Doll | 2

Doll

Doll 2

 

Author : Tsalza Shabrina

 

 

Didunia ini, masih adakah ketulusan ?

 

***

 

“Psst, Cho Kyuhyun! Apa yang kau lakukan?”

Suara bisikan Shim Changmin yang berada disamping panggung, berusaha meneriaki Kyuhyun semampunya. Namun pria bodoh itu masih saja menatap kearah  penonton tanpa mengindahkan bisikan Changmin.

Park Sunyoung yang bisa melihat kebingungan Changmin, menatap Kyuhyun dengan alis terangkat. “Apa yang ingin kau katakan, Jin Young-ah?” kembali Sunyoung mengulang  dialognya agar Kyuhyun tersadar.

“Sial, Cho Kyuhyun! Aku akan selalu berada disampingmu, karena aku mencintaimu.” Changmin kembali berbisik keras dibalik dinding yang berada disamping panggung, mendikte dialog Kyuhyun yang mungkin saja terlupakan. Tubuh Kyuhyun sedikit tersentak, kesadarannya kembali.

“Kenapa kau diam saja, Jin Young-ah?” Sunyoung mempertahankan wajah keheranannya, masih dalam bagian peran. Meski ini tidak ada dalam script.

Kyuhyun terdiam sejenak, masih menatap kearah penonton-tepatnya kearah Rinhyo kemudian berucap “Langit sangat indah hari ini, kumpulan awan – awan yang menemani matahari menjadi perpaduan yang sempurna. Sangat indah.” Kepalanya kembali menoleh kearah Sunyoung, mendekati Sunyoung. Mengambil kedua tangan gadis itu “Seperti kita yang akan menjadi perpaduan yang indah jika bersama. Aku akan selalu disampingmu, berdiri dibelakangmu dan memberimu kekuatan. Karena aku mencintaimu.” Lanjut Kyuhyun. Changmin dapat  menghela napas lega, kakinya melemas saking bersyukurnya. Sunyoung mulai menyanyikan baris pertama lagu duet mereka dan pertunjukkan pun kembali berjalan lancar.

 

***

 

“Kau lapar? Ingin makan malam dulu?”

Pertanyaan Changwook membuat Rinhyo yang sejak tadi terdiam dikursi samping kemudi sontak menoleh. Pria itu masih fokus pada jalan, meski sesekali melirik Rinhyo.

“Kita pulang saja, hari ini aku lelah sekali.” Jawab Rinhyo, wajahnya masih kaku untuk memberi senyuman palsu seperti biasa. Ia kembali menatap kedepan, pikirannya melayang pada kejadian singkat yang terjadi ditengah pertunjukkan tadi. Entah kenapa, ia merasa aneh.

“Baiklah, kita pulang.” Changwook mengangguk sekadar, “Keunde, apa kau mengenal pria tadi? Sepertinya saat itu kalian saling bertatapan.”

Diam – diam Rinhyo meneguk ludahnya berat. Gadis itu menoleh sebentar kearah Changwook, “Siapa?”

“Pria tadi, pemeran utama pria.”

“Aku tidak mengenalnya.”

“Lalu kenapa tadi dia menatapmu seperti itu?”

“Menatap seperti apa maksudmu, oppa?” Rinhyo menatap Changwook dengan alis terangkat, memasang ekspresi heran senatural mungkin.

Kepala Changwook miring kekanan, ekspresinya lebih pada heran dari pada curiga. “Entahlah, tatapan pria itu begitu aneh.”

Tawa kecil Rinhyo keluar, “Mungkin saja dia tidak menatapku, tapi kelihatannya saja seperti itu. dan juga, aku bukan membalas tatapannya. Bukankah semua orang disana juga sedang menatapnya?”

Senyum kecil Changwook terulas, bahunya terangkat acuh. “Keure, mungkin aku hanya salah melihat. Lagipula untuk apa Sam Rinhyoku menatap pria lain selagi ada pria setampan Ji Changwook disampingnya?” Tangan Changwook tergerak untuk mengusap pelan kepala Rinhyo.

Sam Rinhyo hanya bisa tersenyum samar. Ia tidak tahu bagaimana dan kapan ia berhenti menjadi seperti ini. Bagaimana pun dan kapan pun itu, Rinhyo benar – benar menunggu kedatangannya.

 

***

 

Park Sunyoung duduk disofa yang tersedia dibelakang panggung dengan helaan napas penuh lelah. Ia sudah mengganti kostumnya dengan pakaian biasa. Setelah tampil, mereka harus membersihkan peralatan dulu sebelum pulang. Selang beberapa detik, Kyuhyun datang. Mengambil tempat disamping Sunyoung setelah menyahut sebotol air mineral ditangan Sunyoung.

