Doll | 1

 

Doll

Doll | 1

Author :  Tsalza Shabrina

***

Menjelang pagi. Langit masih gelap meski matahari hampir menampakkan keberadaannya. Sam Rinhyo terbangun dari tidur tak nyenyaknya, merubah posisi menjadi duduk kemudian memandangi kesekeliling kamarnya yang begitu luas. Meski sudah lebih dari puluhan kali ia bangun dikamarnya, lebih dari puluhan kali pula ia kembali terperangah karena kemegahan kamarnya. Kamar ini sudah seperti kamar fantasi yang hanya berada didunia dongeng. Tapi jujur saja, Rinhyo tak menyukai ini sama sekali.

Ia bersandar, otaknya berefleksi memikirkan dan menetralisir pelan – pelan apa yang terjadi kemarin. Selalu seperti ini tiap harinya, pada malam hari ia sulit tidur karena memikirkan masalahnya. Dan pada pagi hari ia bangun begitu awal guna kembali memikirkannya, namun bedanya pagi hari adalah waktu untuk memilah apa – apa saja yang harus dirubah.

Kemarin adalah hari dimana ia tertimpuk batu besar. Ah iya, satu minggu lagi ia bertunangan dengan Ji Changwook. Mahasiswa kampus Inha jurusan kedokteran, hanya menunggu beberapa bulan Changwook sudah mendapatkan gelar dokter spesialis jantungnya. Seperti yang sudah ia cita – citakan sejak dulu. Pria yang 5 tahun lebih tua darinya itu sudah menempuh waktu kurang lebih 7 tahun agar dapat menjadi seorang dokter spesialis Jantung. Tapi pasti segala usahanya akan terbayar dengan mudah, ayahnya pemilik rumah sakit Myung In. Tentu setelah wisuda, ayahnya akan langsung merekrut  putranya sendiri untuk menjadi manajer departemen bedah jantung. Mungkin.

Kedua mata Rinhyo terpejam, memang hubungan Rinhyo dan Changwook tidaklah seperti sepasang orang asing. Mereka sering bertemu sejak 6 bulan yang lalu ketika ayahnya mengadakan pertemuan dengan pemilik – pemilik rumah sakit terbaik di Seoul untuk membahas program layanan kesehatan gratis. Ayah Rinhyo adalah seorang menteri kesehatan yang juga pemilik sah perusahaan JJ. Kekayaan yang didapat keluarganya lebih besar dari keuangan perusahaan yang berjalan lancar, menjadi menteri kesehatan dan kesejahteraan masyarakat hanya menjadi kerja sampingan yang disukai ayahnya.

Sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang berasal dari keluarga dokter. Mulai dari ayahnya kakek Rinhyo hingga paman – pamannya semua adalah dokter. Menjadi putri dari keluarga yang semenakjubkan ini merupakan satu beban terberat dihidupnya. Ia dituntut untuk bersikap baik pada semua orang, memberi contoh yang baik, dan tidak boleh terlibat masalah apapun untuk melindungi nama baik Sam Taegil -ayahnya-

Sejak dulu ia adalah orang yang sederhana. Tak suka berdandan lebih juga tak suka memakai gaun – gaun indah. Ia tidak suka warna merah muda, karena biasanya ia seringkali bermain dilembah gunung jiri bersama teman – teman kecilnya dulu. Tapi kini ia dituntut untuk itu, penampilan adalah ramuan utama untuk memikat semua orang. Ingin melanggar pun, ia bisa apa? Yang ada hanyalah ia akan berakhir menjadi seorang Sam Rinhyo kurang ajar dan tak tahu berterima kasih. Ia sudah harus bersyukur karena ia dipungut oleh keluarga yang sehebat ini. Seharusnya ia bahagia menerima segala kemewahan ini. Tapi sialnya, sedikit demi sedikit ia malah kehilangan kebahagiaannya. Ia mulai merindukan ibu panti dan teman – teman pantinya.

Jam bekernya berdering keras, ia harus segera mandi karena hari ini kelas dimulai pagi hari. Tangan kanannya bergerak mematikan jam beker, beranjak dari ranjang kemudian merapikannya sebelum berjalan kearah kamar mandi. Mulanya ia mengisi bak mandi dengan air hangat, sambil menunggu penuh ia mencuci muka lalu menyikat gigi diwastafel. Ia menatap wajah kuyunya dengan sendu, sejenak ia mengulas senyuman manis. Umurnya sudah 23 tahun, jadi ia harus lebih dewasa. Begitulah yang ia tanamkan diotak dan hatinya.

 

***

 

“Ayah dirumah?”

Rinhyo langsung bertanya ketika ia baru saja sampai dimeja makan. Bibi pelayan yang menata piring menggeleng pelan, “Sepertinya tidur diluar lagi, nona. Akhir – akhir ini Tuan Sam sangat sibuk.” Jawabnya.

“Ah… Baiklah kalau begitu.” Rinhyo mengambil tempat dikursi biasanya, ia sudah ganti baju dan juga membawa tas yang kini ia taruh dikursi kosong sampingnya.

