Pure Love 1

 

Pure Love

 

Author: Bella Eka.

.

.

Pakaian yang melekat dan terasa sangat lengket di tubuh Soojung membuat gadis itu mendengus kasar. Saat ini Soojung tengah berdiri di depan sebuah toko bunga berdominasi warna cokelat muda tempat ia bekerja, Flower House. Gadis itu mengendus-endus aroma tubuhnya dengan kesal, jika pria idiot yang ia temui di kafe tadi tidak menumpahinya minuman soda pasti tubuhnya tidak akan berbau menyengat seperti ini.

“Yah, apa boleh buat,” gumam Soojung menyerah, karena terus merasa jengkel juga tak akan merubah apapun. Soojung melangkah maju lantas mengeluarkan sebuah kunci dari dalam tas kecil yang menggantung di bahu kanannya, memasukkan benda itu ke dalam lubang pintu kaca toko dengan tulisan ‘Tutup’ menggantung dari dalam. Namun sesuatu bergerak dari arah meja kasir membuat perhatian Soojung teralih, gadis itu mengernyit, sepertinya seseorang telah datang mendahuluinya hari ini, sedikit aneh memang, karena biasanya Soojung lah yang pertama datang pada hari Rabu seperti ini.

Soojung mendorong pintu toko, ternyata memang tak terkunci, “Seulgi-ya? Apa itu kau?”

Sontak seorang pemuda muncul dari bawah meja kasir, tubuh Soojung berjengit terkejut, “YA! Apa yang kau lakukan disana?!”

Wajah pemuda itu tampak menegang menatap Soojung, tak lama setelah itu mengulas senyuman bocahnya, “Aku hanya sedang mencari sesuatu.”

“Sesuatu apa? Bukankah kau bertugas di shift sore hari ini?” Soojung menatap curiga pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu, “Kau… tidak melakukannya lagi, kan?”

Pemuda itu menghela napas berat, menatap Soojung dengan tatapan penuh penyesalan.

“Kim Hanbin!” Soojung membentak, ekspresi menyedihkan pemuda itu membuatnya memejam frustasi, “Jangan membuat wajah seperti itu!”

“Bantu aku, noona. Ini yang terakhir, benar-benar terakhir, tolong jangan katakan pada siapapun.” Hanbin menautkan tangannya menjadi satu seakan memohon pada Soojung.

“Kenapa kau selalu melakukan ini padaku?”

“Sekali ini saja, sekali, aku janji ini yang terakhir.” Hanbin berlari kecil menghampiri Soojung, menggenggam tangan gadis itu.

Soojung menarik napas dalam lalu membuangnya kasar, “Benar-benar terakhir?”

Hanbin mengangguk kuat meyakinkan.

“Masalahnya adalah, kau sudah berulang kali mengatakan jika yang kau lakukan untuk yang terakhir kalinya tapi tetap saja kau masih melakukannya, Hanbin-ah. Jadi aku harus bagaimana?”

“Ayolah, noona, ini benar-benar yang terakhir.”

“Tapi aku takut jika bos nanti tiba-tiba datang dan memeriksa.” Soojung mengedarkan pandangan menghindari kedua mata Hanbin yang menatapnya penuh harap, seolah hidup mati pemuda itu tengah berada di tangan Soojung sekarang. Soojung benar-benar tidak tahan melihat tatapan Hanbin, membuatnya sangat tidak tega, terlebih karena Hanbin telah dirasa sebagai adik laki-lakinya sendiri bagi gadis itu.

Soojung menatap Hanbin tajam, “Kau yakin benar-benar terakhir?”

Hanbin mengangguk sekali dengan tatapan penuh keyakinan, “Aku akan berusaha sangat keras untuk memenuhi ucapanku.”

“Baiklah.” Soojung menghela napas panjang, “Aku tidak berani mengambil resiko jika bos mendadak mengadakan inspeksi hari ini jadi kembalikan lagi uangnya, aku akan meminjamimu, berapa yang kau butuhkan?”

“Benarkah?” Wajah Hanbin berbinar, namun tak lama berubah sendu, “Tapi sebaiknya tidak perlu, aku sudah berulang kali membebanimu.”

