Hidden Heart 2

Hidden Heart

Author: Bella Eka.

.

.

Menyanggah dagu seraya menatap lapangan sepak bola yang terlihat dari luar jendela, untuk apa dia melakukannya?

Dari ujung deret belakang kelas ini aku memandangi gadis itu yang bertempat duduk berselang tiga bangku di depanku. Sepasang earphone tergantung di telingaku, aku sengaja bersendekap dan bersandar di kursiku, juga menutup mata seolah tengah tertidur, namun diam-diam tanpa seorangpun tahu kubuka mataku memastikan keberadaan gadis itu.

Dia terus berposisi seperti itu semenjak tiga puluh menit lalu, kurasa. Karena bel masuk berdering pukul 09:30 dan sekarang arlojiku menunjuk angka 10:01. Aku membuka sedikit korden jendela sampingku, menatap ke arah bawah dimana lapangan sepak bola terlihat dari kelasku yang berada di lantai tiga. Aneh, tak ada apapun.

Lagi-lagi gadis itu berhasil membuatku penasaran, gadis yang selalu menyita perhatianku dan tak pernah berhasil kutebak sekalipun, Shin Soojung.

 

—Choi Minho.


 

“Tapi jika sang gadis sudah jelas tak menaruh hati padanya, kurasa tindakannya benar. Lebih baik mengubur perasaan sedalam mungkin.”

Aku terdiam, merasakan hatiku mencelos. Seandainya Soojung tahu sang gadis dalam cerita adalah dia, dan pria bodoh itu adalah aku. Menghela napas saja rasanya berat, aku menunduk. Baiklah, memang bukan saatnya sekarang aku mengungkapkan perasaanku padanya. Entahlah, perasaan ini akan berakhir tersampaikan atau tidak, karena kurasa memang dia sama sekali tidak menaruh hati padaku.

Telingaku menangkap suara gigi yang tengah menggigil, aku menatap Soojung, seketika itu Soojung merapatkan bibirnya. Aku melepas ranselku, lalu almamater sekolahku kulepas dan kusampirkan pada bahunya.

“Tidak perlu.” Soojung menanggalkan jasku dari tubuhnya, mengembalikannya padaku, “Terimakasih, aku menghargai niat baikmu.”

Oh Tuhan, seandainya dia tahu betapa khawatirnya aku.

“Pakai saja, aku tidak butuh.” Aku hendak memakaikan jas almamaterku kembali padanya, tapi tiba-tiba Soojung berdiri, melepas jasnya pula. Aku mengernyit tak mengerti apa maksud yang ia lakukan.

“Kalau begitu aku pakai punyamu, dan kau pakai punyaku.”

Senyumanku mengembang, aku benar-benar tak bisa menebak jalan pikiran gadis ini, menggemaskan, “Tapi milikmu untuk ukuran wanita, tidak pas untuk ukuranku.”

Soojung mengangguk, “Kalau begitu biarkan saja seperti ini, kita pakai punya masing-masing.”

Aku menyahut jas almamater gadis itu di tangannya, menukarnya dengan milikku, “Sekarang pakai itu. Puas?”

Soojung terkikik kecil, mengenakan jasku yang kebesaran di tubuhnya, “Gomawo.”

“Sekarang ini sudah berada di tanganku jadi terserahku akan memakainya atau tidak.” Aku mengangkat jas almamater miliknya.

“Kau benar-benar tidak kedinginan?” Soojung menatapku.

“Tidak,” jawabku yakin, menyembunyikan kedua tanganku yang hampir membeku ke dalam saku celana. Tapi memang aku tidak merasa kedinginan, sama sekali, keberadaan Soojung disini mengobarkan dadaku yang membuat sekujur tubuhku terasa menghangat, bahkan sedikit panas.

“Bus datang.”

Kedatangan bus membuatku mendesah kecewa, aku butuh waktu lebih lama bersama Shin Soojung. Ah, tolonglah, aku tidak tahu bagaimana hari-hari selanjutnya apakah aku masih bisa sedekat ini dengannya atau kembali seperti semula.