“Aduh, kepalaku.” Suara rintihan Nyonya Shim membuat Rinhyo sontak berdiri tegak, menoleh kearah ibunya yang baru saja memasuki ruang makan.

“Selamat pagi, bu.” Ibunya hanya mengangguk, duduk dihadapan Rinhyo dengan tangan yang terus menerus memijit pelipisnya. “Ibu sakit? Lebih baik makan sup rumput laut agar mendingan. Bibi! Tolong buatkan sup rumput laut.” Lanjut Rinhyo, ia menuang air putih kedalam gelas kemudian memberi pada ibunya yang langsung meminumnya dengan pelan.

“Ah, kepalaku sakit sekali. Sepertinya karena kurang tidur tadi malam.”

“Maaf bu. Seharusnya aku tidak meninggalkan pesta kemarin, ibu jadi sakit begini.” Nyonya Shim mengulas senyuman kecilnya.

“Tidak apa – apa. Tapi, kenapa kau tiba – tiba meninggalkan pesta kemarin?” Rinhyo meneguk ludahnya samar, otaknya berputar mencari jawaban aman.

“Aku hanya ingin menenangkan diri sebentar dikafe dekat rumah. Seharusnya aku mengabari ibu, maaf.”

“Kenapa? Mungkinkah kau… Tidak suka dengan rencana pesta pertunanganmu dengan Changwook?” Dengan cepat Rinhyo menggoyang – goyangkan kedua tangannya, mengelak. Ia mengulas senyuman penuh kearah ibunya.

“Tidak seperti itu bu. Aku hanya terkejut karena tanpa memberitahuku terlebih dahulu tiba – tiba ayah Changwook mengumumkannya disana. Jadi aku perlu waktu untuk menenangkan diri, tapi sekarang aku sudah banyak berpikir. Rencana pertunangan itu… Tidak buruk juga.” Nyonya Shim kembali mengulas senyum. Rasa lega meliputi hatinya kini.

“Changwook akan mengantarmu kekampus hari ini. Sebentar lagi dia datang, jika masih ada waktu ajak ia sarapan disini terlebih dahulu.” Bersamaan dengan ucapan ibunya, sup rumput laut dihidangkan bersama dengan nasi abalon yang berada didepan Rinhyo. Rinhyo tersenyum kearah ibunya, mempersilahkan ibunya untuk makan dengan begitu sopan.

 

***

 

Suasana mobil sangat hening. Ji Changwook mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal, wajahnya tak secerah biasanya. Jika biasanya ia selalu melontarkan senyuman atau sekadar bertanya ‘tidurmu nyenyak?’ Pada Rinhyo, kini semua itu tidak ada. Ekspresi pria itu begitu dingin, membuat jantung Rinhyo berdegup keras. Sedikit takut dan juga tak nyaman dengan situasi seperti ini.

“Maaf kemarin membuatmu pulang tengah malam dan membuatmu khawatir. Hal yang terjadi kemarin, tidak mengganggu tidurmu kan, Changwook-ssi ?” Rinhyo memberanikan diri mengeluarkan suara, langsung melontarkan pertanyaan sensitif agar cepat menyelesaikan masalah. Namun Ji Changwook tak bereaksi apapun, pria itu masih menatap kedepan dengan wajah serius. Masih dingin.

Rinhyo sedikit memajukan tubuhnya kedepan seraya menoleh kesamping guna menatap wajah Changwook lebih jelas. Perasaan bersalahnya semakin besar ketika menatap wajah itu. “Changwook-ssi? Apa kau marah? Maafkan aku.”

Akhirnya helaan napas Changwook keluar panjang. “Berhenti menanyaiku ini itu, kita bicarakan ini ketika mobil berhenti. Aku tidak bisa berpikir dengan baik jika berbicara denganmu sekarang.” Ujar pria itu dingin. Rinhyo tahu, itu artinya Changwook merang marah. Tapi jujur saja, ini tidak seperti dirinya. Ji Changwook bukanlah tipikal pria yang mudah marah pada siapapun.

Rinhyo menghela napasnya pelan, mengangguk sekali kemudian kembali menatap kearah jalan dengan suasana hati yang tidak baik sama sekali.

 

***

 

Ji Changwook menghentikkan mobil porsche-nya tepat didepan salah satu gedung menjulang tinggi di Inha. Rinhyo mengambil jurusan politik, seperti keinginan ayahnya. Pria itu ingin putrinya kelak menjadi aktivis sosial atau pejabat. Dan sungguh, menjadi orang seperti itu bukanlah keinginan Rinhyo sama sekali. Ia tidak suka menjadi orang yang selalu menjadi sorot perhatian, juga mendapat banyak rasa hormat dari orang lain. Hal itu semakin membuatnya terbebani.