Soojung meraih rambut Hanbin menariknya kuat, “Kau baru sadar itu sekarang, hm?!”

“Akh! Lepaskan ini sakit!” rintih Hanbin.

Soojung melepas cengkeramannya, “Sudahlah katakan saja berapa, kau akan semakin membebaniku jika bos benar-benar datang lalu memarahiku habis-habisan karena laci kasir yang kosong.”

Hanbin mengulum bibir bawahnya, menatap Soojung ragu, “300.000 won.”

Kedua mata Soojung membulat lebar, “Mwo?! Ya! Masih satu minggu lagi bulan ini berakhir, bagaimana bisa kau membutuhkan uang sebanyak itu? Kau ini benar-benar, Kim Hanbin!”

“Sudah dua bulan aku belum membayar sewa apartemen, noona, aku tidak punya pilihan lain.”

“Tapi tetap saja kau tidak boleh mencuri uang toko!”

“Aku tidak mencuri, aku hanya meminjam dan nanti akan kukembalikan.”

“Tapi kau melakukannya tanpa ijin dan jika bos tahu, dia akan menyalahkan siapapun yang sedang berjaga disini. Dan juga, meskipun aku tahu pelakunya adalah kau, kau kira aku akan membiarkan mulutku ini mengadu? Kau tidak berpikir sejauh itu, kan? Setiap kau melakukan ini tidak hanya sulit untukmu, tapi untukku juga.”

Hanbin  menunduk dalam, menghela napas berat, “Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan.”

Dengan gerak cepat Soojung membuka tas kecilnya mengambil dompet lalu memberikan tiga lembar 100.000 won pada Hanbin, “Kau harus segera mengembalikannya karena aku belum mengirim uang pada keluargaku bulan ini.”

Gomawo, noona! Kau memang yang terbaik!”

Hanbin memeluk Soojung erat hingga tubuh gadis itu sedikit terangkat, tentu saja karena tubuh Hanbin yang lebih tinggi dari Soojung, namun Soojung hanya terdiam berdiri tegak dengan pandangan malas.

“Bau manis apa ini?” Hanbin mengernyit dengan hidung kembang kempis, merasakan aroma aneh dari tubuh Soojung.

Soojung mendorong tubuh Hanbin kuat, “Sudah pergilah! Bayar uang sewamu itu sebelum aku berubah pikiran.”

Dengan senyuman lebar Hanbin bergegas mengembalikan persediaan uang ke dalam meja kasir kemudian kembali memeluk Soojung sekali lagi, “Aku akan langsung pergi membayarnya, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, noona!”

“Cepat pergi!” Soojung menggeret Hanbin keluar kafe.

“Aku mencintaimu!” seru Hanbin seraya berjalan mundur, tangannya membuat bentuk hati di atas kepala sebelum berbalik menuju motornya yang terparkir di seberang jalan.

“Ah, kenapa aku tidak menyadari motor itu tadi?” gumam Soojung, tertawa kecil melihat tingkah Hanbin yang masih kekanakan itu. Namun tak lama kemudian kedua matanya membelalak, “Lalu aku mengirimi ibu dengan uang apa? Bodoh!”

 

***

 

Soojung menaiki anak tangga gedung apartemennya dengan langkah lemas, memikirkan dimana ia bisa mendapatkan penghasilan untuk menambah uang yang harus ia kirimkan untuk keluarga di Busan. Karena bagi Soojung, jumlah uang yang ia kirimkan adalah gambaran kesuksesannya di Seoul, dan ia harus memberi gambaran itu sebesar mungkin agar keluarga di Busan semakin meyakininya sebagai seseorang yang sukses mencari peruntungan di Seoul.

 

Bip bip bip.

Tiririt~

 

Soojung membuka pintu ruang apartemennya setelah menekan beberapa angka pada kotak password. Kedua matanya membulat ketika mendengar suara televisi menyala, “Siapa itu!”

Soojung melangkah waspada menuju ruang tengah,  namun suara tawa seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba terdengar membuatnya mendesah kasar, “Eomma!” pekiknya.

“Oh, kau sudah pulang?” Nyonya Shin tampak bersantai di atas sofa seraya menikmati camilan dan menonton televisi.

“Dimana appa?”

