? Berapa umurnya?’ kau ingin mempertanyakan hal – hal seperti itu?”

Rin Hyo hanya menatap Kyuhyun tanpa ekspresi, tak peduli dengan Kyuhyun yang sudah terkikik geli karena bayangannya sendiri. “Jadi setelah ini kau akan menikah?” suara gadis itu tak berirama sama sekali. Kedua matanya juga memancarkan pancaran yang sama. Pilu.

Kyuhyun menghentikan kekehannya, bibir yang menyengir tak jelas itu juga perlahan menghilang. Melihat Rin Hyo yang seperti ini membuatnya tak tahu harus berbuat apa lagi. Hingga hanya satu kata yang akhirnya keluar dari bibir pria itu,

“Mungkin.”

Rin Hyo tersenyum tipis, “Dia pasti bodoh jika mau menikah dengan pria sepertimu. Keure, chukae.

“Tch, kau benar. Dia pasti sangat bodoh . bagaimana bisa ia akan menerima seorang pria brengsek yang menganggap wanita layaknya mainan sepertiku?”

“Mm, bahkan ketika dia sudah hendak menikah. Pria itu masih saja datang kesini, dengan alasan ingin bertemu dengan gadis lain. Tidakkah pria itu memang benar  – benar brengsek? Tidakkah ia tahu jia Ia tidak hanya menyakiti hati satu gadis saja.” Kedua mata Rin Hyo terasa kabur karena air yang berada dipelupuk mata. “Katakanlah memang ia akan menikah. Tapi apa dia perlu susah payah datang kesini hanya untuk memeperjelas pada gadis itu bahwa tidak ada harapan lagi untuknya dengan cara  mengatakan aku akan menikah? Tch, sungguh pria yang brengsek!”

Kyuhyun semakin terkejut dengan ucapan Rin Hyo. terlebih cara gadis itu ketika mengucapkannya. Menimbulkan desiran aneh dan hawa hangat yang menyebar keseluruh tubuh karena satu hal yang hampir tak pernah ia dapatkan. Ketulusan.

“Tapi…” Kyuhyun menggantung kalimatnya, merogoh saku jaketnya kemudian menaruh satu kotak kecil diatas meja. Kedua mata Rin Hyo melebar sempurna ketika melihat sebuah cincin yang nampak disana. Secepat mungkin ia menatap Kyuhyun yang kini juga tengah menatapnya hingga membuatnya merasa tenggelam.

Cho Kyuhyun menarik napasnya dalam – dalam terlebih dahulu sebelum melanjutkan, “Meskipun begitu…. meskipun aku adalah pria yang sangat brengsek. Tidak bisakah kau menerimanya?”

Rin Hyo masih tenggelam dalam tatapan Kyuhyun, ia bahkan hampir lupa bagaimana caranya bernapas karena sudah terlalu dalam tenggelam. Kedua bola matanya turun guna menatap sebuah cincin yang masih terletak didalam kotak kecil yang terbuka itu. Hanya sebentar, sebelum ia menatap kembali Kyuhyun dengan sendu.

“Lalu… jika aku menerimanya, itu artinya aku adalah gadis yang sangat bodoh, bukan?” Kyuhyun memejam frustasi, kedua tangannya masih berada dibawah meja. Terlalu takut jika ia taruh diatas meja akan begitu kentara bagaimana gemetarnya kedua tangan itu sekarang.

“Pria brengsek itu sudah sedikit demi sedikit berubah. Kau hanya perlu menerimanya, lalu mengarahkannya agar ia dapat berubah… sedikit lagi, pria brengsek itu pasti bisa menjadi seorang yang sangat baik. Begitu pun tidak bisa?” kedua mata Kyuhyun semakin menatap Rin Hyo penuh dengan harapan. Sorotan tajam dan penuh percaya diri itu kini terganti dengan sorotan mata penuh harap meski masih bisa ia lihat ada sesuatu yang mengintimidasi disana.

Rin Hyo tersenyum miring, “Kau masih pria brengsek, Cho Kyuhyun.” Tukas gadis itu tajam, menciptakan ribuan jarum tajam yang seolah menancap dalam pada dadanya. Rasanya sesak dan perih. “Pasangan ada untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Karena kau adalah pria brengsek dan aku adalah seorang gadis yang berhati malaikat, jadi aku bisa terima.”