Tak ada yang berniat turun atau memulai pembicaraan. Rasanya begitu canggung, seperti ada sekat yang membatasi mereka. Wajah Ji Changwook terlihat masih dingin, tapi sangat tampak jika ada sesuatu yang ingin ia katakan dibalik wajah itu. Sedangkan Rinhyo hanya bisa menggenggam erat tasnya, terlalu takut untuk bersuara. ­

“Kemarin kau benar – benar melukai harga diriku.” Changwook mulai berucap, Rinhyo masih terdiam. Menatap lurus kedepan, tak punya keberanian lebih untuk menoleh. “Lihat aku.” Perlahan Rinhyo menoleh, menatap wajah kacau Changwook. Sedikit terkesiap karena Ji Changwook yang ia kenal selama 6 bulan ini tidak pernah menampakkan ekspresi itu. Selama ini changwook terlihat seperti pria yang tenang. “Kau tidak bisa melihat bagaimana terlukanya aku?”

Rinhyo menggigit bibir bagian bawahnya, menahan rasa bersalah yang membuat dadanya sesak. “Maafkan aku.” Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.

Changwook menggeleng pelan, “Kau sudah meminta maaf berkali – kali. Jadi berhentilah.” Pria tinggi itu menghela napas panjang, mengeluarkan segala keluh kesah batinnya lewat hembusan napas. Bibirnya sedikit sangsi untuk menyinggung bahasan selanjutnya, “Aku tahu kemarin  kau ditemukan di jembatan sungai han, dalam pelukan seseorang.”

Kedua mata Rinhyo melebar terkejut, menatap Changwook tak percaya. “Park ahjussi memberitahumu?” nada bicara Rinhyo sedikit meninggi, ketakutannya semakin terasa. Bagaimana jika orang tuanya juga tahu? Bagaimana cara menghadapi ayah dan ibunya nanti? Hal – hal itulah yang melesak dipikirannya saat ini.

“Tenang saja, aku tidak akan memberitahu orang tuamu.”

“Saat itu aku sedang kacau, aku hanya jatuh kedalam pelukannya. Kami tidak berpelukan, bahkan kami tidak saling mengenal. Kumohon jangan salah paham, Changwook-ssi.” Racauan Rinhyo keluar begitu saja, membuat Changwook semakin menatap gadis itu dengan nanar. Dadanya terasa berat  ketika  sekelebat pikirannya menyimpulkan bahwa Rinhyo kacau karenanya. Karena pertunangan itu.

“Sebegitu tidak sukanya kau dengan pertunangan ini? sampai kau memutuskan  untuk pergi kejembatan sungai han dengan pikiran kacau?”

“Changwook-ssi…”

“Bagaimana jika pria itu tidak ada disana? kau akan benar – benar melakukan hal bodoh? Dan membuatku mengemban penderitaan seumur hidup, huh?!” nada Changwook mulai meninggi, ia takut jika apa yang ia katakan benar – benar terjadi. Ia lebih marah pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga Rinhyo dengan baik. Ia menyalahkan diri sendiri yang dengan bodohnya hanya menunggu gadis itu dirumahnya dengan perasaan khawatir. Seharusnya ia mencari Rinhyo, jika ia menemukan Rinhyo saat itu pasti bukan pria asing itu kan yang memeluknya?

Tatapan Rinhyo menatap kosong pada Changwook. Kembali mengingat pria bernama Cho Kyuhyun yang telah menyelamatkannya. Bagaimana pun jika tidak ada pria itu kemarin pasti Rinhyo tidak bisa duduk disini bersama Ji Changwook.

“Selama 6 bulan ini kita sering menghabiskan waktu berdua, kau selalu tersenyum dan terlihat bahagia. Hingga lambat laun aku merasa kita sudah seperti dua orang yang benar – benar berkencan. Tapi kurasa aku terlalu jauh menyimpulkan. Tch, bodohnya aku!” Ekspresi Changwook benar – benar kacau, sekacau bibirnya yang mengucapkan hal – hal yang bukan gayanya sama sekali. Ji Changwook tidak pernah terlihat seperti ini.

Sam Rinhyo menunduk, ia tak tahu harus bagaimana lagi. ia tidak tahu ternyata Changwook menyimpan perasaan yang seperti itu padanya. Tapi sayang sekali, selama ini ia tak menganggap Changwook lebih dari teman. Ia baik pada  Changwook karena Changwook adalah putra teman ayahnya. Bukannya ia berniat berpura – pura baik, tapi semua itu harus ia lakukan untuk menjaga nama baik ayahnya.

“Sebenarnya, kita ini apa? Perasaanmu padaku seperti apa, huh? Aku tidak mengerti.”

Rinhyo bingung harus menjawab apa. Ingin sekali ia menjawab dengan jujur, tapi bagaimana jika jawabannya akan berimbas buruk pada rencana pertunangan? Orang tuanya tidak akan menyukai hal itu.

“Aku… menyukaimu.”

 

Sebagai teman.