Dengan langkah berat kuikuti Soojung yang terlebih dulu menaiki bus, menempelkan kartu penumpang di mesin pembayaran otomatis, lalu duduk di bangku favoritnya yaitu bangku ketiga dari belakang. Karena sudah beberapa kali aku mengekori gadis itu sepulang sekolah dan dia selalu memilih tempat itu, dan ketika terdapat seseorang terlebih dulu menempatinya, dengan wajah kecewa dia berpindah menduduki bangku lain, sangat lucu. Disinilah tanda bahwa Soojung sama sekali tak tertarik padaku, sebab selama beberapa kali aku mengikutinya, sama sekali dia tak pernah menyadari keberadaanku.

Secara diam-diam ketika Soojung sibuk mengamati suasana malam di luar jendela bus, aku menatapnya. Aku sadar tidak banyak waktu tersisa bersamanya dan aku tidak ingin membuangnya begitu saja dengan keheningan ini.

“Soojung-ah.”

Soojung menoleh menatapku.

Segera otakku tersapu bersih, tatapannya membuatku tenggelam penuh dalam sorot matanya.

“Kau ada menyukai perasaan…” Kugelengkan kepalaku cepat, sepertinya isi otakku menjadi tidak normal, bahkan aku terlalu bodoh merangkai kata-kata sekarang.

Soojung mengernyit, jelas aku benar-benar tampak bodoh di matanya.

“Maksudku, apa kau sedang menyukai seseorang?” Akhirnya aku mampu berucap lancar.

Tiba-tiba aku seakan melihat kekosongan dalam manik legam matanya, lalu dia mengalihkan pandangan ke depan, aku bisa mendengar desahan berat terhembus dari bibirnya. Apakah pertanyaanku terlalu sensitif? Membuatku khawatir.

Soojung kembali menatapku, tersenyum tipis, “Ada, seseorang.”

Dadaku terasa terhantam batu raksasa, jantungku berdegup kuat sekali, “Siapa?”

Soojung berpaling kembali memandang jendela, “Aku tidak bisa mengatakannya padamu.”

Aku tersenyum patah. Tentu saja, aku bukanlah siapa-siapa baginya, tidak berarti apa-apa, maka aku tidak berhak mengetahui kondisi pribadinya walau aku sangat ingin.

“Hahaha kau benar, untuk apa juga aku bertanya seperti itu.” Aku tertawa hambar, lebih tepatnya memaksakan diri untuk tertawa. Namun anehnya wajah gadis itu semakin sendu, mungkinkah seseorang yang dia sukai itu telah melukainya? Memikirkannya membuatku tidak terima, siapa pria yang berani melukai hati Shin Soojung?!

“Aku tidak akan bertanya lebih lanjut jadi berhentilah memikirkan orang itu, hm?” Aku memajukan wajahku ke depan wajahnya, membuat tatapannya yang terarah ke luar jendela berpaling menatapku.

Kedua mata Soojung tampak melebar sesaat menyadariku begitu dekat di depannya. Bukan, sangat dekat! Astaga aku baru menyadarinya, bagaimana bisa aku bertindak sejauh ini.

Tapi aku tak lantas menarik wajahku kembali, dalam posisi ini aku mampu menatap wajah yang selama ini hanya bisa kupandang dari jauh, setidaknya biarkan aku menggunakan waktu ini sebaik-baiknya. Tatapanku menyusuri sepasang alisnya tertata rapi, kedua matanya yang selalu menarikku masuk ke dalamnya, hidungnya yang selalu indah dipandang dari sudut mana saja, lalu bibir tipis Soojung yang kuharap belum tersentuh sama sekali oleh pria lain manapun dan kapanpun.

Aku menegakkan tubuhku sebelum suasana menjadi semakin canggung. Soojung terdengar berdehem pelan, aku menyentuh tengkukku merasa kikuk. Aku menghela napas, lagi-lagi aku kehilangan kendali di dekatnya.

 

Drrt drrt

 

Ponsel dalam sakuku bergetar, aku segera mengambilnya cepat, rentetan pesan terpampang masuk dari sederet nomor tanpa nama, tapi aku tahu bahwa pengirimnya adalah, Park Hyerim.

Aku menatap Soojung, Soojung terdiam dan gadis itu tampaknya mampu membaca isi layar ponselku.

“Oh, ini, Park Hyerim.” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, perasaan ini seperti Soojung tengah menangkap basah aku, membuatku tidak tahu apa yang harus kulakukan, “Dia sahabatmu, kan?”

Soojung mengangguk, wajahnya sangat datar, aku cemas mengenai sesuatu yang tengah dia pikirkan.

