White Rose

White Rose

Author: Bella Eka.

.

.

Sampai kapanpun… Sampai kapanpun.

 

.

Langit senja menyinari Choi Minho yang tengah berdiri di samping sebuah bangunan toko bunga, pria itu menyentuh dada kirinya, berdegup kuat dirasa. Menghirup napas panjang dan menghembuskannya perlahan dilakukannya sebagai usaha menenangkan diri. Minho tak ingin terlihat gugup, dia ingin tampak keren dan kuat dihadapan gadis itu.

Setelah memejamkan mata sejenak, Minho menatap sebuket bunga mawar putih dalam genggaman tangan kanannya. Sebagian besar bunga itu telah layu, hanya beberapa terlihat putih segar, beberapa berubah warna menjadi putih kecokelatan, sepenuhnya cokelat, bahkan terdapat juga yang telah menghitam dan kehilangan kelopaknya.

Dengan hati penuh keraguan Minho melangkah, langkahnya terasa sangat berat namun tetap ia lancarkan hingga sampai tangannya membuka pintu, detik itu juga degup jantung Minho semakin berpacu.

“Selamat datang.”

Sambutan seorang gadis yang berada di balik meja kasir membuat Minho meneguk ludah berat. Dialah gadis itu, gadis yang menggetarkan jantung Minho selama ini, yang membuat Minho mewajibkan diri berkunjung setiap hari.

Minho tersenyum kaku membalas senyuman ramah gadis itu, menyembunyikan buket bunga di belakang tubuhnya, lalu berjalan seolah melihat-lihat jenis bunga yang tersedia.

Minho menyentuh dada kirinya lagi, menahan dentuman yang semakin terasa nyeri, bagaimanapun ia harus segera menyelesaikan niatnya kemari. Minho segera mengambil setangkai bunga mawar putih dan membawanya pada gadis di balik meja kasir.

Gadis itu tersenyum, “Ada lagi yang ingin kau beli?”

Minho menggeleng, menatap nametag bertuliskan Shin Soojung di dada kanan gadis itu, lalu beralih memandang wajah Soojung gugup. Tangan Minho bergerak pelan meletakkan setangkai bunga yang baru saja ia pilih bersamaan sebuket bunga layu miliknya di atas meja kasir.

Soojung tampak terkejut, menatap Minho tak mengerti.

“Ini adalah sebagian bunga yang setiap hari kubeli, sejak lima bulan lalu ketika kau mulai berada disini.” Minho berucap ragu, tatapan lekat Soojung yang tak bergeming semakin membuatnya gugup.

“Kelihatannya mawar putih sangat berarti untukmu, ya?” Soojung mengulas senyuman tipis membuat Minho sedikit bernapas lega.

“Sejujurnya tidak juga, tapi aku membelinya karena kau. Sebenarnya masih banyak yang tidak kubawa tapi kuharap ini sudah cukup untuk mewakili perasaanku.” Minho menarik napas panjang mengumpulkan keberanian, “Aku telah lama melihatmu, dan aku tidak bisa tidak melihatmu. Mungkin terdengar konyol karena kau sama sekali tidak mengenalku tapi aku juga tidak tahu mengapa aku merasa seperti ini. Aku benar-benar mengingat semuanya karena terus berputar di otakku, saat kau mengambilkan tiket keretaku yang tertiup angin, saat aku berjalan pulang dengan frustasi karena masalah pekerjaan dan tiba-tiba kau menghampiriku, memberiku setangkai mawar putih seraya berkata mungkin ini bisa memperbaiki suasana hatimu, saat aku melihatmu menyirami bunga-bunga di luar toko, saat kau tersenyum dan menawarkan mawar putih untuk kubeli.” Minho menghentikan ucapan panjangnya, baru menyadari ekspresi Soojung yang memandangnya aneh, terlalu terbawa suasana bercerita membuat Minho lupa segalanya. Soojung mengernyit dengan tatapan sangat sulit diartikan, keadaan canggung ini memaksa Minho meneguk ludah berat dalam mulutnya yang terasa pahit, Soojung sama sekali tak bereaksi, apa yang harus ia lakukan?

“Aku… Maaf membuang waktumu.” Minho beranjak keluar toko dengan langkah cepat. Wajah dan tatapan Soojung, ia tak sanggup melihatnya lagi.

 

***

 

Tik tik tik

 

Minho menatapi jam dinding dalam kamarnya, menyentuh dada kirinya yang juga berdetak normal namun begitu kuat dan sangat perih. Beberapa minggu ini Minho tak lagi mengunjungi toko bunga itu, bahkan setiap melintas saja Minho menahan kepalanya agar tidak menoleh, perasaannya tak kunjung membaik hingga saat ini.