 

            Rinhyo sontak  mengatupkan bibirnya rapat – rapat setelah mengucapkan satu kalimat itu, takut kembali mengucapkan hal – hal yang akan memperkeruh keadaan. Ia merasa menjadi orang paling jahat kala Ji Changwook mengulas senyuman tipis. Pria itu terlihat sangat puas dengan jawaban Rinhyo. Tangan Changwook tergerak untuk menggenggam tangan Rinhyo, memberi sedikit elusan sesekali.

“Mulai sekarang aku tidak ingin mendengar kau memanggilku dengan formal lagi, Rinhyo-ah.”

Sam Rinhyo mengulas senyuman terbaiknya seraya mengangguk pelan. Ia semakin pandai menipu orang lain sekarang, bahkan lama kelamaan ia juga menipu dirinya sendiri. Tentu saja, ia sudah melakukan hal ini sejak umur 5 tahun.

“Aku harus kekelas, oppa.” Changwook mengangguk, senyumannya semakin melebar ketika  mendengar panggilan Rinhyo. Menimbulkan desiran aneh yang menjalar diseluruh tubuhnya. Ia mengelus  rambut Rinhyo lembut sebelum membiarkan Rinhyo keluar dari mobil.

Rinhyo berdiri disamping mobil Changwook, melambaikan tangan kearah Changwook. Ketika mobil porsche itu  melesat pergi, hilang sudah senyuman diwajahnya. Tangan  kanannya seketika turun, lemas.

Kedua matanya terpejam frustasi, “Apa yang sudah kau lakukan, Sam Rinhyo?”

 

***

 

Cho Kyuhyun keluar dari kelasnya seraya menggantungkan tas ransel pada satu sisi bahunya. Sesekali ia menggosok hidung yang memerah, juga merekatkan jaketnya. Musim dingin benar – benar musuh bagi tubuhnya. Ia tidak bisa tahan dengan hawa dingin yang berlebihan.

Sam! Tunggu sebentar!” Kyuhyun menghentikkan langkahnya, menoleh kearah asal suara. Seorang gadis yang tadi sering bertanya dikelas tengah tersenyum padanya seraya membawa sebuah notes. “Bisa kau lihat ini sebentar? Sepanjang satu minggu ini aku mencoba mengkompos sebuah lagu.”

Kyuhyun mengangkat alisnya terkejut, pasalnya ia  mengajar kelas yang dihuni oleh mahasiswa tahun pertama. Tapi sudah ada yang berani untuk meng-kompos sebuah lagu. Ah, Kyuhyun bertugas untuk membantu profesor Han sebagai asisten dosen di mata kuliah nada dan irama.

“Ah, keure?” Gadis itu mengangguk penuh semangat. Kyuhyun mengambil notes-nya. Membaca perpaduan not – not balok dengan lirik yang berpadu membangun sebuah lagu yang indah. Senyuman bangga  Kyuhyun terulas, pria itu mengembalikan notes itu. “Bisa  kau berikan padaku CD-nya? Kurasa  lagu itu bisa digunakan pentas akhir tahun.”

Gadis itu tak bisa menahan ekspresi bahagianya. Ia membungkuk berkali – kali pada Kyuhyun, “Aku akan membawanya besok, sam.” Kyuhyun melempar senyum kecil seraya menepuk – nepuk bahu gadis itu pelan sebelum pergi meninggalkannya.

Memang tak mudah merangkap pekerjaan seperti ini, menjadi seorang asisten dosen di tahun terakhirnya menempuh S2 untuk mengejar gelar magister juga menyiapkan beberapa pementasan musikal dikampus pun diluar kampus. Tapi semua ini ia lakukan untuk menghidupi diri sendiri, ia tidak bisa bergantung pada orang tua yang sudah berpisah dan tak tahu dimana keberadaannya. Ia juga tak bisa bergantung pada pamannya yang berada di kota Sorang, pulau jeju. Pria yang sudah merawatnya sejak ia sekolah menengah pertama itu hanyalah pemilik warung ikan kecil.

Ia mendapat beasiswa di universitas sebesar Inha ini karena memenangkan kontes musik sepulau Jeju. Profesor Han lah yang pertama kalinya menawari beasiswa dijurusan musikal. Tentu, dengan keadaan yang seperti itu Kyuhyun tak punya alasan untuk menolak. Lagipula ia mengikuti kontes musik itu juga untuk mencari uang.

Menerima beasiswa pun tak semudah itu, ia harus mencari kerja sampingan untuk membayar sewa rumah. Dan syukurlah, kini ia sudah mendapat pekerjaan menjadi asisten dosen dengan  gaji yang lebih besar dari pekerjaan – pekerjaan sebelumnya.

Hawa dingin semakin terasa ketika ia keluar dari gedung. Helaan napasnya keluar bersamaan dengan kepulan kabut. Memang salju belum turun, tapi hawanya sudah terasa begitu dingin. tiga puluh menit lagi ia harus berada di auditorium kampus untuk rehearseal pertunjukkan nanti malam.

Hyeong! Kyuhyun hyeong!” Kyuhyun menoleh kesamping kanan, menatap malas kearah Lee Jonghyun yang tengah berlari kecil kearahnya. “Ternyata kau disini, aku mencarimu sejak tadi.” Tukas Jonghyun seraya memukul kecil lengan Kyuhyun.