Bibirku terkatup rapat, menyodorkan layar ponselku padanya, “Haruskah aku membalas, atau tidak?”

“Apa maksudmu?” Soojung menatapku dingin, “Tentu saja terserah padamu.”

Aku merasa tidak enak jika tak menghiraukan pesan dari sahabatnya tapi aku sangat tidak ingin melanjutkan obrolan pesan dengan gadis bernama Park Hyerim itu, maka itu aku meminta pendapatnya, tapi sikap Soojung yang sangat dingin seperti itu benar-benar membuatku gila.

“Ah, benar, aku akan membalasnya.” Jariku berhenti saat hendak mengetik pesan, aku bukan tipe seseorang yang senang berbalas pesan dengan gadis sembarangan, terlebih gadis yang tak kukenal sama sekali. Tapi keberadaan Soojung disini membuatku terpaksa melakukannya, aku tidak ingin kesan sombong melekatiku di mata gadis itu.

 

Aku sedang perjalanan pulang.

 

Aku mengetik empat kata itu cepat lantas mengirimnya, hanya menjawab pesan terakhir dari empat pesan yang Hyerim kirimkan padaku di waktu yang sama.

“Aku sudah membalasnya,” ucapku, menghela napas berat, “Sebelumnya bukan karena aku tidak mau membalasnya, tapi aku memang jarang sekali mengecek ponsel ketika sudah berada di rumah, jadi karena kebetulan aku melihatnya bisa langsung kubalas saat ini juga.”

“Kau tidak perlu menjelaskannya padaku.”

Ucapan Soojung terasa seperti sebilah es tajam menusuk sekujur tubuhku, dia sama sekali tak menatapku. Aku telah membalas pesan dari sahabatnya, aku telah menghargai perasaan sahabatnya padaku, bukankah aku sudah terlihat seperti pria yang baik? Aku sangat tidak mengerti dimana letak kesalahanku, menyenangkan hati Soojung ternyata jauh lebih rumit dari menyelesaikan rubik ataupun menemukan jalan keluar dari labirin. Aku benar-benar hampir gila.

“Aku sudah sampai.” Soojung menekan tombol merah di dinding bus.

Aku memandang luar, mengamati apakah tempat ini benar-benar daerah yang biasa gadis itu berhenti. Dan memang ya, benar, tempat ini. Aku berdiri, memberinya ruang berjalan dari kursi, lalu mengikutinya keluar bus.

Kami sudah sempurna turun, bus meninggalkan kami. Soojung menatapku, sepertinya terheran mengapa aku juga berada disini.

“Untuk apa kau—“

“Aku ingin mengunjungi saudaraku, rumahnya tidak jauh dari tempat ini.” Aku menyela ucapannya.

“Oh.” Soojung mengangguk sekali, “Baiklah aku pulang dulu.”

“Eo, hati-hati.”

Titik fokusku melekati punggung gadis itu menjauh, bertambah jauh, semakin jauh, dan menghilang. Aku mengalihkan jas almamater di tangan kanan ke tangan kiriku, lalu saat hendak merogoh sakuku mencari ponsel aku tersadar, jas ini, aku tersenyum menatap jas almamater milik Soojung di tanganku. Mungkin dia lupa, dan kuharap jas ini dapat membuka peluang kesempatanku untuk kembali dekat dengannya, tidak hanya malam ini.

Aku menghubungi Kim ahjussi lewat ponselku, memintanya menjemputku disini, karena sebenarnya rumahku dan Soojung sangat bertolak jauh bahkan mulai dari sekolah pun. Kuakui, aku berada disini hanya untuk Soojung, dan berulang kali seperti itu.

 

***

 

Tuk tuk

 

Seseorang mengetuk mejaku membuatku bangun dari tidur. Kuangkat kepalaku, menemukan Soojung berdiri mengulurkan sebuah jas almamater padaku, “Ah, itu.”

Aku menyerahkan jas almamater milik Soojung yang sedari awal berada di pangkuanku, menjaganya supaya tidak kusut.

Gomawo.” Soojung meletakkan jasku di atas meja dan mengambil miliknya, lalu pergi, tanpa meninggalkan senyuman setitikpun untukku.

Ya, bukan hal mudah mengharapkan sesuatu yang lebih dari gadis itu, anggap saja kejadian semalam hanyalah mimpi indah, hanya mimpi, yang sekadar bisa kuharapkan terulang lagi.