Appa tetap di Busan, lagipula eomma disini hanya untuk mengantarkan itu untukmu.” Nyonya Shin menunjuk sebuah kotak bekal di atas meja.

“Jadi eomma tidak menginap?” tanya Soojung kecewa seraya bergerak membuka kotak bekal itu, “Sup rumput laut?”

“Saengil chukhae, uri Soojung-ie.”

Senyuman lebar Soojung mengembang, “Gomawo, eomma.” Kemudian memasukkan sup itu ke dalam lemari pendingin, “Setelah ini aku harus berangkat kerja, aku akan memakannya nanti.”

“Kau memang sangat mirip dengan ayahmu, benar-benar tidak romantis, setidaknya cicipi dulu sedikit.”

“Tidak sekarang, eomma.” Soojung menghempaskan tubuhnya di samping Nyonya Shin,  “Kenapa eomma tidak menghubungiku lebih dulu? Bagaimana bisa eomma masuk?”

“Kau kira aku tidak tahu jika setiap passwordmu selalu berputar tidak jauh dari ulang tahunmu, ulang tahun eomma dan ulang tahun appa? Dan sekarang tanggal ulang tahunku yang kau gunakan, benar-benar mudah ditebak.”

Soojung tersenyum kecil, mengangkat kedua kakinya ke atas sofa lalu menidurkan kepalanya di pangkuan Nyonya Shin, “Aku sangat lelah.”

“Sampai kapan kau akan terus manja seperti ini? Kapan kau akan dewasa?” Nyonya Shin membelai rambut Soojung lembut.

“Aku sudah dewasa, tapi eomma dan appa saja yang selalu memandangku sebagai anak kecil,” protes Soojung dengan bibir menguncup, sisi kekanakan gadis itu selalu muncul ketika bersama ibunya. Lebih tepatnya Soojung memang masih kekanakan walau usianya sudah berkepala dua, hanya saja gadis itu hanya menunjukkan jati diri sebenarnya pada keluarga.

“Aroma apa ini? Kenapa tubuhmu lengket sekali?”

“Sebentar lagi aku akan mandi, tapi untuk sekarang biarkan aku seperti ini, eomma, sebentar saja.”

“Dasar kau!” Nyonya Shin mengetuk kepala Soojung tanpa tenaga, “Kemarin Myungsoo berkunjung ke rumah Busan.”

Sontak tubuh Soojung terbangun, menatap Nyonya Shin tak percaya, “Untuk apa?”

“Dia membawakan beberapa makanan dan minuman herbal juga menanyakan keadaanmu.”

Soojung mengubah posisi menghadap televisi dan bersandar pada sofa dengan gerak kasar, mendengar nama pria itu saja membuat telinganya muak, “Lalu bagaimana eomma menjawab?”

“Aku hanya bilang padanya jika kau baik-baik saja di Seoul.”

Eomma memberitahu tentang keberadaanku di Seoul? Sudah kukatakan jangan memberitahunya apapun, eomma.” Soojung menendang-nendangkan kakinya kesal, persis seperti seorang bocah tengah merajuk.

Nyonya Shin tersenyum tipis, “Bagaimana kariermu disini? Kau sudah menemukan perusahaan yang menerimamu?”

Soojung menghela napas berat, menemukan peluang untuk bergabung dalam perusahaan sangatlah sulit di Seoul, terlebih bagi sarjana jurusan seni sepertinya yang tidak berhubungan sama sekali dengan manajemen perusahaan.

Melalui respon Soojung, Nyonya Shin mampu mengerti, mengusap rambut putri tunggalnya itu pelan, “Soojung-ah, sebaiknya terima saja tawaran Myungsoo, tidak sembarang orang mendapatkan kesempatan emas untuk menjadi sekretaris direktur eksekutif seperti Myungsoo.”

Soojung menatap Nyonya Shin tak suka, “Aku telah jauh-jauh ke Seoul untuk menghindarinya, eomma, aku tidak ingin berhubungan dengan pria yang sudah menikah itu lagi.”