Wae?”  tanya Kyuhyun malas.

“Kemarin aku kerumahmu, tapi kau tidak ada. Kemana saja, huh?”

Aish, sudah kubilang rumahku itu sempit untuk menjadi tempat pelarianmu!” tukas Kyuhyun tajam. Selama ini Jonghyun memang selalu melarikan diri untuk menginap dirumah Kyuhyun ketika sedang bertengkar dengan ayahnya. Mereka sering bertengkar karena Jonghyun terlalu tidak patuh, sejak dulu ayahnya ingin pria itu menjadi jaksa sama sepertinya.  Tapi Jonghyun sepertinya lebih mencintai musik daripada ayahnya sendiri.

Jonghyun tertawa kecil, tak mengambil hati tukasan tajam Kyuhyun. Karena hari ini ia berniat untuk menginap lagi dirumah kakak tingkat favoritnya ini. mereka menjadi dekat karena terlibat beberapa project musikal bersama. “Tapi kali ini aku benar – benar serius bertanya, kau kemana saja tadi malam? dilihat dari hidungmu, kau pasti pulang dini hari, ya?”

Kyuhyun menepis tudingan Jonghyun kasar. Tiba – tiba ia mengingat gadis yang hendak bunuh diri tadi malam. sungguh, ia sangat takut saat itu. Ia tidak ingin melihat orang bunuh diri tepat didepan wajahnya seperti itu. Kemarin ia hanya bersikap keren dan tenang meski jantungnya hampir copot ketika gadis itu sempat hilang keseimbangan.

Hyeong?” tubuh Kyuhyun berjengit terkejut ketika menyadari tangan Jonghyun yang melambai didepan wajahnya. Jonghyun menatap Kyuhyun curiga sekaligus bingung. “Apa ada yang terjadi tadi malam?” lanjut pria itu.

Kyuhyun berkedip cepat, berdehem keras kemudian menggeleng. “Sudahlah, kau tidak masuk kelas?!” bentak Kyuhyun tak suka. Jonghyun mengulas senyuman bocahnya.

Arasseo! Ah, nanti aku akan menginap dirumahmu lagi jadi pastikan kau ada dirumah ya! sampai jumpa!” Cepat – cepat Jonghyun berlari memasuki gedung sebelum Kyuhyun kembali meneriakinya. Kyuhyun menghela napas kasar, tertawa kecil melihat tingkah laku Jonghyun yang sudah seperti adiknya sendiri.

 

“Ayo turun.”

 

Senyuman kecilnya terulas, ia menatap tangan kanannya. “Aku menyelamatkan seseorang.” Gumam Kyuhyun pelan. Helaan napasnya keluar seiring dengan senyuman yang tak kunjung luntur.

 

Drrt drrt

 

Wae, Changmin-ah?”

Eo! Kyuhyun-ah, reherseal dimajukan. 10 menit lagi kau bisa datang kesini, kan?

            Kyuhyun menegakkan kepalanya, segera berjalan kearah kiri untuk memutari gedung, karena auditorium Inha berada dibelakang gedung jurusan musikal. “Arasseo, aku sedang dijalan.” Ujar Kyuhyun, namun langkahnya tiba – tiba berhenti ketika mendapati seorang gadis tengah berdiri diseberang jalan. Jalan di kampus Inha memang dibuat lebar agar mobil bisa berlalu – lalang. Mengingat kampus ini adalah kampus ter-elit di  Korea Selatan.

Baiklah kalau begitu, kami menunggumu.

            Eo.” Hanya itu yang dapat kyuhyun suarakan, tidak terlalu mendengarkan ucapan Shim Changmin dari balik telepon. Tubuhnya terasa beku, begitu pun otaknya.

 

Gadis itu, gadis bergaun merah muda deengan make up berantakan.

 

            Tanpa sadar senyumannya terulas, rasanya senang bisa bertemu lagi dengan gadis yang bahkan ia tak tahu namanya itu. Gadis itu terlihat menunggu seseorang, berkali – kali ia memeriksa ponselnya dengan wajah tak terbaca.

Kyuhyun ingin sekali menghampiri untuk sekadar menanyakan kabar gadis itu, tapi 10 menit lagi reherseal dimulai. Ditambah sekarang gadis yang kemarin terlihat putus asa itu sudah bisa menebar senyumannya pada orang – orang yang menyapanya. Senyuman Kyuhyun pun ikut terulas, hatinya lega melihat gadis itu baik – baik saja.

 

***

 

Sam Rinhyo berdiri dipinggir jalan dekat gedung jurusan politik. Sesekali ia memeriksa ponselnya karena Changwook mengirimkan pesan jika ia masih harus praktek bedah. Katanya ia disuruh menunggu sebentar lagi. Rinhyo hanya membalas ‘ya, aku akan menunggu.’ tidak ingin konsentrasi Changwook terganggu jika ia tak mengabari sama sekali.