Lidah Kyuhyun kelu, bibirnya tanpa sadar menciptakan satu senyuman. Kedua matanya sudah menguarkan binaran yang berbeda, begitu pun dengan Sam Rin Hyo. Tanpa ragu kini Rin Hyo menaruh tangan kanannya diatas meja.

Gadis itu menatap Kyuhyun dengan senyuman bocah, kemudian berucap

“Kau tidak ingin memakaikan cincin itu sekarang?”

 

***

 

Menikmati pemandangan sungai dari atas jembatan Széchenyi membuat Rin Hyo mengulas senyuman kecilnya. Tangan kanan ia angkat hingga didepan mata, senyumannya semakin mengembang ketika menatap cincin yang  tersemat di jari manisnya. Tak ia sangka, Kyuhyun akan melamarnya.

“Sesenang itu, huh?” Senyuman Rin Hyo luntur seketika bersamaan dengan tangannya yang ia turunkan, memilih lebih memegang pagar jembatan. Raut wajahnya berubah datar.

“Aku senang karena kau juga senang. Memangnya kau tidak senang?” ketus Rin Hyo, menciptakan tawa kecil yang keluar dari bibir Kyuhyun. Pria itu mengacak rambut Rin Hyo kemudian mengelusnya kebelakang dengan senyuman penuh. Rasanya sangat lega.

“Kukira aku terlalu cepat.” Rin Hyo menoleh kearah Kyuhyun, membalas tatapan pria itu dengan penuh cinta. Perlahan ia menaruh tangan kecilnya untuk menangkup pipi Kyuhyun.

“Aku tahu jika kau harus mengejar deadline guna melangsungkan pernikahan, meskipun memang ini terlalu cepat tapi aku bisa mengerti.” Rin Hyo tersenyum penuh keyakinan, begitu pun dengan Kyuhyun yang kini sudah mengelus punggung tangan Rin Hyo.

Senyuman gadis itu menghilang begitu saja ketika ia mengingat sesuatu, tangannya ia tarik paksa agar menjauh dari wajah Kyuhyun. “Keunde, gadis yang waktu itu siapa?” alis Kyuhyun terangkat, entah memang tidak mengerti atau hanya berlagak tak tahu. “Gadis itu! yang bertemu denganku ketika aku ke gedung apartemenmu. Saat itu dilobi. Kau tidak ingat?” lanjut Rin Hyo, mencoba mengingatan Kyuhyun.

“Ah… dia.” Kyuhyun tersenyum miring, menatap Rin Hyo dengan tatapan jahil. “Kau… cemburu?”

Kedua mata gadis itu melebar seiring dengan tawa kasarnnya yang keluar, “M-mwo?! aku?! Tch, musunsuriya?!” melihat kegugupan Rin Hyo membuat Kyuhyun semakin tertawa. “Berhenti tertawa! Aku hanya penasaran, maka itu aku bertanya!”

Kyuhyun mencoba untuk memasang wajah serius, tapi sangat gagal. Karena wajah itu masih memiliki kesan mengejek untuk Rin Hyo. “Arasseo, dia… aku akan mengenalkanmu padanya. Lagipula jika kita menikah, nantinya kau akan sering melihatnya dirumah orang tuaku.”

Mwo?! kenapa dia ada dirumah orang tuamu, huh? Tch, Memangnya dia bekerja disana atau kakak perem—“ Rin Hyo menghentikkan racauannya, menatap Kyuhyun dengan raut wajah seperti baru saja menumpahkan kopi dibaju ibunya. Sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum kecil seraya mengangguk dua kali. “Ya Tuhan, matilah aku!”

“Ahra noona bukan orang yang mudah, asal kau tahu.”

“Ck, bagaimana ini aku sudah menampakkan wajah kesalku padanya?”

Kyuhyun tertawa kecil, “Kau benar – benar akan mati saat bertemu dengannya, Sam Rin Hyo.” Rin Hyo menggigit bibir bagian bawahnya gusar, jemarinya sudah meremas lengan baju Kyuhyun seraya menggoyang – goyangkannya.

“Cho Kyuhyun!”

Kyhuyun tersenyum simpul, “Sudah jangan terlalu risau, meskipun memang benar ia sangat mengerikan tapi dapat dipastikan ia sudah melupakan pertemuan kalian waktu itu. Ahra nuna adalah seorang pelupa profesional.”