Sunbae-nim!” pekik Sunyoung tak terima ketika Kyuhyun hanya menyisakan sedikit untuknya. Kyuhyun tak peduli, ia masih mengatur napasnya dan memejamkan kedua mata. Bersandar disofa empuk ini membuatnya mengantuk.

“Tidak bisakah kau sopan sedikit, Cho Kyuhyun?” Shim Changmin datang seraya membawa sebotol air mineral utuh, memberinya pada Sunyoung yang langsung menerimanya dengan senang hati.

“Changmin sunbae, aku lapar.” Rengekan Sunyoung yang penuh dengan aegyo itu membuat  Changmin memasang wajah malas.

“Kalau begitu makan.”

Sunbae tidak ingin mentraktir kami semua? Tiket musikal terjual habis, tapi sunbae tak melakukan apa – apa  selain kalau begitu makan? Subae-nim!” Sunyoung menatap Changmin dengan puppy eyes-nya, membuat Changmin tak bisa melakukan apa – apa selain meng-iya-kan permintaan hoobae yang tak tahu malu itu. Semua orang disana bersorak, terutama Sunyoung yang kini sudah beranjak dari sofa. “Gomawoyo, sunbae-nim.” Ucap gadis itu sopan seraya  membungkuk dalam sebelum meninggalkan Changmin dan Kyuhyun.

“Aku akan bangkrut sebentar lagi.” Rutuk Changmin sambil menjatuhkan diri disamping Kyuhyun. Ia menoleh kearah Kyuhyun yang masih memejamkan mata. “Kau ikut tidak?”

“Jonghyun akan menginap dirumah malam ini, jadi tidak bisa.”

Aish, bocah itu kenapa selalu merepotkanmu ketika ada masalah.”

Kyuhyun terkekeh pelan. Kedua matanya terbuka, merenggangkan otot seraya berucap “Sepertinya notifikasi ponselku sudah penuh oleh pesannya sekarang. Aku pulang dulu, Jonghyun sudah menunggu di lobby gedung.”

YA!”  Panggil Changmin ketika Kyuhyun kini tengah meraih tas ranselnya. “Apa yang membuatmu tidak fokus tadi?”

Kyuhyun menghentikkan gerakannya. Tanpa berbalik untuk menatap Changmin ia mengangkat bahu asal, menggunakan kata “Entahlah.” Sebagai jawaban. Karena ia tahu, Changmin tidak bisa tertipu olehnya begitu saja. Shim Changmin adalah orang yang paling mengerti dirinya lebih dari siapapun. Bahkan lebih dari pamannya sendiri.

Kyuhyun melambaikan tangan kanan diudara, hilang dibalik pintu keluar backstage. Meninggalkan Changmin yang hanya bisa menghela napas panjang.

 

***

 

Lee Jonghyun langsung berlari kecil menuju kulkas ketika ia sudah memasuki rumah Kyuhyun. Memasukkan sekotak minuman kaleng bersoda dan beer kedalam sana, juga menata satu lusin ramyun dirak. Kyuhyun menghela napas kasar melihatnya, menaruh tas ransel disamping kasur sederhananya kemudian merebah disana.

“Kau hanya memberiku makanan dan minuman yang tidak sehat setelah merepotiku sekian lama?! Setidaknya kau harus membawa satu kotak hanwoo.” Celoteh Kyuhyun setelah Jonghyun sudah menata semua yang ia bawa dengan rapi. Alis Jonghyun terangkat.

“Ini untuk persediaanku sendiri, hyeong. Jadi kau harus memakan dan meminum ini jika aku berada disini.” Ujar Jonghyun, segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.

Kyuhyun menggeleng tak percaya, “Dia benar – benar tidak tahu malu.”

Menaruh sebelah tangannya dibawah kepala, Kyuhyun menatap langit – langit kamar dengan tatapan menerawang. Tadi benar – benar tak seperti dirinya, sekali pun ia tidak pernah bersikap tidak profesional ketika tampil. Ia selalu mencurahkan segalanya untuk setiap penampilannya, karena berada diatas panggung musikal adalah impiannya.

Helaan napas panjangnya keluar. Kembali mengingat wajah gadis itu yang tadi ia yakini juga menatapnya. Wajah yang tadi siang ia lihat begitu ceria jadi  sangat  berbeda. “Aish, gadis itu membuatku tidak tenang.” Gerutunya seraya memajamkan kedua mata frustasi. Pasalnya, ekspresi gadis itu terlihat seperti menyimpan banyak hal untuk Kyuhyun. Ekspresi yang sama persis dengan ekspresi yang ia lihat kemarin di jembatan.