Berkali – kali ia membalas sapaan orang – orang yang mengenalnya dengan senyuman, juga menyapa orang – orang yang sepertinya pernah ia kenal dengan senyuman pula. Ia tidak baik dalam hal menghafal nama seseorang, sedangkan banyak sekali orang yang mengenalnya di kampus Inha ini. Rinhyo banyak mengikuti organisasi – organisasi sosial dalam kampus. Tentu saja, semua itu adalah kehendak sang ayah. Bukan kehendaknya sendiri.

Namun sayang sekali, mempunyai banyak teman bukan berarti kau mempunyai seseorang yang benar  – benar teman. Rinhyo tidak punya teman yang bisa mendengar keluh kesahnya, lagipula ia juga yang tak ingin urusannya diketahui oleh orang lain. Terlebih masalah terbesarnya berada didalam keluarga. Tak mungkin kan ia membocorkan pada semua orang jika ia hanyalah anak pungut dan juga tidak mungkin ia bisa menceritakan segala kesesakkan  yang ia rasakan selama ini. Kebanyakan teman – teman baik padanya karena ia adalah putri orang kaya. Ia adalah putri generasi kedua. Semua orang tahu itu meski Rinhyo tak pernah mengatakannya sekali pun.

“Oh! Rinhyo-ah, menunggu seseorang?” Rinhyo menoleh kesamping, mengulas senyuman ramahnya ketika mendapati Park Sunyoung. Teman kuliah yang satu organisasi dengannya, juga mereka sering mengambil kelas yang sama. Jadi tentu saja Rinhyo mengingat Sunyoung, menurutnya ia adalah salah satu teman yang tak mengambil manfaat apapun. Bahkan Sunyoung pernah mengingatkannya untuk tidak terlalu baik pada semua orang agar tidak dimanfaatkan. Ia lebih suka teman yang jujur seperti Park Sunyoung. Tapi tetap saja, mereka tidak sedekat itu untuk Rinhyo dapat membuka diri dengan leluasa.

“Hm, begitulah.” Senyuman jahil Sunyoung terulas, Rinhyo pun tak tahu apa maksud senyuman itu. “Wae?” tanya Rinhyo bingung.

“Menunggu Ji Changwook sunbaenim, kan?” Rinhyo juga tidak tahu bagaimana rumor ini bisa tersebar sampai ke telinga Sunyoung.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Sunyoung menyenggol lengan Rinhyo.

“Siapa orang yang tidak tahu di Inha jika kalian akan melangsungkan pesta pertunangan minggu depan? Segala gosip disini menyebar sangat cepat, asal kau tahu.”

Rinhyo hanya tersenyum diselingi tawa kecil, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Kedua mata Rinhyo turun kebawah, menatap tangan Sunyoung yang memeluk belasan poster. “Kau membawa apa?”

Sunyoung mengangkat tumpukan posternya. “Ah, ini.” Ia menarik satu lembar poster dari sana kemudian memberikannya pada Rinhyo. “Bacalah, nanti malam akan diadakan pertunjukkan musikal di auditorium.”

Alis Sam Rinhyo terangkat, “Musikal?” ulangnya seraya menerima poster itu. membacanya mulai dari atas pelan – pelan.

“Judulnya In The Heights, ceritanya tentang seorang gadis yang mengejar mimpi dibantu oleh sang pria. Kau tidak ingin lihat? Saranku, jika kau melihat ini bersama Ji Changwook sunbaenim pasti akan sangat romantis.”

“Pemeran utama wanita, Park Sunyoung?” Rinhyo menatap Rinhyo dengan kedua mata melebar. Ia baru tahu jika Sunyoung terlibat dalam hal – hal berbau musik.

Sunyoung tersenyum malu, “Aku hanya beberapa kali mengikuti latihan, tapi tiba – tiba seorang sunbae menyuruhku untuk menjadi artis utama.”

Rinhyo tersenyum lebar, sedikit bangga jika temannya dari jurusan politik bisa mengikuti pertunjukan musikal seperti ini. apalagi menjadi artis utama. Meski ia tidak pernah menonton musikal karena tak ada waktu, tapi ia sering mendengar jika pertunjukkan musikal itu sangat menarik. “Woah, sepertinya kau bisa mengambil hati seorang sunbae, Sunyoung-ah.”

“Apa yang kau katakan? Dia bukan orang yang mendekati gadis dengan cara seperti itu. ia sangat profesional jika menyangkut masalah musikal. Ah, sunbae itu yang menjadi pemeran utama prianya.” Rinhyo kembali memeriksa poster. Ia belum selesai membaca tadi. Senyumannya tiba – tiba menghilang, tubuhnya membeku ketika membaca tulisan ‘pemeran utama pria : Cho Kyuhyun’ .

 

“Aku Cho Kyuhyun, mahasiswa universitas Inha. Jurusan Musikal.”

 

            “Cho Kyuhyun?”

Sunyoung mengangguk. “Kau mengenalnya?”