Aku kembali melemaskan kepalaku di atas meja dengan alas kedua tanganku, memejam, lalu mengucap mantra dalam hati, Shin Soojung, jadikanlah dirimu seperti kemarin dalam mimpiku. Hahaha, bodoh.

 

***

 

“Minho-ya.”

Kepalaku kuangkat menatap depan, masih berusaha mengembalikan deru napasku yang terengah akibat bermain sepak bola. Aku melihat Kim Woobin menghampiriku, Woobin hyung, kakak kelas satu tingkat diatasku.

“Aku ingin meminta bantuanmu.” Woobin hyung duduk di sampingku, di tepian lapangan sepak bola, meluruskan kedua kakinya sepertiku.

“Bantuan apa?”

Woobin hyung mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, memberikannya padaku lalu mengusap keringat di pelipisnya, “Tolong berikan ini pada Soojung.”

Seketika napasku terhenti, “Soojung? Shin Soojung?”

“Ya, kau teman sekelasnya, kan?”

Aku mengangguk ragu, menatap kertas terlipat di tanganku, “Tapi, ini apa?”

Woobin hyung terkekeh pelan, “Biasanya orang-orang jaman dahulu menyebutnya dengan, surat cinta?”

Bibirku tertarik kaku, “Tidak mungkin. Tidak mungkin pria semaskulin Woobin hyung melakukan sesuatu yang menggelikan seperti ini.”

Ya, tidak mungkin, dan tidak boleh terjadi.

“Tapi dia yang membuatku seromantis ini.” Woobin hyung tampak tersenyum malu.

Aku masih tak bisa memahami ucapannya, sulit mencerna apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka, “Soojung memintamu bersikap romantis padanya? Itu sedikit…”

Mwoya? Sedikit apa?”

Tidak hanya sedikit, tapi sangat tidak mungkin.

“Lupakan, hyung. Aku penasaran bagaimana bisa Soojung merubahmu menjadi seperti ini, dia mengatakannya padamu?”

“Tidak, bahkan pesanku tak satupun terbalas.”

Aku menahan senyumanku, tertawa dalam hati, tentu saja Soojung memang bukan gadis yang mudah.

“Saat kami bertemu dan aku berusaha berbicara padanya, dia selalu cepat-cepat pergi, kentara sekali dia menghindar dariku.”

Astaga, senyumanku tak tahan untuk melebar puas, aku menggigit bibir bawahku.

“Karena itu kupikir aku hanya bisa berkomunikasi dengannya lewat surat ini, mungkin dia terlalu malu menghadapiku secara langsung, karena gadis yang selalu bersamanya itu selalu mendorong-dorongnya padaku setiap kami bertemu. Aku yakin Soojung juga tertarik padaku.”

Perutku mual melihat senyuman lebar Woobin hyung. Soojung menyukainya? Sungguh? Benarkah?

Aku menatap kertas yang disebutnya surat cinta di tanganku, membukanya.

 

Annyeong Soojung-ah.

Aku Kim Woobin dari kelas 3-4, kita sering bertemu. Aku tidak akan banyak berbasa-basi karena sapaan basa-basiku telah banyak di setiap pesan yang kukirimkan padamu. Aku menyukaimu…

 

Dia mengatakan tidak banyak berbasa-basi tapi tetap saja hampir satu halaman kertas itu terisi oleh rayuannya. Belum selesai membaca, aku menutupnya, mengembalikan lipatan itu serapi sebelumnya meski aku sangat ingin meremasnya habis saat ini. Kesabaranku kukerahkan hingga batas maksimal di depan Woobin hyung.

 

***

 

Dari bangku paling ujung belakang bus ini, aku menatapi Soojung yang berada di kursi favoritnya. Kelas kami pulang lebih awal karena mata pelajaran tidak begitu banyak, maka itu langit masih bercahaya terang meski hujan gerimis berjatuhan.

Sesekali kulihat Soojung menempelkan kepalanya ke jendela, lalu mengecek ponselnya, menatap jendela lagi, mengecek ponselnya lagi. Memandangnya tanpa berada di sampingnya seperti ini benar-benar membuatku merasa sepi.