Suara siulan Jonghyun yang sedang mandi membuat Kyuhyun sedikit terganggu. Pria itu beranjak, keluar dari rumah bersama rokok dan koreknya. Duduk di kursi kayu berbentuk persegi seraya menatap sesaknya rumah – rumah di Seoul dibawahnya. Ia tinggal dirumah kecil yang berada diatap. Harganya lebih murah karena tempatnya yang sangat tidak strategis. Tapi menurut  Kyuhyun, ini sangat sempurna. Ia bisa memainkan gitar tanpa gangguan dikursi ini, menikmati pemandangan malam seorang diri, dan sesekali meminum soju atau beer bersama Jonghyun. Ah, ia juga bisa merokok dengan bebas diatas sini.

Aigoo dinginnya.” Jonghyun bergumam, baru saja keluar dari rumah. Kyuhyun menoleh kebelakang, mendapati senyuman bocah Jonghyun dengan dua kaleng beer dikedua tangannya. “Mau minum?”

Kyuhyun yang sejak tadi sudah menyesap rokoknya, langsung membuang rokok kelantai. Menginjaknya kemudian menggedikkan kepala menyuruh Jonghyun  menghampirinya.

“Kenapa kau masih saja merokok, huh?” Jonghyun berujar seraya menaruh dua kaleng itu diatas kursi persegi-lebih menyerupai meja kayu dari pada kursi-.

Kyuhyun membuka kaleng minumannya, menjawab “Tidak usah berceramah, bocah.” Sebelum meneguk minuman itu. Jonghyun tertawa kasar, ikut meneguk minumannya.

“Aku bukan bocah lagi, hyeong. Buktinya aku sudah tahu kalau merokok itu tidak baik.” Balas Jonghyun lebih seperti sindiran halus. Kyuhyun tak ingin menanggapinya lebih lanjut.

“Jadi kali ini apa masalahnya?” Tanya Kyuhyun, mengalihkan pembicaraan.

Jonghyun menghela napas panjang, menyanggah tubuh dengan kedua tangan yang ia taruh vertikal dibelakang punggung. Menatap langit tanpa bintang tanpa ekspresi. “Seperti biasa, kemarin ayah menghadiri pertemuan. Mengomeliku karena semua putra temannya masuk kejurusan hukum. Ibu membela, dan akhirnya mereka bertengkar. Jadi lebih aku keluar dari pada terganggu karena bising.”

Jonghyun kembali meneguk minumannya setelah menjelaskan. Kyuhyun tertawa kecil, “Seharusnya kau menenangkan ibumu. Dia pasti sangat kesepian jika kau melarikan diri seperti ini.” Kyuhyun selalu mengutarakan jawaban itu  untuk Jonghyun.

“Kau lebih tahu jika aku tidak bisa seperti itu.” Dan selalu ini yang menjadi balasan Jonghyun. Memang, Jonghyun tak mudah untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan ketika ia sedih atau kasihan akan sesuatu. “Ah, tadi Hyera nuna menemuiku.”

Wajah Kyuhyun menegang, tak ingin menoleh. Kyuhyun hanya menatap lurus kedepan sampai Jonghyun menyelesaikan kalimatnya. “Kau tidak ingin menemuinya? Dia selalu bertanya ini itu padaku agar bisa menemuimu.”

“Kau tidak memberitahu jika aku tinggal disini, kan?”

Jonghyun menggeleng. “Tapi sepertinya dia tahu jadwal kelasmu dikampus. Katanya ia akan menemuimu setelah kelas vokalmu selesai besok.”

Kyuhyun menghela napas panjang. Tak berucap apapun, lebih tertarik untuk menghabiskan minumannya yang sudah hampir habis.

 

***

 

Suara musik trot dari speaker besar yang mendampingi sebuah panggung sederhana terdengar keras dihalaman panti jompo ini. Acara kecil – kecilan yang dilakukan oleh pihak panti serta merta hanya untuk menyambut kedatangan Sam Rinhyo dan ibunya. Tepat pada hari ini, panti jompo yang berada di Gyeonggi-do ini mendapat santunan obat dan alat – alat kesehatan dari perusahaan ayah Rinhyo. Memang perusahaan ayah Rinhyo bergerak dibidang farmasi dan teknologi. Banyak rumah sakit yang memilih produk  obat – obatan dan alat kesehatan produksi perusahaan ayahnya. Jaeil group.

Senyuman tipis Rinhyo terulas kala seorang nenek yang masih terlihat begitu bugar mengajaknya berdansa. “Aigoo, cantiknya.” Puji nenek itu ketika Rinhyo ikut mengimbangi gerakan lucu sang nenek. Senyuman Sam Rinhyo semakin lebar seiring dengan gerakannya yang semakin lincah. Bersyukur ibunya mengajaknya ketempat ini, memberi sedikit kebahagiaan kecil untuknya.