“Huh?” Rinhyo menoleh cepat kearah Sunyoung, ekspresinya terlihat begitu terkejut. Membuat Sunyoung mengernyitkan dahinya bingung.

 

Drrt drrt

 

Baru saja Sunyoung hendak menyuarakan kecurigaannya, ponselnya tiba – tiba bergetar. Sunyoung menghela napas sebal kemudian mengangkat telepon dengan kesal.

“Ada apa, Changmin sunbae?…. kenapa menyalahkanku? Mungkin saja sinyal ponsel sunbae yang bermasalah!…. Mwo?! sekarang? Keure, arasseo. Aku tidak jauh dari auditorium.” Sunyoung cepat – cepat memasukkan ponselnya dalam saku.

“Ah, Sam Rinhyo. Maaf aku harus pergi sekarang, kau bisa menunggu sendirian disini kan?”

Rinhyo menatap Sunyoung yang terlihat tergupuh itu dengan bingung meski kepalanya mengangguk mengerti. “Iya, tidak apa – apa.”

“Sampai jumpa!” Sunyoung melambai sebentar sebelum berlari kecil menuju arah selatan. Bibir Rinhyo terbuka ketika menyadari jika poster Sunyoung masih didalam genggamannya. Ingin meneriaki Sunyoung tapi gadis itu sudah terlalu jauh darinya.

Sam Rinhyo kembali memandangi poster itu. “Cho Kyuhyun?” bibirnya kembali menggumamkan nama pria itu. helaan napas panjangnya keluar, tiba – tiba ia ingin menonton musikal ini.

 

***

 

Mian, kau pasti menunggu lama sekali.”

Ji Changwook berucap dengan nada cepat, penuh rasa bersalah ketika Rinhyo memasang seatbelt. Baru saja ia masuk kedalam mobil. Gadis itu menoleh kearah Changwook setelah seatbelt terpasang sempurna, mengulas senyuman tipis.

“Tidak apa – apa, lagipula praktek bedah itu kan lebih penting daripada menjemputku.” Tatapan Changwook turun kearah tangan Rinhyo yang memerah, tentu saja ia sudah menunggu Changwook selama 30 menit ditengah cuaca dingin seperti itu.

“Tidak apa – apa bagaimana? Tangan dan hidungmu merah.” Sontak Changwook menyalakan penghangat mobil, menggosok – gosokkan tangannya sebelum menyentuh tangan Rinhyo. Menarik tangan kecil Sam Rinhyo agar ia leluasa untuk meniupnya. “Berapa lama kau menunggu?” tanya Changwook disela kegiatannya menghangatkan tangan beku Rinhyo.

“30 menit? Kurasa selama 30 menit.”

Changwook menghela napas panjangnya, menatap Rinhyo serius kemudian berucap “Lain kali tunggu aku didalam, Rinhyo-ah.”

Rinhyo tersenyum kecil, menarik tangannya yang sudah menghangat seraya membalas “Lain kali biarkan aku memanggil taksi saja ketika oppa sibuk.”

Changwok mengulas senyuman kecilnya, Melepas tatapannya pada Rinhyo karena ada satu hal yang menarik berada dipangkuan gadis itu. Alisnya terangkat ketika menatap sebuah poster pertunjukkan musikal. “Kau ikut  kegiatan musik atau semacamnya?”

Rinhyo ikut menatap poster, mengambil poster itu kemudian memberikannya pada Changwook. “Sunyoung yang memberikannya padaku tadi, pertunjukannya nanti malam. Dia yang jadi pemeran utamanya.” Jelas Rinhyo, ia tak bisa menahan ekspresi keinginannya untuk menonton musikal itu. Dan Changwook menangkap ekspresi itu sebagai kode, padahal Rinhyo tak berniat untuk memberi kode apapun.

Senyuman gemas Changwook terulas, ia melempar poster itu kejok belakang mobil. “Lupakan poster itu, bagaimana jika kita menonton bersama nanti malam?”

 

***

 

Hiruk pikuk suasana auditorium menyambut kedatangan Rinhyo dan Changwook. Tak jarang mereka mendapat sapaan dan tatapan iri dari orang – orang lain yang kebetulan juga mahasiswa/mahasiswi Inha. Jujur saja, mendapat perhatian yang seperti itu sangat membuatnya tidak nyaman. Tapi ia harus terus tersenyum, bukan?

“Bukankah kita terlihat seperti pasangan sempurna?” bisikan Changwook itu membuat Rinhyo terkesiap, menoleh kearah Changwook yang sudah melempar senyuman manis. Ia tidak tahu jika ternyata Ji Changwook menyukai hal – hal seperti ini, hal – hal yang sangat ia benci.

Tak ada reaksi signifikan selain senyuman canggung yang Rinhyo ulas. Changwook kembali membuatnya terkejut ketika pria itu tiba – tiba menarik tangan Rinhyo, mengaitkannya pada lengan. Desahan iri semakin terlihat, membuat Rinhyo benar – benar ingin pergi dari sini. Akan lebih baik ia datang kesini sendiri, seharusnya.