Nyonya Shin mengangguk lembut, “Eomma tahu apa yang kau rasakan, tapi sekali lagi ini tentang kariermu. Kami, eomma dan appa, ingin kau memperoleh kehidupan yang lebih baik, tidak terus menjadi seorang gadis penjaga toko bunga dan minimarket seperti ini. Bagaimanapun jika tetap tidak ada perkembangan disini, mau tidak mau eomma akan berbicara pada Myungsoo agar dia merekrutmu.“

“Aku bisa melakukannya sendiri, aku akan bergabung dengan perusahaan lain dan membantu keluarga kita melunasi hutang akibat kebangkrutan appa tanpa bantuan Myungsoo, eomma tidak percaya padaku?” sela Soojung kesal.

Nyonya Shin terkesiap, “Tentu saja eomma percaya padamu, tapi dengan menerima tawaran Myungsoo akan lebih memudahkanmu, Soojung-ah.”

Soojung bangkit dari duduknya, “Aku tidak akan pernah mau menjadi sekretarisnya walaupun jabatan Myungsoo sebagai—“ Ucapan Soojung terhenti, kedua matanya melebar mengingat sesuatu.

 

Choi Minho, direktur eksekutif muda Royal Group.

 

Soojung merogoh sakunya cepat, mengeluarkan sebuah kartu nama yang telah terbagi menjadi dua, menatap ragu nama Choi Minho yang terpampang pada kartu nama itu.

Haruskah aku menghubunginya?

 

***

 

“Bagaimana hasil rapat hari ini?”

“Hasilnya…” Minho menjauhkan pandangannya dari tatapan tajam Tuan Choi selagi mencari jawaban yang tepat, “Tuan Presdir bisa meminta penjelasan dari Sekretaris Park, tadi beliau juga menghadiri rapat.”

“Ya, Sekretaris Park memang menggantikanku untuk hadir, tapi bagaimanapun bukankah kau yang memimpin ketika aku tidak berada disana? Aku ingin kesimpulan rapat darimu.” Tuan Choi berucap tegas.

Minho mengulum bibir bawah, bola matanya terus bergerak gusar, “Appa, aku tidak memiliki bakat untuk mengatur perusahaan seperti ini, aku tidak bisa, jadi kuserahkan saja pada Sekretaris Baek untuk menggantikan kehadiranku dan memimpin rapat tadi.”

Kedua tangan Tuan Choi berkacak pinggang seraya memejam frustasi, kehilangan cara untuk membangun harapan perkembangan perusahaan dari putra keduanya itu, “Dengar, kau bukan lagi sekadar Choi Minho, kau bukan hanya anak dari Presdir Royal Group, tapi kini kau tengah menduduki jabatan direktur eksekutif muda di perusahaan ini, atasanmu hanyalah aku, dan semua tingkatan jabatan lain bergantung di bawahmu, Minho-ya!” Tuan Choi menghela napas dalam, kedua bola matanya memerah menahan emosi.

 

Drrt drrt

 

Ponsel Minho bergetar di atas meja, menampakkan sebuah panggilan telepon dari sederet nomor tak dikenal. Minho menatap ponsel itu, beralih menatap Tuan Choi, kemudian kembali memandang ragu ponselnya.

“Kau harus berhenti bersikap semaumu sendiri, Minho­-ya, kau adalah panutan bagi perusahaan ini.” Tanpa membuang waktu, Tuan Choi terus melontarkan nasihatnya.

Sementara perhatian Minho masih terfokus pada ponsel, bertanya-tanya siapa pemilik nomor itu, untuk apa pemilik nomor itu menghubunginya, dan apakah pemilik nomor itu adalah si ‘gadis gila’?

Ponsel itu berhenti bergetar, Minho menghela napas lega, namun juga sedikit kecewa.

“Aku sudah berusaha tapi tetap saja, perusahaan ini bukan bidangku, appa.” Minho kembali memusatkan diri pada Tuan Choi.

“Tapi—“

 

Drrt drrt drrt drrt

 

Minho menyambar ponsel itu cepat, “Aku ada urusan mendadak, Presdir. Lain kali aku akan menghadiri rapat, tenang saja, aku berjanji.” Minho membungkuk singkat lantas bergegas keluar dari ruangan Presiden Direktur.

“Choi Minho!”