Soojung menekan tombol merah menyebabkan bus berhenti, aku mengikutinya dari belakang setelah beberapa langkah dia berjalan, menuruni tangga bus, lalu tiba-tiba langkah Soojung berhenti.

“Kau mengunjungi saudaramu lagi?” Soojung berbalik menatapku.

Aku sedikit terkejut, “Kukira kau tidak menyadari keberadaanku.”

Soojung menatapku dingin, “Kau terlihat dari kaca spion bus saat aku berjalan keluar tadi.”

“Ah, jadi itu alasannya.” Aku menyentuh tengkukku sendiri, rasanya sangat canggung.

Mendadak hujan semakin deras, wajah Soojung berubah sedikit panik.

“Aku harus pulang.” Soojung hampir menerobos hujan tapi aku menahan sikunya segera.

“Tunggu hujan reda,” ucapku.

“Tidak bisa.”

Soojung terus memberontak kuat, percikan hujan membuat tanganku hampir terpeleset melepaskannya. Dengan gerak cepat kutarik gadis itu lalu kupeluk erat, cara terakhirku agar dia sedikit tenang. Terserah bagaimana dia berpikir tentangku, aku hanya terlalu mencemaskan kesehatannya, dan tidak ingin dia menghilang begitu saja dari jarak pandangku, “Hujan sangat deras, jika kau bisa berlindung disini, untuk apa memaksa menerobosnya?”

Kurasakan Soojung mulai tenang, tapi aku benar-benar tidak ingin membongkar lenganku yang melingkar di tubuhnya, aku ingin tetap seperti ini, setidaknya sebentar saja.

Soojung mendorongku dengan tangannya, membuatku kecewa, sungguh. Jelas aku tidak berarti apapun baginya, bahkan mungkin helai rambutnya lebih berharga dariku, senyuman getirku terulas.

“Ini.” Aku memberikannya kertas putih terlipat dari sakuku. Ya, surat cinta dari Woobin hyung.

Soojung terlihat mengernyit.

“Surat cinta, ungkapan perasaan.” Aku berucap malas.

Soojung menatapku cepat, lama, dengan wajah memerah, sialnya aku tidak bisa mengartikan tatapan itu.

“Buka saja jika kau penasaran.” Kalimatku mungkin terdengar datar, aku memang sangat tidak ingin menyampaikan surat itu sebenarnya.

Soojung membuka surat itu, mulai membaca satu persatu deretan untaian kalimat yang kuyakin menurut Woobin hyung ‘indah’.

“Kim Woobin oppa?” Soojung bergumam pelan, tapi hatiku seketika terlonjak mendengarnya menambahkan panggilan ‘oppa’ pada Woobin hyung. Tidak mungkin Soojung juga menyukai Woobin hyung, hanya bisa berharap seperti ini rasanya sangat membuatku kesal.

“Bagaimana perasaanmu?” Kedua mataku melebar saat Soojung melipat kembali surat itu, bahkan memasukkannya dalam saku. Rasanya aku ingin berteriak Cepat buang benda itu, Shin Soojung!

“Aku tidak bisa mengatakannya padamu.” Balasannya sama sekali tak memberi jawaban pertanyaanku, tanganku terkepal, aku hampir tidak tahan lagi.

“Kau juga menyukainya?”

“Sudah kukatakan aku tidak bisa—“

“Jangan dibalas.” Aku benar-benar tak bisa lagi menahan diri, kusela ucapannya.

Eo?” Soojung mengernyit menatapku.

“Perasaan Woobin hyung, jangan dibalas.”

Wae?”

Aku memejam frustasi, bahkan disaat seperti ini dia membutuhkan penjelasanku tapi aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Akhirnya aku memutuskan meraih tengkuk gadis itu, kuusap bibirnya yang basah terguyur hujan gerimis tadi, lalu kusentuh bibir tipis Soojung dengan bibirku. Aku menutup mata, keberanianku tidak cukup besar untuk melihat bola matanya yang bisa saja sedang melotot tak terima padaku, karena hanya ini cara yang kubisa, aku tidak pandai merangkai kata-kata di hadapannya. Aku mengecupnya sekali sebelum melepas tautan kami, “Itu jawabanku.”

“Maksudmu… kau…” Soojung melebarkan matanya padaku, tampak sangat terkejut.