Bayangan wajah tak terbaca Soojung tergambar jelas dalam benaknya, meski berusaha membuang bayangan itu tetap saja menempel rekat dalam pikiran Minho, gadis itu benar-benar ia butuhkan. Seiring berjalannya waktu gadis itulah semangat Minho dalam menjalani kehidupan setiap harinya, yang membuat Minho selalu tak sabar menanti esok hari, yang membuat Minho ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar dapat segera pulang sebelum Soojung meninggalkan toko.

Tiba-tiba sesuatu yang janggal Minho sadari, Soojung tak pernah berbicara selain menyambut kedatangan pengunjung atau ucapan-ucapan keseharian dalam toko. Bahkan setelah membantu Minho mengambilkan tiket keretanya yang terjatuh maupun memberikan setangkai mawar putih kala itu, Soojung sama sekali tak menoleh meski Minho memanggil namanya berulang kali, bagaimana bisa gadis itu bersikap hangat dan dingin di waktu bersamaan? Tak terkecuali saat Minho mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.

Minho memiringkan kepalanya menatap kotak sampah berisi penuh bunga-bunga layu di bawah meja nakas. Sebenarnya apa yang membuat Soojung bersikap seperti itu?

 

***

 

Perasaan Minho yang sama sekali tidak nyaman membawanya sampai di depan toko bunga itu sekarang, nalurinya kuat sekali meyakini bahwa terdapat sesuatu tidak beres pada gadis itu. Namun tak ada Shin Soojung disana, toko itu tutup, entah sejak kapan karena Minho memang sengaja tak memastikan toko itu beberapa minggu terakhir.

Apa boleh buat, Minho memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kemudian berbalik hendak pulang, besok ia akan kembali, apabila masih tutup Minho akan kembali lagi keesokan harinya, akan terus begitu hingga Minho menemukan jawaban atas kejanggalan dalam hatinya.

 

Tap tap tap

 

Kedua mata Minho melebar antusias mendengar langkah seseorang dari belakang, ia membalikkan tubuhnya cepat, namun sayang ternyata bukan Soojung yang ia temukan melainkan ibu pemilik toko bunga itu.

Wanita paruh baya itu tampak mengeluarkan sebuah kertas dan menempelkannya pada jendela toko.

Dibutuhkan karyawan pria atau wanita pekerja keras. Hubungi 010xxxxxx

Minho tersentak membaca tulisan pengumuman itu, apa yang sebenarnya terjadi pada Shin Soojung? Gadis itu berhenti dari pekerjaan ini?

Minho menghampiri ibu pemilik toko dengan langkah tergesa, “Permisi, annyeong haseyo.” Minho membungkuk singkat.

Wanita paruh baya itu menatap Minho heran, “Oh, ya, ada apa?”

“Maaf mengganggu, ahjumma, aku hanya ingin menanyakan sesuatu. Tentang Shin Soojung, apakah dia tidak bekerja disini lagi? Karena setahuku karyawan disini hanyalah dia saja.”

Darah Minho berdesir hebat dikala wajah wanita paruh baya itu sontak berubah, tampak begitu sedih dan sendu, perasaan Minho semakin terperosok dalam seolah terhantam sesuatu.

“Shin Soojung, dia keponakanku.” Ahjumma itu tersenyum tipis, setetes air bening terjatuh dari kedua matanya, “Sayang sekali dia tidak akan berada disini lagi.”

“Waeyo? Apa dia pindah dari Seoul? Kenapa? Dimana dia sekarang?” Minho tak lagi bisa berpikir jernih, segenap hatinya kini diliputi kecemasan, namun wanita itu hanya terdiam dan menangis. Kedua mata Minho semakin memanas, “Apa yang telah terjadi? Katakan padaku dimana dia sekarang, aku harus menemukannya!”

“Dia sudah tidak disini, Soojung tidak lagi di dunia ini.”

Sepasang kaki Minho sontak melemas, lututnya terbanting keras di atas tanah, tangannya bergetar hebat, kedua mata yang selama ini kering oleh air mata kini bercucuran deras, “Soojung… Shin Soojung… Kenapa… Apa yang terjadi dengannya.”

Ibu pemilik toko mencoba mengangkat Minho berdiri, “Kau pria mawar putih itu?”

Dengan kepala bergetar Minho mendongak, “Pria… Mawar putih?”

“Sepertinya benar kau.” Wanita paruh baya itu tersenyum patah lalu membawa Minho masuk ke dalam toko, mengarahkan Minho untuk duduk dan memberi pria itu segelas air mineral, “Minum ini.”

“Tidak, terimakasih.” Minho berucap samar dengan pandangan kosong menerawang jauh ke dalam tanah, merasakan kehampaan amat sangat dalam hatinya, mencoba memahami bahwa apa yang ia dengar memanglah kenyataan.

“Soojung…” Wanita itu mulai membuka kata, tetes demi tetes air matanya masih berjatuhan, “Gadis manis itu sudah lama mengidap kanker di kedua gendang telinganya.”