Minho terus berjalan tanpa berbalik sekalipun, setelah menutup pintu ruangan pribadi Presdir segera menggeser logo hijau panggilan telepon pada layar ponselnya, “Yeoboseyo? Nuguseyo?”

Aku Shin Soojung, kau yang menumpahiku minuman soda tadi!

Minho menahan senyum, memang tak ada gadis yang dapat menahan diri dari pesonanya, “Maaf, sepertinya aku lupa. Kau siapa?”

Tch! Jangan berpura-pura kau, idiot!

Minho mengernyit, biasanya gadis yang berhasil luluh tidak akan berkata kasar padanya, “Ah, kau gadis gila itu? Ada apa? Butuh bantuanku? Atau menyesal karena membuang uang itu?”

Terserah saja! Kau dimana sekarang? Pukul delapan malam nanti kita harus bertemu di kafe tadi. Jangan lupa, dan jangan terlambat!

Sambungan telepon terputus, Minho menatap layar ponselnya tak mengerti. Tak lama kemudian bibirnya mengulas senyuman bangga, pasti gadis gila itu bersikap kasar untuk mendapat perhatiannya, agar dirinya penasaran dan menuruti permintaan gadis itu untuk bertemu di kafe, lalu nanti akan berusaha mengejutkan dirinya dengan dandanan serta pakaian yang cantik untuk membuatnya terpesona.

Tck! Maaf saja, rayuanmu tak akan mempan untukku.” Minho menyeringai puas.

 

***

 

“Aku terlambat! Aku terlambat!” racau Soojung mempercepat gerak kakinya berlari kencang. Hanya berselang tiga puluh menit setelah ia pulang dari pekerjaannya menjaga toko bunga, sore ini ia kembali berangkat menuju minimarket yang tak jauh dari gedung apartemen untuk melakukan pekerjaan keduanya sebagai penjaga kasir. Sepertinya Soojung memang ditakdirkan menjadi seorang gadis penjaga di dunia ini.

Begitu sampai di depan minimarket, Soojung membungkukkan tubuhnya, mengatur napas. Kemudian masuk menuju ruang ganti karyawan.

“Kau terlambat.”

“Aku tahu,” tukas Soojung singkat membalas Rinhyo yang menggantikan posisinya di meja kasir untuk sementara.

Rinhyo hanya menghela napas pendek, terlampau mengerti sifat Soojung yang sangat moody, kemudian melayani pengunjung yang hendak membayarkan barang padanya.

Soojung keluar dari ruang ganti dengan mengenakan seragam karyawan minimarket berwarna kuning dipadu warna putih, “Maaf aku terlambat,” ucapnya memasuki pintu sekat meja kasir.

“Tadi ucapanmu seolah marah padaku tapi sekarang kau meminta maaf?”

“Kau tahu aku tidak bermaksud seperti itu, kan?” Soojung menyenggol lengan Rinhyo, menggoda gadis itu.

“Kau ini benar-benar.” Rinhyo melirik Soojung malas, “Tadi ada pria yang mencarimu?”

“Pria? Siapa?”

“Aku tidak tahu, belum pernah melihatnya sama sekali.”

Soojung mengernyit, “Bagaimana ciri-cirinya?”

“Dia tinggi, wajahnya terkesan sangat dingin tapi juga sangat tampan, hidungnya benar-benar seperti ukiran seni, bagaimana bisa pria sesempurna itu mencari gadis sepertimu?”

Wajah Soojung menegang, dalam pikiran gadis itu hanya ada satu jawaban pria yang memenuhi kriteria itu, Kim Myungsoo.

“Lalu apa yang kau katakan padanya?”

“Aku tidak berani mengatakan apapun karena aku tidak tahu apa hubunganmu dengan pria itu.”

Soojung menghembus napas lega, memeluk Rinhyo erat, “Kau memang orang yang paling mengerti aku, Hyo!”

 

***

 

Choi Minho membuka pintu kafe menyebabkan lonceng di atas pintu kaca berbunyi, melangkah masuk seraya menyapukan pandangannya ke seluruh sudut kafe. Tak menemukan gadis yang ia temui kemarin, Minho mengernyit, “Dimana dia?”