Bola matanya bergerak untuk melirik Nyonya Shim Jung Ah. Ibunya itu kini sedang dikelilingi oleh beberapa lansia yang berada dipanti jompo ini, sesekali Nyonya Shim tertawa bersama mereka. Juga merapikan baju seorang lansia yang sedikit berantakan dan membantu memegangi lansia lain yang sulit berjalan. Hanya sebentar bola mata itu melirik ibunya. Karena kini pandangan matanya beralih pada reporter dan wartawan yang sibuk mengambil gambar.

Hela napas panjang Rinhyo keluar. “Wae? kenapa tiba – tiba kau terlihat sedih, gadis cantik?” Logat desa kental yang keluar dari bibir nenek dihadapannya membuat Rinhyo cepat – cepat mengulas senyuman.

Aniyo, halmonie.” Nenek itu melepas genggamannya dari tangan Rinhyo. Merasa Rinhyo sudah lelah karena terus menari bersamanya. “Halmonie lelah? mau saya ambilkan minum?”

Nenek itu tersenyum kecil. “Bagaimana bisa Tuhan mengirimkan gadis sepertimu ketempat kecil ini? sudah cantik, baik, dan juga kaya. Terima kasih sudah memberi kami obat – obatan gratis.” Rinhyo tersenyum tipis, kedua matanya tiba – tiba terasa panas. untuk sejenak, ia merasa begitu berharga.

“Aku bukan apa – apa, halmonie. Semua ini milik orang tuaku.”

“Rinhyo-ah!” Sam Rinhyo menoleh, mendapati ibunya yang tengah berjalan kearahnya dengan wajah berseri. “Annyeong haseyo, halmonie.” Nyonya Shim membungkuk pada nenek itu.

Annyeong haseyo. Kau benar – benar diberi anugerah memiliki anak semanis ini, Nyonya.” Senyuman Nyonya Shim semakin lebar mendengar pujian nenek.

“Terima kasih, halmonie. Rinhyo-ah, kita harus pergi menemui pemilik panti. Sampai jumpa, halmonie!” Nyonya Shim membungkuk kembali kearah nenek itu, diikuti dengan Rinhyo sebelum mereka benar – benar meninggalkan halaman panti.

 

 

***

 

Sam Rinhyo dan ibunya berdiri dibalik kaca besar yang berada dilantai dua. Dari sini ia bisa melihat jelas kemeriahan pesta kecil – kecilan dihalaman panti. Pemilik panti masih diwawancarai dibawah, jadi mereka harus sabar menanti sebentar.

“Lihat mereka! Orang – orang naif! Menyedihkan!” Tukasan tajam ibunya dimulai lagi. Rinhyo mengepalkan kedua tangan kuat – kuat, berusaha mendengarkan meski rasanya sakit sekali. “Aku tidak akan pernah mau tinggal ditempat seperti ini. Menghabiskan masa tua ditempat seperti ini adalah hal tidak mungkin untuk seorang chaebol.”

Rinhyo memaksakan senyuman kecilnya. “Setidaknya mereka terlihat bahagia, bu.”

“Tch, bahagia apanya.” Nyonya Shim tersenyum miring. “Tapi, orang – orang seperti ini yang kita butuhkan. Memberi respon baik dan senyuman lebar untuk reporter adalah hal yang paling kita butuhkan dari mereka.”

Dahi Rinhyo mengernyit, perlahan menoleh kearah ibunya. “Apa mungkin… tujuan dari obat – obatan gratis ini hanya untuk meningkatkan pamor perusahaan?”

Nyonya Shim mengangguk kuat. “Tentu saja, memangnya untuk apa aku menyuruh reporter kesini?” Rinhyo kembali menoleh kearah kaca jendela. Kepalan tangannya semakin kuat. “Hal seperti ini sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis, Rinhyo-ah. Kau harus tahu itu.”

Nyonya  Shim menoleh kearah Rinhyo. “Dan juga, kau harus mengerti bagaimana caranya bersikap pada orang – orang yang berada dibawahmu. Menjadi ramah memang diharuskan karena ayahmu seorang menteri, tapi kau harus tahu batasannya. Bukan menari – nari seperti orang bodoh.” Rinhyo masih menatap kekaca jendela. Tak tahu harus bereaksi apa, otaknya masih berputar untuk mencari respon yang paling tepat. “Ingatlah, sekarang kau adalah Sam Rinhyo. Mereka tidak berada dalam tingkatan yang sama dengan Sam Rinhyo.”

Rinhyo berusaha  tersenyum kecil, menatap ibunya  seraya mengangguk mantap. “Ne, aku akan selalu mengingat ucapan ibu.”

 

***

 

“Bagaimana dengan ini semua, nyonya?”