Astaga gadis ini masih saja meragukan maksudku, aku menggigit bibirku sebelum mengatakannya dengan sangat canggung, “Aku mencintaimu.” Sontak aku membalikkan badan, memunggunginya, ini adalah pertama kali aku mengucap kata cinta pada seorang gadis, terlebih pada Shin Soojung yang tak pernah tertebak sekalipun. Jantungku berpacu tak tentu arah, sekujur tubuhku terasa berdegup sampai menjalar hingga wajahku.

“Aku juga.”

Suara samarnya membekukan tubuhku, apa aku tidak bermimpi? Aku berbalik kaku menghadapnya, menatapnya tak percaya, apa aku tidak salah dengar?

“Tadi, kau yang mengatakannya?” tanyaku ragu.

“Aku juga mencintaimu.”

Aku merengkuh tubuh rampingnya dalam pelukanku segera, memeluknya erat, sangat erat, sungguh lega rasanya, “Sekarang kau milikku.”

Senyumanku bertambah lebar ketika kurasakan tangannya mulai melingkari tubuhku, membalas pelukanku, bahagianya keindahan cinta.

“Soojung-ah.” Aku melepas pelukanku, lebih ringan dari saat pertama kali karena aku masih bisa memeluknya kapanpun sejak saat ini, “Dimana kertas tadi?”

“Kertas Woobin oppa?”

Ya! Jangan menyebutnya seperti itu di depanku, dia Woobin-ssi, bukan Woobin oppa.”

Soojung tersenyum. Ya Tuhan, sekarang aku bisa memandangi senyuman itu setiap hari.

Soojung mengeluarkan kertas itu dari dalam sakunya, aku menyahutnya cepat, menyobeknya, meremasnya lalu kubuang agar hancur terkena hujan, “Mianhae, Woobin hyung.” Lalu kembali aku menatap Soojung, mengeluarkan senyuman manisku, “Kau tahu aku selalu memandangimu dari bangku belakang di kelas?”

“Kau tahu aku selalu menunggu bel istirahat kedua agar bisa memandangimu di lapangan sepak bola?”

“Mwo?” Aku benar-benar terkejut, jadi selama ini Soojung berada disana untuk memandangiku, bukan memandangi Woobin hyung, “Aku sangat mencintaimu.”

 

***

 

“Minho-ya, bagaimana?”

Aku memasang wajah kecewaku begitu Woobin hyung datang padaku.

Wae? Tidak berjalan lancar?”

“Kemarin hujan sangat deras, kau tahu aku menyimpannya di sakuku, kan? Saat aku hendak memberikannya, ternyata kertasnya sudah sangat basah, tersobek dan tulisannya luntur tidak jelas.” Aku sengaja menghela napas berat.

Jinjja? Baiklah kalau begitu akan kutuliskan yang baru lagi, nanti simpan baik-baik sebelum kau berikan padanya.”

“Nde?!”

 

.

.

THE END

Advertisements

15 thoughts on “Hidden Heart 2

  1. Hahah kocak amat deh alesannya minho… gue baca ni ff sambil dengerin lagunya rixton me and my broken heart hahah pas banget dah ahh suasanya mendukung banget.. wkwk kisah cinta yg dipendem emang lucu pas diungkaoin sama2, sama kaya kisah gue yg gue harap bertahan lama karna gue simpen 3 thn prasaan gue eh sama2 diungkapin hubungan cuma bertahan beberapa bulan aja wkwk bener3 deh masa SMA

  2. Hahaa.. Minho udah keluar dari persembunyian, alias udah nembak sojung
    Simple sih cara nembaknya, tp kata aku itu sweet.. Malu2 gimana gitu.. Woobin kasiann deh, kalah cepet.. Eh tp itu berarti mereka backstreet ya.. ?

  3. Wkwkwk jadi keinget pas pulang dari inagurasi haha. Scene yang minho ngikutin soojung, bilang ketemu sodara. Wkwk kenapa anak B selalu begitu hmm

  4. aku bener2 nahan ketawa, waktu minho cari2 alesan buat ngikutin soojung…
    Tpi cara minho mengatakan perasaannya lucu gimana gitu..

  5. Hahahah minho lucu . Jadi soojung cinta pertamanya toh haha .
    Mereka lucu , untung minho jwbnya lgsg sm tindakan klo engga keburu sm woo bin lagi nnti wkwk
    Woo bin am aku aja sini hhi
    Makasi eonni ud dipost:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s