Minho mengedarkan pandangan sekali lagi, berusaha lebih teliti mengamati para pengunjung, tapi gadis itu benar-benar tak terlihat, “Tck! Sekali menyebalkan tetap menyebalkan,” gerutunya seraya merogoh ponsel dari dalam saku, menghubungi nomor yang ia beri nama ‘gadis gila’ dalam daftar kontaknya.

 

Drrt drrt drrt

 

Ponsel bergetar milik seorang gadis yang tengah menidurkan kepalanya di atas meja dengan rambut kusut menjuntai menutupi keseluruhan wajahnya membuat Minho melebarkan mata terkejut, karena ponsel itu bergetar bersamaan Minho mendengar nada sambung di telinganya.

“Tidak mungkin,” gumam Minho tak percaya. Berpenampilan cantik dengan rambut indah dari salon, seperti itulah Shin Soojung yang sejak awal Minho bayangkan, bukan gadis yang persis seperti orang belum mandi seharian.

Minho menggeser logo merah memutuskan sambungan telepon dan alhasil ponsel gadis itu berhenti bergetar, kedua mata Minho semakin melebar. Sembari mengernyit curiga Minho berjalan mendekati meja gadis itu yang hanya berjarak empat langkah dari tempatnya berdiri, mengepalkan tangan lalu mengetuk meja itu dua kali. Gadis itu masih tak bergeming, Minho mengetuk lagi tiga kali, “Permisi.”

Tubuh gadis itu mulai bergerak, mengangkat kepalanya perlahan, menyibakkan seluruh rambutnya ke belakang membuat Minho meneguk ludah berat, dia benar-benar Shin Soojung.

“Ah, kau baru datang.” Soojung berucap parau setelah mendapati Minho dengan kedua mata menyipit karena baru saja terbangun dari tidur, kemudian memeriksa arloji di tangan kiri, “Kau terlambat 45 menit.”

Minho menempati kursi di depan Soojung dengan pandangan aneh, “Kau tidak berpikiran untuk berdandan atau… semacamnya?” tanyanya ragu.

“Tidak ada waktu,” sahut Soojung cepat, “Minho-ssi, aku sudah tahu siapa kau sebenarnya.”

“Bahkan kau tahu siapa aku tapi tetap saja tak berusaha mempercantik dirimu sama sekali?” Kedua mata Minho melebar terkejut, “Kau benar-benar berbeda dari semua gadis yang pernah kutemui, kau yang tergila.”

“Untuk apa berdandan hanya untuk bertemu denganmu? Kau pikir aku disini untuk menggodamu, huh?”

“Jika tidak lalu untuk apa?”

“Mwo?!” pekik Soojung tertahan, “Dasar kau pria ternarsis yang pernah kutemui.”

“Jadi sebenarnya untuk apa kau memintaku bertemu di tempat ini?”

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.” Soojung memajukan tubuhnya, meletakkan kedua siku di atas meja dengan menautkan kesepuluh jarinya menjadi satu, “Aku ingin meminta bantuanmu, jika dipikir-pikir bukankah kau masih berhutang padaku?”

“Apa maksudmu berhutang? Kau yang tidak mau menerima uangnya.”

Soojung menggeleng pelan dengan pandangan meyakinkan, “Sayangnya bukan uang yang kumaksud, pria sepertimu tidak akan pernah bisa menebusnya, maka itu bantu aku saja.”

“Kau bicara apa? Apa maksudmu? Kau ingin aku membantu dengan cara apa?” Minho bersendekap angkuh seraya bersandar pada kursi.

Soojung menarik napas panjang, menatap Minho ragu, “Apakah ada tempat kosong di perusahaanmu?”

“Hahahaha!” Minho menggemakan tawa keras yang dibuat-buat selama beberapa detik, lantas mendadak berhenti dengan ekspresi wajah berubah drastis, dingin, “Tidak ada.”

Soojung mendesah kecewa lalu menatap Minho mantap yang lebih terkesan mengintimidasi di mata Minho, “Kau tidak harus menjawabnya sekarang, kau bisa menghubungiku ketika menemukan tempat kosong apa saja dalam perusahaanmu.”

Minho tersenyum miring, “Apapun?”

Soojung mengangguk yakin, “Apapun selama berada di perusahaan.”