Tanya seorang bibi pelayan ketika menatap banyak bingkisan yang berada dibagasi mobil. Nyonya Shim tidak menoleh atau pun menghentikkan langkahnya untuk memeriksa pemberian dari halmonie – halmonie tadi. Ia hanya menjawab

“Lakukan seperti biasa.” Setelah itu, punggungnya menghilang dibalik pintu utama. Rinhyo menghentikkan langkahnya diambang pintu, memastikan ibunya sudah memasuki kamar sebelum ia kembali berbalik. Ikut membantu bibi pelayan yang tengah mengangkuti barang – barang dibagasi.

“Oh astaga, nona. Jangan ikut membantu seperti ini, jika Nyonya tahu pasti akan kacau.” Rinhyo mengulas senyuman kecilnya. Mengangkat dua bingkisan besar dengan kedua tangannya.

“Ibu sekarang sangat lelah. kurasa ia akan langsung tidur setelah mandi.” Bibi pelayan itu menatap Rinhyo yang sudah memasuki rumah dengan pandangan tak enak. Menghela napas panjang, tak ada yang bisa bibi itu lakukan selain mengikuti langkah nonanya menuju dapur.

Pelayan lain yang berada didapur berjengit terkejut  ketika mendapati kedatangan Rinhyo. Tempat yang tidak seharusnya Rinhyo datangi adalah gudang dan dapur.

Omo! Ada perlu apa nona sampai kemari?” Seorang pelayan yang tengah memakan makanan disudut dapur seketika beranjak, berucap dengan makanan yang masih penuh didalam mulut.

“Bibi lanjutkan saja makannya.” Ujar Rinhyo seraya menaruh dua bingkisan itu diatas meja dapur. Diikuti bibi pelayan yang tadi mengekorinya.

“Ah… bau kue beras. Nona dari acara amal?” Tanya salah satu bibi pelayan yang langsung dibalas anggukkan oleh Rinhyo.

“Bibi bisa membawa pulang ini  semua. Tapi sebelumnya tolong bawakan masing – masing dari pemberian halmonie ini kekamarku.”

“Tapi aku sangat penasaran. Kenapa nona selalu meminta kami membawakan masing – masing sedikit bagian dari pemberian – pemberian orang? Nyonya saja tak pernah menyentuh ini sedikit pun.” Bibi pelayan yang memiliki rambut pendek itu berceloteh, dengan cepat pelayan lain yang berdiri disampingnya menyenggol bibi berambut pendek itu dengan sikutnya. Merasa ucapannya tidak pantas, bibi berambut pendek itu menutup mulut dengan kedua tangan. “Maafkan saya, nona.”

Rinhyo tersenyum kecil. “Halmonie halmonie tadi membuat semua makanan ini dengan tulus untuk diberikan pada kami. Jika ibu tidak memakannya, setidaknya aku yang memakan ini.” Rinhyo menghela napas panjang kemudian melanjutkan, “Tolong bawakan kekamarku tanpa sepengetahuan ibu ya, bibi. Terima kasih, aku kekamar dulu.”

 

***

 

Senyuman kecil Rinhyo terulas ketika indera penciumannya menangkap harus kue beras yang sepertinya begitu lezat. Tangan kanannya tak sabar untuk memasukkan potongan kue berwarna merah itu kedalam mulut.

“Ibu benar – benar rugi tak pernah memakan makanan seenak ini.” gumamnya pelan, kembali mengisi mulut kosongnya dengan satu potong kue beras lagi.

 

“Ingatlah, sekarang kau adalah Sam Rinhyo. Mereka tidak berada dalam tingkatan yang sama dengan Sam Rinhyo.”

Gerakan Rinhyo yang hendak memakan potongan kue beras itu melemas. Nafsu makannya hilang tiba – tiba saat mengingat ucapan ibunya tadi. Nyonya Shim selalu mengingatkan hal yang sama. Tentang Rinhyo yang sekarang sudah menjadi Sam Rinhyo. Bukan Seo Junghee, gadis panti berumur 4 tahun yang sering bermain lumpur diladang padi.

Ia menaruh kembali kue berasnya diatas piring. Mendorong kursi berodanya kebelakang agar sampai pada ranjang dengan mudah. Kemudian berbaring disana, menatap kosong langit – langit kamar. Alunan instrumental piano dan biola kesukaannya ia keraskan melalui speaker. Hanya ini caranya untuk menenangkan diri.

 

“Aku Cho Kyuhyun, mahasiswa universitas Inha. Jurusan Musikal.”

 

Helaan napas panjangnya keluar. “Cho Kyuhyun.” Tanpa sadar bibirnya berucap. Tatapannya menerawang jauh entah kemana. Ingatannya melayang pada kejadian tempo hari, ketika pertunjukkan musikal. Ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Cho Kyuhyun. Ia tidak tahu bagaimana menggambarkannya, ia tidak begitu senang. Tapi juga tidak merasa buruk.

 

“Kau melakukan hal baik.”