Dalam sekejap sayatan perih dalam dada Minho semakin membesar, seperti tengah ada sesuatu menggerogoti isinya, berdesir-desir tanpa henti, bendungan air matanya semakin tak terkendali.

Shin Soojung, jadi karena itu dia mengacuhkan dirinya selama ini, ternyata karena itu, Soojung pasti kesakitan selama ini, Shin Soojung…

“Apa dia benar-benar tidak bisa kembali lagi?” Pertanyaan bodoh dari pikirannya yang kosong terlontar menyedihkan, kepala Minho tertunduk dalam, isakannya semakin kuat.

“Kau pria yang setiap hari membeli mawar putih, bukan?”

Minho mengangguk lemah, tak sanggup lagi berkata-kata.

Wanita itu memberinya secarik kertas, menggenggamkannya ke tangan Minho yang mengepal, “Surat ini dari Soojung untukmu, sepertinya kau bukan pria biasa baginya.”

Tangan bergetar Minho membuka kertas itu perlahan, tubuhnya semakin lemas mendapati deretan kata dari gadis yang diam-diam ia cintai itu.

 

Apa tulisan ini akan benar-benar sampai padamu? Kau yang membaca tulisan ini, apa kau benar-benar pria yang setiap pukul lima berkunjung ke toko bibi? Aku tidak yakin karena bibi tidak pernah tahu siapa kau jadi kurasa aku tidak bisa terlalu berharap, tapi meski begitu aku akan tetap menuliskannya hehehe.

 

Minho tak percaya Soojung masih sempat memberikan selingan tawa, pasti sangat sakit menulis di tengah keadaan yang seperti itu, kedua mata Minho semakin membanjir deras.

 

Terimakasih karena selalu meluangkan waktumu untuk membeli setiap hari, maaf karena aku tidak bisa mengatakan ini secara langsung. Dan kemarin saat kau membawa banyak bunga layu itu, maaf aku tidak mampu mengerti ucapanmu karena kau berbicara terlalu cepat, jadi aku tidak bisa membaca dengan jelas gesture bibirmu, maafkan aku. Tapi aku tahu ucapan terakhirmu sebelum kau pergi, kau meminta maaf karena membuang waktuku? Tidak. Sejujurnya, aku sangat senang kau datang setiap hari. Biasanya toko bunga akan tutup di siang hari, bukan? Tapi aku tidak, bukan karena toko bibi terlalu banyak pelanggan, tapi karena aku menunggumu. Aku sangat senang kau datang, aku selalu mengharapkan kedatanganmu entah mengapa.

 

Minho menggigit bibir bawahnya kuat, seandainya ia dapat mengerti semua ini lebih awal.

 

Terimakasih telah memberi warna dalam hidupku yang terlalu membosankan ini, tidak bisa mendengarkan apapun dan selalu membebani bibi membuatku ingin segera mati, hahaha. Tapi karena kau, aku masih memiliki setitik harapan setiap harinya, karena kau aku memiliki semangat untuk tetap hidup di esok hari walaupun aku tahu akan segera berakhir tak lama lagi. Terimakasih, kau pria mawar putih, aku sungguh sangat berterimakasih.

 

Nb: Tetaplah berkunjung ke toko bibi, jangan takut, aku tidak akan menjadi hantu gentayangan disana, kekeke.

 

“Kau tidak boleh pergi, kau harus tetap disini, sampai kapanpun.” Tangan tak bertenaga Minho terpanting ke bawah, aliran bening di kedua matanya mendadak berhenti sementara dadanya semakin sesak sepenuhnya. Kini ia menyadari Soojung benar-benar tak akan kembali, seseorang yang selalu ia cari sepulang kerja tak ada lagi, seseorang yang membangun hasratnya bangun pagi tak akan ia temui lagi. Minho kehilangan kendali, kehilangan napasnya, kehilangan seluruh semangatnya mulai detik ini. Entah bagaimana, entah seberapa besar kemungkinan sorot mata kekosongan itu hidup kembali.

.

.

-THE END-

.

.

Ini ff pertamaku yang aku masukin kategori angst di categories -_- tapi ga yakin ini beneran angst atau nggak wkwkwk biasanya fluff terus hmm -_- minta sarannya ya~

Advertisements

6 thoughts on “White Rose

  1. ya ampun angstnya berhasil..
    Emg bener yg dikatakan christiejaena480 bahwa cinta minho layu sbelum berkembang seperti mawar putih yg slalu dibeli..
    Tp cinta minho layu bukan dlam artian tdk mencintai soojung tp cintanya tdk mencapai pada soojung scra langsung

  2. Seperti mawar yang layu yg diberikan minho . Seperti pula shin soojung yg sudah tiada sblm mengatakan yg sbnrnya. Sedihhhhhh :”””””””””””
    Makasi eonni ud dipost😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s