“Kau yakin?”

Soojung semakin mengangguk kuat.

“Lupakan saja, aku tidak akan melakukannya.” Minho mengalihkan pandangan menatap kendaraan berlalu lalang di luar kaca besar kafe ini, tersenyum samar saat melihat Soojung menunduk lemas seraya mengaduk secangkir cokelatnya, “Kau tidak memesan untukku?”

Soojung memindahkan minumannya ke depan Minho tanpa berpikir, “Kau bisa meminumnya, jangan khawatir ini belum kusentuh sama sekali.” Soojung memaksakan senyuman manisnya berharap dapat mengubah pikiran Minho.

“Tapi itu sudah dingin,” tolak Minho sembari membuang tatapannya ke samping, mengulum senyuman jahil.

“Tck! Pemilih sekali!” Soojung menggerutu dengan wajah kesal, hendak menarik cangkirnya kembali.

“Tapi bukan berarti aku tidak mau,” ucap Minho cepat mengambil cangkir Soojung, meminumnya.

Soojung menghirup napas dalam, menggigit kuat bibir bawahnya menahan desakan segala umpatan dari dalam mulutnya yang ingin memaki pria itu sekarang juga, “Jadi bagaimana? Kau bisa mengusahakannya, kan?”

Minho meletakkan cangkir kosong di atas meja, mengambil sehelai tisu menyeka bibirnya, “Tidak tahu.”

“Aku akan menunggumu, aku tahu kau bukan pria idiot seperti yang kutuduhkan padamu, kau adalah pria bertanggung jawab yang akan membayar semua hutangmu, kan?”

“Kenapa kau yakin sekali?”

“Karena kupikir kau bukan seseorang yang akan menerima orang lain mengataimu idiot, tidakkah kau ingin membuktikan jika tuduhanku memang salah?”

“Jadi kau ingin aku memberimu bukti dengan membayar kembali sesuatu yang kau sebut hutang itu dengan cara membantumu?”

Soojung mengangguk ringan.

“Memangnya kau siapa? Untuk apa aku harus mempersulit diriku hanya untuk memberi bukti tentang sesuatu tidak penting pada gadis yang bahkan tak kukenal sepertimu?”

Soojung memutar bola matanya, membuat Minho mendesis kesal merasa sikap Soojung semakin merendahkan dirinya. Walau sebenarnya gadis itu hanya tengah gusar mencari alasan lain untuk membujuk Minho.

“Kita duduk disini saja, Myung.”

Kedua mata Soojung sontak melebar, pandangannya bergerak kaku menatap sepasang pengunjung pria dan wanita yang baru datang, menatap lekat punggung pria yang kini duduk tak jauh di belakang Minho.

“Kenapa kau?” Minho menoleh ke belakang namun tak menemukan sesuatu aneh sama sekali membuat dahi pria itu mengerut.

“Aku pergi dulu, kau… maksudku aku akan tetap menunggu informasi lebih lanjut darimu.” Soojung menyahut tas jinjingnya cepat lantas beranjak keluar, membiarkan Minho menatapnya tak mengerti.

“Shin Soojung-ssi!” seru Minho menghentikan gerak Soojung seketika, “Jangan terlalu berharap!”

.

-TBC-

Advertisements

8 thoughts on “Pure Love 1

  1. Wahhh sama2 cocok nih berdua wkwk
    Sm2 gila mungkin kali ya eon haha
    Myung ngapain ya nnyain soojung? Apa krna myung suka? trus dia nikah knp msh cr soojung? Perjodohankah pernikahannya? Penasaran hihi ditunggu nextnya eonni^^

  2. kirain minho itu eksekutif muda yg benar2 udah sukses.. Tp ternyata dia juga tdk terlalu suka dg masalah perusahaan,.
    Bkal cocok ni kalo mereka ketemu trus nantinya

  3. Penasaran eonniii gmana myungsoo klo udah ketemu soojung gemes juga liat minho. Minta password part 2nya ya eonni gomawoo

  4. Penasaran banget nih sama hubungan antara soojung dan myungsoo.. semoga aja minho memberikan pekerjaan buat soojung.. hehehehe.. minta password buat part 2 dong :):):) makasi :):):)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s