 

Telapak tangannya menyentuh lengan, hatinya menghangat ketika ia mengingat bagaimana eratnya ia berada dipelukan Kyuhyun saat itu. Kedua matanya terpejam, ia tidak tahu apa ini. tapi rasanya ia ingin bertemu Cho Kyuhyun. Mencurahkan segala keluh kesahnya pada pria itu.

“Ah, musikal.” Rinhyo beranjak, mengambil macbook yang berada dimeja kecil samping ranjang. Jemarinya dengan cepat membuka website kampus, mencari unit kegiatan musikal Inha. Senyuman samarnya terulas ketika menemukan profil Cho Kyuhyun disana. “Ketua?” gumam Rinhyo, tak menyangka jika pria itu adalah ketua unit musikal diInha. Jari telunjuknya semakin gencar men-scroll kebawah, dan kembali menemukan jika Cho Kyuhyun berada dalam satu angkatan dengan Ji Changwook.

 

***

 

Cho Kyuhyun berjalan menuju keluar gedung kampus dengan kedua tangan didalam saku. Ia hanya mengambil kelas akting untuk hari ini, karena ada banyak hal yang harus ia urus dibasecamp unit musikal. Ada audisi pemilihan anggota  baru, dan ia menjadi salah satu jurinya.

Langkah Kyuhyun terhenti ketika mendapati Kim Hyera yang tengah berdiri diambang pintu. Bersandar didinding seraya merapikan bajunya. Kyuhyun sontak menutup kepalanya dengan tudung jaket, berjalan kearah berlawanan dengan langkah cepat.

SAM! Cho Kyuhyun sam!” Kyuhyun menghentikkan langkahnya, suara panggilan seorang gadis dan juga langkah kaki yang menghampirinya itu menggema dilorong gedung. Kedua mata Kyuhyun terpejam frustasi, sudah terlambat untuk melarikan diri.

Kyuhyun berbalik, mendapati seorang gadis-salah satu siswanya. Mahasiswi tahun ajaran baru. “Ah, syukurlah aku menemukan sam disini. Kemarin aku mencari sam kesemua tempat.” Celoteh gadis itu, dengan cepat membuka tasnya untuk mengambil barang yang sejak kemarin ingin ia berikan pada Kyuhyun.

Kedua mata Kyuhyun melirik sebentar kearah dimana Hyera tadi berdiri. Hela napas gusarnya keluar ketika mendapati Hyera yang sudah menemukannya. Gadis dihadapannya ini mengeluarkan sebuah CD, memberikannya pada Kyuhyun dengan kedua tangan. Menunjukkan rasa hormat pada asisten dosen favoritnya itu.

“Seharusnya sam menyuruhku membawa CD ini 3 hari yang lalu saat kelas vokal berlangsung. Tapi, jusung hamnida saat itu aku  lupa membawa. Jadi 2 hari ini aku mencari sam untuk memberikan ini pada sam.”

Kyuhyun memaksakan senyum. “Gwenchana.” Singkatnya, ingin segera pergi dari sini. Gadis itu tersenyum membungkuk dalam pada Kyuhyun sebelum berbalik pergi. Kyuhyun menghela napas dalam, cepat – cepat memutar tubuh untuk menghindari Kim Hyera yang bisa ia pastikan sedang menghampirinya.

“Kyuhyun-ah! Cho Kyuhyun!” Hyera menahan lengan Kyuhyun. Membuat pria itu mau tak mau berbalik, menatap Hyera dengan tatapan datar.

“Untuk apa kau datang kesini?” Kyuhyun bertanya dengan dingin. menarik lengannya agar terlepas dari genggaman Hyera.

Kim Hyera menggigit bagian bawah bibirnya. Cukup lelah mendapatkan perlakuan yang sama dari Cho Kyuhyun. “Bisa kita bicara sebentar?”

“Bicara saja disini. Kuharap kau bisa cepat karena aku sangat sibuk.”

Hyera mengangguk pelan, ia tahu memaksa Kyuhyun hanya akan membuat pria itu kesal. “Sejak 3 hari yang lalu aku mencarimu, Jonghyun mengatakan jika kau selalu sibuk jadi aku menunggu disini setiap—“

“Langsung saja pada intinya.”

Hyera meneguk ludahnya berat, kedua tangannya bergelut resah tepat didepan perutnya. “Aku merindukanmu. Aboji juga ingin kau kembali.”

Kyuhyun mengulas senyuman miring, “Jadi ini masih tentang masalah yang sama?” tanya pria itu dengan nada remeh. Kyuhyun membenarkan tas ranselnya kemudian melanjutkan “Jika tentang hal ini, lebih baik kau tidak usah datang kesini lagi. karena semua usahamu akan sia – sia.”