Rin Hyo tak bisa menyembunyikan kelegaannya, “Syukurlah.” Akhirnya ia bisa bernapas dengan lega.

“Ah ya, kau lumayan lucu ketika merindukanku.” Kyuhyun berusaha mengulum tawanya ketika mengingat video itu. video yang diberikan Lee Kikwang untuknya seusai pria itu presentasi proyeknya. Saat Kyuhyun sedang  memperhatikan Rin Hyo Kikwang tiba – tiba memberikan sebuah flashdisk, katanya  untuk kelengkapan presentasi. Tapi tahunya, didalam sana adalah video Rin Hyo ketika merindukan dan membutuhkan Kyuhyun. Saat itu Rin Hyo terlihat sangat mabuk.

Mwo?! me—memangnya kapan aku pernah merindukanmu, huh?! Tch, kau bahkan tak pernah melihatku.”

“Aku melihat semuanya! Terima kasih untuk Lee Kikwang yang sudah bersusah payah memberikan video itu padaku.” Dahi Rin Hyo mengernyit bingung, kedua matanya sontak melebar panik.

“Vi—video?! Sial, Lee Kikwang! Aku akan membunuh pria itu ketika ia datang kesini!” tawa Kyuhyun kembali terdengar, sedangkan Rin Hyo menyuruh Kyuhyun untuk menghentikkan tawa. Perlahan tawa Kyuhyun terdengar samar, kedua tangannya ia posisikan pada masing – masing lengan Rin Hyo. menatap Rin Hyo tepat pada kedua matanya tanpa berucap apapun sampai Rin Hyo juga menatapnya dalam. Mereka tenggelam dalam tatapan masing – masing.

“Mulai sekarang kau bisa mengatakan aku merindukanmu jika rindu. Kau bisa menyuruhku datang kapanpun ketika kau butuh, tidak perlu gengsi lagi, eoh?”  Rin Hyo mengangguk seraya tersenyum manis.

Keurom, bisakah aku memelukmu?” Kyuhyun tersenyum miring, mendekatkan diri pada Rin Hyo lalu berucap “kau bahkan bisa meminta lebih dari sebuah pelukan.” Sebelum mempersatukan bibir mereka. Menciptakan beribu kupu – – kupu yang terasa berterbangan diperut mereka. Hawa dingin yang menghembus jembatan rantai ini tak terasa sedikit pun, langit hitam penuh bintang pun seolah menjadi saksi kemesraan mereka.

 

EPILOG

 

Profesor Jung mengetuk – ketuk pintu kamar hotel Rin Hyo, memencet bel pun tak ada balasan. Hari sudah malam namun Rin Hyo tak kunjung  menjawab teleponnya pula. Pria yang sudah berumur itu menghela napasnya frustasi, bertanya kepada room service apakah Rin Hyo sudah berada dikamarnya atau belum. Dan rasanya semakin frustasi ketika petugas room service itu menkonfirmasi jika Rin Hyo tak ada dikamar.

“Ck, gadis ceroboh itu bukannya langsung kembali hotel. Ah, aku bisa gila!”

 

End.
Halo ini ff terakhir yang ada lee kikwangnya menurutku haha. semoga kalian suka yaaaa jangan lupakomen 🙂 *bow

           

Advertisements

25 thoughts on “Fake Love 8 [END]

  1. suka banget sama endinya ❤ … ada si misterius yang ternyata cho kyuhyun 😀
    wahwah… sweet banget deh pokoknya, haha… lucu pas rin hyu cemburu sama calon kakak iparnya 😀

  2. ihihihi gemes bgt sih mereka berdua duh! pengen tapi begitu hahahahha seneng bgt sama cara mereka ngobrol pas di cafe ituuuuuu yampun entahlah ngelamar kaya gitu tp sweet bgt lohhhhh haih tambah gasabar ketemu kyuhyun!! hhhh seneng sama ceritanyaaaa ditunggu cerita lainnyaa fighting!

  3. Ahhhh happy ending buat kyuhyun sm rin hyo hehehe

    Wkwkwk udah nebak sih klo itu ahra kakaknya kyuhyun pas kyuhyun blg 2 jawaban ke rin hyo itu abisnya dia blg lebih dr temen kan wkwk seneng liat mrk mesra, tp blm rela kyanya.. msh ada penasaran yg blm kejawab, kan katanya kyuhyun sblm2nya di jodohin tuh trs ortunya gmn itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s