Mereka harus menaiki lift untuk sampai pada ruang theater, di auditorium Inha ini memiliki 3 lantai. dimana lantai dasar digunakan untuk hall, lantai dua theater dan lantai tiga adalah tempat konferensi. Rinhyo dan Changwook memasuki pintu masuk theater utama. Seketika itu pula, jantung Rinhyo berdegup kencang. Rasanya menarik sekali, ini pertama kalinya ia menonton musikal. Dan juga pertama kalinya, ia mendengar suara Cho Kyuhyun. Senyuman kecilnya terulas tanpa sadar, namun cepat – cepat ia hilangkan ketika kesadarannya telah kembali. Ia hanya penasaran dengan Cho Kyuhyun, tidak lebih dari itu.

Panggung masih kosong saat Rinhyo dan Changwook baru saja duduk dikursi penonton. Suara bisikan dan obrolan samar memenuhi tempat yang sangat luas ini. Tak lama kemudian semua lampu redup satu per satu. Satu lampu sorot  menyala, menyorot pada bagian tengah pangung. Dimana ada seorang pria disana, sepertinya dia produsernya. Karena kini ia sedang mengucapkan beberapa baris monolog.

Changwook mengenggam tangan Rinhyo ketika musikal benar – benar dimulai. Rinhyo tak bisa berbuat apapun, ia tidak ingin peduli dengan itu sekarang. Ia hanya ingin melihat musikal ini.

Senyumannya terulas ketika Sunyoung memasuki panggung, melakukan beberapa dialog dan dilanjutkan dengan menyanyi bersama – sama dengan beberapa pemain figuran. Jantungnya semakin berdegup kencang, ia rindu musik.

Bibirnya sedikit terbuka ketika  Cho Kyuhyun akhirnya tampak. Ia tak tahu bagaimana ekspresinya saat ini, tapi kedua mata kini hanya terfokus pada pria itu. Not – not tinggi yang pria itu lantunkan benar – benar membuat Rinhyo hampir lupa bernapas. Cho Kyuhyun sangat luar biasa, tidak seperti  pengangguran yang kemarin ia lihat.

Hingga sampai pertengahan, jantung  Rinhyo seperti berhenti berdetak. Ia tidak tahu persepsinya benar atau tidak, tapi kini ia merasa jika Kyuhyun sedang menatapnya. Tanpa sadar Rinhyo menarik tangan dari genggaman Changwook, kedua matanya beradu pandang dengan Cho Kyuhyun. Begitu pun dengan Cho Kyuhyun, ia seperti kehilangan dialognya. Jantung pun terasa seperti berhenti berdetak. Rasanya dalam ruangan besar ini hanya ada mereka, Cho Kyuhyun dan Sam Rinhyo.

 

 

To Be Continued.

Halo guys! part satunya sudah keluar. semoga  kalian suka yaaa

Aku tunggu kritik/saran kalian hehe  soalnya aku takut nggak nge-feel gitu, ya seperti yang kita tahu Rinhyo jarang sekali memiliki karakter yang sangat kalem seperti datas haha.

Jangan jadi silent readers ya 🙂 *bow

Advertisements

20 thoughts on “Doll | 1

  1. Kasian sam rinhyo pasti dia ngerasa kekekang banget,hidupnya di atur banget kasian 😢,
    Rinhyo sama kyuhyun Kayaknya memiliki perasaan yang sama deh ? Makin penasaran sama cerita ini Ditunggu next chapternya

  2. berbeda dgn karakter rin hyo sebelumnya..
    Smoga rin hyo cepat2 terbebas dri aturan keluarga sam..
    Ditunggu next partnya kak
    tetap semangat

  3. wawawawaw seru bgt nih kayanya baru part 1 aja udah bikin interest hahahaha kesian rinhyo dengan posisinya ituuuu changwook jg kasian huh bakal gimana coba kalo kyuhyun sama rinhyo udah deket nanti, kyuhyun pasti ngedekrtin rinhyo kan hahahahaha nanti mereka jatuh cinta aihhhh seri dehhh kalo udah berkonflik hahah ditunggu selalu lanjutannyaaaaaa fighting!

  4. Mereka pasti saling menyukai (kyu rin) . Emg mereka tak terpisahkan deh hihihi .
    Kasian rinhyo kayanya terkekang bgt , tp gimana ya changwook nya . Jd kayanya karakternya kyu sm changwook kaya ketuker gtu hihi biasanya kyu yg dingin disini chmgwook yg dingin .
    Mkasi eonni ud dipost😊

  5. ternyata rinhyo anak angkat…..??????? kasihan banget dech,kyaknya dia ngerasa kesepian. seperti judulnya “doll” disini dia benar2 sprti boneka yg harus terima apa saja yg dilakukan dan diperintah oleh sang pemilik. kyuhyun rinhyo the best couple deh pokokny

  6. Karakter kyuhyun yg berbeda, yg gk kaya ff yg lain, kya’a udh ada benih” cinta nih, mungkinkah love at the first sight?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s