Cho  Kyuhyun menatap Hyera tajam sebelum berjalan melewati tubuh gadis itu. Dengan cepat Hyera berbalik, “Setidaknya beritahu kami dimana kau tinggal, Kyuhuyun-ah.” Kembali Hyera mencoba menghentikkan Kyuhyun. Namun kini pria itu tak berhenti, lebih memilih menulikan telinganya dengan cara berjalan keluar dari pintu utama gedung. Meninggalkan Hyera yang tertegun disana dengan perasaan campur aduk.

 

***

 

Gwechana, oppa. Aku bisa naik taksi.”

Benar tidak apa – apa? Aku bisa menunggumu sampai selesai, Rinhyo-ah.

            Rinhyo berjalan ditrotoar kampus Inha dengan langkah pelan. “Aku benar tidak apa – apa. Jangan khawatir, oppa bisa pulang dulu.” Mencoba untuk meyakinkan Changwook, Rinhyo mengeluarkan nada penuh keyakinannya. Hari ini ia akan melakukan hal sedikit gila, jadi tidak mungkin ia melibatkan Changwook.

Arasseo, hubungi aku jika ada sesuatu yang terjadi. Jangan lupa besok malam kita ada janji, eo?

            “Mm. Aku ingat.” Singkat Rinhyo, ingin segera menghentikkan sambungan telepon ini.

Hati – hati, sampai jumpa besok malam.

            “Hm.” Rinhyo mematikan sambungan telepon. Menghela napas panjang kemudian mengulas segaris senyuman. Berjalan dengan langkah cepat agar ia sampai pada tujuan.

Hari ini ia akan menemui Cho Kyuhyun. Jika dipikir – pikir, setidaknya ia harus berterima kasih pada pria itu karena sudah menyelamatkan nyawanya. Kemarin ia mencari denah untuk mencapai basecamp unit musikal dari website kampus. Ini pertama kalinya ia sangat penasaran akan sesuatu. Terlebih pada seorang pria.

Kepala Rinhyo bergerak kekanan dan kekiri, kedua matanya menyisir pemandangan didalam basecamp yang terlihat begitu sibuk. Banyak orang yang berjalan kesana – kemari, juga ada sebuah antrian yang cukup panjang tak jauh dari tempat ia berdiri. Basecamp musikal di Inha memang dilengkapi dengan banyak hal seperti ruang latihan, hall sederhana untuk showcase kecil, juga tempat – tempat lain yang biasa dimanfaatkan anggota unit musikal untuk bersantai atau berdiskusi.

Rinhyo layaknya kucing kecil yang kehilangan induknya, ia bingung harus kemana karena keramaian ditempat ini. juga bingung harus bertanya pada siapa karena semua orang terlihat sibuk. Rinhyo menggenggam erat tali tasnya, mengobservasi satu persatu wajah orang yang berlalu lalang untuk memutuskan siapa yang akan ia tanyai. Ia mencari orang yang terlihat tidak begitu sibuk dan lelah.

“Permisi!” Rinhyo menghentikkan seorang pria yang terlihat berjalan santai dengan ponsel ditangan. Pria itu menghentikkan langkahnya, menatap Rinhyo dengan kedua mata melebar.

Eo! Sam Rinhyo-ssi.” Rinhyo tersenyum kecil seraya menunduk sejenak. Tak begitu faham bagaimana pria ini bisa tahu namanya.

“Aku ingin bertanya, apa kau mengenal pria bernama Cho Kyuhyun?”

“Ah, Kyuhyun hyeong?” Rinhyo mengangguk ragu. “Dia belum datang, tunggu sebentar dikursi itu aku akan menghubunginya.” Sontak Rinhyo menggerakkan kedua tangannya kekanan dan kekiri, menghentikkan pria yang sudah bersiap menghubungi Kyuhyun.

“Aku bisa menunggu, tidak usah repot seperti itu.” Ujar Rinhyo. Karena akan berlebihan jika sampai membuat Kyuhyun terburu – buru karena ditelepon. “Aku akan menunggu disana.” Rinhyo menunjuk kursi yang tadi dikatakan pria itu. Berjalan menuju kursi itu sebelum mendudukinya. Dan tak ia sadari, pria itu ikut duduk disampingnya.

“Aku Lee Jonghyun, kau bisa berbicara dengan nyaman padaku karena kita satu angkatan.” Rinhyo hanya mengangguk sekenanya, bingung harus membalas seperti apa. “Tapi, aku tidak tahu jika ternyata kau mengenal Kyuhyun hyeong. Ini sangat mengejutkan.”

Alis Rinhyo terangkat, “Wae?  apa Cho Kyuhyun orang yang aneh?”

Jonghyun tertawa kecil, tak ia sangka Rinhyo- seorang gadis yang sangat terkenal di kampus Inha- mempunyai sisi polos seperti ini. “Bukan seperti itu, hanya saja tidak ada alasan untuk kalian saling mengenal. Kau bukan anggota unit musikal, tidak satu jurusan juga.”

“Ah… aku hanya mengenalnya sebentar. Tidak sedekat yang kau kira.”

“Memangnya ada perlu apa dengan Kyuhyun hyeong? Aku kenal dekat dengannya, jadi jika perlu apa – apa kau bisa mengatakannya padaku.”

Ya! Lee Jonghyun!” Jonghyun dan Rinhyo mengangkat kepalannya keatas untuk menatap sang pemilik suara. Jonghyun tersenyum bocah, beranjak dari kursi ketika menemukan Cho  Kyuhyun. Rinhyo pun ikut berdiri dengan gerakan canggung. Bahkan gadis itu sudah tak berani menatap Kyuhyun.

“Sudah kubilang jangan bermain – main ketika ada acara, bukan? Bukannya membantu malah mengobrol disini.” Jonghyun memukul lengan Kyuhyun.

“Aku hanya menemani tamumu sebentar, hyeong. Arasseo! Aku akan pergi.” Jonghyun beralih menatap Rinhyo. Tersenyum kearah gadis itu seraya berucap, “Sampai jumpa, Sam Rinhyo!”

Rinhyo hanya tersenyum kecil membalasnya. Hela napas panjangnya keluar ketika Jonghyun sudah meninggalkan mereka. Rinhyo menatap kearah Kyuhyun sebentar, lalu menatap kearah lain. Bingung bagaimana cara untuk memecahkan kecanggungan ini.

“Kau sibuk? Setelah ini ada acara lain?” pertanyaan tiba – tiba dari Kyuhyun itu membuat Rinhyo sontak menatap kearah pria itu dengan kedua mata melebar.        “Aniyo. Waeyo?”  Rinhyo balik bertanya dengan nada kaku.

“Tunggu disini, aku harus menyelesaikan ini terlebih dahulu lalu menemuimu.”

Rinhyo menggeleng. “Tidak usah, lebih baik aku pulang. maaf mengganggu.”

“Untuk apa pulang jika sudah bersusah payah datang kesini?” Rinhyo terdiam, cara bicara Kyuhyun masih sama persis seperti saat di jembatan saat itu. Terdengar selengekan dan semuanya sendiri. “Tunggu sebentar saja, aku janji tidak akan membuatmu menunggu lama.”

Rinhyo berkedip cepat, sedikit ragu untuk menuruti ucapan  Kyuhyun. Lagipula hal yang ingin ia lakukan disini adalah berterima kasih, bukan?

“Aku benar – benar tidak akan lama.”

Tanpa berekspresi apapun Rinhyo mengangguk pelan. Menciptakan helaan napas lega dari Cho Kyuhyun,  “Ah, aku belum memperkenalkan diri.” Rinhyo bertukas ketika Kyuhyun hendak berbalik pergi.

Pria itu kembali menatap Rinhyo yang kini tengah menunduk sekadar, “Aku Sam Rinhyo. jurusan politik.” Ujar gadis itu tanpa ekspresi.

Kyuhyun tersenyum kecil. “Aku tahu.” Singkatnya sebelum meninggalkan Rinhyo yang terdiam. Menatap Kyuhyun dengan dahi mengernyit.

 

TBC-

Jangan jadi silent readers, please ^^

Advertisements

17 thoughts on “Doll | 2

  1. lalalaa gatau kenaoa kok degdegan ya tau rinhyo sama kyuhyun ketemu hahahaha suka bgt sama karakter kyuhyun disini padahal baeu 2 chapter tp dia udah bikin senyum2 aja hahahaha btw rinhyo itu sebenernya siapa???? ibunya kayanya jahat ya? hih ditunggu selalu lanjutannyaaaaaa

  2. kyaknya kyuhyun bkn orang biasa deh, atao mungkin sbnernya dia anak orang kaya..!?
    brbeda dgn Kyu yg hidup bebas untk dirinya sndiri, Sam justru hidup untk orang lain 😦

    aku udh kirim pesan di email ka tsalza, mohon dibls ya 😀

  3. Cie uda mulai bertemu hihi
    Kayanya kyu ad yg disembunyiin nih . Jgn2 kyu itu org ky, dan kbr krna dikekang jg ky rinhyo?
    Penasaran deh jdnya . Ditunggu klnjtnya eonni^^

  4. Hah, pasti Rinhyo tertekan batin karena sifat ibu angkatnya. Terus, apa alasan kyuhyun pergi dari rumahnya dan gak mau memberi tahu alamat rumahnya?

  5. wow………samrinhyo dah mulai coba keluar dri zona aman,makin menarik ceritanya. hubungan kim hyera sma kyuhyun apa y?

  6. Trnyata Rinhyo itu trknal bgt ya,,tnpa mmprknalkn diri,,smua org sudh kenalllll
    Kim Hyera apanya Kyu???
    Ap dy mantan pacarnya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s